You are on page 1of 9

Aqsamu al-Qur’ān

A. Pendahuluan

Al-Qur’an turun dengan Bahasa Arab yang digunakan oleh masyarakat yang
ditemuinya pertama kali. Mereka antara lain menggunakan apa yang dinamani
Taukīd/pengukuhan dalam penyampaian suatu berita. Taukīd pun bertingkat-tingkat
disesuaikan dengan lawan bicara. Jika dia belum mengambil sikap, maka taukīd ini
sekiranya akan digunakan, biasanya cukup dengan huruf inna/sesungguhnya. Tetapi jika
sikap keraguan/penolakan telah mencapai level yang tinggi, maka redaksi pengukuhan
semakin diperlukan, maka disinilah kata qasam/sumpah digunakan.
B. Pengertian Aqsam al-Qur’an
Menurut Bahasa Aqsam adalah bentuk jamak dari Qasam yang artinya sumpah.
Adapun menurut istilah yang dimaksud dengan Aqsamu al-Qur’an adalah sumpah-
sumpah yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an.1Dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia, sumpah (aqsam) berarti dengan pernyataan yang diucapkan secara resmi
dengan bersaksi kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggap suci bahwa apa yang
dikatakan atau dijanjikan itu benar.2
Secara terminologi sumpah adalah mengingatkan jiwa untuk tidak melakukan
suatu perbuatan untuk mengerjakannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang telah
diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata maupun secara keyakinan
saja.menurut Drs. Miftah Faridl dan Agus Syihabudin dalam bukunya mengatakan bahwa
sumpah meruapakan salah satu alat taukīd yang cukup efektif dalam kelaziman
perhubungan atau komunikasi.3

Sigat asli qasam ialah fi’il atau kata kerja “aqsama” atau “ahlafa” yang di-
muta’addi(transif)-kan dengan “ba” untuk sampai kepada muqsam bih (sesuatu yang

1
H. Ahmad Syadli, dan H. Ahmad Rofi’I, Ulumul Qur’an II (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 45.
2
Ebta Setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Versi 1.1 offline, 2010.
3
Miftah Faridl, dan Agus Syihabudin, Al-Qur’an Sumber Hukum Islam yang Pertama (Bandung: Pustaka)
h. 159.
digunakan untuk bersumpah, lalu disusul dengan muqsam ‘alaih (sesuatu yang karena
sumpah diucapkan) yang dinamakan dengan jawabul qasam.4

C. Huruf-huruf Qasam
Huruf-huruf yang digunakan untuk qasam (sumpah) ada tiga macam, yaitu :
1. Huruf wawu, seperti dalam firman Allah swt . :

١‫َو ۡٱلعَصۡ ر‬
“Demi masa ( Q.S Al-Asr / 103 : 1)
2. Huruf ba’, seperti firman Allah swt. :
١ ‫ل أ ُ ۡقس ُم بيَ ۡوم ۡٱلق َٰيَ َمة‬
‫َا‬
“Aku bersumpah demi hari kiamat”. (QS. al-Qiyamah [75] : 1)
3. Huruf ta’, seperti firman Allah swt. :

َ ‫اَّلل لَتُسْأَلُ هن‬
﴾٥٦﴿ َ‫ع هما ُكنت ُ ْم ت َ ْفت َ ُرون‬ ‫تَ ه‬
“Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah
kamu ada-adakan”. (QS. an-Nahl [16] : 56)
D. Macam-macam Qasam dalam al-Qur’an
Sumpah dalam al-Qur’an terbagi dua macam:
1. Zhahir, yaitu sumpah yang di dalamnya disebutkan fi’il qasam dan muqsam
bih nya, atau qasam yang tidak disebutkan fi’il qasamnya, tapi diganti dengan
huruf ba’, wawu, ta’. Seperti firman Allah swt. :

﴾٢﴿‫﴾ َو َل أ ُ ْقس ُم بالنه ْفس الله هوا َمة‬١﴿‫َل أ ُ ْقس ُم ب َي ْوم ْالقيَا َمة‬
“Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang
Amat menyesali (dirinya sendiri).”5[6] (QS. al-Qiyamah [75] : 1-2)
2. Mudhmar, yaitu sumpah yang di dalamnya tidak dijelaskan fi’ilqasam dan
tidak pula muqsam bih, tapi ia ditunjukkan oleh lam taukid yang masuk pada
jawab qasam. Seperti yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 186

