You are on page 1of 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Amputasi merupakan pembedahan yang menghilangkan sebagian atau
seluruh anggota tubuh bagian ekstremitas. Seringkali masyarakat merasa takut
dan tidak mau untuk diamputasi karena masyarakat atau klien menggangap hal
tersebut sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Padahal dalam
konteks pembedahan, amputasi bertujuan untuk menyelamatkan hidup.
Secara umum, amputasi merupakan pilihan pembedahan yang terakhir,
dimana sedapat mungkin dilakukan prosedur bedah yang mempertahankan
ekstremitas. Namun pada beberapa kondisi, antara lain pada sarkoma jaringan
lunak yang sudah menginfiltrasi semua struktur lokal di ekstremitas, amputasi
merupakan pilihan. Sebagai ukuran medis, amputasi digunakan untuk
memeriksa rasa sakit atau proses penyebaran penyakit dalam kelenjar yang
terpengaruh, misalnya pada malignancy atau gangrene. Dalam beberapa kasus
amputasi dilakukan untuk mencegah penyakit tersebut menyebar lebih jauh
dalam tubuh. Jadi, amputasi dilakukan sebagai pilihan terakhir jika segala
pengobatan yang telah dilakukan tidak berhasil.

1.2 Tujuan

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan suatu gambaran,
penjelasan yang lebih mendalam mengenai amputasi. Diharapkan masyarakat
dapat mengetahui tentang amputasi itu sendiri, pengobatan setelah amputasi
dengan cara yang tepat dan dukungan yang perlu diberikan pada klien yang
mengalami amputasi.

1.3 Rumusan Masalah

1) Apakah yang menyebabkan tindakan amputasi?
2) Bagaimana metoda dan klasifikasi dari amputasi?
3) Bagaimana patofisiologi terjadinya amputasi?

Amputasi Page 1

4) Bagaimana latihan ROM aktif dan pasif bagi klien ini?
5) Bagaimana peran perawat dalam membantu menghadapi ganguan
psikologis yang dialami klien?
6) Bagaimana Asuhan Keperawatan terhadap klien amputasi?

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah
metode pustaka dan studi literatur, dengan mencari dan mengumpulkan data
penting dari berbagai sumber seperti website dan situs-situs internet serta buku-
buku yang ada.

Amputasi Page 2

2 Etiologi Indikasi utama bedah amputasi adalah karena: 1.1 Konsep Amputasi 2. Iskemia Iskemia karena penyakit reskulanisasi perifer. Labih lanjutnya dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas.1 Pengertian Amputasi Amputasi berasal dari kata “amputare“ yang kurang lebih diartikan “pancung”. bisanya pada oang tua. kecelakaan kendaraan bermotor.1. 807). Gas ganggren Amputasi Page 3 . Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain. thermal injury seperti (terbakar).1. infeksi. sistem muskuloskeletal dan sistem cardiovaskuler. sistem persyarafan. atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi. 1988. Trauma amputasi Bisa diakibatkan karena perang. gangguan metabolism seperti pagets deases dan kelainan congenital. seperti klien dengan arteriosklerosis. diabetes mellitus. 3. atau dengan kata lain suatu tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh (Burner. 2. 2. Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen. BAB II KONSEP 2.

3. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien. Keadaan nyeri akut dan dimana otot dan jaringan subkutan menjadi terisi dengan gas dan eksudat serosangiunosa. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas. Amputasi akibat trauma Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. yang diantaranya adalah berbagai spesies clostridium. 2. Osteomielitis Peradangan pada tulang (bisa menyebabkan lumpuh) dan bias juga terjadi assending infection. 4. 6. Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki.4 Metode Pelaksanaan Amputasi Amputasi dilakukan dengan 2 metode yaitu: 1.3 Jenis Amputasi Berdasarkan pelaksanaan amputasi. Amputasi selektif/terencana Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus.1. Amputasi darurat Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. 5.1. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir 2. dibedakan menjadi : 1. Metode terbuka (guillotine amputasi) Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengemban. disebabkan infeksi luka oleh bakteri anaerob. 2. Keganasan Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif. Bentuknya benar-benar terbuka dan dipasang drainage agar luka Amputasi Page 4 .

 Pada cedera. Amputasi Page 5 . dan luka dapa ditutup setelah tidak terinfeksi.  Pada penyakit pembuluh darah.2 Batas dan Tingkatan Amputasi 2.2. bersih. ditentukan oleh peredaran darah yang adekuat. Ekstremitas atas Amputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau kiri. mempertahankan intaks jaringan. maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/mencegah terjadinya infeksi. Dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan tulang. ditentukan oleh vaskularisasi sisa ekstremitas dan daya sembuh luka puntung 1. menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur. Setelah dilakukan tindakan pemotongan. dan persiapan untuk penggunaan protese (mungkin). Hal ini berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan. dan dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama 2. ditentukan oleh daerah bebas tumor dan bebas resiko kekambuhan lokal. Berdasarkan pada gambaran prosedur tindakan pada klien yang mengalami amputasi maka perawat memberikan asuhan keperawatan pada klien sesuai dengan kompetensinya.  Pada tumor. 2.1 Tingkatan amputasi ditentukan oleh luas dan jenis penyakit. Metode tertutup Pada metode ini kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi.

Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas ini dibagi menjadi dua letak amputasi yaitu :  Amputasi dibawah lutut (below knee amputation). berpakaian dan aktivitas yang lainnya yang melibatkan tangan. minum. Amputasi jenis ini merupkan tebanyak kedua stelah amputasi bawah lutut. Tension myodesis adala mengikatkan group otot tuang dengan tulang. Cara ini berguan untuk menstabilkan stump dan sangat ditekankan untuk penderita yang masih aktif dan masih muda. Nekrosis Amputasi Page 6 . Pada amputasi jenis ini persendian lutut hilang. Ekstremitas bawah Amputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau sebagian dari jari-jari kaki yang menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya. sedangkan myoplasty adalah menjahitkan otot dengan jaringan lunak pada sisi yang lain yaitu pada otot atau fasia sebelahnya. Amputasi tulang setinggi 5 cm atau kurang dari distal trochanter minor akan mempunyai fungsi dan kekuatan penggunaan postesis sama dengan hip disarticulation. Prosthesis yang konvensional membutuhkan jarak 9-10 cm dari distal stump sehingga bisa berfungsi seperti sendi lutut. 3. Hal ini dibedakan erhubungan dengan cara menutup flap yang berbeda. 2. Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada nonischemic limb dan inschemic limb. mandi. Pada amputasi jenis ini dikenal tension myodesis dan myoplasty.  Amputasi diatas lutut (above knee amputation) Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien dengan penyakit vaskuler perifer. maka harus dipikirkan yang terbaik yang dapat menyangga berat badan.

2. Hal ini dapat dicegah dengan memotong saraf lebih proximal dari stump sehingga tertanam di dalam otot. Hal ini dapat diatasi dengan obat-obatan. Kontraktur Kontraktur sendi dapat dicegah dengan mengatur letak stump amputasi serta melakukan latihan sedini mungkin. bila tidak berhasil dilakukan reamputasi dengan level yang lebih tinggi. Neuroma Terjadi pada ujung-ujung saraf yang dipotong terlalu rendah sehingga melengket dengan kulit ujung stump. 6. stimulasi terhadap saraf dan juga dengan cara kombinasi. 2. Pada keadaan nekrosis biasanya dilakukan dulu terapi konservatif.2 Batas dan Lokasi Amputasi Amputasi Page 7 . Terjadinya kontraktur sendi karena sendi terlalu lama diistirahatkan atau tidak di gerakkan 5. 4. Phantom sentation Hampir selalu terjadi dimana penderita merasakan masih utuhnya ekstremitas tersebut disertai rasa nyeri.

tidak dipakai batas amputasi tertentu. Pada ekstremitas atas. sedangkan pada ekstremitas bawah lazim dipakai “Batas Amputasi Klasik” Penilaian batas amputasi: 1. Amputasi transmetatarsal memberi puntung yang baik. Jari dan kaki Pada amputasi jari tangan dan kaki penting untuk mempertahankan falanx dasar. Amputasi di sendi tarso-metatarsus lisfranc mengakibatkan per ekuinus Amputasi Page 8 .

6. Bila jarak dari sendi lutut kurang dari 5 cm. Amputasi ini dapat dilakukan pada penderita geriatrik. protesis mustahil dapat dikendalikan. 9. Lengan bawah Amputasi Page 9 . 4. tetapi memerlukan kemauan dan motivasi kuat dari penderita. Pergelangan tangan Dipertahankan fungsi pronasi dan supinasinya. tergantung keadaan setempat. Tangan Amputasi parsial jari atau tangan harus sehemat mungkin setiap jari dengan sensitibilitas kulit dan lingkup gerak utuh berguna sekali sebab dapat digunakan untuk fungsi menggenggam atau fungi oposisi ibu jari. 7. Protesis akan lebih sukar dipasang. 5. Proksimal sendi pergelangan kaki Amputasi transmaleolar baik sekali bila kulit tumit utuh dan sehat sehingga dapat menutup ujung puntung. Tungkai atas Puntung tungkai atas sebaiknya tidak kurang dari 10cm dibawah sendi panggul. 3. Eksartikulasi dapat menahan pembebanan. Tangan mioelektrik maupun kosmetik dapat dipakai tanpa kesulitan. 8. Eksartikulasi kulit Eksartikulasi lutut menghasilkan puntung yang baik sekali. Protesis untuk hemipelvektomi tersedia. Tungkai bawah Panjang puntung tungkai bawah paling baik antara 12 dan 18 cm dari sendi lutut. usia penderita dan tinggi badan. Sendi panggul dan hemipelvektomi Eksartikulasi sendi panggul kadang dilakukan pada tumor ganas. karena bisa menyebabkan kontraktur fleksi-abduksi- eksorotasi. 2. dengan pembebanan berlebih pada kulit ujung puntung yang sukar ditanggulangi. Puntung juga tidak boleh kurang dari 10 cm diatas sendi lutut karena ujung puntung sepanjang ini sukar dibebani.

Puntung harus sekurang-kurangnya distal insersi M. Biseps dan M. Brakhialis untuk fleksi siku. Siku dan lengan atas Ekssartikulasi siku mempunyai keuntungan karena protesis dapat dipasang tanpa fiksasi sekitar bahu. leukosit menekan saraf merangsang hipotalamus menempel pada jaringan luka Nyeri persepsi nyeri pus yang purulen phantom limb Amputasi Page 10 . yang merupakan amputasi termausk gelang bahu. dolor saraf terputus vasokontriksi dilatasi histamine. 10. Eksartikulasi bahu dan amputasi intertorakoskapular . Batas amputasi di pertengahan lengan bawah paling baik untuk memasang protesis. protesis harus dipertahankan dengan ikatan dan fiksasi pada bahu. 2. bradikinin ujung saraf makrofag.3 Patofisiologi Kecelakaan lalu lintas Fraktur Defisit pengetahuan Penanganan yang salah Informasi Nekrosis jaringan Gas ganggren terputusnya kontinuitas tlg otot saraf amputasi hilang organ luka pasca amputasi gangguan citra diri invasi bakteri infeksi inflamasi kalor. rubor. Pada amputasi di diafisis humerus. ditangani dengan protesis yang biasanya hanya merupakan protesis kosmetik.

Laboratorik Tindakan pengkajian dilakukan juga dengan penilaian secara laboratorik atau melalui pemeriksaan penunjang lain secara rutin dilakukan pada klien yang akan dioperasi yang meliputi penilaian terhadap fungsi paru. Kulit secara umum. perdarahan atau kerusakan progesif.Pemeriksaan pasca amputasi 2.1 Pemeriksaan Radiologi . fungsi ginjal.4.2 Kondisi fisik SISTEM TUBUH KEGIATAN Integumen: Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat hidrasi. .4.4 Pemeriksaan Diagnostik 2.Scan) . Kaji kondisi jaringan diatas lokasi amputasi terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus return. fungsi hepar dan fungsi jantung.X-ray . Sistem Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan Cardiovaskuler: pada klien sebelum operasi sebagai salah satu indikator Cardiac reserve fungsi jantung. Lokasi amputasi Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut atau kondisi semakin buruk. Pembuluh darah Amputasi Page 11 .Kultur jaringan . pasang stump gangguan mobilitas fisik 2.Biopsy .Radiologi (ST.

Lansia mungkin mengalami keterlambatan penyembuhan. Cairan dan elektrolit Mengkaji tingkat hidrasi. pengontrolan edema sisa tungkai dengan balutan kompres lunak atau rigid. khususnya sistem motorik dan sensorik daerah yang akan diamputasi.5 Penatalaksanaan Tujuan utama pembedahan adalah mencapai penyembuhan luka amputasi. Sistem Mukuloskeletal Mengkaji kemampuan otot kontralateral. BJ urine. Sistem Respirasi Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai adanya sianosis. menghasilkan sisa tungkai (puntung) yang tidak nyeri tekan dengan kulit yang untuk menggunakan prostesis. karena nutrisi yang buruk dan masalah kesehatan lain. Memonitor intake dan output cairan. dan bantalan dipasang pada daerah peka tekanan.Pasang kaus kaki steril pada sisi steril. 1. Balutan Rigid Tertutup Digunakan untuk mendapatkan kompresi yang merata. Sistem Urinari Mengkaji jumlah urine 24 jam. Menkaji adanya perubahan warna. Mengkaji sistem persyarafan. dan menggunakan teknik aseptic dalam perawatan luka untuk menghindari infeksi. Segera setelah pembedahan balutan gips rigid dipasang dan dilengkapi tempat memasang ekstensi prosthesis sementara (pylon) dan kaki buatan. serta mencegah kontraktur. menyangga jaringan lunak dan mengontrol nyeri. Sistem Neurologis Mengkaji tingkat kesadaran klien. Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian terhadap elastisitas pembuluh darah. Sisa tungkai Amputasi Page 12 . riwayat gangguan nafas. Percepatan penyembuhan dapat dilakukan dengan penanganan yang lembut terhadap sisa tungkai. 2.

Pada amputasi karena pembuluh darah. termasuk defek faal. Amputasi Bertahap Dilakukan bila ada gangren atau infeksi. Sepsis ditangani dengan antibiotik. Pertama-tama dilakukan amputasi guillotine untuk mengangkat semua jaringan nekrosis dan sepsis. prosthesis sementara diberikan setelah empat minggu. Artinya defek system musculoskeletal harus diatasi. bahkan dengan tangan mioelektrik canggih yang bekerja atas sinyal mioelektrik dari otot biseps dan triseps. Kadang prosthesis darurat baru diberikan setelah satu minggu luka menyembuh tanpa penyulit. Dalam beberapa hari. Pada ekstremitas bawah. 4. 2. Gips diganti sekitar 10-14 hari. 3. tujuan prosthesis ini sebagian besar dapat dicapai.6 Komplikasi 1. nyeri berat atau gips mulai longgar harus segera diganti. bila infeksi telah terkontrol dank lien telah stabil. Bila terjadi peningkatan suhu tubuh. tujuan itu sulit dicapai. Sebaliknya untuk ekstremitas atas. Bidai imobilisasi dapat dibalutkan pada balutan. (puntung) kemudian dibalut dengan gips elastisyang ketika mengeras akan memberikan tekanan yang merata. dilakukan amputasi definitive dengan penutupan kulit. Balutan Lunak Balutan lunak dengan atau tanpa kompresi dapat digunakan bila diperlukan inspeksi berkala sisa tungkai (puntung) sesuai kebutuhan. Prostesis Sementara kadang diberikan pada hari pertama pascabedah. Keuntungan menggunakan prostesis sementara adalah membiasakan klien menggunakan prosthesis sedini mungkin. sehingga latihan segera dapat dimulai. 2. Prostesis bertujuan untuk mengganti bagian ekstremitas yang hilang. Luka didebridemen dan dibiarkan mengering. Kecepatan metabolisme Amputasi Page 13 .

c. Sistem respirasi a. Peningkatan denyut nadi Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik. diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa. b. hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma. pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi setempat. Mekanisme batuk tidak efektif Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal. Perubahan perfusi setempat Dalam posisi tidur terlentang. 4. Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal. sehingga terjadi peningkatan diuresis. endokrin dan mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi. b. 2. jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia. Penurunan cardiac reserve Amputasi Page 14 . Sistem Kardiovaskuler a. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH. maka kontraksi otot intercosta relatif kecil. Penurunan kapasitas paru Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang. 3.

demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot. akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot. 6. Sistem Muskuloskeletal a. c. 5. b. Kontraktur sendi Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak. Anoreksia Amputasi Page 15 . hal ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup. Orthostatik Hipotensi Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer. Atropi otot Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Sistem Pencernaan a. c. Penurunan kekuatan otot Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan. Osteoporosis Terjadi penurunan metabolisme kalsium. vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah. dimana anterior dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat. jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun. volume darah yang bersirkulasi menurun. Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos. d. Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat.

2. menggunakan pakaian. maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar. b.7 Peran perawat  Libatkan klien dalam melakukan perawatan diri yang langsung menggunakan putung: perawatan luka. sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi.Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal. hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah. pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan : . Hal itu dapat mendorong antisipasi meningkatkan adaptasi pada perubahan citra tubuh  Berikan dukungan moral untuk meningkatkan status mental klien Amputasi Page 16 . Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan. menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar. mandi. 7. Sistem perkemihan Dalam kondisi tidur terlentang. Sistem integumen Tirah baring yang lama. Konstipasi Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia. 8.Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK. .

 Berikan informasi bahwa amputasi merupakan tindakan untuk memperbaiki kondisi klien dan merupakan langkah awal untuk menghindari ketidakmampuan atau kondisi yang lebih parah.8 Asuhan Keperawatan A.  Hadirkan orang yang pernah amputasi yang telah menerima dirinya di amputasi  Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan tentang dampak pembedahan pada gaya hidup karena itu dapat mengurangi rasa tertekan dalam diri klien.  Berikan informasi yang adekuat dan rasional tentang alasan pemilihan tindakan pemilihan amputasi.M Umur : 34 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Diagnosa Medis : Amputasi above knee Keluahan Utama : Nyeri bila stump digerakkan Riwayat Penyakit Sekarang : P : Nyeri bila stump digerakkan Q: R : Kaki Kanan S: T: Riwayat Penyakit Masa Lalu : - Riwayat Penyakit Keluarga : - Amputasi Page 17 . menghindarkan depresi. Pengkajian Nama : Tn. Hal itu dapat membantu klien menggapai penerimaan terhadap kondisinya melalui teknik rasionalisasi.itu sangat di butuhkan untuk meningkatkan dukungan mental 2. meningkatkan dukungan mental.

60C HR : 92x/menit RR : 18x/menit Pemeriksaan Head to toe : Inspeksi : tampak tulang femur yang dikelilingi luka berwarna kemerahan. Pemeriksaan Fisik : TTV TD : 110/80 mmHg S : 37. Perkusi :- Auskultasi :- Pemeriksaan Diagnostik : - B. pada bagian tepi luka tampak masih mengeluarkan pus (5cc) berwarna kuning kental. Analisa Data No Data Etiologi Diagnosa 1. Terdapat 10 jahitan. Palpasi : kulit sekitar luka teraba hangat. Hipotalamus klien juga masih Persepsi nyeri bedrest di tempat tidur Phantom limb DS : Klien Pasang stump mengatakan lemah Nyeri dan nyeri bila stump digerakkan 2. otot dan saraf kemerahan. tepi luka Ujung saraf mengeluarkan pus dan terdapat 10 jahitan. DO : klien masih Amputasi Gangguan Mobilitas Amputasi Page 18 . DO : tampak tulang Amputasi Gangguan Rasa femur yang dikelilingi Nyaman : Nyeri Terputusnya continuitas luka berwarna tulang.

DO : terlihat tulang Amputasi Infeksi femur dengan luka Luka pasca operasi kemerahan. mengeluarkan pus Invasi bakteri kuning kental. saraf  Hilangnya organ (ekstremitas)  Perubahan fisik  Gangguan citra diri 4. bedrest di tempat tidur  Fisik karena lemah dan Terputusnya kontinuitas nyeri bila stump tulang. saraf digerakkan  Hilangnya organ (ekstremitas)  Gangguan mobilitas 3. otot. kulit Infeksi sekitar luka teraba hangat C. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hilangnya ekstremitas ditandai dengan bedrest. Gangguan Rasa Nyaman: Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas tulang ditandai dengan nyeri pada stump 2. DO : klien dilakukan Amputasi Gangguan Citra Diri amputasi above knee  Terputusnya kontinuitas tulang. otot. Amputasi Page 19 .

Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. D. tapi tidak boleh Amputasi Page 20 . berkurang  Tinggikan distraksi akan  Ekspresi wajah stump membantu klien rileks  Berikan mengalihkan kompres focus klien - hangat terhadap nyeri  Berikan  Memperlancar massage peredaran Kolaborasi : darah sehingga  Berikan mengurangi analgetik rasa nyeri. Gangguan nyeri hilang /  Kaji TTV  Untuk rasa nyaman dan skala menentukan berkurang dengan : nyeri b. tekhnik nyeri hilang stump relaksasi relaksasi untuk  Skala nyeri dan mengurangi distraksi rasa nyeri.d nyeri intervensi kriteria hasil : terputusnya  Ajarkan selanjutnya kontinuitas  Klien tekhik  Napas dalam tulang d. Rencana Asuhan Keperawatan No.  Mengurangi rasa nyeri. 3. 4.d napas merupakan menyatakn nyeri pada dalam. Infeksi berhubungan dengan luka pasca operasi ditandai dengan pus purulen. Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan fisik ditandai dengan hilangnya anggota tubuh.

d kriteria hasil sbb : imobilisasi.d bedrest. dengan aman. kaki Amputasi Page 21 . ekstremitas rentang gerak partisipasi  Mempercepat d. pada klien untuk  Tetap seimbang aktivitas dapat saat duduk dan terapeutik. setelah secara mandiri. aktif. bermobilisasi. dilakukan jika pada luka terbuka karena akan membuat pembuluh darah bervasodilatasi  Mengurangi rasa nyeri dan membuat klien lebih nyaman. perubahan klien dalam  Meningkatkan posisi : memenuhi kekuatan dan berdiri kebutuhannya ketahanan. jangan massage pada area luka  Obat pereda nyeri 2. Gangguan Mencapai mobilitas Mandiri :  Mengetahui mobilitas mandiri dengan  Kaji derajat kemampuan fisik b.  Mampu duduk atau  Mencegah menggunakan berdiri kontraktur prostesis dengan satu sendi. klien dalam hilangnya  Memperlihatkan  Dorong aktivitas. berpindah misalnya  Memudahkan tempat.

dibutuhkan atrofi.  Dorong klien untuk melakukan latihan otot. latihan pinggul untuk klien amputasi atas lutut dan latihan pada tungkai yang diamputasi.  Mempu  Dekatkan  Menguatkan menggunakan alat-alat otot dan alat bantu saat yang mencegah mobilisasi. latihan  Membantu panggul dan penyembuhan lutut pada klien. klien untuk  Membantu melakukan klien dalam latihan mobilisasi.  Menghindari  Dorong dekubitus. klien. gerak sendi  Memudahkan (ROM) : mobilisasi. klien amputasi bawah lutut.  Merubah posisi setiap Amputasi Page 22 .

dukungan agar  Memperlihatkan  Dorong klien tidak peningkatan klien untuk merasa sendiri. mengungkapka hilangnya  Menerima  Jalin n perasaannya.  Ajarkan klien menggunaka n prostesis. atau tongkat.  Bantu klien dalam mobilisasi dengan kursi roda.d hasil sbb : klien. 3.  Klien Amputasi Page 23 . kruk. klien. Kolaborasi :  Ahli fisioterapi dan ahli prostesis. kemandirian. dalam aktivitas dengan  Memberi perawatan diri. Gangguan Memperlihatkan Mandiri :  Memfasilitasi citra diri b. melihat. 3-4 jam sekali dan gunakan kasur busa. perubahan diri dengan kriteria sikap positif  Klien mau fisik d. saling penerimaan diri  Berpartisipasi percaya klien. anggota perubahan citra hubungan  Melatih tubuh.d peningkatan citra  Identifikasi rehabilitasi. diri.

d Infeksi berhenti dan  Kaji adanya  Untuk luka pasca tidak menyebar tanda-tanda menentukan operasi d. melakukan percaya diri perawatan untuk pada sisa mencegah tungkai.d dengan kriteria : infeksi dan intervensi pus purulen  Nilai Leukosit derajat selanjutnya normal keparahan  Mencegah  Luka tidak infeksi masuknya kemerahan  Ganti mikroorganism  Luka tidak balutan e lain penyebab mengeluarkan secara teratur infeksi Amputasi Page 24 .  Memperlihatkan merasakan. frustasi.  Sertakan  Membantu keluarga klien dalam dalam penerimaan mendukung dirinya. klien.  Bantu klien mencapai tujuan realistik secara bertahap. Kolaborasi:  Konsultasi dengan psikolog jika diperlukan. Infeksi b. 4. mempunyai rasa percaya kemudian kekuatan dan diri.

bersih dan nyaman Amputasi Page 25 . pus dengan  Menghindari  Luka tidak tekhnik steril penyebaran bengkak  Cuci tangan infeksi  Luka tidak sebelum dan  Mencegah panas sesudah infeksi dan melakukan mencegah luka perawatan pada pasien luka bertambah  Jaga lingkungan pasien agar aman.

dimana sedapat mungkin dilakukan prosedur bedah yang mempertahankan ekstremitas. Amputasi Page 26 .1 Kesimpulan Amputasi adalah merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain.2 Saran Untuk mencegah amputasi maka kita harus mengobati luka yang ada dengan tepat karena kalau tidak diobati akan terjadi gangguan vaskuler dan akan mengakibatkan nekrosis jaringan yang kalau di biarkan harus di amputasi untuk mencegah penyebaran nekrotik. 4. Namun pada beberapa kondisi. amputasi merupakan pilihan. BAB III PENUTUP 4. amputasi merupakan pilihan pembedahan yang terakhir. antara lain pada sarkoma jaringan lunak yang sudah menginfiltrasi semua struktur lokal di ekstremitas. atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi.

Jakarta: EGC Amputasi http//:www. 3 Januari 2018) Amputasi Page 27 .kardi- blogspot.2008. BAB IV DAFTAR PUSTAKA Brunner & suddart. 3 Januari 2018) Asuhan Keperawatan Amputasi http//: www.Nursingspirit. Kep.Jakarta:EGC Guyton hall.dkk.com/2009/07/ (Diakses Senin.blogspot.Html (Diakses Selasa.com/2008/11/akept-amputasi.Medikal Bedah.2001.Jakarta : EGC Suratun.2002.klien gangguan sistem muskuloskeletal seri Asuhan Keperawatan.Fisiologi kedokteran.