PENULISAN ARTIKEL UNTUK JURNAL ILMIAH

Joko Nurkamto Bagian I Berbagi Pengalaman A. Pendahuluan Salah satu hal yang didambakan oleh guru dan dosen adalah dapat naik pangkat dan jabatan fungsional dengan lancar karena kenaikan pangkat dan jabatan tersebut membawa konsekuensi kenaikan gaji dan/atau kesempatan menduduki jabatan struktural tertentu dan/atau melakukan “pekerjaan” tertentu. Salah satu aktivitas yang dapat mempercepat kenaikan pangkat dan jabatan fungsional itu adalah menulis artikel untuk dimuat dalam jurnal ilmiah. Untuk dosen, misalnya, angka kredit (credit point) yang dihasilkan dari penulisan artikel tersebut adalah 40 untuk jurnal ilmiah internasional, 25 untuk jurnal ilmiah nasional terakreditasi, dan 10 untuk jurnal nasional tak terakreditasi. Hasil penelitian yang tidak dipublikasikan hanya memiliki nilai 2 atau 3. Namun demikian, tidak banyak guru dan dosen yang, karena alasan tertentu, “mau” memanfaatkan kesempatan tersebut. Meskipun ada standard minimal bagi semua jurnal ilmiah, setiap jurnal dikelola menurut gaya selingkung tertentu; akibatnya, tidak ada keseragaman di antara jurnal-jurnal ilmiah tersebut. Hal itu, pada gilirannya, “mempersulit” calon penulis untuk menulis artikelnya di jurnal tersebut. Melalui makalah singkat ini saya ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana menulis artikel untuk jurnal ilmiah. Pengalaman yang ingin saya sampaikan meliputi (1) alasan menulis artikel, (2) jenis artikel, (3) prosedur pengiriman artikel, (4) kriteria penerimaan, dan (5) penutup. Selanjutnya, akan saya beri contoh artikel yang telah dimuat di jurnal ilmiah. Dari contoh tersebut, dapat kita kaji aspek-aspek penting yang terkait dengan teknik penulisan. B. Alasan Menulis Artikel Ada beberapa alasan mengapa saya menulis artikel di jurnal ilmiah. Pertama, seperti telah diutarakan di atas, penulisan artikel di jurnal ilmiah memiliki bobot kredit yang tinggi. Kedua, saya ingin hasil pikiran saya dapat diketahui dan dipahami oleh kalangan yang lebih luas. Di samping dimaksudkan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, hal ini juga dimaksudkan agar saya memperoleh masukan/balikan dari mereka. Apabila dianggap layak, tulisan saya tersebut juga dapat dijadikan rujukan atau data sekunder dalam penelitian lain. Ketiga, beberapa tulisan saya dalam jurnal ilmiah dapat menjadi suplemen referensi dalam perkuliahan, baik mahasiswa saya sendiri di UNS maupun mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Keempat, penulisan artikel di jurnal ilmiah juga dimaksudkan untuk membangun individual (dan syukur-syukur institutional) expertise. Ketika orang tidak pernah “publish” orang lain tidak akan pernah mengenalnya; sebaliknya dengan mempublikasikan diri melalui tulisan, orang lain akan mengenal kemampuannya. Hal ini pada gilirannya mempermudah terbentuknya jaringan kerja (network) akademisi dan/atau ilmuwan demi kemajuan ilmu dan teknologi. Kelima, dengan menulis artikel saya “terpaksa” harus membaca banyak referensi, dan hal ini membuat pengetahuan saya bertambah secara signifikan. Di samping itu, dengan menulis artikel saya juga “terpaksa” harus rajin meng-update referensi yang asaya miliki karena saya akan merasa malu kalau referensi yang saya gunakan tergolong usang. Keenam, efek samping

1

(3) isi ringkas buku. masalah dan/atau tujuan penelitian. ada jurnal ilmiah terakreditasi yang menyediakan space untuk resensi buku (book review). Meskipun singkat. (2) nama dan afiliasi penulis. Sistematika artikel jenis ini adalah sebagai berikut: (1) judul artikel – RESENSI BUKU. Paling tidak ada tiga alasan mengapa hal ini terjadi. (4) pendahuluan. maupun penulisnya. untuk 2 . Di sini redaktur jurnallah yang berkepentingan. C. (8) simpulan dan saran. Kadang-kadang artikel jenis ini juga merupakan hasil meta analisis. Kelebihan dan kekurangan buku tersebut dikemukakan secara objektif dan proporsional berdasarkan perspektif penganalisis. (6) penutup/simpulan dan saran. artikel ini harus mencerminkan hasil penelitian secara lengkap. Pertama. Artikel hasil penelitian adalah artikel yang didasarkan pada hasil penelitian lapangan yang dilakukan sendiri oleh penulis artikel. yang berisi latar belakang masalah. Ketiga. D. (5) konsep dan elaborasinya. (2) judul buku yang diresensi. Kedua. (6) hasil penelitian. Butir (3) hingga (5) ditulis mengalir dalam bentuk esei tanpa subjudul. Di sini tampak bahwa penulis artikel berkepentingan agar artikelnya dimuat dalam jurnal. Tujuan analisis kritis adalah untuk memberikan rekomendasi atau setidak-tidaknya gambaran umum tentang apakah pembaca menganggap penting membaca atau membeli buku itu. Jurnal yang memiliki antrian ini biasanya jurnal yang sudah punya nama. Pengiriman Artikel ke Jurnal Ilmiah Dari pengalaman saya selama ini. (3) abstrak – dalam bahasa Indonesia apabila artikelnya berbahasa Inggris. (3) abstrak – dalam bahasa Indonesia apabila artikelnya berbahasa Inggris. yang tidak harus sama dengan judul penelitiannya. artikel ditulis dan dikirim ke redaktur jurnal atas prakarsa penulis artikel. (4) pendahuluan. pengiriman atau penerbitan artikel di jurnal ilmiah dapat diklasifikasikan menjadi tiga. serta (9) daftar pustaka. dan dalam bahasa Inggris apabila artikelnya berbahasa Indonesia – yang disertai kata-kata kunci. penulis artikel seringkali harus “antri” (kadangkala sampai satu tahun lebih) menunggu giliran artikelnya dimuat. (5) rekomendasi penganalisis. Artikel hasil pemikiran adalah artikel yang didasarkan pada pemikiran penulis atas suatu masalah tertentu. dan (6) daftar pustaka. Resensi buku adalah kajian atau ulasan terhadap sebuah buku tertentu untuk diketahui isinya secara garis besar. topik. serta (7) daftar pustaka. kajian teoretis. Apabila tidak beruntung penulis artikel harus kecewa karena naskahnya tidak diterima (tidak diterbitkan) karena mungkin tidak memenuhi kriteria.dari mempublikasikan diri melalui tulisan di jurnal ilmiah adalah datangnya “rejeki” yang antara lain berupa kesempatan untuk berbicara di forum-forum ilmiah. biasanya pada bagian akhir jurnal. Selain dua jenis artikel di atas. Dalam hal ini. yang kemudian disusul dengan analisis kritis terhadapnya. (2) nama dan afiliasi penulis. Pertama. redaktur kekurangan naskah untuk jurnalnya sehingga untuk “kejar terbit” redaktur meminta penulis untuk mengirimkan naskahnya. baik ragam. artikel ditulis dan dikirim atas permintaan redaktur jurnal. artikel jenis ini lazimnya memuat (1) judul artikel. redaktur ingin agar naskah yang terbit bervariasi. Artikel jenis ini lazimnya merupakan hasil penelitian kepustakaan (library research). Kedua. dan dalam bahasa Inggris apabila artikelnya berbahasa Indonesia – yang disertai kata-kata kunci. yang diikuti oleh pengarang buku dan data publikasi serta jumlah halaman. oleh karena itu. (5) metode penelitian. Jenis Artikel Secara garis besar ada dua jenis artikel yang dapat dimuat di jurnal ilmiah. yaitu artikel hasil penelitian dan artikel hasil pemikiran. (4) analisis kritis. (7) pembahasan. Artikel hasil pemikiran memuat (1) judul artikel.

