You are on page 1of 7

DAMPAK PENGARUH PERUBAHAN IKLIM GLOBAL TERHADAP PRODUKSI

KEDELAI (Glicine max L Merril) DI KABUPATEN MALANG

The Impact of Global Climate Change on The Production of Soybean (Glicine max L Merrill)
at Malang District

Firzah Rizqiyah 1
Jurusan Keteknikan Pertanian – Fakultas Teknologi Pertanian – Universitas Brawijaya – jl.
Veteran – Malang 65145

ABSTRAK
Air merupakan salah satu sumber daya esensial dalam sistem produksi tanaman pangan.
Secara kumulatif sumberdaya air nasional cukup, namun kenyatannya sering terjadi
kelangkaan air dan mendorong kerentanan produksi pangan, seperti kekeringan, salah satu
produksi tanaman pangan yang itu yaitu tanaman kedelai. Penyebabnya antara lain keragaman
kebutuhan air dalam sistem pengelolaan dan pemanfaatannya. Kelangkaan air ini juga dapat
disebabkan oleh perubahan iklim terutama curah hujan yang tidak menentu di Indonesia.
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh perubahan suhu dan curah hujan efektif
terhadap produksi kedelai di Kabupaten Malang dan mengetahui perubahan suhu terhadap
kebutuhan air pada kedelai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
Penmann Montheith, metode ini digunakan untuk menghitung besarnya evapotranspirasi.
Kata kunci: Perubahan Iklim, Produksi Kedelai, Kebutuhan Air, Software Cropwat 8.0

ABSTRACT
Water is one resource which is essentially important for the crop production system. In
cumulative term, national water resource is adequate, but in reality, there is still water scarcity,
with drought as unfavorable consequence, which suppresses crop production. An important
crop is soybean with its production affected by different water demand in their management
and utilization systems. Water scarcity is also caused by climate change, including uncertain
rainfall in Indonesia. The objective of research is to understand the impact of global climate and
effective rainfall on soybean production at Malang District and to acknowledge the water
demand in the soybean. Method used in this research is Penmann Montheith method, this
method is used tocalculate the amount of evapotranspiration.
Keywords: climate change, soybean production, water demand, Software Cropwat 8.0

PENDAHULUAN sumber protein nabati, di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang hasilnya masih rendah sehingga diperlukan
memiliki suhu rata-rata 27-30°C dan impor setiap tahun yang jumlahnya cukup
memiliki iklim tropis, merupakan suhu besar guna memenuhi kebutuhan konsumsi
yang potensial dalam bidang pertanian, nasional (Karamoy,2009), hingga sampai
sehingga banyak sekali warga Indonesia tahun 2006 impor kedelai di Indonesia
yang mempunyai mata pencarian sebagai setiap tahunnya sekitar 1,1 juta ton/ha.
petani, bahkan wisatawan mancanegara Melihat kondisi tersebut diyakini
banyak yang menginginkan prospek pemenuhan komoditas kedelai dapat
pertanian di negara mereka seperti di menjadi permasalahan sektor pertanian
Indonesia. Tanaman apapun dapat dengan yang cukup serius, mengingat
mudah ditanam di tanah Indonesia karena permintaannya yang semakin meningkat
suhu dan iklimnya yang bervariasi, (Perdinan dan Santikayasa 2006).
misalnya tanaman pertanian yaitu kedelai.
Kedelai merupakan tanaman penting BAHAN DAN METODE
karena peranannya sebagai sumber protein Data-data yang digunakan sebagai bahan
nabati dan dapat juga digunakan sebagai penelitian yang diperlukan untuk dianalisis
bahan baku industri. Kedelai sebagai

