You are on page 1of 19

BAB I

TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem
organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat
gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan
yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan
terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar,
rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran
pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

A. Mulut

Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan. Mulut
biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan
lengkap yang berakhir di anus. Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan.
Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa
yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin
dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari
berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah
oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna.
Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan
enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan
enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung.
Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

B. Tenggorokan (Faring)

Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa yunani
yaitu Pharynk.

1
Skema melintang mulut, hidung, faring, dan laring Didalam lengkung faring terdapat tonsil
(amandel) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan
pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan
makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang
belakang Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan
lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan
lubang yang disebut ismus fausium Tekak terdiri dari; Bagian superior =bagian yang sangat
tinggi dengan hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian
inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut nasofaring, pada
nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga. Bagian
media disebut orofaring, bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior
disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring.

C. Kerongkongan (Esofagus)

Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan
mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan
dengan menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani:
οiσω, oeso – “membawa”, dan έφαγον, phagus – “memakan”). Esofagus bertemu dengan
faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi. Esofagus dibagi menjadi tiga
bagian:

1. Bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)
2. Bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)
3. Bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).

D. Lambung

Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai.

Terdiri dari 3 bagian yaitu

1. Kardia
2. Fundus
3. Antrum

2
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin
(sfingter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi
masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang
makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :

1. Lendir: Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap
kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada
terbentuknya tukak lambung.
2. Asam klorida (HCl): Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang
diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga
berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai
bakteri.
3. Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)

Gambar : Anatomi Lambung

E. Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara
lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat
yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi
usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding
usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. Lapisan
usus halus ; lapisan mukosa ( sebelah dalam ), lapisan otot melingkar ( M sirkuler ), lapisan
otot memanjang ( M Longitidinal ) dan lapisan serosa ( Sebelah Luar )

Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong
(jejunum), dan usus penyerapan (ileum).

3
1. Usus dua belas jari (Duodenum): Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian
dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong
(jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus,
dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz. Usus dua belas jari
merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput
peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada
usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung
empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang
berarti dua belas jari. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari
(duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke
dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus
halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti
mengalirkan makanan.

Usus dua belas jari
(duodenum)

2. Usus Kosong (jejenum): Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis
yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari
(duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh
usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan
usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Permukaan dalam
usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang memperluas
permukaan dari usus. Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari,
yakni berkurangnya kelenjar Brunner. Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan
usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk

4
membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara makroskopis. Jejunum
diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti “lapar” dalam bahasa Inggris modern.
Arti aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus, yang berarti “kosong”.

Diagram usus halus (terlabel small
intestine)

3. Usus Penyerapan (illeum): Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari
usus halus. Pada sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan
terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum
memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin
B12 dan garam-garam empedu.

Diagram ileum dan organ-organ yang
berhubungan

5
F. Usus Besar (Kolon): Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus
buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar terdiri
dari :

1. Kolon asendens (kanan)
2. Kolon transversum
3. Kolon desendens (kiri)
4. Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan
dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat
zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus.
Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam
usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air,
dan terjadilah diare.

G. Usus Buntu (sekum): Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, “buta”) dalam istilah
anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon
menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis
reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora eksklusif
memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.

H. Umbai Cacing (Appendix): Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus
buntu. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang
parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen
atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam
bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang
menyambung dengan caecum. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio.
Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2
sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing bisa berbeda
– bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum. Banyak
orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan), sebagian yang lain
percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem limfatik. Operasi membuang umbai
cacing dikenal sebagai appendektomi.

6
I. Rektum dan anus: Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah sebuah
ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus.
Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini
kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika
kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk
buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di
dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan
defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di
mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang
lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua
bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan
dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di
ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk
dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus
diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar
– BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

J. Pankreas: Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama
yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin.
Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat dengan duodenum (usus
dua belas jari).

Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu :

1. Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan
2. Pulau pankreas, menghasilkan hormon

Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke
dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan
lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh
dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran
pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi
melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.

7
K. Hati: Hati merupakan sebuah organ yang terbesar di dalam badan manusia dan memiliki
berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Organ ini
memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh
termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan penetralan obat. Dia juga
memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan. Istilah medis yang bersangkutan dengan
hati biasanya dimulai dalam hepat- atau hepatik dari kata Yunani untuk hati, hepar. Zat-zat
gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-
kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena
yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta
terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah.
Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-
zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.

L. Kandung empedu: Kandung empedu (Bahasa Inggris: gallbladder) adalah organ berbentuk
buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk proses
pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu adalah sekitar 7-10 cm dan berwarna
hijau gelap – bukan karena warna jaringannya, melainkan karena warna cairan empedu yang
dikandungnya. Organ ini terhubungkan dengan hati dan usus dua belas jari melalui saluran
empedu.

Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu:

1. Membantu pencernaan dan penyerapan lemak
2. Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama haemoglobin (Hb)
yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol

B. Definisi Selang Nasogastrik

Selang nasogastrik atau NGT adalah suatu selang yang dimasukkan melalui hidung sampai
ke lambung. Sering digunakan untuk memberikan nutrisi dan obat-obatan kepada pasien yang
tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan, cairan dan obat-obatan secara oral. Juga
digunakan untuk mengeluarkan isi lambung. Prosedur Pemasangan NGT yang benar adalah
melakukan pemasangan selang (Tube) dari rongga hidung kedalam lambung/ gaster. Selang

8
nasogastrik atau selang pendek yang umum digunakan meliputi selang Levin, selang gastrik
sump, selang Nutriflex, selang Moss, dan selang Sengtaken-Blakemore.

Selang Levin: Selang Levin mempunyai lumen tunggal dan dibuat dari plastik atau
karet dengan lubang-lubang didekat ujungnya. Selang ini digunakan pada orang
dewasa untuk menghilangkan cairan dan gas dari saluran gastrointestinal atas, untuk
mendapatkan spesimen isi lambung, untuk uji laboratorium, dan untuk memberikan
obat-obatan atau pemberian makan (gavase) secara langsung ke dalam saluran
gastrointestinal.

Selang Gastrik Sump: Selang gastrik sump adalah selang nasogastrik radiopaque,
plastik jernih, dan berlumen ganda. Selang ini digunakan untuk dekompresi lambung
dan mempertahankannya tetap kosong.

Selang Nutriflex: Selang nasogastrik nutriflex panjangnya 76 cm (30 inchi) dan
mempunyai ujung dengan pemberat-air raksa untuk memudahkan pemasukan. Selang
ini dilapisi dengan pelumas hidromer yang diaktifkan bila lembab.

Selang Moss: Selang dekompresi lambung nasoesofagus Moss panjangnya 90 cm (35
inchi) dan mempunyai lumen tripel. Selang ini dibenamkan dalam lambung dengan
mengembangkan balon. Kateter dekompreai mengaspirasi esofagus dan lambung
sebagai lavase. Lumen ketiga adalah untuk pemberian makan duodenal.

Selang Sengstaken-Blakemore: Selang S-B digunakan untuk mengatasi perdarahan
varises esofagus. Selang S-B mempunyai tiga lumen dengan dua balon. Balon
diperiksa terhadap adanya kebocoran udara dan ketepatan inflasi sebelum selang
dimasukkan. Satu lumen digunakan untuk mengembangkan balon lambung; yang lain
digunakan untuk mengembangkan balon esofagus.

Intubasi Gastrointestinal

Intubasi Gastrointestinal adalah pemasukan selang plastik atau karet fleksibel yang pendek
atau panjang ke dalam lambung atau usus melalui mulut atau hidung untuk:

1. Dekompresi lambung dan mengeluarkan gas dan cairan

9
2. Mendiagnosa motilitas gastrointestinal

3. Memberikan obat-obatan dan makanan

4. Mengobati obstruksi atau sisi perdarahan

5. Mengambil kandungan lambung untuk analisis

Beberapa larutan diberikan melalui selang baik yang diinjeksikan melalui spuit atau diberikan
dengan drip yang diatur oleh gravitasi atau pompa listrik. Aspirasi (penghisapan) untuk
menghilangkan gas dan cairan dilakukan dengan menggunakan spuit, mesin penghisap listrik,
atau saluran penghisap yang tertempel di dinding. (Potter, Patricia A, Anne G Perry, 2006)

Adapun langkah-lagkah pada prosedur pemasangan
NGT adalah sebagai berikut :

1. Menyapa dan menjelaskan kepada pasien tentang
tindakan yang akan dilakukan
2. Menyiapkan alat dan bahan serta obat-obatan
yang akan digunakan
3. Atur posisi pasien (tidur telentang dengan kepala ditinggikan pakai 1-2 bantal)
sehingga mempermudah pada saat pemasangan NGT dilakukan.
4. Petugas menggunakan sarung tangan
5. Ukur panjang tube/ selang yang akan digunakan dengan menggunakan metode :
a. Metode tradisional ; Ukur jarak dari puncak lubang hidung kedaun telinga dan ke
prosesus xipoideus di strenum

10
b. Metode Hanson ; Mula-mula ditandai 50 cm pada tube / selang lalu lakukan
pengukuran dengan metode tradisional. Selang yang akan dimasukkan
pertengahan antara 50 cm dengan tanda tradisional.
6. Beri tanda pada panjang selang yang sudah diukur dengan plester
7. Oleskan jelly pada selang NGT sepanjang 10-20 cm
8. Informasikan kepada pelanggan bahwa selang akan dimasukkan melalui hidung
dan instruksikan kepada pasien agar menelan perlahan
9. Jika selang NGT sudah masuk periksa letak selang dengan cara :
10. Pasang spuit yang telah diisi udara kira-kira 10-20 ml lalu dorong sehingga udara
masuk kedalam lambung kemudia dengarkan dengan menggunakan stetoskop di
daerah lambung
11. Masukkan ujung bagian luar selang NGT kedalam mangkok yang berisi air. Jika
ada gelembung udara berarti masuk kedalam paru-paru, jika tidak ada gelembung
udara berarti masuk kedalam lambung.
12. Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
13. Tutup ujung luar NGT

BAB II

KASUS PEMBAHASAN

11
A. Kasus

Pada saat dinas di ruang perawatan penyakit dalam dewasa, mahasiswa keperawatan
membuat laporan hasil pengkajian keperawatan sebagai berikut:

Tn. K laki-laki (55 th) di rawat di ruang ICCY karena menderita kelainan jantung coroner
yang akan menjalani kateterisasi jantung. Tn. K bekerja pada salah satu perusahaan BUMN
dan istrinya V sebagai pegawai negeri sipil dengan penghasilan keluarga rata-rata Rp 3,5
juta/bulan. Tn. K dikaruniai 3 orang anak dan semuanya masih sekolah.

Saat ini K dianjurkan tirah baring dan semua kegiatan dibantu oleh perawat untuk membatasi
aktivitas fisiknya. TD= 160/90 mmHg, Frek. Napas 28 x/menit, Nadi 125 x / menit, Suhu 37
derajat celcius, TB 165 cm, BB 75 kg, gigi mulut bersih, kaki pendek dan bersih, rambut
hitam bersih dan tebal. Setiap kelelahan fisik Tn.K tampak pucat, mengeluh tidak bisa
menelan, tidak mampu mengunyah berulang kali dan kepala terasa pusing. Tn.K
mendapatkan porsi makanan diit jantung dan terpasang infus intermitten. Kebiasaan
beribadah sholat 5 waktu tidak pernah ditingglkannya, mengaji bersama kelompok pengajian
seminggu sekali dan makan bersama keluarga biasa dilakukan pada makan malam. Ny. V
mengatakan Tn.K senang makan, makanan yang disukai adalah makanan fast food dan
makanan bersantan. Kebiasaan sehari-hari sepulang kerja adalah membaca koran atau nonton
TV bersama keluarga. Kebiasaan rekreasi bersama keluarga ke tempat hiburan minimal sekali
sebulan. Tn. K juga mengatakan bahwa ia jarang olahraga.

B. PEMBAHASAN KASUS

Kekurangan nutrisi merupakan keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan tidak
berpuasa (normal) atau resiko penurunan berat badan akibat ketidakmampuan asupan nutrisi
untuk kebutuhan metabolisme. Penyakit jantung koroner merupakan gangguan nutrisi yang
sering disebabkan oleh adanya peningkatan kolesterol darah dan merokok. Saat ini, penyakit
jantung koroner sering dialami karena adanya perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat,
obesitas dan lain-lain.

Maka dari itu perlu dilakukan pemasangan NGT

Tujuan pemasangan NGT adalah sebagai berikut:

12
1. Memberikan nutrisi pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami
kesulitan menelan
2. Mencegah terjadinya atropi esophagus/lambung pada pasien tidak sadar
3. Untuk melakukan kumbang lambung pada pasien keracunan
4. Untuk mengeluarkan darah pada pasien yang mengalami muntah darah atau
pendarahan pada lambung

A. Pengkajian

Pemeriksaan fisik

a) Keadaan umum : Pasien tampak pucat dan gelisah

b) TTV :

TD : Hipertensi

N : Takikardia

R : Cepat

SB : Normal

TB : 165 cm

BB : 75 kg

c) Kepala : Rambut hitam bersih dan tebal

d) Leher : Trakea letak tengah, pembesaran KGB (-)

e) Mata : Tekanan bola mata normal pada perabaan, sekret tidak ada

f) Hidung : Sekret tidak ada

g) Mulut : Bibir tidak sianosis, perdarahan pada gusi tidak ada, bau pernapasan normal,
gigi mulut bersih

h) Telinga : Sekret tidak ada

i) Thorax dan perut

13
1) Thorax :

Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris kiri = kanan,

Palpasi : Stem fremitus kiri = kanan

Perkusi : Sonor kiri = kanan

Auskultasi : Suara pernapasan bronkovesikuler kasar, rhonki +/+, wheezing -/-

2) Abdomen :

Inspeksi : pembesaran dan pelebaran pembuluh darah tidak ada

Palpasi : turgor kulit normal

Perkusi : nyeri tekan nyeri lepas tidak ada

Auskultasi : bunyi usus normal

3) Jantung : nadi 125 kali/menit, bunyi irama jantung tidak teratur

j) Genetalia : normal

k) Anus : normal

l) Ekstremitas : Panas pada perabaan, tonus otot normal, edema tidak ada, kaki pendek
dan bersih

Data Subjektif:

a. Pasien mengatakan tidak bisa menelan
b. Pasien mengatakan tidak mampu mengunyah berulang kali
c. Pasien mengatakan kepala terasa pusing
d. Ny. V mengatakan Tn.K senang makan, makanan yang disukai adalah makanan
fast food dan makanan bersantan
e. Pasien mengatakan jarang olahraga

Data Objektif:

a. Pasien tampak pucat dan gelisah
b. Pasien tirah baring
c. Terpasang infus intermitten

14
B. Diagnosa Keperawatan

Perubahan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelebihan intake

Dimanifestasikan dengan:

1. Berat badan meningkat
2. Tidak bisa menelan

Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi sesuai standar

Kriteria hasil:

1. Berat badan mencapai berat badan ideal
Klien mengatakan tidak mempunyai kesulitan menelan makanan
Klien mengatakan tidak mengalami mual dan muntah

C. Rencana Intervensi Keperawatan

1. Lakukan pengkajian kembali pola makan pasien
2. Diskusikan dengan pasien tentang kelebihan makana
3. Diskusikan motivasi untuk menurunkan berat badan
4. Kolaborasi dengan ahli diet yang tepat
5. Ukur intake makanan
6. Buat program latihan untuk olahraga
7. Hindari makanan yang banyak megandung lemak
8. Berikan pengetahuan kesehatan tentang program diet yang benar dan akibat yang
mungkin timbul pada kelebihan berat badan

Prosedur Keperawatan Pemasangan NGT

Langkah-langkah:

1. Jelaskan perihal nutrisi dan kegunaan nya bagi klien
2. Siapkan alat- alat dan makanan cair klien dalam keadaan hangat
3. Atur posisi klien semifowler bila mungkin
4. Cuci tangan dengan bersih
5. Posisi slang dicek ulang ketepatannya

15
6. Makanan cair dimasukkan dengan terlebih dahulu memasukkan air putih, dengan
memperhatikan aliran cairan
7. Perhatika reaksi klien pada waktu cairan masuk
8. Bilas slang dengan air putih
9. Klem slang dan tutup ujung slang dengan kasa selanjutnya defiksasi
Selama memasukkan cairan, observasi reapon klien dengan cermat
Alat-alat dirapihkan
Respon klien dicatat

D. Implementasi Keperawatan

Hari/Tgl/Jam No. Diagnosis Keperawatan Tindakan H a s i l Tanda Tangan

Senin/30 Mei 2016/Pkl. 09.00 1 Melakukan pengkajian kembali pola makan pasien Mendapat informasi dasar untuk perencana n awal dan validasi data

Pkl. 09.15 1 Mendiskusikan dengan pasien tentang kelebihan makana Memenuhi kebutuhan nutrisi pasien

P k l 0 9 . 3 0 1 Mendiskusikan motivasi untuk menurunkan berat badan Membantu pasien dalam memecahkan masalah

P k l 1 0 . 4 5 1 Mengkolaborasikan dengan ahli diet yang tepat Makanan pasien sesuai dengan program diet

P k l 11 . 3 0 1 Mengukur intake makanan Jumlah kalori yang masuk dapat diketahui

Selasa/31 Mei 2016/ Pkl 09.00 1 Membuat program latihan untuk olahraga Kebutuhan energi pasien meningkat

16
P k l 0 9 . 3 0 1 Menghindari makanan yang banyak megandung lemak Pasien terlihat merasa lebih nyaman

P k l 0 9 . 4 5 1 Memberikan pengetahuan kesehatan tentang program diet yang benar dan akibat yang Informasi pada klien untuk mengurangi komplikasi agar pasien dapat
mungkin timbul pada kelebihan berat badan merasa nyaman

Evaluasi Keperawatan

S: Tn. K mengatakan masih sulit menelan

O: Klien tampak lemas, IMT 27,5 , BB 75 kg, TD: 90/70mmHg, Nadi: 80x/menit,
RR: 25x permenit

A: Masalah teratasi sebagian

P : Rencana tindakan dilanjutkan

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Kebutuhan nutrisi berkaitan erat dengan aspek-aspek yang lain dan dapat dicapai jika terjadi
keseimbangan dengan aspek-aspek yang lain. Nutrisi berpengaruh juga dalam fungsi-fungsi
organ tubuh, pergerakan tubuh, mempertahankan suhu, fungsi enzim, pertumbuhan dan
pergantian sel yang rusak. Dan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tubuh manusia,
maka akan terhindar dari ancaman-ancaman penyakit. Makanan yang kita makan tidak dapat
dimanfaatkan oleh tubuh dalam bentuk energi sebelum melalui proses pencernaan, absorpsi,
dan metabolisme. Tubuh memerlukan energi un taughtuk fungsi-fungsi fisiologis organ

17
tubuh, pergerakan, mempertahankan temperatur, fungsi kelenjar, kerja hormon, pertumbuhan,
dan penggantian sel-sel yang rusak.

Dalam kasus ini, membahas mengenai gangguan nutrisi yang sering disebabkan oleh adanya
peningkatan kolesterol darah dan merokok pada penyakit jantung koroner. Saat ini, penyakit
jantung koroner sering dialami karena adanya perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat,
obesitas dan lain-lain.

SARAN

Kebutuhan nutrisi dalam tubuh setiap individu sangat penting untuk diupayakan. Upaya
untuk melakukan peningkatan kebutuhan nutrisi dapat dilakukan dengan cara makan-
makanan dengan gizi seimbang dengan di imbangi keadaan hidup bersih untuk setiap
individu. Hal tersebut harus dilakukan setiap hari, karena tanpa setiap hari maka tubuh
manusia bisa terserang penyakit akibat imun tubuh yang menurun. Saya menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya meminta agar pembaca
berkenan memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan dimasa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Hardhi.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis. Jogjakarta:
Mediaction

Potter, Patricia A, Anne G Perry. 2006. Fundamental of Nursing: Concept, Process and
Practice. St Louis: The CV. Mosby Company

Wartonah, Tarwoto.2011.Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.Jakarta:
Salemba Medika

18
http://myoritase.blogspot.co.id/2011/12/anatomi-dan-fisiologi-sistem-pencernaan.html?m=1
(Diakses 3/6/2016)

https://riezkhyamalia.wordpress.com/2013/10/20/makalah-pemenuhan-kebutuhan-nutrisi/
(Diakses 3/6/2016)

19