You are on page 1of 35

BAB II

KONSEP DASAR TEORI

A. Pengertian
Keracunan adalah masuknya zat ke dalam tubuh yang dapat
mengakibatkan gangguan kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Dalam pengertian sederhana keracunan adalah kejadian masuknya racun
kedalam tubuh manusia.
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terisap, diabsorbsi, menempel pada
kulit atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relative kecil
menyebabkan cedera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia.

B. Penyebab
1. Definisi keracunan (Lewat Oral)
Keracunan lewat oral adalah suatu penyakit yang terjadi setelah
menyantap makanan yang mengandung racun, berasal dari bahan beracun
yang terbentuk akibat pembusukan makanan dan bakteri (Arisman, 2009).
Junaidi (2011) menyatakan keadaan darurat yang diakibatkan masuknya
suatu zat atau makanan ke dalam tubuh melalui mulut yang mengakibatkan
bahaya bagi tubuh disebut sebagai keracunan makanan. Perez dan Luke’s
(2014) menyatakan keracunan makanan adalah keracunan yang terjadi
akibat menelan makanan atau air yang mengandung bakteri, parasit, virus,
jamur atau yang telah terkontaminasi racun.
a. Keracunan lewat oral sedang
Adalah kondisi yang muncul akibat mengonsumsi makanan yang
telah terkontaminasi oleh organisme menular, seperti bakteri, virus,
dan parasit. Kontaminasi dapat terjadi saat makanan sedang diproses
atau dimasak dengan tidak benar.Kontaminasi yang umumnya terjadi
pada kasus keracunan makanan disebabkan oleh:
1) Bakteri Campylobacter, Salmonella, Escherichia coli (E. coli),
Listeria, Clostridium botulinum ( botulinum) dan Shigella.

5

2) Norovirus dan rotavirus.
3) Parasit Cryptosporidium, Entamoeba histolytica, dan Giardia.
b. Keracunan lewat oral berat (bahan kimia)
Racun atau bahan kimia yang beracun adalah bahan kimia yang
dalam jumlah kecil menimbulkan keracunan pada manusia atau
mahluk hidup lainnya atau bahan kimia yang dapat menyebabkan
bahaya terhadap kesehatan manusia atau menyebabkan kematian
apabila terserap ke dalam tubuh karena tertelan, lewat pernafasan atau
kontak lewat kulit. Bahan racun yang masuk ke dalam tubuh dapat
langsung mengganggu organ tubuh tertentu, seperti paru-paru, hati,
ginjal dan lainnya.Zat-zat tersebut dapat langsung mengganggu organ-
organ tubuh tertentu seperti hati, paru-paru, dan lain-lain. Tetapi dapat
juga zat-zat tersebut berakumulasi dalam tulang, darah, hati, atau
cairan limpa dan menghasilkan efek kesehatan pada jangka panjang.
Pengeluaran zat-zat beracun dari dalam tubuh dapat melewati urine,
saluran pencernaan, sel efitel dan keringat.
1) Bahan Berbahaya dan Beracun
Bahan Berbahaya dan Beracun adalah bahan-bahan yang
pembuatan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan
penggunaanya menimbulkan atau membebaskan debu, kabut,
uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi,
kebakaran, ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam
jumlah yang memungkinkan gangguan kesehatan bagi orang
yang berhubungan langsung dengan bahan tersebut atau
meyebabkan kerusakan pada barang-barang.
2) Bahan-Bahan Kimia Umum Yang Sering Menimbulkan Racun
Bahan kimia umum yang sering menimbulkan keracunan adalah
sebagai-berikut :
a) Golongan pestida, yaitu organo klorin, organo fosfat,
karbamat, arsenik

6

b) Golongan gas, yaitu Nitrogen (N2), Metana (CH4), Karbon
Monoksida (CO), Hidrogen Sianida (HCN), Hidrogen Sulfida
(H2S), Nikel Karbonil (Ni(CO)4), Sulfur Dioksida (SO2), Klor
(Cl2), Nitrogen Oksida (N2O; NO; NO2), Fosgen
(COCl2), Arsin (AsH3), Stibin (SbH3)
c) Golongan metalloid/logam, yaitu timbal (Pb), Posfor (P), air
raksa (Hg), Arsen (As), Krom (Cr), Kadmium (Cd), nikel (Ni),
Platina (Pt), Seng (Zn).
d) Golongan bahan organic, yaitu Akrilamida, Anilin, Benzena,
Toluene, Xilena, Vinil Klorida, Karbon Disulfida, Metil
Alkohol, Fenol, Stirena, dan masih banyak bahan kimia
beracun lain yang dapat meracuni setiap saat, khususnya
masyarakat pekerja industri.
c. Penyebab keracunan lewat oral
Adalah kuman Clostridium botulinum yang hidup dengan kedap
udara (anaerobik), yaitu di tempat-tempat yang tidak ada udaranya
(Junaidi, 2011). Keracunan lewat oral dapat disebabkan oleh
pencemaran bahan-bahan kimia beracun, kontaminasi zat-zat kimia,
mikroba, bakteri, virus dan jamur yang masuk kedalam tubuh manusia
(Suarjana, 2013).
Penyebab keracunan ada beberapa macam dan akibatnya bisa
mulai yang ringan sampai yang berat. Secara umum yang banyak
terjadi di sebabkan oleh :
1) Mikroba
Mikroba yang menyebabkan keracunan di antaranya :
a) Escherichia coli patogen
b) Staphilococus aureus
c) Salmonela
d) Bacillus Parahemolyticus
e) Clostridium Botulisme
f) Streptokkkus

7

c) Keracunan Berat : Diare . kejang – kejang . lakrimasi . a) Keracunan ringan : Anoreksia . kontrol spirgter hilang . tremor lidah dan kelopak mata . gangguan pernafasan dan hiper aktif gastro – intestinal. nadi lambat dan fasikulasi otot. edema paru . b) Keracunan Sedang : Nausia. Salivasi. ansietas . muntah – muntah . 8 . 1) Keracunan Akut Gejala – gejala timbul 30 – 60 menit dan mencapi maksimum dalam 2 – 8 jam. 2) Keracunan Kronis a) Penghambatan kolinesterase akan menetap selama 2 – 6 minggu ( organofospat ) . 2) Bahan Kimia a) Peptisida golongan organofosfat b) Organo Sulfat dan karbonat 3) Toksin a) Jamur b) Keracunan Singkong c) Tempe Bongkrek d) Bayam beracun e) Kerang d. pusing . sianons . penglihatan kabur. Untuk karbamat ikatan dengan AChE hanya bersifat sementara dan akan lepas kembali setelah beberapa jam ( reversibel ) . miosis. sakit kepala . pupil tidak bereaksi . Gambaran Klinis Manifestasi utama keracunan adalah gangguan penglihatan . lemah . sukar bernafas. kram perut . keringatan . dan blok jantung. pin point . koma .

