You are on page 1of 22

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM SPONTAN
DI RUANG TERATAI II RSUD KOTA BANJAR

Disusun Oleh :

NAMA : Ista Ziatiningrum
NIM : 108115054

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
STIKES AL-IRSYAD AL- ISLAMIYYAAH CILACAP
2017/2018

LAPORAN PENDAHULUAN
POST PARTUM SPONTAN

A. Pengertian
Partus spontan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan dengan ketentuan ibu atau tanpa anjuran atau obat-obatan
(prawiroharjo, 2000).
Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa nifas
(puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya
kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Post partum adalah masa 6
minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi sampai kembali ke keadaan
normal sebelum hamil (Bobak, 2010).
Partus di anggap spontan atau normal jika wanita berada dalam masa aterm,
tidak terjadi komplikasi, terdapat satu janin presentasi puncak kepala dan
persalinana selesai dalam 24 jam (Bobak, 2005).
Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum sewaktu
persalinan (Mohtar, 1998).

B. Etiologi
Penyebab persalinan belum pasti diketahui,namun beberapa teori
menghubungkan dengan faktor hormonal,struktur rahim,sirkulasi
rahim,pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi (Hafifah, 2011)
a Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormone progesterone
dan estrogen. Fungsi progesterone sebagai penenang otot –otot polos rahim
dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his
bila progesterone turun.
b Teori placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan
kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim

d Teori iritasi mekanik Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus franterrhauss). edema tangan dan muka.160/11o mmhg atau sistolik lebih dari atau sama dengan peningkatan 30 mmhg. diastole lebih dari atau sama dengan peningkatan 15 mmhg. Pre eklamsia ringan Tekanan darah 140/90. 2. Bila ganglion ini digeser dan di tekan misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus. Eklamsia Salah satu dari gejala diatas disertai kejang . Manifestasi Klinik 1. proteinuria kurang dari 5 gr/24 jam . amniotomi pemecahan ketuban). oksitosin drip yaitu pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus. C. e Induksi partus Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang dimasukan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser. 3. proteinuria kurang dari 5 gr/24 jam . Pre ekalmsia berat Tekanan darah lebih dari 160/110 mmhg. c Teori distensi rahim Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta. . edema tangan dan muka.

D. Pathways .

b) laserasi jalan lahir : perlukan serviks. partus lama dan pemberian narkosis merupakan predisposisi untuk terjadinya atonia uteri. Perdarahan post partum dapat diklasifikasi menurut kapan terjadinya perdarahan dini terjadi 24 jam setelah melahirkan. tiga penyebap utama perdarahan antara lain : a) Atonia uteri : pada atonia uteri uterus tidak mengadakan kontraksi dengan baik dan ini merupakan sebap utama dari perdarahan post partum. c) Retensio plasenta. Perdarahan post partum adalah : kehilangan darah lebih dari 500 cc setelah kelahiran kriteria perdarahan didasarkan pada satu atau lebih tanda-tanda sebagai berikut: a. vagina dan perineum dapat menimbulkan perdarahan yang banyak bila tidak direparasi dengan segera. kehamilan ganda. Perdarahan Perdarahan adalah penyebap kematian terbanyak pada wanita selama periode post partum.retensio . Sistolik atau diastolik tekanan darah menurun sekitar 30 mmHg c. Hb turun sampai 3 gram % (novak. Komplikasi 1.E. Kehilangan darah lebih dai 500 cc b. Perdarahan lanjut lebih dari 24 jam setelah melahirkan. 1998). syok hemoragik dapat berkembang cepat dan menadi kasus lainnya. dengan kehamilan dengan janin besar). Uterus yang sangat teregang (hidramnion. hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebapkan oleh gangguan kontraksi uterus.

5. Endometritis Adalah infeksi dalam uterus paling banyak disebapkan oleh infeksi puerperalis. ruptur membran memiliki resiko tinggi terjadinya endometritis (Novak. 1999). ditandai adanya kenaikan suhu > 38 0 dalam 2 hari selama 10 hari pertama post partum. inveksi saluran reproduksi selama masa post partum. di awali dengan pembengkakan. pembedahan caesaria. Infeksi puerperalis Didefinisikan sebagai. 4. 2. Penyebap klasik adalah : streptococus dan staphylococus aureus dan organisasi lainnya. 3) Inversio uteri (Wikenjosastro. 1999). Mastitis Yaitu infeksi pada payudara.8 %. 2000). plasenta adalah : tertahannya atau belum lahirnya plasenta atau 30 menit selelah bayi lahir. Bakteri vagina. Organisme terbanyak adalah Entamoba coli dan bakterigram negatif lainnya. robeknya otot uterus yang utuh atau bekas jaringan parut pada uterus setelah jalan lahir hidup. Bakteri masuk melalui fisura atau pecahnya puting susu akibat kesalahan tehnik menyusui. mastitis umumnya di awali pada bulan pertamapost partum (Novak. Insiden infeksi puerperalis ini 1 % . Infeksi saluran kemih Insiden mencapai 2-4 % wanita post partum. d) Lain-lain 1) Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka 2) Ruptur uteri. 3. pembedahan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. .

segera memeriksa perdarahan tersebut berasal dari retensio plasenta atau plasenta lahir tidak lengkap. terjadi pada tahun pertama. kehilangan kontrol. Tromboplebitis dan thrombosis Semasa hamil dan masa awal post partum. kehilanagan semangat (Novak. nyeri kepala. ganguan makan. dan lainnya. . Ibu bingung dan merasa takut pada dirinya. tidak tertarik pada sex. kurang konsentrasi. Penatalaksanaan atau Perawatan Post Partum Penanganan ruptur perineum diantaranya dapat dilakukan dengan cara melakukan penjahitan luka lapis demi lapis. akibatnya terjadi tromboplebitis (pembentukan trombus di pembuluh darah dihasilkan dari dinding pembuluh darah) dan trombosis (pembentukan trombus) tromboplebitis superfisial terjadi 1 kasus dari 500 – 750 kelahiran pada 3 hari pertama post partum. kesepian tidak aman. Wanita juga mengeluh bingung. faktor koagulasi dan meningkatnya status vena menyebapkan relaksasi sistem vaskuler. Selain itu dapat dilakukan dengan cara memberikan antibiotik yang cukup (Moctar. Post partum depresi Kasus ini kejadinya berangsur-angsur. perasaan obsepsi cemas. F. dan memperhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka kearah vagina yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka. Emboli Yaitu : partikel berbahaya karena masuk ke pembuluh darah kecil menyebapkan kematian terbanyak di Amerika (Novak. berkembang lambat sampai beberapa minggu. dysmenor. 1999). 6. Tandanya antara lain. 1999). 8. 1998). kesulitan menyusui. 7. Bila seorang ibu bersalin mengalami perdarahan setelah anak lahir. Prinsip yang harus diperhatikan dalam menangani ruptur perineum adalah: 1.

2. c. kemudian fasia perirektal dan fasia septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik sehingga bertemu kembali. b. d. Robekan perineum tingkat I : tidak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi luka baik. Bila plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi uterus baik. namun jika terjadi perdarahan segera dijahit dengan menggunakan benang catgut secara jelujur atau dengan cara angka delapan. Pertama otot dijahit dengan catgut kemudian selaput lendir. Penjahitan mukosa vagina dimulai dari puncak robekan. Vagina dijahit dengan catgut secara terputus.putus atau jelujur. Prinsip melakukan jahitan pada robekan perineum : a. Robekan perineum tingkat II : untuk laserasi derajat I atau II jika ditemukan robekan tidak rata atau bergerigi harus diratakan terlebih dahulu sebelum dilakukan penjahitan. Kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara jelujur. dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan pada jalan lahir. Jahitan dilakukan lapis demi lapis. Reparasi mula-mula dari titik pangkal robekan sebelah dalam/proksimal ke arah luar/distal. . dari lapis dalam kemudian lapis luar. Robekan perineum tingkat III : penjahitan yang pertama pada dinding depan rektum yang robek. selanjutnya dilakukan penjahitan.

Dalam menangani asuhan keperawatan pada ibu post partum spontan. Pemberian oksitosin Segera setelah plasenta dilahirkan oksitosin (10 unit) ditambahkan dengan cairan infuse atau diberikan secara intramuskuler untuk .e. maka cairan pengganti merupakan tindakan yang vital. Pemberian cairan intravena Untuk mencegah dehidrasi dan meningkatkan kemampuan perdarahan darah dan menjaga agar jangan jatuh dalam keadaan syok. Monitor TTV Tekanan darah meningkat lebih dari 140/90 mungkin menandakan preeklamsi suhu tubuh meningkat menandakan terjadinya infeksi. Menurut Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal (2008) kerjasama dengan ibu dan penggunaan perasat manual yang tepat dapat mengatur ekspulsi kepala. bahu. dilakukan berbagai macam penatalaksanaan. 3. seperti Dextrose atau Ringer laktat. atau dehidrasi. stress. kemudian dijahit antara 2-3 jahitan catgut kromik sehingga bertemu kembali. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat I. Meminimalkan Derajat Ruptur Perineum Menurut Mochtar (1998) persalinan yang salah merupakan salah satu sebab terjadinya ruptur perineum. f. diantaranya : 1. Robekan perineum tingkat IV : ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah karena robekan diklem dengan klem pean lurus. dan seluruh tubuh bayi untuk mencegah laserasi atau meminimalkan robekan pada perineum. 2.

Obat nyeri Obat-obatan yang mengontrol rasa sakit termasuk sedative. G. (Doenges. nyeri setelah melahirkan. perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas.2 : mulai latihan duduk . 4. Penatalaksanaan Medis 1. 3. Nyeri berhubungan dengan involusi uterus. Ansietas berhubungan dengan 3. Masalah Keperawatan 1. Hari ke. pemberian informasi tentang senam nifas. usahakan miring kanan kiri 3. alaraktik. Anastesi hilangnya sensori. 1995).1-2 : memberikan KIE kebersihan diri. 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang. membantu kontraksi uterus dan mengurangi perdarahan post partum. cara menyusui yang benar dan perawatan payudara. 2001) 2. Risiko Infeksi berhubungan dengan (Doenges. narkotik dan antagonis narkotik. obat ini diberikan secara regional/ umum (Hamilton. Hari ke. Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan) 2. 2001) H.

Ekspresi wajah nyeri (mis. gerakan Pain Inventory) mata berpencar atau tetap . Definisi : Pengalaman sensori dan emosional tidak meneyenangkan ang muncul akibat kerusakan jaringan actual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan ( International Association for the Study of Pain ). Brief tampak kacau. skala Wong-Baker for Senior with Limited FACES.Lapiran tentang perilak pada satu focus. menggunakan standart skala Pain Assessment Cheklist nyeri (mis. b. standart instrument nyeri ( mis. awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dipredikisi.Nyeri Akut a. proses berpikir. Batasan karakteristik . Fokus Intervensi Keperawatan 1. interaksi daftar periksa nyeri untuk dengan orang dan lingkungan) pasien yang tidak dapat .Keluhan tentang karakteristik .3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan I.Focus menyempit (mis. .Keluhan tentang intensitas Neonatal Infant Pain Scale. Ability to Communicate) skala penilaian numeric) . skala analog visual. persepsi menggunakan standart waktu. 5. McGill Pain Questionnare. meringis) nyeri/perubahan aktivitas .Dilatasipupil nyeri dengan menggunakan .Bukti nyeri dengan . Hari ke. wajah kurang bercahaya.Focus pada diri sendiri mengungkapkannya (mis.Diaphoresis .

frekuensi jantung. menangis waspada) ..Putus asa .Perubahan pada parameter fisiologi ( mis.Perilaku distraksi .Sikap tubuh melindungi .Mengekspresikan perilaku (mis. tekanan darah. frekuensi pernapasan .Perubahan selera makan . merengek.gelisah.Sikap melindungi area nyeri .Perubahan posisi untuk menghindari nyeri .

terpotong. agens mustard). trauma. durasi. Faktor yang berhubungan  Agens cedera biologis (mis. amputasi. kualitas dan Setelah dilakukan tinfakan faktor presipitasi keperawatan selama  Observasi reaksi nonverbal …. iskemia. secara komprehensif  comfort level termasuk lokasi.Melaporkan bahwa nyeri  Kurangi faktor presipitasi nyeri berkurang dengan  Kaji tipe dan sumber nyeri menggunakan untuk menentukan intervensi manajemen nyeri  Ajarkan tentang teknik non . Pasien tidak mengalami dari ketidaknyamanan nyeri. luka bakar. metilen klorida.Mampu mengontrol nyeri untuk mencari dan (tahu penyebab nyeri.Mampu mengenali nyeri farmakologi: napas dala. intensitas. karakteristik. (skala. olahraga berlebihan)  Agens cedera kimiawi (mis. Tujuan dan Kriteria Hasil NOC : NIC :  Pain Level. relaksasi. neoplasma)  Agens cedera fisik (mis. frekuensi. kapsaisin. luka bakar. suhu ruangan.Menyatakan rasa nyaman Berikan analgetik untuk setelah nyeri berkurang mengurangi nyeri . infeksi. c. menemukan dukungan mampu menggunakan  Kontrol lingkungan yang dapat tehnik nonfarmakologi mempengaruhi nyeri seperti untuk mengurangi nyeri. distraksi.Tidak mengalami gangguan berapa lama nyeri akan tidur berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur . dengan kriteria hasil:  Bantu pasien dan keluarga . mengangkat berat. .  Lakukan pengkajian nyeri  pain control. kompres frekuensi dan tanda nyeri) hangat/ dingin .Tanda vital dalam rentang  Tingkatkan istirahat normal  Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri. prosedur bedah. pencahayaan mencari bantuan) dan kebisingan . abses.

Ansietas Definsi : Perasaan tidak nyaman atau kekawatiran yang Samar disertai respon autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu). Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan kemampuan individu untuk bertindak menghadapi ancaman.Tampak waspada . Gelisah. Gelisah . Insomnia .  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali 2. Kontak mata yang buruk Affektif : .Mengekspresikan kekawatiran produktivitas karena perubahan dalam .Mengintai . perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Perasaan tidak . Gerakan yang ireleven peristiwa hidup . Penurunan .Peningkatan kewaspadaan . Ketakutan .Berfokus pada diri sendiri .Agitasi . Kesedihan yang mendalam . Melihat sepintas . Batasan Karakteristik Perilaku : . Distres adekuat .

Kesulitan bernapas . Menyadari gejala fisiologis . Anyang-anyangan . Peningkatan keringat . Wajah tegang. Bingung. . Tremor . Dorongan cegera berkemih Kognitif : . Ganguan tidur darah . Jantung berdebar.Peningkatan denyut nadi kardiovaskular . Diare. Gemetar. Mual. Kedutan pada otot Parasimpatik : . Anoreksia . Peningkatan ketegangan .. Penurunan tekanan .Vasokontriksi superficial darah .Rasa nyeri yang meningkatkan diri ketidakberdayaan . Diare. Vertigo . Nyeri abdomen .Peningkatan rasa ketidak berdayaan yang persisten Fisiologis : . Konfusi . Peningkatan tekanan .Iritabilitas . Sering berkemih nadi . Menyesal . Suara bergetar Simpatik : . Ragu/tidak percaya .Pupil melebar debar . Mulut kering .Gugup senang beniebihan . Letih. Lemah. Penurunan denyut . Bloking fikiran.Peningkatan reflek .Peningkatan frekwensi . Kesemutan pada ekstremitas . Eksitasi . Wajah merah pernapasan . Tremor tangan .Khawatir .

Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas. lingkungan. Coping Kriteria Hasil : . Perubahan dalam (status ekonomi. Herediter . Ketakutan terhadap konsekwensi yang tidak spesifik . . . Mengidentifikasi. Pemajanan toksin .status kesehatan. Melamun . Anxiety self-control . Khawatir. . Postur tubuh. Infeksi/kontaminan interpersonal Tujuan dan Kriteria Hasil : NOC . status peran) . Penurunan kemampuan belajar . Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah . Faktor Yang Berhubungan : . ekspresi wajah. Cenderung menyalahkan orang lain. Gangguan perhatian . mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas . Anxiety level . fungsi peran. pola interaksi. KesuIitan berkonsentrasi . . Lupa. Penurunan lapang persepsi . bahasa tubuh dan tingkat aktivfitas menunjukkan berkurangnya kecemasan. Terkait keluarga . Vital sign dalam batas normal.

Obesitas tanda dan gejala . Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi . Risk control lingkungan setelah dipakai Faktor Resiko : Kriteria Hasil: pasien lain Penyakit kronis. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan . persepsi . Gunakan pendekatan yang menenangkan . . Klien bebas dari teknik isolasi . Berikan obat untuk mengurangi kecemasan 3. Identifikasi tingkat kecemasan . Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur . Knowledge : terserang organisme Infection control . Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut . Intervensi Keperawatan : NIC Anxiety Reduction (penurunan kecemasan) . Lakukan back / neck rub . Dorong keluarga untuk menemani anak . Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan. Immune Status peningkatan resiko (Kontrol infeksi) . Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien . Dengarkan dengan penuh perhatian . ketakutan. Pertahankan . Diabetes mellitus . Batasi infeksi . Pahami prespektif pasien terhadap situasi stress . Risiko Infeksi Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi Hasil Resiko Infeksi NOC NIC Definisi : Mengalami Infection Control . Bersihkan patogenik .

Menunjukkan untuk cuci tangan .Trauma jaringan (mis. Gunakan baju.Merokok . penatalaksanaannya saat berkunjung . Instruksikan pada patogen. Menunjukkan dan setelah . Gunakan sabun prosedur invasif) dalam batas normal antimikrobia . Jumlah leukosit .Pecah ketuban dini sesudah tindakan . .Stasis cairan tubuh sarung tangan . faktor yang . .Gangguan peristalsis kemampuan untuk berkunjung .Kerusakan integritas mencegah timbulnya meninggalkan kulit (pemasangan infeksi pasien kateter intravena. central dan imunitas didapat tidak dressing sesuai adekuat.Pecah ketuban lama keperawatan . agen dengan petunjuk farmaseutikal umum . Ganti letak IV hemoglobin perifer dan line .Penurunan kerja perilaku hidup sehat . sebagai alat trauma destruksi pelindung jaringan) . Pertahankan lingkungan Ketidakadekuatan aseptik selama pertahanan sekunder pemasangan alat .Imunosupresi (mis.Penurunan .Pengetahuan yang tidak . Mendeskripsikan pengunjung bila cukup untuk proses penularan perlu menghindari pemanjanan penyakit. mempengaruhi pengunjung untuk Pertahanan tubuh primer penularan serta mencuci tangan yang tidak adekuat. Cuci tangan setiap siliaris sebelum dan .Perubahan sekresi pH .

Supresi respon . Pertahankan teknik aspesis pada pasien yang . Berikan terapi Vaksinasi tidak adekuat antibiotik bila Pemajanan terhadap perlu patogen lingkungan . Monitor hitung granulosit. Gunakan kateter imunosupresan.Wabah infeksi) Prosedur invasif . Batasi pengunjung . Sering pengunjung terhadap penyakit menular . antibodi menurunkan monoklonal. WBC . Monitor tanda dan Malnutrisi gejala infeksi sistemik dan local . termasuk . Monitor kerentangan terhadap infeksi . Tingktkan intake inflamasi nutrisi . infeksi kandung imunomudulator) kencing . intermiten untuk steroid. Infection meningkat Protection (proteksi terhadap .

Dorong istirahat . Ajarkan cara menghindari infeksi . Pertahankan teknik isolasi k/p . Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan. drainase . Dorong masukkan nutrisi yang cukup . Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi . beresiko . Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep . panas. Berikan perawatan kulit pada area epidema . Inspeksi kondisi luka / insisi bedah . Dorong masukan cairan .

Laporkan kecurigaan infeksi . Laporkan kultur positif ..

DAFTAR PUSTAKA Doenges. Edisi 2.com tanggal 20 februari 2014 Nurarif . 2007. Jogjakarta: MediAction Sarwono. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.Jakarta: FKUI Prawirohardjo.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta Media Istyandari. Prof. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Jakarta Mansjoer.H. S.E.A. dan Kusuma..dkk. H. 2001. Arif. Cetakan ke-4. EGC Mochtar R. Edisi III Jilid I. 1998.wordpress. M. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. 1999. Sinopsis Obstetri. 2004. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : PT Gramedi Farrer H. dr. https://gexmirah27. Perawatan Maternitas. Prawiroharjo.com/2013/10/08/laporan-pendahuluan-post- partum/ . (2015). Asuhan Keperawatan pada Pre dan Post Op Secsio Cesarea. Jakarta. Arief. 2005. Jakarta : EGC Mansjoer.ilmukeperawatan. 2000. Ilmu Kandungan. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal Edisi 3. 2003. Diakses pada www.