You are on page 1of 7

1.

Hasil wawancara pada penelitian yang dilakukan oleh Flora terhadap ODHA di Klinik

VCT RSU Bethesda Gmim Tomohon diketahui bahwa sebagian besar dari mereka sejak

ditetapkan menderita HIV. seringkali merasakan ketakutan terhadap penyakit, pesimis terhadap

masa depan, merasa tak berdaya dan hidup tak berarti atau merasa sia-sia. Selain itu beberapa

pasien mengungkapkan, bahwa setelah mereka diketahui terinfeksi HIV, keluarga justru

menunjukkan sikap penolakan dan tidak peduli dengan kondisi mereka. Ini menunjukkan sikap

keluarga yang tidak memberikan dukungan suportif pada pasien, akibatnya pasien akan

semakin menilai dirinya negatif dan tidak optimal dalam penanganan penyakit dan akan

memperburuk derajat kesehatannya. (JURNAL 1)

2. World Health Organization (WHO) telah mendefinisikan kondisi sehat bukan hanya berarti

bebas dari penyakit dan kelainan fisik namun lebih pada pencapaian keadaan sejahtera

(wellbeing) dengan hidup yang berkualitas.Pada pasien HIV/AIDS sangat penting untuk

memperhatikan aspek kualitas hidup karena penyakit infeksi ini bersifat kronis dan progresif,

sehingga berdampak luas pada segala aspek kehidupan baik fisik, psikologis, sosial maupun

spiritual.Selain itu dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam

hal treatment medis berupa Antiretroviral ARV yang harus diminum seumur hidup. (JURNAL

1)

3. Berbagai reaksi muncul ketika seseorang didiagnosa menderita HIV/AIDS seperti perasaan

takut, menyesal, mencoba menyangkal, depresi, bingung serta tidak tahu yang harus

dilakukan. Mengidap HIV/AIDS masih dianggap aib, sehingga dapat menyebabkan tekanan

psikologis terutama pada penderitanya maupun pada keluarga dan lingkungan di sekeliling

penderita (Nursalam,2007) (JURNAL 2)

Hal tersebut didukung dari hasil penelitian Diatmi (2014) yang merekomendasikan agar penelitian selanjutnya dapat mengkhususkan sumber dari dukungan sosial yang diperoleh ODHA. putus asa. misalnya dukungan sosial yang diperoleh dari keluarga. Berbagai masalah psikologis ini dapat mempengaruhi kemampuan ODHA untuk berpartisipasi secara penuh dalam pengobatan dan perawatan dirinya.4. cemas dan depresi) sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas hidup ODHA dari segi psikologis kurang baik. emosional. (JURNAL 2) 7. maka dapat diambil kesimpulan bahwa . 2006). Penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien (JURNAL 2) 6. (JURNAL 2) 8. Masih banyak ditemui penderita ODHA yang kurang mendapatkan dukungan dari keluarga. sehingga berdampak terhadap kualitas hidup ODHA (Hardiansyah. (JURNAL 2) 5. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Novrianda dkk (2015) mengenai dukungan keluarga dengan kualitas hidup ODHA di Lantera Minangkabau Support Padang Tahun 2014. Stigma tersebut menyebabkan ODHA sering merasakan feeling blue (kesepian. 2011). Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa dukungan keluarga sangat penting bagi ODHA. Salah satu hal yang perlu diperhatikan pada ODHA adalah dukungan keluarga. dengan sampel sebanyak 106 orang. Kualitas hidup dianggap sebagai suatu persepsi subjektif multidimensi yang dibentuk oleh individu terhadap fisik. dan kemampuan sosial termasuk kemampuan kognitif (kepuasan) dan komponen emosional atau kebahagiaan. Hal ini disebabkan oleh karena tingginya stigma yang terkait dengan penyakit HIV/ AIDS sehingga anggota keluarga yang menderita penyakit ini sering dianggap telah melanggar norma-norma dalam keluarga dan memalukan keluarga. Pada akhirnya mereka sering dikucilkan ditelantarkan bahkan diisolasi dari lingkungan (Purnama & Haryanti.

(2014) menyatakan bahwa ODHA yang mendapatkan dukungan keluarga memiliki adaptasi psikologis yang lebih baik sehingga berdampak pada kualitas hidup. (JURNAL 2 tpi gw yg nyimpulin) 9. 10. bantuan tingkah laku ataupun materi sehingga ODHA merasa diperhatikan. bernilai dan dicintai.(Muchlis & Stephanus. 2015). Akibatnya penderita HIV di diskriminasi dari lingkungan kehidupan sosial. 2015). 11.Support dan dukungan keluarga sangat penting. et al. penanganan penyakit. Masih banyak ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) yang mengeluh dikucilkan oleh keluarga setelah pulang dari rumah sakit atau dikeluarkan dari pekerjaan karena ketahuan HIV positif. 13.4% ODHA mempunyai kualitas hidup yang baik. terutama bagi penderita HIV usia Muda . mengasingkan. serta 59. Penyakit HIV dianggap sebagai penyakit yang terhina dan bahkan ada yang menyebutnya sebagai hukuman Allah atau kutukan Tuhan. 57. Hardiansyah (2011) dalam penelitiannya tentang “Kualitas Hidup Orang dengan HIV/AIDS di Kota Makasar” menyatakan bahwa agar dapat meningkatkan kualitas hidup ODHA.(Muchlis & Stephanus. Memberikan dukungan kepada ODHA dapat dilakukan dengan cara pemberian informasi. ada juga yang dikeluarkan dari tempat pendidikan karena ada kekhawatiran akan menularkan virus HIV ke peserta didik lain . dan pengobatan. Penelitian Amlya. bahwa secara umum masyarakat Indonesia belum memahami HIV.(Muchlis & Stephanus. 2015). keluarga harus mampu memberikan rasa aman dengan cara tidak menghindari. tidak dapat disembuhkan dan mematikan. Hal ini bisa menjadi parameter.Sampai saat ini masyarakat masih melihat HIV sebagai penyakit yang mengerikan.5% mempunyai dukungan keluarga yang baik. . 12. serta menolak keberadaannya.

2009) 18. Peran dan dukungan keluarga sangat penting bagi ODHA.14. ODHA memang semakin rentan terserang penyakit-penyakit lain akibat terinfeksi oleh HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh. 15. 2015). Tuapattinaja (2004) menyebutkan bahwa ODHA adalah singkatan dari orang dengan HIV dan AIDS . agar ODHA memiliki semangat dan harapan. (jurnal 3) 17. ODHA merupakan pengganti dari istilah pengidap yang mengarah pada pengertian bahwa orang tersebut telah positif didiagnosa mengidap HIV dan AIDS. mengalami demam yang tidak kunjung hilang. . (Kompas. Seperti yang telah dipaparkan dalam beberapa kasus sebelumnya bahwa beberapa ODHA menjadi lebih cepat lelah. 16. teman. penurunan berat badan secara drastis hingga sering terkapar lemas di tempat tidur akibat dari infeksi HIV. Bagi orang yang telah didiagnosa positif mengidap HIV dan AIDS sering disebut sebagai ODHA. . dan mempengaruhi ODHA untuk tetap semangat serta hidup sehat walau dengan HIV positif.keluarga dengan salah satu anggotanya ada yang ODHA hendaknya tetap memberikan kasih saying yang tulus karena dengan kasih saying itu akan meningkatkan kekebalan tubuh ODHA. Pada akhirnya mereka akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari bahkan mereka tidak mampu untuk bekerja lagi. Salah satu hal yang dapat memperburuk kondisi ODHA adalah adanya stigma dan diskriminasi yang berkembang di lingkungan masyarakat. 2015). Adanya stigma dan diskriminasi yang berujung pada ketidaksetaraan dalam kehidupan sosial yang membuat ODHA menjadi enggan untuk membuka diri dan bersosialisasi di .(Muchlis & Stephanus. maupun keluarga. Ketidakmampuan ODHA untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan bahkan ketidakmampuan ODHA untuk bekerja ini telah mengindikasikan bahwa mereka mengalami penurunan kualitas hidup.(Muchlis & Stephanus. tenaga medis.

Kompleksnya masalah yang mesti dihadapi oleh ODHA ini tentunya dapat berimbas pada penurunan kualitas hidup. misalnya dengan memberikan informasi dari artikel di internet.(jurnal 3) 19. Seperti pada kasus AR yang hampir enam tahun lebih berjuang agar diakui kembali di lingkungan keluarga dan masyarakat (Tabloid Galang Kangin. kondisi psikologis. (Jurnal 3) 20. AR menjadi rajin untuk melakukan olahraga dan berusaha menjauhkan diri dari pola hidup yang buruk. lingkungan sekitar juga semakin menghambat ODHA untuk berfungsi dalam lingkungan sosialnya. Berbagai cara ditempuh AR demi membina kembali hubungan baik dengan keluarga. misalnya dengan berhenti . Dukungan yang diperoleh AR dari keluarganya ini telah mampu membuat AR lebih bersemangat dalam menjalani hidup. dan hubungan individu tersebut dengan lingkungannya (WHO. sehingga ia bisa mendapatkan dukungan dari keluarganya secara langsung. tetapi ODHA juga dihadapkan pada adanya stigma dan diskriminasi yang dapat menambah beban psikologis dari ODHA itu sendiri. 2012). ODHA dalam kesehariannya dituntut untuk mampu menghadapi permasalahan yang cukup kompleks. tingkat kemandirian. hubungan sosial. Kualitas hidup ini sangat berkaitan dengan hal-hal yang cukup kompleks seperti kesehatan fisik. Hal ini secara tidak langsung juga dapat sebagai pemicu penurunan kualitas hidup pada ODHA. koran maupun majalah yang memuat berita mengembirakan mengenai ODHA. 2007). sehingga diperlukan intervensi yang dapat membantu ODHA untuk menunjang kualitas hidupnya. Fayers dan Machin (2007) mengemukakan bahwa kualitas hidup sebagai pandangan atau perasaan seseorang terhadap kemampuan fungsionalnya akibat terserang oleh suatu penyakit. ODHA tidak hanya dihadapkan pada permasalahan dari sisi fisiologis akibat terinfeksi HIV. Lama-kelamaan AR akhirnya dapat menjalin komunikasi yang baik lagi dengan keluarganya.

Hal terpenting yang juga perlu diperhatikan dalam penanganan ODHA adalah dukungan keluarga (Kusuma. Menurut Avisinna Emit Athfi dalam penelitiannya yang berjudul “Dukungan Sosial Orang Dengan HIV/AIDS . sehingga pada saat ini HIV dan AIDS telah dianggap sebagai penyakit yang dapat dikendalikan dan tidak lagi dianggap sebagai penyakit yang menakutkan (KEMENKES-RI. meningkatkan kualitas hidup ODHA. Dalam hal ini. Dukungan keluarga adalah faktor yang penting bagi individu ketika menghadapi masalah (kesehatan). mengonsumsi obat-obatan terlarang. Keluarga menjadi unsur penting dalam kehidupan seseorang karena keluarga merupakan sistem yang di dalamnya terdapat anggota-anggota keluarga yang saling berhubungan dan saling ketergantungan dalam memberikan dukungan. keluarga merupakan unit sosial terkecil yang berhubungan dengan ODHA. Strategi dalam upaya menanggulangi HIV/AIDS di Indonesia. dkk 2010). Sejak ditemukannnya obat antiretroviral (ARV) pada tahun 1996 sangat membantu dalam perawatan ODHA yang bermanfaat menurunkan morbiditas dan mortalitas dini akibat infeksi HIV. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diterima AR telah mampu membuatnya untuk mengembangkan perilaku positif demi mencapai kehidupan yang lebih baik. dukungan serta pengobatan. 2011). namun terapi ARV dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan. rasa aman. 2011). 21. 2011). Meskipun belum mampu menyembuhkan penyakit secara komprehensif. dan perhatian yang secara harmonis menjalankan perannya masing-masing untuk mencapai tujuan bersama (Friedman.kasih sayang. dan meningkatkan harapan masyarakat. dimana dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang melindungi seseorang dari efek stress yang buruk (Kaplan dan Sadock. dilaksanakan dengan memadukan upaya pencegahan dengan upaya perawatan.

(Jurnal 3) Salah satu faktor yang memiliki peranan penting dalam kualitas hidup ODHA adalah dukungan keluarga. Kompleksnya permasalahan yang mesti dihadapi oleh ODHA ini tentunya dapat berimbas pada penurunan kualitas hidup. (penelitian kualitatif) 22. 2017). ODHA dalam kesehariannya dituntut untuk mampu menghadapi permasalahan yang cukup kompleks. (ODHA) Oleh Victory Plus Di Yogyakarta” mengatakan bahwa dukungan sosial berhasil dalam mengembalikan kualitas hidup seseorang. ODHA tidak hanya dihadapkan pada permasalahan dari sisi fisiologis akibat terinfeksi HIV. Orang yang telah terinfeksi virus HIV ini akan sangat rentan terserang penyakit. 23 . baik aspek psiologi. akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh. tetapi ODHA juga dihadapkan pada adanya stigma dan diskriminasi yang dapat menambah beban psikologis dari ODHA itu sendiri. sosial dan spiritual (Emit.