BAB 1 PENDAHULUAN

Mikrobiota yang normal dalam tubuh berperan penting dalam kesehatan dan penyakit pada manusia dan hewan.Mereka berperan dalam perkembangan sistem imun dan menyediakan ketahanan terhadap mikroorganisme patogen. Mereka juga merupakan reservoir dari bakteri yang berpotensi patogen yang dapat menginfeksi jaringan . Di dalam rongga mulut, bakteri normal sering dihubungkan dengan etiologi dua penyakit mulut utama, yaitu karies dan penyakit periodontal yang endemi pada Negara industri dan bertambah pada Negara berkembang.Penyakit mulut sepertinya muncul akibat ketidakseimbangan antara mikroba normal, yang mengarah pada munculnya bakteri patogen. Untuk mendefinisikan proses yang terkait pada karies dan penyakit periodontal, diperlukan pemahaman tentang ekologi rongga mulut dan identifikasi faktor-faktor yang bertanggung jawab terhadap transisi mikroba normal dari hubungan komensal menjadi patogen terhadap host. Faktor yang mempengaruhi ekosistem rongga mulut terbagi atas tiga : faktor host, faktor mikroba, dan faktor luar.Dalam faktor host, secretory immunoglobulin A (sIgA) merupakan mekanisme pertahanan imun spesifik dalam saliva dan memiliki peran penting dalam homeostasis mikroba normal rongga mulut. Dalam makalah ini akan dibahas khususnya ekologi mikrobial rongga mulut yang dapat terbagi dalam dua bagian yaitu pada individu yang sehat serta dihubungkan pula dengan penyakit-penyakit mulut.

1|Page

BAB 2 ISI

Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik diantara organisme dengan lingkungan hidup(biotik) dan tidak hidup (abiotik)
Ekosistem terdiri atas komunitas mikroba tinggal dalam habitat tertentu dan lingkungan abiotik mengandung elemen fisik dan kimia. Ekosistem mulut terdiriatas mikroorganisme mulut dan lingkungannya

Dalam suatu ekosistem, perkembangan komunitas termasuk dalam rangkaian beberapa populasi.Prosesnya dimulai dengan kolonisasi habitat oleh populasi mikroba pelopor.Dalam rongga mulut bayi baru lahir, streptococci (S. mitis biovar1, S. oralis, dan S. salivarius) merupakan organisme pelopor. Mikroorganisme pelopor ini akanmengisi tempat dari lingkungannya yang baru dan mengubah habitat dan hasilnya,populasi baru akan berkembang. Selama prosesnya berlanjut, perbedaan dan kompleksitas komunitas mikroba bertambah. Perubahan akan berakhir jika tidak ada tambahan tempat yang didapatkan pada populasi yang baru, sekumpulan bakteri yang relatif stabil tercapai dan dikenal dengan komunitas klimaks.
Konsep stabil atau komunitas klimaks tidak menggambarkan kondisi statis. Stabilitas berdasarkan pada homeostasis, yang menyatakan tentang suatu mekanisme yang bekerja

untuk menjaga kondisi yang normal oleh bermacam-macam pengaturan yang bertujuan untuk melawan gangguan yang dapat mengganggu kondisi normal tersebut.Konsep homeostasis dan perubahan bakteri penting dalam mikrobiologi oral.Beberapa faktor, seperti diet tinggi sukrosa, dapat mengakibatkan kerusakan irreversibel terhadap homeostasis ekosistem oral, sehingga terjadi karies.

Ekosistem rongga mulut pada mamalia 1. Habitat Rongga mulut merupakan lingkungan yang lembab yang memiliki temperatur konstan 3436oC dan pH mendekati netral pada sebagian besar daerahnya sehingga mendukung pertumbuhan berbagai macam mikroorganisme. Bagaimanapun, rongga mulut tidak boleh termasuk lingkungan yang uniform. Terdapat beberapa habitat dalam rongga mulut, masing-masing dikarakteristikan oleh faktor psikokimia sehingga mendukung pertumbuhan komunitas mikroba yang berbeda-beda. Rongga mulut memiliki jaringan keras (gigi) dan jaringan lunak (mukosa). Gigi dapat digambarkan sebagai permukaan keras tanpa penggantian yang memberikan banyak tempat berbeda untuk kolonisasi bakteri di bawah
2|Page

