You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring berkembangnya zaman, dewasa ini bidang kedokteran telah
menemukan berbagai kasus penyakit kulit, baik yang akut maupun kronis.
Kondisi lingkungan, makanan, dan gaya hidup sedikit banyak dapat memengaruhi
proses terjadinya penyakit kulit. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, baik anak
kecil, remaja, dewasa, maupun orang tua dan lansia.
Ketidaktahuan masyarakat mengenai penyakit kulit mengakibatkan penyakit
kulit semakin berkembang dan meluas. Sehingga semakin banyak yang terkena
penyakit kulit tersebut. Sehingga perlu adanya pengetahuan lebih mengenai
penyakit kulit baik dari penyebab, proses terjadinya, tanda dan gejalanya, serta
cara penanganannya.
Dengan adanya pengetahuan yang lebih dalam diharapkan agar dapat
mengurangi perkembangan penyakit kulit. Oleh karena itu, kami membuat
makalah Patofisiologi Kelainan Struktur dan Fungsi Integumen khususnya pada
penyakit kusta dan luka bakar agar masyarakat dapat mengetahui tentang penyakit
kulit dan berharap makalah ini bermanfaat bagi masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud Luka Bakar ?
2. Apa saja etiologi dari Luka Bakar ?
3. Bagaimana manifestasi klinis dari Luka Bakar ?
4. Bagaimana patofisiologi dari Luka Bakar ?
5. Apa saja data penunjang dari Luka Bakar ?
6. Bagaimana Kebutuhan Dasar Manusia pada Luka Bakar?
7. Apa yang dimaksud Kusta ?

1

8. Apa saja etiologi dari Kusta ?
9. Bagaimana manifestasi klinis dari Kusta?
10. Bagaimana patofisiologi dari Kusta?
11. Apa saja data penunjang dari Kusta ?
12. Bagaimana Kebutuhan Dasar Manusia pada Kusta ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Luka Bakar
2. Untuk mengetahui etiologi dari Luka Bakar
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Luka Bakar
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari Luka Bakar
5. Untuk mengetahui data penunjang dari Luka Bakar
6. Untuk mengetahui Kebutuhan Dasar Manusia pada Luka Bakar
7. Untuk mengetahui pengertian dari Kusta
8. Untuk mengetahui etiologi dari Kusta
9. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Kusta
10. Untuk mengetahui patofisiologi dari Kusta
11. Untuk mengetahui data penunjang dari Kusta
12. Untuk mengetahui Kebutuhan Dasar Manusia pada Kusta

2

Kedalaman luka bakar akan mempengaruhi kerusakan / gangguan integritas kulit dan kematian sel-sel (Yepta. Klasifikasi luka bakar: a. bahan kimia. 2004). BAB II TINJAUAN TEORI A. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis. Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas. maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan lamanya kontak dengan sumber panas/penyebabnya. Definisi Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api. 2002). misalnya tersiram air panas banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga (Sjamsuidajat. (Smeltzer. Berdasarkan penyebab:  Luka bakar karena api  Luka bakar karena air panas  Luka bakar karena bahan kimia  Luka bakar karena listrik  Luka bakar karena radiasi  Luka bakar karena suhu rendah (frost bite) 3 . Luka bakar adalah luka yang terjadi karena terbakar api langsung maupun tidak langsung. listrik. air panas. dan radiasi. listrik dan radiasi. 2003). Luka bakar karena api atau akibat tidak langsung dari api. dermis. juga pajanan suhu tinggi dari matahari. bahan kimia. Luka Bakar 1. maupun bahan kimia. listrik. suzanna.

