You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perbedaan, pro dan kontra, selalu akan muncul dalam dinamika kehidupan.
Jangankan yang berasal manusia, yang berasal dari yang Maha Benar pun, Allah
azza wa jalla, menimbulkan pro dan kontra. Oleh karena itu, perbedaan adalah
sesuatu yang niscaya bagi kita, tidak bisa kita menghindari perbedaan. Allah
berfirman: “ … Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu
umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu,
maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu
semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”
(QS 5:48).
Allah SWT telah menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai sebaik-
baiknya makhluk dengan memberikan akal yang mampu membedakan baik dan
buruk. Allah SWT telah ciptakan dalam diri manusia potensi kehidupan (thaqatul
hayawiyah) berupa kebutuhan naluri (gharaa’iz) yang terdiri dari naluri beragama
(gharizatut tadayyun), naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa) serta naluri
melangsungkan keturunan (gharizatun nau'). Di samping itu Allah SWT juga telah
menciptakan potensi kehidupan lainnya berupa kebutuhan jasmani (Hajatul
Adlawiyah) yang penampakannya berupa berupa rasa lapar, rasa haus, rasa kantuk,
bernafas, keinginan buang hajat dan lain-lain. Berdasarkan potensi kehidupan yang
dimilikinya inilah manusia menjalani kehidupannya di dunia.
Dengan adanya potensi kehidupan berupa kebutuhan jasmani dan kebutuhan
naluri inilah manusia menjalani kehidupannya sehari-hari. Atau dengan kata lain
apapun yang dilakukan manusia selama hidup didunia adalah dalam rangka
memenuhi seluruh kebutuhan mereka tersebut. Dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidupnya tersebut manusia akan menggunakan berbagai benda dan sarana yang dapat
dimanfaatkan.
Agar seluruh pemenuhan kebutuhan tersebut berjalan dengan baik dan
menghasilkan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan, maka manusia harus
terlebih dahulu mengetahui baik atau buruk, serta apakah mendatangkan manfaat

1

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan sebagai berikut : Jelaskan perbedaan pendapat Para Ulama dan Para Hakim? C. Tujuan Adapun tujuannya adalah sebagai berikut : Untuk mengetahui dan memahami perbedaan pendapat Para Ulama dan Para Hakim 2 . B.atau memberikan mudharat baik di dunia maupun di akhirat. Untuk itu manusia harus terlebih dahulu mengetahui siapa yang berhak mengeluarkan status hukum dan dan pembuat Hujum itu sendiri dilihat dari sisi baik atau buruk terhadap perbuatan manusia.

Pengertian Hakim Sesuai dengan tugas yang di emban dan kedudukan seorang hakim yang amat mulia itu maka syarat-syarat untuk menjadi hakim cukup berat. 1. Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?” dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu. Kedudukan Saksi dalam Peradilan Menurut Hukum Islam. dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. Untuk itu ia harus memenuhi kriteria sebagai berikut yang ditentukan oleh Hukum Islam yakni : 1. 19. BAB II PEMBAHASAN A. 3 . Tugas peradilan dalam Islam termasuk dalam wilayah orang kafir tidak boleh dilaksanakan selain orang Islam sendiri.” (QS. An-Nisa’ : 141) Mazhab Hanafi membolehkan mengangkat seorang hakim yang bukan muslim untuk mengadili orang yang bukan muslim. 1 1 Abdur Rahman Umar. Cet. Hal ini telah disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 141. 1986). (Jakarta: Pustaka Al-Husna. sebab semua kasus yang diperiksa adalah melibatkan orang Islam. sebab keahlian (ahliyah) mengadili berhubungan dengan keahlian menjadi saksi terhadap kafir dzimmi yang lain. hal. Beragama Islam Orang yang diangkat sebagai hakim ini hendaklah orang yang beragama Islam. َ‫ّللِ َقالُ ٓواْ َأَل ۡم َن ُكنَ َّمع ُك ۡم َوَإِنَكان‬ َِ ‫ح‬ٞ ‫صون َبِ ُك ۡم َفإِنَكان َل ُك ۡم َف ۡت‬ ََّ ‫َمن َٱ‬ ُ َّ‫ٱلَّذِينَ َيترب‬ ََّ َ‫َمنَ َ ۡٱل ُم ۡؤ ِمنِينَ َف‬ َ‫ٱّللُ َي ۡح ُك ُم‬ ِ ‫يب َقالُ ٓواْ َأل ۡم َن ۡست ۡح ِو ۡذ َعل ۡي َُك ۡم َوَنمَۡنعۡ ُكم‬ ٞ ‫ص‬ ِ ‫ِل ۡل َٰك ِف ِرين َن‬ َ َ١٤١َ‫يًل‬ ََّ َ‫ب ۡين ُك ۡمَي ۡومَٱ ۡل ِق َٰيم ِۗ ِةَولنَي ۡجعل‬ ‫ٱّللَُ ِل ۡل ََٰك ِف َِرينَعَلىَ ۡٱل ُم َۡؤ ِمنِينََسبِ ا‬ ََ Artinya : “(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin).

