You are on page 1of 20

ASUHAN KEPERAWATAN GASTROENTERITIS

A. KONSEP DASAR MEDIS
1. Pengertian
Gastroenteritis ialah perubahan tiba-tiba dalam frekuensi dan kualitas
defekasi, sedangkan gastroenteritis dehidrasi ialah frekuensi buang air besar lebih
dari 2 minggu dan tidak terkontrol.
(Sandra M. Nettina, Pedoman Praktik Keperawatan)
Gastroenteritis (diare) ialah pengeluaran feses yang cepat dan berlebih dalam
bentuk energi atau berupa cairan.
(R. Sjamsuhidayat, Ilmu Bedah)
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak
dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau
setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang
meningkat.
(Kapita Selekta Kedokteran)

Jenis-Jenis Diare
Berdasarkan mula dan lamanya, yaitu :
a. Diare akut
Adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa
jam sampai 7 atau 14 hari.
b. Diare kronik
Adalah diare yang berlangsung lebih dari 3 minggu.
Diare kronik dapat dikategorikan secara phatofisiologis yaitu :
1) Diare osmotik
2) Diare sekretorik
3) Diare inflamasi

2. Anatomi dan Fisiologi
Struktur pencernaan.
a. Mulut
Mulut merupakan permulaan saluran pencernaan yang terdiri dari :
1) Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang antara gusi, gigi, bibir
dan pipi.
2) Bagian rongga mulut/ bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi
sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis di sebelah
belakang bersambung dengan faring.

Mulut dicerna secara mekanis oleh alat-alat pencernaan yang terdapat di
dalam rongga mulut. Mulai dari mulut terjadi reflex menghisap dan mengontrol
gerakan mulut dan lidah yang memungkinkan untuk mengunyah makanan.
Pencernaan di mulut dibantu oleh ptyalin, yaitu : enzim yang dikeluarkan oleh
kelenjar salivia yang terdapat di bawah lidah, di bawah rahang dan di bawah
telinga. Fungsi ptyalin berguna untuk membatasi dalam metabolisme makanan.

b. Faring
Merupakan organ yang meghubungkan rongga mulut dengan oesofagus, di
dalam lengkungan faring terdapat amandel, yaitu kumpulan kelenjar limfe yang
mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi.

c. Oesofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tukak lambung dengan
lambung, panjang ± 25 cm mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di
bawah lambung dengan gerakan menelan dan peristaltik makanan diteruskan ke
lambung dengan melewati oesofagus.

d. Gaster
Makanan dicerna secara mekanis oleh peristaltik otot-otot lambung dan
secara chemis dibantu oleh enzim-enzim lambung. Pencernaan dalam lambung
dibantu oleh pepsinogen untuk mencerna protein.
e. Pankreas
Pankreas menghasilkan enzim pencernaan yaitu tripsin untuk mencerna
protein enzim amilase untuk mencerna karbohidrat dan enzim lipase untuk
mencerna lemak. Enzim dikeluarkan oleh ductus pankreaticus ke duodenum.
Pankreas juga memproduksi hormon insulin dan glikogen yang berguna
metabolisme, penggunaan dan penyimpangan karbohidrat.

f. Liver / hati
Liver memproduksi bilirubin untuk mengemulsi dan memproduksi lemak
dan vitamin yang larut dalam lemak di intestinum. Liver adalah organ penting
yang mengatur penggunaan dan penyimpanan hasil akhir metabolisme.

g. Duodenum
Duodenum atau usus 12 jari panjangnya 30 cm terdapat sesudah pilorus,
bentuknya seperti ladam kuda, melengkung ke kiri, fungsi duodenum adalah
untuk pencernaan lanjutan setelah lambung.

h. Usus halus/ intestinum mayor
Proses eliminasi dimulai dari bagian proksimal usus halus pada
duodenum, sari makanan dari lambung diabsorpsi dan sisa kotoran dibawa air
melalui intestinal menuju rectum. Proses ini dibantu dengan adanya peristaltik
dan irama kontraksi usus serta jonjot-jonjotnya, dengan adanya kontraksi yang
kuat bisa meningkatkan absorpsi. Gerakan peristaltik terus-menerus mendorong
hasil ingesti dan digesti ke yeyunum dan ileum kemudian melewati katup
ileoseikal. Bahan makanan yang tidak dicerna, yang sebagian besar berupa
selulosa dan bakteri, melewati usus besar sebagai feces.

i. Usus besar/ colon
Terdiri dari colon asenden, transversum, desenden dan sigmoid serta
rectum. Peristaltik di bagian ini sangat kuat feces dan cairan dalam usus
ascenden dan transversum terdorong sambil air diserap ke usus desenden. Bahan
kotoran yang terdapat di dalam usus sebagian besar berupa feces dan terkumpul
di dalam rectum, akhirnya keluar.

3. Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi beberapa faktor yaitu :
a. Faktor infeksi
1) Faktor internal, meliputi :
a) Infeksi bakteri : Shigella sp, Salmonella sp, Enteroinvasif, E. Coli,
Heliobacter jejuni, yersinia enterocolitica, aeromonas.
b) Infeksi protozoa : enterovirus (virus ECHO, Coxsacke, poliomyelitis),
odenovirus, rotavirus, dan astrovirus.
c) Infeksi parasit : cacing (ascaris trichuris, sirongyloides).
2) Infeksi parenteral ialah infeksi dalam alat pencernaan makanan seperti :
OMA, tonsilitis, bronkopneumonia dan ensefalitas.

b. Faktor malabsorbsi
1) Malabsorbsi karbohidrat : monoksida (intoleransi glukosa fruktosa dan
galaktosa), disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa).
2) Malabsorbsi protein
3) Malabsorbsi asam empedu dan lemak
a) maldigesti intraluminal
b) malabsorbsi mukosa
c) obstruksi
d) insufisiensi pankreas
c. Faktor makanan
1) Makanan basi dan beracun
2) Makanan cair yang aktif osmotik
3) Alergi terhadap makanan
d. Eksudasi cairan, elektrolit dan mukus berlebihan
e. Faktor obat-obatan dan toksin
f. Gangguan transpor elektrolit

4. Patofisiologi
Diare akibat infeksi terutama ditularkan secara fekal oral. Hal ini disebabkan
masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi tinja ditambah dengan ekskresi
yang buruk, makanan yang tidak matang, bahkan yang disajikan tanpa dimasak.
Penularannya adalah transmisi orang ke orang melalui aerosolisasi, tangan yang
terkontaminasi, atau melalui aktivitas seksual. Faktor penyebab yang mempengaruhi
patogenitas antara lain daya penetrasi yang merusak sel mukosa, kemampuan
memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus, serta daya lekat
kuman. Kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat menginduksi diare.
Infeksi tersebut terbagi dua, yaitu :
a. Toksin yang diproduksi bakteri terikat pada mukosa usus halus, namun tidak
merukak mukosa, kemudian meningkatkan kadar siklik AMP di dalam sel,
menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen usus.
b. Bakteri yang merusak dinding usus berupa nekrosis, ulserasi, dan bersifat
sekretori eksudatif.

Parasit menyebabkan kerusakan berupa ulkus besar, kerusakan vili yang penting
untuk penyerapan air, elektrolit dan zat makanan.
Virus kemungkinan dengan merusak sel epitel mukosa walaupun hanya
superfisial sehingga mengganggu absorbsi air, dan elektrolit sebaliknya sel-sel kripti
akan berproliferasi, dan menyebabkan bertambahnya cairan ke dalam lumen usus.
Selain itu, terjadi pula kerusakan enzim-enzim disakarida yang menyebabkan
intoleransi laktosa, yang akhirnya memperlama diare.
Gangguan transpor akibat adanya perbedaan osmotik intralumen dengan mukosa
yang besar sehingga terjadi penarikan cairan dan elektrolit ke dalam lumen usus dalam
jumlah besar menyebabkan diare sekretorik.
Berdasarkan banyaknya air yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang
dan berat.
a. Dehidrasi ringan : Kehilangan cairan 5% - 6% dari berat badan
Gambaran klinis : Turgor kurang elastis, suara serak, penderita belum termasuk
dalam keadaan presyok meningkat rasa haus dan gelisah

b. Dehidrasi sedang : Kehilangan cairan 7% - 10% dari berat badan
Gambaran klinis : Mata agak cekung, mulut dan lidah kering, peningkatan rasa
haus, nadi terasa cepat.

c. Dehidrasi berat : Kehilangan cairan lebih dari 10% dari berat badan, ditandai
dengan :
1) Letargi, stupor dan koma
2) Mata sangat cekung dan tanpa air mata
3) Mulut dan lidah sangat kering
4) Pernafasan cepat dan dalam
5) Penderita sangat haus, namun bila stupor minum sedikit sekali bahkan tidak
sama sekali.
6) Cubitan kulit kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik)
7) Nadi cepat dan tidak teraba
8) Penderita tidak kencing selama 6 jam atau lebih
9) Sianosis

5. Manifestasi Klinik
a. Gangguan sistem pencernaan seperti nausea, muntah, nyeri perut sampai kejang
perut, demam, dan diare
b. Kekurangan cairan menyebabkan merasa haus, lidah kering, tulang pipi
menonjol, turgor kulit menurun, suara menjadi serak.
c. Gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik dan menyebabkan frekuensi
pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul).
d. Terjadinya renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120
x/mnt), tekanan darah menurun sampai tak terukur, pasien gelisah, muka pucat,
ujung-ujung ekstremitas dingin.
e. Kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung
f. Perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria.
g. Kadang diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah.

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan darah)
Untuk menghitung darah lengkap, pada proses peradangan terdapat peninggian
LED, pada malabsorbsi dapat terjadi anemia, pemeriksaan gula darah atau tes
toleransi glukosa khusus penderita pankreatitis.
b. Radiologis
c. Kolonoskopi
d. Pemeriksaan feses rutin serta feses untuk organisme infeksius atau parasit
e. Patosigmoidoskopi dan enema barium

7. Komplikasi
Akibat diare kronis, kehilangan cairan dan elektrolit dapat terjadi beberapa
komplikasi sebagai berikut :
a. Renjatan hipovolemik (volume darah menurun 15 %- 25% berat badan akan
menyebabkan tekanan darah)
b. Hipokalemia
c. Hipoglikemia
d. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim
laktase
e. Kejang
f. Malnutrisi energi protein
g. Potensial terhadap disritmia jantung akibat hilangnya cairan dan elektrolit
secara bermakna
8. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medik
1) Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan
a) Oralit
b) Cairan infus
Diberikan cairan Ringer laktat, bila tidak tersedia dapat dierikan cairan
NaCl isotonik ditambah 1 ampul Na biakrbonat 7,5 % 50 ml, dextrosa
5%, dekstrosa dalam salin.
2) Antispasmodik, antikolinergik (antagonis stimulus kolinergik pada reseptor
muskarinik)
Contoh : papaverin, mebeverine, propantelin bromid, hiosin N-butilbromida.
3) Obat antidiare
4) Antiemetik
5) Vitamin dan mineral tergantung kebutuhan yaitu vitamin B12, asam folat,
Vitamin A, vitamin K.
6) Obat ekstrak enzim pankreas
7) Aluminium hidroksida, memiliki efek konstipasi dan mengikat asam
empedu.
8) Fenotiazin dan asam nikotinat, menghambat sekresi anion usus.

b. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Memberikan jumlah cairan sesuai cairan yang dikeluarkan
2) Mengidentifikasi penyebab diare akut karena infeksi
3) Memberikan pengetahuan yang jelas sebagai langkah pencegahan seperti
higiene perorangan, sanitasi lingkungan, dan imunisasi melalui vaksinasi
sangat berarti.
4) Memberi posisi bedrest
5) Mengontrol diare, jumlah cairan dan bentuk cairan yang keluar
6) Mengatur pola makanan rendah serat.
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan
untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat
mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan dan keperawatan pasien baik fisik,
mental, sosial, spiritual, dan lingkungan.
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan gastroenteritis dehidrasi antara
lain :
a. Sering defekasi : - warna kuning kehijauan
- mungkin mukoid
- mungkin mengandung darah
b. Penurunan berat badan
c. Penurunan nafsu makan
d. Nyeri atau krum abdomen
e. Distensi abdomen
f. Hiperaktif bising usus
g. Muntah
h. Demam
i. Peka rangsang
j. Iritasi bokong
k. Letargi meningkat
l. Dehidrasi (mata cekung, turgor kulit buruk, selaput lendir kering, berat jenis
urine tinggi).
m. Ketidakseimbangan caiaran dan elektrolit
n. Hiponatremia dan hipokalemia
o. Asidosis metabolik
p. Pemeriksaan laboratorium
q. Spesimen jelas (kultur dan apusan)
r. Peningkatan leukosit atau adanya gumpalan pus
2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah respon pasien pada masalah aktual dan potensial
masalah aktual adalah yang ditemukan pada saat pengkajian, sedangkan masalah
potensial adalah kemungkinan masalah yang timbul terutama bila masalah aktual
tidak diatasi. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada pasien
gastroenteritis dehidrasi adalah :

a. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan diare kronik atau pengeluaran
cairan yang berlebihan
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan pemasukan nutrien yang
kurang.
c. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan pengeluaran cairan yang
berlebihan.
d. Perubahan integritas kulit berhubungan dengan iritasi daerah anus karena sering
defekasi.
e. Diare kronik berhubungan dengan iritasi usus proses infeksi atau malabsorbsi
usus.
f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kekurangan informasi mengenai
kebutuhan perawatan di rumah.

3. Perencanaan

Perencanaan keperawatan mata rantai antara penerapan kebutuhan klien dan
pelaksanaan tindakan keperawatan. Dengan demikian rencana asuhan keperawatan
adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana
tindakan yang dilakukan terhadap pasien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan
diagnosa keperawatan.
Perencanaan sesuai dengan diagnosa keperawatan pada klien dengan
gastroenteritis adalah sebagai berikut :
a. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan diare kronik atau pengeluaran
cairan yang berlebihan
Tujuan : Kebutuhan volume cairan tubuh seimbang
Kriteria hasil : - Diare tidak terjadi lagi (BAB normal)
- Defekasi tidak seiring

Intervensi :
1) Kaji terjadinya kekurangan volume cairan
R/ Mengetahui seberapa banyak pasien mengalami kekurangan cairan
serta menentukan intervensi selanjutnya.
2) Observesi vital sign (suhu dan nadi)
R/ Mengetahui keadaan umum pasien, adanya takikardia dan
demam menunjukkan respon dan efek kehilangan cairan
3) Timbang berat badaan setiap 2 kali sehari jika mungkin
R/ Indikator cairan dan status nutrisi
4) Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan minum (asi/ pasi)sedikit –
sedikit tapi sering.
R/ Diharapkan dapat menggantikan cairan yang hilang dan
mencegah dehidrasi lebih lanjut
5) Catat intake output
R/ Mengetahui keseimbangan cairan yang terjadi pada pasien
6) Libatkan keluargadalam mendampingi pasien
R/ Untuk memberikan dorongan dan motivasi pada pasien
7) Kalaborasi medik dalam memberikan cairan parenteral, antremedik dan
antibiotik
R/ Cairan parenteral untuk menggantikan cairan yang hilang,
antibiotik untuk mengobati infeksi dan antiemetik untuk mual dan
muntah.
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubung dengan pemasukan nutrien
yang kurang adekuet.
Tujuan : Kebutuhan nutrien terpenuhi
Kriteria hasil : Muntah teratasi, nafsu makan baik pasien menghabiskan
porsi makan disediakan.

Intervensi:
1) Kaji perubahan nutrisi dan cairan
R/ Mengetahui kekurangan kebutuhan nutrisi akibat muntah, anoreksia.
2) Observasi vital sign
R/ Mengetahui keadaan umum pasien
3) Anjurkan pasien/ keluarga membatasi aktivitas fisik
R/ Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan
kalori dan simpanan energi
4) Berikan makanan per oral segera sesudah pasien dehidrasi
R/ Mempercepat proses penyembuhan dan kenaikan berat badan
5) Libatkan keluarga dalam mendampingi pasien
R/ Pasien akan termotivasi bila didampingi oleh keluarga
6) Kolaborasi medik dalam pemberian antiemetik
R/ Menurunkan rasa mual dan muntah.

c. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan pengeluaran cairan yang
berlebihan.
Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria hasil : Demam berkurang
- Pengeluaran cairan kembali normal

