You are on page 1of 88

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada era modern seperti saat ini, peran teknologi sangatlah penting terutama untuk
mendorong kegiatan produksi dalam semua sektor industri. Mesin pemotong kayu
merupakan teknologi yang mengkonversikan energi listrik hasil perputaran motor listrik
menjadi energi mekanik. Dalam kegunaannya mesin pemotong kayu berguna sebagai
alat yang memotong kayu secara cepat, praktis, dan mudah dalam skala industri dan
rumahan.
Pemilihan komponen yang tepat dan akurat merupakan kriteria yang harus dipenuhi
untuk menghasilkan peralatan yang mendukung, terutama pada komponen transmisi
daya. Untuk menciptakan mesin pemotong kayu yang baik, maka komponen yang ada
pada mesin pemotong kayu harus memenuhi standar yang ada sehingga tidak mudah
terjadi kerusakan. Standar dari komponen tersebut meliputi ketahanan komponen, gaya
yang dihasilkan dan lainnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan perhitungan pada komponen
mesin mesin pemotong tersebut. Perhitungan ini didasarkan pada ilmu elemen mesin.
Dengan menguasai pengetahuan tentang komponen elemen mesin dan cara perhitungan,
serta desain maka akan memberikan peningkatan produktivitas hasil kerja di bidang
keterampilan teknik.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya yaitu:
1. Bagaimana cara mendesain dan membuat transmisi mesin pemotong kayu dengan
suatu perencanaan yang efektif dan efisien?
2. Bagaimana cara pemilihan transmisi pada mesin pemotong kayu sesuai dengan
kebutuhan?
3. Komponen-komponen apa aja yang digunakan dalam perencanaan transmisi pada
mesin pemotong kayu ?

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN
SEMESTER GENAP 2017/2018

2

1.3 Batasan Masalah
Dalam perencanaan pembuatan mesin konveyor ini perlu ada batasan, antara lain :
1. Daya 2 hp, putaran awal 1420 rpm, putaran akhir 350 rpm, dengan transmisi belt and
pulley dan pinion and gear.
2. Alat yang digunakan untuk memproses material tidak diperhitungkan.
3. Elemen mesin yang digunakan adalah poros, pasak, dan bearing.

1.4 Tujuan Perancangan:
1. Agar praktikan mampu memberikan gambaran secar umum mengenai sistem
transmisi khususnya pada mesin pemotong kayu.
2. Agar praktikan dapat membuat atau merencanakan perancangan mesin pemotong
kayu yang efektif dan efesien.
3. Agar praktikan mengetahui sistem kerja dari mesin pemotong kayu.
4. Agar praktikan mengetahui parameter yang digunakan dalam perancangan mesin
pemotong kayu.
5. Agar praktikan dapat mendesain transmisi mesin pemotong kayu yang sesuai dengan
perhitungan

1.5 Manfaat Perancangan
1. Dapat memberikan gambaran secara umum mengenai sistem transmisi khususnya
pada mesin pemotong kayu.
2. Dapat digunakan sebagai referensi pengembangan perancangan mesin pemotong
kayu yang lebih efesien.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN
SEMESTER GENAP 2016/2017

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gear (Roda Gigi)
2.1.1 Definisi Roda Gigi
Gear adalah sebutan untuk roda gigi yang bekerja pada suatu mesin yang fungsinya
adalah untuk mentransmisikan daya. Gear merupakan bagian mesin yang bentuk
sederhananya bergerigi, dapat berputar dan biasanya terhubung dengan gear lain untuk
mengirimkan torsi. Dua buah gear atau lebih yang bekerja bersama-sama akan
menghasilkan tenaga mekanis melalui perputarannya merupakan definisi sederhana dari
gear.
2.1.2 Macam-Macam Roda Gigi
1. Roda Gigi dengan Poros Sejajar
Roda gigi dengan poros sejajar adalah roda gigi dimana giginya berjajar pada
bidang silinder/poros yang kedua bidang silinder tersebut bersinggungan dan yang
satu menggelinding pada yang lain dengan sumbu sejajar/lurus. Roda gigi dengan
poros sejajar dibedakan menjadi:
a. Roda Gigi Lurus (Spur Gear)
Merupakan roda gigi paling dasar dengan jalur roda gigi sejajar poros.
Roda gigi ini mampu mentransmisikan daya kurang dari 25000 HP pada 2500
rpm.

Gambar 2.1 Roda Gigi Lurus
Sumber: Khurmi, R.S (2005,p.1026)

b. Roda Gigi Miring (Helical Gear)
Roda gigi miring mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir pada silinder
jarak bagi. Pada roda gigi miring ini, jumlah pasangan gigi yang saling
membuat kontak serentak (disebut perbandingan kontak) adalah lebih besar dari

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN
SEMESTER GENAP 2017/2018

4

pada roda gigi lurus, sehingga perpindahan momen atau putaran melalui gigi-
gigi tersebut dapat berlangsung dengan halus. Sifat ini sangat baik untuk
mentransmisikan putaran tinggi dan beban besar. Namun, roda gigi miring
memerlukan bantalan aksial dan kotak roda gigi yang besar dan kokoh, karena
jalur gigi yang terbentuk ulir tersebut menimbulkan gaya reaksi yang sejajar
dengan poros. Roda gigi ini m1ampu mentransmisikan daya sebesar 25000 –
67000 HP pada rpm lebih dari 2500.

Gambar 2.2 Roda Gigi Miring
Sumber: Khurmi, R.S (2005,p.1074)

c. Roda Gigi Miring Ganda
Gaya aksial yang ditimbulkan pada gigi membentuk alur berbentuk V
tersebut akan saling meniadakan. Dengan roda gigi ini, perbandingan reduksi,
kecepatan keliling dan daya yang diteruskan dapat diperbesar tetapi
pembuatannya sukar.

Gambar 2.3 Roda Gigi Miring Ganda
Sumber: Khurmi, R.S (2005,p.1071)

d. Roda Gigi Dalam dan Pinion
Roda gigi ini dipakai jika diinginkan alat transmisi dengan ukuran
kecil dengan perbandingan reduksi besar karena pinion terletak di dalam roda
gigi.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN
SEMESTER GENAP 2016/2017

 Distribusi beban sepanjang garis kontak tidak uniform. Roda Gigi dengan Poros Berpotongan Pada roda gigi ini. Pasangan antara batang gigi dan pinion digunakan untuk mengubah gerakan putar menjadi lurus atau sebaliknya. Gambar 2. Roda Gigi Rack dan Pinion Merupakan dasar profil pahat pembuat gigi. Robert (2004.p. 5 Gambar 2. Misalnya poros roda gigi 1 porosnya vertikal sedangkan poros roda gigi 2 porosnya horizontal.p. poros roda gigi satu sama lain saling tegak lurus.4 Roda Gigi Dalam dan Pinion Sumber: L Mott. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .327) e.328) 2. Ciri-ciri roda gigi miring adalah:  Arah gigi membentuk sudut terhadap sumbu poros. Robert (2004.5 Roda Gigi Rack dan Pinion Sumber: L Mott.  Kemampuan pembebanan lebih besar dari pada roda gigi lurus.

Tetapi roda gigi ini sangat berisik karena perbandingan kontaknya yang kecil juga konstruksinya tidak memungkinkan pemasangan bantalan pada kedua ujung porosnya. Robert (2004. Robert (2004. Roda Gigi Kerucut Lurus Dengan gigi lurus adalah yang paling mudah dibuat dan paling sering dipakai. Roda Gigi Kerucut Spiral Karena mempunyai perbandingan kontak yang besar. Sudut poros kedua roda gigi ini biasanya dibuat 90o.6  Gaya aksial lebih besar sehingga memerlukan bantalan aksial dan roda gigi yang kokoh. Gambar 2.7 Roda gigi kerucut spiral Sumber: L Mott.p. Roda Gigi Permukaan Roda gigi ini sama halnya dengan roda gigi lurus yakni berisik karena perbandingan kontak yang kecil. Roda gigi ini tidak cocok dipakai pada putaran dan daya yang tinggi. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . maka roda gigi ini dapat meneruskan putaran tinggi dan beban besar.p. Gambar 2. a.334) b.6 Roda Gigi Kerucut Lurus Sumber: L Mott.334) c.

Roda Gigi Cacing Silindris Roda gigi ini mempunyai gigi cacing berbentuk silinder.p.339) 3. 7 Gambar 2. Kerjanya halus dan hampir tanpa bunyi.8 Roda Gigi Permukaan Sumber: L Mott. Roda Gigi dengan Poros Silang Roda gigi dengan poros silang adalah roda gigi yang porosnya saling bersilangan antara roda gigi satu dengan yang lain. biasanya sudut yang dibentuk sebesar 90o. Robert (2004.9 Roda Gigi Cacing Silindris Sumber: L Mott.p. Gambar 2.339) b. Robert (2004. Roda Gigi Gobloid (Cacing Gobloid) Digunakan untuk gaya yang lebih besar karena perbandingan kontak yang lebih besar. Kedua sumbu saling bersilang dengan jarak sebesar α. a. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .

10 Roda Gigi Cacing Gobloid Sumber: L Mott.8 Gambar 2.11 Roda Gigi Hipoid Sumber: L Mott. Robert (2004. Robert (2004.p.339) c.305) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .p. Roda Gigi Hipoid Roda gigi ini mempunyai jalur berbentuk spiral pada bidang kerucut yang sumbunya bersilang. Pemindahan gaya pada permukaan gigi berlangsung secara meluncur dan menggilinding. Gambar 2.

6. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . 4. Dedendum circle Lingkaran kaki gigi yaitu lingkaran yang membatasi kaki gigi.p. Addendum Jarak antara lingkaran kepala dengan lingkaran pitch dengan lingkaran pitch diukur dalam arah radial.3 Bagian-Bagian Roda Gigi Gambar 2. Jarak bagi lingkar (circular pitch) Jarak sepanjang lingkaran pitch antara profil dua gigi yang berdekatan atau keliling lingkaran pitch dibagi dengan jumlah gigi. 2. Tebal gigi (tooth thickness) Lebar gigi diukur sepanjang lingkaran pitch. Dedendum Jarak antara lingkaran pitch dengan lingkaran kaki yang diukur dalam arah radial.1. 9 2. Robert (2004. Kelonggaran (clearance) Jarak radial dari ujung puncak sebuah gigi roda gigi yang satu ke bagian dasar dari gigi roda gigi yang lain untuk suatu pasangan roda gigi. 3. 5. Lebar gigi (face width) Kedalaman gigi diukur sejajar sumbunya.12 Bagian-bagian dari Roda Gigi Kerucut Lurus Sumber: L Mott.309) 1. 7.

15. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Puncak kepala (top land) Permukaan di puncak gigi. 14. Outside circle Lingkaran kepala gigi. Sisi kepala (face of tooth) Permukaan gigi diatas lingkaran pitch. Clearance circle Lingkaran yang bersinggungan dengan linkaran addendum dari gigi yang berpasangan. Sisi kaki (flank of tooth) Permukaan gigi dibawah lingkaran pitch. yaitu lingkaran yang membatasi gigi. dan lain-lain. 9. 13. Bottom land Permukaan bagian bawah gigi. 12.10 8. Width of space Tebal ruang antara roda gigi diukur sepanjang lingkaran pitch. Lingkaran pitch (pitch circle) Lingkaran khayal yang menggelinding tanpa terjadinya slip. 10. jarak antara gigi. Lingkaran ini merupakan dasar untuk memberikan ukuran-ukuran gigi seperti tebal gigi. 11.

p.13 Konstruksi kurva Involute Teeth Sumber: Khurmi. Konstruksi Kurva Sikloida Profil sikloida digunakan karena cara kerja sepasang roda gigi sikloida sama seperti dua lingkaran yang saling menggelinding antara yang satu dengan- pasangannya.1031) Keuntungan kurva Involute Teeth :  Pembuatan profil gigi mudah dan tepat. agar perbandingan kecepatan sudut antara pasangan roda gigi harus selalu sama. walaupun jumlah giginya berbeda. Agar memenuhi hat tersebut dikenal 3 jenis konstruksi profil gigi. maka pasangan dapat dipertukarkan.  Jika ada perubahan kepala gigi atau konstruksi gigi pada suatu pengkonstruksian perubahan dapat dilakukan dengan cutter (pisau pemotong). R.  Dengan modul yang sama.  Ketepatan jarak sumbu roda gigi berpasangan tidak perlu presisi sekali.S (2005. 2. karena menggunakan sisi cutter (pisau potong) yang lurus. Gambar 2. Oleh karena itu profil gigi dibuat dengan bentuk geometris tertentu. yaitu : 1.1. maka profil gigi harus mempunyai bentuk yang teratur sehingga kontak gigi berlangsung dengan mulus.4 Profil Roda Gigi Untuk mendapatkan keadaan transmisi gerak dan daya yang baik. 11 2. Konstruksi Kurva Involute Teeth Adalah kurva yang dibentuk oleh sebuah titik yang terletak pada sebuah garis lurus yang bergulir pada suatu silinder atau kurva yang dibentuk oleh satu titik pada sebuah tali yang direntangkan dari suatu gulungan pada silinder. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .  Arah dan tekanan profil gigi adalah sama.

maka kurva sikloida dapat berupa: a. lingkaran menggelinding pada jalur gelinding berupa garis lurus. Profil sikloida bekerja berpasangan dan dengan jarak sumbu yang presisi. kecuali yang dibuat berpasangan yang sama. Episikloida. Gaya – Gaya Yang Terjadi pada Roda Gigi Gaya – gaya yang terjadi pada gear antara lain : 1. b. c. R. lingkaran menggelinding pada jalur gelinding berupa sisi luar lingkaran. 3. Gaya Radial Gaya radial yang bekerja menuju subu roda gigi tegak lurus terhadap lingkaran jarak bagi dan terhadap gaya tangensial.  Cocok digunakan untuk penggunaan presisi. Hiposikloida. Dari keadaan konstruksi pasangan roda gigi.  Jumlah gigi dapat dibuat lebih sedikit. Orthosikloida. Keuntungan penggunaan profil sikloida:  Mampu menerima beban yang lebih besar. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .14 Konstruksi kurva sikloida Sumber: Khurmi.p. Gaya ini cenderung menciptakan gaya saling dorong diantara dua roda gigi. lingkaran menggelinding pada jalur gelinding berupa sisi dalam lingkaran. sehingga tidak dapat dipertukarkan dengan mudah.  Keausan dan tekan yang terjadi lebih kecil.S (2005.12 Gambar 2.1029) Kurva sikloida adalah kurva yang dibentuk oleh sebuah titik pada sebuah lingkaran yang menggelinding pada sebuah jalur gelinding.

Gaya Tangensial Gaya tangensial yang bekerja dalam bidang lintang dan menyinggung lingkaran jarak bagi roda gigi miring dan yang menyebabkan torsi ditransmisikan dari roda gigi yang digerakkan. Pulley besi cor Gambar 2.S (2005.p.2 Pulley 2. kayu. Macam-macam pulley: 1.717) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . R. Pulley dapat terbuat dari besi cor.15 Pulley Besi cor Sumber: Khurmi. dan kertas. tetapi dalam banyak kasus memiliki nilai koefisien gesek yang rendah dan dapat dengan mudah aus.2. baja tekan. a. 2. baja cor. 13 2.1 Definisi Pulley Suatu alat yang digunakan untuk mentransmisikan daya dari satu poros ke poros yang lainnya melalui perantara belt (sabuk) atau tali. Pulley yang dibuat dari baja press lebih ringan dibandingkan degan pulley cor. Bahan material yang digunakan harus memiliki koefsien gesek yang tinggi dan kemampupakaian yang baik (nilai keausan rendah).

3 Belt (Sabuk) 2.1 Lebar standar pulley Sumber: Khurmi.1 Definisi sabuk atau belt Belt (sabuk) atau rope (tali) digunakan untuk mentransmisikan daya dari poros yang satu ke poros yang lain dengan memakai pulley yang berputar pada kecepatan yang sama atau pada kecepatan yang berbeda. R. R.718) 3. R. Besarnya daya yang ditransmisikan tergantung pada faktor berikut: TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .p.719) 2.718) Tabel 2.p.17 Pulley Fast and Loose Sumber: Khurmi.p.16 Pulley Kayu Sumber: Khurmi.S (2005. Pulley fast and loose Gambar 2.14 2.3.S (2005. Pulley kayu Gambar 2.S (2005.

Seperti ditunjukkan pada Gambar 2. 4. Kecepatan belt. Pemilihan belt yang akan dipasang pada pulley tergantung pada faktor sebagai berikut: 1. Jarak antara pusat poros 5. Daya yang ditransmisikan 4.16 (a) banyak digunakan pada pabrik atau bengkel. Ini digunakan untuk mentransmisikan daya yang berukuran sedang pada kecepatan belt 10 m/s sampai 22 m/s seperti pada mesin perkakas. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . 15 1. 2. Kondisi pelayanan 2. Flat belt (belt datar). Ketersedian tempat 7. Ada tiga jenis belt ditinjau dari segi bentuknya adalah sebagai berikut: 1. 2. Tarikan belt yang ditempatkan pada pulley. 3. Luas kontak antara belt dan pulley terkecil. Layout poros 6. Medium drives (penggerak sedang). Kecepatan poros penggerak dan poros yang digerakkan 2. Ini digunakan untuk mentransmisikan daya yang berukuran besar pada kecepatan belt di atas 22 m/s seperti pada mesin kompresor dan generator. Light drives (penggerak ringan).3. Rasio kecepatan reduksi 3. Kondisi belt yang digunakan. Heavy drives (penggerak besar). dimana daya yang ditransmisikan berukuran sedang dari pulley yang satu ke pulley yang lain ketika jarak dua pulley adalah tidak melebihi 8 meter. Ini digunakan untuk mentransmisikan daya yang lebih kecil pada kecepatan belt sampai 10 m/s seperti pada mesin pertanian dan mesin perkakas ukuran kecil. 3.2 Klasifikasi Jenis Belt Jenis belt biasanya diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok sebagai berikut: 1.

Circular belt atau rope (belt bulat atau tali).19 V-Belt Sumber: Khurmi.S (2005.p. adalah banyak digunakan dalam pabrik dan bengkel dimana besarnya daya yang ditransmisikan berukuran besar dari pulley yang satu ke pulley yang lain ketika jarak dua pulley adalah sangat dekat.719) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Gambar 2. Seperti ditunjukkan pada Gambar 2.p.18 Flat Belt Sumber: Khurmi.16 (b).16 (c).20 Circular Belt Sumber: Khurmi. R.p.2005) 3.719) 2. adalah banyak digunakan dalam pabrik dan bengkel dimana besarnya daya yang ditransmisikan berukuran besar dari pulley yang satu ke pulley yang lain ketika jarak dua pulley adalah lebih dari 8 meter.16 Gambar 2. R. R.S (2005. Seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2.S (2005. V-Belt (belt bentuk V).

Tarikan T dalam belt pada P 2.3 menunjukkan nilai koefisien gesek untuk material belt dan material pulley. di mana μ = koefisien gesek antara belt dan pulley.728) Tabel 2. (2005. Tabel 2. Tarikan (T + δT) dalam belt pada Q 3.2. 17 2.3 Dasar pemilihan material untuk sabuk Material yang digunakan untuk belt dan tali harus kuat. fleksibel dan tahan lama.3.p.S .S . TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . Menurut material yang digunakan belt dapat diklasifikasikan sesuai dengan yang terlihat pada Tabel 2. Harus juga mempunyai koefisien gesek yang tinggi.3 Koefisien Gesek antara Belt dan Pulley Sumber: Khurmi. Tabel 2.p. R.728) Gaya-gaya yang bekerja pada sabuk : Belt PQ dalam kesetimbangan di bawah gaya berikut 1.2 Material Belt dan Density Sumber: Khurmi. Reaksi normal RN 4. (2005. Gaya gesek F = μ x RN . R.

Crossed atau twist belt drive (penggerak belt silang) seperti ditunjukkan pada gambar dibawah. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .3.18 Gambar 2.S (2005. R. Belt RQ (karena tarikan lebih) dinamakan tight side sedangkan belt LM (karena tarikan kecil) dinamakan slack side. penggerak A menarik belt dari satu sisi (yakni sisi RQ bawah) dan meneruskan ke sisi lain (yakni sisi LM atas). Dalam kasus ini. penggerak menarik belt dari sisi satu (yakni sisi RQ) dan meneruskan ke sisi lain (yakni sisi LM) jadi tarikan pada belt RQ akan lebih besar daripada belt LM. Belt sisi bawah (karena tarikan lebih) dinamakan tight side sedangkan belt sisi atas (karena tarikan kecil) dinamakan slack side.22 Open Belt Drive Sumber: Khurmi.S (2005. Gambar 2. Dalam kasus ini.21 Diagram Bebas Belt and Pulley Sumber: Khurmi. Seperti ditunjukkan pada Gambar 2. belt jenis ini digunakan dengan poros sejajar dari perputaran dalam arah yang berlawanan. Open belt drive (penggerak belt terbuka).4 belt jenis ini digunakan dengan poros sejajar dan perputaran dalam arah yang sama. Jadi tarikan pada sisi bawah akan lebih besar dari pada sisi belt yang atas (karena tarikan kecil).4 Tipe belt drives 1.739) 2.733) 2. R.p.

R. Jenis ini diberikan untuk mendapatkan rasio kecepatan yang tinggi dan ketika tarikan belt yang diperlukan tidak dapat diperoleh dengan cara lain.S (2005.p. maka lebar permukaan puli harus lebih besar atau sama.25 Belt Drive with Idler Pulley Sumber: Khurmi. Gambar 2.683) 3. Gambar 2. Belt with idler pulley (penggerak dengan puli penekan) dinamakan juga jockey pulley drive.684) 4. digunakan dengan poros parallel dan ketika open belt drive tidak dapat digunakan akibat sudut kontak yang kecil pada pulley terkecil. 19 Gambar 2. Quarter turn belt drive (penggerak belt belok sebagian) mekanisme transmisi dapat dilihat dari gambar berikut.24 Quarter Turn Belt Drive Sumber: Khurmi. R. R. Untuk mencegah belt agar tidak keluar/lepas dari puli.S (2005.684) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .S (2005.p.p.23 Crossed atau Twist Belt Drive Sumber: Khurmi.

S (2005. Fast and loose pulley drive (penggerak puli longgar atau bertingkat) digunakan ketika poros mesin (poros yang digerakkan) dimiliki atau diakhiri kapan saja diinginkan tanpa mengganggu poros penggerak.p.20 5. R. R. Pulley yang dikunci ke poros mesin dinamakan fast pulley dan berputar pada kecepatan yang sama seperti poros mesin. Loose pullley berputar secara bebas pada poros mesin dan tidak mampu mentransmisikan daya sedikitpun.S (2005.26 Compound Belt Drive Sumber: Khurmi.27 Stepped or Cone Pulley Drive Sumber: Khurmi. Compound belt drive (penggerak belt gabungan) digunakan ketika daya ditransmisikan dari poros yang satu dengan lainnya melalui sejumlah pulley.685) 7. Ketika poros mesin dihentikan. Gambar 2. belt ditekan ke loose pulley oleh perlengkapan batang luncur (sliding bar) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Gambar 2.685) 6.p. Stepped or cone pulley drive (penggerak puli kerucut atau bertingkat) digunakan untuk mengubah kecepatan poros yang digerakkan ketika poros utama (poros penggerak) berputar dengan kecepatan yang konstan.

