You are on page 1of 77

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KONTEKS SOSIAL DAN IDEOLOGI PROLETAR
TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BUKAN PASAR MALAM
KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Tugas Akhir
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia

Oleh
Vincentius Gitiyarko Priyatno
NIM: 134114030

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

2017

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

iii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iv .

tapi selama ia tidak menulis. engkau akan jatuh di antara bintang-bintang. -Ignatius Loyola- Bermimpilah setinggi langit. -Soerkarno- Orang boleh pandai setinggi langit. v . ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Jika engkau jatuh. -Pramoedya Ananta Toer- Skripsi ini kupersembahkan untuk : Si Kecil yang akan segera datang dalam hidupku. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO DAN PERSEMBAHAN Cinta lebih nyata dalam perbuatan daripada dalam perkataan.

M. M. sewajarnya penulis mengucapkan terima kasih terhadap seluruh pihak yang sudah membantu dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.Hum. Fakultas Sastra. Bapak Drs.Hum. yaitu : 1. sebagai Dosen Pembimbing Akademik Angkatan 2013. Bapak Dr. Praptomo Baryadi. 4. terima kasih atas segala pendampingan. Terima kasih terutama atas rekomendasi buku-buku yang mencerahkan. terutama perhatian dan motivasi yang diberikan untuk menyelesaikan skripsi ini... Dengan demikian. masukan dan waktu yang disediakan kepada penulis. terima kasih atas segala pendampingan. Yoseph Yapi Taum. Peni Adji. 2. sebagai pembimbing I. I. Banyak pihak yang membantu dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.E.S. vi . M. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan penyelesaian program Strata satu (S-1) Program studi Sastra Indonesia. M. M.Hum. B. 3. Bapak Dr. Rahmanto.Hum. masukan dan waktu yang disediakan kepada penulis. Bapak Hery Antono. sebagai pembimbing II. terima kasih atas motivasi dan ilmu yang diberikan sehingga skripsi ini selesai dalam masa studi yang disarankan. Universitas Sanata Dharma. Alm.. terima kasih telah memberikan banyak ilmu dan pengetahuan kepada penulis selama kuliah.Hum. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh proses penyelesaian skripsi ini. M. S.Hum. Ibu S. Dr. Prof. Ari Subagyo. Para dosen.

Isi skripsi ini merupakan tanggung jawab penulis sepenuhnya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Ibu. 10. Anna Elfira. teman hidupku yang mau selalu bersabar ketika penulis menyelesaikan skripsi. dalam proses di dalam maupun luar kelas. Mbak Theresia Rusmiyati. Bapak. 8. Untuk itu. terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada penulis. 9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. 6. Seluruh Karyawan Universitas Sanata Dharma. terima kasih atas dukungan dan motivasi. 11. dan adik. 7. Penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi lebih banyak orang. Keluarga penulis. terima kasih atas pelayanan dan hospitalitas selama masa studi penulis. terima kasih atas dukungan materi dan rohani. Yogyakarta. yang selalu siap sedia ketika penulis membutuhkan bantuan administrasi. terima kasih atas kebersamaan selama kuliah. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Teman-teman angkatan Sastra Indonesia 2013. Teman-teman kerja di Lembaga Bahasa Sanata Dharma. Karyawan sekretariat Prodi Sastra Indonesia. segala saran dan kritik dari segala pihak akan penulis terima dengan besar hati. 12 Juni 2017 Penulis vii .

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI viii .

Hasil analisis akan dideskripsikan secara kualitatif. Jurusan Sastra Indonesia. sementara tokoh tambahan adalah Istri Aku. Fakultas Sastra. (2) Konteks sosial novel Bukan Pasar Malam adalah situasi Indonesia ketika Revolusi. mendeskripsikan konteks sosial. (b) Borjuisme adalah musuh. sementara Ayah adalah seorang pensiunan guru yang ikut berjuang dalam masa kemerdekaan. Novel ini ditulis tahun 1951 ketika Pramoedya belum aktif di Lekra dan masih apatis terhadap politik. (3) Ideologi proletar yang ada meliputi (a) Tidak ada perencanaan kebutuhan di luar kebutuhan primer. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan unsur intrinsik yang befokus pada tokoh. Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia. Masa Revolusi berlangsung dari 1945-1950. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan teori Marxisme. yaitu peneliti mendeskripsikan konteks sosial dan ideologi proletar yang ada dalam novel Bukan Pasar Malam. Teori Marxisme dimulai dari munculnya Manifesto Partai Komunis yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Perjuagan Revolusi di satu sisi terasa begitu herois. ix . lalu deskripsi konteks sosial yang terdapat dalam novel dan situasi Indonesia pada masa itu. (c) Akses kesehatan adalah hal yang tidak mungkin. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Terdapat tiga gradasi tokoh dalam novel Bukan Pasar Malam. Ini bisa dilihat dari surat yang tertanggal 1949. Tokoh utama adalah Aku. Novel ini dibaca secara mendalam kemudian data yang diperoleh dicatat. Metode dan teknik analisis data yaitu analisis isi. 2017. Metode dan teknik penyajian hasil analisis data adalah deskriptif kualitatif. tetapi di sisi lain juga muncul tindakan brutal yang dilakukan oleh pemuda. kemudian analisis ideologi proletar yang terdapat di dalam tokoh utama pada novel. yaitu tokoh utama. dan (d) Relasi dengan sesama adalah relasi ekonomi. penokohan. penokohan dan latar. Istri Aku adalah orang Sunda yang dinikahi oleh Aku. Penelitian ini diawali dengan analisis unsur tokoh. dan latar. Aku adalah seorang pemuda yang ikut dalam perjuangan revolusi. tokoh utama tambahan dan tokoh tambahan. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Priyatno. Vincentius Gitiyarko. tokoh utama tambahan adalah Ayah. Data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis dengan teori strukturalis dan teori Marxisme. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode studi pustaka. Universitas Sanata Dharma. Konteks Sosial dan Ideologi Proletar Tokoh Utama dalam Novel Bukan Pasar Malam Karya Pramoedya Ananta Toer. dan menganalisis ideologi proletar dalam novel Bukan Pasar Malam. Penelitian ini mengkaji konteks sosial dan ideologi proletar tokoh utama dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer.

Ditemukannya ideologi proletar dalam novel menunjukan bahwa Pramoedya sudah memiliki benih-benih pemikiran kiri meskipun dia belum bersinggungan dan terpengaruh oleh pemikiran tersebut secara formal. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ideologi proletar sudah nampak ada dalam novel Bukan Pasar Malam. meskipun Pramoedya belum terpengaruh oleh pemikiran kiri. x .

then the description of the social context contained in the novel and the situation of Indonesia at that time. while Father was a retired teacher who fought for independence. while the additional character is The Wife of I. The Revolutionary battles on one side were so heroic. the main additional character is Dad. I was a young man who took part in the revolutionary struggle. The novel was written in 1951 when Pramoedya was not active in Lekra yet and still apathetic towards politics. (2) The social context of the novel is the situation of Indonesia Revolution. Vincentius Gitiyarko. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Priyatno. characterization and setting. and to analyze proletarian ideology in novel Bukan Pasar Malam. then analysis of proletarian ideology contained in the main character in the novel. and setting. Method and technique of presentation of result of data analysis is descriptive qualitative. Sanata Dharma University This study examines the social context and proletarian ideology of the main character in the novel Bukan Pasar Malam by Pramoedya Ananta Toer. This research uses literature sociology approach with Marxism theory. namely the main character. Yogyakarta: Indonesian Letters Study Programme. that is researchers describe the social context and proletarian ideology that exist in the Bukan Pasar Malam novel. Faculty of Letters. The purpose of this research is to analyze and describe intrinsic elements that focus on character. characterization. Methods and techniques of data collection used in this study is close reading method. to describe social context. The results of this study are as follows: (1) There are three gradations of characters in Bukan Pasar Malam. Marxist theory begins with the emergence of the Communist Party Manifesto written by Karl Marx and Friedrich Engels. but on the other side also came the brutal actions acted by the youth. The results of the analysis will be described qualitatively. additional main character and additional characters. This research begins with the analysis of elements of character. This can be seen from a letter dated 1949. The Revolution period lasted from 1945-1950. This novel is read in depth then the data obtained is written. The data obtained then analyzed with structuralist theory and Marxism theory. Method and technique of data analysis is content analysis. Department of Indonesian Letters. Social Context and Proletarian Ideology of The Main Character in Bukan Pasar Malam a Novel by Pramoedya Ananta Toer. 2017. (3) The ideology of the proletariat includes (a) there is no need planning beyond the primary xi . The wife is a Sundanese whom I marry. The main character is I.

The discovery of proletarian ideology in the novel shows that Pramoedya already has the seeds of leftist thought even though he has not been intersected and influenced by the thought formally. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI needs. From the results of the study. although Pramoedya has not been affected by leftist thinking. xii . (c) access to health facilities is impossible. the conclusion is ideology of the proletariat already appears in the Bukan Pasar Malam novel. and (d) relations with others is an economic deal. (b) bourgeois is the enemy.

......................................................................................................................................3 Konteks Sosial Pramoedya Ananta Toer .................................................................6........4 Relasi dengan Sesama adalah Relasi Ekonomi......................................................................................................... 5 1................2 Borjuisme adalah Musuh......................................................................................3 Akses Kesehatan adalah Hal yang Tidak Mungkin......................... 13 1......... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN................................................... 18 2..........................................................................1 Tidak Ada Perencanaan Kebutuhan di Luar Kebutuhan Primer......... PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................... 52 4........ 36 3.......................6 Landasan Teori ........2 Latar .4 Marxisme............ 60 DAFTAR PUSTAKA.................. 41 3....................................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS............................3 Ideologi.................7 Metodologi Penelitian...................2 Saran ......................................................................................................... 6 1.........................1 Tokoh dan Penokohan ...........................................................................................................4 Manfaaat Hasil Penelitian ...........2 Sosiologi Sastra.......... 58 5.. 1 1...... 54 BAB V KESIMPULAN 5................. 47 4............. xi DAFTAR ISI..2 Konteks Sosial dalam Novel..........................................................................................................................................................................................6............................. viii ABSTRAK............................. 43 BAB IV IDEOLOGI PROLETAR TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BUKAN PASAR MALAM 4.........................1 Latar Belakang.............1 Konteks Sosial Indonesia............................................ 12 1..... 1............ 4 1............................................... 6 1.................................................................................................................................................................................................................................................8 Sistematika Penyajian ............................... 15 1...................6... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING......................................................... 4 1............................................................................................................................................... 64 xiii ................................................5 Tinjauan Pustaka .................... DAN LATAR DALAM NOVEL BUKAN PASAR MALAM 2............................... 50 4......................... xiii BAB I PENDAHULUAN 1............................1 Unsur Intrinsik. 5 1..........3 Tujuan Penelitian ...................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN........................... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...................................................2 Rumusan Masalah........................1 Kesimpulan........... 62 BIODATA PENULIS.6.............. v KATA PENGANTAR . ix ABSTRACT ................. PENOKOHAN................................. 17 BAB II TOKOH......... 30 BAB III KONTEKS SOSIAL KEPENGARANGAN PRAMOEDYA ANANTA TOER 3....................

2008:1). Pemikiran dan ketertarikannya dalam bidang sastra. 1 . PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1. Realita sosial yang ada di dalam novelnya menghadirkan apa yang terjadi dalam masyarakat tempat ia hidup. Novel ini menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa setelah kemerdekaan Indonesia. Hal ini berlaku pula untuk salah satu bentuk karya sastra yaitu novel. Bukan Pasar Malam adalah salah satu karya yang bermaksud untuk tujuan tersebut. 2003:103). Penyajian ini bisa dalam bentuk yang sangat konvensional sampai yang sangat eksperimental. sejarah dan politik pun mengalami pasang surut (Farid. Meskipun demikian. Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu pengarang yang menganut aliran realisme sosial secara konsisten (Kurniawan. Peristiwa-peristiwa yang menjadi penggerak alur sebuah novel merupakan refleksi dan representasi dari realita yang terjadi dalam bentuk masyarakat. Novel ini ditulis –diterbitkan pertama kali – pada tahun 1951 dan berbicara tentang situasi Indonesia pada sekitar revolusi. Salah satu novelnya yang berbicara tentang masyarakat secara nyata adalah Bukan Pasar Malam. Maka dari itu. Pram bukanlah sosok penulis dengan ideologi yang matang begitu saja. Dia dikenal sebagai sastrawan namun juga sebagai seorang yang tertarik dengan pencatatan sejarah.1 Latar Belakang Masalah Karya sastra dalam bentuk apapun tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya. Di masa awal kemerdekaan dia mejadi orang yang cukup tegas mengkritisi revolusi.

2008). Pilihan-pilihan sebuah keluarga proletar nampak bukan karena karsa mereka. masa transisi dirasakan berat oleh orang-orang pada masa itu. Adanya kesenjangan ekonomi menyentuh bagian terdalam dari sebuah kehidupan manusia. namun lebih karena memang situasi yang menjepit mereka. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Meskipun sudah memasuki masa kemerdekaan. termasuk relasi antara dirinya dengan keluarganya. Novel-novel yang juga sezaman dengan novel Bukan Pasar Malam di antaranya Perburuan (1950). Novel-novel ini merupakan bagian dari perjalanan Pram sebagai penulis termasuk ideologi yang dia bawa dalam setiap 2 . Hal yang perlu diingat adalah bahwa karya ini ditulis pada tahun 1951. akan terlihat bagaimana Pramoedya sebagai penulis mencurahkan ideologinya mengenai kelas sosial. Cerita dari Blora (1951). Proletariat digambarkan secara detil tentang kehidupan dan dunianya. terutama proletariat dalam novel ini. Pada masa itu Pramoedya Ananta Toer masih mengakui diri tidak terlibat dalam partai dan ideologi apapun. Pramoedya memberikan konteks sosial tersebut untuk membungkus alur cerita dan peristiwa-peristiwa yang ia hadirkan dalam novel Bukan Pasar Malam. orang-orang nasionalis pada masa itu merasa tidak cukup mendapatkan kebahagiaan seperti yang mereka dambakan semasa perjuangan kemerdekaan. Lebih lagi. Meski demikian. Mereka yang Dilumpuhkan (1951). Kesenjangan sosial dan kemiskinan tetap menjadi permasalahan sehari-hari yang harus dihadapai oleh orang-orang Indonesia pada masa itu. Jika dibaca secara lebih mendalam. benih-benih ideologi kiri sebenarnya sudah mulai tampak seperti yang nampak dalam novel Bukan Pasar Malam. Dia bahkan berusaha mengambil jarak dari politik (Farid. Keluarga Gerilya (1950).

Selain itu. 1948:2) Dengan teori ini maka dapat dilihat cara kelas sosial direpresentasikan dalam sebuah novel. Dalam penelitian sastra. Karl Marx. Adanya kapitalisme membuat relasi menjadi sekadar relasi ekonomi. Marx (1848:2) juga menyebutkan dampak dari adanya kelas sosial tersebut. sehingga kelas-kelas dalam masyarakat menjadi lebih sederhana namun tajam dan terbagi dalam dua kelas yaitu borjuis dan proletariat. Dampak tersebut terutama memengaruhi cara orang saling berelasi dalam masyarakat. Merujuk apa yang ditulis oleh Hilmar Farid maka novel-novel tersebut ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ketika dia belum terpengaruh oleh ideologi kiri. Dengan menampilkan masyakarat dan membicarakan kehidupannya. Dalam relasi dan singgungan antara kedua kelas ini akan 3 . sebuah novel mengantar pembacanya untuk berefleksi tentang masyarakatnya sendiri. membagi masyarakat menjadi dua kelas sosial. Selain membagi masyarakat ke dalam kelas borjuis dan proletar. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tulisan. representasi sosial yang terdapat dalam sebuah novel bisa memberi pemahaman lebih mendalam mengenai apa yang terjadi dalam sebuah masyarakat dengan konteks sosial dan waktu tertentu. Secara lebih spesifik bisa dilihat pengarang menampilkan ideologi borjuis dan proletar dalam novelnya. sosiologi sastra menjadi teori yang digunakan untuk meneliti hubungan antara karya sastra dengan masyarakat. yang kemudian dikenal teorinya sebagai Marxisme. Struktur masyarakat yang feodal dan relasi hormat menghormati bergeser menjadi relasi terbatas pada interaksi ekonomi atau kapital. yaitu kelas borjuis dengan proletar (Marx.

merasa. Baik kelas proletar maupun borjuis pada akhirnya akan memiliki cara pandang dan berpikir masing-masing. Dengan mengetahui kehidupan kaum proletar pada masa itu kita bisa lebih memahami keadaan Indonesia pada masa itu. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membuat tiap-tiap kelas bereaksi. Setelah itu.2 Rumusan Masalah Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah : 1. bisa direfleksikan bagaimana kondisi masyarakat Indonesia pada masa ini. 2005:428). dan bertindak dalam kehidupannya dalam konteks sosial tersebut. Penelitian ini secara khusus akan melihat ideologi proletar dihadirkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bukan Pasar Malam. Novel yang mengambil latar pasca kemerdekaan Indonesia ini secara dominan menggambarkan kehidupan kaum proletar setelah Indonesia merdeka. Lebih lagi akan bisa dipahami cara kaum proletar berpikir. Bagaimanakah ideologi proletar dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer ? 1. 1. serta latar novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer ? 2. Bagaimanakah tokoh dan penokohan.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 4 . khususnya di akhir masa Revolusi yaitu akhir tahun 1949 menuju 1950 (Ricklefs. Bagaimanakah konteks sosial dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer ? 3.

Mendeskripsikan ideologi proletar dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. terutama kaum proletas sebagai masyarakat kelas bawah. Artinya kenyataan sosial hadir dalam karya-karya Pram. penelitian ini menerapkan pendekatan sosiologi sastra untuk menjelaskan situasi sosial dan ideologi proletar yang ada dalam novel Bukan Pasar Malam. 2. Manfaat praktis. serta latar novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam buku berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis dipaparkan dengan sangat mendalam oleh Eka Kurniawan tentang karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang selalu memiliki gaya realisme sosial. Namun. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. penelitian ini juga memberikan sumbangan untuk memahami situasi masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan akan diperoleh dari penelitian ini : 1. Mendeskripsikan konteks sosial dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. penelitian ini bermanfaat untuk memberi pandangan sebuah novel menanggapi peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. 1.5 Kajian Pustaka Sudah menjadi hal yang umum bahwa karya-karya Pramoedya Ananta Toer selalu bertema sosial. novel 5 . 3. 1. Selain itu. Mendeskripsikan tokoh dan penokohan. Manfaat teoretis. 2.

Fokus dari penelitian tersebut ada pada situasi yang membuat kaum proletar menjadi kaum yang tertindas. 6 . Skripsi ini menunjukkan adanya bela rasa dan rasa saling menghargai di antara masyarakat kelas bawah. karena yang dilihat adalah relasi antara sesama kelas bawah yang saling berbela rasa satu sama lain. dan memaknai peristiwa belum dibahas. ideologi proletar itu sendiri belum dibicarakan secara lebih lanjut. Proletar yang dimaksud adalah pembagian kelas sebagaimana termaktub dalam Manifesto Komunis karangan Karl Marx dan Engels. Penelitian tersebut berjudul “Nilai Sosial dalam Novel Bukan Pasar Malam Karya Prammedya Ananta Toer. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bukan Pasar Malam tidak dimasukkan sebagai data penelitian Eka Kurniawan tersebut (Kurniawan. kebaruan dari penelitian ini adalah secara spesifik mendeskripsikan ideologi proletar dalam novel karya Pramoedya ini. ada juga skripsi yang membahas novel Bukan Pasar Malam dengan meneliti nilai-nilai sosial yang terkandung dalam novel ini. belum ada penelitian yang secara khusus membahas secara spesifik tentang ideologi proletar dalam novel Bukan Pasar Malam. Sementara cara kaum proletar memandang. Pendekatan dan teori yang diambil lebih bersifat moralis. Misalnya “Marjinalisasi Kaum Proletar pada Novel Bukan Pasar Malam Karya Pramoedya Ananta Toer” karya Akun Baehaki tahun 2014. Implikasinya terhadap Pembelajaran Satra” karya Mega Feyani tahun 2011. Sejauh penulis melihat. Namun. merasa. Dengan demikian. Yang diteliti di sini adalah marginalisasi yang dialami oleh kaum proletar. Secara khusus novel Bukan Pasar Malam pernah diteliti dengan pendekatan Marxisme. Selain itu. 2013).

Tokoh a.6 Landasan Teori Ada beberapa landasan teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini. Dalam beberapa novel. hubungan waktu dan lingkungan sosial di mana cerita itu berlangsung (Nurgiyantoro. Dalam setiap novel. Tokoh ini adalah tokoh yang diutamakan dalam penceritaan sebuah novel (Nurgiantoro. Secara konkret latar adalah tempat.1 Tokoh Utama Tokoh utama seperti namanya adalah karakter utama yang menjadi pusat cerita. Ada beberapa pembedaan tokoh-tokoh yang ada dalam sebuah novel. Bahkan. Penjelasan dari pembagian tokoh tersebut adalah sebagai berikut : a.6. 2010). 7 .1 Struktur Intrinsik Tokoh dan penokohan serta latar unsur intrinsik digunakan untuk mengetahui konteks sosial yang menjadi pembungkus cerita dalam novel yang diteliti. Sementara penokohan atau karakterisasi adalah penempatan tokoh-tokoh dalam sebuah cerita ke dalam watak-watak tertentu (Nurgiyantoro. 2010). Landasan teori yang digunakan yaitu : 1. porsi tokoh utama sangat besar bahkan hadir dalam setiap kejadian. Kemudian. 2010:177). PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. setiap peristiwa yang terjadi pasti berkaitan dengan tokoh utama. Tokoh menunjuk pada tokoh atau siapa yang ada dalam sebuah cerita. latar atau setting adalah landaran tumpu. tokoh utama mendapat porsi paling banyak dalam alur cerita. Salah satu yang bisa digunakan untuk mengklafisikasi tokoh dalam novel adalah tokoh utama dan tokoh tambahan.

tokoh utama tidak hadir secara langsung atau tidak muncul dalam setiap kejadian.2 Tokoh Tambahan Dalam buku Teori Pengkajian Fiksi. Akibat dari porsi penceritaan yang sangat besar terhadap tokoh utama. plot cerita pasti dipengaruhi oleh apa yang terjadi dalam diri tokoh utama (Nurgiyantoro. Namun. karena pembagian tokoh utama dan tambahan tidak dapat dipisahkan secara gamblang (Nurgiyantoro. Maka yang paling penting adalah melihat gradasi keutamaan penceritaan dalam novel. kejadian tersebut pada pokoknya tetap berkaitan dengan tokoh utama. Tidak hanya itu. Tokoh tambahan yang juga mendominasi cerita bisa disebut sebagai tokoh utama tambahan. Hal ini tergantung sejauh mana dominasi penceritaan antara satu tokoh dengan tokoh yang lainnya. maka tokoh ini akan selalu berkaitan dengan tokoh-tokoh lain. penelitian ini akan berfokus pada apa yang terjadi pada tokoh utama dan tokoh 8 . 2010:178). Oleh karena itu. Tokoh tambahan merupakan tokoh yang porsi penceritaannya tidak sebanyak tokoh utama. Namun. Tokoh utama pun bisa saja tidak hanya satu tokoh melainkan beberapa tokoh. Nurgiyantoro (2010) menjelaskan bahwa pembagian tokoh utama dan tokoh tambahan merupakan sebuah gradasi. 2010:178). tidak berarti kehadiran tokoh tambahan tidak menjadi penting. a. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dalam beberapa novel. Pembagian tokoh dengan klasifikasi tokoh utama dan tokoh tambahan dipilih untuk mempemudah melihat ideologi yang ada dalam tokoh.

b. tetapi juga berkaitan dengan hal-hal non-fisik. Penggambaran fisik meliputi hal-hal fisik seperti tinggi badan.1 Latar Waktu 9 . dan bahkan ideologi yang dimiliki masing-masing tokoh (Nurgiyantoro. keyakinan. kepercayaan. Penokohan Penokohan adalah penggambaran tiap tokoh yang ada dalam novel (Nurgiyantoro.2000:217). 2010:186). Latar atau setting inilah yang kemudian akan membentuk fakta cerita dalam sebuah karya sastra. Dalam sebuah karya. Latar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu latar waktu. Penokohan tidak hanya penggambaran secara fisik. kepercayaan dan nilai-nilai. usia. dst. asal. Latar Latar merupakan unsur pembangun sebuah karya bersama tokoh dan plot. Pada dasarnya. hal-hal fisik yang menjadi karakteristik tokoh. c.2010: 185). namun juga dapat berupa adat. Hal tersebut meliputi pikiran. Reaksi tokoh utama dan tokoh utama tambahan dengan lingkungan dan tokoh-tokoh yang lain akan dilihat untuk memahami cara mereka berpikir dan bereaksi atas sebuah kejadian. perasaan. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI utama tambahan. berat. Kehadiran setiap tokoh dalam setiap perisitiwa dan cara dia bereaksi akan berkaitan erat dengan penokohannya. Penokohan ini meliputi penggambaran fisik dan non- fisik. latar tempat dan latar sosial. Sebuah karya prosa menempatkan latar sebagai landasan cerita yang konkret dan jelas (Nurgiyantoro. c. latar tidak terbatas dalam sesuatu yang bersifat fisik.

namun melalu latar waktu yang digunakan. 2000:230). Suatu peristiwa sejarah yang sudah banyak diketahui pembaca akan membatu pembaca memahami suasana dan keadaan yang ingin dibangun oleh pengarang.3 Latar Sosial Latar sosial merujuk pada segala hal yang berkaitan dengan tingkah laku kehidupan sosial masyarakat yang diceritakan dalam suatu karya. Sleman. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Latar waktu dikaitkan dengan soal kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang ada dalam sebuah karya. c. Setiap latar waktu dalam sebuah karya sering dikaitkan dengan waktu faktual. seperti Magelang. Misalnya nama kota tempat terjadinya suatu peristiwa dapat dijumpai di dunia nyata. 2000:227). Latar seperti ini biasanya di hutan. kebun atau di sebuah rumah. suasana dan situasi tidak diungkapkan secara eksplisit. 10 . Dengan analogi pementasan suatu drama. Hal ini juga dapat dianalisa dari reaksi-reaksi tokoh dalam menanggapi suatu kejadian.2 Latar Tempat Latar tempat adalah unsur latar yang menunjukkan lokasi terjadinya peristiwa. latar juga bisa berupa suatu tempat dengan sifat-sifat yang umum dipahami oleh pembaca. 2000:233). Dalam sebuah karya. latar tempat merupakan tempat terjadinya suatu peristiwa. c. latar tempat bisa berupa lokasi sungguh ada dalam kenyataan (Nurgiyantoro. Latar waktu digunakan pengarang untuk membangun suasana dan situasi sebuah peristiwa. Tata kehidupan sosial ini mencakup hal-hal yang kompleks (Nurgiyantoro. Latar sosial dapat diihat dari tingkah laku antartokoh dalam sebuah cerita. Selain dengan penyebutan nama yang jelas. Dengan demikian.dst. sungai. yaitu waktu yang berhubungan dengan suatu peristiwa sejarah (Nurgiyantoro. Bantul.

dan sosiologi sastra yang memasalahkan pengaruh sosial sebuah karya sastra (Damono. sosiologi sastra yang mempermasalahkan karya itu sendiri. 1. Maka konteks sosial yang menjadi setting dari novel Bukan Pasar Malam akan menjadi acuan dalam penentuan latar. Konteks sosial dan situasi masyarakat akan menjadi pokok pembahasan yang dominan. 1978:34). Latar yang mengambil daerah pedesaan akan menggambarkan pula situasi pergaulan dan adat istiadat di daerah tersebut. Sastra adalah refleksi atau cerminan dari masyarakat (Faruk. Sosiologi sastra tidak melepaskan sebuah karya dari konteks sosial tempat karya tersebut lahir. Pendekatan sosiologi sastra sekaligus akan menjadi pembatasan pembahasan penelitian. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Latar sosial berkaitan erat dengan tempat kejadian suatu peristiwa. 11 . Sapardi Djoko Damono memaparkan bahwa sosiolosi sastra bisa mempermasalahkan ideologi pengarang tentang masyarakatnya. Selain itu penggunaan bahasa khas daerah dan penamaan tokoh juga berkaitan erat dengan latar sosial (Nurgiyantoro. Sosiologi sastra akan menjadi pendekatan utama dalam penilitian ini. Dalam konteks ini akan dilihat sejauh mana sebuah karya satra mencerminkan masyarakat dan juga sejauh mana sebuah karya digunakan pengarang untuk mewakili seluruh masyarakat. akan dilihat pula konteks sosial karya ini untuk mempertajam pembahasan dan memberikan konteks yang lebih luas untuk memahami karya ini.6. Dengan demikian.2 Sosiologi Sastra Ada beberapa hal pokok yang bisa dipegang dalam teori sosiologi sastra. 2000:235). 2014:5). Secara khusus penelitian ini akan berfokus pada teks sastra itu sendiri.

dan memercayai yang berhubungan dengan kekuatan sosial (Eagleton.3 Ideologi Jika melihat KBBI (Depdiknas. Kedua. pemikiran dan tindakan kaum proletar atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam hidup mereka. Pertama. Kelas sosial yang dimaksud di sini mengikuti pembagian kelas yang dimaksud oleh Karl Marx. Ideologi yang dimaksud dalam penelitian ini lebih mengarah pada perasaan. dan tujuan yang berpadu merupakan suatu program sosial politik. memandang dan memercayai sebuah kejadian. paham atau teori. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. menilai. kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas. cara berpikir seseorang atau suatu golongan. memandang. 2008:538) ada tiga definisi tentang ideologi. Ideologi yang dimaksud di sini bukanlah paham yang telah terstruktur dan sudah menjadi pegangan yang mapan dalam suatu masyakarat. Ketiga. 2007:20) Dengan demikian ideologi cara berpikir. 12 .6. akan bisa diteliti bagaimana cara merasa. Secara lebih khusus lagi ideologi merupakan cara-cara merasa. Apa yang terjadi dalam interaksi yang ada mencerminkan reaksi yang muncul dalam diri tokoh. ideologi selalu berhubungan erat dengan kekuatan sosial dalam masyarakat. merasakan dan bertindak dari sebuah kelas sosial. menilai. Ideologi ini dalam novel akan ditentukan oleh relasi yang terjadi di antara kelas-kelas. Istilah ideologi yang menjadi landasan teori penelitian ini adalah definisi yang kedua yaitu cara berpikir seseorang atau suatu golongan. Setiap tokoh mewakili kelas sosial tertentu. Dengan demikian. Sesuai dengan apa yang dikemukakan Eagleton(2007:20) sebelumnya.

aliran mereka. tujuan dan aliran mereka. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Inilah yang akan menjadi pembatasan penyebutan istilah ideologi dalam penelitian ini. Karya Marx dan Engels ini kemudian menjadi pegangan kaum- kaum reaksinoner untuk melakukan perlawanan. Secara jelas ada dua tujuan mengapa Manifesto Komunis ini ditulis.4 Marxisme Marxisme merupakan teori sosial yang diprakarsai oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Komunis telah diakui oleh semua kekuasaan di Eropa sebagai suatu kekuasaan pula. II. Kedua.2010:183). (Marx. (Marx. 1. Pertama. Manifesto Komunis digunakan untuk menyampaikan kepada dunia apa yang menjadi pandangan.6. tujuan mereka. Borjuis adalah kelas yang mempunyai akses langsung 13 . kritik Marxis termasuk dalam ranah sosiologi sastra. Kelas sosial menurut Marx dibagi ke dalam dua kelas utama yaitu Borjuis dan Proletar. 1848:1) Berikut bunyi Manifesto Komunis berkaitan dengan tujuannya dituliskan: I. kehadiran Komunis sudah mulai diakui oleh golongan lain. dan melawan dongengan kanak-kanak tentang Hantu Komunisme ini dengan sebuah manifesto dari partai sendiri. Telah tiba waktunya bahwa kaum Komunis harus dengan terang-terangan terhadap seluruh dunia menyiarkan pandangan mereka.1848:1) Dalam penelitian sastra. cita-cita. cita-cita mereka. serta melawan cerita-cerita selama ini mengenai “hantu” komunisme yang mulai tersiar di Eropa. Kedua orang ini sebenarnya menyebut apa yang mereka tulis sebagai komunisme adalah apa yang termaktub dalam Manifesto Komunis (Barry. Marxisme secara metodis meneliti kehadiran kelas sosial dalam sebuah karya sastra.

Borjuasi. di dalam sejarah. (Marx. Ia dengan tiada kenal kasihan telah merenggut putus pertalian-pertalian feodal yang beraneka ragam yang mengikat manusia pada "atasannya yang wajar". Karl Marx mengatakan bahwa sejarah masyarakat selama ini adalah sejarah perjuangan kelas. Pembagian 14 . Relasi yang terjadi antara masyarakat semata-mata hanya karena kepentingan ekonomi belaka. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terhadap alat produksi. Hal yang lebih ekstrem akan muncul dalam dunia yang dipandang oleh Marx adalah hilangnya relasi budaya yang sudah terjalin dalam masyarakat selama ini. selain daripada "pembayaran tunai" yang kejam. dan tidak meninggalkan ikatan lain antarmanusia dengan manusia selain daripada kepentingan sendiri semata-mata. telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal pedesaan. Dalam Manifesto Partai Komunis (The Communist Manifesto) yang ditulis bersama Engels pada tahun 1848. Rasa hormat seseorang terhadap yang lain akibat konstruksi sosial yang terjadi selama ini akan digantikan oleh relasi ekonomi.1848:2) Dari pernyataan di atas terlihat bahwa Marx melihat efek dari kapitalisme dan kehadiran kaum borjuis dalam masyarakat. Relasi tradisional dalam budaya masyarakat telah berganti menjadi relasi “pembayaran tunai” yang melihat relasi antarmanusia sebatas pada relasi ekonomi saja. Teori kelas sosial inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini untuk melihat ideologi yang dimiliki oleh kelas proletar terutama dalam bingkai pandangan mereka terhadap kelas sosial yang ada di atasnya. Secara khusus Marx juga menyatakan relasi antara kaum borjuis dengan kaum proletar. telah memainkan peranan yang sangat Revolusioner. sementara proletar tidak memiliki akses kepada alat produksi. Berikut tulisan Karl Marx dan Freiderich Engels : Borjuasi. borjuis. di mana saja ia telah dapat memperoleh kekuasaan.

1. Sementara definisi kedua. Dalam kajian Marxis tentang pembagian kelas terdapat dua diksi untuk menyebut kelas bawah yaitu proletar dan proletariat. Dengan demikian. proletariat adalah lapisan sosial paling rendah. Novel tersebut dibaca secara mendalam dan dicatat hasilnya yang kemudian menjadi data utama dari penelitian. Ada dua definisi untuk istilah proletariat. Pembedaan istilah ini bisa ditemukan dalam KBBI (Depdiknas. Defisini pertama. Selanjutnya ada satu definisi untuk proletar. Dalam bahasa Indonesia dengan demikian jelas perbedaan istilah proletariat dan proletar.2008:1134). dan metode penyajian hasil analisis data. 1. dalam skripsi ini istilah proletariat akan merujuk pada golongannya.7 Metode Penelitian Tiga metode dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dan teknik pengumpulan data. sementara proletar merujuk pada orang dari golongan proletariat.7. proletariat adalah golongan buruh yang tidak memiliki alat produksi dan hidup dengan menjual tenaga.2008:1134). PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelas menurut Marx ini pula yang akan menjadi dasar penentuan kelas sosial setiap tokoh yang ada di dalam novel. Dalam KBBI proletar merupakan orang dari golongan proletariat (Depdiknas.1 Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka dengan referensi utama adalah novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. Teknik catat dipakai untuk mencatat data-data 15 . metode dan teknik analisis data.

7. 2010:49). Teknik catat merupakan kelanjutan dari teknik simak (Sudaryanto. 1. Data ini kemudian dilanjutkan dalam bagian selanjutnya untuk diteliti bagaimana ideologi kaum proletar terdapat dalam data-data tersebut. Data yang telah terkumpul dengan metode pencatatan dideskripsikan dalam bentuk narasi. Isi dari deskripsi ini adalah data mengenai unsur intrinsik dan konteks sosial yang ada dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer.7. Metode ini dilakukan dengan menganalisis secara lebih mendalam data-data yang telah didapat dalam proses pengumpulan data.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data Metode penyajian hasil analisis data penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Setelah itu data tersebut dilihat dengan kerangka berpikir Marxisme mengenai kelas sosial. Dasar dari metode analasis isi adalah analisis isi pesan (Ratna.4 Sumber Data Karya sastra yang menjadi objek penelitian adalah novel dengan identitas sebagai berikut : Judul Buku : Bukan Pasar Malam Pengarang : Pramoedya Ananta Toer 16 .2 Metode Analisis Data Dalam analisis data yang digunakan adalah metode analisis isi. 193:133) 1.7. 1. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang akan mendukung dalam pemecahan perumusan masalah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tahun terbit : 1999 (terbitan ulang). cetakan kedua Penerbit : Bara Budaya Yogyakarta Halaman : 100 halaman 1. landasan teori. 17 . Bab III berisi deskripsi tentang konteks sosial di Indonesia dan dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. Hasilnya didapat dari meneliti bagaimana kaum proletar merasa. metode penelitian. Bab IV merupakan analisis mengenai ideologi kaum proletar yang terdapat dalam novel ini. Bab II berisi deskripsi mengenai tokoh dan penokohan serta latar yang ada dalam novel Bukan Pasar Malam. tinjauan pustaka.8 Sistematika Penyajian Penelitian ini dibagi menjadi empat bab dengan rincian sebagai berikut : Bab I berisi pendahuluan sebagai pengantar. Bab V berisi penutup yang merupakan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. dan sistematika penyajian. berpikir dan bertindak dalam novel Bukan Pasar Malam. Deksripsi ini didapat dari kesimpulan setelah menganalisis unsur instrinsiknya yaitu tokoh dan penokohan serta latar. rumusan masalah. Di dalam Bab I terdapat latar belakang. tujuan penelitian. manfaat hasil penelitian.

analisis akan dilanjutkan sampai dengan penokohan untuk melihat karakteristik lebih dalam dari tokoh-tokoh tersebut. pemahaman mengenai penokohan dalam cerita ini dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai ideologi kaum proletar pada tahap berikutnya. Teori yang digunakan dalam bagian ini adalah teori strukturalisme. Dengan demikian. DAN LATAR DALAM NOVEL BUKAN PASAR MALAM Sebelum meneliti ideologi kaum proletar dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II TOKOH. Yang akan dipakai dalam bagian ini untuk menganalisis tokoh adalah tokoh utama dan tokoh tambahan.1 Tokoh dan Penokohan Dalam bagian ini akan dijelaskan tokoh dan penokohan dari tokoh-tokoh penting yang ada dalam novel Bukan Pasar Malam. Sebagaimana dalam landasan teori. Dalam novel ini tokoh-tokoh yang hadir didominasi oleh kaum proletar. 18 . 2. Tidak berhenti pada identifikasi tokoh utama dan tokoh tambahan. Nurgiyantoro (2010:178) membagi tokoh menjadi beberapa klasifikasi. Hal ini penting karena dengan melihat penokohan dan latar dapat dilihat lebih jelas bagaimana tokoh tersebut merasa dan berpikir yang kemudian mencerminkan ideologi dirinya. PENOKOHAN. akan diteliti penokohan dan latar dalam novel ini.

Pembagian ini mengikuti apa yang dikemukakan oleh Nurgiyantoro seperti yang sudah dipaparkan dalam landasan teori.1 Aku Tokoh Aku dalam novel ini merupakan tokoh utama. dan tokoh tambahan ini penting dilakukan di awal untuk memahami kelompok kelas sosial tokoh-tokoh tersebut. Pram tidak menyebutkan siapa nama tokoh Aku ini.1. tokoh utama tambahan. Aku merupakan tokoh yang menjadi penggerak alur. Hal itu berlaku baik dalam peristiwa yang menghadirkan tokoh Aku maupun tidak 19 . Selain tokoh utama yang akan dilihat dalam novel ini adalah tokoh utama tambahan dan tokoh tambahan. Alur utama dalam novel berkaitan dengan tokoh utama.2 Penokohan Aku Tokoh Aku menjadi tokoh utama karena memiliki porsi penceritaan paling banyak. akan lebih mudah dipahami kejadian-kejadian apa saja yang berkaitan dengan tokoh-tokoh tersebut. 2.1.1. dan reaksi tokoh-tokoh tersebut dalam setiap kejadian. Cerita novel ini diawali dengan cerita mengenai tokoh Aku dan diakhiri pula oleh tokoh aku. Dengan mengetahui gradasi tokoh utama dan tambahan. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dalam seluruh novel. Klasifikasi tokoh utama. 2. Hampir dalam setiap peristiwa tokoh Aku menjadi pusat penceritaan.1 Tokoh Utama 2. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pembagian tokoh akan dilakukan berdasarkan tokoh utama dan tokoh tambahan.1. Tokoh utama merupakan tokoh pusat yang ada dalam setiap peristiwa.1.

17 Desember 1949 Anakku yang kucintai! Di dunia ini tak ada sutau kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak yang mendapatkan anaknya kembali. 1999:18) Dia adalah seorang pegawai kecil dan baru saja keluar dari penjara. kepalaku tersenggol pada palang atap. Di usia belasan tahun dia meninggalkan kampung halamannya. Waktu aku meninggalkan rumah ini palang itu masih tinggi di atas kepala. pembawa kebesaran dan kemegahan bapak. turun temurun. Surat itu tertanggal 17 Desember 1949. aku dapat menggambarkan penderitaanmu dalam ruang yang sangat terbatas. terasing dari cara hidup manusia biasa. Istrinya adalah seorang berdarah Sunda dari Jawa Barat. Dia tinggal di Jakarta. aku dapat menggambarkan kesulitan jiwamu. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tidak dijelaskan dengan rinci berapa usia tokoh aku. namun dari cerita dalam novel ini usianya kira-kira menjelang 30 tahun. Kala aku masuk ke dalam rumah. karena aku mengalami sendiri ketika pemberontakan P . Blora dan cerita dimulai tepat ketika dia sekitar 20 tahun sudah meninggalkan kampung halamannya. Surat tersebut berbunyi : Blora. Dan aku jadi berpikir.(red:Pesindo). anaknya yang dalam beberapa waktu terasking dari masyarakat ramai. (Toer. anak yang tertua. Ayahnya meminta dia untuk menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya karena dia sedang sakit keras.. 1999:1) 20 . selama dua minggu hidup dalam tiga penjara. aku jadi tinggi sekarang.. Anakku. Mulai saat itu hingga kini setiap malam aku bermohon kepada Tuhan seru sekalian alam akan keselamatan dan kebahagiaan keluarga. (Toer. Dia meninggalkan rumahnya ketika dia masih sangat muda. Kegelisahan tiba-tiba datang ketika ada surat dari Blora.. Dosa kita sekeluarga moga- moga diampuni-Nya.

dia sangat mengharapkan kehadiran anaknya untuk pulang. Surat yang juga penting dan selalu diingat oleh Aku adalah surat dari pamannya.” (Toer. surat dari paman lebih eksplisit dengan nada sedikit mendesak agar Aku segera pulang ke Blora. Tadinya malaria dan batuk. Kemudian ditambah dengan ambeien. termasuk kegelisahan tokoh Aku. (Pram. Ayahmu ada di rumah sakit sekarang. Kondisi Ayah yang dikabarkan sangat buruk karena TBC menjadi perhatian utama sekaligus alasan utama tokoh Aku merasa gelisah. 1999:2) Dalam surat ini begitu jelas tekanan yang datang untuk tokoh Aku. Kedua. bermula dari surat yang penting ini. “Ya. 1999:2) Surat ini penting dan oleh Pram ditempatkan di awal sebagai penggerak alur. pulanglah engkau ke Blora untuk dua atau empat hari. Akhirnya ketahuan beliau ke tbc. Ayahmu sakit. Penekanan bahwa Aku adalah anak tertua juga tertulis di sana. Kalau bisa. begitulah permulaan suratnya setelah aku dua minggu keluar dari penjara. Kesulitan jiwa ini merujuk pada keadaan Aku yang baru saja keluar dari penjara. Ayah menunjukkan simpati terhadap situasi yang terjadi pada Aku. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ada dua poin utama yang disampaikan Bapak melalui surat ini. Gelisah karena dia 21 . Kesulitan ini lebih cenderung dalam tataran psikis karena secara eksplisit Ayah menulis kesulitan jiwa. Anak pertama mendapat penekanan karena menurut ayahnya dia yang menjadi pembawa kebesaran dan kemegahan bapaknya. dan telah empat kali memuntahkan darah. Pertama. Hal ini dikarenakan peristiwa-peristiwa yang terjadi berikutnya. Berbeda dengan surat dari Ayah.

Kegugupan datang menyusul.1999:2) Sebagai seorang pegawai kecil dia juga harus berpikir tentang kelanjutan pekerjaannya jika harus ditinggalkan untuk pergi ke Blora.sekiranya. Lebih lagi dia tidak punya cukup uang untuk ongkos pulang ke Blora. Ia kemudian melihat sekelilingnya. Akan tetapi. Yang dia lakukan kemudian adalah meminjam uang dari temannya. Dia akhirnya secara eksplisit mengungkapkan pandangannya tentang orang kaya atau yang dia sebut dengan orang yang punya. Kegelisahan pertamanya adalah relasi antara dirinya dengan ayahnya yang kurang baik. Dia berpikir tentang Jakarta yang begitu megah termasuk dengan istana negaranya. dia hanyalah seorang kecil yang tidak bisa menikmati kemegahan Jakarta meskipun dia tinggal di sana. Kemudian : uang dari mana aku dapat uang untuk ongkos pergi?” Dan ini membuatku mengedari Jakarta – mencari kawan-kawan – dan hutang (Toer. Ia tahu bahwa ia butuh biaya perjalanan ketika harus pergi ke Blora. Sesak di dada.(Toer.1999:3) 22 . Di kala itu juga aku berpendapat: bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Hal ini dapat ditemukan dalam kutipan berikut : Ya. Dan mereka tak merasai ini. kataku – semua ini mungkin takkan terjadi. Mula-mula aku terkejut mendengar berita itu. sekiranya aku punya mobil. Selain itu. Dalam kepalaku terbayang : ayah. biaya hidup di sana juga harus ada. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memikirkan kondisi Ayahnya. Kegelisahan kedua adalah mengenai kondisi ekonomi.

Bangkai-bangkai pantserwagen1. 1 Semacam tank yang digunakan untuk perang (dalam bahasa Belanda) 2 Kendaraan perang yang bisa mengangkut orang (dalam bahasa Belanda) 23 . Kranji. brencarrier2. Namun. tidak diberi penjelasan lebih lanjut mengapa dia sampai dipenjara. Ini berkaitan dengan kondisi dan posisi sosialnya sebagai orang yang tak punya. Ini menjadi alasan yang paling kuat mengapa dia sampai dipenjara. bergelimpangan di ladang-ladang dan di pinggir jalan raya – senjata Inggris yang dilumpuhkan oleh baisan pemuda. (Toer. Kemudian Klender pun nampaklah dari jendela kereta itu.1999:7) Dari kenangan Aku tentang masa lalunya semakin jelas bahwa dia terlibat dalam gerakan perjuangan yang dilakukan oleh pemuda. Mengenai masa lalu tokoh Aku. dan juga dilumpuhkan oleh ketuaannya sendiri. Kemudian kereta pun sampailah di Cakung. Cakung – dalam lingkungan kebun karet. truk. Dan aku meneruskan kenang-kenanganku kembali. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dalam pernyataan di atas nampak bagaimana tokoh Aku memiliki kebencian terhadap orang yang punya. diceritakan bahwa dia sempat ditahan selama dua setengah tahun. di mana berganti-ganti pasukan pemuda terkurung kemudia pasukan asing. Yang bisa dilihat adalah semasa Revolusi kemungkinan besar dia adalah kelompok muda yang mengangkat senjata. Cikarang – Rangkaian pertahanan sebelum aksi militer pertama. Aku ikut dalam perang ini bisa dilihat dari kenangannya tentang beberapa tempat yang ia lewati dalam perjalanan menuju Blora. Tambun. Banyak sekali kenang-kenanganku yang terikat pada dusun kecil itu.

Apalagi dengan tanggapan yang muncul dari sekelilingnya.seorang tukang potong kambing. Reaksi tokoh aku mendengar nasihat dari tetangganya ini adalah kesal. Dan lagi – dan lagi. Rumah dan sumur itu mengisi kepalaku sekarang. aku harap – sekalipun aku bukan keluarga atau familimu – peliharalah rumahmu itu. dan orangnya pun rusak. Kritikan itu datang dari tetangganya yang dulu.. Sesampainya di Blora kegelisahan tokoh aku terutama tentang keadaan ekonomi juga tak selesai.orang tua-tua bilang – engkau masih ingat. Pertama ia harus melihat kenyataan ayahnya yang sakit tidak bisa mendapat perawatan yang lebih baik di sanatorium karena biaya yang mahal. Seorang kawan pun mengingatkan Aku tentang situasi tersebut. Pasti dia menguatirkan keadaanmu juga.” (Toer. Aku harap ayahmu lekas sembuh oleh kedatanganmu itu. Rumah rusak. (Toer. Dalam benaknya dia merasa perkataan tukang kambing itu semakin menambah masalah yang ada di benaknya. bukan ? Masih ingat apa yang kukatakan tadi? Apabila rumahnya rusak .. Aku akhirnya memutuskan untuk berangkat dari Jakarta ke Blora. Bukan itu saja.) Engkau anak sulung. Kedua.. (. Seorang kawan bilang : sudah lama engkau ditahan – dua setengah tahun! Dan selama itu tentunya ayahmu merindukan kedatanganmu. Dan di sore harinya waktu aku berangkat ke rumah sakit dan bertemu 24 . 1999:11) Dengan uang pinjaman yang ia dapat dari rekannya. dia juga mendapat kritikan dari lingkungan rumahnya karena membiarkan rumahnya di Blora rusak di sana-sini dan tidak pernah diperbaiki.. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bayangan tentang situasi Ayah tak pernah luput dari benak Aku. Gus.1999:40).

2 Tokoh Utama Tambahan 2. rumah itu akan kuperbaiki. Dia menjadi tokoh utama karena setiap peristiwa yang ada dalam cerita pasti berkaitan dengan dirinya. namun keterbatasan ekonomi membuatnya menjadi manusia peragu dan sulit untuk menghadapai dunia di sekelilingnya tanpa kegelisahan. 1999:40-41) Tokoh Aku sebenarnya adalah tokoh yang punya karakter kuat. Bahkan ketika dia tidak ada dalam sebuah peristiwa. Akan tetapi tetap saja dia masih diliputi keraguan. Betul-betul bisakah seorang dukun mengobati si sakit yang dokter sendiri tidak sanggup? Tapi harapan melenyapkan pergulatan itu : dukun itu bisa. 2. (Toer. dengan tak berpikir panjang keluar saja suaraku : Pak. Dalam dadaku timbul pegulatan-pergulatan yang biasa timbul bila menghadapi kekuasaan dukun.1.1 Ayah Tokoh utama tambahan dalam novel Bukan Pasar Malam adalah Ayah. tetapi dia tidak mendapat porsi sebesar tokoh Aku. Misalnya ketika ia memikirkan tentang kesehatan ayahnya. Aku mendapat porsi perceritaan paling besar. Tokoh Aku sampai datang ke dukun untuk mencari solusi. Tapi aku tak menjawab. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan tukang kambing itu. Tokoh ini secara sederhana bisa dimasukkan dalam tokoh utama.(Toer.1999:45). Sebagai tokoh utama. Namun demikian dia 25 . mesti bisa.2. kejadian itu tetap akan memberi pengaruh padanya.1. Dan harapan itu membuat aku percaya padanya.

sekolahan itu akan kubakar. akhirnya kita-kita juga yang mengecap hasilnya. Bahkan konflik utama yang harus dihadapi oleh Aku adalah sakit yang diderita oleh Ayah. dia ingin memberikan seluruh dirinya kepada pengabdian negara.1. Pembukaan sekolahan ini. Ayah nampak lebih kompromis dengan lingkungan di sekitarnya. Dia dihormati karena semangat nasionalisme yang tinggi. tak sampai dibakar sampai sekarang (Toer.. Dan pasukan itu menerima alasan itu. Pada akhirnya cerita mulai menemui antiklimaks ketika Ayah meninggal. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tetap menjadi fokus penceritaan. Salah satunya adalah apa yang dikenang oleh mantan muridnya berikut ini : Pada hari pembukaan pertama murid yang masuk tiga kali lipat banyaknya daripada di zaman Belanda dulu. sekalipun atas ongkos pemerintah Belanda. Ayah adalah sosok yang disegani.. Namun.2 Penokohan Ayah Ayah adalah seorang nasionalis. Sekolah tak jadi di bakar. . Kalau Bapak meneruskan pembukaan sekolahan itu. Sekalipun di masa perang sekolahan harus dibuka (Toer. Pada masa Revolusi. Ya. Aku dalam kepribadiannya nampak begitu radikal dengan pendiriannya terhadap penjajah. Ini nampak dari sikapnya yang tetap mau membuka sekolah dengan biaya dari pemerintah Belanda. Mengenai masa 26 .. 1999:47). 2. Dia adalah orang yang begitu berjiwa besar untuk memberikan dirinya sebagai pejuang kemerdekaan. Dan tiga hari sesudah pembukaan itu rumahku didatangi pasukan dari batas kota. Kami di sekolahan kurang tenaga.2. Dengan profesinya sebagai guru dan kemudian pengawas sekolah.. 1999:47) Ada hal berbeda yang bisa dirasakan dari karakter Aku dan Ayah.

Beliau sangat kuat (Toer. ketika kemerdekaan sudah didapat. Penjelasan ini bisa diperoleh dari dukun yang dulu sempat bekerja sama dengan Ayah ketika berbicara dengan Aku. menurut duku itu. Akhirnya kelak aku tahu juga. dia sendiri yang 18 tahun sudah merasa berat. Kalau ayah Tuan kena penyakit paru- paru sesudah dinas tiga puluh tahun – itu suatu tanda kekuatan. hal ini menunjukkan betapa kuatnya Ayah. Dalam dinasku itu pernah juga aku kena penyakit jantung. Namun. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lalunya ketika menjadi guru dan pengawas sekolah. Begini dukun itu melanjutkan : Alangkah kuatnya.1999:47) Dukun itu ternyata adalah juga guru. Sementara Ayah menjadi guru selama 30 tahun. Dan sosok Ayah di matanya adalah tokoh yang sangat kuat. Tapi guru tetap jadi guru. Status dan posisi ini bergeser setelah kemerdekaan didapat. bahwa Ayah Tuan itu tidak lain daripada salah seorang pemimpin pemerintahan gerilya – sekalipun jadi pengawas sekolah angkatan Belanda (Toer. Menjadi guru kala itu tidak mudah. 27 . Aku yang baru dinas delapan belas tahun rasa-rasanya sudah tak kuat lagi. respek itu sudah tidak nampak lagi. Jadi meskipun kini mengidap sakit paru-paru. Sedang selama itu murid- muridnya telah jadi orang-orang besar. Heroisme atau kepahlawanan yang ditunjukkan oleh Ayah membuatnya menjadi orang yang disegani dalam masa perjuangan. Heroisme dan semangat nasionalisme itu tak membantu Ayah bisa menikmati masa tuanya. Bahkan menurut dukun itu. Ayah termasuk dalam pasukan gerilya. 1999:47). Tapi siapakah yang mau jadi guru selain kita-kita ini? Guru tetap jadi guru – untuk selama-lamanya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Di masa tuanya, Ayah mengidap sakit paru-paru. Dia harus dirawat

di rumah sakit sederhana yang tidak terlalu baik perawatannya. Ayah

menghabiskan masa tuanya di tempat tidur. Kedatangan anak sulungnya

dari Jakarta membuatnya cukup senang. Meskipun tetap saja kesehatannya

tidak kunjung membaik. Setiap hari anak-anaknya, termasuk tokoh Aku,

menjenguknya ke rumah sakit dan membawakan apa-apa yang diinginkan

oleh Ayah.

Meskipun mengalami kemerdekaan, namun Ayah tidak

mendapatkan kenikmatan hidup sebagaimana yang diimpikan oleh negara

yang merdeka. Tokoh Ayah adalah tokoh yang berpendirian teguh.

Menjelang kematiannya, Ayah tetap membanggakan dirinya sebagai

seorang nasionalis. Ini terlihat dari percakapan terakhirnya dengan tokoh

Aku.

Aku tak mau jadi ulama. Aku mau jadi nasionalis.
Karena itu aku jadi guru. Membukakan pintu hati anak-
anak untuk pergi ke taman patriotisme. (....) Karena itu
aku jadi nasionalis. Sungguh berat menjadi nasionalis.
Karena tiu aku memilih menjadi guru. Tapi aku rela jadi
nasionalis. Aku rela jadi korban semua ini
(Toer,1999:82)

Dalam perkataan Ayah terebut tersirat semangat dan kebanggaannya

sebagai seorang nasionalis. Meskipun perjuangan sebagai seorang

nasionalis tidak membuatnya mendapat penghargaan yang sepadan. Namun,

bagaimana pun Ayah tetap merasa bangga sebagai seorang nasionalis yang

berjuang untuk bangsanya.

2.1.3 Tokoh Tambahan

28

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2.1.3.1 Istri

Tokoh tambahan dalam novel ini adalah istri. Dia mendapat porsi

penceritaan lebih sedikit dibandingkan dengan Aku atau Ayah. Namun,

kehadirannya sebagai tokoh dalam novel ini memberi efek keterasingan bagi

tokoh Aku.

2.1.3.2 Penokohan Istri

Istri tokoh Aku adalah seorang perempuan berdarah Sunda. Di awal

cerita dia nampak menunjukkan resistensi ketika harus ikut suaminya ke

Blora untuk menjenguk ayahnya yang sakit. Ia juga mengatakan agar tidak

terlalu lama berada di Blora. Ketika berdiskusi dengan suaminya dia

menunjukkan minat yang kecil untuk tinggal di Blora lebih lama. Beginilah

percakapan antara istri dengan Aku :

“Jangan terlalu lama di Blora,” kata isteriku.
Kupandang isteriku itu. Aku rasai keningku jadi tebal
oleh kerut mirut. Dan aku menjawab pendek : “Kita
melihat keadaanya dulu”. Sebentar bayangan kenangan
pada ayah hilang. “Barangkali kalau terlalu lama, aku
terpaksa pulang dahulu.” (Toer, 1999:8)

Ketika sampai di Blora, beberapa kali Istri tokoh Aku menunjukkan

ketidaknyamanannya tinggal di Blora. Bahkan dalam perjalanan menuju

Blora ia menunjukkan rasa tidak antusias. Beberapa kali cerita atau

pemandangan menarik yang ditunjukkan tokoh Aku tak membuatnya

bergairah.

‘Lihatlah jurang itu. Alangkah dalam!’ Kupandang
istriku. Ia membuka tapuk matanya. Dan kemudian
tapuk mata itu turun pula dan tertutup kembali. Aku
mengeluh. Ingin aku memperkenalkan keindahan

29

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

daerahku dengan jurang dan hutannya, dengan kijang
dan monyetnya. Ya, ingin sekali (Toer, 1999:15).

Tokoh Aku beberapa kali mencoba untuk mencairkan hati istrinya,

namun beberapa usahanya tidak membuat situasi hati istrinya berubah. Sang

istri tetap belum menunjukkan ketertarikannya akan perjalanan itu.

Kupandang isteriku. Berkata “Lihatlah, betapa cantiknya
hutan itu.” Diam-diam isteriku menjengukkan kepalanya
ke luar jendela. Kemudian kepalanya ditariknya lagi dan
ia bersandaran di pojok bangku kereta (Toer, 1999:15).

Sesampainya di Blora dia beberapa kali membicarakan topik untuk

kembali ke Jakarta. Namun, ia akhirnya tetap tinggal di Blora sampai

akhirnya Ayah meninggal.

2.2 Latar

2.2.1 Latar Waktu

Latar waktu yang ada dalam tokoh ini adalah Indonesia pada pasca

kemerdekaan Indonesia. Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal

17 Agustus 1945. Jika melihat surat di awal cerita tertanggal 17 Desember 1949,

itu artinya cerita ini mengambil latar waktu sekitar empat tahun sesudah Indonesia

merdeka. Dengan demikian cerita ini berlatar sekitar zaman Revolusi.

Secara lebih khusus Indonesia memasuki masa Revolusi pada tahun 1945-

1950. Itu artinya tahun 1949 yang menjadi latar novel ini berada di tahun-tahun

penghujung Revolusi. Jika lebih lanjut kita melihat perjalanan Aku ke Blora dan

kenanganannya tentang perang maka bisa disimpulkan pula latar waktu novel ini

adalah masa perjuangan Revolusi. Ricklefs (2010,428) menyebutkan bahwa ada

kelompok yang mengangkat senjata untuk mempetahankan kemerdekaan.

30

Sementara itu. ke paman dan kepada ayah (Toer. terlampau bingung (Toer. Blora menjadi simbol kemiskinan dan belum meratanya kemakmuran Indonesia sesaat setelah Indonesia merdeka. Peluru meriam jatuh meledak di sekitar bondongan manusia yang melarikan diri. 1999:9) Kutipan di atas semakin menguatkan bahwa latar waktu Revolusi merupakan peristiwa yang melatari ceritera novel Bukan Pasar Malam. Dan ingatanku melalui darah. aku berteriak dengan bercorong kedua tanganku: Jangan lari! Rebahkan badan! Tapi mereka itu terlampau banyak. 31 . Darah. Latar Tempat Dua latar tempat utama dalam novel Bukan Pasar Malam adalah kota Jakarta dan kota Blora. kurban. Rakyat jadi panik. ke surat. B. Kurban. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sekilas melela kenangan lama. bangkai. Mereka melarikan diri ke sawah.1999:8-9). Aku masih ingat waktu itu. Dulu – empat tahun yang lalu! Dengan tiada tersangka-sangka Belanda menghujani pertahanan kita dari tiga penjuru dengan delapan atau sepuluh pucuk howitser. Jumlah itu bisa dihitung oleh berkas serdadu artileri KNIL sebelum perang. Bangkai. Jakarta menjadi simbol kemajuan dan kemegahan sebuah kota pasca-kemerdekaan. Situasinya lebih banyak berupa perang dan keadaan yang mencekam. Perang itu pun sampai menimbulkan trauma dalam diri Aku. Kutipan di atas menunjukan kenangan Aku tentang masa perang. Perang ini adalah perang revolusi antara Belanda yang kembali setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Dua kota ini sebenarnya merupakan sebuah kontras keadaan zaman pada masa Indonesia setelah merdeka.

Latar sempit yang ada di Blora adalah rumah sakit dan rumah. Dan sekiranya ada dirasa kekurangan listrik. diberati oleh perhitungan harga kayu. Dan aku lihat orang tua itu mengerti juga beratnya anggukanku (Toer. Antara gelap dan lembayung sinar sekarat di barat yang merah. Aku tak tahu. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dari sudut pandang tokoh Aku dia melihat Jakarta sebagai tempat yang sangat mewah. satu mobil saja di Blora adalah hal yang sangat langka. Aku mengangguk berat. semen dan paku. Orang-orang di sana masih sangat sederhana kalau tidak ingin mengatakan masih jauh dari kemapanan. Rumah menjadi tempat Ayah dibawa pulang menjelang kematiannya. 32 . Blora adalah kebalikan dari Jakarta. sepedaku meluncuri jalan kecil depan istana. Istana itu – mandi cahaya lampu listrik. Rumah sakit adalah tempat Ayah dirawat. orang tinggal mengangkat tilpun dan istana mendapat tambahan (Toer.1999:4). antara pusat dan daerah pinggiran. Sejak kedatangan tokoh Aku dan istrinya di Blora. listrik adalah hal yang masih sangat mewah di sana. Situasi tempat tinggal yang tidak kunjung membaik berbanding seimbang dengan situasi ekonomi. Lebih dari separuh peristiwa terjadi di Blora. seluruh peristiwa terjadi di sana. Sementara rumah adalah rumah masa kecil tokoh Aku. Hanya perhitungan dalam persangkaanku mengatakan : listrik di istana itu paling sedikit lima kilowatt. Latar tempat yang digunakan oleh Pram untuk membungkus cerita ini adalah situasi yang timpang antara kota dan desa. 1999:40) Blora merupakan latar tempat utama dalam novel Bukan Pasar Malam. Terutama ketika dia menggambarkan Istana Negara dan mengkontraskannya dengan keadaannya yang melarat. Lebih lagi. Jika di Jakarta bisa dijumpai ribuan mobil. Entah beberapa puluh ratus waatt.

mereka berdua harus pergi ke stasiun dan mencegat kereta yang paling pagi. (. Untuk melanjutkan perjalanan. Hanya saja.1999:14). Dia teringat akan kota kelahirannya dengan jalan-jalan yang sempit dan penduduknya yang miskin. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Latar tempat lain yang perlu dicatat meskipun tidak menghadirkan banyak peristiwa adalah Semarang. Latar tempat berikutnya sebelum Blora adalah batas kota Blora.. Debu yang ditiupkan oleh mobil – debu yang bercapur dengan berbagai macam tahi kuda. Kian dekat dengan kota kelahiran kian nyata terbayang-bayang jalan-jalan yang sempit.. Perjalanan kereta itu kemudian sampai di Rembang. Dan kereta kami berpacu dengan mobil. dia mulai membelok ke selatan dan melintasi hutan jati dan sawah. Tidak banyak yang diceritakan di tempat ini. reaknya. Antre beli karcis. penduduknya yang miskin. Penumpang harus singgah di Semarang untuk menunggu kereta berikutnya ke Blora. Meski sedikit ada informasi yang penting dicatat di sini Blora juga merupakan kota yang 33 . Subuh-subuh kami telah pergi ke stasiun. dan ayah (Toer. Hal ini penting untuk mengetahui bahwa pada masa itu perjalanan naik kereta dari Jakarta ke Blora bukanlah perjalanan sekali sampai.. Sampai di Rembang. Setelah dari Semarang latar tempat berfokus di dalam kereta dengan pemandangan perjalanan mulai dari pemandangan pantai utara. Tokoh Aku dan istrinya mengunjungi Semarang dalam perjalanan dari Jakarta ke Blora. 1999:14). Kadang-kadang kami dapati anak- anak kecil bersorak-sorak sambil mengulurkan topinya mengemis. Aku ingat tentang kota kelahirannya. ludahnya – mengepul dan menghinggapi kulit kami. tahi manuisa. Kereta berjalan terus dan berjalan terus.. dan memperhatikan tamasya itu dengan hati gemas.) Bila orang melempar-lemparkan sisa-sisa makanan mereka berebutan (Toer.

Bahkan untuk mendapat akses listrik yang memadai orang harus punya jabatan dan posisi yang memungkinkan. tanah lapang – dan dulu gedung-gedung yang berdiri di tanah lapang itu. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tidak lepas dari peperangan. 1999:4) Kutipan di atas menunjukkan bahwa kebutuhan listrik belum merata di setiap daerah. dan juga bukan menteri. Tanpa jabatan dan posisi yang memadai orang harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. perang membuatnya tinggal tanah lapang saja. Pemenuhan kebutuhan tidak merata di antara masyarakat. 1999:15) Melihat bermacam-macam latar tempat yang dipakai dalam novel ini. Kondisi masyarakat Indonesia yang baru saja merasakan kemerdekaan masih menunjukan ketidakstabilan. Situasi yang mungkin wajar untuk sebuah 34 . Kalau engkau bukan residen. Ini sungguh tidak praktis (Toer. nampak olehku. engkau harus berani menyogok dua atau tiga ratus rupiah. Dalam ingatan Aku. C. Sekaligus terpikir olehku: peperangan yang meruntuhkan bangunan-bangunan itu (Toer. dan engkau ingin mendapat tambahan listrik tiga puluh atau lima puluh watt. Waktu kereta memasuki batas kota Blora. Namun. Hanya segelintir orang terutama yang punya jabatan yang bisa menikmati kemewahan. ada pula latar yang merupakan tempat tokoh Aku mengenang kejadian lalu ketika dia di dalam kereta dalam perjalanan dari Jakarta menuju Blora. Latar Sosial Latar sosial novel Bukan Pasar Malam adalah situasi masyarakat ketika Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan. daerah itu merupakan tempat berdirinya gedung-gedung. bisa diambil kesimpulan bahwa ada latar tempat yang merupakan tempat kejadian atau peristiwa. Situasi sosial yang ditonjolkan dalam novel ini adalah kesenjangan sosial antara kaum borjuis dengan kaum proletar. Sementara.

kalau bisa – harap rumahmu itu engkau perbaiki. 35 . Misalnya ketika tetangga Aku yang tukang potong kambing ingin menyuruh Aku memperbaiki rumah. 1999:38). barangkali ada baiknya kuulangi kata orang tua- tua dulu : Apabila rumah itu rusak. Karena itu. Kalau bisa Gus. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI negara yang baru saja merdeka. Dan rumah-rumah yang dulu sudah miring-miring. Dan engkau terlampau lama tak bergaul dengan orang-orang sini. Meneruskan. 1999:38). Engkau sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini. dia menggunakan kata sehalus mungkin. Oleh karena itu. Hal ini bisa dilihat dari kondisi rumah-rumah orang yang tidak membaik tetapi malah semakin buruk. yang menempatinya pun rusak (Toer. adat dan kebiasaan tokoh-tokohnya berasal dari Jawa. Aku menegok ke arah rumah. Dan rumah kami pun sudah begitu rusak (Toer. Mereka menunjukkan stereotipe orang Jawa yang berbicara kepada orang lain dengan gaya memperhalus ucapan. Peristiwa-peristiwa yang ada dalam novel karya Pram ini terjadi di Jakarta dan dalam perjalanan ke Blora. Rumah-rumah baru banyak didirikan. Blora ini masih tetap seperti waktu kutinggalkan dulu. serta kota Blora.

Indonesia memasuk masa yang disebut sebagai masa percobaan demokrasi (Ricklefs. Pertama. Penelitian ini melihat situasi pada masa ini karena latar waktu novel Bukan Pasar Malam berada di sekitar zaman Revolusi. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III KONTEKS SOSIAL KEPENGARANGAN PRAMOEDYA ANANTA TOER Dalam bagian ini akan dipaparkan situasi sosial Indonesia pada sekitar zaman Revolusi. yaitu tanggal 17 Desember 1949.428-470) mengkategorikan tahun 1945-1950 sebagai masa Revolusi. Perjuangan melawan Belanda dan antek-anteknya untuk kembali merebut Indonesia telah usai. konteks sosial yang ada dalam novel Bukan Pasar Malam. Tahun 1949 menuju 1950 adalah saat Revolusi mencapai titik akhir. Pramoedya tidak sembarangan dengan menjadikan tahun 1949 sebagai latar waktu. Kemudian. konteks sosial di Indonesia yang berisi beberapa peristiwa penting dalam pejalanan Revolusi Indonesia. Ini bisa dilihat dari surat dari Ayah yang ada di awal novel. Namun. situasi kemerdekaan tidak secara instan membuat kondisi Indonesia menjadi lebih baik. 2005:471) Ada dua konteks sosial yang akan dipaparkan dalam bagian ini. 3. Kedua. M. Ricklefs (2010. Untuk membantu pemahaman lebih dalam mengenai ideologi kaum proletar penting untuk melihat bagaimana situasi masyarakat dalam cerita yang ditulis oleh Pramoedya ini.C. 1 Konteks Sosial Indonesia Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dengan memanfaatkan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. 36 . Agaknya.

3. Revolusi pada masa itu sudah sampai menjadi semacam euforia. mendapat pengakuan kedaulatan pun butuh perjuangan lebih lanjut (Ricklefs.1 Revolusi Indonesia Ricklefs (2010:429) dalam buku berjudul Sejarah Indonesia Modern menyebutkan adanya kepentingan baik dari Indonesia dan Belanda dalam Revolusi dengan tujuan yang berbeda. 2010:428). 2010:428). Hadirnya Belanda yang ingin menduduki kembali Indonesia malah menjadi penyulut persatuan. Ini membuat tentara-tentara Jepang masih berkeliaran juga di beberapa daerah di Indonesia. tentu Belanda merasa lebih punya kekuatan untuk kembali menduduki Indonesia. Akan tetapi. Dengan kemenangan Sekutu atas Jepang. 37 . Revolusi pascakemerdekaan Indonesia terjadi akibat kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II dan niat kembalinya Belanda dibantu tentara Sekutu untuk menduduki Indonesia kembali. Sementara itu Indonesia bertujuan untuk melengkapi dan menyempurnakan proses penyatuan pergerakan kebangkitan nasional yang sudah dibangun sejak awal tahun 1900-an (Ricklefs. Usaha Belanda dalam mengambil alih menjadi hal yang sangat sulit dicapai. bukan berarti Jepang sudah pergi dari Indonesia. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bahkan. karena orang-orang Indonesia dengan semangat lebih tinggi lagi tidak rela menyerahkan tanah mereka kembali kepada Belanda. Belanda bertujuan untuk menghancurkan negara yang dipimpin orang-orang yang bekerja sama dengan Jepang dan memulihkan kembali daerah jajahan yang sudah mereka bangun lebih dari tiga abad (Ricklefs. berita proklamasi belum menyebar ke seluruh daerah.1. Maka keberanian bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan sebenarnya bukan tanpa risiko. 2010:429).

Pertemuan ini hampir memicu konfrontasi dengan pihak Jepang. Situasi ini membuat Jepang akhirnya perlahan mundur dari pusat kota ke daerah pinggiran (Ricklefs. Perjuangan Revolusi terbagi menjadi dua arus utama. 38 . sistem trem listrtik. Peristiwa penting saat ini adalah diadakannya Medan Merdeka. dan stasiun pemancar radio. Yang kedua. Masyarakat pun terbagi menjadi generasi tua dan generasi tua. Ada golongan yang menentang dan yang mendukung. Yang pertama adalah kelompok yang mengangkat senjata. 2005:433). Aksi ini dikhawatirkan oleh para generasi tua akan memicu konfrontasi. kelompok kiri dan kelompok kanan. Rickefs (2010:429) menyebut bahwa pada dasarnya situasi di awal Revolusi adalah situasi yang kacau balau. adalah kelompok yang memperjuangkan Revolusi dengan jalan diplomatik. Soekarno berhasil membujuk orang-orang Indonesia untuk bubar dengan tertib tanpa menganggu Jepang. Pramoedya Ananta Toer dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Jilid 2 mempunyai BAB khusus yang membahas tentang Revolusi Indonesia. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Di dalam masyarakat Indonesia sendiri perjuangan Revolusi tidak hanya terpusat menjadi satu pandangan. yaitu rapat besar yang dihadiri hampir 200.000 orang (Ricklefs. Api perjuangan bangsa Indonesia benar-benar berkobar saat ini. bagaimanapun Revolusi ini melahirkan euforia bagi bangsa Indonesia. Kesempatan ini digunakan oleh para pemuda untuk menduduki tempat-tempat penting seperti stasiun kereta api. Akan tetapi. Namun. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat yang beragam di antara rakyat Indonesa sendiri.2005:433). juga kekuatan- kekuatan Islam dan kekuatan sekuler.

Yogyakarta. Tokoh-tokoh sastrawan yang terkenal pada masa ini di antaranya adalah Chairil Anwar. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penggambarannya tidak herois seperti yang dilakukan oleh Ricklefs. Pramoedya Ananta Toer. Tjahaja di Bandung. dan Mochtar Lubis (Ricklefs: 2010:433). Masyarakat Indonesia pada masa itu mengalami kekacauan. semangat Revolusi juga terlihat dalam seni dan sastra. Daya kreatif sastrawan angakatan ini memuncak pada masa Revolusi. kemiskinan yang bahkan membuat orang mendekat ke kuburan. 39 . Bahkan judul yang dia tulis adalah “Revolusi belum Selesai”.2 Semangat Revolusi dalam Sastra Revolusi yang terjadi di Indonesia memang mempunyai pengaruh yang cukup masif dalam kehidupan rakyat Indonesia pada waktu itu. Yang dikritisi oleh Pram adalah Revolusi hadir karena situasi alam atas kekosongan kekuasaan kolonial (Toer. Inilah yang membuat suatu generasi sastra dinamakan Angkatan ’45. Sinar Matahari di Yogyakarta. dan Soeara Asia di Surabaya. Sastra sebagai salah satu bentuk seni dipercaya dapat ikut ambil bagian dalam perjuangan Revolusi. Dalam bidang sastra. Situasi yang pelik pada masa Revolusi disebut oleh Pram sebagai krisis revolusioner (Toer. Media ini beredar terutama di wilayah Jakarta. Sinar Baroe di Semarang.1. dan Surakarta. 2000:175) Krisis revolusioner ini menjadi titik puncak situasi sosial. Pada masa ini pula akhirnya muncul majalah-majalah dan surat-surat kabar Republik. Surat-surat kabar tersebut misalnya Asia Raya di Jakarta. 2000:175). ekonomi dan politik. 3.

2005:98). ingatannya tentang perang tentu mengindikasikan dia adaah bagian dari kelompok pemuda yang ikut berperang pada zaman Revolusi. Gairah dan euforia Revolusi pada masa itu menggerakkan semangat pemuda untuk melibatkan diri secara langsung dalam pemerintahan. Namun. Memang di dalam novel tidak dapat ditemukan secara eksplisit apa yang membuatnya dipenjara.3 Pemuda dan Revolusi Dalam novel Bukan Pasar Malam diceritakan beberapa masa lalu tokoh Aku yang sempat dipenjara. Penjelasan Ricklefs (2010. pemuda Indonesia mengambill alih stasiun kereta api dan pemancar radio dari tangan Jepang. Ini membuat pemuda dapat mengambil alih beberapa tempat penting. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Seni yang juga bergairah pada masa Revolusi adalah seni rupa.428-430) mengenai kaitan erat antara perang Revolusi dan orang muda akan membantu untuk melihat apa yang terjadi. Misalnya.1. Pandangan yang cukup bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh Soekarno dan Hatta.2005:445). 40 . Keduanya berpandangan bahwa sistem pemerintahan harus dipersiapkan dengan matang dan harus dilalui dengan proses diplomasi (Vicker. 3. Dukungan mereka yang paling nampak tidak hanya menuangkan semangat Revolusi dalam lukisan. Lukisan- lukisan modern karya Affandi dan Sudjojono juga semakin menemukan bentuknya(Ricklefs. tetapi bahkan membuat poster- poster anti-Belanda. Pemuda- pemuda di daerah banyak yang diperbolehkan untuk memegang senjata. Tan Malaka bahkan mengatakan Revolusi bagaimana pun juga harus dipegang oleh Pemuda.

Lebih lagi. Ada kekacauan yang juga diciptakan oleh pemuda dalam masa Revolusi ini. menjadi lebih jelas bagaimana konteks sosial novel Bukan Pasar Malam. pemuda memilih untuk mengangkat senjata untuk berperang dan berkonfrontasi. Setelah menganalisis tokoh dan penokohan serta latar yang menjadi unsur instrinsik dalam novel ini. 3. Akan tetapi. kisah yang berbeda muncul dalam novel Soerabaja karya Idrus. Inilah penjelasan mengapa dia sampai dipenjara. 2014:2) Bahkan tindakan brutal itu sampai pada perbuatan kriminal dengan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap orang Tionghoa dan Indo yang dianggap sebagai mata-mata (Brotoseno. Jika dikaitkan dengan tokoh Aku dalam novel Bukan Pasar Malam. Ini berarti perjuangan revolusi dan peran pemuda yang begitu herois tidak mutlak menjadi satu kisah utama. 2014:2). memori tentang peperangan dengan bangsa penjajah dia kenang dalam perjalannya ke Blora. Sampai di sini perjuangan pemuda nampak sangat heroik dengan semangat yang berkobar-kobar. Pemuda digambarkan dengan revolver terselip di pinggang dan berjalan dengan angkuh serta menembak ke segala arah tanpa tujuan yang jelas (Brotoseno. Novel ini memberi gambaran yang kontradiktif dengan kisah brutal yang dilakukan oleh pemuda di Surabaya. Sementara itu generasi tua memilih jalan-jalan diplomatik.2 Konteks Sosial dalam Novel Konteks sosial merupakan situasi sosial atau masyarakat yang melingkupi dan membungkus sebuah karya. sebagai pemuda dia mengangkat senjata. 41 . PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

nyatanya dalam jangka waktu empat tahun setelah merdeka Indonesia belum bisa mencapai kesejahteraan secara menyeluruh di wilayah Indonesia. Perjuangan ini terus dilakukan untuk melepaskan diri dari penjajah. Tujuannya adalah untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sebuah negara. Dan pak kusir tak henti-hentinya menghalau-halaukan kudanya dengan cambuk dan perkataan. Kemerdekaan merupakan sesuatu yang diperjuangkan oleh negara yang terjajah. Tugu peringatan empat puluh tahun pemerintahan Wilhelmina masih berdiri. Namun. Dan dokar yang membawa kami ke rumah yang sudah kutinggalkan selama ini berjalan ayem seperti dulu juga. Dan tugu itu kini dicat merah muda. adalah konteks Indonesia sekitar empat tahun pasca kemerdekaan. Banyak gedung runtuh di sepanjang jalan. Terutama nasib para pejuang nasionalisme seperti Ayah tidaklah menyenangkan. Aku menarik nafas panjang. kemerdekaan tak membawa perubahan ke arah kemajuan secara cepat. Ayah dapat menjadi representasi para pejuang nasionalis yang nasibnya tidak membaik setelah kemerdekaan. situasi masyarakat saat itu cukup gamang. 42 . tokoh Aku malah menghujat kesejahteraan negaranya karena ia tidak bisa ikut menikmati kesejahteraan tersebut. Kami jinjing bawaan kami. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pertama. Aku tak mengerti mengapa. Tapi keindahannya yang dahulu lenyap. Mungkin pasukan merah yang mengecatnya waktu menduduki kota kami (Toer. Konteks sosial berikutnya adalah keberadaan kaum proletar yang masih melihat kesejahteraan sebagai sesuatu yang jauh dari mereka. Dan gedung PTT yang jadi kebanggan penduduk kota Blora yang kecil itu kini tinggal beton-beton tiangnya yang bersusun- tindih seperti bantal dan guling. Bahkan. Jika melihat apa yang terjadi di dalam novel.1999:17). Penggambaran tentang situasi Blora pada saat Aku sampai bisa memberi penjelasan.

ideologi dan pemikirannya pun bergerak. namun kenyataannya ia tetap mati dalam ketidaksejahteraan. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penting untuk dicatat pula bagaimana kehidupan kaum nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan. sebagai pejuang kemerdekaan. 2008:1) Pada tahun 1950 Pram pernah bekerja di penerbit Balai Pustaka. Dengan demikian. ideologi kiri yang selama ini begitu melekat pada Pram –hingga buku-bukunya dilarang – bukanlah sebuah produk yang 43 . tidak bisa menikmati kemerdekaan yang telah diperjuangkan. Sekalipun ia tetap bangga menjadi seorang nasionalis sampai akhir hidupnya. Kedua. Ada pendapat yang mengelompokkan karya Pram menjadi dua bagian besar. Latar sosial Pram adalah seorang penulis yang tidak terlibat dalam organisasi atau partai tertentu. Dia juga membuka kantor agen sastra dan fitur bernama “Duta” yang bertahan sampai sekitar tahun 1954 (Farid. Pram bahkan bersikap sedikit menjauhi politik (Farid. 3. Pramoedya Ananta Toer bukanlah sosok stagnan yang berhenti pada suatu ideologi. 2008:1). Tidak hanya tidak terlibat. Konteks sosial inilah yang menjadi bungkus cerita novel Bukan Pasar Malam. Itu artinya seorang intelektual yang tidak terkait dengan partai atau organisasi massa tertentu. Hilmar Farid memberikan istilah unattached intelectual untuk sikap seperti ini. 2008:1). karya Pram yang cenderung seperti pamflet yang digunakan untuk menyerang lawannya (Farid. Sebagai seorang penulis. Pertama karya Pram sebagai mahakarya dengan kritik sosial yang kental. berubah serta berkembang.3 Konteks Sosial Pramoedya Ananta Toer Seperti yang telah disebutkan dalam bagian pendahuluan. Ayah.

Itu pun terjadi pada tahun 1958 atau 1959 ketika dia diundang oleh LEKRA dalam sebuah pertemuan di Solo.. saya pernah mencoba membaca dalam bahasa Belanda (Sirait. Nggak pernah 44 . Pram mengatakan bahwa ia tidak pernah belajar Marxisme secara formal.2011:42). Ya. Pramoedya sebagai penulis mengalami proses yang cukup panjang. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sekali jadi. Di Akhir kongres ternyata saya diangkat sebagai anggota pleno. Ini membuktikan bahwa citra yang dibangun selama ini bahwa dia penganut komunis dengan pemikiran kiri yang kuat tidak dapat dibenarkan sepenuhnya. Sambil jalan-jalan saya datang aja. Saya kasih sambutan.Pramoedya dan Blok Intelektual Kiri). Nggak punya materi. Karya-karyanya dari zaman ini seperti kebanyakan penulis sezamannya adalah potret dari keadaan Indonesia segera sesudah perang yang sarat dengan kritik sosial. Kebenaran bahwa Pramoedya mengalami proses pembentukan pemikiran kiri dikonfirmasi oleh dirinya sendiri dalam sebuah wawancara. Sudah itu saya tidur aja di hotel. gagasan kiri baru memberi pengaruh pada Pram ketika dia ikut beberapa kali dalam kegiatan LEKRA. Lebih lanjut. Dari jawaban Pramoedya tersebut nampak sekali dia bukanlah penganut Marxis radikal. ungkapan kekecewaan terhadap revolusi dan patriotisme yang kadang tergelincir menjadi angkuh dan sewenang-wenang (Farid. Waktu ada kongres Lekra di Solo saya diundang. nggak pernah belajar. bahkan dia tidak pernah dalam acara resmi PKI. Tahun berapa tuh. Sampai di sana saya diminta memberi sambutan. Pernah datang ke acara PKI ? Nggak. Alasannya. ‘58 atau ’59. Hal ini termasuk juga keterlibatannya dalam PKI dan LEKRA. dia tidak punya bahan untuk berbicara. 2008 dalam Pramoedya Ananta Toer dan Historiografi Indonesia. Bahkan Farid juga menyatakan bahwa apa yang ditulis oleh Pram pada tahun 1950- an bernada sama seperti penulis pada itu yang menunjukkan reaksi atas revolusi. Cuma sepotong-sepotong dari koran aja.

. 45 . Bukti ini memperkuat bahwa gagasan dan ideologi kiri belum kuat dalam diri Pram sebelum tahun 1958 atau 1959. Teeuw dalam penilaiannya sama sekali tidak menyinggung ideologi kiri. 1980:234). Khusus mengenai Bukan Pasar Malam. Pram mungkin belum terpengaruh gagasan kiri. A. Dia bergabung dengan Lekra karena diundang dan diangkat menjadi anggota Pleno. Novel ini menurutnya ditulis tidak lama setelah perjalanan Pram ke Blora sekita Mei 1950 (Teeuw. (Sirait. Berkaitan dengan novel Bukan Pasar Malam yang terbit 1951... Namun.. he. benih pemikiran kiri bisa ditemukan dalam karya ini.2011:51) Poin yang disampaikan Pram adalah bahwa dia tidak secara sukarela bergabung dengan Lekra – apalagi berambisi untuk itu. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI merangkak dari bawah tahu-tahu langsung nangkring. he.. Teeuw juga menambahkan bahwa yang membuatnya kagum adalah cara Pramoedya menampilkan situasi yang suram dan suasana yang kacau yang menjadi tempat hidup masyarakat zaman itu.

Struktur sosial ini didasarkan pada pembagian kelas sosial dalam relasi ekonomi. Kelas sosial proletar secara dominan menjadi perhatian utama Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bukan Pasar Malam dalam membangun penokohan. Dalam bagian ini akan dibahas secara lebih mendalam bagaimana ideologi proletar itu hadir dalam novel ini terutama pada tokoh. Tokoh Aku sebagaimana dijelaskan pada bagian tokoh dan penokohan mengalami kegelisahan terutama dalam soal ekonomi. Sastra. (Faruk. dan mempercayai sesuatu ketika ia berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Kurang lebih hal ini sudah mulai nampak dalam penokohan. memandang. adalah superstuktur yang menjadi kekuatan reproduksi dari struktur sosial. Ideologi proletar dalam bagian ini ditemukan dari bagaimana tokoh utama merasa. Ideologi proletar penting untuk dilihat karena akan memberi pemahaman lebih dalam bagaimana kondisi masyarakat terutama masyakarat miskin pada masa Indonesia setelah kemerdekaan. Ideologi tersebut akan ditemukan dari analisa pikiran. 46 . penokohan serta latar. akan lebih mudah dipahami dan ditemukan ideologi proletar muncul. dapat dilihat bagaimana ideologi kelas diwujudkan dalam sebuah karya sastra. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV IDEOLOGI PROLETAR TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BUKAN PASAR MALAM Dalam bagian sebelumnya telah dianalisa tokoh. 2014:53) Dengan demikian. jika ditempatkan dalam kerangka berpikir Marxis. perasaan dan reaksi tokoh. Dengan memahami unsur intrinsik tersebut.

Bahkan yang paling ekstrem bisa dikatakan mereka adalah bagian dari alat produksi. Kebutuhan primer berkaitan dengan sandang. dari alat-alat produksi. Tidak hanya itu mereka adalah pemilik alat produksi. Bagi masyarakat proletar tentunya kebutuhan primer ini akan selalu menghantui karena akses mereka terhadap alat produksi sangat terbatas. Selain tokoh utama. Dia adalah pekerja atau buruh yang setiap harinya bergulat dengan kebutuhan dasarnya. 4.1 Tidak Ada Perencanaan Kebutuhan di Luar Kebutuhan Primer Dalam kehidupan manusia memiliki kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. tokoh aku temasuk dalam kelas tersebut. pangan dan papan. Ia telah 47 . Ini sangat berbeda dengan kaum proletar atau kelas bawah. Dalam Marxisme yang menentukan kelas sosial adalah alat produksi. Hal ini dikarenakan Aku tidak mendapat akses langsung terhadap alat produksi. dan dari milik. Hal ini semakin menyesakkan ketika mereka harus berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan di luar kebutuhan primer. Kaum proletar tidak punya akses terhadap alat produksi. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selain itu jika berpegang pada apa yang dikatakan Marx tentang kelas proletariat. beberapa reaksi dari Ayah sebagai tokoh utama tambahan dan beberapa dari tokoh tambahan akan dianalisis untuk melihat bagaimana kaum proletar berpikir dan memandang sekelilingnya. Kaum borjuis atau kelas atas adalah mereka yang mempunyai akses langsung terhadap alat produksi. Karl Marx dalam Manifesto Komunis menulis demikian : Borjuasi senantiasa makin bersemangat menghapuskan keadaan terpencar- pencar dari penduduk. Kaum proletar adalah kelas sosial bawah yang lemah secara ekonomi.

Dia tinggal di Jakarta sementara ia mendapat surat bahwa Ayahnya sakit dan memintanya untuk pulang ke Blora. Karena tidak memiliki akses terhadap alat produksi. Dalam novel Bukan Pasar Malam. (Marx. Namun. Lebih lagi. 1848: 3) Berdasarkan apa yang dimaksud Karl Marx di atas semakin jelas bahwa yang menciptakan jurang yang dalam antara borjuis dengan proletariat adalah keberadaan alat produksi. Demikian ungkapan kegelisahan dan kebingungannya : 48 . Kebutuhan transportasi menjadi kebutuhan yang tidak termasuk dalam agenda sehari-hari tokoh Aku. Oleh karena itu. Dengan berbagai cara alat-alat produksi itu telah menjadi milik beberapa tangan saja. memusatkan alat-alat produksi. tempat tinggal dan pakaian. tidak aneh jika Aku menjadi bingung dan terkejut. hasil kerja dan keringat kaum proletar kembali lebih banyak dinikmati oleh kaum borjuis. Keterbatasan akses terhadap alat produksi ini pula yang membuat mereka akan selalu di bawah secara ekonomi. Kaum proletar menghabiskan hidupnya untuk bekerja dan mendapatkan kebutuhan ekonomi primer seperti makanan. kaum proletar hanya menikmati sebagian kecil saja. Sementara itu. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menimbun penduduk. Aku sebagai bagian kaum proletar harus mengalami kebingungan ketika ia ingin pergi ke kampung halamannya. maka kaum proletar hanya bisa menggantungkan hidup dengan bekerja sesuai dengan apa yang telah diatur oleh masyarakat kapitalis. pada kenyataannya ada kebutuhan ekonomi di luar kebutuhan primer. dan telah mengkonsentrasi milik ke dalam beberapa tangan. Kebutuhan yang muncul dalam situasi ini adalah kebutuhan transportasi.

Dari mana aku dapat uang untuk ongkos pergi? Dan ini membuat aku mengedari Jakarta – mencari kawan-kawan – dan hutang (Toer. 49 . Sesak di dada. Akan tetapi. Ini memberikan situasi yang ironis karena berhutang di saat tidak punya uang sama seperti menggali lubang tanpa punya tanah lagi untuk menutupnya. Dalam kepalaku terbayang: ayah. Terlihat bagaimana Aku tidak punya sisa uang selain untuk makan dan kebutuhan hidup. Soal uang memang disebutkan belakangan. tidak ada pilihan lain. Kebutuhan transportasi tidak pernah masuk dalam agenda pengeluaran Aku sebagai bagian dari kaum proletar. Tokoh Aku mengekspresikannya dengan kata-kata seperti terkejut. Kegugupan datang menyusul. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mula-mula aku terkejut. Tokoh Aku dan istrinya menghabiskan malam di Semarang untuk menunggu kereta ke Blora keesokan harinya. Perjalanan dari Jakarta ke Blora tidak selesai dalam satu waktu kala itu. Kemudian: uang. Dalam situasi seperti itu tidak lain pilihan yang ia ambil adalah mencari hutang. Efek dari kegagalannya memenuhi kebutuhan ekonomi ini adalah hujatan terhadap kaum borjuis. Aku sempat mengeluh namun bisa tetap tidur dengan senang. 1999:2). Perjalanan dengan kereta harus berhenti di Semarang untuk transit. dan kegugupan. Dan mereka sebagai kaum proletar menginap di hotel yang kotor. Wajar saja jika kemudian Aku menghujat kaum borjuis. sesak di dada. Reaksi tokoh Aku yang gugup dan sesak di dada menambah bukti bahwa kegelisahan kaum proletar terhadap kebutuhan ekonomi mencapai tataran biologis. Dari sini juga bisa dilihat bagaimana kebutuhan ekonomi membuat dia sangat gelisah. namun hampir seluruh pikiran Aku kemudian dicurahkan untuk mencari uang.

Jalan terus . 1999: 13) Ideologi proletar yang nampak dari paparan di atas adalah kaum proletar yang merasa gelisah ketika ada kebutuhan ekonomi -di luar kebutuhan primer - yang muncul di luar agenda mereka. namun pada akhirnya mereka tetap bisa menikmati kesusahan itu. Blora ini masih tetap seperti waktu kutinggalkan dulu. Rumah- rumah baru banyak didirikan. 1999:38) 4. Dan hotel itu bukan main kotornya. Artinya memiliki rumah yang penting bisa ditinggali. Tokoh Aku melihat Jakarta sebagai tempat yang dipenuhi dengan banyak mobil dan polusi. Selain itu. Kami menginap di hotel. Dalam permenungannya Aku 50 . PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kereta jalan terus. ada istana negara yang menjadi simbol kemegahan di Jakarta. Mereka bisa tetap tidur dengan senang di hotel yang sangat kotor. Kaum proletar yang hanya sibuk untuk memenuhi kebutuhan primer sulit untuk memiliki tenaga dan biaya untuk membangun rumah lebih bagus. Aku menengok ke arah rumah. Pertama-tama tokoh Aku memandang Jakarta dengan sedikit rasa kagum dan berandai-andai bahwa ia juga bisa punya mobil. “Dan rumah kami pun sudah begitu rusak. Dan rumah-rumah yang dulu sudah miring-miring.Semarang. Jalan terus. Tapi kami bisa beristirahat dengan senang. Kebutuhan tinggal tentunya hanya secukupnya saja.. Meneruskan.2 Borjuisme adalah Musuh Dalam novel ini kelas borjuis digambarkan secara masif melalui kota Jakarta. Blora menunjukkan kebutuhan membangun rumah berada di luar kemampuan mereka. (Toer. Kegelisahan itu membuat kaum proletar kesulitan.” (Toer.

orang tinggal mengangkat tilpun dan istana mendapat tambahan (Pram. Tidak hanya berhenti di sana. rokoknya. Di kala itu juga aku berpendapat: bahwa orang yang punya itu menimbulkan kesusahan pada yang tidak punya. kataku – semua ini mungkin takkan terjadi. Dan sekiranya ada dirasa kekurangan listrik. Presiden memang orang praktis – tidak seperti mereka yang memperjuangkan hidupnyaa di pinggir jalan berhari-harian. Dan kalau isi istana itu mau berangkat ke A atau ke B. Kalau engkau bukan presiden. Secara eksplisit dia mengatakan: Ya. engkau harus berani menyogok dua atau tiga ratus rupiah. Ini sungguh tidak praktis. Akan tetapi. Para penghuni istana negara adalah golongan borju yang hidup dalam segala kenikmatan dan kemudahannya. mobilnya. 1999:4). dan engkau ingin mendapat tambahan listrik tiga puluh atau lima puluh watt. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tahu bahwa dengan menjadi orang kaya ia tak perlu bersusah payah untuk mencari pinjaman uang demi bisa kembali ke kampung halamannya. Pemikiran tokoh Aku melihat kenyataan hidup mewah yang ada di istana negara ini bisa tentu menjadi perbandingan yang sangat timpang antara hidup di bawah dan hidup di atas. Demikian dia berkata dalam hati : Istana itu – mandi dalam cahaya lampu listrik. semua sudah sedia – pesawat udaranya. Dan untuk ke 51 . tokoh Aku juga melanjutkan dengan nada satire menghadapi keberadaan kaum borjuis. dan uangnya. Dan mereka tidak merasai ini (Pram. Aku tak tahu. tokoh Aku kemudian memandang borjuisme sebagai musuhnya. sekiranya aku punya mobil – sekiranya. 1999:3). Entah beberapa puluh ratus watt. Hanya perhitungan dalam persangkaanku mengatakan: listrik di istana itu paling sedikit lima kilowatt. Dia pun akhirnya mengumpat terhadap kaum borjuis. dan juga bukan menteri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Blora ini. Ayah yang merupakan tokoh nasionalis tetap tidak bisa menghindarkan diri dari kemiskinan dengan nasionalisme. aku harus mengedari Jakarta dulu dan mendapatkan hutang. 1999:4).” (Toer. Rumah sakit itu terletak di pelosok dengan fasilitas kesehatan yang tidak terlalu memadai. Tokoh Aku sesampainya di Blora melihat kondisi Ayahnya yang memprihatinkan. Tokoh Aku dan adik-adiknya tahu akan keberadaan sanatorium ini. 4. Ini dikarenakan agar bisa menambah tiga puluh atau lima puluh watt peru menyogok dua atau tiga ratus rupiah. orang-orang yang punya kuasa untuk memberikan listrik bukanlah orang yang mudah memberikan perhatian. Penyebab Ayah tidak 52 . namun tidak mungkin untuk mendapat akses ke sana. Ayah terserang penyakit TBC yang semestinya ia harus dirawat di sanatorium. Sungguh tidak praktis kehidupan seperti itu. Sanatorium bisa memberikan fasilitas yang lebih lengkap untuk merawat penyakit TBC. Lebih lagi.3 Akses Kesehatan adalah Hal yang Tidak Mungkin Konflik utama yang menggerakkan alur cerita novel ini adalah Ayah tokoh Aku sakit keras. Pernyataan ini menempatkan orang yang punya jabatan tinggi sebagai lawan yang tidak seimbang. Keadaan sakit yang ditambah dengan kondisi ekonomi melarat menjadikan masalah menjadi lebih rumit. Ayahnya memang berada di rumah sakit yang lebih tepat disebut sebagai sebuah tempat perawatan sederhana. Aku secara eksplisit menyebut kalau selain presiden dan menteri tidak mungkin bisa mendapatkan listrik dengan mudah.

Kalau engkau jadi pegawai. “tempatku bukan di kantor. Akan tetapi. jangan sekali-kali berani mengharapkan mendapat tempat di sanatiorium. barangkali pendirian seperti itu juga menyebabkan ayah tak mau meneruskan jadi pengawas sekolah. Ayah yang sakit dengan ekonomi di bawah menjadi masalah yang semakin menggelisahkan tokoh Aku. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dirawat di sana adalah satu : mahal. Dengan menjadi anggota DPD tentu uang Ayah akan lebih banyak dan bisa untuk mengakses fasilitas di sanatorium. 1999:61). Dan itulah yang membuatnya tidak bisa mendapat akses penuh terhadap layanan kesehatan.” (Toer. dan kembali menjadi guru (Toer. jawabannya hanya begini: “Ongkos di sanatorium mahal sekarang” dan kalau tidak begitu jawabannya ialah: “sanatorium? Sanatorium sudah penuh oleh pedagan. 1999:60) Tokoh Ayah memang sempat mendapat tawaran untuk menjadi anggota perwakilan daerah. Orang-orang menjawab demikian ketika orang sakit paru-paru tidak dirawat di sanatorium. Sebagai bagian dari kaum proletar tentu idealisme Ayah ini membuatnya harus berhadapan dengan risiko keterbatasan ekonomi. kalau bukan pegawai tinggi.” Ya. Tapi ayah menolak juga dan bilang. Kalau ada orang menjawab. Tempatku ada di sekolahan. Ayah pun pernah mendapat tawaran jadi koordinator pengajaran untuk mengatur pengajaran untuk seluruh daerah Pati.” Dan ayah tetap menolak. Hanya saja ayah bilang begini. Begini salah satu adik Aku menceritakan jawaban Ayah : Aku tidak tahu. “Perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. idealisme Ayah membuatnya menolak tawaran itu. Kesehatan yang menjadi modal dasar kesejahteraan tidak dapat diakses dengan mudah oleh tokoh Aku. 53 . Dan aku tidak suka menjadi badut – sekalipun badut besar.

” (Toer. Uang yang digantungkan dari gaji. 54 . Bahkan. ia mengatakan : “Sejak kita merdeka. sementara hampir setengah tahun gaji guru belum dibayarkan. Ayah sebagai guru tidak punya akses semacam itu. gajinya yang belum dibayar pun terungkap ketika suatu pagi perawat datang untuk meminta gaji. Dengan demikian. Inilah mengapa akses kesehatan menjadi hal yang tidak mungkin bagi kaum proletar. menarik juga untuk dilihat bagaimana relasi antar kaum proletar itu sendiri. 1999:69) Kesulitan akses ini karena memang tidak adanya uang. Aku tak mengeri mengapa voorschot untuk bulan Maret yang dipintanya. Marx mengatakan bahwa yang menentukan posisi kelas adalah akses terhadap alat produksi. Kwitansi itu adalah dari Ayah. alat produksi tidak hanya terbatas pada mesin produksi saja tetapi juga fasilitas kesehatan. Dalam hal ini. Dan di kala hal ini kutanyakan pada paman. meskipun Ayah adalah guru -pekerjaan yang dianggap mulia. Pagi itu seorang juru rawat yang semalam kena dinas jaga malam datang ke rumah kamu dan menyerahkan selembar kwitansi – minta voorschot3 gaji untuk bulan Maret! Bulan itu adalah bulan Mei. 3 Istilah dalam Belanda untuk menyebut uang muka atau pembayaran di depan. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Akses kesehatan zaman itu tidak bisa dibandingkan seperti sekarang.4 Relasi dengan Sesama adalah Relasi Ekonomi Selain mengamati bagaimana relasi antara kaum proletar dengan kaum borjuis.itu tak menjamin ia mendapat akses kesehatan yang lebih baik. 4. guru belum dibayar. Guru yang berstatus sebagai PNS punya asuransi kesehatan yang lebih mudah sekarang. Hal ini disebabkan akses kesehatan merupakan alat produksi yang sangat sulit diakses oleh kaum proletar. Hampir setengah tahun ini.

1999:70) Padahal di balik kwitansi itu sebenarnya ada pesan dari Ayah untuk anaknya supaya ia dibawa pulang saja. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pertama bisa dilihat bagaimana relasi antara Ayah dan perawat di rumah sakit. Orang tadi pagi itu telah menipu engkau (Toer. Maka dalam novel ini. Sekaligus datang saja suara dalam hatiku. Ayah menunjukkan kekecewaannya kepada perawat yang dititipinya pesan itu.” “Allah. kekesalan dan kasihan pada segala-galanya. (Toer. Merawat orang sakit yang miskin tentu tidak akan memberikan keuntungan ekonomi yang terlalu tinggi. Pesan itu berbunyi demikian : Anakku! Aku sudah tak tahan tinggal di rumah sakit ini. perawat bekerja hanya karena motif ekonomi. Ketika ayah menghendaki untuk pulang. pesan itu tidak tersampaikan. Allah. Datanglah ke rumah sakit secepatnya. Dan pada matanya yang tertutup itu terbayang kesedihan.” Matanya tertutup lagi. Ayah kecewa dengan itu semua. Dalam novel ini.Allah. Dia merupakan bagian dari kaum proletar. perawat merawat Ayah dengan perhatian secukupnya saja. “Jadi orang tadi tak bilang apa-apa padamu?” “Dia hanya menyerahkan kwitansi dan minta uang sepuluh rupiah. ia menitipkan sebuah pesan dalam kwitansi yang akan diserahkan perawat kepada tokoh Aku. Bapakmu. 1999: 71) 55 . “Allah. Dan karena para famili telah kumpul. Namun.” Ayah menyebut lagi. lebih baik aku bawa saja pulang. Perawat sekalipun bagian dari rumah sakit adalah bagian dari rakyat pekerja. Namun. pesan itu tidak disampaikan dan yang penting hanyalah mereka bisa segera mendapat uang.

yang menempatinya pun rusak (Toer. Meskipun demikian. di satu sisi dia sudah merasa bingung dengan situasi kesehatan Ayah yang semakin parah. Dia menyarankan agar tokoh Aku untuk merenovasi rumah itu.1999:38). Karena itu. Seorang tukang potong kambing yang merupakan tetangga Ayah juga menunjukkan bagaimana sindirannya terhadap rumah reyot yang ada di Blora. Dan engkau sudah terlampau lama tak bergauk dengan orang-orang di sini. Padahal. Yang penting bagi kaum proletar adalah mendapat uang karena itulah yang menjadi agenda hidup mereka sehari-hari. Komentar dari tetangganya ini membuat tokoh aku bertambah merasa susah. Namun. pesan itu tidak sampai. Kalau bisa Gus. Apa yang terjadi di atas menunjukkan bela rasa antar kaum proletar tidak ada. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kesedihan Ayah memuncak karena ia sudah membangun niat untuk pulang dan berharap pesan itu bisa sampai kepada anaknya. Tukang potong kambing sebenarnya adalah wakil dari sesama kaum proletar. Anak-anaknya datang seperti ketika menjenguk di hari-hari sebelumnya. kalau bisa – harap rumahmu itu engkau perbaiki. Bukan karena mereka ingin menumpuk uang. Pada masa perjuangan kemerdekaan posisi Ayah sebagai seorang nasionalis dan guru akan membuat status sosialnya berada di atas. Namun. tetapi memang kebutuhan utama mereka perlu uang yang didapat dengan susah payah. saran ini lebih terasa sebagai sebuah ejekan. dalam 56 . Yang membuatnya bertambah susah adalah komentar itu membuatnya berpikir tentang kebutuhan ekonomi lebih dalam. Engkau sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini. barangkali ada baiknya kuulangi kata orang tua-tua dulu: Apabila rumah itu rusak. Di hari ketika berharap akan pulang.

Dari paparan di atas nampak bagaimana relasi kaum proletar bukanlah relasi yang harmonis. Meski Aku merupakan anak dari Ayah yang seorang nasionalis dan punya jasa besar sebagai guru. kapitalisme membuat status sosial berkaitan erat dengan situasi ekonomi. tetapi status sosial Ayah dianggap setara oleh Tukang potong kambing karena kondisi ekonomi Ayah dan Aku yang lemah. Posisi seseorang ditentukan oleh tingkat ekonominya. Ejekan pun muncul dari sesama kaum proletar. namun tetap saja dengan mudah tentangganya memberikan sindiran karena rumahnya yang jelek. 57 . Meskipun seorang pejuang kemerdekaan. Relasi itu lebih banyak dipengaruhi oleh motif ekonomi semata. padahal belum tentu situasi yang mengejek lebih baik daripada yang diejek. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perkembangan zaman.

Konflik dan alur cerita berdinamika lebih banyak dipengaruhi relasi antara tokoh Aku dan ayah. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP 5. Kemudian. Tokoh dan penokohan novel ini dapat dibagi menjadi tokoh utama. tokoh tambahan yang ada dalam novel adalah isteri Aku. Di sini konteks sosial menjadi sesuatu yang penting untuk diketahui sebelumnya. Selain itu juga ada adik-adik.1 Kesimpulan Penelitian ini mengkaji novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer dengan pendekatan sosilogi sastra. tetapi tidak sebanyak Aku. Sementara teori yang digunakan untuk menganalisis adalah Marxisme. Tokoh utama tambahan adalah Ayah. perawat dan tukang potong kambing. Pada masa ini perjuangan mempertahankan menguras tenaga sangat banyak. Latar waktu novel ini adalah penghujung masa Revolusi yang bisa dilihat dari surat Ayah kepada Aku. tokoh utama tambahan. Sementara Marxisme meneliti bagaimana kelas sosial beserta ideologinya muncul dalam karya sastra. Semua peristiwa dan kejadian tidak pernah lepas dari tokoh Aku. Surat itu tertanggal tahun 1949. dan tokoh tambahan. Perjuangan mengangkat senjata dan perjuangan diplomatis dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja didapat 58 . Ayah menjadi tokoh utama tambahan karena mendapat porsi penceritaan yang banyak. Aku berada dalam semua kejadian yang ada dalam novel. Tokoh utama novel ini adalah tokoh Aku yang menjadi pusat semua cerita. Salah satu analisis sosilogi sastra adalah melihat karya sastra sebagai sebuah cerminan masyarakat.

Blora merupakan kampung halaman tokoh ini. Ayah harus menghabiskan masa tua dengan sakit di rumah sakit yang tidak begitu bagus. Euforia kemerdekaan belum menyentuh sendi kehidupan rakyat sehari-hari. Kota-kota itu antara lain Cakung. Konteks sosial novel Bukan Pasar Malam adalah Indonesia pada zaman pasca-kemerdekaan. Situasi masyarakat pada masa itu juga sudah meninggalkan relasi feodalisme dan bergerak ke arah kapitalisme. Jakarta merupakan tempat tinggal Aku setelah keluar dari penjara. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Latar tempat utama novel Bukan Pasar Malam adalah Jakarta dan Blora. Hampir separuh lebih cerita ini berada di Blora. Kota ini adalah tujuan Aku dan istrinya untuk menjenguk Ayah yang sakit TBC. Situasi seperti ini oleh Marx (1848) 59 . Sementara Aku kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setelah keluar dari penjara. tepatnya di rumah sakit tempat Ayah dirawat. Blora menjadi simbol belum meratanya pembangunan. Jakarta adalah simbol kemajuan dan kemegahan kehidupan setelah kemerdekaan. Semarang. Di daerah-daerah itu Aku mengingat kembali perang yang dialaminya. Di kota ini jalan-jalan masih sempit dan rumah-rumah sudah sangat tua dan hampir roboh. Rembang dan batas Kota Blora. Lemah Abang. Pejuang nasionalis yang dalam novel ini ini diwakili oleh Ayah dan Aku mengalami nasib yang buruk. Masyarakat pada masa itu sejatinya mengalami kegamangan akan masa depan terutama akan kebutuhan hidupnya. Gambaran ini terutama terlihat dari gemerlapnya istana negara. Latar tempat yang juga menyertai cerita adalah di dalam kereta api dan kota- kota serta daerah-daerah yang dilalui oleh kereta itu dalam perjalanan dari Jakarta menuju Blora.

sepeti di antaranya Perburuan (1950). Ideologi proletar memang tidak sangat kuat ada dalam novel Bukan Pasar Malam. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI disebut sebagai efek dari borjuasi yang menghilangkan segala relasi budaya yang sudah dibangun begitu lama dan digantikan dengan relasi ekonomis yang lebih bersifat jual beli. Keluarga Gerilya (1950). Mereka yang Dilumpuhkan (1951). Ideologi proletar dapat dirumuskan sebagai berikut : a) Kebutuhan di luar kebutuhan primer sangat menggelisahkan. merasakan dan bertindak. Novel ini memberi penjelasan bahwa kehidupan waktu itu tidak mudah dan para pejuang nasionalis tidak dapat menikmati hidup dengan bahagia setelah kemerdekaan. Novel karya Pram ini juga memberikan bagaimana ideologi proletar tercermin – yaitu bagaimana kaum proletar berpikir.2 Saran Untuk penelitian lebih mendalam novel Bukan Pasar Malam bisa diteliti bersama dengan novel-novel sezamannya sebelum Pram terpengaruh oleh ideologi kiri. Novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer ingin mengambarkan secara lengkap bagaimana kehidupan orang Indonesia di masa Revolusi. 5. Dengan demikian bisa dilihat pola dan tema besar karya-karya Pram sebelum tahun 1958 ketika dia sudah aktif 60 . Akan tetapi. temuan ideologi proletar dalam novel ini menunjukkan bahwa benih-benih ideologi kiri sudah mulai ditunjukkan oleh Pram. d) Relasi kehidupan adalah relasi ekonomi. Cerita dari Blora (1951). Hal ini disebabkan Pramoedya Ananta Toer belum terpengaruh secara kuat oleh ideologi kiri. c) Akses kesehatan mapan adalah hal yang mustahil. b) Borjuis adalah musuh.

Alasannya. Novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer juga belum pernah diteliti dengan pendekatan psikologi sastra dan historis. Pram menyebut beberapa kota dan peristiwa yang menjadi latar novel ini. Sementara untuk pendekatan historis bisa diteliti keotentikan sejarah dan kesetiaan sejarah yang ada dalam novel ini. Hasil penelitian tersebut nantinya bisa menjadi bagian dari periodisasi karya-karya Pramoedya Ananta Toer. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI di LEKRA. Dengan psikologi sastra menarik untuk dilihat bagaimana pergulatan batin tokoh Aku dan Ayah dalam relasi kekeluargaan mereka. 61 .

Skripsi. 2014. Stable URL: http://blog. Eagleton. Brotoseno. Marjinalisasi Kaum Proletar pada Novel Bukan Pasar Malam Karya Pramoedya Ananta Toer. New York: A Washington Square Press Publication. Barry. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Baehaki. Damono. 62 . 2006. Karl dan Engels. 2014.marxists. Friedrich. Faruk. Kurniawan. Sapardi Djoko. The Communist Manifesto. Pengantar Sosiologi Sastra. Karl dan Engels. Hilmar. Tony. 1978. 2010. Akun. Peter. Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Jala Sutra. Depdiknas. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Mega. 2008. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. Manifesto Partai Komunis. Marxism and Literary Criticsm. Beginning Theory. Terry. 2006. Marx. 1979. Friedrich.London: Taylor & Francis e-Library. 14:00. 1964. 13. Jakarta : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Iman. New Accents: Formalism and Marxism. 2008. 2002.00 Fiyani.com/wp/342/ Diakses 1/6/2017. Yogyakarta: Jendela. Nilai Sosial dalam Novel Bukan Pasar Malam Karya Prammedya Ananta Toer. Skripsi. Yogyakarta: Jalasutra. Marx. 2010. London: Methuen & Co Ltd. Stable URL: http://hilmarfarid. Implikasinya terhadap Pembelajaran Satra. Pramoedya dan Historiografi Indonesia. 2011.00 Bennet. Terry. Universitas Negeri Gorontalo. Eagleton. Jakarta:Pusat Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. UIN Syarif Hidaytullah. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. 14. Stable URL: https://www. 1848.com/soerabaja/ Diakses 1/6/2017. Jakarta: Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Kamus Bahasa Indonesia. Soerabaja.imanbrotoseno.org/indonesia/archive/marx-engels/1848/manifesto/ Diakses: 14/12/2016. Farid. Eka.

Adrian (2005). Ende: Nusa Indah. 2000. Jakarta: Penerbit Nalar. A History of Modern Indonesia. Sastra Baru Indonesia. Toer. dkk. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Praktis. A. Jakarta: Hastra Mistra. 2011. 1999. 2010. 2010. 63 . Yogyakarta : Duta Wacana University Press. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. dan Teknik Penelitian Sastra. M. Sejarah Indonesia Modern. Pramoedya Ananta. Teeuw. Toer. Yogyakarta: Bara Budaya Yogyakarta. 2011. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Sudaryanto. Ryan. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Jilid 2. Nyoman Kutha. Yogyakarta: Jalasutra.C. PKI sampai Proses Kreatif. Bukan Pasar Malam. Ricklefs. Teori. Vickers.Pram Melawan. Michael. New York: Cambridge University Press. Pramoedya Ananta. Lekra. 1980. Hasudungan. Yogyakarta: Pustidaka Pelajar. Metode. 1993. Sirait. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ratna. Dari Perkara Sex.

64 . Penulis menyelesaikan pendidikan SD di SD Kanisius Karangbangun. Laki-laki yang hobi membaca ini melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri Jumapolo dan lulus pada tahun 2009. penulis aktif dalam kegiatan Bengkel Sastra. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BIODATA PENULIS Penulis bernama Vincentius Gitiyarko Priyatno. selain menjadi panitia kompetisi Wikipedia Jawa tahun 2015-2016. Cita-citanya adalah selalu membuat orang-orang di sekitarnya merasa bahagia. Penulis juga merupakan instruktur BIPA di Lembaga Bahasa Sanata Dharma sejak tahun 2015. penulis memasuki jenjang perguruan tinggi dan masuk di Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Tahun 2013. Lahir di Karanganyar pada tanggal 5 Juni 1992 dari pasangan Ferdinandus Giyatno dan Maria Agnes Sri Hartanti. Istri penulis bernama Anna Elfira Prabandari Assa. Selama berkuliah. Pendidikan SMP ditempuh di SMP Negeri 1 Jumapolo.