You are on page 1of 60

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan siswa menguasai

empat keterampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan

menulis. Agar siswa memiliki keterampilan berbahasa maka dibutuhkan

pengetahuan (kognitif) atau kemampuan pemahaman.

Dalam kurikulum 2013 pada kelas X SMA/MA terdapat materi teks

anekdot tentang memahami stuktur dan kaidah teks anekdot, baik melalui

lisan maupun tulisan. Pada kompetensi tersebut diharapkan siswa dapat

mengenal stuktur teks anekdot, kaidah atau ciri kebahasaan teks anekdot,

sehingga siswa dapat memahami keseluruhan isi dari teks anekdot.

Anekdot dapat ditemukan di buku teks, majalah, surat kabar dan lain

sebagainya. Anekdot adalah sebuah cerita lucu atau menggelitik yang

bertujuan memberikan suatu pelajaran tertentu. Kisah dalam anekdot

biasanya melibatkan tokoh tertentu yang bersifat faktual ataupun terkenal.

Anekdot tidak semata-mata menyajikan hal-hal yang lucu-lucu, guyonan,

ataupun humor. Akan tetapi, terdapat pula tujuan lain di balik cerita lucu itu,

yaitu berupa pesan yang dihadapkan bisa memberikan pelajaran kepada

khalayak. Maka dari itu pemahaman terhadap struktur dan isi menjadi

penting.

Sebagian besar peserta didik belum mampu memahami struktur dan

kaidah teks anekdot. Banyak faktor yang mempengaruhinya yaitu metode
2

pembelajaran, selama ini guru menggunakan metode ceramah dalam

menyampaikan materi yang diajarkannya sehingga peserta didik hanya

mendengar dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru. Guru langsung

memberikan materi ajar dalam bentuk final tanpa melibatkan peserta didik

untuk berpikir. Sikap siswa dalam belajar juga berpengaruh karena jika guru

memberikan materi ajar dalam bentuk final secara terus menerus sehingga

siswa merasa bosan dan enggan berpikir untuk mengetahui atau memahami

materi yang disampaiakan oleh guru. Selain itu sikap guru terhadap siswa,

guru terkadang hanya memperhatikan siswa yang cerdas dan siswa yang

kurang cerdas tidak dipedulikan sehingga sikap siswa terhadap guru tidak

peduli yang berdampak pada hasil belajar siswa.

Pada pembelajaran memahami teks anekdot, khususnya di kelas X

MIPA 2 SMA Negeri 3 Kota Bengkulu masih rendah. Hal ini ditunjukkan

dengan gejala awal dari hasil tes yang diberikan kepada siswa ≤50% yang

tuntas. Siswa kurang mampu mengidentifikasi struktur teks anekdot dan

kurang mampu mengidentifikasi kaidah teks anekdot. Untuk peningkatan

kemampuan peserta didik dalam memahami teks anekdot, maka perlu

dilakukan penerapan metode pembelajaran penemuan (discovery learning),

yaitu metode pembelajaran yang mendukung strategi pembelajaran yang

sesuai dengan kurikulum 2013.

Metode pembelajaran penemuan (discovery learning) membantu guru

dalam membimbing peserta didik untuk mengidentifikasi atau mencari

informasi sendiri kemudian mengorganisasi apa yang peserta didik ketahui

dan memahaminya dalam bentuk akhir. Metode pembelajaran penemuan
3

(discovery learning) adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses

pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan materi pelajaran dalam

bentuk final, kemudian diharapkan mengorganisasi sendiri. Peneliti terdahulu

yang pernah meneliti hal yang berkaitan dengan penggunaan metode

pembelajaran penemuan (discovery learning) adalah Yulianti (2015) dengan

judul penelitian Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Pada Siswa Kelas

XII TKJ SMKN 1 Kepahiyang dengan Model Discovery Learning, yang

menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menulis puisi dengan

menggunakan model discovery learning pada siswa Kelas XII TKJ SMKN 1

Kepahiyang. Hal ini sepertinya ada kesesuaian dengan memahami teks

anekdot melalui metode pembelajaran penemuan, karena melalui metode

discovery learning akan memberikan hal yang positif bagi peserta didik

diantaranya peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran dan

membentuk peserta didik untuk berpikir secara kritis dan sistematis.

Berdasarkan permasahan-permasalahan di atas, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian tindakan kelas tentang peningkatan kemampuan

memahami teks anekdot melalui penerapan metode discovery learning oleh

siswa kelas X MIPA 2 SMA Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun Ajaran

2015/2016.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah dalam penelitian

ini adalah bagaimana peningkatan kemampuan memahami teks anekdot
4

dengan metode pembelajaran penemuan oleh siswa kelas X MIPA 2 SMA

Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2015/2016?

C. Cara Pemecahan Masalah

Cara pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian

tindakan kelas ini adalah metode pembelajaran penemuan (discovery

learning). Dengan metode pembelajaran penemuan (discovery learning)

siswa mampu memahami teks anekdot dengan cara mencari informasi atau

penemukan sendiri dan mengorganisasi apa yang peserta didik ketahui.

Dengan metode pembelajaran penemuan (discovery learning) ini diharapkan

dapat meningkatkan kemampuan memahami teks anekdot oleh siswa kelas X

MIPA 2 SMA Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2015/2016.

D. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, peneliti ini bertujuan untuk mengetahui

peningkatan kemampuan memahami teks anekdot dengan metode

pembelajaran penemuan (discovery learning) oleh siswa kelas X MIPA 2

SMA Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2015/2016.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup masalah penelitian ini terbatas pada peningkatan

kemampuan memahami struktur, kaidah dan isi teks anekdot oleh siswa kelas

X MIPA 2 SMA Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2015/2016.

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang

kemampuan memahami teks anekdot dengan metode pembelajaran
5

penemuan (discovery learning) siswa kelas X MIPA 2 SMAN 3 Kota

Bengkulu.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Siswa

Diharapkan mampu meningkatkan kemampuan memahami teks

anekdot dengan metode pembelajaran penemuan (discovery learning)

oleh siswa kelas X MIPA 2 SMA Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun

Ajaran 2015/2016.

b. Bagi Guru

Dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran melalui metode

discovery learning agar siswa terlibat secara aktif dalam proses

pembelajaran.

G. Definisi Istilah

1. Kemampuan memahami adalah kesanggupan atau kecakapan siswa

untuk dapat membandingkan, mengidentifikasi karakteristik,

menggeneralisasi, dan menyimpulkan

2. Teks adalah yaitu suatu cara pengungkapan makna melalui bahasa

lisan atau tulis.

3. Anekdot adalah sebuah cerita lucu atau menggelitik yang bertujuan

memberikan suatu pelajaran tertentu. Kisah dalam anekdot biasanya

melibatkan tokoh tertentu yang bersifat faktual ataupun terkenal.

Dengan demikian, anekdot tidak semata-mata menyajikan hal-hal

yang lucu-lucu, guyonan, ataupun humor. Akan tetapi, terdapat pula
6

tujua lain di balik cerita lucu itu, yakni berupa pesan yang dihadapkan

bisa memberikan pelajaran kepada khalayak.

4. Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) adalah suatu cara

mengajarkan yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental

melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri,

agar anak dapat belajar sendiri.
7

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Teks

Teks adalah ujaran lisan atau tulis bermakna yang berfungsi untuk

mengekspresikan gagasan (Priyatni, 2014: 65) Sementara itu Edmonson dalam

Djajasudarma (2012: 2) teks adalah urutan-urutan ekspresi linguistik yang

terstruktur membentuk keseluruhan yang padu atau uniter. Haliday dalam

Darma (2013: 189) teks adalah suatu pilihan semantik (semantic choice) data

konteks sosial, yaitu suatu cara pengungkapan makna melalui bahasa lisan atau

tulis.

Robert de Beaugrande dan Wolfgang Dressler dalam Mahsun (2014: 40)

mendefinisikan teks sebagai sebuah peristiwa komunikatif yang harus

memenuhi syarat-syarat: (a) kohesi, yaitu unsur permukaan yang menunjukkan

keterhubungan sintaksis teks, (b) koherensi, yaitu unsur semantik tekstual

penyusun makna sebuah teks, (c) intensionalitas, yang merujuk pada hal yang

berhubungan dengan sikap dan tujuan produksi teks, (d) akseptabilitas, yang

merupakan cerminan intensionalitas yang memungkinkan resipien-resipien

mengikuti sebuah teks dalam suatu situasi tertentu, (e) informativitas merujuk

pada bagaimana informasi baru yang disampaikan itu distrukturkan dan

menggunakan piranti kohesif apa, (f) situasionalitas merujuk pada konstelasi

pembicaraan dan situasi tuturan yang berperan penting dalam pemproduksian

teks, dan (g) intertekstual, yang mengacu pada dua makna; pertama, merujuk

pada keterkaitan suatu teks dengan teks sebelumnya atau teks yang muncul

secara bersamaan; kedua, merujuk pada adanya kreteria formal yang
8

menghubungkan teks-teks tertentu dengan teks-teks lainnya dalam genre atau

jenis teks tertentu, misalnya jenis teks naratif, teks argumentatif, teks

deskriptif, teks instruktif.

Mahsun (2014: 1) menyatakan teks merupakan satuan bahasa yang

digunakan sebagai ungkapan suatu kegiatan sosial baik secara lisan maupun

tulis dengan struktur berpikir yang lengkap. Priyatni (2014: 65) teks adalah

ujaran lisan atau tulis bermakna yang berfungsi untuk mengekspresikan

gagasan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa teks

adalah ungkapan bahasa yang memiliki makna dan digunakan dalam keadaan

tertentu atau sesuai dengan situasi.

B. Jenis dan Struktur Teks

Mahsun (2014: 15) menyebutkan secara umum bahwa teks dapat

diklasifikasikan atas teks tungggal atau genre mikro dan teks majemuk atau

genre makro.

1. Teks Tunggal/Genre Mikro

Istilah tunggal yang disematkan pada konsep teks tunggal beranalogi

pada konsep tunggal dalam kalimat tunggal. Kalimat tunggal adalah

kalimat yang memiliki satu pola dasar kalimat inti (PDKI), minimal

memiliki subjek dan predikat untuk kalimat tunggal yang berwatak

intransitif atau memiliki subjek, predikat, dan objek untuk kalimat tunggal

yang berwatak transitif.

Berdasarkan sudut pandang penceritaannya, maka genre atau ragam

teks tunggal dapat dipilah ke dalam dua kelompok besar yaitu:
9

a. Genre Sastra, teks-teks genre sastra dikelompokkan ke dalam genre

cerita seperti:

- Teks cerita ulang: teks ini memiliki tujuan sosial menceritakan

kembali tentang peristiwa pada masa lalu agar tercipta semacam

hiburan atau pembelajaran dari pengalaman pada masa lalu bagi

pembaca atau pendengarannya. Teks ini memiliki struktur: judul,

orientasi, dan rekaman kejadian.

- Teks anekdot: teks ini memiliki tujuan sosial yang sama dengan

teks cerita ulang. Hanya saja, peristiwa yang ditampilkan membuat

partisipan yang mengalaminya merasa jengkel atau konyol. Teks

ini memiliki struktur: judul, orientasi, krisis, reaksi.

- Teks eksemplum: teks ini memiliki tujuan sosial menilai perilaku

atau karakter dalam cerita. Teks ini memiliki struktur: judul,

orientasi, kejadian, dan interpretasi.

- Teks naratif: teks ini sama dengan ketiga teks genre cerita yang

dipaparkan di atas. Hanya saja model penceritaan pada teks ini,

antara masalah dengan pemecahan masalah tidak menyatu dalam

satu struktur teks. Teks naratif terpisah dalam struktur teks yang

berbeda. Teks ini memiliki struktur berpikir: judul, orientasi,

masalah, pemecahan masalah.

b. Genre non sastra, teks-teks non sastra dikelompokkan menjadi dua

yaitu:

1) Teks faktual, jenis teks ini terbagi menjadi dua yaitu:
10

- Teks deskripsi: teks ini memiliki tujuan sosial untuk

menggambarkan sesuatu objek atau benda secara individual

berdasarkan ciri fisiknya. Teks ini memiliki struktur berpikir

yaitu pernyataan umum, uraian bagian-bagian.

- Teks prosedur: teks ini memiliki tujuan sosial untuk

mengarahkan atau mengajarkan tentang langkah-langkah yang

telah ditentukan. Teks ini memiliki struktur berpikir yaitu judul,

tujuan, daftar bahan, urutan tahapan pelaksanaan, pengamatan,

dan simpulan.

2) Teks tanggapan, jenis ini terbagi menjadi dua yaitu:

- Teks eksposisi: teks ini berisi paparan gagasan atau usulan

sesuatu yang bersifat pribadi. Struktur berpikir yang menjadi

muatan teks eksposisi adalah tesis atau pernyataan pendapat

alasan atau argumentasi, dan pernyataan ulang pendapat.

- Teks eksplanasi: teks ini memiliki tujuan sosial menjelaskan

atau menganalisis proses muncul atau terjadinya sesuatu. Teks

ini memilik struktur berpikir yaitu judul, pernyataan umum,

deretan penjelas, dan interpretasi.

2. Teks Majemuk

Teks majemuk merupakan sebuah teks kompleks dengan struktur

yang lebih besar dan tersegmentasi ke dalam bagian-bagian yang dapat

berupa bab, subbab, atau seksi, subseksi. Dalam teks semacam ini

tergabung beberapa jenis teks berkelanjutan atau teks tunggal yang

digunakan untuk mengisi bagian-bagian dari struktur teks tersebut.
11

Teks yang termasuk dalam kategori teks majemuk adalah teks-teks

naskah akademik, seperti teks: usul penelitian (proposal), skripsi, tesis,

laporan penelitian, artikel, abstrak dan lain-lain.

C. Anekdot

1. Pengertian Anekdot

Anekdot adalah sebuah cerita lucu atau menggelitik yang bertujuan

memberikan suatu pelajaran tertentu. Kisah dalam anekdot biasanya

melibatkan tokoh tertentu yang bersifat faktual ataupun terkenal. Dengan

demikian, anekdot tidak semata-mata menyajikan hal-hal yang lucu-lucu,

guyonan, ataupun humor. Akan tetapi, terdapat pula tujuan lain di balik

cerita lucu itu, yaitu berupa pesan yang dihadapkan bisa memberikan

pelajaran kepada khalayak (Kosasih, 2013: 7).

Anekdot merupakan cerita singkat yang menarik karena lucu dan

mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan

berdasarkan kejadian sebenarnya (Depdikbud 2013: 3).

Suryanta (2014: 90) Anekdot adalah cerita singkat yang menarik

karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau

terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Sebagai suatu cerita,

anekdot memiliki dua kekhasan yang menjadi ciri utamanya, yaitu bersifat

lucu dan satiris atau mengandung sindiran.

Dari beberapa pendapat di atas secara umum dapat dikatakan bahwa

teks anekdot adalah cerita singkat yang menarik dan lucu serta berdasarkan

kenyataan yang terjadi di masyarakat serta mengandung pelajaran.
12

2. Struktur, Kaidah, dan Isi Teks Anekdot

a. Struktur Teks Anekdot

Kosasih (2013: 8) struktur teks anekdot terdiri dari:

- Tokohnya bersifat faktual, biasanya orang-orang terkenal.

- Alur berupa rangkaian peristiwa yang benar-benar terjadi ataupun

sudah terdapat polesan maupun tambahan-tambahan dari pembuat

anekdot itu sendiri.

- Latar berupa waktu, tempat, ataupun suasana dalam anekdot

diharapkan bersifat faktual. Artinya benar-benar ada di dalam

kehidupan yang sesungguhnya.

Suryanta (2013: 6) teks anekdot dibangun dengan pola struktur:

- Abstraksi yaitu berupa cerita pembuka yang akan menggambarkan

awal cerita.

- Orientasi yaitu membangun konteks pembaca terhadap suatu cerita.

- Krisis yaitu bagian cerita yang menggambarkan keadaan yang genting

atau terjadinya konflik yang dialami oleh tokoh (terjadinya

ketidakpuasan atau kejanggalan).

- Reaksi yaitu tanggapan tokoh terhadap konflik yang muncul.

- Koda yaitu penutup cerita atau keadaan akhir cerita.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa struktur teks

anekdot adalah:

- Tokoh atau partisipan yaitu orang-orang yang terlibat dalam sebuah

cerita.
13

- Latar yaitu tempat terjadinya kisah atau kejadian pada sebuah cerita,

bisa ditambahkan waktu dan suasana.

- Alur yaitu rangkaian kejadian atau peristiwa yang terjadi pada sebuah

cerita mulai dari abstraksi^orientasi^krisis^reaksi^koda.

b. Kaidah Teks Anekdot

Berikut beberapa kaidah yang berlaku pada teks anekdot Kosasih (2013:

8):

- Berupa lelucon ataupun cerita menggelitik dan

- Di dalamnya terkandung kebenaran tertentu yang bisa menjadi bahan

pelajaran bagi khalayak.

Suryanta (2013: 6) kaidah teks anekdot adalah:

- Bersifat lucu.

- Satiris atau mengandung sindiran.

Silabus kelas X MIPA/IPS (2013) ciri kebahasaan dalam teks anekdot

adalah:

- Menggunakan pertanyaan retoris yaitu pertanyaan yang tidak

memerlukan jawaban.

- Verba material sering dipakai untuk menyatakan kegiatan fisik seperti

menulis, membaca, memukul, dan sebagainya.

- Konjungsi temporal yang menyatakan urutan waktu dan konjungsi

sebab akibat seperti maka, karena, sebab, dan sebagainya.

- Sindiran dengan pengandaian adalah peristiwa yang terjadi di

indonesia diandaikan jika terjadi di negeri orang.
14

Dari beberapa pendapat di atas secara umum dapat dikatakan bahwa

kaidah teks anekdot adalah:

- Bersifat lelucon yaitu kalimat yang mengandung unsur lucu, jengkel,

konyol.

- Banyak menggunakan pertanyaan retoris yaitu pertanyaan yang tidak

memerlukan jawaban.

- Banyak menggunakan konjungsi temporal dan konjungsi sebab akibat.

- Mengandung makna sindiran.

- Mengandung hikmah atau pesan kebaikan.

c. Isi Teks Anekdot

Kosasih (2013: 34) isi teks anekdot adalah:

- Kelucuan topik yang tersaji artinya apakah alur atau peristiwa yang

tersaji mengandung kelucuan.

- Keberadaan hikmah atau pelajaran di dalamnya artinya apakah

peristiwa yang diceritakan itu memuat hikmah atau pelajaran bagi

pembaca.

Untuk sampai pada pemahaman isi teks anekdot selain menemukan

kelucuan dan kebenaran yang hendak diungkap oleh pengarang, maka

kita perlu memhami sosok tokoh atau partisipan dan kondisi sosial atau

budaya yang melatari suatu anekdot. Jika kita tidak memperhatikan hal

tersebut maka akan kesulitan dalam memahami isi teks anekdot.

3. Macam-macam Teks Anekdot

Suryanta (2013: 6) bahwa berdasarkan permasalahan, anekdot

diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu:
15

- Anekdot Politik

- Anekdot Hukum

- Anekdot Pendidikan atau Guru

- Anekdot Kesehatan atau Dokter

- Anekdot Dunia Usaha

- Anekdot Buruh

- Anekdot Agama

D. Pemilihan Motode Pembelajaran

Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan

yang dalam pelaksanaannya memperhatikan fase tindakan pembelajaran dan

komponen pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar yang ditentukan. Hal

ini perlu dilakukan analisis kebutuhan, perencanaan yang tepat, pelaksanaan,

dan evaluasi. Banyak metode pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan

pembelajaran, salah satu metode pembelajaran yang bisa digunakan adalah

model ASSURE. Model ASSURE dikembangkan oleh Sharon Smaldino,

Robert Henich, James Russell dan Michael Molenda (2005) dalam buku

“Instructional Technology and Media for Learning.” Model ASSURE

merupakan model desain pembelajaran yang bersifat praktis dan mudah

diimplementasikan untuk mendesain aktivitas pembelajaran, baik yang bersifat

individual maupun klasikal (Pamungkas, 2014: 13). Model desain

pembelajaran ini merupakan singkatan dari komponen atau langkah penting

yang terdapat di dalamnya yaitu:
16

a. Analyze Learner (Menganalisis Pebelajar)

Langkah pertama adalah mengidentifikasi karakteristik pebelajar yaitu:

1) Karakteristik Umum

Karakteristik umum meliputi faktor-faktor usia, usia pelajar antara

15-16 tahun, tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA),

Bisa menggunakan dan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Dengan analisis pelajar akan membantu pemilihan metode dan

media pembelajaran yang sesuai.

2) Spesifik Entri Competencies (Kompetensi Tertentu)

Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi kompetensi spesifik dari

siswa. Sebelumnya peneliti pernah mengajar tentang kemampuan

memahami teks anekdot menggunakan metode ceramah dan materi

disajikan dalam bentuk final dan hasil belajarnya belum mencapai

standar.

3) Leraning Style (Gaya Belajar)

Berdasarkan analisis pebelajar, gaya belajar pembelajar kategori

acak konkrit lebih senang pendekatan coba-coba, membuat

kesimpulan cepat dari pengalaman yang terjadi. Golongan ini lebih

cocok menggunakan metode discovery.

b. State Objecctives (Menyatakan Objektivitas)

Langkah berikutnya adalah merumuskan tujuan pembelajaran. Pada

silabus K13 kelas X MIPA/IPS bahasa Indonesia:
17

1) KD 3.1 Memahami struktur dan kaidah teks anekdot baik melalui

bahasa lisan maupun tulis.

2) Indikator Pencapaian Kompetensi

 Menentukan struktur teks anekdot

 Menentukan kaidah teks anekdot

3) Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran siswa dapat menentukan struktur dan

kaidah teks anekdot

c. Select Method, Media, and Materials (Memilih Metode, Media dan

Bahan Ajar)

1) Menentukan Metode yang Sesuai Untuk Suatu Tugas Belajar

Untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang maksimal, maka guru

perlu memilih metode pembelajaran. Selama ini guru menyajikan

materi dalam bentuk final dan siswa hanya menerima informasi

secara keseluruhan dari guru. Sedangkan dalam proses pembelajaran

siswa dituntut untuk lebih aktif sehingga siswa merasa ikut terlibat

dalam menemukan informasi dari belajar mendiri. Berdasarkan

paparan tersebut, maka guru menggunakan metode discovery yang

disajikan untuk siswa.

2) Memilih Bentuk Media Yang Cocok Dengan Metode yang Akan

Disajikan

Selama ini guru memberikan materi berorientasi pada buku teks

sehingga siswa merasa jenuh dan kurang tertarik dengan materi yang

disajikan, maka media yang ingin peneliti terapkan adalah
18

memberikan stimulasi dalam bentuk video. Salah satu media

pembelajaran yang berpengaruh terhadap minat belajar siswa adalah

media pembelajaran dengan penayangan video. Proses ini akan

mudahkan siswa dalam memahami pelajaran, karena media video

dapat mempengaruhi pikiran dan emosi manusia.

3) Bahan Ajar

Sumber bahan ajar merupakan tempat di mana bahan ajar diperoleh.

Berbagai sumber belajar dapat kita gunakan untuk mendapatkan

materi pembelajaran. Selain media video sebagai sumber belajar

yang dapat digunakan siswa dalam pembelajaran ada buku teks yang

dapat dipilih untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar.

Penggunaan buku teks juga dapat menambah atau memperdalam

pemahaman siswa dalam proses pembelajaran.

d. Utilize Materials (Memanfaatkan Bahan Pelajaran)

Peneliti mengaplikasikan media dan materi yang berpusat pada siswa

(student-centered) yaitu:

1) Mengkaji Bahan Ajar

Menentukan apakah materi yang akan disajikan sesuai untuk

pembelajar dan tujuan yang telah ditetapkan.

2) Siapkan Bahan Ajar

Guru menyiapkan seluruh materi dan peralatan yang dibutuhkan oleh

pebelajar, dan menentukan urutan apakah yang akan digunakan

untuk memanfaatkan media dan materi tersebut.
19

3) Siapkan Lingkungan

Sebelum kegiatan pembelajaran dilakukan, fasilitas harus ditata

terlebih dahulu seperti jika dalam bentuk kelompok maka bangku

disusun terlebih dahulu, jika ingin menggunakan media

pembelajaran perlu disiapkan proyetor, LED dan lain sebagainya.

4) Siapkan Pebelajar

Pada kegiatan pembelajaran guru harus mengarahkan perhatian,

meningkatkan motivasi, menjelaskan secara rasional dalam

mempelajari suatu materi.

5) Tentukan Pengalaman Belajar

Pengalaman yang diberikan kepada pembelajar student-centered,

guru harus berperan sebagai fasilitator dan pembimbing.

e. Require Learner Participation (Mengembangkan Paran serta

Pebelajar)

Belajar efektif dapat terjadi jika pebelajar dilibatkan dan memiliki

peranserta didalamnya. Hal ini sesuai dengan metode yang digukanan

yaitu discovery Learning siswa belajar secara mandiri kemudian

penemuan yang di dapat dibuat dalam bentuk konsep atau prinsip.

f. Evaluate and Revise (Menilai dan Memperbaiki)

Langkah terakhir adalah melihat kembali hasil data evaluasi yang

dikumpulkan. Adakah kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan

apa yang terjadi. Hal ini bisa terjawab pada Bab hasil penelitian dan

pembahasan.
20

E. Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)

1. Pengertian

Discovery Learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara

belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka

hasil diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah

dilupakan siswa (Hosnan, 2014: 282).

Richard dalam Roestiyah (2012 : 20) discovery learning adalah suatu

cara mengajarkan yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental

melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan

mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Discovery Learning adalah teori belajar dimana materi yang akan

disampaikan tidak akan disampaiakan dalam bentuk final akan tetapi

peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui

dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi

atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami

dalam suatu bentuk akhir (Depdikbud, 2014: 31).

Sholeh (2014: 228) menjelaskan metode discovery learning ini

mencoba mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari situasi yang

didominasi guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental

melalui beberapa kegiatan penelitian.

Berdasarkan belajar discovery peserta didik didorong belajar aktif

dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Peserta didik didorong

menghubungkan pengalaman baru yang dihadapi sehingga peserta didik

menemukan prinsip-prinsip baru. Belajar penemuan menekankan pada
21

berpikir tingkat tinggi. Belajar ini memfasilitasi peserta didik diharapkan

mengembangkan dialektika berpikir melali induksi logika yaitu berpikir

dari fakta ke konsep. Peserta didik diharapkan tidak hanya mampu

mendeskripsikan secara factual apa yang dipelajari, namun peseta didik

juga diharapkan mampu mendeskripsikan secara konseptual konseptual

(Suprijono, 2014: 70).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa discovery

learning adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara

aktif untuk berpikir dalam memecahkan masalah dengan menemukan

sendiri melalui informasi yang didapat oleh peserta didik.

2. Tujuan Pembelajaran Discovery Learning

Ada beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan,

yakni sebagai berikut:

a. Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif

dalam pembelajaran.

b. Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola

dalam situasi konkret maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan

informasi tambahan yang diberikan.

c. Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu

dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang

bermanfaat dalam menemukan.

d. Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja

bersama yang afektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan

menggunakan ide-ide orang lain.
22

e. Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keterampilan-

keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui

penemuan lebih bermakna.

f. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam

beberapa kasus, lebih mudah ditansfer untuk aktivitas baru dan

diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.

3. Karakteristik Discovery Learning

Ciri utama belajar menemuan yaitu:

a. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan,

menggabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan.

b. Berpusat pada siswa.

c. Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang

sudah ada.

4. Strategi dalam Pelajaran Discovery Learning

Dalam pembelajaran dengan penemuan dapat digunakan beberapa strategi

sebagai berikut:

a. Strategi Induktif

Strategi ini terdiri atas dua bagian, yakni bagian data dan bagian

generalisasi (kesimpulan). Data tidak adapat digunakan sebagai bukti,

hanya merupakan jalan menuju kesimpulan. Mengambil kesimpulan

dengan menggunakan strategi induktif ini selalu mengandung resiko,

apakah kesimpulan itu benar ataukah salah. Karenanya kesimpulan yang

ditemukan dengan strategi induktif sebaiknya selalu menggunakan

perkataan “barangkali” atau “mungkin”.
23

b. Strategi Deduktif

Strategi deduktif ini memegang peranan penting dalam pembuktian,

karena strategi ini berisi argumentasi yang saling berkaitan. Dari konsep

strategi deduktif ini bersifat umum yang sudah diketahui siswa

sebelumnya, siswa dapat diarahkan untuk menenukan konsep-konsep

lain yang belum ia ketahui sebelumnya.

5. Peranan Guru dalam Pembelajaran Discovery Learning

Menurut Dahar dalam (Hosnan, 2014: 286) mengemukakan

beberapa peranan guru dalam pembelajaran dengan penemuan, yakni

sebagai berikut:

a. Merencanakan pembelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu

berpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.

b. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para

siswa untuk memecahkan masalah.

c. Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang enaktif, ikonik,

dan simbolik.

d. Apabila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara

teoritis, maka guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing

atau tutor.

e. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar

penemuan.
24

6. Kelebihan dan kelemahan Penerapan Discovery Learning

a. Kelebihan

- Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan

keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif.

- Dapat meningkatkan kemampuan siswa untu memecahkan masalah.

- Pengetahuan yang diperoleh melalui strategi ini sangat baik pribadi

dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer.

- Berpusat pada peserta didik dan guru berperan sama-sama aktif

mengeluarkan gagasan-gagasan.

- Mendorong peserta didik berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.

- Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.

- Mendorong keterlibatan keaktifan siswa.

- Melatih siswa belajar mandiri.

b. Kekurangan

- Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahpahaman

antara guru dan siswa.

- Menyita pekerjaan guru.

- Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan.

- Tidak berlaku untuk semua topik.

Hal ini berkenaan dengan :

- Kemampuan berpikir rasional siswa ada yang masih terbatas.

- Kesukaran dalam menggunakan faktor subjektivitas, terlalu cepat

pada suatu kesimpulan.
25

- Faktor kebudayaan atau kebiasaan yang masih menggunakan pola

pembelajaran lama.

- Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini.

- Tidak semua topik cocok disampaikan dengan metode ini.

7. Langkah-Langkah Operasional Discovery Learning

Menurut Syah dalam (Hosnan, 2014: 289) ada beberapa langkah-langkah

operasional discovery learning yaitu:

a. Stimulasition (Stimulasi/pemberian rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini pelajar diharapkan pada sesuatu yang

menimbulkan kebingungannya dan timbul keinginan untuk menyelidiki

sendiri. Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan

pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang

mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini

berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat

mengembangkan dan membantu siswa dalam mengekspolasi bahan.

b. Problem ststement (Pernyataan/identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulation guru memberi kesempatan kepada siswa

untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan

dengan bahan peljaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan

dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

c. Data collection (pengumpula data)

Pada saat peserta didik melakukan eksperimen atau eksplorasi, guru

memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan

informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar
26

atau tidaknya hipotesis. Data yang diperoleh melalui membaca literatur,

mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba

sendiri dan sebagainya.

d. Data processing (Pengolahan Data)

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang

telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan

sebagainya, lalu ditafsirkan.

e. Verification (pembuktian)

Pada tahap ini, peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat

untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan

dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

f. Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)

Tahap generalisasi atau menarik kesimpulan adalah proses menarik

sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku

untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan

hasil verifikasi.

8. Implementasi langkah-langkah discovery learning dalam Proses
Pembelajaran

a. Langkah Persiapan Strategi Discovery Learning

- Menentukan tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran ini adalah peserta didik mengetahui

struktur dan kaidah teks anekdot.

- Menentukan topik yang harus dipelajari
27

b. Prosedur Aplikasi Discovery Learning

Syah dalam (Hosnan, 2014: 289) dalam mengaplikasikan metode

Discovery Learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus

dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai

berikut :

1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada

sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian

dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul

keinginan untuk menyelidiki sendiri. Untuk memberikan stimulasi

dengan menggunakan teknik mengamati dan bertanya.

- Guru menunjukkan contoh teks anekdot.

- Peserta didik mengamati dan membaca contoh teks anekdot

yang dibawa oleh guru.

- Peserta didik membuat pertanyaan yang berhubungan dengan

isi teks anekdot dengan bahasa yang komunikatif.

2) Problem statement (pertanyaan/identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulasi, langkah selanjutnya guru memberi

kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak

mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran.

- Guru meminta peserta didik mencari struktur dan kaidah teks

anekdot.

- Peserta didik mengidentifikasi struktur dan kaidah teks anekdot.
28

3) Data collection (pengumpulan data)

Pada tahap ini guru memberi kesempatan kepada peserta didik

untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan

dengan membaca literatur, mengamati objek, wawancara dan lain

sebagainya.

- Peserta didik menuliskan hasil pengamatan tentang struktur dan

kaidah teks anekdot.

4) Data processing (pengolahan data)

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi

yang telah diperoleh peserta didik baik melalui membaca literatur,

mengamati objek, wawancara dan lain sebagainya. Selanjutnya

ditafsirkan, diklasifikasikan.

- Peserta didik dapat mengklasifikasikan struktur dan kaidah teks

anekdot.

5) Verification (pembuktian)

Pada tahap ini, peserta didik melakukan pemeriksaan secara

cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang

ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil

pengolahan data.

- Peserta didik melakukan pemeriksaan data (mengasosiasi) yang

diperoleh mengenai struktur dan kaidah teks anekdot.

6) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik

sebuh kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip, konsep, teori.
29

- Peserta didik menyimpulkan struktur dan kaidah teks anekdot.

- Peserta didik mempresentasikan (mengomunikasikan) hasil

pengamatan struktur dan kaidah teks anekdot.

c. Sistem penilaian

Dalam metode pembelajaran discovery, penilaian dapat

dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. Jika bentuk

penilaiannya berupa penilaian pengetahuan, maka dalam metode

pembelajaran discovery dapat menggunakan tes tertulis. Jika

penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian

hasil kerja siswa, maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan

contoh-contoh format penilaian sikap seperti yang ada pada uraian

penilaian proses dan hasil belajar pada materi berikutnya.

F. Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Rivanti (2014) tentang

Pengembangan Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Memahami

Struktur dan Kaidah Teks Anekdot Melalui Metode Inkuiri Di SMAN 5

Bandung. Berdasarkan hasil uji coba siswa dapat dijelaskan bahwa

kemampuan peserta didik dalam memahami struktur dan kaidah teks

anekdot tes awal memiliki rata-rata 70. Setelah menggunakan model

pembelajaran multimedia interaktif berbasis aplikasi moodle nilai tes akhir

meningkat menjadi 97,5.

Yulianti (2015) tentang Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi

Pada Siswa Kelas XII TKJ SMKN I Kepahiyang dengan Model Discovery

Learning yang menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan
30

menulis puisi dengan menggunakan model discovery learning pada siswa

kelas XII TKJ SMKN I Kepahiyang. Hal ini dapat dilihat dari hasil proses

pembelajaran pada siklus I dengan nilai rata-rata 68,47 termasuk categori

cukup, pada proses pembelajaran siklus II meningkat dengan rata-rata 77,7

termasuk kategori baik, pada siklus III kualifikasi kemampuan menulis puisi

siswa menjadi baik sekali dengan rata-rata 82,45.
31

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yaitu penelitian

tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti di

kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan

merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan

partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu

(kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melui suatu tindakan tertentu

dalam suatu siklus (Kunandar, 2011: 45).

Penelitian tindakan kelas yaitu kegiatan perbaikan, peningkatan, dan

perubahan pembelajaran ke arah yang lebih baik guna tercapainya tujuan

pembelajaran yang optimalkan. Bentuk kajian ini merupakan kajian reflektif

untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar

(Susetyo, 2010: 89).

Selain itu penelitian tindakan kelas merupakan penelitian sebagai

proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi dari

dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan

berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis

setiap pengaruh dari perkenalan tersebut (Sanjaya, 2011: 26).

Bertolak dari uraian di atas dapat dipahami bahwa penelitian tindakan

kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil
32

belajar siswa melalui tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap

observasi dan tahap refleksi.

B. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas dapat dilakukan melalui empat tahap
yaitu :
1. Tahap Perencanaan Tindakan

Pada tahap ini rencana kegiatan yang dilakukansebagai berikut:

a. Peneliti dan guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 3 Kota

Bengkulu berkolaborasi menyusun RPP Memahami struktur dan kaidah

teks anekdot dengan metode pembelajaran penemuan (Discovery

Learning).

b. Menyiapkan instrumen penelitian untuk memperoleh data berupa lembar

observasi guru, dan lembar observasi siswa.

c. Menyiapkan alat evaluasi berupa tes memahami struktur dan kaidah teks

anekdot dan pedoman penilaian, dan

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini peneliti akan melaksanakan rencana pembelajaran yang

telah disiapkan. Secara garis besar rencana kegiatan yang dilakukan

adalah melaksanakan proses pembelajaran memahami struktur dan kaidah

teks anekdot melalui model pembelajaran (Discovery Learning).

3. Tahap Observasi atau Pengamatan

Kegiatan observasi dilakukan oleh teman sejawat dan guru bahasa

Indonesia. Observasi dilakukan dengan cara mengamati kegiatan

pembelajaran meliputi aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran

memahami struktur dan kaidah teks anekdot melalui model pembelajaran
33

penemuan (Discovery learning). Kegiatan observasi menggunakan

pedoman observasi yang telah disusun pada tahap perencanaan.

4. Tahap Refleksi

Kegiatan pada tahap refleksi adalah peneliti melakukan analisis hasil tes

dan nontes. Pada kegiatan menganalisis hasil tes peneliti akan melihat

seberapa jauh pencarian hasil belajar siswa. Sedangkan pada analisis

nontes peneliti bersama observasi menganalisis hasil bersama-sama

melihat serta mengkaji apa-apa yang telah dilakukan denga baik pada

tahap pelaksanaan, serta kekuragan yang menjadi hambatan baik dari

guru maupun dari siswa.

Setelah mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi pada tahap

pelaksanaan siklus I maka langkah selanjutnya adalah mencari

pemecahannya. Hasil refleksi dipergunakan sebagai landasan untuk

melakukan perbaikan pada siklus II dan seterusnya.

Untuk lebih jelasnya, siklus PTK tersebut dilukiskan sebagai berikut :

Siklus II

1. Rencana
Siklus 1
1. Rencana 4. Refleksi 2. Tindakan

4. Refleksi 2. Tindakan
3. Observasi

3. Observasi

(Mulyasa, 2012: 73)
34

C. Tempat dan waktu Penelitian

1. Tempat

Tempat penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Kota Bengkulu.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada jam pelajaran bahasa Indonesia semester

genap Tahun Ajaran 2015/2016.

D. Data dan Sumber Data

a. Data

Data pada penelitian ini adalah hasil tes kemampuan memahami struktur

dan kaidah teks anekdot dan lembar pengamatan observasi siswa dan guru.

b. Sumber Data Penelitian

Sumber data pada penelitian ini adalahsiswa dan guru, adapun jumlah

siswa yang menjadi sasaran penelitian di kelas X MIPA 2 sebanyak 31

orang yang terdiri 14 orang laki-laki dan 17 orang perempuan.

E. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA 2 SMA Negeri 3 Kota

Bengkulu Tahun Ajaran 2015/2016 yang terdiri dari 31 siswa.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Teknik Observasi

Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran siswa dan guru. Sesuai

dengan proses pembelajaran dari pendahuluan, isi, penutup akan

diamatiuntuk mengumpulkan data terakhir terhadap proses pembelajaran

sedang berlangsung.
35

2. Teknik Tes

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian

ini adalah tes. Menurut Daien (dalam Arikunto 2009:32) bahwa tes adalah

suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh

data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang,

dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.

Tes yang dilakukan dalam penelitian ini berupa tes tertulis yang

berfungsi untuk melihat hasil belajar siswa yang meliputi kemampuan

memahami struktur dan kaiadah teks anekdot. Hal ini dilakukan untuk

mendapat data-data tentang peningkatan kemampuan memahami struktur

dan kaidah teks anekdot melalui penerapan metode pembelajaran

penemuan (discovery learning) siswa kelas X MIPA 2 SMA Negeri 3

Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2015/2016.

G. Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini yang menjadi instrumen penelitian adalah :

1. Format Lembar Observasi Siswa

Pada lembar observasi siswa peneliti beserta teman sejawat mengamati

setiap aktivitas peserta didik pada saat proses kegiatan belajar mengajar

berlangsung.

2. Format Lembar Observasi Guru

Pada lembar observasi guru peneliti dan teman sejawat mengamati setiap

aktivitas guru di dalam kelas pada kegiatan proses belajar mengajar

berlangsung

3. Format hasil tes siswa, dilakukan dengan penskoran.
36

H. Teknik Analisis Data

Menganalisis data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam

penelitian. Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik deskriptif,

yaitu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta

sesuai data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan

kemampuan memahami struktur dan kaidah teks anekdot dengan metode

discovery learning oleh siswa kelas X MIPA 2 SMAN 3 Kota Bengkulu.

Hasil jawaban dari tes tertulis siswa akan dianalisis dengan rumus sebagai

berikut :

a. Nilai rata-rata siswa
ΣX
M=
𝑁
Keterangan :
M = Mean (rata-rata)
∑X = Jumlah Nilai Siswa
N = Jumlah Subjek Penelitian
Arikunto (2010 : 318)
b. Persentase ketuntasan belajar (standar Ketuntasan belajar Minimal

(SKBM)

KB= NS x 100%

N

Keterangan :

KB : Persentase ketuntasan belajar klasikal

NS ; Jumlah siswa yang mencapai nilai 75

N : Jumlah siswa
37

c. Menentukan kriteria penilaian yang digunakan

Tabel 1
Indeks Nilai Kuantitatif dengan Skala 1 - 4 dan 0 – 100

Konvensi Nilai Akhir Predikat Klasifikasi Sikap
Skala 0-100 Skala 1-4 Pengetahuan Dan
Keterampilan
86-100 4 A Sangat Baik
81-85 3.66 A-
76-80 3.33 B+ Baik
71-75 3.00 B
66-70 2.66 B-
61-65 2.33 C+ Cukup
56-60 2 C
51-55 1.66 C-
46-50 1.33 D+ Kurang
0-45 1 D
Sunarti dan Rahmawati (2014: 214)

I. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan pada saat penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Dari segi proses belajar, penelitian ini dikatakan berhasil apabila dalam

menerapkan metode discovery learning adanya perubahan tingkah laku

belajar siswa di kelas agar dapat meningkatkan kemampuan memahami

teks anekdot.

b. Dari segi hasil belajar, penelitian ini dikatakan berhasil apabila siswa

memperoleh nilai rata-rata kelas 75, dengan persentase siswa yang tuntas

minimal 80%.
38

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas dilakukan penulis sebagai guru dan berkolaborasi

dengan teman sejawat sebagai pengamat atau observer. Penelitian ini

dilaksanakan pada siswa kelas X MIPA 2 SMAN 3 Kota Bengkulu Tahun

Ajaran 2015/2016 sebanyak 31 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 17

siswa perempuan.

Hasil penelitian tindakan kelas diperoleh dari hasil tes dan nontes baik

siklus I maupun siklus II. Hasil tes tersebut terangkum dalam dua bagian yaitu

siklus I dan siklus II. Hasil tes tindakan siklus I dan Siklus II berupa hasil belajar

siswa tentang memahami teks anekdot melalui model discovery learning yang

disajikan dalam bentuk data kuantitatif. Hasil siklus nontes siklus I dan Siklus II

diperoleh dari data observasi kegiatan belajar mengajar yang disajikan dalam

bentuk data deskriptif kualitatif. Lebih lanjut akan dijelaskan dalam bentuk

deskripsi data setiap siklus pada subbab berikutnya.

1. Laporan Hasil Penelitian Siklus 1

a. Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan tindakan guru berkolaborasi dengan teman

sejawat membuat persiapan mengajar yaitu:

1) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat berdasarkan (a)

Kompetensi Inti yaitu Memahami, menerapkan, menganalisis

pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa
39

ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan

humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,

dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta

menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik

sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah dan (b)

Kompetensi Dasar yaitu memahami struktur, kaidah atau ciri

kebahasaan dan isi anekdot baik secara lisan maupun tulis. Pada

kegiatan pembelajaran memahami teks anekdot menggunakan metode

discovery learning. Lebih lanjut RPP dapat dilihat pada lampiran.

2) Membuat Instrumen Penelitian

Instrumen Penelitian berupa lembar observasi siswa dan lembar

observasi guru untuk mengamati proses kegiatan pembelajaran

berlangsung. Lembar observasi siswa dan guru dapat dilihat pada

lampiran.

3) Menyiapkan Alat Evaluasi

Alat evaluasi ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam

memahami struktur, kaidah atau ciri kebahasaan, isi anekdot.

4) Guru menyiapkan media pembelajaran

Pada kegiatan pembelajaran berlangsung guru menyiapkan media

pembelajaran berupa video anekdot dan contoh teks anekdot.

Sebelumnya guru memberikan instruksi kepada siswa untuk

membentuk menjadi empat kelompok. Disamping itu agar kegiatan

pembelajaran terarah maka guru membagikan lembar kerja kelompok
40

kepada setiap kelompok sesuai dengan langkah-langkah model

discovery learning.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan kelas siklus I dilaksanakan pada hari kamis, 10

maret 2016 mulai pukul 08.45 WIB sampai 10.30 WIB (2 jam pelajaran).

Proses kegiatan pembelajaran dilaksanakan oleh peneliti sendiri sebagai guru

kelas dan dua teman sejawat sebagai observer. Proses pembelajaran mengacu

pada RPP yang telah disusun sebelumnya. Adapun langkah-langkah

operasional implementasi dalam proses pembelajaran:

1) Langkah Persiapan Model Discovery Learning

Pada tahap ini guru mulai memasuki ruang kelas, kemudian ketua kelas

mengintruksikan kepada teman-temannya mengucapkan salam dan guru

merespon sapaan siswa.

Ketua kelas: “Bersedia beri salam kepada Ibu guru”
Siswa: Assalamualaikum Wr,Wb.
Guru: Waalaikumsalam Wr, Wb.

Selanjutnya guru mengondisikan kelas dengan menayakan kabar dan

mengecek kehadiran siswa. Setelah itu guru memberi pertanyaan kepada

siswa untuk membangkitkan minat belajar siswa.

Guru: “anak-anak, Ibu mau tanya siapa yang di kelas ini pernah
membaca cerita tentang abunawas ?”
Siswa: “ pernah bu”
Guru: “dimana kamu pernah baca?”
Siswa: “Di koran, bu!”
Guru: “kalau pernah, bagaimana ceritanya?”
Siswa: “Saya bu, ceritanya lucu abunawas selalu menang melawan
raja”.
Guru: Iya benar, mungkin ada yang lain?”
Siswa: konyol bu, raja mau saya dikibuli dengan abunawas?
41

Guru: “Iya benar sekali. Kira-kira setelah kamu membaca cerita
tersebut apa pesan yang dapat kamu petik?
Siswa: Kita tidak boleh mengibuli orang lain, bu”
Guru: Iya benar. Nah anak-anak, cerita lucu atau konyol dan
mengadunng pesan itu disebut anekdot.

Guru mengapresiasi semua jawaban siswa, selanjutnya guru mulai

menyampaikan informasi kepada siswa tentang tujuan dan manfaat

pembelajaran memahami teks anekdot.

Guru: “Baiklah anak-anak, sekarang kita belajar tentang
memahami teks anekdot. Tujuan dan manfaat pembelajaran ini
adalah diharapkan anak-anak ibu mampu memahami struktur,
kaidah atau ciri kebahasaan dan isi anekdot”.
Guru dilanjutkan dengan menyampaikan informasi kepada siswa

tentang pokok-pokok materi pembelajaran yaitu memahami struktur

teks anekdot, kaidah/ciri kebahasaan, isi anekdot.

Guru: “Anak-anak coba perhatikan ibu sebentar, sebelum memulai
pelajaran inti bentuk kelompok menjadi 5 kelompok yang
terdiri 6 orang dalam 1 kelompok”.
Siswa: “Baik bu”.

Kegiatan ini berlangsung selama + 15 menit. Kemudian guru memulai

menerapkan langkah-langkah discovery learning dalam pembelajaran

bahas Indonesia.

2) Prosedur Aplikasi Discovery Learning

Pada kegiatan ini guru mulai menerapkan metode discovery learning untuk

memahami teks anekdot.

1) Pada tahap pertama guru memberikan stimulasi atau pemberian

rangsangan dengan memutar video berjudul “Botol Mineral” yang
42

terinspirasi dari teks “Puntung Rokok” . Deskripsi tentang video

anekdot dapat dilihat pada lampiran nomor 5.

Guru: “anak-anak ibu akan memutarkan video anekdot.
Sebelumnya ibu akan membagikan lembar kerja
kelompok yang harus kamu kerjakan” Bagaimana,
apakah semua kelompok sudah dapat lembar kerja
kelompoknya?
Siswa: “Sudah, bu”.
Guru: “Baiklah, sekarang instruksinya adalah kamu amati
atau tontonlah video anekdot tersebut”.

Pada tahap ini ketika guru memutarkan video anekdot siswa sudah

menonton atau mengamati video anekdot tersebut, namun masih ada

siswa yang masih belum fokus dan asik ngobrol dengan teman-

temannya. Setelah siswa selesai menonton mengamati atau menonton

video anekdot, selanjutnya guru membimbing siswa membuat

pertanyaan seputar unsur pembangun anekdot berdasarkan video yang

telah diputar,

Guru: “Bagaimana video anekdotnya, sudah diamati atau
ditonton?”
Siswa: “Sudah, bu”
Guru: “Coba perhatikan ibu, kalau sudah menonton video
anekdot tadi, tugas selanjutnya diskusikan bersama
anggota kelompokmu untuk membuat pertanyaan yang
berhubungan dengan unsur pembangun anekdot”.

Selanjutnya siswa membaca contoh teks anekdot yang diberikan oleh

guru untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan struktur

anekdot, kaidah atau ciri kebahasaan, isi anekdot.

Guru: “Anak-anak kamu sudah membuat pertannyaan dan
sudah mendapat gambaran jawabannya.
Siswa: “Sudah bu, tapi kami masih binggung sebenarnya
unsur pembangun atau struktur isi teks anekdot itu
seperti apa, bu?”
43

Guru: “Baiklah jika kamu masih bingung dengan unsur
pembangun atau struktur anekdot melalui video yang
kamu amati, sekarang ibu akan memberikan contoh teks
anekdot yang berjudul “KUHP dalam Anekdot”.
Siswa: “Iya bu, terima kasih”.
Guru: “Bagaimana sudah dapat semua contoh teks anekdot?”
Siswa: “Sudah bu”.
Guru: “Kalau sudah dapat semua, sekarang instruksinya
adalah bacalah teks anekdot tersebut”.
Siswa: “Baik bu”

b. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi

sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran.

Guru: “Setelah kamu membaca contoh teks anekdot yang ibu
berikan tadi, sekarang identifikasilah masalah sebanyak
mungkin berupa rumusan masalah?”
(Siswa kelihatan bingung kemudian bertanya kepada guru)
Siswa: “Bu, identifikasi masalah itu apa?”.
Guru: “Identifikasi masalah itu kamu menentukan masalah
apa saja ketika kamu membaca teks anekdot tadi,
kemudian buat dalam bentuk rumusan masalah”.
(Ada beberapa perwakilan kelompok yang menjawab)
Siswa: “Iya bu, kami paham”
Guru: “Jika kamu sudah mengidentifikasi masalah, maka
tugas selanjutnya adalah kamu mencari hal-hal yang
berhubungan dengan struktur, kaidah atau ciri
kebahasaan, isi anekdot melalui membaca buku teks
bahasa Indonesia.
Siswa: “Baik bu”.

c. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan

informasi sebanyak-banyaknya yang relevan dengan membaca literatur.

Guru: “Jika kamu sudah mengidentifikasi masalah, maka
tugas selanjutnya adalah kamu mencari hal-hal yang
berhubungan dengan struktur, kaidah atau ciri
kebahasaan, isi anekdot melalui membaca buku teks
bahasa Indonesia.
Siswa: “Bu, buku bahasa Indonesiakan hanya satu, jadi
referensinya baru sedikit. Kira-kira boleh cari di internet
melalui HP, bu?”
Guru: “Silahkan saja, tapi ingat jangan buka yang lain seperti
facebook dan main games online ya!”
Siswa: “Baik bu”
44

Guru: Coba perhatikan ibu kembali, setelah kamu selesai
mencari hal-hal yang berhubungan dengan dengan
struktur, kaidah atau ciri kebahasaan, isi anekdot, maka
tulis dikolom yang sudah disediakan.
Siswa: “Bu, minimal berapa sumber yang harus kami cari?”
Guru: “tidak ada batasan, carilah sebanyak mungkin agar
kamu lebih paham”.
Siswa: “Iya, bu”
Pada tahap ini ketika guru memberikan kesempatan kepada siswa

untuk mengumpulkan informasi dengan membaca literatur, baik

dibuku teks bahasa Indoensia atau browsing di internet melalui

Handphone. Siswa belum secara sungguh-sungguh mencari informasi

dari buku teks, mereka lebih banyak mencari di internet melalui

Handphone dan ada beberapa siswa yang tidak peduli dengan

instruksi yang diberikan oleh guru. Selanjutnya guru memberikan

instruksi selanjutnya.

d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa berkelompok untuk

mengolah informasi yang diperoleh dari hasil kegiatan sebelumnya

untuk memperluas, memperdalam, atau mencari solusi dari masalah

terkait dengan struktur, kaidah atau ciri kebahasaan, isi anekdot.

Guru: “Baiklah anak-anak sepertinya ibu lihat kamu asik
ngombrol dengan temanmu, sekarang ibu mau tanya
apakah sudah selesai tugasnya”
(sebagian siswa menjawab belum, sebagain siswa menjawab
selesai)
Siswa: “belum selesai,bu”
Siswa: “bu, kami sudah selesai”.
Guru: “Jika sudah selesai, sekarang kamu secara
berkelompok klasifikasikanlah struktur, kaidah, dan isi
teks anekdot berdasarkan hasil pengumpulan data yang
telah kamu cari tadi”
Siswa: “Maksud klasifikasi itu kami disuruh mengelompokkan
yang mana bagian struktur, kaidah, dan isi teks anekdot
45

berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah kami
cari tadi, Bu!”
Guru: “ Iya, betul sekali. Nah sekarang kerjakanlah!”
Siswa: “Baik, Bu”

e. Siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar

atau tidaknya pernyataan yang telah ditetapkan dengan temuan

alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

Guru: “Jika sudah selesai, instruksi selanjutnya adalah kamu
baca kembali hasil data yang kamu peroleh pada saat
pengumpulan data tadi, kemudian kamu analisis dan
buktikan apa benar atau tidak hipotesis yang telah kamu
buat sebelumnya. Lalu kamu buat kesimpulan berupa
konsep tentang struktur anekdot, kaidah anekdot dan isi
anekdot”
Siswa: “Bu, nulisnya di kolom yang sudah disediakan ini”
Guru: “Iya benar, sekarang silahkan mulai dikerjakan”
Kegiatan berlangsung +60 menit. Siswa terlihat sudah menyelesaikan

semua tugas di lembar kerja kelompok,

f. Guru menginstruksikan siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

Guru meminta dua kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi

kelompok mereka.

Guru: “Baiklah anak-anak waktunya sudah selesai, sekarang
ibu minta perwakilan dua kelompok untuk maju kelepan,
sekarang ibu tawarkan kelompok siapa yang ingin maju?”
Siswa: “Bu, Kelompok 1 mau maju”
Siswa: “Kelompok 3 mau maju juga, Bu!”
Guru: “Iya silahkan”

Siswa sudah siap untuk mengikuti instruksi selanjutnya. Perwakilan

dua kelompok sudah maju untuk membacakan hasilnya. Guru

mencoba menengahi dengan memberikan kesimpulan.

Guru: “Anak-anak tolong jangan ribut, baiklah dari hasil
pekerjaan teman kamu sudah benar, bagi yang salah
46

silahkan diperbaiki di samping atau dibawah kolom yang
kalian tulis ya”
Siswa: “Baik Bu”
Hasil kerja siswa dapat dilihat pada lampiran nomor 6.

Setelah selesai presentasi, siswa kembali ke anggota kelompoknya.
Suasana kelas ribut. Guru mengendalikan suasana kelas agar kembali
tertib. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pelajaran.
Guru: “Baiklah anak-anak, sekarang siapa yang mau
menyimpulkan pelajaran kita hari ini?”
Siswa: (diam)
Guru: “Ayo kalau tidak ada yang mau menyimpulkan,
sekarang ibu yang tunjuk? Coba Ahmad Kemal
simpulan pelajaran kita hari ini”
Ahmad: “Assalamualaikum wr.wb. Baiklah saya akan
menyimpulkan pelajaran hari ini bahwa kita sudah
belajar tentang memahami teks anekdot yang terdiri dari
pengertian teks anekdot, struktur teks anekdot, kaidah
anekdot dan isi teks anekdot”
Guru: “Beri tepuk tangan yang meriah untuk Ahmad Kemal.
Iya benar sekali bahwa kita hari ini sudah belajar
tentang memahami teks anekdot, dimana kamu dapat
memahami teks anekdot melalui menonton atau
membaca contoh teks anekdot, kemudian
mengidentifikasi masalah, setelah itu mengumpulkan
data melalui membaca buku teks atau melalui internet
selanjutnya mengolah informasi dan membuktikan
hipotesisyang telah kamu buat serta kamu simpulkan
berupa konsep tentang struktur teks anekdot, kaidah teks
anekdot, dan isi teks anekdot. Bagaimana sudah
paham?”
Siswa: “Paham Bu”
Guru: “Baiklah kalau sudah paham sekarang kembali ke
tempat duduknya masing-masing”
Siswa: “Baik Bu”

Setelah selesai menyimpulkan pelajaran guru memberikan instruksi

kepada siswa untuk duduk kembali di tempat masing-masing. Kegiatan

ini berlangsung + 15 menit dan selanjutnya siswa diberikan tes tentang

kemampuan memahami teks anekdot tes yang diberikan 15 soal
47

pilihan ganda dan 10 soal esai. Setelah selesai guru mengumpulkan

lembar jawaban siswa dan mengakhiri mengucapkan salam.

Guru: “Baiklah anak-anak waktunya sekarang sudah habis,
dan tugas kelompok dan lembar hasil tesnya
dikumpulkan”
Siswa: “Iya Bu”
Guru: “Terima kasih, ibu akhiri wassalamualaikum wr, wb”.
Siswa: “Waalaikumsalam wr, wb”

2. Hasil Belajar Siswa Kemampuan Memahami Teks Anekdot Siklus I

Pada siklus I ditemukan hasil tes siswa tentang kemampuan memahami teks

anekdot. Nilai rata-rata dan ketuntasan klasikal siklus I dari hasil tes

kemampuan memahami teks anekdot dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2
Nilai Rata-rata dan Ketuntasan Klasikal Siklus I

No Siklus Nilai Rata-rata Ketuntasan %

1 I 70,42 48,39 %

Dari perhitungan di atas nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 70,42.

Bila dikonsultasikan pada indek nilai kuantitatif dengan skala 0-100, nilai

tersebut dalam kualifikasi baik karena terletak interval 66-70. Persentase

ketuntasan belajar klasikal yang diperoleh sebesar 48,39%, persentase

ketuntasan belajar klasikal dikatakan tuntas minimal mencapai 80%. Dengan

demikian hasil tes kemampuan memahami teks anekdot pada siklus I belum

berhasil.
48

Hasil perhitungan hasil tes kemampuan memahami teks anekdot, jika

dimasukkan pada interval 0-100 untuk perhitungan jumlah frekuensi

persentase skor sebagai berikut:

Tabel 3
Frekuensi Hasil Tes Kemampuan Memahami Teks Anekdot Pada Siklus I

Interval Persentase Frekuensi Keterangan
Tingkat Kemampuan
81-100 3 Orang Sangat Baik

66-80 16 Orang Baik

51-65 12 Orang Cukup

0-50 - Kurang

Berdasarkan hasil perhitungan frekuensi pada tabel di atas dapat diuraikan

bahwa 3 orang dalam kualitas sangat baik, 16 orang dalam kualitas baik, 12

orang dalam kualitas cukup, dan 0 orang dalam kualitas kurang. Rekapitulasi

hasil tes kemampuan memahami teks anekdot pada siklus I dapat dilihat pada

lampiran nomor 9.

3. Refleksi

Pada tahap refleksi ini peneliti beserta teman sejawat berdiskusi

tentang hasil pengamatan atau observasi pada proses pembelajaran

berlangsung. Dari hasil diskusi tersebut masih banyak siswa yang terlihat

bingung dan kurang mengerti alur metode discovery learning yang diterapkan

oleh peneliti. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes kemampuan siswa dalam
49

memahami teks anekdot pada siklus I dengan nilai rata-rata 70, 42 dan

ketuntasan belajar lasikal 48,39%.

Siswa mengalami kesulitan pada tahap pengolahan data (data

processing). Siswa masih bingung pada kegiatan mengolah data yang didapat

dari pengumpulan data sebelumnya untuk ditafsirkan.Siswa mengalami

kesulitan pada tahap pembuktian (verification). Pada tahap ini siswa masih

bingung ketika melakukan pemeriksaan data untuk membuktikan benar

tidaknya pernyataan yang telah ditetapkan dengan temuan alternatif,

dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

Berdasarkan kelemahan atau kesulitan yang dialami siswa dalam

memahami teks anekdot, maka tindakan pembelajaran perlu dilanjutkan pada

siklus II.

2. Laporan Hasil Penelitian Siklus II

a. Perencanaan Tindakan

Dari hasil diskusi berdasarkan data observasi atau pengamatan siklus I

ditemukan bahwa dalam memahami teks anekdot dengan menerapkan

metode pembelajaran penemuan (discovery learning) ada enam tahap yaitu

stimulasi, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data,

pembuktian, dan generalisasi. Dari keenam tahap tersebut ada dua tahap

yang berlum tercapai yaitu pada tahap pengolahan data dan pembuktian.

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, peneliti beserta teman sejawat

berkolaborasi membuat persiapan mengajar pada siklus II. Perencanaan

tindakan pada siklus II ini fokus pada tahap-tahap yang belum tercapai

pada proses pembelajaran dalam menerapkan model discovery learning di
50

siklus I yaitu Siswa mengalami kesulitan pada tahap pengolahan data (data

processing). Siswa masih bingung pada kegiatan mengolah data yang di

dapat dari pengumpulan data sebelumnya untuk ditafsirkan. Siswa

mengalami kesulitan pada tahap pembuktian (verification). Pada tahap ini

siswa masih bingung ketika melakukan pemeriksaan data untuk

membuktikan benar tidaknya teuam yang diperoleh dari hasil pengolahan

data.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan kelas siklus II dilaksanakan pada hari kamis, 17

maret 2016 mulai pukul 08.45 WIB sampai 10.30 WIB (2 jam pelajaran).

Proses kegiatan pembelajaran dilaksanakan oleh peneliti sendiri sebagai

guru kelas dan dua teman sejawat sebagai observer. Proses pembelajaran

mengacu pada RPP yang telah disusun sebelumnya. Adapun langkah-

langkah operasional implementasi dalam proses pembelajaran:

1) Langkah Persiapan Model Discovery Learning

Pada tahap ini guru mulai memasuki ruang kelas, kemudian ketua kelas

mengintruksikan kepada teman-temannya mengucapkan salam dan guru

merespon sapaan siswa.

Ketua kelas: “Bersedia beri salam kepada Ibu guru”
Siswa: Assalamualaikum Wr,Wb.
Guru: Waalaikumsalam Wr, Wb.

Selanjutnya guru mengondisikan kelas dengan menayakan kabar dan

mengecek kehadiran siswa. Setelah itu guru memberi pertanyaan kepada

siswa untuk membangkitkan minat belajar siswa.
51

Guru: “anak-anak, Ibu mau tanya siapa yang masih ingat
pelajaran kita pada minggu sebelumnya?”
Siswa: “ saya Bu”
Guru: “Ayo coba jelaskan?”
Siswa: “Baiklah, minggu kemarin kita sudah belajar tentang
memahami teks anekdot yaitu memahami struktur teks
anekdot, kaidah teks anekdot, dan isi teks anekdot!”
Guru: “Iya benar sekali beri tepuk tangan dong yang meriah buat
temannya. Baiklah sekarang kita akan meneruskan
pembelajaran kita masih berhubungan dengan teks anekdot.
Guru mengapresiasi semua jawaban siswa, selanjutnya guru mulai

menyampaikan informasi kepada siswa tentang tujuan dan manfaat

pembelajaran memahami teks anekdot.

Guru: “Baiklah anak-anak, sekarang kita belajar tentang memahami
teks anekdot. Tujuan dan manfaat pembelajaran ini adalah
diharapkan anak-anak ibu mampu memahami struktur, kaidah
atau ciri kebahasaan dan isi anekdot”.
Guru dilanjutkan dengan menyampaikan informasi kepada siswa tentang

pokok-pokok materi pembelajaran yaitu memahami struktur teks

anekdot, kaidah/ciri kebahasaan, isi anekdot.

Guru: “Anak-anak coba perhatikan ibu sebentar, sebelum
memulai pelajaran inti kamu tetap bentuk kelompok
menjadi 5 kelompok yang terdiri 6 orang dalam 1
kelompok”
Siswa: “Bu, kelompoknya tetap yang kemarin”
Guru: “Iya kelompoknya tetap seperti kemarin”
Siswa: “Baik Bu”

Kegiatan ini berlangsung +15 menit. Kemudian guru memulai

menerapkan langkah-langkah discovery learning dalam pembelajaran

bahasa Indonesia.
52

2) Prosedur Aplikasi Discovery Learning

Kegiatan ini guru mulai menerapkan metode discovery learning pada

tahap atau indikator yang belum tercapai pada siklus I yaitu tahap

pengolahan data dan pembuktian atau verifikasi. Namun sebelum

memulai pada tahap pengolahan data, guru mengarahkan siswa untuk

melakukan pengumpulan data terlebih dahulu.

a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan

informasi sebanyak-banyaknya yang relevan dengan membaca

literatur yang berhubungan dengan struktur dan kaidah teks anekdot.

Guru: “Jika kamu sudah mengidentifikasi masalah, maka
tugas selanjutnya adalah kamu mencari hal-hal yang
berhubungan dengan struktur, kaidah atau ciri
kebahasaan, isi anekdot melalui membaca buku teks
bahasa Indonesia.
Siswa: “Bu, boleh cari di internet melalui HP?”
Guru: “Silahkan”
Siswa: “Baik bu”
Guru: Coba perhatikan ibu kembali, setelah kamu selesai
mencari hal-hal yang berhubungan dengan dengan
struktur, kaidah atau ciri kebahasaan, isi anekdot, maka
tulis dikolom yang sudah disediakan.
Siswa: “Bu, minimal berapa sumber yang harus kami cari?”
Guru: “tidak ada batasan, carilah sebanyak mungkin agar
kamu lebih paham”.
Siswa: “Iya, bu”
Guru: Nanti jika kamu sudah selesai menulis di kolom yang
sudah ibu sediakan. Tugas selanjutnya secara
berkelompok kamu ibu minta untuk mengolah data yang
kamu peroleh dari hasil pengumpulan data.

b. Guru memberikan kesempatan kepada siswa berkelompok untuk

mengolah informasi yang diperoleh dari hasil kegiatan sebelumnya
53

untuk memperluas, memperdalam, atau mencari solusi dari masalah

terkait dengan struktur, kaidah atau ciri kebahasaan, isi anekdot.

Guru: “Baiklah anak-anak sekarang ibu mau tanya apakah
sudah selesai tugasnya”
Siswa: “iya, bu sudah selesai”.
Guru: “Jika sudah selesai, sekarang kamu secara
berkelompok klasifikasikanlah struktur, kaidah, dan isi
teks anekdot berdasarkan hasil pengumpulan data yang
telah kamu cari tadi”
Siswa: “Baik, Bu”

c. Siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan

benar atau tidaknya pernyataan yang telah ditetapkan dengan temuan

alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

Guru: “Jika sudah selesai, instruksi selanjutnya adalah kamu
baca kembali hasil data yang kamu peroleh pada saat
pengumpulan data tadi, kemudian kamu analisis dan
buktikan apa benar atau tidak hipotesis yang telah kamu
buat sebelumnya. Lalu kamu buat kesimpulan berupa
konsep tentang struktur anekdot, kaidah anekdot dan isi
anekdot sekarang silahkan mulai dikerjakan”
Siswa: “Baik Bu”
Kegiatan berlangsung + 60 menit. Siswa terlihat sudah menyelesaikan

semua tugas di lembar kerja kelompok yang dapat dilihat pada

lampiran nomor 12.

Guru meminta perwakilan kelompok untuk menyimpulkan

pembelajaran.

Guru: “Baiklah anak-anak, sekarang siapa yang mau
menyimpulkan pelajaran kita hari ini?”
Siswa: “Saya Bu”
Guru: “Ayo silahkan Gesistiza”
Gesistiza:“Assalamualaikum wr.wb. Baiklah saya akan
menyimpulkan pelajaran hari ini bahwa kita sudah
belajar tentang memahami teks anekdot yang terdiri dari
54

pengertian teks anekdot, struktur teks anekdot, kaidah
anekdot dan isi teks anekdot”
Guru: “Beri tepuk tangan yang meriah untuk Gesistiza. Iya
benar sekali bahwa kita hari ini sudah belajar tentang
memahami teks anekdot, dimana kamu dapat memahami
teks anekdot melalui menonton atau membaca contoh
teks anekdot, kemudian mengidentifikasi masalah,
setelah itu mengumpulkan data melalui membaca buku
teks atau melalui internet selanjutnya mengolah
informasi dan membuktikan hipotesisyang telah kamu
buat serta kamu simpulkan berupa konsep tentang
struktur teks anekdot, kaidah teks anekdot, dan isi teks
anekdot. Bagaimana sudah paham?”
Siswa: “Paham Bu”
Guru: “Baiklah kalau sudah paham sekarang kembali ke
tempat duduknya masing-masing”
Siswa: “Baik Bu”

Setelah selesai menyimpulkan pelajaran guru memberikan instruksi

kepada siswa untuk duduk kembali di tempat masing-masing kegiatan

ini berlangsung +15 menit, dan selanjutnya siswa diberikan tes tentang

kemampuan memahami teks anekdot tes yang diberikan 15 soal

pilihan ganda dan 10 soal esai. Setelah selesai guru mengumpulkan

lembar jawaban siswa dan mengakhiri mengucapkan salam.

Guru: “Baiklah anak-anak waktunya sekarang sudah habis,
dan tugas kelompok dan lembar hasil tesnya
dikumpulkan”
Siswa: “Iya Bu”
Guru: “Terima kasih, ibu akhiri wassalamualaikum wr, wb”.
Siswa: “Waalaikumsalam wr, wb”

d. Hasil Belajar Siswa Kemampuan Memahami Teks Anekdot Siklus II

Pada siklus II ditemukan hasil tes siswa tentang kemampuan memahami teks

anekdot. Nilai rata-rata dan ketuntasan klasikal siklus II dari hasil tes

kemampuan memahami teks anekdot dapat dilihat pada tabel berikut ini.
55

Tabel 4
Nilai Rata-rata dan Ketuntasan Klasikal Siklus II

No Siklus Nilai Rata-rata Ketuntasan %

1 II 80,85 87,09 %

Dari perhitungan di atas nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 80,85

dibulatkan 81. Bila dikonsultasikan pada indek nilai kuantitatif dengan skala

0-100, nilai tersebut dalam kualifikasi sangat baik karena terletak interval 81-

100. Persentase ketuntasan belajar klasikal yang diperoleh sebesar 87,09%,

persentase ketuntasan belajar klasikal dikatakan tuntas minimal mencapai

80%. Dengan demikian hasil tes kemampuan memahami teks anekdot pada

siklus II berhasil.

Hasil perhitungan hasil tes kemampuan memahami teks anekdot, jika

dimasukkan pada interval 0-100 untuk perhitungan jumlah frekuensi

persentase skor sebagai berikut:

Tabel 5
Frekuensi Hasil Tes Kemampuan Memahami Teks Anekdot Pada
Siklus II
Interval Persentase Frekuensi Keterangan
Tingkat Kemampuan
81-100 19 Orang Sangat Baik

66-80 12 Orang Baik

51-65 - Cukup

0-50 - Kurang
56

Berdasarkan hasil perhitungan frekuensi pada tabel di atas dapat diuraikan

bahwa 19 orang dalam kualitas sangat baik, 12 orang dalam kualitas baik, 0

orang dalam kualitas cukup, dan 0 orang dalam kualitas kurang. Rekapitulasi

hasil teks kemampuan memahami teks anekdot dapat dilihat pada lampiran

nomor 15.

e. Refleksi

Memahami teks anekdot dengan menggunakan metode pembelajaran

penemuan (discovery learning) pada siklus II kegiatan pembelajaran sudah

baik. Hasil nilai yang diperoleh siswa pada siklus II sudah mencapai kreteria

yang telah ditetapkan. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa 80,85 dan

termasuk kategori sangat baik. Siswa sudah mampu memahami teks anekdot,

Siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengolah data dan sudah mampu

menginterpretasi makna isi teks anekdot yang diperoleh dari pengumpulan

data melalui membaca literatur. Siswa mampu membuktikan benar atau

tidaknya temuan yang diperoleh dari hasil pengolahan data.

Kesulitan atau kelemahan dalam memahami teks anekdot dengan

menggunakan metode pembelajaran penemuan (discovery learning) oleh

siswa dapat diatasi dengan adanya peran guru yaitu (1) guru membimbing

siswa untuk mengolah data atau informasi yang diperoleh dari kegiatan

pengumpulan data upaya memperluas pemahaman tentang makna isi teks

anekdot, (2) guru membimbing siswa melakukan pembuktian benar tidaknya

temuan yang diperoleh dengan cara melakukan pemeriksaan data dari hasil

pengolahan data sebelumnya.
57

Berdasarkan hasil pada siklus II, maka pembelajaran dalam siklus tidak

dilanjutkan, karena pembelajaran sudah berhasil sesuai dengan indikator

keberhasilan yang ditetapkan.

B. Pembahasan

Metode pembelajaran penemuan (discovery learning) bisa dijadikan

alternatif bagi guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan pendapat

Depdikbud (2014: 31) bahwa metode pembelajaran penemuan (discovery

learning) membantu guru dalam membimbing peserta didik untuk

mengidentifikasi atau mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi

apa peserta didik ketahui dan memahaminya dalam bentuk akhir. Salah satu

kelebihan dari metode pembelajaran penemuan (discovery learning) adalah

membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-

keterampilan dan proses-proses kognitif sehingga sangat cocok digunakan

untuk mengetahui kemampuan memahami teks anekdot oleh siswa kelas X

MIPA 2 SMAN 3 Kota Bengkulu.

Setelah dilakukan penelitian terhadap penggunaaan metode

pembelajaran penemuan (discovery learning) di kelas X MIPA 2 pada siklus I

diketahui bahwa dari 31 siswa yang berhasil mencapai KKM >75 yaitu

sebanyak 15 siswa dan yang belum berhasil sebanyak 16 siswa dengan nilai

rata-rata 70,42 dan ketuntasan belajar klasikal 48,39% sedangkan pada siklus

II ada 27 siswa yang berhasil mencapai KKM >75 dengan nilai rata-rata

80,85 dan ketuntasan belajar klasikal 87,05%.

Pada hasil siklus I dan siklus II terlihat jelas bahwa perbedaan nilai

siswa cukup signifikan. Pada siklus I nilai rata-rata siswa 70,42 sedangkan
58

pada siklus II nilai rata-rata siswa 80,85. Peningkatan rata-rata skor dari

siklus I ke siklus II adalah 10,43 skor. Ketuntasan belajar klasikal pada siklus

I 48,39% dan pada siklus II meningkat 87,05% telah mampu melampaui

ketuntasan 80%. Hal ini sesuai dengan pendapat Susetyo ( 2010: 89) bahwa

PTK adalah kegiatan perbaikan, peningkatan, dan perubahan pembelajaran

kea rah yang lebih baik guna tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.

Menurut Arikunto (2010: 272) bahwa melakukan observasi atau

pengamatan bukan sekedar mencatat data observasi, tetapi juga mengadakan

pertimbangan dan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat seperti sangat,

kurang, atau tidak sesuai dengan dikehendaki. Berdasarkan data hasil

observasi dan evaluasi diketahui bahwa terjadi peningkatan kemampuan

memahami teks anekdot pada siklus I dan siklus II. Penerapan metode

pembelajaran penemuan (discovery learning) memberikan pengaruh positif

untuk mengetahui kemampuan memahami teks anekdot pada siswa. Kategori

baik pada siklus I dan dapat menjadi kategori sangat baik pada siklus II.
59

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa

motode discovery learning dapat meningkatkan kemampuan memahami teks

anekdot oleh siswa kelas X MIPA 2 SMAN 3 Kota Bengkulu. Hal ini dapat

dilihat dari hasil tindakan pembelajaran siklus I dengan nilai rata-rata 70,42 dan

pada tindakan pembelajaran siklus II meningkat dengan nilai rata-rata 80,85.

Peningkatan rata-rata skor dari siklus I ke siklus II adalah 10,43 skor. Ketuntasan

belajar klasikal pada siklus I 48,39% dan siklus II 87,05%, terjadi peningkatan

antara siklus I dan siklus II.

Berdasarkan hasil proses pembelajaran siklus I siswa melakukan kegiatan

pembelajaran dengan menerapkan metode discovery learning yang terdiri dari

enam tahap, dari keenam tahap tersebut siswa mengalami kesulitan tahap

mengolah data atau informasi yang didapat dari pengumpulan data sebelumnya

dan siswa mengalami kesulitan pada tahap verifikasi atau pembuktian yang

didapat dari pengumpulan dan pengolahan data sebelumnya. Pada siklus II

kegiatan pembelajaran fokus pada tahap-tahap yang belum tercapai yaitu pada

tahap pengolahan data dan tahap verifikasi atau pembuktian. Berdasarkan

perbaikan pada siklus II yang telah dilakukan oleh guru maka berdampak pada

meningkatnya proses pembelajaran dengan menerapkan metode discovery

learning pada kemampuan siswa dalam memahami teks anekdot.
60

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan maka peneliti mengemukaka saran

sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

Diharapkan siswa lebih banyak membaca yang berhubungan dengan isi

anekdot dari berbagai literatur sehingga kemampuan memahami teks anekdot

dapat lebih baik lagi.

2. Bagi Guru

Guru hendaknya dapat menggunakan model discovery learning sebagai

alternatif model pembelajaran di dalam kelas agar kegiatan pembelajaran lebih

aktif, keratif, dan menyenangkan.

3. Bagi Sekolah

Pihak sekolah hendaknya memberikan motivasi terhadap guru agar mampu

memilih model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam kegiatan

pembelajaran di kelas.