Analisis Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hematom

Femoral Pada Pasien Setelah Menjalani Intervensi Koroner Perkutan
Analysis of Risk Factors Associated With The incidence of hematoma Femoral
In Patients After Undergoing Percutaneous Coronary Intervention
Siti Rohimah
Universitas Padjadjaran

Program Magister Keperawatan
Peminatan Keperawatan Kritis
e-mail: sitirohimah21@yahoo.com

ABSTRAK
Intervensi koroner perkutan adalah tindakan non bedah yang diterapkan sebagai
alternatif selain bedah tandur arteri koroner dalam pengobatan sindrom koroner
akut (SKA). Kemajuan teknik dalam intervensi koroner perkutan telah membawa
hasil perbaikan secara keseluruhan namun komplikasi iatrogenik, seperti
perdarahan masih mungkin terjadi, dilaporkan bahwa komplikasi vaskuler masih
terjadi antara 1,6% sampai 15,4%. Kejadian komplikasi ini berhubungan dengan
peningkatan risiko yang merugikan termasuk kematian, infark miokard, stroke,
tindakan pembedahan ulang, peningkatan lama rawat inap dan peningkatan biaya
perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko yang
berhubungan dengan kejadian hematom femoral pada pasien setelah menjalani
intervensi koroner perkutan yang di rawat di ruang intensif jantung. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah pendekatan analitik observasional dengan
desain studi cross-sectional. Dan teknik pengambilan sampel yang digunakan
adalah consecutive sampling dengan ukuran sampel 46 pasien setelah menjalani
intervensi koroner perkutan yang telah di angkat sheat kateter diobservasi
terhadap adanya kejadian hematom femoral. Variabel independen pada penelitian
ini adalah umur, jenis kelamin, berat badan, perokok, hipertensi, kholesterol, DM
dan riwayat penggunaan obat antikoagulan sedangkan variabel dependennya
adalah hematom femoral. Data dianalisis bivariat dengan Fisher’s Exact Test dan
Analisis multivariat dengan regresi logistik binomial. Hasil analisis bivariat
menunjukan ada hubungan yang signifikan antara perokok dengan hematom
femoral setelah menjalani intervensi koroner perkutan dengan nilai p 0,001
(p<0,05) begitu juga hasil analisis multivariat menunjukan ada hubungan yang
signifikan antara perokok dengan kejadian hematom femoral dengan nilai p 0,003
(p<0,05). Kesimpulannya bahwa faktor risiko perokok secara bermakna
berhubungan dengan kejadian hematom femoral setelah intervensi koroner
perkutan. Penelitian dengan fokus kajian yang sama dan jumlah sampel yang
lebih besar diperlukan untuk memperoleh kesimpulan penelitian yang lebih dapat
mewaikili karakteristik dari setiap faktor risiko.

Kata kunci: faktor risiko, intervensi koroner perkutan, hematom femoral

1
2

ABSTRACT

Percutaneous coronary intervention is an action that is applied as a non-surgical
alternative to coronary artery surgery in the treatment of acute coronary
syndrome (ACS). Technical advances in percutaneous coronary intervention has
led to improved results as a whole so as to reduce morbidity and mortality caused
by coronary heart disease, but iatrogenic complications, such as bleeding may
still occur, it was reported that vascular complications still occur between 1.6%
to 15.4 %. Incidence of this complication associated with an increased risk of
harm, including death, myocardial infarction, stroke, repeated surgery, increased
length of stay and increased maintenance costs. This study aimed to identify risk
factors associated with the incidence of femoral hematoma patients after
undergoing percutaneous coronary intervention in cardiac intensive care room.
The design of the study is observational analytic approach with cross-sectional
study design. And sampling techniques used are consecutive sampling with
sample size 46 patients after undergoing percutaneous coronary intervention that
has been in foster sheat catheter events were observed for the presence of femoral
hematoma. Independent variables in this study were age, sex, weight, smoking,
hypertension, cholesterol, diabetes and a history of use of anticoagulant drugs,
while the dependent variable is the femoral hematoma. Bivariate data were
analyzed with Fisher's Exact Test and multivariate analysis with binomial logistic
regression. The results of bivariate analysis showed no significant relationship
between smokers with femoral hematoma after undergoing percutaneous
coronary intervention with a p value of 0,001 (p <0,05) as well as the results of
multivariate analysis showed no significant association between cigarette
smoking with the incidence of femoral hematoma with p value 0.003 (p < 0,05),
and other characteristics such as age, sex, weight, hypertension, cholesterol,
diabetes and a history of drug use of anticoagulants, there was no significant
relationship with p value> 0,05. The conclusion that smokers risk factors were
significantly associated with incidence of femoral hematoma after percutaneous
coronary intervention. Further studies that lead to the treatment of nursing
intervention taking into consideration associated risk factors are needed to
improve patient comfort.

Key words: risk factors, percutaneous coronary intervention, femoral hematoma
3

PENDAHULUAN

Intervensi koroner perkutan (IKP) adalah usaha untuk memperbaiki aliran

darah koroner dengan memecah plak atau ateroma yang telah tertimbun dan

mengganggu aliran darah ke jantung (Smeltzer & Bare, 2002).

Perdarahan adalah komplikasi yang paling umum pada pasien yang

menjalani intervensi koroner perkutan termasuk hematom femoral, keluarnya

darah dari tempat penusukan dan hematom retroperitoneal merupakan jenis

perdarahan yang sering terjadi. Kejadian komplikasi ini berhubungan dengan

peningkatan risiko yang merugikan termasuk kematian, infark miokard, stroke,

tindakan pembedahan ulang, peningkatan lama rawat inap dan peningkatan biaya

perawatan (Sameer dkk, 2009).

Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung yang merupakan rumah

sakit rujukan utama di wilayah Jawa Barat juga menyediakan pelayanan

kateterisasi jantung atau intervensi koroner perkutan (IKP) sejak tahun 2001,

seiring dengan bertambahnya tenaga ahli kateterisasi jantung, pasien yang

menjalani intervensi koroner perkutan juga semakin meningkat. Survei tentang

kejadian komplikasi setelah tindakan intervensi koroner perkutan telah dilakukan

pada periode tahun 2002-2004. Hasil survei menunjukan dari 182 pasien yang

menjalani IKP; 28 (15,4%) pasien mengalami hematom, 7 (3,85%) pasien

mengalami diseksi, 8 (4,5%) pasien mengalamami infark miokard, 3 (1,6%)

pasien meninggal.

Berbagai faktor risiko dikaitkan dengan komplikasi perdarahan setelah

intervensi koroner perkutan, termasuk faktor internal dan faktor ekternal. Usia tua,
4

jenis kelamin perempuan, berat badan terlalu besar atau terlalu kurus, perokok,

kondisi klinik seperti adanya gangguan ginjal, diabetes mellitus, hiperkholesterol

dan hipertensi dianggap sebagai faktor risiko internal terjadinya perdarahan

setelah intervensi koroner perkutan. Karakteristik prosedur tindakan intervensi

koroner perkutan termasuk: ukuran kateter yang digunakan, jenis antikoagulan

yang digunakan, penggunaan jenis penutup (closur devices) juga dianggap sama

sebagai faktor risiko ekternal terjadinya perdarahan femoral setelah intervensi

koroner perkutan (Brendan dkk, 2008).

