You are on page 1of 3

2.

Demam dan Lekositosis

Demam merupakan salah satu gejala klinis yang sering membuat seseorang datang ke
praktik dokter. Kondisi ini sering dikaitkan dengan keadaan infeksi. Infeksi umumnya
disebabkan oleh infeksi virus atau infeksi bakterial, terkadang infeksi jamur dan parasit.
Penentuan diagnosis infeksi bakteri akut sering sulit karena kemiripan gejala klinis dengan
infeksi virus akut ataupun peradangan noninfeksi, seperti trauma, reaksi penolakan organ donor,
reaksi autoimun, dan sebagainya.

Terapi memerlukan diagnosis. Diagnosis infeksi bakteri dapat ditegakkan secara pasti
dengan pemeriksaan kultur, sedangkan diagnosis pasti infeksi virus dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan kadar titer antibodi serum dan kadar antigen virus (viral load).

Pada praktik sehari-hari, kedua hal ini jarang dikerjakan karena hasil pemeriksaan
laboratorium cenderung lambat. Oleh karena itu, adanya suatu penanda yang dapat
menggambarkan adanya infeksi bakteri akut pada awal perjalanan penyakit dapat sangat
membantu mengarahkan rencana terapi, mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak rasional,
dan memperbaiki outcome jangka panjang.

PARAMETER LABORATORIUM

Sel Darah Putih/ Leukosit Pengukuran leukosit total dan diferensiasi biasa digunakan
pada pasien infeksi, neoplasma, alergi, atau imunosupresi. Hitung leukosit terdiri atas 2
komponen, yaitu total sel dalam 1 mm3 darah vena perifer dan hitung jenis (dierential count).
Sebanyak 75-90% total leukosit terdiri dari limfosit dan neutrofil. Peningkatan leukosit total
(leukositosis) mengindikasikan adanya infeksi, inflamasi, nekrosis jaringan, atau neoplasia
leukemik. Selain itu, trauma dan stres, baik emosional maupun fisik, dapat meningkatkan nilai
leukosit. Pada keadaan infeksi, khususnya sepsis, nilai leukosit biasanya akan sangat tinggi.
Fenomena ini disebut sebagai reaksi leukemoid dan akan membaik dengan cepat apabila infeksi
berhasil ditangani.

Lima tipe leukosit dapat dibedakan melalui pemeriksaan darah samar. Sel-sel ini adalah
neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil.
Leukosit dibagi menjadi granulosit dan non-granulosit. Granulosit terdiri dari neutrofil,
basofil, dan eosinofil; limfosit dan monosit termasuk dalam non-granulosit. Karena bentuknya
yang multilobi nuclei, neutrofil kadang disebut sebagai leukosit polimorfonuklear (PMN).
Granulosit yang paling dominan, yaitu neutrofil, diproduksi dalam 7-14 hari, bertahan dalam
sirkulasi selama 6 jam. Fungsi utama neutrofil adalah fagositosis (membunuh dan mencerna
mikroorganisme). Infeksi bakteri akut dan trauma memicu produksi neutrofil. Peningkatan
jumlah neutrofil ini bisa disebut sebagai “shift to the left” yang mengindikasikan adanya infeksi
bakterial akut. Basofil (sel mast) dan khususnya eosinofil berperan pada reaksi alergi. Sel-sel ini
mampu memfagositosis kompleks antigen antibodi. Setelah reaksi alergi menghilang, hitung
eosinofil akan berkurang. Eosinofil dan basofil tidak berespons dengan infeksi bakteri ataupun
viral. Infeksi parasit dapat menstimulasi produksi sel-sel ini.

Non-granulosit (sel mononuklear) termasuk limfosit dan monosit (termasuk histiosit).


Limfosit terdiri dari 2 tipe, yaitu sel T (timus) dan sel B (sumsum tulang). Sel T berperan
terutama pada reaksi imun tipe seluler, sedangkan sel B berperan pada imunitas humoral
(produksi antibodi). Sel T adalah sel pembunuh (killer cell), sel supressor, dan sel T4 helper.
Peningkatan hitung limfosit mengindikasikan adanya infeksi bakteri kronis atau infeksi viral
akut. Monosit adalah sel fagositik yang dapat melawan bakteri sama seperti neutrofil. Monosit
memproduksi interferon, yang merupakan imunostimulan endogen tubuh. Monosit dapat
diproduksi secara cepat dan bertahan lebih lama dibandingkan neutrofil.

Keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan nilai leukosit total (leukositosis) adalah:

 Infeksi: leukosit akan meningkat untuk memulai dan mempertahankan mekanisme


pertahanan tubuh untuk mengatasi infeksi. „
 Keganasan: Ca paru dapat mengakibatkan leukositosis.
 Trauma, stres, perdarahan: leukosit total di bawah pengaruh hormonal (epinefrin) „
 Inflamasi: pengenalan jaringan normal ataupun nekrotik yang dianggap benda asing,
sehingga meningkatkan respons leukosit. „
 Dehidrasi: dehidrasi menimbulkan keadaan stres pada tubuh, selain itu keadaan
hemokonsentrasi secara tidak langsung akan meningkatkan nilai leukosit. „
 Thyroid storm: peningkatan hormon tiroid dapat berkaitan dengan peningkatan leukosit.
 Steroid: glukokortikoid memicu produksi leukosit.