gangguan pernafasan. nikotinik. Terjadi mual. Makanan yang mengandung bahan kimia beracun (IFO) dapat menghambat ( inktivasi ) enzim asrtikolinesterase tubuh (KhE). Patofisiologi Keracuanan dapat di sebabkan oleh beberapa hal di antaranya yaitu faktor bahan kimia. tetapi bila eksposure lagi dalam jumlah yang kecil dapat menimbulkan gejala – gejala yang berat. sehingga timbul gejala – gejala rangsangan Akh yang berlebihan. Dalam keadaan normal enzim KhE bekerja untuk menghidrolisis arakhnoid (AKH) dengan jalan mengikat Akh – KhE yang bersifat inakttif. Gejala gejala bila ada menyerupai keracunan akut yang ringan . Dari penyebab tersebut dapat mempengaruhi vaskuler sistemik shingga terjadi penurunan fungsi organ – organ dalam tubuh. Akibatnya akan terjadi penumpukan Akh di tempat – tempat tertentu. diare. toksin dll. dan ssp ( menimbulkan stimulasi kemudian depresi SSP ) 9 . perut kembung. mikroba. yang akan menimbulkan efek muscarinik. muntah. b) Keracunan kronis untuk karbamat tidak ada. gangguan sirkulasi darah dan kerusakan hati ( sebagai akibat keracunan obat di bahan kimia ). Biasanya akibat dari keracunan menimbulkan mual. Bila konsentrasi racun lebih tingggi dengan ikatan IFO-KhE lebih banyak terjadi. muntah di karenakan iritasi pada lambung sehingga HCL dalam lambung meningkat . e.

perfusi jaringan gg. Pathway Racun oral Saluran pencernaan korosif Non korosif Masuk bereaksi dalam sel Masuk ke Masuk ke Darah dan sistem limfa lambung lambung Menghambat enzim Racun mengikat HB kolinterasi dalam liver sistem syaraf Asam lambung Asam lambung Kekurang suplai Kerusakan sel hati Merusak jar. f. oksigen  Mual peningkatan lambung Fibrosil & pem-  Muntah hipoksia konsentrasi bentukan nodul sinaptik ACh  Mual  Muntah Kurang volume cairan Jaringan sirosis  perdarahan diotak mati: Syaraf terganggu  Pandangan Hilangnya buram fungsi hati  Penyempitan Kurang volume cairan  Lemas bronkial Gg. fungsi empedu  Sesak nafas  Kejang – kejang  Kelumpuhan Lemak tak dapat  kematian Gangguan pola nafas diemulsi & di serap pleh usus Peningkatan Bersihan jalan nafas peristaltik usus tidak efektif Diare Kekurangan volume cairan dan elektrolit 10 .

glukosa. Sumber: Analisa Gas Darah : Definisi. menunjukkan bahwa seorang pasien mengalamai ketidakseimbangan oksigen. a) pH darah normal (arteri): 7. Skrining toksikologi untuk kelebihan dosis obat. Pemeriksaan penunjang 1) BGA Pemeriksaan AGD akan memberikan hasil pengukuran yang tepat dari kadar oksigen dan karbon dioksida dalam tubuh. Tes toksikologi kuantitatif h. Pemeriksaan. urea N. Penatalaksanaan (pra-hospital) 1) 3A aman diri. menentukan seberapa baik paru-paru dan ginjal bekerja.. transaminase hati ). letakan korban dalam posisi pemulihan 11 . Foto toraks/ abdomen. Bawa klien ke tempat yang aman. osmolalitas serum. elektrolit. cairan lambung.g. gula darah. darah lengkap. 2) Cek respon klien 3) Posisikan klien Jika korban tidak sadar. kreatinin. karbon dioksida. aman pasien.38-7.42 b) Bikarbonat (HCO3): 22-28 miliekuivalen per liter c) Tekanan parsial oksigen: 75 sampai 100 mm Hg d) Tekanan parsial karbon dioksida (pCO2): 38-42 mm Hg e) Saturasi oksigen: 94 sampai 100 persen. atau pH darah. aman lingkungan. EKG.Mediskus 2) Pemeriksaan lengkap ( urin. Nilai Normal .

jagalah korban. Ketika menunggu bantuan datang segera lakukan: 1) Buang kelebihan racun dalam mulut 2) Jika korban sadar. masukkan 3 jari kebelakang lehernya untuk membuatnya muntah 9) Jangan mencoba membuat penderita yang tidak sadar muntah 10) Awasi korban dari dekat sampai pertolongan datang i. Jika ada luka bakar dan mukosa mulut berwarna putih petanda bahwa racun korosif. tanyakan apa yang dimakan. Bila pernafasan berhenti berikan pernafasan buatan. 5) Jangan membuat korban muntah. 6) Jangan memberikan sesuatu melalui mulut jika tidak sadarkan diri 7) Jangan memberi air garam untuk membuat korban muntah 8) Jika yang tertelan racun bukan korosif. jika yang tertelan dari bahan korosif seperti asam kuat dan alkali. 12 . Bahan ini akan membuat kerusakan sewaktu masukn tubuh dan membuat kerusakan yang lebih parah sewaktu keluar kembali. 4) Aktifksn SPGDT (telpon 119). 3) Karena racun memberi pengaruh buruk pada pernafasan . 4) Bila korban masih sadarkan diri. segera berikan susu atau air untuk melindungi dinding mulut dan untuk mengencerkan isi perut. 5) Meminta batuan kepada orang sekitar tempat kejadian. bersihkan dari bronchial sekresi. Penatalaksanaan (intra-hospital) 1) Penanganan Primer a) Airways: jaga jalan nafas.

a) Dengan menggunakan Sirup ipeca. c) Dosis Dewasa : 30 ml atau 2 sendok makan Ank-anak : 6-12 bulan 10 ml atau 2 sendok teh >12 bulan . Posisikan korban duduk atau kepala lebih tinggi. Sirup ipeca mengandung alkaloid emetin dan safelin. pantau vital sign. pemberian sirup ipcea dapat diulang sekali lagi. observasi keadaan tubuh klien secara berkala. observasi kesadaran klien secara berkala.15ml atau 1 sendok makan Jika korban belum muntah dalam waktu 30 menit. 3) Tanyakan kapan waktu racun tertelan. 4) Tanyakan tindakan apa yang sudah dilakukan. apomorfin dll b) Tidak diberikan pada anak usia kurang dari 6 tahun. 5) Penangan intrahospital pada pasien yang mengalami keracunan yaitu merangsang muntah pada pasien. 2) Jika pasien sadar. penderita koma. tanyakan pada korban bahan dan jenis apa yang tertelan.keracunan asam basa kuat. bila tidak adekuat lakukan intubasi c) Circulation: pasang IV line. b) Breathing: beri oksigen 100% . d) Disability. Penanganan ini dilakukan pada pasien yang mengalami keracunan nonkorosif tidak diindikasikan pada keracunan korosif. Pemberian Sirup ipeca dalam waktu 1 jam setelah keracunan dapat mengeluarkan kembali 30-60 % racun. e) Exposure. 13 . penderita tidak mampu reflek muntah.

a) Kumbahh lambung dilakukan dalam waktu 1 jam setelah keracunan dengan menggunakan pipa nasogastrik. setelah dilakukan kumbah lambung bisa melanjutkan penanganan menghambat absorbsi dengan menggunakan karbon aktif. 7) Ketika keracunan sangat parah. Pemberian karbon aktif bertujuan untuk mengabsorpsi racun. obat penguras usus untuk mengeluarkan racun. b) Dosis Untuk orang dewasa : cairan yang digunakan air hangat sebanyak 200-300 ml sampai air yang keluar jernih. diikuti pemberian karbon aktif. 14 . menggunakan pipa nasograstrik yang masih terpasang.6) Ketika pasien mengalami penurunan kesadaran atau pasien tidak sadar sebainya di lakukan kumbah lambung. Penanganan ini tidak di indikasikan untuk pasien yang mengalami keracunan bahan korosif. a) Bilas lambung ( 100-200 ml menggunakan air hangat ). Untuk anak-anak : larutan garam normal 5-10 ml/kg berat badan dan penggunaan larutan elektrolit polietilenglikol. sampai bisa 5-10 liter. Direkomendasikan pada kasus yang mengancam.

b) Dosis Orang dewasa dan anak – anak adalah 1 g/kg berat badan. Racun & Keracunan. 2002:65). Obat ini akan melancarkan pasien untuk BAB sehingga racun di keluarkan melalui feses. perbandingan 1:4 selain itu dapat dicampur dengan obat pencuci usus atau obat cuci perut (Drs. 9) Meningkatkan eliminasi urine Memberikan pasien minum banyak air putih untuk mencegah terjadinya kekurangan volume cairan dan meningkatkan eliminasi racun dapat dilakukan dengan diuresis basa atau asam. Sartono. 8) Ketika keracunan sudah sudah mencapai pada usus maka penatalksanaan yang dilakukan yaitu membersihkan usus. 15 . a) Menggunakan obat laksan dari golongan senyawa garam yaitu Mg-sulfat dan Na-sulfat b) Dosis Dewasa : Mg-sulfat atau Na-sulfat 30g Anak anak : 250 mg/kg berat badan. Karbon aktif dicampur air.

bingung. Kematian keracunan gas akut umumnya berupa kegagalan pernafasan. mangan. 16 . Karbon monoksida ( CO) merupakan produk sampingan kebakaran yang paling sering ditemukan : Hidrogen Klorida dan Hidrogen sianida. eksitasi. defekasi. sukar bicara. kardium oksida. sulfur dioksida. merkuri. Pengertian Keracunan melalui inhalasi adalah racun yang masuk dalam tubuh melalui saluran pernafasan. hilangnya refleks. Cedera inhalasi juga bisa terjadi jika menghirup gas toksit yang suhunya sangat tinggi atau asap kebakaran . gas metana.2. dan salivasi . Dosis menengah sampai tinggi terutama terjadi stimulasi nikotinik pusat daripada efek muskarinik (ataksia. gas klor. tetapi bila pajanan berlebihan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit. formaldehid. b. 2) Efek yang terutama pada sistem respirasi yaitu bronkokonstriksi dengan sesak nafas dan peningkatan sekresi bronkus. gas amoniak. forgen. gangguan perkemihan. kejang disusul paralisis. Adapun gas lain seperti karbondioksida. pernafasan Cheyne Stokes dan coma). 3) Pada umumnya gejala timbul dengan cepat dalam waktu 6 – 8 jam. Oedem paru. Keracunan Melalui Inhalasi a. ozon. Manifestasi Klinis Keracunan Gas 1) Tanda dan gejala awal keracunan adalah stimulasi berlebihan kolinergik pada otot polos dan reseptor eksokrin muskarinik yang meliputi miosis. bronkokonstriksi dan kelumpuhan otot-otot pernafasan yang kesemuanya akan meningkatkan kegagalan pernafasan.

Terjadi gangguan metabolisme neorotransmiter sehingga aktifitas syaraf meningkat sehingga timbul kejang. Mekanisme kerja gas CO di dalam darah: 1) Segera bersaing dengan oksigen untuk mengikat hemoglobin. Patofisiologi Gas CO masuk ke paru-paru inhalasi. Akibatnya. c. 4) Inhalasi dalam konsentrasi kecil dapat hanya menimbulkan sesak nafas dan batuk. Jantung akan berkerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen sel sehingga menyebabkan peningkatan detak jantung dan sirkulasi darah ke otak tidak terpenuhi menyebabkan otak kekurangan O2. 3) Proses terpenting dari keracunan gas CO terhadap sel adalah rusaknya metabolisme rantai pernafasan mitokonria. Ikatan COHb bersifat dapat pulih/reversible. Kekuatan ikatannya 200-300 kali lebih kuat dibandingkan oksigen . timbul hipoksia jaringan. menyebabkan penguraian HbO2). 4) Terjadi hipoksis. dimetabolisme menjadi karbon dioksida (CO2). Ekskresi gas CO terutama melalui respirasi. 2) COHb mencampuri hemoglobin. mengalir ke alveo-li. Akibatnya terjadi pengurangan pelepasan oksigen dari darah ke jaringan tubuh. 17 . terus masuk ke aliran darah Gas CO dengan segera mengikat hemoglobin di tempat yang sama dengan tempat oksigen mengikat hemoglobin. oksigen terdesak dan lepas dari hemoglobin sehingga pasokan oksigen oleh darah ke jaringan tubuh berkurang. menghambat komplek enzim sitokrom oksidas sehingga oksidasi mitokondria untuk menghasilkan Adenosine Tri Posfat (ATP) berkurang. untuk membentuk karboksi hemoglobin (COHb) .

phathway Gas racun Sistem pernafasan laring Bronkus Paru paru alveolus Timbul reaksi Masuk ke aliran peningkatan Hiper sekresibronkus darah histamin bronkokontriksi Pengeluaran Permeabilitas pelepasan o2 Sesak nafas kapiler tekanan Karboksi osmotik Bersihan jalan nafas hemoglobin edem tidak efektif hipoksia Respon jantung Kurang O2 Meningkatkan O2 Metabolisme Kurang ATP anaerob Detak jantung cepat Cardiac output Hipotensi Asam laktat Nafas sesak Arteri coroner Cuma Aritmia memompakan darah Angina Gangguan pola O2 kejantung Sudden Death nafas Nyeri Iskemik cerebral Otak kekurangan O2 kesadaran Mengganggu metabolisme Pingsan . koma neurotransmiter kematian Produksi. d. aktivitas syaraf Terhambat kerja Kejang. tremor 18 .

kulit melepuh. terbakar. Gas/uapnya juga serta jauhkan dari bahan-bahan yang mudah menebabkan hal yang sama. Simpanlah Dapat menyebabkan luka bakar dan dalam botol berwarna dan ruang yang gelap kulit melepuh. higroskopis. Keracunan bahan kimia lewat inhalasi Bahan Kimia Biasanya melibatkan bahan-bahan kimia biasa seperti bahan kimia rumah. HCN Senyawa ini sangat beracun. H2SO4 Senyawa ini sangat korosif. Jangan menghirup uap asam sulfat bersifat membakar bahan organik dan dapat pekat karena dapat menyebabkan merusak jaringan tubuh kerusakan paru-paru. menyerap gas CO2. Hindarkan kontak dengan kulit. NaOH Senyawa ini bersifat higroskopis dan Dapat merusak jaringan tubuh. menyebabkan kebutaan. e. HCl Senyawa ini beracun dan bersifat korosif Dapat menyebabkan luka bakar dan terutama dengan kepekatan tinggi. Beberapa jenis bahan kimia yang harus diperhatikan karena berbahaya adalah: Bahan Penjelasan Potensi Bahaya Kesehatan Kimia AgNO3 Senyawa ini beracun dan korosif. Menghirup senyawa ini pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pembengkakan saluran pernafasan dan sesak nafas. pengenceran dan hidupkan kipas sedangkan kontak dengan mata penghisapnya. H2S Senyawa ini mudah terbakar dan beracun Menghirup bahan ini dapat menyebabkan pingsan. produk tumbuhan atau produk industri. NH3 Senyawa ini mempunyai bau yang khas. Terkena amonia pada konsentrasi 0.5% (v/v) selama 30 menit dapat menyebabkan kebutaan. produk pertanian. bahkan kematian. kontak dengan Gunakan ruang asam untuk proses kulit menyebabkan dermatitis. Gas/uapnya juga menebabkan hal yang sama. gangguan pernafasan. Jangan menghirup gas ini karena dapat menyebabkan pingsan dan kematian. 19 .

HF Gas/uap maupun larutannya sangat Dapat menyebabkan iritasi kulit. aman lingkungan.sel nekrotik pada kasus-kassus paru atau jika suction dan ventilasi tekanan positif tidak cukup memadai. Untuk menghindari kontak selanjutnya. dan saluran pernafasan. Pemeriksaan penunjang 1) Pulse Oximetry Digunakan untuk mengukur saturasi hemoglobin yang meningkat pulse akibat ikatan CO terhadap hemoglobin sehingga kadar karboksihemoglobin seringkali diartikan sebagai oksihemaglon. 2) Analisa Gas darah tujuanya Untuk mengukur kdar karboksihemoglobin . mata. f. HNO3 Senyawa ini bersifat korosif. Pada bronkoskopi biasnya didapatkan gambaran jelaga. Peningkatan sel darah putih untuk melihat adanya infeksi 5) Laringoskopi dan Bronkoskopi fiberoptik Keduanya dapat digunakan sebagai alat diagnostik maupun terapeutik. keseimbangan asam basa dan kadara gas racun. menghirup uapnya dapat menyebabkan kematian. Hematokrit yang menurun secara progresif akibat pemulihan volume intravaskular. g. aman pasien. Buka 20 . Anemia berat biasanya terjadi akibat hipoksia atau ke tidak seimbangan hemodinamik. Tindakan gawat darurat pre-hospital: 1) 3A aman diri. sekresi. mukopurulen. ulserasi. beracun. Dapat menyebabkan luka bakar. Bronkoskopi serial berguna untuk menghilangkan debris dan sel. 3) Elektrolit Untuk memonitor abnormalitas elektrolit sebagai hasl dari resusitasi cairan dalam jumlah besar 4) Darah lengkap Hemokonsentrasi akibat kehilangan cairan biasanya terjadi saat setelah trauma. penderita harus segera di pindahkan.

2) Cek respon klien 3) Posisikan klien. batuk. Kadar karboksihemoglobin akan berkurang sampai 50% dalam waktu 1 – 2 jam. Jika klien tidak sadarkan diri buka jalan nafas. 5) Meminta pertolongan pada oraang di sekitar kejadian Selagi menunggu bantuan datang: 1) Jika pasien mengalami konvulsi tempatkan di tempat tidur dalam rungan yang gelap dan jauhkan dari suara bising. Tindakan gawat darurat inhospital: 1) Terapi primer a) Airway Buka jalan nafas bersikan broncial sekret. 4) Aktifksn SPGDT (telpon 119). stridor . semua pintu dan jendela (jika berada di dalam ruangan). Racun & keracunan:194) h. Lapas pakaian atau baju klien jika tercium bau gas yang menyengat. jika dicurigai seseorang dengan trauma inhalsi maka sebaiknya dilakukan intubasi cepat untuk melindungi jalan nafas sebelum terjadi pembengkakan pembekakan wajah dan faring akan mengalami keparahan 24-48 jam setelah kejadian . retraksi suara nafas bilateral atau anda –tanda keracunan gas racun maka dibutuhkan oksigen 100% dengan masker NRM. dengan posisi semi fowler atau fowler. (Drs. sampai kadar karboksihemoglobin tidak membahayakan. b) Breathing Jika didapatkan tanda-tanda insufisiensi pernafasan seperti susah nafas. Sartono. 2) Jika terjadi depresi pernafasan berikan pernafasan bantuan. dimana jika terjadi edema maka yang diperlukan adalah trakeostomi atau krikotiroidotomi jika intubasi oral tidak dapat dilakukan. Jika kadar karboksi 21 .

2) Pasien dengan keracunan gas berat. c) Circulation Pengukuran tekanan darah dan nadi untk mengetahuti stabilitas hemodinamik. Untuk mencegah syok hipovolemik diperlukan resusitasi cairan intravena. 3) Pasien mendapatkan Terapi antidot untuk menginaktifkan racun. e) Exposure. (Drs. metode pengobatan berupa oksigen murni 100% didalam ruangan tertutup dengan tekanan udara 2 sampai 3 kali lebih besar dari tekanan atmosfir. setela diberikan oksigen 100% kadar gas racun yang berkarboksi dengan hemoglobin ≥20% maka segera dilakukan penatalaksanaan terapi oksigen hiperbalik (HBOT). Racun & keracunan 2002:194). 22 . d) Disability. Antidot di sesuaikan dengan gas racun yang di hirup oleh klien. hemoglobin dalam darah lebih dari 20%. maka di lanjutkan terapi oksigen hiperbalik hingga kadar karboksi hemoglobin ≤20%. Pada pasien dengan trauma inhalasi biasanya dalam 24 jam pertama digunakan cairan kristaloid 40- 75%. observasi kesadaran klien secara berkala. Tujuan untuk menciptakan oksigen lebih padat dalam plasma darah. Sartono. observasi keadaan tubuh klien secara berkala.

3. tenggorokan. (Sentra informasi keracunan nasional badan POM) b. Penyebaran dan peracunan selanjutnya mempengaruhi susunan saraf pusat dengan jalan melumpuhkan susunan saraf pusat. Penyebab Keracunan Melalui Kulit Penyebab dari keracunan kulit ini biasanya terjadi karena sengatan atau gigitan hewan berbisa. dan lain-lain. b) Bisa ular yang bersifat saraf (Neurotoxic)Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel saraf sekitar luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf tersebut mati dengan tanda-tanda kulit sekitar luka gigitan tampak kebiru-biruan dan hitam (nekrotis). yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. hidung. sehingga sel darah menjadi hancur dan larut (hemolysin) dan keluar menembus pembuluh-pembuluh darah. 23 . Antara lain sebagai berikut: 1) Gigitan ular Daya toksik bisa ular yang telah diketahui ada beberapa macam : a) Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematoxic) Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah. yaitu bisa ular yang menyerang dan merusak (menghancurkan) sel-sel darah merah dengan jalan menghancurkan stroma lecethine (dinding sel darah merah). seperti saraf pernafasan dan jantung. laba-laba. kalajengking dll. Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Pengertian Gigitan Hewan berbisa Gigitan hewan berbisa adalah gigitan atau serangan yang diakibatkan oleh gigitan hewan berbisa seperti ular. Keracunan lewat Kulit a. mengakibatkan timbulnya perdarahan pada selaput tipis (lender) pada mulut. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi.

serotonin . e) Bisa ular yang bersifat cytotoksin. c) Bisa ular yang bersifat Myotoksin Mengakibatkan rabdomiolisis yang sering berhubungan dengan maemotoksin. fosfodiesterase. Penyebaran bisa ular keseluruh tubuh. digigit oleh beberapa ular viper atau 24 . ialah melalui pembuluh limfe. asetikolinesterase. Neurotoksin adalah komponen Venom atau racun yang bekerja pada sistem saraf. Myoglobulinuria yang menyebabkan kerusakan ginjal dan hiperkalemia akibat kerusakan sel-sel otot. Manifestasi klinis Secara umum. Efek lokal. fosfolipase A. d) Bisa ular yang bersifat kardiotoksin Merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan kerusakan otot jantung. Neorotaksin dalam racun kalajengking sangat mematikan bahkann lebih mematikan dibandingkan neurotoksin dari bisa ular. dan zat-zat lain.dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktifamin lainnya berakibat terganggunya kardiovaskuler. hasil analisa menunjukan niklai LD50 beberapa neuroksin kalajengking 10 kali lipat lebih kuat dari pada sianida. c. hyaluroinidase. glikosaminoglikan. 1) kematian otot 2) nyeri tekan pada luka gigitan 3) ekimosis (kulit kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit). neurotoksin. toksin hemolitik.Enzim-enzim Termasuk hyaluronidase sebagai zat aktif pada penyebaran bisa. histamine.Bisa ular yang bersifat cytolitik Zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan nekrose di jaringan pada tempat gigitan. akan timbul gejala pada semua gigitan hewan berbisa. 2) Gigitan kalajengking Racun kalajengking merupakan campuran kompleks yang terdiri dari protein.

berakibat kematian sebelum mendapat perawatan. d. dan kesemutan. Pada sistem kardiovaskuler. Toksik tersebut menyebar melalui peredaran darah yang dapat mengganggu berbagai system. Patofisiologi Bisa hewan yang masuk ke dalam tubuh. toksik tersebut dapat mengenai saraf yang berhubungan dengan sistem pernapasan yang dapat mengakibatkan oedem pada saluran pernapasan. sehingga menimbulkan kesulitan untuk bernapas. seperti otak atau organ-organ abdomen. Seperti. 4) Perdarahan. sistem pernapasan. sistem neurogist. Bisa ular kobra dan mamba dapat beraksi terutama secara cepat menghentikan otot-otot pernafasan. toksik mengganggu kerja pembuluh darah yang dapat mengakibatkan hipotensi. bisa ular elapid dan ular laut dapat berefek langsung pada sistem saraf. korban dapat menderita masalah visual. Pada gangguan sistem neurologis. 25 . Sedangkan pada sistem pernapasan dapat mengakibatkan syok hipovolemik dan terjadi koagulopati hebat yang dapat mengakibatkan gagal napas. menimbulkan daya toksin. 5) Efek sistem saraf. sistem kardiovaskuler. Luka dapat membengkak hebat dan dapat berdarah dan melepuh. pada gigitan ular famili viperidae atau beberapa elapid Australia dapat menyebabkan perdarahan organ internal. beberapa kobra menimbulkan rasa sakit dan perlunakan di daerah gigitan. Beberapa bisa ular kobra juga dapat mematikan jaringan sekitar sisi gigitan luka. kesulitan bicara dan bernafas. Perdarahan yang tak terkontrol dapat menyebabkan syok atau bahkan kematian. Awalnya. Korban dapat berdarah dari luka gigitan atau berdarah spontan dari mulut.

sayaraf kardiovaskuler Sistem imun nyeri Neuro toksik Enzim hematoksik Resiko infeksi Nyeri gg. e. Pathway keracunan melalui kulit Hewan berbisa Racun hewan berbisa masuk kedalam tubuh Toksik menyebar melalui darah Toksik ke jaringan sekitar gigitan inflamasi gg. pada hipotalamus miokard gg. Sesak prostagladin ke jaringan Nyeri Gangguan pola nafas tidak efektif 26 . sistem pernafasan Kontrol suhu dan nyeri terganggu Curah jantung sistosik Gangguan perfusi jaringan perifer Edem paru Sekresi mediator nyeri: Hipertermi histamin bradinin. sistem neurologi gg.

eritrosit. 2) Dinginkan bagian diatas luka gigitan dengan es batu. karena masih dapat memompakan bisa. pulse dibawah torniket jangan sampai hilang. 2) Pemeriksaan darah lengkap hematologi leukosit.f.pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui : Fungsi hati. gula darah fungsi jantung. ginjal dan asam urat. (Drs. g. aman pasien. fungsi pankreas dan elektrolit. aman lingkungan. Penatalaksanaaan Pra-hospital 1) Aman diri. dan torniket dibuka selama 30 detik setiap 15 menit. antara kaki atau tangan posisi jantung harus lebih tinggi dari luka gigitan. 3) Untuk sengatan lebah/kalajengking. Alternatif lain juga dengan dibalut kuat. 2) Cek respon dengan skala AVPU (Alert voice pain unconscious) 3) Penderita segera dibaringkan 4) aktifkan spgdt (119) 5) Meminta bantuan pada orang sekitar tempat kejadian ketika menunggu bantuan datang segera lakukan : 1) Pasang torniket diatas gigitan. Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaaan kimia darah. adalah pengukuran waktu yang dibutuhkan bagi darah untuk membeku. Pembekuan darah membutuhkan vitamin K dan beberapa faktor pembekuan (protein) yang dibuat oleh hati. Sartono. hematrokit.racun dan keracunan2002:283) 4) Penderita segera dibawa ke rumah sakit. 3) Waktu protrombin. kelenjar bisa yang masih menempel segera dibuang dengan ujung kuku atau dengan pisau.yang digunakan untuk menganalisa zat- zat kimia organik yang terlarut dalam darah. hemoglobin. 27 .

bersihkan dari bronchial sekresi. 3) Setelah diberikan adrenalin lalu pemberian Antidote. pada keracunan sengatan lebah bisa diberikan melalui inhalasi seperti inhaler (Drs. 28 . sengatan dan gigitan binatang berbisa. kolap dan hilang kesadaran. Ardelaninn berguna untuk menangani reaksi yang ditimbulkan dari racun seperti pembengkakan.racun dan keracunan2002:284).5 mg sereara IM.h. Penatalaksanaan intra-hospital 1) terapi primer a) Airways: jaga jalan nafas. pantau vital sign d) Disability : observasi kesadaran klien secara berkala e) Exposure : observasi keadaan tubuh klien secara berkala 2) pada keracunan bisa melalui gigitan binatang berbisa berikan adrenalin 0. b) Breathing: beri oksigen 100% . Antidote antibisa berguna untuk menginaktifkan racun bisa. gangguan pernafasan. Sartono. bila tidak adekuat lakukan intubasi c) Circulation: pasang IV line. melawan efek racun yang telah masuk pada organ target.

kulit (hipoperfusi/ hipoperfusi (CRT)) 4) Disability : Yang dinilai adalah tingkat kesadaran serta ukuran dan reaksi pupil. Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing adalah : Look. frekuensi pernapasan. V : Verbal. Pengkajian ini meliputi. kaji pola pernapasan yang tidak teratur. Feel terhadap penilaian ventilasi dan oksigenasi pasien. leher dan dada. kedalaman napas. pengembangan dada. Pengkajian Primer Pengkajian primer bertujuan untuk mengetahui dengan segera kondisi yang mengancam nyawa pasien. Kaji adanya obstruksi pada jalan nafas karena dahak.C. pasien hanya merespon terhadap rangsangan verbal. nadi (karotis/radial). Tulang belakang pasien harus dilindungi jika dicurigai terdapat trauma pada kepala. Listen. ekspansi paru. dilakukan dalam tempo waktu yang singkat. Disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU : A : Alert (waspada). Asuhan Keperawatan Keracunan 1. P : Pain (nyeri). 2) Breathing : Kaji adanya dispneu. atau yang lain. pasien waspada dan tidak membutuhkan rangsangan. 29 . Caranya dengan mengajak pasien bicara untuk memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. lender pada hidung. Pengkajian a. Obstruksi paling sering terjadi karena obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak sadar. pasien hanya respon terhadap rangsangan nyeri. 1) Airways : Pengkajian mengenai kepatenan jalan nafas. 3) Circulation : Meliputi pengkajian volume darah dan kardiak output serta pendarahan.

social. penyalah gunaan obat. obat – obatan yang diminum seperti sedang menjalani pengobatan hipertensi. riwayat keluarga. Anamnesis yang dilakukan harus lengkap karena akan memberikan gambaran mengenai cedera yang mungkin diderita. 1) Anamnesis Pemeriksaann data subyektif didapatkan dari anamnesis riwayat pasien yang merupakan baian penting dari pengkajian pasien. 2007). pasien tidak merespon dengan rangsangan apapun. dll P : Pertinent Medical History. berapa dosisnya. 5) Exposure : Mengkaji keadaan anggota tubuh klien. kencing manis. obatnya apa. jantung. dan system. Riwayat pasien meliputi keluhan utama. riwayat masalah kesehatan sekarang. Pengkajian Sekunder Pengkajian sekunder adalah pemeriksaan secara lengkap yang dilakukan secara head to toe. adakah alergi pada pasien seperti obat – obatan. A : Alergi. (Emergency Nursing Association. Pengkajian sekunder hanya dilakukan setelah keadaan pasien mulai stabil. dosis. riwayat medis. 2007). b. dan makanan M : Medikasi/ Obat – obatan. U :Unresponsive (tidak ada respon). plester. dengan mengobservasi adanya jejas atau trauma pada anggota tubuh klien terutama pada bagian servikal dan tulang belakang. dari depan ke belakang. penggunaan obat – obatan herbal 30 . riwayat medis pasien seperti penyakit yang pernah di derita. Anamnesis juga harus meliputi riwayat AMPLE yang bisa didapat dari pasien dan keluarga (Emergency Nursing Association. riwayat medis.

darah lengkap. L : Last Meal. analisa gas darah. cairan lambung. osmolalitas serum. Skrining toksikologi untuk kelebihan dosis obat. dikonsumsi berapa jam sebelum kejadian. gula darah. Tes toksikologi kuantitatif. transaminase hati ). elektrolit. EKG. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan lengkap ( urin. obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi. Foto toraks/ abdomen. hal – hal yang bersangkutan dengan sebab cedera ( kejadian yang menyebabkan adanya keluhan utama) 2. kreatinin. urea N. selain itu juga periode menstruasi termasuk dalam komponen ini. 31 . glukosa. E : Events.

pola nafas karena lender pada jalan nafas Do : nafas menjadi atau dahak. distress pernapasan : 1. Pola nafas tidak efektif b.8 Monitor perubahan 1.7 Pemberian terapi 1.5 Monitor saturasi kadar oksigen  Sianosis oksigen pasien.4 Kaji adanya dispneu.d Setelah dilakukan Airway : 1. nafas pasien irama nafas tidak teratur. 1x15 menit. 3. teratur Breathing : 1.3 Lakukan pemasangan 1.2 Untuk membuka  TD : 140/100 mmHg criteria hasil : airway. obstruksi jalan adanya obstruksi Ds : . RR dalam batas lift/ jaw thrust pasien  T : 35.2 Lakukan menejemen 1. adanya dispneu adanya penggunaan otot 3.5 Mengetahui bantu pernafaan.1 Kaji kepatenan jalan mengetahui dengan : keperawatan selama nafas.  RR : 28x/menit efektif dengan 1. Irama nafas airway. pasien. ditandai tindakan 1.4 Mengetahui suara nafas ronki. didalam tubuh 1. 2. Rencana Keperawatan Rencana Keperawatan Keracunan melalui inhalasi No.7 O2 kadar tinggi oksigen dosis tinggi akan membantu (NRM 100%) sesuai CO untuk kolaborasi dokter.3 Membantu  GCS : E3V5M5 (16-24x/menit) oro/naso faringeal membuka jalan  Nafas pendek dan cepat. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan KH Intervensi Rasional 1. memisahkan dri Circulation : dari Hb 1. GCS normal kaji pola pernapasan 1.6 Mengetahui penggunaan otot bantu.8 Mengetahui 32 .6 Observasi tanda-tanda pasien. (E4V5M6) 1. tidak 1.8 °C normal 1. pernapasan atau nafas cuping hidung. terlihat (vesikuler) 1. headtilit-chin jalan nafas  N : 53x/menit 1.1 Untuk obstruksi jalan nafas. adanya distress retraksi interkosta.

perubahan Exposure : tingkat 1. Disability : 1. atau trauma pada bagian tubuh klien terutama pada servikal dan tulang belakang. pasien.10 Observasi kulit. atau tidak.9 Observasi perubahan adanya tingkat kesadaran. dan kesadaran anggota tubuh lain. 1. nadi dan adanya sianosis CRT. 33 .10 Melihat apakah terdapat jejas. warna kulit.9 Mengetahui 1.

KH : dahak. atau tidak. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan KH: Intervensi Rasional 1.4 kaji adanya memperlancar tungkai kaki. nafas 1. dispneu. 1.3 Membantu membuka P : gigitan ular  Skala nyeri 1-2 1. dan mata berkunang. retraksi anafilaksis. Q : terbakar  Mampu menejemen 1. gigitan ular pernapasan : 1.. interkosta. nyeri berkurang/ nafas karena 1. Nyeri b.5 Mengetahui kadar T : terus menerus nyeri berkurang thrust oksigen didalam Do : dengan 1. 34 .11 Mengetahui adanya cuping hidung.4 Mengetahui adanya R : seluruh kaki bagian kiri mengontrol nyeri airway. Rencana Keperawatan Keracunan melalui kulit No.d proses inflamasi Setelah dilakukan Airway : 1.7 Pemberian terapi kesadaran pasien. headtilit..7 Membantu Terlihat gigitan ular pada nyeri berkurang. betis bawah sebelah kiri.5 Monitir saturasi sianosis atau tidak.8 Mengetahui adanya Terlihat pembengkakan pada 1.. pusing. 1. perubahan tingkat 1. abnormalitas dalam Terdapat ekimosis di area tanda distress darah.1 Untuk mengetahui ditandai dengan : tindakan 1.2 Lakukan jalan nafas pasien. oksigen pasien.2 Untuk membuka Klien mengatakan kepala nyeri hilang dengan lender atau jalan nafas pasien. kaji pernapasan.6 Mengetahui adanya N : 90x/menit menejemen nyeri oro/naso distress pernapasan RR : 23x/menit  Menyatakan rasa faringeal airway. Leukosit : 14 gr/dL pola pernapasan 1. 1. luka gigitan ular.1°C nyaman setelah Breathing : 1.. T : 37.1 Kaji kepatenan adanya obstruksi Ds : keperawatan 1x30 jalan nafas. dispneu. S:5  Mengatakan chin lift/ jaw 1.10 Menghentikan penggunaan otot terjadinya syok bantu.3 Lakukan tubuh pasien. pada jalan nafas Pasien mengatakan sakit pada menit. TD : 13/90 mmHg menggunakan pemasangan 1. diharapkan obstruksi jalan pasien.9 Mengetahui adanya Pasien terlihat meringis 1.6 Observasi tanda.

oksigen sesuai 1.13 Mengetahui 1.16 Memfokuskan 1.10 Berikan karakteristik nyeri adrenalin 0.5 untuk menjalankan mg via IM intervensi Disability : selanjutnya.14 Perubahan perubahan lokasi/karakter/intens tingkat itas dapat kesadaran mengidentifikasi Exposure : terjadinya 1. 1.17 Membantu perhatikan mengurangi nyeri lokasi. bekas gigitan ular 1. 1. keluhan nyeri. karakter dengan menekan dan intensitas. darah 1.9 Lakukan pada anggota tubuh pengambilan lain klien.12 Observasi komplikasi.15 Posisikan 1. nadi dan melihat adanya luka CRT.14 Observasi relaksasi.18 Mampu menetralisir 35 . 1. dan 1.11 Observasi 1. pusat nyeri. atau dokter. kulit. trauma pada bagian Circulation : tubuh klien terutama 1.8 Monitor pada servikal dan perubahan warna tulang belakang.13 Kaji skala kembali perhatian nyeri (PQRST) dan meningkatkan 1.12 Melihat apakah kolaborasi terdapat jejas. kulit.15 Posisi nyaman dapat anggota tubuh membantu lain mengurangi nyeri Pain Management : 1.

16 Ajarkan pasien teknik menejemen stress dan teknik relaksasi 1. pasien bias ular yang senyaman beredar dalam darah mungkin pasien.17 Kolaborasikan pemberian analgetik dengan dokter 1.18 Kolaborasikan pemberian SABU dengan dokter 36 . 1.

kumbah lambung. cairn tubuh pasien nafas karena sputum pada jalan nafas. 1. diasotole : 70. T : 36. Do : kembali terpenuhi atau lendir.8 Mengurangi 1. 1.6 Obsvervasi tanda suara nafas. nafas. 4. Hb : 11. fowler/semifowler 1. Pasien dapat airway.3 Lakukan suction pada terhalang oleh Kulit berkeringat bantu pernafasan mulut pasien.1Untuk mengetahui b. 1.5°C distress pernapasan : 1.5-37. Diagnose keperawatan Tujuan dan KH Intervensi Rasional 2. lendir.6 Untuk mengetahui 3.8°C 100 mmHg nafas. 1.9 Mengetahui adanya 1.5 Kaji frekuensi.7 Bantu klien mengatur kandungan CO posisi dalam tubuh. nafas pasien yang Akral dingin mudah tanpa otot 1. Muntah 1. Mukosa bibir kering 2. pernapasan cuping jalan nafas hidung 1.8 Kolaborasikan resiko sianosis pemeberian O2 sesuai atau turgor kulit 37 .4 Mencegah RR : 28x/menit normal pasien terjadinya aspirasi TD : 180/120 mmHg TD : systole : 90. 1.9 gr/dL N : 60-100x/s ekspansi paru.3 Membuka jalan Diare bernafas dengan chinlift/ jaw thrust .4 Pasang intubasi pada 1.7 Memperlancar tanda dehidrasi. kedalaman.2 Lakukan menejemen jalan nafas. TTV dalam batas 1.2 Untuk membuka Mual dengan KH : 1.1 Kaji keoatenan jalan apakah adanya ditandai dengan : 1x3 jam diharapkan nafas. obstruksi jalan resiko sumbatan Ds :. Kekurangan volume cairan Setelah dilakukan Airway : 1. GCS normal penggunaan otot adanya beban E4V5M6 bantu pernapasan. Rencana Keperawatan Keracunan melalui oral (Organofosfat) No.d output cairan berlebih tindakan keperawatan 1. Tidak ada tanda – retraksi interkosta. Breathing : dalam N : Arithmia 130. suara penatalaksanaan T: 35.5 Untuk mengetahui GCS : 12 ( E3V4M5) RR : 16-24x/s 1. headtilit.

10 Monitor saturasi 1. 1. lambung dari sisa Exposure : racun dalam 1.16 Antidot tubuh lain diperuntukkan Decontamination sebagai penawar 1.14 Melihat apakah 100ml/kg terdapat jejas. Farmacology Terapy dan keracunan 1. pasien. 1.12 Lakukan atau trauma pada pemeriksaan darah bagian tubuh lengkap klien terutama Disability : pada servikal dan 1.16 Pemberian pestisida.12 Mengetahui kadar O2 O2 dalam tubuh.11 Untuk memenuhi dan keteraturan elektrolit dan gula nadi karotis.10 Mengetahui kadar 1. dan anggota 1. NaCl 0.9% 1.13 kaji pupil.14 Observasi kulit. Fluid Management 1. respon tulang belakang pasien. yang jelek.18 Melihat adanya 38 .13 Mengetahui pemasangan infuse respon pasien.15 Membersihkan pasien.11 Lakukan 1.15 Lakukan kumbah racun zat kimia lambung melalui yang menyerang NGT system syaraf.17 Memonitor (atrophine) sesuai balance cairan anjuran dokter. Circulation : 1. gerakan 1. lambung. anjuran dokter. darah pasien 1. antidote 1. kekuatan 1.9 observasi O2 dalam darah frekuensi.

1. 39 . hidrasi 1. kateter urine 1. Membrane mukosa lembab. Implementasi Merupakan aplikasi dari intervensi yang telah diterapkan pada tahap intervensi.17 Lakukan peningkatan pemasangan rehidrasi.5-37. HCO3 : 22-28.45. 5. Tidak ada tanda – tanda dehidrasi. elastisitas turgor kulit baik < 2 detik.5°C.18 Monitor status status hidrasi. PaO2 : 90-100%.35-7. T : 36. PaCO2 : 38-42. TTV normal TD : systole : 90-130. AGD normal pH : 7.19 Pertahankan intake dan output yang adekuat 4. Evaluasi Mengalami peningkatan kesadaran menjadi compos mentis dan tidak berkurang. diasotole : 70-100 mmHg N : 60-100x/s RR : 16-24x/s.19 Mempertahankan 1.