Thabari memperbolehkan wanita memeriksa semua kasus. tidak sah wanita diangkat sebagai hakim. agar dapat memecahkan masalah dalam perkara yang diadilinya. 24 4 . 3 3. laki-laki merupakan syarat untuk dapat diangkat menjadi hakim. Ibnu Jarir Ath-Thabari mempunyai pendapat tersendiri dan berlainan dengan pendapat jumhur fuqaha sebagaimana telah diuraikan di atas. Etika Hakim dalam Penyelenggaraan Peradilan. Muhammad Salam Madkur membenarkan dan memperbolehkan pengangkatanhakim dari orang yang bukan Islam untuk mengadili perkara-perkara antara orang Islam. Cet. 2 Oleh karena masalah peradilan merupakan hal yang sangat penting dan menentukan. termasuk Hudud dan Qishas. dan wanita boleh menjadi hakim kecuali dalam perkara Hudud dan Qishas karena tidak diterima wanita dalam perkara tersebut. Maka syarat hakim dalam lembaga peradilan Islam hendaknya beragama Islam. Hukum Islam tidak 2 Abdul Manan. 22. hal. 2. karena melalui lembaga peradilan hukum syara’ dapat ditegakkan. maka pengangkatannya itu sah tetapi orang yang mengangkatnya menanggung dosa. maka putusan yang dijatuhkan itu tidak sah. (Jakarta: Kencana. cerdas dan bijaksana. Imam Abu Hanifah menjelaskan bahwa wanita boleh diangkat sebagai hakim untuk memutus perkara yang menerima persaksian wanita. 1. Apabila ada pihak yang mengangkat wanita sebagai hakim. 3 Abdul Manan. Baligh dan Berakal Yang dimaksud disini bukan hanya sekedar dipandang telah mukallaf. tetapi adalah benar-benar seorang yang sehat pikirannya. Jika ada penguasa yang mengangkat wanita sebagai hakim. 2007). Hal ini didasarkan kepada kelayakan menjadi saksi di mana non- Islam boleh menjadi saksi bagi orang Islam (kecuali dalam perkara yang berhubungan dengan kekeluargaan). Laki-laki Menurut Jumhur Ulama di kalangan mazhab Syafi’i. Etika Hakim dalam Penyelenggaraan Peradilan. 2007). Cet. 1. (Jakarta: Kencana. hal. Maliki dan Hambali.

berpendapat bahwa orang fasik termasuk orang yang boleh diterima kesaksiannya. Cet. 1. hal. Pada umumnya para ahli hukum Islam batas minimal untuk diangkat sebagai hakim adalah berusia minimal 25 tahun.menetapkan dengan pasti berapa umur minimal seorang dapat diangkat sebagai hakim. walau ada orang lain yang layak menjadi kadi daripadanya. 4 Abdur Rahman Umar. wajib seorang hakim itu orang yang ahli ijtihad (mujtahid). Mengetahui Pokok Hukum Syara’ dan Cabang-Cabangnya Syarat ini dimaksudkan agar hakim dapat mengetahui hukum-hukum Allah dan sanggup membedakan antara yang benar (hak) dengan yang salah. sah atau batalnya suatu pelaksanaan hukum. Al-Dasuki mengatakan “inilah pendapat yang lebih sah”. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang memerintah manusia untuk berlaku adil dalam segala hal. 5. Islam hanya menentukan baligh sebagai syarat minimum untuk diangkat sebagai hakim. tetapi merupakan syarat kesempurnaan pengangkatannya saja. walaupun pada diri sendiri. Mazhab Hanafi mengemukakan bahwa sifat adil bukan merupakan syarat untuk mengangkat seorang hakim. (Jakarta: Pustaka Al-Husna. Adil Penentuan adil untuk diangkat sebagai hakim merupakan persyaratan yang sangat menentukan benar atau tidaknya. Imam Syafi’i berpendapat. 1986). 22-23 5 . Dalam keadaan tertentu orang fasik bisa diangkat sebagai hakim. Muhammad Salam Madkur dalam bukunya “Al-Qadha’ fil Islam”. Putusan hakim yang fasik adalah sah selama putusan itu tidak bertentangan dengan hukum-hukum syara’ dan Undang-Undang yang berlaku. demikian pula menurut satu riwayat dari Imam Malik. 4. boleh mengangkat pengikut salah satu mazhab menjadi hakim. Dengan demikian anak-anak tidak dibenarkan menjadi hakim karena mereka belum dapat dipertanggung jawabkan pekerjaannya. Kedudukan Saksi dalam Peradilan Menurut Hukum Islam. maka tentu dapat pula diangkat menjadi hakim.4 Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Hanafi.

maka kita dapat menerima hakim yang diangkat berpenguasa. orang yang dianggap mengetahui Hukum Islam secara luas adalah : a. Menurut Imam Al-Mawardi. Imam Al-Ghazali berpendapat : “.. ia dapat juga membedakan antara pihak yang mengakui dan pihak yang mengingkari. mensyaratkan dalam pengangkatan hakim hendaknya berpengetahuan luas dalam bidang hukum Islam dan kepandaiannya itu harus bertaraf mujtahid. Berpengetahuan Luas Para ahli hukum dikalangan mazhab Syafi’i. c. 6. Melihat beratnya persyaratan bagi seorang hakim. Sehubungan dengan hal ini. Sebagian sahabat Imam Syafi’i membolehkan orang buta menjadi hakim.. Hambali dan sebagian dikalangan mazhab Hanafi. maka tidak sah pengangkatan hakim itu dari kalangan orang yang jahil dan mukalid. 7. sehingga ia dapat membedakan pihak yang benar dengan pihak yang salah dan orang yang berbuat benar dengan orang yang berbuat salah. b. walaupun hakim yang diangkat itu bukan orang yang pandai dan dirinya pun fasik.karena mencari seorang hakim yang harus memenuhi persyaratan seorang mujtahid lagi adil pada masa sekarang ini sulit. 6 . Menguasai ilmu tentang kitab Allah SWT dalam kadar yang dengannya ia dapat mengetahui kandungan Hukum-Hukum dalam Al-Qur’an. Sempurna Panca Indra Imam Al-Mawardi mengemukakan bahwa seorang hakim hendaknya orang yang bisa melihat dan mendengar. Demikian juga menurut satu riwayat dari Imam Malik. Menguasai pengetahuan tentang takwil dikalangan salaf. Dengan penglihatan dan pendengaran yang sempurna itu. ia dapat menetapkan hak-hak manusia dengan baik. Memiliki pengetahuan ilmu tentang sunnah Rasulullah SAW yang stabil. dipandang bersifat umum yang meliputi masalah peradilan dan Imam shalat. Pendapat tersebut berdasarkan kepada pengangkatan oleh Rasulullah SAW terhadap Ibnu Ummu Maktum sebagai wakil Rasulullah SAW di kota Madinah.

Hal ini disebabkan karena seorang hamba dianggap tidak mampu untuk memiliki kemampuan diri sendiri. memperkenalkan. Para ahli Hukum Islam dikalangan mazhab Maliki tidak mensyaratkan pengangkatan hakim harus orang yang sudah mujtahid. persyaratan keahlian sampai ke derajat ijtihad itu merupakan sebagian keutamaan pengangkatannya saja.d. Memiliki pengetahuan tentang Qiyas yang tidak dibicarakan di dalam nash. 8. Hakim mempunyai dua arti yaitu: ْ ‫َاْلحْ ك ِامَو ُمثْ ِبتُهاَوَ ُم ْن ِشئُهاَوَم‬ ‫صدَ ُرها‬ ْ ‫اض ُع‬ ِ ‫و‬ Artinya : “ Pembuat hukum. Bukan Budak (Merdeka) Para pakar hukum Islam dalam berbagai mazhab sepakat bahwa pengangkatanhakim tidak diperbolehkan dari kalangan budak secara mutlak. B. Jika ia sudah merdeka. yang menetapkan. maka ia tidak sah diangkat sebagai hakim untuk memutuskan suatu perkara. ia boleh saja diangkat sebagai hakim. 7 . menjelaskan. ْ ‫َاْل ْحك ِامَوَي‬ ُ ‫ُظ ِه ُرهاَوَيُ ْع ِرفُهاَويُ ْكش‬ ‫ِفَع ْنها‬ ْ ‫الَّذ‬ ْ ُ‫ِيَي ُْر ِدك‬ Artinya : “yang menemukan Hukum. Dan dikalangan mazhab Syafi’i mengatakan bahwa pengangkatan hakim yang tidak mempunyai pengetahuan yang lengkap hanya dibolehkan apabila dalam keadaan darurat saja. bukan keharusan yang mutlak. Ketentuan ini adalah sama sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Arabi. maka ia tidak dapat memberikan kesaksian dalam berbagai kasus. Juga karena statusnya sebagai budak. oleh karenanya ia tidak dapat dijadikan sebagai hakim. Apabila syarat-syarat ini terpenuhi pada seseorang. dan menyingkapkan”. Al-Hakim (pembuat hukum) a) Pengertian Bila ditinjau dari segi bahasa. Lain halnya para ahli hukum mazhab Hanafi dalam hal pengangkatan hakim. meskipun ia tetap menanggung wala’ (keterkaitan dengan bekas tuannya). memunculkan sumber hukum”.

azimah. Karena di dalam agama Islam tidak ada syari’at kecuali dari Allah SWT. Halangan. sah. haram. dan rukhsah). fasid. bahwa yang disebut dengan hasan adalah apa yang dihasankan oleh syara’ sedangkan qabih adalah apa yang diqabihkan oleh syara’. sesungguhnya syara' telah mengharuskan peng-hasanan dan peng-qabihan itu dengan mengikuti Rasul serta mencela hawa nafsu. sunnah. yang mendatangkan pahala bagi pelakunya dan dosa bagi pelanggarnya. atau pembentuk hukum syara’. Ini dari prespektif dalil rasional (aqli) atas hasan dan qabih. Karena itu adalah termasuk hal yang qath'i secara syar’i. kelompok ahlussunnah wal jama’ah yang menyatakan tidak ada 8 . Hakim termasuk persoalan yang cukup penting dalam Ushul fiqh. hakim disebut pula dengan syar’i. Pertama. Dan para ulama sepakat dengan hal ini. Maka Atas dasar yang merupakan keharusan untuk menjadikan al- hakim atas perbuatan manusia serta atas sesuatu yang berkaitan dengannya dari sisi terpuji dan tercela adalah Allah Ta’ala. AlIah akan memberikan pahala kepada para mukallaf yang berbuat baik berdasarkan kepada pendapatnya. Sedangkan dari sisi dalil syar’i. batal. syarat. Dari pengertian pertama tentang hakim di atas. sebab berkaitan dengan pembuat hukum dalam syari’at Islam. Dalam ilmu Ushul fiqh. baik yang berkaitan dengan Hukum-hukum taklif ( wajib. Sebagai pembuat hukum dan satu-satunya sumber hukum yang dititahkan kepada seluruh mukallaf. dapat diketahui bahwa hakim adalah Allah SWT. OIeh karena itu mukallaf wajib mengerjakan apa yang dipandang baik oleh akal dan meninggalkan apa yang dipandang buruk oIeh akal. Atau dengan kata lain syara’lah yang menetukan hukum. makruh dan mubah). sebagaimana AlIah memberi pahala berdasarkan apa yang diketahui mukallaf dengan perantaraan syara'. maupun yang berkaitan dengan hukum wadh’I (sebab. para ulama’ Ushul fiqh membedakannya menjadi dua yaitu: a) Sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Rasul Dalam hal ini para ulama menemukan banyak perbedaan pendapat terkait tentang siapa yang menemukan? memperkenalkan ? dan menjelaskan hukum sebelum diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul? Terdapat dua kelompok yang berbeda Pendapat yang mempermasalahkan adanya taklif sebelum datangnya Rasul. bukan akal. Sedangkan dari pengertian kedua tentang hakim di atas. bukan manusia.

Jakarta: kencana 2009. Di dalam Al-qur’an surat al-An’am ayat 57 yang berbunyi: Artinya : "Sesungguhnya menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” Apa yang telah dihalalkan oleh Allah maka hukumnya adalah halal. karena jika hanya semata-mata dengan akal. yakni pernyataan bahwa sesuatu itu baik atau buruk. Dalam hal ini para ulama terbagi menjadi tiga : 1. Begitu juga dengan apa yang diharamkan-nya maka hukumnyapun menjadi haram. Al-asya’riyah Yaitu pengikut Abu Hasan al-Asy’ary : akal tidak mungkin mengetahui hukum-hukum Allah atas perbuatan mukallaf kecuali dengan perantaraan para rasul dan kitab-kitab Allah. Hal 345 9 . Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa al-hakim adalah syari’at yang turun dari Allah SWT. Hal ini berarti bahwa akal manusia dapat menyuruh manusia untuk berbuat atau tidak berbuat.taklif sebelum datangnya Rasul. maka akal mendorong manusia untuk melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Hal 414 6 Rachmat syafe’I. Kemudian yang kedua kelompok mu’tazilah berpendapat adanya taklif sebelum datangnya Rasul. dan bahkan satu orang saja bisa berbeda dalam memahami suatu perbuatan.5 Sehingga dikalangan Ulama Ushul fiqh dalam persoalan yang cukup rumit itu dikenal dengan istilah “At-tahsin wa al-taqbih”. 5 Amir Syarifuddin. Yang dibawa oleh Rasulullah SAW. yang didalamnya terdapat kemaslahatan bagi manusia. ilmu ushul fiqih. manusia tidak mungkin dapat mengenal hukum Allah. Inilah yang dimaksud Taklif itu. Karena didalamnya terdapat kemudaratan atau kerusakan bagi manusia. karena akal manusia dapat menilai baik dan buruknya suatu perbuatan manusia atas penilaian itu. Ushul fiqh jilid 1. Karena masing-masing akal akan berbeda dalam memahami perbuatan tersebut. Bandung: pustaka setia 2007. Sebagian menganggap baik dan sebagian menganggap buruk.6 b) Setelah diangkatnya Nabi Muhammad sebagai Rasul dan menyebarnya da’wah Islam.

bermanfaat atau berbahaya. dituntut oleh Allah untuk dikerjakan dan pelakunya akan diberi pahala dari Allah. Dan apa yang menurut akal buruk maka buruk menurut Allah. yang bukan menurut akal baik dan buruk. bukan akal. dituntut untuk ditinggalkan.” Menurut pendapat ini. apa yag diwajibkan undang-undang atau diperbolehkan berarti baik. Dan perbuatan buruk adalah apa apa yang ditujukan oleh syar’i bahwa perbuatan itu buruk dengan tuntutan untuk ditinggalkan. Baik. dan pelakunya akan disiksa oleh Allah. “Apa yang menurut akal baik maka baik menurut Allah. hukum-hukum Allah tidak mungkin diketahui secara langsung. “Perbuatan baik adalah perbuatan yang dianggap baik menurut akal karena ada manfaatnya. Dan hukum Allah atas perbuatan hamba itu tergantung pada anggapan akal. Menurut mazhab ini. Mazhab ini disepakati dan sesuai dengan pendapat para ulama akhlaq. sehingga akal dapat menggunakan dasar sifat-sifat pebuatan itu. 2.Mu’tazilah Pengikut Washil bin Atho’. Artinya. perbuatan mukallaf yang baik adalah apa yang telah ditunjukkan oleh syar’i bahwa perbutan itu baik secara mubah maupun dituntut untuk dikerjakan. sehingga anggapan baik dan baik itu bedasarkan hawa nafsu. bukan yang menurut akal buruk. Karena perbuatan manusia itu memiliki sifat yang dapat memberikan pengaruh manfaat dan bahaya. yakni ukuran baik dan buruk adalah undang-undang. Al. sedangkan yang dianggap buruk oleh akal maka dituntut oleh Allah untuk ditinggalkan dan pelakunya akan disiksa.” Adapun hukum- 10 . dan yang dilarang adalah buruk. Allah SWT menuntut orang-orang mukallaf untuk melaksanakan perbuatan yang bermanfaat menurut akal mereka. Oleh karena itu tidak mungkin dikatan . ukuran baik dan buruk menurut pendapat ini adalah syara’.Seringkali nafsu manusia mengalahkan akalnya. Apa yang dianggap baik menurut akal maka dituntut oleh Allah dan pelakunya akan diberi pahala. Apa yang dihasilkan oleh akal berdasarkan manfaat atau bahaya itu dihukumi dengan baik atau buruk. Sedangkan perbuatan jelek adalah perbuatan yang dianggap jelek oleh akal karena ada bahayanya. tanpa perantaraan para rasul dan kitab-kitab Allah. Dasar pada mazhab ini.

hukum Allah atas perbuatan orang mukallaf ukurannya adalah menurut akal mereka sendiri. Kesimpulannya. kadang juga salah. Mazhab ini selaras dengan pendapat al-mu’tazilah bahwa baik buruknya suatu perbuatan itu diukur dengan manfaat atau bahayanya. Karena meskipun akal sudah matang. Al-Matrudiyah Pengikut Abu Manshur Al-Matrudi. mazhab inilah yang unggul. dan menurut pendapat saya. baik atau jelek. karena hal ini jelas keliru. Bahwasanya pokok keutamaan itu bisa dijangkau karena ada manfaat. dan apa yang jelek menurut akal maka dituntut oleh Allah untuk meninggalkannya. meskipun tidak dijelaskan pada syara’. pendapat ini bersifat moderat dan netral. akan mampu menghukumi bahwa perbuatan itu baik atau jelek. Tetapi berbeda pendapat dengan mereka bahwa baik dan jeleknya perbuatan bersifat syara’ bukan akal. perbuatan orang-orang mukallaf memiliki ciri-ciri dan memiliki pengaruh pada baik dan buruknya perbuatan itu. Tetapi hukum-hukum Allah atas perbuatan mukallaf itu tidak boleh ditetapkan baik atau jelek menurut kemampuan akal kita. Tetapi berbeda pendapat bahwa hukum Allah itu harus sesuai menurut akal dan apa yang baik menurut akal dituntut oleh Allah utuk dikerjakan. Oleh karena itu tidak ada jalan lain untuk mengetahui hukum-hukum Allah kecuali melalui para rasul-Nya. 3. Mazhab ini juga selaras dengan pendapat Al-Asy’ariyah bahwa hukum Allah tidak dapat diketahui kecuali melalui perantaraan para rasul dan kitab-kitabnya. dan yang dianggap jelek maka dihukum jelek. manfaat atau bahaya yang sampai kepada kebanyakan umat manusia. Pendapat ini adalah sesuai dengan pendapat mayoritas para ulama akhlaq bahwa ukuran baik dan jelek adalah akibat suatu perbuatan. dan pokok kehinaan itu bisa dijangkau akal karena ada bahaya. karena sebagian perbuatan yang tidak jelas menurut akal maka tidak dapat ditetapkan di antara hukum-hukum Allah dan tidak ditetapkan di antara hukum yang mampu diterima akal. 11 . Sedangkan akal. dan perbuatan itu baik jika dituntut oleh allah untuk dikerjakan dan perbuatan itu jelek jika dituntut oleh allah untuk ditinggalkan. bedasarkan ciri-ciri dan pengaruh ini. Apa yang oleh akal sehat dianggap baik maka dihukumi baik.

misalnya kemuliaan dan pengetahuan. Adapaun mereka yang telah sampai syari’at para rasul. misalnya kekurangan dalam diri orang seperti bodoh. ilmu ushul fikih. maka ukuran suatu perbuatan baik dan jeleknya bagi mereka adalah syari’at. mencuri. diantaranya: · Al-husnu adalah segala perbuatan yang di anggap sesuai dengan tabiat manusia. Sebaliknya Qabihadalah perbuatan yang akan mendapat cercaan dari manusia bila di kerjakan. Apa yang dilarang syari’. Tanpa memerlukan 7 Abdul wahab Khallaf. Apa yang diperintahkan syari’ berarti baik. Tahsin Wa Taqbih (baik dan buruk) Ulama’ ushul fiqh berbeda-beda dalam memberikan pengertian tentang Hasan dan Qabih. sedangkanqabih. misalnya menyakiti orang lain.135 12 . jakarta: pustaka amanni 2003. merupakan segala perbuatan yang tidak boleh dikerjakan oleh manusia.7 4. bukan yang dianggap sesuai dengan menurut akal mereka. Hal ini disepakati oleh para ulama’ dalam hal yang tidak bias dicapai oleh akal. Namun pendapat ini ditentang oleh golongan Mu’tazilah yang menyatakan bahwa hasan dan sahih dapat ditentukan oleh akal. Perbedaan pendapat ini tidak mempengaruhi sama sekali kecuali bagi orang- orang yang belum sampai kepada mereka syari’at rasul. Menurut Asy-ariayah. pengertian nomor tiga dan empat hanya bisa ditentukan oleh Syara’ . seperti maksiat. · Al-husnu adalah sesuatu yang boleh dikerjakan oleh manusia. hal. di akhirat. kikir. · Al-husnu diartiakan sebagai sifat sempurna. Kedua pengertian tentanghasan dan qabih tersebut telah disepakati oleh para Ulama’ bahwa hal itu hanya bias dicapai oleh akal. · Al-husnu diartikan sebagai pekerjaan yang apabila dikerjakan akan mendapat pujian di dunia dan pahala dari Allah SWT. Dari penjelasan di atas pengertian yang diperselisihkan oleh para ulama’ adalah pada nomor tiga dan empat. misalnya tentang tolong menolong orang yang sedang dalam kesusahan. Sebaliknya Qabih diartikan sebagai sifat jelek. Sedangkan Qabih adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan tabiat manusia. dituntut untuk dilaksanakan dan pelakunya diberi pahala. yaitu perkara mungkin atau tidaknya dicapai oleh akal. dan lain-lain.

baik dan buruk. dan sebagian lainnya terdapat di antara manfaat. BAB III PENUTUP 13 .pemberitahuan dari Syara’. Menurut golongan mu’tazilah sebagian yang baik atau yang buruk itu terletak pada zatnya. mudharat.

Sempurna Panca Indra 7. hakim disebut pula dengan syar’i. Baligh dan Berakal 4. 3. Ulama’ ushul fiqh berbeda-beda dalam memberikan pengertian tentang Hasan dan Qabih. Adil 5. bedasarkan ciri-ciri dan pengaruh ini. Beragama Islam 2. 2. misalnya tentang tolong menolong orang yang 14 . pendapat ini bersifat moderat dan netral. hukum- hukum Allah tidak mungkin diketahui secara langsung. Dari pengertian pertama tentang hakim di atas. 4. Sedangkan akal. Kesimpulan Syarat-syarat Hakim menurut pandangan agama adalah sebagai berikut : 1. akan mampu menghukumi bahwa perbuatan itu baik. mazhab inilah yang unggul. Laki-laki 3. Mengetahui Pokok Hukum Syara’ dan Cabang-Cabangnya 6. tanpa perantaraan para rasul dan kitab-kitab Allah. diantaranya: (1) Al-husnu adalah segala perbuatan yang di anggap sesuai dengan tabiat manusia. Al-Matrudiyah yaitu Pengikut Abu Manshur Al-Matrudi. Sebagai pembuat hukum dan satu-satunya sumber hukum yang dititahkan kepada seluruh mukallaf.A. dapat diketahui bahwa hakim adalah Allah SWT. dan menurut pendapat saya. sehingga akal dapat menggunakan dasar sifat-sifat pebuatan itu. Al-asya’riyah Yaitu pengikut Abu Hasan al-Asy’ary : akal tidak mungkin mengetahui hukum-hukum Allah atas perbuatan mukallaf kecuali dengan perantaraan para rasul dan kitab-kitab Allah. Kesimpulannya. Berpengetahuan Luas 8. Karena perbuatan manusia itu memiliki sifat yang dapat memberikan pengaruh manfaat dan bahaya. Al. Bukan Budak (Merdeka) Dalam ilmu Ushul fiqh. Menurut mazhab ini. Perbedaan pendapat yang diperselisihkan menurut : 1.Mu’tazilah yaitu Pengikut Washil bin Atho’. perbuatan orang-orang mukallaf memiliki ciri-ciri dan memiliki pengaruh pada baik dan buruknya perbuatan itu.

sedang dalam kesusahan. misalnya menyakiti orang lain. penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya makalah yang kami susun ini. Sedangkan (2) Qabih adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan tabiat manusia. DAFTAR PUSTAKA 15 . Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan dan kelemahan. semoga bermanfaat. B. Saran Demikianlah makalah ini kami susun. Oleh karena itu.

(Jakarta: Pustaka Al-Husna. 1. Kedudukan Saksi dalam Peradilan Menurut Hukum Islam. ilmu ushul fiqih. Cet. 2007) Amir Syarifuddin. Etika Hakim dalam Penyelenggaraan Peradilan. Ushul fiqh jilid 1.Abdur Rahman Umar. 2009) Rachmat syafe’I. 1986) Abdul Manan. (Jakarta: Kencana. Cet. 2007) 16 . Bandung: (Pustaka Setia. (Jakarta: Kencana. 1.