You are on page 1of 3

PIODERMA

Nomor : SOP /K3/067/VI/2016
Terbit ke :1
No.Revisi :0
SOP
Tgl.Diberlakukan : 1 Juni 2016
DINKES KAB. Halaman :1-3 UPTD
KEBUMEN PUSKESMAS KEBUMEN III
Ditetapkan Kepala
H.Tri Tunggal E.S.,SKM.MPH
UPTD Puskesmas
NIP. 197201051994031006
Kebumen III

1. Pengertian Pioderma adalah infeksi kulit (epidermis, dermis dan subkutis) yang disebabkan oleh
bakteri gram positif dari golongan Stafilokokus dan Streptokokus. Pioderma merupakan
penyakit yang sering dijumpai. Di Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, insidennya menduduki peringkat ketiga, dan
berhubungan erat dengan keadaaan sosial ekonomi. Penularannya melalui kontak
langsung dengan agen penyebab.
2. Tujuan Sebagai acuan petugas dalam menentukan diagnosis dan penatalaksanaan kasus
Pioderma.
3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas No. 189.4/223/KAPUS/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Unit Pelaksana Teknis Daerah Unit Puskesmas Kebumen III
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015
Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat
Pertama
5. Prosedur 1. Pemeriksa menerima rekam medis dari petugas yang melaksanakan pengkajian klinis
awal.
2. Pemeriksa membaca data pengkajian awal klinis.
3. Pemeriksa memanggil pasien ke ruang periksa.
4. Pemeriksa memeriksa kesesuaian identitas pasien dengan data pada rekam medis.
5. Petugas mendapatkan hasil anamnesis berupa:
a. Keluhan:
1) Pasien datang mengeluh adanya koreng atau luka di kulit
2) Awalnya berbentuk seperti bintil kecil yang gatal, dapat berisi cairan atau
nanah dengan dasar dan pinggiran sekitarnya kemerahan. Keluhan ini dapat
meluas menjadi bengkak disertai dengan rasa nyeri.
3) Bintil kemudian pecah dan menjadi keropeng/koreng yang mengering, keras
dan sangat lengket.
b. Faktor Risiko:
1) Higiene yang kurang baik
2) Defisiensi gizi
3) Imunodefisiensi (CD4 dan CD8 yang rendah)
6. Petugas mendapatkan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective)
a. Pemeriksaan Fisik Patognomonis:
1) Folikulitis adalah peradangan folikel rambut yang ditandai dengan papul
eritema perifolikuler dan rasa gatal atau perih.
2) Furunkel adalah peradangan folikel rambut dan jaringan sekitarnya berupa
papul, vesikel atau pustul perifolikuler dengan eritema di sekitarnya dan
disertai rasa nyeri.
3) Furunkulosis adalah beberapa furunkel yang tersebar.
4) Karbunkel adalah kumpulan dari beberapa furunkel, ditandai dengan
beberapa furunkel yang berkonfluensi membentuk nodus bersupurasi di
beberapa puncak.
5) Impetigo krustosa (impetigo contagiosa) adalah peradangan yang
memberikan gambaran vesikel yang dengan cepat berubah menjadi pustul

panas tinggi. Diagnosis Klinis 1) Folikulitis 2) Furunkel 3) Furunkulosis 4) Karbunkel 5) Impetigo bulosa dan krustosa 6) Ektima b. Predileksi spesifik lesi terdapat di sekitar lubang hidung. berbatas tegas. edema. Pada pemeriksaan darah rutin dapat dijumpai leukositosis 20. PIODERMA Nomor : SOP /K3/067 /VI/2016 Terbit ke :1 No. Komplikasi : 1) Erisipelas adalah peradangan epidermis dan dermis yang ditandai dengan infiltrat eritema. 6) Impetigo bulosa adalah peradangan yang memberikan gambaran vesikobulosa dengan lesi bula hipopion (bula berisi pus). Gambar Furunkel Gambar Ektima b. dan nyeri sendi. Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaan dari apusan cairan sekret dari dasar lesi dengan pewarnaan Gram 2) Pemeriksaan darah rutin kadang-kadang ditemukan leukositosis. mulut.000/mm3 atau lebih. infiltrate eritema berbatas tidak tegas. dan disertai dengan rasa panas dan nyeri. mual muntah. ditandai dengan peradangan lokal. Petugas melakukan Diagnosis Klinis dan Diagnosis Banding a. disertai dengan rasa nyeri tekan dan gejala prodromal tersebut di atas.Revisi :0 SOP Tgl. Halaman :2-3 UPTD KEBUMEN PUSKESMAS KEBUMEN III dan pecah sehingga menjadi krusta kering kekuningan seperti madu. Onset penyakit ini sering didahului dengan gejala prodromal berupa menggigil. telinga atau anus. 3) Ulkus 4) Limfangitis .Diberlakukan : 1 Juni 2016 DINKES KAB. sakit kepala. 7) Ektima adalah peradangan yang menimbulkan kehilangan jaringan dermis bagian atas (ulkus dangkal). 2) Selulitis adalah peradangan supuratif yang menyerang subkutis. 7.

Pemeriksa melakukan Konseling dan Edukasi Pemeriksa melakukan Konseling dan Edukasi pasien dan keluarga untuk pencegahan penyakit dengan menjaga kebersihan diri dan stamina tubuh. Farmakoterapi dilakukan dengan: 1) Topikal: a) Bila banyak pus/krusta. 10.Diberlakukan : 1 Juni 2016 DINKES KAB. Halaman :3-3 UPTD KEBUMEN PUSKESMAS KEBUMEN III 5) Limfadenitis supuratif 6) Bakteremia (sepsis) 8. b. . Petugas melakukan dokumentasi Petugas mendokumentasikan data hasil anamnesis. Unit terkait Ruangan Pendaftaran dan Rekam Medis Ruangan Pemeriksaan Umum Ruangan Konsultasi Gizi Ruangan Konsultasi Sanitasi Laboratorium Ruang Farmasi 7. PIODERMA Nomor : SOP /K3/067 /VI/2016 Terbit ke :1 No. Pemeriksa melakukan kriteria rujukan sebagai berikut: a. b. misalnya sefadroksil dengan dosis 2 x 500 mg atau 2 x 1000 mg per hari. selama 5-7 hari. dioleskan 2- 3 kali sehari selama 7-10 hari. 2) Antibiotik oral dapat diberikan dari salah satu golongan di bawah ini: . rencana terapi. serta konseling dan edukasi di dalam rekam medis. pemeriksaan fisik. c. nutrisi TKTP dan stamina tubuh. Komplikasi mulai dari selulitis. a) Amoksisilin  Dosis dewasa: 3 x 250 . selama 5-7 hari b) Sefalosporin. Terdapat penyakit sistemik (gangguan metabolik endokrin dan imunodefisiensi). 6. c) Eritromisin  Dosis dewasa: 4 x 250-500 mg/hari. Tidak sembuh dengan pengobatan selama 5-7 hari.Revisi :0 SOP Tgl. kesimpulan diagnosa.  Dosis anak: 20 .500 mg  Dosis anak: 25 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis. REKAMAN HISTORIS PERUBAHAN No Yang Dirubah Isi Perubahan Tgl.50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis. b) Bila tidak tertutup pus atau krusta. Terapi suportif dengan menjaga higiene. Insisi untuk karbunkel yang menjadi abses untuk membersihkan eksudat dan jaringan nekrotik. dilakukan kompres terbuka dengan yodium povidon 7.5% yang dilarutkan 10 kali. Petugas melakukan penatalaksanaan komprehensif (Plan) berupa: a. Mulai Diberlakukan 1. 11. diberikan salep bacitracin. 9. c. pemeriksaan penunjang.