You are on page 1of 2

Sri Mulyani: 62 Persen Utang Pemerintah

Berasal dari Uang Rakyat

Menkeu Sri Mulyani menjadi pembicara dalam seminar Problem Defisit Anggaran dan
Strategi Optimalisasi Penerimaan Negara 2017 di Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/2).
Seminar itu diselenggarakan Poksi XI Faksi Partai Golkar DPR RI. (Liputan6.com/Johan
Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, hingga Juli
2017, total utang pemerintah mencapai Rp 3.780 triliun. Dari angka tersebut, mayoritas utang
berasal dari masyarakat Indonesia sendiri.

Dia mengungkapkan, dari Rp 3.780 triliun, sekitar 62 persen berasal dari masyarakat melalui
berbagai instrumen seperti surat utang negara. "Kita meminjam kepada masyarakat Indonesia
sendiri (porsinya) 62 persen, yang uangnya dikelola bank, melalui reksa dana, surat utang,"
ujar dia di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (4/8/2017).

Menurut Sri Mulyani, hal ini membuktikan jika masyarakat Indonesia memiliki daya beli dan
investasi yang tinggi, untuk membeli surat utang negara. Oleh sebab itu, tidak perlu ada
kekhawatiran akan utang pemerintah tersebut.

"Mereka punya tabungan dan ingin investasi dalam surat utang negara, jadi bukan transaksi
merugikan. Masyarakat punya daya investasi untuk beli surat utang negara," kata dia.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, dari Rp 3.780 triliun utang pemerintah, yang
berasal pinjaman luar negeri sebesar 19,3 persen. Sedangkan mayoritas berasal dari surat
berharga negara (SBN) rupiah 58,4 persen, SBN valas sebesar 22,2 persen dan pinjaman
dalam negeri 0,1 persen.

1 dari 2 halaman

Utang untuk infrastruktur


Sri Mulyani Indrawati menyatakan, utang merupakan konsekuensi dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) yang defisit. Pemerintah menjalankan kebijakan fiskal ekspansif
untuk kegiatan produktif, salah satunya mengatasi ketertinggalan melalui pembangunan
infrastruktur.

Dalam Rancangan APBN 2018, pemerintah menargetkan pendapatan negara Rp 1.878,4


triliun dan belanja negara Rp 2.204,4 triliun. Itu artinya, ada defisit Rp 325,9 triliun atau 2,19
persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Belanja negara, di antaranya untuk mendukung pelaksanaan program penanggulangan


kemiskinan dan dukungan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sebesar Rp 292,8
triliun.
Anggaran infrastruktur Rp 409 triliun, anggaran kredit usaha ultra mikro Rp 2,5 triliun,
subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp 12 triliun, anggaran pendidikan Rp 440,9
triliun, anggaran kesehatan Rp 110,2 triliun, dan lainnya.

"Pemerintah mengambil pilihan kebijakan ekspansif (counter cyclical) agar momentum


pembangunan manusia dan pertumbuhan yang makin berkualitas karena investasi sumber
daya manusia tidak dapat ditunda, ketertinggalan pembangunan infrastruktur menjadi sumber
masalah dalam upaya pengurangan kemiskinan dan kesenjangan," jelas Sri Mulyani.

TANGGAPAN:

Berdasarkan siklus APBN yang terdapat di dalam perencanaan seharusnya pemerintah harus
lebih bijak dalam mengambil kebijakan dan pemerintah harus memprioritaskan kegiatan-
kegiatan atau program-program yang lebih di butuhkan di antara yang butuh ,dengan begitu
dapat mengurangi anggaran dan mengurangi utang negara.