You are on page 1of 5

Air Mata Hijrah

Bagaimanapun aku telah memilih jalan yang sebenarnya, ku tapaki jalan demi
jalan, yang dianggap oleh mereka jalanan berduri namun aku tetap berdiri tegap dan
tegar diatasnya.

Apakah aku harus menyesalinya? Apakah harus aku tinggal kan jalan ini ? tentu
tidak ,aku telah berada di jalan ini penuh dengan lika liku, tidak mungkin aku
meningggalkannya hanya karena celotehan mereka, tidak mungkin ku lepaskan
kenyamanan ini yang telah bersama jiwa dan pikiran ku. Yang mengatur segala
kehidupan ku bukan mereka tapi diriku sendiri, lantas apakah aku harus diam saja dari
apa yang di katakan, tentu tidak! Aku harus memberikan mereka sedikit pelajaran,
yahhh dengan memberikan contoh kepada mereka, bahwa aku bahagia di jalan ini,
bagaimana pun aku sudah masuk dalam dakwah ini maka aku harus menuntaskannya
samapi titik darah penghabisan, Allahu Akbar kataku dalam hati.

Hari demi hari aku terbawa oleh suasana yang tidak pernah ku dapatkan
sebelumnya yaitu cinta yang tulus, cinta yang benar benar datang dari dalam qalbu yang
ku mempelajarinya dari saudara-saudara seiman yang sudah lama mengenal hijrah.

Malam itu ku tatapi langit yang gelap menandakan kesedihan dalam hatiku yang
tak tertahan lagi, hatiku meringis, dadak ku sesak, ingin ku tumpahkan disuasana malam
itu, betapa ku mengingat kejadian masa lalu yang menyelimuti ku. lututku lemas,
dadaku semakin sesak, air mengalir seperti derasnya hujan, tersungkur aku ke lantai
kamarku tanpa aba-aba, dummmm……aku terjatuh, kusesali segalanya tanpa ada jeda
di tangisan ku, betapa tidak aku menyesalinya, dahulu rambut ini tak tertutup, dahulu
wajah ini ku umbar kan ke semua oraang, sholat ku tinggalkan, berlihai lihai asik
dengan kesempurnaan dunia, tanpa melirik sedikit pun tentang betapa sempurnanya
syurga disana..

Matamu bengkak lin?, pertanyaan yang memulai aktivitas ku pagi ini, tidak
kataku hanya sembab saja, apa bedanya sih, ada lah kataku..ia terus saja mengitrogasi
ku, seolah intel saja amatiran …tanpa ada kata untuk mengakhirinya kubiarkan saja si

namun aku lupa pagi ini membawanya.. kenapa kataku masih heran. bukan daku tak ingin menjawabnya tapi sulit bagiku mengungkapkannya. iah mau tak mau aku harus berlari ke kantin…. hening seketika. mata ku samar melihat sekelilingku begitu ramai. apa kami kecelakaan apa kami tak jadi sholat…bagaimana nasib tia apa ia selamat?. atau mungkin kali ini . Makan satu roti setiap pagi sudah menjadi kebiasaan ku. namun ia tak mampu menjawab.baik saja kan kataku. hanya pilu dan sendu terlihat diwajahnya terenyuh aku di menatapnya . pedih rasanya jika harus kuingat kembali. Braaaaakkkk…terdengar di telinga ku. Krkkkreeek perutku terasa pedih aku lupa mulai dari semalam aku belum makan.olah hanya seperti tangisan bayi. Linda shalat dhuha yuk. aku di bawa ke dalam ambulance namun tia tak berada di sampingku…. apa ia tak apa-apa ? dalam hatiku terus bergulir pertanyaan demi pertanyaan.kencang namun seolah. hingga aku tak menyadari aku berada dalam gedung putih diatas ku tergantung benda yang tidak asing dirumah sakit dan hanya ada dina yang menemaniku. ku ajak dina menemani ku ke kantin dan alhamduliiah ia mau. dengan senang hati beb. aku mulai cemas. Ku panggil si tia namun keributan membuat tia tak mendengarnya.yang mengenalkan ku akan hijrah. Aku pingsan beberapa saat. karena aku meninggalkannya di kantin.seseorang datang menghampiri ku ia adalah tia sahabat dakwah ku.hhahah.dina terus bicara. ku gerakkan kakiku tak ku sangka tak mampu di gerakkan. Dari arah kota ku dengar suara kebisingan dari ambulance yang keras telinga ku. mataku tak sanggup menahnnya. ada apa kataku. bukankah aku ingin ke Musholla.agar menghemat waktu kami naik motor. teriak aku sekencang. dan tidak mengambek. ada apa pikirku. “Din. seketika tubuhku lemas. Letak Musholla berada di seberang kampusku…. kepala ku pusing. apa yang terjadi ? Apa aku kecelakaan tanyaku. mungkin ia marah kepadaku pikirku. biarlah itu semua sebagai masalalu yang dapat ku pelajari jika aku membuat kesalahan lagi.tangisan ku seketika pecah. dan pada akhirnya dia menyeraah. tak kusadar orang-orang yang turun dari ambulan berlari kearah ku dan arah tia.” jika ia bagaimana keadaan tia? baik. sapaan ku meng ia kan ajakan tia. biar saja malam itu sebagai penutup masa lalu yang kelam.

kali ini aku yang seperti intel. tak mampu ku menahannya lagi kini air mataku benar.ia ingin membalas karena tadi pagi aku tak menjawabnya.benar seperti derasnya sungai . Ketika dina sampai aku terus bertanya banyak hal dengan dia. dan mengapa ibumu tak berada di rumah sakit saat engkau sadar “ benar kata si dina ketika aku mendengar kabar tersebut aku hanya ingin mati.. . sampai aku lupa bagaimana keadaan sahabatku dan di mana ibuku.hatiku hancurrr. terdengar suara lirih dari dina dan seketika di tumpahkan air matanya di pelukanku . meninggalkan dunia ini. aku tak percaya din kamu jangan bercanda dong kataku dengan sekelopak air mata yang hampir tumpah. kepala nya terbentur dengan keras sehingga tak mampu di selamatkan. itulah mengapa engkau berbeda ambulance dengan dia. 2 hari aku tak selera makan. pertanyaan-pertanyaan yang ku lontarkan tak satu pun dijawabnya. dengan penuh kekecewaan aku berontak terhadap takdirku. ada apa din tanyaku sekali lagi. kataku dengan emosi sembari menuruti bisikan syetan. “ Tia meninggal saat ke jadian. kaki mu lin. kaki mu. ku panggil dina agar bergegas kemari. dan kau pasti akan mengurung diri mu lebih lama lagi. tapi tak tau kapan itu. apa maksudmu ? ia kaki mu lumpuh akibat kecelakaan. namun kali ini dia menjawab segalanya. namun ketik ku tanyak kabari tia kenapa tak menjengukku. aku memperpanjang masa pengurungan diriku hingga batin ini merelakan kepergiannya. aku bersumpah lin. aku minta maaf deh din . untuk itu dokter memutuskan agar aku dan ibumu tidak memberitahumu. ia kenapa? Kaki mu lumpuh. lalu dina memelukku tambah erat sambil menangis tersedu-sedu. Apa aku terlalu keras memarahinya .” kenapa tidak kau katakan kepada ku din” aku takut jika ku katakan kondisimu semakin parah. air mata yang kupikir telah ku habiskan semalam ternyata bersambung di hari ini. pintu ku kunci hingga aku teringat akan nasib tia.”din kalau marah kakiku jangan di tahan juga dong. dina diam dan menceritakannya dengan deraian air mata. ku gerakkan kaki perlahan namun masih tak mampu ku gerakkan. “Ya sudahlah jika tak ingin menjawab ku tanya saja dokter .

namun aku lebih senang dan nyaman jika bersama tia. mama menangis memelukku hingga aku terbawa suasana. Sebulan berlalu. tuhan. apa aku akan begini sampai mati. ini penting din.nak tia sudah di tiada sadarlah ia telah berada di tempat yang indah. aku berontak terhadap tuhan. ma aku sadar secepat ini mungkin karena tuhan mengijinkanku melihat tia ma rengekku. ia silahkan dari tadikaan kamu sudah bicraa din kataku. aku tak bisa menerima segala ini. linda memang sudah menjadi teman ku sejak masuk kuliah. Namun tanpa ku sadari akhir-akhir ini aku melihat perubahan dari dirinya mulai dari sifatnya. ku bujuk mama agar memberikan ijin.namun aku berontak aku harus pergi. sehingga aku sering melupakannya. ia aku berubah karena kisah mu. tapi kan kamu lihat aku seperti ini aku sudah berubah din. namun dokter dan mama melarangku. aku berontak terhadap tuhan aku menyalahkan Allah segalanya. taukah kamu jika kamu lah perantara yang membuatku seperti ini? Maksudnya kataku dengan nada heran. tidak mungkin kamu bisa melihatnya lagi. hidupku penuh dengan kesepian shoaltku tak ku pedulikan. Dina satu-satunya teman yang hampir setiap hari datang kerumahku seraya menemaniku. Mungkin aku kelihatan egois tapi itu semua ku lakukan agar aku terhindar dari lingkungan yang gemerlap akan dunia. Esok paginya ku putuskan untuk pergi kepemakaman tia.. jika kamu kenapa-napa nantik disana siapa yang akan menemani mama. pakainnya serta ibadahnya. ku putuskan aku tak kuliah lagi dan mama mengijinkannya. aku keluar dari kelompok dakwah. air mata ku mengalir. hati mu mengatakan bahwa kamu tak sanggup meninggalkan jalan indahmu yaitu jalan . “ Alhamdulillah ucapku” Lin bisakah aku berbicara kepada mu pintanya.” apa kamu tak sadar kamu itu berbohong kamu membohongi dirimu sendiri.. kenapa bukan aku saja sih yang mati kataku. karena kondisi ku yang belum pulih. aku hanya bisa terdiam di pelukan mama.. aku tak melaksanakan sholat. aku tak bisa menanggung beban ini. bercanda dengan ku. kenapa saat aku memulainya engkau hadiahkan ini kepadaku kenapa?? Hhhhhaa. hidupku tak seperti biasa kujalani. kamu harusnya mendoakan dia bukan membuat dia sedih . apa aku tak pantas mendapatkan hidup yang lurus.

aku sering melihatmu saat Adzan memanggilmu engkau tak tenang jika meninggalkannya. memelkukku dengan hangat. semua sudah di skenariokan oleh Dia. semua yang kita miliki itu milik Allah. ku ikuti acara talk show di kampusku tentang apa arti hijrah sebenarnya. aku berpikir sebelum aku memutuskan ini . Di akhir acara talk show aku di datangi oleh pemateri acara talk show yang juga sebagai penulis terkenal. hingga aku terlelap di pelukan ibu. Kini aku memiliki sahabat dakwah ku lagi yang bukan lain adalah sahabatku sendiri.dan ku pikir jugak agar tia selalu ada dalam hatiku serta orang lain. kita hanya menjaninya saja kata ibu. hati dalam ku”.dakwahmu. dan karena jalan Allah sang penulis memberiku semua uang penjualan untuk operasi kaki ku. Yah dengan berpikir panjang dan meminta izin dari orang tua tia akhirnya aku menstujuinya. menangis taubat kepada Allah. dina. di malam itu ibu menasehatiku. radio. membuatku semakin yakin skenario Allah adalah skenario yang paling sempurna. dia ingin aku mengizinkannya menulis ceritaku. dan syukur lah peminatnya sangat tinggi. Kata kata dina sore itu melumpuhkan pikiranku. aku terdiam. rutinitasku yang dulu ku jalani kembali dengan normal walua dengan kursi roda. “Tia akan selalu ada dalam hatiku. . ya karena Allah sayang kepadamu. jika memang hijrah ke jalan yang baik itu tidak indah kenapa kamu masih hidup. Esok paginya aku mulai kembali masuk kuliah. Sahabat ku sampaike Jannah. televise sebagai nara sumber dan memberikan motivasi kepada orang-orang. rupanya si dina telah menceritakannya kepada pemateri tersebut. namun aku yakin ini semua masih bisa di perbaiki lin. aku tiada henti-hentinya bersyukur kepada-nya. sayang semua pasti akan mati. Hingga 8 bulan lamanya novel kisahku di terbitkan. ku panggil ibu agar menemaniku tidur malam itu. aku sadar jalan yang selama ini ku jalani bukan lah jalan yang sebenarnya. aku mulai banyak di undang di sebuah seminar. mengapa kamu tak melakukan hal yang nekat. ia aku harap ini bisa menjadi motivasi bagi yang lain.