You are on page 1of 6

Penyebaran pesan intoleran cenderung

meningkat di medsos
 9 Desember 2016

 Kirim

Hak atas foto Reuters Image caption Ujaran kebencian di media sosial bisa memicu
kekerasan.

Penyebaran pesan intoleran ataupun kebencian belakangan ini dapat dengan mudah ditemui
di media sosial, dan dinilai cenderung meningkat.

Peneliti Wahid Institute Alamsyah M Dja'far menilai maraknya penyebaran kebencian
melalui media sosial ini sebagai gejala intoleransi.

"Intoleransi itu gejala yang paling bisa dilihat di media sosial jadi harus ada upaya untuk
menetralisir atau merespon ujaran-ujaran kebencian di media sosial dan melakukan
pembatasan terhadap website-website yang berisi ujaran kebencian, dan itu tugas masyarakat
untuk melaporkan masalah semacam itu dan bisa ditindaklanjuti," jelas Alamsyah.

Dia mengatakan masyarakat dan juga aparat harus mewaspadainya dan berupaya agar pesan
intoleran itu tidak menyebar luas dan memicu tindakan kekerasan.

"Tentu yang lain kalau ada ujaran kebencian, kekerasan dan diskriminasi itu dibatasi oleh
aparat kalau tidak dia bisa menjadi viral dan bisa mejadi kekerasan", kata Alamsyah kepada
BBC Indonesia.

Lebih jauh, Alamsyah mencermati media sosial sering kali juga dimanfaatkan untuk
menyebarkan pesan-pesan intoleran menjelang pemilihan kepala daerah ataupun ketika
pemilihan presiden yang lalu.

Dia mengatakan penyebaran pesan intoleran itu cenderung meningkat menjelang pilkada
ataupun pilpres yang sarat dengan muatan politik.

"Itu terjadi manakala ada kesempatan, dan opportunity yang biasa dipakai adalah momen
politik seperti pilkada dan pilpres, saya kira pemerintah, aparat dan masyarakat luas harus
berhat-hati agar memastikan bahwa pemanfaatan kesempatan ini tidak berlebihan dan
menimbulkan ledakan kekerasan, jadi ketika ada kekerasan itu bisa meningkat dan saya kira
itu PR kita semua," jelas Alamsyah.

 Pencemaran nama baik 'berbeda' dengan ujaran kebencian

 #TrenSosial: Bagaimana menghadapi para penebar kebencian di medsos?

Bagaimanapun, Alamsyah menilai apa yang terjadi di media sosial belum tentu merupakan
cerminan sikap masyarakat yang mendukung sikap intoleran dan radikalisme.

Namun. misalnya kalau ada website yang ditutup atau disensor karena diduga berisi dugaan kebencian tentu harus ada pembelaan diri. Menurut Damar. adalah law enforcement dan keberanian pemerintah untuk menegakkan konstitusi.Soalnya. Tapi harus dilakukan secara adil dan transparan. dalam survei terakhir Wahid Institute menunjukkan 70% responden masih memiliki sikap toleransi dan menolak radikalisme. pasal 156a dan UU No. tetapi ketika ada pemerintah tegas. Penyebaran ujaran kebencian melalui media sosial menurut Alamsyah. sebelum menyebarluas dan menimbulkan kekerasan aparat juga harus membatasi ujaran kebencian yang mengarah ke diskriminasi dan kekerasan. misalnya politik identitas Islam. diminta tegas agar kasus kekerasan terhadap minoritas tidak meluas. Menurut dia. Intoleransi dan politik identitas Lalu apakah menyebarnya pesan intoleran itu juga berkaitan dengan meningkatnya kemunculan politik identitas? Menurut Damar. "Tentu dengan mekanisme yang sejalan dengan hak asasi manusia. politik identitas bisa memunculkan pesan-pesan intoleran ataupun tidak. Tapi ya kalau . Untuk itu. pesan intoleran memang meningkat di media sosial belakangan ini. orang akan mudah melihat bahwa dengan massa bisa donk membubarkan. Pengamat media sosial Damar Juniarto menyatakan ujaran kebencian memang tidak boleh dibiarkan. jelas Alamsyah. Dalam hal ini. juga dapat memicu aksi intoleran dengan menggunakan kekerasan. Payung hukumnya sudah tersedia.40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi atas Ras dan Etnis. Penegakan hukum Kunci untuk mengatasi kasus intoleran. menurut dia. dan itu kemudian memberi pesan kepada keompok itu untuk berhati-hati dan tidak akan melakukan tindakan tersebut". " kata Alamsyah. harusnya ya tertuju ke pemerintahan Orde Baru yang bertahun-tahun merepresi mereka. penanganan laporan kasus penyebaran pesan intoleran harus melalui koridor hukum dan menghormati hak asasi. tetapi perlu dibuktikan lebih jauh apakah berkaitan dengan munculnya politik identitas. dia berharap agar aparat dan pemerintah termasuk pemerintah daerah." jelas Damar. "Persoalan lain yang harus diselesaikan adalah memastikan bahwa aparat polisi itu harus bertindak non diskriminasi dan tegas terhadap segala bentuk tindakan intoleransi kekerasan. "Tidak kalau dalam komunikasinya dipakai untuk membalas perilaku marjinalisasi di masa lalu kepada yang menindas. "Saya termasuk yang setuju dengan sikap Zero Tolerance terhadap ujaran kebencian.

Jadi jangan heran. Selain Islam." jelas Jokowi. pemicu kecil saja dapat menjadi konflik besar di tengah masyarakat kita. Salah satu penyebabnya adalah pemahaman yang masih rancu antara iman dan agama. jangan-jangan mereka lupa ini Indonesia dan bukan negara milik suku. Keimanan adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Sedangkan agama adalah implementasi dari keimanan kita yang diikuti sejumlah kaidah-kaidah yang sifatnya lebih kasat mata dan duniawi. Ini bisa memupuk sifat intoleransi dan fanatisme sempit. Padahal agama apapun mengajarkan cinta kasih dan perdamaian di antara umat manusia sebagai sesama ciptaan Tuhan. konseptual dan menjadi sandaran pondasi agama. Tantangan Era Medsos Membangun toleransi antar umat beragama pada era teknologi informasi seperti saat ini bukan hal mudah. Sementara itu dalam pidato pembukaan di Forum Demokrasi Bali. dan Konfusius. Hindu. belum sepenuhnya sampai pada keimanan yang diharapkan. Indonesia adalah rumah bagi umat Kristiani.thenews. kita bisa melihat “agama” adalah identitas yang kerap menuai perbedaan dan konflik di dalam masyarakat.dalam komunikasinya dipakai justru untuk gantian menindas kelompok identitas yang berbeda. Presiden Jokowi menyoroti masalah toleransi dengan mengatakan perbedaan agama seharusnya tidak menjadi penghalang untuk demokrasi dan toleransi antar negara dan sesama manusia. "Sejarah Indonesia mengajarkan bahwa ajaran Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai. ras tertentu" tambah Damar. Membangun Toleransi di Era Sosial Media 14 September 2016 14:26 Diperbarui: 14 September 2016 20:22 475 11 0 gambar dari: blogs. Nilai mengenai perdamaian inilah yang sampai saat ini terus dipegang oleh umat Islam Indonesia.com. Damar menyarankan jika menemukan pesan yang intoleran sebaiknya tidak menyebarluaskan dan lakukan dialog dengan kelompok yang menyebarkan pesan tersebut. "Jangan-jangan mereka lupa ini Indonesia yang bhinneka. agama. Presiden juga mengatakan Indonesia merupakan rumah bagi berbagai agama. Keimanan adalah kemampuan manusia menerima segala sesuatu dengan mata batinnya bukan dengan mata ragawi dan pembuktian ilmiah. Setiap saat arus informasi bergerak dengan deras dari sumber-sumber . Sayangnya masih banyak orang yang hidup keagamaannya berkisar pada “agama”-nya saja. Agama hanya mengantar seseorang menghayati keimanannya sehingga keimanan levelnya lebih tinggi daripada agama.pk Dalam catatan sejarah." jelas Damar. Nilai-nilai perdamaian juga dipegang teguh oleh semua umat di Indonesia. Katolik. Buddha.

saat ada yang melempar bahan peledak ke gereja. Informasi itu sendiri sebenarnya bersifat netral. Dialog yang dimaksud di sini memiliki makna yang lebih luas daripada sekedar percakapan antara dua orang atau lebih. Sedangkan pada tingkat grass root. Salah satu jurus untuk membangun toleransi adalah dengan dialog antar umat beragama. dalil dan hal-hal konseptual lainnya lebih cocok digunakan pada kalangan pemimpin-pemimpin agama. Melahap apa saja yang disajikan media telah menjadi gaya hidup masyarakat kita. Saat muncul berita tentang Masjid yang terbakar. Padahal belum tentu seperti itu. Diasumsikan mereka telah memiliki kedewasaan berpikir tentang agama dan keimanan. Sayangnya. sekali lagi agama hanyalah identitas. Dialog ini bisa diimplementasikan berbeda sesuai dengan segmen masyarakat yang disasar. orang akan berpandangan bahwa pelakunya adalah orang-orang yang beragama islam. dialog seperti itu justru dapat memperuncing perbedaan pendapat dan menimbulkan kesan konfrontasi. Kalaupun benar pelaku adalah orang yang memiliki agama berbeda. jadi pada saat-saat terjadi perbedaan (dan memang akan selalu ada perbedaan antar agama) dialog tidak menjadi kaku melainkan jadi semakin berwarna dan semakin menyingkap keindahan jalan-jalan yang dipilih manusia untuk sampai pada Sang Khalik. Karakter netizen saat menyampaikan uneg-unegnya juga beraneka ragam. mulai dari yang sopan santunnya masih terjaga sampai yang berkomentar cadas dan menyerang simbol-simbol keimanan netizen yang lain. Misalnya saling menjaga jika ada masyarakat pemeluk agama lain yang sedang beribadah. masyarakat kita cenderung suka menekan tombol share tanpa membaca artikelnya terlebih dahulu. gotong royong dan bersentuhan langsung dengan keseharian mereka. Adu argumen dan debat dunia maya pun tidak terhindarkan lagi. bekerja sama membersihkan lingkungan kampung. tidak menjamin keimanan seseorang.informasi sampai ke penerimanya. Model ini dapat kita lihat pada forum-forum diskusi. . Dialog mengenai kaidah-kaidah agama. sarasehan atau semintar lintas agama. namun setelah melewati media dan kepentingannya. Idealnya pembaca harus menelusuri kata demi kata dalam berita atau artikel memahami informasi yang disajikan dengan baik. apalagi sampai ke penerima tanpa filter logika yang baik. melainkan potongan informasi. Membangun Toleransi Seringkali saya amati artikel-artikel tentang agama berujung pada membanjirnya komentar dari netizen. Padahal judul berita bukanlah informasinya. informasi bisa jadi terdistorsi. Begitu pula sebaliknya. silahturahmi dengan pemeluk agama lain pada saat hari raya keagamaan dan lain-lain. pembaca cenderung memiliki mindset kalau pelakunya orang- orang yang beragama Kristen. ditambah lagi dengan komentar yang emosional. Dan oknum yang bersangkutan sama sekali bukan representasi seluruh umat agama yang dianutnya. Ini berlaku pula untuk informasi yang terkait dengan isu-isu agama. Ini adalah fenomena yang tidak sehat dalam membangun toleransi. Oleh karena itu dialog di tengah-tengah masyarakat lebih tepat dilakukan dengan cara yang bersifat karitatif.

Oleh karena itu salah satu strategi membangun toleransi pada dunia maya adalah dengan meminimalkan peluang hadirnya informasi yang dapat menimbulkan sikap intoleransi. tetap katakan tidak untuk artikel-artikel yang cenderung merendahkan agama lain. Dalam hal ini. Masyarakat. Karakteristik dunia maya yang kemudian menjadi tantangan bagi kita adalah sifatnya yang terbuka nyaris tanpa sekat ruang dan waktu. Hanya saja seperti yang sudah saya sampaikan di atas. Kemudian moderasi komentar harus dijaga untuk meminimalkan debat kusir yang bisa menjurus pada sikap intoleran. Jangan mudah terprovokasi oleh hasutan-hasutan yang menjurus kepada anarkisme. apalagi jika sudah ditumpangi oleh pihak-pihak yang memang ingin mengacaubalaukan kerukunan beragama di tanah air. topik terkait agama di dunia maya cenderung berkembang menjadi pembicaraan yang destruktif. tetapi penyedia content harus memiliki mekanisme guna mencegah pembaca-pembaca yang kurang bertanggungjawab memanfaatkan artikel tersebut untuk menyebar permusuhan. . lihatlah keharmonisan gereja Katedral dan Masjid Istiqlal Jakarta. Namun pada saat pesta berlangsung. pemilik portal dan pemerintah sebagai regulator. Memang tidak mudah. Artikel-artikel yang semakin memperdalam khazanah keagamaan sudah tepat untuk kita santap. karena saat itu memang volume umat lebih besar dari biasanya. menerima dan menanggapi informasi sama besarnya. Berhati-hatilah memasang judul artikel. meneruskan. ada tiga pihak yang memiliki peranan paling penting yaitu masyarakat. Saat perayaan Jumat Agung dan Paskah misalnya. Tidak semua informasi yang berseliweran itu akurat dan valid. Content berisi hal-hal yang dapat merusak toleransi antar umat beragama sebaiknya jangan ditayangkan. Peluang setiap orang untuk memberi. Kedua tempat ibadah besar ini bisa jadi saksi dinamika hidup bergandengan antar dua agama yang berbeda. Inilah contoh-contoh panorama dialog antar umat beragama pada tataran akar rumput. saat perayaan Idul Fitri. hidangan dari daging babi adalah santapan yang selalu disajikan. Pemilik Portal. halaman gereja Katedral dibuka untuk parkir jemaah yang akan melangsungkan sholat Idul Fitri di Masjid Istiqlal. Diharapkan masyarakat lebih arif dalam menyikapi pemberitaan-pemberitaan di media sosial.Contoh lain. Dengan demikian ruang untuk “dialog” terbuka sangat lebar dan peluang dialog berjalan konstruktif maupun destruktif juga sama besarnya. pengurus mesjid mempersilahkan umat yang hendak mengikuti Misa untuk memarkir kendaraannya di halaman masjid. Memang judul sangat mempengaruhi pageview. Toleransi di Dunia Maya Kita bisa belajar mengembangkan semangat toleransi yang sama pada dunia maya. tapi masih banyak masyarakat yang menafsirkan sebuah berita atau artikel hanya dari judulnya saja. pada pesta di kalangan masyarakat Toraja yang sebagian besar beragama Katolik maupun Kristen. mereka juga tetap menyediakan makanan dengan lauk ikan maupun ayam untuk tamu-tamu yang beragama Islam.Kearifan yang sama juga diharapkan dari para pemilik portal baik yang menayangkan berita/artikel langsung sebagai pihak pertama maupun yang mewadahi tulisan pihak lain. Contoh berikutnya. Begitu pula sebaliknya.

KomunitasFiksiana Community malah sudah sukses melangsungkan kopi darat untuk melengkapi pertemuan anggota-anggotanya di sosial media. melainkan larut dalam kebersamaan berdasarkan hobi atau kepentingan mereka. Saat ini sudah banyak komunitas yang berkiprah di dunia nyata yang diawali dengan kumpul-kumpul di dunia maya. Malah segala sesuatu yang diembel-embeli agama selalu menjadi sasaran empuk netizen yang doyan berpolemik dan membuat keributan. Saat berkomunitas anggota-anggotanya sebenarnya sudah berhasil membangun sebuah toleransi tanpa perlu settingan yang ribet. Tentu agama anggota komunitas tidak semuanya sama. Anggota-anggota komunitas saat berkumpul tidak lagi mempersoalkan latar belakang agama. Lebih baik membuat forum yang tidak dilabeli agama tetapi dikondisikan untuk menerima siapapun yang ingin bergabung. Tidak perlu sungkan-sungkan membreidel website dan akun yang menebar virus intoleransi atau radikalisme. Tapi komunitas tersebut bisa jadi tempat yang hangat untuk membangun kebersamaan.Sebagai regulator. Tapi kanal tersebut kemudian ditiadakan admin karena artikel yang ditayangkan lebih sering jadi tempat gontok-gontokan para kompasianer. Sebaliknya. komunitas penulis fiksi yang selama ini cukup meramaikan kanal fiksi Kompasiana. apapun agamanya. (PG) --- Sosial Media Penulis: twitter: @picalg facebook: Pical Efron . di Kompasiana saat ini cukup banyak komunitas penulis yang dibentuk berdasarkan kesamaan ketertarikan atau tempat tinggal. Kemudian laporan dari masyarakat terhadap website atau perorangan yang menyebarkan bibit-bibit intoleransi juga harus ditanggapi dengan serius. pemerintah juga memiliki tanggungjawab untuk membuat dunia maya di tanah air menjadi tempat kondusif untuk toleransi antar umat beragama.Pemerintah. Pemerintah mesti menjadi polisi lalu lintas informasi yang berseliweran di dunia maya. Membangun forum kerukunan antar umat beragama di dunia maya sepertinya tidak akan berjalan semulus di dunia nyata. Kita bisa berkaca dari Kompasiana yang dahulu pernah membuat kanal khusus untuk menampung tulisan-tulisan tentang agama. Bukankah tujuan akhir toleransi adalah kebersamaan dan terciptanya keharmonisan dalam masyarakat kita? Ini dapat menjadi model membangun toleransi di era sosial media saat ini. Di antara komunitas tersebut contohnya ada Rumpies The Club dan Fiksiana Community.