You are on page 1of 37

Bab 6

PELAKSANAAN EVALUASI PRAKTEK KERJA
INDUSTRI

Hadi Suryono, ST., MPPM.

Yulianto, S.Pd., M.Kes.

Pendahuluan

P
elaksanaan evaluasi praktek kerja industri dilaksanakan setelah dilakukan kegiatan
pengawasan/ penilaian sanitasi industri dan K3. Untuk melakukan evaluasi, Saudara
harus meninjau kembali metoda penilaian untuk memperoleh hasil pengukuran.
Untuk melakukan evaluasi terhadap hasil penilaian yang diperoleh dengan cara pengukuran
melalui instrument (observasi, wawancara), evaluasi dilakukan dengan menghitung skor
penilaian sesuai metoda yang tertera dalam instrument penilaian. Apabila hasil data yang
diperoleh dilakukan dengan pengukuran menggunakan alat, maka Saudara harus mengolah
data sesuai dengan prosedur yang ditentukan, kemudian hasilnya dibandingkan dengan
stanar baku mutu.

Hasil akhir dari evaluasi adalah:

1. Kesimpulan kondisi hasil pemeriksaan baik yang dilakukan melalui inspeksi dengan
instrument, atau melalui pengukuran menggunakan alat ukur terkait. Isi kesimpulan
menggambarkan kondisi lingkungan industri yang diukur baik secara fisik, kimia,
ataupun bakteriologis untuk parameter polutan pencemar yang ingin diperiksa.
2. Untuk hasil penilaian secara manajerial, kesimpulan berisi kriteria-kriteria yang dibuat
berdasarkan pedoman atau peraturan perundangan yang berlaku.
3. Membuat rekomendasi bagi perusahaan/industri tempat kerja praktek untuk
melakukan perbaikan-perbaikan terkait hasil temuan selama praktek kerja industri.

 Praktek Kerja Industri 1

Topik 1
Evaluasi Hasil Pengawasan Sanitasi Industri
Evaluasi hasil pengawasan Sanitasi Industri bertujuan untuk mengukur tingkat bahaya
risiko yang diakibatkan kegiatan sanitasi di industri tempat praktek. Tingkat bahaya risiko
diukur dengan membandingkan hasl pengukuran dengan standar baku mutu faktor
lingkungan yang diukur. Jika didapatkan hasil yang melebihi standar maka diperlukan
tindakan pengendalian lebih ketat terkait proses, polutan pencemar, atau menajemen
pengelolaan terkait isu yang diperoleh selama pengukuran. Kegiatan evaluasi terhadap
sanitasi industri dibagi menjadi 2 (dua) kegiatan, yaitu:
1. Pengolahan hasil pengawasan
Kegiatan pengawasan yang berbentuk penilaian dengan instrument dilakukan skoring
berdasarkan metode skoring yang ditentukan.
Metode skoring bisa dilakukan dengan memberi bobot dan nilai terhadap item-item
penilaian, kemudian membuat kriteria penilaian berdasarkan jumlah skor penilaian yang
diperoleh dengan mengalikan bobot dan nilai yang ditentukan. Kriteria penilaian bisa
terdiri dari tiga kategori, misalnya baik, sedang dan kurang.
Metode skoring yang lain dan lebih sederhana adalah dengan membuat kriteria
penilaian berdasarkan persentase nilai yang diperoleh dari menghitung jumlah item yang
memenuhi syarat dibagi dengan total item penilaian dikalikan 100 %. Kategori penilaian
bisa dibuat tiga jenis, yaitu baik, sedang, dan kurang. Tidak ada teori yang menentukan
jumlah persentase untuk kategori baik, sedang, atau kurang, namun dapat menggunakan
pendekatan bahwa persentase untuk item penilaian yang langsung berhubungan dengan
bahaya terhadap kesehatan sampai meninggalnya seseorang harus dibuat lebih ketat.

2. Membandingkan dengan standar baku mutu atau NAB.
Sistem ini digunakan untuk pengukuran polutan pencemar baik yang diukur terhadap
faktor lingkungan fisik, kimia, bakteriologis, maupun radiologis.
Sebagaimana telah disampaikan pada bab sebelumnya penggunaan bahwa standar baku
mutu yang digunakan harus dilakukan secara hierarkis, yaitu bila ada peraturan regional

 Praktek Kerja Industri 2

misalnya perda setempat/ misalnya Peraturan Gubernur harus digunakan terlebih
dahulu. Jika tidak ada peraturan daerah yang bisa digunakan untuk parameter pencemar
yang diukur baru menggunakan peraturan nasional, misalnya Permenkes, Kepmenkes,
Permenaker, Permen LH, dan sebagainya. Apabilan masih tidak ditemukan peraturan
tingkat nasional baru bisa menggunakan peraturan yang berlaku secara internasional.
Beberapa Peraturan tingkat nasional yang bisa digunakan sebagai Standar Baku Mutu
untuk aspek Sanitasi Industri, misalnya:
a. Permenkes No. 70 Tahun 2016 Standar Tentang Persyaratan Lingkungan Kerja
Industri.
b. Permen LH No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah
c. Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracum
d. Dll.

Di bagian akhir bab eveluasi ini Saudara harus menyusun tindak lanjut yang akan
dijadikan pedoman perusahaan dalam memperbaiki kekurangan/ kelemahan yang
menjadi temuan selama Saudara melakukan praktek kerja industri. Hal tersebut
merupakan masukan bagi perusahaan yang merupakan manfaat yang diperoleh atas
pelaksanaan praktek kerja industri yang Saudara lakukan.
Tindak lanjut yang dibuat berupa rekomendasi yang tertuang dalam laporan hasil
kegiatan praktek kerja industri. Sudah barang tentu perusahaan akan melakukan
rekomendasi yang Saudara berikan sesuai dengan sumber daya yang ada di perusahaan
tersebut. Namun setidaknya Saudara telah melakukan tindakan pencegahan atau
pengendalian terhadap kecelakaan kerja baik yang diakibatkan oleh kondisi sanitasi yang
tidak memenuhi syarat maupun akibat kondisi lingkungan kerja yang tidak mendukung.
Rekomendasi yang dibuat disusun secara sequence atau berurutan sebagaimana
rencana sasaran pengawasan sanitasi industri dan K3 yang tersusun dalam Bab 2, yaitu
sebagai berikut:
A. Sasaran pengawasan Sanitasi Industri
1) Penyediaan air bersih

 Praktek Kerja Industri 3

JASA TIRTA Alamat : Jl. 2) Pengolahan limbah cair 3) Penyehatan tanah adan 4) pengelolaan sampah 5) Penyehatan makanan & minuman 6) Penyehatan udara 7) Pengendalian vector 8) House keeping 9) Jamban dan peturasan 10) Fasilitas cuci tangan B. 3 sebagai berikut: LEMBAR CHECKLIST PENGAWASAN PENYEDIAAN AIR BERSIH Nama Perusahaan : PT. perhatikan contoh Latihan berikut! Lakukan evaluasi terhadap penyediaan air bersih di tempat praktek kerja industri sehingga diperoleh hasil akhir evaluasi tentang variabel tersebut! Langkah 1 : lakukan pengisian formulir pengawasan penyediaan air bersih dengan teknik pengisian yang telah ditentukan sebagaimana tercantum di Bab. Rencana Sasaran penerapan K3 1) Identifikasi risiko/bahaya terjadinya kecelakaan kerja 2) Identifikasi faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja 3) Penerapan manajemen risiko di industri tempat kerja praktek Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas. ciliwung Kabupaten/Kota : Surabaya Provinsi : Jawa Timur Jenis Peruntukan Air : Hygiene-sanitasi  Praktek Kerja Industri 4 .

Warna V MS c. Kesadahan V MS e. Bau V MS 2. Mangan V MS f.Tanggal Pengawasan : 22 Januari 208 ADA / DIPERIKSA NO PARAMETER TIDAK KET ADA TIDAK BERLAKU 1. Zat padat terlarut (TDS) V d. Rasa V MS f. Kimia wajib a. Diterjen V MS j. sebagai N V MS h. E. Kekeruhan V MS b. Biologi a. Sianida V MS i. Fluorida V MS d. Nitrat. Total coliform V MS b. Fisik a. coli V MS 3. Nitrit. Besi V MS c. Pestisida total V MS Kimia tambahan  Praktek Kerja Industri 5 . sebagai N V MS g. pH V MS b. Suhu V MS e.

....... 6......... Tidak ada koneksi silang dengan pipa air limbah di bawah permukaan tanah (jika air V MS bersumber dari sarana air perpipaan) 5...... Benzene V MS j... a.............. Sulfat V MS h... Air raksa V MS b.. Tidak menjadi tempat berkembangbiaknya V MS vektor dan binatang pembawa penyakit 7........... Selenium V MS f. Sumber air tanah non perpipaan..... sarananya terlindung dari sumber kontaminasi baik V MS limbah domestik maupun industri..... Zat organik (KMnO4) V MS 4....... maka jenis dan dosis bahan kimia V MS harus tepat 8 Jika menggunakan kontainer sebagai penampung air harus dibersihkan secara V berkala minimum 1 kali dalam seminggu............. .... Arsen V MS c... Seng V MS g...... Penanggung Jawab Petugas Pengawasan .  Praktek Kerja Industri 6 ... Kadmium V MS d. Timbal V TMS i..... Jika melakukan pengolahan air secara kimia. Kromium (valensi 6) V MS e.

 Praktek Kerja Industri 7 . c. yaitu: 1. tidak terkontaminasi oleh polutan pencemar. Untuk hasil penilaian yang dilakukan berdasarkan check list di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut: a. untuk materi penilaian yang dilakukan dengan wawancara atau observasi. Rangkuman Pada prinsipnya pelaksanaan evaluasi praktek kerja industri dilakukan melalui 2 (dua) metode. Peraturan tingkat nasional dan atau tingkat internasional. Beberapa parameter tidak dilakukan pemeriksaan karena parameter tersebut tidak dilaksanakan dalam system penyediaan air bersih di industri lokasi praktek. Sarana sumber air bersih berasal dari PDAM sehingga tidak dilakukan pemeriksaan perpipaan silang dengan air limbah. Penilaian dengan metode pengukuran dilakukan dengan membandingkan terhadap NAB atau Standar Baku Mutu menggunakan NAB atau Standar Baku Mutu baik yang dikeluarkan oleh Pemda/regional. d. atau membandingkan dengan teori jika penilaian dilakukan secara observasi/pengamatan kondisi obyek yang diamati.Langkah 2 : Buat kesimpulan hasil evaluasi dengan membandingkan standar baku mutu untuk parameter yang diukur. 2. Sumber air non perpipaan di lokasi kerja praktek berasal dari sumur gali. Penilaian menggunakan instrument inspeksi sanitasi dilakukan melalui metode skoring. Tes Uraian Susunlah secara singkat langkah-langkah evaluasi pengawasan terhadap hasil penilaian Sanitasi pada kegitan praktek kerja Industri ! Kunci Jawaban Langkah 1 : Melakukan pengisian formulir pengawasan penyediaan air bersih dengan teknik pengisian yang telah ditetapkan. kimia maupun bakteriologis sudah memenuhi persyaratan standar baku mutu b. Hampir semua variable yang diperiksa secara fisik.

