You are on page 1of 25

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK CHLORELLA SP.

DAN SPIRULINA SP. TERHADAP BAKTERI
PATOGEN SUSU SEGAR

TEGUH DWI WIJAYA

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

dan Spirulina sp. Bogor. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Aktivitas Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. Desember 2016 Teguh Dwi Wijaya NIM D14120085 . terhadap Bakteri Patogen Susu Segar adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.

. Berdasarkan hasil penelitian Spirulina sp. extract generated higher inhibition zone diameter. . Kata kunci: Chlorella sp. Spirulina sp. 25%.. and Spirulina sp.25% secara in vitro. Semakin besar konsentrasi ekstrak Chlorella sp. could be used for the treatment of subclinical mastitis. Penelitian ini dilakukan untuk menguji antibakteri ekstrak Chlorella sp. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. and 12. dapat digunakan untuk pengobatan mastitis subklinis. terhadap daya bunuh Staphylococcus aureus. susu segar. ABSTRACT TEGUH DWI WIJAYA. was bigger than Chlorella sp. The bigger the concentration of Chlorella sp. and Chlorella sp. lebih baik dibandingkan dengan Chlorella sp. salt water. dan Spirulina sp. ABSTRAK TEGUH DWI WIJAYA. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode difusi kertas cakram uji sensitivitas zona hambat dengan penambahan ekstrak dengan konsentrasi 50%. Antibacterial activity Chlorella sp. Mikroalga memiliki senyawa bioaktif yang dapat digunakan untuk kehidupan manusia salah satunya adalah antibakteri. can be determined by the diameter of inhibition zone Spirulina sp. fresh milk. Microalgae had bioactive compounds which was can be used for human life such as one of which could become antibacterial. and Spirulina sp. dan Spirulina sp. Escherichia coli and Staphylococcus epidermidis that was collect from milk which are contamination with mastitis disease. againts Staphylococcus aureus. dan 12. Key words: Chlorella sp. and Spirulina sp.. 25%. Data obtained were processed descriptively and presented in tabular.. dihasilkan diameter zona hambat semakin tinggi. Spirulina sp. Spirulina sp. Supervised by IYEP KOMALA and MASNIARI POELOENGAN. dan Chlorella sp.25% by in vitro test. terhadap Bakteri Patogen Susu Segar. adalah mikroalga yang hidup di air tawar. Data diolah secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. lebih besar daripada Chlorella sp. Dibimbing oleh IYEP KOMALA dan MASNIARI POELOENGAN. dapat digunakan untuk pencegahan mastitis subklinis dan Spirulina sp. Spirulina sp. This research was conducted to test bioactive role compound of Chlorella sp and Spirulina sp. The research was conducted use by paper disc diffusion method zone inhibition sensitivity test by using extract concentrations of 50%. Spirulina sp. were microalgae that live in freshwater. was better when compared with Chlorella sp. dan Spirulina sp. atau air payau. Chlorella sp. or brackish water. Escherichia coli dan Staphylococcus epidermidis yang didapatkan dari susu yang terkontaminasi penyakit mastitis. air garam.. terlihat dengan diameter zona hambat Spirulina sp. based on the research. Extract Againsts Patogen Bacterial Fresh Milk. Chlorella sp. can be used for subclinical mastitis prevention and Spirulina sp. dan Spirulina sp..

TERHADAP BAKTERI PATOGEN SUSU SEGAR TEGUH DWI WIJAYA Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TERKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016 . AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK CHLORELLA SP. DAN SPIRULINA SP.

.

MS Pembimbing I Pembimbing II Diketahui oleh Dr Irma Isnafia Arief. terhadap Bakteri Patogen Susu Segar Nama : Teguh Dwi Wijaya NIM : D14120085 Disetujui oleh Iyep Komala. SPt MSi Dra Masniari Poeloengan. SPt MSi Ketua Departemen Tanggal Lulus: .Judul Skripsi : Aktivitas Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. dan Spirulina sp.

Shutter IPB. Desember 2016 Teguh Dwi Wijaya . MSi selaku dosen penguji sidang sarjana. dan Spirulina sp. moril dan motivasi selama ini. Penghargaan juga penulis sampaikan kepada Bapak Supartono beserta staf bagian bakteriologi. Teknologi dan Perguruan Tinggi atas beasiswa yang pernah diberikan. SPt MSi selaku dosen skripsi pembimbing utama. serta keluarga yang telah memberi semangat. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Iyep Komala. Balai Besar Penelitian Veteriner yang telah banyak membantu dalam penelitian ini. Ungkapan sayang dan terima kasih disampaikan kepada mama Sri Murwani. doa. (alm) Bapak Moch. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Ibu Yuni Cahya Endrawati. SPt MSi selaku pembimbing akademik. Keluarga BOJES 49. serta kerabat dekat lainnya yang tidak dapat penulis ucapkan satu per satu. SPt MSi selaku dosen pembahas seminar. MS selaku pembimbing anggota. PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh keluarga TORERO (IPTP 49). Ibu Windi Al Zahra. Supii. Terima kasih penulis ucapkan kepada Perhimpunan Orang Tua Mahasiswa IPB dan Kementerian Riset. terhadap Bakteri Patogen Susu Segar. Bapak Dr Ir Afton Atabani. Bogor. MSi dan Ibu Dr Ir Sri Rahayu. Ibu Dra Masniari Poeloengan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2016 ini ialah Aktivitas Senyawa Bioaktif Antibakteri Chlorella sp.

dan Spirulina sp. dan Spirulina sp. pada Bakteri Patogen Susu 6 Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. terhadap Bakteri Staphylococcus aureus 7 Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis 11 SIMPULAN DAN SARAN 12 DAFTAR PUSTAKA 12 RIWAYAT HIDUP 15 . DAFTAR ISI DAFTAR ISI vii DAFTAR TABEL viii DAFTAR GAMBAR viii PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Tujuan Penelitian 2 Ruang Lingkup Penelitian 2 METODE 2 Lokasi dan Waktu Penelitian 2 Bahan 3 Alat 3 Prosedur 3 HASIL DAN PEMBAHASAN 5 Aktivitas Antibakteri 5 Pengujian Ekstrak Chlorella sp. terhadap Bakteri Escherichia coli 9 Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. dan Spirulina sp. dan Spirulina sp.

dan Spirulina sp. 8 5 Sensitivitas beberapa antibiotik terhadap bakteri Escherichia coli 10 DAFTAR GAMBAR 1 Zona hambat Staphylococcus aureus 8 2 Zona hambat Escherichia coli 9 3 Zona hambat Staphylococcus epidermidis 11 . dengan pelarut etil asetat 5 2 Rataan zona hambat (mm) ektrak Chlorella sp. dengan konsentrasi yang berbeda 6 3 Klasifikasi zona hambat antibakteri 7 4 Sensitivitas beberapa antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus sp. dan Spirulina sp. DAFTAR TABEL 1 Uji skrining fitokimia ektrak Chlorella sp.

tetapi menyebabkan penurunan produksi susu. Staphylococcus aureus 1x102 cfu mL-1. (2007) bakteri mastitis hasil isolasi yaitu Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Mastitis merupakan peradangan pada ambing yang disebabkan oleh kuman (bakteri). tumbuh dan berkembang melayang-layang di perairan tawar. merupakan mikroalga bersel tunggal yang hidup di lingkungan perairan. air dan lingkungan (Rombaut 2005). Selain itu gejala yang ditunjukkan berupa demam. 2006). Menurut BSN (2009) cemaran mikroba maksimum pada total plate count 1x106 cfu mL-1. (2006) bakteri hasil isolasi dari susu yang terkena mastitis yaitu Staphylococcus aureus. Susu merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri patogen karena memiliki pH 6. Susu yang tercemar bakteri patogen akan menyebabkan terjadinya mual-mual. yaitu aspek toksikologis. Penanganan mastitis masih menggunakan antibiotik yang menyebabkan residu antibiotik apabila pengobatan mastitis tidak tuntas. . penurunan kualitas susu. Pencemaran susu yang diakibatkan oleh bakteri patogen di Indonesia pada umumnya disebabkan oleh kejadian mastitis. penurunan kualitas hasil olahan susu. Enterobacteriaceae 1x103 cfu mL-1. diare dan keracunan apabila dikonsumsi (Arisman 2009). dari aspek mikrobiologis dapat mengganggu mikroflora dalam saluran pencernaan dan menyebabkan terjadinya resistensi mikroorganisme yang dapat menyebabkan masalah kesehatan dan dari aspek imunologis dapat menimbulkan reaksi alergi yang ringan hingga menyebabkan shock yang berakibat fatal (Ningrum 2011). ditemukannya mikroorganisme patogen dan terjadi perubahan komposisi susu. garam mineral dan vitamin. ambing. Secara alami susu mengandung mikroorganisme kurang dari 5 x 103 mL-1 apabila diperah dengan benar dan berasal dari sapi yang sehat (Jay 1996). 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Susu merupakan produk pangan yang memiliki kandungan protein. mikrobiologis dan imunopatologis. Kasus mastitis subklinis yang terjadi di Indonesia tercatat sekitar 75%-83% (Sudarwanto dan Sudarnika 2008). Chlorella sp. sapi terlihat lemah dan nafsu makan hilang (Poeloengan 2009). Kerugian ekonomis yang diakibatkan mastitis adalah penurunan produksi susu. Pencemaran pada susu terjadi sejak proses pemerahan yang berasal dari berbagai sumber seperti kulit sapi. Secara klinis mastitis terdapat 2 macam yaitu mastitis subklinis dan mastitis klinis (Poeloengan et al. luka termis (bakar) ataupun luka karena mekanis. diperlukan antibakteri alami yang aman dan mudah didapat diantaranya adalah Chlorella sp. Akibat adanya residu antibiotik dibagi menjadi 3 kategori. peningkatan biaya perawatan dan pengobatan serta pengafkiran ternak lebih awal (Sudarwanto dan Sudarnika 2008). Mastitis subklinis adalah mastitis yang tidak menampakkan perubahan pada fisik ambing dan susu yang dihasilkan. lipida. Mastitis klinis adalah gejala abnormalitas pada ambing dan terdapat darah atau nanah pada susu yang dihasilkan. Dari aspek toksikologis bersifat toksik terhadap hati. Menurut Poeloengan et al. Menurut Poeloengan et al. Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus agalactiae. zat kimia. dan Spirulina sp. laktosa.80 yang menyebabkan bakteri akan cepat dan mudah tumbuh. ginjal dan pusat hemopoitika (pembentukan darah).

Chlorella sp. Mikroalga memiliki senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia diantaranya dapat dijadikan sebagai sumber antioksidan.2 laut. pembuatan ekstraksi Chlorella sp. antibakteri. dan Spirulina sp. METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLITVET). Escherichia coli). 2005). 2012). Selain itu beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan kimiawi mikroalga antara lain umur. sehingga dapat melakukan fotosintesis (Sopiah et al. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 Maret sampai dengan 25 Mei 2016. Selanjutnya dilakukan pengujian daya antibakteri ekstrak Etil Asetat Chlorella sp. dan Spirulina sp. diketahui memiliki pengaruh yang baik pada sistem kekebalan. diantaranya unsur hara dalam media kultur serta kualitas air seperti salinitas. 2015). intensitas cahaya. merupakan kelompok organisme protista autotrof. Spirulina sp. Pertumbuhan mikroalga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan. dan nutrien di perairannya (Setyaningsih et al. suhu. . senyawa bioaktif dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber obat alami atau suplemen yang berbentuk mikroalga (Kanibawa 2006). Staphylococcus Epidermidis. antiinflamasi dan antikanker (Firdiyani et al. karena Chlorella sp.5-11) sehingga dapat tumbuh monokultur (murni). dan Spirulina Sp.. pH. memiliki pigmen klorofil. terhadap bakteri susu segar yang terkontaminasi penyakit mastitis subklinis (Staphylococcus Aureus. Spirulina adalah sumber hayati yang memproduksi berbagai senyawa kimia. dan suspensi bakteri. Spirulina sp. adalah mikroalga berwarna hijau kebiruan yang mudah tumbuh dengan keasaman air alkalis (pH 8. Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan Departemen Biokimia FMIPA. maupun payau dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi dan karbondioksida sebagai sumber karbon. yaitu organisme yang dapat membuat makannya sendiri. peremajaan bakteri. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dimulai dari kultur selama 5-6 hari hingga panen Chlorella sp. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas senyawa antibakteri Chlorella sp. dengan metode difusi agar menggunakan kertas cakram. Selanjutnya dilakukan pengamatan zona hambat yang terbentuk. Chlorella sp. dan Spirulina sp. suhu dan intensitas cahaya yang optimum (Chlimawati dan Suminto 2008). termasuk salah satu kelompok alga hijau yang jumlahnya paling banyak mencapai 90% hidup di air tawar dan 10% hidup di air laut diantara alga hijau lainnya. selanjutnya dilakukan pembuatan media agar Mueller Hilton.

lalu dimaserasi dalam suhu ruang dengan seluruh bagian tabung erlenmayer ditutup oleh alumunium foil.. mikropipet. dikultivasi selama 5-6 hari dalam 1 700 L air. dan Spirulina sp. kering selanjutnya diblender hingga halus serbentuk serbuk dan disimpan. Proses pemanenan Spirulina sp. gelas piala. Prosedur Penyiapan Chlorella sp. Chlorella sp. es batu. erlenmayer. Agar Mueller-Hinton sebanyak 38 g dilarutkan dalam 1 L akuades. kemudian dipanaskan dan diaduk sampai larut. kemudian diaerasi selama 1-2 jam. mengendap. mistar. Biomassa Spirulina sp. Setelah Chlorella sp. Pembuatan Media Agar Mueller-Hilton. bakteri Staphylococcus aureus. Chlorella sp. menggunakan planktonet C61 hingga seluruh air habis. Pembuatan Ekstrak Chlorella sp. dan Spirulina sp. api bunsen. larutan salin Physiologis (SLP). Selanjutnya dimasukkan ke dalam rotari evaporator merek Eyela OSE-2100 pada suhu 40 oC. . menggunakan larutan NaOH dengan kosentrasi 50-100 ppm Chlorella sp. autoklaf. Media agar didinginkan kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri masing-masing sebanyak 20 mL dan dibiarkan memadat pada suhu kamar. Planktonet C61. oven. wrap. 3 Bahan Bahan yang digunakan untuk penelitian ini yaitu Chlorella sp. rotari evaporator merek Eyela OSE-2100. dan Spirulina sp. dan Spirulina sp. Alat Alat yang digunakan untuk penelitian ini yaitu bak penampung berukuran 1 ton. timbangan analitik. Etanol. blender. dikeringkan dalam oven dengan suhu <60 oC selama 24 jam. kertas cakram. NaOH. pelapis aluminium. tabung reaksi. Spirulina sp. dan Spirulina sp. dan tissue. wadah pendingin. Centrifuge merek CR 21G. sengkelit (ose). Staphylococcus epidermidis. Proses pemanenan Chlorella sp. inkubator. diputar dengan Centrifuge merek CR 21G pada kecepatan 3 000 rpm dengan suhu 20 oC selama 15 menit. etil asetat. Escherechia coli (koleksi laboratorium BBLITVET Bogor). Sampel disimpan dalam gelas dan diangin-anginkan pada suhu ruang dan dalam keadaan gelap hingga pelarut etil asetat menguap seluruhnya.. agar Mueller-Hilton. Aquades. Media agar disterilkan di dalam autoklaf selama 15 menit pada suhu 121 oC. cawan petri. kamera. spatula. ditimbang masing-masing 35 g dan ditambahkan pelarut etil asetat sebanyak 245 mL. ember. dan Spirulina sp. rak tabung. Dimetil sulfoxide (DMSO). Chlorella sp.

. kemudian diletakkan kertas cakram yang telah dijenuhkan dengan Chlorella sp. Data yang diperoleh diolah secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang berwarna bening (absolut atau parsial). Analisis Data Zona hambat yang terbentuk karena adanya aktivitas antibakteri Chlorella sp. Pengujian Daya Antibakteri Ekstrak Chlorella sp dan Spirulina sp dengan Metode Difusi Agar Menggunakan Kertas Cakram. Stok bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis) dan Gram negatif (Escherichia coli) dalam agar. 25%. diperoleh berdasarkan pengamatan secara langsung.4 Peremajaan Bakteri. kertas cakram yang telah dijenuhkan diletakan dalam cawan petri. Suspensi bakteri diratakan dengan media agar dengan cara digoyang- goyangkan secara perlahan dan dibiarkan selama 5 menit. Bakteri Gram positif dan Gram negatif yang telah diremajakan (umur 24 jam) diambil dengan sengkelit dan dimasukkan dalam tabung berisi 5 mL larutan SLP.25% dengan menggunakan pinset. dan Spirulina sp. yang telah diencerkan dengan Dimetil sulfoxide (DMSO) pada kosentrasi 50%. Selanjutnya dilakukan inkubasi pada suhu 37 oC selama 18-24 jam dan pengujian dilakukan tiga kali ulangan (triplo). Media yang telah dijenuhkan dengan bakteri. dan Spirulina sp. Sebanyak 1 mL suspensi dipindahkan di atas permukaan media nutrien agar dengan menggunakan mikropipet secara aseptik. kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 oC. dan 12. Pembuatan Suspensi Bakteri. dan Spirulina sp. Pengamatan Peubah yang diamati yaitu diameter yang terbentuk selama proses inkubasi selama ±24 jam merupakan zona yang terbentuk karena adanya aktivitas senyawa antibakteri Chlorella sp. nutrien diremajakan pada media agar. Sebanyak 20 mL nutrien agar steril dimasukkan ke dalam cawan petri dan dibiarkan memadat pada suhu kamar.

fungisidal. triterpenoid. Penghambatan sintesis protein dan asam nukleat disebabkan karena terbentuknya pasangan yang tidak tepat dan akhirnya mengganggu pembentukan protein. yang bersifat antibakteri adalah senyawa fenolik. flavonoid dan saponin. + + + + + u/n Keterangan : + : ada dalam ekstrak . D-glutamat dan lisin (Fardiaz 1992). Tabel 1 Uji skrining fitokimia ekstrak Chlorella sp. karena dinding sel bakteri mengandung peptidoglikan yang terdiri dari turunan gula yaitu asam N- asetilglukosamin. steroid. Perubahan permeabilitas disebabkan senyawa antibakteri menyerang membran sitoplasma dan mempengaruhi integritasnya. triterpenoid. Menurut Fardiaz (1989). memiliki seyawa steroid dan asam askorbat sedangkan Spirulina sp. flavonoid dan saponin. dan suatu peptida yang terdiri dari asam amino L-alanin. Fenolik membunuh bakteri dengan kerusakan permeabilitas dinding sel bakteri. penghambatan sintesis asam nukleat dan menghambat enzim-enzim metabolik. perubahan permeabilitas sel. u/n : tidak diketahui Sumber : Anam et al. Kemampuan antibakteri dalam menghambat pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh bebrapa faktor. Triterpenoid dan steroid membunuh bakteri dengan merusak membran sel melalui reaksi antara antibakteri dengan sisi aktif dari membran atau dengan melarutkan konstituen lipid dan meningkatkan . 2014 Antibakteri merupakan senyawa biologis atau kimia yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroba (Nuraini 2007). Kandungan yang terdapat pada Chlorella sp. sifat-sifat fisik dan kimia makanan serta jumlah senyawa di dalamnya (Frezier dan Westhoff 1988). memiliki senyawa fenolik. dengan pelarut etil asetat Ekstrak Senyawa Triterpenoid Steroid Flavonoid Saponin Asam Fenolik askorbat Chlorella sp. steroid. dan Spirulina sp. + Spirulina sp. Perusakan dinding sel dengan menghambat pembentukan peptidoglikan. dan Spirulina sp. seperti senyawa antibakteri sulfit. . 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas Antibakteri Senyawa antibakteri yang terkandung pada suatu bahan dapat ditentukan dengan cara skrining fitokimia dari perlakuan ekstraksi yang digunakan. 2014.: tidak ada dalam ekstrak. . fungistatik atau menghambat germinasi spora bakteri. N-asetilmuramat. Tabel 1 memperlihatkan hasil skrining fitokimia ekstraksi yang dilakukan menggunakan pelarut etil asetat. mikrosom dan lisosom (Sabir 2003). + . zat antibakteri dapat bersifat bakterisidal (membunuh bakteri). waktu penyimpanan. Menghambat enzim-enzim metabolik disebabkan karena komponen antibakteri menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme melalui inaktivasi enzim-enzim metaboliknya. penghambatan sintesis protein. nitrit dan asam benzoat (Yudha 2008). bakteristatik (menghambat pertumbuhan bakteri). . . Mekanisme kerja senyawa antibakteri melalui tahap perusakan dinding sel. suhu lingkungan. seperti: kosentrasi zat antibakteri. Chlorella sp. Anggraeni et al.

sebagai antibakteri pada bakteri gram positif Staphylococcus aureus.58±6.00±0.00 9.06 13.00 15. Zona hambat terbesar yang terbentuk pada pengujian ekstrak Chlorella sp. dan Spirulina sp. juga dapat menurunkan .25 ± 0.50±0. 24. lebih besar daripada Chlorella sp.46 E.07 S.50±0. Lebih tinggi daripada tanaman lain.710 8.50±7. merupakan mikroalga yang dapat memproduksi cyanocobalamine.00 16.00±0. aureus Spirulina sp. 16. triterpenoid. didapatkan nilai 24±0. dan Spirulina sp.25±0.06 9. tidak menyebabkan perubahan flavor. Tabel 2 Rataan zona hambat (mm) ekstrak Chlorella sp.00 15. Spirulina sp.17±2. dan Spirulina sp. pada Bakteri Patogen Susu Penambahan ekstrak Chlorella sp. Saponin bekerja merusak membran sitoplasma dengan cara hidrofobik saponin berikatan pada region hidrofobik protein membran sel dengan menggeser sebagian besar unsur lipid yang terikat sehingga sel bakteri menjadi pecah (Manik et al. dan bateri gram negaif Escherechia coli akan membentuk diameter zona hambat (Tabel 2).75±1.35 8. 1996).25±0.75±1. dan Spirulina sp. yang dilakukan pengujian pada bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 50%.35 10.00±0. Pengujian Ekstrak Chlorella sp.75±1. flavonoid dan saponin.71 14.71 16. 2014).6 permeabilitasnya. dan Spirulina sp. ekonomis. sehingga mengganggu pertahanan. tidak menyebabkan timbulnya galur resisten dan sebaiknya bersifat membunuh daripada hanya menghambat pertumbuhan bakteri (Ray 2001). Fikosianin dari spirulina sp.25%. asam ɤ- linolenat (Belay et al.91 S. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 50%.00 mm menggunakan ekstrak Spirulina sp.35 7.5±0.00 13. dengan konsentrasi yang berbeda Konsentrasi % Bakteri Sampel 50 25 12. terlihat dengan diameter zona hambat Spirulina sp.06 15. dan 12. epidermidis Spirulina sp.20 Chlorella sp. 12.25 Rataan Rataan zona hambat (mm) Chlorella sp.58±4. Staphylococcus epidermidis.71 13.25±0. pertumbuhan terhambat bahkan mati. 20.74 Tabel 2 menunjukkan semakin besar konsentrasi ekstrak Chlorella sp.00±0. citarasa dan aroma makanan. 21. Kandungan fikosianin pada spirulina sp.00±0. Kriteria ideal suatu antibateri antara lain harus memiliki sifat aman. memiliki daya antibakteri lebih baik karena mengandung senyawa fenolik.35 7.00±0. tidak mengalami penurunan aktivitas karena adanya komponen makanan.71 8.50±0. 25%.33 Chlorella sp. tokoferol. coli Spirulina sp. Flavonoid bekerja dengan membentuk kompleks dengan protein ektraseluler dan protein terlarut membentuk kompleks dengan dinding sel. pigmen antioksidan antara lain karoten.00±0. Spirulina sp. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi semakin tinggi senyawa antibakterinya.33±3.92±4. sedangkan Chlorella hanya mengandung steroid dengan menggunakan pelarut etil asetat. steroid..00 17. menghasilkan diameter zona hambat semakin tinggi. lebih baik apabila dibandingkan dengan Chlorella sp. Berdasarkan hasil penelitian Spirulina sp. 18.

Dinding selnya mengandung lipid yang rendah (1-4%) (Perczar dan Chan 2005). . dapat dilihat pada Gambar 1. 2007 Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. sehingga terbentuk senyawa allelopatik. 2005). Allelopatik merupakan kemampuan tumbuhan untuk mematikan tumbuhan atau tanaman yang di sekitarnya untuk kelangsungan hidupnya (Metting dan Pyne 1986). termasuk antibakteri alami. Kandungan Staphylococcus aureus dalam jumlah 105 cfu mL-1 dapat berpotensi menghasilkan toksin dan dalam jumlah 106 cfu mL-1 berpotensi menyebabkan toksik (SNI 2009). Staphylococcus aureus. Klasifikasi zona hambat bakteri disajikan pada Tabel 3. terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang memiliki struktur dinding sel yang tebal (15-80 nm) dan mempunyai peptidoglikan sebagai lapisan tunggal yang merupakan komponen utama 50% berat kering pada beberapa bakteri. Diameter zona hambat yang terbentuk pada bakteri Staphylococcus aureus dengan penambahan ekstrak Chlorella sp. (2007) dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri dari masing-masing ekstrak. 2009). Chlorella sp. dan Salmonella typhii (Mala et al. dan Spirulina sp. Hasil penelitian dibandingkan dengan klasfikasi zona hambat antibakteri menurut Greenwood et al. dan Spirulina sp. seperti pH dan konsentrasi nutrient. dalam konsentrasi tinggi (Medina-Jaritz et al. yang mempunyai kelebihan antara lain lebih aman penggunaannya. Antibakteri yang dihasilkan oleh Chlorella sp. karena kandungan lemak aktif dan asam lemak aktif yang terdapat pada Spirulina sp. Proteus vulgaris. Spirulina plantesis juga memiliki aktivitas antibakteri terhadap Klebsiella pneumonia. kultivasi yang relatif mudah. Terjadinya pembentukan autoinhibitor karena adanya perubahan kondisi lingkungan (kultur). 2011). Tabel 3 Klasifikasi zona hambat antibakteri Diameter zona hambat (mm) Aktivitas antibakteri ≤ 10 Resisten 11-15 Lemah 16-19 Sedang ≥ 20 Sensitif Sumber: Greenwood et al. Antibakteri yang dihasilkan spirulina mengarah ke gangguan membran sel bakteri. Staphylococcus aureus dalam susu segar dan produk pangan dapat menyebabkan toxic schock syndrome akibat keracunan pangan (Dewi 2013). Menurut beberapa penelitian. 7 kemampuan hidup EACC (Ehrlich Arcites Carcinoma Cell) (Abd El-Baky 2003). tidak membutuhkan tempat yang luas dan tidak tergantung musim. menghasilkan algisidal allelopatik yang mempunyai fungsi sebagai autoinhibitor (Setyaningsih et al. Escherichia coli.

bersifat lemah terhadap Chlorella sp. ≥29 B-Lactam Ampicillin-Sulbactam ≤11 12-14 ≥15 Cephalosporin Cefriaxone (viridans group) ≤24 25-26 ≥27 Cefepime (viridans group) ≤21 22-23 ≥24 Ceftizoxime ≤14 15-19 ≥20 Carbapenem Meropenem ≤13 14-15 ≥16 Aminoglycoside Amikacin ≤14 15-16 ≥17 Netilmycin ≤12 13-14 ≥15 Fluoroquinolones Ciprofloxacin ≤15 16-20 ≥21 Ofloxacin ≤12 13-15 ≥16 Fosfomycin ≤13 14-15 ≥16 Macrolides Erythromycin ≤15 18-20 ≥21 Sumber: Wikler et al. yaitu 24. dengan konsentrasi 50% memiliki kemampuan sensitivitas yang sama dengan antibiotik Ampicillin- .. dan pada konsentrasi 12. dan Spirulina sp. didapatkan Zona hambat terbesar yang dilakukan terhadap bakteri Staphylococcus aureus terdapat pada konsentrasi 50% dengan sampel Spirulina sp. dan Spirulina sp. Zona hambat yang terbentuk pada bakteri Staphylococcus aureus apabila dibandingkan dengan klasifikasi Greenwood et al.00 mm. Agen mikroba Diameter Zona Hambat (mm) Resisten Intermediet Sensitif Penicillins Ampicillin ≤28 . konsentrasi 25% bersifat sedang terhadap Spirulina sp. Pada konsentrasi 25% Spirulina sp. Hasil pengamatan dibandingkan dengan beberapa antibakteri sehingga penggunaan antibiotik dapat digantikan oleh Chlorella sp.8 Gambar 1 Zona hambat Staphylococcus aureus Hasil pengujian ekstrak Chlorella sp. dan Spirulina sp. dan Spirulina sp. 2006 Berdasarkan Tabel 4 pengujian Spirulina sp. mengalami penurunan yang tajam apabila dibandingkan dengan sampel Chlorella sp.. (2007) pada konsentrasi 50% merupakan aktivitas antibakteri yang sensitif pada sampel Chlorella sp.25% Chlorella sp. Penggunaan antibiotik memiliki tingkat sensitivitas dan resistensi yang berbeda. bersifat resisten. Tabel 4 Sensitivitas beberapa antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus sp.00±0. Kemampuan antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus aureus terhadap beberapa antibiotik dapat dilihat pada Tabel 4.

Ceftizoxime golongan Cephalosporin. memiliki kemampuan sensitivitas yang sama dengan antibiotik Ampicillin-Sulbactam golongan B-Lactam.25% dengan sampel Chlorella sp. Dampak yang muncul adalah menurunnya berat badan. dan Ciprofloxacin golongan Fluoroquinolones. Erythromycin golongan Macrolides. Escherichia coli dapat berubah menjadi patogen jika perkembangan kuman di dalam tubuh melebihi batas normal. Escherichia coli termasuk bakteri berbahaya karena dapat menyebabkan diare. 2004). Cefepime (viridans group) dan Ceftizoxime golongan Cephalosporin. Amikacin dan Netilmycin golongan Aminoglycoside. (2007) pada konsentrasi 50% . Ofloxacin golongan Fluoroquinolones. coli dapat terkontaminasi melalui enterotoksin dan invasi mukosa (Zein et al.06 mm dan zona hambat terkecil pada konsentrasi 12.00±0. pertumbuhan terhambat. dapat dilihat pada Gambar 2. Chlorella sp. Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. dan Spirulina sp. Bakteri gram negatif mempunyai lapisan membran luar yang menyebabkan dinding selnya mengandung lipid (11- 22%). Chlorella sp.75±1. pada bakteri Echerichia coli didapatkan zona hambat terbesar pada konsentrasi 50% dengan sampel Spirulina sp.00 mm Zona hambat yang terbentuk pada bakteri Escherichia coli apabila dibandingkan dengan yang telah diklasifikasikan Greenwood et al. Lapisan membran luar tidak hanya terdiri dari fosfolipida saja tetapi mengandung lipida lainnya. dan Spirulina sp. yaitu 16. Diameter zona hambat yang terbentuk pada bakteri Escherichia coli dengan penambahan ekstrak Chlorella sp. bersifat resistensi yang sama dengan antibiotik Ampicillin golongan Penicillins. sedangkan Spirulina sp. E. Meropenem golongan Carbapenem. bersifat resistensi yang sama dengan antibiotik Ampicillin golongan Penicillins. dan jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian (Besung 2010). Cefriaxone (viridans group) dan Cefepime (viridans group) golongan Cephalosporin. dan Ciprofloxacin golongan Fluoroquinolones. terhadap Bakteri Escherichia coli Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif yang memiliki struktur dinding sel yang tipis (10-15 nm) dan berlapis 3. Erythromycin golongan Macrolides. polisakarida dan protein (Yudha 2008). Salah satu syarat E. coli dalam SNI 01-6366-2000 harus negatif. Amikacin dan Netilmycin golongan Aminoglycoside. Ofloxacin golongan Fluoroquinolones. Meropenem golongan Carbapenem. 9 Sulbactam golongan B-Lactam. Cefriaxone (viridans group) golongan Cephalosporin. Gambar 2 Zona hambat Escherichia coli Hasil pengujian ekstrak Chlorella sp. yaitu 7. dan Spirulina sp.

Cefoperazone. Cefoperazone. memiliki kemampuan intermediet yang sama dengan antibiotik Ampicillin- Sulbactam golongan B-Lactam dan Spirulina sp. Chlorella sp. dan Spirulina sp. Ciprofloxacin dan Levofloxacin golongan Fluoroquinolones.10 merupakan aktivitas antibakteri yang bersifat sedang pada Spirulina sp. memiliki kemampuan sensitivitas yang sama dengan antibiotik Ampicillin-Sulbactam golongan B-Lactam. Kemampuan antibiotik terhadap bakteri Escherichia coli terhadap beberapa antibiotik dapat dilihat pada Tabel 5. Chloramphenicol golongan Phenicols. Chlorella sp. Nitrofuratoin golongan Nitrofurans. dan Spirulina sp. Hasil pengamatan dibandingkan dengan beberapa antibakteri sehingga penggunaan antibiotik dapat digantikan oleh Chlorella sp. bersifat lemah. Chlorella sp.25% Chlorella sp. Spirulina sp. Amoxylin-Clavulanic Acid dan Piperazilin-Tazobactam golongan B Lactamam. memiliki kemampuan intermediet yang sama dengan antibiotik Ampicillin dan Amoxycilin golongan Penicilins. . bersifat resisten dan pada konsentrasi 12. bersifat resisten. bersifat resistensi yang sama dengan antibiotik Ampicillin dan Amoxycilin golongan Penicilins. Cefepime dan Cefditoren golongan Cephalosporin.. Cefepime dan Cefditoren golongan Cephalosporin. Ciprofloxacin dan Levofloxacin golongan Fluoroquinolone.. Penggunaan antibiotik memiliki tingkat sensitivitas dan resistensi yang berbeda. konsentrasi 25%. Tabel 5 Sensitivitas beberapa antibiotik terhadap bakteri Esccherichia coli Agen mikroba Diameter Zona Hambat (mm) Resisten Intermediet Sensitif Penicilins Ampicilin ≤13 14-16 ≥17 Amoxycilin ≤14 15-16 ≥17 B lactamam Amoxylin-Clavulanic Acid ≤13 14-17 ≥18 Ampicilin Sulbactam ≤11 12-14 ≥15 Piperazilin-Tazobactam ≤17 18-20 ≥21 Cephalosporin Cefoperazone ≤15 16-20 ≥21 Cefepime ≤14 15-17 ≥18 Cefditoren ≤15 16-18 ≥19 Carbapenem Imipenem ≤13 14-15 ≥16 Meropenem ≤13 14-15 ≥16 Fluoroquinolones Ciprofloxacin ≤15 16-20 ≥21 Levofloxacin ≤13 14-16 ≥17 Foffomycin ≤12 13-15 ≥16 Nitrofurantoin ≤14 15-16 ≥17 Chloramphenicol ≤12 13-17 ≥18 Sumber: Wikler et al. Amoxylin-Clavulanic Acid dan Piperazilin-Tazobactam golongan B Lactamam. dengan konsentrasi 50%. Nitrofuratoin golongan Nitrofurans. Imipenem dan Meropenem golongan Carbapenem. Spirulina sp. Imipenem dan Meropenem golongan Carbapenem. Foffomycin golongan Foffomycins. dan Spirulina sp. 2006 Berdasarkan Tabel 5 pengujian Chlorella sp. lemah pada Chlorella sp.

dan Spirulina sp. Infeksi yang disebabkan S. dan Spirulina sp. Gambar 3 Zona hambat Staphylococcus epidermidis Hasil pengujian ekstrak Chlorella sp. Chlorella sp. dan konsentrasi 12. tetapi berbeda nyata pada masing-masing konsentrasi.05±0. bersifat lemah pada Chlorella sp. Ceftizoxime golongan Chephalosporin. didapatkan nilai 18. sedangkan pada sampel Chlorella sp. dan Spirulina sp. Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang bersifat oportunistik (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah) (Dewi 2013). Amikacin dan Netilmycin golongan . (2007) pada konsentrasi 50% merupakan aktivitas antibakteri yang bersifat sensitif pada Spirulina sp. Zona hambat yang terbentuk pada bakteri Staphylococcus epidermidis apabila dibandingkan dengan yang telah diklasifikasikan Greenwood et al. memiliki kemampuan sensitivitas yang sama dengan antibiotik Ampicillin-Sulbactam golongan B-Lactam.25% bersifat resisten pada sampel Chlorella sp.71 mm.75±1. epdermidis menyebabkan subakut endokarditis dan menyebabkan infeksi hati dan kardiovaskuler. terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang menyebabkan pernanahan dan lebih bersifat parasit daripada patogen. pada bakteri Staphylococcus epidermidis dengan kosentrasi 50% dan 25% tidak terdapat interaksi antara sampel dan konsentrasi. Spirulina sp. membran perifer vaskuler. dapat dilihat pada Gambar 3... Berdasarkan Tabel 4 pengujian dengan konsentrasi 50%. Kemampuan antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis terhadap beberapa antibiotik dapat dilihat pada Tabel 4. Ofloxacin golongan Fluoroquinolones dan Fosfomycin golongan Fosfomycins. bersifat sedang pada Chlorella sp. pembuluh intervena dan saluran kemih (Nikham 2006). 11 Antibakteri Ekstrak Chlorella sp. yaitu 20. dan Spirulina sp. memiliki kemampuan sensitivitas yang sama dengan antibiotik Ampicillin-Sulbactam golongan B- Lactam. Hasil pengamatan dibandingkan dengan beberapa antibakteri sehingga penggunaan antibiotik dapat digantikan oleh Chlorella sp. Zona hambat terbesar yang dilakukan terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis terdapat pada konsentrasi 50% dengan sampel Spirulina sp. Meropenem golongan Carbapenem.06 mm. konsentrasi 25% bersifat sedang pada Spirulina sp. Penggunaan antibiotik memiliki tingkat sensitivitas dan resistensi yang berbeda. Amikacin dan Netilmycin golongan Aminoglycoside. Meropenem golongan Carbapenem. Diameter zona hambat yang terbentuk pada bakteri Staphylococcus epidermidis dengan penambahan ekstrak Chlorella sp. dan Spirulina sp..

Pengaruh pelarut yang berbeda pada ekstraksi Spirulina platensis serbu sebagai antioksidan dengan metode soxhletasi. J Alchemy: 3(2): 173-188. dan Chlorella sp. Spirulina sp. 2003. Agustini TW. Hanapi A. Spirulina sp. 2009. Chlorella sp. 2014. Ofloxacin golongan Fluoroquinolones dan Fosfomycin golongan Fosfomycins. dan Spirulina sp. memiliki kemampuan intermediet yang sama dengan antibiotik Ciprofloxacin golongan Fluoroquinolones. Romadhon. Fasya AG. Abidin M. 3(4): 314-324. . petroleum eter. Anam C. dapat digunakan untuk pencegahan mastitis subklinis dan Spirulina sp. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Semakin tinggi konsentrasi semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk. Spirulina sp. Over production of phycocyanin pigment in blue green alga Spirulina sp. SNI. Saran Penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan Chlorella sp. dan spirulina sp. memiliki resistensi yang sama dengan antibiotik Ampicillin golongan Penicillins. memiliki zona hambat yang lebih besar daripada Chlorella sp. kloroform. DAFTAR PUSTAKA [BSN] Badan Standardisasi Nasional. memiliki kemampuan intermediet yang sama dengan antibiotik Ceftizoxime golongan Cephalosporin. SNI 7388:2009. dan n. Antibakteri Chlorella sp. bersifat sensitif terhadap Staphylococcus aureus dan bersifat intermediet terhadap Staphylococcus epidermidis. Uji aktivitas antioksidan fraksi etil asetat. memiliki daya antibakteri yang bisa digunakan untuk pencegahan mastitis subklinis dengan cara teat dipping. Spirulina sp.12 Aminoglycoside. Anggraeni ON. Cefriaxone (viridans group) dan Cefepime (viridans group) golongan Cephalosporin..heksana hasil hidrolisis ekstrak metanol mikroalga Chlorella sp. Chlorella sp. J Med Sci. Erythromycin golongan Macrolides. sebagai antibakteri pada bakteri patogen perlu dilakukan secara invivo pada peternakan sapi perah yang terkena mastitis subklinis dan dilakukan pengujian invivo pada susu segar. bersifat intermediet terhadap bakteri escherichia coli. Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam Pangan. Abd El-Baky HH. dan Erythromycin golongan Macrolides. dapat digunakan untuk pengobatan mastitis subklinis. dan Chlorella sp. dan Spirulina sp. Spirulina sp. Ciprofloxacin golongan Fluoroquinolones. Chlorella sp bersifat resisten dan spirulina sp. dengan konsentrasi 50% dapat digunakan untuk pengobatan mastitis subklinis. and it’s inhibitory effect on growth of ehrlich ascites carcinoma cells. 2014. J Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan 3(4): 106-112.

2006. Ltd. 2007. 9(3): 1951-1955. Keracunan Makanan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Chapman & Hall Book.) iradiasi. 13 Arisman. Modern Food Microbiology. Fitrianingrum I. 1996. Isolasi. Umadevi G. 2014. Davey P. Ramirez RO. Khotimah S. Ganggang penggempur aneka penyakit [e-book]. Dept. Penggunaan media kultur yang berbeda terhadap pertumbuhan Chlorella sp. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. J Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 18(1): 28-37. Biologically active compounds from microalgal. Majalah Ilmiah Peternakan 12(3): 1-15. Kanibawa IN. Sarojini M. 2011. Pengujian residu antibiotika dalam susu segar dari beberapa peternakan sapi perah di Provinsi Jawa Barat menggunakan metode Bioassay [skripsi]. Wilcox M. 2009. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Westhoff DC. Agustini TW. Spirulina (Arthospira): Potential as an animal feed supplement. 8: 386-394. Jay MJ. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Screening for antimicrobial activity of crude extracts of Spirulina platensis. Medina-Jaritz NB. Jakarta (ID): Buku Kedokteran EGC. Depok (ID): AgroMedia Pustaka. [di unduh pada 2016 Maret 09]. Ed ke-5. Kepekaan Staphylococcus aureus. Suminto. Fardiaz S. 2009. Antimicrobial Chemoterapy Ed ke-5. . 1-18. Chilmawati D. Food Microbiology. Aplikasi Isotop dan Radiasi 153-159. Butterworth and Co Publish. Kat T. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Pengaruh pemberian ekstrak kunyit pada anak babi yang menderita Colibacillosis. Antimicrobial activiy of aqueous and methanolic extracts from Arthrospira maxima. J Cell and Tissue Res. 469- 471. 1988.. 1992. Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa terhadap ekstrak daun legundi (vitex trifolia linn. Petunjuk Laboratorium Analisis Mikrobiologi Pangan. 1986. Ota Y. Finch R. J Mahasiswa PSPD FK. J Saintek Perikanan 4(1): 42-49. Besung INK. Greenwood D. 1989. Ma’ruf WF. Risalah Seminar Ilmiah. Co. Ekstraksi senyawa bioaktif sebagai antioksidan alami Spirulina platensis segar dengan pelarut yang berbeda. 2006. Mala R. Yogyakarta. Saravanbabu S. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. A Mèndez-Vilas Ed. BC. Fardiaz S. de Leon SL. Ekstraksi komponen antibakteri dan antioksidan dari biji teratai (Nymphaea pubescens Willd) [skripsi]. Dewi AK. 8(4): 303-311. 2007. 2013.Great Clarendon street (UK): Oxford University Pr. Mikrobiologi Pangan I. Firdiyani F. 1267-1271. Frazier WC. Ningrum SG. Manik WG. Nikham. 2015. identifikasi dan uji sensitivitas staphylococcus aureus terhadap amoxicillin dari sampel susu kambing peranakan ettawa (pe) penderita mastitis di wilayah Girimulyo. J Apl Phycol. Peres-Solis DR. Ed ke-4. Nuraini AD. 1996. Pyne JW. 2008. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. New Delhi (IN): Mc Graw Hill Publ. New York (NY): International Thomson Publishing. 2009. Kulonprogo. Metting B. 2011. Uji aktivitas antibakteri ekstrak kasar biji buah langsat (Lansium domesticum Corr.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. J Sain Veteriner 31(2): 138-150. Belay A.

Sopiah N. 31(2): 107-113. Hindler JF. Dental J. Poeloengan M. Sindi S. Desniar.14 Pelczar MJ. 1986. 2008. Noor SM. Microalga Culture Refine from The CRC Critical Reviews in Biotechnology. minyak atsiri dan ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri yang diisolasi dari sapi mastitis subklinis. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor Wikler MA. Zein U.) terhadap penambatan karbondioksida [disertasi]. Rombaut R. New York (NY): Crc Pr. Poeloengan M. Kosentrasi hambatan minimum ekstrak Chlorella sp. Ed ke-2. 2012. Diare akut disebabkan bakteri [tesis]. 2006. Mulyanto A. Medan (ID): Universitas Sumatra Utara. Komala I. 2005. Ray B. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 250-255. Yudha AP. 2004. Aktivitas air perasan. Pengaruh minyak atsiri serai (andropogon citratus DC. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 776-782. Sudarwanto M. Ginting J. Performance standards for antimicrobial susceptibility testing. Andriani. Chan ECS. Sabir A. Eliopoulos GM. Tenover FC. 2001. Sudarnika E. Sheehan DJ. Setyaningsih I. Med Petern. 2007. 2009. 2003. Pengaruh kelimpahan sel mikroalgae air tawar (Chlorella sp. Andriani.) terhadap bakteri yang diisolasi dari sapi mastitis subklinis. . Inc. 2005. Uji daya antibakteri ekstrak etanol kulit batang bungur (Largerstoremia speciota Pers) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro. sixteenth informational supplement. Craig WA. Komala I. Noor SM. Hubungan antara ph susu dengan jumlah sel somatik sebagai parameter mastitis subklinik. Sagala KH. Low DE. 36: 81-87. Sriwardani T. terhadap bakteri dan kapang. Dairy Microbiology and Starter Cultures. Pemanfaatan flavonoid di bidang kedokteran gigi. Buletin Teknologi Hasil Perikanan 8(1): 25-34. Hecht DW. Berita Biologi 9(6): 715-719. 26(3): 1-183. 2008. Fundamnental Food Microbiology. Hasnita M. pada umur panen yang berbeda [skripsi]. 2006. Banten (ID): Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi. CLSI. Poeloengan M. Dudley MN. Belgium (BE): Gent University. Washington DC(NY): CRC Pr. Rianti SRP. Senyawa antibakteri dari mikroalga Dunaliella sp. Laboratory of Food Technology and Engineering. Cockerill FR.

sebagai staff di kegaitan Carrier Development Training tahun 2014. Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar di SDN Kepatihan 09 Jember pada tahun 2006. sebagai ketua Dormitory English Club pada tahun 2012-2013. dan Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia sebagai Majelis Pekerja Nasional pada tahun 2015-2017. Journalistic Fair tahun 2014. Penulis pada semester 2 mendapatkan beasiswa dari Perhimpunan Orang Tua Mahasiswa IPB sampai semester 4 dan mendapatkan beasiswa Bidik Misi pada semester 5 sampai dengan semester 8. Beberapa kehormatan menjadi Duta Promosi IPB tahun 2015. Supii dan Sri Murwani. Berbagai kegiatan acara seperti Leadership and Entrepreneurship School IPB sebagai direktur pada tahun 2014. IPB Business Festival tahun 2014. Jawa Timur pada Tanggal 11 Januari 1994. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Tahun 2012 Penulis lolos seleksi masuk Pergutuan Tinggi di IPB melalui jalur Ujian Talenta Masuk IPB (UTM IPB) di Fakultas Peternakan. dan merupakan anak tunggal dari pasangan (alm) Moch. Penulis aktif pada berbagai organisasi. Fapet Ambassador tahun 2015. 15 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama lengkap Teguh Dwi Wijaya yang dilahirkan di Jember. dan telah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMAN 5 Jember pada tahun 2012. sebagai Juri fotografi pada acara Ayam Pelung Nasional dan FMAC pada tahun 2015 dan pada tahun 2016 menjadi juri fotografi Cowboy Show Time dan Biochemistry Champion League. menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama di SMPN 06 Jember pada tahun 2009. pada Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa IPB (BEM KM IPB) sebagai staff kementerian PSDM pada tahun 2014. delegasi Fakultas Peternakan pada Internasional student seminar di Malaysia tahun 2015. .