You are on page 1of 9

I.

JUDUL ACARA V : Analisis DOBI (Deteriorasion Of Bleachbility


Index) CPO.
II. HARI/TANGGAL : Senin, 18 Januari 2016
III. TUJUAN ANALISA : 1. Menentukan Angka DOBI Crude Palm Oil
(CPO).
2. Mengenal Peralatan Spektrofotometer UV
(Ultra Violet/Cahaya Tampak).
IV. DASAR TEORI
DOBI (Deterioritation Of Bleachability Index) merupakan indeks
derajat kepucatan minyak sawit mentah. Analisa kadar asam lemak bebas dan
kadar kotoran tidak cukup untuk menjadi parameter Crude Palm Oil (CPO)
yang berkualitas. Salah satu penggunaan DOBI adalah dalam membedakan
minyak berkualitas rendah dengan kandungan Asam Lemak Bebas (ALB)
yang sama. (Nur Nindya, 2012).
Bilangan DOBI digunakan sebagai indikator kunci dari CPO yang
berkualitas dan sebagai indikator status oksidatif CPO serta kemudahan
proses untuk lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsistensi
mutu CPO. Nilai DOBI yang rendah mengindikasikan meningkatnya
kandungan produk oksidasi sekunder (produk oksidasi dari karotenoid yang
dapat terjadi dari efek rantai asam lemak teroksidasi). (Anonim. 2016).
Seperti diketahui bahwa nilai DOBI minyak adalah menggambarkan
tingkat kerusakan minyak dalam proses pengolahan seperti oksidasi,
kegosongan dan perombakan carotene dalam minyak yang tidak disukai oleh
konsumen. Jika nilai DOBI minyak rendah maka dalam proses pengolahan
lanjutan akan mengalami kesulitan dalam proses pemucatan sehingga warna
minyak seperti Refined, Bleachedand Deodorized Palm Oil berwarna R3 dan
Y30 yang tidak disukai oleh pemakai seperti konsumen minyak goreng (60).
Nilai DOBI diukur dengan alat spectrophotometer UV–Visible, kandungan
karotene diukur pada absorbens 446 nm sedangkan produk oksidasi sekunder
pada absorbens 269 nm. Absorbasi 446 menyerap dan memantulkan warna
orange, yaitu warna CPO segar yang mengandung banyak pigmen orange-
merah karoten. Karoten adalah komponen minor dalam minyak sawit yang
rentan teroksidasi oleh panas. Karoten yang teroksidasi mengakibatkan
warnanya berubah menjadi lebih pudar. Kepudaran warna minyak (kuning)
diserap pada panjang gelombang 226 nm. (Henggar Dianto, 2013)
Beberapa faktor yang mempengaruhi kadar ALB, kadar kotoran dan
bilangan DOBI yang tidak mencapai standar mutu perusahaan dikarenakan
adanya variasi mutu TBS yang berasal dari kebun masyarakat dan terjadinya
kerusakan alat yang menyebabkan TBS mengalami penundaan pengolahan.
Hubungan hasil penilaian mutu antara kadar ALB dan kadar kotoran terhadap
bilangan DOBI menghasilkan nilai koefisien korelasi ganda (R) sebesar 0.243
menunjukkan tingkat hubungan rendah. (Shofyan. 2010)

48
V. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Timbangan Analitis : 1 Unit
2. UV–Visible Spectrophotometer : 1 Unit
3. Kurvet 10 mm : 1 Buah
4. Gelas Beaker : 1 Buah
5. Pemanas : 1 Unit
6. Pipet Volume : 1 Buah
B. Bahan
1. CPO : 0,2 gr
2. N–hexane : 25 ml

49
VI. CARA KERJA
A. Teoritis
1. Menimbang 0,2 gram CPO yang sudah dicairkan pada suhu 700C
yang dihomogenisasi, kemudian masukkan dalam labu ukur 25 ml.
Tambahkan n – hexane hingga tanda tera volume.
2. Memasukkan minyak kedalam kurvet 10 mm, ukur absorbansinya
dengan UV visible spectrophotometer pada panjang gelombang 446
nm dan produk oksidasi sekunder (dapat ditera pada panjang
gelombang 269 nm). Sebelumnya larutan solvent juaga ditera pada
panjang gelombang tersebut.
Kalkulasi :
Abs λ446
DOBI = dalam kurvet 10 mm
Abs λ269

50
B. Skematis
No. Keterangan Gambar
1. Ditimbang 0,2 gram CPO yang
sudah dicairkan pada suhu 700C
yang dihomogenisasi, kemudian
masukkan dalam labu ukur 25 ml.
Tambahkan n–hexane hingga tanda
tera volume.

2. Dimasukkan minyak kedalam


kurvet 10 mm, dan ukur
absorbansinya dengan UV visible
spectrophotometer pada panjang
gelombang 446 nm dan produk
oksidasi sekunder (dapat ditera
pada panjang gelombang 269 nm).
Sebelumnya larutan solvent juga
ditera pada panjang gelombang
tersebut.

51
VII. HASIL PENGAMATAN
A. Tabel hasil pengamatan
Bahan Berat Bahan (gr) 𝜆 446 𝜆 269 Angka DOBI
CPO 12 bulan 0,243 0,746 3,883 0,192

B. Perhitungan
λ Abs 446
DOBICPO 12 bulan = dalam kurvet 10 mm
λ Abs 269
0,746
=
3,883
= 0,192

52
VIII. PEMBAHASAN
Angka DOBI merupakan salah satu standart yang digunakan untuk
menentukan kualitas dari CPO. DOBI (Deterioration Of Bleachability
Index) itu sendiri merupakan standart daya pemucatan yang merupakan
perbandingan antara kandungan karoten dengan produk hasil oksidasi.
Pengukuran DOBI dilakukan menggunakan alat spektrofotometer UV-
visible. Besarnya kandungan karoten diukur dengan absorbent 446 nm.
Karotene mempunyai kisaran warna dari kuning sampai merah dengan
panjang gelombang 430 sampai 480 nm. Didalam pelarut seperti iso-oktan
dan n-hexane karotenoid dapat mempuyai serapan pada panjang
gelombang 446 nm. Atas alasan inilah digunakanya absorbens 446 untuk
mendeteksi karotenoid. Sedangkan besarnya kandungan produk oksidasi
diukur dengan absorbens 269 nm.
Pada pengujian DOBI diperoleh nilai absorbens 446 nm sebesar
0,746 dan nilai absorbens 269 nm sebesar 3,883. Terlihat dari hasil masing
absorbens, bahwa nilai pada absorbens 269 nm lebih besar daripada
absorbens 446 nm.. Hal ini menunjukan sebagian besar karotenoid telah
teroksidasi. Banyaknya produk oksidasi karotenoid juga menandakan
tingkat oksidasi didalam minyak. Apabila tingkat oksidasi dalam minyak
semakin tinggi maka akan menurunkan kualitas minyak tersebut.
Terdapat 4 standar mutu CPO menurut index DOBI. Index DOBI
kurang dari 1,7 menunjukan mutu CPO setara dengan minyak sludge
dalam artian kualitas yang paling buruk. Index DOBI antara 1,8 sampai
2,3 menunjukan minyak berkualitas buruk, tetapi tidak seburuk minyak
sludge. Index DOBI antara 2,4-2,9 menunjukan minyak/CPO memiliki
kualitas yang bagus. Apabila index DOBI lebih dari 3,3 maka kualits
minyak sawit sangat baik. Nilai DOBI yang diperoleh pada pengujian
sebesar 0,192. Menurut standar diatas CPO yang diuji memiliki kualitas
yang setara dengan minyak sludge. Nilai DOBI dipengaruhi oleh
kesegaran dari buah yang diolah/buah sawit. Semakin segar maka

53
kandungan karoten yang teroksidasi akan semakin sedikit dan akan terlihat
bahwa nilai DOBI akan semakin tinggi.
Nilai DOBI berpengaruh terhadap proses refinery minyak
khususnya pada bagian bleaching. Proses bleaching bertujuan untuk
menghilangkan beberapa zat, agar minyak memenuhi standar yang
diinginkan konsumen, diantaranya zat warna (karoten). Apabila nilai
DOBI rendah maka zat warna akan susah dihilangkan. Bleaching earth
yang seharusnya digunakan untuk mengikat senyawa karoten, maka akan
lebih dahulu berikatan dengan senyawa hasil oksidasi lalu senyawa
karoten karena hasil oksidasi lebih banyak. Akibatnya karoten/zat warna
yang diikiat oleh bleaching earth akan semakin sedikit.
Adapun yang menyebabkan rendahnya nilai DOBI diantaranya,
pada pengolahan minyak kelapa sawit, buah yang diolah masih muda.
Buah muda memiliki kandungan karoten yang sedikit namun kandungan
klorofil lebih banyak. Kesegaran minyak juga berpengaruh terhadap nilai
DOBI. Minyak yang tidak segar kemungkinan telah teroksidasi sehingga
kandungan karoten menurun dan kandungan senyawa hasil oksidasi tinggi.
Alasan inilah yang kemungkinan besar menyebabkan minyak yang diuji
pada praktikum kali ini memiliki nilai DOBI yang rendah.

54
IX. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan kami mendapat beberapa
kesimpulan diantaranya adalah :
1. DOBI (Deterioration Of Bleachability Index) itu sendiri merupakan
standart daya pemucatan yang merupakan perbandingan antara
kandungan karoten dengan produk hasil oksidasi.
2. Angka DOBI merupakan salah satu standart yang digunakan untuk
menentukan kualitas dari CPO, dengan semakin kecil angka DOBI
maka mutu CPO akan semakin baik.
3. Absorbens 446 digunakan untuk mendeteksi karotenoid, sedangkan
besarnya kandungan produk oksidasi diukur dengan absorbens 269 nm.
4. Pada pengujian DOBI diperoleh nilai absorbens 446 nm sebesar 0,746
dan nilai absorbens 269 nm sebesar 3,883.
5. Nilai DOBI yang diperoleh pada pengujian sebesar 0,192 dan bila
dikaitkan dengan parameter yang ada maka minyak memiliki kualitas
buruk.
6. Rendahnya nilai DOBI kemungkinan disebabkan minyak/CPO yang
diuji sudah tidak segar.

55