You are on page 1of 10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  • 4.1 Laju Boil-up dengan Variasi Power Reboiler

Pada percobaan ini dilakukan proses distilasi campuran etanol-air dengan umpan sebanyak 10 liter dimana komposisi umpan etanol sebesar 70% dan air 30%. Rasio refluks yang digunakan sebesar 1 : 4 dengan variasi power reboiler sebesar 0,55 kW, 0,65 kW dan 0,75 kW. Pengukuran laju komposisi sampel dan temperaturnya serta pengukuran laju boil-up dilakukan pada selang waktu 10

menit dengan jumlah pengambilan sebanyak 3 sampel. Berikut data laju Boil-up dengan Variasi Power Reboiler dapat dilihat pada tabel 4.1 , 4.2 dan 4.3

Tabel 4.1. Data Untuk Power 0,55 kW

Overhead

Bottom

Waktu

Laju boil up

(%)

(%)

(s)

(ml/s)

 
  • 96 67

459

0,217864924

 
  • 96 67

398

0,251256281

 
  • 96 66

304

0,328947368

Tabel 4.2. Data Untuk Power 0,65 kW

 

Overhead

Bottom

Waktu

Laju boil up

(%)

(%)

(s)

(ml/s)

 
  • 95 64

241

0,414937759

 
  • 96 62

270

0,37037037

 
  • 97 60

276

0,362318841

Tabel 4.3. Data untuk Power 0,75 kW

 

Overhead

Bottom

Waktu

Laju boil up

(%)

(%)

(s)

(ml/s)

 
  • 94 60

 
  • 276 0,362318841

 
  • 95 59

 
  • 239 0,418410042

 
  • 96 57

 
  • 190 0,526315789

0.1 0 0.3 0.5 0.2 0.1 0.6 0.4 Laju Boil-up (ml/s 0 0.2 0.3 0.4 0.5
0.1
0
0.3
0.5
0.2
0.1
0.6
0.4
Laju Boil-up (ml/s
0
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8

Power Reboiler (kW)

  • run 1

  • run 2

  • run 3

Gambar 4.1 Laju Boil-up terhadap Power Reboiler

Berdasarkan Gambar 4.1 laju boil up yang dihasilkan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya power reboiler. Komposisi etanol dalam distilat lebih besar daripada komposisi etanol masuk kolom dapat dilihat dari variasi laju boil-up. Hal ini disebabkan karena pada operasi pemisahan etanol-air secara distilasi batch dengan sistem refluks terjadi kontak ulang antara fase cair (L) dan fase uap (U). Pada operasi pemisahan tersebut terjadi pelepasan panas dari fase uap ke fase cair, sehingga terjadi sirkulasi dimana komponen yang memilki titik didih tinggi dan tekanan uap murni rendah mengalir ke bawah kolom sehingga komponen tersebut sebagian besar terdapat dalam residu. Sedangkan sebagian cairan yang memilki titik didih rendah dan tekanan uap murni tinggi mengalir ke bagian atas kolom, sehingga komponen tersebut lebih banyak terdapat dalam distilat. Pada campuran etanol-air, etanol merupakan komponen dengan titik didih rendah dan tekanan uap murni tinggi. Oleh karena itu komponen etanol lebih banyak terdapat di bagian atas kolom, sehingga komponen etanol dalam distilat lebih besar dibanding komponen etanol dalam umpan masuk kolom. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pada produk overhead, komposisi komponen yang mudah menguap akan meningkat jika semakin lama waktu distilasi, sedangkan pada produk bottom lebih besar komposisi yang lebih sulit menguap (Geankoplis, 1993).

4.2

Komposisi Overhead dengan Variasi Power Reboiler

Tabel 4.4 Data Komposisi Overhead pada 0,55 kW Power Reboiler

Run

t (menit)

Mol Etanol

Mol Air

Xad

Xbd

1

 
  • 10 1,6270

0,2770

0,8545

0,1455

2

 
  • 20 1,6441

0,2216

0,8812

0,1188

3

 
  • 30 1,6441

0,2216

0,8812

0,1188

 

Rata - Rata

0,88122963

0,1187704

Tabel 4.5 Data Komposisi Overhead pada 0,65 kW Power Reboiler

Run

t (menit)

Mol Etanol

Mol Air

Xad

Xbd

1

 
  • 10 0,2780981

1,62698068

 

0,854022799

0,145977201

2

 
  • 20 0,2224785

1,64410679

 

0,880809917

0,119190083

3

 
  • 30 0,1668588

1,66123291

 

0,908725129

0,091274871

 

Rata - Rata

0,880088921

0,278329815

Tabel 4.6 Data Komposisi Overhead pada 0,75 kW Power Reboiler

Run

t (menit)

Mol Etanol

Mol Air

Xad

Xbd

1

 

1,60985457

  • 10 0,2780981

 

0,852698601

0,147301399

2

 
  • 20 0,2224785

1,62698068

 

0,879706209

0,120293791

3

 
  • 30 0,1668588

1,64410679

 

0,907861952

0,092138048

 

Rata - Rata

0,880088921

0,278329815

Pada campuran etanol-air, etanol merupakan komponen dengan titik didih rendah dan tekanan uap murni tinggi. Oleh karena itu komponen etanol lebih banyak terdapat di bagian atas kolom, sehingga komponen etanol dalam distilat lebih besar dibanding komponen etanol dalam umpan masuk kolom. Tabel 4.4, 4.5 dan 4.6 menunjukkan bahwa komposisi etanol pada overhead dipengaruhi oleh wakru dan power pemanasan di reboiler. Semakin

lama waktu dan semakin tinggi power pemanasan yang terjadi di reboiler, maka semakin tinggi suhu yang terdapat pada tray teratas (T 1 ). Suhu yang tinggi dapat meningkatkan proses penguapan etanol dari campurannya, sehingga akan mempengaruhi fraksi etanol yang didapatkan. Dari data-data hasil percobaan diatas, dapat dibuat grafik hubungan antara komposisi etanol terhadap waktu distilasi seperti pada Gambar 4.2.

Komposisi Etanol pada Overhead Product 0 10 20 30 40 power 0,75 kW power 0,65 kW
Komposisi Etanol pada Overhead
Product
0
10
20
30
40
power 0,75 kW
power 0,65 kW
power 0,55 kW
0.91
0.84
0.85
0.86
0.87
0.88
0.89
0.9
0.92

Waktu (menit)

Gambar 4.2 Hubungan Komposisi Overhead terhadap Waktu

Dari grafik dapat dilihat bahwa komposisi etanol yang diperoleh pada overhead semakin bertambah pada suatu titik dan setimbang pada komposisi berikutnya seiring dengan bertambahnya waktu. Hal ini sesuai dengan teoritis, dimana pada literature komposisi etanol yang diperoleh pada overhead semakin bertambah seiring bertambahnya waktu (Geankoplis, 1997). Hal ini karena pada saat umpan (etanol + air) kontak dengan steam pada tray maka komponen yang lebih ringan atau memiliki volatility yang besar dari umpan (dalam hal ini etanol) akan terbawa keatas (tray berikutnya) oleh steam sehingga keluar sebagai top produk. Sedangkan komponen yang lebih berat (air) akan turun kebawah dan keluar sebagai bottom produk. pada saat power reboiler sebesar 0,75 kW, komposisi pada overhead tertinggi terdapat pada menit ke 30 yaitu sebesar 0,907861952 sedangkan yang terendah terdapat pada menit ke 10 yaitu sebesar 0,852698601. Semakin lama waktu distilasi, maka komposisi etanol yang diperoleh pada overhead akan semakin besar .

4.3

Komposisi Bottom dengan Variasi Power Reboiler

Komposisi etanol bottom pada reboiler akan semakin menurun dikarenakan komposisi etanol sudah lebih banyak menguap sehingga komposisi pada top produk lebih tinggi dibandingan dengan komposisi bottom. Fraksi mol etanol yang lebih berat akan kembali ke bottom, yang lebih ringan akan menguap menuju tray untuk ke top produk. Pada bottom, komposisi air lebih tinggi, dapat dilihat dari suhu bahwa etanol akan lebih cepat menguap dibandingkan air (air sudah menguap bersamaan dengan etanol, titik didih etanol = 78°C, titik didih air

= 100°C. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.7, 4.8 dan 4.9

Tabel 4.7 Data Komposisi Bottom pada 0,55 kW Power Reboiler

Run

t (menit)

Mol Etanol

Mol Air

Xab

Xbb

1

 
  • 10 1,147449533

1,828112771

0,385624435

0,614375565

2

 
  • 20 1,147449533

1,828112771

0,385624435

0,614375565

3

 
  • 30 1,130323421

1,883510128

0,375045072

0,624954928

 

Rata - Rata

0,382097981

0,617902019

Tabel 4.8 Data Komposisi Bottom pada 0,65 kW Power Reboiler

Run

t (menit)

Mol Etanol

Mol Air

Xab

Xbb

1

 
  • 10 1,096071196

1,994304841

0,354672436

0,645327564

2

 
  • 20 1,061818971

2,105099554

0,335284587

0,664715413

3

 
  • 30 1,027566746

2,215894268

0,316811807

0,683188193

 

Rata - Rata

0,33558961

0,66441039

Tabel 4.9 Data Komposisi Bottom pada 0,75 kW Power Reboiler

Run

t (menit)

Mol Etanol

Mol Air

Xab

Xbb

1

 
  • 10 1,027566746

2,215894268

0,3168118

0,683188193

2

 
  • 20 1,010440634

2,271291624

0,3078986

0,692101441

3

 
  • 30 0,976188409

2,382086338

0,2906815

0,70931848

Rata - Rata 0,3051306 0,694869371 0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 power 0,55 kW 0.2 power 0,65
Rata
- Rata
0,3051306
0,694869371
0.45
0.4
0.35
0.3
0.25
power 0,55 kW
0.2
power 0,65 kW
0.15
power 0,75 kW
0.1
0.05
0
0
10
20
30
40
Waktu (menit)
Komposisi Etanol pada Bottom
Product

Gambar 4.3 Hubungan Komposisi Bottom terhadap Waktu Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan Terjadinya peningkatan komposisi

etanol pada overhead dan penurunan komposisi etanol pada bottom ini disebabkan karena pada saat proses distilasi berlangsung, etanol liquid hasil kondensasi yang turun ke bottom akan berkontak dengan uap etanol pada setiap tray sampai terjadi kesetimbangan. Semakin keatas uap etanol maka semakin banyak kandungan etanol pada overhead.