‫لَت ُ ْبلَ ُو هن في أ َ ْم َوال ُك ْم َوأَنفُس ُك ْم‬
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan
dirimu”. (QS. Ali Imran [3] : 186)

4
Mannā’ Khalīl al-Qaṭṭān, Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Penerjemah Mudzkir AS. (Surabaya: Litera AntarNusa,
2012), h. 413-414.
5
Mohammad Gufron dan Rahmawati, Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Teras, 20013), h. 104-105.
E. Unsur-unsur Qasam
Unsur-unsur qasam dibagi menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut.
1. Muqsim
Muqsim adalah pelaku yang mengucapkan sumpah.
2. Adat Qasam
Adat qasam adalah alat atau perangkat yang digunakan untuk bersumpah, baik
menggunakan fi’il qasam maupun huruf seperti wawu, ba’, ta’. Perangkat qasam baik
yang berbentuk uqsimu ataupun ahlifu harus disertai dengan huruf ba’ seperti yang
terdapat pada dalam surat an-Nahl.

‫اَّلل َج ْهدَ أ َ ْي َمانه ْم‬ َ ‫َوأ َ ْق‬
‫س ُموا ب ه‬
“Mereka bersumpah dengan nama Allah” (QS. an-Nahl [16] : 38
3. Muqsam Bih
Muqsam bih yaitu sesuatu yang dijadikan sumpah sebagai penguat pembicaraan.
Sumpah dalam al-Qur’an ada kalanya dengan memakai nama yang Agung (Allah), dan
ada kalanya dengan menggunakan nama-nama ciptaan-Nya.
Umat Islam dilarang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah. Seperti
yang telah disabdakan Rasulullah saw.

‫َّللا فَقَ ْد َك َف َر أ َ ْو أ َ ْش َر َك‬ َ َ‫َم ْن َحل‬
‫ف بغَيْر ه‬
“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat
syirik.” (HR. Ibnu Hibban dan Tirmidzi)
4. Muqsam ‘Alaih (Jawab Qasam)
Muqsam ‘alaih yaitu isi atau bentuk berita yang dilakukan dalam bersumpah atau
sesuatu yang disumpahkan, berfungsi sebagai jawaban dari qasam. Seperti firman Allah,

َ ‫﴾إنه َك لَمنَ ْال ُم ْر‬٢﴿‫﴾ َو ْالقُ ْرآن ْال َحكيم‬١﴿‫يس‬
﴾٣﴿ َ‫سلين‬
“Yaa siin Demi. Al Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari
rasul-rasul" (QS. Yaasiin [36] : 1-3)
F. Fungsi dan Urgensi Aqsam al-Qur’an
Qasam adalah taukid yang terkenal untuk menekankan kebenaran apa yang kita
sebut. Al-Qur’an diturunkan untuk segenap manusia yang menanggapi al-Qur’an dengan
bermacam-macam keadaan. Ada yang ragu-ragu, ada yang menolak, ada yang sangat
menantang, maka dikuatkan dengan sumpah, adalah untuk menghilangkan keragu-raguan
itu.6 Menurut syaikh manna’ al-Qatthan, qasam merupakan salah satu penguat perkataan
yang masyhur untuk memantapkan dan memperkuat kebenaran sesuatu di dalam jiwa.

G. Tafsir surah al-‘Ashr

Surah ini adalah surah Makiyyah. Tema utama pada surah ini adalah tentang
betapa pentingnya manfaat waktu dan mengisinya dengan aktivitas yang bermanfaat bagi
diri sendiri dan orang lain, sebab jika tidak, maka kerugian dan kecelakaanlah yang
menanti mereka.

Imam Syafi’I menilai surah ini sebagai salah satu surah yang paling sempurna
petunjuknya. Menurut beliau: “seandainya umat Islam memikirkan kandungan surah ini,
niscaya (petunjuk-petunjuknya) mencukupi mereka.”

ْ‫ص ۡوا‬
َ ‫صل َٰ َحت َوت َ َوا‬ َ َٰ ‫ إ هن ۡٱۡلن‬١ ‫َو ۡٱل َعصۡ ر‬
‫ إ هل ٱلهذينَ َءا َمنُواْ َو َعملُواْ ٱل َٰ ه‬٢ ‫سنَ لَفي ُخ ۡس ٍر‬
٣ ‫ص ۡبر‬ َ ‫ب ۡٱل َحق َوت َ َوا‬
‫ص ۡواْ بٱل ه‬
Artinya: “1. Demi masa, 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran.”(Qs. Al-‘Ashr: 1-3).

Menurut tafsiran dalam kitab tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab,
menerangkann bahwa kata al-‘Ashrterambil dari kata ‘asharayakni menekan sesuatu
sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam dari padanya nampak ke permukaan
atau keluar (memeras). Angin yang tekanannya sedemikian keras sehingga memporak-
porandakan segala sesuatu dinamai I’shaaratau waktu. Tatkala perjalanan matahari telah
melampaui pertengahan, dan telah menuju kepada terbenamnya dinamai
‘ashratauasar.Penamaan ini agaknya, disebabkan karena ketika itu manusia yang sejak
pagi telah memeras tenaganya diharapkan telah mendapatkan hasil dari usaha-usahanya.
Awan yang mengandung butir-butir air yang kemudian berhimpun sehingga karena
beratnya ia kemudian mencurahkan hujan, ini dinamai al-mu’shiraat.

6
Teungku Muhammad hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu Al-Qur-an Ilmu-ilmu Pokok Dalam Menafsirkan Al-
Qur’an, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002), hal. 184.
Para ulama sepakat mengartikan kata ashr pada ayat pertama surah ini dengan
waktu, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang waktu yang dimaksud. Ada yang
berpendapat bahwa ia adalah waktu atau masa dimana langkah dan gerak tertampung
didalamnya. Adalagi yang menentukan waktu tertentu yakni waktu dimana shalat asar
dapat dilaksanakan.Pendapat ketiga ialah waktu atau masa kehadiran Nabi Muhammad
Saw.dalam pentas kehidupan ini.

Pada surah ini Allah Swt. bersumpah demi waktu dan dengan menggunakan kata
ashri bukan yang selainnya untuk menyatakan bahwa: Demi waktu (masa) dimana
manusia mencapai hasil setelah ia memeras tenaganya, sesungguhnya ia merugi apapun
hasil yang dicapainya itu, kecuali jika ia beriman dan beramal shaleh. Kerugian tersebut
mungkin tidak akan dirasakan pada waktu dini, tetapi pasti akan disadarinya pada waktu
asar kehidupannya menjelang matahari hayatnya terbenam. Itulah agaknya rahasia
mengapa Tuhan memilih kata Ashr untuk menunjuk kepada waktu secara umum.

Kata al-insan atau manusia terambil dari akar kata yang dapat berarti gerak atau
dinamisme, lupa, rasa bahagia, atau senang.Ketiga arti ini menggambarkan sebagian dari
sifat serta ciri khas manusia.Ia bergerak bahkan seyogyanya memiliki dinamisme, ia juga
memiliki sifat lupa atau melupakan kesalahan-kesalahan orang lain serta ia pun merasa
bahagia dan senang bila bertemu dengan jenisnya atau selalu berusaha memberi
kesenangan dan kebahagiaan kepada diri dan makhluk-makhluk lainnya.

Kata al-insan yang mengambil bentuk ma’rifat menunjuk kepada jenis-jenis
manusia tanpa kecuali, baik mukmin maupun kafir.Syeikh Muhammad Abduh
menambahkan bahwa manusia yang dimaksud ayat ini walaupun bersifat umum, tetapi
tidak mencakup mereka yang mukallaf (tidak mendapat beban perintah keagamaan)
seperti yang belum dewasa atau gila.

Kata khusr mempunyai banyak arti, antara lain: rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan
dan sebagainya yang kesemuanya mengarah pada makna-makna yang negative, atau
tidak disenangi oleh siapapun. Kata tersebut dalam ayat ini berbentuk nakirahia
menggunakan tanwin. Bentuk nakirah dan tanwin itu memberikan arti keragaman dan
kebesaran yakni kerugian serta kesesatan, kecelakaan dan sebagainya yang besar dan
beraneka ragam.
Kata lafii adalah gabungan dari huruf lam yang menyiratkan makna sumpah, dan
huruf fii yang mengandung makna wadah atau tempat. Dengan kata ini tergambar bahwa
seluruh totalitas manusia berada di dalam satu wadah kerugian.Kerugian seakan-akan
menjadi satu tempat atau wadah dan manusia berada didalamnya.

َ ‫ص ۡواْ ب ۡٱل َحق َوت َ َوا‬
‫ص ۡواْ بٱل ه‬
٣ ‫ص ۡبر‬ ‫إ هل ٱلهذينَ َءا َمنُواْ َو َعملُواْ ٱل َٰ ه‬
َ ‫صل َٰ َحت َوت َ َوا‬
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran.

Ayat lalu menegaskan bahwa semua manusia diliputi oleh kerugian yang besar
dan beraneka ragam.Ayat diatas mengecualikan mereka yang melakukan 4 kegiatan
pokok yaitu; kecuali orang-orang yang beriman dan beramal amalan-amalan yang
shaleh yakni yang bermanfaat serta saling berwasiat tentang kebenaran dan saling
berwasiat tentang kesabaran dan ketabahan.

Iman adalah pembenaran hati atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad
Saw. Intinya antara lain dapat disimpulan dalam rukun iman yang 6 itu. Dalam ajaran
agama ualam membagi kepada dua sisi yakni pengetahuan dan pengamalan.Akidah yang
wajib diimani merupakan sisi pengetahuan sedang syariat merupakan sisi
pengamalan.Atas dasar ini, para ulama memahami orang yang beriman dalam arti orang-
orang yang memiliki pengetahuan menyangkut kebenaran.Puncaknya adalah pengetahuan
tentang ajaran agama yang bersumber dari Allah Swt. Jika demikian sifat pertama yang
dapat menyelamatkan seseorang dari kerugian adalah pengetahuan tentang kebenaran itu.

Kalau dalam penafsiran ayat kedua digambarkan bahwa totalitas manusia berada
dalam kerugian, maka apabila ia telah memiliki pengetahuan tentang kebenaran yang
dimaksud diatas, maka seperempat dari dirinya telah bebas dari kerugian.

Kata amal atau pekerjaan atau pekerjaan digunakan oleh al-Qur’an untuk
menggambarkan penggunaan daya manusia daya pikir, fisik, qalbu, dan daya hidup yang
dilakukan dengan sadar oleh manusia dan jin.
Kata shalih terambil dari kata sholuha yang dalam kamus bahasa al-Qur’an sering
dijelaskan sebagai antonim atau lawan kata dari kata fasid atau rusak.Dengan demikian
kata shaleh diartikan sebagai tiadanya (terhentinya) kerusakan.Amal shaleh adalah segala
perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara
keseluruhan.

Kata tawashau terambil dari kata washa, washiyatan yang secara umum diartikan
sebagai menyuruh secara baik.Kata ini berasal dari kata ard washiyah yang berarti tanah
yang dipenuhi atau bersinambung tumbuhannya.Berwasiyat adalah tampil kepada orang
lain dengan kata-kata yang halus agar yang bersangkutan bersedia melakukan sesuatu
pekerjaan yang diharapkan dari padanya secara bersinambung.

Kata al-Haqq berarti sesuatu yang mantap, tidak berubah.Apapun yang terjadi,
Allah Swt. Adalah puncak dari segala yang hak, karena Dia tidak mengalami
perubahan.Niali-nilai agama juga haqq, karena nilai-nilai tersebut harus selalu mantap
tidak dapat diubah-ubah. Sesuatu yang tidak berubah, sifatnya pasti, dan sesautu yang
pasti menjadi benar, dari sisi bahwa ia tidak mengalami perubahan. Ada beberapa
pandangan ulama tentang kata ini, pertama, bahwa kata al-haqq dalam arti Allah, yakni
manusia hendaknya saling mengingatkan tentang wujud, kuasa, dan ke-esaan Allah Swt,
serta sifat-sifatnya.Kedua, berpendapat bahwa al-haqq disini adalah al-Qur’an, ini
berdasarkan pada riwayat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad.Ketiga, Fahruddin
al-Razi memahami kata al-Haqq disini sebagai sesuatu yang mantap (tidak berubah) baik
berupa ajaran agama yang benar, petunjuk akal yang pasti maupun pandangan mata yang
mantap.

Kata sabar adalah menahan kehendak nafsu demi mencapai sesuatu yang baik
atau lebih baik. Secara umum kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian: sabar jasmani
dan sabar rohani. Pertama, adalah kesabaran dalam menerima dan melaksanakan
perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam
melaksanakan haji, yang mengakibatkan keletihan atau sabar dalam peperangan dalam
membela kebenaran, termasuk pula dalam hal ini sabar dalam menerima cobaan-cobaan
yang menimpa jasmani, seperti penyakit dan penganiayaan. Sedangkan sabar rohani
menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada
keburukan, seperti menahan amarah atau menahan nafsu seksual yang bukan pada
tempatnnya.

Hampir seluruh keadaan dan situasi yang dihadapi manusia membutuhkan
kesabaran, karena situasi dan keadaan tersebut tidak keluar dari dua kemungkinan;
pertama harus sejalan dengan kecenderungan jiwanya, seperti ingin sehat, ingin kaya
dsb.Kedua, tidak sejalan dengan kecenderungan jiwa manusia yang selalu ingin terbawa
kepada debu tanah.Disini manusia juga membutuhkan kesabaran dan kehendak yang kuar
agar tidak terbawa oleh panggilan yang rendah itu.

Tafsiran Ibnu katsir
Al-‘Ashr berarti masa, yang didalamnya berbagai aktivitas anak cucu adam
berlangsung, baik dalam wujud kebaikan maupun keburukan. Imam Malik meriwayatkan
dari Zaid bin Aslam: “kata al-‘Ashr berarti shalat ‘Ashar”.Tetapi pendapat yang terkenal
adalah yang pertama.Allah Swt. telah bersumpah dengan masa tersebut bahwa manusia
itu adalam kerugian, yakni benar-benar merugi dan binasa.“kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal shalih.”

Dengan demikian, Allah Swt. memberikan pengecualian dari kerugian bagi
orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal shaleh melalui
anggota tubuhnya.“Dan nasihat-nasihat supaya mentaati kebenaran.” Yaitu,
mewujudkan semua bentuk ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan. “Dan
nasihat-nasihat supaya menetapi kesabaran.” Yakni bersabar atas segala macam cobaan,
takdir, serta gangguan yang dilancarkan kepada orang-orang yang menegakkan amar
ma’ruf nahi munkar.7

Nilai yang terkandung pada surah ini adalah bahwa kata Wa al-Ashr (demi masa)
ini, merupakan upaya untuk meyakinkan bahwa semua mukallaf dalam wadah kerugian
kecuali yang melakukan empat hal. Mengapa Allah Swt. memilih al-Ashr untuk
menggambarkan kerugian itu? Dengan kata lain: Apa kaitan antara kerugian itu dengan
masa? Jawabanya antara lain adalah: “karena waktu adalah modal utama manusia. Ia
berbeda dengan harta atau rizki lainya. Waktu tidak dapat kembali setelah ia berlalu,

7
Tafsir Ibnu Katsir Juz 30, h. 536.
sedangkan hart ajika kali ini anda tidak peroleh, maka tidak tutup kemungkinan cepat
atau lambat, anda dapat memperolehnya. Disamping itu, penyesalan baru disadari
setelah waktu berlalu, yakni setelah tiba waktu asar”, yakni masa senja kehidupan
manusia.

H. Kesimpulan

Bahwa waktu merupakan modal utama bagi manusia, apabila waktu tidak diisi
dengan kegiatan positif maka ia akan berlalu begitu saja, dan ketika itu jangankan
keuntungan yang diperoleh tetapi modalpun telah hilang. Waktu tidaklah dikenal dengan
sebutan waktu sial atau waktu mujur, karena waktu bersifat netral.Yang berpengaruh
disini adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang dalam melakukan suatu hal.

Karenanya manusia merupakan makhluk sosial ia tidak bisa hidup sendiri, dalam
berkehidupan sosial inilah kita berperan aktif dalam saling mengingatkan akan segala
kebaikan, dan juga saling menetapi dalam kesabaran.