You are on page 1of 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling umum yang terdiri dari kelompok

heterogen dari gangguan hiperglikemik yang ditandai dengan tinggi konsentrasi serum-

glukosida dan gangguan metabolisme karbohidrat dan lipid. Ini didefinisikan sebagai

tingkat glukosa darah tinggi. Diabetes tipe 2 (T2D) adalah di akibatkan adanya resistensi

insulin atau gangguan sekresi insulin. Tipe 2 ini juga sering di sebut non insulin dependent

diabetes mellitus, karena pada tipe ini tidak selalu di butuhkan insulin, kadang cukup dengan

diet dan antidiabetes oral saja. Komplikasi jangka panjang diabetes dapat menyebabkan

kehilangan penglihatan.(

Pada saat ini terdapat 5 macam kelas obat hipoglikemik oral untuk pengobatan DM

tipe II, yaitu sulfonilurea, biguanid, meglitinid, α-glukosidase inhibitor, dan agonis receptor γ

(thiazolidin atau glitazon). Obat hipoglikemik oral diindikasikan untuk pengobatan pasien

DM tipe II yang tidak mampu diobati dengan melakukan diet dan aktivitas fisik. Biguanid

dan thiazolidinedion dikategorikan sebagai sensitizer insulin, dengan cara menurunkan

resistensi insulin. Sulfonilurea dan meglitinid dikategorikan sebagai insulin secretagogues

karena kemampuannya merangsang pelepasan insulin endogen.

Senyawa penghambat alpha-glukosidase bekerja menghambat enzim alpha-

glukosidase yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-enzim alpha-glukosidase (maltase,

isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida pada

dinding usus halus. Penghambatan kerja enzim ini secara efektif mengurangi pencernaan

karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar

glukosa post-pradial pada penderita diabetes


Pada manusia, enzim α-glukosidase terdapat pada membran lisosom sel epitel instine

dan berperan pada pencernaan karbohidrat makanan. Pada penderita Diabetes Mellitus (DM)

tipe 2, inhibisi terhadap enzim α-glukosidase menyebabkan penghambatan absorpsi glukosa

sehingga dapat mengurangi keadaan hiperglikemia setelah makan. Saat ini, ada 3 jenis

senyawa inhibitor α-glukosidase yang di gunakan pada pengobatan DM tipe 2 yaitu Acarbose

(Glucobay), miglitol (Glyset) dan voglibose.

Glukosa akan di lepaskan lebih lambat dan absorbsinya kedalam darah juga kurang

cepat, lebih rendah dan merata, sehingga memuncaknya kadar gula darah bisa di hindari. Hal

tersebut karna cara kerja obat golongan ini berdasar persaingan penghambatan enzim alfa

glukosidase di mukosa duodenum, sehingga reaksi penguraian di turunkan atau polisakarida

menjadi monosakarida di hambat.

Perbedaan pokok antara ketiganya yaitu pada proses absorbsinya, Acarbose

merupakan contoh penghambat α glukosidase yang sering di gunakan. Obat ini bekerja secara

kompetitif menghambat kerja enzim alfa glukosidase dari dalam saluran cerna sehingga dapat

menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan

hiperglikemia post prandial

Dalam menunjang kegiatan penelitian pencarian senyawa yang mampu menjadi daya

hambat terhadap enzim α-glukosidase, pada penelitian ini di lakukan sintesis turunan ester

kuinidin sebagai penghambat α Glukosidase. Menggunakan Katalis DMAP (Dimetil Amino

Piridin) karna memberikan hasil reaksi yang sangat baik untuk memberikan alkohol primer

dan sekunder, Aktivator yang di gunakan yaitu DCC (Disikloheksil Karbo Imida). Alkaloid

yang memiliki struktur inti quinolin dihasilkan dari tanaman cinchona (kina). Alkaloid yang

tergolong quinolin diantaranya quinin, quinidin, cinchonin, dan cinchonidin. Alkaloid

cinchona saat ini merupakan satu-satunya kelompok alkaloid quinolin yang memiliki efek
terapeutik. Cinchonin yang merupakan isomer dari cinchonidin merupakan ”alkaloid orang

tua” dari semua seri alkaloid quinin. Quinin dan isomernya yaitu quinidin merupakan 6-

metoksicinchonin.

Cinchona alkaloid adalah kelompok 35 alkaloid yang terjadi di kulit pohon kina yang

meliputi obat-obatan seperti kina, quinidine dan turunannya metoksi mereka, yaitu

Cinchonidin dan Cinchonin merupakan alkaloid yang paling banyak ditemukan dalam

tanaman ini.

Tahapan awal yaitu menyiapkan senyawa quinidin yang sudah di siapkan, kemudian

senyawa tersebut di esterifikasikan dilanjut dengan pemurnian dan uji identifikasi lalu hasil

sintesis tersebut di aplikasikan dengan cara in vitro.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana cara menghasilkan senyawa turunan ester Quinidine ?

2. Bagaimana cara mengaplikasikan hasil senyawa tersebut sebagai antidiabetes secara

in vitro ?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk :

1. Menghasilkan senyawa turunan ester Quinidine

2. Mengaplikasikan hasil senyawa sebagai Antidiabetes secara in vitro

1.4 Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya memberikan

informasi kepada semua orang yang mengidap penyakit Diabetes Mellitus type 2, Bahwa

tanaman Kina bisa di gunakan selain sebagai obat anti malaria juga dapat di gunakan

sebagai obat antidiabet type 2.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Tanaman Kina (Chincona alkaloid)

Cinchona adalah genus beranggotakan sekitar 25 spesies dari suku Rubiaceae yang

berasal dari Amerika Selatan di spanjang pegunungan Andes yang meliputi wilayah

Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai Bolivia. Daerah tersebut terletak pada

ketinggian 900-3000 mdpl. Tanaman Kina masuk ke Indonesia tahun 1852 berasal dari

Bolivia. (Tao dan Taylor,2011)

Klasifikasi tanaman kina adalah sebagai berikut :

Kingdom :Plantae

Kelas :Magnoliopsida

Suku :Rubiaceae

Genus :Chincona

Ordo :Gentianales

Anggota genus ini berupa tanaman perdu besar atau pohon kecil hijau abadi yang

tumbuh hingga ketinggian 5—15 meter. Kulit pohonnya merupakan sumber dari berbagai

jenis alkaloid, yang paling dikenal adalah kuinina. Daun elip sampai lanset, Bagian pangkal

dan ujung daun lancip, Berwarna Ungu terang, tangkai daun tidak berbulu, panjang tangkai 3-

6 mm. Mahkota bunga berwarna kuning agak putih, Bentuk melengkung panjang 8-12 mm.

Buah lanset sampai bulat telur dengan ukuran panjang 8-12 mm dan lebar 3-4 mm (Tao dan

Taylor,2011)
Tanaman kina tumbuh baik dengan curah hujan tahunan ideal yaitu 2.000-3.000

mm/tahun dan merata sepanjang tahun, penyinaran matahari yang tidak terlalu terik,

temperatur antara 13,5-21⁰C, kelembaban relatif 68-97%. Tanaman kina di Indonesia dapat

tumbuh di daerah dengan tinggi 800-2000 mdpl, namun ketinggian umum untuk budidaya

tanaman kina adalah 1.400-1.700 mdpl. (Tao dan Taylor,2011)

Kulit kina banyak mengandung alkaloid alkaloid yang berguna untuk obat seperti

saponin, Flavanoid dan polifenol. Ada 4 jenis alkaloid utama pada tanaman kina yaitu

kuinin,kuinidin,sinkonin dan sinkonidin. Alkaloid tersebut dapat mengobati penyakit malaria

dan penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina antara lain untuk disentri,diare, dan tonik.

(Wibisana, 2010)

2.1 Tinjauan tentang Diabetes Melitus

2.2.1. Pengertian Diabetes Melitus

Diabetes militus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar

glukosa dalam darah (hiperglikemia) bersama dengan reaksi biokimia glukosa dan lipid

metabolisme abnormal. Hal ini di hubungkan dengan keadaan abnormalitas metabolisme

karbohidrat, lemak, dan protein terjadi karna kelainan sekresi insulin, kerja insulin

(sensitivitas) atau keduanya, dari faktor genetik serta faktor lingkungan dan mengakibatkan

komplikasi kronis termasuk mikrovaskuler, makrovaskuler dan neuropati kronis Penyakit

kronis ini muncul sebagai konsekuensi dari tidak cukupnya produksi insulin sel beta pankreas

atau penggunaan insulin yang tidak memadai (Dipiro et al,2015;Hasan et al,2013)

2.2.2. Epidemiologi

DM Tipe 1 adalah penyakit autoimun yang dapat berkembang pada masa anak anak

maupun tahap dewasa awal, walaupun beberapa dalam bentuk laten dapat terjadi. DM tipe 1
terjadi 5%-10% dari semua kasus DM yang terjadi dan kemungkinan di sebabkan secara

genetik ataupun faktor lingkungan. Perkembangan dari Autoimun sel beta pankreas terjadi

kurang dari 10% populasi dengan kelainan genetik dan kurang dari 1% karena faktor

lingkungan (Triplitt, et al.,2008).

Prevalensi dari DM tipe 2 sebesar 90% dari semua kasus DM yang terjadi. Beberapa

faktor resiko yang dapat membawa seseorang pada DM tipe 2 yaitu riwayat keluarga,

obesitas, aktivitas fisik, ras atau etnis. Secara keseluruhan Prevalensi DM tipe 2 di Inggris

kurang lebih 9,6% pada tahun 20 keatas. Di Indonesia sendiri, prevalensi DM dari tahun ke

tahun semakin meningkat, berdasarkan Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003 terdapat

kurang lebih 133 juta jiwa penduduk diatas umur 20 tahun terjangkit DM, dengan prevalensi

sebesar 14,7% pada daerah urban dan 7,2% pada daerah rural, maka di perkirakan terdapat

194 juta penduduk berusia 20 tahun ke atas di tahun 2030 (Riskesdas,2013).

Prevalensi DM tipe 2 bervariasi pada perempuan di banding pria, dan sangat bervariasi

pula di antara berbagai populasi ras dan etnis. Terutama meningkat pada beberapa penduduk

asli amerika, Hispanik Amerika, Asia Amerika, Afrika Amerika dan kepulauan pasifik.

Adapun jenis lain DM, yaitu DM gestasional adalah diabetes yang di derita ibu pada masa

kehamian, terjadi sekitar 7% di seluruh Amerika yang sedang hamil. Wanita akan kembali

normal setelah melahirkan, tetapi 30-50% akan berkembang menjadi DM tipe 2 atau

intoleransi glukosa di kemudian hari (Triplitt,et al.,2008)

2.2.1. Batasan Diabetes Melitus

Seseorang akan di diagnosa menderita Diabetes Melitus apabila masuk dalam kriteria

berikut :

1. Glukosa darah acak lebih dari 200 mg disertai dengan gejala diabetes yang sering

muncul yaitu poliuria, polidipsia, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
GDA diartikan sebagai waktu kapan pun tanpa memperhatikan jangka waktu terakhir

makan.

2. Glukosa darah puasa dari 126 mg. Puasa di artikan sebagai tidak adanya asupan kalori

selama minimal 8 jam.

3. Glukosa darah 2 jam lebih dari 200 mg selama Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO).

Asupan glukosa yang di rekomendasikan pada tes ini adalah 75 gram atau yang

sebanding

4. HbA 1c lebih dari 6,5 %. Tes tersebut harus di laboratorium yang menggunakan

metode yang disertifikasi oleh NGSP (National Glycohemoglobin Standarization

Progam) dan di standarisasi oleh DCCT (Diabetes Control and Complication Trial)

(Triplitt et al., 2008 ; ADA, 2012).

2.2.1. Klasifikasi Diabetes Melitus

Menurut Konsensus American Association Experts Committee on The Diagnosis and

Classification of Diabetes pada tahun 1997, secara garis besar, penyakit diabetes mellitus

dapat di golongkan menjadi 4 tipe, yaitu diabetes tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes

Mellitus), diabetes tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus), diabetes tipe 3 (diabetes

yang di sebabkan faktor lain), serta diabetes tipe 4 (Gestational Diabetes Mellitus) (Corwin,

2008)

Diabetes mellitus tipe 1 merupakan diabetes dengan defisiensi absolut insulin akibat

destruksi autoimum sel-sel β. Diabetes tipe 1 ini disebut sebagai Insulin Dependent Diabetes

Mellitus sebab pengidapnya harus mendapat insulin pengganti. Diabetes tipe 1 biasanya di

jumpai pada orang yang berusia kurang dari 30 tahun dengan perbandingan laki laki sedikit

lebih banyak daripada wanita. Karena insiden diabetes mellitus tipe 1 memuncak pada usia

remaja dini, maka dahulu di sebut sebagai diabetes juvenilis, namun diabetes tipe 1 dapat

timbul di segala usia dan bersifat idiopatik (Corwin, 2008)


Diabetes mellitus tipe 2 merupakan diabetes dengan insensitivitas atau resistensi sel

terhadap insulin dan dapat juga terjadi defisiensi relatif insulin. Pada diabetes tipe 2, insulin

masih tetap dihasilkan oleh sel sel β sehingga biasa juga disebut Noninsulin Dependent

Diabetes Mellitus (NIDDM). Sebagian besar pengidap diabetes tipe 2 adalah pasien berusia di

ata 30 tahun dan kebanyakan di sebabkan oleh obesitas (Corwin, 2008)

Diabetes mellitus tipe 3 merupakan diabetes yang di sebabkan oleh faktor lain, sebagai

contoh adalah diabetes yang terjadi karena pankreatitis dan endokrinopati (Corwin, 2008)

Diabetes mellitus tipe 4 terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak menderita

diabetes. Walaupun diabetes tipe 4 dapat sembuh setelah melahirkan,rata-rata 50% pasien

tidak dapat kembali pada kadar gula darah normal, sehingga meningkatkan risiko terserang

diabetes mellitus tipe 2. Pada diabetes mellitus tipe 4, diabetes terjadi akibat meningkatnya

kadar hormon esterogen dan growth hormone juga di duga memiliki efek anti-insulin seperti

memicu glikogenolisis (Corwin, 2008)

Penyakit diabetes mellitus dapat menunjukan gejala klinis yang bermacam-macam.

Beberapa gejala yang dapat terlihat dari pasien penderita diabetes mellitus adalah polidipsia

(peningkatan rasa haus), poliuria (peningkatan pengeluaran urin), polifagia (peningkatan rasa

lapar), peningkatan angka infeksi, luka yang tidak sembuh sembuh, serta berat badan menurun

(Corwin, 2008)

Pengobatan diabetes mellitus dapat dapat dilakukan dengan beberapa golongan obat

yang dapat menurunkan kadar glukosa darah. Penderita diabetes mellitus tipe 1 paling

membutuhkan insulin sebagai obat. Insulin biasanya diberikan melalui injeksi, Sedangkan

pada penderita diabetes mellitus tipe 2, lebih umum di gunakan obat antidiabetes oral. Obat

yang termasuk golongan antidiabetes oral adalah obat yang meningkatkan sekresi insulin,

seperti sulfonilurea, dan repaglinid, obat yang memperbaiki sensitifitas reseptor insulin,
seperti biguanida, dan thiazolidinedion, serta obat yang bersifat sebagai penghambat α-

glukosidase, seperti miglitol dan akarbose (Crisholm-Burns et al., 2008).

2.3 Enzim α-glukosidase

Enzim α-glukosidase adalah enzim yang bertanggung jawab terhadap konversi

karbohidrat menjadi glukosa. Karbohidrat akan di cerna oleh enzim di dalam mulut dan usus

menjadi gula yang lebih sederhana yang kemudian akan di serap ke dalam tubuh sehingga

kadar gula darah meningkat. Proses pencernaan karbohidrat tersebut melibatkan pankreas

dalam melepaskan enzim α-glukosidase ke dalam usus yang akan mencerna disakarida

menjadi monosakarida, contohnya adalah sukrase yang memecah sukrosa menjadi fruktosa

dan glukosa. Dengan dihambatnya kerja enzim α-glukosidase, kadar glukosa dalam darah

dapat di kembalikan pada batas normal (Bosenberg, 2008)