tidak semua naskah yang masuk pada redaktur memiliki kedalaman dan keluasan isi. artikel ditulis untuk keperluan konferensi atau seminar. dipilih dan diseleksi dari makalah-makalah yang dipresentasikan dalam KLN. yang setiap tiga tahun sekali menyelenggarakan Konferensi Linguistik Nasional (KLN) yang diikuti tidak kurang dari 300 peserta dengan penyaji makalah berjumlah sekitar 90-an orang. Berikut ini adalah penjelasan singkat masing-masing kriteria tersebut. seperti penyelenggaraan konferensi atau seminar secara periodik dan publikasi ilmiah. relevansi artikel dengan jurnal.memberi bobot pada jurnalnya. Kedalaman isi tercermin dari adanya analisis kritis penulis yang didukung oleh data yang lengkap dan referensi yang cukup dan mutakhir. maka naskah tersebut akan dikembalikan untuk direvisi. dan oleh karena itu. Naskah saya pernah dikembalikan karena dalam referensi pada tubuh naskah tidak saya lengkapi dengan nomor halaman tempat kutipan diambil. dan penyeleksian tersebut sepenuhnya menjadi hak dari pengurus MLI dan redaktur jurnal. Ketiga. MLI memiliki publikasi yang bernama “Linguistik Indonesia: Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia”. yang selama ini juga menjadi anggota redaktur beberapa jurnal ilmiah di beberpa perguruan tinggi. Kriteria Penerimaan Penerimaan naskah untuk diterbitkan dalam jurnal menjadi wewenang dewan redaksi setelah mempertimbangkan kelayakan naskah tersebut. Kelengkapan naskah mengacu pada apakah naskah yang diusulkan memiliki unsurunsur yang lengkap sebagaimana yang diminta. Ketika dalam satu penerbitan terdapat beberapa artikel yang sama atau serupa (seperti artikel tentang Penerapan Metode Kooperatif dalam Pembelajaran). saya pernah menjadi “korban” kebijakan ini. ada naskah yang tidak dilengkapi dengan abstrak. Sebagai ilustrasi. Selaku penulis artikel. Salah satu contoh di Indonesia adalah Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Pengalaman 3 . yang berbeda dengan jenis artikel lainnya. Relevansi berkenaan dengan kesesuaian isi naskah yang diusulkan dengan jenis jurnal yang dituju. Variasi yang dimaksud di sini adalah variasi jenis naskah yang diusulkan. format naskah. Menurut pengalaman saya. variasi artikel. redaktur menganggapnya kurang baik. Dalam hal ini. Sebagai ilustrasi. baik dari dalam maupun luar negeri. penulis yang ingin artikelnya dimuat dalam jurnal harus menyesuaikan format tulisannya dengan format yang diminta. kelengkapan naskah. E. ada naskah yang referensinya dalam tubuh naskah tidak sama dengan yang ada dalam daftar pustaka. Artikel yang dimuat dalam jurnal ilmiah memiliki format yang khas. Oleh karena itu. apabila ada naskah yang tidak memiliki atau tidak menyinggung aspek penelitian pendidikan. yang biasanya 10 buah sekali terbit. Keluasan isi tercermin dari adanya pembandingan antara masalah yang sedang dikaji dengan masalah-masalah lain yang relevan sehingga penulis mampu melakukan pemetaan terhadap masalah secara komprehensif. jurnal “PAEDAGOGIA: Jurnal Penelitian Pendidikan” yang dikelola oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS mengkonsentrasikan diri pada penelitian pendidikan. Jurnal semacam ini biasanya dikelola oleh komunitas keilmuan yang memiliki banyak kegiatan. redaktur mengundang “tokoh” tertentu yang dianggap credible untuk mengisi jurnalnya. yang antara lain menyangkut kedalaman dan keluasan isi. Artikel-artikel yang dimuat dalam jurnal ini. dan pemuatannya di dalam jurnal menjadi hak prerogatif redaktur. redaktur akan cenderung memilih artikel-artikel dengan jenis penelitian yang berbeda. Kelayakan itu didasarkan pada kriteria tertentu yang ditetapkan. dan ada pula naskah yang daftar pustakanaya tidak lengkap. dan bahasa. ada naskah yang tidak mencantumkan referensi dalam tubuh naskah.

kalimat-kalimat yang digunakan dalam naskah harus memiliki subjek dan predikat yang jelas. Bill Clinton mengedit naskah pidatonya sampai 19 kali. seperti gramatika. Yang dibutuhkan adalah kemauan kita untuk mencoba. metode pengembangan (method of development) paragraf. menulis artikel ilmiah bukanlah pekerjaan yang sulit. koherensi (coherence). G. organisasi. Ketika menyiapkan pidatonya untuk konvensi pencalonan presiden untuk partainya. yaitu yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa yang berterima. jangan putus asa karena menulis adalah proses kreatif yang memerlukan ketelitian. Dalam kaitannya dengan topik kita kali ini. Penutup Sebagai penutup. artikel dalam jurnal ilmiah. dan kesabaran. Selamat mencoba! 4 . kecermatan. hal ini barangkali sedikit menjadi kendala. mempublikasikan diri melalui karya nyata memiliki keuntungan yang sangat besar. terutama dalam bentuk buku referensi. Penulis yang menginginkan naskahnya diterima harus menggunakan bahasa yang baik. artikel dalam seminar. Sudah barang pasti redaktur menolak tulisan semacam itu. Sekarang ini banyak media (jurnal ilmiah) yang dapat menampung dan mempublikasikan artikel. Sebagai contoh.menunjukkan bahwa ada penulis yang menyerahkan begitu saja naskahnya ke redaktur dalam bentuk makalah yang baru saja dipresentasikan dalam seminar tanpa melalui editing sedikitpun. Kenaikan tersebut dapat diupayakan secara sangat signifikan apabila kita mau mempublikasikan diri melalui karya-karya kita. kecukupan (adequacy). Bahasa yang digunakan dalam artikel mencakupi banyak aspek. Apakah kita kalah dengannya? Di sekeliling kita banyak orang baik yang dengan ikhlas membantu kita. Hal-hal yang saya sebutkan di atas memiliki angka kredit yang sangat tinggi. pilihan kata. Apabila mencoba sekali gagal. insyaallah. aspek organisasi meliputi kesatuan (unity). dan tanda baca. Bagi penulis yang bukan dari bidang bahasa. saya ingin mengatakan bahwa karier kita sebagai pendidik professional (guru dan dosen) ditentukan antara lain oleh kenaikan pangkat dan jabatan kita. Di samping itu. Masing-masing aspek tersebut mencakupi aspek yang lebih rinci. Sebagai contoh. dan karya teknologi (yang dipantenkan).

Di satu sisi. dan perilaku diri dan orang lain. Komunikasi terkait erat dengan budaya. Jakarta. verbal skills are considered suspect. So. atau perilaku tertentu dari komunikan. 1996). 5 . confidence is not significantly placed in a verbal aspect of communication. BERBAHASA DALAM BUDAYA KONTEKS RENDAH DAN BUDAYA KONTEKS TINGGI1 Joko Nurkamto Universitas Sebelas Maret Surakarta Abstract The purpose of this article is to examine the use of language as a means of communication in two different cultures: a low-context culture and a highcontext culture. Itulah sebabnya dalam komunikasi antarbudaya sering terjadi kesalahpahaman antara komunikator dan komunikan (Deddy Mulyana. sikap. dan mewariskan budaya. mengembangkan. In a low-context culture the mass of information is expressed in the explicit code. Pendahuluan Salah satu fungsi bahasa adalah untuk berkomunikasi. 1996). Indonesia belongs to a country having a high-context culture. Menurut Gudykunst (1985) tujuan utama komunikasi adalah mengurangi ketidakpastian (uncertainty). dan di sisi lain. komunikasi adalah proses transaksi dinamis yang memandatkan komunikator menyandi (to code) perilakunya baik verbal maupun non verbal untuk menghasilkan pesan yang ia sampaikan melalui saluran tertentu guna merangsang atau memperoleh keyakinan. more of the information is either in the physical context or internalized in the person. Nomor 2. on the contrary. and is very little in the coded. verbal skills are necessary and prized highly. memberi makna kepada perilaku itu. Agustus 2001. Dalam arti yang luas. 1. explicit part of the message. sikap.Bagian II Contoh Artikel Berikut ini adalah contoh artikel yang telah dimuat dalam “LINGUISTIK INDONESIA: Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia”. Oleh karena itu. cara orang berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh budaya orang itu. budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi. therefore. Tahun 19. yaitu budaya konteks rendah (low-context cultures) dan budaya 1 Makalah yang disajikan dalam Kongres Linguistik Nasional IX di Padepokan Pecak Silat Taman Mini Indonesia Indah . Komunikasi akan lengkap apabila komunikan yang dimaksud mempersepsi atau memahami perilaku yang disandi. Melalui tulisan ini saya ingin mendeskripsikan perilaku berkomunikasi di dalam budaya yang berbeda. yaitu ketidakmampuan individu memprediksi keyakinan. In a high-context culture. dan terpengaruh olehnya (Porter dan Samovar. Dua orang yang berasal dari dua budaya yang berbeda akan memiliki cara-cara berkomunikasi yang berbeda pula. Keduanya memiliki hubungan timbal balik.31 Juli 1999. memelihara. komunikasi dapat membentuk. therefore. 28 .

yaitu tindak tutur yang dapat mengubah keadaan. Kata-kata tersebut mengubah status seseorang dari keadaan belum lulus ke keadaan lulus. Kata-kata yang diucapkan oleh hakim tersebut menandai dihukumnya terdakwa. dalam ungkapan "Saya haus" makna proposisionalnya adalah pernyataan yang menggambarkan kondisi fisik pembicara bahwa ia haus. saya akan menyoroti perilaku berbahasa orang Indonesia. ketika orang menggunakan bahasa (yaitu mengucapkan kata-kata atau kalimat) ia tidak semata-mata mengucapkan kata-kata atau kalimat itu melainkan sedang berupaya mengerjakan sesuatu dengan kata-kata atau kalimat tersebut. Seorang hakim yang mengatakan "Dengan ini saya menghukum kamu dengan hukuman penjara selama lima tahun" sedang melakukan tindakan menghukum terdakwa. Ketiga 6 . Menurut teori tindak tutur (speech act). seperti menyapa orang lain. Makna ilokusioner-nya adalah efek yang diharapkan muncul dari pernyataan tersebut terhadap pendengar. (3) mempengaruhi orang lain berbuat sesuatu. Penggunaan bahasa tersebut tercermin dari kegiatan menyimak. yaitu tindak tutur yang menyatakan bahwa pembicara akan melakukan sesuatu di masa mendatang. Dalam kaitannya dengan tujuan penggunaan bahasa. Dalam kaitan ini. Pernyataan tersebut barangkali dimaksudkan sebagai permintaan kepada pendengar untuk menyediakan minuman bagi pembicara. Dengan ini Anda saya nyatakan lulus. 1977). (2) mengekspresikan dan mengetahui sikap. yaitu untuk (1) memberi dan meminta informasi faktual. (4) melakukan sosialisasi. 1983). Contoh. menyimak dan berbicara dikelompokkan ke dalam kegiatan berbahasa yang menggunakan media lisan. seperti janji atau ancaman. dalam satu peristiwa berbahasa orang menggunakan lebih dari satu keterampilan berbahasa sekaligus secara simultan. yang selanjutnya saya sebut berbahasa. yaitu makna proposisional atau makna lokusioner (Locutionary meaning) dan makna ilokusioner (Illocutionary meaning). dan (6) mengembangkan keefektifan berkomunikasi. Terdakwa tidak akan masuk penjara tanpa adanya kata-kata di atas dari hakim (Clark dan Clark. Makna proposisional adalah makna harfiah kata-kata yang terucap itu. Dalam komunikasi sehari-hari. seperti membuka percakapan. Contoh: Saya akan memberi kamu uang besok. Atas dasar deskripsi tersebut. terutama para pejabat dan/atau elite politik yang saya amati melalui mass media. Kata-kata yang diucapkan oleh pembicara memiliki dua jenis makna sekaligus. keempat kegiatan berbahasa tersebut tidak terjadi secara diskrit melainkan secara terpadu. 2. “By saying something we do something". Sementara itu. Untuk memahami makna itu pendengar cukup melakukan awakode (decoding) terhadap kata-kata tersebut dengan bekal pengetahuan gramatika dan kosa kata. Sebagai ilustrasi. Komunikasi di sini saya batasi pada komunikasi verbal. Berbahasa Berbahasa berarti menggunakan bahasa untuk tujuan komunikasi. seperti mengkonfirmasi pernyataan lawan bicara. sedangkan membaca dan menulis dikelompokkan ke dalam kegiatan berbahasa yang menggunakan media tulis (Widdowson. seperti meminta orang lain mengerjakan pekerjaan. (5) membangun struktur wacana.konteks tinggi (high-context cultures). sedangkan berbicara dan menulis diklasifikasikan ke dalam kegiatan berbahasa produktif. van Ek dan Trim (1991) mengklasifikasikannya ke dalam enam kategori utama. Kedua adalah deklaratif (declarative). Artinya. seperti mengungkapkan persetujuan atas sesuatu. dan menulis. seperti mengajukan pertanyaan. Searle (1986) membagi tindak tutur menjadi lima. Menyimak dan membaca diklasifikasikan ke dalam kegiatan berbahasa reseptif. Makna ilokusioner merupakan efek yang ditimbulkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh pembicara kepada pendengar. berbicara. Menurut istilah Austin (1965: 94). Pertama adalah komisif (commissive). membaca.

yang berbeda dengan apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur itu (Brown dan Yule. dan pernyataan. permintaan. Klasifikasi dari Searle (1986) di atas memperlihatkan bahwa tindak tutur merupakan fungsi bahasa (language function). Kelima adalah representatif (representative). tuntutan. yang seringkali sangat berbeda dari apa yang sebenarnya dimaksudkan. dalam teori tindak tutur dikenal istilah tindak tutur tidak langsung (indirect speech act). Bandingkan kedua ujaran berikut ini. Itulah sebabnya kemudian muncul istilah implikatur percakapan (conversational implicature). yaitu tindak tutur yang dikemukakan secara tidak langsung.adalah direktif (directive). Contoh. Istilah tersebut dipakai oleh Grice (1975) untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan. Makanan ini enak sekali. but rather inferences based on both the content of what has been said and some specific assumptions about the co-operative nature of ordinary verbal interaction (103-104). Kalimat (1) adalah contoh tindak tutur langsung dan kalimat (2) adalah contoh tindak tutur tidak langsung. dan perintah. tindak tutur tindak langsung sering dianggap lebih sopan daripada tindak tutur langsung. Dalam komunikasi sehari-hari. Keempat adalah ekspresif (expressive). Dikatakan bahwa: . Contoh. seperti saran. sebagaimana yang dikemukakan oleh van Ek dan Trim (1991). conversational implicatures. ambilkan saya segelas air minum. entailment and logical consequences which are generally used to refer to inferences that are derived solely from logical and semantic content. orang dituntut untuk bersikap tanggap atas apa yang dikatakan pembicara secara tidak langsung.. disarankan. tetapi juga dari konteks digunakannya bahasa itu. kalimat deklaratif yang secara tradisional digunakan untuk membuat pernyataan (statement) dapat digunakan untuk menyatakan permintaan atau perintah (Sinclair dan Coulthard. Asas umum kerja sama tersebut berbunyi: “Berikan sumbangan Anda pada percakapan sebagaimana diperlukan. yaitu tindak tutur yang menggambarkan keadaan atau kejadian. Oleh karena itu. 1975). Sebagai contoh. yaitu tindak tutur yang digunakan oleh pembicara untuk mengungkapkan perasaan dan sikap terhadap sesuatu. yaitu tindak tutur yang berfungsi meminta pendengar melakukan sesuatu. Dalam hal ini. Jangan memberikan sumbangan yang lebih informatif dari yang diperlukan 7 . Silakan duduk. Such inferences are. Fungsi-fungsi tersebut tidak dapat ditentukan hanya dari bentuk gramatikalnya. Contoh. where the term implicature is intended to contrast with the terms like logical implication.. For implicatures are not semantic inferences. terutama apabila berkaitan dengan permintaan (requests) dan penolakan (refusals). 1996). saya haus. oleh tujuan yang diterima atau arah pertukaran pembicaraan yang Anda terlibat di dalamnya. by definition. Maksim kuantitas: Berikan sumbangan Anda seinformatif yang diperlukan (sesuai dengan tujuan percakapan sekarang). they generate inferences beyond the semantic content of the sentences uttered. yaitu tujuan digunakannya bahasa. 1996). yang diucapkan seorang suami kepada istrinya: (1) Bu.” Asas umum tersebut terrefleksi dari beberapa maksim sebagai berikut: a. dan (2) Bu. implikatur percakapan merupakan penyimpangan dari muatan semantik suatu kalimat. Ujian dimulai pukul delapan. atau dimaksudkan oleh penutur. pada tahap terjadinya. seperti laporan. Pemahaman terhadap implikatur percakapan tidak terlepas dari asas kerja sama (cooperative principles) yang dikemukakan oleh Grice (Brown dan Yule. Menurut Levinson (1983).

b. Dengan demikian. kebiasaan sosial. Perhatikan contoh percakapan antara A dan B berikut ini. dan lain-lain dari para anggota masyarakat tertentu. Jangan mengatakan sesuatu apabila Anda tidak memiliki bukti tentangnya. Menurutnya meskipun perilaku dan benda-benda budaya sangat mudah dilihat. pengetahuan budaya (cultural knowleldge). Meskipun tersembunyi. yang berfungsi sebagai perekat yang mengikat masyarakat untuk hidup bersama dan sebagai 8 . apa yang diketahuinya. A: Saya kehabisan bensin. adatistiadat. adalah (1) bahwa ada pompa bensin di sudut jalan. sikap. istilah tersebut memiliki cakupan makna yang sangat luas. pengetahuan budaya tersebut menjadi unsur yang sangat mendasar karena manusia menggunakannya sepanjang masa untuk membentuk perilaku dan menginterpretasikan pengalamanpengalamannya. dan benda-benda yang dibuat dan digunakannya merupakan manifestasi dari budaya. dan benda-benda budaya (cultural artifacts). Di bawah permukaan danau tersebut tersembunyi simpanan pengetahuan budaya yang sangat banyak yang tidak mudah dilihat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tidak ada masyarakat yang hidup tanpa budaya. kita harus menafsirkan bahwa kata-kata A tidak hanya merupakan deskripsi keadaan tertentu saja. Platt. B: Itu ada pom bensin di sudut jalan. baik disadari maupun tidak. Budaya Budaya berkenaan dengan cara hidup manusia. c. Hindarkan ungkapan yang kabur. Dari percakapan di atas tampak bahwa B melanggar maksim hubungan (berbicaralah yang relevan). (2) bahwa pompa bensin tersebut masih buka dan menjual bensin. Maksim kualitas: Jangan mengatakan apa yang Anda yakini tidak benar. keduanya merefleksikan hanya permukaan yang tipis dari sebuah danau yang sangat dalam. Setiap masyarakat memiliki budayanya sendiri. 3. misalnya. Oleh karena itu. Arti tambahan itu merupakan implikatur percakapan. d. Apa yang dilakukan manusia. Maksim hubungan: Berbicaralah yang relevan. melainkan juga sebagai permintaan bantuan. Spradley (1980) menamai ketiga unsur di atas perilaku budaya (cultural behaviour). Condon (1973) menganggap budaya sebagai suatu sistem pola terpadu. Maksim Cara: Nyatakan dengan jelas. Berbicaralah dengan singkat (jangan bertele-tele). yang mengatur perilaku manusia. dan (3) bahwa di sudut jalan yang dimaksud bukanlah jarak yang jauh. budaya menjadi konteks perilaku kognitif dan afektif setiap eksistensi personal dan sosial. Implikaturnya. Oleh karena itu. perilaku. yang berasal dari anggapan bahwa B menganut asas kerja sama. Di samping itu. dan Platt (1993) mendefinisikan budaya dengan keseluruhan tatanan kepercayaan. Berbicaralah dengan teratur. Berkenaan dengan konsep budaya yang luas tersebut Richards. Hindarkan kata-kata yang memiliki arti ganda. Kata keseluruhan dalam pengertian di atas bukan sekedar berarti kumpulan unsur-unsur tetapi mengacu pada sistem. yang berbeda satu sama lain. Pengingkaran terhadap maksim-maksim di atas mengakibatkan lahirnya arti tambahan pada ari harfiah ujarannya.

dan apa yang dikatakan orang (speech massage). secara kultural orang itu sedikit berbeda darinya. Etnosentrisme terjadi apabila ia langsung berkesimpulan tentang orang lain itu berdasarkan informasi terbatas yang ia miliki tentang kelompoknya itu (Deddy Mulyana. Mahasiswa Indonesia di Amerika menganggap orang bule yang memberikan buku dengan tangan kiri kepadanya tidak sopan. Sebagai contoh. Oleh karena itu. baik berupa perilaku manusia maupun benda-benda yang digunakannya. Ada tiga jenis informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menarik simpulan tersebut. itu sebenarnya tidak berarti bahwa orang lain tersebut salah. yaitu suatu generalisasi atas kelompok orang. atau peristiwa yang secara luas dianut suatu budaya (Deddy Mulyana. regional. tidak ada dua masyarakat dengan budaya yang sama. Setiap tindakan yang dilakukan manusia mengandung makna lebih dari sekedar apa yang dapat diamati. 1996). Dalam kaitan ini Spradley (1980) mengatakan bahwa orang memahami makna budaya dengan cara menarik simpulan. Namun hal itu tidak mudah dilakukan karena budaya tidak dapat secara langsung diamati. Kenyataan tersebut juga menunjukkan bahwa tidak ada budaya universal yang mengatur cara hidup semua orang. ia menggunakannya sebagai standar untuk mengukur dan menilai budaya-budaya lain tersebut. Bahkan di dalam satu masyarakat atau satu budaya dapat dijumpai sejumlah subbudaya. Penyebab utamanya adalah ia cenderung menganggap budayanya sebagai suatu keniscayaan tanpa mempersoalkannya lagi. Seorang ayah yang mencubit pipi putrinya yang berusia dua tahun tidak harus dipahami sebagai ayah yang kejam. Sebagaimana diuraikan di muka. yaitu suatu komunitas rasial. 1996). sedang orang-orang Asia dianggap sebagai orang-orang tradisional. kebanyakan stereotip tidak akurat. merefleksikan hanya sebagian kecil wajah budaya. dikenal sebagai orang yang halus bahasanya. Ketika bergaul dengan kelompok-kelompok budaya lain seringkali orang terjebak dalam etnosentrisme. Alih-alih.pedoman yang membimbing perilaku manusia di masyarakat itu. Seorang wanita Australia heran ketika dalam perjalanan kereta api dari Bandung ke Yogyakarta ia melihat seorang wanita Indonesia menyusui anaknya di depan umum. 1996). Tidak semua stereotip salah. Kesalahpahaman-kesalahpahaman antarbudaya di atas dapat dikurangi apabila orang memahami budaya lain. ekonomi atau sosial yang memperlihatkan pola perilaku yang membedakannya dari subbudaya-subbudaya lainnya dalam suatu budaya atau masyarakat yang melingkupinya (Parker dan Samovar. benda-benda budaya. yaitu perilaku budaya. dan jenis informasi ketiga diperoleh melalui wawancara. Boleh jadi ia merasa sayang dan gemas kepada putrinya itu. orang-orang Jawa. Namun apabila diterapkan pada individu. 9 . Apa yang teramati. Ia menganggap perilaku itu primitif karena di negerinya sendiri hal itu tidak pernah dilakukan wanita Australia. Orang-orang Padang distereotipkan sebagai orang-orang yang suka merantau dan berdagang. padahal orang Amerika tersebut tidak bermaksud demikian karena dalam budayanya menggunakan tangan kiri merupakan kelaziman. Dua jenis informasi yang pertama diperoleh melalui pengamatan. Dalam komunikasi antarbudaya etnosentrisme sering menimbulkan kesalahfahaman. yang berada di luar ambang kesadaran manusia. Orang-orang Barat diidentikkan dengan orang-orang modern. Pandangan-pandangan etnosentris tersebut antara lain berbentuk stereotip. Apabila orang lain tidak menyetujui nilai-nilai dalam budayanya. Peneliti etnografi menggunakan cara-cara ini untuk melihat realitas di balik yang teramati dan terdengar guna mencapai pemahaman yang benar akan makna budaya. etnik. dan oleh karena itu. objek. terutama Sala dan Yogyakarta. yaitu memandang segala sesuatu dalam kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu itu dan hal-hal lainnya diukur dan dinilai berdasarkan rujukan kelompoknya. sebagian besar budaya berbentuk pengetahuan budaya yang sudah terinternalisasi (tacit knowledge).

Lawan bicara dapat dengan mudah memahami maksud pembicara hanya dengan 10 . sedangkan BKT cenderung dimiliki oleh negara-negara Asia seperti Cina. Swiss. Di dalam sistem budaya tersebut kata-kata dapat menggambarkan kebenaran dan kekuatan. Berbahasa dalam Budaya Konteks Rendah dan Budaya Konteks Tinggi Istilah budaya konteks rendah (BKR) dan budaya konteks tinggi (BKT) diperkenalkan oleh Edward T. Ting-Toomey (1985) mengajukan sejumlah proposisi sebagai berikut. Korea. Hall (1976) mengatakan bahwa orang-orang di dalam BKR cenderung mengungkapkan seluruh maksudnya melalui katakata. sedangkan konflik cenderung terjadi di dalam BKT apabila norma-norma kolektif dilanggar. Menurut Hall. sedangkan orang-orang di dalam BKT cenderung menghadapinya secara tidak langsung dan bersifat non konfrontatif. Skandinavia. dan Amerika Serikat. Menurutnya. proses penarikan simpulan makna budaya tersebut disajikan dalam gambar 1 (Spradley. (1) Orang-orang di dalam BKR cenderung memahami penyebab konflik sebagai instrumen. Hall (1976). Dalam kaitannya dengan perilaku berbahasa. Ketika berbicara tentang teori konflik dan budaya. Sebaliknya BKT mengacu pada kelompok budaya yang menghargai orientasi kelompok dan sandi-sandi komunikasi yang samar serta mempertahankan struktur norma yang homogen dengan ciri-ciri aturan budaya yang ketat. (2) Konflik cenderung terjadi di dalam BKR apabila norma-norma individu dilanggar. sedangkan orang-orang di dalam BKT cenderung menggunakan gaya intuitif-afektif untuk mengatasi konflik. (4) Orang-orang di dalam BKR cenderung menggunakan gaya induktif-faktual atau deduktif-aksiomatif untuk memecahkan konflik. dan Vietnam.Penarikan simpulan tersebut melibatkan proses penalaran baik secara induktif (melalui bukti-bukti di lapangan) maupun secara deduktif (melalui premis-premis yang diasumsikan). Proses Penarikan Simpulan Makna Budaya 4. Ethnographic description of informants’ cultural knowledge Shared cultural knowledge cultural behaviour infers  generates cultural artifacts speech messages observes  Gambar 1. sedangkan orang-orang di dalam BKT memahaminya sebagai ekspresi. BKR mengacu pada kelompok budaya yang menghargai orientasi individu dan sandi-sandi komunikasi yang jelas serta mempertahankan struktur norma yang heterogen dengan ciri-ciri aturan budaya yang longgar. 1980). (3) Orang-orang di dalam BKR cenderung menghadapi konflik secara langsung dan bersifat konfrontatif. BKR cenderung dimiliki oleh negara-negara Eropa dan Amerika. Jepang. seperti Jerman. Secara skematik.

Budaya Batak. 1985) mengatakan bahwa orangorang Barat sering mendekati pokok pembicaraan dengan cara-cara yang lebih langsung (linear straight-line logic). orang-orang di dalam BKT cenderung mengungkapkan maksudnya melalui sandi-sandi non verbal. 5. seorang bawahan dimutasi atau diberhentikan dari jabatannya karena ia tidak mau menuruti kemauan atasannya yang dianggap oleh bawahannya tersebut sebagai suatu pelanggaran. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari masing-masing tipe tersebut. yang masing-masing mewakili BKR dan BKT. Okabe (1983) membandingkan gaya retorika orang Amerika Serikat dan orang Jepang. seperti negara-negara Asia pada umumnya. Untuk memahami maksud pembicara lawan bicara harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang konteks.mengandalkan kata-kata yang diucapkan oleh pembicara. Jumlah tersebut mungkin masih dapat bertambah. masyarakat dibiarkan mereka-reka kejadian sesungguhnya berdasarkan persepsi mereka masing-masing. Masih berkaitan dengan pendapat Hall. misalnya. terutama para pejabat dan/atau elite politiknya. Namun ketika ditanya oleh wartawan. si atasan tersebut mengatakan bahwa pemutasian atau pemberhentian tersebut bukan karena alasan di atas melainkan sebagai prosedur biasa dalam kedinasan atau karena yang bersangkutan sudah saatnya pensiun. Di samping itu. Di dalam budaya Jawa sendiri diakui bahwa Jawa Surabaya lebih rendah konteksnya daripada Jawa Yogyakarta. dan berputar-putar. Keempat kecenderungan tersebut adalah pengingkaran terhadap kenyataan. oleh karena itu. Dengan kata lain. eufemistik.1. saya ingin mendeskripsikan fenomena berbahasa orang Indonesia. Dengan demikian. Fenomena Berbahasa Orang Indonesia Setelah mengkaji skemata Hall tentang BKR dan BKT dengan ciri-ciri sebagaimana diutarakan di atas. cara orang Indonesia berbahasa cenderung memperlihatkan karakteristik yang sama dengan orang-orang di BKT lainnya. gaya berbahasa para pejabat dan/atau elite politik Indonesia dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe kecenderungan. Sebaliknya. Pengingkaran terhadap kenyataan Pengingkaran terhadap kenyataan merujuk pada fenomena berbahasa dengan cara mengatakan sesuatu secara tidak jujur. 5. R. Hanya sedikit kata yang disampaikan. 11 . Secara umum dapat dikatakan bahwa Indonesia termasuk negara yang memiliki BKT. Saya katakan secara umum karena Indonesia sendiri memiliki subbudaya-subbudaya yang masing-masing memperlihatkan kadar konteks yang berbeda-beda. sebagaimana telah dikemukakan di muka. Sebagai contoh. distereotipkan memiliki konteks yang lebih rendah daripada budaya Jawa. Sementara itu orang-orang di dalam BKT cenderung berputar-putar dan tidak langsung menuju permasalahan. Akibatnya. Dalam kaitannya dengan pendapat Hall di atas. sedangkan orang Jepang lebih tergantung pada komunikasi non verbal. sehingga lawan bicara harus menyimpulkan sendiri maksud pembicara yang sebenarnya. orang-orang di dalam BKR cenderung bersifat spesifik dan langsung ke permasalahan. Naotsuka (dalam Smith. apa yang tidak dikatakan kadangkala lebih penting daripada yang dikatakan. samar-samar. Deskripsi tersebut saya dasarkan pada pengamatan dan analisis dangkal saya atas ucapan-ucapan mereka melalui mass media. baik cetak maupun elektronik. sedangkan orang-orang Jepang sering menggunakan cara-cara yang melingkar-lingkar (in a spiral way). Ia menyimpulkan bahwa orang Amerika lebih tergantung pada komunikasi verbal. yang antara lain meliputi latar belakang sosial dan budaya pembicara. mereka secara sengaja melakukan kebohongan publik. Orang dengan sengaja menutupi kenyataan yang sebenarnya dengan maksud tertentu yang seringkali tidak dapat atau tidak boleh secara terbuka dipahami orang lain/masyarakat. Secara kasar.

atau barangkali disebabkan oleh ketidakmauan orang tersebut menanggung resiko dari akibat yang mungkin diterima dari kata-katanya itu. yang dianggapnya terlalu jelas memperlihatkan ketidakberhasilan pembangunan di daerahnya itu. secara diplomatis atasan yang memberi perintah tadi mengatakan bahwa dia tidak meminta bawahannya untuk melakukan pemecatan. Hal itu barangkali disebabkan oleh ketidakmampuan orang yang bersangkutan mengemas katakata yang pas. 5. Hal itu -. yaitu masyarakat yang demokratis dan penuh keterbukaan. atau karena ia tidak memiliki argumentasi proposisional yang memadai.4. Agar kegiatan berkomunikasi dapat berfungsi secara maksimal. melainkan ketidakpastian.dimaksudkan untuk menutupi kenyataan yang sesungguhnya yang boleh jadi tidak menyenangkan dan dapat memalukan orang/pejabat yang bersangkutan. cenderung mendistorsi informasi yang berpotensi melahirkan kesalahpahaman. yang dapat memiliki interpretasi jamak. orang perlu menggunakan bahasa yang komunikatif. Samar-samar Samar-samar merujuk pada gejala berbahasa dengan cara menggunakan kata-kata yang memiliki makna yang terlalu umum. Hal itu barangkali karena ia tidak memiliki keberanian untuk menyatakan maksudnya secara langsung. Penutup Pada awal tulisan ini telah dijelaskan bahwa salah satu fungsi bahasa adalah untuk berkomunikasi. Eufemistik Eufemistik adalah gejala berbahasa dengan cara menggunakan ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar.5. seorang pejabat mengatakan bahwa daerahnya tergolong daerah prasejahtera. Kata prasejahtera tersebut digunakan sebagai pengganti kata miskin. Namun. 6. ia ingin menghindar dari tanggung jawab secara tidak langsung.secara sengaja atau tidak -. Sistem demokratis dan terbuka 12 . Sebagai contoh. Dengan kata lain. misalnya. memecat orang yang dimaksud dan hal itu kemudian mendapat protes keras dari masyarakat luas. ia menuduh bawahannya tersebut salah menafsirkan perintahnya. Sebagai contoh. seorang atasan memberi perintah kepada bawahannya dengan kata-kata. melainkan meminta kepada yang bersangkutan untuk mengajukan pengunduran diri karena dengan cara itu yang bersangkutan akan terpelihara harga dirinya. Apabila diketahui orang lain/atasannya. Sebagai contoh. kenyataan yang tidak menyenangkan tersebut dapat dianggap sebagai indikator ketidakberhasilan kepemimpinannya.3. Berputar-putar Berputar-putar adalah gejala berbahasa yang terefleksi dari penggunaan bahasa yang tidak langsung menukik pada persoalan. “Urus dia!” Ketika bawahan yang diperintah tersebut menerjemahkan perintah atasannya itu dengan cara. Ia tidak secara lugas mengutarakan maksud yang sebenarnya melainkan menggunakan pernyataan-pernyataan yang boleh jadi tidak terkait dengan persoalannya. yaitu yang dapat mengungkapkan maksud secara jelas tanpa mengakibatkan kesalahpahaman di antara komunikator dan komunikan. Penggunaan bahasa yang samar-samar dan bersifat eufemistis. dan fungsi utama berkomunikasi adalah mereduksi ketidakpastian. misalnya. Bukan kejelasan yang didapat. 5. Alih-alih. Dengan reformasi di berbagai bidang kehidupan yang sudah dirintis sejak satu tahun yang lalu rakyat bertekad untuk menuju masyarakat Indonesia baru.2. seorang atasan ingin memecat bawahannya yang dianggapnya tidak sejalan dengannya. ia tidak melakukannya secara langsung dengan terlebih dulu mengutarakan alasan yang dapat diterima oleh yang bersangkutan.

Gudykunst (ed. 1996. 1993. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1983. Smith. J. Searle. Ia mengharapkan bahwa masyarakat menggunakan bahasa secara lugas.M. Hal ini dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh penggunaan bahasa yang jelas. Threshold 1990. 1980. Jakarta: PT. John R. “Cultural Assumptions of East and West: Japan and the United states.. George. J. L.memungkinkan mengalirnya informasi secara efektif baik secara vertikal (ke atas dan ke bawah) maupun secara horisontal. E. Beverly Hills: Sage. 1985. How to do Things with Words. New York: Anchor Press. Rinehart and Winston. DAFTAR PUSTAKA Austin. B. R. 1977. 1996. Heidi. Gillian dan Yule. 1983. Edward T. Platt. Gudykunst. Porter. Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Participant Observation.C. Ting-Toomey. J.Mch. 1986. dan Trim. Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Intercultural Communication Theory: Current Perspectives. 11-35.” Journal of Language and Social Psychology.). New York: Harcourt Brace Javanovich. Stewards. untuk menjauhkan kecenderungan berbahasa secara eufemistis. Levinson. Towards an Analysis of Discourse: The English Used by Teachers and Pupils. Oxford: Oxford University Press.L. Richards.). No. Condon. pp. terus terang. Gramedia Pustaka Utama. Analisis Wacana. Stella. “Suatu Pendekatan terhadap Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Remaja Rosdakarya. 4. J. Van Ek. Introduction to Cross Cultural Communication. USA: Sage Publication. James P. Stephen C. Inc. 1973. W. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Jack C. Deddy Mulyana. XXIII. Expression and Meaning: Studies in the Theory of Speech Acts.B. Sinclair. Gudykunst. dan Coulthards. 13 . Pada acara pembukaan Kongres Bahasa Indonesia VII bulan Oktober 1998 presiden Habibie mengharapkan bangsa Indonesia. Dan Clark Eve V. Pragmatics. dan Platt. dan jernih. John. “A Model of Uncertainty Reduction in Intercultural Encounters. 79-98. Clark. Larry E. 1965. London: Oxford University Press. 1984. L. R. 1985. dan Samovar.” Dalam Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rachmat (ed). Kesadaran akan kondisi yang demikian justru dapat mendorong bangsa Indonesia untuk membangun diri lebih giat menuju kehidupan yang lebih baik. Cambridge: Cambridge University Press. Cambridge: Cambridge University Press. pp. New Jersey: Rutgers University. pp. New York: Holt. Cambridge: Cambridge University Press. Herbert H.” Dalam W. Psychology and Language. 1976. dan Stella Ting-Toomey (ed. Hall. England: Longman. Communication and Culture and Organizational Processes. v-xiv.71-86. Larry A. 1985.B.A. khususnya yang berkenaan dengan sistem penyelenggaraan negara. EIL versus ESL/EFL: “What’s the Diference and What Difference Does the Difference Make?”. “Mengapa dan untuk Apa Kita Mempelajari Komunikasi Antarbudaya.” Dalam Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rachmat (ed). Beyond Culture. pp. M. pp. 1991. terutama jajaran birokrasi pemerintahan. “Toward a Theory of Conflict and Culture.21-44. English Teaching Forum. 1996. dan tidak menyembunyikan kenyataan pahit kalau memang keadaannya seperti itu. Okabe.” Dalam W. Brown. Richard E. 4. 2-6 Spradley.

Melakukan analisis kritis terhadap masing-masing teori. c. pendapat-pendapat yang kita tuangkan dalam artikel harus memiliki dasar teoretis. e. oleh karena itu. Contoh: Menurut Levinson (1983: 103-104). Dikatakan bahwa: merupakan 14 . H. Bagi penulis Indonesia yang tidak mencantumkan nama keluarga atau nama marga. e. d. Pragmatics. nama yang ditulis adalah nama pemberian saat dia dilahirkan. baik oleh penulis sendiri maupun oleh pembaca. Mendeskripsikan masing-masing teori yang telah dipilih. Memilih sumber-sumber teori yang relevan dengan konsep yang akan dikembangkan. bukan nama lengkap (Stephen C. Teaching Language as Communication. Pendapat-pendapat pakar terdahulu yang kita rujuk hendaknya tidak hanya didaftar sebagai pajangan dalam tulisan yang hanya menghasilkan karya kompilasi. Rujukan bisa dalam bentuk kutipan langsung (direct quotation). Di antaranya. yang dianggap penting. Kita harus menyebutkan sumber rujukan. Bagian III Belajar dari Contoh Dari contoh artikel di atas dapat dipetik pelajaran berkenaan dengan beberapa aspek metodologis dan teknis penulisan. 1983: 103-104). d. Contoh: Levinson.Widdowson. 1983. Di sini peneliti memiliki dua pilihan: memilih salah satu teori yang dianggap paling baik. Berikut ini adalah teknik merujuk sebagaimana telah disebut pada butir 1a di atas. Langkahnya adalah sebagai berikut: a. Bila yang dikutip lebih dari 40 kata. kita perlu memperhatikan beberapa prinsip cara merujuk: a. paraphrase (paraphrase). Menentukan sikap. Kutipan langsung: Di sini kita mengutip kalimat-kalimat yang terdapat dalam naskah asli apa adanya tanpa perubahan sedikitpun. pada akhir artikel. implikatur percakapan penyimpangan dari muatan semantik suatu kalimat. tetapi harus dianalisis sampai kita dapat menghasilkan konstruk. Stephen C. Sebagai karya ilmiah. Semua sumber rujukan dalam tubuh artikel selanjutnya ditulis di dalam bagian Daftar Pustaka. 3. Nomor halaman perlu dicantumkan untuk mempermudah pengecekan. tahun penerbitan. Nama penulis yang ditulis di sini hanya nama keluarga (Levinson). adalah sebagai berikut: 1. kalimatkalimat tersebut diblok. dan ringkasan (summary). Dalam kaitan ini. c. 2. dengan cara mengemukakan kelebihan dan kekurangan masing-masing teori. a. Cambridge: Cambridge University Press. Levinson). b. atau membuat sintesis dari berbagai teori tersebut. Oxford: Oxford University Press. kita harus merujuk pada teori-teori terdahulu yang relevan. yang meliputi: nama penulis. b. dan nomor halaman (Contoh: Levinson.G. 1983. Melakukan analisis komparatif antarteori untuk menentukan teori mana yang mengandung banyak kelebihan dan teori mana yang mengandung sedikit kelemahan.

. entailment dan logical consequences yang umumnya mengacu pada penarikan simpulan yang semata-mata didasarkan pada muatan logis dan semantis. yang panjangnya lebih pendek dari naskah aslinya. c. yang panjangnya kurang lebih sama dengan pernyataan aslinya. Such inferences are.. Parafrase: Melakukan parafrase adalah mengemukakan gagasan orang lain dengan katakata kita sendiri. but rather inferences based on both the content of what has been said and some specific assumptions about the co-operative nature of ordinary verbal interaction. where the term implicature is intended to contrast with the terms like logical implication.” b. they generate inferences beyond the semantic content of the sentences uttered. 15 . Contoh: Menurut Levinson (1983: 103-104). where the term implicature is intended to contrast with the terms like logical implication.. For implicatures are not semantic inferences. Bila yang dikutip kurang dari 40 kata. Contoh: Menurut Levinson (1983: 103-104). penarikan simpulan seperti itu dinamakan implikaur percakapan. Contoh. conversational implicatures. implkikatur percakapan merupakan bentuk penyimpangan dari prinsip-prinsip kooperatif Grice. Istilah implikatur di sini dikontraskan dengan logical implication. by definition. entailment and logical consequences which are generally used to refer to inferences that are derived solely from logical and semantic content. entailment and logical consequences which are generally used to refer to inferences that are derived solely from logical and semantic content. by definition. Menurut Levinson (1983: 103-104). kalimat-kalimat tersebut menyatu dalam paragraph. conversational implicatures. ” Such inferences are. Ringkasan Membuat ringkasan adalah mengemukakan pokok-pokok pikiran penting seseorang dengan kata-kata kita sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful