You are on page 1of 20

BAB I

STATUS PASIEN

I. Identitas
1. Nama : An. MR
2. Umur : 14 Tahun
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Alamat : Pondok Pesantren Tahtul Yaman, Seberang, jambi
II. Latar Belakang Sosio-Ekonomi-Demografi dan Lingkungan Keluarga
a. Status perkawinan : Belum Menikah
b. Jumlah Saudara : 3 orang
c. Status ekonomi keluarga : Cukup
d. Kondisi Tempat Tinggal :
Pasien tinggal di pondok pesantren. Bangunan pondok pesantren berdinding
semen, sebagian masih ada yang berdinding kayu, lantai keramik, kondisi
tempat tidur berupa satu aula yang didalamnya disusun kasur berderet untuk
pelajar isitirahat, tidak ada sekat pemisah antara satu sama lain, kondisi tempat
mandi cukup bersih, menggunakan air PDAM.

e. Kondisi Lingkungan Keluarga:
Pasien tinggal jauh dari orang tua dan keluarga. orang tua pasien
berdomisili di Kabupaten Sarolangun. Hubungan pasien dengan keluarga baik,
sering berkomunikasi via telpon, sesekali orang tua pasien mengunjungi ke
pondok pesantren.
III. Aspek psikologis di keluarga:
Hubungan dengan anggota keluarga lainnya baik.
IV. Anamnesa
a. Keluhan utama:
Timbul gelembung-gelembung kecil berisi cairan yang muncul di
seluruh tubuh, tangan, kaki, dan leher sejak ± 3 hari yang lalu.

1

b. Riwayat perjalanan penyakit
Pasien mengatakan awalnya ia demam ± 3 hari yang lalu, demam naik
turun, sudah minum obat tapi tidak ada perbaikan. Saat demam naik,muncul
bercak kemerahan yang tak lama kemudian menjadi gelembung berisi
cairan sebesar kacang hijau yang timbul lebih dari satu di daerah atas
telinga, lalu menjalar kebagian garis belakang kepala, wajah, leher, dada,
perut, punggung, kedua lengan dan kedua tungkai. Keluhan disertai dengan
rasa gatal, sakit kepala, sakit kepala berdenyut, badan terasa pegal, silau bila
melihat cahaya terang, perut terasa tidak enak. BAB dan BAK lancar.
Pasien mengatakan di pesantren banyak temannya juga mengalami hal yang
sama dengannya.
V. Riwayat penyakit dahulu/keluarga:
 Riwayat mengalami penyakit yang sama sebelumnya disangkal.
 Riwayat kontak dengan penderita cacar sejak satu minggu terakhir (teman
pasien di pondok pesantren)
VI. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum:
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB : 25 kg
Nadi : 86 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 37.5⁰C
Kepala : Normocephal
Mata : Conjungtiva anemis (-/-), injeksi konjuntiva (+/+)
THT : Dalam batas normal
Leher : Pembesaran KGB (-)

2

murmur (-) Abdomen:  Inspeksi : datar. regio abdomen. edema (-). wheezing -/- Jantung:  Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat  Palpasi : iktus kordis teraba di linea midclavicula sinistra 2 jari medial sela iga V  Perkusi : batas jantung . Kiri : ICS V 2 jari medial linea midclavicula sinistra  Auskultasi : S I-II regular. hepar dan lien tidak teraba. Thorak : Paru:  Inspeksi : Simetris kiri dan kanan  Palpasi : Fremitus kiri dan kanan sama  Perkusi : Sonor  Auskultasi : Vesikuler. gallop (-). regio nuchae. Kanan : Linea parasternalis dextra . rhonki -/-. Ekstermitas Akral hangat. regio lumbalis. Atas : ICS II kiri . venektasi (-). CRT < 2 detik Status Dermatologikus:  Regio : Ad Regio facialis. sianosis (-). shifting dullness (-)  Palpasi : Nyeri tekan (-). regio ekstremitas anterior et inferior bilateral 3 . regio thorakalis. sikatriks (-)  Auskultasi : BU (+) normal  Perkusi : Timpani.regio supraskapula.

ukuran miliar .8 = Varicella Without Complication) IX. diskret.  Intepretasi Lesi : vesikel.Mengindari kontak dengan kerabat selama beberapa hari untuk mencegah penularan. multipel. Preventif . 4 . VIII. diskret sebagian konfluen.Menjelaskan kepada pasien jika terdapat anggota keluarga lain mengalami keluhan yang sama untuk segera berobat b. VII. Manajemen a.Memberikan informasi kepada pasien mengenai penyakitnya dan cara pengobatannya .lentikuler.sebagian terdapat krusta kehitaman tidak mudah di lepas dari dasar. Diagnosa Kerja Varicella ( B01. Promotif: . Diagnosa Banding  Herpes Zooster X. daerah sekitar tidak ada kelainan.Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit varicella adalah penyakit menular dan menjelaskan cara penularan penyakit .Sebaiknya tetap berada dirumah atau istirahat dahulu selama ± 7 hari . bahan diambil dari kerokan dasar vesikel. Laboratorium Usulan pemeriksaan: Dapat dilakukan percobaan Tzanck dengan cara membuat sediaan hapusan yang diwarnai dengan giemsa.

.Jangan menggaruk dan memencet gelembung berisi cairan atau melepaskan keropeng karena akan dapat menimbulkan bekas dan infeksi . .Kompres dingin pada bagian lesi.Bedak Salisil 2% Per oral : .Mandi akan membersihkan tubuh dan mencegah infeksi bakteri. . di cuci dan dipotong-potong lalu direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc.Jika mengeringkan tubuh setelah mandi jangan menggunakan handuk yang kasar dan menggosok tubuh secara perlahan. tunggu dingin airnya di minum 2-3 kali sehari. Jika pecah kemungkinan untuk infeksi bakteri lebih besar . Rehabilitatif  Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengatur pola makan yang bergizi dan selalu menjaga kebersihan tubuh.Gunakan pakaian yang ringan dan nyaman seperti bahan kaos untuk menghindari gesekan ruam dan membuat ruam pecah. Farmakologi . 5 .Mandi dengan menggunakan air yang ditambahkan dengan larutan antiseptik. d. Kuratif Non Farmakologi .Paracetamol tab 500 mg 3X/ hari .Amoxicillin tab 500 mg 3X/ hari .Asiklovir tab 400 mg 4X/ hari .CTM tab 4 mg 1X/ Hari Tradisional Pemakaian Dalam  Ambil 30 gram temu lawak + 25 gram kencur + 15 gram jahe. c. disaring.

MR Pro : An. MR Umur : 14 tahun Umur : 14 tahun Alamat : Tahtul Yaman Alamat : Tahtul Yaman Resep tidak boleh ditukar tanpa sepengetahuan dokter Resep tidak boleh ditukar tanpa sepengetahuan dokter 6 .500/SIK/2018 Tanggal : 18 April 2018 Tanggal : 18 April 2018 Pro : An. ABDURRAHMAN SAYOETI RS.500/SIK/2018 SIP : No. Dinas Kesehatan Kota Jambi Dinas Kesehatan Kota Jambi RS. ABDURRAHMAN SAYOETI Dokter : Zuhriya Aryati Dokter : Zuhriya Aryati SIP : No.

ABDURRAHMAN SAYOETI Dokter : Zuhriya Aryati Dokter : Zuhriya Aryati SIP : No. MR Pro : An. MR Umur : 14 tahun Umur : 14 tahun Alamat : Tahtul Yaman Alamat : Tahtul Yaman Resep tidak boleh ditukar tanpa sepengetahuan dokter Resep tidak boleh ditukar tanpa sepengetahuan dokter 7 .500/SIK/2018 SIP : No. Dinas Kesehatan Kota Jambi Dinas Kesehatan Kota Jambi RS.500/SIK/2018 Tanggal : 18 April 2018 Tanggal : 18 April 2018 Pro : An. ABDURRAHMAN SAYOETI RS.

terjadi kontak dengan lesi cairan vesikel. Telah banyak Negara bagian yang mewajibkan vaksin ini diberikan sebagai syarat masuk sekolah.1.Epidemiologi Di negara barat kejadian varisela terutama meningkat pada musim dingin dan awal musim semi. percikan ludah. Zoster biasanya terjadi pada pasien dengan imunocompromised. terjadi lesi menyeluruh yang timbul setelah erupsi local. Varisela merupakan penyakit yang sangat menular. sedangkan di Indonesia virus menyerang pada musim peralihan antara musim panas ke musim hujan atau sebaliknya Namun varisela dapat menjadi penyakit musiman jika terjadi penularan dari seorang penderita yang tinggal di populasi padat. Individu dengan zoster juga dapat menyebarkan varisela. pustula. ataupun menyebar di dalam satu sekolah2.1 2. penyakit ini juga umum pada orang dewasa daripada anak-anak. Varisela menular melalui sekret saluran pernapasan. Varisela terutama menyerang anak-anak dibawah 10 tahun terbanyak usia 5-9 tahun. Vaksin Live Attenuated mulai diberikan secara rutin pada ank yang sehat diatas umur 1 tahun.1 Herpes Zoster disebabkan oleh reaktivasi dari virus Varicella Zooster yang oleh penderita varicella. Pada dewasa lebih sering diikuti nyeri pada kulit. Masa inkubasi 11-21 hari. insidensi varicella dan komplikasinya mulai menurun di Amerika Serikat. Pasien 8 . BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 75 % anak terjangkit setelah terjadi penularan. Setelah itu. Biasanya lebih dari satu syaraf yang terkena dan pada beberapa pasien dengan penyebaran hematogen.3 . dan secara transplasental. Definisi Varicella (cacar air) adalah penyakit infeksi yang umum yang biasanya terjadi pada anak-anak dan merupakan akibat dari infeksi primer Virus Varicella Zoster. Herpes Zooster ini ditandai dengan lesi unilateral terlokalisasi mirip dengan cacar air dan terdistribusi pada syaraf sensoris.2.

3.3. yang termasuk dalam kelompok Herpes Virus tipe.2. 2. Berbentuk suatu garis dengan berat molekul 100 juta dan disusun dari 162 isomer. Inti virus disebut capsid yang berebntuk kosahedral. Kedua penyakit ini memiliki manifestasi klinis yang berbeda.4.5. Virus ini berkapsul dengan diameter kira-kira 150-200 nm. VZV dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah penderita.4. Pada kebanyakan kasus virus dapat mengatasi pertahanan non-spesifik sehingga terjadi viremia sekunder.4. Virus ini dapat diinokulasikan dengan menggunakan biakan dari fibroblas paru embrio manusia kemudian dilihat di bawah mikroskop elektron. Patogenesis Setelah VZV masuk melaui saluran pernapasan atas.3. atau penderita sembuh dengan virus yang menjadi laten (tanpa manifestasi klinis) dalam ganglia sensoris dorsalis. Lapisan ini bersifat infeksius1.menjadi sangat infektif sekitar 24 – 48 jam sebelum lesi kulit timbul sampai lesi menjadi krusta biasanya sekitar 5 hari1. Infeksi mula-mula terjadi pada selaput lendir saluran pernapasan atas kemudian menyebar dan terjadi viremia primer. Pada kontak pertama dengan manusia menyebabkan penyakit varisela atau cacar air. dan berkumpul dalam monosit/makrofag. selama masa inkubasinya terjadi viremia primer. kemudian virus menyebar ke kulit dan mukosa dan bereplikasi di epidermis 9 . Pada viremia primer ini virus menyebar melalui peredaran darah dan sistem limfa ke hepar. atau setelah penderita berkontak dengan lesi kulit. VZV menyebabkan penyakit varisela dan herpes zooster. disana virus bereplikasi. terdiri dari protein dan DNA berantai ganda. 2.Etiologi Varisela disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV).3.4. Di dalam sel yang terinfeksi akan tampak adanya sel raksasa berinti banyak (multinucleated giant cell) dan adanya badan inklusi eosinofilik jernih (intranuclear eosinophilic inclusion bodies) 1. karena itu varisela dikatakan sebagai infeksi akut primer. Pada viremia sekunder virus berkumpul di dalam Limfosit T. Penderita dapat sembuh.5. jika kemudian terjadi reaktivasi maka virus akan menyebabkan penyakit Herpes Zoster1.

leher. ini disebut polimorf. b. Makula kemudian berubah menjadi papulla. terlihat seperti tetesan air mata/embun “tear drops”. Kemudian terjadi absorpsi dari cairan dan lesi mulai mengering dimulai dari bagian tengah dan akhirnya terbentuk krusta. dan malaise2.memberi gambaran sesuai dengan lesi varisela. Stadium erupsi 1-2 hari kemudian timbuh ruam-ruam kulit “dew drops on rose petals” tersebar pada wajah. dan krusta. Penyebarannya bersifat sentrifugal (dari pusat). dasar eritematous. nyeri kepala anoreksia. setelah masa inkubasi selesai. Permulaan bentuk lesi mungkin infeksi dari kaliper endotel pada lapisan papil dermis menyebar ke sel epitel dermis. saat ini timbul demam dan malaise1. menonjol dari permukaan kulit. vesikel. dan krusta dalam waktu yang bersamaan. vesikel. Bekasnya akan membentuk 10 . kemudian vesikel berubah menjadi besar dan keruh akibat sebukan sel radang polimorfonuklear lalu menjadi pustula. berdinding tipis.3. Individu akan merasakan demam yang tidak terlalu tinggi selama 1-3 hari. Erupsi ini disertai rasa gatal. Total lesi yang ditemukan dapat mencapai 50-500 buah. tidak umbilicated. jarang pada telapak tangan dan telapak kaki.3. Cairan dalam vesikel kecil mula-mula jernih. Vesikel akan berada pada lapisan sel dibawah kulit dan membentuk atap pada stratum korneum dan lusidum. stadium erupsi. bulat. sehingga varisella secara khas dalam perjalanan penyakitnya didapatkan bentuk papula.5. folikel kulit dan glandula sebasea. Stadium Prodormal Timbul 10-21 hari. Perubahan ini hanya berlangsung dalam 8-12 jam. mengigil. sedangkan dasarnya adalah lapisan yang lebih dalam gambaran vesikel khas. Manifestasi Klinis Manifestasi Klinis varisela terdiri atas 2 stadium yaitu stadium prodormal. kulit kepala dan secara cepat akan terdapat badan dan ekstremitas. pustula. 2. a. Ruam lebih jelas pada bagian badan yang tertutup.2. Krusta akan lepas dalam 1- 3 minggu tergantung pada dalamnya kelainan kulit.

vagina dan konjungtiva) tidak langsung membentuk krusta. kemudian berangsur- angsur hilang. faring. retardasi mental. maka 25 % dari neonatus yang dilahirkan akan memperliharkan gejala varisela kongenital pada waktu dilahirkan sampai berumur 5 hari. katarak dan defisit neurologis lainnya. maka penyembuhan kira-kira 7-10 hari terjadi tanpa meninggalkan jaringan parut. Horner sindrom.5°C) mungkin akan terbentuk jaringan parut1.4. obstruksi intestinal. Jika wanita hamil mendapatkan varisela dalam waktu 21 hari sebelum ia melahirkan. vesikel-vesikel akan pecah dan membentuk luka yang terbuka. Bila seorang wanita hamil mendapatkan varisela pada 4-5 hari sebelum ia melahirkan. hipoplasia tungkai. saluran cerna. kemudian sembuh dengan cepat. Wanita hamil dengan varisela pneumonia dapat menderita hipoksia dan gagal nafas yang dapat berakibat fatal bagi ibu maupun fetus3. mikrosefali.2.5. korioretinitis. Defisit neurologis yang mengenai system persarafan autonom dapat menimbulkan kelainan kontrol sphingter. biasanya varisela ringan sebab antibodi ibu yang sempat dihantarkan transplasental dalam bentuk IGg spesifik masih ada dalam tubuh neonatus sehingga jarang mengakibatkan kematian. walaupun lesi hyper-hipo pigmentasi mungkin menetap sampai beberapa bulan.7 tiap 1000 kelamilan). Karena lesi kulit terbatas terjadi pada jaringan epidermis dan tidak menembus membran basalis. trakea. laring. berat badan lahir rendah. mikropthalmia. Lesi-lesi pada membran mukosa (hidung. maka neonatusnya akan memperliharkan gejala verisela kongenital pada umur 5-19 hari Disini perjalanan varisela sering berat dan menyebabkan kematian pada 25-30 % karena mereka mendapatkan virus dalam jumlah yang banyak tanpa sempat mendapatkan antibodi yang dikirimkan transplasental. Sekitar 17 % anak yang dilahirkan dari wanita yang mendapat varisela pada 20 minggu pertama kehamilannya akan menderita kelainan bawaan berupa bekas luka dikulit (cutaneous scarr).3. Varisela yang menyerang wanita hamil sangat jarang (0. atrofi tungkai. cekungan dangkal berwarna merah muda. dapat terasa nyeri. saluran kemih. atrofi kortikal. 11 . kejang. Penyulit berupa infeksi sekunder dapat terjadi ditandai dengan demam yang berlanjut dengan suhu badan yang tinggi (39-40. kelumpuhan.

gerakan korea atetoid lengan dan tungkai. Batuk. scarlet fever. atau sepsis.2. sianosis. sehingga pada varisela penggunaan varisela harus dihindari.5 c. abses.5 b. atau bayi yang terkena varisela selama bulan awal kelahirannya mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita herpes zoster dibawah 2 tahun. Maguire (1985) melaporkan 1 kasus pada anak berusia 3 tahun dengan komplikasi ensefalitis menunjukkan gejala susah tidur. 19 hari setelah ruam timbul. nafsu makan menurun. muntah menetap. infeksi yang dapat terjadi diantaranya adalah: a. dan hemoptoe terjadi beberapa hari setelah timbulnya ruam. Infeksi sekunder dengan bakteri Infeksi bakteri sekunder biasanya terjadi akibat stafilokokus. mual. dan kehamilan. Ensefalitis Komplikasi ini tersering karena adanya gangguan imunitas. Seorang anak yang ibunya mendapat varisella selama masa kehamilan. Reye sindrom terutama terjadi pada pasien yang menggunakan salisilat. fasiitis. SGPT serta ammonia. Reye sindrom Letargi. Ronki basah. Stafilokokus dapat muncul sebagai impetigo. iritabel dan sakit kepala.2. biasanya timbul pada hari 3-8 setelah timbulnya ruam. takipneu. sesak napas.6.1. Varisela Pneumonia Varisela Pneumonia terutama terjadi pada penderita immunokompromis.1 12 . Ditandai dengan panas tinggi.5 d. Dijumpai 1 pada 1000 kasus varisela dan memberikan gejala ataksia serebelar.Komplikasi Beberapa komplikasi dapat terjadi pada infeksi varisela. erisipelas furunkel. Pada pemeriksaan radiologi didapatkan gambaran noduler yang radio-opak pada kedua paru1. hiperaktif. anak tampak bingung dan perubahan sensoris menandakan terjadinya Reye sindrom atau ensefalitis.3. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan SGOT. selulitis.4 2.

Terapi varisela biasanya ringan dan dapat sembuh sendiri. Terapi dengan asiklovir harus dimulai pada 3 hari setelah onset zoster. Jika terjadi perdarahan. bayi baru lahir. asiklovir telah menunjukaan efisiensi dalam menurunkan kejadian diseminata. Asiklovir yang diberikan 1-2 hari setelah timbulnya ruam terbukti dapat berguna untuk menurunkan panas dan menghambat timbulnya lesi varisela. Haemorragic varisela Terutama disebabkan oleh autoimun trombositopenia. Penggunaan kortikosteriod tidak dianjurkan. Lotio calamine dapat diberikan pada lesi kulit lokal. keganasan. baik untuk mengobati varisela maupun herpes zoster. sebaiknya dapat diberikan obat anti virus. Karena VZV dapat menyebabkan kerusakan langsung pada pembuluh darah. tetapi haemoragic varisela dapat menyebabkan idiopatik koagulasi intravaskuler diseminata (purpura fulminan). Kuku sebaiknya dipotong dan dibersihkan agar tidak terjadi infeksi sekunder saat anak menggaruk lesi karena merasa gatal. dan mielitis dapat diberikan obat anti virus. Pemberian 13 . dan untuk menghilangkan gatal diberikan antihistamin. dapat diatasi sesuai dengan hasil pemeriksaan sistem pembekuan dan pemeriksaan sumsum tulang.2 Obat anti Varisela Zooster Virus yang lazim diberikan adalah asiklovir. ensefalitis. Pada pasien dengan immunosupresi. Jika terjadi infeksi sekunder. Pada pasien dengan Herpes Zoster dengan komplikasi post herpetic neuralgia. maka pada varisela fulminan saat vesikel baru timbul.5 2. dan penderita dengan immunosupresan oleh obat-obat sitostatik atau kortikosteroid. antibiotik dapat diberikan. Pada pasien dengan penyulit neurologis seperti ataksia serebelar.2. asiklovir hanya sedikit memiliki efek. sindrom nefrotik. radioterapi mendapatkan obat antivirus secepat mungkin. penyakit kolagen.6 Pasien dengan immunodefisiensi seperti pada leukemia. meningoensefalitis. Penggunaan salisilat sebaiknya dihindari karena berhubungan dengan komplikasi Sindroma Reye. Varisela terlihat kurang suseptibel dengan pengobatan asiklovir.7.

Dosis parenteral ini terutama diberikan pada anak immunokompromis yang terkena herpes zoster. Pada usia lebih dari 12 tahun dapat diberikan 4 mg 3 kali sehari. Obat ini memiliki sedasi ringan. Asiklovir oral umumnya digunakan untuk anak-anak dengan status imun yang baik. 2. Klorfeniramin maleate (CTM) merupakan golongan Alkilamin.5. Kelompok ini dibedakan melalui adanya efek sedatif kuat pada kebanyakan obat generasi pertama. setiap 8 jam selama 5 hari. Asiklovir oral dengan dosis 80 mg/KgBB/hari dibagi dalam 4 dosis. terbaik digunakan 1-2 hari sebelum timbulnya ruam kulit. anti H1 generasi pertama. Obat generasi pertama dengan cepat masuk ke susunan saraf pusat.v. dan daya perlindungan vaksin hanya selama 10-12 tahun. Dosis pemberian pada anak usia 2-6 tahun adalah 1 mg 3 kali sehari.asiklovir tdak dianjurkan untuk anak-anak berusia dibawah 12 tahun. Selain itu Valacylovir 500 mg setiap 8 jam dan Fanciclovir 1 gr/hr dalam 3 dosis termasuk golongan antiviral yang lebih baik absorpsinya. vaksin varisela semula berasal dari virus hidup yang telah dilemahkan (live attenuated). maka bila vaksin diberikan pada anak dengan usia kurang dari 12 tahun 14 . Antagonis H1 mudah diserap sesudah pemberian oral. mengingat harga vaksin varisela yang cukup mahal.8. Dosis asiklovir yang umum diberikan adalah 500 mg/m2. Ini merupakan kerja histamin merangsang reseptor H1 di ujung saraf sensoris.6 Nyeri dan gatal oleh histamin disebabkan oleh pengaruhnya pada ujung saraf yang menimbulkan refleks akson. Antagonis H1 dapat dibagi menjadi obat generasi pertama dan generasi kedua. puncak konsentrasi dalam darah setelah 1-2 jam. Efek sedatif yang lebih ringan pada penyekat H1 generasi kedua sebagian diakibatkan karena distribusi yang kurang komplit pada susunan saraf pusat. i. Obat generasi pertama juga cenderung memblokade reseptor otonom. sehingga cakupan imunisasinya belum cukup luas. Pada anak 6-12 tahun adalah 2 mg 3 kali sehari. Pencegahan Vaksinasi Vaksin varisela dapat juga berguna untuk pencegahan jika diberikan 3-5 hari setelah kontak.

wanita hamil yang belum pernah terkena varisela. mengi. dan bengkak pada tempat dimana vaksin disuntikkan (karena anak bergerak atau terkejut) yang disebabkan oleh panas (1:1000) 3.5 Asiklovir sebagai postexposure prophylaxis sangat efektif jika diberikan 8-9 hari setelah kontak selama 7 hari.5 VZIG (Varicella-Zoster Immune Globulin). Sedang  Nyeri. pucat atau radang tenggorokan. panas tinggi. 2. vaksinasi varisela sebaiknya diberikan sebagai imunisasi wajib pada anak-anak dan orang dewasa yang beresiko tinggi untuk terkena varisela. serak. dan pada pasien yang jika terkena akan menderita penyakit yang lebih berat. bengkak saat vaksinasi dilakukan (1:5)  Demam (1:10)  Ruam ringan yang menetap sampai 1 bulan setelah vaksinasi (1:20). Pasien ini dapat menularkan varisela pada orang-orang yang dekat dengannya. dan perubahan perilaku. ini menyebabkan bertambahnya jumlah orang dewasa yang menderita varisela. Termasuk didalamnya anak-anak dengan immunokompromis.dapat mengubah epidemiologi penyakit. Karena varisela pada ibu hamil cenderung menjadi berat dan beresiko terhadap anaknya maka imunisasi varisela dianjurkan untuk diberikan saat anak berusia 12 tahun. sebaiknya dipertimbangkan untuk diberikan pada pasien yang beresiko tinggi untuk terkena. Berat  Pneumonia (sangat jarang)  Reaksi serebral Umumnya reaksi allergi terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam setelah penyuntikan. Ringan  Nyeri. bayi- bayi baru lahir dari ibu yang terkena varisela kurang dari 5 hari sebelum kelahirannya 15 . Vaksinasi varisela memiliki efek samping diantaranya adalah: 1. takikardi. pusing kepala. namun hal ini jarang terjadi. sehingga saat dewasa anak yang telah divaksinasi ini akan menderita varisela. Rekasi allergi ini seperti tanda-tanda sulit sesak napas.

namun VZIG ini dapat memperpanjang masa inkubasi 28 hari menjadi 35 hari. 20-30 kg=375 IU. 16 . VZIG ini tidak terbukti dapat benar-benar mencegah terjadinya penyakit.sampai 2 hari setelah kelahirannya. Saat infeksi telah terjadi. 10-20 kg=250 IU. sekamar di rumah sakit.3. Dosis VZIG 0-10 kg=125 IU.5. penggunaan immunoglobulin ini tidak terbukti dapat mencegah memburuknya penyakit atau disseminata. 30-40 kg=500 IU. Secara individual. > 40 k5=625 IU. Immunoglobulin tidak bermanfaat digunakan sebagai terapi ataupun pencegahan rekurensi. bayi prematur berusia lebih dari 28 minggu dari ibu tanpa riwayat varisela. atau bayi kurang dari 28 minggu dengan riwayat ibu selama kehamilan memiliki kontak erat dengan penderita varisela atau zoster. Yang termasuk kontak erat dengan penderita varisela misalnya jika ibu tersebut tinggal serumah. Immunoglobulin dosis tinggi dianjurkan pada 3-4 hari setelah kontak.

dimana mereka saling kontak satu sama lain dan masih berada di dalam satu kamar. d. Di pesantren pasien tidur bergabung dengan teman. Hubungan kausal antara beberapa masalah dengan diagnosis Kausal penyebab dari masalah timbulnya suatu penyakit varicella pada pasien ini adalah riwayat kontak dengan penderita varicella. Dari kondisi lingkungan tempat tinggal disini tidak ada hubungan dengan sakit yang dialami pasien. Terdapat genangan air di sekitar lingkungan pesantren. c. 17 . Di tempat pasien. Hubungan pasien dengan keluarga baik. BAB III ANALISIS KASUS ANALISIS PASIEN SECARA HOLISTIK a. sering berkontak via telpon.teman lelaki yang lainnya didalam aula besar dengan beralaskan kasur ukuran single bed yang berjejer di atas lantai keramik. Hampir sekitar 20 orang temannya mengalami cacar. Analisis untuk menghindari faktor memperberat dan penularan penyakit Untuk menghindari faktor memperberat dan penularan terjadinya penyakit varicella adalah dengan cara:  Menghindari kontak dengan penderita varicella  Bila gatal sebaiknya jangan menggaruk terlalu keras karena dapat menyebabkan luka dan resiko infeksi  Sebaiknya tetap berada dirumah atau istirahat dahulu selama ± 7 hari. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga Pasien tinggal bersama teman pesantren. Di dalam hubungan diagnosis dan aspek psikologis disini tidak ada hubungan yang memperberat penyakit akibat dari faktor psikologi pasien. Pasien jauh dari orang tua dan keluarganya yang berdomisili di Kabupaten Sarlolangun. banyak teman. b. Hubungan diagnosis dengan keadaan Tempat Tinggal: Pasien tinggal di pesantren dengan dinding semen dan atap seng.temannya yang mengalami hal sama dengan pasien.

Menjelaskan kepada pasien bahwa varicella adalah penyakit menular dan menjelaskan cara penularannya . sebaiknya tidak menggaruk atau memecahkan gelembung tersebut. .Anjuran Promosi Kesehtan Penting yang Dapar Memberikan Semangat/ Mempercepat Penyembuhan Pasien Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit varicella berupa gelembung berisi cairan. sedangkan bila penderita varicella sembuh atau dalam bentuk laten dan kemudian terjadi serangan kembali maka yang akan muncul adalah Herpes Zoster. Pada kontak pertama dengan manusia menyebabkan penyakit varisela atau cacar air. VZV ini dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah penderita. setelah mengering bekas cacar air tadi akan menghilangkan bekas yang dalam. Reye sindrom. Menjelaskan kepada pasien jika terdapat anggota keluarga lain mengalami keluhan yang sama untuk segera berobat. Ensefalitis. Kondisi ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada bekas luka garukan tadi. varisela Pneumonia. Rencana Edukasi tentang Penyakit Kepada Pasien dan Keluarga Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit varicella adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yaitu Varicella atau biasa disebut Varicella Zooster Virus (VZV). sehingga bila ada anggota keluarga atau orang terdekat yang mengalami hal ini. Penyakit ini sangat gampang menular. Terlebih lagi jika penderita adalah dewasa atau dewasa muda. Anjuran.5. Jelaskan kepada pasien bahwa varisela dapat menyebabkan kerusakan langsung pada pembuluh darah dan dapat menyebabkan komplikasi seperti Infeksi sekunder dengan bakteri.6 18 . jika dipecahkan akan terbentuk krusta yang lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. bekas cacar air akan lebih sulit menghilang. sebaiknya tidak kontak dengan orang yang sehat untuk menghindari transmisi penyakit.Rencana Promosi dan Pendidikan Kesehatan Kepada Pasien dan Keluarga . Menerangkan bahwa pentingnya menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan tempat tinggal.2.

Varicella Dalam: Ilmu Penyakit Kulit. Mitaart AH. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit& Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya RS. Penatalaksanaan Klinik Herpes Zoster dan Varicella. Palembang : 2011. Hartowigno. Penyakit Virus Dalam: Djuanda A. Dalam: Kaita Selekta Terapi Dermatologik. 19 . Lndow RK. EGC. Soenarto. 2003: 45-53 5. Jakarta. Martodiharjo S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Edisi ke-6. 2010. editor. 1990: 127-129 3. 2005: 174-184 6. 10 Besar Kelompok Penyakit Kulit. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Penyakit Kulit karena Virus. Infeksi Virus dan Infeksi Seperti Infeksi Virus. Berkala Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Handoko RP. Surabaya. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Harahap M. Jakarta. dkk. 107-115 2. Moh. Jakarta: EGC. 2004: 31-61 4.Hosein. Gramedia. DAFTAR PUSTAKA 1.

LAMPIRAN 20 .