SEKAPUR SIRIH

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Sang pemberi karunia ilmu yang tidak satu ilmupun yang kita miliki melainkan yang telah Ia berikan kepada kita, Ialah Allohu Samiun 'alim. Sholawat serta salam semoga tercurah dan terlimpah kepada sang pemimpin ilmu, pembawa cahaya ilmu, pengangkat derajat para penuntut ilmu ialah Nabi Besar Muhammad SAW juga beserta keluarga, sahabatnya, dan moga kita juga mendapatkan cucuran rahmat dari ilmu beliau. Amien.

Dalam makalah ini kami menyajikan berbagai permasalahan dalam ruang lingkup pembahasan ijtihad yakni mencakup pengetian, kedudukan, fungsi, dan sejarah serta perkembangan serta relevansinya dengan tuntutan dunia modern. Dn kami sangat berharap makalah yang kami buat ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi pembaca sekalian dan menjadi konstribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Islam itu sendiri.

Kami mengucapkan mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam pengeditan atau salah dalam penggunaan bahasa, semua tidak lepas dari kodrat kami sebagai manusia yang selalu belajar dari kesalahan-kesalahan untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik. Demi kesempurnaan makalah yang kami buat, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian.

Jakarta, 19 November 2008

Tim Penulis

-1-

terutama apabila kegiatan itu di hubungkan dengan norma.-norma agama. Bagi umat beragama. dalam hal ini umat islam. sehingga syari'at islam dapat dibuktikan tidak bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. kenyataan ini dapat menimbulkan masalah. maka akan semakin terbuka untuk menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. ketika rasul mengutus mu`adz bin jabal ke yaman. pemecahan atas masalah tersebut diperlukan. Maka dalil di atas menunjukkan bahwa ijtihad merupakan dasar dari sumber hukum dalam islam -2- . Sedangkan pembaruan tergantung kepada ijtihad sebagai salah satu sumber jurisprudensi islam (mashâdiru-t tasyrî` al-islâmî).BAB I PENDAHULUAN Secara sosiologis diakui bahwa masyarakat senantiasa mengalami perubahan. Gambaran tentang kemampuan syari'at islam menjawab segala persoalan modern dapat dilakukan dengan mengemukakan beberapa prinsip syari'at islam mengenai tatanan hidup secara vertikal antara manusia dengan Tuhannya dan secara horizontal antara sesama manusia. Perubahan suatu masyarakat dapat mempengaruhi pola pikir dan tata nilai yang ada pada masyarakat itu. Semakin maju cara berpikir suatu masyarakat. Lebih dari itu dapat diyakini bahwa syari'at islam sesuai untuk setiap masyarakat di mana dan kapanpun mereka berada. Kita semua tahu sumber otoritas ijtihad ini dari hadits yang begitu popular. Akibatnya.

baik berbentuk materi ataupun pikiran. bahwa Ijtihad itu adalah. pengalaman. o Menyerahkan kesungguhan dan mengoptimalkan kemampuan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. sehingga dapat diharapkan tercapainya atau diyakini sampai kepada tujuannya. • Kita mengatakan: Ini dokter yang tekun (Mujtahidun) ini insinyur yang tekun atau ini ekonom yang tekun. baik raga maupun jiwa dalam pekerjaan yang dilaksanakannya. Atau Mahasiswa bersungguh-sungguh dalam belajarnya manakala ia sungguh mencurahkan seluruh kemampuannya untuk melaksanakan pekerjaan itu.BAB II PEMBAHASAN Definisi ijtihad • Kita mengatakan: Si Fulan bersungguh-sungguh (Ijtihad) dalam pekerjaannya. • Menurut istilah: Adalah mengorbankan sejauh kemampuan manusia. kemahiran. apbila ia dapat menyempurnakan spesialisasinya dan pekerjannya sejauh mungkin berdasarkan pengetahuan. • Menurut praktek para sahabat: Ijtihad ialah penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat dengan kitab Allah SWT dan sunah -3- . atau mendapatkan ilmu sesuai dengan beban/program studi yang ditetapkan kepadanya. Pengertian Ijtihad • Menurut bahasa: o Ijtihad adalah penyerahan segala kesanggupan untuk mengerjakan segala sesuatu yang sulit. dan seterusnya. karena tujuan yang dicarinya. "menghabiskan (memaksimalkan) kesungguhannya dalam mencari sesuatu yang ingin dicapai. • Sebagian ulama mendefinisikannya dalam pengertian umum.