Dalam beberapa kasus. rolling mills.S. Rantai digunakan untuk kecepatan hingga 25 m/s dan untuk daya sampai 110 kW. R.4. Untuk menghindari slip.685) 2. Rantai bisa juga digunakan untuk jarak pusat yang panjang hingga 8 meter. 21 Gambar 2. Sprocket dan rantai dipaksa untuk bergerak bersama-sama tanpa slip dan rasio kecepatan dijamin sempurna.4 Chain dan Sprocket 2.28 Fast and Loose Pulley Drive Sumber: Khurmi. maka rantai baja yang digunakan.1 Definisi Chain dan Sprocket Dalam bab sebelumnya bahwa penggerak belt dapat terjadi slip dengan pulley. mesin pertanian (traktor). R. konveyor.p.760) Rantai lebih banyak digunakan untuk mentransmisikan daya dari poros satu ke poros lain ketika jarak pusat antara poros adalah pendek seperti pada sepeda. (2005. sepeda motor. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . dan lain-lain. Sprocket di sini mempunyai gigi dengan bentuk khusus dan terpasang pas ke dalam sambungan rantai seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. transmisi daya yang lebih tinggi juga memungkinkan menggunakan rantai. Rantai dibuat dari sejumlah mata rantai yang disambung bersama-sama dengan sambungan engsel sehingga memberikan fleksibilitas untuk membelit lingkaran roda (sprocket).29.29 Sprocket and Chain Sumber: Khurmi.S (2005.p.

Mempunyai kemampuan untuk mentransmisikan gerak ke beberapa poros hanya dengan satu rantai. 5. maka rantai menempati ruang yang kecil dalam lebar dari pada belt. 6.2 Macam – Macam Chain Jenis rantai yang digunakan untuk mentransmisikan daya ada tiga tipe. 2. Rasio kecepatan yang tinggi dari 8 sampai 10 dalam satu tahap. Tipe ini digunakan sedemikian luas seperti rantai konveyor pada kecepatan rendah. 2. pelumasan yang istimewa dan memperhatikan kelonggaran. di sini rasio kecepatan yang sempurna dapat dicapai. Memberikan beban yang kecil pada poros. 3.30. 9. Rantai mempunyai fluktuasi kecepatan terutama ketika terlalu longgar. 4. Dapat digunakan untuk jarak pusat yang pendek dan panjang.4. Seperti pada Gambar 2.p. Tidak slip selama rantai bergerak. yaitu: 1. tipe ini menghasilkan suara berisik ketika bergesekan dengan gigi sprocket. Mentransmisikan daya yang lebih besar dibanding belt. 3. Karena rantai dibuat dari logam.22  Keuntungan: 1. R. Block atau Bush Chain (Rantai Ring). 7.764) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . 2. Biaya produksi rantai relatif lebih tinggi (harga lebih mahal).S. Dapat dioperasikan pada kondisi atmosfir dan temperatur yang lebih besar. Gambar 2. Memberikan efisiensi transmisi yang tinggi (sampai 98%).  Kerugian : 1.30 Block atau Bush Chain Sumber: Khurmi. 8. (2005. Rantai membutuhkan pemasangan yang akurat dan perawatan yang hati hati.

p. (2005. duplex chain. Bush Roller Chain (Rantai Roll Ring) Seperti pada Gambar 2. pin.S. Suara berisik yang ditimbulkan sangat kecil akibat impak antara rol dengan gigi sprocket. Gambar 2.31 Bush Roller Chain Sumber: Khurmi. ada simplex chain. (2005. Gambar 2.764) Gambar 2. R.33 Tipe Rol Chain Sumber: Khurmi. (2005.p.765) Rantai rol distandarisasi dan diproduksi berdasarkan pitch.S. terdiri dari plat luar. dan triplex chain.32 Bush Roller Chain pada Sepeda Motor Sumber: Khurmi.p. Rantai ini tersedia dalam bermacam-macam deret (baris). bush dan rol dibuat dari paduan baja. plat dalam.31. Pin. bush (ring) dan rol. 23 2. R. R. Rantai ini hanya memerlukan pelumasan yang sedikit.764) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .S.

disebut spindel. Spindle Poros transmisi yang relatif pendek.24 3.5 Shaft (Poros) 2.p. roda gigi. bahkan kadang-kadang tidak boleh berputar. Gambar 2.34. dimana beban utamanya berupa puntiran. R. puli sabuk atau sprocket rantai.2 Macam-macam Poros Poros untuk meneruskan daya dikasifikasikan menurut cara pembebanannya sebagai berikut: 1.5. Gandar Poros seperti yang dipasang di antara roda-roda kereta barang. Poros Transmisi Poros macam ini mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur.34 Silent Chain Sumber: Khurmi. Silent Chain (Rantai Sunyi) Seperti pada Gambar 2. Hampir semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran.5. dll.764) 2. disebut TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . (2005. rantai ini dirancang untuk menghilangkan pengaruh buruk akibat kelonggaran dan untuk menghasilkan suara yang lembut (tak bersuara). 2. 2. dimana tidak mendapat beban puntir. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti 3. seperti poros utama mesin perkakas.1 Definisi Poros Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap mesin.S. Peranan utama dalam transmisi seperti itu dipegang oleh poros. Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling.

3. Gaya aksial : Arah beban atau gaya mengarah sepanjang garis sumbu poros. poros luwes untuk transmisi daya kecil agar terdapat kebebasan bagi perubahan arah. dll. poros engkol sebagai poros utama dari mesin torak. Putaran kritis Bila putaran suatu mesin dinaikkan maka pada suatu harga putaran tertentu dapat terjadi getaran yang luar biasa besarnya. Juga ada poros yang mendapat beban tarik atau tekan seperti poros baling-baling kapal atau turbin. 3. poros dapat digolongkan atas poros lurus umum. 2. Kekakuan poros Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup tetapi jika lenturan atau defleksi puntirnya terlalu besar akan mengakibatkan ketidak-telitian (pada mesin perkakas) atau getaran dan suara (misalnya pada turbin dan kotak roda gigi). poros harus direncanakan sedemikian rupa hingga putaran kerjanya lebih rendah dari putaran kritisnya. 2. Gaya tangensial : Arah gaya yang bekerja tegak lurus terhadap jari – jari poros. harus diperhatikan.5.3 Gaya yang Bekerja pada Poros 1. 2. tumbukan atau pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter poros diperkecil (poros bertangga) atau bila poros mempunyai alur pasak. dan lain-lain. Gandar ini hanya mendapat beban lentur. kecuali jika digerakkan oleh penggerak mula dimana akan mengalami beban puntir juga. Kekuatan poros Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau lentur atau gabungan antara puntir dan lentur seperti telah diutarakan di atas. Kelelahan. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . Jika mungkin. hal yang harus diperhatikan antara lain: 1. 2.4 Perencanaan pada Poros Untuk merencanakan sebuah poros. 25 gandar. Sebuah poros harus direncanakan hingga cukup kuat untuk menahan beban-beban di atas.5. Putaran ini disebut putaran kritis. Menurut bentuknya. Gaya radial : Arah gaya reaksi atau arah beban mengarah tegak lurus pada garis sumbu poros.

Nilai rancangan awal Kt ditinjau dari jenis-jenis diskontinuitas geometri yang paling sering ditemukan dalam poros yang mentransmisikan daya. baja khrom. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Sebagian besar nilai ini bergantung pada diameter poros dan pada geometri filet dan alur. yang dapat digunakan untuk menghasilkan perkiraan awal diameter minimum poros.0 (Profil) . 2. G4104. 5. tidak diketahui pada saat awal proses perancangan . Kt = 1. Dalam hal demikian perlu dipertimbangkan penggurangan baja karbon yang diberi perlakuan panas secara tepat untuk memperoleh kekuatan yang diperlukan. Beberapa di antaranya adalah baja khrom nikel. anda dapat menganalisis geometri akhir dengan nilai awal yang memungkinkan dengan menilai tingkat kelayakan dari perancangan tersebut. yaitu: alur pasak. Dua jenis alur pasak yang paling sering digunakan adalah jenis profil dan jenis luncuran. Korosi Bahan-bahan tahan korosi (termasuk plastik) harus dipilih untuk poros propeller dan pompa bila terjadi kontak dengan fluida yang korosif. Kt = 2. Setelah memilih ukuran.6 (luncuran). dan alur cincin penahan.5 Menentukan Faktor Konsentrasi Tegangan (Kt) Analisis perancangan poros harus mempertimbangkan konsentrasi tegangan. Kt.5. yang memungkinkan pemindahan torsi dari poros ke elemen yang mentransmisikan daya. G4103. filet bahu poros. dll. Sekalipun demikian pemakaian baja paduan khusus tidak selalu dianjurkan jika alasannya hanya karena putaran tinggi dan beban berat. a. Alur Pasak Alur pasak adalah irisan alur memanjang pada poros untuk menempatkan pasak. baja khrom nikel molibden. atau sebaliknya. dan inilah tujuan dari perancangan poros. (G4102. Tetapi satu masalah muncul karena nilai perancangan sebenarnya dari faktor konsentrasi tegangan. Bahan poros Poros-poros yang dipakai untuk meneruskan putaran tinggi dan beban berat umunnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang sangat tahan terhadap keausan.26 4. Masalah ini dapat anda atasi dengan membuat sekumpulan nilai rancangan awal untuk faktor konsentrasi tegangan umum. G4105).

tujuannya untuk memperkecil konsentrasi tegangan. maka konsentrasi tegangan yang diberikan bergantung pada rasio dari kedua diameter tersebut dan jari filet yang dibuat. atau elemen lain memengaruhi jari-jari yang dapat digunakan. L (2004. L (2004. Gambar 2.507) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .5).p.506) b. tetapi kadang-kadang rancangan roda gigi. Filet Bahu Bila akan ada perubahan diameter pada poros untuk membuat bahu sebagai pembatas dudukan sebuah elemen mesin.35 (a) Alur Pasak Profil (b) Alur Pasak Luncuran Sumber: Mott. Disarankan agar jari-jari filet sebesar mungkin. 27 Gambar 2.5) dan bulat halus (Kt = 1. bantalan.36 (a) Contoh Filet Tajam (b) Contoh Filet Bulat Halus Sumber: Mott. Untuk tujuan perancangan. kita mengelompokkan filet kedalam dua kategori: tajam (Kt = 2.p.

1 Definisi Bearing Bantalan (Bearing) merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang peranan penting kerena fungsi dari bantalan yaitu menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Biasanya konfigurasinya adalah alur dangkal dengan sisi-sisi dinding dan dasar yang lurus dan jari-jari filet yang kecil pada dasar dipasang berdekatan. 2. Kiyukatsu (1983. 2.28 c. Jadi. faktor konsentrasi tegangan pada alur adalah cukup tinggi.129) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Gambar. 2. Sebagai perancangan awal. Geometri alur ditentukan oleh pabrikan cincin. Alur Cincin Penahan Cincin penahan digunakan dalam berbagai jenis usaha penempatan dalam aplikasi poros. Bantalan Luncur Aksial Bantalan ini menghantarkan poros engkol menerima gaya akasial yaitu terutama pada saat terjadi melepas / menghubungkan pelat saat mobil berjalan konstruksi bearing ini juga terbagi menjadi dua dan dipasang pada poros jurnal bagian tengah pullet.6.6 Bearing (Bantalan) 2.0 untuk tegangan lengkung pada alur cincin penahan dengan menganggap jari-jari filet agak tajam. Cincin dipasang dalam alur poros setelah elemen mapan pada tempatnya.2 Macam-macam Bearing 1.37 Bantalan Luncur Aksial Sumber: Suga. kita akan menggunakan Kt= 3. Jenis-jenis Bantalan Luncur i.p. Bantalan harus cukup kuat untuk memungkinkan poros dan elemen mesin yang lainnya berfungsi dengan baik.6.

p.129) b. jenis ini ideal untuk beban radial. Bantalan Gelinding (Roller Bearing) Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola roll Jenis-Jenis Bantalan Gelinding : a.129) iii. Bantalan Khusus Yaitu kombinasi antara bantalan luncur radial dan aksial. masing-masing baris mempunyai alur sendiri-sendiri pada cincin bagian dalamnya. Bantalan Bola Radial Alur dalam Baris Tunggal Berdasarkan konstruksinya. sehingga mampu juga untuk menahan beban aksial.39 Bantalan Bola Radial Alur dalam Baris Tunggal Sumber: Suga.38 Bantalan Khusus Sumber: Suga. Gambar 2. baik itu dipasang secara pararel maupun bertolak belakang. Kiyukatsu (1983. Bantalan Alur dalam Baris Ganda Jenis ini mempunyai dua baris bola. 29 ii.p. Bearing ini biasanya dipasangkan dengan bearing lain. Pada umumnya terdapat alur bola pada cincin luarnya. Kiyukatsu (1983. Cincin bagian dalamnya mampu TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . Gambar 2.

41 Bantalan Rol Silinder Ganda Sumber: Suga. Kiyukatsu (198. Inilah kelebihan dari jenis ini. Gambar 2.42 Bantalan Rol Silinder Baris Tunggal Sumber: Suga.129) c. Bantalan Rol Silinder Ganda Bearing ini mempunyai dua baris elemen roller yang pada umumnya mempunyai alur berbentuk silinder. Gambar 2. yaitu dapat mengatasi masalah poros yang kurang sebaris. Jenis ini memiliki kapasitas beban radial yang besar sehingga ideal untuk menahan beban kejut.p.30 bergerak sendiri untuk menyesuaikan posisinya.129) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Kiyukatsu (1983. Kiyukatsu (1983.p.40 Bantalan Alur Dalam Baris Ganda Sumber: Suga. Bantalan Rol Silinder Baris Tunggal Jenis ini mempunyai dua alur pada satu cincin yang biasanya terpisah.p.129) d. Gambar 2.

Kiyukatsu (1983.129) f. Gambar 2.p. Beban aksial minimum yang dapat ditahan tergantung dari kecepatannya. Bantalan Bola Aksial Satu Arah Bearing jenis ini hanya cocok untuk menahan beban aksila dalam satu arah saja. Jenis ini sangat sensitif terhadap ketidaksebarisan (misalignment) poros terhadap rumahnya. Elemenya dapat dipisahkan sehingga mudah melakukan pemasangan. Elemenya dapat dipisahkan sehingga mudah melakukan pemasangan. Bantalan Bola Aksial Ganda Bearing jenis ini hanya cocok untuk menahan beban aksila dalam satu arah saja.44 Bantalan Bola Aksial Ganda Sumber: Suga. Jenis ini sangat sensitif terhadap ketidaksebarisan (misalignment) poros terhadap rumahnya.43 Bantalan Bola Aksial Satu Arah Sumber: Suga. Gambar 2. 31 e. Kiyukatsu (1983.p. Beban aksial minimum yang dapat ditahan tergantung dari kecepatannya.129) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .

S (984. R. Bantalan radial Arah beban yang ditumpu oleh bantalan adalan tegak lurus dengan sumbu poros.2005) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .46 Bantalan Aksial Sumber: Khurmi. Berdasarkan arah beban terhadap poros a. Gambar 2.32 2. Bantalan aksial Arah beban yang ditumpu oleh bantalan ini adalah sejajar dengan sumbu poros.2005) b. R.S (984.45 Bantalan Radial Sumber: Khurmi. Gambar 2.

7 Key (Pasak) 2. Gambar 2. Pasak datar segi empat (Standart square key) Tipe pasak ini adalah suatu tipe yang umumnya mempunyai dimensi lebar dan tinggi yang sama.7. Pasak datar standar (Standart flat key) Pasak ini adalah jenis pasak yang sama dengan pasak datar segi empat. Karena distribusi tegangan secara aktual untuk sambungan pasak ini tidak dapat diketahui secara lengkap maka dalam perhitungan tegangan disarankan menggunakan faktor keamanan sebagai berikut: 1.2 Macam-macam pasak 1. (1991:161) 2.47 Pasak Datar Segi Empat Sumber: Spott. roda pulley.5 3. Untuk beban kejut besar terutama beban bolak-balik >> N = 4. Untuk beban torsi yang konstan (torque steady) >> N = 1.7. cam. sprocket.5 2.1 Definisi Pasak Pasak adalah bagian dari mesin yang berfungsi untuk penahan/pengikat benda yang berputar. F. hanya disini tinggi pasak tidak sama dengan lebar pasak.5 2.25 dari diameter poros. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . yang kira-kira sama dengan 0. M. 33 2. lever. tetapi tingginya mempunyai dimensi yang tersendiri. impeller dan sebagainya. Pasak digunakan untuk menyambung poros dan roda gigi. Untuk beban yang mengalami kejut rendah >> N = 2. Dengan pasak inilah akan diperoleh sambungan yang kuat dan fleksibel sehingga mudah untuk disapang dan dilepas.

M.49 Pasak Tirus Sumber: Spott. (1991:161) 3. Pasak bidang lingkaran (Wood ruff key) Pasak ini adalah salah satu pasak yang dibatasi oleh satu bidang datar pada bagian atas dan bidang bawah merupakan busur lingkaran hampir berupa setengah lingkaran. Gambar 2. Artinya torsi yang medium level dan pasak ini terkunci pada tempatnya secara radial dan aksial diantara hub dan porosnya oleh gaya dari luar yang harus menekan pasak tersebut kearah aksial dari poros. F. (1991:161) 4.48 Pasak Datar Standar Sumber: Spott. F.34 Gambar 2. M. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Pasak tirus (Tepered key) Pasak jenis ini pemakainya tergantung dari kontak gesekan antara hub dengan porosnya untuk mentransmisikan torsi.

M. Pemasangan pasak pada poros maupun roda yang disambungkan dan dibuat alur pasak yang disesuaikan dengan ukuran pasak. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .50 Pasak Bidang Lingkaran Sumber: Spott. (1991:161) 5. 35 Gambar 2. F. namun yang dibahas adalah pasak standar (Standard flat key).51 Pasak bintang Sumber: Spott. M. sepuluh atau enam belas splines. Pasak splines juga dibedakan menjadi pasak bintang lurus dan pasak bintang involute. Poros ini biasanya memiliki empat. Gambar 2. F. Poros splined relatif lebih kuat dari poros memiliki alur pasak tunggal. Poros tersebut dikenal sebagai poros splined. Pasak bintang (Splines) Pasak yang dibuat menyatu dengan poros yang cocok dalam keyways menyinggung di hub. (1991:161) Adapun berbagai macam pasak. enam.

8 Lubricant (Pelumas) 2. 2. Liquid Cairan pelumas yang biasa digunakan dalam bantalan adalah minyak mineral dan minyak sintetis. Hal ini juga melindungi bantalan terhadap korosi. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Untuk membantu menghilangkan kotoran dan kelembaban dari bantalan. 2. Minyak mineral paling sering digunakan karena murah dan stabilitas mereka. Pada pelumas jenis ini digunakan pada komponen yang meiliki karakteristik kecepatan lambat dan memiliki tekanan berat di mana tetes minyak dari bantalan tidak merembet keluar. 4. Untuk melindungi komponen bantalan dari korosi.3 Fungsi dan Tujuan Pelumasan Fungsi pelumasan di unit bantalan adalah sebagai berikut: 1. Solid Pelumas jenis solid berguna dalam mengurangi gesekan di mana minyak tidak dapat dipertahankan karena tekanan atau suhu. 2. 5.8.2 Klasifikasi Lubricant Semua pelumas diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok berikut: 1. 3. dan sebagainya. Untuk merendahkan gesekan antara unsur-unsur bergulir dan ras dari bantalan dan pada titik kontak. Pada pelumas jenis ini harus lebih lembutdari bahan yang dilumasi.1 Definisi Lubricant Lubricant atau pelumas digunakan dalam bantalan untuk mengurangi gesekan antara dua permukaan yang diberi gaya untuk membawa pergi panas yang dihasilkan oleh gesekan. Untuk membantu mengusir panas dari unit bantalan. Sebuah grafit adalah yang paling umum dari pelumas padat baik sendiri atau dicampur dengan minyak atau lemak.8. permukaan .8. Untuk membawa panas dari unit bantalan. Semi-liquid Grease adalah pelumas semi-cair yang memiliki kekentalan yang lebih tinggi daripada minyak. Pelumas cair biasanya paling banyak digunakan di mana mereka dapat bertahan lama. 3. 2.36 2.

37

2.8.4 Istilah yang Berhubungan dengan Pelumasan
1. Viskositas
Viskositas adalah ukuran tingkat fluiditas cairan. Viskositas adalah properti fisik
berdasarkan kemampuan minyak membentuk, mempertahankan dan menawarkan
ketahanan geser di bawah panas dan tekanan. Semakin besar panas dan tekanan,
viskositas yang lebih diperlukan semakin besar.
2. Indeks viskositas
Indeks viskositas (VI) adalah ukuran yang mrnunjukkan perubahan viskositas
dengan variasi suhu. Hal ini digunakan untuk mengkarakterisasi perubahan
viskositas dengan kaitannya dengan suhu di dalam minyak pelumas.

Keterangan: V menunjukkan indeks viskositas, viskositas kinematik U pada 40°C
(104°F), dan L & H berbagai nilai-nilai berdasarkan viskositas kinematik pada
100°C (212°F) tersedia dalam ASTM D2270.
3. Flash Point
Flash Point adalah suhu terendah di mana minyak menguapuap yang cukup
untuk mendukung putaran flash sesaat tanpa benar-benar membakar minyak
ketika api dibawa dalam jarak 6 mm pada permukaan minyak.
4. Fire Point
Fire Point adalah suhu di mana minyak menguap yang cukup untuk membakar
terus menerus saat dinyalakan.
5. Pour Point
Pour Point adalah suhu di mana minyak akan berhenti mengalir bila
didinginkan.
6. Cloud Point
Cloud Point adalah suhu di mana padatan terlarut tidak larut lagi, mempercepat
dalam tahap kedua memberikan cairan. Istilah ini relevan dengan beberapa aplikasi
dengan konsekuensi yang berbeda.
7. Aniline Point
Titik anilin dari minyak didefinisikan sebagai suhu minimum di mana volume
yang sama dari anilin (C 6H5NH2) dan minyak yang larut, yaitu membentuk satu fasa
pada saat pencampuran. Nilai ini memberikan perkiraan atas isi dari senyawa

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN
SEMESTER GENAP 2017/2018

38

aromatik dalam minyak, karena kelarutan anilin, yang juga merupakan senyawa
aromatik menunjukkan adanya sejenis (aromatik) senyawa dalam minyak.
8. Neutralization Number
Dalam kimia, nilai asam (atau "nomor netralisasi" atau "angka asam" atau
"keasaman") adalah massa kalium hidroksida (KOH) dalam miligram yang
diperlukan untuk menetralkan satu gram zat kimia. Jumlah asam adalah ukuran dari
jumlah gugus asam karboksilat dalam senyawa kimia, seperti asam lemak, atau
campuran senyawa.
9. Ash (Abu)
Residu yang sulit terbakar dari minyak pelumas (juga bahan bakar) yang
ditentukan dengan ASTM D582 - D874 juga (sulfat ash). Beberapa adalah turunan
dari garam-garam logam atau senyawa, persentase abu telah dianggap memiliki
hubungan dengan deferensi.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN
SEMESTER GENAP 2016/2017

39

BAB III
METODE PERANCANGAN

3.1 Metode Perancangan
Pada perancangan komponen mesin, tidak ada aturan yang pasti dalam
perencanaanya. Sering timbul masalah dalam perencanaan yang biasanya terjadi karena
berbagai sebab, tetapi prosedur utama dalam pemecahan masalah perencanaan tersebut
dapat diatasi dengan cara sebagai berikut :

1. Recognition of Need
Pertama buat pernyataan keseluruhan dari masalah yang menjelaskan kebutuhan,
atau yang menjelaskan kenapa suatumesin direncanakan.
2. Synthesis (mechanisms)
Memilih mekanisme yang mungkin atau keseluruhan mekanisme yang akan
menghasilkan gerakan yang diinginkan.
3. Analysis of forces
Menentukan gaya yang bekerja pada tiap elemen dan daya yang ditransmisikan oleh
tiap elemen.
4. Material selection
Memilih material yang paling cocok untuk tiap elemen.
5. Design of elements (size and stress)
Menentukan ukuran dari tiap elemen berdasarkan gaya yang bekerja dan tegangan
ijin dari material yang digunakan. Harus diperhatikan bahwa tiap elemen tidak
mengalami defleksi atau deformasi melebihi batas yang diijinkan.
6. Modification
Memodifikasi ukuran dari tiap elemen untuk menyesuaikan dengan standar yang
ada. Dan juga untuk mengurangi biaya produksi.
7. Detailed drawing
Menggambar tiap elemen secara detail dengan gambar assembly dari mesin dengan
spesifikasi keseluruhan untuk proses manufaktur.
8. Production
Komponen sesuai dengan gambar yang telah dibuat diproduksi.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN
SEMESTER GENAP 2017/2018

40

3.2 Spesifikasi Transmisi
Mesin roll di desain memiliki spesifikasi sebagai berikut :

1. Daya yang ditransmisikan sebesar 2 HP
2. Besar putaran motor 1000 rpm
3. Besar putaran pemotong 350 rpm
Jenis transmisi yang digunakan adalah transmisi pulley belt dan spur gear.

Tabel 3.1 Spesifikasi Transmisi
No Elemen Jumlah
1 Penggerak 1 buah
2 Pulley 2 buah
3 V-belt 1 buah
5 Spur Gear 4 buah
6 Poros 4 buah
7 Bantalan 8 buah
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2018)

Gambar 3.1 Skema Transmisi
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2018)

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN
SEMESTER GENAP 2016/2017

2. Mendapatkan hasil perhitungan setelah langkah observasi. Menentukan jenis motor yang akan digunakan. dan shaft sesuai standar. Langkah-langkah Perancangan 1. 5. 7. pinion. 3. Menghitung dan menentukan semua dimensi dan material komponen lainnya. TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . Menghitung dan menentukan diameter pulley. 4. Mengobservasi gaya-gaya yang bekerja pada setiap komponen pada mesin pemotong kayu. 6. 41 3. Menghitung dan menentukan jenis material yang sesuai standar.3. gear. Menentukan komponen-komponen yang akan digunakan.

1 Perancangan secara umum TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .3.42 3.

Minimum number of teeth pinion = 18 - 2.Dp.Wt = 𝑥𝐶𝑠 𝑣 𝑊𝑡 .Ww = Dp.K= ( + ) 1.Dp = M x Tp .154 − 𝑇𝑔 .K TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .π.Q= 𝑉𝑅+1 .Cv = 3+𝑣 0.25 x M Fillet radius at root = 0.2 Perancangan Spur Gear 1 .912 .Tg = G x Tp .Yp = 0.Q.912 .3.𝑉𝑅 .𝑣(𝑏.𝐶𝑣.Ws = σe. Aw Tp   11   G  1    2  sin 2   1  G G   .𝐶+𝑊𝑡) = 𝑊𝑡 + 21.4 x M .5708 x M Minimum clearance = 0.L = (Dg/2)+(Dp/2) .𝑣+ √𝑏.𝜋.Dg = M x Tg . Cs = 1.4 𝐸𝑝 𝐸𝑔 2.b.Dp = m.b== 𝜎𝑜.Tabel 28.𝑚.b.154 − 𝑇𝑝 0.Tp Addendum = 1 x M Dedendum = 1. 200 full depth involute system .Yp .np/60 3 . 43 3.25 𝑃𝑥 .V = π.10.25 x M Working depth = 2 x M Minimum of total depth = 2.𝐶+𝑊𝑡 (𝜎𝑒𝑠 )2 𝑠𝑖𝑛𝜃 1 1 .m.WD = Wt + Wi 21.25 x M Tooth thickness = 1.Yg = 0.𝑌𝑝 .

44 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .

M = A.1 (dimention of standart V-Belt didapat diameter minimal pulley kecil) 𝑛1 𝑑2 = 𝑑1 𝑛2 𝑑2−𝑑1 Sinα = 2𝑥 .X = jarak antar pusat pulley 𝜋. 45 3.V= 60 𝑟2−𝑟1 2 - L = π(r2 + r1) + 2x +( ) 𝑥 . 𝛾 - Tc = M.3 Perancangan Belt and Pulley Menurut tabel 20. V2 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .n1 .d1. L.3.

v Daya motor . T = 𝜎. P = (T1-T2).A .46 .X = 𝐷𝑎𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛𝑠𝑚𝑖𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑙𝑡 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .

𝑚.Wt = 𝑥𝐶𝑠 𝑣 𝑊𝑡 .𝐶+𝑊𝑡) = 𝑊𝑡 + 21.𝑉𝑅 .Yp .Ww = Dp.b.4 x M .Q= 𝑉𝑅+1 .154 − 𝑇𝑝 0.L = (Dg/2)+(Dp/2) .Dg = M x Tg .Cv = 3+𝑣 0.25 x M Tooth thickness = 1.π.5708 x M Minimum clearance = 0.Dp = M x Tp .154 − 𝑇𝑔 . 200 full depth involute system .K TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .Yg = 0.V = π.𝑌𝑝 .Q.Tp Addendum = 1 x M Dedendum = 1.b== 𝜎𝑜.25 x M Working depth = 2 x M Minimum of total depth = 2.𝐶+𝑊𝑡 (𝜎𝑒𝑠 )2 𝑠𝑖𝑛𝜃 1 1 .b. 47 3.m.𝑣+ √𝑏.10.Tg = G x Tp .Dp.25 𝑃𝑥 .np/60 3 .912 . Aw Tp   11   G  1    2  sin 2   1  G  G   .K= ( + ) 1.4 𝐸𝑝 𝐸𝑔 2.𝐶𝑣.𝑣(𝑏.Yp = 0.Ws = σe.3.Minimum number of teeth pinion = 18 - 2. Cs = 1.Tabel 28.25 x M Fillet radius at root = 0.912 .𝜋.WD = Wt + Wi 21.4 Perancangan Spur Gear 2 .Dp = m.

48 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .

3. 𝑀= 4 . 49 3. 𝑊 = 𝐶𝑜𝑠𝛼 𝑊𝐿 .5 Perancangan Poros 𝑝 𝑥 60 . 𝑇𝑒 = (√𝑀2 + 𝑇 2 ) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . 𝐹𝑡 = 𝐷 𝐹𝑡 . 𝑇= 2𝜋𝑁 2𝑇 .

50 3. Tapered.T = l .Tabel Proportion Of Standart Parallel.3. τ . and Gibs Key . w .6 Perancangan Pasak . d/2 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .

𝑊𝑟 + 𝑦. 𝑁 . 𝑊𝑎 .3. 𝑥 . 𝑤 = 𝑣 . 51 3. 𝐿 = 60 .7 Perancangan Bearing . 𝐿ℎ 𝐿90 1/𝑘 . 𝐶 = 𝑤( ) 106 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .

52 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .

154 − 𝑇𝑝 0. 53 BAB IV PERHITUNGAN 4. S KHURMI.1 Perhitungan dan Desain Spur Gear A. Mencari velocity ratio 𝑛𝑔 VR = 𝑛𝑝 710 VR = 1420 VR = 0.5 3.491 kW  Putaran pinion (np) : 1420 rpm  Putaran gear yang diharapkan (ng) : 710 rpm 1. 18 TG = 36 4.00 5.912 𝑦𝑝 = 0. Perhitungan Spur Gear 1 [R.1033 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . Mencari service factor Pada tabel 28.154 − 18 𝑦𝑝 = 0. Cs = 1.10 values of service factor Tipe beban = steady Tipe service = 8-10 hours per day service factor. Menentukan jumlah gigi pinion  Sistem pada gigi gear = 20° full depth involute system karena dibutuhkan gigi transmisi yang kuat dengan beban besar.912 𝑦𝑝 = 0. 2005] Data yang diketahui  Daya motor yang ditransmisikan (P) : 2 hp = 1. Dengan sistem ini roda gigi bekerja lebih lancar dan lebih tahan aus  Jumlah gigi minimum pada pinion dengan sistem gigi gear 20° full depth involute system ( Tp) = 18 2. Mencari tooth form factor for the pinion 0. Mencari jumlah gigi gear TG = 2.

912 𝑦𝐺 = 0.111 3 = 56 14𝑚 𝑥 𝜋𝑚 𝑥 0.54 6.64 𝑚 mm/s 𝑣 = 1.1033 = 5.34𝑚 1.7848 𝜎𝑜𝐺 𝑥 𝑦𝐺 = 70 𝑥 0.491 𝑊𝑇 = 𝑥 1. 18 𝐷𝑝 = 36 mm 𝐷𝐺 = 𝑚 𝑇𝐺 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .218 𝑚3 𝑚 = 2 (𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑡) 8.154 − 36 𝑦𝐺 = 0.34 𝑚 m/s 𝑃 𝑊𝑇 = 𝑥 𝐶𝑠 𝑣 1. 𝑚.34 𝑚 = 0.34 𝑚 3 + 1.14. Mencari module 𝜋𝐷𝑝 𝑛𝑝 𝜋 𝑚 𝑇𝑝 𝑁𝑝 𝑣= = 60 60 3.154 − 𝑇𝐺 0.34 𝑚 𝜎𝑜𝑝 𝑥 𝑦𝑝 = 56 𝑥 0. Mencari tooth form factor for the gear 0.00 1.912 𝑦𝐺 = 0.1286 7. Menghitung diameter pinion dan gear 𝐷𝑝 = 𝑚 𝑇𝑝 𝐷𝑝 = 2 .1033 𝑚 3 + 1.1420 𝑣= 60 𝑣 = 1337.111 𝑊𝑇 = 𝑁 𝑚 3 𝐶𝑣 = 3+𝑣 3 𝐶𝑣 = 3 + 1.002 Lewis equation 𝑊𝑇 = 𝜎𝑤𝑝 𝑏 𝜋 𝑚 𝑦𝑝 = (𝜎𝑜𝑝 𝑥 𝐶𝑣 )𝑏 𝜋 𝑚 𝑦𝑝 1. 18.1286 = 9.

675 m/s s 10.36.675) 𝐶𝑉 = 0. Mencari velocity factor 3 𝐶𝑉 = (3 + 𝑣) 3 𝐶𝑉 = (3 + 2. Mencari beban tangensial 𝑃 𝑊𝑡 = (𝑣 )𝐶𝑆 1. Mencari face width 𝑏 = 14 𝑚 𝑏 = 14 .5 𝑄= (0.491 𝑊𝑡 = (2. 55 𝐷𝐺 = 2 . 2 𝑏 = 28 mm 13. Ratio factor (2𝑉𝑅) 𝑄 = (𝑉𝑅+1) 2.28 = 2.14.0.00 𝑊𝑡 = 556.528 11.5 + 1) 𝑄 = 0.95 𝑁 Dimana : P = Daya CS = value of service factor 12.675) 1.667 Dimana : VR = velocity ratio TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . Mencari velocity 𝜋𝐷𝑝 𝑛𝑝 𝑣= 60 3. 36 𝐷𝐺 = 72 mm 9.1420 𝑣= 60 mm 𝑣 = 2675.

56 14.S.5 mm Tooth thickness = 1.491 kW Putaran Input (n1): 710 rpm Putaran Output (n) : 550 rpm Jarak antar pusat (diasumsikan) = 500 mm 1. Mencari diameter pulley besar 𝑛1 𝑑2 = 𝑑1 𝑛2 710 𝑑2 = 75 550 d2 = 96.4 m = 0.2 Perhitungan dan Desain Pulley dan Belt A.1416 mm Minimum clearance = 0.25 m = 4. Khurmi.5 mm Working depth = 2 m = 4 mm Minimum total depth = 2.1 (dimension of standart V-Belt didapat diameter minimal pulley kecil sebesar 75 mm ( tipe belt A). Menurut tabel 20.25 m = 0. ordinary Material Gear = Cast iron.8 mm TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .25 m = 2. Desain Spur Gear 1 (Terlampir) 4. Menghitung distance between centre 𝐷𝐺 𝐷𝑝 𝐿= + 2 2 72 36 𝐿= + 2 2 𝐿 = 162 mm Material pinion = Cast iron.5708 m = 3.5 kW 2. 2005] Ditentukan : Daya motor : 2 HP = 1491 W = 1.8 mm B. Didapat dari range daya 0.5 mm Fillet radius at root = 0. Perhitungan Pulley dan Belt [R. medium grade Addendum = 1 m = 2 mm Dedendum = 1.7-3.

Mencari sudut kontak (Ө) 𝑑2−𝑑1 Sinα = 2𝑥 Dimana: X = jarak antar pusat pulley.14(48.14.4−37.72+1000+0.n1 V= 60 3.4 + 37. 57 3.500 Sinα = 0.710 V= 60 V = 2. Menghitung kecepatan belt 𝜋.5 2 L = 3.991 rad 4.72 mm L = 1433 mm (standart) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . diputuskan harga x adalah 500 mm 𝑑2−𝑑1 Sinα = 2𝑥 96.0218 α = 4.0. Menentukan panjang belt Menentukan radius pada pulley kecil r1 = 𝑑1⁄2 r1 = 75⁄2 r1 = 37.3 ° Ө = (180 –  x 2)˚ Ө = (180 – 4.4 mm 𝑟2−𝑟1 2 L = π(r2 + r1) + 2x +( ) 𝑥 48.4° Ө = 2.8−75 Sinα = 2.075.5) + 2.500 +( ) 500 L = 269.00047 L = 1269.5 mm Menentukan radius pada pulley besar r2 = 𝑑2⁄2 r2 = 96.d1.787 m/s 5.3° x 2)˚ Ө = 171.8 ⁄2 r2 = 48.

3. 2.7822 Tc = 1. 𝜃 cosec β 𝑇1 2.1.787 P = 1062.235.062 kW TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .083 𝑇2 = 13. Daya yang ditransmisikan per belt P = (T1-T2).824) . Tegangan maksimum pada belt (Rubber belt allowable 1.784 𝑇2 = 29.125 – 1.134235 .784 𝑇2 411.139 𝑇1 = 13. Menentukan massa dari belt M = A.824 𝑁 Dimana: 𝜇 = 0.083– 29.d1.A T = 1.1140 M = 3.5 T = 412.125 N T1 = T – Tc T1 = 412. 75.3 log (𝑇2) = 𝜇.134235 kg/m Dimana: 𝛾 = 1140 (rubber density) 7. 2.47W P = 1. Menentukan centrifugal tension dari belt Tc = M.14.v P = (411.991 cosec 20° 𝑇1 log (𝑇2) = 1.75) T = 𝜎. V2 Tc = 0. L.042 T1 = 411.083 N 𝑇1 2. 1140 M = 134235 x 10−6 M = 0.58 6. 𝛾 M = π.0.042 N 8.2.5.3 log (𝑇2) = 0.75.3( koefisien gesek rubber belt pada dry cast iron stell pulley) 9.

Menentukan jumlah gigi pinion  Sistem pada gigi gear = 20° full depth involute system karena dibutuhkan gigi transmisi yang kuat dengan beban besar. Perhitungan Spur Gear 2 [R. 59 10. Desain Pulley dan Belt (Terlampir) 4. S KHURMI. Mencari velocity ratio 𝑛𝑔 VR = 𝑛𝑝 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . sehingga tegangannya akan lebih besar dan daya yang ditransmisikan akan besar pula.49 X = 1. Angka belt yang didapat Daya motor X = 𝐷𝑎𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛𝑠𝑚𝑖𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑙𝑡 1.491 kW  Putaran pinion (np) : 550 rpm  Putaran gear yang diharapkan (ng) : 350 rpm 1. 2005] Data yang diketahui  Daya motor yang ditransmisikan (P) : 2 hp = 1.402 (3 V ) Material belt = rubber  Memiliki flexibilitas yang tinggi  Mengurangi terjadinya slip  Mudah dibuat tak berujung  Tetap bekerja dengan baik meskipun basah  Tahan lama Material Pulley = Dry cast iron  Memiliki koefisien gesek yang cukup tinggi (0. Dengan sistem ini roda gigi bekerja lebih lancar dan lebih tahan aus  Jumlah gigi minimum pada pinion dengan sistem gigi gear 20° full depth involute system ( Tp) = 18 2.3 Perhitungan dan Desain Spur Gear A.3) jika dipasangkan dengan belt bermaterial karet. B.062 X = 1.

1033 6.154 − 18 𝑦𝑝 = 0. Mencari jumlah gigi gear TG = 1.912 𝑦𝐺 = 0.912 𝑦𝐺 = 0. 𝑚. Mencari tooth form factor for the gear 0.6 3.14. Cs = 1.60 350 VR = 550 VR = 0. 18.912 𝑦𝑝 = 0.10 values of service factor Tipe beban = steady Tipe service = 8-10 hours per day service factor.00 0.912 𝑦𝑝 = 0.154 − 27 𝑦𝐺 = 0. Mencari service factor Pada tabel 28.550 𝑣= 60 𝑣 = 518. Mencari module 𝜋𝐷𝑝 𝑛𝑝 𝜋 𝑚 𝑇𝑝 𝑁𝑝 𝑣= = 60 60 3.00 5.1202 7.518𝑚 2878 𝑊𝑇 = 𝑁 𝑚 3 𝐶𝑣 = 3+𝑣 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .518 𝑚 m/s 𝑃 𝑊𝑇 = 𝑥 𝐶𝑠 𝑣 1491 𝑊𝑇 = 𝑥 1.154 − 𝑇𝐺 0. Mencari tooth form factor for the pinion 0. 18 TG = 27 4.1 𝑚 mm/s 𝑣 = 0.154 − 𝑇𝑝 0.5.

036 m/s s 10. Mencari velocity factor 3 𝐶𝑉 = (3 + 𝑣) 3 𝐶𝑉 = (3 + 1.518 𝑚 𝜎𝑜𝑝 𝑥 𝑦𝑝 = 56 𝑥 0.491 𝑊𝑡 = (1.14. 61 3 𝐶𝑣 = 3 + 0.036) 𝐶𝑉 = 0.414 Lewis equation 𝑊𝑇 = 𝜎𝑤𝑝 𝑏 𝜋 𝑚 𝑦𝑝 = (𝜎𝑜𝑝 𝑥 𝐶𝑣 )𝑏 𝜋 𝑚 𝑦𝑝 2878 3 = 56 14𝑚 𝑥 𝜋𝑚 𝑥 0.1202 = 8. Mencari beban tangensial 𝑃 𝑊𝑡 = (𝑣 )𝐶𝑆 1.36.743 11.2 = 1. 18 𝐷𝑝 = 36 mm 𝐷𝐺 = 𝑚 𝑇𝐺 𝐷𝐺 = 2.036)1 𝑊𝑡 = 1437.95 𝑁 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .1033 𝑚 3 + 0. Mencari velocity 𝜋𝐷𝑝 𝑛𝑝 𝑣= 60 3.550 𝑣= 60 mm 𝑣 = 1036.844 𝑚3 𝑚 = 1. 27 𝐷𝐺 = 54 mm 9.1033 = 5.518 𝑚 3 + 0.518 𝑚 = 0.7848 𝜎𝑜𝐺 𝑥 𝑦𝐺 = 70 𝑥 0. Menghitung diameter pinion dan gear 𝐷𝑝 = 𝑚 𝑇𝑝 𝐷𝑝 = 2.6 𝑚 = 2 (𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑡) 8.

62 Dimana : P = Daya CS = value of service factor 12.778 Dimana : VR = velocity ratio 14.5 mm Tooth thickness = 1. medium grade Addendum = 1 m = 2 mm Dedendum = 1. Desain Spur Gear 2 (Terlampir) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . ordinary Material Gear = Cast iron. Menghitung distance between centre 𝐷𝐺 𝐷𝑝 𝐿= + 2 2 54 36 𝐿= + 2 2 𝐿 = 45 mm Material pinion = Cast iron.8 mm B. Mencari face width 𝑏 = 14 𝑚 𝑏 = 14.25 m = 0.0. Ratio factor (2𝑉𝑅) 𝑄 = (𝑉𝑅+1) 2.6 + 1) 𝑄 = 0.1416 mm Minimum clearance = 0.4 m = 0.25 m = 2.5 mm Working depth = 2 m = 4 mm Minimum total depth = 2.25 m = 4.6 𝑄= (0.5708 m = 3.5 mm Fillet radius at root = 0.2 𝑏 = 28 mm 13.

1 Perhitungan dan Desain Poros 1 A.1 Desain Sketsa Poros 1 Sumber : Dokumen Pribadi (2018) Dpinion1 = 36 mm P = 2 hp = 1.3823 𝑇1 [𝑇2] = 2.97 N 2.28  𝑇1 0.12 𝑁𝑚𝑚 2𝜋𝑛1 2 𝑥 3.28 𝑥 3.95 N 18 𝑇1 2.92 N TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .3 log [𝑇2] = 0.97 Wc = 787.411 2.4 Perhitungan dan Desain Poros 4. Hitung torsi pada poros 𝑃. 60 1491 𝑥 60 𝑇= = = 10025.12 Wpinion = 𝑅 = = 556.95 + 230. Perhitungan Poros 1 Gambar 4. Menghitung beban vertikal yang bekerja pada pinion Wc = T1 +T2 Wc = 556.491 kW N1 = 1420 rpm 1.3 𝑇1 log [𝑇2] = 0. 63 4.14 log [𝑇2] = 2.4.95 T2 = = 230.14 𝑥 1420 𝑇 10025.4113 556.

405 x 100 MDV = 50.92 – 501.140.95 – 230.140. RAV + RBV = 787.623 𝑚𝑚 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .14 50.405 RAV = 286.6532 𝑇𝑒 = 50.45 Nmm Maksimal momen bending = 50140.140. Equivalent twisting moment 𝑇𝑒 = √𝑀2 + 𝑇 2 𝑇𝑒 = √50.482.92 N RBV x 275 = 787.92 x 100 RBV = 501.61 = 𝑥 56 𝑥 𝑑3 16 𝑑 = 16.97) 18 = 5867.405 N RAV = 787.482.61 𝑁𝑚𝑚 𝜋 𝑇𝑒 = 𝑥 𝜏 𝑥 𝑑3 16 3. Menghitung torsi pada pinion T = (T1-T2) Rpulley = (556.452 + 5867.517 N BM di C MCV = RAV x 175 MCV = 286.45 Nmm 5.64 3.653 Nmm 4.45 Nmm BM di D MDV = RBV x 100 MDV = 501.517 x 175 MCV = 50.

45 B.2 Desain Sketsa Poros 2 Sumber : Dokumen Pribadi (2018) Dpulley = 75 mm = C Dgear = 72 mm = D TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .2 Perhitungan dan Desain Poros 2 A. Desain Poros 1 (Terlampir) 4.4. 65 50140. Perhitungan Poros 2 Gambar 4.

221.40 N Beban vertikal di D = 0 3. 60 1491 𝑥 60 𝑇= = = 20.98 WD = 787.4113 534.97 𝑁 𝑇4 = 230.67 N 37.5 = 11735.73 N 2. Hitung torsi pada poros 2 𝑃. Menghitung beban horisontal Di D WD = T3 +T4 WD = 556.24 𝑁𝑚𝑚 2𝜋𝑛2 2 𝑥 3.14 log [ ] = 𝑇2 2.050.31 Nmm (𝑇 3 − 𝑇4 )𝑅𝐷 = 𝑇 = 11735.3 𝑇1 log [𝑇2] = 0.31 𝑇3 − 𝑇4 = = 325.411 2.95 N TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Menghitung beban vertikal yang bekerja di C Wc = T1 +T2 Wc = 534.98 𝑁 4.66 P = 2 hp = 1.73 Wc = 756.31 𝑁 11735.3823 𝑇1 [𝑇2] = 2.14 𝑥 710 𝑇 20.050.67 .67 + 221. Menghitung torsi pada C T = (T1-T2) Rc = (534.28  𝑇1 0.3 log [𝑇2] = 0.28 𝑥 3.5 𝑇1 2.97 + 230.98 𝑁 36 𝑇3 𝑇1 = = 2.24 Wpulley 2= 𝑅 = = 534.4113 𝑇4 𝑇3 = 556.73) 37.491 kW Tp = 18 N2 = 710 rpm 1.67 T2 = = 221.4113 𝑇4 𝑇2 𝑇3 = 2.

