You are on page 1of 55

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Data WHO (World Health Organization) tahun 2015 mencatat 2
juta korban meninggal dunia terutama anak-anak setiap tahunnya akibat
makanan yang tidak aman. Di Indonesia sendiri, hingga tahun 2013
BPOM telah mencatat hingga saat ini telah terjadi 10.700 kasus keracunan
pangan yang berujung pada kematian, selain itu gas beracun juga banyak
menyebabkan keracunan.
Gas beracun yang sering terinhalasi adalah karbonmonoksida.
Disamping sejumlah zat inhalasi dari uap yang berlebihan (seringkali
mematikan), ada banyak peningkatan jumlah orang yang menderita akibat
keracunan karbonmonoksida sehubungan dengan kesalahan pemakaian gas
dirumah. (Skeet, Muriel,1993)
Keracunan gas dapat merupakan suatu kecelakaan atau tindakan
bunuh diri dan dapat merupakan komplikasi dari efek obat-obat tidur. Gas
yang ditemukan dapat dihasilkan oleh alam maupun pabrik-pabrik.
Penggunaannya kemudian sangat dikuarangi. Gas alam relative rendah
tingkat toksisitasnya dan dapat menyebabkan asfiksia dengan mengurangi
persediaan oksigen tetapi tidak berefek terhadap hemoglobin darah.(
Skeet, Muriel,1993.
Sumber utama karbon monoksida pada kasus kematian adalah
kebakaran, knalpot mobil, pemanasan tidak sempurna, dan pembakaran
yang tidak sempurna dari produk-produk terbakar, seperti bongkahan
arang.
Diluar kematian akibat kebakaran, ada sekitar 2700 kematian yang
disebabkan oleh karbon monoksida setiap tahunnya di AS. Sekitar 2000
dari kasus ini adalah bunuh diri dan 700-nya adalah kecelakaan. Pada
kenyataannya seluruh kasus bunuh diri tersebut melibatkan penghirupan
gas buangan mobil.

Gas alamiah lainnya dapat dengan mudah berbahaya dalam
ruangan tertutup karena gas-gas tersebut menggantikan sejumlah oksigen
yang ada. Ini dapat menyebabkan hipoksia dan kehilangan kesadaran
tetapi sianosis tetap akan dapat dilihat.
Lebih dari 400.000 orang menjadi korban gigitan ular berbisa
setiap tahunnya di seluruh dunia. Sekitar 20.000 di antaranya harus
kehilangan nyawa akibat racun gigitan ular dengan korban terbanyak
berada di negara-negara miskin. Dalam suatu laporan yang dipublikasikan
Public Library of Science Medicine, peneliti dari Universitas Kelaniya di
Sri Lanka melaporkan bahwa beban akibat gigitan ular berbisa tercatat
paling tinggi di kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sub-Sahara
Afrika. Data mengenai gigitan ular sejauh ini masih belum komprehensif
karena kebanyakan dari kasus terjadi di tempat-tempat dengan sistem
penanganan kesehatan yang buruk dan pendataan kasusnya secara umum
masih buruk dan bahkan belum pernah ada.
Dengan riset ini, para ahli enjaring sekitar 3.256 laporan yang
pernah dipublikasi dan mengumpulkan data dari 68 negara. Hasil laporan
menunjukan bahwa setiap tahun tercatat sekitar 421.000 kasus keracunan
akibat gigitan ular berbisa. Dari sekian banyak kasus, sedikitnya 20.000
orang meninggal mskipun angka pastinya bisa beberapa kali lipat lebih
tinggi.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Untuk mengetahui konsep teori kegawatdaruratan keracunan dan
asuhan kegawatdaruratan keracunan serta dapat mengaplikasikan pada
klien dengan keracunan
2. Tujuan Khusus :
a. Untuk mengetahui penatalaksanaan kedaruratan pada klien
dengan keracunan melalui oral

b. Untuk mengetahui penatalaksanaan kedaruratan pada klien
dengan keracunan melalui inhalasi
c. Untuk mengetahui penatalaksanaan kedaruratan pada klien
dengan gigitan binatang berbisa.

C. Manfaat
untuk mengetahui bagaimana cara penanganan kegawatdaruratan
pada klien keracunan contohnya pada penanganan keracunan oral,
inhalasi, dan kulit.

BAB II
KONSEP DASAR TEORI
A. Keracunan melalui oral
1. Pengertian
Keracunan lewat oral adalah suatru penyakit yang terjadi setelah
menyantap makanan yang mengandung racun, berasal dari bahan beracun
yang terbentuk akibat pembusukan makanan dan bakteri (Arisman, 2009).
Junaidi (2011) menyatakan keadaan darurat yang diakibatkan masuknya
suatu zat atau makanan ke dalam tubuh melalui mulut yang
mengakibatkan bahaya bagi tubuh disebut sebagai keracunan makanan.
Perez dan Luke’s (2014) menyatakan keracunan makanan adalah yang
terjadi akibat menelan makanan atau air yang mengandung bakteri,
parasite, virus, jamur atau yang telah terkontaminasi racun.
a. Bahan Berbahaya dan Beracun
Bahan berbahaya dan beracun adalah bahan-bahan yang
pembuatan, pengolahan, pengankutan, penyimpanan, dan
penggunaannya menimbulkan atau membebaskan debu, kabut, uap, gas,
serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi, kebakaran,
ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah yang
memungkinkan gangguan kesehatan bagi orang yang berhubungan
langsung dengan bahan tersebut atau menyebabkan kerusakan pada
barang-barang.

b. Bahan-Bahan Kimia Umum yang Sering Menimbulkan Racun
Bahan kimia umum yang sering menimbulkan keracunan adalah
sebagai berikut:
1) Golongan pestida, yaitu organo klorin, organo fosfat, karbamat,
arsenic.
2) Golongan gas, yaitu Nitrogen (N2), Metana (CH4), Karbon
Monoksida (CO), Hidrogen Sianida (HCN), Hidrogen Sulfida
(H2S), Nikel Karbonil (Ni(CO)4), Sulfur Dioksida (SO2), Klor

(Cl2), Nitrogen Oksida, Fosgen (COC12), Arsin (AsH3), Stibin
(SbH3).
3) Golongan metalloid/logam, yaitu timbal (Pb), Posfor (P), air raksa
(Hg), Arsen (As), Krom (CR), Kadnium (Cd), Nikel (Ni), Platina
(Pt), Seng (Zn).
4) Golongan bahan organic, yaitu Akrilamida, Anilin, Benzena,
Toluene, Xilena, Vinil Klorida, Karbon Disulfida, Metil Alkohol,
Fenol, Stirena dan masih banyak bahan kimia beracun lain yang
dapat meracuni setiap saat, khususnya masyarakat pekerja industri.

2. Penyebab Keracunan lewat oral
Racun makanan pada jenis ini umumnya oleh bakteri pada
makanan tersebut. Jenis bakteri yang mengeluarkan racun di antaranya
Clostridium botulinum, Clostridium perfringens, Staphylococcus dan
Bacillus cereus.
Penyebab keracunan ada beberapa macam dan akibatnya bisa
mulai yang ringan sampai yang berat. Secara umum yang banyak terjadi di
sebabkan oleh:
a. Mikroba
Mikroba yang menyebabkan keracunan di antaranya:
1) Escherichia coli pathogen
2) Staphilococus aureus
3) Salmonella
4) Bacillus Parahemolyticus
5) Clostridium Botulisme
b. Bahan Kimia
1) Peptisida goolongan organofosfat
2) Organo sulfat dan karbonat
c. Toksin
1) Jamur
2) Keracunan Singkong

muntah-muntah. pusing. salivasi. koma dan blok jantung. Untuk karbamat ikatan dengan AChE hanya bersifat sementara dan akan lepas kembali setelah beberapa jam (reversibel). ansietas. gangguan pernafasan dan hiper aktif gastrointestinal. tetapi bila eksposure lagi dalam jumlah yang kecil dapat menimbulkan gejala-gejala yang berat. a. 2) Keracunan kronis untuk karbamat tidak ada.menit dan mencapai maksimum dalam 2-8 jam. Gejala-gejala bila ada menyerupai keracunan akut yang ringan. kram perut. pin point. miosis. lakrimasi. Gambaran Klinis Manifestasi utama keracunan adalah gangguan penglihatan. Keracunan Kronis 1) Penghambatan kolinesterase akan menetap selama 2-6 minggu (organofospat). 3) Tempe Bongkrek 4) Bayam baracun 5) Kerang 3. kejang-kejang. penglihatan kabur. tremor lidah dan kelopak mata. edema paru. lemah. pupil tidak bereaksi. 1) Keracunan ringan: Anoreksia. sianons. sukar bernafas. nadi lambat dan fasikulasi otot. 2) Keracunan Sedang: Nausia. 3) Keracunan Berat: Diare. sakit kepala. . control spirgter hilang. Keracunan Akut Gejala-gejala timbul 30-6. b. keringatan.

Patofisiologi Keracunan dapat disebabkan oleh beberapa hal di antaranya yaitu factor bahan kimia. Dalam keadaan normal enzim KhE bekerja untuk menghidrolisis arakhnoid (AKH) dengan jalan mengikat Akh-KhE yang bersifat inaktif. mikroba. Terjadi mual. Makanan yang mengandung bahan kimia beracun (IFO) dapat menghambat (inktivasi) enzim asrtikolinesterase tubuh (KhE). toksin dll. . perut kembung. yang akan menimbulkan efek muscarinic. sehingga timbul gejala- gejala rangsangan Akh yang berlebihan. muntah di karenakan iritasi pada lambung sehingga HCL dalam lambung meningkat.4. gangguan sirkulasi darah dan kerusakan hati (sebagai akibat keracunan obat dibahan kimia). Dari penyebab tersebut dapat mempengaruhi vaskuler sistemik sehingga terjadi penurunan fungsi organ- organ dalam tubuh. nikotinik. dan ssp (menimbulkan stimulasi kemudian depresi SSP. muntah. gangguan pernafasan. diare. Bila konsentrasi racun lebih tinggi dengan ikatan IFO-KhE lebih banyak terjadi akibatnya akan terjadi penumpukan Akh di tempat-tempat tertentu. Biasanya akibat dari keracunan menimbulkan mual.

lemas. sesak nafas cairan Gangguan pola napas . muntah. Pathway Makanan (bakteri dan non bakteri) ꜜꜜ Bakteri Saluran ba cerna Terinfeksi bakteri Darah dan sistem limfa Iritasi lambung Racun mengikat Hb HCL lambung meningkat Kekurangan suplai oksigen Mual. 5. diare Hipoksia Kekurangan volume Pandangan buram.

aman lingkungan. 1) pH darah normal (arteri) : 7. menentukan seberapa baik paru-paru dan ginjal bekerja menunjukan bahwa seorang pasien mengalami ketidakseimbangan oksigen. urea N. atau pH darah. (pra hospital) 1) 3A. darah lengkap. leakkan korban dalam posisi pemuliham. Jika korban tidak sadar. 4) Aktifkan SPGDT (telpon 119). Pemeriksaan penunjang a.45 2) Bikarbonat (HCO3) : 22-26 miliekuivalen per liter 3) Tekanan parsial oksigen 75-100 mmhg 4) Tekanan parsial karbondioksida (pC02) 35-45 mmHg 5) Saturasi oksigen 94-100 % b. gula darah. jagalah korban. cairan lambung. c) Karena racun memberi pengaruh buruk bagi pernafasan. segera berikan susu atau air untuk melindungi dinding mulut dan untuk mengencerkan isi 9 . kreatinin. aman diri. tanyakan apa yang dimakan. skrinning toksikologi untuk kelebihan dosis obat. 7. glukosa. elektrolit. Pemeriksaan lengkap (urin. Bila pernafasan berhenti berilah nafas buatan. b) Jika korban sadar. foto toraks abdomen.35-7. karbondioksida. aman pasien. 5) Meminta bantuan kepada orang disekitar kejadian Ketika menunggu bantuan datang segera lakukan : a) Buang kelebihan racun dalam mulut. tes toksikologi kuantitatif.). transaminase hati. osmolalitas serum. Penatalaksanaan a.6. BGA Pemeriksaan AGD akan memberikan hasil pengukuran yang tepat dari kadar oksigen dan karbondioksida dalam tubuh. 3) Posisikan klien. EKG. 2) cek respon klien. Bawa klien ketempat yang aman. d) Bila korban masih sadarkan diri.

i) Awasi korban dari dekat sampai pertolongan datang b. e) Jangan membuat korban muntah. perut. bersihkan dari broncial sekresi b) Breathing : beri oksigen.  Jika pasien sadar. jika yang tertelan dari bahan korosif seperi asam kuat dan alkali bahan ini akan membuat kerusakan sewaktu masuk kedalam tubuh dan membuat kerusakan yang lebih parah sewaktu keluar kembali. tanyakan pada korban bahan dan jenis apa yang tertelan. bila tidak adekuat lakukan isntubasi c) Circulation : pasang IV line. f) Jangan memberikan sesuatu melalui mulut jika tidak sadarkan diri. Jika ada luka bakar dan mukosa mulut berwarna putih pertanda bahwa racun korosif. g) Jangan memberi air garam untuk membuat korban muntah. h) Jangan mencoba membuat penderita yang tidak sadar muntah.  Tanyakan kapan waktu racun tertelan.  Tanyakan tindakan apa yang sudah dilakukan Penanganan intra hospital pada pasien yang mengalami keracunan yaitu merangsang muntah pada pasien. 10 . pantau vital sign d) Disability: observasi kesadaran klien klien secara berkala e) Exposure : observasi keadaan tubuh klien secara berkala. Penanganan ini dilakukan pada pasien yang mengalami keracunan nonkorosif tidak diindikasikan pada keracunan korosif. Penatalaksanaan (intra-hospital) 1) Penanganan primer a) Airways : jaga jalan nafas.

2022:65). f) bilas lambung (100-200 ml menggunakan air hangat). b) Tidak diberikan pada anak usia kurang dari 6 tahun.a) Dengan menggunakan sirup ieca. Ketika pasien mengalami keturunan kesadaran atau pasien tidak sadar sebaiknya dillakukan kumbah lambung. menggunakan pipa nasograstrik yang masih terpasang. diikuti pemberian karbon aktif. Pemberian karbon aktif berujuan untuk mengabsorpsi racun. pemberian sirup ipcea dapat diulang sekali lagi. obat penguras usus untuk mengeluarkan racun. penderita tidak mampu reflek muntah. Penangan ini tidak diindikasikan untuk pasien yang mengalami keracunan bahan korosif. setelah dilakukan kumbah lambung bisa melanjutkan penanganan menghambat absorpsi dengan menggunakan karbon aktif. Posisikan korban duduk atau kepala lebih tinggi. opomorfin dll. g) Dosis orang dewasa dan anak-anak adalah 1g/kg BB. Sirup ipcea mengandung alkaloid emetin dan safein. Karbon aktif dicampur air. perbandingan 1:4 selain itu dapat dicampur obat pencuci usus atau obat cuci perut (Drs. Anak-anak : 6-12 bulan 10ml atau 2 sendok teh. keracunan asam basa kuat. c) Dosis Dewasa : 30ml atau 2 sendok makan. Oba 11 . h) Ketika keracunan sudah mencapai pada usus maka penatalaksanaan yang dilakukan yaitu membersihkan usus. >12 bulan : 15 ml atau 1 sendok makan d) Jika korban belum muntah dalam waktu 30 menit. e) Ketika keracunan sangat parah. Direkomendasikan pada kasus yang mengancam. penderita koma. Racun dan keracunan. Pemberian sirup ipcea dalam waktu 1 jam stelah keracunan dapat mengeluarkan kembali 30-60%.

leher dan dada. pengembangan dada. 2) Breathing: Kaji adanya dispneu. Caranya dengan mengajak pasien bicara untuk memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. kaji pola pernapasan yang tidak teratur. lender pada hidung atau yang lain. 8. kedalaman napas. Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing adalah: Look. 3) Circulation: Meliputi pengkajian volume darah dan kardiak output serta pendarahan. Dosis Dewasa : Mg-sulfat atau Na-sulfat 30g Anak-anak : 250mg/kg BB. frekuensi pernapasan. nadi(karotis/radial). Pengkajian Primer Pengkajian primer bertujuan untuk mengetahui dengan segera kondisi yang mengancam nyawa pasien. Feel terhadap penilaian ventilasi dan oksigenasi pasien. Listen. Asuhan Keperawatan Keracunan 1. 12 . dilakukan dalam tempo waktu yang singkat. kulit(hipoperfusi (CRT)) 4) Disability: Yang dinilai adalah tingkat kesadaran serta ukuran dan reaksi pupil. Kaji adanya obstruksi pada jalan nafas karena dahak. 1) Airways: Pengkajian mengenai kepatenan jalan nafas. Pengkajian meliputi. Obstruksi paling sering terjadi karena obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak sadar. ekspansi paru. Tulang belakang pasien harus dilindungi jika dicurigai terdapat trauma pada kepala. Menggunakan obat laksan dari golongan senyawa garam yaiu Mg-sulfat dan Na-sulfat. ini akan melancarkan pasien untuk BAB sehingga racun dikeluarkan melalui feses.

disorientasi. U: Unresponsive (tidak ada respon).2009). panas dan berkeringat. keadaan status jantung dan status kesadaran. tachikardi. V: Verbal.  Gangguan elektrolit : hiponatremia. pasien tidak merespon dengan rangsangan apapun. adanya gangguan asam basa. delirium. P: Pain (nyeri). pasien waspada dan tidak membutuhkan rangsangan. bahan racun yang digunakan. Disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU: A: Alert (waspada). 1) Pemeriksaan Fisik 13 .  BMR meningkat : tachipnea. pasien hanya respon terhadap rangsangan nyeri. kejang sampai koma. ada masalah lain sebagai pencetus keracunan dan sindroma toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya. Pengkajian Sekunder a) Data Subyektif  Pengkajian difokuskan pada masalah yang mendesak seperti jalan nafas dan sirkulasi yang mengancam jiwa. hipernatremia. hipokalsemia atau hipokalsemia (Mansjoer Arif.  Riwayat kesadaran : riwayat keracunan.  Gangguan koagulasi: gangguan aggregasi trombosit dan trombositopenia. b) Data Obyektif  Susunan saraf pusat : pernafasan cepat dan dalam tinnitus. pasien hanya merespon terhadap rangsangan verbal. 2. berapa lama diketahui setelah keracunan.

Tes toksikologi kuantitatif (Mansjoer Arif. osmolalitas serum. Gastrointestinal: Mual dan muntah. analisa gas darah. Integritas Ego: Gelisah. cairan lambung. kreatinin. 14 . pupil miosis. konjungtiva anemis (Mansjoer Arif. kelemahan. Foto toraks/ abdomen. sianosis. Skrining toksikologi untuk kelebihan dosis obat. paralise. kelemahan. Pola nafas tidak efektif b. Kardiovaskuler: hipotensi Persarafan: Kejang. Sensori: Mata mengecil/membesar.2009). darah lengkap. Selaput lendir: Hipersaliva. 2) Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan lengkap ( urin. Keadaan umum: Kesadaran menurun Pernafasan: Nafas tidak teratur. elektrolit. transaminase hati ). urea N. miosis. gula darah. glukosa. penurunan kesadaran. EKG. pucat.d obstruksi jalan nafas. 3) Diagnosa Kegawatdaruratan Yang Muncul 1. Integumen: Berkeringat Muskuloskeletal: Kelelahan.2009).

4 Lakukan 1. GCS: E3V5M5 normal 1.2 Untuk .2 Lakukan manajemen 1.4 NGT ronki.d obstruksi tindakan 1. N: 53x/menit TTV dalam batas pasien . airway. terlihat pemasangan NGT digunakan adanya dalam proses kumbah Berathing: lambung 1. suara 1. Pola nafas tidak Setelah dilakukan Airway: 1. 1. pola nafas karena lender obstruksi pada Ds: .3 Lakukan 1. RR dalam batas 1. nafas menjadi efektif atau dahak jalan nafas Do: dengan kriteria hasil: pasien . adanya dispneu 1. TD: 140/100 normal (16.5 Kaji adanya dispneu. headtil-chin membuka mmHg 24x/menit) lift/jaw thrust jalan nafas .5 Mengetahui kaji pola pernapasa.7 Observasi tanda.6 Mengetahui oksigen pasien kadar oksigen didalam tubuh pasien 1.6 Monitor saturasi 1. 4) Intervensi Keperawatan No Diagnosa Tujuan dan KH Intervensi Rasional Keperawatan 1.7 Mengetahui 15 . obstruksi jalan adanya dengan: 1x15 menit.1.1 Kaji kepatenan jalan mengetahui jalan nafas. ditandai keperawatan selama nafas. RR: 28x/menit 1. irama oro/naso faringeal jalan nafas nafas tidak airway pasien teratur.3 Membantu .1 Untuk efektif b. Nafas pendek pemasangan membuka dan cepat.

8 Pemberian terapi 1.11Lakukan 1. nafas cuping hidung 1.11 Untuk pemasangan infuse mengetahui NaCl 0. retraksi atau tidak interkosta.9 Mengetahui kekuatan dan kadar O2 keteraturan nadi dalam darah karotis 1.9% 100ml/kg kandungan racun.12Melihat 16 .10 Untuk memenuhi elektrolit dan gula darah pasien 1.10Monitor saturasi O2 1.8 O2 kadar oksigen 5 lpm tinggi akan menggunakan nasal membantu CO kanul sesuai anjuran untuk dokter.12Observasi kulit dan 1. tanda distress adanya pernapasan: distress penggunaan otot pernapasan bantu. 1. apakah sudah menyebar didalam darah Disability: 1.9 Observasi frekuensi. memisahkan diri dari Hb Circulation: 1.

sebagai penawar racun zat kimia yang menyerang sistem saraf.14 Antidot (atrophine) sesuai diperuntukan anjuran dokter.14Pemberian antidote 1. dan keracunan peptisida 17 . anggota tubuh lain apakah terdapat jejas atau trauma pada bagian tubuh klien terutama pada servikal dan tulang belakang 1.13Membersihkan lambung melalui lambung dari NGT sisa racun dalam lambung 1.13Lakukan kumbah 1.

Keracunan melalui inhalasi 1. f) Kecepatan napas dan puls meningkat. pembuatan baja. Karbon Monoksida (CO) Gas karbon monoksida dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna oleh bahan-bahan yang mengandung karbon dari mesin dan kendaraan bermotor dan dapat merupakan emisi dari alat seperti pembakar sate. Keracunan inhalasi terjadi bisa melalui gas karbon monoksida atau uap metilen klorida yang melalui mulut. Pengertian a. e) Selaput lendir berwarna merah.B. jangka waktu menghirup dan kegiatan yang dilakukan. gagal pernafasan daan kematian jika dihirup lebih dari 1 jam. Dimana fungsi karbon monoksida juga digunakan untuk memadamkan kebakaran. masih belum menunjukkan gejala keracunan atau hanya menyebabkan sakit kepala dan nafas pendek. Bila kadar karbon monoksida 500 ppm dan dihirup oleh seorang yang bekerja ringan dalam waktu 1 jam. b) Penglihatan kabur. 1) Gejala Klinis: Absorpsi gas karbon monoksida dan gejala klinis yang timbul tergantung pada kadar gas dalam udara yang dihirup. mungkin belum timbul gejala keracunan. Jika kadar karbon monoksida 100ppm dan dihirup dalam waktu 8 jam. Sedangkan jika kadar karbon monoksida lebih dari 1000 ppm akan menyebabkan tidak sadar. d) Banyak keluar air liur. Akibat dari keracunan karbon monoksida terutama dispnea. 18 . 2) Gejala yang timbul: a) Sakit kepala dan Badan lemah. c) Mual dan muntah.

b) Semua alat dengan pembakaran yang menggunakan bahan bakar gas harus terkena udara ditempat terbuka. b. j) Aritmia dan kematian. Gas klor terdapat di pabrik 19 . Jika lebih dari 20% maka diperlukan terapi oksigen hiperbarik. 4) Tindakan pencegahan: a) Kadar gas karbon monoksida dalam udara sekeliling kita harus dibawah batas paparan yang telah ditentukan. berikan pernafasan buatan dengan oksigen 100% sampai pernafasan kembali normal. h) Koma selanjutnya shock. Gas Klor Klor digunakan sebagai desinfektan air minum dam pemutih pakaian misalnya natrium hipoklorit. 3) Komplikasi yang terjadi antara lain: a) Edema serebral dan paru. 5) Tindakan gawat darurat: a) Penderita harus segera dipindahkan untuk menghindari kontak selanjutnya. b) Berikan oksigen 100% dengan masker sehingga kadar karbokshihemoglobin tidak membahayakan. Dimana kadar karbokshihemoglobin berkurang sampai 50% dalam waktu 1 -2 jam. c) Gangguan mental dan kemerosotan personalitas. i) Depresi napas. c) Jika terjadi depresi pernafasan. b) Infark miokard atau stroke pada penderita kardiovaskuler. g) Konvulsi.

1) Gejala klinis: a) Iritasi dan rasa terbakar pada jaringan yang terkena . c) selaput lendir hidung dan faring menjadi merah. c. Dimana amoniak digunakan dalam sintesa senyawa organik antara lain pabrik bahan peledak. batuk. Sedangkan amonium hidroksida merupakan larutan amoniak 25-29% dalam air. 2) Tindakan penanggulangan: a) Pindahkan penderita untuk menghindari kontak lebih lanjut. pupuk. Gejala keracunan yang timbul dan tindakan penanggulangannya secara umum dapat dilihat pada keracunan bahan kimia yang bersifat korosif. 20 . e) Keracunan melalui inhalasi menyebabkan iritasi. 1) Gejala klinis: Keracunan amoniak menyebabkan : a) iritasi saluran pernafasan atas yang disertai batuk. b) Lakukan tindakan suportif dan berikan obat yang bersifat simtomatik.amoniak dan amonium hidroksida bersifat korosif yang langsung merusak sel dan menyebabkan iritasi selaput lendir. pabrik desinfektan dan instalasi air minum. b) batuk dan muntah. c) serta bau mulut yang khas. dan sebagai refrigeran alat pendingin. b) muntah. Contohnya pada bahan pemutih pakaian yang menggunakan natrium hipoklorit 5%. Terutama menyebabkan edema paru dan pneumonia. dan radang paru. alkali. plastik. Gas Amoniak Amoniak berupa gas pada suhu kamar. d) Kontaminasi pada area mata akan menyebabkan konjungtivitis tanpa kerusakan kornea yang serius. dispnea.

2) Tindakan gawat darurat: a) Jika terjadi kontaminasi pada mata. c) Kemudian bawa penderita kerumah sakit untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. sebagai es kering dsg. siram dengan air selama 15 menit . d) tinitus. b) Yang utama jika seseorang mengalami keracuan inhalasi adalah memindahkan korban dari sumber guna mencegah terjadinya insiden yang sama dan istirahatkan. Gas karbondioksida Gas karbondioksida digunakan dalam minuman ringan sebagai anti septika pada membuatan bir. 1) Gejala klinis: a) Dispnea. dan sianosis. Atrofi retina dan iris. b) Berikan pernafasan buatan. dan f) tidak sadar. kemudian disiram dengan larutan garam normal. e) tremor. berikan oksigen yang mengandung karbondioksida 5-7%. jika tersedia oksigen. Selanjutnya dibawa kedokter untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. 21 . e) Bila pada mata terkontaminasi akan menyebakan rasa sakit disertai edema konjungtiva dan kekaburan kornea dan terjadinya katarak. d. b) sakit kepala. edema paru. d) Jika dalam kadar yang lebih besar dapat menyebabkan sesak napas. 2) Tindakan gawat darurat: a) Pindahkan penderita ke ruangan yang terbuka. c) gangguan penglihatan.

konvulsi dan akhrinya koma dikarenakan semua sel lumpuh. 22 .e. d) konjungtivitis. 2) Gejala klinis kronik: Menghirup sianida berulang-ulang dalam jumlah kecil dapat menyebabkan: a) kepala pening b) kongestif paru. Hidrogen sianida Hidrogen sianida merupakan racun yang kuat. Hidrogen sianida digunakan sebagai fumigan dan digunakan dalam sintesa senyawa kimia. tekanan darah menurun drastis. Akibat keracunan sianida yang utama adalah pernafasan menjadi cepat. c) sakit tenggorokan. 1) Gejala klinis akut: Menghirup sianida 10x dosis fatal mengakibatkan: a) Tidak sadar dengan segera b) Konvulsi dan kematian dalam waktu 1-15 menit c) Kepala pening d) Pernafasan cepat e) Muntah dan muka pucat f) Sakit kepala dan mengantuk g) Tekanan darah turun secara drastis dan tidak sadar. e) kehilangan nafsu makandan berat badan f) kemerosotan mental. 3) Tindakan gawat darurat: a) Penderita dipindahkan keruangan yang tidak terkontaminasi.

muntah. sel darah merah akan cenderung berikatan dengan CO. 2. Hentikan jika tekanan sistolik dibawah 80mmHg. mental dullness dan konfusion. Jika perlu dapat dilakuka terapi oksigen hiperbarik. lelah. Kematian terhadap kasus keracunan karbon monoksida disebabkan oleh kurangnya oksigen pada tingkat selular (cellular hypoxia).2 ml amil nitrit tiap 5 menit. c) Berikan nafas buatan dengan 100% oksigen untuk menjaga tekanan darah. Sel darah merah mempunyai ikatan yang lebih kuat terhadap karbon monoksida dari pada oksigen. gangguan penglihatan. b) Berikan secara inhalasi 1 ampul 0. Hipotensi yang berat dan kegagalan jantung dapat sering terjadi. dan ischamea. Ini disebabkan karbon monoksida dapat mengikat 250 kali lebih cepat dari 23 . Bila terhirup. pernapasan meningkat. Sehingga jika terdapat CO dan O2. Eritema dan bula dapat ditemukan dan dapat berakhir dengan kematian. Nadinya menjadi tidak teratur sehubungan dengan disaritmia jantung. myocardinal. Kemampuan atau daya ikat ini berbeda untuk satu gas dengan gas lain. dan ini membuat kulit korban tampak pucat disamping sianosis normal akan terjadi pada hipoksia. Sering juga korban diawali dengan sakit hebat dan penurunan kesadaran yang cepat. hipotensi. Kemungkinan terjadi kematian akibat sukar bernafas sangat tinggi. karbon monoksida akan terbentuk dengan hemoglobin (Hb) dalam darah dan akan terbentuk karboksi haemoglobin sehingga oksigen tidak dapat terbawa. Patofisiologi Karbonmonoksida bergabung cepat dengan hemoglobin untuk membentuk karboksihemoglobin. pyrexia. Sel darah merah tidak hanya mengikat oksigen melainkan juga gas lain. mual. lesi pada kulit. konvulsi. Gejalanya mirip dengan flu yaitu didahului dengan sakit kepala. Manifestasi klinis Keracunan gas beracun atau karbon monoksida sukar didiagnosa. 3. berkeringat banyak.

24 .oksigen. Gas ini juga dapat mengganggu aktivitas selular lainnya yaitu dengan mengganggu fungsi organ yang menggunakan sejumlah besar oksigen seperti otak dan jantung.

Pathway Bahan Kimia Saluran Pernapasan Pembuluh Darah Korosi trakea Karboksihemoglobin Edema laring Gangguan Sistem Saraf Otonom Obstruksi saluran napas Nyeri Kepala Dan Otot Kelemahan otot. 4. kram. Pusat pernapasan epitotonus Bersihan jalan napas tidak efektif Nafas cepat dan dalam Gangguan rasa nyaman Gangguan pergerakan 25 Intoleransi aktivitas Gangguan pola napas .

bila adekuat lakukan intubasi c) cirkulation : pasang IV line. 2) Perawatan di unit gawat darurat (Intra Hospital) 1) Penangan primer a) Airways : jaga jalan napas b) Breathing : beri oksigen 100 %. Aktifkan spgdt (119) e. tetapi juga menjadi penyebab utama dari kecacatan(Rasat. Sjofjan. Penatalaksanaan kegawatdaruratan keracunan inhalasi 1) Perawatan sebelum tiba di rumah sakit (Pre Hospital) a. aman pasien. Walaupun begitu jangan tunda pemberian oksigen untuk melakukan pemeriksaan pemeriksaan tersebut. Kecurigaan terhadap peningkatan kadar gas beracun diperlukan pada semua pasien korban kebakaran dan inhalasi asap. Jika mungkin perkirakan berapa lama pasien mengalami paparan gas . 1991). Penderita segera dibaringkan d.5. aman lingkungan. Minta bantuan pada orang sekitar pada tempat kejadian Memindahkan pasien dari paparan gas dan memberikan terapi oksigen dengan masker nonrebreathing adalah hal yang penting. 26 . Pemeriksaan dini darah dapat memberikan korelasi yang lebih akurat antara kadar gas beracun dan status klinis pasien. pantau fitalsain d) disability : observasi kesadaran klien secara berkala e) expousure : observasi keadaan tubuh klien secara berkala. Aman diri. b. Cek respon dengan skala AVPU (Alert Voice Paint Unconscious) c. Keracunan gas tidak hanya menjadi penyebab tersering kematian pasien sebelum sampai di rumah sakit. Intubasi diperlukan pada pasien dengan penurunan kesadaran dan untuk proteksi jalan nafas.

jika kadar gas beracun diatas 40 % atau adanya gangguan kardiovaskuler dan neurologis. Pada pasien yang mengalami gangguan jantung dan paru sebaiknya kadar gas beracun dibawah 2%. Pada umumnya asidosis akan membaik dengan pemberian terapi oksigen. Pertimbangkan untuk segera merujuk pasien ke unit terapi oksigen hiperbarik. Pemberian oksigen 100 % dilanjutkan sampai pasien tidak menunjukkan gejala dan tanda keracunan dan kadar gas beracun turun dibawah 10%. Edema serebri memerlukan monitoring tekanan intra cranial dan tekanan darah yang ketat. Chin lift/ jaw trust 2. Lamanya durasi pemberian oksigen berdasarkan waktu-paruh gas beracun dengan pemberian oksigen 100% yaitu 30 . Suction/ hisap 3. Guedel aiway 27 . Pengkajian 1) Pengkajian Primer a) Airway Tidak patennya jalan napas karena adanya sumbatan atau obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk. Elevasi kepala. Apabila pasien tidak membaik dalam waktu 4 jam setelah pemberian oksigen dengan tekanan normobarik. Asuhan Kegawatdaruratan Pada Keracunan Inhalasi a. 6.90 menit. pemberian manitol dan pemberian hiperventilasi sampai kadar PCO2 mencapai 28 . Jika ada obstruksi maka lakukan: 1.30 mmHg dapat dilakukan bila tidak tersedia alat dan tenaga untuk memonitor TIK. sebaiknya dikirim ke unit hiperbarik.

Kuantitatif No Tingkat Kesadaran Definisi Nilai 1. dingin. ekspansi dinding dada. ukuran. kesamaan. b) Breating Kelemahan menelan atau batuk atau melindungi jalan napas. 4. dan reaksi terhadap cahaya. distrimia. takikardia. sonor stidor/ ngorok. Compos Mentis Kondisi seseorang yang 15- sadar sepenuhnya. sianosis pada tahap lanjutan. timbulnya pernapasan yang sulit atau tak teratur. whizing. hipotensi terjadi pada tahap lanjut. Apatis Kondisi seseorang yang 13- tampak acuh tak acuh 12 28 . d) Disability Tingkat kesadaran pasien dapat dinilai dari cek kondisi pupil. c) Circulation Tekanan darah dapat normal atau meningkat. kulit dan membran mukosa pucat. suara napas terdengar ronki atau aspirasi. bunyi jantung normal pada tahap dini. Tingkat kesadaran klien merupakan pengukuran dari kesadaran dan respon klien terhadap lingkungan eksternal. Baik 14 terhadap dirinya maupun lingkungannya dan dapat menjawab pertanyaan yang ditanyakan secara baik 2. Intubasi trakea dengan leher ditahan ( imobilisasi) pada posisi netral. Pengukuran kesadaran terbagi menjadi dua yaitu pengukuran kesadaran kuantitatif dan kualitatif menggunakan glasgow Coma Scale a.

11- respon psikomotor 10 lambat. b. (2) dengan rangsangan nyeri. 5. berbicara mengacau. 29 . 9-7 membrontak berteriak- teriak berhalusinasi kadang berhayal. Coma Tidak bisa dibangunkan. mampu memberikan jawaban verbal 4. disorientasi. 3-1 tidak ada respon b. disorientasi. terhadap lingkungannya 3. Samnolen Kesadaran menurun. (3) kata-kata tidak jelas. Stupor/Suporcoma Keadaan tertidur lelap 6-4 tetapi respon terhadap nyeri 6. Dilireum Gelisah. Verbal (Respon verbal) (5) orientasi baik. (1) tidak ada respon. (4) binggung. Kuantitatif Penilaian GCS: a. EYE (Respon membuka mata) (4) spontan (3) dengan rangsangan suara. mudah tertidur namun kesadaran dapat pulih jika dirangsang tetapi jatuh tertidur lagi.

berapa lama diketahui setelah keracunan. e) Eksposure Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cidera yang mungkin ada. 30 . Motorik (Gerakan) (6) mengikuti perintah (5) melokalisir nyeri (menjauhkan stimulus saat dirangsang) (4) with draws (menghindar saat diberi rangsangan nyeri) (3) flexi abdormal (2) ekstensi abnormal. (1) tidak ada respon. (2) suara tanpa arti. jika ada kecurigan cedera leher atau tulang belakang. keadaan status jantung dan status kesadaran. maka imobilisasi in line harus dikerjakan.  Riwayat kesadaran : riwayat keracunan. (1) tidak ada respon c. 2) Pengkajian Sekunder c) Data Subyektif  Pengkajian difokuskan pada masalah yang mendesak seperti jalan nafas dan sirkulasi yang mengancam jiwa. ada masalah lain sebagai pencetus keracunan dan sindroma toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya. bahan racun yang digunakan. adanya gangguan asam basa.

gula darah. kejang sampai koma. d) Data Obyektif  Susunan saraf pusat : pernafasan cepat dan dalam tinnitus. panas dan berkeringat. sianosis. hipernatremia. EKG. disorientasi. Gastrointestinal: Mual dan muntah. pucat. b. Selaput lendir: Hipersaliva. hipokalsemia atau hipokalsemia (Mansjoer Arif. kelemahan. urea N.2009). 31 . transaminase hati ). miosis. delirium.2009). kelemahan. pupil miosis. elektrolit. Integumen: Berkeringat Muskuloskeletal: Kelelahan. analisa gas darah. Integritas Ego: Gelisah. penurunan kesadaran. tachikardi. paralise. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan lengkap ( urin. Kardiovaskuler: hipotensi Persarafan: Kejang.2009).  Gangguan koagulasi: gangguan aggregasi trombosit dan trombositopenia.  Gangguan elektrolit : hiponatremia. glukosa. konjungtiva anemis (Mansjoer Arif. Foto toraks/ abdomen. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: Kesadaran menurun Pernafasan: Nafas tidak teratur. Skrining toksikologi untuk kelebihan dosis obat. c. cairan lambung. osmolalitas serum. Tes toksikologi kuantitatif (Mansjoer Arif. Sensori: Mata mengecil/membesar. darah lengkap. kreatinin.  BMR meningkat : tachipnea.

SPO2: 80% dalam rentan 1.5 berikan O2 1. Gangguan pola napas berhubungan dengan gangguan saraf otonom e. RR : 32x/menit napas yang paten 1.1 untuk berhubungan dengan asuhan keperawatan jalan napas mengetahui distress pernapasan selama 5 menit apakah ada DS : . diharapkan pasien sumbatan jalan DO : menunjukan jalan napas . Pasien tidak teknik chin lift napas pernafasan merasa tercekik atau jaw trust .3 mencegah yang normal 15. Diagnosa Kegawatdaruratan Yang Muncul 1.1 Kaji kepatenan 1.4 posisi yang napas abnormal mengatur posisi baik dapat membantu jalan napas 1. TD: 90/70mmH 2. Bersihan jalan nafas berhubungan dengan distress pernapasan 2. d. Tidak ada suara 1. Frekuensi jika perlu .2 Buka jalan 1. Rencana Keperawatan NO Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Intervensi Rasionalisasi Hasil 1.2 untuk .4 Bantu Klien 1.5 Agar dengan NRM kebutuhan 32 . gunakan membuka jalan otot bantu 1.3 Pasang intubasi 1. N: 110 x/menit pernapasan . pada klien terjadinya 20x/menit aspirasi 3. Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan 1. Tampak penggunan dengan kriteria hasil : napas.

adanya . Suara napas penggunaan otot .4 Pertahankan 2. Gangguan pola napas Setelah dilakukan 2. Menunjukan jalan 2. TD: 90/70mmH 2.4 Jalan napas pernafasan dalam jalan nafas yang yang paten dapat rentang normal.3 Monitor saturasi 2.6 Ukur suhu 1. N: 105 x/menit nafas yang paten oksigen mengetahui (klien tidak identifikasi merasa tercekik.1 Kaji Tanda. Tampak penggunan bersih. tidak ada bantu pernapasan otot bantu sianosis dan cuping hidung pernafasan dyspnea .6 Untuk tubuh menghindari terjadinya hipertermi 2.1Untuk berhubungan dengan tindakan selama 5 tanda vital mengetahui kondisi gangguan saraf otonom menit diharapkan pasien ditandai dengan : pasien dapat 2. Tanda-tanda vital 33 . suara DO : dengan kriteria hasil: pernapasan napas.2. RR : 32x/menit 1. mempertahankan suara napas.2 untuk DS : . data primer frekuensi 2. (100%) Oksigen terpenuhi 1. paten memberikan tidak ada suara kebutuhan oksigen nafas abnormal) kesemua jaringan 3.3Untuk . dan mengetahui tingkat kesadaran penggunaan otot frekuensi.2 Kaji frekuensi 2. dalampengkajian irama nafas.

Tidak ada suara napas abnormal. irama nafas. 34 . tidak ada sianosis dan dyspnea. frekuensi pernafasan normal 16- 24x/menit. Evaluasi Pasien tidak merasa tercekik. Suara napas bersih. RR : 16- 24x/menit. N : 60-80x/menit. Tanda-tanda vital dalam rentang normal TD : 120/80mmHg. frekuensi pernafasan dalam rentang normal. tidak ada suara nafas abnormal). dalam rentang tubuh secara adekuat normal TD : 120/80mmHg N : 60-80x/menit f. Menunjukan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik.

Penyebab Keracunan Melalui Kulit Penyebab dari keracunan kulit ini biasanya terjadi karena sengatan atau gigitan hewab berbisa antara lain sebagai berikut : 1) Gigitan ular Daya toksin bisa ular yang telat diketahui ada beberapa macam :  bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematoxic) bisa ular yang bersifat racun terhadap darah. Bisa adalah suatu zat atau substansi yang besfungsi melumpuhkan mangsa yang sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. laba- laba. bahkan kematian.C. Gigitan binatang berbisa adalah gigitan atau serangan yang diakibatkan oleh gigitan hewan berbisa seperti ular. Keracunan Lewat Kulit 1. a. Racun adalah zat atau senyawa yang masuk kedalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respon pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. namun kosmetik dibuat dari bahan- bahan kimia yang pada kulit tertentu dapat menimbulkan alergi . kalajengking. (sentra informasi keracunan nasional badan POM) Keracunan melalui kulit bisa melalui bahan kosmetik. iritasi. yaitu bisa ular yang menyerang dan merusak (menghancurkan sel sel darah merah dengan jalan menghancurkan stroma lecethine 35 . yang dihasilkan oleh kelenjar khusus.penyakit.Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi.Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak disetiap bagian bawah sisi kepala dibelakang mata. Pengertian Gigitan Hewan Berbisa yang masuk kedalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respon pda sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Dimana bahan kosmetik bukanlah racun. fotosensitif selain kesalahan dalam penggunaannya.

 bisa ular yang bersifat kardiotoksin merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan kerusakan otot jantung. dengan melepasan histamin dan zat vasoaktifamin lainnya berakibat terganggunya kardiovaskuler. dan lain-lain. Bisa ular yang bersifat cytolitik zat ini yang aktiv menyebabkan peradangan dan nekrose di jaringan pada tempat gigitan. Penyebaran dan peracunan selanjutnya memperngaruhi susunan saraf pusat dengan jalan melumpuhkan susunan saraf pusat. 36 .  bisa ular yang bersifat myotoksin mengakibatkan rabdomiolisis yang sering berhubungan dengan maemotoksin. tenggorokan. (dinding sel darah merah. ialah melalui pembuluh limfe.Enzim enzim termasuk hyluronidase sebagai zat aktiv pada penyebaran bisa. seperti saraf pernafasan dan jantung. hidung.Penyebaran bisa ular seluruh tubuh.sehingga sel darah menjadi hancur dan larut (hemolysin) dan keluar menembus pembuluh pembuluh darah.  bisa ular yang bersifat saraf (neurotoxic) yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel saraf sekitar luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf tersebut mati dengan tanda tanda kulit sekitar luka gigitan tampak kebiru biruan dan hitam(nekrotis). Myoglobulinuria yang menyebabkann kerusakan ginjal dan hiperkalemia akibat kerusakan sel-sel otot. mengakibatkan timbulnya perdarahan pada selaput tipis (lender) pada mulu.  bisa ular yang bersifat cytotoksin.

dan bahan pengawet  Cleansing cream/night cream. sehingga meningkatkan transmisi saraf. cold cream digunakan sebagai cleansing. cetaceum. dan blok saluran kaliumdan kalsium-dependent. zat yang utama dalam racun lebah. menghambat aktivitas komplemen C3. emolient. lubricating dan massage cream. boraks. air. 3) Kosmetik a) Face cream Untuk memelihara kulit muka. parafin liq. adalah salah satu zat anti peradangan yang paling kuat (100 kali lebih kuat dibandingkan hydrocortisol). 37 . Anafilaksis adalah sebuah reaksi alergi pada tingkatan yang parah hingga bisa menyebabkan kematian bagi penderita. parfume. digunakan berbagai macam krim antara lain:  Cold cream Sebagai krim pendingin. Mengandung sabun dan parafin liq yang digunakan untuk membersihkan kulit muka. Pada lebah racun yang dihasilkan antara lain : a) Melittin. Melittin juga menstabilkan membran sel lisosom untuk melindungi terhadap peradangan. spermaceti. b) Apamin. bahan yang digunakan antara lain cera. Seseorang yang pernah terkena sengatan lebah dan/atau memiliki alergi terhadapracunn atau bisa lebah akan beresiko mengalami alergi yang lebih berat sehingga syok anafilaksis.2) Sengatan Lebah Sengatan lebah terjadi karena kandungan protein pada racun atau bisa lebah mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan sel kulit sehingga menyebabkan rasa sakit dan pembekakan disekitar area sengatan. minyak.

b) Face powder Bahan – bahan yang di gunakan dalampembuatan bedak mukaa mempunyai daya dan sifat sebagai berikut :  Covering power atau daya menutupi kulit. karna ikut menentukan macam dan penggunaanya. air. Warna ( pigmen) dan kejelekan kulit harus dapat ditutupi. Hal yang perlu di perhatikan ialah warna dan parfum untuk bedak muka.Bahan yang digunakan antara lain asam stearat. Untuk maksd ini di gunakan seng oksida. magnesium karbonat. atau kaolin.Termasuk golongan yang tidak mengandung minyak. magnesium karbonat. tapi membentuk lapisan tipis yang tidak terlihat.Jika ditambah minyak sedikit. Untuk menahan parfum dalam bedak.  Slip atau sifat dapat menyebar rata di atas kulit. seng stearat. magnesium oksida.Selain itu. hanya terdiri dari sabun. dan aluminium stearat. alkali (kalium hidroksida. di gunakan kalsium karbonat. atau pati. trietanolamin) gliserin. titanium oksida.zat warna yang di izinkan untukdigunakan dalam pembuatan sediaan kosmetik. Untuk mendapatkan sifat ini digunakan talek. dan parfum. dapat dilihat dalam Peraturan 38 .  Vanishing cream Vanishing cream jika digosokkan pada kulit sebelumnya tidak hilang atau lenyap. natrium hidroksida.  Adhesiveness atau daya lekat pada kulit Untuk maksu ini yang biasa digunakan untuk bedak muka ialah magnesium stearat. zar warna dan parfum juga dapat menjadi penyebab timbulnya reaksi yang tidak di harapkan. maka vanishing cream bisa digunakan sebagai foundation.

Selain itu. Dengan demikian kulit mukaakan terasa segar. dan 39 . sebaiknya menggunakan yang light weight. sedangkan untuk kult berminyak digunakan heavy weight.Kulit tangan yang kasar dapat dibuat menjadi halus dengan lotion untuk tangan. Untuk mendapatkan daya mengkerutkan tersebut. Karena pemberian air menyebabkan rasa segar pada kulit muka. glatin.masker muka digunakan setelah kulit dibersihkan dan dihapus dengan air hangat atau face lotion. gom. gelatin. c) Face Mask Masker muka bekerja sebagai stimulan pada kulit muka. medium. bentonit. dan heavy weight. dan pati. karena lotion muka juga digunakan untuk menghapus sisa –sisa krim.Untuk kulit kering. maka kulit tangan menjadi tangan. makadi sebut juga cream remover. d) Face lotion Maksud penggunaan lotion muka ialah membasahi kulit muka dengan air. maka lotion muka juga di sebut skin refreshner atau skin tonic. digunakan bahan atau zat yang mengngembang jika terkena air dan pada waktu air menguapmenyebabkan kulit muka mengkerut. antara lain putih telur segar. kaolin. e) Hand Lotion Karena kulit tangan sering terkena sabun dan air. yang erat hubungannya dengan daya menutup kulit. Bahan – bahan yang biasa di gunakan dalam pembuatan lotion tangan ialah gliserin. metilselulose.Kes/Per/VIII/1990 tanggal 2 Agustus 1990. Pada bedak muka terdapat isstilah light. karena mengandung zat adstring yang mengkerutkan kulit. Bahan – bahan yang digunakan. gom. Menteri Kesehatan Nomor 376/ Men.bahan – bahan yang berlendir.

atau aqua hamamelidis f) Antiperspiran dan Deodoran Banyak berkeringat menyebabkan bau yang tidak enak.Depilatori berbentuk bubuk. kalsium. terutama sinar matahari dengan gelombang antara 290-320 milimikron. atau krim.lain. g) Depilatori Depilatori digunakan untuk menghilangkan rambut.Keadaan ini dapat dicegah atau di kurangi dengan antiperspiran dan deodoran atau obat pemberantas bau keringat. h) Sunscreen atau suntan Suntan losion atau krim dengan maksud merubah kulit yang putih menjadi berwarna coklat. asam benzoat. Bahan – bahan yang di gunakan. terutama rambut ketiak. maka harus diikuti dengan seksama cara pegunaan yang telat ditentukan. asam salisilat. tanpa kulit terbakar oleh sinar matahari. strontium. Sediaan suntan atau sunscreen mengandung bahan bahan yang menahan sinar matahari (screening agent). Suntan dioleskan pada kulit muka dan bagian badan lain. aluminium sulfat dan lain. yaitu gelombang sinar 40 .Bahan yang biasa digunakan garam sulfida dari barium. kemudian dibiarkan terkena sinar mtahari. Antiperspiran mencegah pengluaran keringat dengan cara mengkerutkan kelenjar keringat. terutama pada ketiak. ditambah aqua rosarium. cairan.Bahan – bahan yang mempunyai anti septik. dan natrium. antara lain senyawa garam aluminium. Karea bahan yang aktif ini mengiritasi kulit. atau senyawa tioglikolat dari natrium atau kalsium. mempunyai daya kerja anti septik untuk mencegah bakteri menguraika keringat. dan yang tumbuh dikaki. anntara lain pormaldehid. dan seng peroksida. aqua flores aurantium. yaitu aluminium klorida. adeps lanae. selain bahan bahan alkali. Sedangkan deodoran.

2. paralysis (kelumpuhan otot). metil salisilat. otot lemas. ular welang. pulselesness (denyutan). 10 jam muncul paralisis urat-urat di wajah. Bahan lain yang mungkin terdapat dalam sediaan suntan ialah dihidroksi aseton. nyeri tekan pada luka gigitan. melepuh. ular anang. yaitu terjadi oedem (pembengkakan) pada tungkai ditandai dengan 5P: pain (nyeri). bibir. muntah. tenggorokan. matahri yang membakar kulit. 2) Gigitan Viperidae/Crotalidae 41 . paresthesia (mati rasa). sehingga sukar bicara. ular weling. Sindrom kompartemen merupakan salah satu gejala khusus gigitan ular berbisa. isobutil-p-aminobenzoat. pallor (muka pucat). ular cabai. kraits). Gejala lokal: edema. Tanda dan gejala khusus pada gigitan family ular : 1) Gigitan Elapidae Misal: ular kobra. antara lain asam p-aminobenzoat. kelopak mata menurun. dan benzil salisilat. ular sendok. susah menelan. pandangan kabur. coral snakes. kaku pada kelopak mata. akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua gigitan ular. c) 15 menit setelah digigit ular muncul gejala sistemik. b) Gambaran sakit yang berat. ekimosis (kulit kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit). mati rasa di sekitar mulut dan kematian dapat terjadi dalam 24 jam. Bahan atau zat yang menahan sinar tersebut. cirinya: a) Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut. bengkak di sekitar mulut. mambas. lidah. Manifestasi Klinik Secara umum. dan zat warna. etil-p- aminobenzoat. dan kulit yang rusak. sakit kepala. kulit dingin.

hipotensi. pembengkakan. 4) Gigitan Crotalidae Misalnya ular tanah. mioglobulinuria yang ditandai dengan urin warna coklat gelap (ini penting untuk diagnosis). b) Gejala sistemik muncul setelah 50 menit atau setelah beberapa jam. c) Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat. Tanda dan gejala lain gigitan ular berbisa dapat dibagi ke dalam beberapa kategori: 1. b) Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri menyeluruh. ular laut. paralisis otot. dan muntah. ular bandotan puspo. spasme otot rahang. ekimosis. b) Anemia. Misal pada ular tanah. lidah terasa tebal. dilatasi pupil. ular bandotan puspo. cirinya: a) Gejala lokal ditemukan tanda gigitan taring. ginjal rusak. cirinya: a) Segera timbul sakit kepala. berkeringat. digigit oleh beberapa ular viper atau beberapa kobra menimbulkan rasa sakit dan perlunakan di daerah gigitan. trombositopeni. atau setelah beberapa jam berupa bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota badan. henti jantung. ular hijau. 3) Gigitan Hydropiidae Misalnya. semua ini indikasi perlunya pemberian polivalen crotalidae antivenin. nyeri di daerah gigitan. cirinya: a) Gejala lokal timbul dalam 15 menit. ular hijau. Efek lokal. Luka dapat membengkak hebat dan dapat berdarah 42 .

kesulitan bicara dan bernafas. berakibat kematian sebelum mendapat perawatan. Patofisologi Bisa ular yang masuk ke dalam tubuh. ular laut.Awalnya. 2. menghasilkan sakit dan kerusakan. Kematian otot. 3. sistem pernapasan. Perdarahan. gigitan oleh famili viperidae atau beberapa elapid Australia dapat menyebabkan perdarahan organ internal. 5. seperti otak atau organ-organ abdomen. sistem kardiovaskuler. menimbulkan daya toksin. bahkan kebutaan sementara pada mata.Beberapa bisa ular kobra juga dapat mematikan jaringan sekitar sisi gigitan luka. bisa ular elapid dan ular laut dapat berefek langsung pada sistem saraf.Pada gangguan sistem neurologis. 4.Perdarahan yang tak terkontrol dapat menyebabkan syok atau bahkan kematian. Bisa ular kobra dan mamba dapat beraksi terutama secara cepat menghentikan otot-otot pernafasan. dan melepuh. Efek sistem saraf. sistem neurogist. korban dapat menderita masalah visual. 3. Korban dapat berdarah dari luka gigitan atau berdarah spontan dari mulut atau luka yang lama. Debris dari sel otot yang mati dapat menyumbat ginjal. dan kesemutan.Toksik tersebut menyebar melalui peredaran darah yang dapat mengganggu berbagai system. semburan bisa ular kobra dan ringhal dapat secara tepat mengenai mata korban. dan beberapa elapid Australia dapat secara langsung menyebabkan kematian otot di beberapa area tubuh.Seperti. Mata. toksik tersebut dapat mengenai saraf yang berhubungan dengan sistem pernapasan yang dapat 43 . bisa dari russell’s viper (Daboia russelli).Hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal. yang mencoba menyaring protein.

toksik mengganggu kerja pembuluh darah yang dapat mengakibatkan hipotensi. 44 . Pada sistem kardiovaskuler.Sedangkan pada sistem pernapasan dapat mengakibatkan syok hipovolemik dan terjadi koagulopati hebat yang dapat mengakibatkan gagal napas.mengakibatkan oedem pada saluran pernapasan. sehingga menimbulkan kesulitan untuk bernapas.

Pathway Hewan berbisa Racun hewan berbisa masuk kedalam tubuh Toksin menyebar melalui peredaran darah Toksin kejaringan sekitar gigitan gg. sistem pernapasan Gangguang perfusi jaringan perifer syok hipovalemik gg. sistem neurologi gg. 4. Syaraf kardiovaskuler inflamasi mengenai saraf Enzim hematoksik sistem imun nyeri sistem pernafasan Resiko miokad nyeri infeksi edema saluran pernafasan curah jantung susah bernafas gg. pola nafas tidak efektif koagulopati hebat Gagal nafas 45 .

2). torniquet dibuka selama 30 detik setiap 15 menit. hematrokit. Penderita segera dibaringkan  Pasang torniquet di atas gigitan. b. Pemeriksaan Penunjang a. puls dibawah torniquet jangan sampai hilang. mempertahakan hidup korban dan mengindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang membahayakan. Alternatif lain juga dengan dibalut kuat atau bidai. Pemeriksaan kimia darah. ginjal. aman lingkungan.eritrosit. Cek respon dengan skala AVPU (Alert Voice Paint Unconscious) 3). fungsi pankreas dan elektrolit. Aman diri. yang digunakan untuk menganalisa zat zat kimia organik yang terlarut dalam darah. 6. 1). Pemeriksaan darah lengkap hematologi leukosit.hemoglobin. c.adalah pengukuran waktu yang dibutuhkan bagi darah untuk membeku. antara kaki atau tangan posisi jantung harus lebuh tinggi dari luka gigitan. gula darah. pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui : fungsi hati. 46 . aman pasien.5. fungsi jantung. Penatalaksanaan Pre-Hospital Tujuan pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa. dan asam urat. Waktu proprombin. Pembekuaan darah membutuhkan vitamin K dan beberapa faktor pembekuan (protein yang dibuat oleh hati).

5). 4). Aktifkan spgdt (119)  Penderita segera dibawa kerumah sakit. 47 .  Dinginkan bagian di atas luka gigitan dengan es batu. cucilah daerah yang di sengat dengan sabun dan air. Minta bantuan pada orang sekitar pada tempat kejadian. kompres dengan air dingin atau es untuk mengurangi penyerapan dan penyebaran racun.  Untuk sengatan lebah cabut sengat secara hati-hati menggunakan pisau atau kuku jangan di pencet karena dapat menyebabkan racun bertambah masuk.

edema. sengatan dan gigitan binatang berbisa. racun dan keracunan 2002:284 ) 3. melawan efek racun yang telah masuk pada organ target. luka becampur darah hipoteksi. difungsi renal. b) Breathing : beri oksigen 100 %. pada keracunan sengatan lebah bisa diberikan melalui inhalasi seperti inhalar. pantau fitalsain. Pada keracunan bisa melalui gigitan binatang berbisa berikann adrenalin 0. bila adekuat lakukan intubasi c) cirkulation : pasang IV line. tidak ada tanda sistemik dan hasil laboratorium normal : tidak diperlukan SABU. bersihkan dari bronchial sekresi. perubahan pada trombroplastik. Derajat 3 diberikan 5-15 vial SABU d. d. Lalu berikan antibiotik. (Drs. berikan antidote/SABU d) disability : observasi kesadaran klien secara berkala e) expousure : observasi keadaan tubuh klien secara berkala.5 mg secara IM. Terapi SABU mengacu pada schwartz dan way (Depkes. Setelah diberikan adrenalin lalu pemberian antidote. berikan adrenalin. hipoperfusi. Sartono. 2. c. Derajat 4 diberikan penambahan 6-8vial SABU Untuk derajat 3dan 4termasuk derajat berat. antidote antibisa berguna untuk menginaktifan racun bisa. Penangan primer a) Airways : jaga jalan napas. Derajat 2 ditandai dengan rasa sakit lokal yang hebat dari 12inci dari sekitar luka. kolap dan hilang kesadaran.gangguan pernafasan. Penatalaksanaan intra-hospital 1. Derajat 0 dan 1 ditandai dengan rasa sakit local. ditandai dengan ptekie. Adrenalin berguna untuk menangani reaksi yanng ditimbulkan dari racun seperti pembengkakan. b. Asuhan Keperawatan Keracunan 48 . dapat diberikan 3-4 vial SABU. 2001) : a.

Obstruksi pling sering terjadi karena obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak sadar. Verbal ( berespon terhadap suaraatau verbal ) . leher. Caranya dengan mengajak pasienn bicara untuk memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. 49 . Pada saat survei primer. dilakukan dalam tempo waktu yang singkat. kesamaan. Pengkajian a. prekuansi pernafasan. dan dada. ekspansi paru. pengembangan dada. Kaji adanya obstruksi pada jalan nafas karena dahak. kai pola pernapasan yang tidak teratur. cek kondisi pupil. listen. atau yang lain. kedalaman nafas. Pengkajian primer Pengkajian primer bertujuan untuk mengetahui dengan segera kondisiyang mengancam nyawa pasien. Yang perlu diperhatian adalah : look. 3. 1.dan reaksi terhadap cahaya. lendir pada hidung. 2. penilaiaan neurologis hanya dilakuakan secara singkat. Airways : Pengkajian mengenai kepatenan jalan nafas. Mneumonic AVPU melipui : Awake ( sadar). ukuran. feel terhadap penilaian ventilasi dan oksigenasi pasien.1. Breathing Kaji adanya dispneu. Sirkulation nilai denyut nadi dan perdarahan pada bekas patukan. Pain ( berespon terhadap rangsang nyeri ). Tulang belakang pasien harus dilindungi jika dicurigai terdapat trauma pada kepala. Unresponsive ( tidak berespon ). Hematemesis /hemoptisis. Hematuria. Disabiliti Tingkat kesadaaran pasien dapat dinialidengaan menggunakan mneumonic AVPU. 4. Sebagai tambahan.

Hiportemia penting karena ada kaitannya dengan vasokonstriksi pembuluh darah dan koagulopati. medikasi. A : alergi. Eksposure (Pemaparan) Lepas semua pakaian pasien secara cepat untuk memeriksa cedera. Perhatikan kondisi pasien secara umum. sistem penghangat udara dan berikan cairan IV hangat. event/environment) perlu diingat. L : last meal. last meal. obat atau makanan yang baru saja di konsumsi.dan lain lain P : pertinent medikal history. riwayat medis pasien seperti penyakit yang pernah di derita. atau adanya bau zat kimia seperti alkohol. bahan bakar. perdarahan atau keanehan lainnya. jantung. dosis. plester. Environmental (Kontrol Lingkungan) Pasien harus dilindungi dari Hipotermia. Eksposure and Environmental . a. di konsumsi beberapa jam sebelum kejadian dan priode menstruasi. 5. adakah alergi pada pasien seperti obat obatan.Anamnesis Setiappemeriksaan yang lengkap memerlukan anamnesis mengenai riwayat perlukaan. 50 . atau urine . DM. pelindung kepala. b. Pertahankan atau kembalikan suhu normal tubuh dengan mengeringkan pasien dan gunakan lampu pemanas. Pengkajian Sekunder Pengkajian sekunder adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe) termasuk revaluasi pemeriksaan TTV. catat kondisi tubuh. obat obatan yang diminum seperti sedang menjalani pengobatan hipertensi. selimut. dan makanan M : medikasi/obat obatan. Riwayat “AMPLE” (alergi. penyalahgunaan obat. partinent.

3.2 Bersihkan obstruksi pada Ds : diharapkan dari brochial jalan nafas  Klien pola nafas sekresi 3. analisa gas darah.2 untuk mengatakan yang paten Breathing mengurangi rasa sakit dengan KH : 1.4 mengetahui oksigen kadar oksigen 51 . Foto toraks/ abdomen. glukosa. urea N.1 Kaji 3. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan lengkap ( urin.Nyeri b.3 mengetahui persendian melaporka dispnue adanya dan diarea n tidak 1. cairan lambung.3 Kaji rasa nyeri diseluruh  Klien adanya 3. E : events. transaminase hati ). gula darah.2009). Nyeri berhubungan dengan gigitan ular berbisa 2).4 Monitor dispnue gigitan ular nyeri lagi saturasi 3. kreatinin. EKG. Tes toksikologi kuantitatif (Mansjoer Arif. 1. darah lengkap. Pemeriksaan fisik 2. Gangguan pola nafas berhubungan dengan pelumpuhan otot pernafasan 4. Diagnosa Kegawatdaruratan Yang Muncul 1).d Setelah Airway : gigitan ular dilakukan 1. Rencana Keperawatan No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional Keperawatan KH 1. hal hal yang bersangkutan dengan sebab cedera. osmolalitas serum. Skrining toksikologi untuk kelebihan dosis obat. c. elektrolit.1 untuk berbisa tindakan kepatenan mengetahui ditandai keperawatan jalan nafas adaya dengan : 1x .

9 Berikan abnormalitas adrenalin dalam darah 0. sianosis atau  Nampak normal frekuensi tidak pembengk (tekanan nadi 3.7 Monitor mengetahui luka pernafasan.10 an terjadinya Kolaborasik syok an anafilaksis pemberian 3. perdarahan adanya gigitan nadi) pada bekas perdarahan ular gigitan secara terus  Ekspresi 1.7 untuk akan pada darah. 1.8 Lakukan menerus wajah pengambilan 3.11 darah 52 .9 menghentik 1. dengan dengan klien didalam tubuh skala 4-5 skala 0-1 1.6 Kaji adanya Do : rentang warna kulit.6 untuk kunang tanda vital Circulation mengetahui dalam 1.5 Berikan pasien  Klien  Mampu terapi 3.5 membantu mengatakan mengontrol oksigen meperlancar pusing mata nyeri sesuai pernafasan berkunang  Tanda kebutuhan 3.5mg 3.10 membantu analgetik mengurangi dan SABU dan dengan menetralisir dokter bisa ular yang Disability beredar dalam 1.8 mengetahui meringis darah adanya 1.

12 3. Observasi 3. melihat adanya luka gigitan ular dan perubahan warna kulit pada daerah gigitan ular 53 . atau tubuh dan trauma pada perubahan bagian tubuh kulit terutama pada servikal dan tulang belakang.12 melihat Observasi apakah ada kondisi jejas.11 mengetahui tingkat adanya kesadaran perubahan dengan tingkat AVPU kesadaran Exposure pasien 1.

Racun adalah zat yang ketika tertelan. alkohol. 54 . BAB III PENUTUP A. Saran Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu kritik dan saran sangat diharapkan untuk penulisan makalah kedepannya semakin membaik. dan lain-lain. Keracunan dapat diakibatkan oleh kecelakaan atau tindakan tidak disengaja. Keracunan atau intoksikasi adalah keadaan patologik yang disebabkan oleh obat. Kami berharap mahasiswa dan para pembaca dapat memahami dan menerapkan dalam keperawatan kegawatdaruratan pada klien keracunan sehingga tercapainya Asuhan Kegawatdaruratan yang professional dan berkualitas sesuai dengan standar pelayanan Asuhan Kegawatdaruratan. diabsorbsi. baik lingkungan rumah tangga maupun lingkungan kerja. atau melalui kulit atau mukosa yang menimbulkan gejala klinis. B. Kesimpulan Keracunan merupakan masuknya zat yang mengandung racun kedalam tubuh baik melalui saluran pencernaan. serum. terhisap. saluran pernafasan. tindakan yang disengaja seperti usaha bunuh diri atau dengan maksud tertentu yang merupakan tindakan kriminal. Keracunan yang tidak disengaja dapat disebabkan oleh faktor lingkungan. menempel pada kulit. bahan serta senyawa kimia toksik. atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil menyebabkan cedera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia.

Salemba Medika Nurarif.Dasar-dasar Keperawatan Gawat Darurat: jakarta. amin huda & Hardhi kusuma. 2002. Racun & Keracunan: Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Sartono. 2011. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis &NANDA NIC-NOC.MediaAction 55 . Dewi N. Jogjakarta.2015.Widya Medika Kartikawati.