yang disebut 'qiyas' (ma'qul nash) maupun melalui suatu maksud dan tujuan umum hikmah syari'at. atau mengetahuinya melalui mufti. 4. maka kesungguhan yang dikerahkan itu bukan untuk mengetahui hukum-hukum kebahasan (lughawiyah) /logika (agliyah) atau inderawi (hissiyah) dari bagian ijtihad menurut istilah ahli ushul. Juz II. 2. artinya mendapatkannya dan mengambil faedahnya dari dalil-dalilnya melalui penalaran dan penelitian dalam hukum-hukum itu. Kesungguhan itu untuk tujuan mengetahui hukum-hukum syar'iyah amaliyah (praktik) bukan yang lain. Maka tidak dimasukkan dalam kategori pengertian ijtihad ini dengan menghafal masalahmasalah (yang telah ada). Dalamhubungan ini komentator Jam’u ‘l-Jawami’ (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan. yang disebut 'maslahat'. Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. (Jam’u ‘l-Jawami’. Mujtahid menyerahkan kemampuannya.Rasullullah SAW. “yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu". atau mendapatkannya melalui buku-buku ilmu pengetahuan. maka yang demikian itu tidak dapat dimasukkan dalam (kelompok) ijtihad menurut istilah. Diisyaratkan dalam mengetahui hokum syar'iyah. 3. yang dilakukan melalui istinbath. • Menurut mayoritas ulama ushul: Ijtihad ialah pengerahan segenap kesanggupan oleh seorang ahli fiqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat zhann (penduga kuat) mengenai suatu hukum Syara'. Dari definisi Ijtihad menurut istilah mengandung pengertian: 1. Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh. Ijtihad hanya dapat diterima apabila bersumber dari orang yang ahli (berwenang) untuk berijtihad. hal. artinya mencurahkan kemampuan seoptimal mungkin sehingga ia merasakan bahwa dirinya tidak sanggup lagi melebihi dari tingkat itu. Baik melalui suatu nash. salah seorang tokoh -4- . 379) Sementara ada pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah.

atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur’an / as-Sunnah. seseorang dilarang jual beli pada saat mendengar adzan Jum’at. Sabda Rasul : Kalau begitu teruskanlah puasamu b. Ijma Yaitu persepakatan ulama-ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. menyakiti dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang. juga dilarang. padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. maka demikian pula halnya perbuatanperbuatan lain. Contoh lain : Menurut surat al-Isra’ 23. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh). seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut. Qiyas Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. maka Rasulullah mengatakan : ” Kumpulkan orang-orang yang berilmu kemudian jadikan persoalan itu sebagai bahan musyawarah “. saya telah mencium istri. Lantaran itulah Jumhur ‘ulama’ telah bersepakat bahwa ijtihad hanyaberlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Maka hukum memukul. Tanya Rasul : Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang berpuasa ? Jawab ‘Umar : tidak apa-apa.mu’tazilah. Yaitu : kalau jual beli karena dapat mengganggu shalat Jum’at dilarang. yang dapat mengganggu shalat Jum’at. Contoh : Menurut al-Qur’an surat al-Jum’ah 9. Yang menjadi persoalan -5- . Yaitu ketika ‘ Umar bin Khathabb berkata kepada Rasulullah saw : Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran. Dalam melaksanakan ijtihad. Karena sama-sama menyakiti orang tua. para ulama telah membuat methode-methode antara lain sebagai berikut a. Bagaimana hukumnya perbuatan-perbuatan lain ( selain jual beli ) yang dilakukan pada saat mendengar adzan Jum’at ? Dalam al-Qur’an maupun al-Hadits tidak dijelaskan. karena ada sebab yang sama. Maka hendaknya kita berijtihad dengan jalan analogi. Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Ketika ‘Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah tentang kemungkinan adanya sesuatu masalah yang tidak dibicarakan oleh al-Qur’an dan asSunnah. tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal.

Orang tersebut dihukumi pardlu a’in untuk berijtihad apabila ada permasalahan yang menimpa dirinya juga dihukumi fardlu a’in jika ditanykan tentang suatu permasalahan yang belum ada hukumnya -6- . karena ummat Islam sudah begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya c.nash syar’I atas suatu peritiwa yang dihadapi dan belum tercantum atau belum ditentukan hukumnya Adapun hukum melakukan ijtihad antara lain 1. Istihsan Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan. Oleh para ulama istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi ( analogi samar-samar ) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. kasih sayang dan lain-lain. Perbedaan antara istihsan dan mashalihul mursalah ialah : istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahan ( kebaikan ) itu dengan disertai dalil al-Qur’an / al-Hadits yang umum. sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang secara tertulis exsplisit dalam al-Qur’an / al-Hadits Kedudukan Ijtihad Ijtihad dikalangan ulama Islam merupakan salah satu metode istinbath atau penggalian sumber hukum syara melalui pengarahn seluruh kemampuan dan kekuatan nalarnya dalam memahami nash. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekannya.untuk saat sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma tersebut. Al-Mashlahah Al-Mursalah yaitu menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at. Dasar istihsan antara lain surat az-Sumar 18 d.

jika permasalahan yang dijukan kepadanya tidak dikhawatirkan akan habis waktunya .a. baik ditanya maupun tidak . hal ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu’mah kepada Nabi s.diantaranya adalah Firman Allah SWT yang berbunyi Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran.Yang menjadi landasan dibolehkannya ijtihad banyak sekali. dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah). akidah ataupun dari syari`at. Kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu’mah.105) Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah dan ia Menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Dihukumi Sunnah apabila ber-Ijtihd terhadap permasalahan yang baru. dan mereka meminta agar Nabi membela Thu’mah dan menghukum orang-orang Yahudi.. Ini adalah metode Islam ketika kita mencermati metode asbâb al-nuzûl (konteks sosial atau sebab-sebab -7- . karena (membela) orang-orang yang khianat. kehidupan dimulai dari realita. Dihukumi fardlu kifayah . Dihukum haram.Mereka selalu berijtihad jika menemukan suatau masalah baru yang tidak terdapat dalam AL-Qur’an dan Sunnah Rasul Fungsi Ijtihad Di Masa Sekarang Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu .sehingga hasil ijtihad itu bertentangan engan dalil syara Ijtihad dapat dipandang sebagai salah satu metode untuk menggali sumber hokum Islam. Kita tidak mulai pembaruan dari teks. Nabi sendiri Hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu’mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi Dan hal itu telah diikuti oleh para sahabat setelah Nabi Wafat . Thu’mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi.(QS. tidak dari agama. supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.baik melalui pernyataan yang jelas maupun berdasarkan isyarat.Surat An-Nisa.apabila ber-Ijtihad terhdap permasalhan yang sudah ditetapkan secara qat’I . yang tidak ditemukan dalil hukumnya secara pasti di dalam A-lqur’an dan hadits Begitu pula dewasa ini.w.

Kamu menghendaki harta benda dunia sedang Allah menghendaki pahala akhirat. Nabi sendiri memerintahkan Amir Ibn al-Ash untuk memutuskan suatu perkara.dst. keputusan ini dinyatakan salah. sementara mereka harus shalat. Saat ini apa pertanyaaanpertanyaan yang dihadapai kaum muslimin? wa yas`alûnaka `ani-l awlamah (globalisasi). keputusannya mengenai pembebasan dengan tebusan tawanan perang Badr..8 Dalam Hadis disebutkan bahwa ada dua orang dalam perjalanan. memperhatikan pertanyaan daripada jawaban. lalu mereka kehabisan air. Rasulullah memberi pemecahan terhadap berbagai masalah yang dihadapi komunitas Islam berdasarkan al-Qur’an. Jadi kita memulai dari realita yang general Maka dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwasannya fungsi ijtihad dewasa ini ialah sebagai salah satu cara untuk menentukan hukum islam yang tidak tercntum secara jelas dalm Al-Quran dan Al-Hadist Sketsa Historis Tentang Ijtihad Ijtihad telah dipraktekkan sejak jaman Rasul. Oleh wahyu. tidak semua masalah mendapat penegasan eksplisit dari wahyu. dst. Mereka bertayamum dan shalat. wa yas`alûnaka `ani-l anfâl. wa yas`alûnaka `ani-l faqr (kemiskinan). ia merasa canggung dan bertanya kepada Nabi.S. dan Nabi mendapat teguran dengan firman Allah. dari permasalahan dan musibah yang menggejala di seluruh masyarakat muslim. Nabi segera mendapat teguran dari wahyu jika terjadi kesalahan dalam berijtihad. Asbâb al-nuzûl berarti memperhatikan dan memprioritaskan realita atas teks. dan nâsikh wa al-mansûkh (ayat yang menghapus dan ayat yang dihapus). jika kamu benar dapat dua pahala dan jika salah dapat satu pahala”. Tetapi. wa yas`alûnaka `ani-l ihtilâl (kolonialisme). “Apakah saya pantas berijtihad padahal Engkau ada?” lalu jawab Nabi. “Ya. Tak lama -8- .. Menurut pendapat mayoritas ulama.” (Q.turunnya wahyu). “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan perang sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. wa yas`alûnaka `an nihâyah at-târîkh (akhir sejarah). Para sahabat Nabi pun berijtihad di kala beliau masih hayat. Seperti ayat-ayat wa yas`alûnaka `ani-l khamr (mereka bertanya kepadamu mengenai khamer/minuman keras). wa yas`alûnaka `ani-l fasâd (kerusakan). wa yas`alûnaka `ani-l bathâlah fi indûnisiâ (pengangguran di Indonesia). Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah permulaan. Sebagai contoh. Rasul sering berijtihad. Lalu.. wa yas`alûnaka `ani-l mahîdl (menstruasi). yang pernah sesekali tidak tepat. 8 : 67)..

S. Pada periode awal.kemudian mereka menemukan air. mereka mengajukan dan minta keputusan Nabi. Kasus ini diketahui Rasulullah. 1964). Sebagai contoh. Alasan Umar tidak membagikan tanah tersebut ditemukan dalam al-Qur’an (Q. -9- . Umar ibn Khattab tidak membagi-bagikan tanah-tanah di Irak (yang disebut tanah Sawad) kepada para prajurit yang menaklukkannya seperti yang berlaku dalam tradisi Rasulullah dan Abu Bakar. sementara waktu shalat masih ada. Dari sejarah kita ketahui bahwa tentara pada jaman Rasulullah dan Abu Bakar tidak 1 Ali Hasabullah. Para sahabat dengan demikian harus berijtihad dengan menafsirkan ulang dan memperluas pengertian–pengertian hukum yang telah tersedia dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Mereka belajar wudlu. hal. Masing–masing di antara mereka berijtihad. dan bila perlu mereka dapat bertanya secara langsung mengenai masalah-masalah yang tidak jelas bagi mereka karena waktu itu belum muncul kaidah-kaidah yang pada masa kemudian dibakukan dalam teori yurisprudensi. Rasul tempat bertanya telah tiada. Demikian juga. Istilah ini merupakan istilah generik yang mendahului pertumbuhan hukum serta prinsip–prinsip qiyas dan istihsan yang lebih sistematis.1 Pada masa Rasulullah tidak ada problem metodologis pemahaman al-Qur’an karena para sahabat berada langsung di bawah bimbingannya. shalat dan haji dengan cara mengamati langsung tindakan Rasulullah. ra’yu (pertimbangan pemikiran yang sehat) banyak digunakan dan merupakan alat ijtihad yang utama. Satu–satunya yang ideal bagi mereka adalah perilaku Nabi. sementara persoalan–persoalan kemasyarakatan dan agama justru berkembang sebagai akibat luasnya wilayah yang didiami umat. Ijtihad salah satu di antara mereka berdua adalah mengulangi shalat dan yang lain tidak.59:610) yang pada intinya melarang penumpukan harta pada orang orang yang telah kaya.. bila ada kasus-kasus tertentu. wahyu sudah tidak turun lagi. lain halnya setelah Nabi wafat. Ushul Tasyri’ al-Islamy (Mesir: Dar-Ma’arif. Mereka menggali semangat dan prinsip yang terkandung di dalamnya untuk kemudian diterapkan pada keadaan konkrit yang mereka hadapi. Banyak masalah baru timbul dan belum pernah ada petunjuk pemecahannya baik dalam al-Qur’an maupun hadis Nabi. Para sahabat tidak memahami al-Qur’an dan Sunah Rasul secara harfiah. 76. Tetapi. dan dia mengakui (kebenaran) hasil ijtihad kedua sahabat itu.

