You are on page 1of 11

3.2.

Penyelesaian Homogen, Reduksi Orde Operator

Andaikan diberikan persamaan diferensial linier orde tinggi homogen dengan koefisien
konstan, yaitu :
L(D)y = 0,
dengan,
n n–1 2
L(D) = D + an– 1D + … + a2 D + a1D + a0
Guna menentukan penyelesaian persamaan diferensial homogen, dan interpretasi dari L(D)
diatas ditinjau dua kasus berikut ini.

Kasus Pertama. Faktor dari L(D) adalah linier tidak berulang.

Misalkan diberikan persamaan diferensial,


L(D)y = 0,
dengan,
n n–1 2
L(D) = D + an– 1D + … + a2 D + a1D + a0 .
Andaikan bahwa faktor L(D) adalah linier tidak berulang, yaitu :
L(D) = (D – mn)(D – mn– 1) … (D – m2)(D – m1)
Berdasarkan dari L(D) untuk menentukan penyelesaiannya dengan pendekatan reduksi orde
ditinjau untuk kasus n = 1, dan n = 2.

Untuk n = 1, maka dihasilkan :


L(D) = (D – m1)
dan persamaan diferensialnya adalah :
(D – m1)y = 0
dy
– m1 y = 0
dx
Persamaan diatas adalah persamaan diferensial linier orde satu, dan penyelesaianya adalah :

y = c1 e m1x

Selanjutnya untuk n = 2, maka diperoleh :


L(D) = (D – m2)(D – m1)

161
dan persamaan diferensial yang dihasilkan adalah persamaan diferensial orde dua homogen
yaitu
(D – m1)(D – m2)y = 0

Dengan pendekatan reduksi orde diferensial, ambil, u = (D – m2)y maka persamaan


diferensial orde dua tersebut dapat ditulis menjadi,
(D – m1)u = 0
du
– m1 u = 0
dx
Persamaan ini adalah persamaan diferensial linier orde satu, dan penyelesaianya adalah :

u = k1 e m1x

Karena u = (D – m2)y, maka dari fungsi u = k1 e m1x dihasilkan,

(D – m2)y = k1 e m1x
dy
– m2 y = k1 e m1x
dx
Persamaan diatas adalah persamaan diferensial linier orde satu, dengan P(x) = –m2, Q(x) =

k1 e m1x . Sehingga penyelesaiannya diberikan oleh,

⎧ ⎫
y = e m2 x ⎨ k1e a1x e − a2 x dx + c 2 ⎬

⎩ ⎭

= k1 e m2 x e ( a1− a2 ) x dx + c2 e m2 x

k1
= e m2 x e m1x e − m2 x + c2 e m2 x
a1 − a 2

= c1 e m1x + c2 e m2 x

k1
dimana c1 = . Jadi untuk n = 2, penyelesaian homogennya adalah
a1 − a 2

y = c1 e m1x + c2 e m2 x

Selanjutnya bandingkan hasil ini dengan hasil yang dibahas pada Bab II. Bilamana λ1 dan λ2
adalah akar-akar persamaan karakteristik persamaan diferensial orde dua, maka penyelesaian
homogennya adalah :

y = c1 e λ1x + c2 e λ 2 x

162
Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa,
2
L(D) = a2 D + a1D + a0,
sebagai persamaan karakterisitik persamaan diferensial orde dua, bilamana L(D) = 0
diperoleh, D = m1 dan D = m2, maka nilai tersebut adalah akar-akar persamaan karakterisitik
L(D) = 0. Jadi penyelesaian umum persamaan homogennya adalah :

y = c1 e m1x + c2 e m2 x

Pada akhirnya dapat disimpulkan, misalkan diberikan persamaan diferensial linier orde tinggi
homogen,
L(D)y = 0,
n n–1 2
(D + an– 1D + … + a2 D + a1D + a0)y = 0
Persamaan karakterisitknya adalah,
n n–1 2
L(D) = D + an– 1D + … + a2 D + a1D + a0
Bilamana faktor dari persamaan karakteristik L(D) adalah linier tidak berulang, yaitu :
L(D) = (D – mn)(D – mn– 1) … (D – m2)(D – m1)
Akar-akar dari persamaan karakteristik diperoleh dari,
L(D) = 0
(D – mn)(D – mn– 1) … (D – m2)(D – m1) = 0

maka akar-akarnya m1, m2, m3, …, mn. Dari bab sebelumnya telah diperoleh bahwa,
penyelesaian umum dari persamaan diferensial linier orde tinggi koefisien konstan homogen,
+ … + a2 y″ + a1 y′ + a0 y = 0
(n) (n–1)
y + an– 1 y
dan persamaan karakteristiknya adalah,
n n–1 2
λ + an– 1λ + … + a2 λ + a1 λ + a0 = 0

dengan akar-akar persamaan karakteristik linier tidak berulang, λ1, λ2,…, λn, dan
penyelesaian umumnya diberikan oleh,
λ1x λ2 x λnx
y = c1 e + c2 e +… + cn e

Dengan pendekatan seperti diatas, maka untuk persamaan diferensial linier orde tinggi
koefisien konstan homogen dengan akar-akar linier tidak berulang, maka penyelesaian dari
L(D)y = 0, diberikan oleh :

y = c1 e m1x + c2 e m2 x + … + cn–1 e mn−1x + cn e mn x

163
Kasus Kedua. Faktor dari L(D) adalah linier berulang.

Misalkan diberikan persamaan diferensial,


L(D)y = 0,
n n–1 2
(D + an– 1D + … + a2 D + a1D + a0)y = 0
dengan persamaan karakterisitknya adalah,
n n–1 2
L(D) = D + an– 1D + … + a2 D + a1D + a0
Andaikan faktor dari persamaan karakteristik L(D) adalah memuat faktor linier berulang n
kali, yaitu :
n
L(D) = (D – m)(D – m) … (D – m)(D – m) = (D – m)
Untuk menentukan penyelesaiannya dengan pendekatan reduksi orde diferensial, pertama
ditinjau n = 1, dan n = 2.

Untuk n = 1, maka dihasilkan :


L(D) = (D – m)
dan persamaan diferensialnya adalah :
(D – m )y = 0
dy
– my = 0
dx
Persamaan diatas adalah persamaan diferensial linier orde satu, dengan P(x) = –m, dan
penyelesaianya adalah :

y = c1 e mx

Selanjutnya untuk n = 2, maka diperoleh :


L(D) = (D – m)(D – m)
dan persamaan diferensial yang dihasilkan adalah persamaan diferensial linier orde dua
koefisien konstan homogen yaitu,
(D – m)(D – m)y = 0
Dengan pendekatan reduksi orde diferensial, ambil, u = (D – m)y maka persamaan diferensial
orde dua dapat ditulis menjadi,
(D – m )u = 0
du
– mu = 0
dx

164
Persamaan diatas adalah persamaan diferensial linier orde satu, P(u) = –m, penyelesaianya
adalah :

u = c1 e mx
Karena u = (D – m)y, maka dari fungsi u diatas dapat ditulis menjadi,

(D – m)y = c1 e mx
dy
– m y = c1 e mx
dx
Persamaan diatas adalah persamaan diferensial linier orde satu, dengan P(x) = –m, Q(x) =

c1 e mx . Sehingga penyelesaiannya diberikan oleh,

y = e mx {∫ c1emx e− mx dx + c2 }
= c1 e mx ∫ dx + c2 e
mx

= c1 x e mx + c2 e mx
Dengan demikian, dengan cara reduksi orde secara berulang-ulang, bilamana faktor dari
persamaan karakteristik L(D) memuat faktor linier berulang n kali, yaitu :
n
L(D) = (D – m)
maka penyelesaian umunya adalah,
n – 2 mx n–1
y = c1 e mx + c2 x e mx + … + cn–1 x e + cn x e mx

Dengan demikian dapat disimpulkan, misalkan diberikan persamaan diferensial,


L(D)y = 0,
dengan persamaan karakterisitknya adalah,
n n–1 2
L(D) = D + an– 1D + … + a2 D + a1D + a0
Bilamana faktor dari L(D) adalah memuat faktor linier berulang n kali, yaitu :
n
L(D) = (D – m)
= (D – m)(D – m) … (D – m)(D – m)
maka akar-akar dari persamaan L(D) = 0 atau,
(D – m)(D – m) … (D – m)(D – m) = 0
adalah, m1 = m2 = m3 = … = mn = m. Jadi penyelesaian umum dari persamaan diferensial
L(D)y = 0,diberikan oleh :
n – 2 mx n–1
y = c1 e mx + c2 x e mx + … + cn–1 x e + cn x e mx

165
Berdasarkan pendekatan tersebut diatas, dan kasus-kasus lainnya berikut ini adalah beberapa
contah-contoh soalnya.

Contoh 2.1.
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
2
(D – 3D + 2)y = 0
Penyelesaian :
Dari persamaan diferensial persamaan karakterisitiknya diberikan oleh,
2
L(D) = D – 3D + 2 = (D – 1)(D – 2)
Karena faktor dari persamaan karaktertik L(D) linier tidak berulang, dan untuk
L(D) = 0
(D – 1)(D – 2) = 0
dihasilkan akar-akar persamaan karakteristiknya,
D1 = 1, dan D2 = 2
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,
x 2x
y = c1 e + c2 e

Contoh 2.2.
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
3 2
(D – 6D + 11D – 6)y = 0
Penyelesaian :
Dari persamaan diferensial diatas persamaan karakteristiknya diberikan oleh,
3 2
L(D) = D – 6D + 11D – 6
Dengan menggunakan dali sisa, factor dari L(D) adalah
L(D) = (D – 1)(D – 2)(D – 3)
Karena faktor dari persamaan karakteristik L(D) linier tidak berulang, maka untuk
L(D) = 0
(D – 1)(D – 2)(D – 3) = 0
dihasilkan akar-akar persamaan karakterisiknya yaitu
D1 = 1, D2 = 2, dan D3 = 3.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,
x 2x 3x
y = c1 e + c2 e + c3 e

166
Contoh 2.3.
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
3 2
(D + D – 5D + 3)y = 0
Penyelesaian :
Dari persamaan diferensial diatas diperoleh persamaan karakteristiknya yaitu,
3 2
L(D) = D + 2D – 5D + 3
Dengan menggunakan dalil sisa factor dari L(D) diberikan oleh,
2
L(D) = (D – 1) (D – 3)
Dari hasil diatas, faktor L(D) adalah linier (D – 3) tidak berulang dan (D – 1) linier berulang
dua kali. Sehingga untuk
L(D) = 0
2
(D – 1) (D – 3) = 0
dihasilkan akar-akar persamaan karakteristiknya yaitu,
D1 = D2 = 1, dan D3 = 3.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,
x x 3x
y = c1 e + c2 x e + c3 e

Contoh 2.4.
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
3 2
(D – 6D + 12D – 8)y = 0
Penyelesaian :
Dari persamaan diferensial diatas diperoleh persamaan karakteristiknya yaitu,
3 2
L(D) = D – 6D + 12D – 8
3
Dengan menggunakan dalil sisa factor dari L(D) diberikan oleh, L(D) = (D – 2)
Dari hasil diatas, faktor dari persamaan karakteristik L(D) adalah linier (D – 2) berulang tiga
kali. Sehingga untuk,
L(D) = 0
3
(D – 2) = 0
dihasilkan akar-akar persamaan karakteristiknya yaitu,
D1 = D2 = D3 = 2.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,
2x 2x 2 2x
y = c1 e + c2 x e + c3 x e

167
Contoh 2.5.
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
3 2
(D – 2) (D – 3) y = 0
Penyelesaian :
Dari persamaan diferensial diatas diperoleh persamaan karakteristiknya adalah,
3 2
L(D) = (D – 2) (D – 3)
Dari hasil diatas, faktor dari L(D) adalah linier berulang, yaitu (D – 2) berulang tiga kali, dan
(D – 3) berulang dua kali. Sehingga untuk
L(D) = 0
3 2
(D – 2) (D – 3) = 0
dihasilkan akar-akar persamaan karakteristiknya yaitu,
D1 = D2 = D3 = 2, dan D4 = D5 = 3.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,
2x 2x 2 2x 3x 3x
y = c1 e + c2 x e + c3 x e + c4 e + c5 x e

Contoh 2.6.
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
2
(D – 4D + 13)y = 0
Penyelesaian :
Dari persamaan diferensial diatas diperoleh persamaan karakteristiknya adalah,
2 2
L(D) = D – 4D + 13 = (D – 2) + 9
Dari hasil diatas, faktor dari persamaan karakteristik L(D) adalah kompleks konjugate tidak
berulang. Sehingga untuk
L(D) = 0
2
(D – 2) + 9 = 0
dihasilkan akar-akar persamaan karakteristiknya yaitu,
D12 = 2 ± 3i.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,
2x 2x
y = c1 e cos 3x + c2 e sin 3x
Contoh 2.7
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
3 2
(D – 4D + 9D – 10)y = 0

168
Penyelesaian :
Dari persamaan diferensial diatas diperoleh persamaan karakteristiknya yaitu,
3 2
L(D) = D – 4D + 9D – 10
Dengan menerapkan dalil sisa persamaan karakteristik L(D) dapat ditulis menjadi,
2
L(D) = (D – 2)(D – 2D + 5)
Dari hasil diatas, faktor dari persamaan karakteristik L(D) adalah linier tidak berulang dan
kompleks konjugate. Sehingga untuk
L(D) = 0
2
(D – 2)(D – 2D + 5) = 0
dihasilkan akar-akar persamaan karakteristiknya yaitu,
D1 = 2, dan D23 = 1 ± 2i.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,
2x x x
y = c1 e + c2 e cos 2x + c3 e sin 2x

Contoh 2.8
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
3 2
(D – 2) (D – 4D + 10)y = 0
Penyelesaian :
Dari persamaan diferensial diatas diperoleh persamaan karakteristiknya adalah,
3 2
L(D) = (D – 2) (D – 4D + 10)
Dari hasil diatas, faktor dari persamaan karakteristik L(D) adalah linier berulang tiga kali dan
kompleks conjugate tidak berulang. Sehingga untuk
L(D) = 0
2
(D – 2)3(D – 4D + 10) = 0
2
(D – 2)3 [(D – 2) + 6) = 0
dihasilkan akar-akar persamaan karakteristiknya yaitu,
D1 = D2 = D2 = 2, dan D34 = 2 ± √6i.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,
2x 2x 2x 2x
y = c1 e + c2 xe + c3 x2 e + e (c4 cos √6x + c5 sin √6x)
Contoh 2.9
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
4 2
(D + 13D + 36)y = 0

169
Penyelesaian :
Persamaan karakteristik diferensial diatas adalah,
4 2
L(D) = D + 13D + 36
2 2
= (D + 4)(D + 9)
Dari hasil diatas, faktor dari L(D) adalah kompleks konjugate tidak berulang. Sehingga untuk
L(D) = 0, dihasilkan D12 = ± 2i, dan D34 = ± 3i. Jadi penyelesaian umum persamaan
diferensial diatas adalah,
y = c1 cos 2x + c2 sin 2x + c3 cos 3x + c4 sin 3x

Contoh 2.10
Carilah penyelesaian persamaan diferensial,
2 2 2 2 2
(D + 6D + 9) (D + 6D + 25) y = 0
Penyelesaian :
Persamaan karakteristik diferensial diatas adalah,
2 2 2 2 2
L(D) = (D + 6D + 9) (D + 6D + 25)
4 2 2 2
= (D + 3) (D + 6D + 25)
Akar-akar persamaan karakteristiknya diperoleh dari,
L(D) = 0
4 2 2 2
(D + 3) (D – 6D + 25) = 0
4 2 2
(D + 3) [(D – 3) + 16] = 0
dihasilkan,
D1 = D2 = D3 = D4 = –3, D56 = D78 =3 ± 4i.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial diatas adalah,

y = (c1 + c2 x + c3 x 2 + c4 x3 )e−3 x + (c5 cos 4x + c6 sin 4x)e


3x 3x
+ (c7 cos 4x + c8 sin 4x) xe

Soal-soal Lathan Bab 3.2


Carilah penyelesaian umum persamaan diferensial linier koefeisien konstan homogen berikut
ini dengan metode reduksi invers operator.
2 2
1. (D – 4D + 3)y = 0 2. (D – 4D + 4)y = 0
2 2
3. (D + 2D – 8)y = 0 4. (D + 5D – 14)y = 0
2 2
5. (D – 6D + 10)y = 0 6. (D – 4D + 13)y = 0

170
2 2
7. (D + 4D – 12)y = 0 8. (D – 2D + 10)y = 0
2 2
9. (D + 4D + 20)y = 0 10. (D – 6D + 18)y = 0
3 2 4 2
11. (D – 4D + 9D – 10)y = 0 12. (D – 7D + 6)y = 0
3 2 3
13. (D – D + 2)y = 0 14. (D – 3D – 2)y = 0
3 2 3 2
15. (D – 2D + 16)y = 0 16. (D – 3D + 4)y = 0
3 2 3 2
17. (D + D – 10D + 8)y = 0 18. (D – 5D + 9D – 5)y = 0
4 2 4 3
19. (D – 5D + 4)y = 0 20. (D + D – D + 12)y = 0
2 2 2 2
21. (D – 2) (D – 4D + 8)y = 0 22. (D + 2) (D – 6D + 13)y = 0
3 2 4 2 2
23. (D – 3) (D + 6D + 15)y = 0 24. (D – 2) (D + 4D + 4) y = 0
3 2 2 2 2 2
25. (D + 2) (D + D – 6) y = 0 26. (D + 1) (D – 4D + 8) y = 0
3 2 2 4 2 2
27. (D – 2) (D + 4D + 12) y = 0 28. (D – 3) (D – 6D + 13) y = 0
4 2 2 4 2 2
29. (D + 1) (D – 2D + 10) y = 0 30. (D – 1) (D – 6D + 20) y = 0
4 3 2 4 2
31. (D + 3D + 5D + D – 10)y = 0 32. (D – 5D + 10D – 6)y = 0
4 3 2 4 3 2
33. (D – 3 D + 7D + 21D – 26)y = 0 34. (D – 6D + 17D – 20D + 8)y = 0
4 3 4 3 2
35. (D + D – 4D + 8)y = 0 36. (D + D – 9D + 11D – 4)y = 0
4 3 2 4 2
37. (D + D – 6D – 14D – 12)y = 0 38. (D – 8D – 8D + 15)y = 0
4 2 4 3 2
39. (D – 16D + 40D – 25)y = 0 40. (D – 6D + 13D – 4D – 24)y = 0

171