You are on page 1of 11

Studi Kasus Dampak Penambangan Pasir

TUGAS TERSTRUKTUR HUKUM LINGKUNGAN


DAMPAK PENAMBANGAN PASIR
STUDI KASUS

MAKALAH

OLEH :
FERO ARIDIANA E1A113117

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2014
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………………


i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………
ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………… 1


A. Latar Belakang ……………………………………………………………………………… 1
B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………….. 2
C. Tujuan ………………………………………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………………..
3
A. Kegiatan Penambangan Pasir di Desa Sokawera………………………………………… … 3
B. Dampak yang Ditimbulkan dari Kegiatan Penambangan …………………………………. 4
C. Penegakan Hukum Lingkungan ……………………………………………………………. 5
BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………………..
7
A. Kesimpulan …………………………………………………………………………………. 7
B. Saran ……………………………………………………………………………………….. 7
DAFTAR PUSTAKA
…………………………………………………………………………8
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lingkungan adalah tempat kita tinggal. Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi
kehidupan baik itu komponen biotik maupun komponen abiotik. Sehingga untuk menjaga agar
kondisi lingkungan tetap seimbang dan memberi dukungan dalam kehidupan, sangatlah penting
bagi kita yaitu manusia yang memiliki akal untuk menjaga dan merawat lingkungan.
Dalam masyarakat desa yang kearifan lokalnya masih terjaga, keadaan lingkungan pun
cenderung lebih baik dibandingkan di kota. Namun, dengan adanya campur tangan produsen dan
pelaku usaha, memberi dampak buruk terhadap lingkungan pedesaan. Dalam kasus ini saya
mengambil contoh kasus di desa Sokawera tentang penambangan pasir. Dalam Kegiatan
penambangan banyak komponen yang terganggu kondisinya. Praktek penambangan dilakukan
oleh masyarakat setempat dengan bantuan pelaku usaha yang terkadang menggunakan alat
modern.
Jika kita cermati, kerusakan lingkungan juga bukan hanya pengaruh dari faktor ekstern saja,
banyak juga faktor yang timbul dari intern masyarakat setempat. Dalam kasus penambangan
pasir di desa Sokawera memang benar bahwa penyebab kerusakan lingkungan adalah pelaku
usaha, tetapi sebenarnya ada factor yang lebih besar, yaitu masyarakat lokal. Kenapa demikian?
Hal ini dikarenakan pelaku penambangan adalah masyarakat lokal, mereka memang
menghendaki sungai di daerah mereka untuk dilakukan penambangan. Tentu saja hal ini
dikarenakan faktor ekonomi. Kegiatan penambangan menjadi mata pencaharian masyarakat di
daerah sekitar sungai desa Sokawera. Namun, mereka melupakan sesuatu dengan melakukan
pembiaran terhadap eksploitasi di sungai mereka. Mereka mungkin tidak memperkirakan
dampak yang lebih besar yang akan terjadi jika kegiatan itu dilakukan secara besar-besaran.
Kerusakan lingkungan akan memberikan dampak terutama kepada masyarakat di sekitar
daerah yang mengalami kerusakan. Demikian juga yang terjadi pada masyarakat desa Sokawera
akibat penambangan pasir. Meskipun pelakunya bukan hanya masyarakat setempat dan
melibatkan pihak luar, dampak kerusakan terbesar adalah dialami oleh warga lokal. Maka sudah
sewajarnya bahwa masyarakat harus lebih menjaga dan melakukan pencegahan terhadap
kerusakan lingkungan mereka.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kegiatan penambangan pasir di desa Sokawera?
2. Apa dampak yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan?
3. Bagaimana cara penegakan hukum lingkungan?

C. Tujuan
1. Mengetahui kegiatan penambangan pasir di desa Sokawera
2. Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan
3. Mengetahuipenegakan hukum lingkungan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kegiatan Penambangan Pasir di Desa Sokawera

Kegiatan penambangan pasir dilakukan di desa Sokawera, Kecamatan Somagede. Daerah ini
memang dikelilingi oleh sungai yang menghasilkan pasir berlimpah. Dengan berlimpahnya pasir
mendorong para pelaku usaha untuk mendapatkan pasir tersebut. Mengingat pasir sangat
dibutuhkan untuk membangun rumah maupun gedung-gedung yang lain. Penambang adalah
warga lokal yang memang sudah sejak lama bekerja menambang pasir di daerah tersebut dan
mereka bertempat tinggal tidak jauh dari sungai. Sedangkan pengepul pasir sendiri berasal dari
daerah lain yang datang menggunakan truk-truk besar untuk megangkut.
Setiap pagi para penambang pasir mulai mengambil pasir yang ada di sungai. Dahulu masih
menggunakan cara yang sederhana, yaitu dengan cangkul dan serok. Kegiatan ini menjadi mata
pencaharian warga di sekitar sungai. Kebanyakan dari mereka adalah penambang yang sudah
melakukan pekerjaan tersebut sejak lama. Sejak mereka muda, kemudian menikah, dan sekarang
menjadi sumber penghidupan keluarga.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan peningkatan kepentingan muncul cara penambangan
pasir yang lebih modern, yaitu menggunakan alat mekanik. Alat-alat yang lebih modern tentu
akan meningkatkan hasil dari penambangan, dan secara otomatis meningkatkan penghasilan
dalam rupiah. Hal ini berdampak negatif pula terhadap sungai dan daratan di sekitarnya. Karena
hasil yang didapat banyak tanpa mengeluarkan tenaga yang cukup besar, mereka cenderung
ingin memperoleh lebih dan lebih banyak lagi. Akibatnya terjadi eksploitasi yang tidak
terkendali dan merusak lingkungan. Bahkan mereka sempat menggunakan alat pengeruk pasir
yang lebih modern, yaitu semacam alat berat. Namun penggunaan alat tersebut memungkinkan
terjadinya kesenjangan antar penambang pasir, sehingga tidak digunakan lagi.
Pasir-pasir yang mereka kumpulkan akan diangkut oleh kendaraan, umumnya bak terbuka
atau truk. Kendaraan-kendaraan tersebut adalah milik pengepul atau pelaku usaha daerah lain.
Kemungkinan kerja sama mereka sudah terjalin sejak lama, antara penambang, sopir kendaraan,
serta pelaku usaha. Namun tidak jelas perjanjian seperti apa yang mereka buat dan sepakati
bersama. Hal ini terlihat ketika terjadi dampak dari akibat penambangan pasir yang tidak
kunjung diatasi dan diselesaikan. Masalah yang muncul terus saja terjadi dan belum ada
pemecahannya. Masyarakat lain yang bukan penambang hanya menjadi pengamat dan ikut
merasakan dampak dari kegiatan yang mereka lakukan.

B. Dampak yang Ditimbulkan dari Kegiatan Penambangan

Kegiatan penambangan pada awalnya tidak menimbulkan dampak yang besar. Namun
seiring berjalannya waktu, dampak yang ditimbulkan semakin besar. Hal ini terjadi karena
kegiatan tersebut dilakukan secara terus menerus dan dalam skala yang bertambah setiap
harinya. Apalagi dengan adanya alat yang lebih modern yang meningkatkan jumlah ekploitasi
pasir. Ditambah lagi pelaku usaha/produsen yang menjadi pengepul pasir semakin hari selalu
bertambah. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kendaraan pengangkut yang semakin banyak. Jika
awalnya hanya kendaraan kecil sejenis bak terbuka, sekarang bertambah menjadi truk sedang,
truk besar, dan ada juga truk yang lebih modern.
Dampak-dampak dari kegiatan penambangan pasir tersebut antara lain:
a. Air sungai yang semakin dalam karena pasirnya terus-terusan diambil bahkan sebelum sungai
kembali memproduksi pasir tersebut. Hal ini terjadi sebagai akibat dari eksploitasi pasir di dasar
sungai dalam jumlah besar.
b. Dataran di pinggiran sungai yang semakin sedikit.
Hal ini terjadi karena pasir-pasir di pinggiran sungai tidak luput dari kegiatan penambangan.
Pasir-pasir tersebut diambil dan menimbulkan lubang yang besar dan dalam. Sehingga ketika
musim hujan, lubang-lubang tersebut digenangi air sungai. Akibatnya daratan yang tersedia
menjadi berkurang dan semakin sedikit.
c. Jalan di desa menjadi rusak.
Rusaknya jalan disebabkan oleh kendaraan pengangkut pasir yang setiap hari melewati jalan
yang umumnya adalah jalan sempit dekat pemukiman warga. Bahan pembuatan jalannya juga
tidak sekokoh dengan jalan utama (jalan raya). Sedangkan kendaraan pengangkut pasir
umumnya adalah kendaraan berat, yang akan semakin berat ketika berisi muatan yaitu pasir.
d. Polusi udara, jalan yang berdebu
Dengan hilir mudiknya kendaraan pengangkut pasir yang dating setiap hari, bahkan saat hari
sedang panas menimbulkan polusi udara yang tidak dapat terhindarkan. Setiap hari jalanan di
pemukiman warga yang dilewati kendaraan udaranya bercampur dengan debu. Hal ini tentu saja
mencemari udara yang seharusnya di desa masih asri.
e. Rusaknya tanaman di pinggir jalan yang dilalui oleh kendaraan pengangkut
Karena udaranya bercampur dengan debu, ketika kendaraan lewat debu-debu tersebut akan
menempel di tanaman yang ada di pinggir jalan. Ini menyebabkan tanaman rusak, ditambah lagi
dengan udara yang panas. Sehingga tidak ada tanaman yang tumbuh dengan baik, bahkan
kebanyakan akan kering dan mati. Akibatnya produksi oksigen di desa tersebut berkurang.
f. Kebisingan
Kendaraan pengangkut pasir yang melewati jalan pemukiman penduduk adalah kendaraan besar
dan berat yang suaranya juga keras. Hal ini menimbulkan polusi suara yaitu kebisingan.
Ditambah lagi mereka datang setiap hari. Ketika siang hari warga ingin beristirahat sejenak dari
aktivitas bertani menjadi terganggu dengan suara kendaraan yang hilir mudik tanpa jeda.
Berbagai dampak tersebut tidak memberikan kompensasi terhadap warga lokal. Ketika
mereka akan membangun rumah dan membutuhkan pasir sebagai bahan material, harga yang
harus dibayar akan sama seperti harga jual kepada pelaku usaha. Hal ini menjadi tidak adil
melihat dampak yang harus diterima oleh warga sebagai akibat dari kegiatan penambangan di
daerah mereka. Dari aktivitas tersebut hanya memberikan keuntungan untuk penambang dan
pelaku usaha, sedangkan warga lain yang tidak melakukan usaha ikut merasakan dampaknya.

C. Penegakan Hukum Lingkungan

Hukum lingkungan adalah keseluruhan peraturan yang mengatur tingkah laku orang tentang
apa yang seharusnya dilakukan atau tidakdilakukan terhadap lingkungan, yang pelaksanaan
peraturan tersebut dapat dipaksakan dengan suatu sanksi oleh pihak yang berwenang.[1]
Dengan demikian masyarakat diatur untuk menjaga lingkungan serta tidak melakukan
tindakan yang dapat merusak. Jika peraturan itu dilanggar akan dikenakan sanksi. Kegiatan
penambangan yang dilakukan oleh warga dan pelaku usaha dapat dikatakan sebagai pelanggaran,
karena sekarang sudah menimbulkan berbagai dampak yang merugikan lingkungan.
Kasus pelanggaran terhadap lingkungan harus segera dilakukan penegakan
hukum.Penegakan hukum lingkungan adalah pengamatan hukum lingkungan melalui
pengawasan (supervision) dan pemeriksaan (inspection) serta melalui deteksi pelanggaran
hukum, pemulihan kerusakan lingkungan dan tindakan kepada pembuat (dader; offender).[2] Hal
ini dilakukan karena hingga saat ini tidak ada itikad baik antara penambang dengan pelaku usaha
untuk menangani dampak yang timbul dari kegiatan yang mereka lakukan. Tidak ada kejelasan
mengenai siapa yang bertanggung jawab terhadap masalah yang timbul tersebut. Warga dapat
mengadukan hal ini kepada kepala desa agar ada upaya yang dilakukan dan sebagai penengah
antara pelaku dan pihak yang dirugikan. Jika kasus ini dapat diselesaikan di tingkat desa saja
maka tidak perlu sampai ke pengadilan. Tujuan penyelesaian sengketa di luar pengadilan adalah
untuk mencari kesepakatantentang bentuk dan besarnya ganti rugi atau menentukan tindakan
tertentu yang harus dilakukan oleh pencemar untuk menjamin bahwa perbuatan tersebut tidak
akan terjadi lagi di masa yang akan datang.[3]
Penyelesaian sengketa melalui pengadilan dapat ditempuh jika penyelesaian sengketa yang
tadinya ingin diselesaikan di luar jalur pengadilan tidak berhasil mencapai kesepakatan. Pihak
yang dirugikan dapat melakukan gugatan, sesuai adagium Nemo Judex Sine Actore, yang artinya
secara keperdataan seseorang hanya memiliki hak untuk menggugat apabila dia memiliki
kepentingan yang dirugikan oleh orang lain. Dalam gugatan keperdataan tergugat dapat dikenai
ganti rugi sebesar pelanggaran yang dilakukan. Ganti rugi tersebut digunakan untuk mengganti
kerugian warga akibat pelanggaran yang dilakukan oleh tergugat. Namun yang paling penting
dalam penerapan hukum lingkungan adalah untuk mengembalikan kondisi lingkungan seperti
semula, agar fungsinya kembali lagi sehingga memberi daya dukung terhadap warga.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagai masyarakat adat memang sudah menjadi hak kita untuk memanfaatkan sumber daya
alam yang ada di lingkungan adat. Namun kita juga berkewajiban untuk menjaga kelestarian agar
di masa yang akan datang sumber daya alam tersebut tetap ada dan generasi selanjutnya dapat
merasakan manfaat dari apa yang kita rasakan sekarang.
Dalam pemanfaatan tersebut yang kadang membuat kita lupa. Kita mengeksploitasi
lingkungan seolah-olah kita hanya hidup untuk hari ini, sehingga mengambil secara besar-
besaran tanpa memikirkan efek ke depannya. Ketika muncul efek yaitu kerusakan pada
lingkungan yang kita tinggali, barulah kita sibuk mencari pihak yang harus bertanggung jawab.
Terkadang kita lupa bahwa mungkin saja apa yang kita lakukan juga member efek kerusakan
terhadap lingkungan kita.

B. Saran

Lingkungan adalah milik kita bersama, maka untuk menjaga kelestarian adalah menjadi
tanggung jawab bersama. Semua pihak harus mempunyai kesadaran untuk selalu menjaga
kelestarian agar lingkungan senantiasa memberi daya dukung yang tinggi kepada manusia.
Ketika ada kasus pelanggaran lingkungan, semua pihak harus segera mengambil tindakan
agar kerusakan tidak menjadi semakin parah. Jangan sampai ada pembiaran karena jika sudah
terlalu parah ditakutkan pihak yang seharusnya bertanggung jawab akan lari dan masalah tidak
terselesaikan. Akhirnya yang menanggung adalah warga lokal sendiri yang notabene bukan
pelaku penyebab kerusakan. Jika ada kesadaran dari berbagai pihak, lingkungan yang sehat akan
terus kita nikmati sampai generasi yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA

Husin, Sukanda. 2009. Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika
Soemartono, Gatot P. 2004. Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika
Supriadi. 2008. Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika