You are on page 1of 15

Model Identifikasi Karakteristik Permasalahan

Kawasan Permukiman Kumuh di wilayah Perkotaan
(Studi Kasus : Permukiman Lette dan Pampang, Kota Makassar)

A Model to Identify the Problem Characteristic
of Slum Settlement in Urban Area
(Case Study : Lette and Pampang Settlements, Makassar City)

Arvian Zanuardi1 dan Reinita Afif Aulia2

Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi, Badan Litbang,
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Jl. Pattimura No. 20, Kebayoran Baru - Jakarta Selatan, 12110
1Email : arvian_arch@yahoo.com
2Email : reinita.aulia@live.com

ABSTRACT
The complexity of slum settlement problem demands an effective planning with problem identification in previous process.
This study aimed to develop problem characteristic identification model for slum in urban area by index scoring method.
The case study are two slum area in Makassar City, Lette and Pampang. Problems statement include instrumen
development, scoring formulation, model simulation, validation and model utilization. The analysis method use content
and category development, modelling, simulation and comparation analysis. The scope of analysis is limited to physical
settlement infrastructure like building, road, drainage, water service, waste management, garbage management, and fire
protection. Instrument is developed from long-list of potential problems and resulting the map of problem characteristic
visualized in numerical indexes and spider graphic. Model simulation shows the index score of 56,74 for Lette and 55,21 for
Pampang. The fire protection becomes the dominant problem for both area. The other problems in Lette are road and
garbage management. While in Pampang, almost all asphect have same problem level. Model validation done by
comparation between the analysis result with the Profil Kumuh Kota Makassar 2014. This model can be used to prioritize
the handling programs so that the planning become faster and more precise.

Keywords : identification model, problem characteristic, slum settlement, modelling and simulation, handling prioritazion

ABSTRAK
Kompleksitas permasalahan permukiman kumuh menuntut perencanaan yang efektif yang didahului oleh proses
identifikasi masalah. Tujuan studi ini adalah mengembangkan model identifikasi karakteristik permasalahan di
permukiman kumuh perkotaan dengan metode penilaian indeks. Obyek studi kasus adalah dua permukiman kumuh di
Kota Makassar, yakni Lette dan Pampang. Rumusan masalah meliputi pembangunan instrumen identifikasi, formulasi
penilaian dan simulasi model, serta validasi dan pemanfaatan model. Metode analisis antara lain kodifikasi dan
kategorisasi, modelling, simulasi dan analisa komparasi. Lingkup analisis dibatasi pada sarana prasarana fisik
lingkungan meliputi bangunan, jalan lingkungan, drainase, pelayanan air minum, pengelolaan air limbah, pengelolaan
sampah, dan protekti kebakaran. Instrumen dibangun dari long-list potensi masalah dan hasil analisa berupa peta
karakteristik permasalahan yang divisualisasikan dalam bentuk indeks numerik dan grafik spider. Simulasi model
menunjukkan nilai indeks 56,74 untuk Lette dan 55,21 untuk Pampang. Aspek proteksi kebakaran menjadi masalah
dominan di kedua permukiman. Masalah lain di Lette adalah jalan lingkungan dan pengelolaan sampah. Sedangkan
untuk Pampang, hampir seluruh sarpras memiliki tingkat masalah yang sama. Validasi model dilakukan dengan
pembandingan hasil analisa dengan Profil Kumuh Kota Makassar 2014. Pemanfaatan model adalah untuk penentuan
prioritas penanganan sehingga didapatkan perencanaan yang lebih cepat dan akurat.

Kata Kunci : model identifikasi, karakteristik permasalahan, permukiman kumuh, modelling dan simulasi, prioritas
penanganan

1

miskin dan berpenghasilan rendah. antara lain : identifikasi tersebut masih potensial untuk terganggunya fungsi sungai. saluran drainase. demoralisasi tinggi. dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. daya Program identifikasi kawasan permukiman beli rendah. 2 . Pemukiman kumuh merupakan daerah Sebagai langkah awal perwujudan kota yang kumuh dan tidak beraturan di daerah tanpa permukiman kumuh. Dengan penilaian indeks. RPJPN 2005-2024. meninjau kekumuhan suatu permukiman yang Dengan dasar bahwasanya pendekatan ditinjau dari beberapa aspek fisik. emosi warga tidak luasan kawasan kumuh yang perlu ditangani. Faktor banyak nilai tambah dalam aplikasi/terapannya. Sebagian masyarakat terpaksa komparasi nilai di antara obyek penilaian menjalankan aktivitas di lingkungan yang tidak (intern atau pun antar kawasan permukiman layak akibat desakan kebutuhan hidup di kumuh). Pemukiman kumuh dicirikan dengan Cipta Karya (Kementerian Pekerjaan Umum) banyak dihuni pengangguran. 2013). kotor. ekonomi. Pemerintah menetapkan “kota 2) mekanisme penilaian indeks dan simulasi tanpa permukiman kumuh (cities without slum) model. bersih. pada tahun 2020” sebagai salah satu target 3) validasi dan pemanfaatan model. upaya peningkatan kualitas lingkungan Hasil penelitian ini diharapkan dapat perumahan dan permukiman (Akhmad.PENDAHULUAN yakni dengan metode scoring indeks. karakteristik permasalahan di Munculnya permukiman kumuh adalah kawasan permukiman kumuh dapat diketahui dampak perkembangan kota dan laju urbanisasi sekaligus dengan tingkat kondisinya. sosial. dkk (2015) mencoba karakteristik permasalahan kumuh yang ada. Seiring dengan tumbuh-kembang dapat menentukan prioritas penanganan dalam kota yang semakin pesat. cenderung beragam sehingga diperlukan Pertimbangan pemilihan lokasi studi kasus perencanaan efektif yang diawali dengan adalah bahwa keduanya merupakan prioritas kegiatan identifikasi. warganya adalah kaum migran dari secara nasional meliputi 511 kabupaten/kota desa. serta ruang terbuka. 2015). bangunan rumah kebanyakan gubuk-gubuk dan Hasil identifikasi berupa profil kumuh yang rumah semi permanen (Malau. tidak adanya jarak dikembangkan. meluas. yakni Permukiman Lette Permasalahan pada permukiman kumuh dan Permukiman Pampang. menjadi bahan masukan dalam perencanaan Identifikasi menjadi dasar menemukenali program penanganan kumuh agar dapat karakteristik kawasan dari segi kondisi fisik. 2007). penetapan SK Kumuh di masing-masing wilayah. Kota Makassar. Melalui identifikasi. maka studi ini dilakukan. stabil. budaya serta dampak dari kondisi-kondisi tersebut. sebagai studi kasus. yang tidak diimbangi dengan terpenuhinya Manfaat lain yang didapatkan dengan ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan aplikasi indeks adalah dapat dilakukannya permukiman. tidak berfungsinya identifikasi yang berbasiskan penilaian indeks. tingkat pendekatan identifikasi permasalahan kumuh kemiskinan. yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat Tujuan studi ini adalah mengembangkan adalah tingkat kepadatan penduduk. kebanyakan untuk mendapatkan pemutakhiran data dan bekerja sebagai pekerja kasar dan serabutan. KAJIAN PUSTAKA bentuk penanganan pada setiap kawasan Karakteristik Permukiman Kumuh permukiman kumuh menjadi mudah untuk ditentukan (Pratama. penanganan kumuh tampaknya sulit dilakukan akibat kompleksitas Dalam studi ini dipilih 2 (dua) kawasan masalah dan variasi tipologi yang memerlukan permukiman kumuh di wilayah perkotaan pendekatan secara spesifik. Dengan cara ini pengambil kebijakan perkotaan. hunian yang tidak sehat dan Peneliti mencoba merumuskan metode tidak nyaman ditinggali. sebaran. Namun. Oleh karena itu. fasilitas publik tidak memadai. sebaran permukiman hal target masalah untuk ditangani maupun kumuh terus meningkat dan areanya semakin target lokasi yang perlu didahulukan. tingkat kejahatan melaksanakan pengumpulan data baseline tinggi. antar bangunan. Sasaran kegiatan program penanganan kumuh dan berada di identifikasi adalah dapat diprioritaskannya wilayah pusat perkotaan Makassar. luasan dan Nursyamsiyah. Direktorat Jenderal perkotaan. sampah dan limbah tidak Model indeks dewasa ini menjadi sangat populer dikelola dengan baik. rumusan masalah yang Trendline peningkatan kawasan kumuh akan dipecahkan dalam studi ini antara lain : ini mendasari pentingnya upaya pengendalian 1) pembangunan instrumen identifikasi. memuat jumlah. jorok. legalitas tanah dan pelayanan air dengan indikator penilaian yang lebih presisif. serta kurang dan tidak digunakan dan dianggap mampu memberikan terpeliharanya sarana dan prasarana. dan penanganan. tidak sehat dan tidak kumuh tahun 2014 dilaksanakan menyeluruh beraturan.

dan ketika kategori utama saling dibandingkan Membangun Model dan Simulasi dan dikonsolidasi dengan cara tertentu. optimasi dan 2015). 2009). Data dapat terdiri 7) proteksi kebakaran. konvensional tidak dapat memberi informasi 4) evaluasi dengan observasi lapangan yang akurat (Kolawole. Kategori strategis lokasi. kependudukan. foto. pengukuran lapangan. sarpras lingkungan dan aspek dalam sebuah model dan simulasi (Nicholas. yakni perumusan masalah. maka hasilnya akan sangat bagus dan memperhatikan aspek fisik. Dari apabila dilihat secara fisik. exploratif dan interpretatif model adalah mengestimasi pengaruh dari melalui tinjauan lokasi. Persamaan model 3) identifikasi karakteristik melalui kuesioner dapat diterapkan untuk membentuk atau secara dan clustering untuk pengelompokan bebas menyesuaikan fenomena fisik. meski di lain sisi karakteristik dasar kumuh yang beragam. e-mail korespondensi. mewakili keseluruhan. terhadap faktor ekonomi dan kemiskinan. Terdapat tiga pendekatan yang paling konseptual. 2013). 2012). serta rehabilitasi lingkungan theory. video. Hal ini kemiripan karakteristik kekumuhannya digunakan ketika pendekatan perhitungan (Barbara dan Ema. ekonomi. dan lain permukiman kumuh yang digunakan oleh Ditjen sebagainya. pengumpulan data. Kode kemudian dikodifikasi dan Cipta Karya. pengembangan konsep dan kategori disebut 2) jalan lingkungan. kebersihan menjadi bagian dari pendekatan geounded lingkungan. data tulis maupun data visual. Simulasi 1) analisa scoring kondisi eksisting pada memungkinkan reproduksi dan pembelajaran kriteria kelayakan bangunan. bangunan. mungkin berisi cluster data dalam sub-kategori. Budiasih (2014) menyatakan bahwa dan masyarakat (Suparto. drainase. peninjauan permukiman kumuh kerangka analisis sempurna memodelkan suatu perlu dilakukan secara mendalam dengan kasus. 5) pengelolaan air limbah. Dalam kajiannya tentang identifikasi masalah atau menvalidasi solusi. masing-masing ketiganya. 2014). dokumen. Oleh juga menghadapi kesangsian paling tinggi. 2013). dasar model quick count identifikasi kawasan website. dari transkrip. budaya. Fitria dan Rulli (2014) menyatakan bahwa atau simulasi dan analisis dengan model. ataupun teoritis (Saldana. literatur. pendekatan kodifikasi dan kategorisasi yang sanitasi. kajian Kumuh. realitas data akan mulai membentuk tematik. dimana dampak dari setiap sarana dan prasarana. konsep kategori group. penelitian. Bagian penting dalam membangun 2) deskriptif. sangat penting dalam desain. Kriteria tersebut sebelumnya menjadi jurnal. prasarana. simulasi perlu digunakan untuk kumuh seperti : memvalidasi model secara analitis. ekonomi. kependudukan dan sosial. yakni dengan karakteristik lingkungan permukiman kumuh. dijelaskan adanya 7 (tujuh) kriteria teoritis. dari suatu sistem yang kompleks (Bazzi. parameter yang berbeda yang digambarkan bangunan. simulasi pemodelan merupakan tingkat RW (Rukun Warga) memiliki metode yang paling powerful. Memodelkan Beberapa pendekatan yang digunakan suatu realitas adalah pekerjaan yang sulit. metode grounded theory merupakan riset kualitatif yang dimulai dari data untuk mencapai Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan suatu tujuan dan bukan dimulai dari teori atau Umum dan Perumahan Rakyat Nomor pun untuk menguji teori. sosial. 1987 dalam Kolawole. atau kalimat pendek yang secara simbolis dapat 4) drainase lingkungan. Kode merupakan kata 3) penyediaan air minum. dan atau menjadi atribut dari 6) pengelolaan persampahan. dengan istilah “coding”. RTH. tingkat kepadatan kawasan dan legalitas Modelling dan simulasi menjadi alat yang kepemilikan lahan (Nursyahbani dan Bitta. Pertimbangan lain dalam proses dikategorisasikan secara sistematis untuk identifikasi permasalahan kumuh adalah nilai membuat suatu sistem atau klasifikasi. sering digunakan ilmuan untuk menginvestigasi 3 . Jika karena itu. catatan lapangan. 2012). menangkap esensi. meliputi : Pengumpulan unit data kualitatif dalam 1) kondisi bangunan gedung. Prosedur metode ini 02/PRT/M/2016 tentang Peningkatan Kualitas meliputi 5 (lima) tahap yang dapat terjadi secara terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman simultan. kondisi jalan. sosial-ekonomi penduduk (Amri. serta bahaya (hazard). dan umum identifikasi permasalahan kekumuhan penyimpulan. artefak. parameter dapat mudah diperiksa. meyakinkan. analisis data. Model dalam studi ini dibangun dengan jumlah penduduk. 2014). bersifat menonjol. Oleh dalam identifikasi karakteristik permukiman karena itu. hasil observasi.

Proses kodifikasi dan kategorisasi untuk membangun model teori Sumber : The Coding Manual for Qualitative Researchers (Saldana. Tahapan terakhir kategorisasi adalah selective coding yang digunakan untuk mendefinisikan kategori inti yang dapat mewakili masalah utama atau masalah yang dihadapi peneliti (Bulawa. 2009) dengan kategori kumuh berat yang terletak di Proses kodifikasi dilanjutkan dengan pusat kota Makassar. yakni situasi kemunculan fenomena. serta konsekuensi dari pengambilan tindakan. Pendekatan kualitatif sebagai pengembangan konsep model melalui proses kodifikasi dan kategorisasi dari permasalahan permukiman kumuh. kategorisasi yang dilakukan melalui pendekatan axial coding dan selective coding. Gambar 2. Pemilihan Obyek Studi Kasus Untuk kebutuhan analisis dan simulasi uji digunakan 2 (dua) lokasi studi kasus yang mewakili permasalahan permukiman kumuh di wilayah perkotaan. METODE PENELITIAN Studi ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif didukung kuantitatif. reaksi orang terhadap situasi. Hasil dari pendekatan kualitatif menjadi dasar pengembangan model instrumen penilaian dan simulasi yang dilakukan secara kuantitatif. Pada proses kategorisasi ini peneliti perlu mempertimbangkan tiga aspek penting. Tujuan axial coding adalah menstrukturkan kembali data- data dengan mengaitkan kategori dan sub- kategori. 2014). yakni Lette dan Pampang. Peta dan citra kawasan Lette Keduanya merupakan kawasan permukiman Sumber : Profil Kumuh Kota Makassar. 2014 4 . Pendekatan kualitatif adalah penangkapan realitas dan fenonema masalah dengan mempertimbangkan teori/konsep yang telah dikaji. Gambar 1.

Lokasi : Pampang.Tipologi : Kumuh perkotaan ke wilayah studi kasus.Penduduk : 830 jiwa dalam merumuskan profil kumuh kawasan.Titik kumuh : RW 01/05 permasalahan kumuh dirumuskan dalam bentuk instrumen observasi yang menghasilkan nilai indeks. karena kedua lebih dititikberatkan pada wilayah RW yang kawasan permukiman berada di dalamnya. sebagai langkah awal dilakukan pengumpulan open coding. penyediaan air minum. Seluruh kode kemudian melalui tahapan kodifikasi dan kategorisasi.51 Ha Metode Perumusan dan Simulasi Model .Jumlah KK : 315 KK Model identifikasi karakteristik . Sedangkan selective coding lebih difokuskan untuk pemeriksaan saturasi data (validasi kelengkapan dan kebenaran struktur). Berdasarkan landasar teori. Lingkup aspek yang diobservasi merujuk pada PermenPUPR Nomor : 02/PRT/M/2016 yang memuat kriteria identifikasi permasalahan kumuh meliputi bangunan. Karakteristik Kawasan Kumuh di 2015.d Desember 5 . Sedangkan untuk identifikasi dan untuk studi ini digunakan pembatasan wilayah pengumpulan koding permasalahan kumuh Kelurahan sebagai batas populasi. drainase. pengelolaan limpah. Namun.Luas kumuh : + 24. menjadi titik kumuh saja. Setiap Gambar 3. Model sebagai . Dikarenakan identifikasi telah dibatasi pada tujuh kriteria permasalahan sebagai variabel pengukuran.Luas kumuh : + 3.Lokasi : Lette. Proses pengumpulan data didukung oleh Permukiman Lette : surveyor dari institusi akademik setempat guna .Penduduk : 1. Simulasi merupakan tahap aplikasi model instrumen terhadap 2 obyek studi kasus terpilih. permukiman. 2014 menghasilkan satu nilai indeks yang dapat menggambarkan karakteristik permasalahan Karakteristik Kawasan Kumuh di kumuh. jalan lingkungan. Metode pelaksanaan simulasi adalah dengan observasi lapangan dan wawancara untuk pengisian parameter pengukuran. pengelolaan sampah dan proteksi kebakaran. Proses axial coding menghasilkan penggolongan data-data pada kategori dan subkategori. Peta dan citra kawasan Pampang instrument diterapkan pada unit analisis dan Sumber : Profil Kumuh Kota Makassar. .575 jiwa . Permukiman Pampang : Validasi model dilakukan dengan metode .Titik kumuh : RW 01/02/06/07/08 Unit Analisis dan Populasi Pengamatan lapangan dan pengumpulan Obyek studi kasus berupa kawasan data untuk simulasi model dilakukan secara permukiman kumuh sehingga sifatnya tidak menyeluruh terhadap kedua kawasan dibatasi wilayah administrasi tertentu. Mariso memudahkan proses komunikasi dan asimilasi .Tipologi : Kumuh tepi air kompetitor adalah metode identifikasi eksisting . .59 Ha yang masih digunakan oleh Ditjen Cipta Karya .Jumlah KK : 166 KK . Panakkukang komparasi atau pembandingan. Open coding diartikan sebagai segala macam bentuk permasalahan pada sarana- prasarana (sarpras) lingkungan yang dapat ditemukan di kawasan permukiman kumuh. Kajian teori menyatakan keragaman Studi dan observasi lapangan dilakukan karakteristik permasalahan kumuh terlihat selama 6 (enam) bulan pada Juli s. sehingga dihasilkan data lengkap dan terstruktur sebagai dasar pembuatan instrumen. maka dalam proses ini kategori kuncinya telah ditetapkan.

Seluruh RT yang ada permasalahan kumuh pada studi ini berada pada di Kelurahan Lette dan Kelurahan Pampang analisa aspek fisik. Karakteristik permasalahan perukiman RT (Rukun Tetangga) dipilih sebagai kumuh dapat ditinjau dari berbagai aspek. Setiap RT identifikasi permasalahan kekumuhan (Permen menjadi target pengukuran untuk simulasi PUPR No. 5 3 Pampang Panakkukang 6 3 7 5 8 6 Jumlah target observasi : 41 RT Sumber : Penulis Instrumen Pengukuran dan Nilai Indeks Instrumen pengukuran dikembangkan dalam model checklist yang diukur berdasarkan temuan kejadian masalah di lapangan. Setiap aspek pembentuk RW adalah RT. Hasil dari proses identifikasi dengan instrumen dan penilaian indeks tersebut adalah Peta Karakteristik Permasalahan Kumuh. Oleh Lingkup dan Tahapan kareanya RW digunakan sebagai unit analisis. 02/PRT/M/2016) menjadi dasar model. Nilai indeks beserta karakteristik permasalahan kumuh akan dimiliki oleh setiap RW sebagai satuan unit analisis. Jumlah RW dan RT pada studi kasus indeks penilaian. 2 3 permukiman kumuh di perkotaan. Tahapan kegiatan penelitian Sumber : Penulis 6 . Kelurahan Tahapan kegiatan dapat digambarkan Kumuh 3 4 Lette. Obyek Jumlah memvalidasi model. Tujuh kriteria umum menjadi populasi dalam studi ini. RT terdiri atas permasalahan cenderung memiliki pendekatan sejumlah rumah atau Kepala Keluarga (KK). serta mendiskripsikan hasil Lokasi RW analisa dan pemanfaatan model untuk Studi RT 1 8 identifikasi karakteristik permasalahan Kaw. melakukan simulasi. Oleh karena itu. Pendekatan analisis dari karakteristik permasalahan dapat dilihat dari sisi lokasinya (setiap RW) maupun dari kriterianya (sarpras lingkungan).sampai dengan tingkat RW (Rukun Warga). Model peta divisualisasikan dalam bentuk grafik dan tabulasi dengan data numerik dan notasi-notasi untuk memudahkan pembacaan dan analisis. Kelurahan 4 6 Kumuh Pampang. penanganan yang berbeda. KK untuk desa dan 50 KK untuk kelurahan Lingkup model identifikasi karakteristik (Permendagri No. Mariso dalam bagan alir berikut : Lette 4 5 5 8 Jumlah target observasi : 28 RT 1 8 2 5 3 5 Kaw. Gambar 4. memformulasikan Tabel 1. Setiap RT sebanyak-banyaknya terdiri dari 30 aspek yang ditinjau dalam studi ini akan dibatasi. sehingga dalam studi ini tidak digunakan pengembangan model. pendekatan sampling. Dengan digunakannya 7 kriteria identifikasi sebagai variabel. Lingkup kegiatan dalam studi ini adalah membangun instrumen. baik satuan obyek pengukuran mengingat satuan fisik maupun non-fisik.7/1983). maka nilai indeks akan diformulasikan dari hasil penilaian ketujuh variabel tersebut.

kajian lain terkait.4 Bangunan rumah tidak mampu bertahan baik terhadap cuaca 1.1 2. observasi terkategorisasi sebagai berikut : bangunan (21 lapangan serta metode lain yang memungkinkan item).1 1.4 Ukuran lahan (kavling) beragam dan memiliki pola tipe yang tidak jelas 1.2.4 Jaringan jalan tidak terhubung dengan jelas (banyak jalan buntu) 2.3. kumuh dan tidak rapi 1.1.2.7 Bangunan tidak memiliki ventilasi dan lubang pencahayaan yang memadai 1. dan proteksi kebakaran (14 observasi dan pencatatan seluruh permasalahan item).5 Tidak terdapat lampu penerangan jalan 2.6 Bangunan tidak aman dan cenderung membahayakan penghuni 1.8 Tidak terdapat lansekap jalan atau elemen peneduh lainnya 2.HASIL DAN PEMBAHASAN pada 7 kriteria sarpras lingkungan yang ditemukan di lapangan. wawancara.3 Ukuran bangunan rumah beragam dan memiliki tipe yang tidak jelas 1.3 Lebar dan arah jalan cenderung tidak konsisten dan tidak rapi 2 2.1.1.2.1.2.2.10 Banyak ranjau jalan atau penghambat lain yang membahayakan 7 .2. Hasil kodifikasi dan kategorisasi data sebagai dasar penyusunan instrumen No.7 Tidak terdapat bahu jalan atau trotoar 2.1.1 Konstruksi bangunan kurang baik (semi/tidak permanen) 1. Sedangkan item).2.3 Adanya kesulitan mengakses sarana dan prasarana publik di lokasi permukiman 2.5 Tidak ada penataan ruang dalam kelompok cluster sesuai dengan tipe ukuranya 1.6 Bentuk bangunan sangat beragam.3 1.6 Tidak terdapat saluran drainase atau selokan jalan 2. Kategori 1.9 Bangunan berdiri pada lahan topografi di atas 15 persen atau tidak stabil 1.1. Struktur data kodifikasi dan kategorisasi tersebut terlihat pada Tabel 2.2.3.3 Tidak ada ruang fungsional yang memadai (ruang publik.1 Jalan lingkungan tidak terhubung dengan kelas jalan yang lebih tinggi Jangkauan 2.1. studi Hasilnya adalah item masalah yang telah kasus. Tabel 2.2.2 Sirkulasi antar bangunan sempit untuk kebutuhan akses atau evakuasi darurat 1.2 Luasan bangunan yang tidak cukup bagi kebutuhan penghuninya 1.2 1.2 Jaringan jalan tidak dapat menjangkau seluruh bagian permukiman Jalan 2.10 Bangunan berada di daerah yang tidak layak/tidak boleh dibangun hunian 2.2.2 2.5 Kondisi fisik bangunan terlihat kotor. didapatkan dari hasil kajian literatur.3.9 Tidak terdapat perambuan jalan atau signansi lain 2.4 Permukaan jalan dalam kondisi banyak kerusakan dan berlubang 2.4 Kurang lahan untuk ruang terbuka publik yang fungsional 1 1. drainase (8 didapatkannya data kode.1 Jalan tidak aman dan nyaman oleh pejalan kaki maupun pengendara kendaraan Jalan Lingkungan 2.8 Bangunan fasilitas umum/sosial tidak lengkap 1. pengamatan langsung terhadap permukiman pengelolaan air limbah (4 item).2.3.2. privat.3.3.1.3.1.1. sehingga tidak ada keteraturan pola 1. pengelolaan kumuh di Lette dan Pampang dilakukan dengan sampah (8 item).3.1 Fasade bangunan dengan orientasi yang beragam dan tidak jelas polanya Keteraturan Bangunan 1. servis) Kelayakan Bangunan 1.1.7 Spasi antar bangunan cenderung tidak konsisten 1.2 Tidak ada keserasian pola blok hunian dengan sarpras permukiman yang ada 1. jalan lingkungan (15 item).2. Membangun Instrumen Identifikasi Seluruh permasalahan permukiman Langkah pembangunan model dimulai kumuh yang telah dikumpulkan kemudian dengan pengumpulan open coding yang dikategorisasikan secara aksial dan selektif. Long-List Open Coding Axial & Selective Coding    No Uraian Permasalahan pada Kawasan Permukiman Kumuh Sub-Katgr.2 Jalan sangat sempit untuk papasan pejalan kaki maupun pengendara kendaraan Kualitas Jaringan Jalan 2.3 Mayoritas Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di atas 70 (tujuh puluh) persen Bangunan 1.2.3.1 Kategori kepadatan tinggi (lebih dari 300 unit/Ha) Kepadatan Bangunan 1. penyediaan air minum (10 item).3.

1 Kapasitas air baku tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di lokasi Kecuku Pelaya nan pan 4.1.1.3.3.4 Tidak terdapat tanda peringatan dan jalur evakuasi/titik kumpul bila kebakaran 7.1.1. lumut. retak. cacing.2 Belum mempunyai prasarana pengelolaan limbah (Septic Tank / Bio Tank) n Air 5.2 7 7.1.2 Terdapat jaringan kelistrikan berdekatan dengan perairan atau sumber perapian Potensi 7.7 Sampah tidak tersalurkan ke TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara) 6.3 Terdapat kotoran/sampah yang menghambat kinerja saluran drainase Drainase 3. dll) 7.2.2 Jaringan perpipaan tidak menjangkau semua bagian di lokasi permukiman 4.2.1.3 Mayoritas penduduk membuang hajat langsung ke badan air bebas 5.1.7 Terjadi genangan air di permukiman khususnya pada saat dan setelah hujan 3.1. mineral.1.4 Banyak bangunan dari material mudah terbakar (kayu/kertas/kardus/plastik . Kategori 2.1 6 6.1.3.2.1.3 Tidak tersedia bak sampah untuk bersama/lingkungan RT (diletakkan di jalan) 6.1.6 Pipa-pipa pengaliran air berkarat.5 Tidak terdapat ruang terbuka atau gedung untuk evakuasi bila kebakaran 7.1.1 Sampah berserakan di tempat umum (ada tumpukan sampah di permukiman) 6.3 Bangunan saling berdempetan sehingga memudahkan penjalaran api 7.1. dll 4 4.3 Tidak terdapat alat pemadam kebakaran ringan/skala kecil (Fire Extinguisher) 7.2.2.1. asin.4 Pola pengaliran jaringan drainase yang tidak jelas dan tidak terarah 3.1.4 Tidak tersedia alat pemadam kebakaran skala besar (misalnya hidran) 7. berlumut.4 Penduduk belum menggunakan tanki septik yang baik dan sehat 6.2.3 Tidak dipasang alarm kebakaran baik sistem alarm tradisional atau modern 7.1.3 7.1 Tidak terdapat pos jaga dan sistem keamanan di lingkungan RT/RW Proteksi Kebakaran dan evakuasi 7.1. bocor. Long-List Open Coding Axial & Selective Coding    No Uraian Permasalahan pada Kawasan Permukiman Kumuh Sub-Katgr.2 Tidak terdapat prasarana peringatan warga (misalnya kentongan.1. payau.1 Limbah yang dihasilkan penduduk langsung mengalir ke badan air bebas Pengelolaa Prasarana Sanitasi Limbah 5.5 Mobil pemadam kebakaran tidak dapat masuk/menjangkau permukiman Sumber : Analisa 8 .2 Tidak terdapat jaringan tangki pemadam air (tidak ada siamese) 7.1.5 Tidak ada rambu pelarangan membuang sampah sembarangan 6.1 4.1.1 5 5.8 Lokasi permukiman sering dilanda banjir 4.1 Kondisi warna air tidak jernih (keruh) 4.2 Konstruksi fisik saluran drainase dalam kondisi tidak baik Kondisi Drainase 3.1.2 Tidak tersedia bak sampah di depan rumah (untuk setiap bangunan rumah) Pengelolaan Sampah Pengelolaan Sampah 6.1. jentik.3.1 3 3.3. dll) 4.1.11 Terdapat genangan air atau material pengotor lain di permukaan jalan 3.3 Kondisi rasa air tidak normal (asam.5 Penyaluran drainase permukiman menuju buangan tidak jelas atau tidak memadai 3.6 Tidak terdapat area resapan untuk mendukung drainase 3. minyak.1.8 Sampah tidak tersalurkan ke TPA (Tempat Pembuangan Sampah Akhir) 7.1. bel.2.4 Ditemukan material pengotor terlarut dalam air (tanah.7 Ada keluhan kesehatan setelah mengkonsumsi air yang ada 4.1.2 4.1.3 Tidak terdapat sumber air baku alami untuk mendukung air dari PAM 5.5 Sumber dan penampungan air banyak sampah.4 Bak sampah tidak dapat menampung sampah (sampai meluap) 6.1 7.2.1.6 Tidak ada sistem pengangkutan sampah yang terkoordinasi 6. dll) Peringatan 7.2 Kondisi bau air tidak sedap atau tidak biasa Kualitas Air Penyediaan Air Minum 4.1. No.2. alarm.1. dll 4.1 Kapasitas saluran drainase kurang memadai atau tidak sesuai kebutuhan 3.1 Tidak terdapat sumber air terbuka untuk sumber pemadaman kebakaran Pemadaman 7. dll) 4.1 Kondisi jaringan perkabelan listrik yang tidak teratur/ruwet (berpotensi korsleting) Kebakaran 7.

Pengelolaan sampah 8 item . Penyediaan air minum 10 item Keterangan : 1.68 2. Nilai indeks menunjukkan juga sama. Variabel Penilaian Parameter item Indeks (RW) = 1. sehingga nilai maksimal setiap variabel perhitungan indeks. Proses perhitungan dan hasil indeks Simulasi model merupakan kegiatan telihat pada tabel 4 dan tabel 5. Jalan lingkungan 15 item 0.Formulasi Penilaian Indeks Nilai indeks didesain dengan kisaran skala Uraian permasalahan kumuh yang telah 0 (nol) sampai dengan 100 (seratus). Jumlah 80 item Output Penilaian : Untuk memudahkan analisa dan pembacaan informasi data indeks. pembentuk nilai indeks memiliki bobot yang Parameter ini menjadi input data untuk proses sama. (antar RW) atau pun nilai variabel pembentuk Uraian tentang rincian formulasi penilaian indeksnya (karakteristik di dalam RW).02max.79 4. Dalam terkategorisasi tersebut dikembangkan menjadi studi ini masih diasumsikan bahwa variabel parameter penilaian dalam instrumen observasi. yakni nilai rata- demikian. Drainase 8 item 1. Dengan adanya variasi jumlah RT karakteristik permasalahan kumuh pada setiap pada setiap unit analisis maka untuk unit analisis dengan 7 kategori sarpras kesebandingan digunakan nilai rata-rata temuan lingkungan sebagai variabel penilaiannya. variabel = x 100 3. Hal yang sama Indeks merupakan agregat nilai dari digunakan untuk mendapatkan nilai indeks pada penilaian seluruh kategori yang ada.79 7. Proteksi kebakaran 14 item 1.43 1 5. Meskipun tingkat kawasan permukiman.Nilai item adalah nilai bagi antara nilai 1. yang kemudian penerapan instrumen dan formulasi penilaian dilanjutkan dengan analisa temuan hasil sebagai indeks pada 2 (dua) lokasi studi kasus. Kota Simulasi Model dan Analisa Hasil Makassar.Nilai max. yakni berikut : 9 . tapi sebaiknya diperhatikan) 2) Diagam Jaring Laba-laba (spider map) dalam kriteria 7 sarpras lingkungan dalam unit analisis RW di lokasi Sumber : Analisa kawasan permukiman Lette dan Pampang. parameter di tingkat RT. indeks dijelaskan pada tabel 3 berikut : Tabel 3. Pengelolaan air limbah 4 item . variabel dengan jumlah item parameter.95 3.57 7 6. analisis dapat dilakukan pada rata dari indeks seluruh RW yang ada di pembandingan nilai indeks antar unit analisis dalamnya. Bangunan 21 item 0. maka dibuatlah beberapa model visualisasi hasil penilaian seperti : 1) Tiga Kategorisasi Permasalahan  Masalah Berat (penanganan terhadap masalah mutlak diperlukan)  Masalah Sedang (masalah perlu perhatian dan penanganan secepatnya)  Masalah Ringan (masih dapat ditoleransi. Formulasi penilaian indeks Nilai Rumus perhitungan : No.

34 6 Pengelolaan Sampah 9.22 Variabel Nilai Variabel Nilai 1 Bangunan 8.99 50.75 11.81 3 Drainase 4.71 45.88 3.00 7.14 10 .43 45.95 4.14 Proteksi Kebakaran RATA-RATA NILAI VARIABEL 9.71 7 Proteksi Kebakaran 11.61 7 Proteksi Kebakaran 11.64 Pengelolaan Limbah 4.57 5 Pengelolaan Limbah 3.71 11. 3.36 .72 RW2 51.00 5.70 5. Hasil simulasi model pada Permukiman Lette Nilai Rata-Rata Temuan Parameter Tingkat RT NILAI VARIABEL UNIT pada Variabel ke-n (Rata-rata Temuan Parameter RT x Nilai Item) Masalah Dominan NILAI INDEKS ANALISIS pada Aspek : 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 RW1 17.65 Pengelolaan Penyediaan Limbah Air Minum Drainase Lingkungan 8.61 63.28 5.48 RW 1 2 Jalan Lingkungan 11.75 8.99 7 Proteksi Kebakaran 11.29 3.Tabel 4.50 Lingkungan 5.14 73.04 4 Penyediaan Air Minum - 5 Pengelolaan Limbah 4.75 12.00 6. RINCIAN NILAI INDEKS PER-UNIT ANALISIS : RW1 63.28 4 Air Baku/Minum 5.05 RW3 50.57 10.29 7 Proteksi Kebakaran 11.22 51.55 9.05 6 Pengelolaan Sampah 10. 3.00 Jalan LEVEL INDEKS : Masalah Sedang Kebakaran 7.75 .74 Proteksi Kebakaran Peta Karakteristik Permasalahan Permukiman Kumuh NILAI INDEKS : 56.00 11.57 63.44 1.57 50.65 8.70 3 Drainase Lingkungan 14.99 1 Bangunan 7.20 11.75 8.33 1 Bangunan 7.69 Jalan Lingkungan 10.38 11.76 RW 5 2 Jalan Lingkungan 10.00 40.72 6 Pengelolaan Sampah 6.00 2.60 12.05 7 Proteksi Kebakaran 13.36 4 Air Baku/Minum .36 .00 13.34 RW5 73.47 Proteksi Kebakaran RW4 11. 4 Air Baku/Minum - 5 Pengelolaan Limbah 3.75 11.64 4.34 Proteksi Kebakaran RW5 18.19 RW 2 2 Jalan Lingkungan 12.76 10.00 . 1.47 RW4 RW3 RW4 45.36 4 Penyediaan Air Minum 3.55 RW1 100.47 6 Pengelolaan Sampah 10.50 MASALAH DOMINAN : Proteksi Kebakaran - Pengelolaan Drainase Sampah Lingkungan RINCIAN NILAI PER-VARIABEL : Bangunan 9. 1.29 3 Drainase Lingkungan 5.88 12.70 11.00 Pengelolaan Sampah 9.38 3.00 Proteksi 12.99 11.81 5.00 Proteksi Kebakaran 11.25 11.50 10.13 6.00 .13 1.14 6 Pengelolaan Sampah 12.00 6.05 Jalan Lingkungan RW3 12.63 2.05 13.89 RW 3 2 Jalan Lingkungan 10.43 Variabel Nilai Sumber : Analisa 1 Bangunan 12.33 3.91 5 Pengelolaan Limbah 3.20 7.00 6.69 10.91 .60 8.50 2.91 3 Drainase 5.00 11.89 11.00 2.33 10.14 Peta Karakteristik Permasalahan pada Tingkat Unit Analisis (RW) Variabel Nilai Variabel Nilai 1 Bangunan 11. 1.70 51.14 12.89 80.18 7.14 73.00 .00 RW5 RW2 20.74 Bangunan 15.89 7.20 3.72 Drainase Lingkungan RW2 11.88 60.57 10.91 6.57 9.29 11.60 3 Drainase 12.95 RW 4 2 Jalan Lingkungan 7. 3.18 5 Pengelolaan Limbah 7.71 11.63 11.04 4.48 12.44 Penyediaan Air Minum 1.88 56.19 14.

78 Pengelolaan Sampah RW2 8.17 3.70 RW4 32.39 13.00 2.27 Proteksi Kebakaran Peta Karakteristik Permasalahan Permukiman Kumuh Bangunan NILAI INDEKS : 54.71 .67 13.17 8.38 8.20 8.00 2.03 3.50 13. 5 Pengelolaan Limbah 7.67 3.80 5.17 6.00 Lingkungan LEVEL INDEKS : Masalah Sedang 7.34 10.41 RW7 53.12 13.27 15.96 8.14 7.25 5.39 Penyediaan Air Minum 6.00 6.03 3 Drainase 5.56 80.20 5.85 8.57 7.00 9.14 13.31 Kriteria/Aspek Nilai Kriteria/Aspek Nilai 1 Bangunan 3.43 5 Pengelolaan Limbah .40 5.29 4 Air Baku/Minum 4.20 1.00 6.43 RW 4 2 Jalan Lingkungan 6.14 31.51 6.00 Proteksi Kebakaran 9.49 1 Bangunan 3.71 RW 1 2 Jalan Lingkungan 11.00 14. 3.00 7.67 2.00 2.94 Kriteria/Aspek Nilai Kriteria/Aspek Nilai 1 Bangunan 4.25 RW 6 2 Jalan Lingkungan 10.71 7.36 3 Drainase 14.57 RW6 RW4 RW5 31. 2.67 13.76 8.36 3.00 7.91 Pengelolaan Sampah 8.14 3.81 10.00 8.17 3 Drainase Lingkungan 5.57 6.39 7 Proteksi Kebakaran 6.29 5.29 4 Air Baku/Minum 11.69 13.14 31.57 7 Proteksi Kebakaran 7.88 RW8 92.90 7 Proteksi Kebakaran 6.00 6.95 Drainase Lingkungan RATA-RATA NILAI VARIABEL 6.45 Jalan Lingkungan RW6 16.88 Jalan Lingkungan RW8 20.71 4.13 2.43 10.00 1.71 11.71 4 Air Baku/Minum 1.00 12.70 11.00 .60 .00 4.29 13.00 3.95 5. 2.39 6 Pengelolaan Sampah 7.43 4 Penyediaan Air Minum 0.95 3 Drainase Lingkungan 13.31 32.57 32.67 8.52 5.00 7.48 14.45 RW5 RW6 83.14 8.67 13.00 8.39 Pengelolaan Sampah RW3 6.12 31.57 7.49 7.71 31.96 Limbah Air Minum Drainase Lingkungan 8.50 5.20 3.55 RW 2 2 Jalan Lingkungan 4.00 40.Tabel 5.17 11.41 6 Pengelolaan Sampah 11.57 6 Pengelolaan Sampah 3.43 5. Hasil simulasi model pada Permukiman Pampang Nilai Rata-Rata Temuan Parameter Tingkat RT NILAI VARIABEL UNIT pada Variabel ke-n (Rata-rata Temuan Parameter RT x Nilai Item) Masalah Dominan NILAI INDEKS ANALISIS pada Aspek : 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 RW1 15.50 Proteksi Jalan Kebakaran 10.51 RW 3 2 Jalan Lingkungan 7.14 7 Proteksi Kebakaran 7.00 3.95 92.39 35.48 3 Drainase 5.14 6.95 Peta Karakteristik Permasalahan pada Tingkat Unit Analisis (RW) Kriteria/Aspek Nilai Kriteria/Aspek Nilai 1 Bangunan 2.78 RW7 .39 RW3 31.69 Pengelolaan Limbah 5.57 Proteksi Kebakaran RW5 5. 5 Pengelolaan Limbah 10.60 7.61 13.78 6 Pengelolaan Sampah 13.34 RW 5 2 Jalan Lingkungan 8.70 1 Bangunan 5.43 7.00 RW8 RW2 60.49 14.70 6 Pengelolaan Sampah 3.94 35.00 8.00 7. 3.00 2.14 5 Pengelolaan Limbah 5.39 6.00 9.00 72.45 6 Pengelolaan Sampah 3.29 .36 4.00 10.90 13.67 11.13 7.29 5 Pengelolaan Limbah 7.00 0.91 8.40 4.80 3.36 4 Penyediaan Air Minum 11.57 83.00 RW1 72.00 2.83 7.14 7.00 2.55 13.13 12.56 54.33 2. RW3 RW2 35.70 Jalan Lingkungan RW4 5.29 11.36 3 Drainase 3.43 7.36 0.57 1.00 4.27 11 .00 3.00 RW1 100.27 83.50 - MASALAH DOMINAN : Proteksi Kebakaran Pengelolaan Drainase Sampah Lingkungan RINCIAN NILAI PER-VARIABEL : Bangunan 6.00 11.85 1 Bangunan 11.43 5 Pengelolaan Limbah .57 4 Air Baku/Minum 3.12 7 Proteksi Kebakaran 13.41 Drainase Lingkungan RW7 13.39 72.00 RINCIAN NILAI INDEKS PER-UNIT ANALISIS : 20.84 9.69 5.14 7 Proteksi Kebakaran 13.76 Pengelolaan Penyediaan Jalan Lingkungan 8.00 3.37 53.

Gambar 5. Bantuan fasilitas MCK Umum juga disediakan di lingkungan permukiman.61 RW 7 2 Jalan Lingkungan 9. umum permasalahan didominasi pada aspek proteksi kebakaran. namun kondisinya sempit dan jaringan sirkulasi pada area padat cenderung Gambar 7. Pipa PDAM & tangki reservoir air tidak berpola.74. permukiman Lette mendapatkan nilai indeks kondisi ini juga tidak baik untuk kesehatan permasalahan kumuh sebesar 56. Untuk pengelolaan limbah. Terlihat pada gambar 6. pengelolaan sampah dan bangunan hunian. Kerusakan jalan lingkungan Sumber : dokumentasi langsung umumnya terjadi pada permukaan paving yang Bila nilai indeks dilihat dari tingkat unit tidak rata dan selokan jalan yang rusak.37 7 Proteksi Kebakaran 13.81 5 Pengelolaan Limbah 7. analisis. Kriteria/Aspek Nilai Kriteria/Aspek Nilai 1 Bangunan 8. sebagian masyarakat telah menggunakan sistem tanki septik untuk penyaluran lumpur tinja. Tumpukan sampah di ruang terbuka kebakaran juga sulit ditanggulangi bila nantinya Sumber : dokumentasi langsung terjadi.49 3 Drainase 5. Sebagian besar jalan lingkungan di permukiman Lette sudah dibangun dengan paving blok. Oleh karena itu.12 53.95 Sumber : Analisa a) Karakteristik Permasalahan Kumuh penghijauan atau area bersama publik akhirnya di Permukiman Lette dimanfaatkan sebagai lahan pembuangan Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa sampah.14 5 Pengelolaan Limbah 10. sehingga ancaman Gambar 6. Ancaman kebakaran datang dari jaringan perkabelan listrik yang semrawut dan perapian dapur yang dekat bahan mudah terbakar. 72) merupakan area drainase lingkungan.95 6 Pengelolaan Sampah 13. Hal ini dikarenakan masyarakat Lette sudah mendapatkan akses air PDAM dan mendapatkan bantuan sistem penyaluran air bersih dari program PDPSE Cipta Karya. Banyak sampah berserakan di area cenderung homogen. saling berdempet dan banyak materialnya mudah terbakar (terlihat pada Gambar 5). Kondisi lingkungan di Lette Sumber : dokumentasi langsung Selain itu. Selain merusak estetika lingkungan. bahkan masuk dan menyumbat dan RW 1 (nilai indeks 63. 12 . Bangunan hunian di permukiman Lette sangat padat. Aspek penyediaan air minum dan pengelolaan limbah bernilai baik dalam peta indeks.14) permukiman.14 92.52 RW 8 2 Jalan Lingkungan 13. Secara masyarakat di sekitarnya.71 3 Drainase 14. dengan tingkat permasalahan kumuh yang lebih ruang terbuka yang sebaiknya digunakan untuk dominan di permukiman Lette. Hal ini berpotensi memudahkan api menjalar dan menyulitkan proses pemadaman maupun evakuasi. aspek sarpras lain yang masih dalam kondisi bermasalah besar adalah jalan lingkungan.88 6 Pengelolaan Sampah 7. Sistem peringatan atau pun sistem pemadaman kebakaran tidak tersedia di lingkungan permukiman. maka didapatkan informasi tentang Sampah lingkungan juga kurang dikelola karakteristik permasalahan di setiap RW yang dengan baik.84 1 Bangunan 13.29 4 Air Baku/Minum 7.14 4 Air Baku/Minum 13.69 7 Proteksi Kebakaran 8. RW 5 (nilai indeks 73.

5) program penanganan dapat diprioritaskan pada lokasi dengan tingkat permasalahan yang tinggi di RW 1.21 (sedikit lebih baik dibandingkan perencanaan program penanganan untuk Lette). 2. 1) peningkatan proteksi kebakaran dengan : Hampir seluruhnya dalam kategori Masalah Sedang yang perlu perhatian dan penanganan penyediaan sistem pengamanan. Namun. RW 1. RW 4. Secara berurutan target prioritas penanganan b) Karakteristik Permasalahan Kumuh adalah RW 8. serta penyediaan akses Mobil Damkar atau pipa pemadaman. dan evakuasi. Dampaknya badan air terlihat Lette ini antara lain : kotor dan kualitas air pun menjadi tidak sehat. penyediaan sistem pengamanan. 3) revitalisasi ruang terbuka untuk penghijauan dan aktivitas publik serta penyediaan sistem pengangkutan sampah Gambar 9. bencana ini. Aspek proteksi kebakaran daerah dekat bantaran sungai yang rawan memang sering kali menjadi masalah utama di tergenang. 6. kondisi masalah yang perlu diprioritaskan. Sumber : dokumentasi langsung 4) program penanganan dapat diprioritaskan Analisa indeks pada tingkat unit analisis pada RW 5 dan RW 1 sebagai lokasi dengan menunjukkan bahwa terdapat 5 RW dengan dominasi permasalahan kekumuhan. 7 dan 8. kondisi permasalahan cenderung permukiman Pampang didapatkan : homogen pada semua aspek sarpras lingkungan. Bantaran sungai menjadi lahan direncanakan berdasarkan hasil identifikasi pembuangan sampah dan limbah tinja karakteristik permasalahan di Permukiman masyarakat. 4) penyediaan sistem penyaringan dan pengangkutan sampah dari badan air. dan RW 5 masih dalam Hasil simulasi menunjukkan bahwa kondisi dapat ditoleransi. 1) peningkatan proteksi kebakaran dengan : penataan bangunan hunian dan jaringan kelistrikan. terutama di permukiman Lette). peringatan dan evakuasi. Kepadatan permukiman Pampang ditingkatkan guna menghindari potensi Sumber : dokumentasi langsung 13 . Selain program penanganan fisik yang perlu diterapkan. peringatan segera. 2) penataan jalur sirkulasi dalam pola blok dan membuat selokan jalan dengan box culvert agar lebar jalan semakin besar serta tidak mudah tersumbat sampah. serta pengelolaan sampah dari permukiman ke TPS/TPA. RW 6. pendekatan komunikasi dan peningkatan partisipasi masyarakat harus dilakukan untuk mendukung efektifitas program. permukiman kumuh yang padat dan rentan 3) aplikasi sistem drainase tertutup dan potensi kebakaran. RW 7 dan RW 2. evakuasi atau pun pemadaman yang tanggap terhadap kejadian ketika debit sungai tinggi. di Permukiman Pampang Sedangkan RW 3.kedua lokasi tersebut perlu untuk diprioritaskan Keberadaan sungai di permukiman dalam upaya penanganan. indeks permasalahan di Permukiman Pampang Berdasarkan hasil identifikasi maka bernilai 55. Kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan layak Gambar 8. Sampah di bantaran sungai secara bertingkat sampai dengan TPS/TPA. Pampang dimanfaatkan oleh masyarakat secara Program penanganan yang dapat salah. Masalah yang dominan di antaranya 2) penataan jalur sirkulasi dan peningkatan adalah proteksi kebakaran (sama seperti kualitas jalan lingkungan. Terlebih dengan tidak memastikan tidak terjadi arus back water adanya sistem peringatan.

39). keterbatasan sarana pengelolaan sampah (8. Pembandingan Profil Kumuh Ditjen Cipta Karya dengan hasil analisa model Profil Kumuh Kota Makassar 2014 Hasil Analisa Model Obyek Studi Kasus (Ditjen Cipta Karya) Identifikasi Karakteristik Permasalahan . Sumber : Analisa Berdasarkan hasil pembandingan terlihat permukiman yang menjadi variabel penilaian bahwa kedua model identifikasi cenderung indeks meliputi bangunan. model denda untuk pelanggar pembuangan sampah di bantaran sungai.74 untuk permukiman Lette dan 55. 72) Kawasan Lette Permasalahan : jalan rusak dan Prioritas permasalahan dan indeks : belum terintegrasi dengan protesi kebakaran (11. juga didapatkan nilai kebakaran menjadi masalah dominan di kedua tambah penggunaan instrumen penilaian yang permukiman.41) RW 1 (nilai indeks 80.21 (masalah sedang). serta kualitas air (9. jalan drainase.88).96). bangunan (9. dan 8 permukiman kumuh dibangun dengan model untuk permukiman Pampang. Aspek proteksi lebih akurat. instumen dan penilaian indeks.Target prioritas RW : . Sedangkan untuk permukiman dapat dilaporkan) dan verifiable (dapat Pampang. 14) RW 01/05 RW 1 (nilai indeks 63. yakni permukiman Lette dan dapat dimanfaatkan untuk menentukan Pampang. minor ditemukan pada urutan pembahasannya. skala prioritas 1. pengelolaan sampah dan proteksi maupun lokasi prioritas kumuhnya. Tabel 6.88) Kawasan Pampang RW 2 (nilai indeks 35. skala prioritas 1.Nilai indeks 55. model reward & punishment yang disepakati Hasil identifikasi karakteristik permasalahan bersama oleh kelompok masyarakat. tingkat masalah yang sama. . . baik dalam aspek permasalahan limbah.Lokasi kawasan kumuh : RW 5 (nilai indeks 73. serta dilakukan. kualitas air dan sanitasi lingkungan (8. Masalah lain di permukiman Lette bersifat measureable (terukur dalam satuan adalah jalan lingkungan dan pengelolaan yang baku). sebagaimana terlihat pada tabel 6.kerusakan lingkungan maupun sarpras yang Validasi Model dan Pemanfaatan telah dibangun.Tingkat kekumuhan berat dan . Misalnya kumuh di permukiman Lette dan Pampang iuran untuk honor penjaga keamanan dan dikomparasikan dengan hasil analisa yang telah petugas kebersihan/pengelola sampah. 6. 2. jalan lingkungan.69) dan drainase minum dan sanitasi buruk. Indeks pada tingkat unit analisis RW menghasilkan prioritas KESIMPULAN program penanganan pada RW 1 dan 5 untuk Identifikasi karakteristik permasalahan permukiman Lette. Dokumen Profil Kumuh Kota Makassar Bila diperlukan dapat dikembangkan 2014 digunakan sebagai dasar validasi model.74 (masalah sedang).95) RW 01/02/06/07/08 RW 6 (nilai indeks 83.36) RW 7 (nilai indeks 53.Tingkat kekumuhan berat dan . Simulasi model dilakukan pada 2 lokasi Nilai indeks pada model yang dikembangkan studi kasus. jalan drainase. (8. 7. hampir seluruh sarpras memiliki diperiksa dan digunakan untuk evaluasi).Target prioritas RW : . kualitas dan tata lingkungan (10. Instrumen Validasi model telah dilakukan dengan observasi berisi long-list potensi permasalahan komparasi pendekatan yang dikembangkan pada tujuh kriteria sarpras lingkungan dengan metode eksisting.65).Nilai indeks 56. pelayanan air minum. persampahan.21 program dapat dilakukan dengan lebih cepat dan untuk permukiman Pampang.89). serta RW 1. drainase (8. . Hasil analisa 14 .39) Permasalahan : konstruksi jalan Prioritas permasalahan dan indeks : rusak dan belum terintegrasi protesi kebakaran (9.00).Lokasi kawasan kumuh : RW 8 (nilai indeks 92. Perbedaan kebakaran. Selain itu.44). buruk. Hasil perhitungan indeks didapatkan prioritas penanganan sehingga perencanaan nilai 56. pengelolaan sampah bangunan buruk. menunjukkan karakteristik permasalahan yang drainase.56). pengelolaan air hampir sama. reportable (ada bukti dokumen dan sampah.

1. baik untuk target jenis No. “Identifikasi Karakteristik Lingkungan pemanfaatan indeks dan peta permasalahan Permukiman Kumuh di Kelurahan Kapuk. Oleh karena itu. “Evaluasi Permukiman dan Barbara. 12 No. 2 No. hal : 267- dan Pampang yang ikut terlibat dalam proses 281. M. 1 : 25-26 Perumahan Kumuh dan Permukiman Budiasih. “Karakteristik Desember 2015. dan M. Abdul Gani. 1 Januari 2014. serta segenap masyarakat Lette Wilayah dan Kota Vol. Januari 2007. hal : 172-177. 3 Amri. Nusyahbani. Nurmaida. Jurnal didukung komunikasi dan partisipasi Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Sosial Vol. sarprasnya atau pun target lokasi wilayahnya. Jurnal Teknik Pomits Vol. Grounded Theory dalam Riset Qualitatif”. Kolawole. hal : 27-32. 2014. No. “Editorial of The Open Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Journal on Modelling and Simulation”. hal model ini adalah dihasilkannya karakteristik :145-168. Selain itu dapat dilakukannya simulasi Oktober 2012. pengumpulan data penelitian. dapat digunakan untuk menentukan prioritas Jakarta Barat”. Waston. terhadap Permukiman Kumuh (Slum Dalam penerapannya. 9 No. Toha B. 2014. hal : 240-244. 4 No. Perumahan Kumuh Berbasis Lingkungan “Clustering Permukiman Kumuh di di Kelurahan Kalibanteng Kidul Kota Kawasan Pusat Kota Surabaya”. SAGE Tenggara”. permasalahan yang lebih mendetail dan Fitria.identifikasi karakteristik permasalahan pada Bulawa. “Metode Kumuh”. 2015. 2015. 2 No. “The Coding Manual for Sungai Kecamatan Kolaka. 1. Philip. 2013. Saran dari hasil kajian ini adalah dapat 2012. 2013. Jurnal Teknik Perencanaan tim penelitian. I Gusti Ayu Nyoman. 2 No. pada lokasi studi lain untuk memenuhi Malau. hal : 32-42. “Identifikasi dan Pendidikan Vol. Abu R. hal : 25-39. 15 . 3 program penanganan. Resiko Kekumuhan di Lingkungan Juring Majalah Ilmiah Mektek Tahun IX No. 2009. International Nilai tambah yang dapat dimanfaatkan dari Research in Education Vol. Jurnal Sangkareang Mataram Vol. 2014. misalnya dengan Multiphysics”. Suparto. Sampurna Jaya dan Samsul Bakri. 2013. 3 No. hal : 742-748. Alessandro. 02/PRT/M/2016 Open Journal of Modelling and Simulation. Johny. tentang “Peningkatan Kualitas terhadap 2013. 2007. 1 Leneng Kabupaten Lombok Tengah”. “Effective Modelling and Simulation dikembangkannya model penilaian indeks agar of Engineering Problems with COMSOL lebih akurat dan presisif. Perumahan Rakyat No. Jurnal Jupiter Vol. 10 variabel. Personal Experience”. UCAPAN TERIMA KASIH “Kajian Karakteristik Kawasan Penulis mengucapkan terima kasih Permukiman Kumuh di Kampung Kota kepada para pakar dan narasumber. Indah Arry. “Pemetaan Tingkat Kecamatan Palu Selatan Kota Palu”. Nursyamsiyah. 1 No. Bazzi. Perumahan dan Permukiman di Pratama. Adewale. Sulawesi Qualitative Researchers”. Jurnal Sains Akhmad. “Adapting Grounded Theory kedua studi kasus sesuai dengan identifikasi in Qualitative Research : Reflections from Profil Kumuh Perkotaan (Ditjen Cipta Karya). Niken dan Rulli Pratiwi Setiawan. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis Vol. hal : 46-53. 2. Patricia Bella dan Ema Umilia. 1 Maret 2014. didukung data kuantitatif. 21 No. 2014. Pemda Kota (Studi Kasus : Kampung Gedekan Makassar beserta seluruh jajarannya. “Dampak Urbanisasi pengujian reliabilitas dan generabilitasnya. International Journalof pelengkapan open coding serta pembobotan Science and Technology Vol. 2014. Raisya dan Bitta Pigawati. hal : 19-27. Lingkungan Permukiman Kumuh Tepian Saldana. 5 masyarakat agar tercapai efektifitas program. D. 1 Publications Ltd. 2 Desember 2013. Siti. 2. 2. Maret 2013. anggota Semarang)”. Oladejo A. “Faktor-Faktor DAFTAR PUSTAKA yang Menyebabkan Permukiman Kumuh di Kota Bandar Lampung”. Majalah Ilmiah Pawiyatan Vol. Jurnal Semarang”. 2015. Teknik Pomits Vol. hal : 39-47. penanganan kumuh perlu Area) di Daerah Perkotaan”. : London.