You are on page 1of 21

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1 PROFIL LAHAN PRAKTIK

1.1.1 KEADAAN GEOGRAFI, TOFOGRAFI, DAN IKLIM

Kecamatan Sebawi terletak diantara 10 11’ 32” Lintang Utara serta 10 19’

57” Lintang Utara dan 1090 20’ 06” Bujur Timur. Secara administratif,

batas wilayah kecamatan sebawi adalah :

 Sebelah Utara berbatasan dengan : Kecamatan Sambas

 Sebelah Selatan berbatasan dengan : Kecamatan Tebas

 Sebelah Timur Berbatasan dengan : Kecamatan Subah

 Sebelah Barat Berbatasan dengan : Kecamatan Tebas

Luas wilayah Kecamatan Sebawi adalah 161,55 Km2 atau sekitar 2,52%

dari luas wilayah Kabupaten Sambas.

Pada tahun 2016, Kecamatan Sebawi terdiri dari 7 desa. Desa terluas

adalah Desa Sebawi dengan luas wilayah 45,00 Km2 atau 27,86%

sedangkan yang terkecil adalah desa tempatan dengan luas wilayah sebesar

9,93 Km2 atau 6,15% dari luas wilayah Kecamatan Sebawi.

Kecamatan Sebawi termasuk daerah beriklim tropis dengan curah hujan

bulanan rata-rata 331,13 mm dan jumlah hari hujan rata-rata 11 hari/bulan.

Curah hujan yang tertinggi terjadi pada bulan September sampai dengan

Januari dan curah hujan terendah antara bulan Juni sampai dengan bulan

Agustus. Temperature udara rata-rata berkisar antara 22,9˚C – 31,05˚C.

suhu udara terendah 21,2˚C terjadi pada bulan Agustus dan yang tertinggi
33,0˚C pada bulan Juli. Kelembaban udara relative 81-90%, tekanan udara

1,00 – 1,01/Hm Bar, kecepatan angin 155-173 Km/hari.

Kecamatan Sebawi merupakan daerah penghujan dengan intensitas yang

tinggi, karena dipengaruhi oleh hutan tropis dan kelembaban udara yang

cukup tinggi. Keadaan-keadaan lingkungan tersebut tentunya mempunyai

pengaruh terhadap kesehatan masyarakat, terutama pada tempat-tempat

yang merupakan daerah genangan karena berpotensi sebagai lokasi

perkembangbiakan bagi nyamuk.

Gambar 1

Persentase Luas Wilayah Kecamatan Sebawi


1.1.2 WILAYAH ADMINISTRASI

Wilayah administrasi Kecamatan Sebawi meliputi 7 desa binaan yaitu

Desa Sempalai Sebedang, Sepuk Tanjung, Sebawi, Tebing Batu, Rantau

Panjang, Sebangun, Tempatan. Jumlah dusun keseluruhan yang ada di

Kecamatan Sebawi berjumlah 19 Dusun.

Gambar 2

Peta Kecamatan Sebawi


Wilayah Administrasi Kecamatan Sebawi

No Desa Luas(km2 % Luas Dusun RT RW

) Kecamatan

1 Sebangun 12,87% 7,97% 3 14 6

2. Sebawi 45,00% 27,86% 2 10 5

3. Rantau Panjang 20,00% 12,38% 2 12 6

4. Sempalai Sebedang 32,00% 19,81% 3 14 7

5. Sepuk Tanjung 17,15% 10,61% 3 13 3

6. Tebing Batu 24,60% 15,23% 3 16 8

7. Tempatan 9,93% 6,15% 3 11 6

Jumlah 6395,75 100% 572 1101 2760

Sumber: BPS Kab. Sambas 2016, Wikipedia.

1.1.3 KEADAAN DEMOGRAFI

Penduduk wilayah Puskesmas Sebawi berjumlah 16.834 jiwa. Perincian

jumlah penduduk untuk setiap desa adalah sebagai berikut:

1. Desa Sempalai Sebedang 3 Dusun 3.092 jiwa 755 KK

2. Desa Sepuk Tanjung 3 Dusun 2.734 jiwa 756 KK

3. Desa Sebawi 2 Dusun 2.878 jiwa 764 KK

4. Desa Tebing Batu 3 Dusun 2.163 jiwa 627 KK

5. Desa Rantau Panjang 2 Dusun 1.829 jiwa 597 KK

6. Desa Sebangun 3 Dusun 1.836 jiwa 498 KK


7. Desa Tempatan 3 Dusun 2.302 jiwa 660 KK

Gambar 3 :

Penduduk Kecamatan Sebawi Menurut Jenis Kelamin Tahun 2016

Sumber : BPS Kabupaten Sambas

1.1.4 SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar

terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal sesuai dengan

Undang-Undang No. 36 tahun 2009.

Untuk mengetahui gambaran derajat kesehatan masyarakat dapat diukur

dari indikator-indikator yang digunakan antara lain angka kematian, Umur

Harapan Hidup, angka kesakitan serta status gizi. Indikator tersebut dapat
diperoleh melalui laporan dari fasilitas kesehatan (fasility based) dan data

yang dikumpulkan dari masyarakat (community based).

Selain dipengaruhi oleh faktor Kesehatan seperti Pelayanan Kesehatan dan

ketersediaan sumberdaya kesehatan, derajad kesehatan masyarakat juga

dipengaruhi oleh faktor lain seperti faktor ekonomi, pendidikan,

lingkungan sosial, serta faktor lainnya.

a) MORTALITAS (Angka Kematian)

Mortalitas adalah kejadian kematian yang terjadi pada kurun waktu

dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaaan tertentu, dapat

berupa penyakit maupun sebab lainnya. Kejadian kematian dalam

masyarakat seringkali digunakan sebagai indikator dalam menilai

keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan

kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung

dengan melakukan berbagai survei dan penelitian.

1) Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah penduduk yang

meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam

1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Usia bayi

merupakan usia yang rentan terhadap kesakitan maupun kematian

dan merupakan indikator yang lazim digunakan untuk

menentukan derajat kesehatan masyarakat, sehingga program-

program kesehatan dititik beratkan pada upaya penurunan AKB.

Angka Kematian Bayi (AKB) data tersebut didapat melalui


survey yang dilakukakn badan resmi yaitu BPS (Badan Pusat

Statistik).

Angka kematian bayi diklasifikasikan menjadi empat kelompok

yaitu rendah jika AKB kurang dari 20; sedang jika AKB 20-49;

tinggi jika AKB 50-99 dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per

1000 dari kelahiran hidup. Berdasarkan laporan Audit Maternal

Perinatal Puskesmas tahun 2014 jumlah kasus kematian bayi

yang tercatat sebanyak 13 kasus dari 355 kelahiran hidup.

Estimasi Angka Kematian Bayi (AKB) berdasarkan laporan Audit

Maternal Perinatal Dinas Kesehatan Kab. Sambas adalah 36

perseribu kelahiran hidup, dengan kata lain terdapat 36 kasus

kematian bayi setiap 1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan data

tersebut maka Kecamatan Sebawi masuk pada kategori sedang.

Beberapa faktor yang memiliki kontribusi terkait dengan

kejadian Kasus Kematian Bayi maupun pada Kasus Kematian Ibu

diantaranya:

a) Pendidikan Ibu dan Kesehatan Reproduksi masih rendah.

Faktor pendidikan dan pengetahuan ibu merupakan variabel

yang memiliki pengaruh cukup besar pada kejadian kasus

kematian bayi di Kab. Sambas. Semakin rendah tingkat

pendidikan ibu dan keluarga maka semakin rendah kesadaran

untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dari data yang

diperoleh sebagian besar ibu yang ada dikabupaten sambas

masih memiliki tingkat pendidikan yang rendah sehingga hal


ini memiliki dampak yang cukup besar pada kejadian

kematian bayi maupun ibu.

b) Keterbatasan Akses karena Hambatan Geografi.

Tidak dapat dipungkiri dengan letak georafis Kabupaten

Sambas yang cukup luas dan merupakan daerah DPTK

sangat mempengaruhi Akses Kesehatan di wilayahnya.

Hambatan geografis dan tranportasi menjadi salah satu

penyebab keterlambatan pertolongan yang memiliki

kontribusi terhadap kasus kematian bayi maupun ibu.

c) Usia Resiko Tinggi

Salah satu variabel determinan yang mempengaruhi

Kesehatan Ibu dan bayi diantaranya adalah Usia Ibu.

Adanya faktor 4T yang meliputi terlalu muda < 20 Tahun,

Terlalu Tua > 35 Tahun dan Terlalu Banyak Anak sangat

mempengaruhi status derajat kesehatan ibu yang berdampak

pula pada kesehatan bayi. Dari data yang ada ibu yang

memiliki faktor 4 T di wilayah Kabupaten sambas masih

cukup tinggi dan ini akan meningkatkan faktor resiko

kejadian Kematian bayi maupun ibu.

d) Adanya Penyakit Penyerta.

Penyakit penyerta pada ibu hamil merupakan salah faktor

resiko yang cukup banyak memberikan kontribusi pada

Kasus Kematian Ibu di Kabupaten Sambas. Penyakit

penyerta yang dialami pada ibu hamil diantaranya yaitu CHF


(Chronic Heart Failure) NYHA GR III-IV (hipertensi kronis,

Decomcordis fungsional class III-IV, oedem paru acut).

Penyakit penyerta yang diderita oleh ibu menyebabkan resiko

yang cukup besar terhadap kesehatan bayi.

e) Gizi Pada Ibu Hamil.

Status Gizi pada ibu hamil berpengaruh pada proses

kehamilan dan persalinan,mual dan muntah yang berlebihan

pada saat hamil muda mengakibatkan terjadinya Gizi kurang

pada ibu hamil yang akan mempengaruhi proses tumbuh

kembang janin yang berisiko kelahiran bayiberat lahir rendah

(BBLR).

Adapun upaya – upaya yang telah dilakukan dalam rangka

menurunkan Kasus Kematian bayi di antaranya:

a. Peningkatan Pelayanan Kehamilan dan Penanganan

Anemia semasa hamil.

b. Peningkatan Pelayanan Bayi dan anak termasuk

perbaikan Gizi

c. AMP (Audit Maternal Perinatal)

d. Kelas ibu hamil

e. Penguatan pelaksanaan IMD dan Asi Eksklusif

f. Penguatan Kemitraan bidan dan dukun bayi

g. Penguatan kemitraan bidan dan bidan

h. Deteksi dini faktor resiko tinggi maternal dan neonatal


i. Peningkatan kapasitas tenaga bidan di tingkat pelayanan

kesehatan dasar dan rujukan.

j. Penguatan Sistem Rujukan Maternal dan neonatal.

1) Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate)

Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator

penting dari derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan

jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian

terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama

kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas tanpa

memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.

AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait

dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan

secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan

melahirkan. Sensitivitas AKI terhadap perbaikan pelayanan

kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan

sector kesehatan.

Kematian ibu maternal adalah kematian ibu karena kehamilan,

melahirkan dan selama nifas. Angka kematian ibu merupakan

salah satu indikator yang cukup penting untuk menggambarkan

status kesehatan ibu dan gizi, kesehatan lingkungan, dan tingkat

pelayanan kesehatan. Data tersebut didapat melalui survey yang

dilakukan badan resmi yaitu BPS (Badan Pusat Statistik)

Berdasarkan klasifikasi Angka Kematian Ibu dari WHO adalah <

15 per 100.000 kelahiran hidup pada kategori sangat rendah, 15 –


199 perkelahiran hidup pada kategori rendah, 200 – 499 pada

kategori sedang, 500 – 999 per 100.000 pada kategori tinggi dan

≥ 1000 per 100.000 kelahiran hidup pada kategori sangat tinggi.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari puskesmas dan rumah

sakit pada tahun 2014, jumlah kasus kematian ibu maternal

sebanyak 1 orang dari 355 kelahiran hidup. Estimasi Angka

Kematian Ibu (AKI) berdasarkan laporan puskesmas di Dinas

Kesehatan Kab. Sambas adalah 281 per 100.000 dengan kata lain

terdapat 281 kematian ibu setiap kelahiran hidup. Berdasarkan

angka estimasi tersebut maka Kecamatan Sebawi masuk pada

kategori sedang.

Terjadinya kasus kematian ibu di Kecamatan Sebawi disebabkan

beberapa factor diantaranya factor sosial budaya dimana

kepercayaan terhadap mitos masih tinggi dan masih ada

persalinan yang ditolong oleh dukun juga sulitnya transportasi

terutama di daerah yang menghambat jangkauan ke fasilitas

kesehatan.

Beberapa faktor yang memiliki kontribusi terkait dengan

kejadian Kasus Kematian Ibu di Kecamatan Sebawi diantaranya:

a. Pendidikan Ibu dan Kesehatan Reproduksi masih rendah.

Faktor pendidikan dan pengetahuan ibu merupakan variabel

yang memiliki pengaruh cukup besar pada kejadian kasus

kematian. Penyebab tidak langsung berkaitan dengan masih

rendahnya taraf pendidikan ibu, kurangnya pengetahuan


kesehatan reproduksi serta rendahnya status sosial ekonomi

menjadi latar belakang kuatnya referensi perempuan dalam

memahami, memilih dan menetukan tenaga penolong

persalinan.

b. Keterbatasan Akses karena Hambatan Geografi.

Tidak dapat dipungkiri dengan letak geografis Kec. Sebawi

yang cukup luas dan merupakan daerah DPTK, sangat

mempengaruhi akses kesehatan di wilayahnya. Hambatan

Geografis dan Tranportasi menjadi salah satu penyebab

keterlambatan pertolongan dan banyaknya persalinan yang

dilakukan di non fasilitas kesehatan. Hal tersebut terlihat

sebanyak 2 kasus (15%) dari 13 kasus kematian ibu,

persalinan masih dilakukan di rumah.Tenaga penolong

persalinan di Kecamatan Sebawi khususnya bidan sebagai

pemberi layanan kesehatan ibu dan anak ditingkat pelayanan

kesehatan dasar menjadi andalan utama bagi masyarakat.

Kab. Sambas dengan wilayah yang cukup luas dan secara

geografis , terpencil dan sulit dijangkau.

c. Usia Resiko Tinggi

Salah satu variabel determinan yang mempengaruhi

Kesehatan Ibu diantaranya adalah Usia Ibu. Adanya faktor

4T yang meliputi terlalu muda < 20 Tahun Terlalu Tua > 35


Tahun dan Terlalu Banyak Anak sangat mempengaruhi

status derajat kesehatan ibu.

d. Adanya Penyakit Penyerta.

Penyakit penyerta pada ibu hamil merupakan faktor resiko

yang cukup banyak memberikan kontribusi pada Kasus

Kematian Ibu di Kabupaten Sambas. Penyakit penyerta yang

dialami pada ibu hamil merupakan penyebab langsung

berkaitan dengan kondisi saat hamil dan melahirkan. Saat

melahirkan yaitu perdarahan sebanyak 4 kasus (30,7%),

suspek emboli 2 kasus (15,3%), eklamsi 1 kasus (7,6%),

TRALI (Transfusion Related Acute Lung Injury) 1

kasus(7,6%). Penyebab langsung tersebut diperburuk oleh

status kesehatan dan gizi ibu yang kurang baik sehingga

terjadi saatkehamilan yaitu Sepsis 1 kasus dalam usia

kehamilan 35-36 mg dan CHF (Chronic Heart Failure)

NYHA GR III-IV dalam usia kehamilan 34-35 mg sebanyak

1 kasus, Illius Paralitik sebanyak 1 kasus, Diare dengan

komplikasi sebanyak 1 kasus, Hipovolemik sebanyak 1

kasus.

Adapun Upaya – upaya Yang Telah dilakukan dalam rangka

menurunkan Kasus Kematian Ibu di Kabupaten Sambas di

antaranya:

a. AMP (Audit Maternal Perinatal)

b. Deteksi faktor resiko tinggi maternal


c. Rumah Tunggu Kelahiran

d. Kelas ibu hamil

e. Peningkatan Pelayanan Kehamilan dan Penanganan

Anemia semasa hamil.

f. Integrasi lintas sektor untuk optimalisasi usia

perkawinan.

g. Penguatan Sistem Rujukan Maternal dan Neonatal.

h. Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan

i. Penguatan Kemitraan bidan dan dukun bayi

j. Penguatan Kemitraan bidan dan bidan.

k. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Siaga.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan umum

Setelah selesai mengikuti PKL kebidanan komunitas dilapangan

mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan bermutu dan

komprehensif kepada masyarakat sesuai dengan kebudayaan setempat.

1.2.2 Tujuan khusus

Setelah selesai mengikuti praktikum asuhan kebidanan komunitas

dilapangan mahasiswa dapat:

a) Mampu mengumpulkan data secara lengkap dan sesuan kebutuhan.

b) Mampu melakukan tabulasi data dan memprioritaskan masalah.

c) Mampu mengadakan Musyawarah masyarakat desa yang

menghasilkan rencana intervensi pemecahan masalah.


d) Mampu menggerakkan upaya KIA diwilayah praktik.

e) Mampu membangun jaringan pada pelayanan kebidanan komunitas.

f) Mampu melaksanakan kunjungan rumah pada kasus kebidanan dan

neonatal.

g) Mampu melaksanakan ANC di komunitas.

h) Mampu melaksanakan upaya promotif dan preventif pada wanita

selama daur kehidupan.

1.3 Manfaat

1.3.1 Bagi mahasiswa

a) Dapat menerapkan ilmu yang diperoleh diperkliahan secara nyata

diwilayah PKL.

b) Mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam menyelenggarakan PKL

serta memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam menangani

masalah kesehatan yang ada di masyarakat yang berhubungan dengan

kia dan KB.

c) Dapat bekerjasama dengan institusi terkit dalam rangka mengurangi

masalah kesehatan ditingkat desa.

1.3.2 Bagi pemerintah

Dengan adanya PKL kebidanan komunitas diharapkan hasil temuan yang

ada dilokasi PKL kebidanan Komunitas dijadikan masukan bagi

pemerintah untuk merencanakan program kesehatandimana yang aan

datang.
1.3.3 Bagi Masyarakat

Dapat menambah pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan dan

termotivasi untuk bertindak sesuai perilaku hidup sehat.

1.3.4 Bagi institusi pendidikan

Sebagai bahan masukan untuk pelaksanaan PKL Kebidanan komunitas di

masyarakat yang akan datang.

1.4 Sasaran

Sasaran dalam PKL Kebidanan Komunitas ini yaitu semua lapian

masyarakat tanpa terkecuali dan yang menjadi masalah terpenting yaitu

dalam usaha kesehatan keluarga sehingga dicarikan solusi pemecahan dalam

masalah tersebut sehingga kesehatan masyarakat meningkat dan mengurangi

tingkat kesakitan. Dalam PKL Kebidanan komunitas ini yag menjadikan

sasaran yaitu masyarakat didesa Sebawi kecamatan Sebawi Kabupaten

Sambas.
BAB II PENGKAJIAN

Dari data profil puskesmas didapatkan pengkajian diwilayah kerja

Puskesmas Sebawi sesuai dengan SPM (Standar Pencapaian Mutu) KIA

2.1 Cakupan Kesehatan Ibu hamil

N
o Jenis Layanan Standar Target Sasaran Capaian ( % )
Abs
Pelayanan Kesehatan Ibu
Hamil
1) Desa Sebawi 100% 71 2 2,81
2) Desa Sempalai Sebedang 100% 76 6 7,89
1 3) Desa Sepuk Tanjung 100% 68 6 8,82
4) Desa Sebangun 100% 47 2 4,25
5) Desa Tempatan 100% 63 5 7,93
6) Desa Tebing Batu 100% 55 5 9,09
7) Desa Rantau Panjang 100% 47 1 2,12
Puskesmas 100% 424 27 6,36

2.2 Cakupan Kesehatan Ibu Bersalin

Pelayanan Kesehatan Ibu


Bersalin Target sasaran abs Capaian(%)
1) Desa Sebawi 100% 68 3 4,41
2) Desa Sempalai Sebedang 100% 73 8 10,95
2 3) Desa Sepuk Tanjung 100% 65 5 7,69
4) Desa Sebangun 100% 45 5 11,11
5) Desa Tempatan 100% 60 3 5,00
6) Desa Tebing Batu 100% 53 1 1,88
7) Desa Rantau Panjang 100% 45 5 11,11
Puskesmas 100% 405 30 7,40
2.3 Cakupan Pelayanan kesehatan Bayi Baru Lahir

Pelayanan Kesehatan Bayi


Target Sasaran Abs Capaian(%)
Baru Lahir

1) Desa Sebawi 100% 66 3 4,54

2) Desa Sempalai Sebedang 100% 71 8 11,26

3 3) Desa Sepuk Tanjung 100% 63 4 6,34

4) Desa Sebangun 100% 42 5 11,90

5) Desa Tempatan 100% 53 1 1,88

6) Desa Tebing Batu 100% 50 1 2,00

7) Desa Rantau Panjang 100% 42 5 11,90

Puskesmas 100% 387 27 6,97

2.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Balita

Pelayanan Kesehatan Balita Target Sasaran Abs Capaian(%)

1) Desa Sebawi 100% 320 17 5,31

2) Desa Sempalai Sebedang 100% 344 6 1,74

3) Desa Sepuk Tanjung 100% 303 21 6,93


4
4) Desa Sebangun 100% 204 14 6,86

5) Desa Tempatan 100% 254 9 3,54

6) Desa Tebing Batu 100% 240 4 1,66

7) Desa Rantau Panjang 100% 203 23 11,33

Puskesmas 100% 1868 94 5,03


2.5 Cakupan Angka Kelahiran Dan Kematian

Angka Kelahiran Lahir Hidup Lahir Mati

1) Desa Sebawi 3 0

2) Desa Sempalai Sebedang 8 0

3) Desa Sepuk Tanjung 5 0


5
4) Desa Sebangun 5 0

5) Desa Tempatan 3 0

6) Desa Tebing Batu 1 0

7) Desa Rantau Panjang 5 0

Puskesmas 30 0
BAB III

PERENCANAAN

3.1 Masalah di wilayah Puskesmas Sebawi.

Masalah kebidanan yang ada diwilayah Puskesmas Sebawi yang ditemukan

yaitu

1. Masih Adanya Persalinan oleh dukun

2. Cakupan K4 Masih Kurang

3. Cakupan K1 Masih Kurang

3.2 Planning Of Action


BAB IV

PELAKSANAAN DAN EVALUASI

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN