You are on page 1of 13

QOWA'ID AL-FIQH

Sabda Rasulullah SAW. :

"‫انما االعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى رواه البخارى‬
Artinya:
“Segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan apa yang didapatkan ialah apa yang telah diniatkan.” (HR.
Bukhari).

Kaidah ke-1
‫االمور بمقاصدها‬
Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.
Contoh kaidah:

Diwajibkannya niat dalam berwudhu, mandi, shalat dan puasa.

Penggunaan kata kiasan (kinayah) dalam talak. Seperti ucapann seorang suami kepada istrinya: ‫انت‬
‫( خالية‬engkau adalah wanita yang terasing). Jika suami bertujuan menceraikan dengan ucapannya
tersebut, maka jatuhlah talak kepada istrinya, namun jika ia tidak berniat menceraikan maka tidak jatuh
talak-nya.

Kaidah ke-2

‫ما يشترط فيه التعين فالخطأ فيه مبطل‬
Sesuatu yang memerlukan penjelasan, maka kesalahan dalam memberikan penjelasan
menyebabkan batal. Contoh kaidah:
Seseorang yang melakukan shalat dhuhur dengan niat 'ashar atau sebaliknya, maka shalatnya tersebut
tidak sah.
Kesalahan dalam menjelaskan pembayaran tebusan (kafarat) zhihar kepada kafarat qatl
(pembunuhan).

Kaidah ke-3
‫ما يشترط التعرض له خملة وال يشترط تعيينه تفصيال اذا عينه واخطأ ضر‬
Sesuatu yang memerlukan penjelasan secara global dan tidak memerlukan penjelasan secara rinci,
maka ketika kesalahan dalam penjelasan secara rinci membahayakan.

Contoh kaidah :
Seseorang yang bernama Gandung S.P. Towo niat berjamaah kepada seorang imam bernama mbah
Arief. Kemudian, ternyata bahwa yang menjadi imam bukanlah mbah Arief tapi orang lain yang
mempunyai panggilan Seger (Khoirul Mustamsikin), maka shalat Gandung tidak sah karena ia telah
berniat makmum dengan mbah Arief yang berarti telah menafikan mengikuti Seger. Perlu diketahui,
bahwa dalam shalat berjamah hanya disyaratkan niat berjamaah tanpa adanya kewajiban menentukan
siapa imamnya.

Kaidah ke-4

‫ما ال يشترط التعرض له خملة وال تفصيال اذا عينه واخطأ لم يضر‬
Sesuatu yang tidak disyaratkan penjelasannya secara global maupun terperinci ketika dita'yin dan
salah maka statusnya tidaklah membahayakan.
Contoh kaidah :
Kesalahan dalam menentukan tempat shalat. Seperti mbah Muntaha (pengelolah kantin Asyiq) niat
shalat di Kemranggen Bruno Purworejo, padahal saat itu dia berada di Simpar (suatu daerah yang di
Kecamatan Kalibawang Wonosobo). Maka shalat mbah Muntaha tidak batal karena sudah adanya niat.

Kaidah ke-5 ‫مقاصد اللفظ على نية الالفظ‬ Maksud sebuah ucapan tergantung pada niat yang mengucapkan. Contoh kaidah : Temon adalah seorang pria perkasa (berasal dari daerah Babadsari Kutowinangun Kebumen). seseorang meyakini telah berhadats dan kemudian ragu apakah sudah bersuci atau belum. maka tidak bisa dihilangkan kecuali dengan adanya keyakinan yang lain.? kayane aku nembe demek. Putra An-Nawawi. "batal durung yo.sedangkan menentukan tempat shalat tidak ada hubungannya dengan niat baik secara globlal atau terperinci (tafshil)..." maka hukum thaharah-nya tidak hilang disebabkan keraguan yang muncul kemudian. Menambahkan lafal masyiah (insya Allah) dalam niat shalat dengan tujuan menggantungkan shalatnya kepada kehendak Allah SWT. Seseorang yang makan (berbuka) pada penghujung siang tanpa berijtihad terlebih dahulu dan kemudian ragu apakah matahari telah terbenam atau belum. Kemudian timbul keraguan dalam hatinya. maka orang tersebut masih belum suci (muhdits). maka budak perempuan itu menjadi perempuan merdeka. Jika dalam ucapan “Yaa Tholiq” Temon bermaksud menceraikan istrinya. atau dengan menambahkan masyiah dengan tanpa adanya tujuan apapun. Sebaliknya jika ia hanya bertujuan memanggil namanya. Contoh kaidah : Seorang bernama Doel Fatah ragu. maka menurut pendapat yang sahih. namun jika hanya bertujuan memanggil nama istrinya. maka puasanya batal. Begitu juga dengan ucapan “Yaa Hurrah” kepada budaknya jika Temon bertujuan memerdekakan. Kaidah ke-8 ‫االصل براة الذمة‬ . Kaidah ke-7 ‫االصل بقاء ما كان على ما كان‬ Pada dasarnya ketetapan suatu perkara tergantung pada keberadaannya semula. shalatnya menjadi batal. Dibawah ini ialah kaidah yang esensinya senada dengan kaidah di atas: ‫ما ثبت بيقين ال يرتفع اال بيقين‬ Sesuatu yang tetap dengan keyakinan. Karena asalnya adalah tetapnya siang (al-ashl baqa-u al-nahr). Doel Fatah harus menetapkan yang tiga rakaat karena itulah yang diyakini. Teman kita yang satu ini konon katanya mempunyai seorang istri bernama Tholiq dan seorang budak perempuan bernama Hurrah. Santri bernama Maid baru saja mengambil air wudhu di kolam depan komplek A PP. maka jatuhlah talak kepada istrinya. Contoh kaidah : Seseorang yang makan sahur dipenghujung malam dan ragu akan keluarnya fajar maka puasa orang tersebut hukumnya sah. apakah baru tiga atau sudah empat rakaat shalatnya? maka. Namun apabila hanya berniat tabarru’ maka tidak batal shalatnya. Kaidah ke-6 ‫اليقين ال يزال بالشك‬ Keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keraguan. maka tidak menjadi merdeka. Karena pada dasarnya masih tetap malam (al-aslu baqa-u al-lail). atau Yaa Hurrah. Suatu saat.. Yaa Tholiq. Temon berkata. maka batal shalatnya. maka tidak jatuh talaknya.