(subgingival) dan di atas (supragingival) margin gingiva. Secara kontras, mukosa mulut dikarakteristikan sebagai deskuamasi pd permukaan epitel yg memungkinkan bakteri yg melekat mengeleminasi. Mukosa yang menutupi pipi, lidah, gingiva, palatum, dan dasar mulut berbeda tergantung lokasi anatomi.Epitelium dapat keratin (palatum) atau nonkeratin (sulcus gingiva) Lidah, dengan permukaan berpapilla menyediakan tempat kolonisasi yang terlindung dari pelepasan secara mekanik.Area antara pertemuan antara epitelium gingiva dan gigi, yang dinamakan sulcus gingiva, juga menyediakan tempat kolonisasi unik yang termasuk jaringan keras dan lunak. Permukaan oral juga diliputi oleh dua cairan fisiologis yang pen ting, yaitu saliva dan cairan sulcus gingiva.Cairan ini penting untuk memelihara ekosistem oral dengan cara membekalkan air, nutrien, dan faktor antimikroba. Lingkungan supragingiva diliputi oleh saliva, sedangkan subgingiva diliputi sebagian besar oleh cairan sulcus gingiva. Saliva merupakan campuran kompleks yang masuk ke rongga mulut melalui saluran tiga kelenjar ludah besar, yaitu parotis, submandibular, dan sublingual, serta kelenjar ludah minor. Saliva mengandung 99% air tapi juga mengandung glikoprotein, protein. Hormon, vitamin, urea, dan beberapa ion. Konsentrasi komponen-komponen ini akan berbeda tergantung aliran saliva. Peningkatan sedikit kecepatan sekresi menyebabkan bertambahnya sodium, bikarbonat, dan pH, serta berkurangnya potassium, kalsium, fosfat, klor, urea, dan protein. Pada kecepatan yang lebih tinggi, konsentrasi sodium, kalsium, klor, bikarbonat, dan protein bertambah sementara konsentrasi fosfat berkurang. Saliva membantu menjaga integritas gigi dengan menyediakan ion-ion seperti kalsium, fosfat, magnesium, dan flor untuk remineralisasi enamel. Cairan sulkus gingiva merupakan eksudat yang berasal dari plasma yg melalui gingiva sampai ke sulkus gingiva dan mengalir disepanjang gigi.Penyebaran cairan sulcus gingiva rendah tetepi meningkat saat inflamasi.Komposisinyamirip dengan plasma yaitu mengandung protein, albumin, le ukosit, Immunoglobulin dan komplemen.

2. Mikroba rongga mulut pada individu sehat Pada manusia, mikrobiota sangat kompleks dan menyebar.Terdiri dari lebih dari 300 spesies bakteri, termasuk protozoa, ragi, dan mikoplasma.Distribusinya berbeda-beda secara kualitatif dan kuantitatif tergantung habitatnya.Mutans streptococci (S. mutans, S. sobrinus, S. cricetus, andS. rattus) dan S. sanguisditemukan lebih banyak pada gigi,sementaraS. salivariusterisolasi sebagian besar pada lidah.S. mutans and S. sanguismuncul di rongga mulut setelah erupsi gigi.

