You are on page 1of 33

Teknik Pengolahan limbah cair

Pretreatment
• Pengolahan pendahuluan bertujuan :
mempercepat dan memperlancar proses
pengolahan selanjutnya :
– Pengambilan benda terapung,
– pengambilan benda mengendap ( partikel kecil )

Pengambilan benda terapung
• Menghilangkan zat padat kasar ( besar )
• Melewatkan air limbah melalui para-para(rak)
/saringan kasar atau alat pencacah ( Comminutor)
untuk memotong zat padat tanpa mengambilnya.

serta material organik yang besar dan berat seperti potongan tulang. cangkang. biiji kopi. (bahan-bahan non-biodegradable) • Secara teknis Grit Removal terbetuk dari saluran yang memiliki area yang luas sehingga dapat menurunkan kecepatan alir limbah cair sehingga partikel grit akan mengendap . GRIT REMOVAL • Grit Removal digunakan untuk meyisihkan material anorganik seperti pasir. glass. silt. benih. dsb.

• Berdasarkan letaknya. penempatan tangki ekualisasi ada dua – in-line arrangement (pada saluran utama aliran limbah cair) – off-line arrangement (diluar saluran utama aliran limbah cair) . TANGKI EKUALISASI Tangki Ekualisasi ditujukan : – menyeragamkan laju alir limbah cair yang masuk pada tahapan selanjutnya – dapat dimanfaatkan untuk menyeragamkan jumlah beban yang masuk pada pengolahan (biologi).

Netralisasi • Netralisasi ditujukan untuk menaikkan atau menurunkan nilai pH menjadi netral (pH = 7) dengan menambahkan bahan kimia asam atau basa. • Pencapaian nilai pH sekitar netral dimaksudkan untuk mempermudah proses (biologi) pada tahapan selanjutnya .

OIL TRAP • Adanya senyawa lemak/trigliserida pada limbah cair dapat menghambat proses biologi pada pengolahan kedua (secondary treatment) • Secara teknis lemak diapungkan pada permukaan limbah cair sehingga dapat dipisahkan (scrap) .

FLOATASI (Pengapungan) • Floatasi digunakan untuk memisahkan/ menyisihkan padatan yang ringan dengan mengapungkannya ke permukaan limbah air • Pengapungan padatan dapat dilakukan dengan menggunakan (injeksi) udara kedalam bak/tangki .

SETTLING (SEDIMENTASI) Types of Settling: •Type 1 –Discrete settling •Type 2 –Flocculent settling •Type 3 –Zone settling •Type 4 –Compression settling .

konsentrasi padatan yang sangat tinggi akan memberikan tekanan yang besar . q Compression Settling Pada pengendapan ini. dan selama proses pengendapan terbentuk zona-zona konsentrasi pada level pengendapan. dan selama proses pengendapan bentuk. partikel menempel atau bergabung satu dengan yang lain sehingga selama periode pengendapan terjadi perubahan ukuran dan kecepatan pengendapan q Zone Settling Pada pengendapan ini. ukuran dan densitasnya tidak berubah. partikel selalu dalam posisi individu (antara partilel satu dengan yang lain tidak menggabung). SETTLING (SEDIMENTASI) Tujuan dari sedimentasi adalah untuk memisahkan suspended solid dari air dengan cara pengendapan. proses pengendapan ini dapat diklasifikasikan menjadi: q Discrete Settling Pada pengendapan ini. Berdasarkan sifat padatan yang ada di dalam air. partikel yang tersuspensi membentuk kelompok-kelompok massa. q Flocculent Settling Pada pengendapan ini.

mass (Zone) secondary clarifiers settles as a unit. low solids sand (type 1) concentration. mass and settling rate (type 2) secondary settlers increase with depth Hindered intermediate concentration. particles Flocculent primary and upper flocculate. sludge (type 4) compression causes settling . SETTLING (SEDIMENTASI) Type Description Examples Discrete individual settling. interface at top (type 3) Compression high concentration. structure formed. dilute suspension.

Proses pengendapan I II III IV B B A A B A C C D D D .

Settling Type 1 • Discrete settling – Particles fall Buoyancy independently Drag Jika sebuah padatan berbentuk bola dicelupkan didalam air dan dilepaskan gaya-gaya yang bekerja padanya adalah: 1. gaya apung (bouyant force) = Fb Gravity 3. gaya berat (gravity force) = Fg 2. gaya seret (drag force) = Fd Forces on a particle .

mp = massa partikel dan a = percepatan. . Jika diterapkan hukum Newton pada peristiwa tersebut: gaya berat – gaya apung – gaya seret = gaya percepatan Fg  Fb  Fd  m p .Neraca gaya: Suatu partikel akan mengendap jika gaya beratnya melebihi gaya apung dan gaya seretnya.a dengan.

g Gaya apung (bouyant force): Fb   w .g Gaya seret (drag force): v2 w Fd  C D Ap  w = densitas air 2 p = densitas partikel CD = drag coeficient v2 w = tekanan dinamis 2 Ap = luas proyeksi partikel .V p .V p .g   p . Terminal Settling Velocity Gaya berat (garivity force): Fg  m p .

sehingga: Fg  Fb  Fd  m p . berarti benda bergerak tanpa percepatan atau dengan kata lain kecepatan geraknya tetap (terminal velocity).a  0  p   w V p g  Fd  0  p   w V p g  C D Ap  w  0 v2 2 d 3 d2  p  w  g  CD w v2 0 6 4 2 .: Ap  4 Bila gaya netto sama dengan nol. Untuk partikel berbentuk bola dengan d diameter d2 Maka.

34 = aliran transisi  Re Re   0. Terminal Settling Velocity 4  p   w d v g 3 CD  w Drag Coefficient tergantung Re  24 = aliran laminer (Stokes flow)  Re     24 3 CD   0.5  0.4 = aliran turbulen   .

maka rejim alirannya adalah turbulen Rejim transisi terjadi pada 1> Re >104 (catatan: ada buku yang menuliskan bahwa batas turbulennya bukan 104 tetapi 103)  w vd Re  = bilangan Reynolds  Aliran Laminer (Stokes flow) Besarnya kecepatan pengendapan untuk aliran laminer dapat dihitung dengan memberikan harga drag coefficient = 24/Re 4 (  p   w )d 4 (  p   w )d Re v g = g 3 24 w 3 24  w Re .Jiika. Re < 1. maka rejim alirannya adalah laminer Re > 104.

Terminal Settling Velocity 1 (  p   w )d  wvd v g 18 w  g (  p   w )d v 2 v 18 g (  p   w )d 2 v 18 Aliran Laminer (Stokes flow) .

TurbulenT C D  0.4 4  p   w d    w d v  4g p v g 3 CD  w 1.2  w .

Transisi Need to solve non-linear equation 4  p   w d v  g 2 Perlu CD untuk menghitung v 3 CD  w 24 3 CD   0.5  0.34 Re Re  w vd Perlu v untuk menghitung CD Re   .

Hitung dan check bilangan Reynolds 3. Hitung CD 4  p   w d v g 4. Gunakan rumus umum 3 CD  w 5. Hitung kecepatan dengan menggunakan Stokes law atau aliran turbulent 2. Transisi 1. Ulangi dari langkah 2 hingga convergence .

001 d  0.81 1000  0. Example   0.81 2650  1000 0.00062 v  0.0006 Re   194.0006 Reynolds Number g  9.24 0.3237  0.81 2650  1000 0.3237  p  2650 18  0.34  0.001 CD 24 3 CD    0.1381 3  0.0006  0.001 Stokes law   1000 9.6788 Re Re Settling velocity 4  9.6788 1000 .

9592 1000 .0006 Re   82.1162 3  0.81 2650  1000 0.1381 0.34  0.001 CD 24 3 CD    0.0006  0.Reynolds Number 1000  0.87 0.9592 Re Re Settling velocity 4  9.

001 CD 24 3 CD    0.0006  0.72 0.0.34  1.1114 3 1.Reynolds Number 1000  0.0006 Re   69.81 2650  1000 0.0436 1000 .0436 Re Re Settling velocity 4  9.1162  0.

Settling Dalam Modelyang ideal. partikel yang masuk ke dalam tangki tangki sedimentasi dianggap terdistribusi secara merata sepanjang penampang pemasukan air dan begitu patikel menyentuh dasar tangki langsung dikeluarkan. Qin V VS Qout h Vs = settling velocity of the partilce V = horizontal velocity of liquid flow h = kedalaman efektif tangki (H setelah dikurangi tebal lapisan sludge) .

adalah overflow rate . adalah critical settling velocity critical settling velocity adalah settling velocity partikel yang (nyaris) 100% terambil dalam bak pengendap • V0 yang dinyatakan dalam satuan debit persatuan luas. misal gal/detik.Critical Settling Velocity dan Overflow Rate Settling velocity dari partikel yang mengendap sepanjang jarak yang sama dengan kedalaman efektif tangki selama periode penahanan teoritis (waktu tinggal teoritis) dapat dianggap sebagai laju overflow: V0 = h / t = Q / A dimana: A = luas penampang settling basin Q = debit t = waktu tinggal • V0 yang dinatakan dalam satuan kecepatan.ft2. misal ft/detik.

maka jika kita ingin memisahkan partikel yang lebih kecil kita harus mengurangi overflow rate.Grafik lintasan partikel yang mempunyai settling velocity V0 Karena partikel yang lebih kecil akan mempunyai settling velocities yang lebih rendah. maka untuk memperoleh V0 yang lebih kecil kita harus mempunyai settling basin yang lebih luas Vs = settling velocity partikel Vl = kecepatan horizontal aliran cairan h = kedalaman efektif tangki (kedalaman setelah dikurangi tebal lapisan sludge) . V0 = Q/A.

Semua partikel yang mempunya settling velocity > Vo akan terambil semua. sedangkan partikel dengan settling velocity < Vo akan terambil dalam rasio: V/Vo .

8 jam .ft2) x 1 ft3 / 7.2 ft/hari t = h/v0 = (6/80.ft2) dan kedalaman 6 feet. Contoh: Settling tank dalam suatu water treatment plant mempunyai overflow rate: 600 gal/(hari.2)24 jam = 1.48 gal = 80. Berapakah “residence time ”-nya? v0 = 600 gal/(hari.

005) 100 = 80 % . they will not be completely removed. Tpercent of particles which will be removed may be found using the following formula: Percent removed = (vp / v0) 100he = (0. Will particles that have a settling velocity of 0. 3 m tall and 6 m wide. what percent of the particles will be removed? V0 = Q/A = 0.005 m/sec Since V0 is greater than the settling velocity of the particle of interest.004 m/sec be completely removed? If not.004/0.6 m/sec / (20 m x 6 m) = 0.6 m3/sec. The settling basin at the plant has an effective settling volume that is 20 m long.A water treatment plant has a flow rate of 0.

Kondisi riil suatu suspensi Suatu suspensi yang riil (tidak ideal) biasanya ukuran. . densitas dan bentuk partikelnya bervariasi (tidak hanya satu jenis).