34 Nmm BM di D MDV = RBV x 200 MDV = 189.10 N RAV = 756.112 + 59096.96N RAH = 196.09 𝑁𝑚𝑚 Resultan BM di D 𝑀𝐷 = √𝑀𝐷𝑣 2 + 𝑀𝐷𝐻 2 𝑀𝐷 = √18910.78 Nmm BM di D MDH = RBH x 100 MDH = 590.40 x 100 RBV = 189.11 Nmm 6.12 𝑁𝑚𝑚 Maksimal bending momen =62048.782 𝑀𝑐 = 60053.99 x 100 MCH = 19698. RAH + RBH = 787.34 Nmm Resultan BM di C 𝑀𝑐 = √𝑀𝑐𝑣 2 + 𝑀𝑐𝐻 2 𝑀𝑐 = √56730. RAV + RBV = 756.40 N RBV x 400 = 756. 67 Beban horisontal di C = 0 5.40 – 189.95 x 300 RBH = 590.342 + 19698.10 RAV = 567.30 x 100 MCV = 56730.12 Nmm TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .96 x 100 MDH = 59096.10 x 100 MDV = 18910.95 N RBH x 400 = 787.342 𝑀𝐷 = 62048.30 N BM di C MCV = RAV x 200 MCV = 567.99 N BM di C MCH = RAH x 100 MCH = 196.

14 = 𝑥 140 𝑥 𝑑 3 16 𝑑 = 13.34 59096.68 7.34 B. Desain Poros (Terlampir) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .20 𝑚𝑚 56730.14 63148.14 𝑁𝑚𝑚 𝜋 𝑇𝑒 = 𝑥 𝜏 𝑥 𝑑3 16 3. Equivalent twisting moment 𝑇𝑒 = √𝑀2 + 𝑇 2 𝑇𝑒 = √62048.122 + 11735.312 𝑇𝑒 = 63148.

28 𝑥 3.773 N 48.411 2.3 Perhitungan dan Desain Poros 3 A.773 N 2.8 mm = D P = 2 hp = 1.03 𝑁𝑚𝑚 2𝜋𝑛2 2 𝑥 3. Perhitungan Poros 3 Gambar 4.3 𝑇1 log [𝑇2] = 0. Hitung torsi pada poros 3 𝑃.491 kW Tp = 18 N3 = 100 rpm 1. 69 4.28  𝑇1 0.3823 𝑇1 [𝑇2] = 2.773 + 221.03 Wgear1= 𝑅 = = 534. 60 1491 𝑥 60 𝑇= = = 25883.4 𝑇1 2.14 log [𝑇2] = 2.3 Desain Sketsa Poros 3 Sumber : Dokumen Pribadi (2018) Dpinion= 36 mm = C Dpulley = 96.4113 534.773 T2 = = 221.547 N Di D beban vertikal = 0 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . Menghitung beban vertikal yang bekerja di C Wc = T1 +T2 Wc = 534.14 𝑥 550 𝑇 25883.4.773 Wc = 756.3 log [𝑇2] = 0.

500 𝑁 96.547 N RBV x 400 = 756.214 𝑁 15149.773 – 221.214 𝑇3 − 𝑇4 = = 156.45 𝑁 𝑇4 = 110. Menghitung torsi pada D T = (T1-T2) Rc = (534.8 𝑇3 𝑇1 = = 2.773) 48.37 x 100 RBH = 94.410 N RAV= 567. RAV + RBV = 756.547 x 300 RBV = 567.410 x 100 MCV = 56741 Nmm BM di D MDV = RAV x 100 MDV = 189.91 WD = 378.37 N Di C beban horisontal = 0 5.91 𝑁 4.410 – 378.70 3.137 x 100 MDV = 18913.45 + 110.214 Nmm (𝑇 3 − 𝑇4 )𝑅𝐷 = 𝑇 = 15149.78 N BM di C MCH = RAH x 100 MCH = 283.7 Nmm 6.4= 15149.78 x 100 MCH = 28378 Nmm BM di D MDH = RBH x 100 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .59 N RAH = 283.137 N BM di C MCV = RBV x 100 MCV = 567. Menghitung beban horisontal di D WD = T3 +T4 WD = 267.37 N RBH x 400 = 378. RAH + RBH = 378.4113 𝑇4 𝑇2 𝑇3 = 2.37 RAV = 189.4113 𝑇4 𝑇3 = 267.

162 + 15149.7 2 + 28377.51 𝑚𝑚 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .82 = 𝑥 196 𝑥 𝑑 3 16 𝑑 = 16.2142 𝑇𝑒 = 173235. Equivalent twisting moment 𝑇𝑒 = √𝑀2 + 𝑇 2 𝑇𝑒 = √172572.59 x 100 MDH = 9459 Nmm Resultan BM di C 𝑀𝑐 = √𝑀𝑐𝑣 2 + 𝑀𝑐𝐻 2 𝑀𝑐 = √567412 + 283782 𝑀𝑐 = 63441.602 𝑀𝐷 = 172572.16 𝑁𝑚𝑚 Maksimal bending momen = 172572.16 Nmm 7.14 173235.82 𝑁𝑚𝑚 𝜋 𝑇𝑒 = 𝑥 𝜏 𝑥 𝑑3 16 3.72 𝑁𝑚𝑚 Resultan BM di D 𝑀𝐷 = √𝑀𝐷𝑣 2 + 𝑀𝐷𝐻 2 𝑀𝐷 = √18913. 71 MDH = 94.

Perhitungan Poros 4 Gambar 4.4 Perhitungan dan Desain Poros 4 A.72 B.4.4 Desain Sketsa Poros 4 Sumber : Dokumen Pribadi (2018) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 . Desain Poros 3 (Terlampir) 4.

34 𝑁𝑚𝑚 2𝜋𝑛2 2 𝑥 3. 73 Dgear = 54 mm = C P = 2 hp = 1.98 Nmm Maksimal bending momen = 142075.42 T2 = = 624. 60 1491 𝑥 60 𝑇= = = 40673.14 N Di D beban vertikal = 0 3.28 𝑥 3.42 – 624.98 Nmm 5.42 + 624.14 log [𝑇2] = 2.912 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .72 N 2.72 Wc = 2131. Menghitung torsi pada C T = (T1-T2) Rc = (1506.28  𝑇1 0. Menghitung beban vertikal yang bekerja di C Wc = T1 +T2 Wc = 1506.72) 27 = 23805. Equivalent twisting moment 𝑇𝑒 = √𝑀2 + 𝑇 2 𝑇𝑒 = √142075. RAV + RBV = 2131.3823 𝑇1 [𝑇2] = 2.982 + 23805.14 – 1420.491 kW Tp = 18 N4 = 350 rpm 1.14 x 200 RBV = 1420.34 Wgear2= 𝑅 = = 1506.42 N 27 𝑇1 2.76 RAV = 710.14 N RBV x 300 = 2131. Hitung torsi pada poros 3 𝑃.91 Nmm 4.411 2.14 𝑥 350 𝑇 40673.3 log [𝑇2] = 0.4113 1506.38 x 200 MCV = 142075.38 N BM di C MCV = RAV x 200 MCV = 710.76 N RAV = 2131.3 𝑇1 log [𝑇2] = 0.

1 Perhitungan dan Desain Pasak 1 A.60 𝑁𝑚𝑚 𝜋 𝑇𝑒 = 𝑥 𝜏 𝑥 𝑑3 16 3.14 144056.62 𝑇 = 𝑙 𝑥 5 𝑥 42 𝑥 2 𝑇 = 1745.5.62 mm τ = 42 N/mm2 σc = 105 N/mm2 𝑑 𝑇=𝑙𝑥𝑤𝑥𝜏𝑥 2 16. Desain Poros 4 (Terlampir) 4.42 𝑙 𝑁𝑚𝑚 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .98 B. Perhitungan Pasak pada Poros 1 w=5 t=5 d = 16.74 𝑇𝑒 = 144056.60 = 𝑥 56 𝑥 𝑑3 16 𝑑 = 23.5 Perhitungan dan Desain Pasak 4.58 𝑚𝑚 142075.

Desain Pasak pada Poros 1 (Terlampir) 4.69 𝑚𝑚 𝑡 d 𝑇=𝑙.5. Perhitungan Pasak pada Poros 2 w=5 t=5 d = 13. 2 2 5 16.77 𝑙 𝑁𝑚𝑚 𝑙 = 17.203 16 𝑇 = 18957.35 𝑚𝑚 B.14 𝑇= 𝑥 42 𝑥 16. σc .42 𝑙 𝑙 = 21.57 = 1745.2 Perhitungan dan Desain Pasak 2 A.14 𝑇= 𝑥 42 𝑥 13. .2 𝑇 = 𝑙 𝑥 5 𝑥 42 𝑥 2 𝑇 = 1386 𝑙 𝑁𝑚𝑚 𝜋 𝑇= 𝑥 𝜏 𝑥 𝑑3 16 3.42 𝑙 37860.57 𝑁𝑚𝑚 𝑇 = 1745.62 𝑇 = 𝑙 𝑥 𝑥 105 𝑥 2 2 𝑇 = 2181.35 𝑚𝑚 Dipilih yang paling kecil 𝑙 = 17.20 mm τ = 42 N/mm2 σc =105 N/mm2 𝑑 𝑇=𝑙𝑥𝑤𝑥𝜏𝑥 2 13.5 𝑁𝑚𝑚 𝑇 = 1386 𝑙 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .623 16 𝑇 = 37860. 75 𝜋 𝑇= 𝑥 𝜏 𝑥 𝑑3 16 3.

51 𝑇 = 𝑙 𝑥 5 𝑥 42 𝑥 2 𝑇 = 1733.76 18957. Perhitungan pasak pada poros 3 w=5 t=5 d = 16. Desain Pasak pada Poros 2 (Terlampir) 4.51 mm τ = 42 N/mm2 σc = 70 N/mm2 𝑑 𝑇=𝑙𝑥𝑤𝑥𝜏𝑥 2 16. σc .5 = 1386 𝑙 𝑙 = 13.5. .68 𝑚𝑚 𝑡 d 𝑇=𝑙.94 𝑚𝑚 Dipilih yang paling kecil 𝑙 = 10.50 𝑙 𝑁𝑚𝑚 𝑙 = 10. 2 2 5 16. 2 2 5 13.14 𝑇= 𝑥 42 𝑥 16.513 16 𝑇 = 37093.2 𝑇 = 𝑙 𝑥 .55 𝑙 𝑁𝑚𝑚 𝜋 𝑇= 𝑥 𝜏 𝑥 𝑑3 16 3. 𝑥 105 𝑥 2 2 𝑇 = 1732.51 𝑇 = 𝑙 𝑥 𝑥 70 𝑥 2 2 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .7 = 1733. σc .55 𝑙 𝑙 = 21.3 Perhitungan dan Desain Pasak 3 A.94 𝑚𝑚 B.40 𝑚𝑚 𝑡 d 𝑇=𝑙.7 𝑁𝑚𝑚 𝑇 = 1565.55 𝑙 37093. .

5.40 𝑚𝑚 B. .9 𝑙 𝑁𝑚𝑚 𝜋 𝑇= 𝑥 𝜏 𝑥 𝑑3 16 3.4 Perhitungan dan Desain Pasak 4 A.58 𝑇 = 𝑙 𝑥 5 𝑥 42 𝑥 2 𝑇 = 2475.583 16 𝑇 = 108066 𝑁𝑚𝑚 𝑇 = 2475.1 𝑙 𝑁𝑚𝑚 𝑙 = 18. 77 𝑇 = 1444. Desain Key / Pasak (Terlampir) 4. Perhitungan pasak pada poros 4 w=5 t=5 d = 26.9 𝑙 𝑙 = 43.7 𝑚𝑚 Dipilih yang paling kecil 𝑙 = 21.65 𝑚𝑚 𝑡 d 𝑇=𝑙. σc .14 𝑇= 𝑥 42 𝑥 23.9 𝑙 108066 = 2475.58 𝑇 = 𝑙 𝑥 𝑥 196 𝑥 2 2 𝑇 = 5777.92 mm τ = 42 N/mm2 σc = 196 N/mm2 𝑑 𝑇=𝑙𝑥𝑤𝑥𝜏𝑥 2 23.71 𝑚𝑚 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . 2 2 5 23.63 𝑙 𝑁𝑚𝑚 𝑙 = 25.71 𝑚𝑚 Dipilih yang paling kecil 𝑙 = 18.

1 Perhitungan dan Desain Bearing Pada Poros 1 A.4 Khurmi & Gupta Y = 1.WA 𝑊𝐴 4000 = 𝑊𝑅 10000 𝑊𝐴 = 0.WR + Y.25 𝐶0 𝑋 = 0. Hidup Bearing menurut putaran L = 60 x N x LH L = 60 x 1420 x 15000 L = 1278 x 106 rev 3.6.2 x 4000 W = 11200 N 4. Perhitungan Bearing pada Poros 1 [R. Hidup Bearing LH = tahun x hari per tahun x jam perhari LH = 5 x 300 x 10 LH = 15000 jam 2. Dynamic Load : W = X.4 𝑊𝑅 𝑊𝐴 = 0. Khurmi. 2005] Diketahui : WR = 10000 N WA = 4000 N N = 1420 rpm L = 5 tahun.2 W = 0. Rating dari basic dynamic load dapat dicari dengan TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .5.S.56 x 1 x 10000 + 1.6 Perhitungan dan Desain Bearing 4.V. Desain Key / Pasak (Terlampir) 4. kita mengetahui bahwa service factor ( Ks). 10 jam per hari. Dari buku Khurmi tabel 27. 300 hari per tahun Jenis Beban 1.56 Tabel 27.78 B.

WA W = 0.56 x 1 x 10000 + 1.6 W = X.09 𝐶0 𝑋 = 0. 79 1 1278 𝑥 106 3 𝐶 = 11200 [ ] 106 𝐶 = 112860.54 𝑁 𝐶 = 121. 300 hari per tahun Jenis Beban TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . Desain Bearing1 (Terlampir) 4.WR + Y.9 𝑘𝑁 Dimana K = 3 untuk bearing bola Dipilih nomor 414 C0 = 102000 N C = 112000 N 𝑊𝐴 10000 = 102000 = 0.V.4 x 4000 = 12000 N 1 1278 𝑥 106 3 𝐶 = 12000 [ ] 106 𝐶 = 121542.93 𝑁 𝐶 = 112.2 Perhitungan dan Desain Bearing Pada Poros 2 A. 10 jam per hari.56 Y = 1.5 𝑘𝑁 Dipilih nomor 415 B. Perhitungan Bearing pada Poros 2 Diketahui : WR = 10000 N WA = 4000 N N = 710 rpm L = 5 tahun.6.

78 𝑁 𝐶 = 89.6 𝑘𝑁 Dimana K = 3 untuk bearing bola Dipilih nomor 315 C0 = 72000 N C = 90000 N TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .2 x 4000 W = 10400 N 4. Dynamic Load : W = X.56 Tabel 27.2 W = 0. Rating of basic dynamic load dapat dicari dengan 1 639 𝑥 106 3 𝐶 = 10400 [ ] 106 𝐶 = 89577. Hidup Bearing LH = tahun x hari per tahun x jam perhari LH = 5 x 300 x 10 LH = 15000 jam 2.WA 𝑊𝐴 4000 = 𝑊𝑅 100000 𝑊𝐴 = 0. kita mengetahui bahwa service factor ( Ks).5.4 Khurmi & Gupta Y = 1.25 𝐶0 𝑋 = 0.4 𝑊𝑅 𝑊𝐴 = 0. Dari buku Khurmi tabel 27.WR + Y.80 1.V. Hidup Bearing menurut putaran L = 60 x N x LH L = 60 x 710 x 15000 L = 639 x 106 rev 3.56 x 1 x 10000 + 1.

Perhitungan Bearing / Bantalan 3 Diketahui : WR = 10000 N WA = 4000 N N = 550 rpm L = 5 tahun.WA TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .6 W = X.V. Hidup Bearing LH = tahun x hari per tahun x jam perhari LH = 5 x 300 x 10 LH = 15000 jam 2. Desain Bearing 2 (Terlampir) 4.6 x 4000 W = 12000 N 1 639 𝑥 106 3 𝐶 = 12000 [ ] 106 𝐶 = 103358.56 x 1 x 10000 + 1.56 Y = 1. Hidup Bearing menurut putaran L = 60 x N x LH L = 60 x 550 x 15000 L = 495 x 106 rev 3.3 𝑘𝑁 Dipilih nomor 317 B. Dynamic Load : W = X.98 𝑁 𝐶 = 103.6.3 Perhitungan dan Desain Bearing Pada Poros 3 A.WA W = 0. 10 jam per hari. 300 hari per tahun Jenis Beban 1.WR + Y.WR + Y.05 𝐶0 𝑋 = 0. 81 𝑊𝐴 4000 = 72000 = 0.V.

56 Tabel 27.04 𝐶0 𝑋 = 0.2 𝑘𝑁 TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .56 Y = 1.2 x 4000 W = 10400 N 4.4 𝑊𝑅 𝑊𝐴 = 0.78 𝑁 𝐶 = 82.8 x 4000 W = 12800 N 1 495 𝑥 106 3 𝐶 = 12800 [ ] 106 𝐶 = 101253.8 W = X. kita mengetahui bahwa service factor ( Ks).5. Dari buku Khurmi tabel 27.82 𝑊𝐴 4000 = 𝑊𝑅 10000 𝑊𝐴 = 0.4 Khurmi & Gupta Y = 1.V.56 x 1 x 10000 + 1.2 W = 0.25 𝐶0 𝑋 = 0.56 x 1 x 10000 + 1.6 𝑘𝑁 Dimana K = 3 untuk bearing bola Dipilih nomor 219 C0 = 72000 N C = 85000 N 𝑊𝐴 4000 = 85000 = 0.WR + Y.WA W = 0. Rating dari basic dynamic load dapat dicari dengan 1 495 𝑥 106 3 𝐶 = 10400 [ ] 106 𝐶 = 82668.89 𝑁 𝐶 = 101.

4 Perhitungan dan Desain Bearing Pada Poros 4 A. Hidup Bearing menurut putaran L = 60 x N x LH L = 60 x 350 x 15000 L = 315 x 106 rev 3.4 𝑊𝑅 𝑊𝐴 = 0.56 Tabel 27.2 x 4000 W = 10400 N TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .V. 83 Dipilih nomor 317 B. 10 jam per hari. Dynamic Load : W = X.2 W = 0. 300 hari per tahun Jenis Beban 1. Desain Bearing / Bantalan 3 (Terlampir) 4.6.56 x 1 x 10000 + 1.WR + Y. Perhitungan Bearing / Bantalan 4 Diketahui : WR = 10000 N WA = 4000 N N = 350 rpm L = 5 tahun.WA 𝑊𝐴 4000 = 𝑊𝑅 10000 𝑊𝐴 = 0.4 Khurmi & Gupta Y = 1. Hidup Bearing LH = tahun x hari per tahun x jam perhari LH = 5 x 300 x 10 LH = 15000 jam 2.25 𝐶0 𝑋 = 0.

Rating dari basic dynamic load dapat dicari dengan 1 315 𝑥 106 3 𝐶 = 10400 [ ] 106 𝐶 = 70762.6 W = X.11 𝑁 𝐶 = 81.56 x 1 x 10000 + 1.6 𝑘𝑁 Dipilih nomor 314 B.56 𝑁 𝐶 = 70.5.56 Y = 1.7 𝑘𝑁 Dimana K = 3 untuk bearing bola Dipilih nomor 218 C0 = 63000 N C = 75000 N 𝑊𝐴 4000 = 63000 = 0.WA W = 0.84 4.6 x 4000 W = 12000 N 1 315 𝑥 106 3 𝐶 = 12000 [ ] 106 𝐶 = 81649. kita mengetahui bahwa service factor ( Ks).06 𝐶0 𝑋 = 0.WR + Y. Desain Bearing / Bantalan 4 (Terlampir) TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .V. Dari buku Khurmi tabel 27.

5 mm  Fillet radius at root : 0. Kecepatan putaran poros awal 1420 rpm dan putaran akhir 350 rpm.1 Kesimpulan Pada rancangan mesin pemotong kayu ini menggunakan daya motor sebesar 2 HP.491 kW  Jumlah gigi pinion : 18  Jumlah gigi gear : 36  Pitch Diameter Pinion : 36 mm  Pitch Diameter Gear : 72 mm  Jarak antar pusat poros : 54 mm  Involute Tooth Form : 20°  Face Width : 28 mm  Material pinion : Cast iron. 85 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Dengan 3 sistem transmisi yaitu pulley dan 2 buah sistem spur gear sehingga didapatkan data sebagai berikut : a) Spur Gear I  Putaran pinion : 1420 rpm  Putaran gear : 710 rpm  Daya yang ditransmisikan : 1.1416 mm  Minimum clearance : 0.8 mm b) Pulley and Belt  Daya motor : 2 HP  Putaran input : 710 rpm  Putaran output : 550 rpm  Jarak antar pusat : 500 mm TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 . ordinary  Material gear : Cast iron.5 mm  Tooth thickness : 3. medium grade  Addendum : 2 mm  Dedendum : 2.5 mm  Working depth : 4 mm  Minimum total depth : 4.

ordinary  Material gear : Cast iron.8 mm  Sudut kontak : 2.787 m/s  Panjang belt : 1433 mm  Massa belt : 0.134235 kg/m  Centrifugal tension : 1.8 mm TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .86  Diameter pulley kecil : 75 mm  Diameter pulley besar : 96.5 mm  Fillet radius at root : 0.1416 mm  Minimum clearance : 0.042 N  Tegangan maksimum pada belt : 412. medium grade  Addendum : 2 mm  Dedendum : 2.062 kW  Angka Belt : 1.991 rad  Kecepatan belt : 2.5 mm  Working depth : 4 mm  Minimum total depth : 4.042 (3V)  Material Belt : Rubber  Material Pulley : Dry cast iron c) Spur Gear 2  Putaran pinion : 550 rpm  Putaran gear : 350 rpm  Daya yang ditransmisikan : 2 HP  Jumlah gigi pinion : 18  Jumlah gigi gear : 27  Pitch Diameter Pinion : 36 mm  Pitch Diameter Gear : 54 mm  Jarak antar pusat poros : 45 mm  Involute Tooth Form : 20°  Face Width : 28 mm  Material pinion : Cast iron.125  Daya yang ditransmisikan : 1.5 mm  Tooth thickness : 3.

86 Nm i) Pasak poros 2  Tebal pasak : 5 mm  Lebar pasak : 5 mm  Panjang pasak : 10.35 mm  Torsi : 37.96 Nm j) Pasak poros 3  Tebal pasak : 5 mm  Lebar pasak : 5 mm  Panjang pasak : 21.20 mm f) Poros 3  Putaran poros : 550 rpm  Torsi pada poros : 25883.24 Nmm  Diameter poros : 13.12 Nmm  Diameter poros : 16.58 mm h) Pasak poros 1  Tebal pasak : 5 mm  Lebar pasak : 5 mm  Panjang pasak : 17.03 Nmm  Diameter poros : 16.1 Nm k) Pasak poros 4  Tebal pasak : 5 mm TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2017/2018 .623 mm e) Poros 2  Putaran poros : 710 rpm  Torsi pada poros : 20050.94 mm  Torsi : 18.51 mm g) Poros 4  Putaran poros : 350 rpm  Torsi pada poros : 40673.34 Nmm  Diameter poros : 23. 87 d) Poros 1  Putaran poros : 1420 rpm  Torsi pada poros : 10025.4 mm  Torsi : 37.

Sebaiknya asisten lebih responsif ketika diajak janjian asistensi 2.88  Lebar pasak : 5 mm  Panjang pasak : 18.1 Nm l) Bearing Poros 1  Series : 414  Putaran : 1420 rpm m) Bearing Poros 2  Series : 315  Putaran : 710 rpm n) Bearing Poros 3  Series : 219  Putaran : 550 rpm o) Bearing Poros 4  Series : 218  Putaran : 350 rpm 5. Sebaiknya laboratorium menyediakan skema alat sehingga memudahkan untuk membayangkan alat yang akan dikerjakan TUGAS BESAR ELEMEN MESIN SEMESTER GENAP 2016/2017 .71 mm  Torsi : 108. Sebaiknya praktikan lebih giat dalam belajar 3.2 Saran 1.