You are on page 1of 101

PROPOSAL PROYEK AKHIR TERAPAN–RC14-6599

MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN DI
KOTA SURABAYA DENGAN METODE BETON PRACETAK
(PRECAST)

M. SYAIFUDDIN ZUHRI
NRP. 10111410000088

Dosen Pembimbing:
Prof. Ir. M. Sigit Darmawan, M.EngSc., Ph.D.

DEPARTEMEN TEKNIK INFRASTRUKTUR SIPIL
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2018

PROPOSAL PROYEK AKHIR TERAPAN–RC14-6599

MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN DI
KOTA SURABAYA DENGAN METODE BETON PRACETAK
(PRECAST)

M. SYAIFUDDIN ZUHRI
NRP. 10111410000088

Dosen Pembimbing:
Prof. Ir. M. Sigit Darmawan, M.EngSc., Ph.D.

DEPARTEMEN TEKNIK INFRASTRUKTUR SIPIL
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2018

i

FINAL PROJECT APPLIED PROPOSAL–RC14-6599

PLANNING MODIFICATION OF LECTURE BUILDING IN
SURABAYA CITY USING PRECAST METHOD

M. SYAIFUDDIN ZUHRI
NRP. 10111410000088

Advisor:
Prof. Ir. M. Sigit Darmawan, M.EngSc., Ph.D.

DEPARTMENT OF CIVIL INFRASTRUCTURE ENGINEERING
Faculty of Vocation
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2018

ii

19630726 198903 1 003 iii . Ir.D NIP. M. 10111410000088 Disetujui Oleh: Dosen Pembimbing Proposal Proyek Akhir Terapan: Prof. LEMBAR PENGESAHAN MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN DI KOTA SURABAYA DENGAN METODE BETON PRACETAK (PRECAST) PROPOSAL PROYEK AKHIR TERAPAN Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Terapan Teknik Pada Konsentrasi Bangunan Gedung Program Studi D-4 Teknik Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. M. Sigit Darmawan. SYAIFUDDIN ZUHRI NRP. Ph. 21 Desember 2017 Disusun Oleh: MAHASISWA M.EngSc..

Ir. Beton Pracetak. kontrol kualitas beton lebih terjamin. Pemakaian metode beton pracetak (precast) memiliki beberapa kelebihan dibandingkan metode konvensional. sedangkan pada elemen kolom.D. lift. Struktur gedung perkuliahan di Kota Surabaya yang didesain merupakan Gedung G Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan luas bangunan eksisting sebesar 590 m². iv . sambungan antar elemen pracetak menggunakan sambungan basah dan konsol pendek. Kata Kunci: Gedung Perkuliahan di Kota Surabaya. Syaifuddin Zuhri NRP : 10111410000088 Departemen : D4 Teknik Infrastruktur Sipil FV-ITS Dosen Pembimbing : Prof. Berdasarkan hasil Standart Penetration Test (SPT). Sistem Ganda. didapatkan bahwa gedung dibangun diatas tanah dengan kondisi tanah lunak (kelas situs SE). Pada kondisi sebenarnya gedung perkuliahan eksisting menggunakan metode cor setempat dan memiliki total jumlah lantai yakni 7 lantai. M. Ph. Gedung ini dirancang menggunakan Sistem Ganda dengan rangka pemikul momen khusus yang mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya gempa yang ditetapkan dengan dinding geser beton bertulang khusus. Pada modifikasi gedung ini. tidak memerlukan tempat penyimpanan material yang luas. karena merupakan fasilitas pendidikan maka termasuk kategori risiko IV dan disimpulkan untuk bangunan ini termasuk Kategori Desain Seismik D. dan pondasi direncanakan menggunakan metode cor ditempat. Elemen pracetak hanya balok dan pelat. Sigit Darmawan.. hemat akan bekisting dan penopang bekisting. tangga. serta kemudahan dalam pelaksanaannya sehingga dapat mereduksi durasi proyek dan secara otomatis biaya yang dikeluarkan menjadi lebih kecil. proses produksinya tidak tergantung cuaca. Selain itu. ABSTRAK Metode beton pracetak (precast) adalah teknologi konstruksi struktur beton dengan komponen-komponen yang dicetak terlebih dahulu pada suatu tempat khusus (fabrication) dan selanjutnya dipasang di lokasi proyek (installation). Dinding Geser. Kelebihan tersebut meliputi waktu pengerjaan yang relatif singkat. M. yang kemudian dimodifikasi menjadi total 9 lantai dengan menggunakan metode beton pracetak.MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN DI KOTA SURABAYA DENGAN METODE BETON PRACETAK (PRECAST) Nama : M. dinding geser.EngSc.

Dual System. Precast Concrete. On modification of this building. lift. The precast elements are only beams and plates. and the least but not least. scanty amount of formwork. guaranteed quality control of the concrete. This method has several advantages than conventional method. the ease of implementation can reduce the project duration and also the project cost that needed is smaller. stair. found that the building is built on soil with soft soil conditions (SE site class). Shear wall. the production process not depending at weather. M. Sigit Darmawan. M. whereas in column elements. which then modified into a total of 9 floors using precast concrete method. In the actual condition of existing lecture building using in situ concrete pouring method and has a total number of floors is 7 floors.EngSc. This building is designed using a Dual System with a special moment bearer frame that could afford at least 25% earthquake forces that settled with special reinforced concrete shear walls. Keywords: Lecture Building in Surabaya City. Based on the results of Standard Penetration Test (SPT). since it is an educational facility it belongs to the category of risk IV and concluded for this building including the Seismic Design Category D. Syaifuddin Zuhri NRP : 10111410000088 Departemet : D4 Teknik Infrastruktur Sipil FV-ITS Advisor : Prof. PLANNING MODIFICATION OF LECTURE BUILDING IN SURABAYA CITY USING PRECAST METHOD Name : M. and foundations were planned with in situ cast. Shear wall. Those advantages encompass brief processing time. v . ABSTRACT Precast method is concrete construction technology using components which casted first at fabrication and then casted in project location (installation).. Ph.D. unnecessary too much space of material storage. In addition. connection between precast elements using wet connection and short console. Ir. The structure of the lecture building in Surabaya City which is designed is G Building of Muhammadiyah University Surabaya with the existing building area of 590 m².

Ph. dan motivasi dalam penyusunan Proposal Proyek Akhir Terapan ini.T.D. Orang tua dan keluarga tercinta yang selalu memberikan dukungan baik doa dan materil. oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan demi kesempurnaan Proposal Proyek Akhir Terapan ini. penulis mendapatkan banyak bimbingan. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Proposal Proyek Akhir Terapan ini. Allah SWT atas segala karunia dan kesempatan yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Proyek Akhir Terapan ini. selaku Dosen Wali penulis. S. Bapak Prof. petunjuk. selaku dosen konsultasi yang telah banyak memberikan bimbingan. KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat. Penulis berharap laporan ini nantinya dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. hidayah. 3.T. serta shalawat dan salam yang selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Proposal Proyek Akhir Terapan ini. Selama proses penyusunan Proposal Proyek Akhir Terapan ini. 21 Desember 2017 Penulis vi . dan karunia-Nya. dukungan dan pengarahan dari berbagai pihak. M.. Ibu Siti Kamilia Aziz. dan menjadi motivasi penulis dalam menyelesaikan Proposal Proyek Akhir Terapan ini. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan Proposal Proyek Akhir Terapan ini banyak terdapat kekurangan. dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat yang besar penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus dan sebesar-besarnya kepada: 1. Sigit Darmawan.EngSc. Oleh karena itu. M. Ir. 2. M. Surabaya. 5.. 4.

.....5 Sistem Ganda ........... 2 Tujuan ... 1 Latar Belakang...........................................................xiii BAB I ...................…………………………............................................. 1 Perumusan Masalah ..........................................................................................................................................................................................................................12 Titik-Titik Angkat dan Sokongan ............................................................................................................................................................................................................................................................... vii DAFTAR TABEL ...........4 Dinding Geser .................................................................................................... 3 Manfaat ...............................................11 Sambungan Baut ............................................................................. 4 Sistem Rangka Pemikul Momen .................................................... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL……………………………....8 Kolom...... ............................................... 3 BAB II .......... x DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................................7 Balok ....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... 4 Sistem Struktur Gedung ..............................................................…… i LEMBAR PENGESAHAN ................................................. v KATA PENGANTAR ......................................................................................................................................... 13 Pengangkatan Pelat Pracetak ................................. 4 Umum .......................9 Perencanaan Sambungan ........................................................................................................................................................................................................................................ vi DAFTAR ISI .......... iii ABSTRAK .................................................................................... iv ABSTRACT ........ 2 Batasan Masalah ......................................................................................................................... 10 Sambungan Dengan Cor Setempat........ 4 TINJAUAN PUSTAKA ...................... 7 Pelat .... xi DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................10 Sambungan Las ...............................................................................13 vii ....................................................................................................................6 Tinjauan Elemen Pracetak .................................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN......................................................................................................................................................................................................................................................

........ 29 Beban Statis .... 2017) ............................................................................................... 19 Penentuan Kriteria Desain ........... 16 Fase-Fase Penanganan Produk Pracetak ..................32 Permodelan dan Analisa Struktur ................................................7..............................................................................41 viii ...............17 2..........23 Perencanaan Dimensi Balok Induk ............................................................ 33 Perencanaan Balok Induk .....................7.......................................................................................................................................................16 Studi Tugas Akhir / Proyek Akhir Terapan Terdahulu .......................................................27 Perencanaan Balok Anak ...28 Perencanaan Tangga....................................31 Kombinasi Pembebanan ....................................................................................29 Beban Gempa .............................................................................. 2016) .....................................................................................28 Pembebanan .........................................................................................................................24 Perencanaan Dimensi Dinding Geser.....25 Perhitungan Struktur Sekunder ... 18 Data Perencanaan .................................................................................................. 22 Preliminary Design ....................23 Perencanaan Dimensi Pelat ............................................................................................................................................................................................2 Tugas Akhir 2 (Faizi..........................................1 Tugas Akhir 1 (Syaifuddin...................................................................................................14 Tinjauan Penanganan Elemen Pracetak ................ 25 Perencanaan Pelat.....17 BAB III .............36 Perencanaan Struktur Dinding Geser .........................................................................................36 Persyaratan “Strong Column Weak Beams” ........................................ 17 2........................................................................ 18 METODOLOGI ..................................................................33 Perencanaan Kolom ..........................................................................................................28 Perencanaan Lift............ 23 Perencanan Dimensi Kolom...................... 32 Perhitungan Struktur Utama ........ Pengangkatan Balok Pracetak ..............38 Perencanaan Sambungan Balok Pracetak Dengan Pelat Pracetak ........................................... 38 Perencanaan Sambungan Balok Pracetak Dengan Kolom .......................................................................................................................................................................41 Perencanaan Sambungan Balok Induk dengan Balok Anak .....................37 Perencanaan Sambungan ....25 Kontrol retak ........................................

...........................................................................43 Perencanaan Terhadap Geser ................. 42 Kebutuhan Tiang Pancang ...........................................................................44 Penggambaran Hasil Perhitungan ................................................................................................ Perencanaan Pondasi ................................................... 44 DAFTAR PUSTAKA . 45 ix .........................................

.. 5 Beban Hidup pada Struktur ..............................................................................22 Tabel 3............................................................................................................................................29 Tabel 3............................... 1 Perbedaan Metode Penyambungan ....................... DAFTAR TABEL Tabel 2............................63 Tabel e-2 Koefisien Situs Fv .........................................................................................................60 Tabel c-1 Perhitungan SPT Rata-rata DB-1 ......................................................................................... 1 Perbandingan Bangunan Eksisting dan Modifikasi............. 4 Beban Mati pada Struktur .....22 Tabel 3...............65 Tabel f-2 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada perioda 1 detik ........62 Tabel e-1 Koefisien Situs Fa .................................................................67 x .................................................. 3 Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons Percepatan pada Perioda 1 Detik .....10 Tabel 2................... 2 Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons Percepatan pada Perioda Pendek ......61 Tabel c-2 Perhitungan SPT Rata-rata DB-2 ................................................63 Tabel f-1 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada perioda pendek .........................30 Tabel a-1 Kategori Risiko Bangunan Gedung dan Non Gedung untuk Beban Gempa (Lanjutan) .65 Tabel h-1 Respon Spektrum Desain ........ 2 Angka Pengali Beban Statis Ekivalen untuk Menghitung Gaya Pengangkatan dan Gaya Dinamis ..............................................................................................16 Tabel 3....................60 Tabel b-1 Faktor Keutamaan Gempa ..........................................................................61 Tabel c-3 Kelas Situs ...........................................................................................................................................................20 Tabel 3..................................................................................

..18 Gambar 3.......63 xi .......................................47 Gambar 4.......... 13 Model Pembebanan Balok Pracetak Saat Pengangkatan ..................................37 Gambar 3................... 12 Pengangkatan Balok Pracetak ..................................42 Gambar 3.........................................40 Gambar 3..............8 Gambar 2.............................13 Gambar 2..............26 Gambar 3................. 2 Denah Lantai Eksisting ..... 3 Pelat Pracetak Double Tee ....................... 1 Pelat Pracetak Berlubang (Hollow Core Slab) .... 6 Balok T Terbalik (Inverted Tee Beam) ...................... 8 Hubungan Balok Kolom ..................8 Gambar 2......21 Gambar 3.... 7 Sambungan dengan Cor Setempat ............. 4 Nilai SS.................. 11 Posisi Titik Angkat Pelat (8 Buah Titik Angkat) .....................................................12 Gambar 2......14 Gambar 2............................7 Gambar 2...........................15 Gambar 3................................... 1 Jadwal Kegiatan ....43 Gambar 4........... 8 Sambungan dengan Las ...... 5 Balok Berpenampang L (Ledger Beam) ....41 Gambar 3........................... 3 Denah Lantai Setelah Modifikasi .........................................14 Gambar 2....... 2 Pelat Pracetak Tanpa Lubang (Solid Slab) .................. 10 Posisi Titik Angkat Pelat (4 Buah Titik Angkat) .......... 7 Parameter geometri konsol pendek ............58 Gambar 4.......2) ... 9 Sambungan dengan Menggunakan Baut .............9 Gambar 2..................12 Gambar 2................................ Percepatan Batuan Dasar pada Periode 1 Detik ................................................... 1 Diagram Alir Metode Penyelesaian Proyek Akhir Terapan ................................... 2 Data Tanah 1 (DB ...........................62 Gambar 4......... DAFTAR GAMBAR Gambar 2.......................... Percepatan Batuan Dasar pada Perioda Pendek .... 4 Diagram Alir Perhitungan Penulangan Komponen Lentur ................1) ......................40 Gambar 3...........................39 Gambar 3.... 5 Nilai S1.........................................8 Gambar 2............................. 4 Balok Berpenampang Persegi (Rectangular Beam) .........59 Gambar 4......................................... 5 Ilustrasi Kuat Momen yang Bertemu di HBK ..................21 Gambar 3..........................................11 Gambar 2............... 3 Data Tanah 2 (DB .....................................................................15 Gambar 2... 11 Ilustrasi Pondasi Tiang Pancang .......................................... 10 Sambungan Balok Induk dengan Balok Anak ............................... 14 Titik-titik Angkat dan Sokongan Sementara untuk Produk Pracetak Balok ..... 6 Sambungan Balok dengan Kolom .....9 Gambar 2........................................ 9 Sambungan Antara Balok dengan Pelat ...........

.............................70 xii ..68 Gambar 4.............. 7 Permodelan Struktur ................................... 6 Respon Spektrum Desain .........................................................Gambar 4...

.................................57 Lampiran 7 Permodelan Struktur ....................................................................50 Lampiran 4 Spesifikasi Crane ......46 Lampiran 2 Spesifikasi Tiang Pancang ..........................................................................................71 xiii ............................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Jadwal Kegiatan ...............................................................................................69 Lampiran 8 Gambar Teknik ..............55 Lampiran 6 Data Tanah ...................................48 Lampiran 3 Spesifikasi Lift ..................................................................................................................................................53 Lampiran 5 Spesifikasi Kendaraan Pengangkut .....

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perkembangan teknologi konstruksi di Indonesia mendorong adanya inovasi
dalam berbagai metode konstruksi pada bidang ketekniksipilan. Inovasi tersebut
tidak hanya dalam segi kekuatan dan kestabilan struktur, namun juga harus
memperhatikan segi ekonomis, praktis, dan ketepatan waktu. Seperti halnya
pemakaian metode beton pracetak (precast) dalam perencanaan struktur suatu
gedung yang merupakan salah satu alternatif untuk mencapai hal tersebut.
Metode beton pracetak (precast) adalah teknologi konstruksi struktur beton
dengan komponen-komponen yang dicetak terlebih dahulu pada suatu tempat
khusus (fabrication) dan selanjutnya dipasang di lokasi proyek (installation).
Pemakaian metode beton pracetak (precast) memiliki beberapa kelebihan
dibandingkan metode konvensional. Kelebihan tersebut meliputi waktu pengerjaan
yang relatif singkat, proses produksinya tidak tergantung cuaca, tidak memerlukan
tempat penyimpanan material yang luas, kontrol kualitas beton lebih terjamin,
hemat akan bekisting dan penopang bekisting, serta kemudahan dalam
pelaksanaanya sehingga dapat mereduksi durasi proyek dan secara otomatis biaya
yang dikeluarkan menjadi lebih kecil.
Pemakaian metode beton pracetak (precast) lebih tepat dan efisien apabila
diterapkan pada kondisi tertentu, yaitu pada bangunan gedung yang memiliki
bentuk yang sama di tiap lantai (tipikal) sehingga lebih mudah dalam pengerjaan
dan pelaksanaannya. Selain itu metode beton pracetak (precast) juga digunakan
pada bangunan yang berada di wilayah zona gempa rendah atau menengah. Hal ini
dikarenakan sambungan struktur yang menggunakan beton pracetak (precast)
belum dapat dijamin benar-benar kaku untuk menahan gaya gempa tinggi.
Pada proyek akhir terapan ini akan dilakukan modifikasi perencanaan gedung
perkuliahan di Kota Surabaya (Gedung G Universitas Muhammadiyah Surabaya)
yang awalnya memakai metode konvensional menjadi metode beton pracetak
(precast). Gedung akan direncanakan menggunakan sistem ganda dengan rangka

1

pemikul momen khusus yang mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya gempa
yang ditetapkan dengan dinding geser beton bertulang khusus.

Perumusan Masalah
Permasalahan Utama:
Bagaimana merencanakan struktur bangunan dengan beton pracetak yang mampu
menahan gaya gravitasi dan gaya lateral yang bekerja?

Detail Permasalahan:
1. Bagaimana merencanakan elemen beton pracetak (balok dan pelat) termasuk
dalam hal pengangkatan dan pemasangan elemen beton pracetak?
2. Bagaimana merencanakan elemen beton bertulang konvensional (kolom dan
dinding geser)?
3. Bagaimana merencanakan sambungan antar elemen beton pracetak dan beton
bertulang konvensional?
4. Bagaimana menuangkan hasil perencanaan ke dalam gambar rencana struktur?

Tujuan
Tujuan Utama:
Merencanakan struktur bangunan dengan beton pracetak yang mampu menahan
gaya gravitasi dan gaya lateral yang bekerja.

Detail Tujuan:
1. Dapat merencanakan elemen beton pracetak (balok dan pelat) termasuk dalam
hal pengangkatan dan pemasangan elemen beton pracetak.
2. Dapat merencanakan elemen beton bertulang konvensional (kolom dan dinding
geser).
3. Dapat merencanakan sambungan antar elemen beton pracetak dan beton
bertulang konvensional.
4. Dapat menuangkan hasil perencanaan ke dalam gambar rencana struktur.

2

Batasan Masalah
Adapun batasan – batasan masalah yang diberikan dalam proyek akhir
terapan ini adalah:
1. Beton pracetak yang digunakan adalah beton pracetak biasa (non prestress).
2. Komponen struktur yang direncanakan menggunakan beton pracetak hanya pelat
dan balok.
3. Perencanaan kolom dan dinding geser menggunakan beton bertulang
konvensional.
4. Hanya memperhitungkan segi kekuatan srtuktur tanpa memperhitungkan aspek-
aspek manajemen konstruksi dan arsitektural.
5. Perencanaan tidak termasuk sistem utilitas, kelistrikan dan sanitasi.
6. Gedung perkuliahan di Kota Surabaya (Gedung G Universitas Muhammadiyah
Surabaya) direncanakan akan dibangun dengan tinggi 9 lantai.

Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari perencanaan struktur gedung menggunakan
beton pracetak adalah:
1. Manfaat untuk masyarakat/pembaca:
Pembaca dapat mengetahui alternatif lain tata cara perencanaan gedung
menggunakan beton pracetak yang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan
menggunakan beton konvensional.
2. Manfaat untuk penulis:
Penulis dapat lebih memahami tentang tata cara perencanaan struktur
bangunan gedung menggunakan metode beton pracetak.

3

tentang perencanaan bangunan terhadap gempa menyebutkan bahwa SRPMK merupakan sistem struktur yang pada dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap. Sistem Struktur Gedung Ada beberapa sistem struktur yang biasa digunakan sebagai penahan gaya gempa pada gedung akan tetapi pada sub bab ini hanya dijelaskan yang berkaitan dengan topik penulis ambil antara lain: Sistem Rangka Pemikul Momen Sistem rangka pemikul momen adalah sistem struktur yang memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap. Definisi beton pracetak menurut SNI-2847-2013 adalah elemen struktur yang dicetak di tempat lain dari posisi akhirnya dalam struktur. Pada dasarnya beton pracetak tidaklah berbeda dengan beton biasa. yang masuk wilayah gempa 5 dan 6.1 Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus Membangun di wilayah resiko gempa tinggi.1. (Purwono. 2005) Menurut SNI-1726-2012 pasal 3. Yang membedakan hanyalah pada metode fabrikasinya. Beban lateral dipikul oleh rangka pemikul momen melalui mekanisme lentur. 2.2. Sebagian besar dari elemen struktur pracetak diproduksi di tempat tertentu (fabrikasi) dilanjutkan dengan proses pengangkatan beton pracetak ke lokasi (transportasi). 4 . BAB II TINJAUAN PUSTAKA Umum Sistem fabrikasi dalam pembuatan struktur beton bertulang dikenal dengan sistem pracetak.53. dan untuk memikul gaya-gaya akibat gempa harus menggunakan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) atau sistem dinding struktur khusus (SDSK) atau sistem dual khusus. Komponen-komponen tersebut dipasang sesuai keberadaannya sebagai komponen struktur dari sistem struktur beton (ereksi).

balok-balok mendahului pembentukan sendi-sendi plastis yang tersebar di seluruh sistem struktur sebelum terjadi di kolom-kolom. Hubungan balok kolom cukup kuat menahan rotasi yang terjadi 5. Cukup kuat menahan gempa normatif yang ditentukan berdasarkan kemampuan disipasi energi. 4. Konsep “strong column weak beam” dalam sistem rangka pemikul momen khusus mengandung arti bahwa konstruksi kolom yang ada harus lebih kaku dari pada balok. Komponen-komponen balok dan kolom mampu membentuk sendi plastis tanpa mengurangi kekuatannya yang berarti 6.sedangkan beban lateral yang diakibatkan oleh gempa dipikul oleh rangka pemikul momen melalui mekanisme lentur. Sedapatnya menjaga keteraturan struktur 2. sebagian besar beban gempa akan terserap oleh dinding geser tersebut. lalu kerusakan struktur terjadi pada kolom. gaya lateral akibat gempa bumi. terlebih dahulu terjadi pada balok. 3. Berdasarkan letak dan fungsinya. sehingga kerusakan struktur ketika terjadi beban lateral/gempa. Dengan adanya dinding geser yang kaku pada bangunan. Cukup kaku untuk membatasi penyimpangan. Dinding Geser Dinding geser adalah jenis struktur dinding yang berbentuk beton bertulang yang biasanya dirancang untuk menahan geser. Dengan kata lain. Tembok-tembok ini juga menggunakan dinding partisi antar apartemen yang berdekatan. 5 . Persyaratan-persyaratan fundamental untuk SRPMK yang daktail adalah: 1. Tidak ada kolom yang lebih lemah yang akan menyebabkan sendi-sendi plastis di ujung atas dan bawah pada kolom-kolom lain ditingkat itu yang menjurus pada keruntuhan seluruh struktur. Balok-balok mendahului terbentuknya sendi-sendi plastis yang tersebar diseluruh sistem struktur sebelum terjadi di kolom-kolom 7. Shear wall / dinding geser dapat diklasifikasikan dalam 3 jenis yaitu: 1. Bearing walls adalah dinding geser yang juga mendukung sebagian besar beban gravitasi.

seperti dinding geser lainnya. Fungsi Shear wall / dinding geser ada 2.goyangan yang berlebihan. Rangka pemikul momen harus direncanakan secara terpisah mampu memikul sekurang-kurangnya 25% dari seluruh beban lateral. Dinding yang terletak di kawasan inti pusat memiliki fungsi ganda dan dianggap menjadi pilihan ekonomis. yaitu kekuatan dan kekakuan. mereka akan mencegah membingkai lantai dan atap anggota dari bergerak dari mendukung mereka. Tembok-tembok ini dibangun diantara baris kolom. Kekuatan  Dinding geser harus memberikan kekuatan lateral yang diperlukan untuk melawan kekuatan gempa horizontal.  Ketika dinding geser cukup kuat.  Ketika dinding geser cukup kaku. yang biasanya diisi tangga atau poros lift. bangunan yang cukup kaku biasanya akan menderita kerusakan kurang nonstrukural Sistem Ganda Sistem ganda adalah sistem struktur yang terdiri dari rangka ruang yang memikul seluruh beban gravitasi. Kekakuan  Dinding geser juga memberikan kekakuan lateral untuk mencegah atap atau lantai di atas dari sisi . artinya: 1. Frame walls adalah dinding geser yang menahan beban lateral. lembaran atau footings. 2. dimana beban gravitasi berasal dari frame beton bertulang. pondasi dinding. Pemikul beban lateral berupa dinding geser atau rangka bresing dengan rangka pemikul momen harus direncanakan secara terpisah. Core walls adalah dinding geser yang terletak di dalam wilayah inti pusat dalam gedung. mereka akan mentransfer gaya horizontal ini ke elemen berikutnya dalam jalur beban di bawah mereka.  Juga. 3. lantai.2. 6 . Kedua sistem ini harus direncanakan untuk memikul seluruh beban lateral dengan memperhatikan siteraksi sistem struktur.

beban yang bekerja adalah berat sendiri pelat. ada tiga macam pelat pracetak (precast slab) yang umum diproduksi dan digunakan sebagai elemen pracetak. Pelat Pelat merupakan struktur tipis yang dibuat dari beton dengan bidang yang arahnya horizontal dan beban yang bekerja tegak lurus pada bidang struktur tersebut (Kalingga. Gambar 2. Pelat jenis ini memiliki lebar rata-rata 4 hingga 8 feet dan tebal rata-rata 4 inchi hingga 16 inchi. pembuatan beton pracetak dilakukan di lokasi proyek ataupun di luar lokasi proyek seperti pabrik. Tinjauan Elemen Pracetak Seperti yang telah dibahas pada sub-bab sebelumnya. agar elemen pracetak yang dibuat sesuai dengan yang direncanakan dan tidak mengalami kesulitan dalam proses fabrikasi. Untuk itu. Biasanya pelat tipe ini menggunakan kabel pratekan. Dalam PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete. tingkat durabilitas yang tinggi dan ketahanan terhadap api sangat tinggi. hendaknya perencana mengetahui macam-macam elemen struktur beton pracetak yang umum digunakan dan diproduksi saat ini. antara lain: 1) Pelat Pracetak Berlubang (Hollow Core Slab) Pelat ini merupakan pelat pracetak dimana ukuran tebal lebih besar dibanding dengan pelat pracetak tanpa lubang. Keuntungan dari pelat jenis ini adalah lebih ringan. sedangkan beban total yang diterima oleh pelat terjadi pada saat pelat sudah komposit. Pada waktu pengangkutan pelat beton pracetak atau sebelum komposit. Keuntungan 7 . 2015). 1 Pelat Pracetak Berlubang (Hollow Core Slab) (Sumber: PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete) 2) Pelat Pracetak Tanpa Lubang (Solid Slabs) Adalah pelat pracetak dimana tebal pelat lebih tipis dibandingkan dengan pelat lebih tipis dibandingkan dengan pelat pracetak dengan lubang.

Gambar 2. 3 Pelat Pracetak Double Tee (Sumber: PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete) Balok Untuk balok pracetak (Precast Beam). 4 Balok Berpenampang Persegi (Rectangular Beam) (Sumber: PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete) 8 . ada tiga jenis balok yang sering atau umum digunakan. Pelat ini bisa berupa pelat pratekan atau beton bertulang biasa dengan lebar rata-rata 4 hingga 8 feet dan tebal rata-rata 4 inchi hingga 8 inchi. Gambar 2.dari penggunaan pelat ini adalah mudah dalam penumpukan karena tidak memakan banyak tempat. yaitu: 1) Balok Berpenampang Persegi (Retangular Beam) Keuntungan dari balok jenis ini adalah sewaktu fabrikasi lebih mudah dengan bekisting yang lebih ekonomis dan tidak perlu memperhitungkan tulangan akibat cor sewaktu pelaksanaan. Pada pelat ini ada bagian berupa dua buah kaki sehingga tampak seperti dua T yang terhubung. Pada perencanaan ini pelat yang digunakan adalah pelat pracetak tanpa lubang. 2 Pelat Pracetak Tanpa Lubang (Solid Slab) (Sumber: PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete) 3) Pelat Pracetak Double Tee Pelat ini berbeda dengan pelat yang sudah dijelaskan sebelumnya. Umumnya bentang dari pelat ini antara 10 hingga 35 feet. Gambar 2.

2) Balok Berpenampang L (Ledger Beam) Gambar 2. yang pada jarak tertentu diikat dengan pengikat sengkang ke arah lateral (tulangan transversal). 9 . 1996). Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari suatu bangunan. Kolom ini merupakan kolom beton yang memiliki tulangan pokok memanjang (tulangan longitudinal). 5 Balok Berpenampang L (Ledger Beam) (Sumber: PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete) 3) Balok Berpenampang T Terbalik (Inverted Tee Beam) Gambar 2. 6 Balok T Terbalik (Inverted Tee Beam) (Sumber: PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete) Kolom Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok. Tulangan ini berfungsi untuk memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya. sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur (Sudarmoko. Dalam perencanaan tugas akhir ini tidak mengaplikasikan kolom pracetak namum menggunakan kolom cor di tempat (metode konvensional) yang menggunakan pengikat sengkang lateral.

sambungan dengan cor di tempat (in situ concrete joint). Sambungan tersebut antara lain. terdapat 3 (tiga) macam sambungan yang umum digunakan. perencanaan sambungan harus diperhatikan dengan seksama sehingga tidak menyulitkan pada saat pelaksanaan. sambungan dengan menggunakan las dan sambungan dengan menggunakan baut. Toleransi dimensi Lebih tinggi karena dibutuhkan akurasi yang tinggi Kebutuhan waktu agar Perlu setting time Segera dapat berfungsi berfungsi secara efektif Ketinggian bangunan . Dalam teknologi beton pracetak. Oleh karena itu. Masing-masing dari jenis sambungan tersebut memiliki karakteristik serta kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri yang disajikan dalam tabel 2. Maksimal 25 meter (Sumber: Ervianto. Sambungan jenis ini disebut dengan sambungan basah. 2006) Sambungan Dengan Cor Setempat Sambungan ini merupakan sambungan dengan menggunakan tulangan biasa sebagai penyambung/penghubung antar elemen beton baik antar pracetak ataupun antara pracetak dengan cor ditempat. 1 Perbedaan Metode Penyambungan Sambungan dengan Sambungan dengan Deskripsi cor setempat las/baut Kebutuhan struktur Monolit Tidak monolit Jenis sambungan Basah Kering Tergolong rendah.7.1 berikut ini: Tabel 2. Perencanaan Sambungan Proses penyatuan komponen-komponen struktur beton pracetak menjadi sebuah struktur bangunan yang monolit merupakan hal yang penting dalam pengaplikasian teknologi beton pracetak. Elemen pracetak yang sudah berada di tempatnya akan dicor bagian ujungnya untuk menyambungkan elemen satu dengan yang lain agar menjadi satu kesatuan yang monolit seperti yang ditunjukan pada gambar 2. Sambungan 10 .

2015) Sambungan Las Alat sambung jenis ini menggunakan plat baja yang ditanam dalam beton pracetak yang akan disambung. Selain itu sambungan ini dapat membuat bangunan menjadi lebih kaku dibanding menggunakan sambungan jenis lain. Setelah pekerjaan pengelasan. 7 Sambungan dengan Cor Setempat (Sumber: Kalingga. Kedua pelat ini selanjutnya disambung atau disatukan dengan bantuan las seperti gambar 2. Melalui pelat baja inilah gaya- gaya yang akan diteruskan ke komponen yang terkait. dilanjutkan dengan menutup pelat sambung tersebut dengan adukan beton yang bertujuan untuk melindungi pelat dari korosi. 11 . karena tergolong mudah dalam pelaksanaannya. Overtopping Sengkang balok Balok pracetak Konsol pendek (cor di tempat) Sengkang kolom Kolom (cor di tempat) Gambar 2.jenis ini sering diterapkan dalam pelaksanaan konstruksi.8. Dalam modifikasi ini akan direncanakan menggunakan sambungan cor setempat.

guna melindungi dari korosi. 2015) 12 . 9 Sambungan dengan Menggunakan Baut (Sumber: Kalingga. 8 Sambungan dengan Las (Sumber: Kalingga. Gambar 2. Selanjutnya pelat sambung tersebut dicor dengan adukan beton. 2015) Umumnya. ujung balok di dukung oleh corbels atau biasa disebut dengan konsol yang menjadi satu dengan kolom. pada pertemuan balok dan kolom. Kedua komponen tersebut disatukan melalui pelat tersebut dengan alat sambung berupa baut dengan kuat tarik tinggi. Penyatuan antara dua komponen tersebut menggunakan las yang dilaksanakan pada pelat baja yang tertanam dengan balok dengan pelat baja yang telah disiapkan pada sisi kolom. Gambar 2. Sambungan Baut Penyambungan cara ini diperlukan pelat baja dikedua elemen betok pracetak yang akan disatukan.

0107 w a b2  Mx ditahan oleh penampang dengan lebar yang terkecil dari 15t atau b/2  My ditahan oleh penampang dengan lebar a/2 Gambar 2. Titik-Titik Angkat dan Sokongan Pengangkatan Pelat Pracetak Pemasangan pelat pracetak harus diperhatikan bahwa pelat akan mengalami pengangkatan sehingga perlu perencanaan terhadap tulangan angkat untuk pelat dengan tujuan untuk menghindari tegangan yang disebabkan oleh fleksibilitas dari truk pengangkut dalam perjalananmenuju lokasi proyek. Jenis titik angkat pada pelat tersebit dijelaskan berikut ini: a. Empat Titik Angkat Maksimum Momen (pendekatan): +Mx = -My = 0. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya momen-momen pada elemen pracetak. dapat menggunakan bantuan balok angkat yang berfungsi untuk menyeimbangkan elemen pracetak pada saat pengangkatan. Pada saat pengangkatan elemen pracetak.0107 w a2 b +My = -My = 0. 10 Posisi Titik Angkat Pelat (4 Buah Titik Angkat) (Sumber: PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete) 13 .

2015) 14 . 11 Posisi Titik Angkat Pelat (8 Buah Titik Angkat) (Sumber: PCI Design Handbook 6th Edition Precast and Prestressed Concrete) Pengangkatan Balok Pracetak Kondisi pertama adalah saat pengangkatan balok pracetak untuk dipasang pada tumpuannya. Pada kondisi ini beban yang bekerja adalah berat sendiri balok pracetak yang ditumpu oleh angkur pengangkatan yang menyebabkan terjadinya momen pada tengah bentang dan pada tumpuan. Gambar 2.0054 w a2 b +My = -My = 0. Ada dua hal yang harus ditinjau dalam kondisi ini. Delapan Titik Angkat Maksimum Momen (pendekatan): +Mx = -My = 0.0027 w a b2  Mx ditahan oleh penampang dengan lebar yang terkecil dari 15t atau b/4  My ditahan oleh penampang dengan lebar a/2 Gambar 2.b. 12 Pengangkatan Balok Pracetak (Sumber: Kalingga. yaitu kekuatan angkur pengangkatan (lifting anchor) dan kekuatan lentur penampang beton pracetak.

gambar 5. 14 Titik-titik Angkat dan Sokongan Sementara untuk Produk Pracetak Balok (Sumber: PCI Design Handbook.2) Pada waktu proses pengangkatan balok pracetak diperlukan perhitungan gaya pengangkatan yang terjadi akibat berat sendiri balok. 13 Model Pembebanan Balok Pracetak Saat Pengangkatan (Sumber: Kalingga. 2015) Balok pracetak harus dirancang untuk menghindari kerusakan pada waktu proses pengangkatan. Titik pengangkatan balok dapat dilihat pada Gambar 2.2 guna menghindari kerusakan pada balok pada waktu proses pengangkatan tersebut. Kemudian gaya yang terjadi tersebut dikalikan dengan angka pengali beban statis ekivalen yang terdapat pada Tabel 2. Gambar 2.2. Precast and Prestress Concrete 6th Edition.3. Titik pengangkatan dan kekuatan tulangan angkat harus menjamin keamanan elemen balok dari kerusakan.14 sebagai berikut: Gambar 2. 15 .

jalan. Precast and Prestress Concrete Fourth Edition. Orientasi produk apakah horisontal. 1992.5 Pemasangan 1. vertikal. lihat tabel c. 2 Angka Pengali Beban Statis Ekivalen untuk Menghitung Gaya Pengangkatan dan Gaya Dinamis Pengangkatan dari bekisting 1. Transportasi ke lokasi (transportation to the job site) a. Pemasangan (erection) a. vertikal. atau membetuk sudut b. Orientasi produk apakah horisontal. Penempatan ke lokasi penyimpanan (yard handling and storage) a. Lokasi sokongan vertikal maupun horisontal c. dan batas-batas berat muatan dari jalan yang akan dilalui d. vertikal. Berat produk pracetak dan beban-beban tambahan. vertikal.1. Orientasi produk apakah horisontal.2. Orientasi produk apakah horisontal.) Tinjauan Penanganan Elemen Pracetak Fase-Fase Penanganan Produk Pracetak Sebelum digunakan produk pracetak mengalami fase-fase perlakuan yang meliputi: 1. Lokasi sokongan sehubungan dengan produk-produk lain yang juga disimpan d. Perlindungan dari sinar matahari langsung 3. seperti bekisting yang terbawa saat produk diangkat 2. atau membetuk sudut b.2 (PCI Design Handbook. atau membetuk sudut 16 . atau membetuk sudut b. Kondisi kendaraan pengangkut. Table 5. Lokasi titik-titik angkat sementara c. Jumlah dan lokasi peralatan angkat d. Tabel 2. Pertimbangan dinamis saat transportasi 4. Pengangkatan dari bekisting modul (stripping) a. Lekatan permukaan beton dengan bekisting dan kejut.2 Transportasi 1.7 Pengangkatan ke tempat penyimpanan 1.

2016) Menurut Syaifuddin. 2017) 17 . Penyambungan tiap elemen struktur disambung menggunakan sambungan basah dan konsol pendek pada sambungan balok dan kolom. 2016) 2. Lokasi dan jumlah titik-titik angkat c. Lokasi dan jumlah titik-titik sokongan d. Untuk elemen plat-plat menggunakan sambungan lap splices. sedangkan sambungan balok anak – balok induk menggunakan angkur. Sayap pada inverted TBeam digunakan sebagai penumpu balok anak pracetak.2 Tugas Akhir 2 (Faizi. Studi Tugas Akhir / Proyek Akhir Terapan Terdahulu 2. dapat menjadi salah satu pilihan tepat untuk memenuhi syarat sambungan SRPMK. (Syaifuddin. b. 2017) Pada balok induk menggunakan balok inverted T. Namun.7. Menggunakan sambungan menerus pada pada joint balok kolom serta coupler untuk sambungan menkani. seperti pekerja. Gedung tersebut direncanakan 15 lantai dan dirancang menggunakan Sistem Ganda dengan rangka pemikul momen menengah yang mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya gempa yang ditetapkan dan dinding geser beton bertulang khusus yang mampu menahan 75 persen gaya gempa yang ditetapkan. (Faizi. dapat juga digunakan balok induk kotak dengan kosol setempat sebagai penumpu balok anak. (Faizi. Beban sementara. Gedung tersebut direncanakan 8 lantai dan dirancang menggunakan Sistem Rangka pemikul Momen Khusus (SRPMK).1 Tugas Akhir 1 (Syaifuddin.7. dalam Tugas Akhir dengan judul “Desain Modifikasi Perencanaan Rumah Sakit Kidney Centre Menggunakan Metode Pracetak” Tahun 2017. Sementara untuk komponen pracetak disambung dengan menggunakan sambungan basah dan konsol pendek agar bangunan tersebut menjadi bangunan pracetak yang monolit. peralatan selama pekerjaan. dan berat beton overtopping. 2017) Menurut Faizi. dalam Tugas Akhir dengan judul “Modifikasi Perencanaan Gedung Tower C Apartemen Aspen Admiralty Jakarta Selatan dengan Metode Beton Pracetak (Precast)” Tahun 2016. Hal ini dapat dipilih untuk menekan anggaran biaya pembuatan.

lalu output berupa gambar teknik sampai dengan kesimpulan akhir dari tugas akhir ini. preliminary design. permodelan struktur dan pembebanan. analisa dan perhitungan elemen struktur. Mulai Study Literatur Pengumpulan Data dan Penentuan Kriteria Desain Preliminary Desain Perhitungan Struktur Sekunder Pembebanan Permodelan dan Analisa Struktur Not OK Kontrol OK A 18 . BAB III METODOLOGI Metodologi ini akan menguraikan dan menjelaskan cara dan urutan pelaksanaan penyelesaian proyek akhir terapan. Mulai dari study literatur. pengumpulan data dan penentuan kriteria desain. perencanaan sambungan.

Sukolilo.99 meter  Struktur bangunan : Beton bertulang konvensional 2. Data Gambar:  Data Struktur : (Terlampir)  Data arsitektur : (Terlampir) 19 . Sutorejo No. 1. data bahan dan data tanah. A Perhitungan Struktur Utama Perhitungan Sambungan Perencanaan Pondasi Gambar Struktur Selesai Gambar 3. 1 Diagram Alir Metode Penyelesaian Proyek Akhir Terapan Langkah-langkah metode penyelesaian pada diagram alir Berdasarkan diagram alir yang terdapat pada Gambar 3. 59. Data Umum Bangunan:  Nama gedung : Gedung G Universitas Muhammadiyah Surabaya  Lokasi : Jl. Surabaya  Tipe bangunan : Fasilitas Pendidikan  Jumlah lantai : 7 lantai  Tinggi bangunan : + 31.1 dapat dijelaskan secara lebih detail sebagai berikut: Data Perencanaan Data-data perencanaan secara keseluruhan mencakup data umum bangunan.

Sistem Struktur Rangka Pemikul Momen Momen Khusus 2.60 meter 4.99 meter + 33. Bangunan gedung tersebut akan dimodifikasi menggunakan metode beton pracetak dan data bangunan yang direncanakan sebagai berikut: 1. Data Umum Bangunan:  Nama gedung : Gedung G Universitas Muhammadiyah Surabaya  Lokasi : Kota Surabaya  Tipe bangunan : Fasilitas Pendidikan  Jumlah lantai : 9 lantai  Tinggi bangunan : + 33. Data Material:  Mutu beton (f’c) : 35 Mpa  Mutu Baja (fy) : 400 Mpa  Data tanah : (Terlampir) 3. Metode Cor Cor In situ Precast (Balok & Pelat) 20 . Jenis Atap Rangka Baja Dak Beton 6. Total Luas Area + 590 m2 + 520 m2 5. 1 Perbandingan Bangunan Eksisting dan Modifikasi No Keterangan Eksisting Modifikasi Sistem Ganda dengan Sistem Rangka Pemikul 1. Data Gambar:  Data Struktur : (Terlampir)  Data arsitektur : (Terlampir) Tabel 3. Jumlah Lantai 7 Lantai 9 Lantai 3.60 meter  Struktur bangunan : Beton pracetak (non prategang) 2. Tinggi Bangunan + 31.

3 Denah Lantai Setelah Modifikasi 21 . 2 Denah Lantai Eksisting Gambar 3. Gambar 3.

lebih besar dari atau sama dengan 0. Berdasarkan tabel 3.067 A A 0.133 ≤ SD1 < 0.20 ≤ SD1 D D 22 .33 B C 0.75 harus ditetapkan sebagai struktur dengan kategori desain seismik E.go. Bangunan ini direncanakan akan dibangun di Kota Surabaya dengan kelas situs SE (tanah lunak).607 dan parameter percepatan respon spektral pada perioda 1 detik.50 C D 0.75. atau III yang berlokasi di mana parameter respon spektral percepatan terpetakan pada periode 1 detik. S1.20 C D 0. S1. 3 Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons Percepatan pada Perioda 1 Detik Kategori risiko Nilai SD1 I atau II atau III IV SD1 < 0. Penentuan Kriteria Desain Struktur dengan kategori resiko I.50 ≤ SDS D D Tabel 3.496.1 dan tabel 3. lebih besar atau sama dengan 0.167 A A 0.167 ≤ SDS < 0. Tabel 3. Berdasarkan aplikasi respon spektral dari puskim.id mempunyai parameter kecepatan respon spektral pada perioda pendek.33 ≤ SDS < 0. SD1 = 0. SDS = 0.067 ≤ SD1 < 0. Struktur yang berkategori resiko IV yang berlokasi di mana parameter respons spektral percepatan terpetakan pada perioda 1 detik. II. 2 Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons Percepatan pada Perioda Pendek Kategori risiko Nilai SDS I atau II atau III IV SDS < 0.pu.133 B C 0.2 maka didapat Kota Surabaya mempunyai kategori desain seismik D. harus ditetapkan sebagai struktur dengan kategori desain seismik F.

b = Lebar balok h = Tinggi balok L = Panjang balok 23 . Perencanan Dimensi Kolom Menurut SNI 03-2847-2013 pasal 9. 𝐿 hmin = digunakan apabila fy = 420 Mpa 16 𝐿 hmin =  fy  digunakan untuk fy selain 420 Mpa 16  0. Berdasarkan tabel 9 SNI 1726 2012 didapatkan bahwa kriteria desain yang tepat sesuai dengan kategori desain seismik yang ada adalah sebagai sistem ganda dengan rangka pemikul momen khusus yang mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya gempa yang ditetapkan dengan dinding geser beton bertulang khusus.65  0.3. W = Beban aksial yang diterima kolom fc’ = Kuat tekan beton karakteristik A = Luas penampang kolom Perencanaan Dimensi Balok Induk Tabel minimum balok non-prategang apabila nilai lendutan tidak dihitung dapat dilihat pada SNI 03-2847-2013 pasal 9.5. Sistem yang dipilih harus sesuai dengan batasan sistem struktur dan batasan ketinggian.003wc  digunakan untuk nilai wc 1440 sampai 1840 kg/m3 Dimana.65.2. Preliminary Design Pada preliminary design ini akan menentukan dimensi elemen struktur gedung untuk digunakan dalam tahap perancangan selanjutnya. W A= (3-1)   fc ' Dimana.4    700  hmin = 𝐿 16 1.2 aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur untuk komponen struktur dengan tulangan sengkang biasa. Nilai pada tabel tersebut berlaku apabila digunakan langsung untuk komponen struktur beton normal dan tulangan dengan mutu 420 MPa. maka faktor reduksi 𝛟 = 0.1 tabel 9.5(a).

Tebal pelat tanpa penebalan 120 mm 2. Perencanaan Dimensi Pelat Dalam menentukan dimensi pelat langkah-langkah perhitungan adalah sebagai berikut: 1.3.2 1.5.1 (tabel 9.0.rata dari  f untuk semua balok pada tepi dari suatu panel 24 .5. ketebalan pelat minimum harus memenuhi : (3-2) (SNI 03-2847-2013.5.5(a)).3. Menentukan terlebih dahulu apakah pelat tergolong pelat satu arah (One-way slab) atau pelat dua arah (two-way slab). persamaan 9-12) dan tidak boleh kurang dari 125 mm. Tebal minimum pelat satu arah (One-way slab) menggunakan rumus sesuai dengan SNI 03-2847-2013 pasal 9.0. 2. c) Untuk  m lebih besar dari 2.2 tapi tidak lebih dari 2. persamaan 9-13) dan tidak boleh kurang dari 90 mm. Dimensi pelat minimum dengan balok yang menghubungkan tumpuan pada semua sisinya harus memenuhi: a) Untuk  m yang sama atau lebih kecil dari 0. Sedangkan untuk pelat dua arah menggunakan rumus sesuai dangan SNI 03-2847-2013 pasal 9.2.2 harus menggunakan SNI 03- 2847-2013 pasal 9. Tebal pelat dengan penebalan 100 mm b) Untuk  m lebih besar dari 0. ketebalan pelat minimum tidak boleh kurang dari: (3-3) (SNI 03-2847-2013. dimana:  = rasio dimensi panjang terhadap pendek  m = nilai rata .1 3.

3. dan setelah komposit. Perencanaan Dimensi Dinding Geser Berdasarkan peraturan SNI 03-2847-2013 Pasal 14.1.1.5. yang mana yang lebih pendek. atau kurang dari 100mm. yaitu: 1 Tebal 𝑠ℎ𝑒𝑎𝑟 𝑤𝑎𝑙𝑙 ≤ hw 25 1 Tebal 𝑠ℎ𝑒𝑎𝑟 𝑤𝑎𝑙𝑙 ≤ lw 25 Dimana: hw = Tinggi bagian dinding lw = Panjang bagian dinding Perhitungan Struktur Sekunder Perencanaan Pelat Pada perencanaan pelat lantai.1 Perhitungan Tulangan Lentur Pelat Perhitungan kebutuhan tulangan lentur pelat dihitung sesuai dengan peraturan SNI 2847:2013 yang meliputi 3 kondisi. yaitu. sebelum komposit.4. terdapat perhitungan tulangan lentur pelat dan perhitungan tulangan susut. Perumusan yang digunakan adalah: 1 ∅Mn = ∅ x As x fy x (𝑑 − 𝑎) 2 Keterangan: Mn = Momen nominal/tahanan ∅ = Koefisien yang ditentukan berdasarkan regangan As = Luasan tulangan yang digunakan fy = Kuat tarik baja d = Jarak serat terluar ke titik berat tulangan a = Tinggi blok tegangan persegi ekivalen 25 . Ketebalan Shear wall minimum direncanakan dengan metode empiris. saat pengangkatan. 3. ketebalan dinding yang didesain sebagai komponen struktur tekan tidak boleh kurang dari 1/25 tinggi atau panjang bentang tertumpu.

5 ∅ Vc Tidak perlu penguatan geser b.1.4. Cek: Vu ≤ 𝜙 (Vc + 2⁄3 √fc′ . 4 Diagram Alir Perhitungan Penulangan Komponen Lentur 3. 0. b. dx. Fc’. fy. Mu 𝑀𝑢 Rn 𝑹𝒏==o x b x dx 2 Ø 𝑥 𝑏 𝑥 𝑑2 1 2 𝑥 𝑅𝑛 𝑥 𝑚 𝝆= ρ ቌ1 = 1− (1-ඨ1 1-2xRn − xm) ቍ 𝑚 𝑓𝑦 ρ < ρmin ρmin < ρ < ρmax ρ > ρmax ρpakai = ρmin ρpakai = ρ ρpakai = ρmax As = ρpakai x b x d Gambar 3. d) Bila tidak memenuhi maka perbesaran penampang 3.5 ∅ Vc < Vu < ∅ Vc Dipakai tulangan geser minimum c. ∅ (Vc + Vs min) < Vu φ (Vc + √fc′ x bw x d) 3 Perlu tulangan geser 26 . bw .2 Pehitungan Tulangan Geser Pelat Sedangkan untuk perhitungan kebutuhan tulangan geser. ∅ Vc < Vu < ∅ (Vc + Vs min) Diperlukan tulangan geser 1 d. Hitung Vu pada titik berjarak d dari ujung perletakan 2. dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Vu ≤ 0. Kriteria kebutuhan tulangan geser: a. m.

5.2 f r Ig M cr  (3-5) yt dan f r  0. fr.1 Kontrol retak Berdasarkan SNI-2847-2013 pasal 14.12. Menurut SNI 2847:2013 Pasal 21.75 (untuk geser) Keterangan: Vc = Kekuatan geser nominal yang diakibatkan oleh Beton Vs = Kekuatan geser nominal yang diakibatkan oleh tulangan geser Vn = Kekuatan geser nominal (Vc + Vs) Vu = Gaya geser terfaktor 4.5.3.3. 3. Dimana:  Vc = 1⁄6 √fc ′ bw .2. 𝑑 3  𝛟 = 0. sengkang dengan kait gempa pada kedua ujung harus dispasikan dengan jarak tidak lebih dari d/2 sepanjang panjang komponen struktur. d 𝑓′𝑐  Vs = √ 𝑏𝑤 . yang diberikan pada SNI-2847-2013 pasal 9.2.1.4 tulangan dari komponen struktur harus memberikan kekuatan desain M n  M cr (3-4) dimana Mcr harus diperoleh menggunakan modulus hancur.4.3 Pehitungan Tulangan Susut Kebutuhan tulangan susut di atur dalam SNI 03-2847-2013 Pasal 7.4 : Bila sengkang tertutup tidak diperlukan.8.62 fc ' (3-6) 27 .

Perencanaan tebal tangga ditentukan sesuai ketentuan dalam perhitungan dimensi awal pelat. Beban pelat yang diteruskan ke balok anak dihitung sebagai beban trapesium. Beban ekivalen ini selanjutnya akan digunakan untuk menghitung gaya-gaya dalam yang terjadi di balok anak untuk menentukan tulangan lentur dan geser (perhitungan tulangan longitudinal sama dengan pelat). Dalam perencanaan lift. 28 .0 untuk beton berat normal) Perencanaan Balok Anak Untuk penentuan dimensi balok anak perhitungan sama dengan perhitungan balok induk. 60 cm ≤ 2t + i ≤ 65 cm (3-7) Dimana : t = tinggi injakan i = lebar injakan α = sudut kemiringan tangga (25° ≤ α ≤ 40°) Untuk penulangan tangga.dimana: Mcr = momen retak fr = modulus hancur beton Ig = momen inersia penampang beton bruto yt = jarak dari sumbu pusat penampang bruto ke muka Tarik λ = factor modifikasi (λ = 1. metode perhitungan yang dilakukan merupakan analisis terhadap konstruksi ruang tempat lift dan balok penggantung katrol lift. perhitungan penulangan bordes dan pelat dasar tangga dilakukan sama dengan perencanaan tulangan pelat dengan anggapan tumpuan sederhana (sendi dan rol). Perencanaan lift disesuaikan dengan pemikiran jumlah lantai dan perkiraan jumlah pengguna lift. Perencanaan Tangga Perencanaan desain awal tangga mencari lebar dan tinggi injakan. Perencanaan Lift Lift merupakan alat transportasi manusia dalam gedung dan satu tingkat ke tingkat lain. segitiga dan dua segitiga.

SNI 03- 2847-2013. misalnya tali putus. 4 Beban Mati pada Struktur Beban Mati Besar Beban Beton Bertulang 2360 kg/m3 Lantai Ubin Semen Portland 24 kg/m2 Spesi per cm tebal 21 kg/m2 Dinding Bata Ringan (Brosur CITICON®) 600 kg/m3 29 . Tabel 3. penumpu belakang. alat mekanis. disamping berfungsi pula menahan lift apabila terjadi kecelakaan. a. Beban yang bekerja pada suatu struktur ada beberapa jenis menurut karakteristik. Beban Statis Beban statis adalah beban yang bekerja secara terus-menerus pada struktur dan juga yang diasosiasikan timbul secara perlahan-lahan. Ruang landasan diberi kelonggaran (lift pit) supaya pada saat lift mencapai lantai paling bawah. seperti misalnya penutup lantai. Perilaku suatu struktur sangat dipengaruhi oleh beban-beban yang bekerja padanya. SNI 03-1727-2013 dan ASCE 7-2002. Beban Mati Beban mati adalah beban-beban yang bekerja vertikal ke bawah pada struktur dan mempunyai karakteristik bangunan. Perencanaan ini mencakup perencanaan balok penumpu depan. dimana beban yang dipakai tertera pada Tabel 3. Jenis-jenis beban statis menurut ASCE 7-2002 dan SNI 03-1727-2013 adalah sebagai berikut.4. dan mempunyai karakter steady-states yaitu bersifat tetap. dan balok penggantung lift. yaitu beban statis dan beban dinamis. perlu ada gambaran yang jelas mengenai perilaku dan besar beban yang bekerja pada struktur. dan partisi yang dapat dipindahkan. lift tidak menumbuk dasar landasan. Beban mati yang digunakan pada perancangan menggunakan ASCE 7-2002 Tabel C3-1. Pembebanan Dalam melakukan analisa desain suatu struktur. Berikut ini akan menjelaskan lebih detail mengenai pembebanan sesuai dengan ketentuan berdasarkan SNI 03-1726-2012.

Oleh karena itu. dikarenakan fluktuasi beban hidup bervariasi. Beban hidup diperhitungkan berdasarkan pendekatan matematis dan menurut kebiasaan yang berlaku pada pelaksanaan konstruksi di Indonesia. Semua beban hidup mempunyai karakteristik dapat berpindah atau bergerak. dimana beban yang dipakai tertera pada Tabel 3. Untuk menentukan secara pasti beban hidup yang bekerja pada suatu lantai bangunan sangatlah sulit. Secara umum beban ini bekerja dengan arah vertikal ke bawah.5. faktor beban – beban hidup lebih besar dibandingkan dengan beban mati. Tabel 3. Peraturan yang digunakan dalam perancangan beban hidup pada SNI 03-1727-2013 Tabel 4. 5 Beban Hidup pada Struktur Beban Hidup (L) Besar Beban Beban Ruang Kelas 192 kg/m2 Beban Koridor (di atas Lantai Pertama) 383 kg/m2 Beban Ruang Pertemuan (Koridor Lantai Pertama) 479 kg/m2 Beban Ruang Kantor 240 kg/m2 Beban Bordes & Anak Tangga 133 kg (SNI 03-1727-2013 Pasal 4.5. Penggantung Langit-langit 10 kg/m2 Plafond 5 kg/m2 Mechanical Electrical (M/E) 19 kg/m2 Lapisan Waterproofing 5 kg/m2 (sumber: ASCE 7-2002) b. tergantung dan banyak faktor.4) Beban Atap Datar (Lr) 96 kg/m2 Beban Pekerja (Terpusat) 133 kg (sumber: SNI 03-1727-2013) 30 .1. Beban Hidup Beban hidup adalah beban-beban yang bisa ada atau tidak ada pada struktur untuk suatu waktu yang diberikan. tetapi kadang – kadang dapat berarah horizontal.

4 nilai Cs max tidak lebih dari S D1 CS  R T  I (3-9)  Gaya geser dasar dan gaya seismik lateral V = CS x W (3-10) w x hxk C x  n w h i 1 i i k (3-11) 31 .2-1 (SNI 03-1726-2012) Ie = faktor keutamaan hunian yang ditentukan sesuai dengan Tabel 6. Pembebanan ini termasuk beban mati dan beban hidup yang terjadi pada struktur. Analisa beban gempa beadasarkan SNI 03-1726-2012 meliputi:  Penentuan respon spektrum Penentuaan wilayan gempa dapat dilihat pada gambar 9 dan 10 SNI-03-1726- 2012  Respon seismik (Cs) S DS Cs  R    Ie  (3-8) (Persamaan 7. Gaya geser dasar akibat gempa diperoleh dengan mengalikan berat gedung dengan faktor-faktor modifikasi sesuai dengan peraturan pembebanan yang ada. dimana pengaruh pada struktur dibebankan langsung kepusat massa bangunan (center of mass). Perencanaan Beban Gempa pada struktur menggunakan metode diafragma. Pembebanan gravitasi struktur pada Sistem Rangka Pemikul Momen hanya diterima oleh frame. Beban Gempa Beban gempa berdasarkan Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2012).8-2 SNI 03-1726-2012) Dimana: SDS = percepatan spektrum respons disain dalam rentan periode pendek R = faktor modifikasi respons dalam tabel 7.

perletakan diasumsikan sebagai 32 . Gaya dalam pada kolom yang perlu diperhatikan antara lain aksial. memasukkan beban gravitasi dan beban lateral. geser dan torsi.2 D +1.0 L ± 1. geser.8.0 D + 1.2 D + 1. mendesain material dan penampang.6 L 3) U = 1.0 L 5) U = 0. momen arah x dan y. dimana: CS = koefisien respons seismik yang ditentukan sesuai dengan SNI 03-1726- 2012 Pasal 7. Permodelan dan analisa struktur dilakukan dengan menggunakan program bantu SAP2000 dengan langkah-langkah permodelan sebagai berikut: Menggambar permodelan struktur. baik beban gravitasi maupun beban lateral. Output dari permodelan ini antara lain untuk mengetahui perilaku struktur secara keseluruhan dan perilaku komponen struktur. Gaya dalam pada balok antara lain momen.2 Kombinasi Pembebanan Kombinasi pembebanan sesuai dengan SNI 03-2847-2013 pasal 9.7.1 W = berat seismik efektif menurut SNI 03-1726-2012 Pasal 7.2.4 D 2) U = 1. Sedangkan perilaku komponen struktur meliputi komponen kolom dan balok yang ditinjau dari gaya dalam yang didapat dari permodelan struktur. simpangan per lantai harus memenuhi.0 E Dimana: U = beban ultimate D = beban mati L = beban hidup E = beban gempa Permodelan dan Analisa Struktur Permodelan dan analisa struktur dilakukan untuk mengetahui perilaku struktur akibat pembebanan. serta gaya geser gempa harus mendekati total reaksi horizontal di perletakan.0 E 4) U = 1.1 1) U = 1. torsi.1.9 D ± 1. Perilaku struktur secara keseluruhan antara lain: partisipasi massa harus memenuhi.

1 Perhitungan Tulangan Lentur Balok Tahapan yang digunakan dalam menentukan tulangan lentur plat adalah sebagai berikut: 1. Perencanaan struktur ini meliputi perencanaan penulangan lentur dan perencanaan penulangan geser.7. setelah itu dilakukan pengecekan apakah struktur tersebut sesuai dengan persyaratan atau tidak.1.025 (3-14) SNI 03-2847-2013 pasal (21.3.3) 3.5.2.1)  max  0.4. selanjutnya pendetailan elemen-elemen struktur utama.75b (3-15) SNI 03-2847-2013 lampiran B (10.5.7. f’c.2)  max  0. Perencanaan Balok Induk 3. kemudian dilakukan running.05 7 (3-12) SNI 03-2847-2013 pasal (10.jepit-jepit. Menentukan data-data d.85 1 f ' c  600  b    (3-13) fy  600  fy  SNI 03-2847-2013 lampiran B (8. Perhitungan Struktur Utama Perhitungan perencanaan struktur utama dilakukan setelah perhitungan untuk elemen sekunder beserta gaya-gaya dalam yang diperoleh dari hasil analisa struktur.3) 0. dan Mu 2.2.25𝑥√𝑓 ′ 𝑐 𝜌 min = (3-16) 𝑓𝑦 SNI 03-2847-2013 pasal (10. Menentukan harga β1 (𝑓 ′ 𝑐 − 28) 𝛽1 = 0.1) 33 .85 − 0. Menentukan batasan harga tulangan dengan menggunakan rasio tulangan yang disyaratkan sebagai berikut : 0. fy.

1. Jarak tulangan = (3-23) 𝒏−𝟏 3. Menentukan harga m 𝑓𝑦 𝑚 = 0. 4.3. Menentukan luas tulangan (AS) dari ῤ yang didapat As  As  xb x d (3-21) bxd 𝑨𝑺𝒑𝒆𝒓𝒍𝒖 8.7.1. Menentukan Mn Rn  (3-19) bd 2 Diketahui harga Ø = 0. Hitung rasio tulangan yang dibutuhkan : 1 2 xmxRn   1  1   (3-20)  m fy   Dimana : min < pakai < max 7.2 Perhitungan Tulangan Geser Balok Perencanaan penampang geser harus didasarkan sesuai SNI 03-2847-2013.5.4 𝜌 min = (3-17) 𝑓𝑦 SNI 03-2847-2013 pasal (10. diambil harga yang terbesar sebagai yang menentukan.2.1 persamaan 11-1 yaitu harus memenuhi ФVn ≥ Vu.1.7) 6. 34 . Jumlah tulangan = (3-22) 𝟏/𝟒 𝒙 𝝅 𝒙 Ø𝟐 𝒃 − 𝒏 𝒙 Ø𝐋−𝟐𝐝′ −𝟐Ø𝐒 9.75 SNI 03-2847-2013 pasal (9.85 𝑓𝑐′ (3-18) 5.1) Dari kedua harga 𝜌 min tersebut. Pasal 11.

7.5.5 pers.1 persamaan 11-2 Dan untuk Vc  0. Pasal 11.1.11-20 Tulangan sengkang untuk puntir: 35 . Pasal 11. Pasal 11.1 dimana: Vu = geser terfaktor pada penampang yang ditinjau Vn = Kuat geser nominal Vc = Kuat geser beton Vs = Kuat geser nominal tulangan geser 3.2.1.3.17 f ' cbw d (3-25) SNI 03-2847-2013.1. dimana: Vn = kuat geser nominal penampang V u = kuat geser terfaktor pada penampang Ф = reduksi kekuatan untuk geser = 0. Pasal 11.1 Perencanaan penampang terhadap torsi: Tu   Tn (3-28) SNI 03-2847-2013.75 Kuat geser nominal dari penampang merupakan sumbangan kuat geser beton (Vc) dan tulangan (Vs) Vn = Vc + Vs (3-24) SNI 03-2847-2013. Pasal 11.3 Kontrol Torsi Pengaruh torsi harus diperhitungkan apabila:  f ' c  Acp  2 Tu  (3-27) 12 P 2   cp  SNI 03-2847-2013.5.1persamaan 11-3 Perencanaan penampang terhadap geser harus didasarkan pada: Vn  Vu (3-26) SNI 03-2847-2013.

6. Persyaratan “Strong Column Weak Beams” Sesuai dengan filosofi desain kapasitas.5.6 pers. Sedangkan untuk perhitungan tulangan geser harus sesuai dengan SNI 03-2847-2013 Pasal 23.5. A0 . maka selanjutnya adalah mengontrol apakah kapasitas kolom tersebut sudah memenuhi persyaratan strong kolom weak beam.6. Setelah kita dapatkan jumlah tulangan untuk kolom. maka SNI-2847-2013 pasal 21. Perlu dipahami bahwa Mnc harus dicari dari gaya aksial terfaktor yang menghasilkan kuat lentur terendah. Pasal 11.2 mensyaratkan bahwa.2) ∑ 𝑀𝑛𝑏 (3-30) SNI -2847-2013 pasal 21.2 Dimana ΣMnc adalah momen kapasitas kolom dan ΣMnb merupakan momen kapasitas balok. sesuai dengan arah gempa yang ditinjau yang dipakai untuk memeriksa syarat strong column weak beam.1.3.3. ∑ 𝑀𝑛𝑐 ≥ (1. f y Tn  cot (3-29) s SNI 03-2847-2013.11-21 Dimana: Tu = Momen torsi terfaktor Tn = Kuat momen tosi Tc = Kuat torsi nominal yang disumbang oleh beton Ts = Kuat momen torsi nominal tulangan geser A0 = Luas yang dibatasi oleh lintasan aliran geser mm2 Perencanaan Kolom Detail penulangan kolom akibat beban aksial tekan harus sesuai SNI 03-2847- 2013 Pasal 21. 36 . At . 2.5.1.

9.d  Vu (3-32) SNI 03-2847-2013.4.9.2 3. pasal 11.2) 3.h. 3.5 Penulangan Geser Horisontal Dihitung berdasarkan pada (SNI 03-2847-2013.1 Kuat Aksial Rencana Kuat aksial rencana dihitung berdasarkan (SNI 03-2847-2013 pasal 14. pasal 11.I  2  Pnw  0.9.6. pasal 11.7.9.7.3) Dimana: d = 0.7.4.2 Pemeriksaan Tebal Dinding Tebal dinding dianggap cukup bila dihitung memenuhi (SNI 03-2847-2013. Gambar 3.7.4.5.9.55f ' c.9) 37 . 5 Ilustrasi Kuat Momen yang Bertemu di HBK Perencanaan Struktur Dinding Geser 3.7.4.8 Iw 3.3 Kuat Geser Beton Dihitung Menurut SNI 03-2847-2013.2)   k .4 Keperluan Penulangan Geser Penulangan geser dihitung berdasarkan (SNI 03-2847-2013.3) Vn   0.83 f ' c . Ag 1   c   (3-31)   32h   SNI 03-2847-2013 pasal 14.2.4. pasal 21.5. pasal 11.

Berdasarkan beberapa referensi hasil penelitian yang dimuat dalam PCI Journal. maka diharapkan sambungan elemen- elemen tersebut memiliki perilaku yang mendekati sama dengan struktur monolit. Untuk itu sambungan antara elemen balok pracetak dengan kolom maupun dengan plat pracetak direncanakan supaya memiliki kekakuan seperti beton monolit (cast in place emulation). yaitu elemen pracetak dengan tuangan beton cast in place di atasnya. pasal 11.9. kunci geser. pelapisan dengan beton bertulang cor setempat. dimana permukaan balok pracetak dan kolom dikasarkan dengan amplitudo 5 mm. Dengan metode konstruksi semi pracetak. Dalam perencanaan sambungan pracetak. dapat dilakukan beberapa hal berikut ini. sambungan baja tulangan. 38 .Kombinasi dengan beton cor di tempat (topping).6 Penulangan Geser Vertikal Dihitung berdasarkan SNI 03-2847-2013.7. Perencanaan Sambungan Balok Pracetak Dengan Kolom Sambungan antara balok pracetak dengan kolom harus besifat kaku atau monolit. Untuk menjamin kekakuan dan kekuatan pada detail sambungan ini memang butuh penelitian mengenai perilaku sambungan tersebut terhadap beban gempa. ada rekomendasi pendetailan sambungan elemen pracetak dibuat dalam kondisi daktail sesuai dengan konsep desain kapasitas strong coloumn weak beam.9. Oleh sebab itu pada sambungan elemen pracetak ini harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memiliki kekakuan yang sama dengan beton cor di tempat. Untuk menghasilkan sambungan dengan kekakuan yang relatif sama dengan beton cor di tempat. . sambungan mekanis. Dalam penulisan tugas akhir ini digunakan sambungan dengan pelapisan beton bertulang cor setempat. gaya – gaya disalurkan dengan cara menggunakan sambungan grouting. atau kombuinasi cara – cara tersebut. mengingat Indonesia merupakan daerah dengan intensitas gempa yang cukup besar.4. sehingga lemah terhadap beban lateral khususnya dalam menahan beban gempa.4 Perencanaan Sambungan Kelemahan konstruksi pracetak adalah terletak pada sambungan yang relatif kurang kaku atau monolit.3.

Pendetailan tulangan sambungan yang dihubungkan atau diikat secara efektif menjadi satu kesatuan. Perencanaan konsol berdasarkan SNI 03-2847- 2013 pasal 11. sesuai dengan aturan yang diberikan dalam SNI 03- 2847-2013 pasal 7. Gambar 3.Pemasangan dowel dan pemberian grouting pada tumpuan atau bidang kontak antara balok pracetak dan kolom untuk mengantisipasi gaya lateral yang bekerja pada struktur. 6 Sambungan Balok dengan Kolom (Sumber: Kalingga. 2015) Pada perancangan sambungan balok dan kolom ini menggunakan konsol pendek. yaitu tulangan menerus atau pemberian kait standar pada sambungan ujung. .13. 39 . Balok induk diletakkan pada konsol pendek pada kolom kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan.8 mengenai ketentuan khusus untuk konsol pendek..

Vn pada daerah hubungan balok-kolom tidak boleh melebihi nilai yang disebutkan pada SNI 03-2847-2013 pasal 21. Sementara bila sambungan kuat yang akan dipakai.4 Gambar 3. sementara pada sambungan kuat pelelehan harus terbentuk di luar sambungan. Pada sambungan balok- kolom harus didesain terjadinya pelelehan lentur di dalam sambungan. Gambar 3.8 Kuat geser nominal. yaitu kekuatan. kelakuan. daktilitas. 8 Hubungan Balok Kolom (Sumber: SNI 03-2847-2013) 40 . dst. harus dipenuhi semua kriteria untuk struktur beton bertulang yang monolit. baik sambungan balok-kolom daktail maupun kuat harus memenuhi semua persyaratan SNI 03-2847-2013 pasal 21. 7 Parameter Geometri Konsol Pendek (Sumber: SNI 03-2847-2013) Untuk pemakaian sambungan monolit. yaitu paling tidak pada jarak setengah tinggi balok di luar muka kolom. Selanjutnya. harus diyakinkan akan berlangsungnya mekanisme kolom kuat-balok lemah.7.

Kombinasi dengan beton cor di tempat (topping). dan terintegrasi pada elemen-elemen ini. . dimana permukaan pelat pracetak dan beton pracetak dikasarkan dengan amplitudo 5 mm.Sambungan balok induk pracetak dengan pelat pracetak menggunakan sambungan basah yang diberi overtopping yang umumnya digunakan 50 mm – 100 mm . 9 Sambungan Antara Balok dengan Pelat (Sumber: Kalingga. maka tulangan utama balok anak baik yang tulangan atas maupun bawah dibuat menerus atau dengan kait standar yang pendetailannya sesuai dengan aturan SK SNI 03-2847-2013.13.Pendetailan tulangan sambungan yang dihubungkan atau diikat secara efektif menjadi satu kesatuan. sesuai dengan aturan yang diberikan dalam SNI 03- 2847-2013 pasal 7. tapi tidak boleh kurang dari 75 mm. Perencanaan Sambungan Balok Pracetak Dengan Pelat Pracetak Untuk menghasilkan sambungan yang bersifat kaku. Untuk membuat integritas struktur. . . 41 . Hal ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. 2015) Perencanaan Sambungan Balok Induk dengan Balok Anak Balok anak diletakkan menumpu pada tepi balok induk dengan ketentuan panjang landasan adalah sedikitnya 1/180 kali bentang bersih komponen plat pracetak. Gambar 3. maka harus dipastikan gaya-gaya yang bekerja pada pelat pracetak tersalurkan pada elemen balok.Grouting pada tumpuan atau bidang kontak antara plat pracetak dengan balok pracetak. monolit.

Pemilihan tipe pondasi ini didasarkan atas: . 2015) Perencanaan Pondasi Dalam perencanaan pondasi untuk suatu konstruksi dapat digunakanbeberapa macam tipe pondasi.Besarnya beban dan beratnya bangunan atas .Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan . Perencanaan konsol pada balok induk ini sama dengan perencanaan konsol pada kolom. Perhitungan kekuatan pondasi berdasarkan data tanah yang didapat dari tes sondir. Struktur pondasi direncanakan dengan menggunakan pondasi dalam.Fungsi bangunan atas yang akan dipikul oleh pondasi tersebut . OVERTOPPING COR PELAT PRACETAK SETEMPAT BALOK ANAK PRACETAK BALOK INDUK PRACETAK Gambar 3. kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan. 10 Sambungan Balok Induk dengan Balok Anak (Sumber: Kalingga. Nilai Konus diambil 4 D keatas & 4 D kebawah A tiang  Cn JHP  Q P ijin 1 tiang   (3-33) Sf1 Sf 2 Sf1 = (2 – 3) Sf2 = (5 – 8) 42 . Dalam perancangan sambungan balok induk dengan balok anak digunakan konsol pada balok induk.Biaya pondasi dibandingkan biaya bangunan atas Pemakaian tiang pancang digunakan untuk pondasi suatu bangunan bila tanah dasar di bawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung yang cukup untuk memikul berat bangunan dan bebannya atau bila tanah keras yang mampu memikul berat bangunan dan bebannya letaknya sangat dalam. yaitu tiang pancang. Balok anak diletakkan pada konsol pendek pada balok induk.

 = arc tg   S P ult = Efisiensi tiang x Pu 1 tiang berdiri Pile Cap Tiang Pancang Kolom S1 S Mx My S1 S1 S S1 Gambar 3.Kebutuhan Tiang Pancang Jumlah tiang pancang yang dibutuhkan P n (3-34) Pijin 1. 2015) 43 .57D  min  2 D S  (3-35) mn2 Kontrol tegangan yang terjadi pada tiang pancang PsatuTP   P  MyX max  MxYmax (3-36) n x 2  y2 Efisiensi satu tiang pancang: (n  1)m  (m  1)n   1 (3-37) 90mn D Dimana. 11 Ilustrasi Pondasi Tiang Pancang (Sumber: Kalingga.

12. Perencanaan Terhadap Geser a) Kontrol geser satu arah Vc  Vu 1  f ' cbo d  Vu (3-38) 6 b) Kontrol geser dua arah (geser ponds) Dalam merencanakan tebal poer.11.171   f ' cbo d   (3-39)  SNI 03-2847-2013 pasal 11.12.083 s  2  f ' cbo d (3-40)  bo  SNI 03-2847-2013 pasal 11. untuk kolom tengah  20. untuk kolom pojok 𝛟Vc > Pu……OK (Ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser) Penggambaran Hasil Perhitungan Penggambaran hasil perencanaan dan perhitungan dalam tugas akhir ini menggunakan program AutoCAD. untuk kolom tepi  40.1(b)  Vc  0.11.1(c) Dimana :  = rasio dari sisi panjang terhadap sisi pendek pada kolom bo = keliling pada penampang kritis pada poer = 2(bkolom+d) + 2(hkolom+d) αs  30.1(a)  d   Vc  0. 44 .11. Kuat geser yang disumbangkan beton diambil terkecil dari:  2  Vc  0.33 f ' cbo d (3-41) SNI 03-2847-2013 pasal 11. harus memenuhi persyaratan bahwa kekuatan gaya geser nominal harus lebih besar dari geser pons yang terjadi.12.

Darda Abdrahman. PCI. 9. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Jakarta : Badan Standardisasi Nasional 4. SNI 03-1726-2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. Purwono. Chicago : PCI Industry Handbook Committee. 2017. Biro Penerbit Universitas Gadjah Mada. Jakarta : Badan Standarisasi Nasional 3. Ervianto. Badan Standarisasi Nasional. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh Nopember 6. 2016. Wulfram. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh Nopember 45 . Badan Standarisasi Nasional. Habib.1996. Surabaya : ITS Press 8. Bandung 5. 7. Rachmat . DAFTAR PUSTAKA 1. Perancangan dan Analisis Kolom Beton Bertulang. Teknologi Pracetak dan Bekisting. 2012. PCI Design Handbook Precast and Prestressed Concrete. Faizi. Yogyakarta. 2012. 2006. Modifikasi Perencanaan Gedung Tower C Apartemen Aspen Admiralty Jakarta dengan Menggunakan Metode Beton Pracetak (Precast). Fourth Edition. Sudarmoko. 2013. Badan Standardisasi Nasional. Desain Modifikasi Perencanaan Rumah Sakit Kidney Centre Menggunakan Metode Pracetak. Syaifuddin. SNI 03-2847-2013 Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. SNI 03-1727-2012 Tata Cara Perhitungan Pembebanan Untuk Bangunan Gedung. Jakarta : Badan Standardisasi Nasional 2. 2006.

LAMPIRAN 1 (Jadwal Kegiatan) 46 .

1 Jadwal Kegiatan 47 .Gambar 4.

LAMPIRAN 2 (Spesifikasi Tiang Pancang) 48 .

49 .

LAMPIRAN 3 (Spesifikasi Lift) 50 .

51 .

52 .

LAMPIRAN 4 (Spesifikasi Crane) 53 .

54 .

LAMPIRAN 5 (Spesifikasi Kendaraan Pengangkut) 55 .

56 .

LAMPIRAN 6 (Data Tanah) 57 .

1) 58 . 2 Data Tanah 1 (DB .Gambar 4.

2) 59 .Gambar 4. 3 Data Tanah 2 (DB .

a. Beban Gempa Peninjauan beban gempa pada perencanaan struktur bangunan ini ditinjau secara analisa dinamis 3 dimensi. Fungsi respons spektrum ditetapkan sesuai peta wilayah gempa daerah di Kota Surabaya. 60 . Menentukan Faktor Keutamaan Gempa Tabel b-1 – Faktor Keutamaan Gempa Berdasarkan SNI 03-1726-2012 Tabel b-1 dan kategori risiko yang didapat maka dapat ditentukan faktor keutamaan gempa yakni Ie = 1.50. b. Menentukan Kategori Risiko Bangunan Gedung Tabel a-1 .Kategori Risiko Bangunan Gedung dan Non Gedung untuk Beban Gempa (Lanjutan) Berdasarkan SNI 03-1726-2012 Tabel b-1.I. bangunan yang didesain untuk fasilitas pendidikan masuk kedalam kategori risiko IV.

534 Lapisan ke-3 Sand 21.42735 Lapisan ke-3 Sand 19.153 Jumlah 30 4.0 10 3 3.30. Surabaya): Tabel c-1 Perhitungan SPT Rata-rata DB-1 Data Tanah DB-1 Nilai N- Jenis Kedalaman Tebal SPT Lapisan d/N Lapisan Antara (m) Lapisan (d) Rata-rata (N) Lapisan ke-1 Clay (CH) 0 .0 . Sutorejo No.0 5 29 0.19. 59.5 29.10.989 𝑑 ⁄𝑁 3.18644 Lapisan ke-4 Silt 25.25.21.5 .755 Tabel c-2 Perhitungan SPT Rata-rata DB-2 Data Tanah DB-2 Nilai N- Jenis Kedalaman Tebal Lapisan SPT Rata.25.17241 Jumlah 30 3.085 Lapisan ke-4 Silt 25.9.5 .105 61 . Menentukan Kelas Situs Hasil tes tanah dengan kedalaman 45m pada tanah setempat (Jl.4 0.0 .5 10 23.5 0.0 5.307 𝑑 ⁄𝑁 4.5 3.0 5 32.5 9.0 4 47 0.333 Lapisan ke-2 Silt 10.30.755 Keterangan: d = tebal setiap lapisan N = tahanan penetrasi standar 60% energi (N60) Maka nilai N-SPT rata-rata tanah: 𝑑 30 N= = = 7.96875 Lapisan ke-2 Silt 9.6 0. d/N Lapisan Antara (m) Lapisan (d) rata (N) Lapisan ke-1 Clay (CH) 0 .0 11 20.2 2.c.105 Keterangan: d = tebal setiap lapisan N = tahanan penetrasi standar 60% energi (N60) Maka nilai N-SPT rata-rata tanah: 𝑑 30 N= = = 7.67 0.0 .0 .

4 Nilai SS. Tabel c-3 Kelas Situs Menurut SNI 03-1726-2012 Tabel c-3. untuk N < 15 maka termasuk Situs SE d. Menentukan Parameter Percepatan Gempa Gambar 4. Percepatan Batuan Dasar pada Perioda Pendek (SNI 03-1726-2012 pada Gambar 9) 62 .

4 b SF SS 63 .5 SE 3.1 S1 = 0.8 0.8 SB 1 1 1 1 1 SC 1. Gambar 4.2 S1 = 0. T=0.2 0.2 1.9 0.75 SS = 1 SS ≥ 1.8 0.7 1.247 g dan Ss = 0.7 1.pu.663 (puskim.5 1. S1 S1 ≤ 0.id) e.8 SB 1 1 1 1 1 SC 1.2 detik) dan Fv (koefisien situs untuk periode 1 detik) yang didapat dari Tabel e-1 dan Tabel e-2.6 1.25 SA 0.8 0.8 0.go.8 0.6 1.2 1. SS SS ≤ 0.4 2.4 S1 ≥ 0.3 SD 2.1 1 SE 2.2 2.5 SS = 0.5 1.8 0.9 b SF SS Tabel e-2 Koefisien Situs Fv Parameter Respons Spektral Percepatan Gempa Kelas MCER Terpetakan Situs Pada Perioda 1 detik.2 1.4 1. Menentukan Koefisien Situs Untuk nilai Fa (koefisien situs untuk periode 0. 5 Nilai S1.4 1.8 1. Tabel e-1 Koefisien Situs Fa Parameter Respons Spektral Percepatan Gempa Kelas MCER Terpetakan Situs Pada Perioda Pendek.8 2.4 2 1. Percepatan Batuan Dasar pada Periode 1 Detik (SNI 03-1726-2012 pada Gambar 10) Maka diambil nilai S1 = 0.6 1.2 detik.1 1 1 SD 1.5 SA 0.8 0.5 3.25 SS = 0.3 S1 = 0.8 0.

91  0.663 = 0. redaman 5 persen sebesar SDS = 0. 6.74  0. 64 .012 (Dengan cara interpolasi) SMS = Fa x SS (SNI 03-1726-2012 Pers. 6. 8.2-3) 2 2 S D1  S M 1   0. didapatkan bahwa: 2 2 S DS  S MS   0.2-2) = 3.374 (Dengan cara interpolasi) Fv = 3.663 S1 = 0.496.247 Fa = 1.374 x 0.Dari data diatas diperoleh data-data sebagai berikut : Ss = 0.607 3 3 (SNI 03-1726-2012 Pers. Menentukan Kategori Desain Seismik Bangunan ini direncanakan akan dibangun di daerah kota Surabaya yang mempunyai parameter kecepatan respon spektral pada perioda 1 detik. 6.2-1) = 1.607 dan parameter percepatan respon spektral MCE pada perioda pendek yang sudah diesusaikan terhadap pengaruh situs SD1 = 0.496 3 3 (SNI 03-1726-2012 Pers. maka didapat kategori kota Surabaya mempunyai kategori desain seismik D.74 Berdasarkan SNI 03-1726-2012 Pers. 7 dan Pers.91 SM1 = FV x S1 (SNI 03-1726-2012 Pers. Berdasarkan tabel f-1 dan tabel f-2.012 x 0.247 = 0.2-4) f. 6.

untuk sistem ganda dengan rangka pemikul momen khusus yang mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya yang ditetapkan dengan dinding geser beton bertulang khusus adalah : Koefisien modifikasi respons (R) :7 Faktor kuat-lebih sistem (Ω0) : 2.133 B C 0. g.20 ≤ SD1 D D Sistem yang dipilih harus sesuai dengan batasan sistem struktur dan batasan ketinggian.067 ≤ SD1 < 0.5 65 .33 ≤ SDS < 0.33 B C 0.50 C D 0.5 Kemudian.133 ≤ SD1 < 0.167 ≤ SDS < 0. untuk sistem rangka pemikul momen khusus adalah: Koefisien modifikasi respons (R) :8 Faktor kuat-lebih sistem (Ω0) :3 Faktor pembesaran defleksi (Cd) : 5.20 C D 0.067 A A 0.50 ≤ SDS D D Tabel f-2 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada perioda 1 detik Nilai SD1 Kategori risiko I atau II atau III IV SD1 < 0. Berdasarkan tabel 9 SNI 1726 2012 didapatkan bahwa kriteria desain yang tepat sesuai dengan kategori desain seismik yang ada adalah sebagai sistem ganda dengan rangka pemikul momen khusus yang mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya gempa yang ditetapkan dengan dinding geser beton bertulang khusus.167 A A 0.Tabel f-1 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada perioda pendek Nilai SDS Kategori risiko I atau II atau III IV SDS < 0.5 Faktor pembesaran defleksi (Cd) : 5. Menentukan Parameter Struktur Berdasarkan SNI 03-1726-2012 Tabel 9.

6 ) T0 (SNI 03-1726-2012 Pasal 6.didapatkan bahwa: 𝑆𝐷1 0. Nilai Sa = 𝑇 (SNI 03-1726-2012 Pasal 6.(1)) Untuk T = 0.607 𝑆𝐷1  Untuk T > Ts.4 + 0.163  Untuk T ≥ T0 dan T ≤ Ts.917 0. Analisa Respon Spektrum Berdasarkan SNI 03-1726-2012 Pasal 6.243 0.6 ) = 0.163 𝑆𝐷𝑠 0.4 Pers.496 𝑇0 = 0.2 = 0.541 66 .(3)) Untuk T = Ts + 0. maka Sa = 0.817 𝑆𝐷𝑠 0. maka: 0 Sa = 0.817 + 0. maka Sa = 0.817.1 = 0.607 Ketentuan untuk perhitungan respons spektrum: T  Untuk T < T0.607 (0.496 𝑇𝑠 = = = 0. Nilai Sa = SDs (SNI 03-1726-2012 Pasal 6.2 = 0. Nilai Sa = SDs (0.h.607 𝑆𝐷1 0.917 = 0.4.4.163.1 = 0.4.496 Maka Sa = 0. 9 dan 10.4 + 0.(2)) Untuk T = T0 = 0.607 Untuk T = Ts = 0.

289 Ts + 1.22 0.607 Ts 0.2 1.42 0.246 Ts + 1.5 3.145 Ts + 2.183 Ts + 2.52 0.0 1.141 4 4 0.327 Ts + 0.3 2.82 0.164 Ts + 2.488 Ts +0.5 2.0 2.12 0.22 0.32 0.12 0.6 3.9 1.8 1.02 0.5 1.214 Ts + 1.4 2.444 Ts + 0.170 Ts + 2.150 Ts + 2.205 Ts + 1.32 0.1 0.607 Ts + 0.6 2.6 1.1 1.4 1.62 0.3 1.2 2.273 Ts + 1.12 0.92 0.82 0.4 3.159 Ts + 2.62 0.Tabel h-1 Respon Spektrum Desain T (detik) T (detik) Sa (g) 0 0 0.9 2.197 Ts + 1.154 Ts + 2.1 2.22 0.92 0.52 0.234 Ts + 1.7 2.243 T0 0.42 0.259 Ts + 1.72 0.190 Ts + 1.72 0.224 Ts + 1.52 0.92 0.176 Ts + 2.32 0.541 Ts + 0.82 0.7 1.3 3.16 0.42 0.377 Ts + 0.408 Ts + 0.124 67 .307 Ts + 0.02 0.350 Ts + 0.8 2.02 0.2 3.7 3.

5 Perioda.700 Percepatan Respon Spektra.5 2 2. RESPON SPEKTRUM 0.400 0.600 0.200 0. 6 Respon Spektrum Desain 68 .500 0. Sa (g) 0.300 0.5 1 1.5 3 3.5 4 4.100 0. T (detik) Gambar 4.000 0 0.

LAMPIRAN 7 (Permodelan Struktur) 69 .

Gambar 4. 7 Permodelan Struktur 70 .

LAMPIRAN 8
(Gambar Teknik)

71

DESAIN
GEDUNG - G
KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURABAYA

JL. SUTOREJO NO. 59 - SURABAYA

DESAIN
GEDUNG - G
KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURABAYA

JL. SUTOREJO NO. 59 - SURABAYA

SUTOREJO NO.SURABAYA .G KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA inspire JL. DESAIN GEDUNG . 59 .

DESAIN GEDUNG .SURABAYA . SUTOREJO NO.G KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA JL. 59 .

DESAIN GEDUNG . SUTOREJO NO.SURABAYA . 59 .G KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA JL.

SUTOREJO NO.SURABAYA .G KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA JL. 59 .DESAIN GEDUNG .

SURABAYA . 59 .G KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA JL.DESAIN GEDUNG . SUTOREJO NO.

G KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA JL.DESAIN GEDUNG . SUTOREJO NO. 59 .SURABAYA .

SURABAYA . SUTOREJO NO.G KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA JL.DESAIN GEDUNG . 59 .

G KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA JL.SURABAYA . 59 .DESAIN GEDUNG . SUTOREJO NO.