You are on page 1of 16

a.

Pengertian Halal

Halal berasal dari bahasa Arab yaitu halla, yang artinya ‘lepas’ atau ‘tidak
terikat’. Secara etimologi halal memiliki arti hal-hal yang boleh dan dapat
dilakukan karena bebas dari atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang
melarangnya. Sementara pengertian haram, adalah sesuatu yang dilarang oleh
syari’at untuk dilakukan. Maka orang yan melanggarnya, akan dikenai sanksi di
akhirat, juga siksaan di dunia. Makanan haram adalah makanan yang tidak boleh
dikonsumsi, dikomersialkan dan atau dikonsumsi (Fadhlan, 2004).

Mengingat Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya
muslim, menjadikan kehalalan suatu produk suatu hal yang penting untuk
eksistensi produk itu sendiri, demi menjaga rasa kenyamanan para konsumen
sehingga kualitas dan muasalnya terjamin jika telah mendapat sertifikasi halal.
LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajían Pangan Obat-Obatan dan Kosmetíka Majelís
Ulama Indonesía) berperan penting dalam bagian ini (Fadhlan, 2004).

Halal adalah kriteria mutu produk utama dalam Islam. Halal untuk pangan
(bila daging) dimulai dari prosedur pemilihan hewan ternak dan kegiatan sampai
kepada penerima (konsumen). Pangan halal harus diawali dengan aman untuk
dimakan tidak ada bahan pengawet atau bahan berbahaya, sehat yaitu segar dan
nyaman tidak berpenyakit (mengandung bibit penyakit), dan utuh yaitu sempurna
sebagaimana adanya. Pengertian halal (qasher) dapat ditinjau dari segi pandangan
hukum dan thayyib yaitu yang melekat pada materi (Produk). Oleh karena itu
halal harus mencakup dua aspek, yaitu halal secara lahiriah dan batiniah
(Rudyanto, 2003).

Pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan produk
Halal. Produk Halal adalah produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan
syariat Islam. Undang-Undang ini menjamin kehalalan produk untuk umat Islam
di Indonesia.

b. Kriteria Halal

1. Halal Zatnya

Makanan halal zatnya adalah mekanan yang pada dasarnya halal
dikonsumsi karena tidak ada dalil yang melarangnya. Dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan Ibnu Majah dan at-Tarmizi, Rasulullah Saw bersabda:

“Barang halal adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitabnya, dan
barang haram adalah apa yang diharamkan Allah menurut kitabnya, dan
sesuatu yang tidak dijelaskan maka barang itu termasuk yang dimaafkan
oleh-Nya”

atau bakso yang diolah dengan lemak babi. “DAN (Allah) menghalalkan bagi segala yang baik dan mengharamkan mereka segala yang buruk” [10] . maka makanan tersebut berubah menjadi haram hukumnya. Menurut hukum syariat. hal apapun (makanan) jika diperoleh dengan cara yang haram. Kriteria baik dapat dilihat dari seberapa banyak kandungan gizi dan vitamin yang ada didalam makanan itu. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. 3. kecuali ada larangan yang menjelaskan. Misalnya. ayam yang mati tanpa disembelih. Yakni yang menegaskan bahwa makanan itu haram untuk dikonsumsi oleh manusia (Muslim). [9] Dalam hubungan ini. Apabila mengandung gizi dan vitamin yang bermanfaat dan mencukupi untuk kesehatan tubuh kita. anggur yang diolah menjadi arak. Dalil diatas menjelaskan. tidak membusuk. dan tidak mengakibatkan efek negative bagi kesehatan. Islam mengajarkan agar kita mengonsusi makanan yang thayyiban (yang disebut dalam kitab suci al-Quran dan Hadis) adalah makanan yang baik yaitu bermanfaat dan tidak mengganggu kesehatan tubuh. Sebab itu untuk memperoleh makanan yang halal hendaknya kita menggunakan cara yang dibenarkan oleh syariat. Sedangkan yang dimaksud tidak mengganggu kesehatan adalah berbagai jenis makanan yang antara lain tidak menjijikkan. Adapun illat (sebab-alasan) pengharaman itu. Allah Swt berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 29: “Wahai orang-orang yang beriman. firman Allah swt. Halal Cara Pengolahannya Betapa banyak makanan halal yang bisa kita konsumsi. 2. Tetapi. makanan- makanan itu dapat berubah menjadi haram apabila cara mengolahnya tidak sesuai dengan tuntunan syariat. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka diantara kamu”. sanksi bagi pelakunya adalah akan mendapatkan dosa dan siksa kelak di kemudian hari (sanksi akhirat) di hadapan Allah swt. maka makanan itu masuk dalam kategori baik. Hadis tersebut menjelaskan kepada kita bahwa makanan apapun dasarnya halal dikonsumsi. antara lain karena telah terjadi perampasan hak manusia oleh seseorang yang tidak berhak yang dilakukan dengan cara melawan hukum. Halal Cara Memperolehnya Makanan yang semula halal dapat berubah menjadi haram apabila perolehannya dengan cara yang tidak sah seperti mencuri dan menipu.

sertifikat halal mempunyai peran sangat penting. Begitu pula. setiap pelaku usaha yang akan mencantumkan label halal harus memiliki sertifikat halal terlebih dahulu. obat-obatan dan kosmetika yang tidak halal 2. Hasil dari kegiatan sertifikasi halal adalah diterbitkannya sertifikat halal. apabila produk yang dimaksudkan telah memenuhi ketentuan sebagai produk halal. serifikasi halal berfungsi : 1. Sertifikasi halal juga akan memberikan kepastian dan perlindungan hokum terhadap konsumen Sedangkan bagi pelaku usaha. Obat-obatan. obat-obatan dan kosmetika yang diproduksi oleh perusahaan setelah diteliti dan dinyatakan halal oleh LPPOM MUI. Tanpa sertifikat halal MUI. yakni : . minuman.Sertifikat halal dan labelisasi halal merupakan dua kegiatan yang berbeda tetapi mempunyai keterkaitan satu sama lain. Pemegang otoritas menerbitkan sertifikasi produk halal adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang secara teknis ditangani oleh Lembaga Pengkajian Pangan. Hal ini dirasakan lebih aman bagi konsumen karena masih banyak produk yang beredar di pasaran yang mencantumkan label halal tanpa memiliki sertifikat halal MUI. Tujuan akhir dari sertifikasi halal adalah adanya pengakuan secara legal formal bahwa produk yang dikeluarkan telah memenuhi ketentuan halal. Sedangkan labelisasi halal adalah pencantuman tulisan atau pernyataan halal pada kemasan produk untuk menunjukkan bahwa produk yang dimaksud berstatus sebagai produk halal. Mempertahankan jiwa dan raga dari keterpurukan akibat produk haram 4. Secara kejiwaan perasaaan hati dan batin konsumen akan tenang 3. Bagi konsumen. [11] Sertifikat halal [12] adalah surat keterangan yang dikeluarkan oleh MUI Pusat atau Provinsi tentang halalnya suatu produk makanan. Terlindunginya konsumen muslim dari mengonsumsi pangan. sehingga pada umumnya produsen mencetak tulisan halal dalam huruf latin dan/atau arab dengan bentuk logo MUI dengan mencantumkan nomor sertifikat halal yang dimilikinya. Sampai saat ini memang belum ada aturan yang menetapkan bentuk logo halal yang khas. ijin pencantuman label halal tidak akan diberikan pemerintah. Sertifikat halal dilakukan oleh lembaga yang mempunyai otoritas untuk melaksanakannya. dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI).

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi dan mengunakan produk halal merupakan tantangan yang harus direspons oleh Pemerintah dan pelaku usaha Indonesia. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan konsumen 3. kosmetika. Jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 100 juta dan sekitar 87% beragama Islam merupakan potensi pasar yang sangat besar bagi produk-produk halal. dan produk halal lainnyaakan menjadi ancaman bagi daya saing produk dalam negeri. Tengah. minuman. baik di pasar loka. Tengah. Pada saat ini konsumen Muslim di beberapa daerah berkecenderungan tertarik pada produk dari luar negeri karena sudah diproduksi dengan menggunakan label dan sertifikasi halal yang terakreditasi dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Apabila produk dalam negeri belum mampu menerapkan sistem produksi halal. Saat ini produk haal dari Singapura dab Malaysia elah masuk kesebagian kawasan Indonesia Barat. 2. pasar dalam negeri kini telah dibanjiri produk luar negeri yang berlebel halal. mak produk impoer seperti makanan. 4. . Sebagai contoh. Timur dan apabila tidak segera dibatasi akan dapat mematikan pasar produk dalam negeri. Memberi keuntungan pada produsen dengan meningkatkan daya saing dan omset produksi dan penjualan Ada beberapa tujuan yang perlu dicapai dengan diberlakukannya labelisasi dan sertifikasi halal dalam dunia industry dewasa ini. dan Timur dan apabila tidak segera diatasi akan dapat mematikan ke sebagian kawasan Indonesia Barat. mengingat masalah halal merupakan bagian dari prinsip hidup muslim 2.1. maka aka dimanfaatkan oleh produk negara lainyang telah menerapkan sstem produksi halal. nasional maupun pasar bebas. Di samping itu dengan mulai diberlakukannya era persaingan bebas seperti AFTA pada tahun 2003 dan telah dicantumkannya ketentuan halal dalam KODEX yang didukung oelh WHO dan WTO. Sementara produk Indonesia yang diekspor ke beberapa negara yang mayoritas Muslim tidak dapat diterima hanya karena tidak mencantumkan label halal. obat. Karena belum memasyarakatnya sistem produksi halal di dalam negeri. 3. Meningkatkan citra dan daya saing perusahaan 4. maka produk-produk nasional harus meningkatkan daya saingnya pada pasar dalam negeri maupun luar negeri (internasional). Sebagai alat pemasaran serta untuk memperluas area jaringan pemasaran 5. Sebagai pertanggungjawaban produsen kepada konsumen muslim. 1.

dan koordinasi Pemerintah perlu mengadakan pengaturan pembinaan dan pengendalian sebagai berikut: 1. Hal tersebut disebabkan karena belum siapnya pemerintah dalam menyediakan fasilitas yang sesuai dengan tuntutan pasar. Sedangkan fungsinya : 1. sertifikasi dan keterangan halal bagi beberapa produk. dan Amerika telah menerapkan standar sistem produksi halal dalam setiap produksinya. Saat ini negara-negara produsen seperti Australia. obat. setiap hari negara-negara di kawasan Timur Tengah memerlukan empat ribu ton produk-produk halal dari Indonesia.5 juta produsen makanan. minuman. dan produk lainnya yang berasal dari dalam negeri maupun impor dilaksanakan oleh pegawai penyidik. Dari sekitar 1. Pengawasan halal terhadap produk makanan. Akan tetapi karena pelaku pelaku usaha di Indonesia belum banyak yang dapat memenuhi standar sistem produksi halal internasional . minuman. Memimpin pelaksanaan tugas dan fungsi pembinaan produk halal 2. pengawasan. maka kesempatan tersebut ditangkap negara lain. minuman. 3. dan produk halal berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. 5. Thailand. 4. kurang dari seribu yang menggunakan label dan sertifikasi halal. obat kosmetika. verifikasi. kosetika. New Zealand. obat-obatan. dan produk lainnya. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan sektor yang terkait dengan produksi halal . Tugas pokok dan fungsi pembinaan produk halal Direktorat Urusan Agama Islam ialah merumuskan bimbingan dan penyuluhan atau pengawasan di bidang makanan. 2. Pembinaan dan pengawasan pelaku usaha di bidang penerapan jaminan produk halal dilakukan oleh Departemen Agama. kosmetika. Sebagai akibat dari kondisi ini terjadi kecenderungan bagi para pelaku usaha untuk mendirikan pabrik di Malaysia dan Singapura hanya karena sekadar untuk memperoleh sertifikat dan label halal dari pemerintah yang bersangkutan. Menyiapkan bahan bimbingan dan penyuluhan atau pengawasan terhadap beberapa produk 3. Mengadakan pelayanan.Sebagai gambaran. Dalam rangka pelaksanaan pembinaan. seperti Malaysia. Koordinasi jaminan produk halal dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. Cina.

