You are on page 1of 10

ANALISIS KESIAPSIAGAAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN

KEGAWATDARURATAN SISTEM PERNAFASAN AKIBAT BENCANA ALAM


DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN DELI SERDANG

Nagoklan Simbolon1, Paska Situmorang2


Staf Pengajar STIKes Santa Elisabeth Medan

ABSTRACT

Background: Preparedness and complete alertness is one of the important elements of


activities in reducing the risk and the impact of disaster. The same is true to nurses’
preparedness and complete alertness in providing emergency service in respiratory system
which is urgently needed during the disaster immediate responsiveness. Quick and accurate
service can help and save victims from physical defect and death
Goal: The objective of the research was to know the condition of nurses’ preparedness and
complete alertness in providing emergency service in respiratory system, based on the their
knowledge, attitude, and skills.
Methods: The research method is The research used a descriptive qualitative survey. The
population was all 40 nurses who were involved in disaster response team in four Puskesmas
working areas of the Health Office in Aceh Tamiang District: Kejuruan Muda Puskesmas,
Karang Baru Puskesmas, Kota Kuala Simpang Puskesmas, and Bandar Pusaka Puskemas
Result : The result of the research showed that 65% of the respondents had good knowledge,
82.5% of them had positive attitude, 55.0% of them were skillful in conducting the acting
procedure of Heimlich maneuver, , and skillful in Lung-Heart Restitution was less
Conclusion: The conclusion and the important implication in this research could that the
education and the training of Basic Life Support and Basic Traumatic Coronary Life Support
highly supported nurses’ alertness in providing emergency service in respiratory system.

Keywords: Preparedness and Complete Alertness, Emergency Service in


Respiratory System

PENDAHULUAN tanah; dan api : kebakaran dan letusan


Negara Republik Indonesia terletak di gunung berapi (Priambodo, 2009).
daerah rawan bencana. Berbagai jenis Badan Perserikatan Bangsa Bangsa
kejadian bencana telah terjadi di Indonesia, (PBB) untuk Strategi Internasional
baik bencana alam, bencana karena Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR)
kegagalan teknologi maupun bencana karena menempatkan Indonesia dalam kategori
ulah manusia (Depkes, 2011). Bencana alam Negara dengan resiko terjadinya bencana
merupakan bencana yang disebabkan oleh alam terbesar. Dalam peta rawan bencana
perubahan kondisi alamiah alam semesta internasional, bencana alam Indonesia
(angin : topan, badai, puting beliung; tanah: menempati posisi tertinggi untuk bahaya
erosi, sedimentasi, longsor, gempa bumi; air: tsunami, tanah longsor dan erupsi gunung
banjir, tsunami, kekeringan, perembesan air berapi (BNPB, 2012).

1
Catatan dari Direktorat Vulkanologi Euirasia, Indo Australia dan Pasifik.
dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Ditambah dengan kondisi geografis
Departemen Energi dan Sumber Daya Indonesia yang merupakan Negara kepuluan
Mineral, Indonesia memiliki gunung berapi yang dilalui jalur cincin gunung api dunia
dengan jumlah kurang lebih 240 buah, di (Sukandarrumidi, 2010). Bencana alam di
mana hampir 70 di antaranya masih aktif. Indonesia mengakibatkan kerugian yang
Zone kegempaan dan gunung api aktif sangat besar, baik dari segi materi maupun
Circum Pasifik amat terkenal, karena setiap jumlah korban ( meninggal, luka-luka,
gempa hebat atau tsunami dahsyat di maupun cacat). Dalam jumlah korban,
kawasan itu, dipastikan menelan korban jiwa Indonesia menempati peringkat kedua dunia,
manusia amat banyak. Di negara ini terdapat yaitu sebanyak lebih kurang 227.898 jiwa
28 wilayah yang dinyatakan rawan gempa dalam periode waktu 1980-2009. Korban
dan tsunami. Di antaranya NAD, Sumatera gempa bumi dan tsunami di Provinsi
Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Yogyakarta pada tahun 2006, diperkiraakan
Banten, Jateng dan DIY bagian Selatan, mencapai 6.234 jiwa, sedangkan tsunami
Jatim bagian Selatan, Bali, NTB dan NTT. pantai selatan jawa (Pangandaran) menelan
Kemudian Sulut, Sulteng, Sulsel, Maluku korban kurang lebih 341 orang. Korban
Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen dan meninggal umum disebabkan gagalnya
Fak-Fak di Papua serta Balikpapan oksigenasi adekuat pada organ vital
Kalimatan Timur (Depsos RI, 2009). Selama (ventilasi tidak adekuat, gangguan
beberapa tahun sejak terjadi peristiwa gempa oksigenisasi, gangguan sirkulasi, dan perfusi
dan tsunami di Aceh tanggal 26 Desember end-organ tidak memadai), cedera SSP masif
2004 seolah fenomena gerak alam tidak (mengakibatkan ventilasi yang tidak adekuat
pernah putus di Indonesia. Manusia yang dan/atau rusaknya pusat regulasi batang
menjadi korban sudah cukup besar. otak), atau keduanya (Supriyantoro, 2011).
Kerusakan lingkungan, hilangnya harta Rumah sakit merupakan salah satu
benda, dan ratusan ribu manusia meninggal pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk
karena gempa dan tsunami di Aceh, gempa menyelamatkan pasien. Untuk
Yogyakarta dan Jawa Tengah, banjir, dan menjalankan tujuannya ini, rumah sakit
angin puting beliung (Depsos RI, 2009. terdiri atas kegiatan asuhan pasien yang
Berdasarkan data BNPB maupun UN- begitu kompleks. Kompleksitasnya terlihat
ISDR, Indonesia dalam hal bencana alam dari berbagai jenis obat, jenis pemeriksaan
banjir masih menempati posisi tinggi yaitu dan prosedur, berbagai jenis interaksi serta
peringkat ke-6 dunia dari 162 negara dan jumlah pasien dan staf rumah sakit yang
sebanyak 1.101.507 orang diprediksi cukup besar.
menjadi korban dari bencana ini. Sedangkan Berdasarkan data WHO, tahun 2005
dalam hal bencana tsunami Indonesia terdapat 57,03 juta orang meninggal di
rangkin pertama dari 265 negara di dunia seluruh dunia. Sekitar 35.000-50.000
yang beresiko terhadap bencana tsunami, diantaranya karena kecelakaan dan bencana
jumlah penduduk yang akan terkena akibat alam yang diakibatkan oleh henti napas dan
dampak tsunami ini sebanyak 5.402.239 henti jantung (Supriyantoro, 2011) Penyebab
jiwa. Sementara untuk bencana alam gempa kematian penderita gawat darurat yaitu 50%
bumi, Indonesia menempati rangking ke-3 meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit
dari 153 negara dengan potensi jumlah yang dan pada pasien trauma (35 % meninggal
terkenan dampak gempa bumi tersebut dalam 1- 2 jam setelah trauma, disebabkan
sebanyak 11.056.806 orang (BNPB, 2012). oleh : trauma kepala berat (hematoma
Tingginya kerawanan Negara Indonesia subdural atau ekstradural), trauma toraks
terhadap bencana dikarenakan posisi (hematoma toraks atau lascriasis hati),
geografis Indonesia berada diujung fraktur femur atau pelvis dengan perdarahan
pergerakan 3 (tiga) lempeng dunia, yaitu massif, 15% meninggal setelah beberapa hari

2
atau minggu karena mati otak, gagal organ Kampung Baru dalam menghadapi bencana
atau multi organ), 50% meninggal pada saat banjir di Kecamatan Medan Maimun.
kejadian atau beberapa menit setelah Selanjutnya penelitian Dewi (2010) tentang
kejadian (Pusponegoro, 2005). kesiapsiagaan sumber daya manusia
Gangguan sistem pernapasan pada kesehatan dalam penanggulangan masalah
bencana umumnya diakibatkan terjadinya masalah kesehatan akibat banjir di provinsi
trauma pada jalan napas, seperti masuknya DKI Jakarta yang hasil didapat ada hubungan
partikel debu, cairan dan gas beracun pada antara umur, pendidikan, masa kerja dan
saluran pernapasan. Kasus – kasus gangguan sering mengikuti pelatihan dengan
pernapasan banyak terjadi pada korban kesiapsiagaan. Pengetahuan merupakan
bencana tsunami, gunung meletus, banjir dan faktor utama dan menjadi kunci untuk
lain lain (Depkes RI, 2006) kesiapsiagaan. Menurut LIPI-
Kesiapsiagaan merupakan UNESCO/ISDR (2006) parameter pertama
serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk faktor kritis kesiapsiagaan untuk
mengantisipasi bencana melalui mengantisipasi bencana alam adalah
pengorganisasian serta melalui langkah yang pengetahuan dan sikap terhadap resiko
tepat guna dan berdaya guna (UU RI No.24 bencana. Pengetahuan yang dimiliki
Tahun 2007). Sedangkan Kesiapsiagaan biasanya dapat memengaruhi sikap,
menurut IDEP (2007) Kesiapsiagaan adalah keterampilan dan kepedulian untuk siap
upaya untuk memperkirakan kebutuhan siaga dalam mengantisipasi bencana.
dalam rangka menghadapi situasi Berdasarkan paparan di atas, maka penulis
kedaruratan dan mengidentifikasi sumber tertarik untuk melakukan penelitian tentang
daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut “Analisis kesiapsiagaan perawat dalam
Menurut Depkes RI (2006) Adapun tujuan memberikan pelayanan kegawatdaruratan
dari kesiapsiagaan dalam bidang kesehatan sistem pernapasan akibat bencana alam di
antara lain (1) meminimalkan korban (2) Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten
mengurangi penderitaan korban (3) Deli Serdang.
mencegah munculnya masalah kesehatan
pasca bencana dan (4) memudahkan upaya METODE PENELITIAN
tanggap darurat dan pemulihan yang cepat.
Pelayanan keperawatan gawat darurat adalah Jenis penelitian ini adalah penelitian
pelayanan profesional yang didasarkan pada Survei deskriptif yaitu penelitian yang
ilmu dan metodologi keperawatan gawat menggambarkan fenomena yang terjadi
darurat yang berbentuk pelayanan bio-psiko- didalam suatu populasi tertentu
sosial-spiritual yang komprehensif ditujukan (Notoatmodjo, 2010) dan menganalisis
kepada klien/pasien yang mempunyai sejauh mana kesiapsiagaan perawat dalam
masalah aktual atau resiko yang disertai memberikan pelayanan Kegawatdaruratan
kondisi lingkungan yang tidak dapat Sistem pernapasan.
dikendalikan (Setiohaji, 2012). Pelayanan Populasi pada penelitian ini adalah
kegawatdarutan merupakan salah satu upaya seluruh perawat yang terlibat dalam Tim
yang dilakukan segera sesudah terjadinya Penanggulangan Bencana, berjumlah 40
suatu bencana, tindakan ini dilakukan guna orang yang terdiri dari 4 (empat), masing-
untuk menyelamatkan korban dan pelayanan masing memiliki 10 orang perawat Tim
gawatdarurat merupakan faktor yang sangat Penanggulangan Bencana, sedang yang
penting untuk mencegah terjadi kematian, menjadi sampel dalam penelitian ini adalah
kecacatan dan penyebaran penyakit menular. seluruh populasi (total populasi), mengingat
Berdasarkan penelitian yang seluruh populasi masih dapat dijangkau oleh
dilakukan oleh Gultom (2012) ada hubungan peneliti.
antara pengatahuan dan sikap terhadap Untuk mengetahui apakah instrument
kesiapsiagaan tenaga kesehatan Puskesmas kuesioner yang dipakai cukup layak

3
digunakan sehingga mampu menghasilkan Berdasarkan tabel 4.1 diketahui gambaran
data yang akurat sesuai dengan tujuan usia responden sebagian besar berusia 30 –
ukurannya, maka dilakukan uji validitas. 39 tahun yaitu 45.0%, sedangkan responden
Menurut Riwidikdo (2008) Validitas adalah yang paling sedikit berada pada kelompok
ukuran yang menunjukkan sejauh mana usia 20 – 29 tahun yaitu 25.0%. Diketahui
instrument pengkur mampu mengukur apa juga gambaran berdasarkan jenis kelamin
yang ingin diukur. Ghozali (2005) responden bahwa mayoritas responden
menyatakan bahwa pengukuran validitas adalah berjenis kelamin laki – laki yaitu
internal menggunakan uji validitas setiap 65,0%. Dilihat dari pendidikan formal
butir pertanyaan dengan total konstruk atau responden adalah mayoritas berpendidikan
variabel. atau telah menamatkan Diploma III
Keperawatan yaitu 85,0% sedangkan paling
HASIL PENELITIAN sedikit adalah berpendidikan S1
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Keperawatan yaitu 5,0%. Dari hasil
Karakteristik Responden di Wilayah pengukuran masa kerja respoden di
Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Puskesmas sebagian besar telah bekerja 6 –
Serdang. 10 tahun adalah 45,0% dan masa kerja
responden yang paling sedikit adalah 11 – 15
Persentase
Karakteristik Jumlah (n) (%) tahun yaitu 10,0%. Ini artinya bahwa perawat
Usia : yang memberikan pelayanan
20 – 29 tahun 13 25.0 kegawatdaruratanpada saat terjadinya
30 – 39 tahun 17 45.0 bencana diwilayah kerja dinas Kesehatan
40 - 49 tahun 10 30.0 Kabupaten Deli serdang umumnya adalah
100. berusia 30 – 39 tahun, berjenis kelamin laki
Total 40 0 – laki, berpendidikan Diploma III
Jenis Kelamin : Keperawatan dan memiliki masa kerja antara
a. Laki – Laki 26 65.0 5–10 tahun. Pada umumnya responden
b. Perempuan 14 35.0 belum pernah mengikuti pelatihan
100. kegawatdaruratan yaitu 57,5%, sementara
Total 40 0 sisanya telah mengikuti pelatihan BLS
Pendidikan : 30,0% dan BTCLS 12,5%. Artinya bahwa
a. SPK 4 10.0 perawat yang bertugas dalam tim
b. D – III Keperawatan33 85.0 penanggulangan bencana di wilayah kerja
c. S1 Keperawatan 3 5.0 Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang
dan yang akan memberikan pelayanan
100.
kegawatdaruratan, sebagian besar belum
Total 40 0
pernah mengikuti pelatihan BLS dan
Masa Kerja :
BTCLS.
a. 0 – 5 tahun 10 25.0
b. 6 – 10 tahun 22 45.0
c. 11 – 15 tahun 4 10.0
d. 16 – 20 tahun 4 20.0
Total 40 100.0
Mengikuti Pelatihan
a. BTCLS 5 12.5
b. BLS 12 30.0
c. Tidak Pernah 23 57.5
Total 40 100.0

4
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi PEMBAHASAN
Berdasarkan Katagori Pengetahuan
Perawat tentang Kesiapsiaagaan dalam 4.6.1 .KesiapsiagaanPerawat Berdasarkan
MemberikanPelayananKegawatdaruratan Pengetahuan dalam Memberikan
Sistem Pernapasan di Wilayah Dinas PelayananKegawatdaruratanSistem
Kesehatan Kabupaten Deli Serdang Pernapasan
Tahun 2015 Hasil penelitian menunjukkan
bahwa perawat yang terlibat dalam tim
Pengetahuan Jumlah (n) penanggulangan
Persentase (%)bencana di Wilayah Kerja
a. Baik 26 Dinas
65.0Kesehatan Kabupaten Deli Serdang
b. Sedang 8 mayoritas
20.0 memiliki pengetahuan yang baik
c. Kurang 6 yaitu
15.065,0%, sedangkan yang memiliki
Total 40 pengetahuan
100.0 sedang 20,0%, hanya 15%
Dari tabel 4.3 terlihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan
gambaran pengetahuan responden tentang kurang, berdasarkan skor jawaban responden
kesiapsiagaan dalam memberikan pelayanan manyoritas perawat pengetahuannya baik
kegawatdarutan sistem pernapasan mayoritas yaitu 78%. Hal ini menggambarkan bahwa
adalah baik yaitu 65,0%. sebagian besar Tim Penanggulangan
4.4.2. Sikap Bencana di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan
Berdasarkan jawaban responden tentang Kabupaten Deli Serdang telah memiliki
sikap perawat dalam kesiapsiagaan pengetahuan yang baik tentang konsep-
memberikan pelayanan kegawatdaruratan konsep penanggulangan kasus
sistem pernapasan diperoleh data kegawatdaratan sistem pernapasan yang
sebagaimana diuraikan dalam tabel 4.4 merupakan elemen terpenting dalam
dibawah ini. kesiapsiagaan.
Berdasarkan hasil tabel silang,
Tabel4.5 Distribusi Frekuensi umumnya yang berpegetahuan baik adalah
Berdasarkan Katagori Sikap Perawat berpendidikan tinggi dan pernah mengikuti
tentang Kesiapsiaagaan dalam pelatihan, dari hasil penelitian dapat dilihat
MemberikanPelayananKegawatdaruratan bahwa yang berpendidikan S1 Keperawatan
Sistem Pernapasan di Wilayah Dinas 100% pengetahuannya baik dan yang
Kesehatan Kabupaten Deli Serdang berpendidikan DIII Keperawatan 63,6%
Tahun 2015 pengetahuannya baik, sedangkan yang
Persentase mengikuti pelatihan BTCLS 100%
Sikap Jumlah (n) (%) pengetetahuannya baik, Sedang pada
katagori umur, jenis kelamin, dan masa kerja
a. Positif 33 82.5
tidak ada perbedaan persentasi yang
b. Negatif 7 17.5
signifikan dari masing-masing katagori
Total 40 100.0
tersebut, hasil penelitian menunjukkan
umumnya semua karakteristik responden
Berdasarkan tabel 4.5 terlihat gambaran berdasarkan katagori umur, jenis kelamin
distribusi frekuensi sikap responden tentang dan masa kerja berpengetahuan baik.
kesiapsiagaan, mayoritas menunjukkan sikap Sedangkan hasil penelitian tentang
yang positif yaitu 82.5% sedangkan negatif pendidikan dan pelatihan diatas
hanya 17,5%. menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan
mengikuti pelatihan dapat mendukung
meningkat pengetahuan perawat, ini artinya
semangkin tinggi pendidikan dan adanya
pelatihan akan semangkin baik pula
pengetahuan seseorang.

5
Hasil penelitian ini sesuai dengan seterusnya, begitu juga halnya dengan
hasil penelitian Gultom (2012) tentang pelatihan, harus sesuai dengan kompetensi
hubungan pengetahuan dan sikap terhadap yang diharapkan sebagai seorang perawat
kesiapsiagaan tenaga kesehatan Puskesmas gawat darurat, pelatihan yang sesuai seperti :
Kampung Baru dalam menghadapi bencana pelatihan Sistem Penanggulangan Gawat
banjir di Kecamatan Medan Maimun, bahwa Darurat Terpadu (SPGDT), pelatihan Satuan
manyoritas responden yang berpendidikan Penanggulangan Bencana (SATGANA),
tinggi dan pernah mengikuti pelatihan pelatihan Basic Life Support (BLS) dan
pengetahuannya baik tentang kesiapsiagaan. pelatihan Basic Trauma/Cardio Life Support
Hasil penelitian ini tentunya sangat selaras (BTCLS).
dengan kompetensi yang diharapkan kepada
perawat gawat darurat yang bekerja di 4.6.2 Kesiapsiagaan Perawat Berdasarkan
Puskesmas, dimana seorang perawat gawat Sikap dalam Memberikan
darurat harus memiliki pengetahuan, sikap Pelayanan Kegawatdaruratan
dan keterampilan yang baik sehingga mampu Sistem Pernapasan
melaksanakan pelayanan kegawatdarutan
dengan baik pula. Pengetahuan merupakan Berdasarkan hasil penelitian
dasar utama dalam mengerjakan sesuatu menunjukkan bahwa sikap perawat tentang
pekerjaan yang sifatnya teoritis dan kesiapsiagaan dalam penanggulangan
patofisiologis. Seorang perawat pelaksana bencana di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan
penanggulangan kegawatdaruratan sistem Kabupaten Deli Serdang mayoritas memiliki
pernapasan harus benar-benar paham tentang sikap yang positif yaitu 82,5%, hanya 17,5%
teori bagaimana cara penilaian jalan napas, yang masih memiliki sikap yang negatif,
membuka dan membebaskan jalan napas, berdasarkan skor jawaban responden
membersihkan jalan napas dan bagaimana umumnya perawat bersikap positif yaitu
memberikan napas buatan. 77,5%, ini artinya sebagian besar perawat
Seorang perawat gawat darurat bukan yang tergabung dalam tim penanggulangan
sekedar tahu tentang kasus-kasus bencana di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan
kegawatdaruratan, tapi juga harus memahami Kabupaten Deli Serdang. telah memiliki.
dan menjelaskan secara benar terhadap Hasil tabel silang menggambarkan
prosedur tindakan yang akan dilakukan. manyoritas responden yang bersikap positif
Pengetahuan menjadi fokus utama terkait adalah berumur 30-39 tahun yaitu 94,1%,
dengan persiapan menghadapi tanggap usia 20-29 tahun 84,6%, ini menunjukkan
darurat bencana alam, non alam maupun bahwa perawat yang bersikap positif lebih
bencana campuran. Kesiapan pengetahuan banyak pada usia produktif yaitu 20-39
sangat diperlukan guna untuk membantu tahun, berdasarkan jenis kelamin manyoritas
memperbaiki perilaku (sikap) dan tindakan yang bersikap positif adalah perempuan yaitu
(keterampilan) seseorang, dan kesiapan 92,9% sedangkan laki-laki 76,9%. Hasil
pengetahuan tersebut dapat dilakukan penelitian ini sejalan dengan studi-studi
melalui pendidikan dan pelatihan. psikologis yang menyatakan bahawa
Pendidikan dan pelatihan menjadi hal yang perempuan lebih peka dan mematuhi
sangat utama bagi seorang petugas yang wewenang serta memiliki pengharapan untuk
memberikan pelayanan kegawatdaruratan, sukses yang lebih tinggi dibandingkan laki-
agar senantiasa pengetahuan yang dimiliki laki, tetapi perbedaan itu kecil, kita
meningkat dan teruji. Peningkatan mengamsumsikan bahwa tidak ada
pengetahuan dapat dilakukan dengan perbedaan berarti dalam kesiapsiagaan antara
menempuh pendidikan yang lebih tinggi dan laki-laki dan perempuan.
sesuai (linier), artinya seorang perawat SPK Hasil penelitian juga menunjukkan,
harus melanjutkan pendidikan ke D-III berpendidikan tinggi, mengikuti pelatihan
Keperawatan, S1 Keperawatan dan sikapnya lebih positif dibandikan dengan

6
responden yang berpendidikan rendah dan yang mengalami gangguan sistem
tidak mengikuti pelatihan, dari hasil pernapasan.
penelitian terlihat bahwa 100% responden Hasil penelitian pada tabel silang
yang berpendidikan S1 Keperawatan tergambar bahwa responden yang terampil
bersikap positif dan 81,8% yang melakukan Heimlich Manuver adalah usia
berpendidikan D-III Keperawatan bersikap 30-39 tahun yaitu 82,4% dan 75,5% untuk
positif, begitu juga dengan pelatihan 100% Resusitasi Jatung Paru, ini menunjukkan
responden yang mengikuti pelatihan BTCLS bahwa umumnya perawat yang terampil
bersikap positif dan 91,7% yang mengikuti melakukan prosedur Heimlich Manuver dan
pelatihan BLS bersikap positif. Sedangkan Resusitasi Jantung paru berada pada usia
responden yang berpengetahuan baik produktif, sedangkan pada katagori
bersikap positif bersikap positif adalah pendidikan yang terampil adalah
92,3%. Pengetahuan yang baik dan berpendidikan S1 Keperawatan yaitu 100%,
pendidikan tinggi, serta mengikuti pelatihan sedangkan masa kerja yang dominan
cenderung akan membuat seseorang bersikap terampil adalah 11-15 tahun yaitu 75,0%
positif. pada Heimlich Manuver dan 50,0% pada
Hasil penelitian ini sesuai dengan RJP, sedangkan untuk pelatihan manyoritas
hasil penelitian Gultom (2012) tentang yang terampil dalam melakukan kedua
pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap prosedur tindakan tersebut adalah yang
kesiapsiagaan tenaga kesehatan Puskesmas mengikuti pelatihan BTCLS 80,0% dan BLS
Kampung Baru dalam menghadapi bencana 83,3% yaitu terampil melakukan Heimlich
banjir di Kecamatan Medan Maimun, bahwa Manuver sedangkan yang terampil
manyoritas responden yang berpendidikan melakukan RJP adalah yang mengikuti
tinggi, mengikuti pelatihan dan pengetahuan pelatihan BTCLS 80,0% dan BLS 75,0%, ini
yang baik sikapnya positif . artinya perawat yang jarang mengasah
1. Kesiapsiagaan Perawat Berdasarkan keterampilannya dan tidak mengikuti
Keterampilan Heimlich Manuver dan pelatihan membuat perawat tersebut tidak
Resusitasi Jantung Paru dalam terampil, berdasarkan pengetahuan dan
MemberikanPelayananKegawatdaruratan sikap, umumnya yang terampil adalah
Sistem Pernapasan berpengetahuan baik dan bersikap positif.

Berdasarkan hasil penelitian 2. Kesiapsiagaan Perawat dalam


menunjukkan bahwa umumnya perawat Memberikan Pelayanan
terampil dalam melakukan tindakan Kegawatdaruratan Sistem
Heimlich Manuver yaitu 55,0% dan 45,0% Pernapasan Akibat Bencana
terampil melakukan Resusitasi Jantung Paru,
berdasarkan skor jawaban responden Kesiapsiagaan merupakan salah
manyoritas perawat terampil melakukan satu dari proses manajemen bencana,
Heimlich Manuver yaitu 83%, dan kesiapsiagaan dilaksanakan untuk
berdasarkan skor jawaban responden untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
Resusitasi Jantung Paru manyoritas perawat bencana guna menghindari jatuhnya korban
juga terampil yaitu 86,5%. Ini jiwa (LIPI-UNESCO/ISDR, 2009). Fase
menggambarkan bahwa umumnya perawat kesiapsiagaan perawat dalam manajemen
yang terlibat dalam tim penanggulangan gawat darurat bencana adalah fase dilakukan
bencana di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan persiapan pengetahuan, sikap dan
Kabupaten Deli Serdang terampil melakukan keterampilan yang baik oleh perawat guna
prosedur tindakan Heimlich Manuver dan untuk menjalan peran dan fungsinya sebagai
Resusitasi Jantung Paru yang merupakan perawat gawat darurat. Berdasarkan hasil
elemen yang paling utama dalam penelitian tentang kesiapsiagaan perawat
memberikan pertolongan kepada korban berdasarkan gabungan variabel pengetahuan

7
dan sikap, menunjukkan bahwa sebagian menghadapi darurat bencana, terutama
besar responden kesiapsiagaannya baik yaitu persiapan dalam memberikan pelayanan
65,0%, sedangkan kurang hanya 10,0%, Kegawatdaruratan Sistem pernapasan
berdasarkan gabungan keterampilan dituntut seluruh perawat pelaksana yang
Heimlich Manuver dan Resusitasi Jantung terlibat secara langsung harus professional
Paru, mayoritas responden kesiapsiagaannya dan memiliki kesiapsiagaan yang sangat
kurang yaitu 60,0%, umumnya responden baik, sehingga tidak berdampak terhadap
yang memiliki kesiapsiagaan pengetahuan korban bencana, kesalahan sekecil apapun
dan sikapnya baik adalah yang berada pada bisa berakibat fatal dan menyebabkan
usia produktif yaitu umur 20-29 tahun 69,2% kecacatan dan korban meninggal, oleh
dan umur 30-39 tahun 76,5%, berdasarkan karena itu diharapkan petugas yang
jenis kelamin, tidak terdapat perbedaan memberikan pertolongan Kegawatdaruratan
antara laki-laki dan perempuan, dan Sistem pernapasan harus benar-benar siap
manyoritas kesiapsiapsiagaannya baik, baik pengetahuan, sikap, maupun
sedangkan kategori pendidikan responden keterampilan.
yang kesiapsiagaannya baik adalah S1
Keperawatan yaitu 100% dan D-III
keperawatan 63,6%, untuk masa kerja KESIMPULAN
perawat yang kesiapsiagaannya baik adalah Dari hasil penelitian dan pembahasan
responden yang masa kerja 11-15 tahun yaitu yang telah disampaikan pada bab
100% masa kerja 0-5 tahun yaitu 80,0%, sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa :
sedangkan pada katagori mengikuti Pengetahuan, sikap, dan keterampilan
pelatihan, responden yang memiliki merupakan bagian dari kesiapsiagaan
kesiapsiagaan baik adalah yang pernah perawat dalam memberikan pelayanan
mengikuti pelatihan BTCLS yaitu 100,0% kegawatdarutan sistem pernapasan. Dari tiga
dan yang mengikuti pelatihan BLS 66,7%. domain kesiapsiagaan tersebut, mayoritas
Berdasarkan kesiapsiagaan keterampilan perawat berpengetahuan baik, bersikap
Heimlich Manuver dan Resusitasi Jatung positif, namun masih banyak yang belum
Paru, kesiapsiagaan yang baik sangat terampil melakukan prosedur Heimlich
dipengaruhi oleh pendidikan perawat tersebt, Manuver dan Resusitasi Jatung Paru.
umumnya pendidikan tinggi lebih baik Kesiapsiagaan perawat yang terdiri
kesiapsiagaannya dibandingkan dengan dari komponen pengetahuan, sikap dan
pendidikan rendah, (S1 Keperawatan 100% keterampilan (Heimlich Manuver dan
danIII keperawatan 63,6% kesiapsiagaannya Resusitasi Jantung Paru) dalam memberikan
baik), begitu pula halnya dengan mengikuti pelayanan Kegawatdaruratan Sistem
pendidikan dan pelatihan. (BLS 66,7% dan pernapasan akibat bencana di wilayah kerja
BTCLS 80,0% kesiapsiagaannya baik), Dinas Dinas Kesehatan Kabupaten Deli
pendidikan, mengikuti pelatihan Serdang mayoritas baik, akan tetapi dalam
mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam kesiapsiagaan bencana khusus dalam
memberikan pelayanan Kegawatdaruratan penanganan kasus kegawatdaruratan
Sistem pernapasan. diperlukan kesiapsiagaan dalam baik, baik
Hasil penelitian ini sesuai dengan pengetahuan, sikap maupun keterampilan
hasil penelitian Dewi (2010) tentang guna untuk menghindari dan mencegah
kesiapsiagaan sumber daya manusia terjadinya kecacatan, komplikasi (kondisi
kesehatan dalam penanggulangan masalah lebih buruk) dan korban meninggal akibat
kesehatan akibat bencana banjir di provinsi salah penanganan korban.
DKI Jakarta yang hasil diperoleh secara
signifikan adanya pendidikan dan mengikuti
pelatihan dengan kesiapsiagaan sumber daya
manusia kesehatan. Kesiapsiagaan dalam

8
SARAN Dewi,R.N.W, 2010, Kesiapsiagaan Sumber
Daya Kesehatan dalam
Berdasarkan hasil penelitian, diberikan Penanggulangan Masalah Kesehatan
beberapa saran terhadap institusi pendidikan akibat Bencana Banjir di Provinsi
kesehatan, instansi pelayanan kesehatan dan DKI Jakarta. Thesis
bagi peneliti selanjutnya.
Bagi Pihak Kepala Dinaas Kesehatan Gultom, A.B, 2012, Pengaruh Pengetahuan
Kabupaten Deli Serdang.agar meningkatkan dan Sikap terhadap Kesiapsiagaan
pengetahuan, sikap dan keterampilan tenaga Tenaga Kesehatan Puskesmas
kesehatan terutama perawat yang bertugas Kampung Baru dalam Menghadapi
dalam penanggulangan bencana melalui Bencana Banjir di Kecamatan Medan
pendidikan dan pelatihan kegawatdaruratan Maimun. Thesis
guna mengoptimalkan kesiapsiagaan perawat
yang bertugas Krisanty. dkk. 2009. Asuhan Keperawatan
Bagi Masyarakat Sebagai bahan Gawat Darurat, Jakarta : Trans Info
pemikiran yang didasari pada teori dan Media
analisis terhadap kajian praktis untuk
meningkatkan sumber daya manusia dalam Mubarak,W.I,dkk. 2007. Promosi Kesehatan
kesiapsiagaan menanggulangi masalahan Sebuah Pengantar Proses Mengajar
kesehatan akibat bencana alam. dalam Pendidikan. Edisi
Bagi penelitian selanjutnya perlu Pertama.Yogyakarta : Graha Ilmu.
dilakukan penelitian seperti ini kembali
dengan jumlah sampel yang lebih banyak Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat.
sehingga dapat memberikan power yang Yogyakarta : Nusa Medika
lebih tinggi lagi, melakukan penelitian
dengan intervensi perawatan diri yang Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan
berbeda (seperti kemampuan perawatan diri dan Ilmu Perilaku. Cetakan Pertama.
beradaptasi terhadap komplikasi sebelum dan Jakarta : Rinika Cifta.
sesudah hemodialisa, tekanan darah tinggi
(hipertensi) dan tekanan darah Purwono, D. 2006. Banjir di Jakarta. Dalam
rendah(hipotensi), edema dan kemampuan Tempo 20/1/06 hlm. 28
untuk mempertahakan interaksi sosial).
Sukandarrumidi. 2010. Bencana Alam dan
DAFTAR PUSTAKA Bencana Anthtropogene. Yogyakarta
: Kanisius
BNPB. 2011. Panduan Perencanaan
Kontijensi Menghadapi Bencana. Suliha, U. dkk. 2001. Pendidikan Kesehatan
Edisi Kedua. Jakarta : BNPB. Dalam Keperawatan. Jakarta : EGC

Depkes RI. 2007. Pedoman Teknis Sunyoto, D. 2012. Validitas dan Reliabilitas
Penanggulangan Krisis Kesehatan Asumsi Klasik untuk Kesehatan.
Akibat Bencana. Jakarta : Yogyakarta : Nuha Medika.
Departemen Penanggulangan Krisis
Kesehatan Supriyantoro, 2011. Kepmenkes dalam
Sistem Penanggulangan Gawat
Depsos RI. 2009. Studi Evaluatif Tentang Darurat Terpadu dan Bencana.
Penanggulangan Bencana Alam. diakses tanggal 12 Januari 2013. dari
Jakarta : Badan Pendidikan dan http://buk.depkes.go.id
Penelitian Kesejahteraan Sosial.

9
Syafrudin & Fratidhina. 2009. Promosi
Kesehatan untuk mahasiswi
Kebidanan. Jakarta : CV Trans Info
Media.

Undang-Undang No. 24 Tahun 2007.


Tentang Penanggulanagn Bencana

10