You are on page 1of 35

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Burst abdomen atau disebut juga sebagai Wound dehiscence
merupakan komplikasi serius dari tindakan post operatif yang dapat
meningkatkan morbiditas dan mortalitas (Lotfy, 2009). Menurut Sander
(2012), angka mortalitas pasien dengan burst abdomen rata-rata 18,1%,
dengan range 9,4% – 43,8%. Terpisahnya jahitan luka pada abdomen
secara partial atau komplit salah satu atau seluruh lapisan dinding abdomen
pada luka post operatif harus segera ditangani karena pasien tersebut
memiliki kemungkinan mortalitas 30%.
Burst abdomen adalah terbukanya tepi-tepi luka sehingga menyebabkan
evirasi atau pengeluaran isi organ-organ dalam seperti usus, hal ini
merupakan salah satu komplikasi post operasi dari penutupan luka di dalam
perut. Meskipun kasus ini jarang ditemukan di Indonesia namun tidak sedikit
pasien yang pernah mengalami burst abdomen. Pada tahun 1972 terdapat
18 (3%) kasus burst abdomen diantara 593 operasi yang terjadi pada anak-
anak. Pada orang dewasa terdapat 45 kasus diantara 5156.Dari 45 kasus,
80% terjadi pada lansia. Lalu perbandingan untuk pria dan wanita adalah 2 :
1. Namun, saat ini insiden burst abdomen tidak berbeda jauh dengan tahun
1972. Insiden sebanyak 0,2% - 6% dengan tingkat kematian 10% - 30%.
Apabila insiden ini terus berlanjut dan tidak ada perhatian dari masyarakat
tentang kasus ini, maka akan ada kemungkinan bertambahnya pasien
dengan burst abdomen setiap tahunnya.
Burst abdomen terjadi lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.
Biasanya burst abdomen terjadi pada minggu kedua, dengan puncaknya
pada hari kesepuluh pasca-operasi, dan memiliki angka kematian sekitar 20.
Burst abdomen yang tidak ditangani dengan tepat dan segera dapat
menimbulkan berbagai komplikasi yang serius yang akan meningkatkan
resiko kematiaan. Melalui makalah ini kami memberikan pengetahuan dan
cara pencegahan terjadinya burst abdomen sehingga angka kejadian
penyakit tersebut dapat menurun. Selain itu, makalah ini diharapkan dapat
bermanfaat pula bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
pada pasien burst abdomen yang benar.
2

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan dengan
pendekatan Manajemen Kebidanan pada ibu nifas patologi sesuai
pendokumentasian SOAP pada kasus “Asuhan Kebidanan Nifas Patologi
pada Ny.M P1A0H1 Post SC hari ke-8 dengan Wound Dehiscence di
Ruang Nifas RSUD Kota Mataram”.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswi Mampu :
1) Mahasiswi mampu melakukan pengumpulan data subyektif
dengan benar pada “Asuhan Kebidanan Nifas Patologi pada Ny.
M P1A0H1 Post SC hari ke-8 dengan Wound Dehiscence di
Ruang Nifas RSUD Kota Mataram”.
2) Mahasiswi mampu melakukan pengumpulan data obyektif
dengan benar pada “Asuhan Kebidanan Nifas Patologi pada Ny.
M P1A0H1 Post SC hari ke-8 dengan Wound Dehiscence di
Ruang Nifas RSUD Kota Mataram”.
3) Mahasiswi mampu menganalisa dengan benar pada “Asuhan
Kebidanan Nifas Patologi pada Ny. M P1A0H1 Post SC hari ke-
8dengan Wound Dehiscence Post SC hari ke-8 di Ruang Nifas
RSUD Kota Mataram”.
4) Mahasiswi mampu melaksanakan dengan benar pada “Asuhan
Kebidanan Nifas Patologi pada Ny. M P1A0H1 Post SC hari ke-
8dengan Wound Dehiscence di Ruang Nifas RSUD Kota
Mataram”.

b. Mampu mengidentifikasi dan menganalisa kesenjangan antara teori


dan pratik di lapangan termasuk factor pendukung dan penghmbat
pada “Asuhan Kebidanan Nifas Patologi pada Ny. M P1A0H1 Post SC
hari ke-8 dengan Wound Dehiscence di Ruang Nifas RSUD Kota
Mataram”.
3

C. Manfaat
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah pengetahuan mahasiswa akademi kebidanan untuk
melakukan pelayanan asuhan kebidanan pada ibu nifas patologi dengan
wound dehiscence.
2. Bagi Lahan Praktek
Dengan adannya presentasi kasus ini dapat diharapkan mampu
mempertahankan kualitas pelayanan asuhan kebidanan pada ibu nifas
patologi dengan wound dehiscence.
3. Mahasiswa
Mampu melakukan asuhan kebidanan pada Asuhan Kebidanan Nifas
Patologi dalam bentuk pendokumentasian SOAP.
4

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Nifas
1. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya plasenta
sampai alat-alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara
normal masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari
(Ambarwati, 2010).
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti prahamil.
Lama masa nifas ini, yaitu 6-8 minggu (Bahiyatun, 2010, p.2)
Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa Latin, yaitu puer
yang artinya bayi dan parous yang artinya melahirkan atau masa sesudah
melahirkan (Saleha, 2010, p.4).
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,
plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ
kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu
(Sarwono,2010)
Masa nifas di mulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas
berlangsung selama kira- kira 6 minggu atau 42 hari. Masa nifas atau
post partum disebut juga puerperium yang berasal dari bahasa latin yaitu
kata “puer” yang artinya bayi dan “parous” berati melahirkan (Anggraeni,
Yetti, 2010, p.1).

2. Tahapan Masa Nifas


Tahapan masa nifas menurut Vivian,dkk (2013) adalah :
a. Puerpurium dini yaitu suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan
untuk berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerpurium intermedial yaitu suatu masa kepulihan dari organ-organ
reproduksi selama kurang lebih 6-8 minggu.

c. Remote puerpurium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan


sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan
5

mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat bisa berminggu-minggu,


berbulan-bulan, atau tahunan.

3. Perubahan-Perubahan Fisiologis Masa Nifas


a. Perubahan uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (invousi) sehingga
akhirnya kembaliseperti sebelum hamil dengan berat 60 gram.
Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi Tinggi Fundus Uterus Berat Uterus
Bayi Lahir Setinggi pusat 1000 gram
Plasenta lahir 2 jari dibawah pusat 750 gram
Pertengahan pusat
1 minggu 500 gram
simpisis
Tak teraba diatas
2 minggu 350 gram
simpisis
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram

b. Rasa Sakit
Yang disebut after paint (mules-mules) disebabkan karena
kontraksi rahim, biasanya berlangsung 3-4 hari pasca
persalinan(Anggraeni,p.2010)
c. Lochea
Adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui vagina
selama puerperium (Varney, 2007, p.960).
Ada beberapa jenis lochea, yakni (Suherni, Hesty Widyasih, Anita
Rahmawati, 2009, pp.78-79) :
1) Lochea Rubra ( Cruenta)
Lochea ini berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-
sel darah desidua (Desidua yakni selaput tenar rahim dalam keadaan
hamil), venix caseosa (yakni palit bayi, zat seperti salep terdiri atas
palit atau semacam noda dan sel-sel epitel yang mnyelimuti kulit
janin), lanugo (yakni bulu halus pada anak yang baru lahir), dan
6

mekonium (yakni isi usus janin cukup bulan yang terdiri atas getah
kelenjar usus dan air ketuban berwarna hijau).
2) Lochea Sanguinolenta
Warnanya merah kuning berisi darah dan lendir. Ini terjadi pada
hari ke 3-7 pasca persalinan.
3) Lochea Serosa
Berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-
14 pasca persalinan.
4) Lochea Alba
Cairan putih yang terjadinya pada hari setelah 2 minggu.
5) Lochea Purulenta
Ini terjadi karena infeksi, keluarnya cairan seperti nanah berbau
busuk.
6) Locheohosis
Lochea yang tidak lancar keluarnya.

4. Perubahan vagina dan perinium


a. Vagina
Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul vugae (lipatan-
lipatan atau kerutan-kerutan) kembali.
b. Perlukaan vagina
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan perineum tidak
sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi
lebih sering terjadi akibat ekstrasi dengan cunam, terlebih apabila
kepala janin harus diputar, robekan terdapat pada dinding lateral dan
baru terlihat pada pemeriksaan speculum.
c. Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum hampir pada semua persalinan pertama
dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum
umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala
janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa,
kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih
besar dan pada sirkumfarensia suboksipito bregmatika. Bila ada
laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomy (penyayatan mulut
serambi kemaluan untuk mempermudah kelahiran bayi) lakukanlah
7

penjahitan dan perawatan dengan baik (Suherni, Hesty Widyasih,


Anita Rahmawati, 2009, p.79).
d. Perubahan pada sistem pencernaan
Biasanya ibu mengalami konstipasi setelah melahirkan anak. Hal
ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan
mendapat tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong,
pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan
(dehidrasi), kurang makan, hemorroid, laserasi jalan lahir. Supaya
buang air besar kembali teratur dapat diberikan diit atau makanan
yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila
usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong
dengan pemberian huknah atau gliserin spuit atau diberikan obat
laksan yang lain (Eny Retna Ambarwati, Diah Wulandari, 2009, p.80).
e. Perubahan sistem perkemihan
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu,
tergantung pada 1) keadaan/status sebelum persalinan 2) Lamanya
partus kalla II yang dilalui 3) Bersarnya tekanan kepala yang
menekan pada saat persalinan (Suherni, Hesty Widyasih, Anita
Rahmawati, 2009, p.80).

5. Perubahan tanda-tanda vital


a. Suhu badan
Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu tubuh mungkin naik
sedikit, antara 37,2ºC-37,5°C. Kemungkinan disebabkan karena
ikutan dari aktivitas payudara. Bila kenaikan mencapai 38°C pada
hari kedua sampai hari-hari berikutnya, harus diwaspadai infeksi atau
sepsis nifas.
b. Denyut nadi\
Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60 kali per menit,
yakni pada waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan
istirahat penuh. Ini terjadi utamanya pada minggu pertama
postpartum.
c. Tekanan darah
Tekanan darah <140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa
meningkat dari pra persalinan pada 1-3 hari postpartum.
8

d. Respirasi
Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Hal itu
disebabkan karena ibu dalam kedaan pemulihan/dalam kondisi
istirahat. Bila ada respirasi cepat postpartum (>30x per menit)
mungkin karena ikutan tanda-tandasyok (Suherni, Hesty Widyasih,
Anita Rahmawati, 2009, pp.83-84).

B. Sectio Caesarea
1. Pengertian
Sectio caesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi
dengan berat di atas 500 gr, melalui sayatan pada dinding uterus yang
masih utuh (intact) (Syaifuddin, 2006)
Bedah sesar adalah sebuah bentuk melahirkan anak dengan
melakukan sebuah irisan pembedahan yang menembus abdomen
seorang ibu dan uterus untuk mengeluarkan satu bayi atau lebih. Cara
ini biasanya dilakukan ketika kelahiran melalui vagina akan mengarah
pada komplikasi-komplikasi, kendati cara ini semakin umum sebagai
pengganti kelahiran normal (Dewi, 2007).
Dapat disimpulkan bahwa sectio caesarea adalah pengeluaran
hasil konsepsi dengan cara pembedahan yang menembus abdomen
sampai ke uterus.
2. Indikasi
Berdasarkan waktu dan pentingnya dilakukan sectio caesarea, maka
dikelompokkan 4 kategori (Edmonds,2007) :
a. Kategori 1 atau emergency
Dilakukan sesegera mungkin untuk menyelamatkan ibu atau janin.
Contohnya abrupsio plasenta, atau penyakit parah janin lainnya.
b. Kategori 2 atau urgent
Dilakukan segera karena adanya penyulit namun tidak terlalu
mengancam jiwa ibu ataupun janinnya. Contohnya distosia.
c. Kategori 3 atau scheduled
Tidak terdapat penyulit.
d. Kategori 4 atau elective
Dilakukan sesuai keinginan dan kesiapan tim operasi.
9

Menurut Impey dan Child (2008), mengelompokkan 2 kategori,


yaitu emergency dan elective Caesarean section. Disebut emergency
apabila adanya abnormalitas pada power atau tidak adekuatnya kontraksi
uterus. Passenger bila malaposisi ataupun malapresentasi. Serta
Passage bila ukuran panggul sempit atau adanya kelainan anatomi.
a. Indikasi Ibu
1) Panggul Sempit Absolut
2) Tumor yang dapat mengakibatkan Obstruksi
3) Plasenta Previa
4) Ruptura Uteri
5) Disfungsi Uterus (Prawirohardjo, 2009)
6) Solutio Plasenta
b. Indikasi Janin
Kelainan Letak
1) Letak Lintang
2) Presentasi Bokong (Decherney,2007)
3) Presentasi Ganda atau Majemuk (Prawirohardjo, 2009)
4) Gawat Janin (Prawirohardjo, 2009).
5) Ukuran Janin
c. Indikasi Ibu dan Janin
1) Gemelli atau Bayi Kembar
2) Riwayat Sectio Caesarea
3) Preeklampsia dan Eklampsia (Decherney,2007).
d. Indikasi Sosial

3. Komplikasi Luka
a. Hematoma
Balutan dilihat terhadap perdarahan (hemoragi) pada interval yang
sering selama 24 jam setelah pembedahan. Setiap perdarahan dalam
jumlah yang tidak semestinya dilaporkan. Pada waktunya, sedikit
perdarahan terjadi pada bawah kulit. Hemoragi ini biasanya berhenti
secara spontan tetapi mengakibatkan pembentukan bekuan didalam
luka. Jika bekuan kecil, maka akan terserap dan tidak harus
ditangani. Ketika lukanya besar dan luka biasanya menonjol dan
penyembuhan akan terhambat kecuali bekuan ini dibuang. Proses
10

penyembuhan biasanya dengan granulasi atau penutupan sekunder


dapat dilakukan.
b. Infeksi
Stapihylococcuss Aureus menyebabkan banyak infeksi luka
pasca operatif. Infeksi lainnya dapat terjadi akibat escherichia coli,
proteus vulgaris. Bila terjadi proses inflamatori, hal ini biasanya
menyebabkan gejala dalam 36 sampai 48 jam. Frekwensi nadi dan
suhu tubuh meningkat, dan luka biasanya membengkak, hangat dan
nyeri tekan, tanda-tanda lokal mungkin tidak terdapat ketika infeksi
sudah mendalam.
c. Dehiscene dan Eviserasi
Dehicence adalah gangguan insisi atau luka bedah dan eviserasi
adalah penonjolan isi luka. Komplikasi ini sering terjadi pada jahitan
yang lepas, infeksi dan yang lebih sering lagi karena batuk keras dan
mengejan.

4. Proses Penyembuhan Luka


Menurut Moya, Morison (2003) proses fisiologis penyembuhan luka
dapat dibagi ke dalam 3 fase utama, yaitu:
a. Fase Inflamasi (durasi 0-3 hari)
Jaringan yang rusak dan sel mati melepaskan histamine dan
mediator lain, sehingga dapat menyebabkan vasodilatasi dari
pembuluh darah sekeliling yang masih utuh serta meningkatnya
penyediaan darah ke daerah tersebut, sehingga menyebabkan merah
dan hangat. Permeabilitas kapiler darah meningkat dan cairan yang
kaya akan protein mengalir ke interstitial menyebabkan oedema lokal.
b. Fase destruksi (1-6 hari)
Pembersihan terhadap jaringan mati atau yang mengalami
devitalisasi dan bakteri oleh polimorf dan makrofag. Polimorf menelan
dan menghancurkan bakteri. Tingkat aktivitas polimorf yang tinggi
hidupnya singkat saja dan penyembuhan dapat berjalan terus tanpa
keberadaan sel tersebut.
11

c. Fase Proliferasi (durasi 3-24 hari)


Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk
sel-sel yang bermigrasi. Fibroblas melakukan sintesis kolagen dan
mukopolisakarida
d. Fase Maturasi (durasi 24-365 hari)
Dalam setiap cedera yang mengakibatkan hilangnya kulit, sel
epitel pada pinggir luka dan sisa- sisa folikel membelah dan mulai
berimigrasi di atas jaringan granulasi baru.

5. Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka


Menurut Craven dan Hirnle (2000), yang mempengaruhi penyembuhan
luka dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
a. Faktor Luka
1) Kontaminasi Luka
Tehnik pembalutan yang tidak adekuat, bila terlalu kecil
memungkinkan invasi dan kontaminasi bakteri, jika terlalu
kencang dapat mengurangi suplay oksigen yang membawa
nutrisi dan oksigen.
2) Edema
Penurunan suplay oksigen melalui gerakan meningkat
tekanan intersisial pada pembuluh darah.
3) Hemoragi
Akumulasi darah menciptakan ruang rugi juga sel-sel mati
yang harus disingkirkan.
b. Faktor Umum
1) Usia
Makin tua pasien, makin kurang lentur jaringan.
2) Nutrisi
Pada penyembuhan luka kebutuhan akan nutrisi
meningkat seiring dengan stress fisiologis yang menyebabkan
defisiensi protein nutrisi yang kurang dapat menghambat
sintesis kolagen dan terjadi penurunan fungsi leukosit.
3) Obesitas
Pada pasien obesitas jaringan adiposa biasanya
mengalami avaskuler sehingga mekanisme pertahanan
12

terhadap mikroba sangat lemah dan mengganggu suplay


nutrisi kearah luka, akibatnya penyembuhan luka menjadi
lambat.
4) Medikasi
Pada beberapa obat dapat mempengaruhi penyembuhan luka,
seperti steroid, anti koagulan, anti biotik spektrum luas.

6. Perawatan Luka Operasi


Luka perlu ditutup dengan kasa steril, sehingga sisa darah dapat
diserap oleh kasa. Dengan menutup luka itu kita mencegah terjadinya
kontaminasi (kemsukan kuman), tersenggol, dan memberi kepercayaan
pada pasien bahwa lukanya diperhatikan oleh perawat.
Sehabis operasi, luka yang timbul langsung ditutup dengan kasa
steril selagiu dikamar bedah dan biasanya tidak perlu diganti sampai
diangkat jahitannya, kecuali bila terjadi perdarahan sampai darahnya
menembus diatas kasa, barulahdiganti dengan kasa steril. Pada saat
mengganti kasa yang lama perlu diperhatikan tehnik asepsis supaya
tidak terjadi infeksi. Jahitan luka dibuka setengahnya pada hari kelima
dan sisanya dibuka pada hari keenam atau ketujuh (Oswari, 2005).

C. Wound Dehiscence
1. Definisi
Burst abdomen atau abdominal wound dehiscence adalah
terbukanya tepi-tepi luka sehingga menyebabkan evirasi atau
pengeluaran isi organ-organ dalam seperti usus, hal ini merupakan
salah satu komplikasi post operasi dari penutupan luka di dalam perut.
Abdominal wound dehiscence dan hernia insisional adalah bagian
yang sama dari proses kegagalan penyembuhan luka operasi.
Abdominal wound dehiscence terjadi sebelum penyembuhan kulit,
sedangkan hernia insisional terjadi saat penyembuhan insisi kulit yang
membaik
13

2. Etiologi
a. Pre operasi
1) Batuk
2) Anemia
3) Malnutrisi
4) Hypoalbumin
b. Operasi
1) Tipe insisi
2) Jahitan luka
c. Post operasi
1) Batuk
2) Distensi abdominal
3) Ascites
4) Vomiting
5) Kebocoran usus
6) Infeksi
7) Hematoma
8) Ketidakseimbangan elektrolit
9) Jaundice
3. Patofisiologi
Burst Abdomen bisa disebabkan oleh faktor pre operasi, operasi dan
post operasi. Pada faktor pre operasi, hal-hal yang berpengaruh dalam
factor pre operasi ini adalah usia,kebiasaan merokok, penyakit diabetes
mellitus, dan malnutrisi. Pada umur tua otot dinding rongga perut
melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan
tubuh mengalami proses degenerasi. Kejadian tertinggi burst abdomen
sering terjadi pada umur > 50-65 tahun. Selain itu adanya anemia,
hypoproteinaemia, dan beberapa kekurangan vitamin bisa
menyebabkan terjadinya burst abdomen. Hemoglobin menyumbang
oksigen untuk regenerasi jaringan granulasi dan penurunan tingkat
hemoglobin mempengaruhi penyembuhan luka.
Kebiasaan merokok sejak muda menyebabkan batuk-batuk yang
persisten, batuk yang kuat dapat menyebabkan peningkatan tekanan
intra abdomen. Penyakit-penyakit tersebut tentu saja amat sangat
berpengaruh terhadap daya tahan tubuh sehingga akan mengganggu
14

proses penyembuhan luka operasi. Hypoproteinemia adalah salah satu


faktor yang penting dalam penundaan penyembuhan, seseorang yang
memiliki tingkat protein serum di bawah 6 g / dl. Untuk perbaikan
jaringan, sejumlah besar asam amino diperlukan. VitaminC sangat
penting untuk memperoleh kekuatan dalam penyembuhan luka.
Kekurangan vitamin C dapat mengganggu penyembuhan dan
merupakan predisposisi kegagalan luka. Kekurangan vitamin C terkait
dengan delapan kali lipat peningkatan dalam insiden wound dehiscence.
Seng adalah co-faktor untuk berbagai proses enzimatik dan mitosis.
Untuk factor operasi, tergantung pada tipe insisi, penutupan sayatan,
penutupan peritoneum, dan jahitan bahan. Kontraksi dari dinding
abdomen menyebabkan tekanan tinggi di daerah lateral pada saat
penutupan. Pada insisi midline, ini memungkinkan menyebabkan bahan
jahitan dipotong dengan pemisahan lemak transversal. Dan sebaliknya,
pada insisi transversal, lemak dilawankan dengan kontraksi. Otot perut
rektus segmental memiliki suplai darah dan saraf. Jika irisan sedikit
lebih lateral, medial bagian dari otot perut rektus mendapat denervated
dan akhirnya berhenti tumbuh. Ini menciptakan titik lemah di dinding
dan pecah perut.
Faktor post operasi terdiri dari peningkatan dari intra-abdominal
pressure yang menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan
dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah
tersebut, dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses
perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan
kegemukan. Dapat dipicu juga jika mengangkat beban berat, batuk dan
bersin yang kuat, mengejan akibat konstipasi. Terapi radiasi dapat
mengganggu sintesis protein normal, mitosis, migrasi dari faktor
peradangan, dan pematangan kolagen. Antineoplastic agents
menghambat penyembuhan luka dan luka penundaan perolehan dalam
kekuatan tarik.

4. Manifestasi klinis
1. Dehiscence selalu ditunjukkan pada 7-14 hari setelah operasi
2. Luka distrupsi mungkin terjadi tanpa tanda
3. Ketegangan atau perpindahan struktur
15

4. Pasien sering menunjukkan “sensasi penyobekan” atau merasakan


sesuatu yang pernah diberikan
5. Terlihat serosa tidak berfungsi dari luka. Itu terlihat lebih dari 85 %
dari masalah

5. Pemeriksaan diagnostic
1. Tes BGA (Darah lengkap)
Hemoglobin, serum protein, gula darah, serum kreatinin, dan urea.
Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan
hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah
putih, dan ketidakseimbangan elektrolit.
2. CT scan atau MRI
3. Sinar X abdomen
Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya tinggi kadar gas dalam
usus atau obstruksi usus.

6. Penatalaksanaan
a. Tindakan operasi:
Operasi pembedahan, dilakukan untuk menutup lubang dan
memperkuat bagian yang lemah, Otot perut dirapatkan menutupi
lubang yang ada.
1) Kebanyakan untuk pasien akut atau baru saja terjadi luka
disarankan untuk operasi kembali.
2) Kebanyakan teknik yang utama dalah segera menjahit kembali
pada tempat jahitan semula yang mengalami perobekan.
3) Pemberian antibiotic preoperative spektum meluas.
4) Bebaskan lipatan peritonim dan usus untuk jarak yang pendek
pada permukaan yang dalam dari luka pada kedua sisi.
5) Masukkan jahitan luka yang dalam.
6) Kemudian proses akir dari dinding abdomen, yakinlah untuk
mengambil potongan yang dalam dari jari, memakai materi
jahitan yang banyak dan hindari tegangan yang berlebihan pada
luka.
16

7) Tutup kulit dengan agak longgar dan mempertimbangkan


pemakaian pengering luka dangkal. Jika terjadi infesi luka yang
buruk , jangan biarkan luka terbuka dan bungkuslah.

b. Penumpukan Jahitan.
Ada beberapa teknik, tetapi pada prinsipnya adalah :
1) Memakai jahitan luka yang padat dan tidak menyerap.
2) Luas potongan paling tidak 3cm dari tepi luka dan interval stik
jahitan 3 cm atau kurang.
3) Salah satu dari eksternal (menggabungkan semua lapisan
peritonium melewati kulit) atau (semua lapisan kecuali kulit)
mungkin digunakan.
4) Penumpukan jahitan luka internal dapat menghindari
pembentukan bekas luka yang tidak sedap dipandang akan
tetapi luka itu tidak dapat dipindahkan pada waktu
berikutnya(meningkatkan resiko infeksi)
5) Jangan mengikat terlalu kuat
6) Penumpukan jahitan luka eksternal biasanya dibiarkan selama
paling tidak tiga minggu.

Penderita setelah operasi biasanya masih mengeluh soal lain.


Setelah operasi ia merasakan bagian yang dioperasi seperti tertarik
dan nyeri. Untuk mengatasi keluhan tadi, kini tersedia jala sintetis
yang dikenal dengan mesh. Penggunaannya menguntungkan bagi
penderita pascaoperasi, karena otot perutnya tidak lagi ditarik,
sehingga penderita tidak akan merasa nyeri.

Usaha untuk menutup dinding perut mungkin dapat


menyebabkan elevasi dari tekanan intra abdominal dan syndrome
ruang abdomen berikutnya. Pada kasus kasus tertetu (exs.jika
penyebabnya memungkinkan untuk diselesaikan dengan cepat)
mungkin bisa menutup abdomen untuk sementara waktu dengan
membungkus luka dan mengambil tindakan lebih lanjut dalam waktu
24-48 jam. Penutupan “mesh” pada insisi abdomen biasanya
menunjukan:
17

1) Kerusakannya adalah penutupan dari satu atau dua lapisan pada


lubang.
2) Lubang adalah jahitan luka pada tempat dari jahitan luka yang
menembus lapisan tebal dinding abdomen.

Perubahan balutan dan granulasi benuk jaringan berikutnya,


akhirnya berpengaruh pada permukaan yang bisa dibungkus dengan
pemindahan robekan kulit(transparansi kulit)
18

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN NIFAS PATOLOGI PADA NY. M DENGAN WOUND


DEHISCENCE DI RUANG NIFAS RSUD KOTA MATARAM
TANGGAL 22-24 FEBRUARI 2018

A. Data Subjektif
Masuk tanggal/Jam : Rabu, 21 Februari 2018 /13.00 WITA
Pengkajian tanggal/jam : Kamis, 22 Februari 2018 /10.00 WITA
Nomor Register Pasien : 22.48.17
Tempat :Ruang Nifas RSUD Kota Mataram

1. Identitas
No Identitas Klien Istri Suami
1 Nama Ny “M” Tn “I”
2 Umur 20 tahun 25 tahun
3 Agama Islam Islam
4 Suku bangsa Sasak Sasak
5 Pendidikan SMA SMA
6 Pekerjaan IRT Swasta
7 Alamat Rembiga Rembiga

2. Keluhan Utama : Ibu mengeluh nyeri pada bekas luka operasi dan
bernanah
3. Riwayat Perjalanan Penyakit
a. Ibu datang pada tanggal 21 Februari 2018 pukul 10.00 WITA rujukan
dari Puskesmas Selaparang dengan diagnosa ILO. Tindakan yang
telah dilakukan di Puskesmas adalah dilakukan perawatan luka
dengan cara mengeluarkan pus pada luka ibu. Kemudian ibu
diarahkan ke ruang poli kandungan kemudian diarkan ke ruang nifas
dengan diagnosa wound dehiscence post SCTP hari ke 7 mengeluh
demam dari kemarin, nyeri pada bekas luka jahitan operasi dan
bernanah.
19

b. Ibu mengatakan ini persalinannya yang pertama.


c. Ibu mengatakan ibu jarang melakukan mobilisasi karena selalu
merasa pusing jika akan berjalan.
d. Tindakan yang sudah diberikan pada tanggal 21 Februari 2018 di
ruang nifas, pukul 12.00 WITA
1) Grojok RL 2 flash
2) PCT tablet 3 x 500 mg
3) Injeksi Cefoperazone 2x1 gr/iv
4) Metronidazole infus 3x500 mg
5) Melakukan rawat luka setiap pagi dan sore.
6) Cek DL,GDS dan albumin.
Jenis
No Hasil Nilai Rujukan
Pemeriksaan
1 Hemoglobin 10.0 gr/dl 12,3-15,3 gr/dl
2 Eritrosit 3,76 10^6/uL 4,10-5,10 10^6/uL
3 Hematokrit 29,9 % 35,0-40,0 %
4 Trombosit 292 10^3/uL 150-450 10^3/uL
5 Leukosit 14,84 4,50-11,50 10^3/uL
10^3/uL
6 Albumin 2,8 gr/dl 3,4-4,8 gr/dl

4. Riwayat Persalinan Sekarang


a. Tanggal/jam persalinan : 13 Februari 2018/-
b. Penolong persalinan : Dokter
c. Tempat persalinan : RSUD Kota Mataram
d. Jenis persalinan :SC
e. Keadaan bayi :BB :3400 gram, PB :50\1 cm,
JK:Laki-laki, Hidup.
f. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan : Tidak ada
20

5. Riwayat persalinan dan nifas yang lalu


Persalinan Nifas Anak
Ham
Jeni Penolon Komplikas Komplikas
il ke Tgl UK Tempat JK BB
s g i i
13/ 9 Wound
Rumah
1 2/1 bul SC Dokter CPD Dehiscenc L 3400
Sakit
8 an e

6. Riwayat Kesehatan/ Penyakit yang diderita atau penyakit keturunan


a. Penyakit kardioveskuler : Tidak pernah melakukan
pemeriksaan
b. Penyakit jantung : Tidak ada
c. Penyakit hipertensi : Tidak ada
d. Penyakit hepatitis : Tidak ada
e. Penyakit diabetes mellitus : Tidak ada
f. Penyakit asma/tuberculosis : Tidak ada
g. Penyakit ginjal : Tidak pernah mekukan
Pemeriksaan
h. Penyakit HIV/AIDS : Tidak pernah melakukan
pemeriksaan
i. Penyakit alergi : Tidak ada
j. Penyakit malaria : Tidak ada
k. Penyakit mental : Tidak ada
l. Riwayat kembar : Tidak ada
7. Riwayat Kebutuhan Biologis
a. Kebutuhan Nutrisi/diet
Makan
Komposisi Nasi, ikan,sayur,telur
Porsi 5 sendok
Pantangan Tidak ada
Masalah Tidak ada nafsu makan
21

Minum
Jenis Air putih,pocari sweat
Banyaknya 4-6 gelas
Masalah Tidak ada

b. Pemberian ASI :
Pemberian ASI
Frekuensi Setiap 2 jam
Lamanya 30 menit
Kesulitan Tidak ada

c. Pola Eleminasi
BAB
Konsistensi Padat –Lunak
Warna Kuning

Frekuensi Tidak dilakukan pengkajian

Masalah Takut, karena jahitan

BAK
\Konsistensi Cair
Warna Kuning jernih
Frekuensi Tidak dilakukan pengkajian
Masalah Takut, karena jahitan.

d. Istirahat
Istirahat
Siang
Lama ±2 jam
Masalah Tidak ada
Malam
Lama Tidak dilakukan pengkajian
Masalah Tidak dilakukan pengkajian
22

e. Ketidaknyamanan Nyeri
Ketidaknyamanan Nyeri
Lokasi Bagian yang dijahit
Intensitas -
Cara Mengatasi nyeri -

f. Riwayat Sosial Ekonomi


Status perkawinan : Sah 1 kali
Lama perkawinan : 1 tahun 4 bulan
Jumlah anggota keluarga dalam satu rumah : 4 orang bersama
bayinya.
g. Riwayat dan Rencana KB
Riwayat KB : Tidak ada
Rencana KB : Spiral

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Emosi : Stabil
2. Tanda-tanda Vital
Nadi :89 x/menit
Suhu :37 0C
Tekanan Darah :110/80 mmHg
Respirasi :20 x/menit
3. Pemeriksaan fisik
a. Wajah
1) Inspeksi : Simetris, tidak tampak pucat, ada cloasma
gravidarum
2) Palpasi : Tidak ada oedema
b. Mata
1) Inspeksi : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus.
23

c. Leher
1) Palpasi :Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
pembesaran kelenjar getah bening / limfe , tidak
ada bendungan vena jugularis.
d. Payudara
1) Inspeksi : Simetris, putting susu menonjol, tidak ada lesi,
tidak ada retraksi / dimpling.
2) Palpasi : Tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, ada
pengeluaran air susu pada payudara kanan dan
kiri.
e. Abdomen
1) Inspeksi : Ada luka bekas operasi dan tampak ada nanah.
2) Palpasi : Ada pengeluaran pus ± 10 cc, Kontraksi uterus
baik, TFU pertengahan pusat simpisis, kandung
kemih kosong.
f. Genetalia
1) Inspeksi : Tidak ada luka pada labia mayora dan minora,
tidak ada tanda-tanda infeksi, ada pengeluran
lokhia ± 5 cc
g. Ekstremitas atas
1) Inspeksi : Simetris, tidak ada kemerahan, ada terpasang
infus pada tangan kiri
2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, ada oedema,
h. Ekstremitas bawah
1) Inspeksi : Simetris, tidak ada kemerahan, tidak ada varices.
2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, ada oedema.

4. Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 21 Februari 2018)


a. Darah
1) Hb : 10.0 g/dl
2) Eritrosit : 3,76 10^6/uL
3) Hematokrit : 29,9 %
4) Trombosit : 292 10^3/uL
5) Leukosit : 14,84 10^3/uL
6) Albumin : 2,8 g/dl
24

C. Analisa
1. Diagnosa
Ny.M P1A0H1 Post SC hari ke-8 dengan Wound Dehiscence.
2. Masalah
Kekhawatiran oleh karena rasa nyeri pada bekas luka operasi dan
bernanah.
3. Kebutuhan
Penatalaksanaan rasa nyeri pada bekas luka operasi dan bernanah.

D. Penatalaksanaan (Tanggal 22 Februari 2018 pukul10.00 WITA)


1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu belum baik dan
masaih perlu penanganan.
2. Melakukan konseling tentang nutrisi ibu, yaitu menganjurkan ibu untuk
rutin mengkonsumsi makanan yang mengandung protein seperti telur.
3. Melakukan konseling tentang pentingnya mobilisasi, yaitu dengan
menganjurkan ibu untuk rajin melakukan mobilisasi untuk mempercepat
penyembuhan lukanya.
4. Mengobservasi TTV ibu pukul 12.00 WITA dengan hasil :
a. TD : 90/60 mmHg
b. N : 88 x/menit
c. S : 36,5 0C
d. R : 20 x/menit
5. Melakukan kolaborasi dengan dokter.
Advice dokter :
No Tanggal/Jam Tindakan yang diberikan Keterangan
1 22 Februari Melakukan injeksi
2018/ 13.00 Cefoperazone 1 gr/iv
WITA
2 22 Februari a. Memberikan
2018/ 14.30 Metronidazole ml/8j
WITA b. Memberikan PCT tablet 3
x 500 mg
c. Memberikan Vit Albumin
3x2 tab
25

3 22 Februari Melakukan perawatan luka a. Ada pengeluaran


2018/ 18.00 pus ± 10 cc.
WITA
4 22 Februari a. Memberikan
2018/ 22.30 Metronidazole ml/8j
WITA b. Memberikan PCT tablet 3
x 500 mg
c. Memberikan Vit Albumin
3x2 tab
5 23 Februari Melakukan injeksi
2018/ 01.30 Cefoperazone 1 gr/iv
WITA

6. Mengobservasi keadaan ibu meliputi TFU, kandung kemih,


kontraksi,perdarahan/lochea dan TTV ibu dengan hasil :
a. TFU : pertengahan pusat simpisis
b. Kontraksi : baik
c. Kandung kemih : kosong
d. Perdarahan/Lochea : serosa
e. TTV
1) TD : 100/80 mmHg
2) N : 88 x/menit
3) S : 36,5 0C
4) R : 20 x/menit
7. Intervensi dilanjutkan.

Catatan Perkembangan hari ke 3


Tanggal : Jum’at, 23 Februari 2018
Waktu : 08.00 WITA
Tempat : Ruang Nifas RSUD Kota Mataram

Tanggal/Jam SOAP Keterangan


23 Februari A. Data Subjektif
2018/ 08.00 1) Ibu mengatakan masih menrasa nyeri pada
WITA luka bekas operasi.
26

2) Ibu mengatakan sudah mengkonsumsi


makanan yang mengandung protein seperti
telur dan sudah sudah melakukan mobilisasi
seperti berjalan.

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran umum : Baik
Kesadaran :Compos mentis
Emosi : Stabil
2. Tanda-tanda Vital
Nadi :89 x/menit
Suhu :37 0C
Tekanan Darah :110/80 mmHg
Respirasi :20 x/menit
3. Pemeriksaan fisik
a. Abdomen
1) Inspeksi : Ada luka bekas operasi.
2) Palpasi : Ada pengeluaran pus ± 5 cc,
Kontraksi uterus baik, TFU
pertengahan pusat simpisis, kandung
kemih kosong.
C. Analisa
1. Diagnosa
Ny.M P1A0H1 Post SC hari ke-9 dengan
Wound Dehiscence.
2. Masalah
Kekhawatiran oleh karena rasa nyeri pada
bekas luka operasi dan bernanah.
3. Kebutuhan
Penatalaksanaan rasa nyeri pada bekas
luka operasi dan bernanah.
27

D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa
keadaan ibu belum baik dan masaih perlu
penanganan.
2. Melakukan konseling tentang nutrisi ibu,
yaitu menganjurkan ibu untuk rutin
mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein seperti telur.
3. Melakukan konseling tentang pentingnya
mobilisasi, yaitu dengan menganjurkan ibu
untuk rajin melakukan mobilisasi untuk
mempercepat penyembuhan lukanya.

23 Februari 4. Mengobservasi keadaan ibu meliputi TFU,


2018/ 12.00 kandung kemih, kontraksi,perdarahan/lochea
WITA dan TTV ibu dengan hasil :
a. TFU : pertengahan
pusat simpisis
b. Kontraksi : baik
c. Kandung kemih : kosong
d. Perdarahan/Lochea : serosa
e. TTV
1) TD : 90/60 mmHg
2) N : 88 x/menit
3) S : 36,5 0C
4) R : 20 x/menit
23 Februari 5. Melakukan injeksi Cefoperazone 1 gr/iv
2018/ 13.00
WITA
23 Februari 6. Memberikan Metronidazole ml/8j
2018/ 14.30 7. Memberikan PCT tablet 3 x 500 mg
WITA 8. Memberikan Vit Albumin 3x2 tab
23 Februari 9. Melakukan perawatan luka Ada
2018/ 18.00 10. Mengobservasi keadaan ibu meliputi TFU, pengeluaran
WITA kandung kemih, kontraksi,perdarahan/lochea pus ± 10 cc.
28

dan TTV ibu dengan hasil :


a. TFU : pertengahan
pusat simpisis
b. Kontraksi : baik
c. Kandung kemih : kosong
d. Perdarahan/Lochea : serosa
e. TTV
1) TD : 100/70 mmHg
2) N : 96 x/menit
3) S : 36,7 0C
4) R : 20 x/menit
23 Februari 11. Memberikan Metronidazole ml/8j
2018/ 22.30 12. Memberikan PCT tablet 3 x 500 mg
WITA 13. Memberikan Vit Albumin 3x2 tab
24 Februari 14. Melakukan injeksi Cefoperazone 1 gr/iv
2018/ 01.30
WITA
15. Intervensi dialanjutkan.

Catatan Perkembangan hari ke 4


Tanggal : Sabtu, 24 Februari 2018
Waktu : 08 .00 WITA
Tempat : Ruang Nifas RSUD Kota Mataram
Tanggal/Jam SOAP Keterangan
24 Februari A. Data Subjektif
2018/ 08.00 1. Ibu mengatakan sudah tidak merasa nyeri
WITA pada luka bekas operasi.
2. Ibu mengatakan sudah mengkonsumsi
makanan yang mengandung protein seperti
telur dan sudah sudah melakukan mobilisasi
seperti berjalan.
B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran umum : Baik
29

Kesadaran : Compos mentis


Emosi : Stabil
2. Tanda-tanda Vital
Nadi :89 x/menit
Suhu :37 0C
Tekanan Darah :110/80 mmHg
Respirasi :20 x/menit
3. Pemeriksaan fisik
a. Abdomen
Inspeksi : Ada luka bekas operasi.
Palpasi : Tidak ada pengeluaran pus,
Kontraksi uterus baik, TFU pertengahan
pusat simpisis, kandung kemih kosong.
C. Analisa
1. Diagnosa
Ny.M P1A0H1 Post SC hari ke-10 dengan
Wound Dehiscence.
2. Masalah
Kekhawatiran oleh karena rasa nyeri pada
bekas luka operasi dan bernanah.
3. Kebutuhan
Penatalaksanaan rasa nyeri pada bekas
luka operasi dan bernanah.
D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa
keadaan ibu belum baik dan masaih perlu
penanganan.
2. Melakukan konseling tentang nutrisi ibu,
yaitu menganjurkan ibu untuk rutin
mengkonsumsi makanan yang mengandung
protein seperti telur.
3. Melakukan konseling tentang pentingnya
mobilisasi, yaitu dengan menganjurkan ibu
untuk rajin melakukan mobilisasi untuk
mempercepat penyembuhan lukanya.
30

24 Februari 4. Mengobservasi keadaan ibu meliputi TFU,


2018/ 12.00 kandung kemih,kontraksi,perdarahan/lochea
WITA dan TTV ibu dengan hasil :
a. TFU : pertengahan
pusat simpisis
b. Kontraksi : baik
c. Kandung kemih : kosong
d. Perdarahan/Lochea : serosa
e. TTV
1) TD : 100/80 mmHg
2) N : 96 x/menit
3) S : 36,7 0C
4) R : 20 x/menit
24 Februari 5. Melakukan injeksi Cefoperazone 1 gr/iv
2018/ 13.00
WITA
24 Februari 6. Memberikan Metronidazole ml/8j
2018/ 14.30 7. Memberikan PCT tablet 3 x 500 mg
WITA 8. Memberikan Vit Albumin 3x2 tab
24 Februari 9. Melakukan perawatan luka Ada
2018/ 18.00 10. Mengobservasi keadaan ibu meliputi TFU, pengeluaran
WITA kandung kemih, kontraksi,perdarahan/lochea pus ± 10 cc.
dan TTV ibu dengan hasil :
a. TFU : pertengahan
pusat simpisis
b. Kontraksi : baik
c. Kandung kemih : kosong
d. Perdarahan/Lochea : serosa
e. TTV
1) TD : 100/70 mmHg
2) N : 88 x/menit
3) S : 36,7 0C
4) R : 20 x/menit
23 Februari 11. Memberikan Metronidazole ml/8j
2018/ 22.30 12. Memberikan PCT tablet 3 x 500 mg
31

WITA 13. Memberikan Vit Albumin 3x2 tab


24 Februari 14. Melakukan injeksi Cefoperazone 1 gr/iv
2018/ 01.30
WITA
15. Intervensi dialanjutkan.
32

BAB IV
PEMBAHASAN

Anamnesa di lahan telah dilakukan sesuai dengan pedoman anamnesa


dan telah mencakup seluruh aspek yang dibutuhkan data dasar dalam
asuhan kebidanan.

Dari hasil pengkajian data subjektif yang diperoleh pada Ny.”M”


ditemukan masalah yang serius, yang membutuhkan penanganan segera,
pengkajian yang diperoleh sudah sesuai dengan teori, sehingga tidak
ditemukan kesenjangan antara teori dengan lahan praktik. Pada kasus Ny.
“M” data subjektif yang dikaji sesuai dengan teori yang ada dan data
subjektif yang telah dikaji menunjukkan ibu mengalami keluhan yang patologi
yaitu merasakan nyeri pada luka bekas operasi disertai dengan nanah dan
dari hasil anamnesa yang dilakukan ibu mengatakan kurang mengkonsumsi
makanan dan jarang melakukan mobilisasi. Hal tersebut merupakan salah
satu faktor terjadinya infeksi pada luka bekas operasi. tidak terpenuhinya
nutrisi akan menyebabkan defisiensi protein nutrisi yang kurang dapat
menghambat sintesis kolagen dan terjadi penurunan fungsi leukosit (Craven
dan Hirnle,2000),

Dari hasil pengkajian data objektif yang telah dilakukan, ditemukan


bahwa pada Ny. “M” mengalami masalah sesuai dengan data objektif yang
dilakukan yakni dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan ditemukan nanah
pada luka bekas operasi ibu sedangkan untuk TFU, Kandung kemih, lochea
dan TTV ibu normal. Namun daru hasil pemeriksaan Laboratorium
ditemukan kadar Darah lengkap dan albumin ibu kurang dari normal.

Diagnosa sudah ditentukan berdasarkan hasil pengkajian data subyektif


dan objektif sehingga ditemukan adanya masalah. Pada kasus ini, Ny. “M”
P1A0H1 post sc hari ke-8 dengan wound dehiscence. Diagnosa ini dsSesuai
dengan data dasar dari data Subjektif dan data Objektif yang telah dikaji dan
dilakukan

Penatalaksanaan yang telah dilakukan di ruang Nifas sudah sesuai


kebutuhan Ny.M sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan
lahan praktik. Pada kasus ini, penatalaksanaan telah dilakukan sesuai
33

dengan teori yang ada berdasarkan kebutuhan, yakni melakukan kolaborasi


dengan dokter tindakan yang akan dilakukan , melakukan perawatan luka
sesuai dengan standar yang diterapkan di rumah sakit dan memantau
perkembangan ibu.

Berdasarkan kasus di atas, tidak terdapat kesenjangan antara teori dan


tinjauan kasus. Pada pengkajian data saat di ruang Nifas RSUD Kota
Mataram dilakukan pengkajian sesuai dengan pengkajian data di teori,
begitu juga dengan asuhan yang diberikan, sesuai dengan diagnosa,
masalah dan kebutuhan pasien
34

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan Asuhan kebidanan dalam nifas patologi , penyusun
telah mampu menerapkan manajemen SOAP, meliputi:
1. Mahasiswa sudah mampu melakukan pengkajian data subjektif pada Ny.
M P1A0H1 Post SC hari ke-8 dengan Wound Dehiscence;
2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data objektif pada Ny. M
P1A0H1 Post SC hari ke-8 dengan Wound Dehiscence;
3. Mahasiswa mampu menentukan diagnosa kebidanan pada Ny. M P1A0H1
Post SC hari ke-8 dengan Wound Dehiscence;
4. Mahasiswa mampu merencanakan tindakan serta pelaksanaan asuhan
kebidanan pada Ny. M P1A0H1 Post SC hari ke-8 dengan Wound
Dehiscence;

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas dapatlah penyusun mengajukan
beberapa saran, antara lain
1. Untuk Institusi Pendidikan
Agar tetap membimbing dan membantu mahasiswa untuk memahami
dan menerapkan teori yang telah diberikan dari institusi sehingga mampu
memberikan asuhan yang sesuai dan mampu menganalisa kesenjangan
antara teori dengan praktik serta mengetahui sejauh mana mahasiswa
mampu menerapkan ilmu pendidikan yang diperoleh mahasiswa di
bangku kuliah sehingga dapat menjadi bahan analisa untuk pendidikan
kasus patologi dalam asuhan kebidanan kehamilan.
2. Untuk Institusi Pelayanan
Agar tetap mempertahankan pelayanan asuhan kebidanan yang telah
diberikan terkait masalah-masalah kesehatan yang terjadi pada
masyarakat, khususnya masalah yang terkait dengan kebidanan,
sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.
3. Untuk Mahasiswa
Agar meningkatkan kemampuan dalam menerapkan asuhan
kebidanan kehamilan patologi dengan terus memperbaharui
35

pengetahuannya yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu


pelayanan.
4. Untuk Masyarakat
Agar tetap membina hubungan baik dengan tenaga kesehatan dan
fasilitas kesehatan yang ada, serta tetap pro-aktif terhadap tindakan atau
asuhan kebidanan yang diberikan dan diharapkan dapat
mempertahankan perawatan yang diberikan kepada ibu dan bayi, bila
perlu untuk lebih meningkatkan kualitas perawatan yang sesuai dengan
standar kesehatan.