Departemen Kesehatan dalam hal penetapan persyaraytan yang berhubungan dengan kesehatan dan periklanan. 2. Departemen Perindustrian dalam hal pembinaan industry. Pelaksanaan pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara preventif dan pengawasan khusus: 1. maka pemerintah perlu mengadakan pengaturan lebih lanjut sebagai berikut: 1. 8. Departemen agama dalam hal petunjuk tentang bahan baku. 4. 2. Mengendalikan perlindungan dan pembinaan produksi halal. Pengendalian terhadap kehalalan produksi. LPH. 3. Pengawasan di lab produk tentang jaminan produk halal dilakukan oleh Menteri Agama 3. Kehalalan produk . Departemen Pertanian dalam proses penyediaan bahan baku yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. . Pengawas khusus dalam hal tertentu dilakukan oleh Menteri Agama bersama- sama oleh menteri yang terkait.5. Masa berlaku Sertifikat Halal. Dalam rangka pengawasan. Pencantuman Label Halal. bahan tambahan proses produksi dan peredaran makanan halal. Pengawasan preventif dilakukan Menteri Agama dan dapat bekerja sama dengan menteri lain yang terkait. bahan tambahan dan bahan makanan penolong makanan halal. impor dan peredaran produksi halal. Pengawasan tersebut di lakukan terhadap [13] : 1. 4. 3. Departemen perdagangan dalam hal penetapan persyaratan impor bahan baku. 2. 5. 6. Memberikan perlindungan terhadap konsumen dan produsen halal. Pengawasan terhadap Produksi Halal atau Jaminan Produk Halal (JPH) dilakukan oleh BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal). Melakukan penyelidkan terhadap produksi halal yang bermasalah 7.

[16] yakni : 1. pengemasan. dan/atau 8. BPJPH dan Kementerian dan/atau Lembaga terkait yang memiliki kewenangan pengawasan JPH dapat melakukan pengawasan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. 7. pengoahan. serta penyajian antara Produk Halal dan tidak halal. Keberadaan Penyelia Halal. tempat dan alat penyembeihan. Masyarakat yang berperan serta dalam penyelenggaraan dan pengawasan JPH akan mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh BPJPH. pendistribusian. Departemen Agama menunjuk LPPOM MUI untuk melakukan pemeriksaan. Kegiatan lain yang berkaitan dengan JPH. [15] Peran serta masyarakat dalam hal pengawasan Produk Halal atau Jaminan Produk Halal (JPH) diharapkan dapat membantu Pemerintah dalam hal ini BPJPH dan Kementerian terkait. Untuk mendapatkan status halal sebuah produk. [14] Pengawasan JPH dengan kementerian dan/atau lembaga terkait dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2. penjualan. Pelaku usaha melakukan permohonan ke Departemen Agama. penyimpanan. Peran serta masyarakat dapat berupa: a. dan b. 6. Masyarakat dapat berperan serta dalam penyelenggaraan JPH. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pencantuman keterangan tidak halal. pelaku usaha harus melakukan prosedur permohonan sebagai berikut : 1. Dalam UU nomor 33 tahun 2013 tentang Jaminan Produk Halal telah tertuang bagaimana yang dapat dilakukan masyarakat dalam melakukan pengawasan terhadap beredarnya produk halal dan tidak halal. Mengawasi Produk dan Produk Halal yang beredar. Peran serta masyarakat berupa pengawasan Produk dan Produk Halal yang beredar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b berbentuk pengaduan atau pelapora ke BPJPH. Hasil pemeriksaan diteruskan ke komisi fatwa MUI untuk dilakukan penelitan dan pembahasan. 3. Melakukan sosialisasi mengenai JPH. Pemisahan lokasi. .5.