Dengan PD-nya. santri yang demen banget lagu-lagu Hindia ini spontan menjawab. Tidak diperbolehkannya melarang seseorang untuk membeli sesuatu. Kang Khumaidi melaporkan kepada Bos Fahmi bahwa usahanya tidak mendapat untung. Contoh kaidah : Mungkin karena kesal dengan seseorang wanita hamil yang kebetulan juga cerewet. Kaidah ke-10 ‫االصل فى كل واحد تقديره باقرب زمنه‬ Asal segala sesuatu diperkirakan dengan yang lebih dekat zamannya. “Siro -red: kamu. Selang beberapa waktu si wanita melahirkan seorang bayi dalam keadaan sehat. maka ia diperbolehkan bertayamum. Dalam kerjasama ini Kang Khumaidi bertindak sebagai pengelola usaha (al-'amil). tapi aku tidak ingat kapan aku mimpi basah. karena baru saja menemukan kaidah “al-aslu fi kulli wahidin taqdiruhu bi-aqrobi zamanihi” saat muthala’ah Kitab Mabadi' Awwaliyah. Contoh kaidah : Seorang bernama Godril yang sedang sakit parah merasa kesulitan untuk berdiri ketika shalat fardhu. aku melihat sperma di bajuku. Dalam kasus ini. Seorang santri kelas II MDU bernama Soekabul alias Kabul Khan ditanya oleh teman sekamarnya. Kaidah ke-9 ‫االصل العدم‬ Hukum asal adalah ketiadaan Contoh kaidah : Kang Khumaidi mengadakan kerjasama bagi hasil (mudharabah) dengan Bos Fahmi. Contoh kaidah: Seorang yang didakwa (mudda’a ‘alaih)melakukan suatu perbuatan bersumpah bahwa ia tidak melakukan perbuatan tersebut. sakit parah misalnya. Dalam kasus ini. Hal ini diingkari Bos Fahmi. Kemudian tanpa diduga-duga. sedangkan Bos Fahmi adalah pemodal atau investornya. maka tanpa pikir panjang Ipin -cah Jiwan Wonosobo.wajib mandi besar dan mengulang shalat mulai sejak terakhir kamu bangun tidur sampai sekarang.hukum asal adalah tidak adanya tanggungan. entah karena apa si jabang bayi yang imut yang baru beberapa hari dilahirkan mendadak saja mati.memukul perut si wanita hamil tersebut.” Kaidah ke-11 ‫المشقة تجلب التيسر‬ Kesulitan akan menarik kepada kemudahan. karena pada dasarnya ia terbebas dari segala beban dan tanggung jawab. . maka yang dibenarkan adalah ucapan orang Bruna yang bernama Kang Khumaidi. Karena pada dasarnya tidak adanya larangan (dalam muamalah). Ipin tidak dikenai tanggungan (dhaman) karena kematian jabang bayi tersebut adalah disebabkan faktor lain yang masanya lebih dekat dibanding pemukulan Ipin terhadap wanita tersebut. Kang?”. Maka ia tidak dapat dikenai hukuman. “Kang Kabul. Pada saat akhir perjanjian. Seseorang yang karena sesuatu hal. Permasalahan kemudian dikembalikan kepada yang mendakwa (mudda’i). merasa kesulitan untuk menggunakan air dalam berwudhu. maka ia diperbolehkan shalat dengan duduk. Begitu juga ketika ia merasa kesulitan shalat dengan duduk. maka diperbolehkan melakukan shalat dengan tidur terlentang. karena pada dasarnya memang tidak adanya tambahan (laba). Gimana solusinya.

Kaidah ke-12 ‫االشياء اذا اتسع ضاقت‬ Sesuatu yang dalam keadaan lapang maka hukumnya menjadi sempit. mengakhirkan puasa Ramadhan bagi yang sakit dan orang dalam perjalanan dan mengakhirkan shalat karena menolong orang yang tenggelam. Takhfif Ibdal. maka hukumnya menjadi luas (ringan). Al-Baqarah (2): 185. sedangkan banyak bergerak tanpa adanya kebutuhan tidak diperbolehkan. ketika sulit. Seperti mengganti wudhu dan mandi dengan tayammum. Takhfif Tanqis. Takhfif Takhir. Seperti dalam shalat jama' taqdim. Perkataan sebagian ulama: ‫االشياء اذا ضاقت اتسع‬ Ketika keadaan menjadisempit maka hukumnya menjadi luas. Takhfif Taghyir. yaitu keringanan dengan perubahan. Seperti diperbolehkannya menqashar shalat. berfirman dalam QS. Dari dua kaidah sebelumnya (kaidah ke-11 dan ke-12) Al-Gazali membuat sintesa (perpaduan) menjadi satu kaidah berikut ini: ‫كل ما تجوز حده انعكس الى ضده‬ Setiap sesuatu yang melampaui batas kewajaran memiliki hukum sebaliknya. yaitu keringanan dengan menggugurkan. mendahulukan zakat sebelum khaul (satu tahun). yaitu keringanan dengan kemurahan Seperti diperbolehkannya menggunakan khamr (arak) untuk berobat. yaitu keringanan dengan mengurangi. berdiri dengan duduk. yaitu keringanan dengan mengganti. Seperti menggugurkan kewajiban menunaikan ibadah haji.” KERINGANAN HUKUM SYARA’ Keringanan hukum syara’ (takhfifat al-syar'i). “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Allah SWT. Takhfif Tarkhis. Kaidah ke-13 . Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas. meliputi 7 macam.Pendapat Imam Syafi'i tentang diperbolehkannya seorang wanita yang bepergian tanpa didampingi wali untuk menyerahkan perkaranya kepada laki-laki lain”. mendahulukan zakat fitrah sebelum akhir Ramadhan. umrah dan shalat jumat karena adanya 'uzdur (halangan). yaitu keringanan dengan mendahulukan waktu pelaksanaan. yaitu: Takhfif Isqat. tidur terlentang dan memberi isyarat dalam shalat dan mengganti puasa dengan memberi makanan. Seperti dalam shalat jama' ta’khir. Contoh kaidah : Sedikit gerakan dalam shalat karena adanya gangguan masih ditoleransi. antara lain: Perkataan Imam al-Syafi'i: ‫االمر اذا ضاق اتسع‬ Sesuatu. Seperti merubah urutan shalat dalam keadaan takut (khauf). yaitu keringanan dengan mengakhirkan waktu pelaksanaan. Takhfif Taqdim.

Diperbolehkan melafazdkan kalimat kufur karena terpaksa. Tindakan Rahman memakan daging babi dalam kondisi kelaparan tersebut diperbolehkan. berarti Rahman yang dalam kondisi darurat hanya diperbolehkan memakan daging babi tangkapannya itu sekira cukup untuk menolong dirinya agar bisa terus menghirup udara dunia. Kaidah lain yang kandungan maknanya sama adalah kaidah berikut: ‫ال حرام مع الضرورة وال كراهة مع الحاجة‬ Tidak ada kata haram dalam kondisi darurat dan tidak ada kata makruh ketika ada hajat Kaidah ke-16 ‫ما ابيح للضرورة يقدر بقدرها‬ Sesuatu yang diperbolehkan karena keadaan darurat harus disesuaikan dengan kadar daruratnya. tiba-tiba tampak dihadapan Rahman seekor babi dengan bergeleng-geleng dan menggerak-gerakkan ekornya seakan-akan mengejek si-Rahman yang sedang kelaparan tersebut.karenanya mereka pergi tanpa memperdulikan nasib Rahman nantinya. Rahman langsung menguliti babi tersebut dan kemudian makan dagingnya untuk sekedar mengobati rasa lapar. Mbah Yoto. Diperbolehkannya merusak pernikahan (faskh al-nikah) bagi laki-laki dan perempuan karena adanya 'aib. Namun malang juga nasib si babi hutan itu. ‫الضرر يزال‬ Bahaya harus dihilangkan. . Kemudian tanpa pikir panjang. Contoh kaidah: Diperbolehkan bagi seorang pembeli memilih (khiyar) karena adanya 'aib (cacat) pada barang yang dijual. Contoh kaidah: Dengan melihat contoh pertama pada kaidah sebelumnya. Kaidah ke-14 ‫الضررال يزال بالضرر‬ Bahaya tidak dapat dihilangkan dengan bahaya lainnya. Contoh kaidah: Ketika dalam perjalan dari Sumatra ke pondok pesantren An-Nawawi. saking tidak tahannya menahan lapar nekat mengambil getuk Asminah (asli produk gintungan) kepunyaan Lutfi yang kebetulan dibeli sebelumnya di warung Syarof CS. keduanya sangat membutuhkan makanan untuk meneruskan nafasnya.tidak bisa dibenarkan karena Lutfi juga mengalami nasib yang sama dengannya. semua bekal Rahman ludes dirampas oleh mereka yang tak berperasaan -sayangnya Rahman tidak bisa seperti syekh Abdul Qadir al-Jailany yang bisa menyadarkan para begal. yaitu kelaparan. Karena kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang. lama-kelamaan Rahman merasa kelaparan dan dia tidak bisa membeli makanan karena bekalnya sudah tidak ada lagi. ditengah-tengah hutan Kasyfurrahman alias Rahman dihadang oleh segerombolan begal. Rahman bertindak sigap dengan melempar babi tersebut dengan sebatang kayu runcing yang dipegangnya. Kaidah ke-15 ‫الضرورات تبيح المحظورات‬ Kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang. Tindakan mbah Yoto -walaupun dalam keadaan yang sangat menghawatirkan baginya. Contoh kaidah: Mbah Yoto dan Lutfi adalah dua orang yang sedang kelaparan. selebihnya (melebihi kadar kecukupan dengan ketentuan tersebut) tidak diperbolehkan.

Sulitnya shalat jumat untuk dilakukan pada satu tempat. Kaidah ke-18 ‫اذا تعارض المفسدتان رعي اعظمهما ضررا بارتكاب اخفهما‬ Ketika dihadapkan pada dua mafsadah (kerusakan) maka tinggalkanlah mafsadah yang lebih besar dengan mengerjakan yang lebih ringan. padahal ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan. namun dimakruhkan bagi orang yang berpuasa karena untuk menjaga masuknya air yang dapat membatalkan puasanya. Diperbolehkan memandang wanita selain mahram karena adanya hajat dalam muamalah atau karena khithbah (lamaran). Ketika dua tempat sudah dianggap cukup maka tidak diperbolehkan dilakukan pada tiga tempat. Sedangkan dalam situasi itu. Disyariatkan hukum qishas. Berbeda ketika jumlah . Contoh kaidah: Berkumur dan mengisap air kedalam hidung ketika berwudhu merupakan sesuatu yang disunatkan. Contoh kaidah: Diperbolehkannya Ji'alah (sayembara berhadiah) dan Hiwalah (pemindahan hutang piutang) karena sudah menjadi kebutuhan umum. Tidak perbolehkannya minum khamr dan berjudi karena bahaya yang ditimbulkannya lebih besar daripada manfaat yang bisa kita ambil. Kaidah ke-20 ‫االصل فى االبضاع التحريم‬ Hukum asal farji adalah haram. untuk mengambil makanan Eko Setello yang tidak lapar dengan sedikit paksaan. Termasuk dalam persyaratan ijtihad adalah asalnya yang mubah. had dan menbunuh begal. maka shalat jumat boleh dilaksanakan pada dua tempat. maka laki-laki yang menjadi saudara perempuan tersebut dilarang melakukan ijtihad untuk memilih salah satu dari mereka menjadi istrinya. Kaidah ke-17 ‫الحجة قد تنزل منزلة الضرورة‬ Kebutuhan (hajat) terkadang menempati posisi darurat. Meresapkan air kesela-sela rambut saat membasuh kepala dalam bersuci merupakan sesuatu yang disunatkan. namun makruh dilakukan oleh orang yang sedang ihram karena untuk menjaga agar rambutnya agar tidak rontok. sehingga oleh karenanya perlu diperkuat dengan ijtihad. Contoh kaidah: Ketika seorang perempuan sedang berkumpul dengan beberapa temannya dalam sebuah perkumpulan majlis taklim. karena manfaatnya (timbulnya rasa aman bagi masyarakat) lebih besar daripada bahayanya. Contoh kaidah: Diperbolehkannya membedah perut wanita (hamil) yang mati jika bayi yang dikandungnya diharapkan masih hidup. dengan jumlah perempuan yang terbatas. Diperbolehkannya seorang yang bernama Junaidi yang kelaparan. Kaidah ke-19 ‫درء المفاسد مقدم على جلب المصالح‬ Menolak mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada mengambil kemaslahatan. dengan mudah dapat diketahui nama saudara perempuannya yang haram dinikahi dan mana yang bukan.

dikhawatirkan wakil membeli jariyah untuk dirinya sendiri. yakni dengan menghadirkan hati pada saat niat shalat tersebut. menurut syara’ adalah tidak sah. Seseorang mewakilkan (al-muwakkil) kepada orang lain untuk membeli jariyah (budak perempuan) dengan menyebut cirri-cirinya. sehingga oleh karenanya. seseorang mungkin saja melakukan shalat empat rakaat dengan menghadap arah yang berbeda pada setiap rakaatnya. Kaidah ke-21 ‫العادة محكمة‬ Adat bisa dijadikan sandaran hukum. Dan menjadi sah. Allah SWT.maka segala sesuatunya dikembalikan kepada kebiasaan (al-"urf) yang berlaku. bahwasanya syara’ telah menentukankan tempat niat di dalam hati. orang yang telah mewakili (wakil) tersebut meninggal. tidak harus dilafalkan dan tidak harus menyebutkan panjang lebar. berfirman QS. Sedangkan ijtihad pertama tetap sah sehingga tidak memerlukan pengulangan pada rakaat yang dilakukan dengan ijtihad pertama. cukup menghadirkan hati. banyak dan umumnya waktu haidh. itu sudah di anggap cukup. maka berlaku harga dan maat uang yang umum dipakai. Kaidah ke-22 ‫ما ورد به الشرع مطلقا وال ضابط له فيه وال فى فى اللغة يرجع فيه الى العرف‬ Sesuatu yang berlaku mutlak karena syara' dan tanpa adanya yang membatasi didalamnya dan tidak pula dalam bahasa. maka terdapat kemurahan. . Terkait dengan kaidah di atas.perempuan itu banyak dan tidak dapat dihitung. ijtihad pertama tidak sama dengan ijtihat ke dua. Maka sebelum ada penjelasan yang menghalalkan. maka digunakan ijtihad ke dua. Contoh kaidah: Seseorang menjual sesuatu dengan tanpa menyebutkan mata uang yang dikehendaki. Al-Mukminun (23) 5-7. Dengan demikian. Contoh kaidah : Niat shalat cukup dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram. Jual beli dengan meletakan uang tanpa adanya ijab qobul. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.” Lebih jelasnya sesuai dengan ayat quran tersebut bahwa seorang budak halal bagi tuannya tetapi berhubung belum ada indikasi yang jelas mengenai kehalalannya sebagaimana contoh di atas maka budak tersebut belum halal bagi muwakkil (orang yang mewakilkan). Batasan sedikit. pintu pernikahan tidak tertutup dan pintu terbukanya kesempatan berbuat zina. sebelum sempat menyerahkan jariyah yang dibelinya tersebut. nifas dan suci bergantung pada kebiasaan (adapt perempuan sendiri). Contoh kaidah: Apabila dalam menentukan arah kiblat. Artinya: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. kalau hal itu sudah menjadi kebiyasaan. jariyah itu belum halal bagi muwakkil karena walaupun memiliki cirri-ciri yang disebutkannya. Kaidah ke-23 ‫االجتهاد ال ينقد باالجتهاد‬ Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. Ternyata. “aku niat shalat…………rakaaat”.

Karena hal ini berkaitan dengan ibadah. Dalam QS. Kaidah ke-24 ‫االء يثار بالعبادة ممنوع‬ Mendahulukan orang lain dalam beribibadah adalah dilarang. Contoh kaidah: Mendahulukan orang lain atau menempati shaf awal (barisan depan) dalam shalat. mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). sekalipun mereka dalam kesusahan. Karena walaupun shalat dibelakangnya tetap sah. maka kita tidak boleh menggunakan air tersebut. Contoh kaidah: Seorang pemimpin (imam) dilarang membagikan zakat kepada yang berhak (mustahiq) dengan cara membeda-bedakan diantara orang-orang yang tingkat kebutuhannya sama. namun hal ini kurang baik (makruh). Kaidah ke-27 . maka kita tidak boleh memberikan kain itu kepadanya karena akan menyebabkan aurat kita terbuka. Artinya. kemudian ijtihadnya berubah dari ijtihad yang pertama maka ijtihad yang pertama tetap sah (tidak rusak). Firman Allah SWT. Al-Hasr (59):9. Mempersilahkan orang lain untuk makanan lebih dulu. atas diri mereka sendiri. Seorang pemimpin pemerintahan.Ketika seorang hakim berijtihad untuk memutuskan hukum suatu perkara. Rasulullah SAW. Artinya: “Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). Contoh kaidah: Mendahulukan orang dalam menerima tempat tinggal (Almaskan). mereka Itulah orang orang yang beruntung. bersabda : ‫كلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته‬ Artinya : “Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan setiap dsari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan”. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya. Al-Baqarah (2):148. Begitu pula dengan air yang akan kita gunakan untuk bersuci. " …Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…" Kaidah ke-25 ‫االء يثار بغيرالعبادة مطلوب‬ Mendahulukan orang lain dalam selain ibadah dianjurkan. Seorang pemimpin tidak boleh mendahulukan pembagian harta baitul mal kepada seorang yang kurang membutuhkannya dan mengakhirkan mereka yang lebih membutuhkan. dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Mendahulukan orang lain untuk memilih pakaian. Firman Allah SWT dalam Qs. Mendahulukan orang lain untuk menutup aurat dan menggunakan air wudhu. dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin). sedangkan teman kita juga membutuhkannya. sebaiknya tidak mengankat seorang fasiq menjadi imam shalat. ketika kita hanya memiliki sehelai kain untuk menutup aurat.” Kaidah ke-26 ‫تصرف االمام على الرعية منوط بالمصلحة‬ Kebijakan pemimpin atas rakyatnya dlakukan berdasarkan pertimbangan kemaslahatan.

Orang meminum khamr (arah) untuk berobat tidak dikenai had karena masih terdapat khilaf antar ulama'. Orang mencuri barang yang disangka sebagai miliknya. walaupun dalam sebuah ruangan atau adanya penutup. ‫ ادرؤا الحدود بالشبهات‬: ‫قال النبي صلى هللا عليه وسلم‬ Artinya: Nabi SAW. Disunatkan membasuh sperma. sebagian membolehkan nikah mut'ah dan nikah tanpa wali dan sebagian lagi berpendapat sebalikannya. nikah tanpa wali atau saksi atau setiap pernikahan yang dipertentangkan. karena keluar dari khilaf dengan Abu hanifah yang mewajibkannya. dan tujuan keluar dari khilafdengan imam malik berpendapat bahwa dalk dan isti'ab al-ro'sy (meneteskan kepala dengan air) adalah wajib hukumnya. Kaidah ke-29" ‫الخروج من الخالف مستحب‬ Keluar dari perbedaan pendapat hukumnya sunat (mustahab). ‫الحدود تسقط بالشبهات‬ Hukum gugur karena sesuatu yang syubhat. yang menurut imam malik wajib hukumnya. Seperti lebih diutamakan memisahkan shalat witir (tiga rakaat dengan dua salam) dari pada melanjutkanya. Untuk mengatasi perbedaan diperlukan beberapa syarat sebagai berikut: Upaya mengatasi perbedaan tidak menyebabkan jatuh pada perbedaan lain. Contoh kaidah: Disunatkan menggosok badan (dalk) ketika bersuci dan memeratakan air ke kepala dengan mengusapkannya. Sunah men-qashar shalat dalam perjalanan yang mencapai tiga marhalah. karena untuk keluar dari khilaf imam Tsaury yang mewajibkannya. atau milik bapaknya.maka hukumnya wajib. maka orang tersebut tidak dikenai had. bersabda: Tinggalkanlah oleh kamu sekalian had-had dikarenakan (adanya) berbagai ketidak jelasan. Contoh kaidah: Seorang laki-laki tidak dikenai had. ketika melakukan hubungan seksual dengan wanita lain yang disangka istrinya (wathi syubhat). Kaidah ke-28 ‫ما ال يتم الواجب اال به فهو واجب‬ Sesuatu yang karena diwajibkan menjadi tidak sempurna kecuali dengan keberadaannya. Wajibnya membasuh bagian lengan atas dan betis (wentis) pada saat membasuh lengan dan kaki. atau milik anaknya. Contoh Kaidah: Wajib membasuh bagian leher dan kepala pada saat membasuh wajah saat berwudhu. tidak dapat dikenai had sebab masih adanya perbedaan pendapat antara ulama. Wajibnya menutup bagian lutut pada saat menutup aurat bagi laki-laki dan wajibnya dan wajibnya menutup bagian wajah bagi wanita. Seseorang melakukan hubungan seks dalam nikah mut'ah. Dalam hal ini pendapat Imam Abu Hanafiah tidak dipertimbangkan karena adanya ulama yang tidak membolehkan witir dengan digabungkan . Disunatkan untuk tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat ketika membuang hajat.

maka pahalanya adalah setengah dari orang yangh shalat dengan duduk. Kautnya temuan tentang bukti perbedaan. Nabi SAW sendiri melakukan shalat dengan mengangkat kedua tangannya.takbir dan salam. Orang yang berpergian karena maksiat. tidak boleh mengambil kemurahan hukum karena berpergiannya. Seperti disunatkannya mengangkat kedua tangan dalam shalat. Orang melakulan shalat sunah dengan duduk. maka banyak pula keutamaanya. Rasulullah SAW. Menurut riwayat lima puluh orang sahabat. mengqashar dan menjama’ shalat. maka pahalanya setengan dari pahala orang yang shalat sambil berdiri. seperti. sehingga kecil kemungkinan terulangnya keslahan serupa. Kaidah ke-31 ‫الرخصة التناط بالشك‬ Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan keraguan. Dengan alas an itu. Orang yang shalat tidur mirung. Kaidah ke-32 ‫ما كان اكثر فعال كان اكثر فضال‬ Sesuatuyang banyak aktifitasnya. dan tidak dipertimbangkan adanya pendapat para kaum Zahiruasa musafir itu tidak sah. Contoh kaidah: Shalat witir dengan fashl (tiga rakaat dengan dua salam) lebih utama dari pada wasl (tiga rakaat dengan satu salam) karena bertambahnya niat. dan membatalkan puasa. Memishkan pelaksanaan antara ibadah haji dengan umrah adalah lebih utama dari pada melaksanakan bersama-sama. walaupun dalam kondisi terpaksa juga tidak diperbolehkan memakan bangkai dan daging babi. Seorang yang bimbang apakah dirinya hadats pada waktu dhuhur atau ashar. bersabda: ‫اجرك على قدر نصبك رواه مسلم‬ Artinya: “Besarnya pahalamu tergantung pada usahamu. Contoh kaidah: Dalam perjalanan pulang ke Grabag Magelang. Contoh kaidah: Orang yang bepergian karena maksiat.Tidak bertentangan dengan sannah yang tepat (al-sannah al-tsabilah). maka yang harus diyakini adalah hadats pada waktu dhuhur. Kaidah ke-30 ‫الرخصة التناط بالمعاصى‬ Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan maksiat. Dalam kondisi semacam ini. kang Aziz tidak boleh meng-qashar shalat. Abdul Aziz merasa ragu mengenai jauh jarak yang ditempuh dalam perjalan tersebut. apakah sudah memenuhi syarat untuk meng-qashar shalat atau belum. walaupun seorang ulama Hanafiah menganggap hal ini dapat membatalkan shalat. maka berpuasa bagi musafir yang mampu menahan lapar dan dahaga aladah utama. (HR. Muslim) Kaidah ke-33 .

namun setengah darinya berada ditempat jauh (ghaib) maka harus dikeluarkan untuk zakat adalah harta yang berada ditangannya. Seseorang yang mampu menutup sebagian auratnya. Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas. .” (HR. Contoh kaidah: Seorang yang terpotong bagian tubuhnya. Nabi SAW. Seserang yang tidak mampu untuk mengajar atau belajar berbagai bidang studi (fan) sekaligus. Bukhari Muslim) Kaidah ke-35 ‫ما حرم فعله حرم طلبه‬ Sesuatu yang haram untuk dikerjakan maka haram pula mencarinya. Orang yang memiliki harta satu nisab. Begitu pula dengan upah orang-orang yang meratapi kematian orang lain. maka tidak boleh meninggalkan keseluruhannya. ‫ما ال يدرك كله ال يترك كله‬ Jika tidak mampu mengerjakan secara keseluruhan maka tidak boleh meninggalkan semuanya Contoh kaidah: Seorang yang tidak mampu berbuat kebajikan dengan satu dinar tetapi mampu dengan dirham maka lakukanlah. Mengambil upah dari tukang ramal risywah (suapan). adalah perkataan ulama ahli fiqh: ‫ما ال يدرك كله ال يترك بعضه‬ Sesuatu yang tidak dapat ditemukan keseluruhannya. Kaidah ke-34 ‫الميسور ال يسقط بالمعسور‬ Sesuatu yang mudah tidak boleh digugurkan dengan sesuatu yang sulit. maka tidak boleh tinggalkan sebagiannya. maka ia wajib membaca sebagian yang ia ketahui tersebut.‫وما امرتكم به فأتوا منه ما استطعتم‬ Artinya: “Sesuatu yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. Seseorang yang merasa berat untuk melakukan shalat malam sebanyak sepuluh rakaat. Orang yang mampu membaca sebagian ayat dari surat Al-Fatihah. Contoh kaidah: Mengambil riba atau upah perbuatan jahat. maka lakukanlah shalat malam empat rakaat. maka tetap wajib baginya membasuh anggota badan yang tersisah ketika bersuci. bersabda : ‫ رواه شيخان‬. maka ia wajib menutup aurat berdasarkan kemampuannya tersebut.

Seseorang memita tangannya di potong dan berakibat kepada rusaknya anggota tubuh yang lain.maka haram pula memberikannya. Jika kemudian terdeteksi bahwa arak tidak lagi memabukkan seperti khamr yang telah berubah menjadi cuka maka halal. Orang yang menjalankan fardhu kifayah lebih istimewa karena telah menggugurkan dosa umat daripada orang yang melakukan fardhu 'ain. maka tidak ada masalah didalamnya (boleh). Contoh kaidah : Alasan diharamkannya arak (khamr) adalah karena memabukkan. maka hukumnya menjadi boleh. baik dari sisi wujudnya maupun ketiadaannya’illatnya. Kaidah ke-38 ‫الرضى بالشيء رضى بما يتولد منه‬ Rela akan sesuatu berarti rela dengan konsekuensinya. teapi wanginya bertahan sampai waktu ihram maka tidak dikenahi fidyah. Contoh kaidah : Memberikan riba atau upah perbuatan jahat kepada orang lain. Kaidah yang memiliki makna sama dengan kaidah di atas yaitu : ‫المتولد من مأذون ال اثر له‬ Hal-hal yang timbul dari sesuatu yang telah mendapat ijin tidak memiliki dampak apapun. Andaikata unsure yang merusakkan itu hilang. Memasuki rumah orang lain atau memakai pakaiannya tanpa adanya ijin adalah haram hukumnya. Namun ketika namun ketika diketahui bahwa pemiliknya merelakan. Memakai wangi-wangian sebelum melaksanankan ihram. . Contoh kaidah: Menerima suami istri dengan kekurangan yang dimiliki salah satu dari keduanya. Contoh kaidah: Mengajarkan ilmu lebih utama daripada shalat sunah. Kaidah ke-37 ‫الخير المتعدي افضل من القاصر‬ kebaikan yang memiliki dampak banyak lebih utama daripada yang manfaatnya sedikit (terbatas). Memberikan upah hasil meramal dan risywah kepada orang lain. Kaidah ke-39 ‫الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما‬ Hukum itu berputar beserta 'illatnya. Alasan diharamkannya minum racun karena adanya unsur merusakkan. maka orang tersebut tidak boleh menuntut kepada pemotong tangan. Maka tidak boleh mengembalikan kepada walinya.Kaidah ke-36 ‫ما حرم اخذه حرم اعطاؤه‬ Sesuatu yang haram diambil. Termasuk juga upah meratapi kematian orang lain.

‫قال النبي صلى هللا عليه وسلم ما احل هللا فهو حالل وما حرم هللا فهو حرام وما‬ ‫سكت عنه فهو مما عفو‬ Nabi SAW. Kaidah ke-40 ‫االصل فى اآل شياء االءباحة‬ Hukum ashal (pada dasarnya) segala sesuatu itu diperbolehkan. bersabda : " Sesuatu yang dihalalkan Allah adalah halal dan sesuatu yang diharamkan Allah adalah haram. bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr hukumnya haram. maka daging itu boleh dimakan. Akhirnya setelah melihat isi dompet masing-masing keduanya memutuskan untuk mampir makan di restourant yang lumayan mewah tapi kemudian keduanya ragu apakah daging pesenannya itu halal atau haram. Tiba-tiba ada seekor merpati yang masuk ke dalam sangkar burung milik Koci. ketika pemilik sangkar (Koci) melihat merpati tersebut dia merasa tertarik dan ingin memilikinya. Dengan mempertimbangkan makna kaidah diatas. Sedangkan hal- hal yang tidak dijelaskan Allah merupakan pengampunan dari-Nya. Memakan daging Jerapah diperbolehkan. Ketika ragu akan besar kecilnya kadar emas yang digunakan untuk menambal suatu benda maka hukum benda tersebut boleh untuk digunakan. perut kedua bocah ndeso tersebut protes sambil berbunyi nyaring alias kelaparan. sebagaimana al-Syubki berkata sesungguhnya memakan daging Jerapah hukumnya mubah. Setelah lama muter-muter sambil menikmati indahnya ibu kota. Contoh kaidah : Dua sahabat bernama Lukman dan Rahmat Taufiq jalan-jalan ke Jakarta." ﴾ ‫﴿ وهللا اعلم‬ . Maka hukumnya burung merpati tersebut boleh atau bebas untuk dimiliki. ‫قال النبي صلى هللا عليه وسلم كل مشكر خمر وكل خمر حرام‬ Nabi SAW. namun Koci masih ragu apakah dia boleh memeliharanya atau tidak.