You are on page 1of 7

A.

METODE PENGUKURAN DIAMETER PARTIKEL

Ukuran diameter rata-rata dan beberapa cara pengukuran partikel yaitu :
1. Metode Miroskopik
Bila partikelnya lebih kecil yaitu partikel dengan ukuran Angstrom. Dari 10 – 1000 Angstrom
(1 Angstrom = 0,001 mikrometer), mikroskop ini mempunyai jelajah ukur dari 12
mikrometer sampai kurang lebih 100 mikrometer (3).
Disebabkan kemudahannya, cara mikroskopik mempunyai suatu pengalaman perluasan lebih
lanjut, disamping ukuran dari setiap partikel juga bentuknya dan bila perlu dipertimbngkan
pembuatan anglomerat, dengan bantuan sebuah mikrometer okuler yang tertera berlangsung
setiap analisa ukuran partikel dari 500 – 1000 partikel. Perbesaran maksimal yang tercapai
artinya perbesaran yang sesuai dengan daya resolusi mata manusia (kira-kira 0,1 mm), adalah
550 kali (4).
2. Metode Pengayakan
Cara ini untuk mengukur ukuran partikel secara kasar. Bahan yang akan diukur partikelnya
ditaruh di atas ayakan dengan nomor mesh rendah. Kemudian dibawahnya
ditaruh/ditempatkan ayakan dengan ayakan dengan nomor mesh yang lebih tinggi. Perla
diingat bahwa ayakan dengan nomor mesh rendah mempunyai usuran lubang relatif besar
dibandingkan dengan ayakan dengan nomor mesh tinggi. Atau dengan kata lain partikel
melalui ayakan nomor mesh 100 ukuran partikel lebih kecil dibanding dengan partikel yang
melalui ayakan nomor mesh 30 (3).
Metode ini ádalah metode yang paling sederhana dilakukan. Ayakan dibuat dari kawat
dengan lubang diketahui ukurannya. Istilah ”mesh” adalah nomor yang menyatakan jumlah
luabang tiap inci. Ayakan standar adalah ayakan yang telaha dikalibrasi dan yang paling
umum adalah ayakan menurut standar Amerika (5).
3. Metode Sedimentasi
Ukuran partikel dari ukuran saringan seperti salah satunya seringkali disangkutkan dalam
bidang farmasi. Metode sedimentasi di dasarklan pada hukum Stoke, serbuk yang akan
diukur disuspensikan dalam cairan, dimana serbuk tidak dapat larut. Suspensi ini ditempatkan
pada sebuah pipet yang bervariasi. Sampel ini diuapkan untuk dikeringkan dan residunya
ditimbang. Setiap sampel ditarik yang mempunyai ukuran partikel; yang lebih kecil dari yang
dihubungkan dengan kecepatan. Pengendapan karena semua partikel dengan ukuran yang
lebih panjang akan jatuh ke level bawah dari ujung pipet (5).
Rumus – Rumus untuk perhitungan diameter statistic partikel-partikel :

Rata-rata diameter Simbol Rumus
Rata-rata diameter panjang dln ∑nd/∑n
Rata-rata diameter permukaan dsn √∑nd2/∑n
Rata-rata volume dvn 3√∑nd3/∑n
Rata-rata diameter permukaan panjang
dsl ∑nd2/∑nd

710 25 0.68 22 0.35 8 2. Udara tersebutakan meniup sampel kebagian atasdari wadah yang akan dikumpulkanpada suatu saringan.Rata-rata diameter permukaan volume dvs ∑nd3/∑nd2 Rata-rata diameter volume berat dwm ∑nd4/∑nd3 4.(Parrot.250 85 0.355 60 0.00 10 1. Dan x adalah jarak partikel dari pusat perputaran. 1971) Tabel Nomor ayakan beserta ukuran diameter lubang : Nomor ayakan Diameter lubang (mm) 5 3.420 44 0.125 150 0. (Parrot. Cara kerja metode inidengan cara memasukkan udaradalam wadah yang berisi sampelpada dasar wadah.500 36 0. Diameternya dapat dihitung dengan menyalakan api dan ditempatkan pada suatu sentrifuge dengan persamaan ᾣ2xdimana ᾣ adalah sudut dari percepatan dalam lingkaran dibagi dengan satuan waktu. Metode Sentrifugasi Metode sentrifugasi digunakan hanya untuk penetuan partikel yang besar. Metode Elutriation Metode Elutriation merupakan metode penentuan ukuran partikel yang kebalikan dari metode sedimentasi.090 200 0.180 100 0.105 170 0. 1971).600 30 0.075 .150 120 0. 5.

baik fase terdispersi maupun fase pendispersi dapat dibagi atas 3 sistem. 2. 300 0. Garis Tengah Martin (dM) Adalah panjang jarak yang membelah partikel menjadi dua bidang yang sama luasnya. gas. . sedangkan dengan cara adan alat apa sampel itu diambil dari system itu merupakan persoalan teknis. Dalam hal ini. Garis Tengah Ferret (dfer) Adalah panjang jarak maksimal dari tengah-tengah pada bidang proyeksi yang tegak lurus pada arah pengukuran.053 Dalam beberapa hal digunakan juga istilah umum untuk menyatakan derajat serbuk yang disesuaikan dengan nomor pengayak sebagai berikut: · Serbuk sangat kasar adalah serbuk (5/8) · Serbuk kasar adalah serbuk (10/40) · Serbuk agak kasar adalah serbuk (22/60) · Serbuk agak halus adalah serbuk (44/85) · Serbuk halus adalah serbuk (85) · Serbuk sangat halus adalah serbuk (120) · Serbuk sangat halus adalah serbuk (200/300) B. METODE PENGUKURAN BESAR DAN DISTRIBUSI Pengukuran besar partikel adalah penentuan dari besar dan distribusi besar partikel dalam suatu media pembawa. dan cair. Beberapa metoda pengukuran yang digunakan. yaitu padat. tetapi pengukuran yang dilakukan terhadap zat padat sebagai fase terdispersi dan zat cair atau gas sebagai fase pendispersi. Persoalan statistic akan menggambarkan pengaruh dari jumlah dan besar sampel. Pengukuran besar partikel yang dimaksud disini bukanlah pengukuran dari suatu system dispersa molekul atau camppuran larutan atau dari gas. antara lain: 1.

artinya partikel dianggap mempunyai volume sama dengan suatu bola (dF). luas. daya tahanan listrik. Beberapa alat yang dapat digunakan. Alat pembantu yang paling sederhana untuk pengukuran adalah ‘Okulomikrometer’. kemudian didiskriminasi dan dihitung atau bias juga berdasarkan ekstinsi dan pembiasan sinar. massa jenis. Pada proses pengayakan maka dispersitaetgrosse dari partikel adalah besar lobang ayakan. dan volume) 2. Pada pengendapan (sedimentasi). Dispersitaetgrosse adalah parameter fisika tertentu yang dapat diukur melalui satuan pengukuran. Bila signal ini tidak berupa signal listrik. Dispersitaetgrosse geometri (panjang. Dispersitaetgrosse ini dibagi menjadi 2 jenis : 1. 3. Analisa Perhitungan (Zaehlverfahren) Yang diukur adalah parameter fisika dari masing-masing partikel (dispersitaetgrosse). dimana disini partikel diukur berdasarkan pengukuran garis tengah yang ekuivalen dengan suatu lingkaran. Selain itu dapat jug digunakan ‘okulametz’. kecepatan pengendapan. dimana pada proses pemindahan ini akan menimbulkan signal-signal yang tergantung pada parameter partikel (besar partikel). . b. maka tercapainya pengendapan adalah dispersitaetgrosse. Dispersitaetgrosse fisika (massa. yaitu: 1. dan terdapat diperdagangan adalah alat penganalisa besar partikel dari Zeiss TGZ 3. dimana gambar partikel dapat dibandingkan atau diukur berdasarkan ukuran panjang. Analisa Perhitungan Tidak Langsung Prinsip metoda ini adalah dengan mengukur besar partikel dengan suatu mikroskop dimana terlebih dahulu partikel-partikel disuspensikan dalam suatu cairan. partikel disuspensikan / didispersikan dalam suatu cairan atau gas dan dengan alat pengukur tertentu partikel ini ditransportasikan. intensitas cahaya dan lain sebagainya) a. C. Contoh: . Dalam hal ini. . Analisa Perhitungan Langsung Pada metode ini. Garis tengah partikel dengan volume sama dengan suatu bola. Ukuran partikel . Analisa perhitungan langsung dan tidak langsung Untuk analisa besar dan distribusi besar partikel ada dua metoda yang dapat digunakan. harus diperhatikan bahwa setiap partikel tidak boleh bersentuhan satu sama lain.

Analisa Ayakan Metoda yang sering digunakan dan paling sederhana dari penentuan besar partikel adalah analisa ayakan. . a. dimana ayakan dengan lobang terbesar terletak paling atas. 355. Timbang kembali masing-masing ayakan sehingga didapat berat serbuk masing-masing ayakan yaitu dengan mengurangkan dengan berat kosong ayakan tadi. Timbang masing-masing ayakan dalam keadaan kering 2. 125. untuk material yang cenderung beraglomerasi dapat dilakukan pengayakan dengan metoda pengayakan basah. Seperti yang telah dibahas. AYAKAN SEDIMENTASI Analisa Jumlah (Mangenverfahren) Pada analisa ini yang ditentukan adalah berat total dari fraksi-fraksi besar partikel. 212. Ayakan disusun sedemikian rupa dan dipasang pada alat vibrasi yang tersedia. Hitung berat kumulatif dalam persen (%) dari masing-masing berat a yang diperoleh maka didapat symbol b atau ruekstand R % 8. Diagram Bertingkat (Histogram) Yaitu kurva hubungan antara S (jumlah berat partikel dari masing-masing ayakan) dengan dmin – dmax. Kemudian bandingkan hasil dengan kurva RRSB. 3. alas D. 600. yang dinamakan ‘Ruecstand’ (SR). 4. ANALISA JUMLAH. ini diberikan tanda dibagian symbol a atau siebruekstand. dan makin bawah dengan lobang ayakan paling kecil. Letakkan ayakan pada alat vibrasi 5.cara kerja penentuan Ukuran Partikel 1. dimana disini tinggi kurva adalah proporsional dengan jumlah berat partikel. 6. Penyusunan ayakan mulai dari yang terkecil dibawah dan yang paling besar teratas. disini digunakan ayakan yang tersusun sedemikian rupa. 850. 7. ANALISA AYAKAN. Setelah diayak beberapa lama (waktu tertentu) akan diperoleh material yang berada di atas ayakan (yang tidak dapat melewati ayakan).Untuk mengukur Ukuran Partikel serbuk digunakan ayakan yang memiliki pori ayakan dalam skala : 1000. Jalankan percobaan dengan vibrasi selama 15 menit. Timbang semua granul dan diletakkan diatas ayakan paling atas atau pori yang paling besar. 90. dan bukan umum partikel dari masing-masing fraksi. sedangkan kumpulan partikel yang dapat melewati ayakan dinamakan ‘Durchgang’(D). 425. Bila titik- . 250.

Dari kurva ini dapat dibaca berapa % partikel yang ada yang lebih kecil dari besar pori ayakan rata-rata yang sesuai. perpanjangan garis ini akan memotong pinggir pengukur pertama.040 µm. Parameter d yang diberikan oleh titik potong kurva garis lurus RRSB dengan garis horizontal pada R = 36. dinamakan pengendapan. sampai memotong POL P. Analisa Sedimentasi Dengan metoda ini dapat ditentukan distribusi pulva dengan besar partikel sampai dibawah 0.8%. artinya kurva hubungan antara S dengan besar partikel rata-rata. (besar rata-rata pori ayakan) Kurva Distribusi Jumlah Bila dibuat grafik hubungan antara % R (frekuensi kumulatif dengan besar pori ayakan (d) didapatkan “summenverteilungs kurve” = frequency distribution curve). didapat dengan menarik garis sejajar dengan kurva RRSB. Harga n yang merupakan kemiringan kurva. Jatuhnya partikel pada media yang tenang (tidak bergerak). Parameter tersebut antara lain: 1. Titik potong ini adalah sama dengan harga n. Distribusi Normal menurut RRSB (Rosin-Ramler-Sperling-Bennet) Dengan kurva ini akan diperoleh 2 parameter yang cukup untuk menggambarkan distribusi besar partikel suatu pulva. titik tengah bidang histogram dihubungkan akan diperoleh kurva yang disebut kurva distribusi kerapatan (Dichteverteilungs kurva = frequency distribution curve). kecepatan pengendapan dari partikel dari media gas atau cairan tergantung pada besar partikel. . b. 2.

“FarmasiFisika”. UI Press. 1990. University of Lowa. Makassar. Ditjen POM. Universitas Hasanuddin. Lowa Tim Penyusun. Jakarta Moechtar. “Pengantar Bentuk Sediaan”. 1979.”Penuntun Praktikum Farmasi Fisik”. Yogyakarta Sinco. Parrot.”Farmasi Fisika”. Baltimore . UMI : Makassar. 2013. C. Moch Idris. (2003). R. (1994). Voight. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.”Buku Pelajaran Farmasi”. Alfred. Edisi V.Lippincott Williams & Wilkins. DAFTAR PUSTAKA Ansel...Penerbit UI : Jakarta.”Pharmaceutical Technology”. 533-560.P. Howwar. Depkes RI : Jakarta. Gadjah Mada Press. Effendy. 1989. Burgess Publishing Company. “Penuntun Praktikum Farmasi Fisika”. (1994). 2005. (1971). Martin. “Farmakope Indonesia Edisi III”.Martin’s physical Pharmacy and Pharmaceutical Sience 5thEdition.