  • 4.4 Penentuan Jumlah Tray dan Stage

Efisiensi kolom distilasi dapat diperoleh dengan membandingkan jumlah tray yang diperoleh secara teoritis dengan tray aktua. Jumlah tray teoritis dapat diperoleh dengan menggunakan metode McCabe-Thiele ataupun menggunakan metode Fenske. Jumlah tray teoritis dan efisiensi kolom pada berbagai variasi power reboiler dengan rasio refluks konstan 1 : 4 dapat dilihat pada tabel 4.10 Tabel 4.10 Data Efisiensi Kolom

 

Power

           

No

Reboiler (kW)

α D

α w

α ave

n+1

n

E (%)

 
  • 1 0,55

2,3399

2,3245

2,3322

2,9342

1,9342

21,49

 
  • 2 0,65

2,3283

2,3206

2,3245

3,1851

2,1851

24,27

 
  • 3 0,75

2,3232

2,3128

2,3180

2,3482

1,3482

14,98

Dari Tabel 4.10 dapat dilihat bahwa efisiensi kolom paling tinggi terdapat pada power reboiler 0,65 kW yaitu sebesar 24,27% dan paling rendah terdapat pada power reboiler 0,75 Kw yaitu sebesar 14,98% untuk komposisi campuran sebesar 70% etanol, 30% air serta rasio refluk 1:4. Penentuan jumlah tray dengan metode McCabe-Thiele untuk power reboiler 0,55 kW, 0,65 kW dan 0,75 kW dapat dilihat pada Gambar 4.4, Gambar 4.5, dan Gambar 4.6.

Dari Tabel 4.10 dapat dilihat bahwa efisiensi kolom paling tinggi terdapat pada power reboiler 0,65 kW

Gambar 4.4 Jumlah Plate Teoritis pada Power 0,55 kW Dari Gambar 4.4 dapat di perkirakan jumlah stage teoritis adalah 7,2. Dari data alat percobaan diketahui bahwa jumlah tray actual adalah 9, sehingga diperoleh efisiensi kolom adalah sebesar 21,49%.

Gambar 4.5 Jumlah Plate teoritis pada 0,65 kW Dari Gambar 4.5 dapat di perkirakan jumlah stage

Gambar 4.5 Jumlah Plate teoritis pada 0,65 kW Dari Gambar 4.5 dapat di perkirakan jumlah stage teoritis adalah 6 . Dari data alat percobaan diketahui bahwa jumlah tray actual adalah 9, sehingga diperoleh efisiensi kolom adalah sebesar 24,27%.

Gambar 4.5 Jumlah Plate teoritis pada 0,65 kW Dari Gambar 4.5 dapat di perkirakan jumlah stage

Gambar 4.6 Jumlah Plate Teoritis pada 0,75 kW

Dari Gambar 4.5 dapat di perkirakan jumlah stage teoritis adalah 6,2 . Dari data alat percobaan diketahui bahwa jumlah tray actual adalah 9, sehingga diperoleh efisiensi kolom adalah sebesar 14,98%.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  • 5.1 Kesimpulan

    • 1. semakin besar Power reboiler yang divariasikan maka semakin besar Laju Boil-up yang dihasilkan.

    • 2. peningkatan komposisi etanol pada overhead dan penurunan komposisi etanol pada bottom ini disebabkan karena pada saat proses distilasi berlangsung, etanol liquid hasil kondensasi yang turun ke bottom akan berkontak dengan uap etanol pada setiap tray sampai terjadi kesetimbangan. Semakin keatas uap etanol maka semakin banyak kandungan etanol pada overhead.

    • 3. Jumlah tray teoritis paling besar pada metode McCabe-Thiele dan Fenske terdapat pada saat power reboiler 0,55 kW yaitu sebesar 7,2 tray.

    • 4. Efisensi kolom paling besar pada metode McCabe-Thiele dan Fenske terdapat pada saat power reboiler 0,65 kW dan 0,55 kW yaitu sebesar 21,49 % dan 24.27%.

    • 5. Semakin kecil power reboiler maka efisiensi kolom yang diperoleh akan semakin besar.

5.2

Saran

1.

Agar praktikan

lebih

teliti

dalam

mengukur

komposisi

etanol

dengan

menggunakan alkoholmeter.