You are on page 1of 19

ASKEP

Kamis, 22 Mei 2014


Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang progresif,

artinya penyakit ini berlangsung seumur hidup dan semakin memburuk secara lambat dari tahun

ke tahun. Dalam perjalanan penyakit ini terdapat fase-fase eksaserbasi akut. Berbagai faktor

berperan pada perjalanan penyakit ini, antara lain faktor resiko yaitu faktor yang menimbulkan

atau memperburuk penyakit seperti kebiasaan merokok, polusi udara, polusi lingkungan, infeksi,

genetik dan perubahan cuaca.

Derajat obtruksi saluran nafas yang terjadi, dan identifikasi komponen yang

memugkinkan adanya reversibilitas. Tahap perjalanan penyakit dan penyakit lain diluar paru

seperti sinusitis dan faringitis kronik. Yang pada akhirnya faktor-faktor tersebut membuat

perburukan makin lebih cepat terjadi. Untuk melakukan penatalaksanaan PPOK perlu

diperhatikan faktor-faktor tersebut, sehingga pengobatan PPOK menjadi lebih baik.

Penyakit paru obstruksi kronik adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup

bronkitis kronik, bronkiektasis, emfisema dan asma, yang merupakan kondisi ireversibel yang

berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru.
Penyakit paru obstruksi kronik adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan

fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan

saluran napas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa waktu.

B. TUJUAN

1. Setelah pembelajaran mampu menjelaskan pengertian PPOK

2. Mampu menjelaskan Etiologi

3. Mampu menjelaskan tanda dan gejalah

4. Mampu menjelaskan pencegahan

5. Mampu menjelaskan komplikasi


BAB II

KONSEP MEDIK

A. PENGERTIAN

1. Penyakit Paru Obstruksi Kronik

Penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh

hambatan aliran udara disaluran pernapasan yang bersifat progresif non reversible. PPOK dari

bronkitis kronik, empisema atau gabungan keduanya (PDPI, 2011).

2. Bronkitis kronik

Kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam

setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut - turut, tidak disebabkan penyakit lainnya.

3. Emfisema

Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus

terminal, disertai kerusakan dinding alveoli.

Pada prakteknya cukup banyak penderita bronkitis kronik juga memperlihatkan tanda-tanda

emfisema, termasuk penderita asma persisten berat dengan obstruksi jalan napas yang tidak

reversibel penuh, dan memenuhi kriteria PPOK.

B. ETIOLOGI

Terdapat 3 jenis penyebab yaitu :

1. Infeksi : stafilokokus, sterptokokus, pneumokokus, haemophilus influenzae.

2. Alergi

3. Rangsang : misal asap pabrik, asap mobil, asap rokok.


C. PATOFISIOLOGI

Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai

eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Pada infeksi saluran nafas bagian atas, biasanya virus,

seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. Dokter akan mendiagnosa bronchitis

kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari , 3 bulan, dalam 1

tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut.

Bronchitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi

(terutama rokok tembakau). Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan

menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa dan bronchospasme.

Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami :

1. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar, yang mana akan

meningkatkan produksi mukus.

2. Mukus lebih kental

3. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. Oleh karena

itu, "mucocilliary defence" dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan

untuk terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan

hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat.

4. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan normal) dan

mengganggu aliran udara. Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak

akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Bronchitis

kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar, tetapi biasanya seluruh saluran

nafas akan terkena.


5. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas, terutama selama

ekspirasi. Jalan nafas mengalami kollaps, dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-

paru. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar, hypoxia dan asidosis.

6. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan ; ratio ventilasi perfusi abnormal timbul, dimana

terjadi penurunan PaO2. Kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO2.

7. Klien terlihat cyanosis. Sebagai kompensasi dari hipoxemia, maka terjadi polisitemia

(overproduksi eritrosit). Pada saat penyakit memberat, diproduksi sejumlah sputum yang hitam,

biasanya karena infeksi pulmonary.

8. Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. Jika

masalah tersebut tidak ditanggulangi, hypoxemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit

cor pulmonal dan CHF

D. TANDA DAN GEJALAH

Tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut:

1. Kelemahan badan

2. Batuk

3. Sputum putih atau mikoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen

4. Sesak napas

5. Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi

6. Mengi atau wheeze

7. Ekspirasi yang memanjang

8. Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut

9. Suara napas melemah

10. Kadang ditemukan pernapasan paradoksal


E. PENCEGAHAN

1. Mencegah terjadinya PPOK

a. Hindari asap rokok

b. Hindari polusi udara

c. Hindari infeksi saluran napas berulang

2. Mencegah perburukan PPOK

a. Berhenti merokok

b. Gunakan obat-obatan adekuat

c. Mencegah eksaserbasi berulang

F. PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah:

1. Memeperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya pada fase akut, tetapi juga

fase kronik.

2. Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian.

3. Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih awal.

Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut:

1. Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan merokok, menghindari

polusi udara.

2. Membersihkan sekresi bronkus

3. Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi antimikroba tidak perlu

diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai dengan kuman penyebab infeksi yaitu

sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik.


4. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan kortikosteroid untuk

mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih kontroversial.

5. Pengobatan simtomatik.

6. Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.

7. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan dengan aliran lambat 1 - 2

liter/menit.

Tindakan rehabilitasi yang meliputi:

1. Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus.

2. Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernapasan yang paling

efektif.

3. Latihan dengan beban oalh raga tertentu, dengan tujuan untuk memulihkan kesegaran jasmani.

4. Vocational guidance, yaitu usaha yang dilakukan terhadap penderita dapat kembali mengerjakan

pekerjaan semula.

Pathogenesis Penatalaksanaan (Medis)

1. Pencegahan : Mencegah kebiasaan merokok, infeksi, dan polusi udara

2. Terapi eksaserbasi akut di lakukan dengan :

a. Antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya disertai infeksi

Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S. Pneumonia, maka digunakan ampisilin

4 x 0.25-0.56/hari atau eritromisin 4×0.56/hari Augmentin (amoksilin dan asam klavulanat)

dapat diberikan jika kuman penyebab infeksinya adalah H. Influenza dan B. Cacarhalis yang

memproduksi B. Laktamase Pemberiam antibiotik seperti kotrimaksasol, amoksisilin, atau


doksisiklin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat penyembuhan

dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya dalam 7-10 hari selama

periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda-tanda pneumonia, maka dianjurkan

antibiotik yang kuat.

b. Terapi oksigen diberikan jika terdapat kegagalan pernapasan karena hiperkapnia dan

berkurangnya sensitivitas terhadap CO2

c. Fisioterapi membantu pasien untuk mengelurakan sputum dengan baik.

d. Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya golongan

adrenergik b dan anti kolinergik. Pada pasien dapat diberikan salbutamol 5 mg dan atau

ipratopium bromida 250 mg diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25 - 0,56 IV

secara perlahan.

3. Terapi jangka panjang di lakukan :

3. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4×0,25-0,5/hari dapat

menurunkan kejadian eksaserbasi akut.

4. Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap pasien maka

sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari fungsi faal paru.

5. Fisioterapi

4. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik

5. Mukolitik dan ekspektoran

6. Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II dengan PaO2

(7,3 Pa (55 MMHg)

Rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk

itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi.


G. KOMPLIKASI

1. Hipoxemia

Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg, dengan nilai

saturasi Oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood, penurunan

konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul cyanosis.

2. Asidosis Respiratory

Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul antara lain : nyeri

kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea.

3. Infeksi Respiratory

Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus, peningkatan rangsangan

otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas

dan timbulnya dyspnea

4. Gagal jantung

Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus diobservasi terutama

pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis

kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini.

5. Cardiac Disritmia

Timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis respiratory.

6. Status Asmatikus

Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. Penyakit ini sangat

berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa

diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan rutin

a. Faal paru

1) Spirometri (VEP1, VEP1prediksi, KVP, VEP1/KVP

a) Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi ( % ) dan atau VEP1/KVP ( % ).

Obstruksi : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80% VEP1% (VEP1/KVP) < 75 %

b) VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan

memantau perjalanan penyakit. Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan,

APE meter walaupun

c) kurang tepat, dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore,

tidak lebih dari 20%

b. Uji bronkodilator

1) Dilakukan dengan menggunakan spirometri, bila tidak ada gunakan APE meter.

2) Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan, 15 - 20 menit kemudian dilihat

perubahan nilai VEP1 atau APE, perubahan VEP1 atau APE < 20% nilai awal dan < 200 ml

3) Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil

c. Darah rutin

Hb, Ht, leukosit

d. Radiologi

Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain

e. Pada emfisema terlihat gambaran :

1) Hiperinflasi

2) Hiperlusen

3) Ruang retrosternal melebar


4) Diafragma mendatar

5) Jantung menggantung (jantung pendulum / tear drop / eye drop appearance)

Pada bronkitis kronik :

a) Normal

b) Corakan bronkovaskuler bertambah pada 21 % kasus

2. Pemeriksaan khusus (tidak rutin)

a. Faal paru

1) Volume Residu (VR), Kapasiti Residu Fungsional (KRF), Kapasiti Paru Total (KPT),

VR/KRF,VR/KPT meningkat

2) DLCO menurun pada emfisema

3) Raw meningkat pada bronkitis kronik

4) Sgaw meningkat

5) Variabiliti Harian APE kurang dari 20 %

b. Uji latih kardiopulmoner

1) Sepeda statis (ergocycle)

2) Jentera (treadmill)

3) Jalan 6 menit, lebih rendah dari normal

c. Uji provokasi bronkus

Untuk menilai derajat hipereaktiviti bronkus, pada sebagian kecil PPOK terdapat hipereaktiviti

bronkus derajat ringan

d. Uji coba kortikosteroid

Menilai perbaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid oral (prednison atau

metilprednisolon) sebanyak 30 - 50 mg per hari selama 2minggu yaitu peningkatan VEP1


pascabronkodilator > 20 % dan minimal 250 ml. Pada PPOK umumnya tidak terdapat kenaikan

faal paru setelah pemberian kortikosteroid

e. Analisis gas darah

Terutama untuk menilai :

1) Gagal napas kronik stabil

2) Gagal napas akut pada gagal napas kronik

f. Radiologi

1) CT - Scan resolusi tinggi

2) Mendeteksi emfisema dini dan menilai jenis serta derajat emfisema atau bula yang tidak

terdeteksi oleh foto toraks polos

3) Scan ventilasi perfusi

4) Mengetahui fungsi respirasi paru

g. Elektrokardiografi

Mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai oleh Pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.

h. Ekokardiografi

Menilai funfsi jantung kanan

i. Bakteriologi

Pemerikasaan bakteriologi sputum pewarnaan Gram dan kultur resistensi diperlukan untuk

mengetahui pola kuman dan untuk memilih antibiotik yang tepat. Infeksi saluran napas berulng

merupakan penyebab utama eksaserbasi akut pada penderita PPOK di Indonesia.

j. Kadar alfa-1 antitripsin

Kadar antitripsin alfa-1 rendah pada emfisema herediter (emfisema pada usia muda), defisiensi

antitripsin alfa-1 jarang ditemukan di Indonesia.


KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas

P e n ya k i t P P O K b a n y a k d i d e r i t a o l e h k a u m p r i a d a r i p a d a w a n i t a ,

y a n g perbandinganya adalah 3-10 : 1. Pekerjaan penderita sering berhubungan erat


dengan faktor alergi dan hiperreaktifitas bronkus. Didaerah perkotaan,insiden PPOK 1 ½ kali

lebih banyak daripada dipedasaan. ( Hood Alsagaff,1989)2 . R i w a ya t a t a u a d a n ya f a k t o r -

faktor penunjang

a. M e r o k o k p r o d u k s i t e m b a k a u ( f a k t o r - f a k t o r p e n ye b a b

utama)

b. T i n g g a l a t a u b e k e r j a d i a r e a p o l u s i u d a r a ya n g b e r a t .

c. R i w a ya t a l e r g i p a d a k e l u a r g a

d. R i w a ya t a t a u a d a n y a f a k t o r - f a k t o r ya n g d a p a t

m e n c e t u s k a n eksaserbasi, seperti alergen (serbuk, debu kuli t,

serbuk sari ,jamur ), stres emosional , aktivitas fisik berlebihan , polusi

udara , infeksi saluran napas,kegagalan program pengobatan yang

dianjurkan

e. P e m e r i k s a a n f i s i k b e r d a s a r k a n p e n g k a j i a n s i s t e m

pernapasan

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan utama pasien mencakup berikut ini:

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi

sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnya tenaga dan infeksi bronkopulmonal.

2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek, mucus, bronkokontriksi dan iritan

jalan napas.

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi perfusi

4. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
5. Ganggua pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan, pengaturan posisi.

6. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap kematian,

keperluan yang tidak terpenuhi.

C. Intervensi Keperawatan

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi

sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnya tenaga dan infeksi bronkopulmonal.

Tujuan: Pencapaian bersihan jalan napas klien

Intervensi keperawatan:

1. Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik pernapasan dan batuk efektif.

2. Bantu dalam pemberian tindakan inebuliser.

3. Instruksikan pasien untuk menghindari iritan seperti asap rokok, aerosol, suhu yang ekstrim, dan

asap.

4. Berikan antibiotik sesuai yang diharuskan.

2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek, mukus, bronkokontriksi

dan iritan jalan napas.

Tujuan: Perbaikan pola pernapasan klien

Intervensi:

1. Ajarkan klien latihan bernapas diafragmatik dan pernapasan bibir dirapatkan.

2. Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dengan periode istirahat. Biarkan pasien membuat

keputusan tentang perawatannya berdasarkan tingkat toleransi pasien.

3. Berikan dorongan penggunaan latihan otot-otot pernapasan jika diharuskan.


3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi perfusi

Tujuan: Perbaikan dalam pertukaran gas

Intervensi keperawatan:

1. Deteksi bronkospasme saat auskultasi .

2. Pantau klien terhadap dispnea dan hipoksia.

3. Berikan obat-obatan bronkodialtor dan kortikosteroid dengan tepat dan waspada kemungkinan

efek sampingnya.

4. Dorong pengeluaran sputum

5. Pantau pemberian oksigen.

4. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea,

kelamahan, efek samping obat, produksi sputum dan anoreksia, mual muntah.

1. Tujuan: Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.

2. Intervensi keperawatan:

1. Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan makan. Evaluasi berat

badan dan ukuran tubuh.

2. Auskultasi bunyi usus

3. Berikan perawatan oral sering, buang sekret.

4. Dorong periode istirahat I jam sebelum dan sesudah makan.

5. Pesankan diet lunak, porsi kecil tapi sering

6. Hindari makanan yang diperkirakan dapat menghasilkan gas.

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan, pengaturan posisi.


1. Tujuan: Kebutuhan tidur terpenuhi

2. Intervensi keperawatan:

1. Bantu klien latihan relaksasi ditempat tidur.

2. Lakukan pengusapan punggung saat hendak tidur dan anjurkan keluarga untuk melakukan

tindakan tersebut.

3. Atur posisi yang nyaman menjelang tidur, biasanya posisi high fowler.

4. Lakukan penjadwalan waktu tidur yang sesuai dengan kebiasaan pasien.

5. Berikan makanan ringan menjelang tidur jika klien bersedia.

6. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap

kematian, keperluan yang tidak terpenuhi.

1. Tujuan: Klien tidak terjadi kecemasan

2. Intervensi keperawatan:

1. Bantu klien untuk menceritakan kecemasan dan ketakutannya pada perawat.


2. Jangan tinggalkan pasien sendirian selama mengalami sesak.

3. Jelaskan kepada keluarga pentingnya mendampingi klien saat mengalami sesak.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan

pertolongan-Nyalah sehingga kami dapat menyusun tugas KMB II (Sistem Respirasi/

Pernapasan)
Kami juga berterima kasih kepada dosen pembimbing dengan hormat kami sebut

namanya “Olgrid Algarini ,S.Kep,Ns” yang telah mengarahkan kami sehinga kami dapat

menyusun tugas ini dengan baik.

Dengan tugas ini kami penulis mengakui bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan

namun ada pepatah mengatakan bahwa “tak ada gading yang tak retak,” “tak ada manusia yang

sempurna” untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun tetap kami harapkan menjadi

koreksi yang berguna bagi kami, dalam menyempurnakan tugas ini.

Akhir kata penulis ucapkan semoga makalah ini berguna bagi pembaca dan rekan-rekan

mahasiswa yang membutuhkan.

Rantepao, April 2012

penulis