KURANG. apabila : 1. Menilai sikap dan tindakan karyawan di industri D. Penilaian Ketuntasan Terhadap Peserta Didik. misalnya system pengelolaan sanitasi industri?  Praktek Kerja Industri 8 . yaitu: A. B.Langkah 2 : Membuat kesimpulan hasil evaluasi dengan membandingkan standar baku mutu untuk parameter yang diukur. Penilaian yang diperoleh dari hasil evaluasi topik 1 ini dikatakan tuntas. Menilai dengan kuesioner dan membandingkan dengan standar baku mutu E. misalnya Kriteria Baik. atau membandingkan dengan teori jika penilaian dilakukan secara observasi/ pengamatan kondisi obyek yang diamati. Telah membuat kesimpulan hasil evaluasi berdasarkan teori-teori terkait atau dengan membandingkan dengan standar baku mutu terhadap parameter yang diukur. Penilaian Ketuntasan Terhadap Industri Tempat Praktek. Bagaimanakah cara melakukan evaluasi terhadap aspek manajerial. Tes Pilihan Ganda Pilihlah satu jawaban yang paling benar atas pertanyaan di bawah ini! 1. Penilaian Ketuntasan A. Metode evaluasi penilaian sanitasi industri dilakukan dengan 2 langkah. Melakukan penilaian dan membuat kesimpulan. Melakukan perhitungan dan memberikan rekomendasi C. Saudara telah menyelesaikan penilaian terhadap semua aspek penilaian 2. hasilnya langsung dibandingkan dengan standar baku mutu. apabila skor penilaian = >75%. bila skor penilaian = 60-74%. Sedangkan untuk penilaian parameter yang diperoleh dengan cara mengukur. apabila skor < 60%. Langkah terakhit adalah dengan membuat kesimpulan. Menghitung dengan skoring dan membandingkan dengan teori terkait 2. B. Untuk penilaian yang didapat dari hasil wawancara atau observasi bisa dibuat kriteria penilaian. SEDANG. Penilaian ketuntasan dilakukan dengan membuat kriteria penilaian terhadap semua aspek yang dinilai.

Membuat rekomendasi hasil pengukuran  Praktek Kerja Industri 9 . Membandingkan dengan standar bakumutu. C. Menghitung skor penilaian kemudian memasukkan kedalam kriteria yang dibuat. A. Menganalisis hasil dan membuat rekomendasi E. kemudian membuat kesimpulan D. Dengan membandingkan standar baku mutu B. kemudian membuat kesimpulan.

Kualifaikasi yang dipenuhi adalah: 2) Memahami MSDS/ Label/ Informasi di tempat kerja 3) Memaqhami perudangan-undangan K3 4) Memiliki keahlian dibidang K3 Pemantapan Konteks dalam manajemen risiko adalah sebagai berikut: 1) Konteks Strategik : Assesmen Internal dan eksternal unit 2) Konteks Organisasi : Assesmen Thd Manajemen & Organisasi a. yaitu: 1. Penilaian/Penanganan risiko 4. Dapat dilakukan oleh pihak ketiga c. Tahapan penilaian manajemen risiko dilakukan terhadap 4 (empat) kegiatan. Pengawas ketenagakerjaan. manajer/Supervisor/Ahli K3 di perusahaan b. Manajemen melibatkan dalam pengambilan keputusan b. Pengendalian Risiko Penilaian Risiko dapat dilakukan oleh: a.Topik 2 Evaluasi Penerapan Manajemen Risiko K3 Industri Untuk memahami Evaluasi terhadap manajemen Risiko K3. Terkait dengan kebijakan organisasi secara keseluruhan c. Terkait dengan alokasi sumber daya (personil. Identifikasi Risiko 2. Analisa Risiko 3. Saudara harus mempelajari lagi Manajemen Risiko pada mata Kuliah K3 pada Sub Bab Manajemen Risiko. dll) 3) Konteks Pengelolaan Risiko : Assesmen Terhadap ruang lingkup yg lebih besar s/d pemerintah  Praktek Kerja Industri 10 . finansial.

Alat/ mesin c. Ada tiga pertanyaan yang dapat dipakai sebagai panduan : 1. Identifikasi Risiko Tahap pertama dalam kegiatan manajemen risiko dimana kita melakukan identifikasi bahaya yang terdapat dalam suatu kegiatan atau proses. lihat diagram berikut: Tahapan Manajemen Risiko: Konteks PEMANTAUAN KONTEKS Strategis Konteks Organisasi Konteks Identifikasi Bahaya Risiko Pengelolaan MONITOR & REVIEW Analisis Risiko Penilaian Risiko Pengendalian Risiko A. Apakah ada sumber untuk menimbulkan cedera/loss ? 2. Lingkungan kerja  Praktek Kerja Industri 11 . Bahan/ material b. Target apa saja yang terkena/terpengaruh bahaya ? 3. Metode/ cara kerja d. Bagaimana mekanisme cedera/loss dapat timbul? Sumber bahaya di tempat kerja berasal dari: a.Untuk memperoleh gambaran lebih jelas Saudara perhatikan aspek-aspek pengelolaan manajemen risiko.

Lingkungan e. Analisis Risiko Dalam analisa risiko dikenal 2 (dua) istilah: 1. c. Peluang tersengat listrik d. PSIKOSOSIAL. Peluang orang jatuh karena melewati jalan licin b. b. Reputasi g. kerja shift. bakteri. yaitu Yaitu kemungkinan terjadinya suatu kecelakaan/kerugian ketika terpajan dengan suatu bahaya. Audit 4. laser. BIOLOGI: serangga. e. Kuesioner 5. Proses f. angkat barang dll. Peluang supir menabrak  Praktek Kerja Industri 12 . stress. ERGONOMI: Sistem kerja. dll. Target yang mungkin terkena/ terpengaruh sumber bahaya: a. d. Inspeksi 2. cahaya dll. Produk c. Jenis bahaya risiko di tempat Kerja: a. virus. Pemantauan/survey 3. Sarana/prasarana Teknik Identifikasi bahaya: 1. misalnya: a. FISIKA: Bising. limbah B3 dll. KIMIA: bahan-bahan kimia. Peralatan / fasilitas d. Peluang (Probability). Peluang untuk tertusuk jarum c. Manusia b. Data-data statistic B. radiasi.

Cacat. lingkungan. 2. Hal ini bisa terkait dengan manusia. perhatikan tabel di bawah ini: Matriks Probability & Konsequences bagi risiko yang ditemukan di industri. Contohnya Fatality atau kematian. Perawatan medis. dll. properti. Akibat (Consequences). Lebih jelasnya dalam menyusun klasifikasi risiko yang ditemukan terkait cara penanganan risiko. yaitu tingkat keparahan/kerugian yang mungkin terjadi dari suatu kecelakaan/loss akibat bahaya yang ada. Consequeces First Aid Lost time Several Fatality / Injury days off Disability Probability work Very likely +++ M H VH VH Could happen regularly Likely ++ L M H VH Could happenOccasionaly Unlikely + VL L M H Could happen but Very unlikely VL VL L M Could happen but prob. Never will VH : very high/ekstrim : Stop. perbaiki saat itu juga H : high / tinggi : Perlu perbaikan dalam 24 jam M : medium : Perlu perbaikan dalam 3 hari L : low / rendah : Perlu perbaikan dalam 7 hari VL : very low / dapat diabaikan: Tidak perlu tindakan khusus  Praktek Kerja Industri 13 . P3K. proses.

Kurangi/minimalkan risiko c. Ada 3 cara dalam penilaian risiko yaitu : a. fasilitas. Catatan/data kecelakaan terdahulu. metode ini pada prinsipnya hampir sama dengan analisa kualitatif. Terima risiko  Praktek Kerja Industri 14 . Hindari risiko b. perbedaannya pada metode ini uraian/deskripsi dari parameter yang ada dinyatakan dengan nilai/skore tertentu c. Regulasi/standard yang berlaku d. metode ini dilakukan dengan menentukan nilai dari masing-masing parameter yang didapat dari hasil analisa data-data yang representatif C. Tindakan pengendalian yang telah ada b. Transfer risiko d. SDM. dll) c. Kualitatif. Rencana keadaan darurat e. Risiko yang tidak dapat diterima Bila suatu risiko tidak dapat diterima maka harus dilakukan upaya penanganan risiko agar tidak menimbulkan kecelakaan/kerugian. Umumnya metode matriks dipakai b. Risiko yang dapat diterima. Semi kuantitatif (contoh: pembobotan / rangking). dll Catatan: walau suatu risiko masih dapat diterima tapi tetap harus dipantau/ dimonitor 2. Menentukan suatu risiko dapat diterima akan tergantung kepada penilaian/pertimbangan dari suatu organisasi berdasarkan : a. Sumber daya (finansial. metode ini menganalisa dan menilai suatu risiko dengan cara membandingkan terhadap suatu diskripsi/uraian dari parameter (peluang dan akibat) yang digunakan. Kuantitatif. Penilaian/Penanganan risiko 1. Bentuk tindakan penanganan risiko dapat dilakukan sebagai berikut : a.

Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan 3. Safety Shoes c. Alat Pelindung Diri. Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding) b. Helmet b. Ear plug/muff d. Pelatihan karyawan 5. terdiri dari: a. Breathing apparatus dan lainnya. Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen d. Eliminasi Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya 2. Pengendalian Risiko K3 Secara hierarkhi pengendalian terhadap risiko dapat dibagi ke dalam beberapa tahap sebagai berikut: 1. Pemasangan general dan local ventilation c. Rekayasa Teknik a. meliputi: a.  Praktek Kerja Industri 15 . Pembentukan sistem kerja d. Setelah Saudara memahami tahapan. Proses menyapu diganti dengan vakum c. Substitusi a. Pengendalian Administratif.D. Teliti apakah perusahaan/industri melakukan identifikasi risiko dengan baik. Pemisahan lokasi b. Masker f. Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta b.tahapan penilaian/ evaluasi manajemen risiko selanjutnya lakukan urutan tahapan evaluasi sebagai berikut: 1. Safety goggles e. Pergantian shift kerja c. Pemasangan alat sensor otomatis 4.

Evaluasi terhadap pelaksanaan manajemen risiko dapat dilakukan dengan meninjau kembali hasil penilaian akhir terhadap manajemen risiko. Sasaran prioritas disusun untuk menyesuaikan sumber daya yang mampu disediakan perusahaan setelah dilakukan dilakukan analisis risiko dan telah dilakukan klasifikasi risiko bahaya di industri/ perusahaan tempat kerja magang. Apakah perusahaan telah menganalisis risiko yang ditemukan dan menyusun sasaran prioritas terhadap penanganan risiko. apabila skor penilaian > 75% 2) Sedang. Yang dimaksud identifikasi risiko dengan baik adalah melalkukan identifikasi risiko bahaya terhadap semua jenis risiko dari pelaksanaan kegiatan mulai dari penyiaapan alat. Kriteria dapat dibuat sebagai berikut: 1) Baik. bahan. 4. penggunaan alat/ bahan. packing. Apakah perusahaan melakukan pengendalian risiko berdasarkan prioritas yang disusun atau melaksanakan pengendalian semua risiko yang timbul dan dapat mempengaruhi turunnya produktivitas kerja. Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas.5) ternyata industri memiliki tingkat bahaya yang tinggi atau relatif tinggi. a. 2. Mengevaluasi Manajemen Risiko pada industri. 3. Kemudian membuat kriteria keberhasilan terhadap hasil yang diperoleh tersebut. bila skor penilaqian < 65%  Praktek Kerja Industri 16 . Langkah-1 : Mengevaluasi hasil penilaian/pengawasan manajemen risiko Jika berdasarkan identifikasi dan analisis risiko (yang telah dilakukan di Bab. Apakah perusahaan melakukan tinjauan terhadap aspek pengendalian dan memperbaruinya jika terjadi perubahan akibat adanya kamjuan teknologi atau akibat lainnya. maka harus ada pengendalian risiko sebaik-baiknya oleh pihak manajemen K3. sampai dengan pendistribusian. perhatikanlah Latihan berpraktek berikut! 1. proses produksi. apabila skor penilaian 65-74% 3) Kurang.

Rangkuman Tahapan penilaian manajemen risiko dilakukan terhadap 4 (empat) kegiatan. Langkah-2 : Membuat kesimpulan berdasarkan kriteria yang telah dibuat. Cara membuat kesimpulan dengan cara memasukkan skor penilaian terhadap kriteria yang telah dibuat seperti di atas. Dapat dilakukan oleh pihak ketiga c.Persentase nilai diperoleh dengan menghitung jumlah pernyataan-pernyataan yang benar tentang manajemen risiko. Penilaian/Penanganan risiko 4. Pengendalian Risiko Penilaian Risiko dapat dilakukan oleh: a. Kualifaikasi yang dipenuhi adalah: 1) Memahami MSDS/ Label/ Informasi di tempat kerja 2) Memahami perudangan-undangan K3 3) Memiliki keahlian dibidang K3 E. Beberapa rekomendasi dapat dibuat berdasarkan hasil temuan yang kurang dalam penilaian. Identifikasi Risiko 2. maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Manajemen Risiko di PT Kalibata dikategorikan BAIK. Pengawas ketenagakerjaan. yaitu: 1. Pengendalian Risiko K3  Praktek Kerja Industri 17 . Misalnya hasil skor penilaian = 82%. Analisa Risiko 3. manajer/Supervisor/Ahli K3 di perusahaan b. dibagi dengan total pernyataan dikalikan dengan 100% ∑ BENAR Rumus: Skor penilaian = X 100% Total Item pernyataan b.

Breathing apparatus dan lainnya. Helmet b. Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan 3. Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen d. Masker f. Pemasangan general dan local ventilation c. Pemisahan lokasi b. Pelatihan karyawan 5. Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta b. Proses menyapu diganti dengan vakum c. Ear plug/muff d. Alat Pelindung Diri. Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding) b. Pembentukan sistem kerja d. Secara hierarkhi pengendalian terhadap risiko dapat dibagi ke dalam beberapa tahap sebagai berikut: 1. Tes Uraian 1) Sebutkan 4 (empat) tahapan dalam mengevaluasi manajemen risiko !  Praktek Kerja Industri 18 . Safety goggles e. Rekayasa Teknik a. Pemasangan alat sensor otomatis 4. Pengendalian Administratif. meliputi: a. Pergantian shift kerja c. Safety Shoes c. terdiri dari: a. Substitusi a. Eliminasi Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya 2.

Analisa Risiko c. dan jelaskan kualifikasinya! 3) Jelaskan bagaimanakah tindak lanjut setelah dilakukan kegiatan evaluasi/ penilaian risiko oleh indsutri ? Kunci Jawaban 1) Tahapan penilaian manajemen risiko dilakukan terhadap 4 (empat) kegiatan. Pengendalian Risiko 2) Yang dapat menilai manajemen risiko adalah a. Pengawas ketenagakerjaan. Dapat dilakukan oleh pihak ketiga c. manajer/Supervisor/Ahli K3 di perusahaan b. Secara hierarkhi pengendalian terhadap risiko dapat dibagi ke dalam beberapa tahap. Kualifaikasi yang dipenuhi adalah: a) Memahami MSDS/ Label/ Informasi di tempat kerja b) Memahami perudangan-undangan K3 c) Memiliki keahlian dibidang K3 3) Tindak lanjut setelah dilakukan penilaian manajemen risiko adalah melakukan pengendalian risiko berdasarkan tingkat risiko yang ditemukan. 2) Siapakah yang dapat menilai penerapan manajemen risiko. sebagai berikut: a) Eliminasi Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya b) Substitusi  Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta  Proses menyapu diganti dengan vakum  Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen  Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan c) Rekayasa Teknik  Praktek Kerja Industri 19 . Identifikasi Risiko b. yaitu: a. Penilaian/Penanganan risiko d.

 Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding)  Pemasangan general dan local ventilation  Pemasangan alat sensor otomatis d) Pengendalian Administratif. meliputi:  Pemisahan lokasi  Pergantian shift kerja  Pembentukan sistem kerja  Pelatihan karyawan e) Alat Pelindung Diri. terdiri dari:  Helmet  Safety Shoes  Ear plug/muff  Safety goggles  Masker  Praktek Kerja Industri 20 .

Penerapan K3 4. Pengukuran dan Evaluasi 5. Saudara harus mempelajari prinsip-prinsip dasar penerapan system manajemen K3. Penetapan Kebijakan K3 dan menjamin komitmen Perusahaan perlu mendefinisikan kebijakan K3 dan menjamin komitmennya terhadap Sistem manajemen K3 di perusahaannya. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. yaitu : 1. dengan komponen organisasi terdiri: a. sarana dan tenaga kerja yang diperlukan dalam bidang K3 3) Menetapkan personel yang mempunyai tanggung jawab dan wewenang yang jelas dalam penanganan K3 4) Melakukan perencanaan dan penilaian kinerja K3 Bentuk organisasi di perusahaan adalah Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). Ketua (dari Pengusaha/ salah satu Pimpinan perusahaan}  Praktek Kerja Industri 21 . Penetapan kebijakan K3 dan menjamin komitmen 2. Pengusaha & atau pengurus menunjukkan komitmennya melalui: 1) Membentuk Organisasi K3 2) Menyediakan anggaran. A.Topik 3 Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen K3 Industri Pada topik ini Saudara akan melakukan evaluasi terhadap penerapan System Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang dilaksanakan berdasarkan PP no. Untuk dapat mengevaluasi penerapan SMK3 di industri/ perusahaan. Perencanaan K3 3. Peninjauan Ulang dan Peningkatan SMK3 oleh manajemen Kelima aspek tersebut merupakan tahapan prinsip-prinsip penerapan yang dilaksanakan secara berurutan/sequence yang bertujuan untuk peningkatan system manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di industri tersebut.

b. Tinjauan awal/initial review dilaksanakan dengan kegiatan: 1) Identifikasi potensi bahaya berkaitan dengan kegiatan/proses perusahaan 2) Penilaian kesesuaian dengan peraturan perundangan. Anggota (perwakilan pekerja) Kegiatan K3 perusahaan diawali dengan tinjauan awal (initial review) yang dilakukan setiap awal tahun. Sekretaris (ahli K3 Umum) c. Dari kegiatan tersebut kemudian baru dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lain mulai dari kebijakan K3 sampai dengan peninjauan ulang dan perbaikan SMK3. standar dan pedoman K3 3) Melakukan studi banding/benchmark 4) Menganalisa data-data K3 yang sudah ada Penetapan kebijakan dan penjaminan komitmen K3 harus : a) Tertulis b) Diandatangani oleh pengusana dan atau pengurus c) Memuat pernyataan komitmen dan tujuan K3 perusahaan d) Disosialisasikan kepada semua pihak baik internal maupun eksternal e) Bersifat dinamik dan ditinjau ulang agar tetap update Contoh di bawah memperlihatkan kebijakan dan komitmen Macmahon industries yang memenuhi persyaratan tersebut di atas:  Praktek Kerja Industri 22 .

 Praktek Kerja Industri 23 .

alat pelindung diri. MSDS. Spill/leak control. Tujuan b. sasaran. dan c. maka dapat disusun program K3 di perusahaan yang bersaangkutan. dan penatalaksanaan limbah B3. Sasaran. Indikator Setelah tersusun tujuan. Contoh pelabelan terhadap bahan berbahaya: Bahan Explosive Flamabl Radioactiv e e Bahan Beracun Bhn Biohazard Bhn Korosif  Praktek Kerja Industri 24 . sasaran. dan indikator. dapat dilakukan penyusunan : a. labelling system. misalnya: komunikasi B3. dan tujuan K3 yang telah ditetapkan.B. maka dengan disertai pengkajian terhadap peraturan perudangan terkait K3. Untuk membuat perencanaan K3 harus diawali dengan kegiatan “Manajemen Risiko” yang terdiri dari 3 (tiga) kegiatan. yaitu: 1) Identifikasi bahaya/ risiko 2) Penilaian risiko 3) Pengendalian risiko Setelah kegiatan tersebut dilakukan. Perencanaan K3 Perusahaan harus membuat perencanaan K3 untuk memenuhi kebijakan. Program K3 di perusahaan dapat berupa: 1) Adanya program/ kegiatan terhadap bahan-bahan berbahaya.

Oxidizing NFPA Standard 2) Adanya program peningkatan kualitas sumber daya manusia dan lingkungan kerja. rapi. resik. rawat. e. Program peningkatan Sumber Daya Manusia: a) Pelatihan & awareness K3 b) Peningkatan prosedur kerja yang aman c) Peningkatan tanggung jawab d) Program job safety analysis e) On the job training f) Rapat K3 g) P2K3 h) Pemeriksaan kesehatan i) Program keadaan darurat dan P3K f. rajin) g. Program terhadap alat/mesin perusahaan: a) Pemeliharaan alat  Praktek Kerja Industri 25 . Program untuk lingkungan kerja a) House keeping b) Program pemantauan lingkungan c) Pemantauan NAB Kimia d) Inspeksi tempat kerja e) Hygiene perusahaan f) Pencahayaan ruang kerja g) 5R (ringkas.

Jaminan kemampuan yang dikembangkan antara lain: a. misalnya membuat poster-poster tentang safety:  Praktek Kerja Industri 26 . Pencatatan K3 Contoh kegiatan komunikasi (Safety Poster). 2. Pendokumentasian K3 d. b) Inspeksi alat c) Rekayasa teknik d) Tag out dan Log out e) Program ijin kerja C. Sumber daya yang terintegrasi b. Peningkatan motivasi dan kesadaran K3. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Agar penerapan berjalan secara efektif. misalnya: a. Pelaporan K3 c. Kegiatan Penunjang. Sumber daya sebagai penanggung jawab dan penanggung gugat c. dan sasaran K3. 1. Komunikasi K3 b. maka perusahaan harus mengembangkan kemampuan dan kegiatan penunjang/ pendukung untuk mencapai kebijakan. tujuan.

Contoh Sign Safety( Komunikasi K3)  Praktek Kerja Industri 27 .

b. Contoh Pelaporan 1) Pelaporan Internal: a) Pelaporan insiden b) Pelaporan ketidaksesuaian c) Pelaporan Kinerja K3 d) Pelaporan Sumbe bahaya 2) Pelaporan Eksternal: a) Pelaporan Kecelakaan b) Pelaporan Kinerja P2K3 c) Pelaporan Kinerja K3 perusahaan c. Dokumentasi Kegiatan pendukumentasian K3 dilakukan denga cara : a) Manual (buku petunjuk) b) Prosedur kerja (pedoman) c) Instruksi kerja (IK) d) Formulir kerja/inspeksi Pengendalian dokumen:  Praktek Kerja Industri 28 .

a) Identifikasi dokumen/ mempu telusur b) Persetujuan dokumen c) Ditinjau ulang atau direvisi d) Dokumen versi terbaru e) Dokumen lama dibuang Jalur evakuasi dan aktivitas lain untuk kejadian gawat darurat/ emergency juga diperlukan. misalnya: D. dan pengujian K3 2) Audit system Manajemen K3 (SMK3) 3) Tindakan perbaikan dan pencegahan  Praktek Kerja Industri 29 . memantau dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian. Kegiatan pengukuran dan evaluasi terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Inspeksi. Pengukuran dan Evaluasi Perusahaan perlu mengukur. pemantauan.

dan kinerja K3 c) Hasil audit SMK3 d) Evaluasi kebutuhan untuk peningkatan SMK3  Praktek Kerja Industri 30 . Peninjauan Ulang dan Peningkatan SMK3 oleh Pihak Manajamen Industri/ perusahaan perlu meninjau ulang dan terus melakukan peningkatan SMK3 yang tujuannya adalah untuk miningkatkan kinerja K3 secara keseluruhan. Tinjauan ulang dilakukan oleh pihak manajemen K3 meliputi kegiatan: a) Evaluasi penerapan SMK3 b) Tujuan. E. sasaran. Tindakan perbaikan dan pencegahan a) Melakukan perbaikan pada system manajemen K3 berdasarkan hasil audit SMK3 b) Melakukan tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan kerja melalui penatalaksanaan administrasi/ tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan c) Meningkatkan pengawasan terhadap kinerja K3. a. dan pengujian K3: Perusahaan menetapkan & memelihara prosedur inspeksi. a) Kompetensi personil pelaksana b) Pemeliharaan catatan kegiatan c) Metode dan pencatatan yang memadai d) Rekomendasi tindakan perbaikan e) Pemantauan tindakan perbaikan b. Inspeksi. Audit Sistem Manajemen K3 a) Kegiatan dilakukan berkala b) Penentuan personil pelaksana c) Audit harus indipenden dan sistematik d) Frekuensi audit berdasarkan hasil audit sebelumnya & identifikasi bahaya e) Hasil audit dipakai untuk tinjauan manajemen K3 c. pemantauan dan pengujian K3 yang meliputi. pemantauan.

.. bagaimanakah cara evaluasinya? Hasil Pengawasan berdasarkan instrument SMK3: Nama Industri : PT.. sarana dan tenaga kerja yang V diperlukan dalam bidang K3 3.. Setelah Saudara mengetahui teori tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di perusahaan/industri tempat kerja praktek. Membentuk Organisasi K3 V 2.. Kalibata 1297. Menetapkan personel yang mempunyai tanggung jawab V  Praktek Kerja Industri 31 . orang Petugas Pemantau : Harry Cane Tanggal Pemantauan : 23 Januari 2017 No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.. maka Saudara harus melakukan Evaluasi terhadap hasil penilaian yang telah Saudara buat dengan tahap- tahap kegiatan sebagai berikut: 1. 2. Kalibata Alamat Industri : Jl. A. perhatikan contoh Latihan Evaluasi Penilaian SMK3 berikut berikut! Misalkan hasil pengawasan SMK3 adalah sebagai berikut. Buat laporan kerja praktek penilaian/pengawasan Sistem Manajemen K3 industri sesuai dengan sistematika penyusunan laporan pada Bab I Latihan Berpraktek Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas... Komitmen dan Kebijakan: 1. Perempuan : ... Lakukan evaluasi hasil kerja praktik penilaian Sistem manajemen K3 industri dengan menghitung skor yang diperoleh dari instrument penilaian. orang. Jakarta Jenis Industri : Pembuatan Kapal Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ... Buat kesimpulan hasil evaluasi dengan cara membandingkan hasil penilaian terhadap kriteria penilaian yang telah dibuat pada Bab 3.. Menyediakan anggaran. 3..

Melakukan perencanaan dan penilaian kinerja K3 V Penetapan kebijakan K3 harus: 4 a. rajin) 12 Ada Program terhadap alat/mesin perusahaan: V a) Pemeliharaan alat b) Inspeksi alat c) Rekayasa teknik  Praktek Kerja Industri 32 . Adanya program peningkatan kualitas sumber daya V manusia dan lingkungan kerja 11 Ada Program untuk lingkungan kerja. Perencanaan 9. Diandatangani oleh pengusana dan atau pengurus V 6 c. misalnya house V keeping. dan penatalaksanaan limbah B3. MSDS. rawat. Spill/leak control. misalnya: komunikasi B3. resik. Memuat pernyataan komitmen dan tujuan K3 V perusahaan 7 d. Adanya program/ kegiatan terhadap bahan-bahan V berbahaya. 10. Disosialisasikan kepada semua pihak baik internal V maupun eksternal 8 e. dan wewenang yang jelas dalam penanganan K3 No Item Pemantauan Ya Tidak Ket. a) Program pemantauan lingkungan b) Pemantauan NAB Kimia c) Inspeksi tempat kerja d) Hygiene perusahaan e) Pencahayaan ruang kerja f) 5R (ringkas. Bersifat dinamik dan ditinjau ulang agar tetap update V B. rapi. alat pelindung diri. labelling system. Tertulis V 5 b.

 Praktek Kerja Industri 33 . Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 13 Adanya Jaminan kemampuan yang dikembangkan antara V lain: 1). sasaran. Komunikasi K3 b. pemantauan. Sumber daya sebagai penanggung jawab dan penanggung gugat 3). misalnya: V a. Pencatatan K3 D. Pendokumentasian K3 d. 14 Adsanya Kegiatan Penunjang. Peninjauan Ulang dan Peningkatan SMK3 oleh Pihak Manajamen 18 a) Adanya Evaluasi penerapan SMK3 V 19 b) Terdapat Tujuan. Peningkatan motivasi dan kesadaran K3. C. dan kinerja K3 V 20 c) Ada Hasil audit SMK3 V 21 d) Terdapat Evaluasi kebutuhan untuk peningkatan SMK3 V Mengevaluasi penerapan Manajemen K3 industri. dan pengujian K3 16 b) Audit system Manajemen K3 (SMK3) V 17 c) Tindakan perbaikan dan pencegahan V E. Pelaporan K3 c. Sumber daya yang terintegrasi 2). d) Tag out dan Log out e) Program ijin kerja No Item Pemantauan Ya Tidak Ket. Pengukuran dan Evaluasi 15 Ada kegiatan pengukuran dan evaluasi terdiri dari V kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a) Inspeksi.

8% 21 Maka Hasil evaluasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Kalibata termasuik dalam kriteria “Baik” Tes Uraian 1) Sebutkan prinsip-prinsip penerapan system manajemen K3 (SMK3) ! 2) Jelaskan cara menetapkan kebijakan dan komitmen K3 di perusahaan ! 3) Sebutkan kegiatan apa saja yang dilakukan dalam mengawali kegiatan perencanaan K3! 4) Sebutkan program-program yang diterapkan dalam kegiatan penerapan K3 di perusahaan! 5) Sebutkan jenis kegiatan yang dilakukan dalam program pengukuran dan evaluasi K3 di perusahaan! 6) Sebutkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tinjauan ulang dan perbaikan SMK3! Kunci Jawaban  Praktek Kerja Industri 34 . maka dilakukan perhitungan skor sebagai berikut: 18 SKOR NILAI = x 100% = 85. Untuk mengevaluasi manajemen K3 Industri Saudara harus telah selesai melakukan penulaian manajemen K3 industri dengan menggunakan instrument yang telkah dilengkapi dengan cara penghitungan skor penilaian. Langkah-1 : Mengevaluasi langkah-langkah manajemen K3 industri. b. apabila skor penilaian 65-74% 3) Kurang. yaitu: 1) Baik. bila skor penilaqian < 65% Untuk contoh hasil penilaian tersebut di atas. apabila skor penilaian > 75% 2) Sedang.a. Langkah-2 : Saudara membuat kriteria penilaian sebagaimana penghitungan skor pada manajemen risiko.

Penerapan K3 d. Peninjauan Ulang dan Peningkatan SMK3 oleh manajemen 2. Memuat pernyataan komitmen dan tujuan K3 perusahaan d. maka dapat disusun program K3 di perusahaan yang bersaangkutan. Tujuan e. program terhadap alat/mesin 4. dan f. Sasaran. Prinsip-prinsip dasar penerapan sistem manajemen K3. Bersifat dinamik dan ditinjau ulang agar tetap update 3. harus: a.1. dapat dilakukan penyusunan: d. Perencanaan K3 diawali dengan kegiatan berikut: 2) Identifikasi bahaya/ risiko 3) Penilaian risiko 4) Pengendalian risiko Setelah kegiatan tersebut dilakukan. sasaran. Pengukuran dan Evaluasi e. Disosialisasikan kepada semua pihak baik internal maupun eksternal e. dan indikator. yaitu : a. Penetapan kebijakan K3 dan menjamin komitmen b. Mengembangkan kemampuan dalam kegiatan K3  Praktek Kerja Industri 35 . program peningkatan Sumber daya manusia c. Program K3 berupa: a. program terhadap lingkungan d. Indikator Setelah tersusun tujuan. b. Perencanaan K3 c. program terhadap bahan berbahaya. Kegiatan pada penerapan K3 adalah: a. Diandatangani oleh pengusana dan atau pengurus c. Tertulis b. maka dengan disertai pengkajian terhadap peraturan perudangan terkait K3. Cara menetapkan kebijakan & komitmen K3.

Fatality/ disability : Kecelakaan fatal atau cacat permanen yang diakibatkan kecelakaan kerja Labeling system : sistim pelabelan terhadap barang berhahaya agar tidak menyebabkan kecelakaan kerja Sign safety : gambar tanda bahaya biasanya diletakkan pada barang-barang di sekitar lokasi kerja Safety poster : poster untuk keamanan kerja agar diikuti oleh para tenaga kerja untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja  Praktek Kerja Industri 36 . Safety 5. dan pengujian K3 b. dan kinerja K3 c. misalnya Safety hazard. taman. koridor. maupun kamar mandi. Kegiatan pada kegiatan Tinjauan Ulang dan perbaikan system manajemen K3 a. Evaluasi kebutuhan untuk peningkatan SMK3 Glosarium housekeeping : salah satu penilaian aspek sanitasi industri yang menitikberatkan pada kebersihan bangunan dalam dan luar gedung industri terdiri dari dinding. Lost time injury : kehilangan waktu pada saat kejadian luka karena kecelakaan Several days of work : kehilangan waktu kerja beberapa hari yang diakibatkan oleh adanya kecelakaan kerja. Fasilitas cuci tangan: fasilitas cuci tangan yang disediakan perusahaan bagi karyawannya. Mengembangkan kegiatan penunjang. Inspeksi. sasaran. baik dalam bentuk wastafel. armature/penerangan. Hasil audit SMK3 d. Tujuan. Kegiatan Pengukuran dan evaluasi K3: a. lantai. Evaluasi penerapan SMK3 b. b. Audit system Manajemen K3 (SMK3) c. pemantauan. halaman. perbotan. langit-langit. Tindakan perbaikan dan pencegahan 6.

Daftar Pustaka 1. OHSAS 18001:2007 Occupational Health & Safety Management System. 3. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan System Manajemen K3 2. 2005. Rudi Suwardi. “Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja” Edisi I. PPM Jakarta  Praktek Kerja Industri 37 . Peraturan Pemerintah RI np.