3|Page

a. Gigi Pada gigi, mikroorganisme berkoloni dalam bentuk misel padat pada plak gigi.Plak gigi terdiri dari komunitas mikrobial yang terorganisir dalam matrik kompleks yang mengandung produk mikrobial ekstraseluler dan komponen saliva.Komposisi mikrobial plak berubahubah tergantung tempat dan waktu.Plak berkembang secara khusus pada tempat yang terlindung dari gesekan mekanik, seperti area aproksimal, area subgingiva, serta pit dan fissure. Organisme yg utama pd plak gigi di supragingival yaitu :bakteri gram positif,bakteri fakultatif anaerob terutama Aktinomises sp dan streptokokus, bakteri gram negatif yaitu Veillonella, haemofilus & bakteroides juga sering tapi pada proporsi yg lebih rendah. Pada sulcus gingiva yang sehat, jumlah bakteri relatif sedikit.Plak subgingiva juga didominasi oleh bakteri gram positif (Actinomyces dan streptococci).Sepertinya mikrobiota sulcus gingiva merupakan perpanjangan dari plak supragingiva.Bakteri gram negatif bentuk batang yaituPorphyromonasgingivalis, Porphyromonas endodontalis, Prevotella melaninogenica,Prevotella intermedia, Prevotella loescheii, and Prevotella denticola jarang diisolasi dari sulkus gingiva yg sehat. b. Permukaan Mukosa Kurang informasi yang tersedia untuk mikrobiota permukaan mukosa.Mukosa mulut pada gingiva, palatum, pipi, dan dasar mulut dikolonisasi oleh sedikit mikroorganisme (0 -25 CFU/epithelial sel).Streptokokus proporsinya paling banyak pada tempat itu dan yg predominan adalah S.oralis dan S.sanguis.Genus neisseria, haeofilus dan veilonella juga diisolasi.Pada lidah jumlah dan penyebaran bakteri lebih banyak. Streptococcus spp. (S.salivarius and S. mitis) dan Veillonella spp. Merupakan predominan mikrobiota. Kelompok lainnya yaitu Peptostreptokokus sp, Batang gram positif (sebagian besar Aktinomises sp) , Bakteroides sp, dan Gram negatif batang lainnya. Batang anaeobik dan spirokhetes dapat berkaitan dengan penyakit periodontal.

3. Mikroba rongga mulut berhubungan dengan penyakit mulut Telah diketahui denga baik bahwa karies dan penyakit periodontal merupakan penyakit infeksi yang berhubungan dengan mikroorganisme pada plak gigi.Terdapat dua hipotesis utama tentang penyebaba plak pada penyakit mulut. Hipotesis spesifik plak menyatakan bahwa hanya sebagian mikroorganisme yang terlibat dalam proses penyakit mulut, sedangkan hipotesis lain menyatakan bahwa penyakit berasal dari interaksi seluruh plak dengan host.

4|Page

Karies Karies dental merupakan penyakit bakterial pada jaringan keras gigi; ditandai dengan disintegrasi struktur gigi yang terlokalisir dan progresif.Demineralisasi gigi disebabkan oleh asam organik yang dihasilkan dari fermentasi bakteri terhadap substrat karbohidrat.Penyerapan karbohidrat yang berulang-ulang dapat mengarah pada pilihan bakteri yang acidogenic (mampu menghasilkan asam dari karbohidrat) dan aciduric (mampu mentoleransi asam) dan dapat menimbulkan penurunan pH lingkungan.Kondisi ini yang berakibat solubilisasi mineral gigi.pH dimana demineralisasi dimulai diketahui sebagai pH kritis dengan jangkauan dari pH 5.0 dan 5.5. Kompleksitas komunitas bakteri pada plak gigi manusia membuat sulit untuk menentukan agen bakteri karies. Walaupun terdapat beberapa bukti bahwa mutans streptococci (S. mutans dan S. sobrinus)dan Lactobacillus terlibat dalam inisiasi dan proses karies. Kedua grup bakteri ini mampu memetabolisir karbohidrat menjadi asam dengan cepat serta tahan pada lingkungan pH rendah. Penyakit Periodontal Penyakit periodontal digambarkan sebagai keadaan inflamasi secara patologis dari jaringan pendukung gigi.Ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu gingivitis dan periodontitis .Gingivitis didefinisikan sebagai inflamasi gingiva yang tidak berpengaruh terhadap perlekatan gigi.Periodontitis termasuk kerusakan jaringan penghubung perlekatan gigi dan dekat tulang alveolar. Perjalanan kerusakan jaringan periodontal adalah proses kompleks termasuk diantaranya akumulasi plak, pelepasan kandungan bakterial, serta respon inflamasi host. Walaupun bakteri jarang menginvasi jaringan, mereka dapat melepaskan substansi yang menembus gingiva dan menyebabkan kerusakan jaringan secara langsung, oleh enzim dan endotoksin, atau secara tidak langsung oleh inflamasi. Pada manusia, gingivitis juga berhubungan dengan akumulasi plak di sekitar margin gingiva.Pada sulcus gingiva yang sehat, jumlah mikroorganisme sedikit dan didominasi oleh bakteri gram positif.Jumlah sel bakteri pada plak yang berhubungan dengan gingivitis 10-20 kali lipat dari gingiva sehat. Predominan bakteri gram positif yaitu Actinomyces naeslundii genospecies 2 (formerly A.viscosus), A. naeslundii, S. sanguis, S. mitis, and Peptostreptococcusmicros. Bakteri batang gram negatif yaitu :F. nucleatum, P. intermedia,Veillonella, Wolinella, Capnocytophaga, and Haemophilus.Walaupun kurang jelas apakah gingivitis diperlukan untuk perkembangan bentuk periodontitis, beberapa spesies yang predominan pada periodontitis ditemukan dalam jumlah kecil pada gingivitis. Pada periodontitis kronis mikrobiota secara ekstrim menyebar dan dapat mencapai lebih dari 150 spesies yang berbeda, diantaranya yaitu anaerob batang gram negatif dan
5|Page

spirochetes dalam jumlah besar. Spesies predominan meliputi P. gingivalis, P. intermedia, Bacteroides forsythus,A. actinomycetemcomitans, W. recta, E. corrodens, Treponema denticola,dan P. micros. Periodontitis kronis mungkin terjadi akibat aktivitas mikrobial dari bermacam-macam mikroorganisme, khususnya bakteri anaerob batang gram negatif. Hipotesis ekologi plak dapat diaplikasi untuk menjelaskan peran mikroorganisme pada penyakit periodontal.

6|Page

BAB 3 PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam suatu ekosistem , dalam hal ini ekosistem rongga mulut terdapat bermacammacam mikroba, cairan, substansi maupun sistem-sistem yang terdapat di dalamnya untuk mempertahankan keseimbangan (homeostasis) dalam rongga mulut. Keseimbangan ini sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kelainan ataupun penyakit pada jaringanjaringan rongga mulut. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ekosistem rongga mulut yaitu faktor host, faktor mikroba, dan faktor-faktor lainnya Dalam rongga mulut, sejak awal sudah terdapat mikroba-mikroba normal yang tinggal di sana. Mikroba tersebut sudah memiliki daerah masing-masing untuk ditempati di rongga mulut. Mikroba tersebut merupakan mikobiota normal yang berhubungan secara komensal dengan host (manusia). Walaupun demikian, mikroba -mikroba ini dapat berubah dari mikroba komensal menjadi mikroba yang bersifat patogen akibat faktor-faktor seperti makanan, obat-obatan, rokok, dan lain-lain.Ini dapat menyebabkan beberapa macam penyakit mulut seperti karies dan penyakit periodontal. Walaupun dalam tubuh kita sudah memiliki sistem keseimbangan yang memungkinkan kita terhindar dari penyakit, tapi jika kita kurang memperhatikan kesehatan mulut kita maka perkembangan bakteri patogen akan semakin banyak dan menyebabkan penyakit yang dapat mempengaruhi bukan hanya rongga mulut tapi seluruh tubuh kita.

7|Page

DAFTAR PUSTAKA

Catatan Kuliah Oral Biologi III Dinamika Ekosistem di Rongga Mulut .PSKG UNSRAT. drg. Krista Veronica Siagian Diktat Ilmu Konservasi Gigi I. Operative Dentistry.Tim Ajar Konservasi Gigi. Manado. PSKG UNSRAT. Harold Marcotte; Marc C. Lavoie, Oral Microbial Ecology and the Role of Salivary Immunoglobulin A [online] http://mmbr.asm.org/cgi/content/full/62/1/71, diakses tanggal 12 Juni 2010) ____________, 2010, Kesehatan lingkungan rongga mul ut dan penyakitnya [online]
http://dentistcentre.blogspot.com/2009/03/kesehatan -lingkungan-rongga-mulut-dan.html,

diakses tanggal 12 Juni 2010)

8|Page

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.