You are on page 1of 13

PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PENDIDIKAN DASAR

DI INDONESIA

Disusun untuk memenuhi:
Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Dosen Pangampu : Drs. H. Suratno H. P. M.M, M.Si

Disusun oleh:
1. Ardi Warsito (0801100205)
2. Eko Indrianto (0801100168)
3. Fredita Lugistiro (0801100194)
4. Putra Subur (0801100190)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2008

1

Hal ini sangat bisa dipahami karena pendidikan merupakan salah satu sector penentu keberhasilan pembangunan nasional. sebagai salah satu dimensi pengembangan Sistem Pendidikan Nasional merupakan salah satu bidang yang sangat vital dan penting bagi keseluruhan pembangunan bangsa dan Negara. KATA PENGANTAR Program Pendidikan Dasar. 2 . Tulisan ini merupakan salah satu bentuk sumbangan pemikiran dan sekaligus refleksi kesadaran penulis sebagai orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan terhadap kewajiban dan tanggung jawab tersebut. mudah-mudahan sumbangan pemikiran dalam bentuk tulisan ini dapat memberikan manfaat berharga bagi Pemerintah dalam rangka menentukan alur kebijakan kependidikan demi suksesnya Program Pendidikan Dasar dan demi terciptanya tata laksana Sistem Pendidikan Nasional yang mantap dan tangguh pada umumnya. segala bentuk perhatian. maupun dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Harapan penulis. kiranya sangatlah wajar jika seluruh warga masyarakat Indonesia berkewajiban dan bertanggung jawab untuk turut serta menyukseskan Program Pendidikan Dasar. yakni : “masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945” Menyadari betapa besar peran pendidikan tersebut. baik dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Oleh karena itu. dan pemikiran yang konstuktif dari semua pihak sangat diharapkan . partisipasi. mempercepat alih ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka akselerasi kemajuan bangsa dan Negara.

Kesejahteraan Guru Yang Rendah…..……………………………….……………………………1 B.…………………………ii DAFTAR ISI ………………………………………....…………………………… 6 BAB IV PENUTUP A.……………………………. Fungsi Pendidikan Dasar………………………………………… 2 BAB III MASALAH –MASALAH DIKDAS A..……………………………3 B. Permasalahan………………………………………………………1 C.………………………… 2 B...…………………………… 9 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….. Lalar Belakang………………………. Tujuan………………………………………………………………1 BAB II PEMBAHASAN A.. Kesimpulan…………………………………………………………9 B. Anggaran Pendidikan………………. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .. Tujuan Pendidikan Dasar……………. 10 3 ..………………………… 2 C. Keprofesionalan Guru………………..……………………………i KATA PENGANTAR .. Pengertian Pendidikan Dasar…………. Saran…………………………………... Sarpras Pendidikan Kurang Mendukung ………………………… 4 C..……………………………5 D.……………………………iii BAB I PENDAHULUAN A.

Permasalahan  Masalah – masalah apa saja yang di hadapi Pemerintah dalam pelaksanaan Pendidikan Dasar? C. Akibatnya Pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) menghadapi masalah- masalah yang kompleks. BAB I PENDAHULUAN A. Tujuan sebenarnya adalah untuk meningkatkan keberhasilan dalam pembangunan bidang pendidikan. B. Namun kondisi saat ini tampaknya pemerintah kabupaten/kota dapat dikatakan belum memiliki kesiapan. propinsi maupun kabupaten tak dapat membiarkan masalah-masalah pendidikan terus berkembang menjadi masalah yang makin sulit diatasi. Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk : 1. Untuk mengetahui apa saja masalah – masalah apa saja yang di hadapi Pemerintah dalam pelaksanaan Pendidikan Dasar 2. Di antaranya adalah masih banyak gedung dan meja/kursi yang rusak. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan 4 . dll. baik pusat. Pemerintah. Permasalahan dalam pendidikan yang demikian kompleks harus dipikirkan jalan keluarnya secara sungguh-sungguh oleh pemerintah. masalah anggaran yang tidak mencukupi. kekurangan guru. penyelenggaraan pendidikan diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. kekurangan buku perpustakaan. kualitas lulusan yang rendah. Latar Belakang Sejak pelaksanaan otonomi daerah.

diselenggarakan selama enam tahun di Sekolah Dasar dan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau satuan pendidikan yang sederajat. TUJUAN DIKDAS Tujuan Pendidikan adalah untuk terwujudnya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada kepada Tuhan Yang Maha Esa. moralitas. Di akhir masa pendidikan dasar selama 6 (enam) tahun pertama (SD/MI). 28 Tahun 1990. 5 . sebagai warga Negara. Fungsi Pendidikan Dasar adalah : 1. para siswa harus mengikuti dan lulus dari Ujian Nasional (UN) untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat selanjutnya (SMP/MTs) dengan lama pendidikan 3 (tiga) tahun. BAB II PEMBAHASAN A. C. PENGERTIAN DIKDAS Menurut PP No. mampu mengendalikan hawa nafsunya. Sebagai jenjang pendidikan awal dalam hubungannya dengan jenjang pendidikan menengah 2. sosialitas. cerdas. Tujuan Pendidikan Dasar adalah untuk berkembangnya kemampuan dasar pada diri peserta didik sehingga dapat mengembangkan kehidupanya sebagai pribadi. dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. berkepribadian. dan mampu berkarya. berakhlak mulia. berperasaan. Pendidikan Dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun. sebagai anggota masyarakat. induvidualitas/personalitas. Untuk mewujudkan/mengembangkan berbagai potensi yang ada pada peserta didik dalam konteks dimensi kehidupan keberagamaan. sehat. bermasyarakat dan berbudaya. FUNGSI DIKDAS Fungsi Pendidikan adalah untuk mewujudkan/mengembangkan berbagai potensi yang ada pada peserta didik dalam konteks dimensi kehidupan keberagamaan. moralitas. mampu memenuhi kebutuhannya secara wajar. dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti jenjang pendidikan menengah. B. berkemauan. sebagai umat manusia.

bahwa pemenuhan amanah konstitusi dengan cara bertahap seperti dalam penjelasan pasal 49 ayat (1) UU sisdiknas adalah tidak dibenarkan. laboratorium). ruang kelas. Kenyataannya APBN 2007 pun tidak sesuai dengan amanah konstitusi. sosialitas. Formulasi anggaran pendidikan 20% kemudian dirumuskan oleh Pemerintah dan DPR dalam UU 20/2003 tentang Sisdiknas." Menurut definisi yang berlaku umum. karenanya MK dalam Putusan No. anggaran pendidikan adalah keseluruhan sumber daya baik dalam bentuk uang maupun barang. 026/PUU-IV/2007 kembali menegaskan bahwa UU No. dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. 18/2006 tentang APBN 2007 menyangkut anggaran pendidikan adalah bertentangan dengan UUD 1945 6 . 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Buktinya APBN Tahun 2008 yang telah disahkan pada Rapat Paripurna DPR menetapkan alokasi anggaran pendidikan hanya 12 persen. alokasi untuk anggaran pendidikan hanya sebesar 12 %. Setiap komponen sumber daya berkaitan langsung dengan keberlangsungan pelayanan pendidikan sehingga harus dihitung sebagai satu kesatuan pembiayaan pendidikan. sehingga memiliki kemampuan dan keterampilan dasar untuk pendidikan selanjutnya dan bekal untuk hidup dalam masyarakat. bahwa gaji pendidik dan biaya kedinasan tidak termasuk dalam anggaran 20%. penyediaan buku dan peralatan. BAB III PERMASALAHAN DIKDAS A. Segenap sumber daya tersebut bisa berupa investasi untuk pembangunan prasarana dan sarana (gedung sekolah. kantor. jauh di bawah ketentuan UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) dan UU No. yang menjadi input dan dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan pendidikan. perpustakaan.8%. individualitas/personalitas. bahwa anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Dalam RAPBN 2008. Namun kewajiban konstitusi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD belumlah dipenuhi sepenuhnya hingga saat ini. Anggaran pendidikan masih berada pada level 11. serta gaji guru. ANGGARAN PENDIDIKAN Dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) secara tegas dinyatakan: "Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. biaya operasional.

dan terakhir 20. dan Menteri Keuangan pada 4 Juli 2005 lalu telah menyepakati kenaikan anggaran pendidikan adalah 6.6 tiriliun pada 2005.5 triliun. sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. ruang kelas.6 triliun. menjadi 17. nilai ini setara dengan Rp61. tahun 2004 anggaran pendidikan masih sekitar 5. ruang pendidik. Dan meningkat menjadi Rp 24. hingga sekarang ini. Pada tahun 2006 pemerintah hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 9. menjadi 12% (2006). SARPRAS PENDIDIKAN KURANG MENDUKUNG Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia selain tergantung kepada kualitas guru juga harus ditunjang dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Padahal setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan.1% (2009). ruang tata usaha. ruang bengkel kerja. menjadi 9. Mahkamah Konstitusi (MK) sudah mengeluarkan keputusan bahwa APBN 2006 dan APBN 2007 melanggar konstitusi. Padahal. sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki sebagian besar sekolah di Indonesia masih kurang memadai seperti fasiltas laboratorium dan sebagainya. Pengabaian juga terjadi terhadap keputusan raker yang telah disepakati antara Komisi X DPR RI dengan tujuh Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Sementara realisasinya. Dan APBN 2008 hanya mengalokasikan 12%.3% (2005).7% (2007).4 triliun dari total nilai anggaran Rp854. Menteri PPN/Ketua Bappenas. ruang pimpinan satuan pendidikan. tempat beribadah. Sarana dan prasarana ini padahal sangat vital dalam kegiatan proses belajar dan mengajar. tempat berolahraga. harga dan sikap pribadi para pengusaha sarana pendidikan.8 persen. yaitu Menko Kesra. ruang perpustakaan. Tapi sayangnya. Jadi. 7 .7 persen dan dalam APBN 2007 anggaran untuk sektor pendidikan hanya sebesar 11. B.6% pada 2004.5% dari APBN atau sekitar Rp20. Mendiknas. dengan tidak tercapainya anggaran pendidikan 20% berarti pemerintah dan DPR bersama-sama mengabaikan keputusan MK. Rupanya keputusan MK itu tidak mampu juga menggetarkan kemauan politik para penentu kebijakan di negara ini. ruang kantin. Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara (Menpan). ruang unit produksi. instalasi daya dan jasa. Pemerintah mengulangi kembali pelanggaran konstitusional pada APBN 2008 ini. Menteri Dalam Negeri. Sebagian besar alat peraga di sekolah-sekolah masih kurang terkontrol baik dari segi mutu. Menteri Agama. menjadi 14.4 % (2008). ruang laboratorium.

pendidikan di Indonesia akan sulit mengalami kemajuan. seorang guru tidak hanya dituntut untuk mampu memberikan pengetahuan kepada anak didiknya. sehingga akan tercipta keserasian. Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan serta tinggi rendahnya kualitas suatu pendidikan ditentukan salah satunya oleh guru. Oleh karena itu. Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar – mengajar. KEPROFESIONALAN GURU Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan. seorang guru harus melakukan dua fungsi sekaligus yaitu. Tanpa ada sarana dan prasarana yang mendukung proses Pendidikan. Dan dalam menjalankan profesinya. tempat bermain. Demikian pentingnya peranan seorang guru tentunya membawa pada suatu tanggung jawab untuk menjalankan profesi tersebut dengan suatu sikap profesionalisme yang tinggi. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. yang ikut berperan dalam usaha pembentukan SDM yang potensial dibidang pembangunan. untuk meningkatkan daya kerja yang efektif dan efisien serta mampu menghargai etika kerja sesama personal pendidikan. Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana akan sangat menunjang atas tercapainya suatu tujuan dari pendidikan. Dalam menjalankan profesinya. fungsinya secara moral yang mana ia diharuskan membimbing anak didiknya tidak hanya dengan kecerdasannya akan tetapi juga dengan rasa cinta. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para 8 . dan rasa tanggung jawab yang tinggi. akan tetapi juga harus mampu menanamkan suatu nilai – nilai pendidikan dengan guru sebagai modelnya. sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dan juga menjalankan fungsi kedinasannya yaitu mendidik dan membimbing para anak didiknya agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Guru yang merupakan salah satu unsur dibidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional. kenyamanan yang dapat menimbulkan kebanggaan dan rasa memiliki baik dari warga sekolah maupun warga masyarakat sekitarnya. Lingkungan pendidikan akan bersifat positif atau negatif itu tergantung pada pemeliharaan sarana dan prasarana itu sendiri. tempat berkreasi. sebagai seorang personal pendidikan kita dituntut untuk menguasi dan memahami administrasi sarana dan prasarana. C.

Sekarang ini jarang sekali kita temui seorang pendidik yang benar – benar berdedikasi secara luhur dan berdasarkan panggilan hati nuraninya sebagai seorang “Guru”. maka profesionalisasi seorang Guru sangatlah penting untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Dalam menyikapi masalah satu ini. setiap rencana kegiatan Guru harus dapat didudukan dan dibenarkan semata – mata demi kepentingan anak didik. Oleh karena itu menurut saya. siswanya pada kedewasaan atau taraf kematangan tertentu. banyak yang pro dan kontra terhadap masalah “kesejahteraan” yang selama ini telah menjadi permasalahan yang belum ketemu ujung pangkalnya. dalam usahanya untuk mengantarkan siswa atau anak didik ke taraf yang dicita – citakan. Berkenaan dengan peranan seorang Guru. KESEJAHTERAAN GURU RENDAH Faktor lain yang menjadi masalah dalam perkembangan Pendidikan Dasar adalah kesejahteraan guru. membahas masalah profesionalisasi seorang Guru tidak dapat lepas dari persyaratan atau kualifikasi – kualifikasi yang harus dipenuhi. Berkaitan dengan masalah ini. Kesejahteraan “uang” bukan satu – satunya alasan seorang pendidik untuk menjadikannya sebagai senjata ampuh untuk mereka mengeluhkan keprofesionalan pekerjaan mereka. sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya. Akan tetapi ada juga yang 9 . Dalam hal ini berkaitan dengan kualitas intelektual dan mentalnya untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang pendidik dan pembimbing. Oleh karena itu. sebenarnya Guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks didalam proses belajar – mengajar. Dimana seorang pendidik yang tidak profesional lebih hanya seorang “pekerja” yang hanya memberikan kewajibannya saja untuk mengajar dan menuntut haknya “uang” semata tanpa memikirkan aspek psikologis para murid dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Hal ini sangat berimplikasi terhadap rendahnya kinerja seorang Guru. Saya termasuk orang yang kurang sependapat kalau “uang” adalah faktor utama yang dapat meningkatkan keprofesionalisasian seseorang terhadap pekerjaannya atau lebih tepatnya tanggung jawabnya. D. Guru tidak semata – mata sebagai pengajar yang melakukan transfer of knowledge. Sebagian orang beranggapan bahwa sangat kurangnya kompensasi dari pemerintah terhadap kinerja guru mengakibatkan kurang profesionalnya para guru di negara kita selama ini. pada akhirnya peserta didik lah yang akan menjadi korbannya. Namun demikian. Bagi saya secara pribadi memaknai “profesionalisme” seorang pendidik lebih kepada aspek afeksi seorang pendidik. akan tetapi juga sebagai “pendidik” yang melakukan transfer of values dan sekaligus sebagai “pembimbing” yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar.

beranggapan bahwa “kesejahteraan” itu tidak dapat sepenuhnya menjamin keprofesionalan seorang Guru dalam bekerja. Apalagi di era pengetahuan seperti sekarang ini. tidak hanya secara intelektual saja akan tetapi juga harus diberikan tes bakat dan minat terhadap calon tenaga pendidik tersebut. apabila permasalahan – permasalahan dalam dunia pendidikan seperti sekarang ini belum juga dapat ditanggulangi dengan segera. Hendaknya dilakukan seleksi yang ketat dan profesional. Sehingga jurusan – jurusan keguruan dan kependidikan kita sekarang berisikan tidak hanya orang – orang “nomer dua” yang terpaksa dalam memilih jurusan dan bukan karena panggilan hati nuraninya sebagai pendidik. dan seharusnya kita malu! Permasalahan – permasalahan yang ada di dunia pendidikan sudah harus kita sikapi dari sekarang. tanpa memikirkan kesejahteraan dan kenikmatan dunia semata. Apabila ini dibiarkan maka akan semakin membuat terperosoknya kualitas pendidikan di negara kita. maka dunia pendidikan kita akan semakin tertinggal jauh baik secara kuantitas dan kualitasnya. Sebagai contoh seorang “Butet” yang pendidikan terakhirnya S2. Yang sangat kita khawatirkan adalah kecenderungan orang – orang untuk menjadi seorang pendidik hanya beralasan pada masalah “kesejahteraan” semata. Orang semacam ini yang seharusnya mendapatkan “kesejahteraan” yang selama ini dielu – elukan oleh para pendidik di negara kita. sehingga kita dapat menciptakan tenaga – tenaga pendidik yang mantap secara intelektual dan dedikasinya terhadap dunia pendidik. Upaya dalam menyikapi profesionalisme tenaga pendidik dalam usaha untuk meningkatkan mutu pendidik sekaligus juga mutu peserta didik di negara kita. tanpa adanya panggilan hati nuraninya sebagai pendidik. kita harus memperbaiki kesalahan – kesalahan yang telah kita lakukan terutamanya terhadap LPTK di negara kita untuk lebih selektif dalam penerimaan mahasiswanya. Kita patut mencontoh terhadap perjuangannya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. khususnya terhadap kualitas pendidik dinegara kita. Kesejahteraan itu muncul apabila seorang Guru dapat bekerja secara profesional dan bersungguh – sungguh menjalankan tugasnya dengan penuh keikhlasan dan dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan. dengan penuh dedikasi mengabdikan dirinya pada pendidikan anak – anak disuku Anak Dalam dipedalaman Jambi dan sekarang kalau tidak salah dia berada dipedalam Papua. Salah 10 . Seandainya “kesejahteraan” yang diberikan terlebih dahulu kepada yang lebih layak menerimanya terlebih dahulu adalah para pendidik yang berada dipedalaman – pedalaman yang sudah barang tentu dedikasinya terhadap pendidikan sangat baik.

dan lain sebagainya. Sedangkan sertifikasi pada hakikatnya adalah pemberian sertifikat kompetensi atau surat keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi.satunya melalui kebijakan mengenai sertifikasi guru yang sekarang ini sedang digembar – gemborkan. pengacara. Pada dasarnya sertifikasi adalah upaya untuk meningkatkan profesi seorang pendidik agar setara dengan profesi – profesi yang sudah ada seperti. maka sertifikasi dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajar dalam mata pelajaran. Pada hakikatnya profesi adalah suatu pernyataan atau janji seseorang yang mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau layanan karena orang tersebut merasa terpanggil menjabat pekerjaan itu. Apabila dihubungkan dengan profesi guru. psikolog. 11 . dokter. jenjang dan bentuk pendidikan tertentu.

masalah yang paling serius adalah anggaran dari Pemerintah yang di dalam UU tertulis 20% sampai sekarang belum terlaksana seutuhnya. kurangnya guru yang professional dikarenakan kurangnya perhatian Pemerintah terhadap kesejahteraan guru. 12 . B. Dari semua masalah tadi. BAB IV PENUTUP A. Terutama Dikdas. KESIMPULAN Pendidikan sangat penting untuk perkembangan bangsa Indonesia. Perkembangan Pendidikan Dasar di Indonesia masih sangat jauh dari maju karena masalah-masalah yang di hadapi Pemerintah dan Dinas Pendidikan seperti banyak gedung dan meja/kursi yang rusak. karena pada Dikdas peserta didik akan dibentuk wataknya untuk menjadi seperti apa nantinya. Kesejahteraan guru akan berakibat profesinal atau tidaknya seorang guru. kekurangan guru. kekurangan buku perpustakaan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk melengkapi dan memperbaiki makalah kami yang selanjutnya. dan masalah anggaran yang tidak mencukupi dan mjsih banyak lagi yang lainnya. kurangnya buku-buku perpustakaan yang di gunakan untuk menambah ilmu yang tidak diberikan di dalam pelajaran. kualitas lulusan yang rendah. SARAN Masalah-masalah yang dijelaskan di atas hanyalah masalah-masalah yang menurut penulis penting dari sekian banyak masalah yang di hadapi pemerintah. Makalah ini sifatnya hanyalah sebagai pengantar belajar mahasiswa. jadi pembaca bisa menambahkan masalah-masalah apa saja yang sampai saat ini masih di hadapi pemerintah.

1993. Malang : Lembaga Penelitian UNMER Malang.com  Prof.google.  Tim Peneliti Universitas Merdeka Malang. Jakarta. Waini Rasyidin. Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Laporan Hasil Penelitian tentang Kesiapan Pelaksanaan Program Wajib Belajar 9 Tahun./ Menko / Kesra / I /1991 tentang Tim Koordinasi Wajib Belajar Pendidikan Dasar. Gramedia Widiasarana. DAFTAR PUSTAKA  Wahjoetomo.  www. 1993. 13 . Dr.  Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor : 01 Kep. Landasan Filosofis Pendidikan Dasar.