Perbedaan-perbedaan kian berkembang dan corak ijtihad sangat dipengaruhi oleh sifat kedaerahan. Karena itu. sementara orang–orang Madinah lebih menyukai tradisi atau Hadis. dan lain-lain. Namun. pada jaman Umar diadakan tentara reguler dan diberi tunjangan tetap. Tetapi.10 - . dan metode-metode pemahaman al-Qur’an dan Hadis dibakukan. sedang orang Irak terpaksa berhati-hati menerima Hadis karena mereka memang agak jauh dari sumber tradisi Rasulullah di Madinah. Pekerjaan para fuqaha pada periode ini lebih terbatas memberikan alasan terhadap pendapat para imam. 1984)./1258 M oleh tentara Mongol. Pintu Ijtihad Sebelum Tertutup. Bahkan. . hal. Orang–orang Irak dianggap lebih cenderung pada penggunaan rasio. Ijtihad Sesudah Periode Imam-Imam Mujtahidin Periode sesudah imam mujtahidin secara relatif dinyatakan sebagai masa mulainya kemunduran kehidupan intelektual kaum muslim sampai jatuhnya Kota Baghdad tahun 656 H. Pada dasarnya keduanya sama-sama memakai ra’yu dan Hadis. Khusus dalam bidang fiqh. Peranan yang sangat menonjol dalam bidang ini dimainkan oleh Asy-Syafi’i (W.digaji karena itu mereka mendapat bagian dari rampasan perang. Pada periode ini pula dikatakan pintu ijtihad mulai tertutup.) yang menyusun kitab al-Risalah yang menjadi buku pertama dalam metodologi pemahaman hukum dan dalam metodologi Hadis. terjadi perkembangan ijtihad yang pesat. Terj. namun orang-orang Madinah lebih banyak menggunakan referensi Hadis. dalam disiplin ilmu-ilmu syari’ah metodologi beliau masih tetap relevan dan dipertahankan sampai sekarang. Agah Gornad (Bandung: Pustaka. Umar tidak memberi rampasan perang kepada mereka.2 Pada masa tabi’in dan sesudahnya kegiatan ijtihad kian berkembang berikut dengan berbagai kecenderungan masing-masing. Hasil tanah Sawad tersebut digunakan oleh Umar untuk kepen-tingan umum seperti tunjangan bagi mereka yang kurang mampu dan biaya pemeliharaan perbatasan. para fuqaha cenderung taqlid kepada mazhab tertentu yang telah baku pada periode sebelumnya. dan dengan demikian 2 Ahmad Hasan. Pada periode imam-imam mujtahidin yang berlangsung di abad II H sampai pertengahan abad IV H. mazhab–mazhab hukum mengalami kristalisasi. 108. Kecenderungan-kecenderungan itu hanya merupakan perbedaan porsi saja dalam pemakaian rasio atau Hadis. 204 H. kedua kecenderungan ini tidaklah merupakan kutub-kutub yang bertentangan satu sama lain secara frontal.

3 Namun demikian. Pada masa inilah tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual disebut sebagai tingkat yang lebih rendah. Agaknya dambaan mereka tercapai. yaitu stagnasi atau kemandegan sebab ketenangan dan ketentraman itu mereka “beli” dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad. hal. dan memang tidak ada suatu otoritas pun dalam Islam yang berhak menutup pintu ijtihad. Ciri umum masyarakat muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat ialah ketenangan dan ketentraman. “Syarah”. bahkan beliau menyatakan dirinya sebagai seorang mujtahid mutlak. Bagi Ibn Taimiyah pintu ijtihad tidak pernah tertutup. 313. Di samping itu. tetapi dengan ongkos mahal. 3 Nurcholish Madjid. “Program” Ibn Taimiyah ialah menghimbau kaum muslimin untuk mencari kembali ajaran Islam yang sejati. dan untuk melakukan ijtihad dalam menafsirkan doktrin–doktrin agama. Pekerjaan para ulama hanya berkisar pada membuat syarah (penjabaran) dan hasyiah (penjabaran atas syarah). setelah jatuhnya Baghdad keadaan intelektual kaum muslimin tidak mengalami banyak perubahan. penilaian terhadap kehidupan intelektual kaum muslimin pada masa sesudah periode imam mujtahidin itu memperlihatkan keadaan yang lambat laun aktivitas berpikir kreatif telah begitu mundur. selama periode kemunduran ini masih tetap ada saja tokoh-tokoh cemerlang yang menyerukan perlunya ijtihad semisal Ibn Taimiyah (1263-1328 M). Selanjutnya. Terhentinya aktivitas inilah sebenarnya yang diartikan sebagai “tertutupnya pintu” ijtihad.11 - .4 Sebenarnya penutupan pintu ijtihad itu tidak pernah dinyatakan secara resmi. Akan tetapi. betapapun pemikiran yang ada di dalamnya lebih lemah dari pendapat lain. Ini pada akhirnya membawa kepada kecenderungan membela mazhab. landasan-landasan yang mendorong proses kreatif itu hancur sehingga pada akhirnya mengakibatkan terhentinya kegiatan intelektual yang mampu membuat sintesis besar dalam kebudayaan Islam.hanya berkisar pada pendapat yang sudah ada dan tidak keluar dari padanya. .

Sedang dalam taqlid. Seperti seseorang mengikuti Umar bin Khattab dalam melaksanakan shalat Tarawih 2 0 Rakaat. 4 Syafi’i Ma’arif. . orang yang mengikuti tidak mengetahui sumber yang dijadikan dasar oleh orang yang di ikuti dalam mengemukakan pendapatnya. Persamaannya “ Keduanya termasuk perbuatan mengikuti” Perbedaanya Dalam ittiba bahwa orang yang mengikuti mengetahui sumber yang dijadikan dasar oleh orang yang diikuti dalam mengemukakan pendapatnya. yaitu ittiba kepada Allah dan Rasulnya dan ittiba kepada selain Allah dan Rasulnya atau kepada orang lain. sedangkan Taqlid menurut bahasa berarti meniru. Metode. dapat diambil pemahaman bahwa antara ittiba dan Taqlid itu terdapat persamaan dan perbedaannnya. yaitu wajib. Ittiba dan Taqlid Pengertian Ittiba menurut bahasa berarti mengikuti atau menuruti. tetapi dia tidak mengetahui alas an yang dijadikan dasar oleh Umar. xii.2. Persamaan dan perbedaan antara Ittiba dan Taqlid Dari pengertian ittiba dan Taqlid seperti dikemukakan diatas. Seperti seseorang mengikuti pendapat Abu dawud tentang hukum aqiqah buat anak. Sedang secara istilah ialah mengikuti atau menuruti semua yang diperintahkan.12 - . Dia mengetahui bahwa Abu Dawud mendasarkan pendapatnya itu kepda hadist Nabi. dan dibenarkan oleh Rasulullah saw. yang dilarang. Dengan kata lain ittiba adalah mengikuti pendapat mujtahid dengan mengetahui dari mana hukum yang ditetapkan oleh mujtahid tersebut diambil. Dari pengertian ittiba diatas dapat diketahui bahwa ittiba itu ada 2 bentuk. hal.

ALLAH Maha pengampun. niscaya ALLAH mencintaimu dan mengampuni dosa dosamu”. Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa ittiba kepada ulama diperbolehkan.Hukum ittiba Para ulama membedakan ittiba kepada 2 bentuk. Sebagian mereka menyatakan bahwa ittiba kepada selain ALLAH dan Rasul nya itu hukumnnya tidak boleh. Ittiba kepada selain ALLAH dan Rasulnya Mengenai ittiba jenis ini. (QS.sedikit sekali kamu mengambil pelajaran (QS. ikutilah aku. Allah berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan Mu. Maha penyayang. . yaitu ittiba kepada Allah dan Rasulnya. Ali imran : 31 – 32) B. ketahuilah bahwa ALLAH tidak menyukai orang orang kafir”. Ittiba kepada Allah dan Rasul Para ulama sepakat bahwa hukum ittiba kepada Allah dan Rasulnya adalah wajib. Katakanlah (Muhammad). jika kamu berpaling. A. AL-Araf :3) “Katakanlah (Muhammad). “ Taatilah ALLAH Dan Rasulnya. sebab ulama sebagai pewaris Nabi. para ulama berbeda pendapat.13 - . dan ittiba selain Allah dan Rasulnya. dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin.” jika kamu mencintai ALLAH.

Hukum Taqlid Haram.Sunah.Quran dan Al. yaiatu Rasullah saw. taqlid kepada seseorang yang tidak diketahui kemampuaannnya. Wajib. b. yaitu taqlid kepada orang yang perkataan. dan taqlid kepada pendapat seseorang sedang ia mengetahui bahwa pendapat orang itu salah. yaitu Taqlid kepada adat istiadat yang bertentangan dengan Al. . a. dengan syarat bahwa yang bersangkutan selalu beruasaha menyelidiki kebenaran masalah yang di ikuti. perbuatan. dan ketetapannya dijadikan Hujjah. Boleh.14 - . denga kata lain bahwa taqlid seperti itu sifatnya hanya semnetara. yaitu taqlid kepada mujtahid.

Kedua. dengan kata lain. setelah wafat Muhammad Ibn Jarir ath-Thabari (w. kata Iqbal. dogma-dogma teologis yang mengecilkan arti kemampuan manusia dan kompetensi akalnya. Tidak ada lagi mujtahid muthlaq yang berijtihad langsung dari sumber pokok hukum-hukum al-Qur’an dan Hadis. dari uraian di atas tampaknya disintegritas umat dapat merongrong landasan kultural dan intelektual dalam jangka panjang. Di samping itu. Namun. sejak dicanangkan gerakan pintu ijtihad telah tertutup pada awal abad 4 H/10 M. ijtihad adalah intellectual exercise seorang muslim untuk menetapkan suatu kasus hukum yang secara tegas belum ada ketentuan nash-nya dalam al-Qur’an dan Hadis. kemungkinan berijtihad muthlaq masih tetap diakui oleh Sunni. . namun dalam prakteknya kemungkinan itu sangat sulit diwujudkan sebab syarat-syarat yang ditetapkan untuk bolehnya seseorang berijtihad terlalu berat dan sukar untuk dapat dipenuhi. ijtihad adalah modal penting agar hukum Islam senantiasa dapat menjawab persoalan kemanusiaan sesuai dengan perkembangan jaman. gaungan dan gugatan itu seakan tenggelam dalam gemuruh ber-taqlid. Ibn Taimiyah (w. Dalam bidang fiqh para fuqaha hanya membatasi diri berijtihad dalam masing–masing mazhab yang dianutnya saja.15 - . sampai dengan dimulainya gerakan pembaharuan pemikiran Islam pada penghujung abad 12/18 umat Islam seakan berhenti berpikir. 728/1327) pada awal abad 7/13 pernah menggaungkan terbukanya pintu ijtihad. Keempat. ijtihad merupakan sebagai ruh dari dinamika hukum Islam. kedudukan ijtihad dalam Islam amat penting. Secara teoritis. 310/922). Ketiga. kurang berguna dalam mempertajam wawasan serta mendekati kebenaran secara progresif.BAB III PENUTUP Kesimpulan Pertama.

l-Ma’arif . Razi. H. A.al-mashul fi’ilm Ushul Al-Fikh .Karya toha putra semarang.Karya toha putra semarang.wordpress.DAFTAR PUSTAKA • Alim.Dr.Kairo .HM. Pendidikan Agama Islam Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim.blogspot.Ilmiyah . Suparta MA.Fakh Ar-Din . Muhammad.1973 Drs. Mukti. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya http://hananismail. Remaja Rosdakarya. Mizan. Moh Rifai.html . Ilmu fiqih islam lengkap Prof . Bandung • Ar.Harun nasution.1988 • • • • • Ali Hassablh Ushul At tasry ‘Al. (1990).Islami . PT.com/2007/01/31/perintah-ittiba-dan-larangantaqlid/ • http://aqidah-wa-manhaj. Ilmu fiqih Drs.com/2007/12/032-kewajiban-mencontohiittiba. (2006). Bandung • Ali. PT. Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam.Biert:Dar Al-Kutub AL.16 - .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful