You are on page 1of 57

1

BAB I
LATAR BELAKANG

1.1. Latar Belakang

Penyakit Tuberkulosis (TB) atau dalam program kesehatan dikenal dengan

TB.Paru merupakan penyakit yang mudah menular dan bersifat menahun,

disebabkanoleh kuman Mycobacterium tuberculosis (Oswari, 1995).Kuman ini

dapatmenyerang semua bagian tubuh manusia dan yang paling sering terkena

adalah organ paru (90%).WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit

tuberkulosis, karena disebagian besar negara di dunia, penyakit tuberkulosis tidak

terkendali disebabkan banyaknya penderita tuberkulosis yang tidak berhasil

disembuhkan (Aditama, 2006).

WHO menyatakan bahwa sekitar 1,9 milyar manusia atau sekitar

sepertiga penduduk dunia ini telah terinfeksi kuman tuberkulosis. Di Indonesia, tu

berkulosismerupakan masalah utama kesehatan masyarakat, karena jumlah

penderita TB.Paru diIndonesia merupakan ke-4 terbanyak di dunia setelah India,

Cina dan AmerikaSerikat dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah

pasien TB.Paru di dunia (Depkes RI, 2010).

Jumlah penderita TB.Paru klinis di Sumatera Utara pada tahun 2010

sebanyak104.992 orang, yang positif setelah dilakukan pemeriksaan dan yang

diobati sebanyak13.744 orang serta yang sembuh sebanyak 9.390 orang atau

sekitar 68,32% (DinkesProv. Sumatera Utara, 2010).

Di Kota Medan, jumlah penderita klinis TB.Paru tahun 2010 sebanyak

10.653 orang, yang positif setelah dilakukan pemeriksaan dan yang diobati

1

2

sebanyak 1.960orang yang sembuh sebanyak 790 orang (52,11%). Proporsi

penderita penyakitTB.Paru di Kota Medan dari seluruh penderita di Provinsi

Sumatera Utara sebesar10,15%, merupakan wilayah dengan penderita tertinggi

ketiga setelah KabupatenLangkat (15,21%) dan Kabupaten Deli Serdang

(11,75%). Namun tingkatkesembuhan hanya 52,11% merupakan paling rendah

dibandingkan kabupaten/kotalain di Provinsi Sumatera Utara, sedangkan target

nasional sebesar 80% (Dinkes KotaMedan, 2010).

Penyakit TB.Paru merupakan penyakit dengan pasien rawat jalan

terbanyakuntuk jenis penyakit menular pada tahun 2006 dan 2007, sedangkan

pada tahun 2008menjadi urutan terbesar kedua. Penderita penyakit TB.Paru yang

menjalani rawatinap, pada tahun 2006 urutan 4 terbesar, tahun 2007 dan 2008

meningkat menjadiurutan 3 terbesar (RSPI Prof. Dr.Sulianti Saroso Jakarta,

2009).

Penyakit TB.Paru penyebab kematian utama di masyarakat. Proporsi

penyakit TB.Paru sebagai penyebab kematian berdasarkan untuk wilayah

pedesaan merupakan penyebab terbesar yaitu 12,3%, sedangkan untuk wilayah

perkotaan merupakan urutan ke 4 terbesar yaitu 7,9% (Depkes RI, 2008).

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk penanggulangan

penyakitTB.Paru, dan telah banyak kemajuan yang dicapai, antara lain program

DOTS( Directly Observed Treatment, Shortcourse chemotherapy) dimana

Indonesia hampir mencapai target 80%, artinya minimal 80% penderita TB.

Di Indonesia juga diperkenalkan beberapa program seperHDL (Hospital

DOTS Linkage) yang melakukan program DOTS di RS, PPP

3

(public private partnership) atau PPM ( public private mix ) yang melibatkan

sector private dalam penanggulangan TB.Paru. Diharapkan agar berbagai upaya

ini memberi hasilyang optimal dan untuk itu perlu melibatkan semua stakeholder

secara aktif dengan memberi peran dan kesempatan kepada semua pihak secara

jelas (Aditama, 2006).

Program pengendalian penyakit TB.Paru dengan strategi DOTS telah

dilaksanakn diseluruh Provinsi (33 Provinsi) dan 426 kabupaten/kota, namun

belum seluruh sarana kesehatan melaksanakan strategi

DOTS, seperti puskesmasmencapai 94,7%, Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru

(BP4) atau Rumah Sakit TB.Paru (RSTP) mencapai 65% dan pada Rumah Sakit

mencapai 38,1%.

Pelaksanaa pengendalian penyakit TB.Paru samapi tahun 2010 telah dapat

menurunkan insidenkasus menular dari 130/100.000 penduduk menjadi

101/100.000 pendudukTahun 1995 telah dilakukan Program Pemberantasan

Penyakit TB.Paru(P2TB). Dalam rangka mensukseskan pelaksanaan program P2

TB.Paru, prioritasditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan dan

penggunaan pengobatan yangrasional. Dalam pemberantasan penyakit TB Paru,

pemerintah dalam hal iniDepartemen Kesehatan menggunakan Puskesmas sebagai

ujung tombak untukmemutuskan rantai penularan penyakit TB Paru di masyarakat

yaitu dengan caramenemukan dan mengobati penderita sampai sembuh, maka

pengobatan diberikansecara gratis di Unit Pelayanan Kesehatan (UPK)

Pemerintah khususnya Puskesmas.

4

Medan (SIB)- Penderita tuberkulosis (TB) paru di Kota Medan didominasi

oleh kaum laki-laki. Berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum Putri Hijau

Medan sejak bulan Januari hingga Februari 2014, ada sebanyak 227 kasus baru

untuk TB Paru yang dirawat di rumah sakit milik Pemko Medan dengan rincian

pasien laki-laki dengan jumlah 157 kasus baru dan perempuan dengan 70 kasus

baru. Dirincikannya, pada bulan Januari misalnya ada 21 kasus dengan 141

jumlah kunjungan, yang mendapatkan pelayanan rawat jalan dan 50 kasus harus

menjalani rawat inap. Sementara pada Februari 2014, dimana sebanyak 33 kasus

baru yang mendapati pelayanan medis rawat jalan sebanyak 247 jumlah

kunjungan dan 123 kasus menjalani rawat inap.

Selama praktek belajar lapangan komfherensif ( PBLK ) di Rumah Sakit

Umum Putri Hijau kota Medan Ruang Dahlia, ditemukan 10 fenomena kasus

terbanyak selama tahun 2014 yaitu : Choronic Kidney Disease ( CKD ), Diabetes

Melitus ( DM ), Nasopharyngeal Carcinoma ( NPC ), Gastroenteritis ( GE ),

Hepatoma, TB paru, Chronic Obstructive Pulmonary ( COPD ), HIV.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas penulis merumuskan masalah

bagaimana penerapan manajemen kasus sistem pernafasan TB paru di Ruang

Dahlia Rumah Sakit Putri Hijau Medan.

5

1.3. Tujuan PBLK

1.3.1 Tujuan umum

Mahasiswa mampu menerapkan Asuhan keperawatan pada Tn. J

dengan gangguan system pernapasan TB paru di Ruang Dahlia Rumah

Sakit Putri Hijau Medan.

1.3.2. Tujuan Khusus

a. Penulis dapat melakukan pengkajian pada klian Tn. J dengan gangguan

system pernapasan TB paru di Ruang Dahlia Rumah Sakit Putri Hijau

Medan.

b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien Tn. J

dengan gangguan system pernapasan TB paru di RuangDahlia Rumah

Sakit Putri Hijau Medan.

c. Penulis mampu membuat perencanaan pada klien Tn. J dengan

gangguan system pernapasan Tb paru di Ruang Dahlia Rumah Sakit

Putri Hijau Medan.

d. Penulis mampu melaksanakan rencana Asuhan Keperawatan pada klien

Tn. J dengan gangguan system pernapasan TB paru di Ruang Dahlia

Rumah Sakit Putri Hijau Medan.

e. Penulis mampu mengevaluasi hasil dari Asuhan Keperawatan pada

klien Tn.j dengan gangguan sistem pernapasan TB paru di Ruang

Dahlia Rumah Sakit Putri Hijau Medan.

dan untuk menambah wawasan penulis 2. 4. Bagi penulis Studi kasus berguna untuk menerapkan ilmu yang telah didapat. klien bisa mendapatkan asuhan keperawatan yang komprehensif 3. Bagi Klien Dengan adanya studi kasus ini. 6 f.4. . J dengan gangguan sistem pernapasan TB paru di Ruang Dahlia Rumah Sakit Putri Hijau Medan 1. Bagi Rumah Sakit Putri Hijau Kota Medan Sebagai bahan refrensi bagi tenaga keperawatan di Rumah Sakit Putri Hijau Kota Medandalam menerapkan Asuhan Keperawatan pada klien gangguan sistem pernapasan TB paru di Ruang DahliaRumah Sakit Putri Hijau Medan. Manfaat PBLK 1. Bagi akademik Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa-mahasiswi STIKes Sumatera Utara dalam menerapkan Asuhan Keperawatan pada klien gangguan sistem pernapasan TB paru di Ruang DahliaRumah Sakit Putri Hijau Medan. Penulis mampu mendokumentasikan setiap tindakan yang diberikan kepada klien Tn.

dan genitourinary(LoBue. yang biasanya menginfeksi paru(Raviglione & O'Brien. kulit. usus. 2008). Tuberkulosis ekstra paru8Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. dan lain-lain. tidak termasuk pleura (PDPI. tulang dan sendi. 2. 2006).2 Klasifikasi Ada beberapa klasifikasi Tb paru yaitu menurut Depkes (2007)yaitu: a. yaitu padaTb Paru: . Iadermaco. b.kelenjar lymfe. Penyakit ini mungkin menyerang organ lain sepertiorgan limfatik.1. & Castro. ginjal. alat kelamin. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: 1. pleura. meningen. persendian.Paru adalah tuberkulosis yangmenyerang jaringan paru. Tuberkulosis paruTuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan(parenkim) paru.1. tulang. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. salurankencing.misalnya pleura. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjarpada hilus. selaput otak. 2. Defenisi Tuberkulosis adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan olehMycobacterium tuberculosis complex. 2008). TB. 7 BAB II TINJAUAN TEORITIS 2. selaput jantung (pericardium). peritonium.

7 b. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakankuman Tb positif. 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnyahasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelahpemberian antibiotika non OAT. 2. c. Ada beberapa tipe pasien yaitu: a. Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudahpernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Klasifikasi berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayatpengobatan sebelumnya. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnyaBTA positif. d. b. Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberipengobatan c. 8 1. Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. . Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif. Tuberkulosis paru BTA positif a. d. Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan fototoraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. Tuberkulosis paru BTA negative Kriteria diagnostik Tb paru BTA negatif harus meliputi: a. c.

2 Epidermiologi a. Kasus lain Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. yaitu pasien dengan hasilpemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan(Depkes RI. Umur Tb Paru Menyerang siapa saja tua. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif ataukembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selamapengobatan. d.10) 2. Kasus setelah putus berobat (default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan ataulebih dengan BTA positif. muda bahkan anak-anak. dalamkelompok ini termasuk kasus kronik.Data WHO menunjukkan bahwa kasusTb paru di negara berkembang banyak terdapat pada umurproduktif 15-29 . Kasus kambuh (relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapatpengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh tetapikambuh lagi. 9 b. 2006). c.Sebagian besar penderita Tb Paru di Negara berkembangberumur dibawah 50 tahun. e. Personal 1.

Penelitian Rizkiyani pada tahun 2008menunjukkan jumlah penderita baru Tb Paru positif 87. Kuman ini akan berkumpul dalam paruparukemudian berkembang biak. Apabila.6% berasal dari usia produktif (15- 54 tahun) sedangkan 12. orang yang terinfeksikuman TB Paru belum tentu menderita Tb paru.Tetapi. kuman Tb paru akan mudahmasuk ke dalam tubuh.Tb paru menyerang sebagian besar laki- lakiusia produktif 3.Biladaya tahan tubuh sedang rendah. . daya tahan tubuhkuat maka kuman akan terus tertidur di dalam tubuh (dormant) dantidak berkembang menjadi penyakt namun apabila daya tahantubuh lemah makan kuman Tb akan berkembang menjadi penyakit. Stasus gizi Status nutrisi merupakan salah satu faktor yang menetukan fungsiseluruh sistem tubuh termasuk sistem imun.4). Hal ini bergantungpada daya tahan tubuh orang tersebut. 10 tahun. Jenis Kelamin Penyakit Tb Paru menyerang orang dewasa dan anak-anak.Sistem kekebalandibutuhkan manusia untuk memproteksi tubuh terutama mencegahterjadinya infeksi yang disebabkan oleh `mikroorganisme (1.4 % terjadi padausia lanjut (≤ 55 tahun)3 2.Penyakit Tb paru Lebih dominan terjadi pada masyarakat yangstatus gizi rendah karena sistem imun yang lemah sehinggamemudahkan kuman Tb Masuk dan berkembang biak. lakilakidan perempuan.

Tempat 1. Keadaan berbagai lingkungan yang dapatmempengaruhi penyebaran Tb paru salah satunya adalahlingkungan yang kumuh. Kondisi sosial ekonomi Sebagai penderita Tb paru adalah dari kalangan miskin.Data WHOpada tahun 2011 yang menyatakan bahwa angka kematian akibat Tb. basil tuberkulosis adalah bakteri batang tipis lurus berukuran sekitar 0. Penderita Tb Paru lebih banyakterdapat pada masyarakat yang menetap pada lingkungan yangkumuh dan kotor. 2009).4x . 2. 11 b. 2.3.paru sebagaian besar berada di negara yang relatif miskin. namun yang paling umum dan penting dalam menginfeksi manusia adalah M. Waktu Penyakit Tb paru dapat menyerang siapa saja. dan kapan sajatanpa mengenal waktu. c. tuberculosis (Raviglione & O'Brien.Di dalam jaringan. Etiologi Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis complex. Apabila kuman telah masuk ke dalam tubuhpada saat itu kuman akan berkembang biak dan berpotensi untuk terjadinya Tb paru. dimana saja. 2008). LingkunganTB paru merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yangditularkan melalui udara.kotor.Kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam sitoplasma makrofag (Amin & Bahar.

95% etil alcohol mengandung 3% asam hidroklorat (asam alkohol) yang dengan cepat menghilangkan warna semua bakteri kecuali Mycobacterium (Jawetz. 2.Mycobacterium tidak dapat diklasifikasikan menjadi gram-positif atau gramnegatif. 12 3 µm. radiologi. lilin kompleks (complex-waxes).4 Diagnosis Diagnosis tuberkulosis paru ditegakkan melalui pemeriksaan gejala klinis. Melnick. 2004). sehingga sering terjadi overdiagnosis. Melnick. . Dinding M.Sifat ini membuat kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya seperti bagian apikal paru (Jawetz. Pada program tuberkulosis nasional. & Adelberg. 2006). terdiri dari lapisan lemak yang cukup tinggi (60%). 2004).Penyusun utama dinding sel bakteri ini ialah asam mikolat.paru. Merupakan aerob obligat dan mendapatkan energi dari oksidasi banyak komponen sederhana. Basil TB sejati ditandai dengan “tahan asam” – yaitu.penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama Pemeriksaan lainseperti radiologi. dan patologi klinik.Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB. & Adelberg. tuberculosis sangat kompleks. trehalosa dimikolat yang disebut cord factor. biakan dan uji kepekaan dapatdigunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. dan mycobacterial sulfolipids yang berperan sebagai virulensi (PDPI.Tidak dibenarkan mendiagnosis tuberkulosis hanya berdasarkan pemeriksaan fototoraks saja.mikrobiologi.

Keluhan yang terbanyakadalah: 1.Jarang berbau busuk.Batuk berlangsung selama 2-3 minggu (Amin & Bahar. Gejala Respirasi Keluhan yang dirasakan pasien TB dapat bermacam-macam ataumalah banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan samasekali dalam pemeriksaan kesehatan. Dahak Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit. kecuali bila ada infeksi anaerob (Alsagaff & Mukty. Batuk Darah Darah yang dikeluarkan penderita mungkin berupa garis atau bercak bercak darah. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. kemudian berubah menjadi mukopurulen/kuning atau kuning hijau sampai purulen dan kemudian berubah menjadi kental bila sudah terjadi pengejuan dan perlunakan. 3. 2. Batuk darah jarang merupakan initial symptomp dari penyakit TB karena batuk darah . Pemeriksaan Klinis 1. 13 A. 2010). Gejala Klinis a. gumpalan-gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak (profus). 2009).

2009). kor-pulmonal (Amin & Bahar.Seringkali panas badan sedikit meningkat pada siang maupun sore hari (Amin & Bahar. Nyeri Dada Gejala ini agak jarang ditemukan. 5. 2010).Tetapi kadang- kadang panas badan dapat mencapai 40-41º C bila prosesberkembang menjadi progresif. Panas badan Biasanya subfebris menyerupai demam influenza. Sesak Napas Merupakan late symptomp dari proses lanjut tuberkulosis paru akibat adanya retriksi dan obstruksi saluran napas serta loss of vascular bed/vascular thrombosis yang dapat mengakibatkan gangguan difusi. . 4. 2009). b. Gejala-gejala umum 1. 14 merupakan tanda telah terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kavitas (Alsagaff & Mukty. 2009). Menggigil Dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat. 2. tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih hebat (Amin & Bahar. 2009).Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah mencapai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis (Amin & Bahar. hipertensi pulmonal.

dan lainnya. 15 3. badan kurus. B. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkinditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia. Keringat malam Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut. Malaise Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan).Kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru. nyeri otot. Bila dicurigai adanya infiltrat yang agak luas. badan makin kurus (penurunan berat badan). meriang. maka didapatkanperkusi yang redup dan auskultasi suara napas bronkial. serta daerah apeks lobus inferior (S6) (PDPI.Kelainan paru umumnya terletak didaerah lobus superior. sakit kepala. 2006). terutama daerah apeks dan segmen posterior(S1 dan S2). 4. 2009).Gejala malaise ini makin lama makin berat dan tejadi hilang timbul secara tidak teratur (Amin & Bahar.dan nyaring. 2009).Tetapi bila infiltrat ini diliputi .Akandidapatkan juga suara napas tambahan berupa ronki basah. kasar. atau berat badan menurun(Amin & Bahar.suhu demam (subfebris). 2009).Pada permulaan perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulitsekali) menemukan kelainan. keringat malam dapat timbul lebih dini (Amin & Bahar. kecuali pada orang dengan vasomotor labil.

. hasilnya tidak sensitif dan juga tidak spesifik.Pada TB Paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot interkostal.Bagian paru yang sakit jadi menciut dan menarik isi mediastinum atau paru lainnya. 16 oleh penebalan pleura. Pada saat TB Paru mulai aktif akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri.Bila terdapat kavitascukup besar. Jumlah limfosit masih di bawah normal.Laju endap darah mulai turun ke arah normal lagi (Amin & Bahar. jumlah leukositkembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. 2009).suara napasnya menjadi vesikular melemah. 2009).Bila penyakit mulai sembuh. Bila jaringanfibrotik amat luas yakni lebih dari setengah jumlah jaringan paruparu. Pemeriksaan darah rutin Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang- kadang meragukan.Paru yang sehat menjadi lebih hiperinflasi. 2009). perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi memberikan suara amforik (Amin & Bahar. C.Laju endap darah mulai meningkat. akan terjadi pengecilan daerah aliran darah paru dan selanjutnya meningkatkan tekanan arteri pulmonalis (hipertensi pulmonal) (Amin & Bahar. Pemeriksaan Penunjang 1.

17 2. cairan pleura.S (Sewaktu): dahak dikumpulkan pada hari kedua.S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB dating berkunjung pertama kali. 2006). feses.Selain itu pemeriksaan dahak juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan (Amin & Bahar. bilasan bronkus. Pemeriksaan mikrobiologi Bahan untuk pemeriksaan mikrobiologi ini dapat berasal dari dahak.segera setelah bangun tidur.Pemeriksaan dahak (sputum) adalah penting karena dengan ditemukannya BTA. urin. diagnosis TB sudah dapat dipastikan.Biakan Pemeriksaan mikroskopik dapat dilakukan dengan: .Mikroskopik biasa: pewarnaan Ziehl-Nielsen . saatmenyerahkan dahak pagi. Pemeriksaan dahak untuk penegakkan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa SPS: . . dan jaringan biopsy (PDPI.Pemeriksaan mikrobiologi dari spesimen dahak dan bahan laindapat dilakukan dengan cara: .Mikroskopik .P (pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. cairan serebrospinal. 2009). kurasan bronkoalveolar. bilasan lambung. . Pot dibawa dan diserahkan sendirikepada petugas kesehatan.

karena teknik ini memiliki sensitivitas dan spesifitasyang lebih tinggi (80-93% dan 98%). Kudoh) dan agar-based media (Middle Brook). 2012). 2012). TB Paru dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk (multiform). Pemeriksaan standar adalah foto toraks posterior-anterior (PA). 18 . Kendalanya memerlukanwaktu yang lama (lebih dari 1 minggu) untuk memperoleh hasiljuga diperlukan fasilitas laboratorium khusus untuk kulturMycobacterium yang terjamin keamanannya (Lyanda. tuberculosis dengan metodekonvensional ialah dengan cara: Egg-based media (LowensteinJensen.Pada kasus-kasus tertentu dilakukan kultur untuk konfirmasidiagnosis. 2005).Mikroskopik fluoresens: pewarnaan auramin-rhodamin Teknik pewarnaan BTA ini digunakan secara rutin dilaboratorium termasuk di rumah sakit dan puskesmas. Pembagian berdasarkan luas lesi. 3. Teknik inilebih cepat namun sensitivitas dan spesifitasnya lebih rendah (34%-80%) dibandingkan kultur (Lyanda. Pemeriksaan Radiologik a. . Hal ini disebabkanoleh dalam pemeriksaan BTA diperlukan kurang lebih 5000-10. Ogawa.000kuman/ml dahak sedangkan untuk mendapatkan kuman positifpada biakan yang merupakan diagnosis pasti memerlukan sekitar10-100 kuman/ml dahak (Brodie & Schluger. Pada pemeriksaan foto toraks.Pemeriksaan biakan M. .

d. c. 19 b. Bila bayangannya kasar tidaklebih dari sepertiga bagian satu paru. Jumlah infiltrat bayangan halustidak lebih dari satu bagian paru. 2009). . Minimal tuberculosis: terdapat sebagian kecil infiltrat nonkavitaspada satu paru maupun kedua paru. Far advanced tuberculosis: terdapat infiltrat dan kavitas yangmelebihi keadaan pada moderately advanced tuberculosis (Amin &Bahar. Moderately advanced tuberculosis: ada kavitas dengandiameter tidak lebih dari 4 cm. tetapi jumlahnya tidakmelebihi satu lobus paru.

Bakteri. Emfisema) Inflamasi pada saluran Respon tubuh TB PARU pernafasan Perubahan anatomi parenkim paru Produksi sputum Pembesaran Alveoli Hiperatropi Kelenjar Mukosa Suplay oksigen tidak adekuat Penumpukan sputum keseluruh tubuh Penyempitan Saluran Udara Secara Periodik Kompensasi tubuh untuk memenuhi Sputum sulit dikeluarkan Ekspansi parumenurun Hipoksia Kebutuhan Oksigen dipenuhi dengan Bersihan Jalan Nafas meningkatkanFrekuensi pernafasan Tidak Efektif Sesak Kontraksi otot pernafasan penggunaan Energy untuk pernafasan meningkat Pola Nafas Tidak Efektif Intoleransi Aktivitas . Bronkhitis kronis. PATOFISIOLOGI TB PARU Rokok. Serbuk sari terhirup lewat saluran pernafasan Klasifikasi : Asthma. Bulu hewan.4. 20 2. Polusi Udara.

penanggung jawab meliputi: nama. Tempat tanggal lahir. c. hubungan dengan klien. warga Negara. 21 2. tinggi korbohidrat 2.6. frekuensi. Pola Persepsi Kesehatan Pemeliharaan Kesehatan Kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien. suku. Member informasi tentang proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan 6. Identitas pasien Nama. apa upaya dan dimana klien mendapat pertolongan kesehatan. Mencegah penyebaran infeksi 3. Pengkajian a. bahasa yang digunakan. Mendukung perilaku / tugas mempertahankan kesehatan 4. umur. Kaji selera makan .5. dan jumlah klien makan dan minum klien dalam sehari. jenis kelamin.1. b.6. agama. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan 1. Pencegahan : pengisolasian untuk pencegahan penularan melalui udara bila diperlukan 7. Meningkatkan strategi koping efektif 5. Nutrisi adekuat : tinggi protein. lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun. Meningkatkan / mempertahankan ventilasi / oksigenasi adekuat 2. alamat. Pola Nutrisi Metabolik Tanyakan kepada klien tentang jenis. Asuhan Keperawatan Pada Pasien TB Paru 2.

klien untuk memperolehgambaran status nutrisi. jumlah jam tidur. jantung seperti berdebar.Eliminasi proses. badanlemah. Pola aktifitas dan latihan Kaji kemampuan beraktifitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarangdan juga penggunaan alat bantuseperti tongkat. atau menulis. sesak dan lain-lain. kaji terhadap frekuensi. gatal. minum susu. karakteristik.Sering bangunsaat tidur dikarenakan nyeri. menonton televise. berkemih. Pola eliminasi Kaji terhadap frekuensi. mendengarkan musik. d. kursi roda dan lain-lain. kaji adanya mual muntah ataupun adanya terapi intravena. kesulitan ataumasalah defekasi. Pola istirahat dan tidur Tanyakan kepada klien kebiasaan tidur sehari-hari.Adakahkeluhan pada pernafasan. lingkar lengan atas serta hitung berat badan ideal. timbang juga berat badan. e. ukur juga intake output setiap sift. tidursiang. f. karakteristik. kesulitan/masalah dan jugapemakaian alat bantu folly kateter. . penggunaan selang entric. ukur tinggi badan. nyeri dada. dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam BAB. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti membaca. Bagaimana suasana tidur klien apakah terang atau gelap. 22 berlebihan atau berkurang.Tanyakan pada klien tentang penggunaan waktu senggang.

h. j. bagaimana klienmengatasi tak nyaman: terganggu. Pola peran hubungan dengan sesama Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga bagaimana hubungan klien dimasyrakat dan keluarga dan teman sekerja.Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien. . Pola persepsi kognitip Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu penglihatan.Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu. apakah klien pernah mengalami putusasa/frustasi/ stres dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya. pendengaran. i. Kaji apakah ada gangguankomunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluargadan orang lain. Pola persepsi dan konsep diri Kaji tingkah laku mengenai dirinya.penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri. Kaji keadaan klien ini terhadap penyusaian diri.tempat klien bertukar pendapat dan mekanismekoping yang digunakanselama ini. Pola produksi seksual Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrapsesi dan permasalahanyang timbul. Kaji tingkat orientasi terhadap tempatwaktu dan orang. 23 g.

tidak ventilasi spasme jalan nafas. tidak merasa tercekik. Menunjukkan jalan catat adanya suara adanya benda asing di nafas yang paten (klien tambahan jalan nafas. Intoleransi aktifitas 2.2.6. Bersihan Jalan Nafas tidak Setelah dilakukan tindakan a. Intervensi Keperawatan No. Monitor status DS: pernafasan dalam hemodinamik a. Obstruksi jalan nafas : nafas yang bersih. trauma batuk efektif dan suara memaksimalkan b. 2. Lakukan fisioterapi sekresi tertahan. Pastikan kebutuhan oral efektifberhubungan keperawatan selama …… / tracheal suctioning. Anjurkan pasien untuk neuromuskular. Infeksi. h. Auskultasi suara nafas. tidak ada suction bronkus. Diagnosa Keperawatan a. Bersihan Jalan Nafas tidak efektif b. Berikan O2 a. frekuensi i. f. eksudat di alveolus. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh e. ada sianosis dan e. Keluarkan sekret adanya jalan nafas bernafas dengan dengan batuk atau buatan. sekresi mudah. Kurang pengetahuan d. Berikan antibiotik ada suara nafas k. b. NANDA NOC NIC 1. 24 k. Dispneu rentang normal. dengan: pasien menunjukkan b. Atur intake untuk . disfungsi keefektifan jalan nafas c. dyspneu (mampu dada jika perlu banyaknya mukus.6. Mendemonstrasikan d. alergi jalan a. Pola Nafas tidak efektif c. Berikan bronkodilator irama nafas. dibuktikan dengan kriteria istirahat dan napas hiperplasia dinding hasil : dalam bronkus. mengeluarkan sputum. Posisikan pasien untuk nafas. Pola system kepercayaan Kaji apakah klien sering beribadah. adanya pursed lips) g. tidak j. asma.3. klien menganut agama apa? Kajiapakah ada nilai-nilai tentang agama yang klien anut bertentangankesehatan.

trakea f. sianosis dan catat adanya suara DS: dyspneu (mampu tambahan a. Berikan pelembab bernafas dg mudah. Dyspnea mengeluarkan f. Pernafasan pursed-lip rentang normal. udara per menit (klien tidak merasa i. udara Kassa basah DO: tidakada pursed NaCl Lembab a. memaksimalkan a. b. Posisikan pasien untuk berhubungan dengan : keperawatan selama …. Auskultasi suara nafas. Orthopneu mengidentifikasikan l. Hiperventilasi pasien menunjukkan ventilasi b.. Penurunan suara nafas c. Orthopnea pernafasan dalam hidung dan secret e. Penurunan keefektifan pola nafas. Kelelahan otot hasil: dada jika perlu pernafasan a. Produksi sputum penggunaan peralatan : h. irama status O2 pernafasan tambahan nafas. tidak ada e. Gelisah O2. Keluarkan sekret d. Saturasi O2 dalam yang adekuat untuk e. frekuensi j. Pertahankan jalan nafas . Mendemonstrasika d. Tahap ekspirasi tidak ada suara k. mampu g. Nafas pendek sputum. Kecemasan bersih. Monitor respirasi dan c. Bersihkan mulut. Mampu keseimbangan. Cyanosis dan mencegah faktor status O2 d. Jelaskan pada pasien atau tidak ada batas normal dan keluarga tentang g. Inhalasi. Perubahan frekuensi dan irama nafas 2. Berikan bronkodilator b. Kesulitan berbicara batas normal mengencerkan sekret f. Foto thorak dalam n. m. Penurunan pertukaran nafas yang paten keseimbangan. Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan a. Lakukan fisioterapi c. b. Menggunakan otot tercekik. Hipoventilasi n batuk efektif dan dengan batuk atau sindrom suara nafas yang suction e. d. Batuk. 25 DO: abnormal) cairan mengoptimalkan a. wheezing) d. Monitor respirasi dan c. Atur intake untuk inspirasi/ekspirasi b. i. Pasang mayo bila perlu energi/kelelahan dibuktikan dengan kriteria c. Penurunan tekanan lips) h. Suction. tidak efekotif e. Menunjukkan jalan cairan mengoptimalkan b. Kelainan suara nafas yang penyebab. Pertahankan hidrasi (rales.

Sediakan informasi pada dijelaskan perawat/tim pasien tentang kondisi. a. Observasi adanya tanda g. Monitor adanya darah. Tanda-tanda vital l. sumber informasi.pasien menunjukkan b. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat . Pasien dan keluarga d. Jelaskan patofisiologi interpretasi terhadap pengetahuan tentang proses dari penyakit dan informasi yang salah. penyakit dengan kriteria bagaimana hal ini kurangnya keinginan hasil: berhubungan dengan untuk mencari informasi. kesehatan lainnya dengan cara yang tepat g. pasien dan keluarga keterbatasan kognitif. p. kondisi. Kaji tingkat pengetahuan Berhubungan dengan : keperawatan selama …. Monitor pola nafas 3. nadi. menyatakan dengan cara yang tepat. Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas. 26 berlangsung sangat nafas abnormal) yang paten lama c. Identifikasi mengikuti instruksi. kecemasan pasien pernafasan) terhadap oksigenasi n. perilaku tidak sesuai mampu menjelaskan dengan cara yang tepat kembali apa yang f. dengan DS:Menyatakan secara pengobatan cara yang tepat verbal adanya b. Pasien dan keluarga kemungkinan penyebab. Gambarkan tanda dan penyakit. c. Pasien dan keluarga anatomi dan fisiologi. gejala yang biasa muncul prognosis dan program pada penyakit. Monitor vital sign o. Gambarkan proses masalah mampu melaksanakan penyakit. pemahaman tentang c. dengan cara prosedur yang yang tepat DO:ketidakakuratan dijelaskan secara benar e. Kurang Pengetahuan Setelah dilakukan tindakan a. tidak mengetahui sumber. Respirasi: < 11 – 24 x dalam rentang tanda hipoventilasi /mnt normal (tekanan m.

e. Jumlah limfosit d. Kolaborasi dengan ahli Berhubungan dengan : teratasi dengan indikator: gizi untuk menentukan Ketidakmampuan untuk a. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan. Yakinkan diet yang karena faktor biologis. d. Monitor intake nuntrisi k. Hemoglobin dimakan mengandung psikologis atau ekonomi. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak DO: selama jam makan  Diare g. Total iron binding tinggi serat untuk capacity mencegah konstipasi DS: f. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan i. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan j. Albumin serum jumlah kalori dan nutrisi memasukkan atau b. Kaji adanya alergi kurang dari kebutuhan keperawatan makanan tubuh selama…. Hb dan kadar Ht  Bising usus berlebih i. Monitor mual dan  Konjungtiva pucat muntah  Denyut nadi lemah j. Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi l. Monitor adanya  Nyeri abdomen penurunan BB dan gula  Muntah darah  Kejang perut e. Hematokrit c. Pre albumin serum yang dibutuhkan pasien mencerna nutrisi oleh c. 27 h. Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan tindakan a. berlebih rambut kusam. Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan . dengan cara yang tepat 4. Monitor lingkungan  Rasa penuh tiba-tiba selama makan setelah makan f. Monitor turgor kulit  Rontok rambut yang h.nutrisi kurang b. Monitor kekeringan. total  Kurang nafsu makan protein.

Observasi adanya Berhubungan dengan : keperawatan selama …. Monitor pola tidur dan kelemahan. Kelola pemberan anti emetik:. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan a. Monitor respon d. sesak nafas. Bantu klien untuk . aktivitas sehari hari disritmia. Kaji adanya faktor yang b. Monitor nutrisi dan c. Mampu melakukan aktivitas (takikardi. Gaya hidup yang dan RR kardivaskuler terhadap dipertahankan. Tirah Baring atau Pasien bertoleransi melakukan aktivitas imobilisasi terhadap aktivitas dengan b. Perubahan ECG : psikologi dan social aritmia. m. Respon abnormal dari g. pembatasan klien dalam a. mengidentifikasi aktivitas yang mampu DO : dilakukan a. DS: (ADLs) secara diaporesis. o.. Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan n.. Adanya dyspneu atau pasien ketidaknyamanan f. Melaporkan secara mandiri perubahan verbal adanya c. b.. Kelemahan Kriteria Hasil : menyebabkan kelelahan menyeluruh a. 28 yang adekuat dapat dipertahankan. a. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan i. b. nadi d.. Bantu untuk memilih tekanan darah atau aktivitas konsisten yang nadi terhadap sesuai dengan aktifitas kemampuan fisik. Berpartisipasi dalam c. Ketidakseimbangan aktivitas fisik tanpa sumber energi yang antara suplei oksigen disertai peningkatan adekuat dengan kebutuhan tekanan darah. Anjurkan banyak minum p. Keseimbangan hemodinamik) kelelahan atau aktivitas dan istirahat e. lamanya tidur/istirahat b. Bantu klien untuk saat beraktivitas. Pertahankan terapi IV line 5. iskemia h.. pucat.

Mukus ini digiring ke faring dengan mekanisme pembersihan silia dari epitel yang melapisi saluran pernapasan. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yosef dan Erva dengan judul Batuk Efektif Dalam Pengeluaran Dahak Pada Pasien Dengan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Baptis Kediri. kimiawi. atau infeksi yang terjadi pada membran mukosa). Penerapan EBN Pada kasus yang diangkat oleh penulis. sehingga mukus ini banyak tertimbun dan bersihan jalan nafas akan tidak efektif. 2006).Perawat mempunyai peranan dalam penatalaksanaan masalah keperawatan ketidakefektifan jalan nafas yaitu membantu mengefektifkan jalan nafas pasien dengan memberi intervensi keperawatan baik farmakologi ataupun non farmakologi (Brunner. timbul masalah keperawatan utama yaitu ketidakefektifan jalan nafas. 29 membuat jadwal latihan diwaktu luang j. Keadaan abnormal produksi mukus yang berlebihan (karena gangguan fisik. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas k.7. . menyebabkan proses pembersihan tidak berjalan secara adekuat normal. Penatalaksanaan ketidakefektifan jalan nafas secara non farmakologi dapat dilakukan dengan menganjarkan pasien batuk efektif.Orang dewasa normal bisa memproduksi mukus sejumlah 100 ml dalam saluran napas setiap hari. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan 2.

33% ). Batuk efektif dapat di berikan pada pasien dengan cara diberikan posisi yang sesuai agar pengeluaran dahak dapat lancar. Kondisi responden saat sebelum dan sesudah .Diharapkan perawat dapat melatih pasien dengan batuk efektif sehingga pasien dapat mengerti pentingnya batuk efektif untuk mengeluarkan dahak. udara keluar dengan akselerasi yang cepat beserta membawa sekret mukus yang tertimbun. 30 Bila hal ini terjadi. membran mukosa akan terangsang.33%). Penggunaan nebulizer untuk mengencerkan dahak tergantung dari kekuatan pasien untuk membatuk sehingga mendorong lendir keluar dari saluran pernapasan dan seseorang akan merasa lendir atau dahak di sauran napas hilang dan jalan nafas akan kembali normal. Batuk efektif merupakan satu upaya untuk mengeluarkan dahak dan menjaga paru – paru agar tetap bersih. Batuk efektif yang baik dan benar dapat mempercepat pengeluaran dahak pada pasien dengan gangguan saluran pernafasan. dan mukus akan dikeluarkan dengan tekanan intrathorakal dan intra abdominal yang tinggi. disamping dengan memberikan tindakan nebulizer dan postural drainage. Di batukkan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil yaitu pengeluaran dahak awal pada pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan nafas di instalasi rehabilitasi medik RS Baptis Kediri. Frekuensi pengeluaran dahak awal adalah sedikit 8 (53. Pengeluaran dahak dengan membatuk akan lebih mudah dan efektif bila diberikan penguapan atau nebulizer. Pengeluaran dahak sebelum perlakuan batuk efektif pada pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan nafas lebih dari 50% sedikit sebanyak 8 responden ( 53.

. 31 perlakuan batuk efektif mengalami perbedaan. . Hal tersebut dapat membuktikan bahwa penatalaksanaan nonfarmakologis tindakan batuk efektif dapat membuat bersihan jalan nafas seseorang menjadi lebih baik.

2. Biodata Pasien Nama klien Tn. Binjai Kec.96. Alamat : Jln. Menteng II Kel. Keluhan Utama Keluhan utama pasien adalah sesak nafas.01. 3. Batuk produktif (+) b) Quality/Quantity Klien merasakan dadanya berat dan sangat sulit untuk bernafas c) Region Klien merasakan di seluruh permukaan dada 32 . pekerjaan wiraswasta. status perkawinan menikah.22. Klien masuk rumah sakit tanggal 25 Juni 2015 dengan Nomor Register 00. Menteng II Kel. jenis kelamin perempuan.1. suku batak toba. ibu rumah tangga dengan alamat Jln. jenis kelamin laki-laki dengan usia 54 tahun. Medan Denai Medan 3. tanggal pengkajian 26 Juni 2015 Juli 2015 dengan diagnosa medis : TB Paru. Medan Denai Medan.2. agama kristen. Penanggung jawab klien adalah istri yang berinisial Ny. 32 BAB III MANAJEMEN KASUS 3. J. di rawat di ruang Dahlia. Pengkajian 3.2.2. Riwayat Kesehatan Sekarang a) Provocative/Palliative Klien mengalami batuk disertai sesak nafas. Binjai Kec. pendidikan terakhir SMA.1. K.

e) Time Keluhan batuk di sertai sesak sudah di alami klien sejak 2 bulan terkhir. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Klien mengatakan sebelumnya hanya mengalami batuk-batuk biasa dan 2 bulan terakhir makin parah disertai sesak dank lien mengalami penurunan berat badan.2.5. Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti klien. 33 d) Severity Keadaan kesehatan klien sangat mengganggu aktivitas. Genogram Keterangan : : Laki-laki : Serumah : Permpuan : KLien . 3.3. 3.4. 3.2.2.

sclera tidak ikterik. c) Pemeriksaan Head To Toe 1. Riwayat Atau Keadaan Psikososial Klien berusaha untuk menerima penyakitnya. Hubungan dengan keluarga dan orang lain baik. 34 3.7. refleks cahaya +/+. 2. Kepala Dan Rambut Bentuk kepala simetris.6. 3. pupil isokor 2/2 mm. Hidung Tidak ada polip dan secret. 3. tidak ada pembengkakan palpebral.Emosi pasien dalam kehidupan sehari-hari stabil. RR : 30x/i dan Suhu : 37 0C. konjungtiva tidak anemis. bersih dan rambut tipis. .2. Pemeriksaan Fisik a) Keadaan Umum Keadaan umum klien lemah dengan tingkat kesadaran CM (Compos Mentis) GCS : 15. b) Tanda-Tanda Vital Tanda-tanda vital : TD : 130/80 mmHg. Mata Bentuk mata simetris.2. Pernafasan Cuping Hidung positif dan terpasang oksigen Nasal Kanul 4L/i. HR : 89x/i.

Thoraks Atau Dada Bentuk thoraks Barrel Chest. terdapat serumen pada telinga kiri dan kanan. 5. tidak ada peradangan pada lubang telinga. Mulut Mukosa bibir kering. 3. Integument Kulit bersih. Pemeriksaan Pola Fungsional a) Pola Tidur Klien sering terbangun pada malam hari karena batuk-batuk dan sesak b) Pola Eliminasi Klien BAK 3-5 x/hari dan BAB 1-2 x/hari c) Pola makan dan minum Diet MB dengan lauk pauk 1 porsi sedang . Ireguler. 7. keadaan gigi dan gusi tidak ada kelainan. turgor kulit baik dan elastis. jalan nafas terhambat karena adanya secret.8.2. perkusi pekak pada sebagian lapangan paru. retraksi dada positif dan frekuensi pernafasan 30x/i. bunyi nafas wheezing. Leher Tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening. Telinga Bentuk telinga simetris. 35 4. dapat mendengar dengan baik. pernafasan cuping hidung(+). suhu akral dingin. warna kulit pucat. 6. 8.

000 mmol/L 3.50 – 5.3 g/ dL Leukosit 7400 ml Trombosit 230 x 103 mm3 Kimia Natrium 127.3.000 mmol/L 136. Hasil Pemeriksaan Penunjang Foto thorax : adanya TB Paru Sputum BTA : positif Mycobakterium Tuberkolosis Lab Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Darah Rutin Hb 11. 3.50 mmol/L Chlorida 100.00 – 103.000 mmol/L 95.00 mmol/L Kalium 4.00 mmol/L . 36 d) Kebersihan Diri Klien melukan personal hygiene dengan bantuan keluarga.000 – 155.

diaporesis. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan Kontraksi otot pernafasan penggunaan suction p. Pertahankan jalan nafas yang Ekspansi parumenurun tidak merasa tercekik.peningkatan Terapkan terapi tiup balon d. 37 Rokok. Berpartisipasi e. Auskultasi suara nafas. Observasi dan adanya pembatasan klien dalam mengidentifikasikan memaksimalkan ventilasi a. catat adanya q. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang PROSES PENYAKIT : untuk mengencerkan sekret aktivitas dan mampu dilakukan n. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih. Inhalasi. Lakukan fisioterapi dada jika perlu keluarga tentang tehnik relaksasi dan mencegah faktor dalam aktivitas melakukan aktivitas yang penyebab. disritmia. pernafasan) c. Lakukan fisioterapi dada jika Perubahan anatomi parenkim paru Penumpukan sputum perlu Pembesaran Alveoli d. Monitor adanya kecemasan pasien Kebutuhan Oksigen dipenuhi dengan ada suara nafas c. Secara Periodik bernafas dengan memenuhi mudah. psikologi dan Suction. frekuensi a. pucat. Menunjukkan jalan nafas yang paten NIC : (klien tidak merasa tercekik. Auskultasi suara nafas. tidak ada suara nafas pernafasan a. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat d. Emfisema) lips) b. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat l. Berikan O2 m.4. Menunjukkan jalan secret trakea Suplay oksigen tidak adekuat nafas yang paten (klien NIC : k. Posisikan pasien untuk o. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang MASALAH KEPERAWATAN : tentang penggunaan peralatan : O2. Jelaskan pada pasien dan keluarga istirahat h. irama Inflamasi pada nafas. Arus peningkatan Puncak e. Keluarkan sekret dengan batuk Sesak NOC : atau suction e. tidak b. tidak ada i. Monitor status hemodinamik b. Bersihkan mulut. tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum. bernafas dg mudah. frekuensi pernafasan dalam TB PARU saluran Respon tubuh Produksi sputum rentang normal. Posisikan pasien untuk abnormal) memaksimalkan ventilasi Pola Nafas Tanda-tanda vital Tidak dalam Efektif rentang normal b. Berikan bronkodilator nadiEkspirasi dan RR (Jurnal) i. tidakada pursed Bronkhitis kronis. Saturasi O2 dalam Energy untuk pernafasan meningkat batas normal g. tidak g. Mendemonstrasikan Sputum sulit dikeluarkan adanya suara tambahan Hiperatropi Kelenjar Mukosa batuk efektif dan suara f. Berikan pelembab udara Kassa ada sianosis dan basah NaCl Lembab dyspneu (mampu Bersihan Jalan Nafas Tidak h. Monitor respirasi dan status O2 secara mandiri pasien m. catat a. RENCANA KEPERAWATAN : social i. Mampu d. Bulu hewan. Pertahankan hidrasi yang adekuat c. Bakteri. Polusi Udara. Foto thorak dalam emosi secara berlebihan batas normal h. j. mampu Klasifikasi : Asthma. Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi. Efektif Kompensasi tubuh untuk mengoptimalkan keseimbangan. Atur intake untuk cairan aktivitas sehari perubahan hemodinamik) mengoptimalkan keseimbangan. f. Observasi adanya tanda tanda pernafasan dalam suctioning. NOC : 3. Mind Mapping Serbuk sari terhirup lewat saluran pernafasan TB PARU a. dalam Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan suara tambahan tekanan darah. Informasikan pada pasien a. Pastikan kebutuhan oral / tracheal l. Atur intake untuk cairan Penyempitan Saluran Udara mengeluarkan sputum. Monitor vital sign c. paten keseluruh tubuh irama nafas. Anjurkan pasien untuk istirahat dan terhadap oksigenasi NIC : abnormal) napas dalam NOC : meningkatkanFrekuensi pernafasan n. Monitor respirasi dan status O2 pursed lips) j. nadi.disertai Monitor pola nafas c. Berikan bronkodilator Hipoksia nafas yang bersih. Keseimbangan g. sesak nafas. sesuai dengan kemampuan fisik. hidung dan b. hari (ADLs) f. Berikan antibiotik melakukan Intoleransi Aktivitas k. hipoventilasi rentang normal. Pasang mayo bila perlu (tekanan darah. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan . Mampu e. Keluarkan sekret dengan batuk atau fisikuntuk memperbaiki tanpa polab.nafas.

38 3. Ceftriaxone 1 gr/12 jam pernafasan Pengobatan hipersekresi asam 6. Ranitidine 1 amp/8 jam lambung 7.5 Penatalaksanaan Terapi No. Interhistin 1x1 Anti alergi Antibiotic infeksi saluran 5. Ventolin Nebulizer 2. Nama obat Dosis Indikasi 1.5/8 jam Meringankan gejala sesak nafas 4. Salbutamol 20 mg 3x20 mg jalan nafas 3. IVFD NaCl 20 gtt/i Cairan fisiologis Bronkodilator pada obstruksi 2. Codein 3x1 Anti tusif .

39 3. klien mengatakan Suplai Oksigen ke seluruh sulit mengeluarkan tubuh tidak adekuat dahak c. Klien tampak lemah 2. Data Etiologi Problem 1 Subjektif : Rokok dan polusi Bersihan Jalan a. Rontok rambut yang berlebih c. Analisa Data No. klien mengatakan Tidak Efektif sulit bernafas b. Kurang nafsu makan d. Kejang perut DO: a.6. DS:  Klien mengatkan nyeri pada abdomen. klien mengatakan sulit mengeluarkan sputum Sputum meningkat Objektif : a. klien mengatakan Nafas Tidak sulit bernafas Efektif Inflasi b. RR : 30x/i Batuk b. Diare b. Pasien mengatakan sesak jika ke kamar Hipoksia mandi/beraktifitas Objektif : a. Pernafasan Cuping hidung 3. Batuk produktif d. Bising usus berlebih e. Subjektif : Ekspansi paru menurun Pola Nafas a. Muntah. RR : 30x/i Sesak nafas b. Sesak nafas Sputum sulit dikeluarkan e. Wheezing (+) e. Konjungtiva pucat . Secret putih kental c. Klien tampak lemah c.

alergi jalan f. Penurunan suara nafas h. dibuktikan dengan kriteria istirahat dan napas hiperplasia dinding hasil : dalam bronkus. tidak ventilasi spasme jalan nafas. Perubahan frekuensi dan irama nafas . Inhalasi. Intervensi Keperawatan No. tidak merasa tercekik. Anjurkan pasien untuk neuromuskular. Monitor status DS: pernafasan dalam hemodinamik a. Saturasi O2 dalam yang adekuat untuk n. adanya pursed lips) u. Pertahankan hidrasi (rales.5. Suction. Obstruksi jalan nafas : nafas yang bersih. Lakukan fisioterapi sekresi tertahan. tidak ada suction bronkus. Kelainan suara nafas yang penyebab. dengan: pasien menunjukkan p. k. Menunjukkan jalan catat adanya suara adanya benda asing di nafas yang paten (klien tambahan jalan nafas. dyspneu (mampu dada jika perlu banyaknya mukus. Berikan O2 c. Infeksi. 40 2. sekresi mudah. Berikan antibiotik ada suara nafas y. Foto thorak dalam bb. g. Keluarkan sekret adanya jalan nafas bernafas dengan dengan batuk atau buatan. wheezing) i. Cyanosis dan mencegah faktor status O2 m. aa. frekuensi w. Berikan bronkodilator irama nafas. eksudat di alveolus.3. Bersihan Jalan Nafas tidak Setelah dilakukan tindakan o. t. Posisikan pasien untuk nafas. tidak x. disfungsi keefektifan jalan nafas q. r. Auskultasi suara nafas. Pastikan kebutuhan oral efektifberhubungan keperawatan selama …… / tracheal suctioning. Monitor respirasi dan l. ada sianosis dan s. Orthopneu mengidentifikasikan z. trauma batuk efektif dan suara memaksimalkan d. Mendemonstrasikan r. v. asma. Mampu keseimbangan. Batuk. Gelisah O2. NANDA NOC NIC 1. Jelaskan pada pasien atau tidak ada batas normal dan keluarga tentang p. tidak efekotif j. mengeluarkan sputum. Atur intake untuk DO: abnormal) cairan mengoptimalkan j. Produksi sputum penggunaan peralatan : q. Kesulitan berbicara batas normal mengencerkan sekret o. Dispneu rentang normal.

Hipoventilasi n batuk efektif dan dengan batuk atau sindrom suara nafas yang suction j. trakea m. sianosis dan catat adanya suara DS: dyspneu (mampu tambahan c. Lakukan fisioterapi h. Penurunan pertukaran nafas yang paten keseimbangan. Berikan bronkodilator d.. Menunjukkan jalan cairan mengoptimalkan i. Kelelahan otot hasil: dada jika perlu pernafasan d. Penurunan tekanan lips) x. Pasang mayo bila perlu energi/kelelahan dibuktikan dengan kriteria s. memaksimalkan f. 41 2. frekuensi z. Nafas pendek sputum. k. udara per menit (klien tidak merasa y. Respirasi: < 11 – 24 x dalam rentang tanda hipoventilasi /mnt normal (tekanan cc. Observasi adanya tanda n. Hiperventilasi pasien menunjukkan ventilasi g. Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan q. Atur intake untuk inspirasi/ekspirasi e. nadi. ff. Tanda-tanda vital bb. Berikan pelembab bernafas dg mudah. Dyspnea mengeluarkan v. kecemasan pasien pernafasan) terhadap oksigenasi dd. Auskultasi suara nafas. Monitor respirasi dan j. Orthopnea pernafasan dalam hidung dan secret l. tidak ada u. Tahap ekspirasi tidak ada suara aa. Pertahankan jalan nafas berlangsung sangat nafas abnormal) yang paten lama f. Monitor vital sign ee. Bersihkan mulut. udara Kassa basah DO: tidakada pursed NaCl Lembab h. r. Posisikan pasien untuk berhubungan dengan : keperawatan selama …. Kecemasan bersih. Keluarkan sekret i. Monitor adanya darah. mampu w. Mendemonstrasika t. irama status O2 pernafasan tambahan nafas. Menggunakan otot tercekik. Pernafasan pursed-lip rentang normal. Penurunan keefektifan pola nafas. Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas. Monitor pola nafas .

pasien menunjukkan l. pemahaman tentang m. kesehatan lainnya dengan cara yang tepat q. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan s. mampu menjelaskan dengan cara yang tepat kembali apa yang p. menyatakan dengan cara yang tepat. dijelaskan secara benar o. Pasien dan keluarga n. kondisi. Pasien dan keluarga kemungkinan penyebab. Gambarkan proses mampu melaksanakan penyakit. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat r. dengan cara yang tepat . Kurang Pengetahuan Setelah dilakukan tindakan k. Pasien dan keluarga anatomi dan fisiologi. 42 3. sumber informasi. gejala yang biasa muncul prognosis dan program pada penyakit. dengan DS: Menyatakan secara pengobatan cara yang tepat verbal adanya masalah e. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan. d. pasien dan keluarga keterbatasan kognitif. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan t. Gambarkan tanda dan penyakit. Jelaskan patofisiologi interpretasi terhadap pengetahuan tentang proses dari penyakit dan informasi yang salah. dengan cara DO: ketidakakuratan prosedur yang yang tepat mengikuti instruksi. tidak mengetahui sumber. Sediakan informasi pada dijelaskan perawat/tim pasien tentang kondisi. Identifikasi perilaku tidak sesuai f. Kaji tingkat pengetahuan Berhubungan dengan : keperawatan selama …. penyakit dengan kriteria bagaimana hal ini kurangnya keinginan hasil: berhubungan dengan untuk mencari informasi.

Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan tindakan a. Monitor mual dan  Konjungtiva pucat muntah  Denyut nadi lemah y. Yakinkan diet yang karena faktor biologis. Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan cc. Pertahankan terapi IV line . Monitor adanya  Nyeri abdomen penurunan BB dan gula  Muntah darah  Kejang perut t. Kolaborasi dengan ahli Berhubungan dengan : teratasi dengan indikator: gizi untuk menentukan Ketidakmampuan untuk g. Kaji adanya alergi kurang dari kebutuhan keperawatan makanan tubuh selama…. Monitor kekeringan. k. Monitor lingkungan  Rasa penuh tiba-tiba selama makan setelah makan u. Total iron binding tinggi serat untuk capacity mencegah konstipasi DS: l.nutrisi kurang q.. Hb dan kadar Ht  Bising usus berlebih x. Hemoglobin dimakan mengandung psikologis atau ekonomi. Monitor turgor kulit  Rontok rambut yang w. Kelola pemberan anti emetik:. Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan. Pre albumin serum yang dibutuhkan pasien mencerna nutrisi oleh i. j. Albumin serum jumlah kalori dan nutrisi memasukkan atau h. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak DO: selama jam makan  Diare v. Jumlah limfosit s. Anjurkan banyak minum ee. 43 4.. Monitor intake nuntrisi z. berlebih rambut kusam. Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi aa. Hematokrit r.. dd. total  Kurang nafsu makan protein. bb..

lamanya tidur/istirahat d. pucat. d. Respon abnormal dari r. Observasi adanya Berhubungan dengan : keperawatan selama …. Kelemahan Kriteria Hasil : menyebabkan kelelahan menyeluruh d. Perubahan ECG : psikologi dan social aritmia. Monitor nutrisi dan g. Bantu klien untuk saat beraktivitas. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan t. Monitor respon h. Tirah Baring atau Pasien bertoleransi melakukan aktivitas imobilisasi terhadap aktivitas dengan m. sesak nafas. 44 5. Berpartisipasi dalam n. iskemia s. Monitor pola tidur dan kelemahan. c. DS: (ADLs) secara diaporesis. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan . Adanya dyspneu atau pasien ketidaknyamanan q. Gaya hidup yang dan RR kardivaskuler terhadap dipertahankan. Keseimbangan hemodinamik) kelelahan atau aktivitas dan istirahat p. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang u. nadi o. aktivitas sehari hari disritmia. e. Melaporkan secara mandiri perubahan verbal adanya f.. Kaji adanya faktor yang f. Ketidakseimbangan aktivitas fisik tanpa sumber energi yang antara suplei oksigen disertai peningkatan adekuat dengan kebutuhan tekanan darah. mengidentifikasi aktivitas yang mampu DO : dilakukan c. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan l. pembatasan klien dalam e. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas v. Bantu untuk memilih tekanan darah atau aktivitas konsisten yang nadi terhadap sesuai dengan aktifitas kemampuan fisik. Mampu melakukan aktivitas (takikardi.

Berikan O2 1. dyspneu (mampu batuk atau suction banyaknya mukus.7. Mampu 13. dengan: jam pasien menunjukkan 2. mengeluarkan sputum. Infeksi. Bersihan Jalan Nafas tidak Setelah dilakukan tindakan 1. Anjurkan pasien untuk neuromuskular. Cyanosis dan mencegah faktor mengencerkan sekret 4. frekuensi 11. Posisikan pasien untuk bronkus. Saturasi O2 dalam keluarga tentang . 45 3. ada suara nafas 12. Obstruksi jalan nafas : nafas yang bersih. tidak keseimbangan. Monitor respirasi dan DO: abnormal) status O2 1. sekresi mudah. disfungsi keefektifan jalan nafas 3. 2. Pertahankan hidrasi yang 2. wheezing) 4. Jelaskan pada pasien dan (rales. 10. Pastikan kebutuhan oral / efektifberhubungan keperawatan selama 3 x 24 tracheal suctioning. Orthopneu mengidentifikasikan adekuat untuk 3. tidak jika perlu spasme jalan nafas. Menunjukkan jalan 9. 7. Berikan bronkodilator eksudat di alveolus. Diagnosa NANDA. NOC dan NIC No. asma. Mendemonstrasikan memaksimalkan ventilasi nafas. alergi jalan 1. dibuktikan dengan kriteria istirahat dan napas dalam hiperplasia dinding hasil : 4. trauma batuk efektif dan suara 5. ada sianosis dan 6. Kelainan suara nafas yang penyebab. Auskultasi suara nafas. Atur intake untuk cairan DS: pernafasan dalam mengoptimalkan a. Lakukan fisioterapi dada 2. Dispneu rentang normal. adanya jalan nafas bernafas dengan catat adanya suara buatan. adanya pursed lips) 8. Keluarkan sekret dengan sekresi tertahan. Penurunan suara nafas 3. tidak merasa tercekik. 14. Berikan antibiotik irama nafas. NANDA NOC NIC 1. tidak ada tambahan bronkus. Monitor status adanya benda asing di nafas yang paten (klien hemodinamik jalan nafas.

Berikan bronkodilator  Dyspnea mengeluarkan sputum. Kelelahan otot hasil: dengan batuk atau pernafasan 1. ventilasi energi/kelelahan dibuktikan dengan kriteria 3. Kesulitan berbicara batas normal penggunaan peralatan : 6. tidak efekotif 5. 46 5. Batuk. Inhalasi. Posisikan pasien untuk 1. Hipoventilasi sindrom batuk efektif dan suara 4. Menunjukkan jalan hidung dan secret  Penurunan tekanan nafas yang paten (klien trakea inspirasi/ekspirasi tidak merasa tercekik. Auskultasi suara nafas. Gelisah 9. Monitor adanya pernafasan abnormal) kecemasan pasien . Monitor respirasi dan  Nafas pendek mampu bernafas dg status O2 mudah 7. Kecemasan nafas yang bersih. Perubahan frekuensi dan irama nafas 2. frekuensi yang paten pertukaran udara pernafasan dalam 9. Keluarkan sekret 3. Mendemonstrasikan suction 4. 5. 8. Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan 1. atau tidak ada batas normal 7. Penurunan keefektifan pola nafas. Monitor pola nafas berhubungan dengan : keperawatan selama 3x24 2. Foto thorak dalam O2. 6. DO: 2. Bersihkan mulut. Pertahankan jalan nafas  Penurunan irama nafas. Observasi adanya tanda per menit rentang normal. Suction. tidak catat adanya suara ada sianosis dan tambahan DS: dyspneu (mampu 5. tidak tanda hipoventilasi  Menggunakan otot ada suara nafas 10. Hiperventilasi jam pasien menunjukkan memaksimalkan 2. Produksi sputum 8.

c. Monitor vital sign berlangsung sangat (tekanan darah. Pre albumin serum yang dibutuhkan pasien karena faktor biologis. total  Rontok rambut yang protein. 13.nutrisi kurang 2. Monitor kekeringan. Monitor mual dan  Kurang nafsu makan muntah  Bising usus berlebih 9. d. Informasikan pada lama pernafasan) pasien dan keluarga  Respirasi: < 11 – tentang tehnik relaksasi 24 x /mnt untuk memperbaiki pola nafas. 47 tambahan 3. Kolaborasi dengan . Hb dan kadar Ht berlebih 8. Monitor intake nuntrisi  Konjungtiva pucat 10. 12. Hemoglobin dimakan mengandung e. Total iron binding tinggi serat untuk DS: capacityJumlah mencegah konstipasi  Nyeri abdomen limfosit 4. Monitor turgor kulit DO: 7.  Diare rambut kusam. Kolaborasi dengan ahli dengan:Ketidakmampuan teratasi dengan indikator: gizi untuk menentukan untuk memasukkan atau a. Informasikan pada klien  Denyut nadi lemah dan keluarga tentang manfaat nutrisi 11. Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor lingkungan setelah makan selama makan 6. Kaji adanya alergi kurang dari kebutuhan keperawatan makanan tubuhBerhubungan selama…. Yakinkan diet yang psikologis atau ekonomi. nadi. Terapkan terapi latihan nafas diafragma (diaphragma breathing) terhadap penurunan sesak nafas (jurnal) 3. Hematokrit 3. Monitor adanya  Muntah penurunan BB dan gula  Kejang perut darah  Rasa penuh tiba-tiba 5. Tanda-tanda vital terhadap oksigenasi  Tahap ekspirasi dalam rentang normal 11. Albumin serum jumlah kalori dan nutrisi mencerna nutrisi oleh b.

48 dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan. Pertahankan terapi IV line . Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan 13. 12.

00 Memantau keadaan umum S : pasien pasien mengatakan masih 08. Tanggal Pukul Implementasi Evaluasi (WIB) 1.5 ͦ C O : pasien masih 09. Cifrolaxacin.00 Mengganti infus pasien intervensi dan 16. 04/7/2015 08.5 ͦ C sesak.30 Mengukur TTV pasien : sesak TD : 130/90 mmHg HR : 87x/i O : pasien masih RR : 26x/i tampak lemah dan T : 36. terpasang 09.00 Memposisikan pasien teratasi semifowler 12.00 Berkolaborasi dengan dokter terapi dalam pemberian terapi : Ranitidin.00 Mengajarkan cara latihan nafas oksigen melalui diafragma (diaphragma nasal kanul 4L/i breathing) terhadap penurunan sesak nafas A : masalah belum 11.00 Mengajarkan latihan nafas diafragma (diaphragma breathing) terhadap penurunan sesak nafas(aplikasi jurnal) 20.5.00 Menganjurkan pasien untuk tidur 2.00 Merapikan tempat tidur pasien S : pasien 08.00 Memposisikan pasien pasien tampak semifowler keringat dingin 12.00 Mengajarkan cara latihan nafas tampak lemah dan diafragma (diaphragma sesak. terpasang breathing) terhadap penurunan oksigen melalui sesak nafas nasal kanul 4L/I. 17.00 Memberi pasien diet P : lanjutkan 14. 49 2. 03/7/2015 08.30 Mengukur TTV pasien : mengatakan TD : 130/90 mmHg sesaknya sedikit HR : 87x/i berkurang RR : 26x/i T : 36. Ambroxol.00 Memberi pasien diet 15.00 Mengajarkan latihan nafas A : masalah belum diafragma (diaphragma teratasi . 10.4 Catatan Perkembangan No.

00 Menganjurkan pasien tidur .400 Mengukur TTV pasien : TD : 130/90 mmHg O : pasien masih HR : 77x/i tampak lemah. 06/6/2015 08.00 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi ambroxol 17.00 Mengajarkan cara latihan nafas kanul 3L/I diafragma (diaphragma breathing) terhadap penurunan A : masalah sesak nafas teratasi sebagian 12. RR : 23x/i terpasang oksigen T : 36.00 Memberi pasien diet 20.35 Merapikan tempat tidur pasien berkurang 08.00 Menganjurkan pasien beristirahat 3.00 Memandikan pasien intervensi dan 18. 50 breathing) terhadap penurunan sesak nafas P : lanjutkan 17.00 Memantau keadaan umum S : pasien pasien mengatakan 08.00 Memposisikan pasien semifowler P : lanjutkan 13.30 Mengganti infus pasien sesaknya 08.00 Mengajarkan latihan nafas intervensi dan diafragma (diaphragma terapi breathing) terhadap penurunan sesak nafas 16.5 ͦ C melalui nasal 09.00 Memberikan diet pada pasien terapi 20.00 Memandikan pasien 18.

Pengkajian keperawatan (anamnese) telah di lakukan terhadap Tn. Pada bab ini akan di bahas tentang manajemen kasus keganasan pada sistem pernafasan dengan TB paru di ruangan DahliaRumah Sakit Putri Hijau medan sesuai dengan proses keperawatan yang meliputi pengkajian. pengkajian fisik. & Castro. pengkajian pola kesehatan. Pengkajian Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dan dasar dalam proses keperawatan. J pada tanggal 26 Juni 2015 dengan gangguan sistem pernafasan di ruangan Dahlia Rumah Sakit Putri Hijau Medan.1. dan genitourinary(LoBue. 52 . diagnose keperawatan. peritonium. pleura. pelaksanaan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. yang biasanya menginfeksi paru (Raviglione & O'Brien. 2008). 2012). 4. keluhan utama. Kemampuan mengidentifikasi masalah keperawatan yang terjadi pada tahap ini akan menentukan diagnosis keperawatan (Rohmah. 2008).Penyakit ini mungkin menyerang organ lain sepertiorgan limfatik. dan didukung dengan hasil pemeriksaan penunjang. mulai dari identitas klien. 51 BAB IV PEMBAHASAN Tuberkulosis adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan olehMycobacterium tuberculosis complex. rencana keperawatan. meningen. Setelah mendapatkan data dari pengkajian. riwayat kesehatan. Iadermaco. Pengkajian dilakukan dengan cara anamnese. tulang dan sendi.

. 2. J sudah mulai teratasi ditandai dengan berkurangnya sesak nafas. masalah keperawatan yang dialami Tn. 2012). masalah keperawatan yang dialami Tn. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Tn. Pola Nafas tidak efektif Setelah melakukan implementasi dalam 3 hari. atau komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan aktual ataupun potensial sebagai dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil tempat perawat bertanggung jawab (Rohmah. keluarga. J dengan gangguan sistem pernafasan didapatkan 3 diagnosa keperawatan yang timbul. Bersihan Jalan Nafas tidak efektif Setelah melakukan implementasi dalam 3 hari. J 26˟/i setelah melakukan implementasi terjadi penurunan RR menjadi 23˟/i . pasien sudah mulai merasakan kurang sesak.J yakni pola nafas tidak efektif sudah mulai teratasi dengan berkurangnya bantuan dari oksigenasi. setelah melakukan implementasi 1 hari kemudian terjadi penurunan oksigen melalui nasal kanul dan pasien mengatakan sesaknya berkurang.1. Pada hari pertama RR pasien Tn. yaitu : 1. pada hari pertama terpasang oksigen A4. 4. 52 selanjutnya data tersebut diinterpretasikan dan dianalisa untuk mengetahui masalah keperawatan dan menentukan diagnosa keperawatan yang muncul.

atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Intoleransi aktifitas 4. 53 3. Intervensi Keperawatan Rencana keperawatan adalah panduan untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari klien. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Setelah melakukan implementasi keperawatan dalam 3 hari .Intervensi dilakukan untuk membantu klien mencapai hasil yang diharapkan (Deswani.3.J yakni kurangnya nutrisi dari kebutuhan tubuh sudah mulai teratasi sebagian ditandai dengan pasien tampak segar dan sudah mulai makan yang dibantu oleh keluarga pasien.Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan. mengobservasi respon klien selama dan sesudah . 2009). masalah keperwatan yang di alami Tn. Perencanaan keperawatan yag dibuat oleh penulis sesuai dengan msalah keperawatan yang timbul pada pasien. Kurang pengetahuan 2. 4. Secara teoritis ada beberpa diagnose keperawatan yang dapat timbul pada manajemen kasus sistem pernafasan dengan TB paru yaitu : 1.2. pencapaian tujuan dan rasional dari rencana tindakan keperawatan yang dilakukan. Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. dimana penulis juga menambah jangka waktu.

Pengeluaran dahak dengan membatuk akan lebih mudah dan efektif bila diberikan penguapan atau nebulizer. serta menilai data yang baru (Rohmah. Pengeluaran dahak sebelum perlakuan batuk efektif pada .33%). Frekuensi pengeluaran dahak awal adalah sedikit 8 (53. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil yaitu pengeluaran dahak awal pada pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan nafas di instalasi rehabilitasi medik RS Baptis Kediri. Batuk efektif dapat di berikan pada pasien dengan cara diberikan posisi yang sesuai agar pengeluaran dahak dapat lancar. Batuk efektif yang baik dan benar dapat mempercepat pengeluaran dahak pada pasien dengan gangguan saluran pernafasan. 2012). Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yosef dan Erva dengan judul Batuk Efektif Dalam Pengeluaran Dahak Pada Pasien Dengan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Baptis Kediri. Penggunaan nebulizer untuk mengencerkan dahak tergantung dari kekuatan pasien untuk membatuk sehingga mendorong lendir keluar dari saluran pernapasan dan seseorang akan merasa lendir atau dahak di sauran napas hilang dan jalan nafas akan kembali normal. disamping dengan memberikan tindakan nebulizer dan postural drainage.Pada manajemen kasus pada sistem pernafasan dengan TB paru penataklasanaan non farmakologi adalah dengan menjarkan pasien batuk efektif. Batuk efektif merupakan satu upaya untuk mengeluarkan dahak dan menjaga paru – paru agar tetap bersih.Diharapkan perawat dapat melatih pasien dengan batuk efektif sehingga pasien dapat mengerti pentingnya batuk efektif untuk mengeluarkan dahak. 54 pelaksanaan tindakan.

4. T: 36.4. Kondisi responden saat sebelum dan sesudah perlakuan batuk efektif mengalami perbedaan.33% ). HR: 77x/i. . Pada manajemen kasus keganasan pada sistempernafasan dengn kasus TB paru dari 3 diagnosa keperawatan yang muncul setelah dilakukan implementasi keperawatan selama 3x24 jam masalah keperawatan yang teratasi sebagian yaitu Bersihan Jalan Nafas tidak efektif dan Pola Nafas tidak efektif dan kemudian di evaluasi. Evaluasi Evaluasi keperawatan adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan (Rohmah.5 ͦ C. penulis memantau tanda-tanda vital pasien dalam rentang normal yaitu TD: 130/90 mmHg. Hal tersebut dapat membuktikan bahwa penatalaksanaan nonfarmakologis tindakan batuk efektif dapat membuat bersihan jalan nafas seseorang menjadi lebih baik. 55 pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan nafas lebih dari 50% sedikit sebanyak 8 responden ( 53. 2012). RR: 23x/i.

J dengan gangguan sistem pernafasan TB paru di ruangan DahliaRumah Sakit Putri Hijau medan. Pada tahap diagnosa keperawatan. 2. Penyakit ini mungkin menyerang organ lain sepertiorgan limfatik.1. Pola Nafas tidak efektif c. peritonium. Bersihan Jalan Nafas tidak efektif b. Tuberkulosis adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan olehMycobacterium tuberculosis complex. a. TB Paru adalah tuberkulosis yangmenyerang jaringan paru. 2008). 2006). meningen.Adapun kesimpulan tersebut adalah : 1. Pada tahap pengkajian tidak di temukan hanbatan karna adanya kerja sama perawat dan klien meskinpun di temukan kesenjangan data dalam tinjauan teoritis dan tinjauan kasus 3. tidak termasuk pleura (PDPI. Kesimpulan Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada Tn. penulis mengacu pada pengkajian yang dilakukan sehingga masalah keperawatan yang ada pada tinjauan kasus. yang biasanya menginfeksi paru(Raviglione & O'Brien. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 55 . 56 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. & Castro. 2008). pleura. tulang dan sendi. Iadermaco. dan genitourinary(LoBue.

cepat dan tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi yang dihadapi baik dalm teori atau kasus lapangan.2. pada tahap perencanaan penulis mampu merencanakan seluruh tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah tersebut sesuai dengan tinjauaan teoritis keperawatan. Rumah Sakit Putri Hijau Medan Diharapkan Rumah Sakit Putri Hijau Medan dapat memberikan pelayanan dan mempertahankan hubungan kerja sama yang baik antara tim kesehatan dan dan pasien yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang optimal pada umumnya dan pada pasien 3.walaupun terdapat hambatan yaitu keterbatasan waktu dan tenaga penulis. Institusi Pendidikan Diharapkan institusi melakukan update keilmuan penanganan pasien baik dalam proses pembuatan asuhan keperawatan khususnya keperawatan medika bedah. . 2. 4. 57 d. Bagi Mahasiswa Diharapkan lebih proaktif. Saran 1. khususnya dalam pelaksanaan asuhan keperawatan medika bedah . Intoleransi aktifitas 4. Kurang pengetahuan e.