Luka bakar derajat pertama ini hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari. berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi. Derajat II dangkal (superficial) Kerusakan yang mengenai bagian superficial dari dermis. Luka bakar derajat pertama tampak sebagai suatu daerah yang berwarna kemerahan. 4 . Penyembuhan terjadi lebih lama.Luka sembuh dalam waktu 10-14 hari. nyeri karena ujung ujung saraf teriritasi.  Luka bakar derajat II Kerusakan yang terjadi pada epidermis dan sebagian dermis. terdapat gelembung gelembung yang ditutupi oleh daerah putih. Apendises kulit seperti folikel rambut. epidermis yang tidak mengandung pembuluh darah dan dibatasi oleh kulit yang berwarna merah serta hiperemi. kelenjar keringat. Berdasarkan kedalaman luka bakar:  Luka bakar derajat I Luka bakar derajat pertama adalah setiap luka bakar yang di dalam proses penyembuhannya tidak meninggalkan jaringan parut. Derajat II dalam (deep) Kerusakan hamper seluruh bagian dermis. apendises kulit seperti folikel rambut. b. kelenjar sebasea masih utuh. terletak lebih tinggi di atas permukaan kulit normal. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitifitas setempat. dasar luka berwarna merah atau pucat.b. Luka bakar derajat II ada dua: a. kelenjar sebasea sebagian masih utuh. kelenjar keringat. misalnya tersengat matahari. melepuh. Luka derajat pertama akan sembuh tanpa bekas.

Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut c. dan perineum. tidak timbul rasa nyeri. Berdasarkan tingkat keseriusan luka  Luka bakar ringan/ minor a. c. kaki. kaki. dan perineum. Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa b. kelenjar sebasea rusak. Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai muka. tergantung apendises kulit yang tersisa. kelenjar keringat.  Luka bakar sedang (moderate burn) a.  Luka bakar derajat III Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam. apendises kulit seperti folikel rambut. kulit berwarna abu-abu atau coklat. letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar Karena koagulasi protein pada lapisan epidermis dan dermis. tangan. dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 % b. tangan. 5 . Luka bakar dengan luas 10 – 20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun. Penyembuhan lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan. Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka. tidak ada pelepuhan. Luka bakar dengan luas 15 – 25 % pada dewasa. kering. dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 % c. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

2) Fase Sub Akut Fase ini berlangsung setelah shock berakhir. Disertai trauma lainnya g. Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun b. Pada fase ini terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit akibat cedera termis bersifat sistemik. Luka bakar listrik tegangan tinggi f. telinga. dan perineum d. Pasien-pasien dengan resiko tinggi 2. Etiologi Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energy dari sumber panas ke tubuh melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar. tangan. yaitu: 1) Fase Akut Pada fase ini problema yang ada berkisar pada gangguan saluran napas karena adanya cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan (kulit dan jaringan dibawahnya) menimbulkan masalah inflamasi.  Luka bakar berat (major burn) a. e. kaki. Luka bakar pada muka. Berdasarkan perjalanan penyakitnya luka bakar dibagi menjadi 3 fase. sepsis dan penguapan cairan tubuh disertai panas / energy. 3) Fase Lanjut 6 . Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama c.

dan deformitas lainnya. Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah pada fase ini adalah timbulnya penyulit dari luka bakar berupa parut hipertrofik. Tekanan terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstremitas distal menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia. klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan terjadinya edema. 3. kontraktur. tetapi pada jam-jam berikutnya menyebabkan hipertermi yang diakibatkan hipermetabolisme. Beberapa jam pertama pasca luka bakar menyebabkan suhu tubuh rendah. Manifestasi Klinis 1) Edema Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air. Pada keadaan ini lapisan superficial kulit seluruhnya rusak sehingga pada penyembuhan akan meninggalkan jaringan parut. natrium. 5) Timbulnya Jaringan Parut Akibat cairan yang suhunya diatas titik didih. 4) Hipertermi Hilangnya kulit menyebabkan ketidakmampuan pengaturan suhunya. 7 . 2) Nyeri Dengan adanya oedema juga berpengaruh terhadap peningkatan peregangan pembuluh darah dan syaraf yang dapat menimbulkan rasa nyeri juga dapat mengganggu mobilitas pasien. 3) Iskemia Iskemia terjadi akibat edema yang akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar.

Luka bakar dikategorikan sebagai luka bakar termal. 7) Syok Syok terjadi akibat penurunan kardiak output karena kehilangan cairan. 6) Anemia Anemia disebabkan karena Pembuluh kapiler yang terkena suhu tinggi rusak sel darah yang di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Panas tersebut mungkin dipindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. 9) Muntah Akibat dari respon gastrointestinal yakni terjadinya ileus paralitik yang ditandai dengan berkurangnya peristaltic dan bising usus. Patofisisologi Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ketubuh. atau luka bakar kimiawi. Dalamnya luka bakar 8 . radiasi. Hal ini terjadi karena syaraf simpatis akan melepaskan kotekolamin yang meningkatkan resistensi perifer (vasokonstriksi) dan peningkatan frekuensi nadi sehingga terjadi penurunan kardiak output. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis. sehingga tekanan darah menurun hal ini merupakan awitan syok. dermis maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan lamanya kulit kontak dengan sumber panas / penyebabnya. 4. Hal ini terjadi karena kehilangan cairan lewat evaporasi dan juga adanya cidera saluran nafas atas dan cedera inflamasi dibawah glottis dan keracunan CO2 serta defekrestriktif. 8) Sakit Kepala Sakit kepala akibat dari kurangnya asupan oksigen dalam otak akibat volume darah yang mendadak turun.

suhu benda yang membakar. Beratnya luka bakar juga dipengaruhi oleh cara dan lamanya kontak dengan sumber panas (mis. air panas. api.akan mempengaruhi kerusakan/gangguan integritas kulit dan kematian sel- sel Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air. Perbedaan tekanan osmotik intra. Ekskresi kalium 2. Seluruh system tubuh menunjukkan perubahan reaksi fisiologis sebagai respons kompensasi terhadap luka bakar. Faktor yang menjadi penyebab beratnya luka bakar antara lain: 1) Keluasan luka bakar 2) Kedalaman luka bakar 9 . natrium. Luka bakar akan mengakibatkan tidak hanya kerusakan kulit tetapi juga amat mempengaruhi seluruh sistem tubuh pasien. sumber panas. natrium. 1. 1991). Retensi air. Peningkatan mineral okortikoid a. Kehilangan cairan tubuh pada pasien luka bakar dapat disebabkan oleh beberapa faktor (Donn. Penigkatan permeabilitas pembuluh darah. zat kimia. keluarnya elektrolit dan protein dari pembuluh darah 3. Dan pada pasien dengan luka bakar yang luas (mayor) tubuh tidak mampu lagi untuk mengkompensasi sehingga timbul berbagai macam komplikasi. jenis pakaian yang terbakar. klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan terjadinya edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab luka bakar. klorida b. radiasi.dan ekstrasel Kehilangan volume cairan akan mempengaruhi nilai normal cairan dan elektrolit tubuh yang selanjutnya akan terlihat pada hasil pemeriksaan laboratorium. listrik. kondisi ruangan saat terjadi kebakaran. ruangan yang tertutup. minyak panas).

ginjal dan lain-lain 7) Obesitas 8) Adanya trauma inhalasi 10 .3) Umur pasien 4) Agen penyebab 5) Fraktur atau luka-luka lain yang menyertai 6) Penyakit yang dialami terdahulu seperti: diabetes. jantung.

Pathways Bahan Kimia Termis Radiasi Listrik Petir Luka Bakar  Gangguan citra tubuh Psikologis  Anxietas Biologis  Defisiensi pengetahuan Pada wajah Ruang tertutup Kerusakan kulit Mukosa rusak Keracunan gas Penguapan Masalah Keperawatan:  Resiko Infeksi Peningkatan pembuluh Edema laring CO mengikat Hb  Gangguan rasa darah nyaman  Kerusakan integritas Obstruksi jalan nafas Hb tidak mampu Ekstravasasi cairan kulit mengikat O2 Gagal nafas Hipoksia otak Cairan intravascular menurun Hipovolemia & hemokonsentrasi Ketidakefektifan pola Masalah Keperawatan: nafas  Kekurangan volume Gangguan sirkulasi cairan makro  Resiko ketidakefektifan Gangguan perfusi Gangguan sirkulasi perfusi jar.otak organ penting Gangguan perfusi Gagal fungsi hepar Daya tahan tubuh Imun Laju metabolisme Pelepasan Hepar meningkat Hipoksia hepatik katekolamin Neurologi glukogenolisis Hambatan Gg Neurologi pertumbuhan Kardiovaskuler Kebocoran kapiler Penurunan curah jantung Gagal jantung Sel otak mati Hipoksia Otak Resiko pennurunan perfusi jantung Fungsi ginjal Hipoksia sel ginjal Ginjal Resiko Dilatasi lambung Gl traktus ketidakefektifan perfusi ginjal 11 Multi sistem organ failure .

Elektrocardiogram : EKG terutama diindikasikan pada luka bakar listrik karena disritmia jantung adalah komplikasi yang umum 5. Pemeriksaan Penunjang Menurut Schwartz (2000) & Engram (2000). AGD (bila diperlukan). Gula darah. tulang panjang. hiperventilasi 2. Gangguan Rasa Aman dan Nyaman 12 . Pemeriksaan Laboratorium : Hb. Kidd (2010) pemeriksaan diaknostik pada penderita luka bakar meliputi : 1. 4. Hapusan luka. Ureaum. 6. usaha kanulasi pada vena sentralis.5. Ht. dll. dan pelvis 3. Rontgen dada : Semua pasien sebaiknya dilakukan rontgen dada. tekanan yang terlalu kuat pada dada. Pola Nafas Ketidakefektifan pola nafas sehubungan dengan keletihan otot – otot pernafasan. Elektrolit. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap 4. Urine lengkap. Protein. 2. CT scan : menyingkirkan hemorargia intrakarnial pada pasien dengan penyimpangan neurologik yang menderita cedera listrik. Albumin. Kebutuhan Dasar Manusia pada Luka Bakar 1. Nutrisi Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan hipermetabolisme dan kebutuhan bagi kesembuhan luka. Trombosit. Kreatinin. Cairan Kekurangan volume cairan sehubungan dengan kehilangan cairan aktif (evaporasi akibat luka bakar) 3. serta fraktur iga dapat menimbulkan pneumothoraks atau hematorak. Pasien yang juga mengalami trauma tumpul yang menyertai luka bakar harus menjalani pemeriksanaann radiografi dari seluruh vertebrata.

25-0. Basil ini bersifat tahan asam.leprae yang ditemukan oleh G. B. disebut juga tipe lepromatosa. kesembuhan luka dan penyembuhan luka bakar. Saraf perifer sebagai afinitas pertama. Gangguan rasa aman nyaman karena nyeri akut sehubungan dengan saraf yang terbuka. Basil ini hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu rendah dan tidak dapat dikultur dalam media buatan (in vitro). Bentuk ketiga yaitu bentuk peralihan. sedang basil yang mati bentuknya terpecah-pecah (fragmented) atau granular. Kusta 1. Armauer Hansen tahun 1873 di Norwegia. 5. dan penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat.3 um.H. batang ramping dan sisanya berbentuk paralel dengan kedua ujung-ujungnya bulat dengan ukuran panjang 1-8 um dan diameter 0. Etiologi Penyakit kusta disebabkan oleh M . lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas. Dengan pewarnaan Ziehl- Nielsen basil yang hidup dapat berbentuk batang yang utuh. 13 . berwarna merah terang. 2010) 2. Ansietas Ansietas sehubungan dengan perubahan status kesehatan dan pola interaksi.(Djuandha Adhi. yaitu kusta bentuk kering dan tipe tuberkuloid. Basil ini menyerupai kuman berbentuk batang yang gram positif. dan kusta bentuk basah. dengan ujung bulat (solid). kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Definisi Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik. Kusta tampil dalam dua jenis bentuk klinis utama. tidak bergerak dan tidak berspora. bentuk pleomorf lurus.

3) Kusta tipe peralihan: merupakan peralihan antara kedua tipe utama. b. Manifestasi Klinis 1) Menurut Dep Kes RI Dirjen PP & PL 2007. menebalnya daun telinga. pantat. muka dan daun telinga. Disertai rontoknya alis mata. kulit kehilangan daya rasa sama sekali. atau berupa penebalan kulit yang luas sebagai infiltrate yang tampak mengkilap dan berminyak. Bercak tampak kering. Penebalan sistem saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). kulit dan organ tubuh lainnya. punggung. kelainan kulit berupa bercak keputihan sebesar uang logam atau lebih besar. dapat berupa bercak kemerahan. sering timbul di pipi. Pengobatan tipe ini dimasukkan keadaan jenis kusta basah . 2) Kusta bentuk basah: bentuk menular karena kumannya banyak terdapat diselaput lender hidung. Gangguan saraf ini bisa berupa:  Gangguan fungsi sensori : mati rasa  Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise)  Gangguan fungsi otonom : kulit kering dan retak-retak 14 . 1) Kusta bentuk kering: tidak menular. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa Kelainan kulit/lesi dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hypopigmentasi) atau kemerah-merahan (erithematous) yang mati rasa. kecil-kecil tersebar diseluruh badan. 3. dapat berupa benjolan merah sebesar biji jagung yang tersebar di badan. paha atau lengan. tanda-tanda utama atau cardial sign penyakit kusta yaitu: a.

jika masih ragu orang tersebut dianggap sebagai penderita yang dicurigai. Terdapat bukti bahwa tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman Mycobacterium leprae menderita kusta. c. tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka  Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka  Adanya cacat (deformitas) dan luka (ulkus) yang tidak mau sembuh. Apabila hanya ditemukan cardinal sign kedua perlu dirujuk kepada wasor atau ahli kusta. Pada dasarnya sebagian besar penderita dapat didiagnosis dengan pemeriksaan klinis. Tanda-tanda pada saraf  Rasa kesemutan. Iklim (cuaca panas dan lembab) 15 . Namun demikian pada penderita yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan kerokan kulit. Adanya bakteri tahan asam (BTA) didalam kerokan jaringan kulit (BTA positif) Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta apabila ditemukan satu atau lebih dari tanda-tanda utama diatas. 4. Patofisiologi Mekanisme penularan kusta yang tepat belum diketahui. Tanda-tanda pada kulit:  Bercak/kelainan kulit yang merah atau putih dibagian tubuh  Bercak yang tidak gatal dan kulit mengkilap  Adanya bagian tubuh yang tidak berketringat atau tidak berambut  Lepuh tidak nyeri b. Beberapa hipotesis telah dikemukakan seperti adanya kontak dekat dan penularan dari udara. 2) Tanda-tanda tersangka kusta (sespek) a.

000. status sosial ekonomi dan genetik Juga ikut berperan. tingkat infeksi untuk kontak lepra lepramatosa beragam dari 6.000 hingga 10. Hal ini menbentuk sebuah pendugaan bahwa organisme tersebut dapat keluar melalui kelenjar keringat.000 bakteri. menurut Shepard. Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe kusta yang berbeda pada setiap individu. Dalam penelitian terhadap insiden. Walaupun terdapat laporan bahwa ditemukan bakteri tahan asam di epitel Deskuamosa di kulit. Weddel et al melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bakteri tahan asam di epidermis. Jumlah bakteri dari lesi mukosa hidung pada kusta lepromatosa. Telah dibuktikan bahwa kasus lepramatosa menunjukan adanya sejumlah organisme di dermis kulit. Faktor ketidak cukupan gizi juga diduga merupakan faktor penyebab penyakit kusta dipercaya bahwa penularannya disebabkan oleh kontak antara orang yang terinfeksi dengan orang sehat. Dalam penelitian terbaru Job et al menemukan adanya sejumlah Mycobacterium leprae yang besar dilapisan keratin superficial kulit di penderita kusta lepromatosa. Bagaimana masih belum dapat dibuktikan bahwa organism tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit.2 per 1000 per tahun di Cebu. Pintu masuk dari Mycobacterium leprae ke tubuh manusia masih menjadi tanda tanya.diet. Philipina hingga 55.8 per 1000 per tahun di India Selatan. Pedley melaporkan bahwa sebagian besar pasien lepromatosa memperlihatkan adanya bakteri di secret hidung penderita. Pentingnya mukosa hidung dalam penularan Mycobacterium leprae telah ditemukan oleh Schaffer pada tahun 1898. setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluargatertentu. Saat 16 . antara 10. Walaupun telah ditemukan bakteri tahan asam di epidermis.000. Devey dan Rees mengindikasi bahwa secret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi 10. status gizi.000 organisme per hari. Dua pintu keluar dari Micobacterium leprae dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung.

beberapa peneliti berusaha mengukur masa inkubasi kusta. masa inkubasi kusta minimum dilaporkan beberapa minggu. Secara umum telah ditetapkan masa inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun. Masa inkubasi kusta belum dapat dikemukakan. berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi.ini diperkirakan kulit dan pernafasan atas menjadi gerbang masuknya bakteri. Masa inkubasi maksimum dilaporkan selama 30 tahun. Hal ini dilaporkan berdasarkan pengamatan pada veteran perang yang pernah terekspos di daerah endemik dan kemudian berpindah ke daerah non endemik. Pathways 17 .

nervus Kontraktur otot & sendi radialis Gangguan aktivitas Hambatan mobilitas fisik 18 . nervus popliteus. papula Ulkus Menyerang saraf tepi sensorik & motorik Keganasan cancer epidemoid Neuritis Metastase Sensabilitas menurun Amputasi Resiko trauma Gangguan konsep diri: Gangguan rasa nyaman: HDR nyeri Infansif bakteri Kulit terlihat rusak Resti cidera Resti infeksi Malu Perubahan aktivitas Gangguan konsep diri: Infektif koping individu Hambatan mobilitas fisik HDR Kelumpuhan otot Menyerang saraf ulnaris.eri Microbacterium M Tuberkuloid Leprae Menyerang kulit dan saraf tepi Macula. nervus aurikularis. nodula.

penderita merasa rendah diri dan merasa terkucilkan sedangkaan pada tatalaksana hidup sehat pada umumnya klien kurang kebersihan diri dan lingkungan yang kotor dan sering kontk langsung dengan penderita kusta. obat yang diberikan Dapsone (DSS) (Dosis 2x seminggu) 6.5. Diagnosa pasti apabila adanya mati rasa dan kuman tahan asam pada kulit yang psitif.Karena kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya maka timbul masalah dalam perawatan diri. 5) Pola istirahat dan tidur 19 . Pemeriksaan Penunjang 1) Test sensibilitas pada kulit yang mengalami kelainan 2) Laboratorium: basil tahan asam. Dan masyarakat beranggapan penyakit kusta merupakan penyakit yang menjijikan. Kebutuhan Dasar Manusia pada Kusta 1) Gangguan Mobilisasi Hambatan mobilitas fisik sehubungan dengan kontraktur otot dan kaku sendi 2) Gangguan Rasa Aman dan Nyaman Gangguan rasa aman nyaman nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi jaringan 3) Pola hubungan peran Biasanya pada pasien kusta selalu mengurung diri dan menarik diri dari masyarakat (disorentasi) Pasien merasa malu tentang keadaan dirinya. 4) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat Pada umumnya pada pola presepsi pada pasien kusta mengalami gangguan terutama pada body image. 3) Lamanya pengobatan kusta tergantung dari berbagai jenis kusta lepromatus pengobatan minimal 10 tahun.

Pada klien kusta pada umumnya pola tidur tidak teerganggu tetapi bagi kusta yang belum menjalani pengubatan pasien baru biasanya terjadi gangguan kebutuhan tidur dan istirahat yang disebabkan oleh pikiran stress. odema dan peningkatan suhu tubuh yang yang diikuti rasa nyeri. \ BAB III 20 .

maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan lamanya kontak dengan sumber panas/penyebabnya. fase sub akut. Kusta tampil dalam dua jenis bentuk klinis utama. disebut juga tipe lepromatosa. dan kusta bentuk basah. dan jaringan tubuh lain kecuali susunan saraf pusat. 21 . Perjalanan penyakitn luka bakar dibagi menjadi 3 fase yaitu fase akut. yaitu kusta bentuk kering dan tipe tuberkuloid. misalnya tersiram air panas banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis. dan fase lanjut. bahan kimia. Penyakit Kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta ( Mycobacterium leprae ) yang menyerang kulit. Luka bakar karena api atau akibat tidak langsung dari api. KESIMPULAN Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas. listrik dan radiasi. saraf tepi. dermis. maupun bahan kimia. untuk mendiagnosanya dengan mencari kelainan-kelainan yang berhubungan dengan gangguan saraf tepi dan kelainan-kelainan yang tampak pada kulit. listrik. Kedalaman luka bakar akan mempengaruhi kerusakan / gangguan integritas kulit dan kematian sel-sel. juga pajanan suhu tinggi dari matahari. Luka bakar adalah luka yang terjadi karena terbakar api langsung maupun tidak langsung.

Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC – NOC. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. DAFTAR PUSTAKA Adhi Juandha. 2015. Jogjakarta : Mediaction Publishing. Edisi Ketiga.2002. 1999. Smeltzer & Bare.Edisi 8 volume 3. Amin. Prof. Hardhi. 22 . Dr. Jakarta. Jakarta : Penerbit Buku Kedoktean EGC. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.