You are on page 1of 4

1.

Hubungan kadar serum leptin terhadap IMT pada PCOS
Polycystic ovary syndrome (PCOS) merupakan gangguan system endokrin
pada wanita usia produktif dengan prevalensi sebanyak 6-25% (Jalilian et al.,
2016). Sindrom tersebut mempengaruhi kualitas hidup wanita, salah satunya yaitu
terjadi obesitas. Hampir setengah dari wanita PCOS mengalami obesitas. Pada
penderita PCOS terjadi peningkatan timbunan lemak pada jaringan periferal dan
intraabdomen (Bajuk et al., 2013). Lepasnya asam lemak bebas dalam sirkulasi
dapat menyebabkan efek yang buruk terhadap metabolism tubuh terutama di hati,
adipokines dan cytokines yang disekresikan oleh adiposit viseral yang berperan
terhadap terjadinya komplikasi dari obesitas (Flier dan Maratos, 2008). Jaringan
lemak mengeluarkan bioaktif sitokin dan adipokin, termasuk adiponektin, leptin,
dan resistin. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara gangguan
regulasi leptin dengan obesitas pada PCOS (Lecke et al., 2013). Hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan kadar serum leptin terdapat hubungan yang
dignifikan terhadap peningkatan kadar serum leptin (10.69 ± 5.37 ng/mL) dengan
indeks masa tubuh (26.62 ± 4.03 kg/m2) pada wanita penderita PCOS (Jalilian et
al., 2016).
Leptin adalah hormon peptida yang disekresikan oleh adipocytes dan
bersirkulasi dalam plasma sebagai adipokin bebas atau terikat protein. Leptin
secara langsung terkait dengan obesitas dengan kerjanya secara primer di
hipotalamus untuk mempertahankan homeostasis energi di seluruh tubuh dengan
cara menekan neuropeptide Y yang mengatur regulasi pusat nafsu makan di
hipotalamus sehinga terjadi keseimbangan antara penyimpanan dan penggunaan
energi di perifer. Neuropeptida Y sendiri merupakan stimulator nafsu makan kuat
dan diketahui terlibat dalam regulasi beberapa hormon pituitari misalnya menekan
growth hormone (GH) melalui stimulasi somatostatin, menekan gonadotropin, atau
stimulasi aksis pituitary-adrenal (Flier dan Maratos, 2008). Leptin dapat juga
memiliki peran dalam fungsi reproduksi, yang bekerja pada aksis hipotalamus-
pituitari-ovarium, sehingga kadar leptin berhubungan erat dengan lemak tubuh
pada penderita PCOS (Messinis at al., 2015).
Walaupun ukuran antropometrik dan faktor lain (jenis kelamin, massa lemak
dan distribusi lemak, hormonal, dan sitokin) mungkin mempengaruhi pola sekresi
leptin, faktor krusial dalam pengaturan konsentrasi leptin serum adalah asupan
kalori jangka pendek dan jumlah energi yang disimpan dalam sel adiposa.
Konsentrasi leptin secara positif berhubungan dengan jumlah lemak tubuh dan pada
individu obes menunjukkan adanya hiperleptinemik dibandingkan dengan individu
normal, tetapi ada resistensi atau toleransi efek leptin pada hipotalamus. Resistensi
leptin juga dapat terjadi ketika adanya penurunan sensitivitas leptin eksogenus
maupun endogenus (Kelesidis et al., 2010).
Struktur reseptor leptin mirip pada reseptor sitokin heliks (kelas I). Reseptor
leptin bentuk homodimers yang mampu mengaktivasi janus kinase (JAK), lalu
janus kinase mampu memulai sebagai aktivator terjadinya transkripsi (STAT –
signal transducer and activator of transcription). Sinyal leptin melalui sistem
aktivator transkripsi janus kinase berhubungan dengan bentuk ObRb (isoform
bentuk panjang) yang akan mengubah ekspresi neuropeptida hipotalamus
(Kelesidis et al., 2010).
Perubahan sinyal isoform panjang reseptor leptin khususnya pada nukleus
arkuata hipotalamus tampaknya memainkan peran krusial dalam terjadinya
resitensi leptin. Mekanisme tambahan lainnya yang menyebabkan resistensi adalah
perubahan pada transpor leptin melewati sawar darah otak. Konsentrasi leptin di
dalam sirkulasi sebagai hasil peningkatan massa lemak tubuh berhubungan dengan
perubahan ekpresi beberapa molekul yang merusak sinyal leptin termasuk
penurunan leptin-induced p-signal transducers dan aktivator transkripsi 3 (p-
STAT) sejalan peningkatan ekspresi supresor sitokin sinyal 3 (SOCS-3) yang
semuanya menekan sinyal leptin. Mekanisme potensial lainnya yang berpengaruh
pada sinyal leptin melalui penghambatan sinyal isoform panjang reseptor leptin
adalah protein tirosin fosfatase 1B (Kelesidis et al., 2010).
Leptin berefek dengan berikatan pada reseptor leptin spesifik (ObRs) yang
terekspresi pada otak dan di jaringan perifer yang menggerakkan beberapa isoform
ObRs. Isoform ObRa (isoform pendek reseptor leptin) diduga berperan penting
pada transpor leptin melewati sawar darah otak (blood-brain barrier). ObRb
isoform (isoform panjang reseptor leptin) memediasi transduksi sinyal dan
terekspresi kuat di hipotalamus, suatu tempat penting untuk pengaturan
homeostasis energi dan fungsi neuroendokrin (Kelesidis et al., 2010).
Berkurangnya sinyal leptin karena hiperleptinemia atau karena hipo- atau
aleptinemia disebaikan karena mutasi baik gen leptin maupun gen leptin reseptor
menyebabkan hiperfagia dan menurunkan pemakaian energy. Hal ini tidak hanya
mengakibatkan peningkatan derajat obesitas sehubungan dengan peningkatan
simpanan lipid di otot, hati, dan jaringan lain, tetapi juga menyebabkan disfungsi
kerja beberapa neuroendokrin di antaranya reproduksi, tiroid, dan adrenal, juga
fungsi abnormal sistem imun dan sistem autonom (misalnya termoregulasi,
pemakaian energi, dan sebagainya) (Kelesidis et al., 2010).

Gambar. Regulasi leptin terhadap fungsi sistem hipotalamus-pituitari-
neuroendokrin
2. Hubungan kadar serum leptin terhadap resistensi insulin pada PCOS
3. Massa tubuh yang penting dari jaringan adiposa sangat penting untuk
perkembangan normal fungsi reproduksi wanita. [1] Anomali reproduksi pada
wanita pra-menopause muda tampaknya terjadi sebagai konsekuensi dari
penurunan linear dalam adipositas. Obesitas, di sisi lain, telah terbukti
menghasilkan kekacauan fungsi reproduksi wanita dan infertilitas. [2] Namun,
hubungan mekanistik antara massa tubuh dan fungsi reproduksi belum jelas
terungkap. [3] Leptin, hormon adiposit yang dikodekan oleh gen ‘ob’, telah
diusulkan sebagai sinyal perifer yang menunjukkan kecukupan status gizi untuk
fungsi reproduksi. [4] Tetapi laporan yang bertentangan tersedia berkaitan
dengan bagaimana leptin memodulasi atau sedang dimodulasi oleh kelenjar
hipofisis atau steroid seks. Sindrom ovarium polikistik (PCOS), bentuk utama
infertilitas dysovulatory pada wanita, sering dikaitkan dengan obesitas dan
resistensi insulin, keduanya merupakan fitur yang terkait dengan leptin dan
reseptornya. Tingkat serum leptin lebih tinggi pada wanita gemuk. Obesitas
memodifikasi sensitivitas insulin dan dinamika gonadotropin dan dikaitkan
dengan gangguan ovulasi. Namun, hubungan antara leptin dan sensitivitas
insulin, steroid seks, dan konsentrasi insulin dalam derau fungsi ovarium masih
tetap sulit dipahami dan kontroversial. [5] Telah diusulkan bahwa sebagian oleh
peningkatan kadar leptin intra-folikel, obesitas secara langsung mempengaruhi
fungsi ovarium pada PCOS dan dapat menginduksi resistensi relatif terhadap
gonadotropin. [6] Mempertimbangkan hubungan yang dikenal antara leptin,
obesitas, dan aksi insulin, dapat diasumsikan bahwa leptin mungkin memiliki
peran dalam PCOS. Wanita dengan PCOS ditandai oleh hiperandrogenemia,
peningkatan konsentrasi leutinizing hormone (LH), dan tingginya insiden
hiperinsulinemia / resistensi insulin dan obesitas. Dengan demikian, pasien
PCOS dapat berfungsi sebagai model yang dapat diandalkan untuk menilai
hubungan hiperinsulinemia dan kelebihan androgen dengan konsentrasi leptin
di luar asosiasi leptin dan obesitas per se. Penelitian saat ini, oleh karena itu,
berpusat pada tujuan mengevaluasi hubungan antara tingkat serum leptin
dengan indeks massa tubuh, insulin dan dengan testosteron yang beredar pada
wanita PCOS.

Indian J Endocrinol Metab. 2016 May-Jun; 20(3): 324–328.

Leptin and body mass index in polycystic ovary syndrome
Nasrin Jalilian, Lida Haghnazari,1 and Samira Rasolinia
5. Bajuk Studen K, Jensterle Sever M, Pfeifer M. Cardiovascular risk and subclinical
cardiovascular disease in polycystic ovary syndrome. Front Horm Res. 2013;40:64–
82. [PubMed]
8. Lecke SB, Morsch DM, Spritzer PM. Association between adipose tissue expression and
serum levels of leptin and adiponectin in women with polycystic ovary syndrome. Genet Mol
Res. 2013;12:4292–6.[PubMed]

Messinis IE, Messini CI, Anifandis G, Dafopoulos K. Polycystic ovaries and obesity. Best Pract
Res Clin Obstet Gynaecol. 2015;29:479–88. [PubMed]

Flier, J.S.; Maratos-Flier, E. Biology of obesity. Harrison’s Principles of Internal Medicine.
17thedition .McGraw Hill. 2008. 74: 362-367

Kelesidis T, Kelesidis I, Chou S, Mantzoros CS. Narrative review: the role of leptin in human
physiology: emerging clinical applications. Ann Intern Med. 2010 Jan 19;152(2):93-100.