You are on page 1of 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hepatitis virus akut merupakan penyakit infeksi yang penyebarannya luas dalam
tubuh walaupun efek yang menyolok terjadi pada hepar. Telah ditemukan 5 kategori virus
yang menjadi agen penyebab yaitu Virus Hepatitis A (HAV), Virus Hepatitis B (HBV),
Virus Hepatitis C (HVC), Virus Hepatitis D (HDV), Virus Hepatitis E (HEV).
Walaupun kelima agen ini dapat dibedakan melalui petanda antigeniknya, tetapi
kesemuanya memberikan gambaran klinis yang mirip, yang dapat bervariasi dari keadaan sub
klinis tanpa gejala hingga keadaan infeksi akut yang total.
Bentuk hepatitis yang dikenal adalah HAV ( Hepatitis A ) dan HBV (Hepatitis B).
Kedua istilah ini lebih disukai daripada istilah lama yaitu hepatitis infeksiosa dan hepatitis
serum, sebab kedua penyakit ini dapat ditularkan secara parenteral dan non parenteral.
Hepatitis virus yang tidak dapat digolongkan sebagai Hepatitita A atau B melalui
pemeriksaan serologi disebut sebagai Hepatitis non-A dan non-B (NANBH) dan saat ini
disebut Hepatitis C (Dienstag, 2008). Selanjutnya ditemukan bahwa jenis hepatitis ini ada 2
macam, yang pertama dapat ditularkan secara parenteral (Parenterally Transmitted) atau
disebut PT-NANBH dan yang kedua dapat ditularkan secara enteral (Enterically
Transmitted) disebut ET-NANBH (Juall Carpenito, 2009). Tata nama terbaru menyebutkan
PT-NANBH sebagai Hepatitis C dan ET-NANBH sebagai Hepatitia E (Juall Carpenito,
2009).
Virus delta atau virus Hepatitis D (HDV) merupakan suatu partikel virus yang
menyebabkan infeksi hanya bila sebelumnya telah ada infeksi Hepatitis B, HDV dapat timbul
sebagai infeksi pada seseorang pembawa HBV.
Hepatitis menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting tidak hanya di
Amerika tetapi juga diseluruh Dunia. Penyakit ini menduduki peringkat ketiga diantara
semua penyakit menular yang dapat dilaporkan di Amerika Serikat (hanya dibawah penyakit
kelamin dan cacar air dan merupakan penyakit epidemi di kebanyakan negara-negara dunia
ketiga.Sekitar 60.000 kasus telah dilaporkan ke Center for Disease Control di Amerika
Serikat setiap tahun, tetapi jumlah yang sebenarnya dari penyakit ini diduga beberapa kali

1

lebih banyak.Walaupun mortalitas akibat hepatitis virus ini rendah, tetapi penyakit ini sering
dikaitkan dengan angka morbiditas dan kerugian ekonomi yang besar.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana konsep dasar penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan pada Hepatitis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk konsep dasar penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan pada penderita
Hepatitis.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui konsep dasar penyakit Hepatitis.
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada penderita Hepatitis.

1.4 Sistematika Penulisan
1.4.1 Bab I. Pendahuluan, berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah,
rumusan masalah, maksud dan tujuan, sistematika penulisan, metode penulisan.
1.4.2 Bab II. Pembahasan, berisi pembahasan yang menjelaskan tentang konsep dasar
penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan pada penderita Hepatitis.
1.4.3 Bab III. Penutup, berisi kesimpulan, dan saran.

1.5 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan studi keputusan. Studi
kepustakaan adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara mencari, mengumpulkan,
dan mempelajari materi-materi dari buku maupaun dari media informasi lainnya dalam hal
ini yang berkaitan dengan Ilmu Keperawatan Medikal Bedah.

2

atau alkohol (Dienstag. hepatitis dapat ringan dan dapat disembuhkan sampai kronis dan vatal (Juall Carpenito. 2009). 2008). Hepatitis adalah keadaan radang atau cedera pada hati. BAB II PEMBAHASAN 2. melalui darah feces. sebagai reaksi terhadap virus. Darah.2 ETIOLOGI Penyebab dari hepatitis yaitu (Dienstag. obat. feces. L. obat. atau alkohol. L. dapat insiden kronis dengan D menyebab matik berkembang dan gagal hepar kan sampai kronis akut hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik.1. J. luas. Sumber Darah. Kesimpulan hepatitis adalah inflamasi sebagai reaksi yang disebabkan agen virus. dengan type B perinatal Kepara Tak ikterik Parah Menyebar Peningkatan Sama Tidak han dan asimto. oral darah. Tranfusi transmi melalui orang seksual. saliva. 2008): 1. sekresi saliva vagina 3 . memerlukan jarum orang ke koinfeksi suntik orang. Parenteral Fekal. Terutama Melalui darah Darah. Darah virus saliva semen. Virus Type A Type B Type C Type D Type E Type G Metode Fekal-oral Parenteral Parenteral.1. jarang perinatal.1 DEFINISI Hepatitis adalah inflamasi hepar yang disebabkan oleh salah satu dari lima agen virus yang berbeda. si lain perinatal seksual. 2. J.1 KONSEP DASAR PENYAKIT 2.

3 KLASIFIKASI Adapun 7 jenis hepatitis viral yaitu (Dienstag. Pengobatan dengan interferon alfa-2b dan lamivudine. Obat-obatan Menyebabkan toksik untuk hati. mirip flu. 2. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang lalu. mual.1. 3. sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut. 2. Hepatitis B Gejala mirip hepatitis A. mual. J. termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A. Yang merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika. rasa lelah. Masa inkubasi 30 hari. memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama. infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. mata kuning dan hilangnya nafsu makan. muntah. orang 4 . Hepatitis A Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala. Berbeda dengan hepatitis B dan C. yaitu hilangnya nafsu makan. Alkohol Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis. nyeri perut. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal. demam. Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A. misalnya makan buah-buahan. diare. transfusi darah dan gigitan manusia. 2008): 1. L. rasa lelah. serta imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap hepatitis-B yang diberikan 14 hari setelah paparan. 2. Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien. untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali. mata kuning dan muntah serta demam. sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi. sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu.

keletihan. Mengenai hepatitis C akan kita bahas pada kesempatan lain. khususnya trimester ketiga. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah. Hepatitis C Hepatitis C mencakup sekitar 20% dari semua kasus hepatitis viral dan paling sering ditularkan melalui yang ditransfusi dari donor asimtomatik. hilang selera makan.1. Penularan melalui air yang terkontaminasi feces. demam. Hepatitis G Gejala serupa hepatitis C. Penularan melalui transfusi darah jarum. 7. hilang nafsu makan dan sakit perut. demam pegel linu. lelah. Namun dapat juga terjadi artalgia dan ruam pada kulit. dapat mematikan. keculai bila terjadi pada kehamilan. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. pusing dan kencing yang berwarna hitam pekat. muntah- muntah. berbagi jarum dengan pengguna obat intra vena dan cairan tubuh atau didapat dari tato. Hepatitis B . individu yang dijangkiti akan mengalami sakit seperti kuning. seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B atau C. Gejala Hepatitis A. 3. jarum suntik dan transfusi darah. 2. Demam yang terjadi 5 . Hepatitis D Hepatitis D Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi. yang mempunyai banyak pasangan seksual. 6. Hepatitis E Gejala mirip hepatitis A. Penyakit yang akan sembuh sendiri ( self-limited ). Pada minggu pertama. 5. dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko- infeksi) atau amat progresif. yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Hepatitis F Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan.4 MANIFESTASI KLINIS 1. 4. Penularan melalui hubungan seksual. dapat terjadi tanpa gejala.

tbc. Pada beberapa kasus dapat ditemukan peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine. sehingga penularan kepada orang lain menjadi lebih beresiko. nyeri pada epigastrium. tidak seperti demam yang lainnya yaitu pada demam berdarah. thypus. dll. adalah demam yang terus menerus. Namun bagi penderita hepatitis B kronik akan cenderung tidak tampak tanda-tanda tersebut. Namun beberapa gejala yang sama diantaranya adalah: Lelah. Perangsangan komponen dan lisis sel serta serangan antibody langsung terhadap antigen-antigen virus menyebabkan degenerasi sel-sel yang terinfeksi sehingga hati menjadi edematosa (hepatomegali). nyeri di hulu hati sehingga menimbulkan perubahan kenyamanan dan perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan. saliva. Terjadinya hepatomegali menimbulkan keluhan seperti nyeri abdomen pada kuadran kanan atas. Setelah virus hepatitis sampai di tubuh melalui peredaran darah akan menyerang hati dan akan menyebabkan peradangan atau inflamasi pada hepar sehingga menyebabkan kerusakan hati di lobulus dan generasi sel. 3. semen dan cairan vagina. Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak menunjukkan gejala. namun demikian pada penderita Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal. Secara khusus tanda dan gejala terserangnya hepatitis B yang akut adalah demam. nekrosis parenkim hati dan menyebabkan penurunan fungsi sel hati sehingga mempengaruhi kekebalan tubuh. walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya.5 PATOFISIOLOGI Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia serta infeksi virus melalui cairan tubuh seperti darah. Sakit perut. adanya reaksi antara antigen antibodi menimbulkan respon imun seperti demam sehingga timbul hipertermi. pemenuhan nutrisi yang tidak adekuat dan disertai dengan hipermetabolik sehingga akan menimbulkan keletihan. 2. Urin menjadi gelap. respon imun yang timbul kemudian mendukung respon peradangan. Hilang selera makan. 2.1. 6 . sakit perut dan kuning (terutama pada area mata yang putih/sklera).

1. Pada kulit biasanya menyebabkan terjadinya pruritus yang akan menyebabkan terjadinya kerusakan integritas kulit sebagian besar dari bilirubin terkonjugasi tersebut akan diekresikan melalui ginjal sehinga warana urin menjadi berwarna sangat gelap.6 WOC/ PATHWAY 7 . kulit dan membran mukosa lainnya sehingga menimbulkan kerusakan integritas jaringan. Bilirubin terkonjugasi tersebut akan masuk kealiran darah sehingga terjadi kelebihan bilirubin dalam darah yang akan menyebabkan terjadinya ikterus pada sclera mata. tetapi bilirubin tidak dapat mencapai usus halus sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan ekskresi urobilinogen di tinja sehingga tinja berwarna gelap. 2. Akibat lain dari hepatomegali yaitu muncul blokir drainase hepar yang menyebabkan stasis empedu dan empedu tetap menkonjugasikan bilirubin.

Tes ekskresi BSP : kadar darah meningkat 2. Bilirubin serum : di atas 2. c. L. 3. Urinalisa : peninggian kadar bilirubin. 2. Alkali Fospatase : agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat ) 3. pankreas. 1. 3. Kondisi ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Tes fungsi hati seperti : 1. Anti-HAVIgM : positif pada tipe A. b. b.5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler). e. 2008): 1.8 KOMPLIKASI 1. Darah lengkap : SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati). Leukemia : trombositopenia mungkin ada (splenomegali). hati juga dapat menimbulkan splenomegali. Albumin serum menurun. Foto polos abdomen : menunjukkan densitas kalsifikasi pada kandung empedu. protein/hematuria dapat terjadi. Komplikasi ini terjadi ketika cairan empedu menumpuk didalam hati.1. Skan hati : membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim.2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan diagnostic yang dilakukan menurut (Dienstag. Feses : warna tanah liat.1. 4. Laboratorium a. steatorea (penurunan fungsi hati). AST (SGOT)/ ALT (SGPT) : awalnya meningkat dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun. HbsAG : dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A). Radiologi a. Kolestasis Kolestasis biasanya terjadi pada pengidap hepatitis A yang berusia lebih tua. Gejala- 8 . d. 2. J. Pemeriksaan Tambahan Biopsi hati : menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis 2.

5. rentan pendarahan. Gagal hati dapat menyebabkan pengidapnya mengalami muntah-muntah parah. 2. mengalami luka atau radang yang berkelanjutan. penurunan berat badan. Oprasi mungkin akan dilakukan untuk membuang bagian hati yang terserang kanker. serta gangguan konsentrasi. Beberapa gejala yang mengindikasi kondisi tersebut adalah penderita menjadi linglung atau bingung. Pendidikan mengenai cara penularan kepada mitra sehubungan dan anggota keluarga 9 . dan sakit kuning. muntah. sakit kuning yang tak kunjung sembuh. serta sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning).1. Sirosis Sirosis adalah pembentukan jaringan parut pada hati. 4. gejalanya meliputi penurunan berat badan. Penyakit ini bisa menyebabkan hati berhenti berfungsi dan seringkali berakibat fatal jika tidak segera ditangani. demam. 3. dan diare. sakit perut. Jika tidak segera diobati. perut membengkak. Kanker Hati Hepatitis B kronis bisa berkembang menjadi kanker hati jika tidak ditangani dengan baik. Istirahat sesuai kebutuhan b. 2. Hepatitis B Fulminan Hepatitis B Fulminan terjadi saat sistem kekebalan tubuh menjadi keliru dan mulai menyerang hati hingga menyebabkan kerusakan yang parah.9 PENATALAKSANAAN 1. Gejala sirosis biasanya tidak terdeteksi dan sering tidak disadari penderitanya sampai terjadi kerusakan yang parah pada hati. Penatalaksanaan Keperawatan a. penurunan konsentrasi dan daya ingat. Gejala pada komplikasi ini di antaranya adalah mual. Gagal Hati Komplikasi ini terjadi ketika fungsi hati menurun drastic. Pendidikan mengenai menghindari pemakaian alkohol/obat lain c. gagal hati bisa menyebabkan kematian. jaringan parut adalah jaringan yang terbentuk setelah sel-sel hati yang awalnya normal. mudah mengantuk.

Sanitasi yang sempurna. imunitas ini bersifat sementara. Medikametosa a) Kortikosteroid tidak diberikan bila mempercepat penurunan bilirubin darah. maka sangat dianjurkan bahwa semua individu yang termasuk kelompok berisiko tinggi. Yang juga dianjurkan untuk divaksinasi adalah orang-orang yang beresiko terinfeksi virus termasuk homosek atau heterosek yang aktif secara seksual. Memberikan Gamma Globulin murni yang spesifik terhadap HAV/HBV pada keluarga pasien hepatitis yang dapat memberikan imunitas pasif terhadap infeksi. d. c) Berikan obat-obat yang bersifat melindungi hati. b) Yang berkepanjangan. divaksinasi. e) Antiemetik jika diperlukan. 2008). dan pembuangan tinja yang baik 10 . karena sifat virus yang sangat menular dan berpotensi menyebabkan kematian. b.10 PENCEGAHAN Pencegahan adalah cara awal yang dapat dilakukan untuk menghambat suatu penyakit menyerang tubuh kita. dimana transaminase serum sudah kembali normal tetapi bilirubin masih tinggi. termasuk klorinasi. kesehatan umum. Tersedia vaksin untuk HBV. L. 2. a. J. Terhadap virus hepatitis A 1) Penyebaran secara fekal-oral. pencegahan masih sulit karena adanya karier dari virus tipe A yang sulit ditetapkan. c. Penatalaksanaan Medis a. Sama halnya dengan hepatitis dapat dilakukan pencegahan sesuai dengan jenis virus penyebabnya sebagai berikut (Dienstag. pecandu obat bius dan bayi. Vitamin K diberikan pada kasus dengan kecenderungan pendarahan. 2. termasuk pekerja kesehatan atau orang-orang yang terpajan ke produk darah. kortikosreroid dapat digunakan pada kolestasis. d) Antibiotik jika diperlukan. 2) Virus ini resisten terhadap cara-cara sterilisasi biasa.1.

dan wisatawan ke negara berkembang dan tropis (Dienstag. J. sedangkan pada hepatitis serum masih diragukan kegunaannya. J. b. Kini tersedia imunisasi pasif dan aktif untuk HAV maupun HBV. 2008). Darah tidak dapt disterilkan dari virus hepatitis. Tinja. c. sangat penting. Terhadap virus hepatitis B 1) Dapat ditularkan melalaui darah dan produk darah. Imunoglobulin (IG) dahulu disebut globulin serum imun. Diberikan pada mereka yang dicurigai ada kontak dengan pasien (Dienstag. Pasien hepatitis sebaiknya tidak menjadi donor darah. Profilaksis sebelum pejanan dianjurkan untuk wisatawan manca negara yang akan berkunjung ke negara-negara endemis HAV. Pengobatan lebih ditekankan pada pencegahan melalui imunisasi. Imunisasi hepatitis B dilakukan terhadap bayi-bayi setelah dilakukan penyaring HBsAg pada ibu-ibu hamil. darah.diberikan sebagai perlindungan sebelum terpajan HAV. Pencegahan dengan immunoglobulin Pemberian immunoglobulin (HBIg) dalam pencegahan hepatitis infeksiosa memberi pengaruh yang baik. dikarenakan keterbatasan pengobatan hepatitis virus. HBIG merupakan obat terpilih untuk profilaksis pasca pajanan jangka pendek. L. Pemberian vaksin HBV dapat dilakukan bersamaan untuk mendapatkan 11 . L. Virus dikeluarkan di tinja mulai sekitar 2 minggu sebelum ikterus. Pemberian IG pasca pajanan bersifat efektif dalam mencegah atau mengurangi keparahan infeksi HAV. sftaf pusat penitipan anak. Semua sediaan IG mengandung anti HAV. L.02 ml/kg diberikan sesegara mungkin atau dalam waktu dua minggu setelah perjalanan. pekerja di panti asuhan. Diberikan dalam dosis 0. 2008). J. 2) Usaha pencegahan yang paling efektif adalah imunisasi. 2008). CDC (2000) telah menerbitkan rekomendasi untuk praktik penberian imunisasi sebelum dan sesudah pejanan virus (Dienstag. dan urin pasien harus dianggap infeksius. Inokulasi dengan IG diindikasikan bagi anggota keluarga yang tinggal serumah.02 ml/kg BB im dan ini dapat mencengah timbulya gejala pada 80-90 %. Dosis 0.

2008). membuang urin dan feses pasien yang terinfeksi secara aman. L. Tindakan dalam masyarakat yang penting untuk mencegah hepatitis mencakup penyediaan makanan.06 ml/kg) adalah pengobatan terpilih untuk mencegah infeksi HBV setelah suntikan perkutan (jarum suntik) atau mukosa terpajan darah HbsAg posotif. transfusi tukarm dan terapi parental) perlu sangat berhati-hati dalam menangani peralatan dan menghindari tusukan jarum. Semua donor darah perlu disaring terhadap HAV. L. Petugas yang terlibat dalam kontak risiko tinggi (misal pada hemodialisis. HBV. dan air bersih yang amam serta sistem pembuangan sampah yang efektif. J. dan spuit sekali pakai akan menghilangkan sumber infeksi yang penting. Pemakaian kateter. HBIG (0.imunitas jangka panjang. bergantung pada situasi pajanan. dan HCV sebelum diterima menjadi panel donor (Dienstag. J. mencuci tangan. jarum suntik. Penting untuk memperhatikan higiene umum. 2008). 12 . Vaksin HBV harus segera diberikan dalam waktiu 7 sampai 14 hari bila individu yang terpajan belum divaksinasi (Dienstag.

2013) b. kulit keepala normal tidak mengalami perdangn . (Muttaqin.tumor maupun bekas luka Palpasi: terdapat massa. Lingkungan: pada daerah endemitas tinggi dan sebaliknya pada derah dengan pravelensi rendah penularan secra horizontal telah terjadi oleh penyalah penggunaan obat. penggunaa instrumens yang tidak steril. 2013) b. bentuk tengkorak normal. ikterus pada daerah mata dan kulit. Riwayat penyakit sekarang :diadapatkan keluhan mual muntah. Riwayat kesehatan : a. Identitas klien : a. pengunaan obat suntikan. 2010) c. 2013) c. nyeri tekan tidak ada b. pembengkakan. 2013) 3. tusuk jarum dan tindik (Juffri. Pemeriksaan Fisik Pada Klien Dengan hepatitis B Pemeriksaan head toe-to a.2. Jenis klelamin: pada penyakit hepatitis B banyak dialami laki-laki dibandingkan perempuan karena terkait dengan beberapa faktor penyebab. Umur : infeksi sering terjadi pada usia yang lebih tua. Keluhan utama :klien merasakan mual muntah. Mata: 13 . homoseksual. pisau cukur atau berciuman dan kontak seksual pada dewasa muda. nyeri abdomen kanan atas (Muttaqin.2 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 2.2. demam.simetris kan dan kiri warna muka ikterikrambut hitam.keluhan nyeri pada abdomen dan terjadi kelelahan dalam melakukan aktivitas (Muttaqin.1 PENGKAJIAN 1. (Juffri. 2010) 2. Riwayat penyakit dahulu:anggota keluarga yang juga pernah mengalami penyakit hepatitis B dan khususnya pada ibu yang pernah menderita hepatitis kronik. ditularkan secra horizontal pada masa anak dengan kontak erat penggunaan sikat gigi. Kepala: Inspeksi: muka normal. heteroseksual dan orang-orang yang terkait hepatitis B (Muttaqin.

tidak terdapat pembengkakan. Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan pada lidah. Leher: Inspeksi: bentuk leher simetris.tidak terdapat peradangan Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan. reaksi pupil terhadap cahaya isokor. Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan pada tulang hidung. lubang hidung simetris. Perut: Inspeksi: bentuk perut flat. tidak terdapat massa. Mulut: Inspeksi: mukosa bibir kering. tidak terdapat serumen. konjungtiva merah muda.warna coklat. tidak terdapat lesi. tidak adanya massa atau tumor f. d. kesimetrisan ekspansi dada normal. tidak ada odem Auskultasi: terdapat suara bising usus 10-12 kali/menit Perkusi: terdapat suara timpani 14 . tidak terdapat odem. tidak terdapat ptosis pertumbuhan rambut bulu mata baik. tidak ada lesi. warna lidah pucat tidak terdapat kelainan pada dasar mulut dan palut lidah atau kecacatan. Telinga: Inspeksi: bentuk normal. tidak terdapat odem. tidak terdapat pembesran limfe g. Dada: Inspeksi: bentuk dada simetris kanan dan kiri. Perkusi: terdapat suara paru sonor pada ics 1-5 Auskultasi: terdapat suara vesikuler. pada sinis-sinus hidung tidak mengalami nyeri tekan e.warna kulit leher ikterus tidak adanya pembengkakan. tidak terdapat pembesaran tiroid Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan. tidak terdapat lesi. h. tidak terdapat odem. Palpasi: tidak terdapat massa. Inspeksi: sklera mata tampakmikterik. tidak terdapat nyeri tekan c. kotoran maupun perdarahan Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan. Hidung: Inspeksi: keadaan kulit tidak terdapat lesi.

tidak terdapat krepitasi. Diare/konstipasi. 2.atau nyeri tekan. feses warna tanah liat 3. nyeri tekan pada kuadran kanan atas 15 . pertumbuhan rambut pubis merata. kelelahan. Aktivitas/Istirahat Gejala: Kelemahan. Kram abdomen. 4. membran mukosa c. tidak terdapat perdangan. tidak tedapat odem Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan. Adanya/berulangnya hemodialisa d. malaise umum b. Sirkulasi Tanda: 1. gelap 2. Alat gerak : Inspeksi: Tidak terdapat atrofi maupun hipertrofi. Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan. penurunan berat badan atau meningkat (edema). Pengkajian Menurut Gordon a. Mual/muntah Tanda: Asites a. kulit. Bradikardia (hiperbilirubinemia berat) 2. kekuatan otot bisep dan trisep normal. dan tidak terdapat massa i. Makanan/Cairan Gejala: 1. tidak terdapat kontraktur. Ikterik pada sklera. Neurosensori Gejala: 1. Hilang nafsu makan (anoreksia).tidak terdapat massa j. tidak terjadi tremor tidak terdapat kelemahan(paralisi) Palpasi :Tidak terdapat odem. Eliminas Gejala: 1. Genetalia : Inspeksi: tidak terdapt lesi.

AST (SGOT)/ALT(SGPT): Awal meningkat. 3. artralgia. sakit kepala 3. Eksaserbasi jerawat 4. eritema tak beraturan 3. Angioma jaring-jaring. Tes fungsi hati: Abnormal (4-10 kali dari normal). Alkali fostatase: Agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat) 7. 4. Dan sel plasma. Pemeriksaan Diagnostik 1. Adanya infeksi seperti flu pada pernapasan atas e. 2. Keamanan Gejala: Adanya transfusi darah/produk darah Tanda: 1. monositosis. Pernapasan Gejala: Tidak minat/enggan merokok (perokok) c. Leukopenia: Trombositopenia mungkin ada (splenomegali) 5. Seksualitas Gejala: Pola hidup/perilaku meningkatkan risiko terpajan (contoh homoseksual aktif biseksual wanita). 6. Diferensial darah lengkap: Leukositosis. steatorea (penurunan fungsi hati). Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik. limfosit antipikal. Urtikaria. Dalam darah lengkap: SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati) atau mengakibat perdarahan. Gatal (pruritus) Tanda: Otot tegang. lesi makulopapular. Demam 2. eritema palmar. gelisah b. Catatan: Merupakan batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus-non virus. 16 . Fese: Warna tanah liat. 2. Mialgia. ginekomastia (kadang- kadang ada pada penyakit hepar akibat Alkoholik) d.

Gula darah: Hiperglikemia transien/hipoglikemia (gangguan fungsi hati). dan pembesaran hati. mual. artralgia. Gejala yang muncul berupa demam dan dispnea. Tes ekskresi BSP: Kadar darah meningkat 15. HbsAG: Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A). Urinalisa: Peninggian kadar bilirubin. beratnya kerusakan parenkim 17. b. Masa protrombin: Mungkin memanjang (disfungsi hati) 13. Pengkajian pada klien dengan hepatitis B Gejala dan tanda hepatitis B dapat samar dan bervariasi. protein/hematuria dapat terjadi Menurut Brunner. Biopsi hati: menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis 16. 14. Skan hati: Membantu perkiraan. Nyeri tekan pada hati. dkk (2002) pengkajian pada klien dengan hepatitis akut adalah : a. Anti-HAV IgM: Positif pada tipe A 11. Gejala dispepsia dapat terjadi dalam berbagai derajat yang ditandai dengan nyeri epigatrium. 17 . warna urine gelap. warna feses cerah. 12. nyeri abdomen. dispepsia. Pengkajian pada klien dengan hepatitis A Banyak klien tidak tampak ikterik gegala. Gejala ikterus. Catat: merupakan diagnostik sebelum terjadi gejala klinik. anoreksia. prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler. Albumin serum: Menurun 9. tidak enak badan dan lemah. penurunan napsu makan. Ketika gejala muncul. warna urine gelap dan ikterus. Bilirubin serum: Di atas 2. ruam/pruritus. dan flatuensi.5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml. pembesaran lien dan hepar. bentuknya berupa infeksi saluran pernafasan akut ringan seperti flu dan demam sub febris. 10. 8.

penurunan kekuatan. 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Berikan malaise dan latergi perawatan kulit yang dapat teratasi. diharapkan Intoleran baris/duduk. sakit yang lam/periode penyembuhan. g. klien menyatakan 4. terkurung/isolasi. h. batasi pengunjung malaise dan latergi. lekopenia. Risiko terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan tidak efektifnya: termoregulasi sekunder terhadap infeksi. Intoleran aktivitas Setelah dilakukan Mandiri: berhubungan dengan tindakan keperawatan 1. Nyeri akut berhubungan dengan refleks spasme otot sekunder terhadap hepar. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi. anoreksia. Hasil (NOC) 1. kelemahan umum 2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Ubah posisi dengan penurunan kekuatan. gangguan proses pembekuan. Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi (NIC) . Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahan primer tidak adekuat. prognosis.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN a. dan kebutuhan pengobatan berhubunagn dengan kurang terpaja/mengingat. penurunan kekuatan. i. asites. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan melalui diare.3 INTERVENSI KEPERAWATAN No Dx. tidak mengenal sumber informasi. mual/muntah. dan depresi imun. penekanan respon inflamasi.2. Tingkatkan aktivitas pemahaman sesuai toleransi. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ikterus dan edema d. sering. c. f. salah interpretasi interpretasi informasi. Berikan lingkungan tenang. dengan baik kriteria: 3. e. bantu 18 . Berhubungan dengan sesuai keperluan. Tingkatkan tirah kelemahan umum. malaise dan latergi b. Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi 1. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gejala jengkel/marah. aktivitas.2.2.

Klien melaporkan hiburan yang tepat kemampuan contoh menonton TV. 3. Awasi kadar enzim hati 2. peningkatan 6. anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati. 19 . Anjurkan makan pada mual/muntah dapat posisi duduk tegak teratasi. Klien 5. untuk memenuhi 2. Menunjukkan karbonat dan permen perilaku perubahan berat sepanjang hari. Berikan antidot atau bantu dalam prosedur sesuai indikasi (contoh lavase. Dorong penggunaan menunjukkan teknik manajemen prilaku yang stres. Dorong pemasukan sari kriteria: jeruk. Berikan obat sesuai indikasi: sedatif. melakukan bimbingan imajinasi. Awasi pemasukan kebutuhan tubuh diharapkan Perubahan diet/jumlah kalori. anoreksia. metabolik. mulut sebelum makan mual/muntah. aktivitas kembali Berikan aktivitas 3. 3. situasi dan melakukan latihan program rentang gerak sendi pengobatan pasif/aktif 2. contoh relaksasi mampu progresif. pemajanan. kebutuhan metabolik. agen antiansietas. melakuakn radio. katarsis. contoh diazepam (Valium). dengan 4. larazepam (Ativan) 4. minuman 1. hiperventilasi) tergantung pada 2. visuaslisasi. Awasi terulangnya toleansi aktivitas. Kolaborasi: 1. berhubungan dengan nutrisi kurang dari Berikan makan sedikit kegagal masukan kebutuhan tubuh dalam frekuensi sering untuk memenuhi berhubungan dengan dan tawarkan makan kebutuhan kegagal masukan pagi paling besar. Perubahan nutrisi Setelah dilakukan Mandiri: kurang dari tindakan keperawatan 1. Berikan perawatan anoreksia. membaca.

pola hidup untuk meningkatkan/me Kolaborasi: mpertahankan 1) Konsul pada ahli diet. berat badan yang dukungan tim butrisi sesuai untuk memberikan diet 2. Berikan ikterus dan edema minyak kelamin sesuai dapat teratasi. C. trimetobenzamid (Tigan) b. laboratorium 2) Awasi glukosa darah normal dan bebas 3) Berikan obat sesuai tanda malnutrisi indikasi: a. Terapi steroid. Vitamin contoh B komplek. Kerusakan integritas Setelah dilakukan Mandiri kulit berhubungan tindakan keperawatan 1) Gunakan air mandi denagn ikterus dan diharapkan Kerusakan dingin dan soda kue edema integritas kulit atau mandi kanji dari berhubungan denagn sabun alkali. dengan indikasi. kriteria hasil: 2) Anjurkan menggunakan 1) Menunjukkan buku-buku jari untuk perbaikan menggaruk tidak jaringan/kulit. tambahan diet lain sesuai indikasi d. bebas ekskoriasi 3) Pertahankan kuku jari 20 . Antiemetik. Menunjukkan sesuai kebutuhan pasien. peningkatan berat dengan masukan lemak badan mencapai dan protein sesuai tujuan dengan nilai toleransi. Titralae c. Antasida. contoh Prednison (Deltasone) tunggal atau kombinasi dengan azatioprin (Imuran) 4) Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila dibutuhkan 3. contoh Mylanta. contoh metalopramide (Reglan). terkontrol.

dengan kapiler. 4) Anjurkan lepas pakaian ketat. bandingkan berhubungan dengan tinggi terhadap dengan berat badan kehilangan kekurangan volume harian. Berikan sprei katun lembut. contoh muntah gangguan proses berlebihan melalui dan diare pembekuan. ekimosis. Catat berlebihan melalui cairan berhubungan kehilangan melalui diare. 2) Melaporkan terporong pada pasien penurunan koma atau selama jam pruritus/lecet tidur. nadi proses pembekuan perifer. contoh hematuria/melena. menggunakan lap nadi perifer kuat. sikat gigi 5) Observasi tanda perdarahan. difenhidramin (Benadryl) Antilipemik. dibuktikan oleh Ukur lingkar abdomen tanda vital stabil. Berikan masase pada waktu tidur 5) Hindari komentar tentang penampilan pasien Kolaborasi 6) Berikan obat sesuai indikasi : Antihistamin. pengisian dapat teratasi. contoh metdilazin (Tacaryl). kriteria: dan membran mukosa 1) Mempertahankan 3) Periksa asites atau hidrasi adekuat pembentukan edema. asites. perdarahan 21 . turgor kulit. gangguan 2) Kaji tanda vital. dengan kehilangan usus. 4) Biarkan pasien pengisian kepiler. contoh koletramin (Questran) 4. diare. asites. katun/spon dan dan haluaran urine pembersih mulut untuk individu sesuai. Risiko tinggi Setelah dilakukan Mandiri terhadap kekurangan tindakan keperawatan 1) Awasi masukan dan volume cairan diharapkan Risiko haluaran. sesuai indikasi turgor kulit baik.

Harga diri rendah Setelah dilakukan Mandiri : siatuasional tindakan keperawatan 1. contoh simetidik (Tagamet) 6. dan waktu pembekuan 2. Hindari membuat lama/periode yang lama/periode penilaian moral tentang penyembuhan penyembuhan dapat pola hidup (penggunaan teratasi. contoh Hb/Ht. Kontrak dengan pasien berhubungan dengan diharapkan Harga diri mengenai waktu untuk gejala rendah siatuasional mendengar jengkel/marah. elektrolit : 3. Menyatakan tingkat energy penerimaan diri. berhubungan dengan 2. Mengidentifikasi penyembuhan perasaan dan 5. Dorong diskusi terkurung/isolasi. Na+ albumin. 7. gejala jengkel/marah. sakit 3. perasaan/masalah sakit yang terkurung/isolasi. Berikan cairan IV biasanya glukosa). Awasi nilai laboratorium. Anjurkan pasien dan lamanya menggunakan warna penyembuhan/ merah terang atau 22 . Antasida atau reseptor H2 antogonis. Plasma beku segar (fresh frozen plasma/FFP) 5. misal: difenoksilat dan atripin (Lomotil) 7. Vitamin K 5. Obat-obat antidiare. senggang berdasarkan 2. Diskusikan harapan 1. Protein hidrolisat 4. dengan alkohol/praktik seksual) kriteria: 4. terus menerus dari gusi/bekas injeksi Kolaborasi 1. Tawarkan aktivitas negatif. Kaji efek penyakit pada metode untuk faktor ekonomi koping terhadap pasien/orang terdekat persepsi diri 6.

pelayanan masyarakat. 3) Awasi/batasi dengan kriteria hasil: pengunjung sesuai 1. melakuakn globulin. gram negatif. asiklovir (Zovirax). dan penekanan respon pengunjung sesuai depresi imun inflamasi. 2) Awasi/batasi inflamasi. kebutuhan isolasi biru/hitam daripada 3. interferon alfa-2b (Intron-A) b. 6) Berikan obat sesuai indikasi : a. Buat rujukan yang tepat pada diri sendiri untuk membantu. dan/atau lembaga komunitas lain. pertahan primer tidak efektif penekanan respon adekuat. Obat antivirus: vidaralun (Vora-A). Resiko tinggi Setelah dilakukan 1) Lakukan teknik isolasi terhadap infeksi tindakan keperawatan untuk infeksi enterik dan berhubungan denagn diharapkan Resiko pernapasan sesuai pertahan primer tinggi terhadap infeksi kebijakan rumah sakit: tidak adekuat. ISG. Menunjukkan tentang adanya gama teknik. sesuai kebutuhan. HBIG. dan depresi indikasi imun dapat teratasi. perubahan pola vaksin hepatitis B hidup untuk (recombivax HB. Antibiotik tepan untuk agen pencegahan (contoh. contoh perencanaan pulang. leukopenia. 6. Mengakui diri kuning atau hijau sebagai orang yang . bakteri 23 . menghindari Engerix-B) melalui infeksi departemen kesehatan ulang/trasmisi ke atau dokter keluarga orang lain. Kolaborasi bertanggung jawab 1. berhubungan denagn termasuk cuci tangan leukopenia. Menyatakan indikasi pemahaman 4) Jelaskan prosedur isolasi penyebab pada pasien/orang individu/faktor terdekat risiko 5) Berikan informasi 2. berguna.

infeksi. Nyeri akut Setelah dilakukan 1) Kaji skala nyeri (0-10). Dorong penggunaan dengan kriteria: teknik relaksasi atau 1. bakteri anaerob) atau proses sekunder 7. tambahkan linen dengan tidak terhadap perubahan tempat tidur sesuai efektifnya suhu tubuh indikasi. tubuh berhubungan diharapkan Risiko batasi. termoregulasi berhubungan dengan 3) Berikan kompres mandi sekunder terhadap tidak efektifnya hangat. berhubungan dengan tindakan keperawatan selidiki keluhan nyeri refleks spame otot diharapkan Nyeri akut 2) Pertahankan tirah sekunder terhadap berhubungan dengan baring hepar refleks spame otot 3) Berikan pilihan sekunder terhadap tindakan nyaman. gram begatif. dengan kriteria hasil: 1. Menunjukkan penggunaan metode yang menghilangkan nyeri 8. Mendemontrasikan suhu dalam batas normal. Antibiotik tepat untuk agen pencegahan (contoh. 24 . hepar dapat teratasi. Menyatakan aktivitas hiburan nyeri 4) Kolaborasi dalam hilang/terkontr pemberian analgetik ol 2. termoregulasi 4) Kolaborasi dalam sekunder terhadap pemberian antipiretik. infeksi dapat teratasi. 2. Mengikuti program terapeutik 3. anaerob) atau proses sekunder c. Bebas dari kedinginan. Risiko terhadap Setelah dilakukan 1) Pantau suhu pasien perubahan suhu tindakan keperawatan 2) Pantau suhu lingkungan.

contoh kontak informasi. 3. pengobatan berhubungan dengan prognosis. dengan faktor dengan periode istirahat penyebab adekuat. tidak terpajan/mengingat. kebutuhan (kebutuhan belajar) kemungkinan pilihan pengobatan tentang kondisi. dengan cuci piring. diharapkan Kurang proses penyakit. masalah informasi. mengenal sumber tekankan cuci tangan informasi dapat dan sanitasi pakaian. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan Mandiri (kebutuhan belajar) tindakan keperawatan 1) Kaji tingkat pemahaman tentang kondisi. Diskusikan 3. kontak pengobatan seksual dan terpajan 2. dan 2) Berikan informasi kurang kebutuhan pengobatan khusus tentang terpajan/mengingat. Menyatakan hati masih tinggi. khususnya hubungan infeksi saluran kemih tanda/gejala (ISK). pemahaman proses Hindari kontak intim. contoh masukan cairan adekuat/diet serat. teratasi. dan pengetahuan harapan/ prognosis. dan fasilitas kriteria: kamar mandi bila enzim 1. penyakit dan seperti ciuman. Mengidentifikasi pada infeksi. 9. informasi. aktivitas/latihan sedang 25 . yang memerlukan gama mengenal sumber salah interpretasi globulin. Tidak mengalami komplikasi yang berhubungan. latihan dan berpartisipasi keras/olahraga pada pengobatan 4) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas pengalih 5) Dorong kesinambungan diet seimbang 6) Identifikasi cara untuk mempertahankan fungsi usus biasanya. tidak pribadi tak perlu dibagi. berhubungan dengan pencegahan/penularan salah interpretasi kurang penyakit. penyakit dan 3) Rencanakan memulai hubungan gejala aktivitas sesuai toleransi. Melakukan pembatasan mengangkat perubahan perilaku berat. prognosis.

sulfonamid. Diskusikan pembatasan donatur darah 3. Tekankan pentingnya mengevaluasi pemeriksaan fisik dan evaluasi laboratorium 4. Diskusikan efek samping dan bahaya minum obat yang dijual bebas/diresepkan (contoh asetaminofen. aspirin. Kaji ulang perlunya menghindari alkohol selama 6-12 bulan minimum atau lebih lama sesuai toleransi individu 26 . 2. beberapa anestetik) dan perlunya melaporkan ke pemberi perawatan tentang diagnosa. sesuai toleransi Kolaborasi: 1.

1999). Hepatitis D :masa inkubasi 35 hari. Hepatitis B :masa inkubasi 30-180 hari. 3.1 Kesimpulan Hepatitis adalah suatu proses peradangan difusi pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. Klasifikasi dan penyebab Hepatitis yakni: 1. obat – obatan. Hepatitis E :masa inkubasi 14-63 hari. Bagi pembaca. Hepatitis virus dapat dibagi ke dalam hepatitis : Hepatitis A. Bagi penyusun. Hepatitis A : masa inkubasi 14-49 hari. B. E.2 Saran 1. agar lebih giat lagi dalam mencari referensi-referensi dari sumber rujukan. cara penularan melalui fekal oral 3. sedangkan Hepatitis Non Virus : alkohol. cara penularan melalui pereteral 4. agar dapat memberikan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah ini. Bagi Institusi. agar dapat menyediakan sumber-sumber bacaan baru. BAB III PENUTUP 1. bahan beeracun. (Sujono Hadi. karena dengan semakin banyak sumber yang di dapat semakin baik makalah yang dapat disusun. sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar. cara penularan melalui fekal oral 2. 27 . cara penularan melalui pereteral 5. Hepatitis C :masa inkubasi 15-150 hari. cara penularan melalui pereteral 3. akibat penyakit lain. C. 2. D.

Jakarta: Salemba Medika Jufferi. Muhammad. 2013. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Diagnosis Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis. Juall Carpenito. The Mc Graw Hill Company. L. Diagnose keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Buku 1. 2009. Dalam: Harrison’s Principles of Internal Medicine Volume II 17th Edition. Jakarta: Salemba Medika. Aziz. Arief dan Kumala Sari. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. NANDA. Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2009 . 1932-1948. 2010. DAFTAR PUSTAKA Alimul. Jakarta: EGC Muttaqin. Jakarta: IDAI 28 . Acute Viral Hepatitis. 2010.2011. Dienstag. Jakarta: EGC Lynda. 2008. Jakarta: EGC NANDA. 2012. 2009. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi. J.