Intervensi :
1) Kaji tanda-tanda perubahan suhu seperti hipermisis bibir, mukosa kulit
kering
R/ Untuk memberikan tindakan keperawatan dan pengobatan yang tepat
2) Observasi vital sign
R/ Untuk mengetahui keadaan umum pasien
3) Observasi diare, turgor kulit dan mata cekung
R/ Untuk mengetahui tanda-tanda dehidrasi
4) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap
keringat
R/ Untuk menimbulkan penguapan panas sehingga tercapai suhu
tubuh dalam batas normal
5) Anjurkan pasien banyak minum 1000 cc/hari
R/ Untuk mengurangi dehidrasi dan memberikan kebutuhan cairan
yang dibutuhkan pasien
6) Berikan kompres dingin
R/ Untuk menurunkan suhu tubuh
7) Kolaborasi medik dalam pemberian antipiretik
R/ Efek obat antipiretik menurunkan panas

d. Perubahan integritas kulit berhubungan dengan iritasi daerah anus karena sering
defekasi.
Tujuan : Integritas kulit normal
Kriteria hasil : Tidak terjadi iritasi pada kulit
- Defekasi normal

Intervensi :
1) Jaga daerah anus agar tetap bersih
R/ Untuk menghindari terjadinya iritasi
2) Cuci kulit dengan sabun yang lembut setiap kali defekasi
R/ Menghindari masuknya kotoran yang dapat menimbulkan iritasi
3) Berikan udara pada daerah bokong sebanyak mungkin
R/ Menghindari terjadinya dekubitus
4) Berikan salep perlindungan tiap kali defekasi
R/ Mencegah terjadinya iritasi
5) Kolaborasi medik dalam pemberian terapi
R/ Terapi yang tepat menghindari komplikasi

e. Diare kronik berhubungan dengan iritasi usus proses infeksi atau malabsorbsi
usus.
Tujuan : Konsistensi feces normal
Kriteria hasil : Tidak terjadi iritasi
- Nyeri abdomen berkurang
- Frekuensi BAB normal (± 1 kali/ hari)

Intervensi :
1) Pertahankan status puasa sampai frekuensi dan volume diare menurun
R/ Untuk mencegah terjadinya iritasi lebih lanjut
2) Gambarkan frekuensi karakteristik dan warna feces
R/ Untuk mengetahui kelainan dan dapat memberikan terapi yang tepat
3) Ambil feces sesuai pesanan
R/ Untuk mengetahui kandungan atau terdapatnya bakteri penyebab diare
4) Kaji keseimbangan cairan dan elektrolit setiap 6 jam sekali
R/ Mengetahui tingkat gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
5) Kolaborasi medik untuk mendapatkan terapi yang efektif dan pemberian
antibiotik
R/ Terapi yang tepat dan efektif mempercepat pemenuhan cairan tubuh
dan efek antibiotik untuk mengobati infeksi
f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kekurangan informasi mengenai
kebutuhan perawatan di rumah.
Tujuan : Pengetahuan keluarga pasien bertambah
Kriteria hasil : - Keluarga pasien dapat mengerti prosedur yang akan
dilakukan
- Keluarga pasien tahu perawatan diare di rumah

Intervensi :
1) Kaji kemampuan keluarga pasien dalam perawatan diare
R/ Mengetahui sejauh mana keluarga pasien tahu tentang perawatan diare
2) Berikan penjelasan tentang perawatan dan prosedur pengobatan diare di
rumah
R/ Menghindari kesalahan dalam perawatan dan pengobatan
3) Jelaskan pada keluarga bahwa pasien penting untuk disolusi
R/ Menghindari terjadinya penularan
4) Ajarkan perawatan daerah bokong
R/ Untuk menghindari terjadniya perubahan integritas kulit
5) Anjurkan kepada keluarga untuk segera melaporkan gejala kekambuhan
pasien
R/ Untuk menghindari bahaya yang lebih lanjut/ komplikasi
6) Ajarkan nama obat, waktu, dosis, dan efek samping obat
R/ Untuk menghindari kesalahan pemberian obat.
7) Jelaskan pemberian diet, batasi pemberian makanan tinggi serat, tinggi
lemak dan makanan gorengan
R/ Makanan ini dapat mengiritasi usus bila pasien masih lemah
8) Kolaborasi medik dalam memberikan penjelasan/ informasi
R./ Informasi / penjelasan yang tepat dapat menambah
pengetahuan keluarga pasien
4. Implementasi

Pada tahap ini dilakukan tindakan rencana keperawatan yang ditentukan
tujuan dari pelaksanaan adalah untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal
jadi implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan
yang di susun pada tahap perencanaan.

5. Evaluasi

Hasil yang diharapkan
a. Melaporakan pola defekasi cairan
b. Mempertahankan keseimbangan cairan
1) Mengkonsumsi cairan peroral dengan adekuat
2) Melaporakn tidak ada keletihan dan kelemahan alat
3) Menunjukkan membran mukosa dan turgor jaringan normal
4) Mengalami keseimbangan asupan dan haluaran
5) Mengalami berat jenis urine normal
c. Mengalami penurunan tingkat ansietas
d. Mempertahankan integritas kulit
1) Mempertahankan kulit tetap bersih setelah defekasi
2) Menggunakan pelembab atau salep sebagai barier kulit
e. Tidak mengalami komplikasi
1) elektrolit tetap dalam rentang normal
2) tanda vital stabil
3) Tidak ada disritmia atau perubahan dalam tingkat kesadaran
D. DISCHARGE PLANNING
1. Berikan penjelasan mengenai nutrisi yang adekuat dan masukan cairan
2. Berikan dorongan untuk mengenali perilaku koping maladaptif dan stressor yang
mencetuskan ansietas.
3. Berikan pengetahuan tentang proses penyakit, pronosis dan program pengobatan
dipahami
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan teknik pengontrolan diri dan selalu menerima
kondisi dengan positif
5. Bila terjadi tanda-tanda yang sama harus segera dilaporkan untuk mencegah
komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Asdie, Ahmad. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume I. Jakarta : Penerbit buku
kedokteran, 1999.

Gibson, John. Diagnosa Gejala Penyakit Untuk Para Perawat. Jakarta : Yayasan Essentia
Medica, 1990.

Sandra M. Nettina. Pedoman Praktek Keperawatan. Jakarta : EGC. 2001.

Smeltzer, Suzane. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Jakarta :
EGC. 2001.

Soeparman. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Balai Penerbit. FKUI. 1990.
C. PATOFLOW DIAGRAM TEORI

Infeksi enternal (Bakteri, virus, parasit) Tindakan operasi (vagotomi, Malabsorbsi asam empedu dan lemak Faktor psikologis
koleksistektomi, dan hemikolektomi) (ketakutan/ kecapekan/ stress)
Menempel pada usus Adanya makanan/ zat yang tidak dapat
Malabsorbsi garam empedu diserap berupa obat/ nutrien Mempengaruhi saraf parasimpatis
Mengiritasi saluran pencernaan di
usus halus distal Meningkatkan tekanan osmotik dalam Menurunkan stimulus terhadap usus
Penyaluran garam empedu
rongga usus
yang berlebihan
Mempengaruhi lapisan mukoid mukud Meningkatkan kontaksi elektrolit
Pergeseran air dan elektrolit ke dalam
rongga usus
Mikroba mempengaruhi lapisan otot Transportasi cairan dan elektrolit yang
Berlebihan isi rongga usus abnormal
Peningkatan motalitas
Meningkatkan rangsangan pada dinding
- Demam usus
Menyebabkan banyak cairan
elektrolit terbuang - Muntah
- Mual Meningkatkan sekresi air dan elektrolit
Penyerapan zat-zat di kolon - Nyeri menyeluruh
berkurang - Dehidrasi

MK: Kekurangan
volume cairan
DIARE
Berat Diare kronis
Hilangnya cairan dan elektrolit secara bermakna (Kalium)
Sekresi elektrolit Meningkatkan kekuatan
Dehidrasi berat - Proses cairan yang berlebihan Inflamasi osmotik
Haluan urine ≤ 30 m/jam selama
(berminyak) mukosa
2-3 jam berturut-turut Cairan tertarik ke dalam
Syok hipovolemik - Nyeri
- Mukus, pus,darah Diare Kerusakan lumen usus
Kelemaham otot-otot parestesia epitelium
MK: Resiko kekurangan sekretorik Meningkatkan volume cairan
+ Penurunan kadar kalium volume cairan dalam usus yang berlebihan
Terganggunya
- Hipotensi
absorbsi intestinal Kolon tidak mampu
Disritmia jantung - Anoreksia
- Samnolens menyerap
Takikardia atrium dan ventrikel Diare
MK: Perubahan nutrisi inflamatik Diare osmotik
Fibrasi ventrikel dan kontraksi ventrikel prematur

+