Jika siding memutuskan bahwa produk tersebut halal maka MUI mengeluarkan sertifikat halal dan dikukuhkan oleh Menteri Agama. penyimpanan.2. dan d. pengolahan. Melaporkan perubahan komposisi Bahan kepada BPJPH 2. . jelas. Menjaga kehalalan Produk yang telah memperoleh Sertifikat Halal. tempat dan penyembelihan. dan jujur. Memiliki penyelia halal. 3. penjualan. dan e. c. dan penyajian antara Produk Halal dan ridak halal. Melaporkan perubahan komposisi Bahan kepada BPJHP. b. penjualan. d. c. b. Di dalam UU Nomor 33 Tahun 2013 tentang Jaminan Produk Halal kaitannya dengan prosedur permohonan Produk Halal. tempat dan alat penyembelihan. Jika hasil siding fatwa MUI memutuskan produk tersebut tidak halal. Membeikan informasi secara benar. dan penyajian antara Produk Halal dan tidak halal. Tinjauan terhadap Prosedur permohonan Sertifikat dan Pemeriksaan Produk Halal di Indonesia telah diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2013 tentang Jaminan Produk Halal. maka dikembalikan pada LPPOM MUI dan diteruskan pada pelaku usaha untuk dilengkapi dan disempurnakan. pengemasan. Pelaku Usaha yang telah memperoleh Sertifikat Halal wajib: [18] a. perusahaan yang bersangkutan dapat mencetak label halal dengan menggunakan standar Pemerintah. Memperbarui Sertifikat Halal jika masa berlaku Sertifikat Halal berakhir. terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pelaku usaha. pendistribusian. penyimpanan. alat pengolahan. Pelaku Usaha yang mengajukan permohonan Sertifikat Halal wajib : [17] a. Memisahkan lokasi. Memisahkan lokasi. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan : 1. Setelah mendapat ijn dan nomor kode dari Menteri Agama. Biaya labelisasi tersebut ditanggung perusahaan. Mencantumkan Label Halal terhadap produk terhadap Produk yang telah mendapat Sertifikat Halal.

Permohonan Sertifikat Halal harus dilengkapi dengan dokmen: 1) Data Pelaku Usaha. dapat dilakukan pengujian di laboratorium.1. BPJHP menyampaikan hasi pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan Produk kepada MUI untuk memperoleh penetapan kehaalan produk. 3. dan 4) Proses pengolahan Produk c. 3) Daftar Produk dan Bahan yang digunakan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan LPH diatur dalam Peraturan Menteri. b. f. . Penetapan LPH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja trhitung sejak dokumen permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2) dinyatakan lengkap. Pemeriksaaan dan/atau pengujian kehalalan Produk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dilakukan oleh Auditor Halal. b. 2) Nama dan jenis Produk. Permohonan Sertifikat Halal diajukan oleh Pelaku Usaha secara tertulis kepada BPJPH. Dalam pelaksanaan pemeriksaan di lokasi usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2). BPJPH menetapkan LPH untuk melakukan pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan Produk. d. c. LPH menyerahkan hasil pemeriksaan dan/atau pegujian kehalalan Produk kepada BPJPH. Dalam hal pemeriksaan Produk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat Bahan yang diragukan kehalalannya. Bagian Kesatu (Pengajuan Permohonan) [19] a. b. Pemeriksaan terhadap Produk dilakukan di lokasi usaha pada saat proses produksi c. e. Pelaku Usaha wajib memberikan informasi kepada Auditor Halal. Bagian Kedua (Penetapan Lembagi Pemeriksa Halal) [20] a. Bagian Ketiga (Pemeriksaan dan Pengujian) [21] a. 2. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohonan Sertifikat Halal diatur dalam Peraturan Menteri.

dan/atau instansi terkait. Dalam hal Sidang Fatwa Halal sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 ayat (2) menyatakan Produk tidak halal. Sidang Fatwa Halal MUI sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengikutsertakan pakar. 5. Penetapan Kehalalan Produk dilakukan oleh MUI. Bagan atur proses produksi. Khusus bagi produk yang menggunakan bahan yang berasal dari hewan harus melampirkan Sertifikat Halal dari MUI atau lembaga sertfikat luar negeri dilalui MUI yang menyatakan bahwa pemotongan hewan dilakukan berdasarkan hukum Islam. Sidang Fatwa Halal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memutuskan kehalalan Produk paling ama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak MUI menerima hasil pemeriksaan dan/atau pengujian Produk dari BPJPH. d. 4. e. bahan tambahan dan bahan penolong lainnya. Setiap produsen maupun importer yang mengajukan permohonan pemeriksaan dan penetapan produk halal dari lembaga pemeriksa harus memenuhi prosedur sebagai berikut : 1. Dalam hal Sidang Fatwa Halal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) menetapkan halal pada Produk yang dimohonkan Pelaku Usaha. c. Mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan oelh lembaga pemeriksa. f.4. Bagian keempat (Penetapan Kehalalan Produk) [22] a. Keputusan Penetapan Halal Produk sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada BPJPH untuk menjadi dasar penerbitan Sertifikat Halal. b. 5. Keputusan Penetapan Halal Produk sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditandantangani oleh MUI. b. 2. Data penunjang bahan. BPJPH menerbitkan Sertifikat Halal. asal-usul halal bahan dan lan- lain. seperti sertifikat halal. unsur kemeterian/lembaga. 3. . Penetapan kehalalan Produk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam siding Fatwa Halal. BPJPH mengembalikan permohonan Sertifikat Halal kepada Pelaku Usaha disertai dengan alasan. Bagian Kelima (Penerbitan Sertifikat Halal) [23] a. Sertifikat dan sumber bahan baku.

Cara pelaksanaan produksi produk. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan 2. dan bahan penolong 2. Dalam pelaksanaannya. dan fasilitas. ruang penyimpanan. Baik panduan halal maupun prosedur baku pelaksanaan yang disiapkan harus disosialisasikan dan diujicoba dilingkungan produsen sehingga seluruh jajaran mulai dari direksi sampai karyawan memahami betul bagaimana memproduksi produk halal dan baik 6. Kriteria personil yang melaksanakan penyembelihan hewan dan melaksanakan proses produksi . Produsen melakuakan pemeriksaan serta mengevaluasi apakah sistem halal yang menjamin kehalalan produk ini dilakukan sebagaimana mestinya 7. termasuk cara penyembelihan hewan dan cara penyajian produk 4. Untuk melaksanakan butir 6 perusahaan harus mengangkat seorang auditor halal internal yang beragama Islam. Produsen menyiapkan suatu sistem halal 2. 1. Ruang produksi. ruang produksi. 3. Objek-objek pemeriksaan yang berkaitan dengan kehalalan produk-produk meliputi: 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan.Sebelum produsen mengajukan permohonan pemeriksaan maka terlebih dahulu disyaratkan yang bersangkutan menyiapkan hal-hal sebagai berikut : 1. Sistem halal tersebut harus didokumentasikan secara jelas dan rinci serta merupakan bagian kebijakan manajemen produsen. Produsen menyiapkan prosedur peaksanaan untuk mengawasi setiap proses yang kritis agar kehalalan produknya dapat terjamin 5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen 4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2013 tentang Jaminan Produk Halal 3. bahan tambahan. peralatan produksi. alat pengangkutan untuk distribusi dan penyajian produk 3. Asal-usul bahan baku. Tujuan membuat panduan halal adalah untuk memberikan uraian sistem manajemen halal yang dijalankan produsen 4. sistem halal ini diuraikan dalam bentuk panduan halal. .

[25] Menyikapi hal ini. 6. HR Bukhari dan Muslim Ada beberapa contoh kasus yang teah sangat menyakiti konsumen Muslim di Indonesia. karena sertifikasi ini masih bersifat sukarela maka (jangan heran kalau)saat ini masih banyak produk yang sudah bersetifikat halal tetapi belum . Namun. Menkes No. Sertifikat halal selain sebagai perlindungan konsumen dari berbagai macam makanan yang dianggap tidak layak sesuai syari’at Islam khususnya Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Jika berdasarkan pendekatan sains telah didapatkan kejelasan.23 Tahun 1978 tentang pedoman cara produksi yang baik untuk makanan olahan. yang pada akhirnya menimbulkan kerugian besar bagi produsen dan dunia usaha. Menkes No. SK. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Lembaga Pengkajian Pangan.5. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. 924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang Perubahan atas Kepmenkes No. [26] LPPOM MUI melakukan pengkajian dan pemeriksaan dari tinjauan sains terhadap produk yang akan disertifikasi. yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk sertifikat halal oleh MUI. QS al-Baqarah ayat 163 10. juga mendorong kompetisi dan menjadi keunggulan. QS al-Baqarah ayat 172 11.23 Tahun 1992 tentang kehalalan pangan. Kepmenkes Nomor. maka hasil pengkajian dan pemeriksaan tersebut dibawa ke Komisi Fatwa untuk dibahas dari tinjauan syari’ah Islam. 8. Obat-obatan dan Kosmetika (LP-POM) dan Komisi Fatwa telah berikhtiar untuk memberikan jaminan produk makanan halal bagi konsumen muslim melalui instrument sertifikat halal. 82/Menkes/SK/I/1996 tentang Pencantuman Tulisan “halal” pada Label Makanan 7. Sertifikat halal merupakan fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan kehalalan suatu produk. SK. yaitu: kasus bakso mengandung ddaging babi di Bandung (1984). dan kasus Vaksin Meningitis Jemaah haji yang mengandung enzim babi (2009). 9. Pertemuan antara sains dan syari’ah inilah yang dijadikan dasar penetapan oleh Komisi Fatwa. Sertifikat halal saat ini menjadi salah satu poin untuk daya saing di perdagangan Internasional. kasus makanan yang memakai bahan dari babi di Malang (1988) [24] .

Kemudian sekitar 90 persen dari jumlah itu berasal dari produk pangan. 3. warnanya menarik. terutama umat Islam baru menyadari akan pentingnya sertifikasi halal sehingga banyak kendala yang masih harus dihadapi untuk merealisasikannya. komponen fisik. Jaminan pangan halal dan baik adalah mutlak diperlukan untuk meningkatkan daya saing produk pangan lokal Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri. sehat dan menentramkan. 2. Standar 3. sekitar 35. dan zat kimia berbahaya. Mutual Recognition 4. obat-obatan dan kosmetik yang terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). rasanya enak. 1.19 persen dari total produk makanan. Sebaiknya harus di pastikan terlebih dahulu apakah makanan itu halal ataukah haram. bebas dari hal-hal yang membahayakan tubuh seperti kandungan mikroorganisma patogen. Mekanisme Sertifikat Halal 1. Kelembagaan 2. Persangan Global 5. Pangan halal adalah Pangan yang memiliki cita rasa baik. bersih. Masyarakat. Permasalahan tersebut diantaranya berkaitan dengan aspek sebagai berikut : 1. Makanan halal adalah makanan yang dibolehkan oleh agama dari segi hukumnya dan makanan tersebut dapat diolah dengan baik dan benar menurut agama. minuman. sanitasi higine baik dan kandungan gizinya yang baik. menindak lanjuti produsen yang produksi makanan haram . Baik (Thayyib) adalah lezat. Pangan yang baik berkaitan dengan jaminan bahwa pangan yang diproduksinya bergizi. Saran agar masyarakat tidak mengkonsumsi makanan haram yaitu. Minuman halal adalah minuman yang dibolehkan oleh agama dari segi hukumnya dan minuman tersebut dapat diolah dengan baik dan benar menurut agama. teksturnya baik. baik. Makanan dan minuman tidak dapat sembarangan di produksi dan di konsumsi.memiliki label halal. biologis. [27] Diakui bahwa pada saat ini masih cukup banyak permasalahan yang dihadapi dalam kaitan dengan sertifikasi karena masalah sertifikasi halal itu sendiri merupakan sesuatu yang masih relative baru.

Ahmad Ibn Syekh Muhammad. “Nilai Unggul Produk Halal”. 33 Tahun 2013 tentang Jaminan Produk Halal Tim Departemen Agama RI.. Zakia Press. 1422H Yusanto. Djakfar. Hukum Bisnis .31 [5] HR. 2002 Wahid. Jurnal Halal. [2] Ibid. Ushul Fiqh I-II P3 – PT IAIN .1981 UU No. Muhammad. Jakarta: Depertemen Agama RI. Makanan Halal. 157 [11] Paulus J. 2004). Jakarta: LPPOM MUI. Nomor 59 Th X. Syarh al-Qawa’id al-Fiqhiyyah . Malang: UIN-Maliki Press. Muhammad Ismail dan Muhammad Karebet Widjajakusuma.2003 [4] Menurut Qaradhawi 2007. 4. Tirmidzi dan Ibnu Majah [6] UU No.33 Tahun 2013 tentang Jaminan Produk Halal Pasal 1 pada ketentuan umum [7] H. Jakarta: Gema Insani.2013 Zarqa. Muslim di Tengah Pergumulan . member label halal terhadap yang halal.dan tidak member label halal terhadap yang haram. 15. Jakarta: Leppenas. An-Nisa’ 29 [9] Ibrahim.. hlm. 1981 [1] Mudhafier Fadhlan. Rusli. lebih berhati-hati dalam memilih ataupun mengkonsumsi produk pangan. 14-15 [10] QS Al-A’raf. Menggagas Bisnis Islami .R Ibnu Majah No3358 dan at-Tarmizi No1648. 2005. Abdurrahman. Pemahaman. h. [8] QS. Damaskus: Dar al-Qalam.2. [3] Menurut Rudyanto .37. [12] Sertifikat Halal MUI untuk pertama kali diterbitkan pada tanggall 7 April 1994 Untuk produk Unilever Indonesia . (Jakarta. member sanksi terhadap orang yang mengkonsumsi makanan dan minuman haram 3.

Jurnal Halal. [17] UU No..78 Th. [14] Ibid.Bagian ketiga.cit.. hlm. BAB IV Pelaku Usaha pasal 24 [18] Ibid . A. Majalah Aulia. 8 [26] Sandiago Uno.20. No. Jakarta LPPOM MUI. “Fatwa HALAL Melindungi Umat dari Kerugian yang Lebih Besar”. No. Pengawasan dan Koordinasi Produksi Halal E. Tujuan Labelisasi dan Sertifikasi Halal C. No. Bagian keempat [23] Ibid. 33 Tahun 2013. Landasan Yuridis H. pasal 25 [19] Ibid. Pengertian dan Kriteria Halal B. XII Tahun 2009. hlm. 33 Tahun 2013 op. [16] UU No. hlm. Bab VII Tentang Pengawasan. Bab V Tata Cara Memperoleh Sertifikat Halal. Pasal 33. 33 Tahun 2013. Pasal 49.LPPOM MUI. Pasal 34. [25] Fokus. Pasal 53. Pasal 51 [15] Ibid. Bagian Kedua [21] Ibid. 8 [27] Lukmaul Hakim “Sayang Ya Serifikat Halal Masih Urusan Sukarela”. Bagian kelima [24] Ma’ruf Amin. [22] Ibid.. LPPOM MUI.. VIII Jumadil Sani-Rajab 1432 H Tahun 2011. 91 Th.. Pembinaan Produksi Halal D. Jurnal Halal . 135.103 Th.. Analisis permasalahan sertifikasi Halal .. “Agar UKM Semakin Berdaya Saing Tinggi” Jurnal Halal. XVI Tahun 2013. Jakarta. Pasal 30. Pasal 29 Bagian. Pasal 31-32. Jakarta: Aulia. hlm. Kesatu [20] Ibid.. Prosedur Permohonan Produksi Halal F.. Prosedur Pemeriksaan Produksi Halal G. No. Bab VIII tentang Peran Serta Masyarakat. “Mendamba Vaksin Meningitis Halal”. XIV Tahun 2011.[13] UU No. Jakarta. 12 Th.

BAB III PENUTUP A. Ke .