You are on page 1of 3

Anopheles dan Malaria di Indonesia

Malaria adalah salah satu penyakit yang mempunyai penyebaran luas. Sampai saat ini
malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Malaria sebagai salah satu
penyakit infeksi disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium, yang ditularkan dari
orang ke orang melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Penyakit ini tersebar luas di berbagai
daerah, dengan derajat infeksi yang bervariasi. Afrika menjadi salah satu lokasi yang terkena
endemis malaria dan sudah menyebabkan banyak nyawa melayang. Tidak hanya Afrika yang
mengalami endemic penyakit malaria. Kondisi alam yang berawa mejadi penyebab dari adanya
darah yang terkena endemis penyakit malaria ini. Daerah berawa menjadi salah satu lokasi yang
cocok untuk nyamuk ini berkembang biak. Di beberapa daerah yang telah belasan tahun tidak
ada kasus malaria, tiba-tiba menjadi endemis kembali. Bahkan di Pulau Bintan, Aceh dan
Kabupaten Jayawijaya di Papua sempat dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang
memerlukan penanganan serius dari lintas sektor. Hal ini berkaitan dengan terjadinya perubahan
lingkungan yang memudahkan perkembangan nyamuk vektor malaria. Nyamuk Anopheles di
seluruh dunia terdapat kira-kira 2000 spesies, sedangkan yang dapat menularkan malaria kira-
kira 60 spesies. Di Indonesia, menurut pengamatan terakhir ditemukan 80 spesies Anopheles,
sedangkan yang menjadi vektor malaria adalah 22 spesies dengan tempat perindukan yang
berbeda-beda

Nyamuk Anopheles sp adalah nyamuk vektor penyakit malaria. Di dunia kurang lebih
terdapat 460 spesies yang sudah dikenali, 100 diantaranya mepunyai kemampuan menularkan
malaria dan 30-40 merupakan host dari parasite Plasmodium yang merupakan penyebab malaria
di daerah endemis penyakit malaria. Di Indonesia sendiri, terdapat 25 spesies nyamuk Anopheles
yang mampu menularkan penyakit Malaria. Nyamuk Anopheles mempunyai siklus hidup , yang
termasuk dalam metamorfosa sempurna. Yang berarti dalam siklus hidupnya terdapat stage/fase
pupa. Lama siklus hidup dipengaruhi kondisi lingkungan, misal : suhu, adanya zat
kimia/biologisdi tempat hidup. Siklus hidup nyamuk Anopheles secara umum adalah:

1. Telur. Setiap bertelur setiap nyamuk dewasa mampu menghasilkan 50-200 buah telur.
Telur langsung diletakkan di air dan terpisah (tidak bergabung menjadi satu). Telur ini
menetas dalam 2-3 hari (pada daerah beriklim dingin bisa menetas dalam 2-3 minggu).
2. Larva. Larva terbagi dalam 4 instar , dan salah satu ciri khas yang membedakan dengan
larva nyamuk yang lain adalah posisi larva saat istirahat adalah sejajar di dengan
permukaan perairan, karena mereka tidak mempunyai siphon (alat bantu pernafasan).
Lama hidup kurang lebih 7 hari, dan hidup dengan memakan algae,bakteri dan
mikroorganisme lainnya yang terdapat dipermukaan .

3. Pupa. (kepompong) Bentuk fase pupa adalah seperti koma, dan setelah beberapa hari
pada bagian dorsal terbelah sebagai tempat keluar nyamuk dewasa.

4. Dewasa. Nyamuk dewasa mempunyai proboscis yang berfungsi untuk menghisap darah
atau makanan lainnya (misal, nektar atau cairan lainnya sebagai sumber gula). Nyamuk
jantan bisa hidup sampai dengan seminggu, sedangkan nyamuk betina bisa mencapai
sebulan. Perkawinan terjadi setelah beberapa hari setelah menetas dan kebanyakan
perkawinan terjadi disekitar rawa (breeding place). Untuk membantu pematangan telur,
nyamuk menghisap darah, dan beristirahat sebelum bertelur. Salah satu ciri khas dari
nyamuk anopheles adalah pada saat posisi istirahat menungging.

Lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam transmisi malaria mulai dari
lingkungan fisik, biologik dan sosial budaya. Perkembangan nyamuk dipengaruhi faktor geografi
dan meterologi mulai dari suhu, kelembaban nisbi udara, curah hujan, ketinggian, angin, sinar
matahari dan arus air. Keberadaan hewan seperti ikan dapat menurunkan populasi nyamuk,
selain itu perilaku manusia terhaadap lingkungan justru yang memudahkan proses transmisi
malaria. Di Indonesia sendiri Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies Anopheles yang menjadi
vektor malaria yang sampai sekarang dikenal 4 jenis, yaitu :

1. plasmodium falciparum sebagai penyebab Malaria Tropika.

2. plasmodium vivaks sebagai penyebab penyakit Malaria Tertiana.

3. plasmodium malariae sebagai penyebab penyakit Malaria Quartana.

4. plasmodium ovale yang menyebabkan penyakit Malaria yang hampir serupa dengan
Malaria Tertiana.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan tentang hubungan iklim, kepadatan nyamuk, dan
kejadian malaria. Terdapat indikasi bahwa kelembapan udara akibat hujan dapat memberikan
dampak yang signifikan bagi pertumbuhan nyamuk Anopheles. Ini memicu peningkatan jumlah
penderita malaria. Kondisi iklim yang berubah akibat pemanasan global menyebabkan siklus
malaria menjadi sulit terdeteksi. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki iklim
tropis yang heterogen dan rentan terhadap dampak perubahan iklim regional dan global.
Perubahan iklim makro dan mikro dapat mempengaruhi penyebaran penyakit menular, termasuk
penyakit tular vektor nyamuk. Peningkatan kelembaban dan curah hujan berbanding lurus
dengan peningkatan kepadatan nyamuk, sedangkan suhu mempunyai batas optimum bagi
perkembangbiakan nyamuk antara 25-27oC (Epstein et al. 1998). Penelitian mengenai simulasi
matematis transmisi malaria yang dikaitkan dengan perubahan iklim sangat membantu deteksi
dini merebaknya kasus malaria (Martens 1997).