You are on page 1of 44

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep gaya hidup (life style)

2.1.1 Pengertia Gaya Hidup

Gaya hidup didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh

bagaimana orang menghabiskan waktu (aktivitas), apa yang mereka anggap

penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan

tentang diri mereka sendiri dan juga dunia disekitarnya .

Menurut Yohanes (2006) gaya hidup mempengaruhi perilaku seseorang

yang pada akhirnya menentukan pola konsumsi seseorang. Gaya hidup lebih

menggambarkan perilaku seseorang, yaitu bagaimana hidup, menggunakan

uangnya dan manfaatkan waktu yang dimilikinya (sumarwan,2014)

Pola-pola perilaku akan selalu berbeda dalam situasi atau lingkungan

sosial yang berbeda, dan senantiasa berubah, tidak ada yang menetap. Gaya hidup

individu akan memberi dampak pada kesehatan individu dan selanjutnya pada

kesehatan orang lain. Dalam “kesehatan” gaya hidup seseorang dapat dirubah

dengan cara memberdayakan kehidupan yang mempengaruhi pola perilakunya.

Dan tidak ada aturan ketentuan baku tentang gaya hidup yang berlaku untuk

semua orang, budaya, pendapatan, struktur keluarga, umur, dan kemampuan fisik,

lingkungan rumah dan lingkungan tempat kerja yang berbeda, menciptakan

berbagai “gaya” yang berbeda pula (Ari, 2016).

Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa gaya hidup sehat adalah

adalah suatu pilihan yang sangat tepat untuk kelangsungan hidup kita, sedangkan

6
pola hidup sehat adalah jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh fisik yang

sehat secara jasmani maupun rohani. Jadi gaya hidup sehat adalah proses untuk

mencapai pola hidup sehat.

2.1.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Gaya Hidup

Faktor yang mempengaruhi gaya hidup menurut Amstrong dalam

(Rumahorbo, 2014), gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang

dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau

menggunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya, proses pengambilan

keputusan pada penentu kegiatan-kegiatan tersebut. Lebih lanjut Amstrong

mengatakan faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup ada 2 faktor yaitu

faktor internal dan eksternal.

a) Faktor Internal, yaitu : faktor yang berasal dari dalam diri seseorang atau dari

dalam lingkungan itu sendiri

1. Sikap

2. Pengalaman

3. Pengamatan

4. Kepribadian

5. Konsep Diri

6. Motif

7. Persepsi

b) Faktor Eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri manusia atau yang

berasal dari luar lingkungan itu sendiri.

1. Kelompok referensi

7
2. Keluarga

3. Kelas sosial

4. Kebudayaan

2.1.3 Manfaat pola hidup sehat

Pola hidup sehat membantu meningkatkan kualitas hidup. Dengan

menerapkan pola hidup sehat, kita dapat terhindar dari berbagai penyakit.

Penerapan pola hidup sehat dapat mengurangi resiko jantung, stroke dan penyakit

diabetes kemudian meningkatkan stabilitas sendi sehingga meningkatkan dan

meningkatkan jangkauan pergerakan dan mempertahankan fleksibilitas sendi.

Makanan yang sehat dan olahraga teratur dapat menjaga massa tulang hingga kita

memasuki masa tua. Hal ini dapat mencegah osteoporosis dan patah tulang

(Irwansyah, 2013).

Pola hidup yang sehat juga sangat berdampak terhadap kesehatan jiwa

kita. Sehingga berbagai tugas, pekerjaan maupun masalah dapat kita tuntaskan

dengan baik karena pola hidup yang kita terapkan, misalnya olahraga rutin dapat

meningkatkan mood atau memperbaiki suasana hati sehingga mengurangi gejala

kecemasan dan depresi. Kemudian meningkatkan rasa kepercayaan diri. Selain itu

juga meningkatkan kemampuan mengingat dan mengurangi stress pada orang

lanjut usia (Irwansyah, 2012).

2.1.4 Cara menjaga hidup sehat

Menjaga kesehatan bagi kita tentunya akan lebih baik dan menguntungkan

daripada kita mengobati akan penyakit yang di derita. Karena manfaat menjaga

kesehatan bagi kita antara lain adalah kita dapat melakukan segala aktifitas

8
keseharian kita dengan lebih baik dan optimal. Baik yang berhubungan dengan

pekerjaan kita atau pun berhubungan dengan silaturahmi keluarga dan juga dalam

menjaga hubungan sosial dengan masyarakat kita.

Beberapa manfaat hidup sehat yang bisa kita dapatkan dengan kita

melakukan cara menjaga kesehatan antara lain adalah mengurangi pengeluaran

kita. Tentunya ini akan menghemat biaya. Karena bila kita sakit maka akan

banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pengobatan. Selain itu

juga dengan nikmat sehat yang kita miliki dan harus disyukuri akan bisa kita

manfaatkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah

dengan banyak melakukan amal ibadah dan juga amalan kebaikan (Irwansyah,

2013).

Begitu banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita

semuanya. Dan nikmat yang terbesar adalah iman dan Islam serta juga nikmat

sehat. Dan jalan untuk menunjukkan kita bersyukur atas nikmat hidup sehat ini

adalah dengan melakukan berbagai hal dan cara menjaga kebugaran tubuh serta

kesehatan diri kita dan juga keluarga kita dan pada umumnya kesehatan

masyarakat kita juga.

1) Menjalankan pola hidup sehat

Yang dimaksud dengan pengertian pola hidup sehat adalah segala aktifitas

kehidupan kita dalam melaksanakan kehidupan sehat baik dari segi pola

makan yang baik dan juga pola keseharian kita yang mencerminkan

kehidupan sehat. Baik itu dalam aktifitas olahraga yang bermanfaat untuk

9
menjaga kesehatan dan juga menghindarkan dari hal-hal yang bisa

mendatangkan penyakit bagi tubuh kita.

2) Mengonsumsi makanan dan buah yang sehat serta bergizi

Konsumsi makanan yang sehat bisa kita lakukan dengan memperbanyak

sayuran hijau, buah-buahan dan menghindari berbagai macam jenis

makanan cepat saji. Untuk bisa hidup sehat terutama dalam hal pola

makan maka kita harus benar-benar selektif dalam memilih beraneka

ragam jenis makanan. Menghindari makanan yang berkolesterol tinggi

juga baik untuk kesehatan kita terutama kepada kesehatan jantung kita.

Untuk itulah diperlukan cara dan tips pola makan sehat juga.

3) Mempunyai waktu istrahat yang cukup

Ada beberapa jenis penyakit yang disebabkan dan di picu oleh karena

kurang tidur. Untuk itulah agar tubuh kita terjaga kebugarab dan tetap

dalam kondisi fit maka jangan lupakan untuk istirahat tidur yang cukup.

Dalam keadaan tidur yang baik, maka ini akan mengistirahatkan segala

aktifitas tubuh kita baik secara fisik maupun mental.

4) Hindari kebiasaan yang merusak kesehatan

Ada beberapa kebiasaan yang berbahaya dan merugikan kesehatan tubuh

kita. Salah satunya adalah merokok dan juga meminum minuman alkohol

serta kebiasaan yang berkaitan dengan NAPZA (narkotika, psikotropika,

zat adiktif). Ini yang harus kita perhatikan benar-benar bila kita

menginginkan kesehatan senantiasa mendampingi aktifitas kegiatan

sehari-hari kita dengan baik.

10
5) Olahraga secara teratur

Berolah raga secara teratur sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh badan

kita. Dengan berolahraga maka akan dapat memacu jantung, pernafasan

dan peredaran darah menjadi lebih baik lagi. Membiasakan diri untuk

berolah raga setiap hari dengan kegiatan yang ringan yang bisa kita

lakukan contohnya seperti berjalan kaki, senam, fitnes, joging, bersepeda,

atau melakukan olah raga penuh seperti main badminton, sepak bola, lari

maraton, tenis, bola basket, dan lain sebagainya adalah merupakan bagian

dari cara untuk menjaga kesehatan serta kebugaran tubuh kita (Irwansyah,

2012).

6) Minum air putih yang cukup

Kita cukup mengenal akan banyak manfaat minum air putih bagi

kesehatan. Kesehatan telah menganjurkan untuk kita menkonsumsi air

putih dalam seharinya adalah tidak kurang dari 8 gelas. Air putih ini

sangat baik untuk membersihkan serta memperbaiki dan menjaga

kesehatan pencernaan kita. Serta kandungan nutrisi, oksigen dalam air

baik untuk kelancaran peredaran darah kita.

2.2 Konsep Gula Darah

2.2.1 Definisi

Menurut Dorland (2013) Kadar gula darah adalah jumlah kandungan

glukosa dalam plasma darah. Sherwood (2014) Glukosa darah puasa merupakan

salah satu cara untuk mengidentifikasi diabetes melitus pada seseorang. Pada

11
penyakit ini, gula tidak siap untuk ditransfer ke dalam sel, sehingga terjadi

hiperglikemia sebagai hasil bahwa glukosa tetap berada di dalam pembuluh darah.

Menurut kamus kedokteran Dorland (2013) Kadar gula darah adalah

jumlah kandungan glukosa dalam plasma darah. PERKENI (2014) Kadar gula

darah digunakan untuk menegakkan diagnosis DM. Untuk penentuan diagnosis,

pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan secara enzimatik dengan bahan

darah plasma vena. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat

menggunakan pemeriksaan gula darah kapiler dengan glukometer (Barnes dkk,

2014).

Menurut Soe et all, (2015) Kadar glukosa darah adalah istilah yang

mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau

tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Umumnya tingkat gula

darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari (70-150 mg/dl).

Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah

pada pagi hari, sebelum orang makan.

2.2.2 Klasifikasi Kadar Glukosa Darah

1) Glukosa darah puasa

Glukosa darah puasa adalah kadar gula yang diukur setelah melakukan

puasa selama kurang lebih 8 sampai dengan 10 jam. Kadar glukosa darah

normal pada saat puasa yaitu 70-110 mg/dl (Soe et al, 2015).

2) Glukosa darah 2 jam setelah makan

Glukosa darah 2 jam setelah makan sama dengan gula darah puasa, hanya

saja setelah puasa 2 jam sebelum tes pasien dianjurkan untuk makan dulu

12
dan kemudian baru dilakukan pemeriksaan. Kadar glukosa darah 2 jam

setelah makan normal adalah 140 mg/dl atau kurang. Kadar glukosa darah

normal pada saat setelah makan yaitu 110-160 mg/dl (Soe et al, 2015).

3) Glukosa darah sewaktu/acak

Pemeriksaan gula darah sewaktu paling sering dilakukan dengan cara pasien

datang langsung untuk dilakukan test, bisa juga membeli alatnya sendiri dan

melakukan pemeriksaan di rumah, namun juga tetap harus melakukan

dengan kaidah kebersihan dan peralatan steril untuk menghindari infeksi.

Cara ini begitu penting ketika digunakan untuk mengetahui penurunan kadar

glukosa darah dalam waktu yang cepat. Kadar glukosa darah sewaktu yaitu

70-125 mg/dl. Pengukuran kadar glukosa darah menunjukkan adanya

penyimpangan jika nilainya ≥200 mg/dl (Soegondo, 2013).

2.2.3 Metabolisme Glukosa

Semua sel dengan tiada hentinya mendapat glukosa; tubuh

mempertahankan kadar glukosa dalam darah yang konstan, yaitu sekitar 80-100

mg/dl bagi dewasa dan 80-90 mg/dl bagi anak, walaupun pasokan makanan dan

kebutuhan jaringan berubah-ubah sewaktu kita tidur, makan dan bekerja

(Soegondo, 2013).

Proses ini disebut homeostasis glukosa. Kadar glukosa yang rendah, yaitu

hipoglikemia dicegah dengan pelepasan glukosa dari simpanan glikogen hati yang

besar melalui jalur glikogenolisis dan sintesis glukosa dari laktat, gliserol dan

asam amino di hati melalui jalur glukonoegenesis dan melalui pelepasan asam

lemak dari simpanan jaringan adiposa apabila pasokan glukosa tidak mencukupi.

13
Kadar glukosa darah yang tinggi yaitu hiperglikemia dicegah oleh perubahan

glukosa menjadi glikogen dan perubahan glukosa menjadi triasilgliserol di

jaringan adiposa. Keseimbangan antarjaringan dalam menggunakan dan

menyimpan glukosa selama puasa dan makan terutama dilakukan melalui kerja

hormon homeostasis metabolik yaitu insulin dan glukagon (Soegondo, 2013).

2.2.3.1 Metabolisme Glukosa di Hati

Jaringan pertama yang dilewati melalui vena hepatika adalah hati. Di

dalam hati, glukosa dioksidasi dalam jalur-jalur yang menghasilkan ATP

(Adenosina Trifosfat) untuk memenuhi kebutuhan energi segera sel-sel hati dan

sisanya diubah menjadi glikogen dan triasilgliserol. Insulin meningkatkan

penyerapan dan penggunaan glukosa sebagai bahan bakar, dan penyimpanannya

sebagai glikogen serta triasilgliserol. Simpanan glikogen dalam hati bisa mencapai

maksimum sekitar 200-300 g setelah makan makanan yang mengandung

karbohidrat. Pada waktu simpanan glikogen mulai penuh, glukosa akan mulai

diubah oleh hati menjadi triasilgliserol (Soegondo, 2013).

2.2.3.2 Metabolisme di Jaringan Lain

Glukosa dari usus, yang tidak dimetabolisis oleh hati, akan mengalir dalam

darah menuju ke jaringan perifer. Glukosa adalah bahan bakar yang dapat

digunakan oleh semua jaringan. Banyak jaringan menyimpan glukosa dalam

jumlah kecil dalam bentuk glikogen. Glukosa akan dioksidasi menjadi karbon

dioksida dan air. Banyak jaringan misalnya otot menyimpan glukosa dalam

jumlah kecil dalam bentuk glikogen (Soegondo, 2013).

14
2.2.3.3 Metabolisme Glukosa di Otak dan Jaringan Saraf

Otak dan jaringan saraf sangat bergantung kepada glukosa untuk

memenuhi kebutuhan energinya. Jaringan saraf mengoksidasi glukosa menjadi

karbon dioksida dan air sehingga dihasilkan ATP. Apabila glukosa turun

diambang di bawah normal, kepala akan merasa pusing dan kepala terasa ringan.

Pada keadaan normal, otak dan susunan saraf memerlukan sekitar 150 g glukosa

setiap hari (Soegondo, 2013).

2.2.3.4 Metabolisme Glukosa di Sel Darah Merah

Sel darah merah hanya dapat menggunakan glukosa sebagai bahan bakar.

Hal ini karena sel darah merah tidak memiliki mitokondria, tempat

berlangsungnya sebagian besar reaksi oksidasi bahan seperti asam lemak dan

bahan bakar lain. Sel darah merah memperoleh energi melalui proses glikolisis

yaitu pengubahan glukosa menjadi piruvat. Piruvat akan dibebaskan ke dalam

darah secara langsung atau diubah menjadi laktat kemudian dilepaskan. Sel darah

merah tidak dapat bertahan hidup tanpa glukosa. Tanpa sel darah merah, sebagian

besar jaringan tubuh akan menderita kekurangan energi karena jaringan

memerlukan oksigen agar dapat sempurna mengubah bahan bakar menjadi CO2

dan H2O (Soegondo, 2013).

2.2.3.5 Metabolisme Glukosa di Otot

Otot rangka yang sedang bekerja menggunakan glukosa dari darah atau

dari simpanan glikogennya sendiri, untuk diubah menjadi laktat melalui glikosis

atau menjadi CO2 dan H2O. Setelah makan, glukosa digunakan oleh otot untuk

memulihkan simpanan glikogen yang berkurang selama otot bekerja melalui

15
proses yang dirangsang oleh insulin. Otot yang sedang bekerja juga menggunakan

bahan bakar lain dari darah, misalnya asam-asam lemak (Soegondo, 2013).

2.2.3.6 Metabolisme Glukosa di Jaringan Adiposa

Insulin merangsang penyaluran glukosa ke dalam sel-sel adiposa. Glukosa

dioksidasi menjadi energi oleh adiposit. Selain itu, glukosa digunakan sebagai

sumber untuk membentuk gugus gliserol pada triasilgliserol yang disimpan di

jaringan adiposa (Soegondo, 2013).

2.2.4 Absorbsi Gula Darah

Tubuh setelah mendapat intake makanan yang mengandung gula akan

melakukan proses pencernaan, dan absorbsi akan berlangsung terutama di dalam

duodenum dan jejunum proksimal, setelah absorbsi akan terjadi peningkatan

kadar gula darah untuk sementara waktu dan akhirnya kembali pada kadar semula

baseline (Dorland, 2013).

Besarnya kadar gula yang diabsorbsi sekitar 1 gram/kg BB tiap jam.

Kecepatan absorbsi gula di dalam usus halus konstan tidak tergantung pada

jumlah gula yang ada atau kadar dimana gula berada. Untuk mengetahui

kemampuan tubuh dalam memetabolisme karbohidrat dapat ditentukan dengan

TTGO (Tes Toleransi Glukosa Oral) (Dorland, 2013).

2.2.5 Mekanisme Pengaturan Glukosa Darah

Sangatlah penting bagi tubuh untuk mempertahankan konsentrasi glukosa

darah karena secara normal, glukosa merupakan satu-satunya bahan makanan

yang dapat digunakan otak, retina, epithelium germinal dari gonad. Sebaliknya,

konsentrasi glukosa darah perlu dijaga agar tidak meningkat terlalu tinggi karena

16
glukosa sangat berpengaruh terhadap tekanan osmotik cairan ekstraseluler, dan

bila konsentrasi glukosa meningkat sangat berlebihan akan dapat menimbulkan

dehidrasi seluler. Selain itu, sangat tingginya konsentrasi glukosa dalam darah

menyebabkan keluarnya glukosa dalam air seni. Keadaan tersebut menimbulkan

diuresis osmotik oleh ginjal, yang dapat mengurangi cairan tubuh dan elektrolit

(Soegondo, 2013).

Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil di dalam darah adalah

salah satu mekanisme homeostasis yang diatur paling halus dan sangat berkaitan

erat dengan hormon insulin dan glukagon. Insulin mempunyai efek meningkatkan

ambilan glukosa di jaringan seperti jaringan adiposa dan otot. Sekresi hormon ini

dirangsang oleh keadaan hiperglikemi, kerja insulin ini disebabkan oleh

peningkatan transpor glukosa (GLUT 4) dari bagian dalam sel membran plasma.

Sedangkan kerja glukagon berlawanan dengan kerja insulin, hormon glukagon

menimbulkan glikogenolisis dengan mengatifkan enzim fosforilase. Glukagon

bekerja dengan menghasilkan CAMP (Cyclic adenosine monophosphate)

(Dorland, 2013)

Hormon-hormon pankreas merupakan zat pengatur terpenting dalam

metabolisme bahan bakar normal. Namun, beberapa hormon lain juga memiliki

efek metabolik langsung walaupun kontrol sekresi mereka dikaitkan dengan

faktor-faktor di luar transisi antara keadaan kenyang dan puasa. Efek hormon

tiroid pada metabolisme intermediat bermacam-macam. Hormon ini merangsang

efek anabolik dan katabolik serta laju metabolisme keseluruhan. Hormon-hormon

stres, efinefrin dan kortisol, keduanya meningkatkan kadar glukosa dan asam

17
lemak dalam darah. Selain itu, kortisol dan hormon pertumbuhan berperan penting

dalam mempertahankan kadar gula darah selama keadaan kelaparan jangka

panjang (Soegondo, 2013).

2.2.6 Mekanisme Metabolik dan Hormonal Mengatur Kosentrasi Glukosa darah

Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil di dalam darah

merupakan salah satu mekanisme homeostatis yang diatur paling halus dan juga

menjadi salah satu mekanisme dengan hati, jaringan ekstrahepatik serta beberapa

hormon turut mengambil bagian. Sel-sel hati tampak dapat dilewati glukosa

dengan bebas (melalui transporter GLUT 2), sedangkan sel-sel pada jaringan

ekstrahepatik (di luar pulau Langerhans pankreas) relatif tidak permeabel. Sebagai

akibatnya, pelintasan lewat membran sel menjadi tahap pembatas kecepatan

dalam proses pengambilan glukosa di jaringan ekstrahepatik, dan glukosa

mengalami fosforilasi dengan cepat oleh heksokinase pada saat masuk ke dalam

sel. Sebaliknya, aktivitas enzim tertentu dan kosentrasi beberapa intermediet yang

penting mungkin memberikan pengaruh yang jauh lebih langsung terhadap

pengambilan atau pengeluaran glukosa dari hati. Walaupun begitu, kosentrasi

glukosa di dalam darah merupakan faktor yang penting yang mengendalikan

kecepatan ambilan glukosa baik di hati maupun jaringan ekstrahepatik

proteoglikan (Dorland, 2013).

18
2.2.7 Hormon yang Mengatur Glukosa Darah

Beberapa hormon yang mengatur glukosa darah, antara lain (Dorland,

2013).

a. Insulin

Insulin memainkan peranan sentral dalam mengatur glukosa darah.

Hormon ini dihasilkan oleh sel-sel B pada pulau-pulau Langerhans

pankreas sebagai reaksi langsung terhadap keadaan hiperglikemia. Sel-sel

pulau Langeerhans dapat dilewati dengan bebas oleh glukosa lewat

pengangkut GLUT 2, dan glukosa akan mengalami fosforilasi oleh enzim

glukokinase. Oleh karena itu, kosentrasi glukosa darah menentukan aliran

lewat glikolisis, siklus asam sitrat dan pembentukan ATP (Irwansyah,

2013).

Kosentrasi insulin di dalam darah sejajar dengan konsentrasi glukosa

darah. Pemberian insulin akan mengakibatkan hipoglikemia seketika.

Insulin mempunyai efek segera yang meningkatkan ambilan glukosa di

jaringan seperti adiposa dan otot. Kerja insulin ini disebabkan oleh

peningkatan transport glukosa dari bagian dalam sel ke mambran plasma.

Sebaliknya hormon insulin tidak memiliki efek langsung terhadap

penitrasi glukosa pada sel-sel hati; hasil penemuan ini sesuai dengan

kenyataan bahwa metabolisme glukosa oleh sel-sel hati tidak dibatasi

kecepatannya oleh permeabilitasnya terhadap glukosa. Meskipun

demikian, secara tidak langsung insulin akan meningkatkan ambilan

jangka panjang glukosa oleh hati sebagai hasil kerjanya pada sintesis

19
enzim yang mengontrol glikolisis, glikogenesis dan glukoneogenesis

(Dorland, 2013).

b. Glukagon

Glukagon merupakan hormon yang dihasilkan oleh sel-sel A pada pulau-

pulau Langerhans pankreas. Sekresi hormon ini dirangsang oleh keadaan

hipoglikemia. Pada saat mencapai hati, hormon glukagon menimbulkan

glikogenolisis dengan mengaktifkan enzim fosforilase. Sebagian besar

glukagon endogen dibersihkan dari sirkulasi darah oleh hati (Irwansyah,

2013).

c. Hormon Lain yang Mempengaruhi Glukosa darah

Kelenjar hipofisis anterior mengsekresikan hormon yang cenderung

menaikkan kadar glukosa darah dan dengan demikian mengantagonis kerja

insulin. Hormon-hormon ini adalah hormon pertumbuhan, ACTH

(kortikotropin) dan mungkin pula preparat hormon dengan prinsip

“diabetogenik” lainnya. Sekresi hormon pertumbuhan dirangsang oleh

keadaan hipoglikemia. Hormon pertumbuhan menurunkan ambilan

glukosa di jaringan tertentu, misalnya otot. Glukokortikoid disekresikan

oleh korteks adrenal dan sangat penting di dalam metabolisme

karbohidrat. Glukokortikoid menghambat penggunaan glukosa di jaringan

ekstrahepatik.

Epinefrin disekresikan oleh medula adrenal sebagai akibat dari rangsangan

yang menimbulkan stres (ketakutan, kegembiraan, perdarahan, hipoksia,

hipoglikemia, dan lain-lain) dan menimbulkan glikogenolisis di hati serta

20
otot karena stimulasi enzim fosforilase dengan menghasilkan CAMP

(Cyclic adenosine monophosphate). Pada otot, sebagai akibat tidak adanya

enzim glukosa-6-fosfatase, glikogenolisis terjadi dengan pembentukan

laktat sedangkan di hati, glukosa merupakan produk utama yang

menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah (Irwansyah, 2012).

Hormon tiroid dipandang juga sebagai hormon yang mempengaruhi

glukosa darah. Pasien hipertiroid menggunakan glukosa dengan kecepatan

yang normal atau meningkat, sedangkan pasien hipotiroid mempunyai

sensitivitas terhadap insulin yang jauh lebih rendah bila dibandingkan

dengan orang normal atau penderita hipertiroid.

2.2.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Glukosa Darah

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah, antara lain:

1) Asupan makanan

Makanan atau diet merupakan faktor utama yang berhubungan dengan

peningkatan kadar glukosa darah pada pasien diabetes terutama setelah

makan. Respon peningkatan kadar glukosa darah setelah makan

berhubungan dengan sifat monosakarida yang diserap, jumlah karbohidrat

yang dikonsumsi, tingkat penyerapan dan fermentasi kolon. Asupan

makanan terutama melalui makanan berenergi tinggi atau kaya karbohidrat

dan serat yang rendah dapat mengganggu stimulasi sel-sel beta pankreas

dalam memproduksi insulin. Asupan lemak di dalam tubuh juga perlu

diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap kepekaan insulin (Fox &

Kilvert, 2013).

21
2) Stres

Stress dapat meningkatkan kandungan glukosa darah karena stress

menstimulus organ endokrin untuk mengeluarkan ephinefrin. Ephinefrin

mempunyai efek yang sangat kuat dalam menyebabkan timbulnya proses

glikoneogenesis di dalam hati sehingga akan melepaskan sejumlah besar

glukosa ke dalam darah dalam beberapa menit (Soegondo, 2011). Hal ini

yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah pada saat stress atau

tegang. Penyakit ini hanya dapat dikendalikan saja tanpa bisa diobati dan

komplikasi yang ditimbulkan juga sangat besar seperti penyakit jantung,

stroke, disfungsi ereksi, gagal ginjal dan kerusakan sistem syaraf (Dorland,

2012).

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres seperti fisik (trauma,

pembedahan, panas, atau dingin hebat); fisiologis (olahraga berat, syok

perdarahan, nyeri); psikologis atau emosi (rasa cemas, ketakutan,

kesedihan); dan sosial (konflik pribadi, perubahan gaya hidup) memicu

pengeluaran hormon adrenalin dan kortisol yang juga menyebabkan

pelepasan glukosa hati sebagai respon “fight-or-flight” untuk

meningkatkan ketersediaan glukosa, asam amino, dan asam lemak untuk

digunakan jika diperlukan (Soegondo, 2013).

3) Aktivitas fisik

Aktivitas fisik yang kurang juga dapat menyebabkan peningkatan kadar

glukosa darah. Aktivitas fisik merupakan gerakan yang dihasilkan oleh

kontraksi otot rangka yang memerlukan energi melebihi pengeluaran

22
energi selama istirahat. Latihan merupakan bagian dari aktivitas fisik yang

terencana dan terstruktur dengan gerakan secara berulang untuk

meningkatkan atau mempertahankan kebugaran fisik. Selama melakukan

latihan otot menjadi lebih aktif dan terjadi peningkatan permeabilitas

membran serta adanya peningkatan aliran darah akibatnya membran

kapiler lebih banyak yang terbuka dan lebih banyak reseptor insulin yang

aktif dan terjadi pergeseran penggunaan energi oleh otot yang berasal dari

sumber asam lemak ke penggunaan glukosa dan glikogen otot. Olahraga

juga dapat digunakan sebagai usaha untuk membakar lemak dalam tubuh

sehingga dapat mengurangi berat badan bagi orang obesitas (Fox &

Kilvert, 2013).

Pada fase pemulihan setelah aktivitas terjadi proses pengisian kembali

cadangan glikogen otot dan hepar yang berlangsung sampai 12-72 jam

sesuai dengan berat dan ringannya latihan yang dilakukan (Soe et al.,

2013).

4) Peningkatan berat badan

Obesitas memiliki peran yang kurang baik yaitu meningkatkan resistensi

insulin oleh tubuh, sehingga glukosa yang ada di dalam darah tidak

mampu di metabolisme dengan baik oleh sel dan akhirnya terjadi

peningkatan glukosa dalam darah (Susanto, 2013).

5) Penggunaan obat

Kadar glukosa darah juga dapat dipengaruhi oleh penggunaan obat

hipoglikemia oral maupun dengan insulin. Mekanisme kerja obat dalam

23
menurunkan kadar glukosa darah antara lain dengan merangsang kelenjar

pankreas untuk meningkatkan produksi insulin, menurunkan produksi

glukosa dalam hepar, menghambat pencernaan karbohidrat sehingga dapat

mengurangi absorpsi glukosa dan merangsang reseptor. Insulin yang

diberikan lebih dini dan lebih agresif menunjukkan hasil klinis yang lebih

baik terutama berkaitan dengan masalah glukotoksisitas yang ditunjukan

dengan adanya perbaikan fungsi sel beta pankreas (Soegondo, 2013).

6) Infeksi

Peningkatan kadar gula darah juga terjadi bila terjadi infeksi. Hal ini

penting untuk menjaga ketersediaan energi untuk pertahanan dalam

melawan agen penyebab infeksi.

7) Gaya hidup

Menurut Badan Kesehatan Dunia (2013), gaya hidup merupakan salah satu

faktor yang dapat mempengaruhi kadar gula darah tidak terkontrol,

sehingga penderita diabetes mellitus perluh menerapkan pola gaya hidup

yang sehat dan benar agar kadar gula darah tetap normal.

1. Pengaturan makanan (Diit)

Diit adalah mengaturan asupan makanan yang dikonsumsi setiap

hari agar berat badan tetap normal dan lemak tidak berlebihan.

2. Kebiasaan Merokok

Rokok adalah musuh terbesar kesehatan. Nikotin yang terkandung

didalam darah akan mempengaruhi seluruh kerja organ tubuh.

Darah yang sudah teracuni oleh nikotin akan menyebabkan

24
sensitivitas insulin terganggu. Apabila kondisinya sudah demikian,

maka diabetes mellitus siap mengintai.

3. Kurang istrahat

Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil

riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang

tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses

glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat.

Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah

yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita

gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang

membuat kadar gula darah naik.

4. Kurang aktivitas

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di

negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke

depan. “Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di

Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini,

masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,”

kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak

Menular di Kawasan Pasifik Barat.

Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko

obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan

kaki, atau aktivitas lainnya.

25
2.3 Konsep lansia

2.3.1 Pengertian lansia

Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari

proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap

individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik

maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan

yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses

penuaan normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di

wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya tahan tubuh,

merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus

berhadapan dengan kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta

perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut

kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak

(Azisah, 2013). Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan

dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua

adalah fase akhir dari rentang kehidupan (Buleti Lansia, 2013).

Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal

dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai

mana diketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai

kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah,

seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu

usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu

26
telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba

menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Buleti Lansia, 2013).

Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU no 4 tahun 1965 adalah

seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri

untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain

(Depkes RI, 2013) sedangkan menuru UU no.12 tahun 1998 tentang kesejahteraan

lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun

(Depkes RI, 203). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu

kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses

penuaan yang berakhir dengan kematian (Buleti Lansia, 2013).

Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke

atas (Azisah, 2013). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan

mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat

bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi.

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam

mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga

Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek

biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (Azisah, 2013).

Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami

proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya

tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat

27
menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur

dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.

Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari

pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua

tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan

bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban

keluarga dan masyarakat.

Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan

secara terusmenerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan mengakibatkan

perubahan anatomis,fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan

mempengaruhi fungsi dan kemampuantubuh secara keseluruhan.Menjadi tua

ditandai dengan adanya kemunduran biologis yang terlihat sebagaigejala-gejala

kemunduran fisik, antara lain kulit menjadi mengendur, timbul keriput,

rambutmenjadi beruban, gigi mulai ompong, pendengaran dan penglihatan

berkurang, mudah lelah,gerakan menjadi lamban dan kurang lincah, serta terjadi

penimbunan lemak terutama di perutdan pinggul. Kemunduran lain yang terjadi

adalah kemampuan-kemampuan kognitif sepertisuka lupa, kemunduran orientasi

terhadap waktu, ruang, tempat serta tidak mudah menerimaide baru (Watson dkk,

2013).

Usia lanjut dapat dikatakan usia emas, karena tidak semua orang dapat

mencapai usiatersebut, maka orang yang berusia lanjut memerlukan tindakan

keperawatan, baik yang bersifat promotif maupun yang preventif, agar ia dapat

menikmati masa usia emas sertamenjadi usia lanjut yang berguna dan bahagia

28
2.3.2. Batasan Usia Lansia

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia ,lanjut usia dikelompokkan menjadi:

a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.

b. Lanjut usia (elderly) : antara 60 dan 74 tahun.

c. Lanjut usia tua (old) : antara 75 dan 90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun

2.3.3 Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

Banyak kemampuan berkurang pada saat orang bertambah tua. Dari ujung

rambut sampai ujung kaki mengalami perubahan dengan makin bertambahnya

umur. Menurut Nugroho (2014) perubahan yang terjadi pada lansia adalah sebagai

berikut:

1. Perubahan Fisik

a. Sel

Jumlahnya menjadi sedikit, ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan

intra seluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan hati,

jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel.

b. Sistem Persyarafan

Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun, berat

otak menurun 10-20%, mengecilnya syaraf panca indra sehingga

mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran,

mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu,

ketahanan tubuh terhadap dingin rendah, kurang sensitive terhadap

sentuhan.

29
c. Sistem Penglihatan.

Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata, lensa lebih suram

(kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, pupil timbul sklerosis, daya

membedakan warna menurun.

d. Sistem Pendengaran.

Hilangnya atau turunnya daya pendengaran, terutama pada bunyi suara

atau nada yang tinggi, suara tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50%

terjadi pada usia diatas umur 65 tahun, membran timpani menjadi atrofi

menyebabkan otosklerosis.

e. Sistem Cardiovaskuler.

Katup jantung menebal dan menjadi kaku,Kemampuan jantung menurun

1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kehilangan sensitivitas dan

elastisitas pembuluh darah: kurang efektifitas pembuluh darah perifer

untuk oksigenasi perubahan posisidari tidur ke duduk (duduk ke

berdiri)bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65mmHg dan

tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi dari pembuluh

darah perifer, sistole normal ±170 mmHg, diastole normal ± 95 mmHg.

f. Sistem pengaturan temperatur tubuh

Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu

thermostat yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi

beberapa factor yang mempengaruhinya yang sering ditemukan antara

lain: Temperatur tubuh menurun, keterbatasan reflek menggigildan tidak

30
dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya

aktifitas otot.

g. Sistem Respirasi.

Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik

nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan

kedalaman nafas turun. Kemampuan batuk menurun (menurunnya

aktifitas silia), O2 arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO2 arteri tidak

berganti.

h. Sistem Gastrointestinal.

Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap menurun, pelebaran

esophagus, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu

pengosongan menurun, peristaltik lemah, dan sering timbul konstipasi,

fungsi absorbsi menurun.

i. Sistem Genitourinaria.

Otot-otot pada vesika urinaria melemah dan kapasitasnya menurun

sampai 200 mg, frekuensi BAK meningkat, pada wanita sering terjadi

atrofi vulva, selaput lendir mongering, elastisitas jaringan menurun dan

disertai penurunan frekuensi seksual intercrouse berefek pada seks

sekunder.

j. Sistem Endokrin.

Produksi hampir semua hormon menurun (ACTH, TSH, FSH, LH),

penurunan sekresi hormone kelamin misalnya: estrogen, progesterone,

dan testoteron.

31
k. Sistem Kulit.

Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses

keratinisasi dan kehilangan jaringan lemak, berkurangnya elastisitas

akibat penurunan cairan dan vaskularisasi, kuku jari menjadi keras dan

rapuh, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya, perubahan pada

bentuk sel epidermis.

l. System Muskuloskeletal.

Tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan

tulang, persendian membesar dan kaku, tendon mengkerut dan mengalami

sclerosis, atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban, otot

mudah kram dan tremor.

m. Perubahan Mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah:

1) Perubahan fisik.

2) Kesehatan umum.

3) Tingkat pendidikan.

4) Hereditas.

5) Lingkungan.

6) Perubahan kepribadian yang drastis namun jarang terjadi misalnya

kekakuan sikap.

7) Kenangan, kenangan jangka pendek yang terjadi 0-10 menit.

8) Kenangan lama tidak berubah.

32
9) Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal,

berkurangnya penampilan, persepsi, dan ketrampilan, psikomotor

terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan dari factor

waktu.

n. Perubahan Psikososial

1. Perubahan lain adalah adanya perubahan psikososial yang

menyebabkan rasa tidak aman, takut, merasa penyakit selalu

mengancam sering bingung panic dan depresif.

2. Hal ini disebabkan antara lain karena ketergantungan fisik dan

sosioekonomi.

3. Pensiunan, kehilangan financial, pendapatan berkurang, kehilangan

status, teman atau relasi

4. Sadar akan datangnya kematian.

5. Perubahan dalam cara hidup, kemampuan gerak sempit.

6. Ekonomi akibat perhentian jabatan, biaya hidup tinggi.

7. Penyakit kronis.

8. Kesepian, pengasingan dari lingkungan social.

9. Gangguan syaraf panca indra.

10. Gizi

11. Kehilangan teman dan keluarga.

12. Berkurangnya kekuatan fisik

33
2. Perubahan Fisiologik Akibat Proses Menua

Pada dasarnya perubahan fisiologik yang terjadi pada aktifitas seksual pada

usia lanjut biasanya berlangsung secara bertahap dan menunjukan status

dasar dari aspek vaskuler ,hormonal dan neurilogiknya (Azisah, 2013).

Kaplan membagi siklus tanggapan seksual dalam beberapa tahap

1. Fase desire

Dipengaruhi oleh penyakit, masalah hubungan dengan pasangan, harapan

kultural, kecemasan akan kemampuan seks.

Hasrat pada lansia wanita mungkin menurun seiring makin lanjutnya usia,

tetapi bias bervariasi.

Interval untuk meningkatkan hasrat seksual pada lansia pria meningkat serta

testoteron menurun secara bertahap sejak usia 55 tahun akan mempengaruhi

libido.

2. Fase arousal

Lansia pria : ereksi membutuhkan waktu lebih lama, dan kurang begitu kuat;

penurunan produksi sperma sejak usia 40tahun akibat penurunan testoteron;

elevasi testis ke perineum lebih lambat.

3. Fase orgasmik

Lansia wanita : tanggapan orgasme kurang intens disertai lebih sedikit

konstraksil kemampuan mendapatkan orgasme multipel berkurang.

Lansia pria : kemampuan mengontrol ejakulasi membaik; kekuatan dan

jumlah konstraksi otot berkurang; volume ejakulat menurun.

34
4. Fase pasca orgasmik

Mungkin terdapat periode refrakter dimana pembangkitan gairah sampai

timbulnya fase orgasme berikutnya lebih sukar terjadi

2.4. Konsep Diabetes Mellitus

2.4.1. Pengertian Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus berasal dari Yunani “diabainein” yang berarti curahan

atau pancuran air, dan manis atau gula atau madu. Dengan demikian, secara

bahasa defenisi dari Diabetes Mellitus adalah curahan cairan dari tubuh yang

banyak mengandung gula. Cairan yang di maksud di sini yang berasa manis

karena banyak mengandung gula. (Rahmatul, dkk 2016)

Diabetes mellitus adalah suatu kondisi dimana kadar gula di dalam darah

lebih tinggi dari biasa, normalnya yaitu 60 mg/dl sampai dengan 145 mg/dl, hal

ini dikarenakan oleh tubuh yang tidak dapat melepaskan atau menggunakan

hormon insulin secara cukup. Perlu di ketahui bahwa hormon insulin dihasilkan

oleh pankreas dalam tubuh kita untuk mempertahankan kadar gula agar tetap

normal. Hal ini disebabkan tidak dapatnya gula memasuki sel-sel yang terjadi

karena tidak terdapat atau kekurangan atau resisten terhadap insulin (Mirza,

2015).

Diabetes mellitus pada kehamilan (Gestational Diabetes). Diabetes

kehamilan terjadi pada intoleransi glukosa yang diketahui selama kehamilan

pertama. Jumlah sekitar 2-4 % kehamilan. Wanita dengan diabetes kehamilan

35
akan mengalami peningkatan resiko terhadap diabetes setelah 5-10 tahun

melahirkan (Santi, 2015).

Diabetes pada kehamilan yang terjadi pada saat hamil disebut diabetes

gestasional. Keadaan ini terjadi karena pembentukan beberapa hormon pada

wanita hamil yang menyebabkan resistensi insulin (Hans, 2013).

2.4.2. Penyebab Diabetes Militus

Penyebab diabetes mellitus adalah kurangnya produksi dan ketersediaan

insulin dalam tubuh atau terjadinya gangguan fungsi insulin, yang sebenarnya

jumlahnya cukup. Kekurangan insulin disebabkan terjadinya kerusakan sebagian

kecil atau sebagian besar sel-sel beta langerhans dalam kelenjar pankreas yang

berfungsi menghasilkan insulin.(Retno, 2012)

Berikut faktor-faktor yang dapat menyebabkan seseorang berisiko terkena

DM (Susilo dkk, 2011).

a. Faktor keturunan

Penyakit DM kebanyakan adalah penyakit keturunan, bukan penyakit menular.

Meskipun demikian bukan berarti penyakit tersebut pasti menurun kepada

anak, walaupun kedua orang tuanya menderita penyakit DM. apabila

dibandingkan dengan kedua orangtuanya yang normal (non-DM), yang jelas

penderita DM lebih cenderung mempunyai anak yang menderita penyakit DM.

b. Obesitas (kegemukan)

Obesitas (kegemukan) termasuk hal yang menyebabkan terjadinya DM.

kebutuhan kalori per hari untuk setiap orang berbeda satu dengan lainnya.

Seorang lelaki dewasa membutuhkan antara 2000-2500 kalori per hari.

36
Jika asupan kalori per hari seseorang berlebihan, maka kalori yang tidak

terpakai akan diubah menjadi lemak. Jadi, kelebihan kalori dapat menybabkan

seseorang menjadi kegemukan. Kalau berat badan naik 1 kg, itu sama artinya

ada kelebihan asupan 8000 kalori yang diubah menjadi lemak (8000 kalori = 1

kg berat badan manusia).

c. Hipertensi

Penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi) sangat berbahaya bagi kesehatan.

Dengan tingginya kadar lemak dalam darah, sensitivitas darah terhadap insulin

menjadi sangat rendah.

Jika sensitivitas insulin meningkat maka kontrol gula akan lebih baik dan kadar

lemak dalam darah menjadi rendah. Rendahnya kadar lemak dalam darah akan

menurunkan kemungkinan timbulnya komplikasi penyakit jantung sehingga

ikut menurunkan angka kematian pada penderita DM.

d. Angka Triglycerid (Trigliserida) Yang Tinggi

Triglycerid (Trigliserida) adalah salah satu jenis molekul lemak yang tinggi.

Selain LDL (Low Density Lipoprotein), yaitu jenis kolesterol berbahaya

(kolesterol jahat) dan HDL (High Density Lipoprotein), yaitu jenis kolesterol

bersahabat (kolesterol biak), yang penting untuk diketahui juga adalah

Trigliserida, yaitu satu jenis lemak yang terdapat dalam darah dan berbagai

organ dalam tubuh. Meningkatnya kadar Trigliserida dalam darah juga dapat

meningkat kadar kolesterol. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi kadar

trigliserida dalam darah seperti kegemukan, konsumsi alkohol, gula, dan

makanan berlemak.

37
e. Level kolesterol tinggi

Kolesterol LDL pada penderita Diabetes lebih ganas karena bentuknya lebih

padat dan ukurannya lebih kecil (Small DenseLDL) sehingga sangat mudah

masuk dan menempel pada lapisan pembuluh darah yang lebih dalam

(aterogenik). Pada penderita DM, kematian utama disebabkan oleh penyakit

kardioserebrovaskular (penyakit pembuluh darah jantung dan otak). Oleh

karena itu, pasien DM sangat penting untuk menekan kolesterol, khususnya

LDL hingga <1001mg/Dl. Bahkan, pada diabetes yang sudah terkena penyakit

jantung koroner, target LDL-nya lebih rendah lagi, yakni <70mg/Dl.

f. Mengonsuksi makanan sehat

Zaman semakin maju dan terus berkembang. Hal ini membuat manusia

semakin terdorong untuk meraih prestasi setinggi-setingginya dan menjadi

yang terbaik. Kondisi ini sering diwarnai dengan gaya hidup modern yang

tidak sehat.

Selain itu, mereka juga terbiasa mengonsumsi makanan instan atau makanan

cepat saji yang banyak mengandung garam dan penyedap rasa. Kandungan ini

bila dikonsumsi secara terus-menerus dan tidak diimbangi dengan pola hidup

yang sehat, akan menyebabkan terganggunya kesehatan, seperti kegemukan,

tinginya kolesterol, dan lain-lain. Inilah yang memicu terganggunya

metabolisme dalam tubuh, termasuk sensitivitas insulin yang menyebabkan

DM.

38
g. Merokok dan stres

Rokok adalah musuh terbesar kesehatan. Nikotin yang terkandung didalam

darah akan mempengaruhi seluruh kerja organ tubuh. Darah yang sudah

teracuni oleh nikotin akan menyebabkan sensitivitas insulin terganggu. Apabila

kondisinya sudah demikian, maka DM siap mengintai.

Stres sebenarnya tidak menyebabkan penyakit fisik secara langsung. Namun,

karena pada saat stress hormon-hormon racun diproduksi, maka kondisi stress

yang berlangsung terus-menerus akan menyebabkan terjadi kandungan racun

yang melimpah di dalam tubuh. Inilah yang kemudian mengacaukan seluruh

metabolisme tubuh. Sensitivitas insulin pun terganggu dan menyebabkan

terjadinya DM.

h. Terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat

Bagi diabetesi, disarankan untuk makan makanan yang bervariasi agar tercapai

keseimbangan antara karbohidrat, protein, dan lemak. Sebagian penderita DM

bisa mengendalikan gula darahnya hanya dengan makan tiga kali sehari dan

menghindari makanan manis. Sementara, sisanya perlu diet ketat. Orang yang

terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat dapat terancam DM karena di dalam

karbohidrat ini terdapat banyak zat gula yang akan memicu pertambahan kadar

gula darah.

i. Kerusakan pada sel pankreas

DM dapat terjadi jika pankreas (suatu kelenjar di bagian atas perut) tidak

berfungsi sebagaimana mestinya. Biasanya pankreas menghasilkan insulin,

yaitu hormon yang penting untuk menyimpan glukosa dalam tubuh. Apabila

39
pankreas berhenti menghasilakan insulin atau hanya sedikit insulin yang

diproduksi, penyakit DM pasti akan terjadi.

j. Kelainan hormonal

Kemungkinan induksi DM tipe 2 dari berbagai macam kelainaan hormonal,

seperti hormon keluarnya kelenjar adrenal, kelenjar hipofisis, dan kelenjar

tiroid merupakan studi pengamatan yang sedang popular saat ini.

2.4.3 Patofisiologi

Diabetes Tipe I. Pada diabetes tipe ini terdapat ketidakmampuan untuk

menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses

autoimun. Hipereglikemia-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak

terukur oleh hati. Disamping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat

disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan

hiperglikemia postprandial (sesudah makan).

Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat

menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa

tersebut muncul dalam urine (Glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan

diekskresikan ke dalam urine, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan

elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai

akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan, pasien akan mengalami

peningkatan dalam berkemih (Poliuria) dan rasa haus (polidipsia).

Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang

menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera

40
makan (Polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup

kelelahan dan kelemahan.

Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan

glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari

asam-asam amino serta substansi lain), namun pada penderita defisiensi insulin,

proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut turun menimbulkan

hiperglikemia. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan

peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan

lemak. Badan keton merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam basa

tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis diabetik yang diakibatkannya

dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti hiperventilasi, napas bau

aseton dan bila tidak ditangani akan mengakibatkan perubahan kesadaran, koma

bahkan kematian.

Diabetes Tipe II. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang

berhubungan dengan insulin yaitu retensi insulin dan gangguan sekresi insulin.

Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel.

Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian

reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. Retensi insulin pada diabetes tipe

II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi

tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.

Untuk mengatasi retensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa

dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada

penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin

41
yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal

atau sedikit meningkat. Namun demikian jika sel-sel beta tidak mampu

mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan

meningkat dan terjadi diabetes tipe II (Sylvia, 2014).

2.4.4 Klasifikasi

1) IDDM (Insulin Dependent Diabetes Millitus) atau diabetes tipe 1

Sangat tergantung pada insulin. Disebabkan oleh kerusakan sel beta

pankreas sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin alami untuk

mengontrol kadar glukosa darah.

2) NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Millitus) atau diabetes tipe 2

Tidak tergantung insulin. Disebabkan oleh gangguan metabolisme dan

penurunan fungsi hormon insulin dalam mengontrol kadar glukosa darah

dan hal ini bisa terjadi karena faktor genetik dan juga dipicu oleh pola

hidup yang tidak sehat.

3) Gestational Diabetes

Disebabkan oleh gangguan hormonal pada wanita hamil.

Diabetes melitus (gestational diabetes mellitus, GDM) juga melibatkan

suatu kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin

yang tidak cukup, sama dengan jenis-jenis kencing manis lain. Hal ini

dikembangkan selama kehamilan dan dapat meningkatkan atau

menghilang setelah persalinan. Walaupun demikian, tidak menutup

kemungkinan diabetes gestational dapat mengganggu kesehatan dari janin

42
atau ibu, dan sekitar 20%–50% dari wanita-wanita dengan Diabetes

Melitus gestational sewaktu-waktu dapat menjadi penderita.

Table 1. Perbedaan diabetes tipe 1 dengan tipe 2.
Diabetes Mellitus tipe 1 Diabetes Mellitus tipe 2
Penderita menghasilkan sedikit insulin Pankreas tetap menghasilkan insulin,
atau sama sekali tidak menghasilkan kadang kadarnya lebih tinggi dari
insulin normal. Tetapi tubuh membentuk
kekebalan terhadap efeknya, sehingga
terjadi kekurangan insulin relatif

Umumnya terjadi sebelum usia 30 tahun, Bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa,
yaitu anak-anak dan remaja. tetapi biasanya terjadi setelah usia 30
tahun
Para ilmuwan percaya bahwa faktor Faktor resiko untuk diabetes tipe 2
lingkungan (berupa infeksi virus atau adalah obesitas dimana sekitar 80-90%
faktor gizi pada masa kanak-kanak atau penderita mengalami obesitas
dewasa awal) menyebabkan sistem
kekebalan menghancurkan sel penghasil
insulin di pankreas. Untuk terjadinya hal
ini diperlukan kecenderungan genetik.

90% sel penghasil insulin (sel beta) Diabetes Mellitus tipe 2 juga cenderung
mengalami kerusakan permanen. Terjadi diturunkan secara genetik dalam
kekurangan insulin yang berat dan keluarga
penderita harus mendapatkan suntikan
insulin secara teratur

Sumber: Brunner & Suddarth, 2014

2.4.5 Manifestasi Klinis

Gejala dari penderita Diabetes mellitus yaitu 3P:

a) Poliuria : Peningkatan dalam berkemih

b) Polidipsia : Peningkatan rasa haus

c) Poliphagia : Peningkatan selera makan

43
Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya

ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol

lebih peka terhadap infeksi.

Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan

penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan.

Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Gejala klinis pada pasien diabetes berdasarkan klasifikasi (Brunner dan Suddarth,

2014):

a. Diabetes tipe I atau IDDM

1. Awitan terjadi pada segala usia, tetapi biasanya usia muda (<30 tahun).

2. Biasanya bertubuh kurus pada saat didiagnosis, dengan penurunan berat

yang baru saja terjadi.

3. Etiologi mencakup faktor genetik, imunologi atau lingkungan (misalnya

virus).

4. Sering memiliki antibodi sel pulau Langarhans.

5. Sering memiliki antibodi terhadap insulin sekalipun belum pernah

mendapatkan terapi insulin.

6. Sedikit atau tidak mempunyai insulin endogen.

7. Memerlukan insulin untuk mempertahannkan kelangsungan hidup.

8. Cenderung mengalami ketosis jika tidak memiliki insulin.

9. Komplikasi akut hiperglikemia: ketoasidosis diabetik

b. Diabetes tipe II atau NIDDM

1) Awitan terjadi di segala usia , biasanya di atas 30 tahun.

44
2) Biasanya bertubuh gemuk (obese) pada saat didiagnosis.

3) Etiologi mencakup faktor obesitas, herediter atau lingkungan.

4) Tidak ada antibodi sel pulau Langarhans.

5) Penurunan produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi insulin.

6) Mayoritas penderita obesitas dapat mengendalikan kadar glukosa

darahnya melalui penurunan berat badan.

7) Agens hipoglikemia oral dapat memperbaiki kadar glukosa darah bila

modifikasi diet dan pelatihan tidak berhasil.

8) Mungkin memerlukan insulin dalam waktu yang pendek atau panjang

untutk mencegah hiperglikemia.

9) Ketosis jarang terjadi kecuali bila dalam keadaan stress atau menderita

infeksi.

10) Komplikasi akut: sindrom hiperosmoler non ketotik.

c. Gestasional diabetes

1. Awitan selama kehamilan biasanya terjadi pada trimester kedua atau

ketiga.

2. Disebabkan oleh hormon yan disekresikan plasenta dan menghambat

kerja insulin.

3. Risiko terjadinya komplikasi perinatal diatas normal, khususnya

makrosomia (bayi yang secara abnormal berukuran besar).

4. Diatasi dengan diet, dan insulin (jika diperlukan) untuk mempertahankan

secara ketat kadar glukosa darah normal.

5. Terjadi pada sekitar 2%-5% dari seluruh kehamilan.

45
6. Intoleransi glukosa terjadi untuk sementara waktu tetapi dapat kambuh

kembali: pada kehamilan berikutnya, 30-40% akan mengalami diabetes

yang nyata (biasanya tipe II) dalam waktu sepuluh tahun (jika obesitas).

7. Faktor risiko mencakup: obesitas, usia diatas 30 tahun, riwayat diabetes

dalam keluarga, pernah melahirkan bayi yang besar (lebih dari 4,5 kg)

Pemeriksaan skrining (tes toleransi) harus dilakukan pada semua wanita

hamil dengan usia kehamilan di antara 24-28 minggu

2.4.6 Faktor Resiko

a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)

b. Obesitas dan riwayat keluarga

2.4.7 Penatalaksanaan

1) Terapi farmakologi

a) Obat hipoglikemik oral

1. Sulfonilurea, obat golongan sulfonilurea bekerja dengan cara:

a. Menstimulasi pengelepasan insulin yang tersimpan.

b. Menurunkan ambang sekresi insulin.

c. Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa

Obat golongan ini biasanya diberikan pada pasien dengan berat badan

normal dan masih bisa dipakai pada pasien yang beratnya sedikit lebih.

Klorpropamid kurang dianjurkan pada kaedaan insufisiesi renal

dan orang tua karena risiko hipoglikemia yang berkepanjangan, demikian

juga glibenklamid. Untuk orang tua dianjurkan preparat dengan waktu

46
kerja pendek (tolbutamid, glikuidon). Glikuidon juga diberikan pada

pasien DM dengan gangguan fungsi ginjal atau hati ringan

2. Biguanit

Biguanid menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai dibawah

normal. Preparat yang ada dan aman adalah metformin. Obat ini

dianjurkan untuk pasien gemuk (Indek Masa Tubuh/IMT >30) sebagai

obat tunggal. Pada pasien dengan berat lebih (IMT 27-30), dapat

dikombinasi dengan obat golongan sulfonilurea.

3. Inhibitor α glukosidase

Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim α

glukosidase didalam saluran cerna, sehingga menurunkan penyerapan

glukosa dan menurunkan hiperglikemia pascaprandial.

b) Insulin

Insulin diperlukan pada keadaan:

1) Penurunan berat badan yang cepat.

2) Hiperglikemia berat yang disertai ketosis.

3) Ketoasidosis diabetik.

4) Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik.

5) Hiperglikemia dengan asidosis laktat.

6) Gagal dengan kombinasi obat hipoglikemik oral (OHO) dosis hampir

maksimal.

7) Stres berat (Infeksi sitemik, operasi besar, IMA, stroke).

47
8) Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak

terkendali.

9) Gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat.

10) Kontraindikasi atau alergi tarhadap OHO.

Jenis dan lama kerja Insulin

Berdasarkan lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yakni :

a. Insulin kerja cepat (rapid acting insulin).

b. Insulin kerja pendek (short acting insulin).

c. Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin).

d. Insulin kerja panjang (long acting insulin).

e. Insulin campuran tetap (premixed insulin).

f. Efek samping terapi insulin

g. Efek samping utama dari terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia.

h. Efek samping yang lain berupa reaksi imun terhadap insulin yang

dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.

2) Terapi nonfarmakologi

1. Perencanaan makanan (Diet)

Penatalaksanaan nutrisi pada diabetes diarahkan untuk mencapai

tujuan berikut:

a. Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin dan

mineral).

b. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai.

c. Memenuhi kebutuhan energi.

48
d. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan

mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui

cara-cara yang aman dan praktis.

e. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.

2. Latihan

Latihan pada penderita dapat dilakukan seperti olaharaga kecil, jalan-

jalan sore, senam diabetik untuk mencegah peningkatan kadar gula

darah.

49