Penelitian tentang faktor risiko terjadinya perdarahan femoral setelah

intervensi koroner perkutan mulai menjadi perhatian, salah satunya hasil

penelitian dari American College of Cardiology yang dilakukan oleh Ahmed dkk,

tahun 2009, yang meneliti tentang perbedaan komplikasi vaskuler pada laki laki

dan perempuan, hasil penelitian menunjukan bahwa perempuan adalah prediktor

kuat komplikasi perdarahan dan kematian setelah intervensi koroner perkutan.

Peningkatan penggunaan bivalirudin sebagai clossur devices secara signifikan

menurunkan kejadian komplikasi perdarahan femoral, namun tetap kejadian

komplikasi perdarahan femoral pada jenis kelamin perempuan dua kali lipat

dibandingkan dengan komplikasi yang terjadi pada laki-laki.

Sedikit yang diketahui tentang faktor risiko yang menjadi prediktor

komplikasi vaskuler setelah intervensi koroner perkutan. Komplikasi vaskuler

pada tempat penusukan merupakan komplikasi yang dapat dihindari, salah

satunya adalah dengan cara melakukan kajian dan analisa terhadap faktor risiko

perdarahan setelah intervensi koroner perkutan (Sameer dkk, 2009).
5

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain

studi cross-sectional. Dimana peneliti melakukan identifikasi serta pengukuran

variabel dan mencari hubungan antar variabel untuk menerangkan kejadian yang

diamati. Dalam penelitian dilakukan identifikasi dan pengukuran terhadap

variabel indenpenden (Umur, Jenis kelamin, Berat badan, Perokok, hipertensi,

diabetes mellitus, hiperkholesterol, riwayat penggunaan antikoagulan) dan

variabel dependen (hematom femoral).

Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah pasien dengan diagnosa

sindrom koroner akut yang menjalani intervensi koroner perkutan. yang dirawat di

RSHS Bandung pada bulan April sampai dengan bulan Juli 2011

Sampel penelitian dipilih dengan cara non probability sampling:

consecutive sampling, semua subjek yang datang dan memenuhi kriteria

pemilihan dimasukan dalam penelitian sampai jumlah subjek yang diperlukan

terpenuhi yaitu sejumlah 46 responden.

Kriteria pemilihan sampel dengan menentukan kriterian inklusi(pasien

setelah IKP atas indikasi sindrom koroner akut dengan hari perawatan minimal 24

jam, pasien yang telah dilakukan pengangkatan sheat kateter, pasien dilakukan

penekanan mekanik selama 20-30 menit dan setelah itu digunakan tekanan

bantal pasir 1,5 -2 kg selama 6 jam, ukuran sheat yang digunakan 6F - 7F,

kooperatif, kesadaran compos mentis, bersedia mengikuti program perawatan dan

telah melengkapi informed consent) dan ekslusi (keluhan nyeri dada hebat, tidak

bersedia diikutsertakan dalam penelitian)
6

Langkah-langkah penelitian dalam proses pengumpulan data adalah :

sebelum penelitian dilaksanakan peneliti telah dinyatakan lulus ujian UP (Ujian

Proposal) Penelitian, peneliti telah dinyatakan lulus ujian etik dari RS Dr. Hasan

Sadikin Bandung, peneliti mengajukan permohonan izin tertulis (lampiran 1)

kepada RS Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dipilih sebagai tempat penelitian.

Setelah mendapatkan ijin (lampiran 2) dari pihak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung

peneliti mengadakan pertemuan dan kontrak kerja dengan penanggung jawab

ruang dan tenaga perawat di ruang Unit Perawatan Intensif Jantung RS Dr. Hasan

Sadikin Bandung, mengidentifikasi klien sesuai kriteria inklusi dan eksklusi

bekerjasama dengan perawat di Ruang Unit Perawatan Intensif Jantung RS Dr.

Hasan Sadikin Bandung, memperkenalkan diri kepada klien dan menjelaskan

tujuan penelitian, bagi klien dan keluarga yang bersedia berpartisipasi dalam

penelitian maka menandatangani persetujuan (lembar informed concent),

persetujuan dibuat dengan sukarela dan tidak ada sanksi apapun jika subjek

menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian.46 responden yang menjadi subjek

penelitian menyetujui untuk dijadikan responden penelitian. Kemudian membuat

kontrak jadwal ke klien untuk melakukan observasi dengan lembar observasi

Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa univariat, bivariat

dan multivariat. Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan data tentang

distribusi frekuensi dari masing-masing variabel, kemudian data disajikan dalam

bentuk tabel distribusi frekuensi. Analisa dilakukan terhadap; umur, jenis kelamin,

berat badan perokok, penyakit penyerta: diabetes mellitus, hipertensi, kadar

kolesterol, riwayat penggunaan obat obatan antikoagulan sebelum tindakan
7

intervensi koroner perkutan, komplikasi : hematom femoral. Analisa bivariat

dilakukan untuk membuktikan seberapa kuat hubungan faktor risiko terhadap

komplikasi hematom. Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan

antara dua variabel (dependent dan independent). Data variabel independen yaitu

umur, jenis kelamin, berat badan, perokok, hipertensi, DM, Hiperkholesterol,

riwayat penggunaan obat antikoagulan dengan variabel dependen yaitu

komplikasi hematom femoral, maka untuk membuktikan adanya hubungan dan

menguji hipotesa digunakan uji Chi Square. Proses uji Chi Square dilakukan

dengan membandingkan frekuensi yang diamati (observasi) dengan frekuensi

harapan (ekspekstasi), jika sama, maka tidak ada perbedaan yang bermakna

(signifikan). Sebaliknya jika nilai observasi dan nilai frekuensi harapan tidak

sama, maka dapat dikatakan ada hubungan yang bermakna (signifikan). Untuk

mempermudah analisis Chi Square, nilai data kedua variabel akan disajikan dalam

tabel silang 2 X 2. Dalam penelitian ini untuk mengukur faktor risiko yang

berpangaruh terhadap tingkat komplikasi vaskuler pasien setelah IKP digunakan

pendekatan regresi logistik binomial. Analisis regresi logistik binomial

merupakan salah satu metode statistik yang menggambarkan hubungan antara

suatu variable respon (Y) dengan lebih dari satu variable prediktor (X) dengan

satu katagori variabel respon dan skala pengukuran bersifat tingkatan yaitu model

regresi binomial (Hosmer dan Lemeshow, 2000).
8

HASIL PENELITIAN

Responden berjumlah 46 pasien yang menjalan intervensi koroner

perkutan dan dirawat di ruang CICU RSHS Bandung.

Hasil analisis univariat dapat dilihat pada tabel 1 sampai dengan tabel 4

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan
Umur Dan Berat Badan

No. Karakteristik Mean SD Min- Frekuensi Prosentase
Max
1. Umur 60.28 9.99 42-87
=>70 thn 6 13,0%
<70 thn 40 87,0%
2. Berat Badan (BMI) 25,74 3,62 19-36
Gangguan stattus 32 69,6%
nutrisi
Tidak gangguan 14 30,4%
status nutrisi

Dari tabel 4.1 menggambarkan karakteristik klien setelah IKP,

berdasarkan kelompok umur, rata rata umur pasien yang diteliti 60,28+9,99 tahun,

dengan umur termuda 42 tahun dan umur tertua 87 tahun, sebagian besar pasien

berada pada kelompok umur <70 tahun (73,9%), hanya (13,0%) atau 6 pasien

dari total 46 pasien yang diteliti berada pada kelompok umur =>70 tahun.

Berdasarkan berat badan, rata rata berat badan pasien yang diteliti 63 kg dengan

rata rata BMI 25,74+3,62, dengan berat badan terkecil 50 kg dan berat badan

terbesar 80 kg, sebagian besar pasien mengalami status nutrisi yang terganggu

(69,9%).
9

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin,
Perokok, Hipertensi, Hiperkholesterol, DM Dan Riwayat Penggunaan Obat
Antikoagulan
No. Karakteristik Frekuensi Prosentase
1. Jenis Kelamin
Laki laki 34 73,9%
Perempuan 12 26,1%
2. Merokok
Ya 10 21,7%
Tidak 36 78,3%

No. Karakteristik Frekuensi Prosentase
3. Hipertensi
Ya 14 30,4%
Tidak 32 69,6%
4. Hiperkholesterol
Ya 12 26,1%
Tidak 34 73,9%
5. DM
Ya 6 13,0%
Tidak 40 87,0%
6. Antikoagulan
Ya 16 34,8%
Tidak 30 65,2%

Dari tabel 4.2 menggambarkan karakteristik klien setelah IKP berdasarkan

jenis kelamin sebagian besar pasien berjenis kelamin laki laki (73,9%). Sebagian

kecil pasien (21,7% atau 10 pasien) adalah perokok. Menurut klasifikasi tekanan

darah pasien, 30,4% pasien mengalami hipertensi. Sebagian besar pasien tidak

memiliki penyakit DM (87,0%) dan sebagian besar tidak mempunyai riwayat

penggunaan obat antikoagulan sebelum tindakan IKP (65,2%).

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian Berdasarkan Kejadian Komplikasi
Hematom Femoral Setelah Intervensi Koroner Perkutan
Variabel Hematom Femoral Frekuensi Prosentase
Tidak Normal (2 cm-4cm) 6 13,0%
Normal (tidak ada hematom dan 40 87,0%
hematom kecil)
Total 46 100%
10

Dari tabel 4.3 tergambar bahwa dari 46 pasien yang diteliti sebagian

besar pasien tidak mengalami hematom yaitu sebesar 87,0%, dan hanya 6 pasien

atau 13,0% pasien mengalami hematom tidak normal dengan panjang diameter

hematom antara 2 – 4 cm.

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Subjek Penelitian Yang Mengalami

Hematom Femoral Tidak Normal (Diameter Hematom 2-4 cm)

Setelah Intervensi Koroner Perkutan
No. Karakteristik Frekuensi Prosentase
1. Umur
=>70 thn 0 0,00%
<70 thn 6 100/%
2. Berat Badan (BMI)
Gangguan status nutrisi 6 100%
Tidak gangguan status nutrisi 0 0,00%
3. Jenis Kelamin
Laki laki 5 83,0%
Perempuan 1 1,70%
5. Merokok
Ya 5 83,0%
Tidak 1 1,70%
6. Hipertensi
Ya 3 50,0%
Tidak 3 50,0%
7. Hiperkholesterol
Ya 2 33,0%
Tidak 4 67,0%
8. DM
Ya 2 33,0%
Tidak 4 67,0%
9. Antikoagulan
Ya 3 50,0%
Tidak 3 50,0%

Dari tabel 4.4 tergambar bahwa karakteristik pasien yang mengalami

hematom tidak normal terjadi pada semua pasien yang berada pada rentang umur

dibawah atau sama dengan 70 tahun dan pada semua pasien yang mengalami

status gangguan nutrisi., hematom tidak normal juga terjadi pada sebagian besar

pasien berjenis kelamin laki-laki dan perokok yaitu sebesar 83,0% . pada pasien
11

hipertensi atau tidan hipertensi dan pada pasien tanpa adanya riwayat penggunaan

obat antikoagulan sama-sama mengalami hematom tidak normal yaitu sebesar

masing-masing 50,0%, namun pada hematom tidak normal juga terjadi pada

sebagian besar pasien tanpa hiperkholesterol dan pasien tanpa DM yaitu sebesar

67,0%.

Hasil analisis bivariat dapat dilihat pada tabel 5 sampai dengan tabel 12

Tabel 5 Hubungan Umur dengan Komplikasi Hematom Femoral Setelah
Intervensi Koroner Perkutan
Kejadian Hematom Total P. Value
Tidak Normal
Normal
Umur =>70 th 0 6 6
0,0% 100% 100,0%
0,579
<70 th 6 34 40
15,0% 85,0% 100,0%
Total 6 40 46
13,0% 87,0% 100,0%

Dari hasil uji hubungan diperoleh nilai p=0,579 ( >0,05) artinya tidak

signifikan, H0 diterima, tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan

kejadian hematom femoral pada taraf kesalahan 5%.

Tabel 6 Hubungan Jenis Kelamin Dengan Komplikasi Hematom Femoral Setelah
Intervensi Koroner Perkutan
Kejadian Hematom Total P. Value
Tidak Normal
Normal
JenisKelamin Laki laki 5 29 34
14,7% 85,3% 100,0%
0,100
Perempuan 1 11 12
8,3% 91,7% 100,0%
Total 6 40 46
13,0% 87,0% 100,0%
12

Tabel 4.6 memberikan gambaran bahwa hematom terjadi sejumlah 14,7%

atau 5 pasien dari 34 total pasien laki laki yang diteliti dan 8,3% atau 1 dari 12

total pasien perempuan yang diteliti. Dari hasil uji hubungan diperoleh nilai

p=0,100 ( >0,05) artinya tidak signifikan, H0 diterima, tidak ada hubungan yang

signifikan antara umur dengan kejadian hematom femoral pada taraf kesalahan

5%.

Tabel 7 Hubungan Berat Badan Dengan Komplikasi Hematom Femoral Setelah
Intervensi Koroner Perkutan

Kejadian Hematom Total P. Value
Tidak Normal
Normal
BB Gangguan Nutrisi 6 26 32
18,8% 81,3% 100,0%
0,157
Tidak Gg. Nutrisi 0 14 14
0,00% 100,0% 100,0%
Total 6 40 46
13,0% 87,0% 100,0%

Hasil analisis statistik menunjukan hasil nilai p=0,157 ( >0,05),

Cmaks=0,0222, artinya hasil uji hipotesis menunjukkan hubungan yang tidak

signifikan dan dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara berat

badan dan kejadian hematom femoral.

Tabel 8 Hubungan Perokok Dengan Komplikasi Hematom Femoral Setelah
Intervensi Koroner Perkutan

Kejadian Hematom Total OR P. Value
Tidak Normal 95%
Normal
Ya 5 5 10
50,0% 50,0% 100,0%
Perokok 35,000 0,001
Tidak 1 35 36
2,8% 97,2% 100,0%
Total 6 40 46
13,0% 87,0% 100,0%
13

Hasil analisis hubungan menunjukan nilai p=0,001 ( <0,05), OR=35,000,

nilai C maks= 0,709 maka dapat disimpulkan, ada hubungan yang bermakna

antara kebiasaan merokok dengan kejadian hematom femoral tidak normal pada

pasien setelah intervensi koroner perkutan dengan risiko hematom femoral tidak

normal pada perokok 35 kali dari bukan perokok. Keeratan hubungan ini

tergolong cukup kuat.

Tabel 9 Hubungan Hipertensi Dengan Komplikasi Hematom Femoral Setelah
Intervensi Koroner Perkutan

Kejadian Hematom Total P. Value
Normal Sedang
Ya 3 11 14
21,4% 78,6% 100,0%
Hipertensi 0,35
Tidak 3 29 32
9,4% 90,6% 100,0%
Total 6 40 46
13,0% 87,0% 100,0%
Hasil uji hubungan menunjukan hasil nilai p=0,35, tidak signifikan, maka

dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara hipertensi

dengan kejadian hematom femoral setelah Intervensi Koronary Perkutan.

Tabel 10 Hubungan Hiperkholesterol Dengan Komplikasi Hematom Femoral
Setelah Intervensi Koroner Perkutan

Kejadian Hematom Total P. Value
Tidak Normal
Normal
Ya 2 10 12
16,7% 83,3% 100,0%
Hiperkholesterol 0,064
Tidak 4 30 34
11,8% 88,2% 100,0%
Total 6 40 46
13,0% 87,0% 100,0%
14

Berdasarkan analisis hubungan antara hiperkholesterol dengan kejadian

hematom femoral setelah IKP didapatkan hasil: Nilai p=0,064 ( >0,05), tidak

signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna

antara hiperkholesterol dengan kejadian hematom femoral pada pasien setelah

Intervensi Koroner Perkutan.

Tabel 11 Hubungan DM Dengan Komplikasi Hematom Femoral Setelah
Intervensi Koroner Perkutan

Kejadian Hematom Total P. Value
Tidak Normal
Normal
Ya 2 4 6
33,3% 66,7% 100,0%
DM 0,169
Tidak 4 36 40
10,0% 90,0% 100,0%
Total 6 40 46
13,0% 87,0% 100,0%
Hasil analisis hubungan didapatkan hasil nilai p=0,169 ( >0,05), tidak

signifikan, maka kesimpulannya adalah tidak ada hubungan yang bermakna

antara DM dengan hematom femoral setelah Intervensi Koroner Perkutan.

Tabel 12 Hubungan Penggunaan Obat Antikoagulan Dengan Komplikasi Hematom
Femoral Setelah Intervensi Koroner Kerkutan

Kejadian Hematom Total P. Value
Tidak Normal
Normal
Penggunaan Ya 3 13 16
Antikoagulan 18,8% 81,3% 100,0%
0,405
Tidak 3 27 30
10,0% 90,0% 100,0%
Total 6 40 46
13,0% 87,0% 100,0%
15

Hasil analisis statistik menunjukan hasil nilai p=0,405, tidak ada

hubungan yang bermakna antara penggunaan antikoagulan dengan kejadian

hematom femoral pada pasien setelah IKP.

Dari keseluruhan hasil analisis bivariat hanya karakteristik perokok yang

mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian hematom femoral pada

pasien setelah intervensi koroner perkutan dengan nilai p=0,001 ( <0,05) dan

tingkat keeratanan hubungan tergolong kuat. Risiko hematom pasien perokok 35

kali dari pasien bukan perokok.

Hasil analisis multivariat dapat dilihat pada tabel 13

Tabel 13 Pemodelan Multivariat Faktor Risiko Hematom Setelah Intervensi Koroner

Perkutan

Tahapan Faktor Risiko B Wald p-Value
Ke-1 Umur -21,156 0,000 0,999
Jenis kelamin -18,390 0,000 0,998
Berat badan 20,768 0,000 0,998
Kebiasaan merokok 21,840 0,000 0,998
Kholesterol -0,183 0,007 0,934
Hipertensi 0,868 0,131 0,717
Diiabetes mellitus -0,195 0,009 0,26
Penggunaan antikoagulan -0,40 0,000 0,985
Ke-2 Jenis kelamin -18,067 0,000 0,998
Berat badan 20,350 0,000 0,998
Kebiasaan merokok 20,898 0,000 0,998
Kholesterol -417 0,035 0,852
Hipertensi 1,068 0,245 0,621
Diiabetes mellitus 0,452 0,65 0,800
Penggunaan antikoagulan 0,452 0,52 0,820
Ke-3 Jenis kelamin -18,578 0,000 0,998
Kebiasaan merokok 21,937 0,000 0,998
Kholesterol 0,526 0,091 0,763
Hipertensi -,0593 0,117 0,732
Diiabetes mellitus -0,545 0,103 0,749
Penggunaan antikoagulan 1.690 0.815 0,367
Ke-4 Kebiasaan merokok 4,388 7,749 0,005
Kholesterol 0,094 0,002 0,961
Hipertensi -0,735 0,161 0,688
Diiabetes mellitus -0,278 0,022 0,883
Penggunaan antikoagulan 2,086 1,021 0,312
16

Lanjutan Tabel 4.13
Tahapan Faktor Risiko B Wald p-Value
Ke-5 Kebiasaan merokok 4,383 7,771 0,005
Hipertensi -0,755 0,181 0,671
Diiabetes mellitus -0,249 0,020 0,889
Penggunaan antikoagulan 2,150 1,804 0,179
Ke-6 Kebiasaan merokok 4,341 7,864 0,005
Hipertensi -0,901 0,393 0,531
Penggunaan antikoagulan 2,158 1,860 0,173
Ke-7 Kebiasaan merokok 3,969 8,476 0,004
Penggunaan antikoagulan 1,591 1,538 0,215
Ke-8 Kebiasaan merokok 3,555 8,848 0,003

Kesimpulan dari analisis multivariat:

Dari tahapan seleksi kandidat tidak ada variabel yang memnuhi syarat

pemodelan multivariat pada uji serentak tahap pertama karena nilai p>0,05, meskipun

demikian karena alasan subtansi variabel sangat penting maka semua variabel

dimasukan dalam tahapan pemodelan multivariat. Nilai p yang paling besar secara

bertahap dibuang mulai dari variabel umur, berat badan, jenis kelamin, kholesterol,,

diabetes mellitus dan antikoagulan. Dan setelah dilakukan analisis regresi logistik hanya

1 variabel yaitu perokok secara signifikan berhubungan dengan kejadian hematom

setelah intervensi koroner perkutan dengan nilai Wald=8,848 dengan probabilitas
2
kesalahan atau p-value (sig)=0,003, Wald > ( tabel=3,841) pada taraf signifikansi

=0,05 dan derajat bebas df=1 atau p-value=0,003 < ( =0,05): signifikan, maka dapat

disimpulkan bahwa perokok secara signifikan berhubungan dengan kejadian hematom

femoral pada taraf kesalahan 5%. Arah hubungan positif, artinya merokok mempunyai

peluang kejadian hematom femoral yang lebih besar dari pada pasien yang bukan

perokok.
17

PEMBAHASAN

Umur

Hasil analisis univariat sebagian besar pasien berada pada kelompok umur

<70 tahun yaitu sebesar 87%, hanya 13% pasien atau 6 pasien dari 46 total pasien

yang diteliti berada pada kleompok umur=>70 tahun dengan rata rata umur pasien

60+9,9 tahun dengan umur termuda 42 tahun dan umur tertua 87 tahun.

Karakteristik rata rata umur subjek penelitian ini, berbeda atau lebih rendah

dengan rata rata umur responden penelitian Farouqe (2005) yaitu 66+13. Rata rata

ini juga lebih rendah dari rata rata umur responden penelitian Brueck, Bandorski,

Kramer dkk., (2009) dimana rata rata umurnya adalah 68,4+10,4 dengan akses

transradial dan 69,6+10,6 tahun dengan akses transfemoral.

Perbedaan rata rata umur responden atau lebih rendah antara peneitian ini

dengan rata rata umur responden lain menyimpulkan bahwa SKA di Indonesia

terjadi pada usia relatif lebih muda dan SKA merupakan indikasi dilakukan

intervensi koroner perkutan.

Kejadian hematom setelah IKP pada penelitian ini sebesar 13% atau 6

pasien dari 46 total pasien yang diteliti dan semuanya berada pada rentang usia

<70 tahun. Hasil uji hubungan bivariat antara umur dengan kejadian hematom

femoral setelah IKP menunjukan tidak ada hubungan yang bermakna dengan nilai

p=0,579. Hasil analisis multivariat setelah dilakukan pengujian baik serentak

mapun partial menunjukan hubungan yang tidak signifikan.

Menurut Brendan, (2008) umur diatas 70 tahun merupakan risiko terjadi

komplikasi hematom dan penelitian tentang validasi dan pengembangan faktor
18

risiko prognosis untuk perdarahan mayor yang menunjukan bahwa ada peluang

1,7% terjadi komplikasi perdarahan vaskuler termasuk hematom setelah

kateterisasi jantung pada pasien berumur >80 tahun. Faktor umur (umur tua=umur

>80 tahun) merupakan faktor risiko tejadinya komplikasi hematom pada pasien

setelah intervensi koroner perkutan, umur mempengaruhi kondisi pembuluh

darah, pembuluh darah akan mengalami kalsifikasi (pengerasan dan kekakuan)

serta penurunan elastisitas dinding seiring dengan penambahan usia.

Jenis Kelamin

Responden penelitian ini mayoritas laki-laki, yaitu 34 pasien (73,9%).

Karakteristik responden sama dengan karakteristik responden penelitian Brendan,

(2008) yaitu 72% pada tahun 1995-1995, 70% pada tahun 1996-1999, 70% pada

tahun 2000-2005.

Pada penelitian ini, kejadian hematom femoral berjumlah 6 pasien; 14,7%

atau 5 pasien dari 34 total pasien laki-laki dan 8,3% atau 1 pasien dari 12 total

pasien pada perempuan. hasil uji statistis penelitian ini menunjukan risiko

hematom femoral tidak normal pada laki-laki 1,897 kali dari perempuan,

diperoleh nilai Cmaks 0,117 artinya keeratan hubungan ini tergolong rendah dan

Hasil uji hubungan diperoleh nilai p=0,100 ( >0,05); tidak signifikan,

kesimpulannya tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan

kejadian hematom pada pasien setelah itervensi koroner perkutan.

Perbedaan peluang kejadian hematom femoral pada laki-laki antara

penelitian ini dengan penelitian lain, kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik

lain seperti usia. Wanita mengalami kejadian infark miokard pertama kali 9 tahun
19

lebih lama daripada laki-laki. Perbedaan onset infark miokard pertama ini

diperkirakan dari berbagai faktor risiko tinggi yang mulai muncul pada wanita

dan laki-laki ketika berusia muda. Wanita agaknya relatif kebal terhadap penyakit

ini sampai menopause, dan kemudian menjadi sama rentannya seperti pria. Hal ini

diduga karena adanya efek perlindungan estrogen (Santoso & Setiawan, 2005).

Melihat karakteristik responden penelitian ini mayoritas laki-laki, rata rata usia

60,28+9,99, pada rentang umur termuda 42 tahun dan umur tertua 87 tahun hal ini

yang mungkin membuat kecenderungan peluang hematom berdasarkan jenis

kelamin berbeda dengan penelitian lain sebagaimana hasil penelitian Ahmed,

(2008) pada rentang usia 60-70tahun kejadian hematom baik pada laki laki dan

perempuan relatif sama, tetapi pada rentang umur <50 tahun kejadian komplikasi

hematom 2x lipat lebih tinggi terjadi pada laki laki dibanding perempuan, atau

kemungkinan karena pola perilaku perempuan lebih mendukung peningkatan

kesehatan yaitu perempuan dalam masyarakat Indonesia lebih banyak tidak

merokok, faktor ini yang memungkikan atau mendukung kecenderungan terjadi

perbedaan arah hubungan antara penelitian ini dengan penelitian lain.

Berat Badan

Mayoritas responden penelitian ini memiliki berat badan obesitas dengan

rata rata BMI=25,74+3,62 dimana berat badan terendah 50 kg dan berat badan

terbesar 80 kg. Karakteristik berat badan responden ini sama dengan karakteristik

berat badan responden penelitian Faraouque, Tremel dan Shabari, (2005),

menyimpulkan bahwa rata rata respondennya memiliki berat badan lebih dengan

rata rata BMI kelompok kasus 16,8+6,4 dan BMI kelompok kontrol 28+5,6 .
20

Karakteristik berat badan responden penelitian ini dan karakteristik berat badan

penelitian lain, dapat memberikan suatu kesimpulan bahwa intervensi koroner

perkutan mayoritas dilakukan pada orang-orang yang memiliki berat badan lebih

atau orang yang mengalami obesitas.

Semua kejadian hematom femoral tidak normal pada penelitian ini terjadi

pada pasien dengan berat badan berlebih atau obesitas 18,8% atau 6 pasien dari

32 total pasien dengan berat badan gangguan status nutrisi, hasil analisis bivariat

diperoleh nilai p=0,157 > ( =0,05) artinya tidak signifikan, dan hasil analisis

multivariat diperoleh nilai p=0,998> ( =0,05) tidak signifikan artinya berat badan

tidak berhubungan secara parsial dengan kejadian hematom femoral pada taraf

kesalahan 5%. Arah hubungan berat badan dengan kejadian hematom femoral

adalah positif, artinya berat badan gangguan status nutrisi mempunyai peluang

kejadian hematom femoral yang lebih tinggi daripada berat badan tidak gangguan

status nutrisi, walaupun demikian, kecenderungan tidak signifikan. Berat badan

diduga sebagai prediktor kejadian hematom femoral, bukan pencetus kejadian

hematom femoral tetapi kondisi berat badan yang berlebih dapat menjadi

penyulit tindakan akses vaskuler, kesulitan mencari akses arteri sehingga

penusukan arteri lebih satu kali mungkin terjadi sehingga meningkatkan risiko

kerusakan pembuluh darah dan area sekitar tempat penusukan sehingga

kemungkinan terjadi hematom.

Perokok

Penelitian tentang hubungan perokok dengan kejadian hematom

sebelumnya belum didapatkan, tetapi perokok termasuk faktor risiko untuk terjadi
21

komplikasi vaskuler dan diduga sebagai prediktor terjadinya perdarahan femoral

setelah IKP.

Hasil penelitian ini memberikan gambaran terdapat 10 pasien dari total

46 pasien yang diteliti adalah perokok dan dari 10 pasien perokok, 5 pasien

mengalami hematom tidak normal dari 6 yang mengalami hematom tidak normal

5 pasien adalah perokok, Hasil analisis menunjukan P value 0.001< 0.05,

OR=35,000, Cmaks=0,707 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara

kebiasaan merokok dengan kejadian hematom setelah intervensi koroner

perkutan. Risiko hematom femoral tidak normal pada perokok 35 kali dari bukan

perokok dan keeratan hubungan tergolong kuat.

Tingkat signifikansi dan keeratan hubungan yang tergolong kuat antara

perokok dengan kejadian hematom setelah IKP, harus menjadi perhatian dalam

penatalaksanaan pasien dalam rangka pencegahan terjadinya komplikasi vaskuler

femoral setelah IKP. Data tentang perbedaan kejadian hematom pada perokok dan

bukan perokok mungkin diperlukan, sehingga alasan pasien harus bed rest dengan

elevasi kepala 15 derajat dan kaki tempat punksi kateter tetap lurus selama 6 jam

pada pasien perokok dapat dipertimbangkan.

Hasil penelitian ini didukung oleh teori bahwa nikotin dalam rokok dapat

mempercepat proses penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah. Sel tubuh

yang kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan asupan oksigen melalui

kompensasi pembuluh darah dimana pembuluh darah akan menciut atau spasme.

Bila proses spasme berlangsung lama dan terus menerus maka pembuluh darah

akan mudah rusak, penyempitan pembuluh darah akan terjadi dimana-mana,
22

termasuk di otak, di paru-paru, di ginjal. Di kaki, disaluran peranakan, diari-ari

pada wanita (Smeltzer & Bare, 2002)

Diabetes Mellitus

Hasil penelitian Jorik dkk, (2007) menunjukan bahwa setelah 30 hari

tindakan intervensi koroner perkutan 6.3% pasien meninggal, presentase lebih

tinggi pada pasien dengan diabetes mellitus dibanding dengan pasien tanpa

diabetes mellitus (9,4% vs 5,9%). Faktor risiko komplikasi perdarahan vaskuler

yang terjadi pada pasien DM 15,4% dibandingkan dengan non DM 5,8% pada

pasien dengan balon angioplasti (AHA, 2010).

Jumlah pasien dengan DM pada penelitian ini berjumlah 6 pasien dari 46

total pasien yang diteliti dan 33,3% atau 2 pasien dari 6 total pasien DM

mengalami hematoma tidak normal, dan 10% atau 4 pasien dari 40 total pasien

tidak DM mengalami hematom tidak normal. Hasil analisis diperoleh nilai

p=0,169, OR=4,500 dan Cmaks=0,233, artinya tidak membuktikan adanya

hubungan yang signifikan antara DM dengan kejadian hematom setelah IKP,

risiko hematom tidak normal pada pasien DM 4,5 kali dari pasien tidak DM,

keeratan hubungan ini tergolong rendah dan tidak signifikan.

Hipertensi

Penelitian tentang hubungan hipertensi dengan kejadian hematom atau

komplikasi vaskular belum dapat ditemukan, tetapi data survei Ahmed dkk,

menunjukan frekuensi kejadian komplikasi vaskuler pada pasien hipertensi 70,1%

dan frekuensi kejadian komplikasi vaskuler pada pasien tidak hipertensi 29,1%.

Dalam penelitian ini didapatkan hasil 14 (30,4%) pasien dari 46 total pasien
23

mengalami hipertensi, 3 pasien dari 14 pasien yang yang hipertensi mengalami

hematom tidak normal, hasil perhitungan tabel silang menunjukan tidak ada

hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian hematom femoral.

Pasien dengan riwayat hipertensi dan akan dilakukan IKP dikonrol dengan obat

antihipertensi sehingga tekanan darah relatif stabil pada rentang normal tetapi

kondisi hipertensi pasca intervensi invasif kadang tidak mudah mudah diprediksi

dan tingkat kemaknaan hubungan dalam penelitian ini menunjukan pasien yang

hipertensi mempunyai peluang yang lebih tinggi untuk terjadi hematom tidak

normal dibandingkan dengan pasien yang tidak hipertensi, jadi kondisi hipertensi

tetap harus menjadi perhatian observasi pasien setelah IKP.

Hiperkholesterol

Komplikasi hematom femoral pada penelitian terjadi pada pasien

hiperkhlesterol sebesar 16,7% atau 2 dari 12 total pasien hiperkholesterol dan

11,8% atau 4 pasien dari 34 total pasien tidak hiperkholesterol. Hasil analisis

statistik diperoleh nilai p=0,644 > ( =0,05), OR=1,500 dan nilai Cmaks=0,09

artinya dengan nilai p>0,05 tidak signifikan, risiko hematom femoral tidak normal

pada pasien hiperkholesterol 1,500 kali dari pasien tidak hiperkholesterol dan

keeratan hubungan tergolong sangat rendah, maka dapat disimpulkan bahwa tidak

ada hubungan yang signifikan antara hiperkholesterol dengan kejadian hematom

femoral setelah IKP. Hiperkholesterol merupakan faktor risiko SKA karena

hiperkholesterol menyebabkan atherosklerosis dan pembuluh darah menjadi

mudah rapuh hal ini kemungkinan meningkatkan risiko komplikasi vaskuler

mayor seperti diseksi arteri koronaria tetapi hubungannya dengan komplikasi
24

vaskuler minor seperti hematom tidak menunjukan hubungan, sehingga

hiperkholesterol tidak tepat dijadikan alasan mengintruksikan pasien untuk

imobilisasi dengan posisi terlentang dan kaki tempat punksi kateter harus tetap

lurus selama 6 jam.

Riwayat obat antikoagulan

Semua antikoagulan dikaitkan dengan peningkatan risiko komplikasi

perdarahan, terkait dengan tindakan intervensi koroner perkutan, Move Cohen

melaporkan hasil analisisnya bahwa pasien yang menjalani Intervensi Koroner

Perkutan dengan penggunaan antiplatelet sebelum dan selama prosedur intervensi

koroner perkutan, mengalami perdarahan femoralis (hematom besar, perdarahan

femoral dan hematom retroperitoneal), penggunaan antikoagulan jangka panjang

juga diduga sebagai prediktor kuat mortalitas 30 hari setelah intervensi koroner

perkutan (Cohen, 2009). kejadian perdarahan besar setelah intervensi koroner

perkutan terjadi peningkatan 1,7 kali lipat terjadi perdarahan pada terapi aspirin

dibandingkan dengan placebo (Cohen, 2009).

Mayoritas responden penelitian ini selama prosedur menggunakan terapi

antikoagulan (heparin 500-700 ui). Dosisi ini tidak absolut, melainkan

dipengaruhi oleh kondisi pasien dan kebutuhan terapi antikoagulan klien,

sementara tindakan angiografi koroner dengan tujuan diagnostik tidak

menggunakan terapi antikoagulan. Penggunaan terapi antikoagulan pada

responden penelitian ini sama dengan penggunaan terapi antikoagulan pada

responden penelitian Cohen, (2009) dimana kelompok intervensi mendapatkan

5000 ui dan kelompok kontrol mendapatkan terapi heparin 1000 ui bolus sebelum
25

tindakan PTCA. Yang menjadi fokus penggunaan antikoagulan pada penelitian

adalah penggunaaan antikoagulan jangka panjang sebelum tindakan IKP.

Responden penelitian ini sebagian besar tidak mempunyai riwayat

penggunaan antikoaguan sebelum tindakan IKP (65,2%). Kejadian hematom pada

pasien dengan riwayat penggunaan antikoagulan sebelum IKP sebesar 18,8% atau

3 pasien dari 16 total pasien dengan riwayat obat anti koagulan sebelum IKP.

Hematom juga terjadi pada pasien yang tidak mempunyai riwayat penggunaan

obat antikoagulan sebelum IKP yaitu 10,0% atau 3 pasien dari 30 total pasien

tanpa riwayat penggunaan obat antikoagulan sebelum IKP.

Hasil analisis diperoleh hasil bivariat nilai p=0,405, multivariat 0,985

artinya tidak hubungan yang signifikan antara penggunaan obat antikoagulan

sebelum IKP dengan kejadian hematom setelah IKP.

Sebagian besar pasien pada penelitian ini tidak mempunyai riwayat

penggunaan obat antikoagulan sebelum tindakan IKP dan sebagian besar pula

mengaku tidak punya riwayat penyakit jantung tetapi tiba tiba pasien mengalami

sakit dada dan dinyatakan penyakit jantung koroner dan harus di kateterisasi

jantung. Kejadian keluhan yang progresif sejalan dengan perubahan patologis

yang terjadi pada arteri koroner. ilson, 2006).

Beberapa penelitian telah mengindikasikan karakteristik pasien yang

mungkin dapat mempengaruhi terhadap kejadian hematom, termasuk peningkatan

umur, jenis kelamin, berat badan, hipertensi, DM, hiperkholesterol dan

penggunaan obat antikoagulan yang lama. Hal-hal yang mungkin menyebabkan

sebagian besar karakteristik tidak berhubungan secara bermakna adalah sebaran
26

karakteristik responden yang berbeda dengan penelitian lain. Dengan karakteristik

rata-rata umu 60 tahun dan sebagian besar responden berada pada rentang umur

<70 tahun, membuat jumlah responden dengan umur risiko komplikasi vaskuler

tidak berimbang.

Responden sebagian besar obesitas, tetapi mayoritas laki-laki dan sebagian

besar tidak hiperkholesterol, tidak hipertensi dan tidak DM. Secara fisiologis laki-

laki kandungan tubuhnya sebagian besar adalah otot bukan lemak dan kesempatan

membakar lemak lebih tinggi, kecenderungan hiperkholesterol lebih rendah

dibanding perempuan. Kejadian SKA dapat terjadi secara progresif dan tiba-tiba,

sehingga sebagian besar responden tidak memiliki riwayat penggunaan obat

antikoagulan jangka panjang hal ini dapat menyebabkan kelemahan dalam analisis

sehingga hubungan riwayat penggunaan obat antikoagulan jangka panjang dengan

kejadia n hematom femoral setelah IKP menjadi tidak bermakna

Kejadian hematom tidak normal dengan diameter hematom 2-4 cm terjadi

pada enam pasien dan hasil analisis hanya karakteristik perokok yang mempunyai

hubungan yang signifikan dengan kejadian hematom femoral seteleh intervensi

koroner perkutan. Enam pasien yang mengalami hematom tidak normal

semuanya mempunyai karakteristik status nutirisi tidak normal (obesitas) hal ini

menunjukan bahwa obesitas berkontribusi terhadap kejadian hematom, bukan

sebagai pencetus tetapi sebagai faktor penyulit dalam mendapatkan akses arteri

femoralis sehingga pengalaman dan kemampuan kardiolog harus dipertimbangkan

dalam pelaksanaan intervensi koroner perkutan.
27

SIMPULAN DAN SARAN

Dengan analsis logistik ordinal, dari 8 variabel faktor risiko yang diduga

punya hubungan dengan kejadian hematom femoral setelah intervensi koroner

perkutan, satu variabel faktor risiko yang paling dominan mempunyai hubungan

yang signifikan dengan kejadian hematom femoral yaitu perokok dengan (p-

value=0,003) < 0,05) dan Exp(B) 35,000 artinya perokok mempunyai peluang

35 kali lebih besar untuk terjadi hematom dibanding dengan bukan perokok.

Penelitian lebih lanjut tentang faktor risiko komplikasi vaskuler pasca intervensi

koroner perkutan dengan melibatkan faktor ekternal seperti prosedur dan

karakteristik kardiolog dan jumlah sampel yang lebih besar perlu dilakukan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Civitas Akademika Fakultas

Keperawatan Universitas Padjadjaran dan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung

yang telah memberikan kontribusi dalam penelitian ini.
28

DAFTAR PUSTAKA

Agostoni, P., Biondi-Zoccai, G. G. L., Benedictis, L. d., Rigatierri, S., Turri, M.,
Anselmi, M., et al. (2004). Radial versus femoral approach for
percutaneous coronary diagnostic and interventional procedures. American
College of Cardiology, 44 No. 2. (diunduh 12 Januari 2011) dari
http://content.onlinejacc.org//

Ahmed, b., d.piper, e., Malenka, d., verlee, p., robb, j., ryan, t., et al. (2009).
Significantly improved vascular complications among women undergoing
percutaneous coronary intervention: a report from the northen new england
percutaneous coronary intervention registry. american heart
association:2.( diunduh 12 Januari 2011) dari
http://circintervention.ahajournals.org/content/2/5/423.full

Alwi, I. (2006). Infark Miokard Akut dengan elevasi ST. Buku ajar penyakit
dalam edisi keempat. Jilid III. Dalam Sudoyo, Alwi I, Simadibarata M,
Setati S. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI Jakarta Bab
367:1615-1625

Brendan, J. Doyle, Henry, H., Malcolm R, Bell, Ryan J., Verghese et al., (2008).
Major femoral bleeding complication after percutaneous coronary
intervetion: incidence, predictor and impact an log-term survival among
17,901 patient treated at the mayo clinic from 1994 to 2005. J.Am Coll.
cardiol. Intv:doi10.1016/j.jcin.2007.12.006

Coyne Journal, Dixon, S. R., Grines, C. L., & O'Neill, W. W. (201). The year in
intervention cardiology. American College of cardiology, 53.

Cohen. (2009). Expanding the recognition and assesment of bleeding events
associated with antiplatelet therapy in primary care. Mayo Clin Proc.

Durst, R., Lotan, C., Nassar, H., Gostman, M., Mor, E., Varshitzki, B., et al.
(2007). comparison of 4 and 6 French catheter for coronary angiography:
real world modeling. IMAJ. 9:290-293

Elliot M, A. (2004). Guidlines for the Management of Patients with ST-Elevation
Myocardial Infarction. American Journal Nursing.

Farauque, Jennifer, A., Tremmel, Shabari, Meenakshi, fearon, et. al. (2005). Risk
facor for the development of retroperitoenal hematoma after percutaneous
coronary intervention in the era of glycoprotein IIb/IIIa inhibitor and
vascular closure devices. J. Am.Coll. Cardiol. 45;363-368. (diunduh 11
Januari 2011) dari http//content.onlinejacc.org/cgi/content/full/453/3/363
29

Gatt, V., Borg, M., Agius, J., & Xuereb, R. G. (2009). Nurse management with 1
hour ambulation post 4 french cardiac catheterization is safe and cost
effective. Journal. Retrieved from http://chatlabdigest.com/articles/Nurse-
Management-With-1-Hour-Ambulation-Post-4-French-Cardiac-chateterization-
Safe-and-Cost

Gruberg, L., Weissman, N. J., Waksman, R., Fuchs, S., Deible, R., Pinnow, E. E.,
et al. (2002). The Impact of Obesity on the Short-Term and Long-Term
Outcomes After Percutaneous Coronary Intervention: the Obesity
Paradox? Journal of the American College of Cardiology, 39(4), 578-584.

Hamel, W.J., (2007) femoral artery closure after cardiac chateterization. Critical
Care Nurse. 29:39-46. (diunduh 24 Februari 2011) dari
http://ccn.aacnjournals.org

Hamon, M. Vascular access site complications after PCI: An update and trans-
radial approach in perspective.

Huber, C. (2009). Safety after cardiac catheterization; minimizing vascular
complications. American journal nursing, 109, no 8.

Carrolyn. M., & Gallo, B. M. (1999). Critical care nursing: A holistic approach
(Allenidekania, B. Susanto, Teresa & Yasmin, Trans. VI ed. Vol. I).
Colorado: EGC.

Hosmer, D.W., & Lemeshor, S., (2010). Applied logistic regreesion. Univ. of
Massachusetts, Amhearst, Mass., USA), The Ohio State Univ., Columbus,
OH, USA)

Isselbacher K., Braundwald E., Wilson J., Fauci A., Kasper D., (2000). Harison
Prinsip prinsipi lmu penyakit dalam (Harison priciples of internal
medicine). Editor bahasa Indonesia: Asdie A. Edisi 13. bagian tujuh.
EGC. Jakarta.

Kinnraid, T., Stabile, R., Mintz, G.S., et al (2003). Incidence, predictors and
prognostic implication of bleeding and blood transfussion following
percutaneous interventions. Am.J Cardiol. 46:930-5
Lins, S., Guffey, S., Vanriper, S., & Rogers, E. k.-. (2006). Decreasing vascular
complications after percutaneous coronary intervention Critical care
nursing(26).

Montalescot, G., Anderson, H.R., Antoniucci, D., Betriu, Boer, Grip, et. al.
(2004). recommendations on percutaneous coronary intervention for the
reperfusion of acutes ST elevation myocardial infarction Hearth. 90:37
30

Nikolsky, E Mehran, R., Dangas G., Fahyl, M., et.al. (2007). Development and
validation of prognostic risk score for major bleeding in patiens
undergoing percutaneous coronary intervention via the femoral approach.
European Hearth Journal . 28:1936-1945. (diunduh 3 Maret 2011) dari
http://eurheartj.oxfordjournal.org

Odom, B.S., (2008). Management of patients after percutaneous coronary
interventions. Critical care nurse. Vol. 28, No. 5. Oktober. (diunduh 17
Januari 2011) dari http://ccn.aacnjournals.org

Price, S.A., & Wilson, L.M. 92006). Patofisiologi: Konsep klinis proses proses
penyakit. (6th Edition). Jakarta:EGC.

Piper, W., Malenka, D., Ryan, T., et. al. (2003). Predicting vascular complications
in percutaneous coronary interventions. American Hearth Journal;
145:1022-1029

Sameer K.M, Andrew D., Frutkin, Jason B., Lindsey, John A.H., Spertus, Sunil
V., et al. (2009). Bleeding in patients undergoing percutaneous coronary
intervention: The developing of a clinical risk algoritm form the national
cardiovascular data registry. Circ cardiac interv .
DOI:10.116?CIRCINTERVENTIONS.108.846741. AHA. 7272
Grennville A Venuue.

Smeltzer, & Bare. (2002). Medical surgical Nursing (A. Waluyo, I. M. Karyasa,
Julia, Kuncara & Y. Asih, Trans. 8 ed. Vol. 1). Philadelphia: Lippincot-
Raven. EGC.

Stewart, S.B. (2001). Hemostasis post arterial femoral sheat removal usina A
vascular sealing device and A mechanical sealing device: A study
determine efficacy. Tesis Departement of nursing California State
University

Sedlacek, M.A., Newsome, J. (2010). Identification of vascular bleeding
complication of cardiac catheterization through development and
implementation of cardiac catheterization risk predictor tool. Dimens
critical care nurse. (29):3:145-152

Sinaga, J. (2009). Perbandingan efektivitas penekanan bantal pasien antara 2, 4,
dan 6 jam terhadap komplikasi pada klien paska kateterisasi
jantung.Thesis Magister Ilmu Keperawatan: Medikal Bedah. Program
Pasca Sarjana. FIK:UI. Jakarta

Sastroasmoro, S., & Ismael, S. (2010). Dasar dasar metodologi penelitian klinis
(edisi ke 3 ed.). Jakarta: Sagung Seto.
31

Santoso, M., & Setiawan, T. (2005). Penyakit jantung Koroner Cermin Dunia
Kedokteran. Diunduh tanggal 2 Februari 2011 dari
http://ojs.lib.unair.ac.id/index.php/CDK/article/view/2860

Sitepu, Nirwana. (194). Analisis Jalur (Path Analisys). Unit Statistika Pasca
Sarjana Unpad. Bandung

Sudoyo, A., Setiyohadi, B. Alwi, I., Simadibarata, M., Setiati, ( 2006). Buku ajar
ilmu penyakit dalam. Edisi ke 4. Jidid 3. Pusat penerbitan departemen ilmu
penyakit dalam FK.UI. Jakarta

Sugiyono. (2009). Statistika untuk penelitian. CV. ALFABETA.

Tillmanns H, Waas W, Voss R, Grempels E, Holschermann H, Haberbosch W,
Waldecker B. Gender differences in the outcome of cardiac interventions.
Herz 2005; 30 (5): 375-389.

Turkish Society of Cardiology. (2007). Nursing care guidelines in percutaneous
coronary intervention.

Wilkins, L. W. The Washington Manual of Medical therapeutics (31st ed.):
Washington University ST. Louis.

Worrall, S., Rakhit & Coghlan. (2009). Ches pain: Primary PCI inttegrated care
pathway. Retrieved. from.