You are on page 1of 12

LIPID

Martha Herelda Sirait, 230110160122
Kelas Perikanan B, Kelompok 3

ABSTRAK

Lemak adalah suatu golongan senyawa yang dapat larut dalam pelarut organik dan tidak mudah
larut dalam air. Sabun adalah suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi safonifikasi.
Reaksi safonifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak karena adanya basa misalnya
NaOH. Di dalam sabun terdapat struktur bipolar, bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian
ekor bersifat hidrofobik. Penelitian ini dilakukan pada 29 Maret 2017 pada pukul 08.00 WIB-
10.00 WIB di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan. Tujuan praktikum ini adalah
membuat dan memahami reaksi penyabunan pada proses pembuatan sabun di laboratorium dan
menjelaskan beberapa sifat sabun berdasarkan percobaan yang dilakukan. Penelitian dilakukan
dengan cara mengukur kadar oksigen terlarut dalam media tumbuh tanaman.. Dari praktikum
yang telah dilakukan oleh kelompok 3, didapatkan hasil bahwa tidak terjadi perubahan.

Kata kunci : Air, Lemak, NaOH, Sabun, Saponifikasi

ABSTRACT

The term of lipid applies to a class of compounds that are soluble in organic solvents and
insoluble in water. Soap is a form of compounds produced from the reaction of saponification.
Saponification reaction is the hydrolysis of the fatty acids due to base such as NaOH. In soap
there is bipolar structure, the heads are hydrophilic and the tail is hydrophobic. This research
was conducted on March 29 at 08.00 AM until 10.00 AM in Laboratory of Aquatic Resource
Management. The purpose of this is to create practical and understand the reaction of the
saponification on the process of making soap in a lab and explain some of the properties of
soap based on experiments conducted.This research was done with the measurement of
dissolved oxygen concentration in the medias of living of this plant.. From this practical work
which had been done by group 3, the result has obtained that has not change.

Keywords : Lipid, NaOH, Saponification, Soap, Water

PENDAHULUAN
Lipid adalah biomolekul yang tidak larut di dalam air, karena lipid umumnya
merupakan molekul yang memiliki gugus non polar, sedangkan air merupakan molekul yang
memiliki gugus polar. Lipid dapat larut di dalam pelarut organik non polar seperti benzena,
eter, heksana, dan metanol (Zumdahl dan Boyer dalam Suryani 2008 ).
Lipid dapat dikelompokkan berdasarkan gugus polar dan non polar. Lipid yang hanya
mengandung gugus non polar disebut lipid non polar atau lipid netral, sebagai contoh kelompok
lemak (fat). Lipid non polar berperan dalam metabolisme, khususnya sebagai cadangan energi.
Lipid yang mengandung gugus polar dan gugus non polar disebut lipid polar, sebagai contoh

lilin. Lipid juga dapat dikelompokkan berdasarkan struktur dan karakteristik non polar menjadi lemak (fat). Lipid mikroorganisme lebih banyak mengandung asam lemak tidak jenuh (Ratledge dalam Suryani 2008). Rantai hidrokarbon asam lemak dapat atau tidak memiliki ikatan rangkap karbon-karbon (Boyer dalam Suryani 2008). yang diperoleh dari tanaman atau minyak sayuran (vegetable oil). dan vitamin yang larut di dalam lemak. Asam lemak umumnya merupakan asam monokarboksilat berantai lurus dengan jumlah atom karbon sebanyak 4-36. karena semua lengan atom karbon pada rantai hidrokarbon telah berikatan dengan atom hydrogen dan karbon (Denniston dalam Suryani 2008). sehingga bersifat amfipatik yang akan membentuk misel di dalam air (Ritter dalam Suryani 2008). Glukosa merupakan sumber utama untuk pembentukan asetil KoA yang digunakan dalam . Asam lemak tidak jenuh membentuk ikatan rangkap karbon-karbon pada rantai hidrokarbon. sedangkan rantai hidrokarbon merupakan gugus non polar sehingga bersifat hidrofob. Asam lemak jenuh berwujud padat (lemak) pada suhu ruang. glikolipid. Konfigurasi ikatan rangkap pada asam lemak umumnya berupa ikatan cis-. yaitu asam lemak jenuh dan tidak jenuh. sfingolipid. yaitu asam lemak monoenoat (monounsaturated fatty acid atau MUFA) yang memiliki satu ikatan rangkap karbon-karbon dan polienoat (polyunsaturated fatty acid atau PUFA) yang memiliki ikatan rangkap karbon-karbon lebih dari satu (Boyer dalam Suryani 2008). Asam lemak memiliki gugus karboksil tunggal sebagai “head” dan rantai hidrokarbon sebagai “tail”. yang diperoleh dari lemak hewan. Gugus karboksil (-COOH) merupakan gugus polar sehingga bersifat hidrofil.fosfolipid. Sebagian besar lipid tersusun atas asam lemak. Asam lemak dapat dibagi menjadi dua berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap karbon- karbon. Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan rangkap karbon-karbon (Denniston dalam Suryani 2008). Prekursor asam lemak adalah asetil KoA yang memiliki dua atom karbon. Asam lemak tidak jenuh dapat dibagi berdasarkan jumlah ikatan rangkap karbon- karbon. Asam lemak jenuh tidak memiliki ikatan rangkap karbon-karbon. Asam lemak disintesis di dalam sitoplasma. lipoprotein. Sumber asetil KoA dalam sintesis asam lemak dapat berasal dari degradasi karbohidrat atau asam lemak. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar asam lemak yang berada di alam memiliki jumlah atom karbon genap (Boyer dalam Suryani 2008). Asam lemak jenuh tidak dapat mengalami proses penambahan atom hidrogen pada rantai hidrokarbon atau hidrogenasi. eikosanoat. steroid. Asam lemak tak jenuh berwujud cair (minyak) pada suhu ruang. fosfolipid. Beberapa jenis lipid memiliki gugus polar dan non polar. Lipid polar berperan di dalam membran sel dan membran organel untuk melindungi isi sel dan organel dari lingkungan luar sel (Plummer dan Boyer dalam Suryani 2008).

Campuran minyak dan air akan membentuk emulsi temporer.sintesis asam lemak. Minyak dan lemak mudah mengalami oksidasi. asam lemak bebas (ALB) dan metil ester asam lemak dengan mereaksikan basa alkali terhadap masing-masing zat. dan memiliki titik cair tinggi disebut lemak. Sifat melembabkan timbul dari gugus hidroksil yang dapat berikatan hidrogen dengan air dan mencegah air itu menguap. Sabun adalah garam logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-asam lemak. Asam lemak tidak jenuh monoenoat dan polienoat pada mikroorganisme disintesis dari asam palmitat dengan bantuan enzim elongase dan desaturase yang berlangsung dalam retikulum endoplasma. Lipid yang umumnya diakumulasi oleh mikroorganisme adalah TAG. Surfaktan mempunyai struktur bipolar. dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan. Triasilgliserol disimpan oleh sel dalam bentuk tetes-tetes lemak di sitoplasma (Mϋllner dan Daum dalam Suryani 2008). berbentuk cair pada suhu ruang. lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan atau pakaian (Permono 2001). Sintesis asam lemak memerlukan fatty acid synthase (FAS) yang merupakan enzim kompleks. bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. berbentuk padat pada suhu ruang. Asam sitrat dikeluarkan dari mitokondria ke sitoplasma untuk diubah menjadi asetil KoA dengan bantuan enzim ATP: citrate lyase. industri farmasi dan kosmetik. Emulsifier / stabilizier adalah bahan yang ditambahkan ke dalam emulsi untuk meningkatkan kestabilan. Sebagian besar hasil akhir sintesis asam lemak adalah asam palmitat. Glukosa diubah menjadi asam piruvat melalui proses glikolisis. yang dikenal dengan . asam sitrat yang merupakan senyawa antara siklus Krebs banyak diakumulasi dalam mitokondria. karena TAG merupakan komponen utama cadangan energi dalam sel. Sabun dapat dibuat dari minyak (trigliserida). Triasilgliserol yang banyak mengandung asam lemak jenuh. Triasilgliserol yang banyak mengandung asam lemak tidak jenuh. Gliserol digunakan sebagai pelembab dalam tembakau. Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak alami. dan memiliki titik cair rendah disebut minyak. Sabun mengandung garam C16 dan C18 namun dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah. Triasilgliserol (TAG) merupakan lipid yang terdiri atas gliserol polihidroksi alkohol dan asam karboksilat berantai panjang (asam lemak) dan banyak ditemukan di alam (Zumdahl dalam Suryani 2008). Sekali penyabunan itu telah lengkap. Pada mikroorganisme oleaginous. Asam piruvat masuk ke dalam siklus Krebs di mitokondria.

KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Komposisi saponifiable terdiri dari substansi seperti asam lemak bebas atau asam lemak esterifikasi dengan gliserol sehingga terbentuk trigliserida. Salah satu minyak yang bisa digunakan pada pembuatan sabun yaitu minyak kelapa sawit. Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan larutan alkali. Fatty acid adalah lemak yang diperoleh dari lemak hewan dan nabati (Prawira 2010). NH4OH. Umumnya minyak ini digunakan untuk memasak. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali. Dengan kata lain saponifikasi adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan sintesa dan air serta garam karbonil (sejenis sabun). (Permono 2001). Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol. dan monogliserida. yakni rendahnya kandungan kolesterol dan dapat diolah lebih lanjut menjadi suatu produk yang tidak hanya dikonsumsi untuk kebutuhan pangan tetapi juga memenuhi kebutuhan non pangan (oleokimia) seperti sabun. digliserida. Na2CO3. sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Opphardt dalam Zulkifli 2014).proses saponifikasi. Jika dibandingkan dengan minyak nabati lain. Na2CO3 (abu soda /natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak. NaOH atau yang biasa dikenal soda koustik dalam industri sabun. bahan kosmetik. yaitu sabun dan gliserin. sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. dan beberapa penyakit keganasan. Minyak zaitun berdasarkan struktur kimianya memiliki dua kandungan yaitu saponifiable dan unsaponifiable. bahkan bahan bakar. sabun adalah hasil reaksi kimia antara fatty acid dan alkali. minyak kelapa sawit memiliki keistimewaan tersendiri. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini. KOH. merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. Minyak zaitun (olive oil) adalah minyak yang diperoleh dari perasan buah olive. Secara teknik. dan ethanolimines. tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (Ketaren 2005). serta mampu menmpercepat penyembuhan luka . Banyak manfaat dari minyak zaitun yang telah terbukti seperti menurunkan insidensi penyakit jantung. Minyak ini banyak digunakan oleh masyarakat dunia tetapi terutama di negara Yunani dan negara Mediterania sebagai sumber minyak dalam makanan mereka sejak jaman pertengahan. Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH. Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. mengandung 75% hingga 85% asam lemak unsaturated (terutama asam oleat dan asam linoleat) dan 15% hingga 25% dari lemak saturasi (palimitic dan stearic acids) .

METODOLOGI Praktikum ini dilaksanakan pada hari hari Rabu. timbangan. dimana pada proses hidrolisis lemak akan terurai menjadi asam lemak gliserol. beaker glass sebagai tempat air yang akan dipanaskan. Tujuan dari praktikum lipid ini agar praktikan mampu memanfaatkan asam lemak pada pembuatan sabun (saponifikasi) dan mengkarakterisasi produk sabun yang dihasilkan (kelarutan. Minyak sebagai Triasilgliserol (TAG) dengan asam lemak tidak jenuh yang berbentuk cair pada suhu ruang. Kampus Jatinangor. tabung reaksi sebagai tempat zat yang akan diteliti. pipet tetes mengambil zat dari tempatnya. H2SO4 dan CH3COOH yang berfungsi memisahkan sabun (padatan/endapan) dari larutan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.00 WIB di Laboratorium Manajemem Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. thermometer. Bahan yang digunakan pada praktikum lipid ini adalah 2 jenis minyak yaitu minyak goreng dan minyak zaitun.(Puente 2012) . 29 Maret 2017 pada pukul 08.alat yang digunakan pada praktikum lipid ini adalah blender. rak tabung dan bunsen. Bahan lainnya yaitu akuades sebagai media untuk menghomogenkan. sudip. pisau.00 WIB sampai dengan 10. 1 ml KOH dimasukkan ke larutan lalu dikocok dan diperhatikan pembentukan busanya Percbaan diulangi dari awal dengan mengganti KOH dengan NaOH Hasil dibandingkan . Prosedur kerja pada praktikum lipid antara lain: 4-5 tetes minyak dimasukkan ke dalam tabung reaksi Air suling ditambahkan sebanyak 3 ml. Selain itu digunakan juga KOH dan NaOH untuk mempercepat terjadinya proses penyabunan. penangas air / water bath sebagai penghantar panas (refluks). gelas ukur untuk mengukur volume zat yang dibutuhkan. sendok. basa tersebut merupakan basa yang dapat menghidrolisis lemak sehingga terbentuk gliserol dan sabun. Alat . uji gliserol dan ketidakjenuhan). Bahan terakhir yaitu asam berupa HCl.

Perlakuan diamati dan dicatat dalam tabel perlakuan . H2SO4 pekat. dan asam asetat.Sabun yang terbentuk ditambahkan beberapa tetes asam HCl pekat.

Fatty acid adalah lemak yang diperoleh dari lemak hewan dan nabati. Hasil saponifikasi dapat dikaji dalam pada Tabel 1 dibawah ini. bagian atas berubah geembung menjadi encer . bagian minyaknya berkurang 2 Minyak zaitun 10 menit NaoH 10 menit C3COOH aquades atas warna dan warnanya putih waranya kuning pekat/ bening kusam tedapat gelembung tidak ada sedikit 3 Minyak zaitun 10 menit NH4OH 10 menit H2SO4 sabun. Tabel 1. Secara teknik. sabun adalah hasil reaksi kimia antara fatty acid dan alkali. Data Hasil Lab MSP Pengamatan Sampel Pemanasan Basa Pemanasan Asam Kelompok Basa Pemanasan Asam atas kuning diatas kuning atas kuning bawah 1 Minyak zaitun 10 menit NaoH 10 menit C3COOH bawah diatas keruh putih kebeningan bening posisi bagian bawah minyak berwarna putih diatas keruh. Dengan kata lain saponifikasi adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan sintesa dan air serta garam karbonil (sejenis sabun). HASIL DAN PEMBAHASAN Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan larutan alkali. Fotosintesis dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang diserap. yaitu sabun dan gliserin. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini.

bagian keemasan kebawah atas berwarna coklat dan semakin pudar kekuningan(minyak) teksturnya menjadi lebih cair warnanya pudar warnanya warnanya menjadi 6 Minyak wijen 10 menit NaoH 10 menit CH3COOH dan sedikit ada coklat coklat dan mengendap endapan minyak dan aquades sedikit warna lenih pudar dan 7 Minyak wijen 10 menit NH4OH 10 menit H2SO4 tidak mengumpal menggumpal mneyatu minyak dan sedikit ada warnnya menjadi aquades penggumpalan 8 Minyak wijen 10 menit NH4OH 10 menit H2SO5 lebih pudar dan tidak dan warnannya menggumpal mneyatu keruh . Pengamatan Kelompok Sampel Pemanasan Basa Pemanasan Asam Basa Pemanasan Asam warna wijen menjadi lebuh terdapat busa bagian bawah berwarna dan warnanya berwarna putih 5 Minyak wijen 10 menit NH4OH 10 menit H2SO4 kuning semakin telur(sabun).

Penambahan basa sebelum dipanaskan pada kelompok 3 tidak mengalami perubahan. minyak tidak dapat larut. Pada saat pemisahan. sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Opphardt dalam Zulkifli 2014). dan 8 (basa NH4OH).7. sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. . sehingga minyak merupakan senyawa organik yang terdapat dialam. Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Dengan air minyak membentuk emulsi (tidak larut) dan tidak stabil atau akan memisah kembali jika tercampur.2 terdapat gumpalan atau endapan. serta lemak dan minyak mempunyai sifat struktur yang spesifik yaitu mempunyai gugusan rantai hidrokarbon hidrofil yang sedikit jika ada. Keadaan minyak tetap berada di atas permukaan akuades. minyak berada diatas karena massa jenis minyak lebih kecil dari pada air. minyak yang ditambahkan dapat larut dengan sempurna. Penghomogenan ini pun dibantu oleh basa alkali. dan basa. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol. tidak larut dalam air. Kesadahan membuat sabun bersifat basa. Hal ini disebabkan sesuai literatur bahwa minyak merupakan suatu grigliserida atau triasetil gliserol yang merupakan bentuk cair dari lemak pada temperatur kamar. tetapi larut dalam pelarut nonpolar.58 WIB tidak terjadi perubahan signifikan dari keadaan awal dan akhir.2 (basa NaOH). Berdasarkan data hasil pengamatan kelompok 3 kelas perikanan B angkatan 2016 dapat dilihat pada Tabel 1 yang melakukan percobaan ini dimulai pada pukul 08.7 (basa NH4OH).48 hingga 08. Hal ini disebabkan karena air mempunyai polaritas dan massa jenis yang berbeda dengan minyak.5. Sehingga kelarutan yang dilakukan dengan air. Minyak dan lemak merupakan salah satu kelas dari lipid. akuades.1. Penambahan asam pada larutan berguna untuk memisahkan air sabun (bersifat basa mengandung basa alkali) dengan larutan. Air besifat polar. Hal ini memandakan adanya kesadahan air. Setelah mengalami pemanasan (refluks) rata-rata data yang didapatkan hasil berubah. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali. Karena merupakan senyawa organik yang bersifat nonpolar. Sedangkan pada pelarut aseton dan kloroform. Hal ini menandakan bahwa pemanasan (refluks) diperlukan untuk penghomogenan minyak. Pada kelompok 3 terdapat bercak putih menandakan adanya sabun. Sehingga pada kelompok 8. 6. Pada kelompok kami terdapat sedikit gelembung pada larutan. Hal ini terjadi pula pada kelompok1(basa NaOH).

Penentuan Lipid dalam Khamir Rhodotorula dari Taman Nasional Gunung Halimun. Universitas Indonesia Zulkifl. DAFTAR PUSTAKA Ketaren. Jakarta : Swadaya Prawira. Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Basa NaOH lebih baik dalam saponifikasi disbanding NH4OH. Reaksi Saponifikasi Pada Proses Pembuatan Sabun. Depok. Minyak bersifat nonpolar sehingga akan dapat dilarutkan oleh pelarut-pelarut nonpolar. (2012). Basa alkali yang lebih baik adalah NaOH karena mudah menghomogenkan disbanding NH4OH. Mochamad. Jurnal Pangan dan Agroindustri. Prinsip terbentukya emulsi oleh sabun yaitu adanya bagian polar dari sabun yang mengikat air. 2005. dan bagian dari sabun yang mengikat minyak. sedangka NH4OH tak mengandung basa alkali walaupun bersifat basa. Gelembung menadakan adanya reaksi saponifikasi pembuatan sabun. Jakarta : Swadaya Puente. 2010. KESIMPULAN Penyabunan adalah hidrolisis lemak dengan alkali yang menyebabkan putusnya ikatan eseter dan menghasilkan gliserol dan garam alkali lemaknya. Manhattan: Perkin Elmer Suryani. Jakarta Permono. “Suhu dari Distilat Asam Lemak Minyak Sawit : Kajian Pustaka”. seperti pelarut organik (kloroform). Olive Oil Reference Book. Hal ini dikarenakan NaOH mengandung basa alkali (Natrium). S. 2001. A. 2 (4) 170-177 LAMPIRAN Lampiran 1. 2014. Alat yang digunakan praktikum . Universitas Indonesia. 2008. Pembuatan Sabun Mandi Padat. J. [Skripsi].

Kegiatan Praktikum . Bahan yang digunakan praktikum Minyak Zaitun Akuades Lampiran 3. Beaker Glass Water Bath Penjepit Tabung Reaksi Tabung Reaksi Lampiran 2.

Refluks Larutan Penuangan akuades Penetesan Asam Penuangan Basa .