11” Lintang Selatan dan 8 o26’ Data-data tersebut diperoleh dari instansi . Sebelah Barat.028 0. NOVEMBER 0.089 dan Probolinggo. Data hasil produktivitas kedelai 15 semakin ramainya jalur transportasi utara tahun terakhir di Kabupaten Malang. KV Rata- untuk mengetahui apakah suatu iklim rata rata rata (suhu. seperti: Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Karangploso.092 0.030 0.099 0.032 0. 1997-2001 2002-2006 2007- dan curah hujan) di Malang sangat 2011 mempengaruhi hasil produktivitas dan JANUARI 0. Letak Jawa Timur. dalam bentuk tulisan ilmiah Analisa data dilakukan dengan menggunakan metode yang sudah KOEFISIEN VARIANS (KV) SUHU RATA-RATA dijelaskan pada metode penelitian diatas Bulan KV Rata.029 0. Sebelah Timur. SEPTEMBER 0.097 0.098 kawasan yang terletak pada bagian tengah JULI 0.45” Lintang Selatan.031 0.094 0. Sebelah Utara-Timur. artinya semakin b.00” Bujur Timur dan antara penelitian. Nilai KV suhu menggunakan Software Cropwat rata-rata per 5 tahunan dapat dilihat pada d. Pengolahan data melalui analisis data semakin besar koefisien variasinya maka dan perhitungan dengan data semakin heterogen.55. Data-data pustaka pendukung 122o57’ .berdasarkan tinjauan pustaka. terkait.092 berbatasan dengan Kabupaten Lumajang. cukup strategis. maupun selatan yang melalui Kabupaten yang digunakan untuk mengetahui Malang dari waktu ke waktu. Membuat laporan hasil penelitian ke Tabel 4. tetapi peneliti hanya FEBRUARI 0.093 0. Sebaliknya c.030 0.030 0.101 selatan wilayah Propinsi Jawa Timur.099 0.096 berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan OKTOBER 0. Gunanya untuk mengamati a. Varians (KV).094 membahas beberapa faktor iklim (suhu dan MARET 0. 7o44’. dll. terakhir dari beberapa stasiun iklim Sebelah Barat-Utara. Analisa Perubahan Suhu Rata-rata DISPERTABUN (Dinas Pertanian dan Perubahan suhu di Kabupaten Perkebunan) Kabupaten Malang.031 0. Berbatasan dengan enam kabupaten dan AGUSTUS 0.030 0. Melakukan pengumpula data variasi data atau sebaran data dari sekunder meannya (rata-ratanya).095 0. APRIL 0. Koefisien Varians ialah Langkah-langkah yang digunakan untuk perbandinagn antara standar deviasi penulisan penelitian ini dapat diuraikan dengan harga mean yang dinyatakan sebagai berikut: dengan (%).094 0. Angin. fungsinya untuk geografis sedemikian itu menyebabkan menghitung besarnya evapotranspirasi Kabupaten Malang memiliki posisi yang dengan metode Penmann-Monteith. Kabupaten Kediri dan Mojokerto. 1. kelembapan udara. sebagai Sebelah Selatan. Data iklim rataan bulanan 15 tahun berbatasan dengan Kabupaten Blitar.10.032 0. berbatasan dengan yang terletak di Kabupaten Malang. KV Rata.90” Bujur Timur dan 3. Posisi produksi kedelai di Kabupaten koordinat Kabupaten Malang terletak Malang antara 112o17’.35.093 0.094 Kabupaten Malang adalah sebuah JUNI 0. Menentukan dan memilih data yang kecil koefisien variasinya maka data dipergunakan dalam perhitungan semakin seragam (homogen). Hal ini ditandai dengan 2.095 curah hujan).095 0.094 pertumbuhan kedelai. Studi Malang dapat dilihat dari nilai Koefisien Literatur. .029 0.00.094 0.100 Samudera Indonesia. berbatasan dengan berikut : Samudera Indonesia.094 HASIL DAN PEMBAHASAN MEI 0. lama dan intensitas sinar matahari Tahun Tahun Tahun (panjang hari).

030 0.036 0.041 0.362 1.032 2006 OKTOBER 0. OKTOBER 0.049 0.049 0.040 0. Jumlah 0.034 JANUARI 0.042 KOEFISIEN VARIANS (KV) KELEMBABAN MEI 0. KV KV Rata.034 0.029 0.028 0.138 0.045 0.450 0. Rata-rata 0.031 0.035 0.095 Sumber: Hasil Perhitungan KOEFISIEN VARIANS (KV) PENYINARAN MATAHARI Analisa Perubahan Kelembapan Bulan KV KV Rata.029 0.028 0.028 0.027 Jumlah 0.030 JULI 0. rata rata Malang dapat dilihat dari nilai Koefisien rata Tahun Tahun Tahun 2002.028 NOVEMBER 0.040 MEI 0.027 DESEMBER 0. Sebaliknya semakin besar koefisien variasinya maka data semakin heterogen.028 Rata-rata 0.038 0. Nilai KV kelembapan per 5 tahunan dapat dilihat MARET 0.029 0.029 semakin kecil koefisien variasinya maka DESEMBER 0. rata JULI 0.031 Malang dapat dilihat dari nilai Koefisien Varians (KV) sama seperti suhu.030 Analisa Perubahan Kecepatan Angin AGUSTUS 0.030 0.057 data semakin heterogen.030 0.029 0.030 0.033 0.032 0.346 Sebaliknya semakin besar koefisien variasinya maka data semakin heterogen. .030 0.352 0.095 0.040 FEBRUARI 0.032 1997-2001 Tahun 20072011 2002.032 0.039 NISBI Bulan KV Rata.038 0.094 Jumlah 1. JUNI 0.055 MARET 0. APRIL 0. dan penyinaran matahari NOVEMBER 0.029 0.027 0.DESEMBER 0. Nilai KV kelembapan per 5 tahunan dapat dilihat pada Tabel 6.029 Nilai KV kelembapan per 5 tahunan dapat Sumber: Hasil Perhitungan dilihat pada Tabel 7.030 kelembapan.030 0.028 0. 2007- Varians (KV) sama seperti suhu.030 0.045 pada Tabel 5. semakin 1997.357 0.032 0.027 0.031 0.027 0.030 0.030 0. semakin kecil koefisien variasinya maka data semakin seragam (homogen).093 0.031 0.027 0.027 0. Sebaliknya JANUARI 0.029 JUNI Sumber: Hasil Perhitungan 0.028 0.042 0.054 0.028 0.031 Perubahan Kelembapan di Kabupaten SEPTEMBER 0.482 APRIL 0.031 0.428 0.030 0.031 0.031 Tahun rata Tahun AGUSTUS 0.027 0.046 0.033 rata Rata.027 data semakin seragam (homogen).043 semakin besar koefisien variasinya maka FEBRUARI 0. Analisa Perubahan Penyinaran Matahari Perubahan Kelembapan di Kabupaten Malang dapat dilihat dari nilai Koefisien Varians (KV) sama seperti suhu dan kelembapan.029 0. SEPTEMBER 0.KV Rata- Perubahan Kelembapan di Kabupaten Rata.142 Rata-rata 0.028 0. 2006 2011 kecil koefisien variasinya maka data 2001 semakin seragam (homogen).033 0.056 0.027 0.

040 0.9 152.1 151.8 99.8 23.9 Sumber: Hasil Perhitungan Februari 156.026 0.495 0.038 0.9 72.037 0.6 13.014 Juni 64.7 109.9 142. 2002.5 153. dan kecepatan angin September 35 3. Total 1142.048 0.8 172.4 yang diperoleh dari stasiun klimatologi Oktober 102 32.4 210 281 SEPTEMBER 0.039 0.7 1.039 0.039 0.4 Rata-rata 0.2 79.4 153.61 waktu dan disebut intensitas curah hujan (Sosrodarsono.8 34.6 9.033 0.013 Januari 285 328. 2007- perubahannya selama 15 tahun terakhir 2006 2011 JANUARI 0.041 0.055 0.5 26.2 68.017 Curah Hujan (mm) MEI 0.8 28.3 kelembaban relatif.7 Maret 137. 2007.046 0.030 0.2 Sumber: Hasil Perhitungan Oktober 128.4 November 269.4 158.1 Analisa Evapotranspirasi April 97.044 0.044 0.2 210.7 Besarnya evapotranspirasi dihitung dengan Mei 66.012 Maret 203.048 0.045 0.012 Februari 313. mempengaruhi jumlah kebutuhan air Curah Hujan Efektif (mm) Desember 120.011 April 120.051 0.025 0. lama penyinaran.173 Agustus 38 1.3 Bulan 1997.2 110. Agustus 35.018 serta salah satu faktor yang digunakan untuk mengetahui nilai laju FEBRUARI 0.9 temperatur udara.7 dari tahun 1997 sampai tahun 2011 dan dirata-rata per 5 tahunan.4 jumlah curah hujan dalam suatu satuan Rata-rata 144.2 139.KV Rata.9 NOVEMBER 0.012 Mei 76.031 0.015 Bulan 1997.055 0.468 0.1 957.6 1580.7 OKTOBER 0.049 0.014 September 37 3. Tabel 10 .05 131.023 0.4 1195.8 221. Juni 57.7 157.2 39.1 90.6 Januari 153.8 330. curah hujan ini digunakan untuk rata rata rata mengetahui perubahan curah hujan di Tahun Tahun Tahun Kabupaten Malang dan pengaruh 1997-2001 2002. Data dirata-rata oer 5 MARET 0.8 139.1 153. Adapun data curah hujan perubahan curah hujan efektif akan efektif dapat dilihat padaTabel9. KV Rata.7 2001 2006 2011 Rata-rata 95.4 data yang digunakan dalam menghitung besarnya evapotranspirasi berupa data Juli 28. APRIL 0. Data Bulan KV Rata.014 evapotranspirasi.4 34 78.4 1891.7 menggunakan metode Penmann Montheith.8 36.5 157.2 Jumlah 0.2 42.1976).2 JULI 0.017 tahunan.041 0. Data Curah Hujan Sumber: Hasil Perhitungan yang digunakan berupa data Curah Hujan Data curah hujan pada Tabel 8 digunakan pertanian yang dibutuhkan tanaman untuk untuk mencari curah hujan efektif.043 0. Variasi evapotranspirasi.6 267 AGUSTUS 0.6 277 Analisa Perubahan Curah Hujan Desember 163 281.037 0.017 Juli 29. KOEFISIEN VARIANS (KV) KECEPATAN bulanan selama 15 tahun terakhir (1997- ANGIN 2011) dari stasiun iklim Karangploso. 2002.2 84 141.2 13. 2007- 2001 2006 2011 JUNI 0.4 283 Curah hujan biasanya dinyatakan oleh Total 1728.4 DESEMBER 0.2 10 24.6 Karangploso selama 15 tahun terakhir yaitu November 152 124.

Jika jumlah CH efektif lebih besar dari evapotranspirasi tanaman. dan seragam (homogen) sehingga tidak pada tahun 2007-2011 defisit rata-rata terjadi perubahan iklim dan Curah 2. Besarnya nilai April 4.08 dari tahun 1997-2011 untuk Kabupaten Sumber: Hasil Malang.13 mm/hari.34 4.29 3.23 4.8 3. Hujan (CH) juga sangat berpengaruh pada besar kecilnya nilai produksi pada kedelai.21 3.01 3. 2002. jika jumlah curah hujan lebih Evapotranspirasi tanaman (ETc) dan curah rendah dari evapotranspirasi tanaman. Berdasarkan analisa perubahan iklim September defisit rata-rata sebesar 2.91 4.27 3.41 4. 2002. jika semakin tinggi nilai curah hujan maka produksi kedelai . dan 1. dan pada tahun 2007- kebutuhan air terhadap produksi kedelai 2011 nilai rata-rata CH sebesar 157.38 September 4.3 4. hujan (CH) efektif erat kaitannya dengan maka kebutuhan air tidak tercukupi.13 November 3.63 9. Evapotranspirasi Tanaman Kedelai Evapotranspirasi (mm/hari) Evapotranspirasi tanaman kedelai Bulan 1997.02 ETc kedelai dapat dilihat pada tabel 11 Mei 4. KESIMPULAN 2. Pengaruh perubahan kedelai 4659 ton.13 2.05 mm dengan jumlah Perubahan kebutuhan air dapat produksi kedelai 2699 ton.54 Oktober 3.18 4. Begitu pula ETc Kedelai sebaliknya.68 4.28 mm/hari.18 Rata-rata 3. Agustus.88 10. Juni 4.96 Sumber: Hasil Perhitungan Hubungan Curah Hujan Efektif Dengan kebutuhan air tercukupi.35 ETc (mm/hari) Juli 4.89 Jumlah 9.03 2. maka semakin tinggi.7 mm dengan jumlah produksi terakhir ini.31 3.9 3.81 masuk masa panen kedelai.97 4.04 Desember 3.14 dapat diketahui perubahan Koefisien mm/hari.16 4. 2007- Agustus 4. kebutuhan air.54 4.84 48.72 September 2. mm dengan jumlah produksi kedelai 2932 ton. Kebutuhan air tanaman kedelai pada Kesimpulan yang dapat diambil dari tahun 1997-2001 selama masa tanam penelitian ini yaitu: yaitu pada bulan Juli.71 3.36 4.2 3.16 berikut ini.54 4.menunjukkan fluktuasi evapotranspirasi Rata-rata 3. pada tahun mempengaruhi produksi kedelai di 2002-2006 nilai rata-rata CH sebesar Kabupaten Malang selama 14 tahun 131.61 dapat dilihat pada Tabel 15 berikut.05 3.07 4. 2007.26 3.86 48.52 4.36 4.54 2001 2006 2011 Juli 3.04 4. Musim Januari 3.35 Total 46.46 dimulai bulan Juli setelah panen padi ke Maret dua dan umumnya September sudah mulai 3. pada tahun 2002-2006 defisit Varians (KV) tiap unsur iklim nilainya rata-rata sebesar 3. diperoleh dari nilai koefisien tanaman 2001 2006 2011 dikalikan nilai evapotranspirasi.34 4.5 Bulan 1997. Pengaruh Perubahan Kebutuhan Air Tahun 1997-2001 nilai rata-rata CH Terhadap Produksi Kedelai sebesar 144.48 4.73 Agustus 4.14 3.21 3.6 tanam kedelai di Kabupaten Malang Februari 3. begitupula sebaliknya.74 4.

Bertanam Iklim Dengan Pertumbuhan Kedelai. Ance Gunarsih. Kasus El Nino dan La Nina. Gaz. and E. UK: Wembley Pemupukan yang Efektif dan Iswara. Effect of Adisarwanto. Wudianto. Th.. 2003. Hubungan Agustin. Geografis Malang. Tanaman Terhadap Pertumbuhan. Pengaruh Naungan Klimtologi Pengaruh Iklim pada Berbagai Tahap Terhadap Tanah dan Tanaman. 1989. dan R.A. Photosyntesis and Seed Metabolism in Soybeen Grant P. T. Used. Malang Kedelai (Relationship Between Climate and Soybeen (Glicine Anonim. L. 2002. Penebar Swadaya. 1980. Lamina. Howell. Bortcwich and R. Dupe. Bogor. Stiver. Soybeen. Ir. Jakarta. Kota Malang.W. 1960. Productin and The Growht of Soybeen. R. and R.9: 333-3. 2010. 1956..DAFTAR PUSTAKA IPCC. J. 2007. Padjar. Some Factors Effecting Improvement. Perkembangan dan Populasi Bumi Aksara. Malang.L. Synthesis Report Summary for Adisarwanto. Madison. Kedelai Setalah Satu Pengoptimalan Peran Bintil Akar Dekade. Ir.W. Sepuluh Tahun Grabe.. Crop. Soil DINAS KOMINFO Pemerintah Environment 7(1): 65-68. Ir. Jakarta: Penerbit Buku of Soybeen Hypocotil Elongation Kompas and Seeding Emergence. 2009. 1970. 2007. B. Lientje. Majalah Tempo. Sci. max (L) Merrill) Growth). 1973. Perjalanan Konvensi Perubahan Temperature Induced Inhibition Iklim. W. Perubahan Iklim Global : Jakarta. B. Jakarta. Pengembangannya. 2011. Bogor. Karamoy.. F. Kartasapoetra. T. Hasil dan Lakitan. 86 Hal.A.W.MP. S. 2001.E.O. Jawarshi.. Clawdell (ed) Rhodesia J. Agr. R. Kedelai. Balai Pustaka. T. Raja Grafindo Persada (L) Merrill). Bandung: Penerbit ITB Comparison of Stress Which Evans. and R. Rinne. Mann. Johnson H. Metzer 1969. CV Simplex. Kedelai dan Fakultas Pasca Sarjana IPB. B. 2003.Leffel. H. American Society and Agronomi. Daniel.. D. Heat Drought and Inc. 1963. Various Stages of the Cycle. Plant Response to May Limit Soybeen Yields. 1993. 1973. Paris 1:21-35 Murdiyarso. Komponen Kedelai (Glicine max Jakarta: PT. Photoperiodic and Time of Meningkatkan Hasil Panen Planting on theSoybeen in Kedelai di Lahan Sawah-Kering. Bot. publ. Pasang Surut. Dasar-Dasar Klimatologi.C. Crop Ogren.G. Disertasi Doktor.Widi.D. Baharsjah. Penebar Swadaya. Climate Factor. 122: 77-95 Bogor. Budidaya dengan Policymakers. 1999. J. Res 1: 12-7. . Sci 10:620-4 UNESCO. M. Climate Change. H. Digest 16:14-7.

1996. Indon. Meteorology. Suptapto. Pemicu Kejadian Banjir dan Dinas Pertanian dan Peternakan Kekeringan. Iklim dan Pertanian. Pengaruh Perubahan Iklim Ekstrim Regional Indonesia Terhadap Pertanian. 2001. J. Dimiyati A. Bandung: Ratag. 2004.11. Jakarta. Prawirowardoyo. Sutarman T. Perubahan Iklim : Basis Penerbit ITB Ilmiah dan Dampaknya. Jakarta: Kabupaten Buleleng LIPI Sugeng. Jakarta: Winarso. 2011. 2002. 11(2): 7-14. Bercocok Tanam Palawija. Bogor. 2007. Indonesia. “Pengaruh Variabilitas Lembaga Penerbangan dan / Keragaman dan Perubahan Antariksa Nasional Iklim Global pada Pola Iklim Suastini. Bandung: Penerbit ITB Tjasyono. Keragaman Produktivitas Deskripsi Varietas Unggul Komoditas Kedelai Pada Kacang-kacangan. Pusat Berbagai Skenario Perubahan Penelitian dan Pengembangan Iklim Menggunakan Model Tanaman Pangan. 2003.H.” Prosiding Seminar Banjir dan Kekeringan. Aneka Ilmu. Sumarno. Semarang .HR. S. B. Bertanam Kedelai. Klimatologi. Pert. dan I Putu Santikayasa.Perdinan. Penebar Swadaya. 1985. 2006. PA.