You are on page 1of 43

Teknik Tenaga Listrik

Edmodo Code : te4q82

Niswatun Faria, S.T., M.Sc.
Departement of Engineering Management
Universitas Internasional Semen Indonesia
2017/2018

Transmisi Daya Listrik

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/8307/list
rik-baik-untuk-indonesia-mandiri-energi/0/artikel_gpr
Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 2

Resistansi

𝑙
𝑅 = 𝜌.
𝐴

Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 3

Resistansi
Nilai resistivitas naik secara linier dengan temperatur dalam daerah temperatur normal. Bila
resistivitas pada suatu temperatur diketahui, nilai resistivitas pada temperatur lain dapat
diketahui dari persamaan berikut.

Dimana T1 dan ρT1 adalah masing-masing temperatur dalam oC dan resistivitas pada titik 1, T2
dan ρT2 adalah temperatur dalam oC dan resistivitas pada titik 2, dan M adalah konstanta
temperatur sesuai materialnya.

Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 4

Resistansi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 5 .

Merupakan fenomena pada saluran transmisi yang disebabkan karena tidak meratanya distribusi arus pada penampang konduktor di sepanjang saluran transmisi jarak jauh. Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 6 . Skin Effect Skin Effect (Efek Kulit) Pada Saluran Transmisi . Fenomena ini muncul sesuai dengan peningkatan panjang efektif konduktor saluran trasnmisi sehingga skin effect pada saluran pendek jarang ditemui.

Skin Effect Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 7 .

067x10-4 mm2  Luas area dalam CM. Umumnya kawat penghantar terdiri-dari kawat pilin (Stranded conductor). CM adalah penampang kawat yang mempunyai diameter 1 mil = 1/1000 inch. maka sebagai faktor koreksi pengaruh dari kawat pilin. oleh sebuah kawat dengan diameter d (mils) adalah 𝑨 = 𝒅𝟐 Atau: Penampang dalam mm2 =5. Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 8 .02 (2% faktor koreksi). Resistansi Dalam tabel sering kita jumpai penampang kawat diberikan dalam satuan “Circular Mil” (CM). panjang kawat dikalikan 1.  1 mil =5.067x10-4 x (Penampang dalam CM).

Induktansi Saluran Transmisi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 9 .

Induktansi Saluran Transmisi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 10 .

Induktansi Saluran Transmisi Konduktor dipilin untuk mendapatkan kawat yang memiliki kekuatan mekanis yang tinggi. Aluminium yang memiliki massa jenis yang kecil dengan kekuatan mekanis yang rendah dipilin pada baja yang memiliki massa jenis yang lebih berat dengan kekuatan mekanis yang lebih tinggi. digunakan kumpulan Aluminium dan Baja untuk membuat kawat konduktor. Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 11 . Contohnya pada ACSR. Baja digunakan untuk menyangga kawat sehingga kawat memiliki kekuatan mekanis yang tinggi untuk dapat ditarik pada tiang penyangga Sistem Transmisi Listrik Saluran Udara.

Dengan menggunakan konduktor yang dipilin. Induktansi Saluran Transmisi Hal ini dapat menyangga kawat sehingga kawat dapat digunakan pada transmisi jarak jauh. misalnya angin. Selain itu. masalah yang sering timbul adalah induktansi antar kabel yang digunakan untuk menghantarkan listrik. Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 12 . hujan. gabungan aluminium dan baja dapat menghasilkan daya hantaran yang tinggi dengan kekuatan mekanis yang tinggi pula. Dengan demikian. dan lain-lain. Induktansi tersebut juga berpengaruh dengan banyaknya kawat yang digunakan. kawat memiliki daya hantaran yang tinggi sehingga rugi-rugi daya dapat diminimalisasi dan tidak putus dan tahan terhadap gangguan.

Induktansi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 13 .

Karakteristik Saluran Transmisi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 19 .

Induktansi dan kapasitansi saluran transmisi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 20 .

Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 21 . maka saluran udara lebih dipilih daripada saluran bawah tanah. Induktansi dan kapasitansi saluran transmisi  Pusat pembangkit tenaga listrik yang berada jauh dari pusat beban membutuhkan saluran transmisi untuk menyalurkan daya listrik.  Dalam penyaluran daya listrik akan terjadi rugi daya penyaluran dan jatuh tegangan (voltage drop) yang besarnya sebanding dengan panjang saluran. jika tegangan terus ditingkatkan akan timbul peristiwa korona.  Karena permukaaan tanah yang tidak selalu datar dan kadang saluran transmisi harus melewati bukit-bukit.  Penggunaan tingkat tegangan yang lebih tinggi merupakan solusi dari permasalahan tersebut. Namun.

Berdasarkan panjang saluran. Saluran transmisi Saluran udara ataupun saluran bawah tanah yang berguna menyalurkan daya listrik dari pusat pembangkit ke pusat beban atau dari pusat beban satu ke pusat beban yang lain dengan tegangan lebih besar dari 20 kV. saluran transmisi daya listrik dibedakan menjadi tiga yaitu:  Saluran pendek ( l < 80 km)  Saluran menengah ( 80 km < l < 250 km)  Saluran panjang (l > 250 km) Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 22 .

Konduktor berkas (bundled conductor) Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 23 .

Efisiensi saluran transmisi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 25 .

Regulasi Tegangan Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 26 .

Korona Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 27 .

Korona Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 28 .

Korona Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 29 .

Gradien tegangan permukaan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya korona dan efek pengaruh korona seperti audible noise (AN) dan radio interference (RI).Gradien Tegangan Permukaan Konduktor Berkas Gradien tegangan permukaan konduktor merupakan kuat medan listrik di permukaan konduktor. ketinggian konduktor dan konstruksi menara Besar gradien tegangan permukaan konduktor pada konduktor berkas adalah : Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 30 . jarak antar sub konduktor. Gradien tegangan permukaan konduktor dipengaruhi oleh jari-jari konduktor.

4.) R = jari-jari konduktor berkas (m) r = jari-jari sub konduktor (cm) Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 31 .Gradien Tegangan Permukaan Konduktor Berkas Keterangan : Ep = gradien tegangan permukaan konduktor berkas (kV rms/cm) Q = muatan total konduktor berkas (Coulomb) q = besar muatan sub konduktor (Coulomb) n = jumlah berkas (n = 1.. 2. .. 3.

Rugi-rugi Korona Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 32 .

3606 = faktor konversi mil ke km dan tegangan dari VL-N ke VL-L Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 33 . Rugi-rugi Korona Pc = rugi-rugi korona per 3 fasa (kW/km) PFW = rugi korona pada cuaca baik (kW/km) = 1-5 kW/km untuk tegangan 500 kV = 3-20 kW/km untuk tegangan 700 kV K = 7.10-10 untuk 400 kV = 5.04.10-10 untuk 500 kV sampai dengan 700 kV ρ = curah hujan (mm/jam) 10 = koefisien kebasahan r = jari-jari konduktor (cm) V = tegangan saluran VL-L (kV) E = gradien tegangan permukaan konduktor puncak (kV peak/cm) n = jumlah konduktor 0.35.

Audible Noise (AN) Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 34 .

Audible Noise (AN) Tingkat nilai AN juga dapat dibandingkan dengan SPLN 46-1-1981 Tentang Pedoman Pembataan Tingkat Bising sebagai berikut: Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 35 .

Saluran Transmisi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 36 .

Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 37 . kertas dan bahkan udara pun dapat digunakan sebagai isolator. Saluran Transmisi Isolator merupakan elemen yang berfungsi untuk memisahkan bagian konduktor berteganga terhadap ground dan berfungsi juga sebagai konstruksi. Kawat konduktor pada saluran transmisi tegangan tinggi biasanya tidak menggunakan pelindung atau isolator. kemudian pemuaian lebih cepat dibandingkan dengan kabel tutup. Kenapa di transmisi menggunakan kabel telanjang ? Keuntungannya: Harganya murah. pemasangan mudah dan tidak diperlukan keahlian khusus dan peralatan khusus. Kerugiannya: Mudah terpengaruh gangguan. namun menjadikan udara sebagai isolatornya. plastik. Isolator yang biasa digunakan biasanya terbuat dari bahan polietelin.

Berikut jenis-jenis tower listrik :  Dead end tower  Section tower  Suspension tower  Tension tower  Transposition tower  Gantry tower  Combined tower Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 38 . Tower listrik biasanya terbuat dari bahan baja dan disangga dengan kokoh menggunakan pondasi beton. Saluran Transmisi Infrastruktur sistem transmisi listrik merupakan bentuk pemasangan saluran trans- misi termasuk tower listrik dan komponen lainnya. Infrastruktur sistem transmisi disesuaikan dengan wilayah geografis dan standar dari masing masing wilayah atau negara.

Saluran Transmisi Apakah aluminium dan tembaga bisa menahan beratnya sendiri? Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 39 .

Saluran Transmisi Konduktor ACSR Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 40 .

Saluran Transmisi Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 41 .

Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 42 . sehingga arus yang mengalir pada kawat penghantar tersebut selalu berubah dari 0 ke (+) ke 0 ke (-) dan seterusnya. Listrik AC satu fasa memiliki satu gelombang sinusoidal tegangan AC. yakni satu fasa dan tiga fasa. Kawat fasa adalah kawat penghantar listrik pada sistem listrik arus bolak balik (AC) yang dialiri arus listrik. Sistem instalasi listrik 1 fasa dan 3 fasa Sumber listrik AC yang lazim digunakan ada dua macam. di mana fasanya selalu berubah. sedangkan listrik AC tiga fasa memiliki tiga gelombang sinusoidal tegangan listrik.

Besarnya tegangan umumnya 220 V. yaitu 1 kawat fasa dan 1 kawat 0 (netral). 1 fasa: terdiri dari dua kabel. Sistem fasa 3 adalah sistem instalasi listrik yang menggunakan tiga kawat fasa dan satu kawat 0 (netral) atau kawat ground. Sistem instalasi listrik 1 fasa dan 3 fasa Sistem 1 fasa adalah sistem instalasi listrik yang menggunakan dua kawat penghantar. umumnya bertegangan 380 V yang banyak digunakan Industri atau pabrik. Menurut istilah 3 fasa (3 kabel bertegangan listrik + netral). Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 43 . yaitu 1 bertegangan dan netral.

3026 log dan panjang kawat (h) adalah 1 km = 1000 m. tergantung dari sifat kawat Ld : komponen ketiga adalah komponen jarak-jarak kawat Bila : ln digantikan dengan log  ln = 2. serta frekuensi f = 50 Hz. maka : Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 44 .Induktansi dan Reaktansi Rangkaian Satu Fasa Induktansi rangkaian satu fasa La : komponen pertama dan kedua adalah komponen kawat.

Induktansi dan Reaktansi Rangkaian Satu Fasa Reaktansi induktif : Perhitungan GMR dan GMD a. Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 45 . Radius rata-rata geometris (GMR) Radius rata-rata geometris (GMR) dari suatu kawat bundar adalah radius dari suatu silinder berdinding sangat tipis mendekati nol sehingga induktansi silinder tersebut sama dengan induktansi kawat asli.

Jumlah elemen kawat dari suatu penghantar yang dipilin ditentukan dalam rumus: Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 46 .Induktansi dan Reaktansi Rangkaian Satu Fasa b. Semua elemen kawat memiliki radius yang sama. Jarak rata-rata geometris (GMD) • Bila suatu lingkaran radius r terdapat n titik berjarak satu sama lain sama. GMR dan GMD penghantar konsentris (dipilin) Umumnya konduktor saluan transmisi terdiri dari kawat-kawat yang dipilin. maka GMD antara titik-titik tersebut adalah • GMD suatu titik terhadap lingkaran adalah jarak titik tersebut terhadap pusat lingkaran • GMD dari dua lingkaran dengan jarak titik pusat d12 adalah d12 c.

Contoh Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 49 .

Jarak antara fasa sama (simetris) Induktansi per fasa sama dengan induktansi rangkaian satu fasa b. Induktansi dan reaktansi induktif rangkaian tiga fasa a. Jarak antara fasa tidak sama (asimetris) Induktansi per fasa Di mana: Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 50 .

Contoh Universitas Internasional Semen Indonesia Teknik Tenaga Listrik 52 .