You are on page 1of 90

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN

KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA


PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DOSEN
INTEGRATIF

“PEMANFAATAN PEKARANGAN RUMAH UNTUK BUDIDAYA IKAN


SEBAGAI PENYEDIA PROTEIN HEWANI DALAM SKALA RUMAH
TANGGA”

RW : 07
Desa : Cipacing
Kecamatan : Jatinangor
Kabupaten : Sumedang

Disusun oleh:

No. Nama Mahasiswa NPM


1 Ari Zakaria Al Anshori 120110140021
2 Aep Pudin 120110150071
3 Kgs M Ferliansyah 150510150211
4 Gilang Dio Maldini 150510150267
5 Hadrian Reyhandita 170110150015
6 Tessa Gustriana 170110150001
7 Syafriana Makkah Hardina 170110150071
8 Satria Galuh Dwitama 230110150135
9 Gita Endang Palufi 230110150172
10 Rifqi Ramdani 230110150230
11 Ilham Azhari Firdaus 230210150038
12 Laila Irvina Pramudito 230210150060

DIREKTORAT PENDIDIKAN DAN KEMAHASISWAAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG

2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Dengan telah selesainya pelaksanaan KKNM yang kami kerjakan, maka kami :
No NAMA NPM TANDA TANGAN
MAHASISWA
1 Ari Zakaria Al A 120110140021 1…………..
2 Aep Pudin 120110150071 2…….……
3 Kgs M Ferliansyah 150510150211 3…………..
4 Gilang Dio Maldini 150510150267 4…….……
5 Hadrian Reyhandita 170110150015 5…………..
6 Tessa Gustriana 170110150001 6……….…
7 Syafriana Makkah H 170110150071 7…………..
8 Satria Galuh D 230110150135 8……….…
9 Gita Endang Palufi 230110150172 9…………..
10 Rifqi Ramdani 230110150230 10.…….…
11 Ilham Azhari F 230210150038 11…………
12 Laila Irvina P 230210150060 12…………

Telah menyelesaikan laporan rencana kegiatan kami selama di lokasi KKNM RW


07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang.

Mengetahui/Menyetujui, Mengetahui/Menyetujui

Budi Yuhadi Irfan Zidni S.Pi., MP.


Ketua RW 07 Desa Cipacing DPL KKNM RW 07 Desa Cipacing

i
ABSTRAK

Kuliah kerja nyata merupakan bagian dari penyelenggaraan


pendidikan dalam bentuk kegiatan pengalaman ilmu, teknologi, dan seni oleh
mahasiswa kepada masyarakat. Kuliah kerja nyata dilaksanakan secara melembaga
dan terstruktur sebagai bagian dari pelaksanaan kurikulum pendidikan tinggi, yang
wajib diikuti oleh setiap mahasiswa program studi ilmu hukum strata satu (S1)
dengan status intrakurikuler wajib. Salah satu tujuan KKN adalah meningkatkan
wawasan, kepekaan, empati, sikap dan perilaku sosial mahasiswa melalui
pengalaman bekerja bersama masyarakat dalam desiminiasi dan implementasi
penelitian dosen kepada masyarakat. Salah satu daerah yang menarik untuk menjadi
objek PPM ini adalah daerah RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor
Kabupaten Sumedang. Seperti yang terdapat pada penjelasan PPM yang ada, PPM
tidak harus dimulai dari titik awal melainkan bisa disesuaikan dengan kebutuhan
dan permaslahan masyarakat. Di Desa Cipacing RW 07 ini sendiri memiliki potensi
yang sangat menjanjikan dan tidak hanya bergantung pada satu jenis potensi saja.
Di lain sisi di daerah ini sudah ada program yang berkaitan dengan pemanfaatan
pekarangan rumah untuk budidaya ikan sebagai penyedia protein hewani dalam
skala rumah tangga. Tentunya ini merupakan program yang menarik untuk
dijadikan sebagai bahan PPM karena sesuai dengan karakteristik dari PPM itu
sendiri. Di sisi lain juga ini akan sangat baik karena akan mendorong masyarakat
untuk berpartispasi aktif dalam kegiatannya sehingga input yang diberikan akan
mampu mengahasilkan output dan outcome yang sesuai ekspektasi yang
diharapkan.

Kata Kunci: Cipacing, masyrakat, RW 07, budidaya

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. karena atas berkat dan
nikmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan KKNM-PPMD ini dengan lancar
dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Laporan KKNM-PPMD ini dibuat dengan maksud untuk memenuhi tugas
mata kuliah Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa. Dalam pembuatan laporan KKNM-
PPMD ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada mahasiswa
kelompok KKNM yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Selain itu terima kasih pula kepada warga Desa Cipacing khususnya RW 07 yang
telah menjadi sasaran dalam pelaksanaan kegiatan KKNM-PPMD ini. Semoga
Allah SWT. membalas kebaikan kita semua. Aamiin.
Penulis sangat menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar dapat membuat tulisan yang lebih baik lagi. Penulis
juga berharap laporan KKNM-PPMD ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis
dan umumnya bagi para pembaca.

Dosen Pembimbing

Irfan Zidni S.Pi., MP.

iii
DAFTAR ISI

BAB Halaman
ABSTRAK…...............………………………………………..…….. ii
KATA PENGANTAR……….……………………………………... iii
DAFTAR ISI.........……………………………………….................. iv
DAFTAR TABEL............................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………....... vii
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Tujuan dan Manfaat .................................................................... 3
1.3 Tahapan Kegiatan Mahasiswa .................................................... 5
1.4 Lokasi dan Waktu ....................................................................... 7
II PROSES PELAKSANAAN KKN MAHASISWA
2.1 Mekanisme Kerja Kelompok dalam Pelaksanaan KKN ............. 8
2.2 Implementasi Proses Kegiatan Mahasiswa KKN ....................... 9
2.2.1 Deskripsi Kegiatan KKN ............................................................ 9
2.2.2 Deskripsi Mekanisme Kerja Kelompok ...................................... 10

III PELAKSANAAN KEGIATAN PPM-KKN MAHASISWA


3.1 Analisis Situasi ........................................................................... 12
3.2 Kegiatan/Program PPM-KKN Mahasiswa ................................. 13
3.2.1 Sosialisasi GEMARI (Gemar Makan Ikan) ................................ 13
3.2.2 Sosialisasi GEMARU (Gemar Membaca Buku) ........................ 14
3.2.3 Penyuluhan Sampah .................................................................... 16
3.2.4 Kunjungan Pabrik Roti ............................................................... 17
3.2.5 Kunjungan Pengrajin Pisau ......................................................... 18
3.2.6 Kunjungan Pengrajin Layang-Layang ........................................ 21
3.2.7 Kunjungan Pengrajin Senapan .................................................... 23
3.2.8 Kunjungan Pengrajin Kursi ........................................................ 26
3.2.9 Kunjungan SLB (Sekolah Luar Biasa) ....................................... 27
3.2.10 Kunjungan RT............................................................................. 29
3.2.11 Evaluasi Sistem Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal ............... 30
3.2.12 Evaluasi Pembudidaya Ikan Lele di Kolam Terpal .................... 30
3.3 Output Kegiatan .......................................................................... 33

IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI


4.1 Simpulan ..................................................................................... 47
4.2 Rekomendasi ............................................................................... 48

iv
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 50
LAMPIRAN .......................................................................................... 52

v
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


1 Tahapan Kegiatan KKNM-PPM .................................................... 5
2 Potensi di RW 07............................................................................ 29
3 Data Cek Kualitas Air Kolam Budidaya Terpal Ikan Lele ............ 30
4 Matriks Output Kegiatan ................................................................ 33

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman


1 Kegiatan KKNM-PPM Integratif ................................................... 53
2 TOR (Term of Refference).............................................................. 59

vii
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sesuai dengan amanah UU no. 51 Statuta Unpad pasal 6, bahwa Unpad
harus menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan
kontribusi dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa dengan arah dan tahapan yang jelas. Penyelenggaraan pengabdian kepada
masyarakat (PPM) di Unpad terintegrasi dengan kegiatan pendidikan dan
penelitian.
Hasil PPM digunakan sebagai proses pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pengayaan sumber belajar, dan pengabdian Sivitas Akademika. Salah
satu proses pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengayaan sumber
belajar adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). PPM yang diturunkan dari penelitian
dosen salah satunya dapat didesminasikan ke masyarakat melalui KKN. PPM yang
dilaksanakan oleh Dosen merupakan jawaban atas masalah yang ada di masyarakat,
dengan pemecahan masalah berdasar pada pengembangan IPTEKS di perguruan
tinggi. Sehubungan dengan umumnya masalah masyarakat bersifat kompleks
(teknis-sosial dan ekonomis) maka penangannya harus bersifat multidisiplin, oleh
karena itu aktivitasnya dapat dilakukan secara bersama yang terintegrasi dengan
program PPM.
Saat ini suatu daerah menghadapi banyak tantangan dalam
mengembangkan dirinya untuk berbagai sektor. Tantangan yang dihdapai pun
bukanlah tantangan yang mudah, akan tetapi melibatkan banyak pihak di dalamnya
dengan segala dinamika yang terkandung di dalamnya. Dari tantangan yang ada ini
pula menghasilkan kesulitan tersendiri bagi suatu daerah.
Dibalik tantangan yang dimiliki setiap daerahnya dalam mengembangkan
dirinya, tentunya setiap daerah juga memiliki potensi yang menguntungkan bagi
dirinya sendiri. Potensi yang dimiliki oleh setiap daerahnya ini bahkan bisa
membuat tantangan yang ada menjadi sebuah keuntungan bagi perkembangan suatu
daerah tersebut. Dengan adanya tantangan, suatu daerah dipacu untuk mampu

1
2

beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dengan kondisi
seperti ini, maka setiap daerah akan terpacu untuk kreatif dalam memanfaatkan
setiap peluang yang ada tanpa harus mengedepankan kekhawatiran bagaimana
perkembangan daerah tersebut.
Diantara banyak tantangan yang dihadapi suatu daerah dalam
mengedepankan dirinya salah satunya ialah mengenai gizi yang dimiliki oleh
masyarakatnya. Tentunya ini menjadi sebuah hal yang sangat vital keberadaannya
karena erat kaitannya dengan kesehatan yang dimiliki oleh masyarakatnya. Seperti
yang diketahui bahwa ketika seseorang tidak memiliki kesehatan yang kurang
baik,ini akan mempengaruhi kepada aspek-aspek lainnya dalam kehidupannya dan
dalam jangka panjang akan berpengaruh pada perkembangan daerahnya. Tentunya
pengaruh yang dimaksud disini adalah pengaruh yang kurang baik bagi daerahnya.
Adapun untuk memperbaiki gizi pada suatu daerah ada banyak caranya
salah satunya berkaitan dengan pola makan yang dilakukan oleh masyarakatnya.
Pola makan ini akan sangat erat kaitannya dengan makanan apa yang dikonsumsi
oleh masyarakatnya. Dengan situasi yang ada saat ini, bahan makanan terkadang
memiliki harga yang sulit untuk dijangkau oleh masyarakat yang secara ekonomi
kurang berkecukupan. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi daerah untuk
mampu mencari solusi dalam mengatisipasi hal ini
Prinsip PPM yang diacu oleh Unpad adalah keadilan sosial dan
kemaslahatan ilmu pengetahuan dan teknologi, prinsip pengembangan masyarakat
(community development) yang mencakup penyuluhan (extension) dan
pemberdayaan (empowerment), prinsip berpikir alternatif: sistem, kritis, estetis dan
ekologis (ecologically, aesthetics, critical and system thingking) dan prisip
pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Penting untuk dipahami
bahwa PPM merupakan proses dan aksi perbaikan berkelanjutan yang akhir
pencapaiannya berujung pada kemandirian. Mewujudkan kemandirian merupakan
proses bertahap, yang berarti tidak dapat dicapai dalam waktusingkat dan sekali
kegiatan. Ada empat fase yang harus ditempuh partisipan pemberdayaan untuk
mencapai kemandirian. Pertama, fase ketergantungan (apatis) masyarakat pada
pemberdaya; Kedua, fase transisi, masyarakat sudah memiliki keberdayaan tetapi
3

masih lemah; Ketiga, fase keberdayaan (masyarakat sudah berdaya secara


personal); dan Keempat, fase kemandirian (masyarakat berdaya secara personal dan
interelasional). Tahapan-tahapan dan fase-fase seperti itu jelas tidak memadai untuk
dicapai dengan pendekatan PPM yang diterapkan secara parsial dan karitatif.
Tujuan PPM hanya mungkin terwujud apabila pelaku atau institusi memiliki road
map PPM yang jelas, yang sinergi dengan pendidikan, bidang ilmu dan riset-
risetnya (baik monodisiplin, interdisiplin, multidisiplin maupun transdisiplin), yang
berkesinambungan dan dilaksanakan dengan konsisten, baik dari segi tempat,
subyek maupun waktu pelaksanaannya. Dari gambaran PPM diatas tentunya
diharapkan PPM bisa menjadi solusi dalam membantu mengembangkan potensi
yang dimiliki suatu daerah
Salah satu daerah yang menarik untuk menjadi objek PPM ini adalah daerah
RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Seperti yang
terdapat pada penjelasan PPM yang ada, PPM tidak harus dimulai dari titik awal
melainkan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan permaslahan masyarakat. Di
Desa Cipacing RW 07 ini sendiri memiliki potensi yang sangat menjanjikan dan
tidak hanya bergantung pada satu jenis potensi saja. Di lain sisi di daerah ini sudah
ada program yang berkaitan dengan pemanfaatan pekarangan rumah untuk
budidaya ikan sebagai penyedia protein hewani dalam skala rumah tangga.
Tentunya ini merupakan program yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan
PPM karena sesuai dengan karakteristik dari PPM itu sendiri. Di sisi lain juga ini
akan sangat baik karena akan mendorong masyarakat untuk berpartispasi aktif
dalam kegiatannya sehingga input yang diberikan akan mampu mengahasilkan
output dan outcome yang sesuai ekspektasi yang diharapkan.

1.2 Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari program KKN terinegrasi PPM Semester Ganjil 2017/2018 ini
adalah:
1) Mengintegrasikan kemampuan akademik mahasiswa dan interpersonal
education mahasiswa melalui interaksi dengan mahasiswa berbeda disiplin
ilmu dan masyarakat,
4

2) Meningkatkan wawasan, kepekaan, empati, sikap dan perilaku sosial


mahasiswa melalui pengalaman bekerja bersama masyarakat dalam
desiminiasi dan implementasi penelitian dosen kepada masyarakat,
3) Membantu mahasiswa untuk mempercepat studinya dengan memberikan
ide penelitian di masyarakat.
Sedangkan manfaat dari adanya kegiatan KKNM-PPM Integratif adalah
sebagai berikut.
1) Bagi Mahasiswa KKN
- Memperoleh pengalaman belajar yang berharga melalui keterlibatan dalam
masyarakat yang secara langsung menemukan, merumuskan, memecahkan,
dan menanggulangi masalah secara pragmatis dan indisipliner.
- Mahasiswa dapat memberikan pemikiran berdasarkan ilmu pengetahuan,
teknologi, seni dan agama dalam upaya menambahkan, mempercepat gerak,
serta mempersiapkan kader-kader pembangunan.
- Menumbuhkan sifat profesionalisme dalam diri mahasiswa.
- Membentuk sikap, rasa cinta, serta tanggung jawab mahasiswa terhadap
kemajuan masyarakat.
- Mendekatkan relasi perguruan tinggi dengan masyarakat dimana
mahasiswa KKN berada.
2) Bagi Dosen PPM
- Dosen atau pengajar akan mendapatkan pengalaman yang berharga dan
menemukan berbagai masalah untuk pengembangan kegiatan penelitian.
- Mendekatkan relasi perguruan tinggi dengan masyarakat dimana
mahasiswa KKN berada.
- Mempererat kerjasama antara perguruan tinggi dengan instansi lain dalam
pembangunan.
3) Bagi Masyarakat
- Memperoleh bantuan tenaga dan pikiran dalam merencanakan dan
melakukan pembangunan.
- Tebentuknya link and match antara dunia pendidikan tinggi dengan
masyarakat stakeholder.
5

- Terbentuknya kader-kader penerus pembangunan di dalam masyarakat


sehingga terjamin kelanjutann upaya pembangunan.
1.3 Tahapan Kegiatan Mahasiswa
Berikut adalah tahapan kegiatan KKNM-PPM Integratif Universitas
Padjadjaran.
Tabel 1. Tahapan Kegiatan KKNM-PPM
Bentuk Hasil (Capaian
No Waktu Tempat Sasaran
Kegiatan Target)
Mendapatkan
perizinan untuk
Sosialisasi RT 05-09 Desa Ketua RT di
berkegiatan di
1 Desember Cipacing RW.07 Desa
masing-masing
2017 RW 07 Cipacing
RT dibawah
RW.07
Mendapatkan
informasi
Kunjungan
17 Desa Pengrajin roti mengenai sistem
Pabrik roti
2 Desember Cipacing di RW.07 produksi hingga
2017 RW 07 Desa Cipacing pemasaran roti
dari Desa
Cipacing
Mendapatkan
informasi
Kunjungan Pengrajin
06 Desa mengenai sistem
Pengrajin senapan di
3 Desember Cipacing produksi hingga
Senapan RW.07 Desa
2017 RW 07 pemasaran
Cipacing
senapan dari Desa
Cipacing
Anak-anak di
Desa Cipacing
Sosialisasi memiliki
17 Desa Anak-anak
Gemaru kesadaran untuk
4 Desember Cipacing usia 6-10
giat membaca
2017 RW 07 tahun
buku sebagai
bekal menggapai
cita-cita
Anak-anak di
Sosialisasi
23 Desa Anak-anak Desa Cipacing
Gemari
5 Desember Cipacing usia 6-10 terbiasa
2017 RW 07 tahun mengkonsumsi
ikan sejak dini
6

Bentuk Hasil (Capaian


No Waktu Tempat Sasaran
Kegiatan Target)
Evaluasi Permasalahan
Sistem 28 Desa Pembudidaya budidaya dapat
6 Budidaya Desember Cipacing ikan lele di diketahui melalui
2017 RW 07 Desa Cipacing pengambilan data
di lapangan
Memberikan
informasi
mengenai
Penyuluhan
06 Desa pengelolaan
Sampah Ibu-ibu PKK
7 Januari Cipacing sampah yang baik
Desa Cipacing
2018 RW 07 serta menciptakan
kebiasaan buang
sampah sejak dari
rumah
Mendapatkan
Kunjungan 10 Desa informasi
BABINSA
8 BABINSA Desember Cipacing mengenai tugas
Desa Cipacing
2017 RW 07 dan kewajiban
BABINSA
Mendapatkan
informasi
Kunjungan Pengrajin
08 Desa mengenai sistem
Usaha Layang- layang-layang
9 Januari Cipacing produksi hingga
layang di RW.07
2018 RW 07 pemasaran layang-
Desa Cipacing
layang dari Desa
Cipacing
Mendapatkan
informasi
Pengrajin
Kunjungan 08 Desa mengenai sistem
pisau di
10 Pengrajin Pisau Januari Cipacing produksi hingga
RW.07 Desa
2018 RW 07 pemasaran pisau
Cipacing
dari Desa
Cipacing
Mendapatkan
informasi
Mengetahui mengenai prestasi-
perkembangan prestasi yang telah
08 Desa dan diraih oleh siswa
Kunjungan
11 Januari Cipacing permasalahan sekolah dan
SLB
2017 RW 07 pada SLB permasalahan
B-C RW 07 yang dirasakan
Desa Cipacing serta informasi
lain terkait SLB
tersebut.
7

Bentuk Hasil (Capaian


No Waktu Tempat Sasaran
Kegiatan Target)
Pembudidaya
mengetahui cara
Sosialisasi 11 Desa Pembudidaya menangai
12 Evaluasi Januari Cipacing ikan lele di permasalahan
Pembudidayaan 2018 RW 07 Desa Cipacing budidaya yang
terjadi serta cara
menanggulanginya
Mendapatkan
informasi
Pengrajin
11 Desa mengenai sistem
Kunjungan kursi di
13 Januari Cipacing produksi hingga
pengrajin Kursi RW.07 Desa
2018 RW 07 pemasaran kursi
Cipacing
dari Desa
Cipacing
Penutupan Anak-anak Anak-anak
KKNM-PPN 12 Desa usia 5-10 mampu
14 Integratif 2018 Januari Cipacing tahun di menuangkan
(Lomba 2018 RW 07 RW.07 Desa kreativitas
Mewarnai) Cipacing dibidang kesenian

1.4 Lokasi dan Waktu


Kegiatan KKNM – PPM Integratif 2017 Universitas Padjadjaran dilakukan
di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Tahap
Persiapan dimulai sejak tanggal 30 November 2017 sampai dengan tanggal 10
Desember 2017. Untuk pelaksanaan kegiatan di Desa dilakukan sejak tanggal 10
Desember sampai dengan tanggal 12 Januari 2018. Dan pembuatan laporan KKN
dilakukan pada 13 – 14 Januari 2018.
8

BAB II
PROSES PELAKSANAAN KKN MAHASISWA

2.1 Mekanisme Kerja Kelompok dalam Pelaksanaan KKN


KKNM UNPAD 2017 RW 07 Desa Cipacing memuliai kagiatan di lokasi
pada Selasa, 5 Desember 2017. Untuk RW 07 Desa Cipacing yang berada di
Kecamatan Jatinangor terdiri dari 12 mahasiswa dari berbagai fakultas. KKNM
Unpad ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengabdi dan belajar dari masyarakat
tentang kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya. Mahasiswa diharapkan
mampu memberikan sumbangsih berupa ide/saran dari apa yang telah di dapat
selama perkuliahan. Awalnya, Kelompok KKNM RW 07 Cipacing melakukan
observasi terhadap kegiatan dan segala aspek disetiap RT di RW 07 selain itu juga
untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Kelompok RW 07 Cipacing
melakukan observasi dengan memusatkan pada orientasi-orientasi terhadap aspek
yang telah di sebutkan pada pedoman dari DPL (Dosen Pembimbing Lapangan)
kepada Mahasiswa.
RW 07 Cipacing merupakan salah satu RW dengan potensi kerajinan yang
baik di Desa Cipacing. Desa ini memiliki 6 RT . Dalam observasi mahasiswa
KKNM diharuskan melakukan observasi dan wawancara serta mencatat seluruh
hasil wawancara dengan masing masing ketua RT di RW 07 Cipacing termasuk
aparatur Desa yang berwenang di dusun tersebut dan mendokumentasikan setiap
kegiatan yang ada di dusun masing-masing. Metode wawancara yang dilakukan
mahasiswa berupa pendekatan secara kekeluargaan.
Setiap kegiatan yang ditawarkan oleh masyarakat kepada para mahasiswa
pun menjadi bagian dari observasi. Adakalanya, dalam mengobservasi dan
mewawancarai warga dilakukan secara spontan saat waktu luang atau sekedar ikut
bersosialisasi dengan warga sekitar.
Hasil observasi yang didapat dari wawancara, mahasiswa melakukan
evaluasi pada malam hari secara bersama-sama. Penarikan kesimpulan dilakukan
dengan cara memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk menyampaikan
tanggapannya atas hasil observasi yang dilakukan pada siang hari. Setelah data

8
9

terkumpul dari segala aspek orientasi, data tersebut diolah dan dijadikan sebagai
sumber data untuk kegiatan harian.
Setiap kegiatan diberikan kepada anggota yang mampu menjadi
penanggung jawab berdasarkan kemampuan dalam mengatur kegiatan yang
dilaksanakan. Setiap penanggung jawab mempersiapkan segala macam aspek pada
setiap kaegiatan yang akan dilakukan yaitu aspek teknis dan waktu kegiatan.
Anggota yang tidak berkesempatan menjadi penanggung jawab pada kegiatan yang
dilakukan bertugas mempersiapkan kegiatan yang akan dilakukan di akhir KKNM.
Setiap anggota diharuskan mendapatkan informasi pada berbagai kegiatan
yang dilakukan. Pemilihan anggota pada kegiatan tertentu berdassarkan pada
kesanggupannya dalam menggali setiap informasi.

2.2 Implementasi Proses Kegiatan KKN Mahasiswa


2.2.1 Deskripsi Kegiatan KKN
Kegiatan yang dilaksanakan berjudul “Pemanfaatan Pekarangan Rumah
sebagai Penyedia Protein Hewani dalam Skala Rumah Tangga untuk Meningkatkan
Kesadaran Gizi Masyarakat di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor-
Sumedang”.
Untuk meningkatkan gizi terutama pada gizi mikro masyarakat pada
umumnya dan keluarga pada khususnya, dapat dilakukan melalui pemberdayaan
masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungannya.
Salah satu upaya pemberdayaan masyarakat tersebut di atas adalah dengan
pemanfaatan pekarangan rumah sehingga mudah untuk pemeliharaan dan
pemanenan hasilnya. Usaha di pekarangan jika dikelola secara intensif sesuai
dengan potensi pekarangan, disamping dapat memenuhi kebutuhan konsumsi
rumah tangga, juga dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi keluarga.
Pemanfaatan pekarangan rumah merupakan kegiatan pengelolaan pekarangan
rumah melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, ternak dan ikan,
sehingga akan menjamin ketersediaan protein dalam skala rumah tangga secara
terus menerus, guna memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
10

Kegiatan KKN ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada warga RW


07 Desa Cipacing mengenai pentingnya memenuhi kebutuhan gizi mikro keluarga
secara berkesinambungan melalui kegiatan pemanfaatan pekarangan,
meningkatkan keterampilan warga dalam budidaya ikan lele khususnya, sekaligus
budidayanya dengan teknologi tepat guna, serta meningkatkan pendapatan keluarga
tani-nelayan. Dengan kondisi lingkungan RW 07 Desa Cipacing yang cukup luas
dan kondisi warga yang variatif mata pencahariannya, diharapkan pemanfaatan
pekarangan rumah untuk dijadikan tempat budidaya ikan lele menggunakan kolam
terpal diharapkan mampu menyediakan protein hewani dalam skala rumah tangga.
Karena di samping budidaya ikan lele di kolam terpal memang lebih
menguntungkan dan jauh lebih efisien pemeliharaannya, ikan lele sendiri memiliki
banya manfaat untuk diolah sebagai bahan makanan yang baik, karena banyak
mengandung vitamin D dan juga asam lemak omega-6.

2.2.2 Deskripsi Mekanisme Kerja Kelompok


Dalam pelaksanaan kegiatan dibentuk beberapa peran atau divisi untuk
mempermudahkan pelaksanaan kegiatan diantaranya:
1. Ketua pelaksana KKN
Tugas: membuat rencana mengenai pelaksanaan kegiatan KKN ini dan
mengatur segala aspek mengenai perizinan lokasi, strategi pelaksanaan kegiatan,
dan mendesain output yang akan didapat pada kegiatan KKN.
2. Sekretaris
Tugas: membantu ketua dalam aspek surat menyurat dan administrasi
mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan. serta mencatat segala hal yang
berkenaan dengan kegiatan KKN.
3. Bendahara
Tugas: membantu ketua dalam aspek alur keuangan untuk kegiatan KKN
dan mencatat segala pemasukan dan pengeluaran yang berkenaan dengan kegiatan
KKN ini.
4. Dokumentasi
Tugas: mendokumentasikan segala kegiatan yang dilaksanakan pada KKN.
11

5. Publisher Sosial Media


Tugas: membagikan informasi melalui dokumentasi megenai kegiatan KKN
yang telah dilakukan ke media sosial seperti WhatsApp, Line, dan Instagram
6. Penanggung Jawab Harian
Tugas: mempersiapkan aspek teknis dan waktu kegiatan pada setiap
kegiatan yang akan dilakukan.
12

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN PPM-KKN MAHASISWA

3.1 Analisis Situasi


Topik PPM yang dilakukan di RW 07 Desa Cipacing adalah Pemanfaatan
Pekarangan Rumah sebagai Penyedia Protein Hewani dalam Skala Rumah Tangga
untuk Meningkatkan Kesadaran Gizi Masyarakat. Hal ini dilakukan dengan cara
budidaya ikan lele di kolam terpal. Masing-masing RT dihibahkan kolam terpal dan
bibit ikan lele untuk kolam percontohan. Hasil pertumbuhan ikan lele ada yang baik
ada pula yang tidak. Banyak kolam yang ikannya banyak yang mati. Para
pembudidaya berpendapat bahwa hal ini terjadi karena siang hari yang panas
kemudian malamnya hujan deras. Bibit ikan lele masih kecil dan lemah tidak
mampu mengatasi perubahan lingkungannya dengan baik sehingga ia mati.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua RT dan RW, di Desa Cipacing
memiliki sarana kesehatan seperti bidan, klinik, dan posyandu. Untuk sarana
olahraga terdapat tempat bermain pingpong. Sarana olahraga dimanfaatkan untuk
semua kalangan usia. Untuk sarana ibadah terdapat satu masjid. Masjid juga
dimanfaatkan oleh segala kalangan usia seperti pengajian untuk orang tua dan
belajar mengaji untuk anak-anak. Kegiatan kesenian dan kepemudaan di daerah ini
musiman. Pemuda disana banyak yang sudah bekerja. Sekitar 90% penduduknya
tidak buta aksara.
Hasil pengamatan di daerah RW 07 Desa Cipacing, dapat disimpulkan
kesadaran masyarakat terhadap membuang sampah pada tempatnya masih kurang.
Apabila masuk ke dalam gang, sampah bekas bungkus makanan masih banyak
berserakan. Di got juga masih ada sampah-sampah yang secara alami tidak akan
berada di tempat tersebut. Ketika acara penutupan OKK, dapat dilihat bahwa masih
banyak orang yang dengan mudahnya membuang sampah sembarangan.
Dari hasil wawancara dan pengamatan, terdapat beberapa kegiatan yang
kami lakukan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dan mungkin terjadi.
Hasil budidaya ikan lele yang belum optimal perlu dikaaji akar permasalahannya.
Untuk itu dilakukan kegitan pengecekan kualitas air di kolam terpal dan evaluasi

12
13

budidaya. Peningkatan kesadaran gizi masyarakat pun perlu dilakukan tidak hanya
dengan budidayanya. Maka dari itu, perlu ditumbuhkan kegemaran masyarakat
terhadap makan ikan. Ini yang menjadi dasar dilakukannya kegiatan Gemar Makan
Ikan (Gemari).
Kemudian dalam masalah membuang sampah sembarangan, masyarakat
perlu disadarkan betapa pentingnya membiasakan diri untuk membuang sampah
pada tempatnya. Masyarakat perlu memahami dampak dari membuang sampah
sembarangan pada lingkup yang lebih besar. Untuk menindaklanjuti masalah ini,
maka masyarakan perlu diberi penyuluhan mengenai membuang sampah pada
tempatnya untuk meningkatkan kesadaran dirinya dan keluarganya terhadap
lingkungan.

3.2 Kegiatan/ Program PPM-KKN Mahasiswa


3.2.1 Sosialisasi GEMARI (Gemar Makan Ikan)
Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Nama kegiatan;
Sosialisasi GEMARI (Gemar Memakan Ikan)
2) Jenis kegiatan (pelatihan/demplot/workshop/penyuluhan/dll.);
Jenis kegiatan ini adalah sosialisasi gemar memakan ikan yang memotivasi
masyarakat untuk mengkonsumsi ikan secara teratur dalam jumlah yang
disyaratkan bagi keshatan agar terbentuk manusia Indonesia yang sehat, kuat, dan
cerdas.
3) Tujuan dan Manfaat;
- Mengajak anak-anak untuk memakan ikan sejak dini
- Memberi tahu pentingnya memakan ikan
- Memberi tahu kandungan gizi dari ikan
- Memberi tahu dampak baik dari memakan ikan
4) Sasaran kegiatan;
14

- Melakukan sosialisasi kepada anak-anak


- Memberikan beberapa makanan olahan ikan
5) Pihak-pihak yang terlibat (beserta perannya);
- Anak-anak RW 07 Cipacing, sebagai peserta kegiatan sosialisasi
- Mahasiswa, sebagai penyelenggara kegiatan
6) Proses pelaksanaan (uraikan prosesnya secara rinci): tahapan teknis
kegiatan
- Mahasiswa melakukan persiapan yang dibutuhkan dalam acara Sosialisasi
Gemar Makan Ikan.
- Sosialisasi dilakukan di Rumah Warga (Pak Ule) di RW 07 pada pukul
14.00 WIB.
- Dilakukan pembukaan saat semua anak-anak berkumpul.
- Dilakukan acara inti yaitunya penyampaian sosialisasi dengan media
(video) dan diadakan games untuk menarik perhatian anak-anak.
- Pemberian Makanan Olahan Ikan untuk peserta.
- Acara selesai pada pukul 15.30 WIB.
7) Hasil capaian kegiatan;
Anak-anak RW 07 Desa Cipacing mendapat pengetahuan tentang
pentingnya memakan ikan, mengetahui dampak positif dari memakan ikan, dan
anak-anak memakan olahan ikan yang diberikan.
8) Rancangan tindak lanjut hasil kegiatan;
Pemantauan minat memakan ikan anak-anak RW 07 Desa Cipacing.

3.2.2 Sosialisasi GEMARU (Gemar Membaca Buku)


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Nama kegiatan;
Sosialisasi GEMARU (Gemar Membaca Buku)
2) Jenis kegiatan (pelatihan/demplot/workshop/penyuluhan/dll.);
15

Jenis kegiatan ini adalah sosialisasi gemar membaca buku yang berisi
tentang alasan mengapa harus membaca buku, dampak dari membaca atau tidak
membaca buku serta berisi ajakan terhadap anak-anak untuk membaca buku sejak
dini.
3) Tujuan dan Manfaat;
- Mengajak anak-anak untuk membaca buku sejak dini
- Memberi tahu pentingnya membaca buku
- Memberi tahu dampak dari tidak membaca buku
4) Sasaran kegiatan;
- Melakukan sosialisasi kepada anak-anak
- Memberikan beberapa buku bacaan anak
5) Pihak-pihak yang terlibat (beserta perannya);
- Anak-anak RW 07 Cipacing, sebagai peserta kegiatan sosialisasi
- Mahasiswa, sebagai penyelenggara kegiatan
6) Proses pelaksanaan (uraikan prosesnya secara rinci): tahapan teknis
kegiatan
- Mahasiswa melakukan persiapan yang dibutuhkan dalam acara Sosialisasi
Gemar Membaca Buku.
- Sosialisasi dilakukan di Madrasah RW 07 pada pukul 14.00 WIB.
- Dilakukan pembukaan saat semua anak-anak berkumpul.
- Dilakukan acara inti yaitunya penyampaian sosialisasi dengan media
(video) dan diadakan games untuk menarik perhatian anak-anak.
- Acara selesai pada pukul 15.30 WIB.
7) Hasil capaian kegiatan
Anak-anak RW 07 Desa Cipacing mendapat pengetahuan tentang
pentingnya membaca sejak dini dan mengetahui dampaknya apabila tidak
membaca.
8) Rancangan tindak lanjut hasil kegiatan.
PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) dan pemantauan terhadap minat
baca anak-anak di RW 07 Desa Cipacing.
16

3.2.3 Penyuluhan Sampah


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Nama Kegiatan;
Peningkatan Kesadaran Masyarakat Terhadap Lingkungan dari Lingkup
Keluarga.
2) Jenis Kegiatan ;
Penyuluhan
3) Tujuan dan Manfaat;
Menyadarkan peran wanita sebagai ibu dan istri di rumahnya yang menjadi
penggerak kesadaran terhadap lingkungan, khususnya mengenai bunga sampah
pada tempatnya, bagi penghui rumahnya.
4) Sasaran Kegiatan
Ibu-ibu kader
5) Pihak-pihak yang berperan
Ibu-ibu kader dan mahasiswa KKN
6) Proses pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan setelah senam pagi. Senam pagi merupakan
rutinitas ibu-ibu di daerah RW 07 Cipacing yang diadakan setiap hari Sabtu. Setelah
dilaksanakan senam pagi, ibu-ibu yang mengikuti senam pagi dikumpulkan untuk
mengikuti penyuluhan. Penyuluhan ini merupakan pemberian materi secara satu
arah dari pemateri ke audiens. Kemudian dilakukan sesi tanya jawab mengenai
permasalahan sampah di daerah RW 07 Cipacing.
7) Hasil capaian kegiatan
Belum terlihat adanya perubahan kesadaran warga mengenai kesadaran
lingkungan, dilihat dari masih banyaknya sampah berserakan di pinggir jalan.
8) Rancangan tindak lanjut hasil kegiatan
17

Tindak lanjut dari hasil kegiatan adalah perlu adanya penyuluhan ke tingkat
masyarakat lebih luas, tempat sampah perlu diperbanyak atau disediakan lahan
untuk tempat sampah, dan propaganda mengenai buang sampah pada tempatnya
agar kebiasaan membuang sampah pada terbentuk.

3.2.4 Kunjungan Pabrik Roti


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Nama kegiatan;
Kunjungan ke pabrik roti
2) Tujuan kegiatan ;
- Mengetahui bagaimana proses pembuatan roti
- Mengetahui kendala-kendala apa saja yang dialami ketika menjalani usaha
roti
- Mengetahui proses pemasaran roti tersebut
3) Waktu kunjungan;
Minggu, 17 Desember 2017 pukul 10.00-selesai
4) Hasil kunjungan;
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik pabrik Bapak Joy Suparjo,
beliau menjelaskan bahwa usaha yang ia geluti merupakan usaha turun-temurun.
Bapak Joy menyebutkan terdapat beberapa macam jenis roti yang diproduksi
dengan beberapa macam rasa. Beliau juga sangat memperhatikan kualitas dari
rotinya, yaitu dalam pemilihan bahan-bahan untuk membuat rotinya. Beliau
mempunyai pegawai 8 orang dengan tugas yang berbeda-beda dan bisa bertambah
jiga pesanan membludak. Ada yang bertugas untuk membuat adonan, memasukkan
toping ke dalam roti, meng-oven rotinya, dan membungkus rotinya. Pembuatan
adonan dilakukan pada malam hari, kemudian didiamkan sampai adonan nya
mengembang, lalu diisi toping dan di oven. Setelah itu pengemasan dilakukan pada
18

sore hari sekitar pukul 16.00. Roti yang ia produksi bisa tahan sampai 4 hari.
Pendistribusian rotinya dilakukan melalui beberapa tahap,
1. Pembeli pertama, bapak joy menjual rotinya seharga Rp. 600,00/pcs
2. Pembeli kedua, Pembeli pertama menjual rotinya dengan harga Rp,
800,00/pcs
Setelah itu pembeli kedua (warung) memasarkan rotinya dengan harga Rp.
1000,00 .Dan roti ini dipasarkan ke Sumedang, Bandung, Kabupaten Bandung, dan
Garut.
Menurut saya usaha roti ini bagus karena membuka lapangan pekerjaan bagi
warga, dan semakin memperkenalkan Desa Cipacing ke masyarakat luar.

3.2.5 Kunjungan Pengrajin Pisau


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Nama kegiatan;
Sosialisasi Pengrajin Pisau di RW. 07 Desa Cipacing
2) Jenis kegiatan (pelatihan/demplot/workshop/penyuluhan/dll.);
Sosialisasi merupakan kegiatan dimana masing-masing pihak yag terlibat
saling belajar satu sama lain sehingga didapatkan pengalaman dan pengetahuan
baru bagi mahasiwa dan masyarakat setempat.
3) Tujuan dan Manfaat;
- Menambah wawasan mengenai pembuatan kerajinan pisau
- Mengetahui permasalahan langsung dari pengrajin sehingga dapat tercipta
solusi yang tepat atas permasalahan tersebut.
- Menyaring informasi mengenai tata cara berwirausaha bagi mahasiswa.
- Menumbuhkan minat mahasiswa untuk berwirausaha dibidang yang
digemari dan berpotensi menghasilkan pendapatan yang konsisten.
- Menumbuhkan kepekaan sosial mahasiswa terhadap taraf hidup masyarakat
desa.
19

4) Sasaran kegiatan;
- Pengrajin pisau di RW. 07 Desa Cipacing.
- Dilaksanakannya kunjungan dan sosialisasi ke tempat pengrajin pisau
secara langsung serta bertemu dengan pemiliknya.
- Terciptanya komunikasi dua arah antara mahasiswa dan pengrajin agar
dapat diketahui kendala-kendala yang dihadapi selama proses produksi
pisau.
5) Pihak-pihak yang terlibat (beserta perannya);
- Pengrajin pisau = Sebagai pihak yang ditemui dalam kegiatan sosialisasi
dan kunjungan.
- Mahasiswa = Sebagai pihak yang menjalankan program KKN yang
terintegrasi PPM
6) Proses pelaksanaan (uraikan prosesnya secara rinci): tahapan teknis
kegiatan
- Berkumpulnya mahasiswa di sekretariat RW 07 Desa Cipacing
- Dilakukan koordinasi antar mahasiswa mengenai pelaksanaan sosialisasi ini
berdasarkan pengarahan dari Penanggung Jawab Kegiatan.
- Koordinasi dengan Pak Ule selaku perwakilan yang mengarahkan
mahasiswa untuk bertemu dengan pengrajin pisau.
- Pertemuan mahasiswa dengan pengrajin pisau di tempat pembuatan pisau
dilanjutkan dengan diskusi dengan memberikan pertanyaan secara langsung
terhadap pengrajin pisau.
7) Hasil capaian kegiatan
- Mahasiswa mengetahui alur produksi pisau di RW. 07 Desa Cipacing.
- Diketahuinya permasalahan yang terjadi dalam rantai produksi pisau di RW.
07 Desa Cipacing.
8) Rancangan tindak lanjut hasil kegiatan
Dari hasil sosialasi dengan Bapak Aca selaku pengrajin pisau di RW. 07
Desa Cipacing diketahui bahwa usaha kerajinan pisau yang dijalankan telah dimulai
sejak tahun 2000-an. Pisau yang dihasilkan Pa Aca dijual dengan harga Rp.
32.000/kodi. Penjualan pisau milik Pa Aca ini telah mencapai Provinsi Kalimantan
20

dan Sumatera. Pa Aca setiap hari memproduksi pisau karena sistem yang digunakan
yaitu menyediakan barang sebelum adanya pembeli. Pegawai yang bekerja dengan
Pa Aca sebanyak 3 orang pekerja dimana semua pekerja berasal dari Desa Cipacing.
Bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi pisau didapatkan di kawasan
sekitar desa. Pemasok bahan telah bekerja sama dengan Pa Aca sehingga bisa
disebut sebagai pelanggan tetap. Namun, tak menutup kemungkinan sering terjadi
kesulitan dalam mendapatkan bahan-bahan utama dalam pembuatan sehingga
produksi sedikit terhambat.
Sistem pemasaran juga menjadi salah satu kendala dalam usaha pisau. Pasar
yang tidak tetap menyebabkan pemesanan fluktuatif artinya dalam 1 tahun hanya
bulan-bulan tertentu saja pesanan tersebut ada atau bahkan meningkat. Namun
dalam beberapa tahun terakhir, menurut Pa Aca pesanan terhadap produk pisau
miliknya mengalami penurunan. Hal ini salah satunya karena persaingan antar
produk pisau yang semakin ketat. Persaingan dengan produk luar negeri merupakan
kendala utama dalam proses pemasaran akhir-akhir ini.
Pasar yang terbatas juga menyebabkan pisau Pa Aca hanya menjangkau
pemesan-pemesan yang telah mengenal lama Pa Aca artinya tidak adanya
jangkauan pasar baru yang dapat meningkatkan pesanan sehingga hasil dari
penjualan dapat meningkat. Pemanfaatan teknologi yang berkembang untuk proses
pemasaran belum dilakukan oleh Pa Aca akibat keterbatasan informasi mengenai
cara penggunaan teknologi itu sendiri.
Masalah lainnya yang didapati dari kerajinan pisau ini yaitu belum
optimalnya produk yang dihasilkan sehingga sulit bersaing dengan produk luar
negeri yang sejenis. Penggunaan alat-alat yang sederhana dalam proses produksi
tentu sedikit banyak mempengaruhi kualitas pisau yang dihasilkan apabila
dibandingkan dengan produk yang dihasilkan dengan teknologi yang modern.
Selain itu, kualitas SDM yang terlibat dalam produksi juga perlu ditingkatkan
mengingat sebagian besar pekerja memiliki jenjang pendidikan yang terbatas. Oleh
karena itu dibutuhkan usaha peningkatan kualitas produk dengan cara
pengoptimalan tenaga kerja dan teknologi modern.
21

Hasil sosialisasi diatas dapat ditindak lanjuti dengan mengadakan


penyuluhan dan pelatihan terkait peningkatan kualitas SDM yang berkerja sebagai
pengrajin pisau di RW. 07 Desa Cipacing. Peningkatan kualitas SDM akan
berdampak pada kualitas produk yang dihasilkan. Tindak lanjut ini dapat dilakukan
dengan berkoordinasi dengan instansi terkait mengenai pembinaan terhadap
pengrajin pisau sehingga informasi mengenai isu bahkan teknologi terbaru dalam
proses produksi dapat sampai kepada pengrajin yang pada akhirnya produk yang
dihasilkan pengrajin pisau di RW. 07 Desa Cipacing dapat bersaing di pasar
nasional.

3.2.6 Kunjungan Pengrajin Layang-Layang


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Jenis kegiatan;
Kunjungan/Observasi/Pencarian Informasi
2) Tujuan Dan Manfaat;
Tujuan dilakukannya program ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis kondisi kekutaan, kekurangan dan peluang serta ancaman bagi
industri kreatif yang berada di desa Cipacing RW 07 termasuk pengrajin layang-
layang, diharapkan setelah dilakukannya analisis dilapangan dapat bermanfaat
dalam meningkatkan tingkat efektivitas dan efisiensi dalam berbagai aspek industri
ini serta dapat mengatasi permasalahan-permasalah yang dihapadi dengan lebih
siap.
3) Sasaran Kegiatan;
Sasaran kegiatan dari program ini adalah produsen layang-layang yang
berada di desa Cipacing RW 07
4) Peserta Kegiatan;
Peserta kegiatan ini adalah anggota semua anggota KKN PPM dan produsen
layang-layang
22

5) Pihak – Pihak Yang Terlibat;


- Pak Irfan Zidni ( DPL sebagai pembimbing dan pengawas tim )
- Pak Ule (asisten pak RW sebagai pemandu lapangan pelaksanaan program)
- Pak Herman (produsen layang-layang sebagai sasaran atau narasumber dari
program)
- Mahasiswa Tim KKN (sebagai tim yang melakukan survei lapangan dan
analisis permasalahan produsen)
6) Proses Pelaksanaan;
- Pelaksanaan program ini diawali dengan analisis kondisi di desa cipacing
melakukan surveri ke RT yang ada di RW 7 untuk melihat potensi RW tsb.
- Memilih potensi yang akan di gali dari hasil informasi yang didapat.
- Berkoordinasi dengan pak ule sebagai pemandu di lapangan untuk persiapan
sosialisasi
- Menghubungi produsen layang-layang untuk konfirmasi kedatangan
sosialisasi
- Melakukan persiapan materi dsb untuk sosialisai ke tempat produsen
layang- layang,
- Mendatangi tempat produsen layang-layang dan melakukan analisis melalui
wawancara dengan produsen tsb.
- Meringkas hasil wawancara dan melakukan analisis lanjut dari informasi
yang didapat.
- Mengubah hasil analisis menjadi tulisan/laporan berupa saran dari hasil
analisis.
7) Hasil Capaian Kegiatan;
Hasil capaian dari kegiatan ini tim KKN dapat mengetahui informasi
mengenai perodusen layang-layang tsb . Produsen layang-layang di desa Cipacing
berdiri sejak tahun 2006 didirikan oleh bapak H. Herman dengan nama Sumber
Rezeki Putra, dalam proses prduksinya pabrik layang-layang ini menggunakan
sistem maklun dimana bahan baku disediakan oleh produsen kemudian para
pengrajin membuat layang-layang sesuai bagiannya yang kemudian dibayar sesuai
dengan jumlah produk yang dihasilkan, dalam prosesnya setiap pengrajin memiliki
23

bagian tugas yang berbeda-beda seperti bagian pembuatan kerangka, penempelan


kertas dan finishin dilakukan oleh pengrajin yang berbeda. Produk layanag- layang
ini dijual per bal dengan harga sekitar Rp 900 rb tergantung dengan model layang-
layang tersebut. Untuk sistem pemasarannya produsen sudah mempunyai pembeli
tetap, pada awalnya produk dipasarkan melalui media daring namun karena
permintaan yang membeludak produsen memutusan menerima pesanan yang sudah
tetap saja karena sumber daya yang terbatas.
Salah satu permasalahan produsen layang-layang ini adalah sumber daya
yang terbatas sehingga terkadang ada pesanan yang tidak terpenuhi selain itu
perubahan cuaca yang tidak pasti menyebabkan musim layang-layang tak menentu
membuat proses produksipun menjadi tak menentu. Selain itu kekurangan dari
produsen layang-layang ini adalah belum dibuatnya laporan keuangan, padahal
untuk usaha yang cukup besar tsb diperlukan laporan keuangan sebagai alat untuk
pengambilan keputusan atau melihat kondisi usahanya, belum adanya kontrak yang
jelas antara pembeli dengan produsen pada saat transaksi menjadi hal yang cukup
penting untuk diperbaiki.
8) Rancangan Tindak Lanjut;
Melihat dari permasalahan yang ada berdasarkan hasil capaian kegiatan
pada produsen layang-layang ini rancangan tindak lanjut yang dapat dilakukakn
adalah berupa program atau kegiatan penyuluhan mengenai bagaimana pentingnya
suatu laporan keuangan bagi suatu usaha dan bagaimana membuat laporan
keuangan yang baik sesuai standar selain itu pemaparan mengenai manajemen
sumber daya perlu dilakukan untuk mengasi permasalahan tsb. Maka dari itu
rancangan tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah kegiatan penyuluhan sistem
akuntansi dan manajemen sederhana bagi UMKM.

3.2.7 Kunjungan Pengrajin Senapan


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
24

1) Nama kegiatan;
Kunjungan ke Pengrajin Senapan di RT 01, RW 07 Desa Cipacing
Kecamatan Jatinangor-Sumedang.
2) Jenis kegiatan (pelatihan/demplot/workshop/penyuluhan/dll.);
Kunjungan atau lawatan disini bertujuan untuk melakukan wawancara.
Wawancara adalah suatu percakapan dengan tujuan tertentu, antara pewawancara
(yang mengajukan pertanyaan) dan diwawancarai (yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu). Dalam hal ini yang bertindak sebagai pewawancara adalah
mahasiswa KKN, sedangkan pihak yang diwawancarai adalah Ketua RT 01.
3) Tujuan dan Manfaat;
- Untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas dan kuantitas mata
pencaharian warga RT 01,
- Untuk menggali potensi dari sumber daya alam maupun sumber daya
manusia yang bisa dikembangkan di RT 01 agar tingkat kesejahteraan
warganya dapat meningkat.
4) Sasaran kegiatan;
- Bertemunya mahasiswa KKN dengan Ketua RT 01,
- Tergalinya informasi mengenai kualitas dan kuantitas mata pencaharian
warga RT 01,
- Dikembangkannya potensi sumber daya alam maupun sumber daya
manusia di RT 01 sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan warga.
5) Pihak-pihak yang terlibat (beserta perannya);
- Ketua RT 01 = Sebagai pihak yang diwawancarai atau pihak yang
memberikan jawaban atas pertanyaan oleh mahasiswa KKN,
- Mahasiswa KKN = Sebagai pihak yang melakukan kunjungan dan pihak
pewawancara atau pihak yang mengajukan pertanyaan kepada Ketua RT 01.
6) Proses pelaksanaan (uraikan prosesnya secara rinci): tahapan teknis
kegiatan
- Mahasiswa berkumpul di rumah Ketua RW 07,
- Melakukan perjalanan kunjungan ke rumah Ketua RT 01,
- Bertemunya mahasiswa KKN dengan Ketua RT 01,
25

- Melakukan perkenalan, dan meminta perizinan kegiatan KKN di wilayah


RT 01,
- Melakukan penggalian informasi mengenai kondisi dan mata pencaharian
warga, kondisi tempat pengrajin senapan, serta analisis potensi wilayah,
- Didapatnya informasi-informasi sesuai dengan tujuan yang dicanangkan di
awal kegiatan.
7) Hasil capaian kegiatan
- Bertemunya mahasiswa KKN dengan Pak Tasripin selaku Ketua RT 01,
- Ketua RT 01 secara lisan mengizinkan mahasiswa KKN untuk
melaksanakan kegiatan KKN di wilayah RT 01,
- Tergalinya informasi mengenai kualitas dan kuantitas mata pencaharian
warga RT 01, yang umumnya bekerja sebagai pedagang, pengrajin, dan
karyawan pabrik,
- Ditemukannya potensi wilayah RT 01, yaitu dapat dikembangkan sebagai
sentra pengrajin senapan dan pengrajin pisau dapur.
- Kerajinan senapan angin sudah menjadi kekhasan perekonomian warga
Desa Cipacing sejak sebelum tahun 1990. Senapan ini laku keras bahkan
banyak diminati turis yang berkunjung. Tujuan distribusi tidak hanya di
wilayah Jawa Barat, namun juga terjual hingga ke Jawa Tengah, Jawa
Timur, hingga Papua.
- Namun terdapat sebuah permasalahan yang dihadapi pengrajin senapan ini.
Krisis ekonomi yang terjadi pada 1997-1998 ternyata berdampak pada
keterpurukan para pengrajin senapan. Puncak penurunan produksi terjadi
pada tahun 2000-an, akibat meningkatnya angka kejahatan akibat
penyalahgunaan senapan untuk kegiatan kriminal. Hal ini jelas
mempengaruhi pendapatan para pengrajin, dan membuat citra Desa
Cipacing sebagai daerah penghasil kerajinan senapan berubah menjadi
buruk.
- Kini, hanya terdapat satu bengkel senapan di RW 07 milik Pak Tasripin,
Ketua RT 01. Kondisi bengkel senapannya sangat sederhana, memiliki lima
orang pekerja, dan hanya menerima orderan senapan secara online. Para
26

perajin senapan angin saat ini butuh pembinaan dan dan butuh modal. Maka
dari itu, diharapkan dinas terkait harus segera turun tangan untuk
menyelamatkan para perajin senapan angin di Desa Cipacing ini. Mungkin
salah satunya dengan cara membina seluruh perajin senapan dan diarahkan
untuk membentuk suatu koperasi.
8) Rancangan tindak lanjut hasil kegiatan.
Materi/Modul/Instrumen/Handout/kuesioner/dll. yang digunakan dalam
kegiatan-kegiatan tersebut dilampirkan.

3.2.8 Kunjungan Pengrajin Kursi


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Nama kegiatan;
Kunjungan Pengrajin Kursi Rw 07 Desa Cipacing
2) Jenis kegiatan (pelatihan/demplot/workshop/penyuluhan/dll.);
Kunjungan terhadap Pengrajin Kursi untuk mengetahui proses usaha,
kendala, dan keuntungan yang dimiliki melalui wawancara.
3) Tujuan dan Manfaat;
- Mengetahui proses usaha yang sudah berlangsung selama ini
- Mengetahui kendala yang dimiliki pengrajin
- Mengetahui keuntungan yang dimiliki pengrajin
- Mendapatkan informasi untuk membantu kendala yang dimiliki pengrajin
4) Sasaran kegiatan;
- Mengunjungi tempat Pengrajin Kursi
- Melakukan wawancara terhadap pengrajin
5) Pihak-pihak yang terlibat (beserta perannya);
- Pengrajin Kursi = sebagai pihak narasumber
- Mahasiswa = sebagai pihak yang menjalankan Kkn-m dan pihak yang
mewawancarai
27

6) Proses pelaksanaan (uraikan prosesnya secara rinci): tahapan teknis


kegiatan
- Mahasiswa mendatangi tempat Pengrajin Kursi di Rw 07 Desa Cipacing
- Dilakukan pengenalan antara pengrajin kursi dan mahasiswa
- Dilakukan wawancara oleh mahasiswa terhadap pengrajin kursi
- Mendapatkan informasi tentang proses usaha, kendala, keuntungan yamg
dimiliki pengrajin kursi
7) Hasil capaian kegiatan
Mahasiswa mendapatkan informasi untuk membantu pengrajin
menyelesaikan masalah dengan memberikan solusi atau pendapat
8) Rancangan tindak lanjut hasil kegiatan.
Data hasil wawancara

3.2.9 Kunjungan SLB (Sekolah Luar Biasa)


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Nama Kegiatan ;
Kunjungan SLB B-C RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinnagor-
Sumedang
2) Jenis kegiatan (pelatihan/demplot/workshop/penyuluhan/dll.);
Kunjungan merupakan proses kegiatan datang ke SLB untuk mengetahui
keadaan dan informasi yang terkait dengan SLB yang dikunjungi. Implementasinya
berupa kedatangan mahasiswa KKN-PM ke SLB-BC RW 07 Desa Cipacing
Jatinangor-Sumedang dan melakukan wawancara dengan pihak sekolah yaitu guru
yang berwenang serta anak-anak yang ada di sekolah.
3) Tujuan dan Manfaat;
- Mengetahui keadaan sebenarnya pada SLB – BC RW 07 Desa Cipacing.
- Mengetahui kelebihan atau prestasi-prestasi SLB – BC RW 07 Desa
Cipacing.
28

- Mengetahui kekurangan atau masalah yang dihadapi dalam SLB – BC RW


07 Desa Cipacing.
- Menjalin silaturahmi antara Universitas dengan masyarakat khususnya
SLB-BC RW 07 Desa Cipacing.
4) Sasaran kegiatan;
- Mahasiswa KKN-PM melakukan kunjungan ke SLB – BC RW 07 Desa
Cipacing.
- Mahasiswa KKN-PM bertemu dan melakukan wawancara terhadap pihak
sekolah.
- Mahasiswa KKN-PM Berinteraksi langsung dengan siswa SLB – BC RW
07 Desa Cipacing.
- Mahasiswa KKN-PM mengetahui kondisi langsung dan mendapatkan
informasi tentang SLB – BC RW 07 Desa Cipacing.
5) Pihak-pihak yang terlibat (beserta perannya);
- SLB – BC = Sebagai pihak yang di kunjungi dan di wawancarai dalam
program KKN terintegrasi PPM
- Dosen = Sebagai pihak yang menjadi pendamping kegiatan KKN
terintegrasi PPM
- Mahasiswa = Sebagai pihak yang menjalankan program KKN yang
terintegrasi PPM
6) Proses pelaksanaan (uraikan prosesnya secara rinci): tahapan teknis
kegiatan
- Berkumpulnya mahasiswa di secretariat RW 07 Desa Cipacing
- dilakukan koordinasi antar mahasiswa mengenai pelaksanaan kunjungan ini
berdasarkan pengarahan dari PJ kegiatan.
- Bertemunya mahasiswa KKN terintegrasi PPM dengan pihak SLB – BC
RW 07 Desa Cipacing Jatinnagor-Sumedang.
7) Hasil capaian kegiatan
- Adanya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ini
- Mendapatkann informasi terkait SLB – BC RW 07 Desa Cipacing
Jatinnagor-Sumedang.
29

3.2.10 Kunjungan RT
Kegiatan kami dalam kunjungan RT yaitu kami berkunjung langsung ke
tempat kediaman ketua RT setempat dengan maksud untuk memperkenalkan diri
dan meminta izin kepada ketua RT setempat untuk melaksanakan kegiatan KKN.
Selain hal itu, kegiatan kunjungan kami juga bermaksud menganalisa langsung
masalah dan potensi yang ada di masing-masing RT. Terdapat banyak ragam
potensi dan juga masalah yang terdapat pada RT masing masing. Potensi sendiri
yang berada di RW 07 Desa Cipacing di setiap RT nya adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Potensi RW 07
RT Potensi
- Pengrajin Senapan
RT 01
- Pengrajin Pisau Dapur
- Pengrajin Pisau
RT 02
- Penghasil roti
RT 03 - Penghasil Layang-layang
RT 04 - Pengrajin Pisau (Bos)
RT 05
RT 06 - Pengrajin Kursi

Selain potensi yang dimiliki di setiap RT di atas, terdapat masalah di setiap


RT masing masing, seperti kurangnya fasilitas umum yang tersedia di masing-
masing RT (Fasilitas kesehatan, Fasilitas Olahraga, fasilitas kesenian dll), fasilitas
ini di anggap penting karena minat dariwarga yang begitu tinggi terhadap olahraga
dan kesenian. Selain fasilitas, pengetahuan tentang pengelolaan sampah yang masih
kurang dan masih mengandalkan pemerintah sebagai solusi pengelolaannya.
Pengelolaan sampah ini sangat penting karena merupakan sumber penyakit yang
bisa menjadi penyebab menurun atau buruknya kesehatan warga setempat.
Kesehatan yang dinilai sangat penting untuk masayarakat sekitar juga menjadi
masalah di beberapa RT yang belum memiliki klinik sendiri dan masih bergabung
dengan klinik dari RT yang lain. Meskipun keberadaan jumlah klinik masih di
30

anggap tidak terlalu berpengaruh signifikan, tetapi sangat dianjurkan setiap RT


memiliki klinik terdekat atau posyandu.

3.2.11 Evaluasi Sistem Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal


Kegiatan evaluasi budidaya ikan lele merupakan tindak lanjut dari hasil
kegiatan budidaya ikan lele di rw 07 desa Cipacing berdasarkan topik pengabdian
pada masyarakat dari dosen pembingbing lapangan. Kegiatan dilakukan guna
mengetahui faktor yang mempengaruhi kegagalan yang terjjadi pada kegiatan
budidaya. Kegiatan diharapkan dapat memperbaiki kegagalan bagi pembudidaya.
Diamati beberapa parameter yang akan dijadikan sebagai dasar evaluasi, Adapun
parameter yang dilihat diantaranya sebagai berikut :

Tabel 3. Data Cek Kualitas Air Kolam Budidaya Terpal Ikan Lele
Parameter Nilai Kolam Kolam Kolam Kolam Kolam
Kualitas Air SNI 1 2 3 4 5
Suhu (oC) 25-30 - - - - -
Ph 6,5 – 7 6 8 8 7
8,6
Oksigen (mg/L) >3 3,1 7,5 6,4 6,9 4,7
mg/L
Amonia (mg/L) < 0,3 0,014 0,014 0,013 0,013 0,014

Selain dari pada itu, yang dijadikan dasar evaluasi adalah asumsi dari para
pembudidaya. Pada hasil dari tabel tersebut terlihat bahwa kondisi pada setiap
kolam sangat baik berdasarkan perbandingan dengan standarisasi yag ada (SNI),
hal tersebut karena pada saat pengamatan dilakukan pada kondisi yang baik.
Asumsi dari pembudidaya beragam diantaranya kesalahan pada saat aklimatisasi,
ukuran ikan, cuaca, dan lain-lain.

3.2.12 Evaluasi Pembudidaya Ikan Lele di Kolam Terpal


Pada bagian ini disajikan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan program PPM yang diinisiasi oleh dosen
(DPL). Laporan pelaksanaan masing-masing kegiatan (jika lebih dari 1) meliputi
aspek-aspek:
1) Nama kegiatan;
31

Sosialisasi Evaluasi Pembudidaya Ikan Lele Rw 07 Desa Cipacing


2) Jenis kegiatan (pelatihan/demplot/workshop/penyuluhan/dll.);
Penyuluhan (extension approach) berupa proses pembelajaran bagi
masyarakat. Implementasinya berupa fasilitasi pertemuan masyarakat yang
membudidayakan ikan lele di pekarangan rumahnya, melakukan pendampingan
atas apa yang sudad direncanakan khususnya berkaitan dengan pengelolaan ikan
lele, serta melakukan internalisasi diantara pembudidaya ikan lele.
3) Tujuan dan Manfaat;
- Agar masyarakat mampu dan mau menolong serta mengorganisasikan
dirinya dalam mengakses sumber daya yang ada, baik berupa informasi,
teknologi, modal, dan lainnya
- Membantu masyarakat meningkatkan atau menguatkan kreatifitas dan
keinovatifannya dalam pengelolaan ikan lele
- Membantu masyarakat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahanya
- Membantu masyarakat meningkatkan pekerjaan dan pendapatannya
- Membantu masyarakat meningkatkan sosial budaya dan kelembagaannya
- Membantu masyarakat meningkatkan kesadaran dan aksinya dalam
pelestarian fungsi lingkungan hidup
- Membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaannya
4) Sasaran kegiatan;
- Hadirnya perwakilan masyarakat yang membudidaya ikan lele di
pekarangan rumahnya
- Dilaksanakannya evaluasi bersama-sama mengenai program budidaya ikan
lele yang sudah dilaksanakan
- Ditemukannya solusi atas kekurangan dari evaluasi yang sudah dilakukan
5) Pihak-pihak yang terlibat (beserta perannya);
- Masyarakat = Sebagai pihak yang menjadi pembudidaya ikan lele di RW 07
Desa Cipacing
- Dosen = Sebagai pihak yang menjadi pendamping kegian KKN terintegrasi
PPM
32

- Mahasiswa = Sebagai pihak yang menjalankan program KKN yang


terintegrasi PPM
6) Proses pelaksanaan (uraikan prosesnya secara rinci): tahapan teknis
kegiatan
- Berkumpulnya mahasiswa di secretariat RW 07 Desa Cipacing
- Dilakukan koordinasi antar mahasiswa mengenai pelaksanaan sosialisasi ini
berdasarkan pengarahan dari dosen pendamping kegiatan KKN terintegrasi
PPM
- Bertemunya mahasiswa dengan Bapak RW 07 selakuperwakilan masyrakat
setempat
- Adanya kesepakatan mengenai waktu dan teknis kegiatan yang akan
dilaksanakan
1. Hasil capaian kegiatan
- Adanya pihak-pihak yang terlibat pada kegiatan ini
- Adanya kesepakatan diantara dosen, mahasiswa, dan warga setempat
berkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan
2. Rancangan tindak lanjut hasil kegiatan.
Materi/Modul/Instrumen/Handout/kuesioner/dll. yang digunakan dalam
kegiatan-kegiatan tersebut dilampirkan.
33

3.3 Output Kegiatan


Berikut adalah output kegiatan KKNM-PPM Integratif 2018.
Tabel 4. Matriks Output Kegiatan
Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat
Kegiatan
Ari Zakaria Al- 120110140021 PKM (Pengabdian Penerapan laporan keuangan Laporan keuangan membantu kita sebagai pengusaha
anshori Kepada yang baik terhadap catatan dalam menjalankan usahanya, selain memudahkan
Masyarakat) keuangan dalam usaha dalam mencatat pengeluaran dan pemasukan, laporan
budidaya ikan lele dan usaha keuangan juga membantu mengurangi resiko-resiko
lainnya. seperti kesalahan dalam perhitungan. Dengan laporan
keuangan yang baik juga kita dapat memperhitungkan
segala sesuatu yang berhubungan dengan keuntungan
dan pengeluaran yang di lakukan. Laporan keuangan ini
akan sangat berguna jika diterapkan di RW 07 Desa
Cipacing, banyak warga yang memiliki usaha yang
sudah besar tetapi belum memiliki laporan keuangan
yang baik, salah satunya adalah usaha budidaya ikan
34

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
lele. Dengan laporan keuangan juga membantu warga
agar bisa melakukan budgeting terhadap usahanya,
seperti alokasi biaya untuk beban dll.

Aep Pudin 120110150071 PL Sosialisasi pengembangan Sosialisasi ini merupakan rancangan rindak lanjut dari
budidaya ikan lele di desa hasil KKN – PPM yang memanfaatkan pekarangan
cipacing rw 07 menjadi unit rumah untuk membudiadayakan ikal lele dalam skala
usaha dengan sistem rumah tangga untuk dikonsumsi. Dari hasil ini dapat
permodalan peer to peer dikembangkan budidaya ikan lele yang tadinya hanya
untuk dikonsumsi bisa menjadi sebuah unit usaha kecil
menengah dengan melalui pengembangan modal
melalui sistem peer to peer. Permodalan dengan sistem
peer to peer ini merangkul unit usaha yang unbankable
dimana unit usahanya yang masih kecil dan tidak punya
penjamin dalam meminjam modalnya. Sistem peer to
35

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
peer cocok untuk pengembangan budiaya ini dengan
skala yang masih kecil namun meliliki prospek bisnis
yang cukup baik, berkembangnya fintech juga
memudahkan para peminjam menemukan platform
permodalan ini. Diharapkan dengan diadakannya
sosialisasi ini para pembudidaya tertarik untuk
mengembangkan budidayanya agar dapat membantu
kemandirian ekonomi masyarakatnya.
Kgs Muhammad 150510150211 PL Sistem Budidaya Teknologi Vertiminaponik merupakan model akuaponik
Ferliansyah
Vertiminaponik: mini yang mengintegrasikan komponen budidaya ikan
Pemanfaatan Pekarangan dan hortikultura pada lahan yang terbatas secara
Rumah sebagai Media bersamaan. Pengelolaan kualitas air secara
Pemenuhan Kebutuhan konvensional telah dilakukan dengan pergantian air
Pangan Skala Rumah budidaya secara berkala, namun hal tersebut dirasa
Tangga. kurang efisien karena membutuhkan air yang cukup
36

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
banyak. Teknologi ini merupakan salah satu solusi
untuk mengoptimalkan program budidaya ikan lele di
RW. 07 karena teknologi ini memanfaatkan prinsip
resirkulasi dimana air kolam akan disaring melalui
media tanaman yang secara terus-menerus akan
mengembalikkan air ke kolam dalam keadaan bersih
dan layak untuk budidaya ikan lele. Selain dapat
meningkatkan hasil budidaya ikan lele, sistem budidaya
ini juga akan menghasilkan output pertanian berupa
produk hortikultura. Selain itu, sistem budidaya
vertiminaponik memiliki nilai estetika yang tinggi
sehingga dapat menambah daya tarik pekarangan
rumah.
Gilang Dio Maldini 150510150267 Pengabdian Kepada Penyuluhan Pemanfaatan Budidaya ikan lele menggunakan kolam terpal di
Masyarakat (PKM) Kotoran dan Sisa Pakan Ikan pekarangan rumah di beberapa rumah warga RW 07
37

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
Lele sebagai Pupuk Organik Desa Cipacing memang lebih menguntungkan dan jauh
untuk Meningkatkan lebih efisien pemeliharaannya, jika dibandingkan
Pertumbuhan Tanaman di budidaya ikan lele di kolam tanah. Namun pada
Sekeliling Kolam Terpal. praktiknya, ada hal lain yang bisa dimanfaatkan. Air
kolam yang dibuang untuk diganti yang dilakukan dua
kali seminggu, dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
organik. Hal ini memanfaatkan kotoran ikan dan sisa
pakan ikan yang tercampur dalam air yang akan
dibuang, sebagai nutrisi tanaman. Dengan hal ini
diharapkan dapat memberikan keuntungan lain di
samping budidaya ikan lele yang dilakukan.
Hadrian Reyhandita 170110150015 Praktikum Pembentukan Organisasi Budidaya Ikan Lele di RW 07 Desa Cipacing
Sebagai Bentuk Pengelolaan mendapatkan tanggapan sangat positif dari warga
Budidaya Ikan Lele yang setempat. Dengan program ini masyarakat mampu
sistematis dan Terencana berkontribusi aktif dalam mengembangkan desanya
38

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
dengan cara yang relatif sederhana. Akan tetapi, untuk
pada tahap ini pengelolaan budidaya ikan lele belum
terintegrasi dengan optimal dan masih bergerak masing-
masing, sehingga perkembangan dan pemahaman
diantara masing-masing pembudidaya masih belum
seimang. diharapkan dengan adanya praktikum ini
mampu menciptakan solusi dari permaslahan ini dan
pada akhirnya mampu menciptakan dampak positif bagi
masyarakatnya seperti pembudidayaan ikan lele daerah
ini bisa meningkat secara kualitas dan kuantitas, adanya
internalisasi diantara masyarakat setempat pada
umumnya dan antara pembudidaya ikan lele khususnya,
terpicu anak-anak muda yang bisa memimpin organisasi
serta semakin peduli terhadap lingkungan sekitar
39

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
Tessa Gustriana 170610150001 Pengabdian Kepada Pelatihan pembuatan Budidaya ikan lele yang dilakukan oleh masyarakat RW
Masyarakat (PKM) business plan usaha ternak 07 desa Cipacing Kecamatan Jatinangor-Sumedang
lele sebagai upaya untuk tidak hanya bermanfaat untuk memenuhi protein hewani
meningkatkan taraf hidup bagi keluarga tetapi disamping itu memiliki manfaat lain
masyarakat. yaitu menambah pendapatan tambahan bagi keluarga
apabila dapat dikelola dengan baik dan dijadikan usaha
ternak lele. Manfaat ini akan dapat dirasakan maksimal
dengan adanya rencana bisnis yang sudah dibuat dengan
baik dan benar. Oleh karena itu perlu adanya pelatihan
tentang pembuatan bisnis plan yang baik danbener
untuk masyarakat agar masyarakat mengetahui apa itu
rencana bisnis, manfaat, dan vara membuat rencana
bisnsi guna untuk membuat usaha ternak lele yang dapat
memberikan pendapatan tambahan bagi keluarga.
40

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
Syafriana Makkah 170610150011 Pengabdian Kepada Pembuatan Blog guna Desa Cipacing memiliki berbagai potensi didalamnya
Hardina Masyarakat (PKM) meningkatkan pemasaran seperti pembudidayaan ikan lele melalui terpal yang
RW 07 Desa Cipacing dan masih jarang digunakan oleh masyarakat guna
sekitarnya. memanfaatkan pekarangan yang dimiliki warga,
pengrajin senapan, pengrajin layang-layang, pengrajin
kursi, pengrajin pisau, dan potensi lainnya. Dengan
adanya blog akan memudahkan warga Cipacing untuk
melakukan pemasaran dan meningkatkan penjualan
untuk para pengrajin.
Satria Galuh 230110150135 Sosialisasi Peningkatan Kemampuan Peningkatan gizi masyarakat merupakan usaha dalam
Dwitama Budidaya Ikan Lele Masyarakat RW 07 Desa meningkatkan kualitas hidp dari masyarakat.
Cipacing dalam Pengelolaan Peningkatan gizi dapat dilakukan salah satunya yaitu
Budidaya Ikan Lele yang dengan cara mengkonsumsi ikan lele yang memiliki
Baik Berdasarkan Azas protein yang cukup tinggi sehingga baik untuk gizi
Budidaya yang Berlaku masyarakat. Kebutuhan lele untuk peningkatan gizi
41

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
Berlandaskan Standar masyarakat harus ditunjangan ketersediaan dan kualitas
Nasional Indonesia Sehingga stock ikan lele yang mencukupi. Maka dari iu,
Menghasilkan Ikan Lele diperlukan kemampuan budidaya ikan lele pada
yang Unggul masyarakat RW 07 desa Cipacing guna memenuhi
kebutuhan terhadap ikan lele untuk menunjang kegiatan
peningkatan gizi masyarakat RW 07 desa Cipacing.
Gita Endang Palufi 230110150172 Pengabdian Kepada Sosialisasi dan Pelatihan Adanya kegiatan budidaya ikan lele di pekarangan
Masyarakat (PKM) Pengolahan Hasil Perikanan rumah dapat memberikan beberapa manfaat. Selain
Budidaya Ikan Lele dalam dapat dijual ke orang lain, hasil perikanan tersebut dapat
Pemanfaatan Pekarangan dikonsumsi untuk diri sendiri atau untuk keluarga. Pada
Rumah dan Peningkatan zaman ini, inovasi dari hasil perikanan sudah sangat
Konsumsi Protein Hewani banyak yang mana inovasi ini dapat juga dikonsumsi
serta Inovasi di RW 07, Desa sendiri bahkan dijual dengan nilai ekonomis yang lebih
Cipacing. tinggi dibanding menjual ikan dalam bentuk aslinya.
Sosialisasi ini ditujukan untuk para ibu-ibu yang berada
42

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
di RW 07 dengan tujuan agar memiliki kesadaran yang
tinggi akan inovasi yang memiliki harga jual tinggi.
Selain itu diadakan pengolahan hasil perikanan dari ikan
lele yang akan dipanen nanti. Hasil olahan ini dapat
berupa nugget ikan, abon ikan, kerupuk kulit ikan dan
lain-lain.
Rifqi Ramdani 230110150230 Praktikum Penyuluhan Mengenai Budidaya Ikan Lele di RW 07 Desa Cipacing
Kualitas Air yang Baik Untuk mendapatkan tanggapan sangat positif dari warga
Budidaya Ikan Lele dan setempat. Dengan program ini masyarakat mampu
Pembelajaran Penggunaan berkontribusi aktif dalam mengembangkan desanya
Alat-alat Pengukur Kualitas dengan cara yang relatif sederhana. Akan tetapi sejauh
Air untuk Meningkatkan ini masih banyak masalah-masalah yang banyak
Kemampuan Masyarakat menyebabkan kematian ikan, salah satu contohnya
serta Meningkatkan yakni menjaga kualitas air yang digunakan pada kolam
Keberhasilan Kegiatan terpal. Diharapkan dengan adanya penyuluhan serta
43

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
Budidaya Ikan Lele di RW 07 kegiatan ini mampu menciptakan solusi dari
Desa Cipacing, Jatinangor. permaslahan ini dan pada akhirnya meningkatkan
kegiatan budidaya ikan lele serta menunjang
keberhasilan hidup ikan lele dan dampak positif bagi
masyarakatnya seperti pembudidayaan ikan lele daerah
ini bisa meningkat secara kualitas dan kuantitas.
Ilham Azhari 230210150038 Penelitian Upaya Untuk Mewujudkan Percobaan budidaya lele pada kolam terpal di RW 07
Firdaus Keberhasilan Budidaya Ikan Desa Cipacing telah dilakukan selama ± 3 bulan. Dari
Lele Pada Kolam Terpal di percobaan tersebut dapat dianalisis faktor-faktor
RW 07 Desa Cipacing, keberhasilan budidaya lele di RW 07 sebagai bahan
Jatinangor Sumedang. acuan untuk budidaya lele selanjutnya. Sebelumnya
keunggulan dari budidaya ikan lele di kolam terpal ini
adalah pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di
pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang
digunakan berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau
44

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi lebih produktif.
Pada awalnya budidaya ikan lele di Desa Cipacing ini
cenderung lancar, tingkat mortalitas pada minggu
pertama berkisar antara 2,5%-5,0% atau 20-50 dari 2000
bibit ikan lele. Yang menjadi masalah bagi warga Desa
Cipacing untuk budidaya lele adalah presipitasi (curah
hujan). Karena curah hujan tersebut banyak ikan lele
yang mati. Tingkat mortalitas ikan lele pada saat turun
hujan berkisar antara 25%-100%. Karena jika tingkat
presipitasi tinggi maka akan menimbulkan banyak
penyakit pada lele, karena tingkat keasaman yang tinggi
(pH). Dalam posisi tingkat keasaman yang tinggi ikan
lele akan lemah dan nafsu makan berkurang, ini akan
mengakibatkan lele gampang sekali terserang penyakit,
biasanya penyakit yang menyerang adalah jamur dan
45

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
akan menimbulkan tingkat mortalitas yang tinggi bagi
ikan lele. Antisipasi untuk mengatasi masalah ini adalah
dengan menggunakan penutup atau atap. Tetapi penutup
yang digunakan harus transparan dengan tujuan agar
sinar matahari tetap masuk, karena dalam budidaya ikan
lele jika tanpa sinar matahari ikan tidak akan
berkembang dengan maksimal. Hal-hal lain yang harus
diperhatikan untuk keberhasilan budidaya ikan lele di
kolam terpal meliputi: pembuatan konstruksi kolam,
penebaran benih, pengaturan kualitas air, pengaturan
kedalaman air, tingkat kejernihan air, pemberian pakan,
pengendalian hama dan penyakit serta panen
Laila Irvina 230210150060 Pengabdian Kepada Penyuluhan Pemisahan Laut dan pesisir sangat dipengaruhi oleh kegiatan yaang
Pramudito Masyarakat (PKM) Sampah Rumah Tangga dilakukan di wilayah daratan. Pengelolaan laut dan
pesisir harus terintegrasi dengan pengelolaan wilayah
46

Nama NPM Tindak Lanjut Tema Deskripsi Singkat


Kegiatan
daratan karena permasalahan di lautan seringkali
berakar dari kegiatan manusia di daratan. Upaya
mengatasi hal ini tidak bisa hanya dilakukan oleh
pemerintah, namun oleh seluruh lapisan masyarakat.
Diawali dengan kesadaran masyarakat mengenai
lingkungannya dan dapat ditindak lanjuti dengan
kiegiatan pemilahan sampah. Pentingnya dilakukan hal
ini karena dari hasil pengamatan, masyarakat belum
peduli dengan dampak besar yang mengintai di
kemudian hari dari kurangnya kesadaran terhadap
lingkungan.
47

BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 Simpulan
Setelah melaksanakan program KKN-PPM di RW 07 Desa Cipacing dapat
dilihat bahwa desa ini memiliki banyak potensi untuk dikembangkan mulai dari
sektor kerajinan maupun dari sektor lain. Oleh karena itu untuk melihat dan
mengembangkan sektor-sektor tersebut tim KKN-PPM di RW 07 Desa Cipacing
membuat cukup banyak program selain dari program utama yaitu program
pemanfaatan pekarangan rumah sebagai penyedia protein hewani dalam skala
rumah tangga untuk meningkatkan kesadaran gizi masyarakat di RW 07 Desa
Cipacing. Program utama dari KKN-PPM ini adalah pemanfaatan pekarangan
rumah untuk pembuatan budidaya ikan lele untuk dikonsumsi, program ini
bertujuan untuk meningktkan gizi maysarakat di RW 07 dengan memanfaatkan
pekarangan rumahnya untuk membuat kolam budidaya ikan lele yang nantinya ikan
lele tersebut dapat dikonsumsi. Pada program ini dibuat kolam-kolam yang terbuat
dari terpal yang letaknya berada dipekarangan rumah warga yang sudah dipilih
terlebih dahulu, kemudian kolam ini di isi bibit ikan lele yang nantinya diserahkan
ke warga untuk dirawat, dengan memberi pakan dan mengganti air kolam tsb
sampai panen dan dapat dikonsumsi . Selain program utama tsb program lainya
dibuat agar dapat mengatasi permasalahan dan menggali potensi di desa ini.
Program-program tersebut berupa program sosialisasi dan observasi kelapangan,
untuk program-program sosialisasi, seperti program sosialisasi untuk anak yaitu
GEMARI dan GEMARU, GEMARI atau gemar makan ikan merupakan program
yang dibuat untuk mengatasi masalah kurang tertariknya anak-anak terhadap makan
ikan, dengan dibuatnya program ini disosialisasikan mengenai manfaat makan ikan
dan pengenalan produk olahan ikan yang menarik kepada anak-anak. Sedangkan
GEMARU merupakan akronim dari gemar membaca buku yaitu sosialisasi kepada
anak-anak mengenai pentingnya membaca buku dan memaparkan bahwa membaca
buku itu seru, hal ini agar anak-anak tertarik untuk membaca buku. Selain sasaran
anak-anak program yang dibuat juga ada yang sasarannya untuk ibu-ibu yaitu

47
48

program sosialisasi sampah program ini bertujuan mengatasi permasalahan sampah


di RW 07 dengan mensosialisasikan mengenai jenis-jenis sampah permasalahan
yang timbul karena sampah dan bagaimana cara menanggulangi sampah tsb. Selain
program sosialisasi-sosialisasi tersebut ada juga program kunjungan atau observasi
ke pengrajin-pengrajin di desa cipacing RW 07 seperti pengrajin layang-layang,
senapan, kursi, pisau dan juga pabrik pembuatan roti, program ini bertujuan untuk
menggali informasi mengenai peluang dan ancaman usaha-usaha yang ada di RW
07 ini. Dengan berbagai potensi di RW 07 Desa Cipacing ini maka sangat mungkin
jika potensi tsb dikembangkan dengan baik akan menjadikan desa ini menjadi desa
yang maju dan mandiri dengan begitu pemenuhan kebutuhan pangan yang bergizi
bagi masyarakat akan dapat terpenuhi dan kesejahteraan menjadi merata.

4.2 Rekomendasi
Desa merupakan ranah bermasyarakat yang sangat kompleks, maka dari itu
semua unsur yang terdapat di dalamnya terhitung sangat penting. Kegiatan
pembudidayaan ikan lele menjadi salah satu kegiatan yang baik guna meningkatkan
produktivitas yang berjalan di RW 07 Desa Cipacing. Dengan adanya kegiatan
tersebut maka warga dapat memanfaatkan area pekarangan rumah, melalui
pelatihan dan bimbingannyang rutin dan baik maka para warga dapat merubah
pembudidayaan tersebut menjadi salah sayu lahan usaha yang berpotensi untuk
kedepannya. Pembentukan kelompok pembudidaya ikan lele secara sistematis akan
membantu para pembudidaya dalam mengawasi kolam terpal yang ada, maka
lesulitan dari masing – masing pembudidaya akan teratasi. Selain itu pembuatan
guide book dan buku catatan untuk para pembudidaya yang diharapkan akan
membantu dalam masalah jadwal pemberian makan, pergantian air, jumlah lele
yang mati dan lain sebagainya, akan membantu para pembudidaya untuk
mengontrol kolam terpa. Dengan meminimalisir kesalahan yang dilakukan maka
diharapkan para pembudidaya ikan lele dapat merasakan dampak yang baik.
Selain Budidaya ikan lele Yang terdapat pada RW 07, Desa Cipacing juga
memiliki segudang potensi dalam hal kerajinan seperti layang-layang, pistol, pisau,
kursi, dll. Potensi yang dimiliki sangat bagus tetapi terkadang para pengrajin belum
49

bisa memanfaatkan media saat ini untuk melakukan pemasaran terhadap kerajinan
yang mereka miliki. Dengan pemasaran yang baik maka masyarakat akan memiliki
cara pandang yanh berbeda terhadap Desa Cipacing dan dapat meningkatkan
masing-masing pendapatan para pengrajin. Pembuatan blog tengang Desa Cipacing
yang didalamnya terdapat berbagai potensi yang dimiliki Desa Cipacing akan
mempermudah dalam masalah pemasaran dan pengenalan Desa Cipacing terhadap
masyarakat.
50

DAFTAR PUSTAKA

Andrianyta, H., M. Mardiharini. 2015. Sosial Ekonomi Pekarangan Berbasis


Kawasan di Perdesaan an Perkotaan Tiga Provinsi di Indonesia. Balai
Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.

Anonim. 2013. Paket Keahlian: Budidaya Ikan Teknik Pembenihan Ikan.


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Anonim. 1992. Pedoman teknik pembenihan ikan lele ( Clarias batrachus). Jakarta:
badan penelitian dan pengembangan pertanian pusat penelitian dan
pengembangan perikanan, Departemen Pertanian

Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.

Farida, Annisa Nur. 2013. 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Kompasiana. Diakses dari
https://www.kompasiana.com/annisa.tekkimits/3r-reduce-reuse-
recycle_5528c8b6f17e6143088b45a4%2018.07 pada 14 Januari 2018
pukul 20.12.

Khairuman, T. S. dan K. Amri. 2008. Budidaya Lele Dumbo di Kolam Terpal. PT.
Agrimedia Pustaka. Jakarta. Hal 14

Kordi, K. M. G. H. 2010. Budidaya ikan lele di kolam terpal. Andi. Yogyakarta.


Hal. 1-22

Mahyudi, Kholis, S.Pi, MM. Pengajuan Lengkap Agribisnis Lele. Jakarta : Penebar
Swadaya. 2004

Mudjiman, A. 2004. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta

Nugroho, R. A., L. T. Pambudi, D. Chilmawati, dan A. H. C. Haditomo. 2012.


Aplikasi Teknologi Aquaponic pada Budidaya Ikan Air Tawar untuk
Optimalisasi Kapasitas Produksi. Jurnal Saintek Perikanan 8(1): 46-50

Post, Jan C. dan Carl G. Lundin. 1996. Guidelines For Integrated Coastal Zone
Management. USA: The International Bank for Reconstruction and
Development/The World Bank.

Rokhmah, N. A., C. S. Ammatillah, Y. Sastro. 2014. Vertiminaponik, Mini


Akuaponik untuk Lahan Sempit di Perkotaan. Buletin Pertanian Perkotaan
4(2): 14-22.

Sastro, Y. 2013. Vertiminaponik : Cara Baru Berbudidaya Sayuran dan Ikan. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta.

50
51

Siregar, H. R., Sumono, S. B. Daulay, E. Susanto. 2013. Efisiensi Saluran Pembawa


Air dan Kualitas Penyaringan Air dengan Tanaman Mentimun dan
Kangkung pada Budidaya Ikan Gurami Berbasis Teknologi Akuaponik.
J.Rekayasa Pangan dan Pert., 3(3): 60-66.

Susanto, Heru. 2004. Budidaya Ikan di Perkarangan. Penebar Swadaya, Jakarta


Yudistirani, Sri Anastasia, Lailan Syaufina, dan Sri Mulatsih. 2015. Desain Sistem
Pengelolaan Sampah Melalui Pemilahan Sampah Organik Dan
Anorganik Berdasarkan Persepsi Ibu - Ibu Rumah Tangga. Thesis IPB.
52

LAMPIRAN

51
53

Lampiran 1. Kegiatan KKNM-PPM Integratif

Survei RW 7 Desa Cipacing Survei RW 7 Desa Cipacing

Perkenalan dan Survei RT 01 Perkenalan dan Survei RT 01

Perkenalan dan Survei RT 02 Perkenalan dan Survei RT 02

Perkenalan dan Survei RT 4-5 Perkenalan dan Survei RT 4-5


54

Perkenalan dan Survei RT 06 Perkenalan dan Survei RT 06

Pembuatan Timeline Fiksasi Kegiatan

Istirahat sambil minum es kelapa Membantu Kegiatan Masyarakat

Penutupan OKK Penutupan OKK


55

Kunjungan Pabrik Roti Kujungan Pabrik Roti

Acara Gemaru Acara Gemaru

Acara Gemari Acara Gemari

Evaluasi Budidaya Evaluasi Budidaya


56

Sosialisasi Mengenai Sampah Sosialisasi Mengenai Sampah

Posyandu Posyandu

Kunjungan Pabrik Layang-Layang Kunjungan Pabrik Layang-Layang

Kunjungan Pengrajin Pisau Kunjungan Pengrajin Pisau


57

Kunjungan ke SLB Kunjungan ke SLB

Sosialisasi Evaluasi Budidaya Sosialisasi Evaluasi Budidaya

Penyerahan Terpal Penyerahan Terpal

Kunjungan Pengrajin Kursi Kunjungan Pengrajin Kursi


58

Lomba Mewarnai Lomba Mewarnai

Penyerahan Plakat
59

Lampiran 2. TOR (Term of Refference) Rencana Tindak Lanjut Program


1. Ari Zakaria Al Anshori (Akuntansi)
Nama : Ari Zakaria Al-anshori
NPM : 120110140021
Tindak Lanjut Kegiatan : Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
Nama Kegiatan : Sosialiasi Penerapan Laporan Keuangan Yang
Baik Terhadap Catatan Keuangan Budidaya Ikan Lele Dan Setiap Usaha Di Rw
07 Desa Cipacing
Pendahuluan : Laporan keuangan adalah salah satu hal terpenting
untuk menjaga bisnis tetap berjalan dengan baik. Sebuah laporan yang tidak rapi
atau tidak konstan akan memberikan beberapa masalah yang mungkin bisa
membuat bisnis Anda terkena masalah besar terkait pelaporan maupun kebocoran
aset yang sangat merugikan.
Laporan keuangan pada dasarnya hanya digunakan oleh beberapa pihak
yang berkepentingan. Tidak semua orang diperbolehkan untuk menggunakan
laporan keuangan sebuah perusahaan. Laporan keuangan bukan hanya berguna
untuk pengusaha ataupun bisnis, tapi ada beberapa pihak yang bisa mendapatkan
keutungan dari sebuah laporan keuangan, seperti:
Pemasok atau supplier juga berhak mengetahui laporan keuangan
perusahaan Anda, terutama jika Anda membeli barang dengan sistem kredit atau
tidak langsung dibayar tunai. Dengan informasi yang disajikan pada laporan
tersebut, supplier bisa mengambil keputusan apakah perusahaan Anda memiliki
kemampuan membayar tagihan sesuai nominal yang tertera atau tidak. Jika
perusahaan dinilai tidak mampu, supplier akan menolak kerja sama dengan
perusahaan atau dapat mengajukan negosiasi dalam kerja sama tersebut.
Manajemen perusahaaan adalah orang terpenting yang sangat
membutuhkan laporan keuangan. Dengan mengetahui laporan keuangan
perusahaan, pihak manajeman dapat mengetahui dan memastikan bahwa semua
proses telah berjalan dengan baik. Laporan keuangan ini juga dapat menjadi acuan
dalam mendukung aspek perencanaan bisnis di masa akan datang.
60

Setiap bisnis yang terlapor akan memiliki kewajiban terhadap pemerintah


untuk membayar pajak. Besaran pajak yang dibayarkan akan sesuai dengan besaran
angka yang tertulis dari laporan keuangan yang dimiliki oleh bisnis. Semakin awal
merapikan dan membuat laporan keuangan, Anda akan terhindar dari masalah
penting terkait kewajiban pajak seperti penggelapan pajak yang akan terkait
masalah hukum atau pengurangan pajak tertanggung yang justru akan memberi
keuntungan bagi bisnis.
Pelanggan yang terikat perjanjian kerja sama untuk memasarkan produk
Anda juga berhak mengetahui laporan keuangan perusahaan. Mereka berhak tahu
kelangsungan bisnis, terutama jika mereka terkait dengan perjanjian jangka panjang
dengan bisnis Anda. Laporan keuangan yang baik akan menunjukkan riwayat bisnis
yang baik sehingga akan meyakinkan pelanggan untuk mengambil sebuah
kesepakatan kerjasama.
Karyawan biasanya ingin mengetahui laporan keuangan yang dimiliki
perusahaan terkait dengan kemampuan gaji yang bisa dibayarkan perusahaan
kepada mereka. Laporan keuangan yang baik akan membantu pihak perusahaan
untuk bekerjasama dengan karyawan terkait pembayaran di masa-masa sulit bisnis
Anda.
Sebuah perusahaan bisa memberi pengaruh terhadap masyarakat dalam
beberapa cara. Misalnya jumlah orang yang menjadi pekerja di perusahaan dan
perlindungan untuk penanam modal dalam negeri. Informasi keuangan perusahaan
yang baik dapat membantu masyarakat menyediakan info atau tren perkembangan
terakhir tentang rangkaian aktivitas perusahaan.
Selain menguntungkan beberapa pihak di atas. Laporan keuangan juga dapat
memberikan keuntungan bagi Anda sebagai pengusaha dan juga untuk perusahaan
Anda sendiri, salah satunya adalah melindungi aset perusahaan dari kebocoran
maupun kecurangan.
Maksud dan Tujuan : Maksud dan tujuan dibuatnya program ini adalah
untuk memperkenalkan kepada para pembudidaya ikan lele dan pengusaha yang
ada di RW 07 desa Cipacing pencatatan laporan keuangan yang baik yang dapat
membantu mengembankan budidaya ikan lele mereka yang tadinya hanya untuk
61

dikonsumsi dikembangkan menjadi unit usaha yang menghasilkan profit selain itu
juga memberi pengetahuan kepada pembudidaya cara mengelola usahanya dengan
menggunakan laporan keuangan yang ada dan diharapkan ke depannya bisa
memperhitungkan setiap langkah yang di ambil. Dan Diharapkan dengan
dikembangkannya budidaya ikan lele ini menjadi unit usaha dapat membantu
tingkat perekonomian di RW 07 desa Cipacing, dan memberikan motivasi pada
remaja desa Cipacing yang rata-rata pekerjaannya sebagai karyawan pabrik menjadi
wirausahawan.
Gambaran umum : Program ini berbentuk kegiatan sosialisasi yang
akan di paparkan oleh narasumber yang mengerti dalam bidangnya, untuk
sosialisasi materinya berupa pengenalan manfaat berwirausaha, pengenalan
terhadap laporan keuangan yang baik , bagaimana cara untuk mengelola usaha
dengan melihat atau memperhitungkan laporan keuangan, bagaimana cara
melakukan pengembangan usahanya dengan sistem manajemen dan akuntansinya.
Materi materi ini dipaparkan oleh lebih dari satu narasumber dan ahli sehingga
pandangannya dari berbagai aspek. Materi sosialisai akan lebih ditekankan ke
materi bagaimana cara awal melakukan pencatatan laporan keuangan, mulai dari
apa saja yang harus di catat dan diperhitungkan, selain itu diperkenalkan juga
penyedia penyedia layanan atau sistem teknologi akuntansinya seperti Myob dll.
Aada juga sesi diskusi antara pembudidaya dengan pemateri agar dapat menarik
keingin tahuan para pembudidaya dalam mengembangkan budidaya ikan lele
menjadi unit usaha yang menghasilkan profit.
Sasaran : Sasaran untuk kegiatan ini adalah masyarakat RW
07 desa Cipacing yang melakukan budidaya ikan lele di pekarangan rumahnya dan
usaha lainnya.

2. Aep Pudin (Akuntansi)


Nama Mahasiswa : Aep Pudin
NPM : 120110150071
Tindak Lanjut Kegiatan : Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
62

Nama Kegiatan : Sosialisasi Pengembangan Budidaya Ikan Lele Di


Desa Cipacing Rw 07 Menjadi Unit Usaha Dengan Sistem Permodalan Peer to Peer
Pendahuluan : Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang
cukup bergizi, kandungan gizi pada ikan lele tidak kalah dengan ikan laut atau air
tawar yang biasa kita jumpai di pasar, ikan lele ini dapat membantu memenuhi
kebutuhan protein bagi kita terlebih bagi anak-anak yang masih dalam tahap
pertumbuhan. Salah satu kelebihan ikan lele ini adalah harganya relatif lebih murah
dibandingkan dengan ikan air laut atau tawar dandengan kandungan gizi yang tak
kalah banyak dengan ikan di air tawar ataupun air laut, selain itu sudah cukup
banyak juga olahan-olahan ikan lele yang lezat dan bervariasi seperti pecel lele,
abon lele, nugget lele dan yang lainnya. Memang tak dapat dipungkiri ikan lele ini
sudah mempunyai pasar tersendiri di hati masyarakat oleh karena itu banyak
bermunculan budidaya-budidaya ikan lele untuk memenuhi permintaan pasar ,
dapat dilihat bahwa pangsa pasar untuk ikan lele ini cukup menjanjikan selain itu
dalam skala kecil modal untuk melakukan budidaya ikan lele tidak terlalu besar dan
tidak memakan tempat terlalu besar bahkan bisa dilakuka di depan rumah atau di
pekarangan rumah kita. Sebagai bentuk rancangan tindak lanjut dari program
pemanfaatan pekarangan rumah untuk budidaya ikan lele sebagai pemenuhan gizi
masyarakat RW 07 desa Cipacing maka alangkah lebih baiknya budidaya yang
sekedar hanya unttuk dikonsumsi dikembangkan menjadi sebuah unit usaha yang
dapat membantu perekonomian masyarakat juga dengan sudah dibuatnya kolam
terpal untuk budidaya ikan lele di pekarangan-pekarangan rumah warga tinggal
dikembangkan saja dan dilakukan proses penjualannya, namun salah satu masalah
atau hambatan dalam membangun usaha oleh masyarakat kecil yang tinggal di desa
adalah masalah mengenai pendanaan atau permodalan usaha, karena masyarakat
didesa masih unbankable yaitu masih belum bisa tersentuh oleh permodalan dari
bank dengan banyak alasan seperti proses peminjaman dari bank yang cukup sulit,
perlu adanya laporan keuangan yang jelas pada usaha tersebut, harus adanya fix
asset sebagai penjamin pinjaman dll, sehingga masyarakat di desa merasa malas
untuk mengembangkan usahanya. Namun itu dulu sekarang ini sudah muncul
sebuah industri digital dalam hal keuangan yaitu financial technology
63

berkembangannya industri fintech ( financial technology ) memudahkan para


pelaku usaha untuk menemukan modal, fintech ini menyediakan platfrorm yang
mempertemukan antara peminjam dana dan pemberi dana, dengan platform ini
memudahkan para pelaku usaha untuk mencari dana dengan sistem yang mudah,
tanpa barang penjamin bahkan tanpa perlu bertatap muka langsung dengan si
pemberi dana atau biasa disebut sistem permodalan peer to peer. Peer to peer
lending (P2P) merupakan suatu sistem (platform) yang mempertemukan pemberi
pinjaman (kreditur) dengan peminjam (debitur). Dalam peer to peer lending, uang
yang dipinjam juga dikenakan sejumlah bunga yang per bulannya bersaing dengan
bunga Kredit Tanpa Agunan (KTA). Dalam praktiknya, kegiatan pinjam-
meminjam di peer to peer lending dilakukan secara online. Pemberi pinjaman dan
peminjam tidak bertemu satu sama lain. Di samping itu, peminjam bisa
mendapatkan pinjaman tanpa perlu menjaminkan apa pun (tanpa agunan). Setelah
pinjaman disetujui, peminjam akan terikat perjanjian mengenai kewajiban kepada
pemberi pinjaman. Dalam peer to peer lending, peminjam akan dihadapkan pada
perjanjian tertulis terkait sejumlah dana yang peminjam pinjam dari para investor
dan kewajiban pengembaliannya. Hal ini juga mewajibkan peminjam untuk
memberikan informasi yang rinci terkait dengan bisnis tersebut sesuai kesepakatan.
Sistem ini akan membantu masyarakat RW 07 desa Cipacing mendapatkan modal
untuk mengembankan budidaya ikan lele nya menjadi unit usaha yang
menghasilkan profit. Oleh karena itu sebagai bentuk rancangan tindak lanjut
program KKN PPM maka dibuat program “Sosialisasi Pengembangan Budidaya
Ikan Lele Di Desa Cipacing Rw 07 Menjadi Unit Usaha Dengan Sistem Permodalan
Peer To Peer “ untuk memperkenalkan dan membantu kepada masyarakat RW 07
desa cipacing mengembangkan usaha budidayanya dengan sistem permodalan peer
to peer.
Tujuan Kegiatan : Maksud dan tujuan dibuatnya program ini adalah
untuk memperkenalkan kepada para pembudidaya ikan lele yang ada di RW 07 desa
Cipacing sistem permodalan peer to peer yang dapat membantu mengembankan
budidaya ikan lele mereka yang tadinya hanya untuk dikonsumsi dikembangkan
menjadi unit usaha yang menghasilkan profit selain itu juga memberi pengetahuan
64

kepada pembudidaya cara mengelola usahanya jika sudah mendapatkan


permodalan agar usaha yang baru dijalankan tsb mati atau berhenti di tengah jalan,
diharapkan dengan dikembangkannya budidaya ikan lele ini menjadi unit usaha
dapat membantu tingkat perekonomian di RW 07 desa Cipacing, dan memberikan
motivasi pada remaja desa Cipacing yang rata-rata pekerjaannya sebagai karyawan
pabrik menjadi wirausahawan.
Peserta Kegiatan : Sasaran untuk kegiatan ini adalah masyarakat RW
07 desa Cipacing yang melakukan budidaya ikan lele di pekarangan rumahnya.
Materi Kegiatan : Program ini berbentuk kegiatan sosialisasi yang
akan di paparkan oleh narasumber yang mengerti dalam bidangnya, untuk
sosialisasi materinya berupa pengenalan manfaat berwirausaha, pengenalan
terhadap sistem permodalan , bagaimana cara untuk mendapatkan modal melalui
sistem peer to peer, bagaimana cara melakukan pengembangan usahanya dengan
sistem manajemen dan akuntansinya. Materi materi ini dipaparkan oleh lebih dari
satu narasumber dan ahli sehingga pandangannya dari berbagai aspek. Materi
sosialisai akan lebih ditekankan ke materi bagaimana cara mendapatkan modal
melalui sistem peer to peer, mulai dari apa saja yang harus dipersiapkan seperti
administrasinya dll, selain itu diperkenalkan juga penyedia penyedia layanan sistem
permodalan peer to peer ini seperti salah satunya perusahan fintech yang sudah
cukup terkenal yaitu amarha dll. Aada juga sesi diskusi antara pembudidaya dengan
pemateri agar dapat menarik keingin tahuan para pembudidaya dalam
mengembangkan budidaya ikan lele menjadi unit usaha yang menghasilkan profit.

3. Kgs M Ferliansyah (Agroteknologi)


Nama : Kgs M Ferliansyah
NPM : 150510150211
Nama Kegiatan : Sistem Budidaya Vertiminaponik: Pemanfaatan
Pekarangan Rumah sebagai Media Pemenuhan Kebutuhan Pangan Skala Rumah
Tangga.
Gambaran Umum :
65

1. Pemaparan umum mengenai sistem budidaya vertiminaponik serta perannya


sebagai penyedia kebutuhan pangan rumah tangga.
2. Pengaplikasian di lapangan melalui pembuatan vertiminaponik di pekarangan
rumah warga RW. 07 sebagai percontohan.
Latar Belakang : Pemanfaatan pekarangan sudah dilakukan sejak
beberapa periode kebelakang. Pekarangan merupakan suatu lahan potensial
sumber penghasil karbohidrat, protein dan vitamin apabila dapat dimanfaatkan
secara optimal (Andrianyta & Mardiharini, 2015). Kementerian Pertanian (2011)
mengembangkan konsep pengelolaan pekarangan dengan menerapkan prinsip
ketahanan dan kemandirian pangan keluarga, diversifikasi pangan berbasis
sumber daya lokal, konservasi tanaman dan peningkatan kesejahteraan keluarga
dalam Program Kawasan Rumah Pangan Lestari. Hal ini tercipta mengingat
pentingnya fungsi dan peran dari pekarangan tersebut.
Salah satu teknologi yang berkembang dalam pemanfaatan pekarangan
yaitu system budidaya vertiminaponik. Vertiminaponik merupakan kombinasi
antara sistem budidaya sayuran secara vertikal berbasis pot talang plastik dengan
sistem akuaponik. “Verti ” berasal dari kata verti kultur yaitu budidaya tanaman
secara vertikal. “Mina” berarti ikan. “Ponik” berarti budidaya. Penggalan kata
“ponik” tersebut biasanya melekat pada istilah hidroponik dan akuaponik (Sastro,
2013).
Vertiminaponik terdiri atas dua subsistem utama, yakni subsistem
hidroponik (tanaman sayuran) dan subsistem akuakultur (pemeliharaan ikan)
(Sastro, 2013). Subsistem ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Pertumbuhan tanaman pada teknik ini akan sangat tergantung pada pasokan nutrisi
yang berasal dari pemeliharaan ikan. Demikian juga sebaliknya, pertumbuhan ikan
akan optimal apabila kotoran dan sisa pakan pada pemeliharaan ikan tersaring dan
dapat diperbaiki oleh subsistem hidroponik (Rokhmah dkk., 2014). Hal ini dapat
menciptakan system ketahanan pangan mandiri bagi rumah tangga apabila teknik
vertiminaponik diterapkan di masing-masing pekarangan rumah.
Pada sistem vertiminaponik, budidaya sayuran secara vertikultur didukung
oleh bubidaya ikan yang dilakukan dibawahnya. Budidaya ikan yang dilakukan
66

akan menyediakan hara bagi tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal (Rokhmah dkk., 2014). Hara yang didapatkan oleh
tanaman berasal dari sisa pakan dan kotoran yang terdapat pada kolam budidaya.
Sementara itu, tanaman juga dapat berperan sebagai agen perbaikan kualitas air
melalui proses resirkulasi yang terjadi pada system budidaya ini (Nugroho dkk.,
2012) Kondisi tersebut menyebabkan kualitas air kolam akan tetap terjaga dengan
baik, yaitu bebas dari sisa pakan dan kotoran ikan sehingga akan mendorong
pertumbuhan ikan menjadi baik.
Kelebihan dari system budidaya ini yaitu masyarakat akan dapat
menghasilkan output pertananian dari budidaya ikan dan tanaman hortikultura
secara bersamaan tanpa perlu membutuhkan lahan yang luas (Siregar dkk., 2013).
Selain itu, teknologi ini akan memungkinkan penggunaan air dapat dihemat karena
penggantian air budidaya dapat ditekan (Nugroho dkk., 2012).
Budidaya tanaman yang dilakukan pada system ini merupakan cara
budidaya organik yang ramah lingkungan. Dalam proses pemeliharaan tanaman
tidak perlu diaplikasikan pupuk dan pestisida berbahan kimia, sehingga hasilnya
pun merupakan tanaman organik yang sehat (Sastro, 2013). Selain itu, secara tidak
langsung masyarakat tidak perlu membeli input pertanian yang besar dan tidak
mengeluarkan banyak waktu dan tenaga untuk proses pemeliharaanya sehingga
aktivitas utama masyarakat seperti bekerja dan sebagainya tidak akan terganggu.
Jenis tanaman yang dapat ditanam pada sistem ini adalah semua jenis
sayuran daun dan buah, seperti bayam, kangkung, selada, sawi caisim, sawi pakcoy,
tomat , cabai, terong, dll (Rokhmah dkk., 2014). Teknik budidaya yang dilakukan
juga hanya dengan menyebar benih. Sistem tanam ini akan memberikan
keuntungan, yaitu waktu panen lebih singkat , tenaga kerja pembibitan dan pindah
tanam tidak diperlukan, populasi tanaman yang akan dipanen menjadi 10 kali lebih
banyak, serta panen dapat dilakukan berulang (3-5 kali) karena perbedaan laju
pertumbuhan dari setiap individu tanaman (Sastro, 2013).
Sistem budidaya vertiminaponik merupakan salah satu jawaban dari
beberapa permasalahan pertanian pada lahan sempit. Sistem budidaya ini juga tidak
memerlukan media tanam seperti tanah, pupuk organik, dan bahan pembenah
67

lainnya. Selain itu, Sistem budidaya vertiminaponik memiliki nilai estetika yang
tinggi sehingga cocok berada dipekarangan. Dengan satuan luas lahan yang sama,
produk yang dihasilkan oleh sistem ini relatif lebih banyak (sayuran dan ikan), lebih
sehat, dan bebas cemaran (logam berat, pestisida, mikroba patogen) (Sastro, 2013).
Tujuan :
1. Agar pembudidaya ikan lele di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor
Kabupaten Sumedang mendapatkan hasil produksi yang lebih besar dalam
budidaya lele dan hortikultura secara bersamaan.
2. Membantu masyarakat mengimplementasikan beragam teknologi yang dapat
mendukung pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri.
3. Membantu masyarakat menciptakan pekarangan rumah yang produktif dan
memiliki nilai estetik.
4. Membantu masyarakat memecahkan permasalahan dalam praktek budidaya
lele yang telah dilakukan.
Materi :
1. Pemaparan materi mengenai system budidaya vertiminaponik
2. Pengenalan cara pembuatan system budidaya vertimanaponik
3. Pengenalan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses pembuatan
vertiminaponik.
4. Praktik pembuatan system budidaya vertiminaponik di pekarangan rumah
warga RW.07 Desa Cipacing

4. Gilang Dio Maldini (Agroteknologi)


Nama Mahasiswa : Gilang Dio Maldini
NPM : 150510150267
Tindak Lanjut Kegiatan : Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
Nama Kegiatan : Penyuluhan Pemanfaatan Kotoran dan Sisa Pakan
Ikan Lele sebagai Pupuk Organik untuk Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman di
Sekeliling Kolam Terpal.
Pendahuluan : Salah satu upaya pemberdayaan masyarakat adalah
dengan pemanfaatan pekarangan rumah sehingga mudah untuk pemeliharaan dan
68

pemanenan hasilnya. Usaha di pekarangan jika dikelola secara intensif sesuai


dengan potensi pekarangan, disamping dapat memenuhi kebutuhan konsumsi
rumah tangga, juga dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi keluarga.
Pemanfaatan pekarangan rumah merupakan kegiatan pengelolaan pekarangan
rumah melalui pendekatan terpadu, salah duanya pemanfaatan tanaman dan ikan.
Budidaya ikan lele menggunakan kolam terpal di pekarangan rumah di
beberapa rumah warga RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor-Sumedang
memang lebih menguntungkan dan jauh lebih efisien pemeliharaannya, jika
dibandingkan budidaya ikan lele di kolam tanah. Namun pada praktiknya, ada hal
lain yang bisa dimanfaatkan. Air kolam yang dibuang untuk diganti yang dilakukan
dua kali seminggu, dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Hal ini
memanfaatkan kotoran ikan dan sisa pakan ikan yang tercampur dalam air yang
akan dibuang, sebagai nutrisi tanaman. Dengan dibuangnya air kolam untuk diganti
ini dapat mengurangi pengendapan dan pembusukan bahan organik di dasar kolam,
sehingga air tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Dengan hal ini diharapkan
dapat memberikan keuntungan lain di samping budidaya ikan lele yang dilakukan.
Tujuan Kegiatan :
5. Pembudidaya ikan lele di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor-
Sumedang dapat memanfaatkan air kolam sebagai pupuk organik,
6. Meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman di sekeliling kolam
terpal,
7. Memanfaatkan penggantian air kolam untuk menghindari timbulnya bau yang
tidak sedap,
8. Memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga,
9. Memberikan sumbangan pendapatan tambahan bagi pembudidaya ikan lele di
RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor-Sumedang.
Peserta Kegiatan :
Pembudidaya ikan lele RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor-Sumedang
Materi Kegiatan :
1. Materi mengenai pentingnya menjaga kesuburan tanah agar didapat
produktivitas hasil tanaman yang maksimal,
69

2. Materi mengenai pentingnya mengganti air kolam dalam budidaya ikan lele
menggunakan kolam terpal,
3. Materi mengenai pemanfaatan kotoran dan sisa pakan ikan lele yang terdapat
dalam air buangan kolam lele sebagai pupuk organik,
4. Keuntungan-keuntungan yang didapat dari integrasi air buangan kolam lele
dengan tanaman di sekeliling kolam terpal.

5. Hadrian Reyhandita (Administrasi Publik)


Nama : Hadrian Reyhandita
NPM : 170110150015
Tindak Lanjut Kegiatan : Praktikum
Nama Kegiatan :Pembentukan Organisasi Sebagai Bentuk
Pengelolaan Budidaya Ikan Lele yang sistematis dan Terencana
Peserta : Pembudidaya Ikan Lele RW 07 Desa Cipacing
Kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang
Gambaran Umum :
1. Pemaparan materi mengenai Organisasi
2. Evaluasi mengenai program kerja Pemanfaatan Pekarangan Rumah Untuk
Budidaya Ikan Sebagai Penyedia Protein Hewani Dalam Skala Rumah Tangga
di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang
Latar Belakang : Dalam mewujudkan sebuah tujuan diperlukan
sebuah perencanaan yang matang sehingga apa yang dikerjakan menjadi tepat
sasaran. Di sisi lain diperlukan alat yang tepat untuk mampu mengaplikasikan apa
yang sudah direncanakan. Organisasi merupakan sebuah wadah yang terdiri dari 2
orang atau lebih yang memiliki tujuan yang sama. Dengan adanya keberadaan
sebuah organisasi, sebuah tujuan dari dibuatnya program kerja mampu dtampung
dan pada akhirnya mampu lebih berkembang dikarenakan dalam organisasi banyak
dinamika yang terkandung di dalamnya.
Tujuan :
1. Agar pembudidaya ikan lele di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor
Kabupaten Sumedang mampu terorganisir dengan baik
70

2. Membantu masyarakat meningkatkan atau menguatkan kreatifitas dan


keinovatifannya dalam pengelolaan ikan lele
3. Membantu masyarakat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam
kegiatan budidaya ikan lele
4. Membantu masyarakat meningkatkan sosial budaya dan kelembagaannya
Materi :
1. Pemaparan materi mengenai Organisasi
2. Mengevaluasi program kerja Pemanfaatan Pekarangan Rumah Untuk
Budidaya Ikan Sebagai Penyedia Protein Hewani Dalam Skala Rumah Tangga
di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang

3. Tessa Gustriana (Administrasi Bisnis)


Nama : Tessa Gustriana
NPM : 170610150001
Tindak Lanjut Kegiatan : Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
Nama Kegiatan : Pelatihan pembuatan business plan usaha
ternak lele sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Pendahuluan : Salah satu upaya pemberdayaan masyarakat
adalah dengan pemanfaatan pekarangan rumah sehingga mudah untuk
pemeliharaan dan pemanenan hasilnya. Usaha di pekarangan jika dikelola secara
intensif sesuai dengan potensi pekarangan, di samping dapat memenuhi kebutuhan
konsumsi rumah tangga, juga dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi
keluarga. Pemanfaatan pekarangan rumah merupakan kegiatan pengelolaan
pekarangan rumah melalui pendekatan terpadu, salah satunya pemanfaatan ikan.
Business plan atau rencana bisnis adalah suatu rencana tertulis yang memuat
mini dan tujuan bisnis, cara kerja dan rincian keuangan/permodalan susunan para
pemilik dan majemen dan bagaimana cara mencapai tujuan bisnisnya. Tujuan dari
Business Plan adalah dapat mempermudah dalam menjalankan usaha dengan
mengetahui langkah-langkah praktis menghadapi persaingan, membuat promosi
sehingga lebih efektif.
71

Pelatihan pembuatan business plan perlu dilakukan untuk memberikan


pemahaman yang baik dan benar kepada masyarakat untuk dapat membuat dan
menjalankan usaha ternak lele dan dapat menjadi tambahan pendapatan bagi
keluarga yang berdampak kepada peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar.
Tujuan Kegiatan :
1. Memberikan informasi tentang cara membuat business plan yang baik dan
benar kepada masyarakat RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor-
Sumedang.
2. Meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan adanya peningkatan pada
pendapatan masyarakat sekitar dengan membuat dan menjalankan usaha sesuai
business plan yang telah dibuat.
Peserta Kegiatan : Pembudidaya ikan lele RW 07 Desa
Cipacing Kecamatan Jatinangor-Sumedang.
Materi Kegiatan :
1. Materi tentang apa itu business plan
2. Materi tentang kegunaan dan manfaat dari business plan
3. Materi tentang cara membuat business plan yang baik dan benar

4. Syafriana Makkah Herdina (Administrasi Bisnis)


Nama : Syafriana Makkah Hardina
NPM : 170610150011
Jenis Tindak Lanjut : Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
Nama Kegiatan : Pembuatan Blog guna meningkatkan pemasaran
RW 07 Desa Cipacing dan sekitarnya
Pendahuluan : Pembudidayaan ikan lele yang terletak pada RW 07
Desa Cipacing memberikan keunikan tersendiri dikarenakan para warga
memanfaatkan pekarangan rumahnya sendiri dan sebaiknya ide ini dilakukan
kepada berbagai Desa karena potensi yang dimiliki sangag besar karena
memungkinkan pemanfaafan pekarangan rumah tersebut menjadi lahan usaha
dikemudian hari. Selain budidaya Desa Cipacing memiliki berbagai potensi dalam
hal peluang usaha, dikarenakan banyaknya berbagai kerajinan yang dimiliki seperti
72

layang-layang, pisau, kursi, pistol, dll. Untuk meningkatkan usaha para pengrajin
maka dengan cara memasarkan melalui media sosial seperti blog dapat
meningkatkan penjualan. Setelah melaksanakan Kkn-M, kami sebagai mahasiswa
yang terlibat sudah melakukan sosialisasi dan kunjungan terhadap potensi yang
dimiliki Desa Cipacing, dari wawancara yang di dapat terdapat beberapa kendala
yang dihadapi oleh pengrajin terutama pada bidang pemasaran. Untuk
mempermudah para pengrajin dalam melakukan pemasaran cara yang paling
mudah dan cepat untuk diakses masyarakat yaitu dengan media sosial berupa blog
yang di dalamnya terdapat beberapa unsur penting dan keunikan para pengrajin
yang harus ditonjolkan. Dibuatnya blog ini umtuk mempermudah para pengrajin
memperkenalkan kerajinan yang dimiliki. Hal yang dilakukan yaitu pembuatan
blog dan blog berisikan mengenai gambar hasil pengrajin dan deskripsi singkat
mengenai kerajinan tersebut dan di dalam blog tersebut terdapat kontak perwakilan
dari Desa Cipacing apabila informasi lebih lanjut.
Tujuan :
1. Memperkenalkan potensi yang dimiliki RW 07 Desa Cipacing dan sekitarnya.
2. Mempermudah warga untuk melakukan pemasaran dan pemberian informasi
mengenai Desa Cipacing
3. Meningkatkan produktivitas yang berjalan pada RW 07 Desa Cipacing dan
sekitarnya
4. Membantu para pembudidaya dan pengrajin untuk memberikan pemasaran
terhadap kegiatan yang mereka jalankan, selain itu memperkenalkan kerajinan
yang ada pada RW 07 Desa Cipacing dan sekitarnya
Materi :
1. Blog berisikan tentang budidaya ikan lele melalui kolam terpal dan kerajinan
yang ada pada RW 07 Desa Cipacing dan sekitarnya
2. Penjelasan singkat mengenai kegiatan yang berjalan pada RW 07 Desa
Cipacing
3. Keunggulan dan keunikan yang dimiliki para budidaya ikan lele dan para
pengrajin RW 07 Desa Cipacing dan sekitarnya
73

5. Satria Galuh Dwitama (Perikanan)


Nama : Satria Galuh Dwitama
NPM : 230110150135
Tindak Lanjut : Sosialisasi Budidaya Ikan Lele. Peningkatan
Kemampuan Masyarakat RW 07 Desa Cipacing dalam Pengelolaan Budidaya Ikan
Lele yang Baik Berdasarkan Azas Budidaya yang Berlaku Berlandaskan Standar
Nasional Indonesia Sehingga Menghasilkan Ikan Lele yang Unggul.
Peserta : Pembudidaya ikan lele RW 07 Desa Cipacing
kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang
Gambaran Umum :
1. Sosialisasi tentang aspek-aspek penting yang terdapat pada budidaya ikan lele.
2. Pemaparan materi mengenai dasar-dasar budidaya ikan lele.
3. Evaluasi mengenai program kerja pemanfaatan pekarangan pumah untuk
budidaya ikan sebagai ppenyedia protein hewani dalam skala rumah tangga di
RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang
4. Penerapan dari setiap materi tentang budidaya ikan lele.
Latar Belakang : Terwujudnya keberhasilan pada budidaya ikan lele
diperlukan sebuah perencanaan yang matang sehingga apa yang dikerjakan menjadi
tepat sasaran. Di sisi lain diperlukan alat yang tepat untuk mampu mengaplikasikan
apa yang sudah direncanakan. Budidaya merupakan usaha atau kegiatan terencana
pemeliharaan sumber daya hayati yang dilakukan pada suatu areal lahan untuk
diambil manfaat/hasil panennya. Kegiatan budidaya dapat dianggap sebagai inti
dari usaha tani.
Tujuan :
1. Agar pembudidaya ikan lele di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor
Kabupaten Sumedang mampu melaksanakan kegiatn budidaya dengan baik.
2. Membantu masyarakat meningkatkan seerta menguatkan kreatifitas dan
keinovatifannya dalam pengelolaan ikan lele.
3. Membantu masyarakat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam
kegiatan budidaya ikan lele.
74

4. Membantu masyarakat meningkatkan meningkatkan pendapatan secara


ekonomis dari kegiatan budidaya ikan lele.
5. Meningkatkan gizi masyarakan dari hasil kegiatan budidaya ikan lele.
Materi :
1. Budidaya ikan lele berdasarkan azas budidaya yang berlaku.
2. Formulasi pakan yang digunakan pada budidaya ikan lele.
3. Kesalahan yang terjadi pada setiap kegiatan budidaya ikan lele.
4. Masalah yang terjadi pada setiap kegiatan budidaya ikan lele.
5. Tindakan yang dilakukan pada setiap masalah yang terjadi saat budidaya ikan
lele dilakukan.

6. Gita Endang Palufi (Perikanan)


Nama Mahasiswa : Gita Endang Palufi
NPM : 230110150172
Tindak Lanjut Kegiatan : Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
Nama Kegiatan : Sosialisasi dan Pelatihan Pengolahan Hasil
Perikanan Budidaya Ikan Lele dalam Pemanfaatan Pekarangan Rumah dan
Peningkatan Konsumsi Protein Hewani serta Inovasi di RW 07, Desa Cipacing
Pendahuluan :.Adanya kegiatan budidaya ikan lele di pekarangan
rumah dapat memberikan beberapa manfaat. Selain dapat dijual ke orang lain, hasil
perikanan tersebut dapat dikonsumsi untuk diri sendiri atau untuk keluarga. Pada
zaman ini, inovasi dari hasil perikanan sudah sangat banyak yang mana inovasi ini
dapat juga dikonsumsi sendiri bahkan dijual dengan nilai ekonomis yang lebih
tinggi dibanding menjual ikan dalam bentuk aslinya. Sosialisasi ini ditujukan untuk
para ibu-ibu yang berada di RW 07 dengan tujuan agar memiliki kesadaran yang
tinggi akan inovasi yang memiliki harga jual tinggi. Selain itu diadakan pengolahan
hasil perikanan dari ikan lele yang akan dipanen nanti. Hasil olahan ini dapat berupa
nugget ikan, abon ikan, kerupuk kulit ikan dan lain-lain.
Selain itu, ikan merupakan sumber makanan yang mudah membusuk
(perishable food), karena itu dalam pengolahannya perlu dilakukan dengan cepat
dan tepat. Apabila cara penanganan salah, maka tidak mungkin dihasilkan produk
75

perikanan yang bermutu baik demikian pula pada pengolahannya, harus dilakukan
dengan benar supaya tahan lama serta nutrisinya tidak berkurang.
Prinsip pengolahan ikan pada dasarnya bertujuan melindungi ikan dari
pembusukan dan kerusakan. Selain itu juga untuk memperpanjang daya awet dan
mendiversifikasikan produk olahan hasil perikanan. Pengalengan merupakan salah
satu bentuk pengolahan dan pengawetan ikan secara modern yang dikemas secara
hermatis dan kemudian disterilkan. Bahan pangan dikemas secara hermetis dalam
suatu wadah, baik kaleng, gelas atau alumunium. Pengemasan secara hermetis
dapat diartikan bahwa penutupannya sangat rapat, sehingga tidak dapat ditembus
oleh udara, air, kerusakan oksidasi maupun perubahan cita rasa (Adawyah, 2008).
Tujuan Kegiatan :
1. Memanfaatkan hasil perikanan untuk diolah menjadi inovasi baru
2. Meningkatkan penghasilan dari adanya pengolahan ikan
3. Meningkatkan keterampilan warga dalam mengolah hasil perikanan
Peserta Kegiatan : Ibu-Ibu RW 07 Desa Cipacing Kecamatan
Jatinangor-Sumedang
Materi Kegiatan :
1. Materi mengenai cara mengolah ikan yang baik dan benar
2. Materi mengenai pemanfaatan hasil perikanan yang sudah diolah
3. Materi mengenai kandungan protein yang terdapat pada ikan
4. Materi mengenai peluang usaha dari adanya pemanfaatan hasil perikanan yang
sudah diolah

7. Rifqi Ramdani (Perikanan)


Nama : Rifqi Ramdani
NPM : 230110150230
Tindak Lanjut Kegiatan : Sosialisasi Budidaya Ikan Lele. Penyuluhan
Mengenai Kualitas Air yang Baik Untuk Budidaya Ikan Lele dan Pembelajaran
Penggunaan Alat-alat Pengukur Kualitas Air untuk Meningkatkan Kemampuan
Masyarakat serta Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Budidaya Ikan Lele di RW
07 Desa Cipacing, Jatinangor.
76

Peserta : Pembudidaya ikan lele RW 07 Desa Cipacing


kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang
Gambaran Umum :
1. Sosialisasi tentang kualitas air yang baik untuk budidaya ikan lele,
2. Pemaparan materi mengenai dasar-dasar budidaya ikan lele.
3. Pemaparan materi mengenai kualitas air yang baik untuk budidaya ikan lele,
4. Mengajarkan penggunaan kertas lakmus, DO meter, dan pengukuran
kandungan amonia
5. Evaluasi mengenai penggunaan air di pekarangan pumah untuk budidaya ikan
sebagai media tempat hidup ikan dalam skala rumah tangga di RW 07 Desa
Cipacing Kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang
Latar Belakang : Setelah mengetahui evaluasi dari budidaya ikan lele
yang selama ini telah dilakukan, ada baiknya untuk mengetahui kualitas air yang
bagus di gunakan untuk budidaya lele tersebut. Selain itu pembudidaya harus bisa
mengetahui langkah-langkah penggunaan atau pengaplikasian pengukuran dari
alat-alat pH meter, DO meter, dan pengukur kandungan amonia. Agar media atau
air yang digunakan oleh pembudidaya tetap terkontrol dengan baik untuk
menunjang pemeliharaan budidaya ikan lele tersebut. Sehingga dapat
meminimalisir kematian yang ada dan selain itu untuk menunjang kesuksesan dari
kegiatan budidaya
Tujuan :
1. Membantu masyarakat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam
kegiatan budidaya ikan lele.
2. Agar pembudidaya ikan lele di RW 07 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor
Kabupaten Sumedang mampu melaksanakan kegiatan budidaya dengan baik.
3. Membantu masyarakat dalam meningkatkan keberhasilan dari kegiatan
budidaya ikan lele
4. Menambah ilmu bagi masyarakat dan pembudidaya ikan lele di RW 07 Desa
Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang.
Materi :
1. Masalah yang terjadi pada setiap kegiatan budidaya ikan lele.
77

2. Kesalahan yang terjadi pada setiap kegiatan budidaya ikan lele.


3. Kualitas air yang baik untuk kegiatan budiday ikan lele.
4. Pembelajar mengenai penggunaan alat-alat pengukur kualitas air.
5. Praktik penggunaan alat-alat pengukur kualitas air.
6. Tindakan yang dilakukan pada setiap masalah yang terjadi saat budidaya ikan
lele dilakukan.
8. Ilham Azhari Firdaus (Ilmu Kelautan)
Nama : Ilham Azhari Firdaus
NPM : 230210150038
Tindak Lanjut Kegiatan : Praktikum/ Penelitian
Nama Kegiatan : Perencanaan Upaya Mewujudkan Keberhasilan
Budidaya Ikan Lele Pada Kolam Terpal di RW 07 Desa Cipacing, Kecamatan
Jatinangor Sumedang
Pendahuluan : Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar
yang berasal dari Filipina yaitu lele dumbo (Clarias gariepinus) dan lele lokal
(Clarias batrachus) dan sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat
Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1)
dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar
tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3)
pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
Seiring dengan semakin tingginya permintaan ikan lele, membuat peluang
bisnis budidayanya semakin terbuka. Budidaya ikan lele, baik pembenihan maupun
pembesaran dapat dijalankan dengan modal besar, tetapi dengan jumlah modal
terbataspun dapat dilakukan. Kini, budidaya lele umumnya dikelola secara intensif.
Budidaya lelepun sebagai rantai awal bisnis lele mempunyai peluang yang cukup
besar untuk mendukung pemerintah dalam program membuka lapangan kerja dan
meningkatkan pendapatan masyarakat.
Percobaan budidaya lele pada kolam terpal di RW 07 Desa Cipacing telah
dilakukan selama ± 3 bulan. Dari percobaan tersebut dapat dianalisis faktor-faktor
keberhasilan budidaya lele di RW 07 sebagai bahan acuan untuk budidaya lele
selanjutnya. Sebelumnya keunggulan dari budidaya ikan lele di kolam terpal ini
78

adalah pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman


rumah. Lahan yang digunakan berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan
yang telah dimanfaatkan, tetapi lebih produktif. Pada awalnya budidaya ikan lele di
Desa Cipacing ini cenderung lancar, tingkat mortalitas pada minggu pertama
berkisar antara 2,5%-5,0% atau 20-50 dari 2000 bibit ikan lele. Yang menjadi
masalah bagi warga Desa Cipacing untuk budidaya lele adalah presipitasi (curah
hujan). Karena curah hujan tersebut banyak ikan lele yang mati. Tingkat mortalitas
ikan lele pada saat turun hujan berkisar antara 25%-100%. Karena jika tingkat
presipitasi tinggi maka akan menimbulkan banyak penyakit pada lele, karena
tingkat keasaman yang tinggi (pH). Dalam posisi tingkat keasaman yang tinggi ikan
lele akan lemah dan nafsu makan berkurang, ini akan mengakibatkan lele gampang
sekali terserang penyakit, biasanya penyakit yang menyerang adalah jamur dan
akan menimbulkan tingkat mortalitas yang tinggi bagi ikan lele. Antisipasi untuk
mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan penutup atau atap. Tetapi
penutup yang digunakan harus transparan dengan tujuan agar sinar matahari tetap
masuk, karena dalam budidaya ikan lele jika tanpa sinar matahari ikan tidak akan
berkembang dengan maksimal. Hal-hal lain yang harus diperhatikan untuk
keberhasilan budidaya ikan lele di kolam terpal meliputi: pembuatan konstruksi
kolam, penebaran benih, pengaturan kualitas air, pengaturan kedalaman air, tingkat
kejernihan air, pemberian pakan, pengendalian hama dan penyakit serta panen.
Peserta Kegiatan : Pembudidaya ikan Lele RW 07 Desa Cipacing
Kecamatan Jatinangor Sumedang
Materi Kegiatan : Materi kegiatan merupakan perbaikan dari
budidaya sebelumnya, hal ini dilakukan untuk menimalisir kesalahan atau kematian
ikan. Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam rangkaian budidaya ikan lele
ikan terpal adalah:
1. Konstrulai kolam
Bagian dalam kolam terpal dicuci dengan sabun untuk menghilangkan bau
lem atau bahan kimia yang dapat membunuh benih ikan. Bagian dalam terpal
dibilas bersih dan dikeringkan selama satu hari, kemudian kolam diisi dengan air
hingga ± 50 cm, hal itu dikarenakan agar lele berkembang dengan baik. Jika terlalu
79

tinggi kedalaman air, tenaga lele habis untuk mengambil udara ke permukaan (air
breathing), jadi pertumbuhannya tidak berkembang dengan baik. Setelah kolam
sudah terisi air didiamkan selama kurang lebih satu minggu untuk
prosespembentukan lumut dan untuk pertumbuhan fitoplankton.
2. Pemilihan bibit unggul
Benih unggul dapat kita lihat dengan cara memperhatikan Ciri-ciri Sebagai
berikut: benih terlihat aktif melakukan oksigenasi, gesit, agresif dan cerah, ukuran
terlihat sama rata,warna sedikit lebih terang.
3. Penebaran Benih
Disiapkan benih 500 ikan lele (agar tidak terlalu banyak dan lele dapat
berkembang dengan maksimal). Bibit yang baru dibeli jangan segera dimasukkan
ke dalam kolam terpal wadah atau kolam untuk budidaya tapi harus melalui tahap
peredaman agar benih ikan dapat menyesuaikan diri dengan air di kolam terpal.
Tahap prendaman adalah sebagai berikut:
- Diapkan Bak / Ember Air kolam terpal yang akan dijadikan budidaya ikan
dimasukkan ke dalam ember/bak
- Benih Lele yang akan ditebar dimasukkan ke dalam ember
- Benih didiamkan selama kurang lebih selama 30 Menit (tujuan agar benih
ikan melakukan penyesuain dengan air kolam terpal) dan untuk
menghilangkan stres ikan setelah dipindatrkan dari habitat penangkaran dan
akan masuk ke habitat baru, setelah 30 menit benih dapat ditebar ke dalam
kolam terpal.
4. Pengaturan Kualitas air
Warna air yang terbaik bagi ikan lele berwarna hijau yang menunjukkan
bahwa kualitas air yang baik untuk ikan lele. Lele tidak suka air jernih.
5. Kedalaman air
Kedalaman air jangan terlalu dangkal karena penguapan akan membuat ikan
menjadi terlalu panas. Tentunya ini akan membuat ikan menjadi kelelahan dan mati.
Solusinya adalah dengan menambahkan air telah surut kembali ke posisi yang telah
ditentukan (sebelumnya harus terlebih dahulu ditandai).
6. Tingkat Kejernihan Air
80

Pada dasarnya lele tidak suka air jernih. Hal ini dapat dilihat dari sifat dan
bentuk tubuhnya. Pakan alam lele di malam hari menyebabkan lele tidak perlu
penglihatan yang baik. Hal ini juga didukung dari bentuk tubuh memiliki kumis di
sekitar mulut, yang berfungsi untuk meraba makanan, selain itu sistem pernapasan
ikan lele menggunakan labirin, yang berarti lele bernafasnya tidak bergantung pada
oksigen terlarut dalam air. Oleh karena itu dengan kondisi oksigen minimal lele
dapat bertahan hidup air berlumpur tersebut. Meskipun ikan lele tidak suka air
jernih, tidak bisa memasukan sembarangan air ke dalam kolam. Bisa jadi air yang
dimasukkan mengandung bakteri dan parasit yang dapat menyebabkan penyakit.
7. Pakan
Pakan diberikan 2 sampai 3 tiga kali sehari, pakan yang diberikan juga harus
sesuai dengan bobot tubuh ikan lele (3-5% dari bobot ikan lele). Pemberian pakan
tidak boleh terlalu berlebihan karena akan menimbulkan berbagai macam jenis
penyakit akibat pakan yang mengendap yang tidak termakan oleh ikan dan akan
menyebabkan amonia beracun.
8. Panen
Ikan yang dipelihara lebih selama 90 hari, ikan akan dipanen. Pemanenan
dilakukan dengan menyortir dengan memilih ikan yang layak untuk dikonsumsi
(dijual) ukuran biasanya 4 sampai 7 ekor per kg (atau bisa juga dijadikan indukkan)
atau sesuai dengan keinginan pembeli, maka ukuran yang lebih kecil dipelihara
kembali.
Jadi perbedaan antara budidaya yang sebelumnya adalah pemakaian
penutup/atap agar terhindar dari air hujan, jumlah benih yang ditebar lebih sedikit
dari budidaya sebelumnya yaitu 500 ekor. Selain itu harus juga diperhatikkan
pemberian pakan, kedalaman air, kejernihan air, pemanenan, agar dapat
menimalisir kesalahan yang terjadi seperti kematian massal ikan.

9. Laila Irvina Pramudito (Ilmu Kelautan)


Nama : Laila Irvina Pramudito
NPM : 230210150060
Tindak Lanjut Kegiatan : Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
81

Nama Kegiatan : Penyuluhan Pemisahan Sampah Rumah Tangga


Pendahuluan : Laut dan pesisir sangat dipengaruhi oleh kegiatan
yaang dilakukan di wilayah daratan. Pengelolaan laut dan pesisir harus terintegrasi
dengan pengelolaan wilayah daratan karena permasalahan di lautan seringkali
berakar dari kegiatan manusia di daratan. Hal ini terjadi karena sampah dan limbah
manusia banyak yang dibuang ke sungai, kemudian bermuara di laut.
Upaya mengatasi hal ini tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah, namun
oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu hal kecil yang bisa dilakukan oleh
masyarakat dapat dimulai dari pemilahan sampah yang baik. Namun upaya
pemilahan sampah harus diawali dengan kesadaran masyarakat mengenai
lingkungan dan pemahaman mengapa mereka harus melakukan pemilahan sampah
tersebut. Pemilahan ini dapat memudahkan masyarakat dalam mendaur ulang
barang-barang yang sebenarnya apabila dipilah dengan baik masih dapat
dimanfaatkan.
Pentingnya dilakukan hal ini karena dari hasil pengamatan, masyarakat
belum peduli dengan dampak besar yang mengintai di kemudian hari dari
kurangnya kesadaran terhadap lingkungan. Kegiatan pemilahan sampah ini
diharapkan dapat menjadi suatu gerakan yang menjadi cara bagi masyarakat untuk
menunjukan kesadaran dan partisipasi dalam pembangunan daerahnya secara
berkelanjutan.
Tujuan Kegiatan :
1. Meningkatkan kesadaran akan lingkungan sekitar.
2. Meningkatkan pemahaman mengenai dampak dari
3. Adanya kegiatan pemilahan jenis sampah oleh masyarakat RW 07 Desa
Cipacing yang berkelanjutan.
4. Adanya kegiatan daur ulang sampah oleh masyarakat RW 07 Desa Cipacing
yang berkelanjutan.
Peserta Kegiatan : Masyarakat RW 07 Desa Cipacing Kecamatan
Jatinangor, Sumedang.
82

Materi Kegiatan :
1. Materi mengenai dampak sampah terhadap lingkungan.
2. Materi mengenai 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
3. Materi mengenai pemilahan sampah.
4. Materi mengenai manfaat pemilahan sampah.
5. Materi mengenai pemanfaatan sampah.